Kami sangat menghargai kalau anda bersedia memberikan pesan atau komentar
Silakan meninggalkan saran yang membangun, pesan atau komentar umum, yang ingin ditampilkan di website, namun tidak berhubungan dengan artikel-artikel yang ada.
Untuk mengirim pesan yang tidak ingin ditampilkan di website, dapat menuliskannya di kontak.
Katolisitas.org mempunyai hak untuk menampilkan, menolak, atau menyensor semua pesan dan komentar yang masuk baik di artikel atau buku tamu untuk kebaikan bersama. Mohon dapat dimaklumi.
Terimakasih telah berpartisipasi dalam website ini. Tuhan memberkati. Salam kasih dari: www.katolisitas.org.
Comment by Shinto on 5 January 2009:
[Dari admin: saya gabungkan empat pesan menjadi satu]
A). Sembahyang adalah sarana untuk mengingat Tuhan dengan cara mengulang-ulang bacaan “doa” seperti doa rosario. Berdoa adalah duduk diam di kaki Tuhan dan mendengarkan apa yang Tuhan ucapkan. Dan didalam doa sudah tidak ada permintaan yang bermacam-macam dari seorang hamba karena ia sudah bersatu (manunggal)dengan Tuhan. Jadi bila orang sudah di alam doa (keheningan), ia tidak akan banyak meminta-minta.
B). Iblis itu bukan temanku tapi aku juga tidak memusuhinya, iblis juga bukan musuhku tapi aku juga tidak bersahabat dengannya. Dia bukan siapa-siapaku tapi dia selalu berada didiriku dan bersama dengan Tuhan serta malaikat. Berkat iblis, imanku senantiasa terbentur,teruji dan terasah dengan merasakan jatuh bangunnya terkena dosa. Semakin tinggi pemahaman iman seseorang akan misteri Ilahi maka semakin tinggi pula level sang iblis penggoda, contoh saat Yesus mendapatkan “pencerahan” setelah berpuasa selama 30 hari, ia langsung “di test” oleh Allah benarkah Ia yang terpilih. Jadi semakin “tinggi” level pemahaman imanmu akan misteri Ilahi bila “jatuh” maka akan terasa sangat sakit. Jika kamu merasa takut sakit saat jatuh maka jadilah seorang yang slalu kalah. Iblis dan malaikat adalah salah satu wujud contoh keadilan Tuhan. Dan itu semua adalah kehendak Tuhan yang Maha Baik, Maha Benar, Maha Sempurna.
C) Benar dan Salah, itu semua adalah pendapat orang dan hasil kesepakatan bersama. Jika orang menyebut kuda dengan sebutan macan, maka ia akan disalahkan orang. Jika ia berbuat kesalahan yang dianggap melanggar kebenaran menurut orang lain maka ia akan disalahkan orang.Dikatakan salah jika tidak sesuai dengan keinginan orang, dikatakan benar jika sesuai dengan keinginan orang. Tuhan tidak menganggap benar atau salah. Benar dan salah, Baik atau buruk, itu bukanlah tujuan hidup.
D). Tuhan itu Maha Kasih dan Maha Memberi Ampun tapi jangan lupa Tuhan itu juga Maha Adil.
Wujud keadilan Tuhan adalah sebesar biji sesawi kebaikan yang kamu tanam, maka sebesar biji sesawi pula balasan Tuhan. Begitu pula jika sebesar biji sesawi keburukan yang kamu tanam, maka sebesar biji sesawi pula balasan Tuhan.
Kita memperoleh ampunan Tuhan jika kita berbuat kesalahan dengan diberi kesempatan untuk masih hidup dan bertobat, tapi kita juga akan menerima sebuah “balasan” atas kesalahan yang kita buat, entah kapan kita menerima balasan Tuhan karena semua sudah tercatat.
Keadilan Tuhan…..itulah yang perlu kita takutkan bukan dosa.
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Shinto,
Berikut ini adalah tanggapan kami atas komentar anda:
A. Doa adalah sarana untuk mengingat Tuhan dan menyatukan diri dengan Tuhan
Ya, benar, bahwa doa terutama adalah"pengangkatan jiwa kepada Tuhan" (KGK 2559), yang ditujukan juga untuk permohonan demi hal-hal yang baik. Doa yang sempurna sesungguhnya adalah doa Bapa Kami, yang diajarkan oleh Yesus kepada para murid-Nya. Jika kita renungkan doa Bapa Kami ini, dalam doa meditasi seperti yang diajarkan oleh St. Theresia dari Avila, kita akan sampai pada persatuan dengan Tuhan. Doa Rosario sambil merenungkan peristiwa-peristiwa hidup Yesus juga bermaksud mengantarkan kita kepada permenungan akan misteri kasih Allah sehingga kita dapat mengangkat jiwa kita kepada Tuhan.
Sikap yang diperlukan dalam doa ini adalah kerendahan hati, yang membuat kita sadar bahwa sesungguhnya "kita tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa" (Rom 8:26) sehingga kita selalu dapat menempatkan diri sebagai hamba Tuhan, dan bukannya seperti orang yang ‘memerintah’ Tuhan untuk berbuat ini dan itu sesuai dengan permintaan kita. Maka dalam hal ini kita perlu memiliki sikap seperti Bunda Maria, yang percaya sepenuhnya akan rencana kasih Allah pada kita sehingga seperti dia, kita dapat berkata, "Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataan-Mu" (Luk 1:38). Dengan sikap ini, maka doa kita tidak dipenuhi dengan daftar permintaan, namun lebih kepada doa pujian, penyembahan, dan penyerahan diri kepada Allah, dan memohon terutama untuk hal-hal yang dapat memuliakan Allah.
B. Iblis bukan teman tapi juga bukan musuh?
Jika kita mau mengikuti teladan Yesus, kita harus melihat bahwa pernyataan ini keliru. Di akhir pencobaan di padang gurun, Yesus berkata kepada Iblis itu, "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis, Engkau harus menyembah Tuhan Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti " (Mat 4: 10). Maka dari sini kita ketahui bahwa kita harus mengusir Iblis (dan segala pengaruhnya) dari kehidupan kita, agar kita sepenuhnya dapat menyembah Allah dan berbakti kepada-Nya. Janganlah kita lupa bahwa Iblis itu memiliki tipu daya, seperti ketika ia memperdaya Adam dan Hawa. Maka Iblis itu tidak pernah puas pada tanggapan yang netral, ia akan berusaha dengan segala cara agar kita terperangkap oleh tipu dayanya. Maka, Iblis adalah musuh kita, oleh karena itu, sepanjang hidup kita di dunia adalah pergumulan untuk mengalahkan pengaruh kuasa jahat (dari Iblis) untuk hidup sesuai dengan perintah Tuhan. Rasul Petrus mengatakan, "Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan berkeliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh… " (1Pet 5:8-9)
C. Hal benar dan salah hanyalah pendapat orang atas hasil kesepakatan bersama?
Menurut St. Thomas Aquinas, kebenaran adalah sesuatu yang obyektif. Maka manusia yang diciptakan dengan akal budi dapat mengenali kebenaran. Maka, kita mengetahui pula bahwa hanya dengan menggunakan akal budi, setiap manusia sesungguhnya dapat mengetahui bahwa Allah itu ada (silakan baca artikel: Bagaimana membuktikan bahwa Allah itu ada? silakan klik).
Atas dasar ini maka sesungguhnya kebenaran bukan merupakan sesuatu yang relatif berdasarkan kesepakatan bersama. Kebenaran yang ada di jaman dahulu, misalnya, juga harus merupakan kebenaran di jaman sekarang, sebab jika tidak, hal itu bukan kebenaran lagi. Contoh, Kesepuluh Perintah Allah, adalah kebenaran yang mendasar, yang tetap berlaku sampai sekarang. Maka dengan ini sesungguhnya, kita mengetahui bahwa, membunuh itu dari jaman dahulu sampai sekarang berdosa. Maka aborsi, misalnya, tidak seharusnya dibenarkan dan dilegalisasi, meskipun ada kesepakatan beberapa orang yang menyetujui hal itu, seperti yang terjadi di beberapa negara, termasuk Amerika. Menanggapi hal ini, Gereja Katolik selalu menyuarakan kebenaran yang menentang aborsi.
D. Allah Maha Kasih dan Allah Maha Adil
Ya, benar bahwa selain Tuhan Maha Kasih, Ia juga Maha Adil. Namun melukiskan keadilan Tuhan seperti ’satu dibalas dengan satu’ seperti demikian juga tidak tepat. Karena Tuhan Yesus memperbaharui hukum ‘mata ganti mata, gigi ganti gigi’ dengan hukum kasih, bahkan untuk mengasihi musuh (lihat Mat 5:38, 44). Maka kita mengetahui bahwa belas kasihan Tuhan mengatasi keadilan yang kaku, walaupun tidak berarti bahwa belas kasihan Tuhan menghapuskan keadilan-Nya. Jadi ajaran yang mengatakan tidak adanya konsekuensi apapun dari dosa, ataupun ajaran ’sekali selamat tetap selamat’ sesungguhnya mempertentangkan sikap Allah yang Maha Kasih dan Maha Adil, sebab ajaran itu mengajarkan bahwa asal kita percaya, walaupun kita hidup dalam dosa berat sekalipun, kita tetap dapat masuk surga. Ajaran ini tidak menunjukkan keadilan Allah (Ajaran ini bukan ajaran Gereja Katolik). Namun demikian, Gereja Katolik bukan semata-mata menekankan keadilan Allah, sebab jika kita semua diadili sesuai dengan keadilan Allah, semua dari kita tidak ada yang dapat bertahan. Maka Gereja mengajarkan kepada kita juga untuk mempercayakan diri kita kepada kerahiman Allah. Contoh yang paling jelas adalah dalam doa devosi Koronka, yang memohon Kerahiman Ilahi. Pada St. Faustina, Kristus mengatakan bahwa kepada siapa yang setia berdoa Koronka, maka Ia akan berdiri sebagai pembela dan bukannya sebagai penuduh pada saat ajal orang itu. Betapa besarnya belas kasihan Allah yang ditujukan-Nya kepada mereka yang mengandalkan Dia. "Yesus, aku mengandalkan Engkau" adalah inti iman kita kepada belas kasihan dan kerahiman Allah.
Jadi sesungguhnya, lebih tepat jika dikatakan bahwa sikap ‘takut akan Tuhan’ seharusnya lebih didasari oleh kasih kepada Allah daripada oleh keadilan Allah. Maksudnya adalah, kita takut menyakiti hati Tuhan dengan melakukan perbuatan dosa kita, daripada kita takut kepada keadilan Tuhan, yang artinya, takut akan hukuman Tuhan atas dosa kita. Dalam spiritualitas kedua jenis ‘takut akan Tuhan’ ini disebut sebagai ‘servile fear‘ (takut akan keadilan Tuhan/ hukuman) dan ‘filial fear‘ (takut menyedihkan Tuhan karena kasih kita kepada -Nya).
Kedua jenis ‘takut akan Tuhan’ ini menyertai pertumbuhan spiritualitas kita. Pada tahap awal, takut akan Tuhan lebih didominasi oleh takut akan hukuman/ keadilan Tuhan/ ‘servile fear‘. Hal ini bukannya buruk, tetapi tidak sempurna. Semakin bertumbuh rohani kita, maka pada akhirnya, kesempurnaan hubungan kita dengan Tuhan adalah menuju kepada ‘filial fear‘, tanpa menghapuskan keberadaan ‘servile fear‘. Maksudnya, takut akan Tuhan yang didasari oleh kasih kita kepada-Nya, tanpa melupakan keadilan-Nya.
Demikian tanggapan saya, semoga dapat menjadi bahan permenungan bersama.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
Ingrid Listiati
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by riko on 5 January 2009:
Hi salam kenal, nama saya Riko [dari admin: saya hapus keterangan nama tempat]
Saya telah mengunjungi situs ini sejak tahun lalu waktu baru dimulai, dan sangat impressed dengan content-nya. Thank you for your very passionate apostolate seperti ini.
Apakah mungkin juga disediakan artikel/bahan-bahan tentang Pneumatology? Gereja Katolik punya banyak sekali resources on Christology, Ecclesiology, dan sebagainya, tapi sepertinya agak minim dalam membahas Pneumatology.
Once again thank you so much for your generous sharing through this website.
in HIS love,
Riko.
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Riko,
Salam kenal juga dari kami. Kami juga mendengar tentang Riko yang sangat aktif di komisi kepemudaan. Dan kami berterima kasih, karena di tengah-tengah semua kesibukan, Riko mempunyai dedikasi yang tinggi dalam melayani Tuhan.
Untuk permintaan Riko tentang artikel-artikel yang berhubungan dengan Roh Kudus akan kami perhatikan dan kami akan menuliskannya di kemudian hari.
Mari kita bersama-sama melayani Tuhan dengan hati yang dipenuhi sukacita.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
stef & ingrid
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by Yoseph Rudy Chandra on 4 January 2009:
Saya skrg ini dibidang katekese sub seksi katekumen dewasa di paroki Santo Yoseph di Palembang. Saya memerlukan katekismus singkat tentang beberapa hal seperti yang saya temukan di http://www.gerejakatolik.org. Namun ada beberapa artikel yang tidak bisa saya buka, saya tidak tahu harus cari kemana untuk bagian yang kurang, mohon bantuannya, seperti yang di pasal 5 dan pasal 19 sampai 42 semuanya tidak dapat dibuka. Mohon bantuannya, karena saya sangat membutuhkannya sebagai tambahan materi kepada para katekumen. Sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih, Tuhan berkati selalu, amin.
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Yoseph,
Terimakasih atas kunjungannya di katolisitas.org. Kami tidak mempunyai katekismus singkat seperti yang ada di http://www.gerejakatolik.org. Kemungkinan besar, mereka belum selesai memasukkan semua katekismus singkat, sehingga link 19-42 masih belum ada.
Maaf, kami tidak dapat membantu lebih jauh tentang hal ini. Selamat melayani dan Tuhan memberkati.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
stef
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by Isa Inigo on 4 January 2009:
[Dari admin: saya ganti tanggalnya, sehingga pesan ini dapat terlihat di kolom kanan]
SELAMAT NATAL & TAHUN BARU untuk Pak Stef, Bu Ingrid dan para pencinta Katolisitas. Tahun ini, Natal di Indonesia aman dan tenteram, damai di hati, damai di bumi. Pak Stef dan Bu Ingrid, bagaimanakah sejarah gua natal dan pohon terang? Jika Natal dijatuhkan pada 25 Desember, maka itu tak ada di Alkitab. Pada masa paus siapakah Natal ditetapkan tanggal 25 Desember? Apa dasarnya? Terima kasih karena kami sering ditanya teman-teman agama lain.
Shalom
Isa Inigo
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Isa Inigo,
Selamat Natal dan Tahun Baru juga. Mari kita membahas pertanyaan Isa.
Dikatakan bahwa St. Fransiskus dari Asisi yang pertama kali membuat "living nativity" atau gua natal dengan segala isinya di tahun 1224 untuk menjelaskan tentang kelahiran Kristus kepada para pengikutnya. Dan St. Fransiskus mendapatkan ijin dari Paus Honorius III di tahun 1223 ketika St. Fransiskus berkunjung ke Roma. Dari sinilah maka gua natal menjadi populer, sampai saat ini.
Sejarah pohon natal mungkin ditelusuri sekitar abad ke-8, dimana St. Boniface (675-754), seorang uskup Inggris, yang menyebarkan iman Katolik di Jerman sekitar abad ke-8. Pada saat dia meninggalkan Jerman dan pergi ke Roma sekitar 15 tahun, maka jemaat yang dia tinggalkan kembali lagi kepada kebiasaan mereka untuk mempersembahkan kurban di bawah pohon Oak. Namun dengan berani St. Boniface menentang hal ini dan kemudian mengganti pohon Oak dengan pohon fir atau pine, dimana merupakan pohon yang senantiasa hijau sepanjang tahun. Dan karena bentuknya yang segitiga dan menjulang ke atas serta hijau sepanjang tahun, pohon ini dapat mengingatkan kita akan misteri Trinitas, Allah yang kekal untuk selama-lamanya, yang turun ke dunia dalam diri Kristus untuk menyelamatkan manusia.
Lihat artikel di website "Catholic Culture" (silakan klik).
Semoga keterangan singkat di atas dapat menjawab pertanyaan Isa. Mari kita bersama-sama berfokus pada misteri Inkarnasi itu sendiri, yaitu Yesus Kristus.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
stef
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by Saulus on 4 January 2009:
[Dari admin: saya pindahkan pesan ini ke buku tamu]
Bu Inggrid di dalam kitab suci, terkadang ditemukan hal aneh sbb : 2 Tawarikh 22 : 2, dikatakan raja Ahazia jadi raja pada usia 42 tahun, sedangkan dalam 2 Raja 8: 26, pada saat jadi raja berusia 22 tahun. Yang membunuh Goliath juga dikenal Raja Daud, tapi dalam Tawarikh pembunuhnya bernama lain. Bagaimana jika hal ini oleh orang agama tertentu diajukan sebagai bukti bahwa kitab suci kita berisi kekeliruan2 alias palsu? Mohon penjelasannya. Thx.
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Saulus,
Kita percaya bahwa Kitab Suci diwahyukan oleh Allah sendiri kepada manusia. Dan karena Allah yang menjadi ‘Pengarang’ Alkitab ini, maka kita percaya Alkitab berisi kebenaran. Namun dalam hal penulisan Alkitab, Allah menggunakan tangan-tangan manusia, dengan memberikan inspirasi Roh Kudus kepada para penulis kitab tersebut sehingga mereka menuliskan apa yang menjadi kehendak Allah. Selanjutnya, kitab-kitab ini diperbanyak (umumnya oleh para rahib/ pertapa) untuk maksud pengajaran umat. Dalam hal penulisan kembali inilah dimungkinkan terjadi perbedaan-perbedaan, pada detail-detail tertentu walaupun perbedaan tersebut relatif tidak banyak, dan tidak mengubah isi doktrin/ pengajaran dari Kitab Suci itu sendiri.
Perbedaan tersebut tidak mengubah kenyataan bahwa Kitab Suci adalah Buku yang paling mengagumkan, karena meskipun dituliskan oleh tangan banyak orang dalam jangka waktu lebih dari seribu tahun, namun semua menunjuk kepada pesan Allah yang terpenting bagi manusia, yaitu, keselamatan yang dijanjikan oleh Allah melalui Kristus Yesus Putera-Nya. Justru karena ditulis oleh banyak orang (dengan inspirasi Roh Kudus) namun tidak menimbulkan pertentangan ajaran, maka kita dapat melihat bahwa sumber inspirasi Alkitab adalah Allah sendiri.
Dalam waktu mendatang ini, kami akan menuliskan artikel tentang Kitab Suci, bagaimana terbentuknya, dan bagaimana kita membaca dan memahaminya, dst., sehingga mungkin uraian hal Kitab Suci menjadi lebih jelas.
Sekarang mari kita lihat pertanyaan Saulus:
Daud mengalahkan Goliat seorang pendekar tentara orang Filistin (1Sam 17:4), dengan umban dan batu, tanpa pedang, seperti tertera dalam 1 Sam 17:50. Pada kitab 1Tawarikh 20:5, disebutkan bahwa Elhanan bin Yair menewaskan Lahmi, saudara Goliat. Di sini, Lasmi adalah saudaranya Goliat/ the brother of Goliat, bukannya saudara Goliat, seperti kita menyapa seseorang dengan perkataan ’saudara’ (misalnya Saudara Saulus). Jadi Elhanan bin Yair bukannya pembunuh Goliat, tetapi saudara-nya Goliat yang namanya Lasmi. Jadi di sini tidak ada perbedaan Kitab Samuel dan Tawarikh tentang siapa yang mengalahkan Goliat.
Dengan melihat 2 Tw 21:20, yang menyebutkan bahwa ayah Ahazia (Raja Yoram) meninggal pada usia 40 tahun, maka lebih masuk akal jika Ahazia naik tahta pada usia 22 tahun. Usia 22 tahun inilah yang disebutkan dalam terjemahan Yunani (Septuagint).
Jadi di sini memang terdapat perbedaan penulisan antara Alkitab versi Ibrani dan Yunani, walaupun perbedaan ini tidak mengubah kenyataan bahwa Ahazia naik tahta sebagai Raja Yehuda, menggantikan ayahnya Raja Yoram.
Akhirnya, perlu kita sadari bahwa Allah mewahyukan diri-Nya kepada banyak orang pilihan-Nya (tidak hanya kepada satu orang saja) untuk menuliskan Kitab Suci. Justru karena Alkitab ditulis melibatkan banyak orang selama jangka waktu ribuan tahun, dan perbedaan-perbedaan seperti di atas juga relatif sedikit, maka secara objektif kita melihat campur tangan Allah dalam hal ini. Akan lebih praktis memang, jika pewahyuan tersebut hanya diberikan kepada satu orang saja (wahyu pribadi); namun bukan demikian yang menjadi rencana Allah. Allah mewahyukan diri-Nya dalam sejarah manusia, sesuai dengan yang kita ketahui dari sejarah terbentuknya Kitab Suci, yaitu wahyu Allah yang dinyatakan kepada para nabi dalam Perjanjian Lama, dan yang akhirnya dipenuhi dalam diri Kristus dalam Perjanjian Baru. Ini adalah karya Allah yang sangat mengagumkan, dan justru tidak mungkin salah, karena wahyu tersebut tidak tergantung oleh satu orang saja, namun melibatkan banyak orang dari banyak generasi. Bagaimana naskah- naskah kitab yang terpisah satu sama lain yang ditulis oleh orang-orang yang tidak saling kenal satu sama lain, karena terpisah oleh jarak dan waktu/ perbedaan generasi, namun yang memberikan inti pengajaran yang sama, yang pada akhirnya menunjuk/ membuka jalan bagi kedatangan Kristus, itulah yang seharusnya membuat kita tertunduk kagum.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
Ingrid Listiati
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by Julius Santoso on 4 January 2009:
[dari admin: saya ubah tanggal pertanyaan, sehingga dapat muncul di kolom sebelah kanan website]
Syalom kak Stef. II.
Menurut teman saya, ada terjemahan yang kurang tepat di Alkitab terbitan LAI dibawah ini :
LAI = Yeh 34:16 Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, serta yang gemuk dan yang kuat akan Kulindungi; Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya.
Yang benar :
Yeh 34:16 Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, serta yang gemuk dan yang kuat akan Kubinasakan; Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya
LAI = Yoh 5:39 Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa oleh-Nya kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku,
Yang benar :
Yoh 5:39 Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa melalui hal tersebut kamu mempunyai hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku,
Mengingat saya tidak mengerti bahasa aslinya, mohon pencerahan dari Bpk. Stef. II.
Terima kasih, Tuhan memberkati.
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Julius,
Terima kasih atas pertanyaannya.
A. Yeh 34:16
Menurut versi Ibrani Tuhan akan menghancurkan yang gemuk. Jika terjemahan ini yang diterima, maka maknanya adalah sbb: yang gemuk itu memang jahat, suka memeras yang lain; justru karena kejahatan dan ketamakan mereka, maka mereka bisa menjadi gemuk.
Tetapi, menurut LXX, Tuhan akan memelihara yang gemuk. Jika terjemahan ini yang dipakai/benar, maka artinya: Tuhan akan menjaga semua domba, termasuk yang sudah gemuk.
B. Yoh 5:39
Semoga keterangan tersebut di atas dapat menjawab pertanyaan Julius.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
stef
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by encu on 3 January 2009:
Dear Admin,
Cukup menarik webside Katolik seperti ini…spt Yesaya…
Semua diposting sama moderator/ admin…:)
Jadi tidak ada celah dari susupan ajaran agama lain yang pura2
Katolik, dll…..
Met berkarya terus…..dalam rangka Memuliakan namaNya dan ajaranNya
salam, encu
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by Alan Jeffrey Dompas on 31 December 2008:
Saya mendapatkan situs ini dari Rm Kusumawanta Pr saat selesai Misa Tutup Tahun 2008 di Bali dengan keluarga besar saya. Tampilan-nya sangat professional dan komprehensif (outlook) dan saya akan browsing malam ini dan hari2 mendatang. Seperti kalian tahu, situs ini akan bermanfaat bila selalu updated dan diskusi2 yang timbul dari pertanyaan2 bisa dimanfaatkan untuk memperkaya situs ini. Lalu saya lihat bahwa situs ini dimulai 31 Mei ketika Gereja memeperingati kunjungan Bunda Maria ke Elizabeth. Tidak secara kebetulan karena pada hakekatnya “kabar gembira” itu perlu disampaikan pertama-tama pada orang terdekat kita…JD 12/31/08.
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by Martin & Connie on 27 December 2008:
Hi Tay & Inggrid,
Sudah lama saya dengar bukan mendengarkan nama katolisitas. Tapi baru hari ini saya bisa klik website ini. Selamat untuk kalian berdua atas karya yang agung ini.Semoga berkat Tuhan selalu melimpah untuk kalian berdua.
Selamat Hari Natal.
Salam,
Martin & Connie
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom P. Martin dan I. Connie,
Terima kasih ya, sudah mampir di website ini. Ya, ini semua karena kasih dan kemurahan Tuhan, maka website ini bisa terwujud. Terima kasih juga untuk dukungan doa buat kami, memang itulah yang kami butuhkan. Kami juga teringat selalu akan paroki ‘kampung halaman’, dan berdoa bagi pertumbuhan iman umat di sana. Mari bersama kita saling mendoakan. Selamat hari Natal dan Selamat Tahun Baru 2009. Salam hangat buat saudara/saudari ’seperjuangan’ di sana…
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
Stef Tay dan Ingrid
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by chris on 26 December 2008:
Yth Katolisitas,
Saya ingin menanyakan pandangan Gereja Katolik mengenai new age, meditasi (semacam yoga, reiki) apakah boleh diikuti oleh umat Katolik? Bertentangan tidak dengan ajaran Gereja?
Terima kasih,
Tuhan memberkati.:)
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Chris,
Pertama-tama perlu kita ketahui terlebih dahulu apa sebenarnya yang disebut sebagai New Age Movement (NAM), baru setelah itu kita bahas mengenai yoga dan reiki. Menurut Paus Yohanes Paulus II dalam bukunya "Crossing the Treshold of Hope", NAM sebetulnya memiliki kemiripan dengan heresi/ ajaran sesat di abad pertama yaitu Gnosticism. Gnosticism kuno sebenarnya telah ada sebelum Kristus. Gnosticism tidak secara khusus mempunyai hirarki dan lembaga yang jelas, tetapi ia ‘menyusup’ pada agama-agama yang sudah ada, menggunakan struktur agama tersebut sambil mengaburkan apa yang menjadi kepercayaan agama tersebut dan ajaran aliran Gnosticism sendiri. Hal serupa terjadi pada NAM. Ciri-ciri Gnosticsm yang mencoba merasuki iman Kristiani:
Pada jaman para rasul, sudah ada pengaruh Gnosticism yang ingin ‘mengaburkan’ kebenaran Injil. Maka pada surat kepada jemaat di Kolose Rasul Paulus memperingati mereka untuk tidak mengikuti ‘roh-roh dunia’/ cosmic powers (Kol 2:8), dan Rasul Yohanes juga memperingatkan jemaat terhadap ajaran sesat yang tidak mengakui bahwa Kristus adalah Allah yang menjelma menjadi manusia (1Yoh 4:2).
Sekarang ini prinsip Gnosticism terdapat dalam NAM, yang sesungguhnya berakar dari agama-agama Timur, terutama Hindu Pantheism dan Buddha. Kepercayaan NAM adalah bahwa segala sesuatu adalah Satu (Brahman) dan Satu adalah Tuhan. Dunia yang kita ketahui sekarang adalah ilusi. Jadi tujuan hidup bagi penganut NAM adalah untuk menemukan kesatuan dan keilahian di dalam segala sesuatu. Maka tujuan dari latihan rohani NAM adalah untuk menemukan keilahian dalam setiap orang, bahwa setiap kita adalah Tuhan! Maka setiap kita akan kehilangan jati diri sebagai individu, dan terserap di dalam kesatuan yang disebut Nirwana. Kesatuan tersebut bukan pribadi, namun suatu Energi universal. Jadi Allah di sini digambarkan sebagai Energi.
Bagaimana mengatur/ mengarahkan ‘energi’ inilah yang diajarkan oleh reiki, dan juga sesungguhnya oleh yoga, dengan aneka gerakan. Pada tahap awal, mempelajari gerakan-gerakan ini sepertinya tidak berbahaya, namun pada tahap lanjut mengarah kepada suatu meditasi pengosongan diri dan mantra-mantra tertentu. Praktek seperti demikian tidak sesuai dengan ajaran Kristiani, dan karenanya sesungguhnya tidak boleh diikuti oleh umat Katolik. Sesungguhnya mengikuti gerakan yoga sebatas olah raga tidak menjadi masalah, asalkan jangan sampai mendalami ke tahap yang lebih dalam. Namun jika dapat dihindari, tentunya hal itu lebih baik; sebab sesungguhnya dapat saja dipilih bentuk olah raga yang lain yang tidak mengarah kepada NAM. Karena semakin yoga/ reiki dituruti, semakin ada tingkatan tertentu yang jika diikuti terus tidak sesuai dengan iman Katolik, sebab:
Saya menganjurkan, jika ada orang Katolik yang tertarik melakukan meditasi, silakan mempelajari meditasi yang diajarkan oleh Para Orang Kudus yang sesuai dengan tradisi iman Katolik, seperti meditasi ala St. Theresia dari Avila, St. Franciskus de Sales, atau St. Ignatius dari Loyola, dan St. Yohanes Salib. Fokus meditasi tersebut adalah Allah dan bukan "mengosongkan diri". Meditasi yang dianjurkan Gereja adalah meditasi dengan merenungkan Sabda Allah, yang disebut "Lectio divina", atau sering juga dikenal dengan sebutan ‘berdoa dengan Sabda Tuhan’. Meditasi ini jelas berbeda dengan meditasi ala NAM.
Pihak Vatikan pernah mengeluarkan dokumen mengenai tanggaan Gereja terhadap New Age Movement, yang pada dasarnya menolak paham NAM tersebut, dan aneka bentuk penggabungan antara NAM dan iman Kristiani. Silakan membaca dokumen-nya di sini: Pontifical Council for Culture, Pontifical Council for Inter-religious Dialogue, Jesus Christ the Bearer of the Water of Life: A Christian reflection on the "New Age"(silakan klik) dan Presentations of Holy See’s document on "New Age". (silakan klik)
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
Ingrid Listiati
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Peri hal meditasi. Kalau dalam meditasi kita arahkan untuk mencari “keperkasaan, kekuatan”, jelas meditasi seperti tidak boleh. Tetapi kalau kita mau meditasi di mana Kitab Suci sebagai sumber inspirasi dan pegangan hidup, maka itu malah dianjurkan. Meditasi Kitab Suci yang berbasiskan “lectio divina”, yang merupakan tradisi gereja perdana, menurut saya saya sangat dianjurkan dewasa ini. Lectio divina sampai saat ini banyak dilakukan tidak hanya oleh biarawan-biarawati, tetapi juga oleh awam yang kini mulai diminati oleh umat. Jika orang mengalami krisis iman, mari kembali kepda “lectio divina”.
Tuhan berkati.
Jus S
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Yth : Stefanus Tay & Inggrid Listiati
Perihal meditasi yg sudah sampai di Lingkungan saya (aliran ‘x’ bukan dari Gereja Katolik) tapi sangat disosialisasikan oleh beberapa oknum senior Lingkungan dengan alasan untuk penyembuhan.
Bahkan salah satu seksi di gereja memanggil masternya dari Philipina yang notabene beragama Katolik ?
Tetapi yang aneh Ajaran/Prinsip Dasarnya aliran ‘x’ itu adalah ‘hitam dan putih adalah sama/seimbang !
Terus saya bertanya, klo atas dasar pengajaran seperti itu dapat berarti Tuhan Yesus dan Raja Setan itu seimbang dong ?
Sepengetahuan saya itu,sudah bertentangan dengan Injil(Sabda Tuhan) deh…dan banyak umat yang tertarik ajaran meditasi tersebut.
Salam dalam Kasih Yesus Kristus,
Gendut
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Gendut,
Kami prihatin dengan adanya banyak orang Katolik yang tertarik mengikuti meditasi non-Katolik yang mengajarkan ‘keseimbangan antara hitam (kejahatan) dan putih (kebaikan)’. Kelihatannya meditasi semacam ini adalah semacam aliran New Age yang tidak sesuai dengan ajaran Gereja Katolik. Gereja Katolik tidak pernah mengajarkan bahwa kekuatan baik seimbang dengan kekuatan yang jahat, apalagi mensejajarkan Kristus dengan Iblis. Hal ini sungguh tidak sesuai dengan ajaran Gereja Katolik. Saya pernah menuliskan tanggapan Gereja Katolik mengenai aliran New Age ini, dalam tulisan ini (silakan klik).
Jadi memang sebaiknya kita waspada terhadap aliran-aliran meditasi semacam ini. Jangan sampai, demi mengejar kesembuhan, kita tidak lagi mengandalkan Tuhan "Sang Tabib di atas segala tabib’ namun malah menjerumuskan diri di dalam kekuatan roh-roh dunia (lihat Kol 2:8). Sebagai orang Katolik, mari kita kembali kepada iman kita, kembali kepada Sakramen Ekaristi yang mengandung Kristus sendiri. Tidak ada yang lebih berkuasa menyembuhkan, daripada Tuhan sendiri, yang mampu menyembuhkan, tidak saja jasmani kita namun lebih dari itu, rohani kita. Hanya dengan bersandar pada Kristus, kita akan menerima kesembuhan yang sejati, terutama kesembuhan rohani kita, yang mempersiapkan dan mengantar kita pada kehidupan kekal.
Selamat menjadi saksi Kristus, Gendut, untuk membawa saudara- saudari di lingkungan anda untuk kembali mengandalkan Tuhan. Namun di atas semuanya itu, jangan lupa, sampaikanlah ajakan untuk bertindak sesuai dengan iman kita ini dengan lemah lembut dan hormat (lihat 1 Pet 3:15), demikian juga dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin ada. Dengan niat yang tulus dan dengan diiringi oleh doa, kami percaya, Gendut dapat melaksanakan peran anda untuk menyampaikan terang Kristus di tengah-tengah lingkungan anda yang mungkin mulai ‘redup’.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
Ingrid dan Stefanus
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by antonius sapto putro on 26 December 2008:
Salam damai dalam Kristus selalu ,
Sebelumnya saya ucapkan selamat hari raya Natal 2008 dan Tahun Baru 2009 kepada Bapak Stefanus Tay dan Ibu Ingrid Listiati, pengorganisir web kaltolisitas.org.
saya menemukan webstite katolisitas.org secara tidak sengaja pada waktu mencari kartu ucapan natal di website .
website ini benar - benar sangat membantu untuk mempertebal iman katolik saya dalam kondisi dunia yg semakin mengutamakan hedonisme .
mungkun juga tangan Tuhan yg memberikan jalan bagi saya untuk sekarang lebih giat membaca bacaan Injil .
Yang jelas sekarang tiap mau kerja saya buka website inu dulu agar bisa tenang hati ini , karena siraman rohani bahkan pada waktu siang hari atau sore hari.
artikel dan ulasan Bapak Stefanus Tay dan Ibu Ingrid Listiati bagus sekali .
saran dari saya , teruskan menyebarkan kabar gembira melalui website ini kepada seluruh umat .
Salam dalam kasih Kristus ,
Anton
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by Jus Soekidjo on 25 December 2008:
Kepada pengasuh dan pecinta http://www.katolisitas.org, saya menyampaikan “Salam Damai Natal, biarlah Sang Pembawa Damai menjadi bintang di hati kita masing-masing. Selamat Natal 25 Desember 2008″.
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by gendut on 23 December 2008:
Selamat Hari Natal 2008 dan Tahun Baru 2009
Buat Admin dan Moderator serta seluruh Team Katolisitas.Org
Semoga Tuhan Yesus melimpahkan Berkat dan KaruniaNya
Salam dalam Kasih Tuhan
gendut sakbrayat
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by K. Paulus J.C on 21 December 2008:
Shalom katolisitas
Kami pernah membaca disalah satu web katolik tentang darah.-
Memang dalam Perjanjian Lama cukup banyak ayat yang menyatakan larangan makan darah antara lain Kej 9:4, Im 7:26-27, Im 17:12, Ul 12:23 dan akan tetapi, itu Perjanjian Lama.-
Ada larangan lain dalam Perjanjian Lama yang tidak diindahkan lagi misalnya Kel 35:3 janganlah kamu memasang api dimanapun dalam tempat kediamaanmu pada hari Sabat.”
Im 19:19 kamu harus berpegang kepada ketetapan-Ku.Janganlah kawinkan dua jenis ternak dan janganlah taburi ladangmu dengan dua jenis benih, dan janganlah pakai pakaian yang dibuat dari pada dua jenis bahan dan banyak lagi seperti Im 19:9-10, Im 3:17, Im 7:23-25
Lebih daripada itu,larangan-larangan yang disebutkan diatas sebelumnya tidak pernah dicabut secara eksplisit dalam Perjanjian Baru. Namun,Kol 2 :16 karena itu janganlah kamu biarkan orang menghukum kamu mengenai makanan dan minuman atau mengenai hari raya, bulan baru ataupun hari Sabat.-terus Mat 15:11=(Mrk 7:15,18) dengar dan camkanlah : bukan yang masuk kedalam mulut yang menajiskan orang,melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.-
Ok, sampai disini kami setuju namun ada teman kami yang bertanya :
1. ini pertanyaan dari agama lain, bagaimana kalau yang masuk kemulut itu nakorba seperti : ektasi,ganja,morfin dll ??
2. tentang darah dan makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dimana diangkat kembali dalam Perjanjian Baru Kis 15:29 kamu harus menjauhkan diri dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari percabulan,Jikalau kamu memelihara diri dari hal-hal ini,kamu berbuat baik,sekianlah,selamat.”
Demikianlah pertanyaan kami, mohon pencerahaannya.-
Terima kasih sebelumnya.-
Salam kasih,
K.Paulus J.C
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Paulus,
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
Ingrid Listiati
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by Yohanes K. on 19 December 2008:
Dalam Injil Markus 1:29-39 yang dibacakan dan kemudian dibahas dalam kotbah pada Misa hari Sabtu, dikatakan bahwa ibu mertua Simon yang sakit demam disembuhkan oleh Yesus, kemudian dia melayani mereka (Yesus, Yakobus, Yohanes).
Pada Pertemuan Ibadah Lingkungan sehari sebelumnya, kebetulan Injil Markus 1:29-39 diatas juga dibacakan. Pada pertemuan itu ditekankan (sambil diminta untuk diamini) bahwa Ibu mertua Simon sembuh karena imannya kepada Yesus. Ditambahkan pula bahwa kalau kita beriman, kita sudah sembuh 50%.
A) Benarkah Ibu mertua Simon sembuh karena imannya sendiri atau karena solidaritas iman Yakobus dan Yohanes yang mengantar Yesús kepadanya?
B) Benarkah kalau kita beriman berarti kita sudah sembuh 50%?
C) Mengapa Yesús menolak menemui orang-orang yang mencari Yesús dan men-jawab: “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya
di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang?” Mengapa Yesus menolak menemui orang-orang itu. Bukankah mereka juga ingin mendengar berita baik (injil) dari Yesus?
Terimakasih
Yohanes K.
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Yohanes K.
Terima kasih atas pertanyaannya. Maaf saya baru dapat menampilkannya sekarang, karena kesibukan kuliah. Mari kita membahas pertanyaan Yohanes.
Beberapa prinsip yang perlu kita pegang:
A. Apakah yang menyebabkan ibu mertua Simon sembuh?
Dari sinilah, kita juga belajar, bagaimana para santa dan santo dapat membantu kita yang di dunia ini untuk mendapatkan kesembuhan, baik fisik maupun rohani.
B. Apakah kalau kita beriman berarti kita telah sembuh 50%?
Kita dapat belajar dari para orang kudus, seperti St. Teresa kanak-kanak Yesus, yang dengan tabah menghadapi penyakit tuberculosis. Yang terberkati Ibu Teresa dari Kalkuta dengan tabah mengalami operasi beberapa kali karena sakit jantung, sesak nafas, patah tulang. Kalau kita introspeksi, kita tidak mempunyai iman sebesar mereka. Namun para santa dan santo tahu, bahwa bukan kesembuhan fisik yang terutama, namun kehidupan spiritual mereka. Dalam penderitaan mereka, para santa dan santo menyatukannya dengan penderitaan Yesus di kayu salib. Kita juga diundang untuk melakukan hal yang sama.
Jadi, kita harus mengingat kembali, bahwa kesembuhan fisik tidak akan berarti apa-apa tanpa kesembuhan rohani.
C. Yesus menolak menemui orang-orang (Mk 1:38)?
Demikian jawaban yang dapat saya berikan dan semoga dapat menjawab pertanyaan Yohanes.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
stef
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Stefanus Tay,
Terima kasih untuk jawaban Stefanus atas salah satu dari 5 pertanyaan saya. Sementara menunggu jawaban Stefanus, saya menemukan petikan berikut: “Naaman, orang Siria itu, menjadi percaya karena menjadi tahir. Orang Samaria menjadi tahir karena percaya akan Yesus”.
Bisakah kita simpulkan bahwa “Orang bisa disembuhkan Tuhan meski belum beriman?”
Salam Damai Kristus,
Yohanes K
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Yohanes,
Pertanyaan-pertanyaan yang lain saya akan jawab nantinya, hanya mohon kesabarannya.
Kita tidak dapat menyimpulkan bahwa "orang disembuhkan Tuhan meski belum beriman". Sebagai contoh dalam kasus Naaman, dia disembuhkan karena dia juga melakukan sesuatu sebagai pernyataan iman, dimana dikatakan "Maka turunlah ia membenamkan dirinya tujuh kali dalam sungai Yordan, sesuai dengan perkataan abdi Allah itu. Lalu pulihlah tubuhnya kembali seperti tubuh seorang anak dan ia menjadi tahir" (2 Raj 5:14).
Jadi iman - baik iman sendiri maupun iman dari orang lain, terutama orang-orang yang mengasihinya, seperti anggota keluarga, komunitas di Gereja, dll. - dan kesembuhan tidak terpisahkan.
Sama seperti seseorang yang ingin sembuh, dia harus ke dokter sendiri atau diantar oleh orang-orang yang mengasihinya.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
stef
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Terima Kasih buat tanggapan Stefanus.
Pada kesempatan ini saya ingin mengucapkan Selamat Natal 2008.
Yohanes K.
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by Margs on 18 December 2008:
Hello there..,
Kakak saya memberitahukan website ini 1 minggu yg lalu, dan ternyata sangat menarik. Saya belum menelusuri semua isinya, saya baru membukanya hari ini.
Sudah lama saya ingin menanyakan apakah perbedaan pengajaran dari gereja Katolik dan gereja Presbyterian, karena saya tidak tahu siapa yang bisa saya tanyakan, mungkin anda bisa membantu ?
terima kasih.
Margs
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Margs,
Terimakasih atas pertanyaannya dan dukungannya terhadap katolisitas.org. Mari kita melihat pertanyaan Margs tentang perbedaan Presbyterian dan Gereja Katolik:
Gereja Katolik mengajarkan tiga pilar kebenaran: Alkitab, Tradisi Suci, dan Magisterium (dapat dilihat di pembahasan ini).
Katolik mengajarkan ada 46 PL dan 27 PB atau 73 buku. Untuk pembahasan tentang kitab deuterokanonika dapat dilihat di jawaban ini (silakan klik).
Gereja Katolik mengajarkan bahwa setelah dosa asal, manusia mempunyai concupiscience atau kecenderungan berbuat dosa, namun manusia masih mempunyai kebebasan untuk menjawab panggilan Tuhan atau menolaknya. Untuk pembahasan tentang hal ini silakan melihat jawaban ini (silakan klik).
Gereja Katolik mengajarkan akan "predestination", bahwa Tuhan mengajarkan semua manusia masuk surga, namun karena sebagian manusia tidak mau bekerjasama dengan rahmat Allah, maka mereka kehilangan keselamatannya.
Lihat jawaban lebih detail disini (silakan klik).
Gereja Katolik mengajarkan bahwa keselamatan adalah sesuatu yang lalu, sekarang, dan akan datang, sehingga kita harus berjuang dalam kekudusan sampai akhir hayat kita. Keselamatan dapat hilang karena dosa berat.
Demikian jawaban yang dapat saya berikan, semoga dapat menjawab pertanyaan Margs.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
stef
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by Lina on 17 December 2008:
Hallo Stef dan Ing,
Saya salut anda berdua pintar sekali…
Bersyukur yah Anda berdua dipakai Tuhan untuk membantu kami2 yang awam…
Saya mau tanya mengenai salib Yesus..
Saya pernah baca bahwa Yesus bukan di paku di telapak tetapi di pegelangan tangan dan bawah lutut, mengapa salib yang kita kenal pada umumnya di telapak?
Mengapa gambar pada saat Yesus disalibkan di Golgota, hanya Yesus yang dipaku, sedangkan kedua lainnya diikat tali? Apakah mereka tidak dipaku?
semoga kuliah kalian berdua lancar dan diberkati Tuhan selalu..
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Lina,
Terimakasih atas dukungannya kepada katolisitas.org. Kita juga sama-sama masih belajar untuk semakin mendalami iman Katolik yang begitu indah dan benar. Mari kita membahas pertanyaan Lina.
Hukuman salib diberikan bagi para penjahat dan budak pada jaman kerajaan Roma dan mungkin merupakan hukuman yang paling kejam, karena terhukum mati secara perlahan-lahan karena tidak dapat bernafas. Paku yang menembus tangan menyentuh urat nadi utama, sehingga pada saat bernafas, paku akan menggesek urat nadi utama yang menimbulkan sakit yang luar biasa.
Ada berbagai macam cara dalam hukuman salib. Semakin berat kejahatan seseorang, maka hukuman salib menjadi lebih berat, seperti yang dialami oleh Yesus, yaitu dipaku di tangan dan di kaki. Sedang penjahat yang lain tidak dipaku karena mereka dianggap penjahat biasa.
Dari hal keterangan tersebut di atas, Yesus benar-benar membayar dosa kita semua dengan harga yang begitu mahal, yaitu dengan penderitaan-Nya di kayu salib dan mencurahkan darah sehabis-habisnya untuk menebus dosa kita. Mari kita bersama-sama berjuang untuk hidup kudus dan memikul segala kesusahan kita di dunia ini dan menyatukannya dengan penderitaan Yesus di kayu salib.
Semoga jawaban tersebut di atas dapat menjawab pertanyaan Lina.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
stef
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by jeffreywinmart on 16 December 2008:
Wah.. isi blog ini bagus sekali..
Saya baru akan memulai juga nih…………
.
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by Jus Soekidjo on 13 December 2008:
Pak Stef and Inggrid,
Setelah saya klik di sana sini, yang paling menarik bagi saya adalah mengenai “apologetik”. Kolom itu menarik, karena kita mau menjelaskan dan begaimana beriman secara Katolik. Saya dukung sekali apologetik ini untuk membuka mata terutama bagi mereka yang sangat anti Katolik. Hampir 2000 tahun lalu Gereja Katolik yang kudus, katolik dan apostolik berdiri kokoh, karena itu ada upaya untuk merongrong dan akhirnya menghancurkan terhadap Gereja Katolik. Menjadi Katolik adalah rahmat, bukan pilihan. Setiap akhir Misa kita, imam selalu berepsan”Pergilah, kamu diutus”. Pertanyaannya apakah kita ini merasa diutus atau tidak. Manakah perutusan yang harus kita jalani.
Selamat melayani di dunia maya, Tuhan berkati.
Jus Soekidjo
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by Rebekka on 11 December 2008:
Sudah lama saya mencari website tentang agama Katolik dan saya benar2 berterima kasih dengan situs yang baru saya dapat ini menjadikan saya lebih memahami menjadi seorang Katolik. Terima kasih.
[dari admin: saya pindahkan pesan ini ke buku tamu]
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by darius atarega on 10 December 2008:
Salam dalam Kristus,
Pengelolah web. katolisitas, yang saya hormati. Bagaimana saya bisa mendapatkan berita atau artikel yang up to date yang langsung dikirim ke alamat email mosalaki.tarega@gmail.com. Hal ini berguna karena dengan berkembang pesatnya moderenisasi global, yang namanya iman terhadap Kristus bisa saja terjadi krisis. Untuk itu mohon kesediaannya membantu dalam mendewasakan iman kekatolikan saya. walaupun saya sendiri pernah belajar teologi di STF Driyarkara-Jakarta.
Tuhan memberkati,
Darius Atarega
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Darius,
Terimakasih atas dukungannya terhadap katolisitas.org. Untuk mengirimkan e-mail secara otomatis, kami masih belum bisa melakukannya. Mungkin nantinya kami akan dapat membuat semacam edisi cetak secara berkala yang dikirimkan kepada subscriber, yang sampai saat ini kita masih belum tahu caranya.
Jadi saat ini, Darius dapat melakukan RSS dengan klik di pojok kanan atas, sehingga Darius dapat melihat kalau ada artikel terbaru. Darius juga dapat klik RSS Pesan, sehingga kalau ada pesan terbaru, Darius juga dapat memantaunya.
Doakan agar kami dapat terus mengelola website ini dengan baik untuk kemuliaan nama Tuhan..
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
stef
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by Jus Soekidjo on 7 December 2008:
Setelah membaca secara speed reading, ternyata website ini bagus sekali. Dunia maya dan dunia digital sudah semakin maju. Bahkan saya pernah seolah berjuang sendiri, karena saya harus menghadapi serangan denominasi yang begitu banyak. Saya pernah konseling dengan seorang romo. Malah dia bilang: KWI, atau Vatikan saja diam, kok kamu berjuang sendiri. Karena serangan terhadap iman katolik di dunia maya makin gencar, jadi kalau gereja katolik tidak sigap, maka penyerangan itu akan merajalela. Web ini saya temukan secara tidak sengaja, waktu saya terima email tentang kesaksian iman sdr. Maria B, dari Amerika, dan saya telusuri websitenya sudah diblokir. Maka saya cari di katolisitas.org. Selain minta ijin untuk memuat artikel tersebut, saya juga mendukung adanya website semacam itu. Bravo, http://www.katolistas.org.
Tuhan berkati.
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by Joseph Saputra on 7 December 2008:
Stef & Inggrid ytk, maju terus untuk website katolisitas.org ini. Semoga katolisitas tetap exist dan dapat memberikan manfaat bagi kami semua. Saya ingin menanyakan tentang “mengapa St.Petrus datang ke Roma? Bukankah St.Petrus sebelumnya tinggal di Jerusalem. Dan Bukti apakah yang menunjukkan bahwa Petrus adalah Paus yang pertama?
Terimakasih sebelumnya, damai Tuhan beserta kita selalu.
Joseph.
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Joseph,
Terimakasih atas dukungannya untuk katolisitas.org. Saya juga berharap bahwa katolisitas.org dapat berguna bagi banyak orang. Mari kita melihat pertanyaan dari Joseph. Untuk saat ini, saya hanya dapat memberikan jawaban yang singkat, namun di kemudian hari, katolisitas.org akan membuat artikel tersendiri tentang topik infallibility dan Rasul Petrus sebagai Paus pertama.
A. Apakah bukti bahwa Petrus datang ke Roma?
I. Bukti dari Kitab Suci:
Dari surat 1 Petrus ini, kita tahu bahwa Petrus berada di Babilon pada waktu dia menulis surat.
II. Bukti dari Bapa Gereja:
B. Apakah buktinya bahwa St. Petrus adalah paus yang pertama.
I. Bukti dari Kitab Suci:
Petrus disebutkan 118 kali di Injil, dan Yohanes 38 kali. Dan penggabungan Injil dan Kisah Para Rasul menyebutkan Petrus 171 kali dan Yohanes 46 kali.
II. Bukti dari Bapa Gereja:
Itulah yang dapat saya sampaikan dan semoga dapat menjawab pertanyaan Joseph.
Mari kita bersama-sama bersyukur atas anugrah Bapa Paus, seseorang yang dipercayakan oleh Kristus untuk memimpin seluruh umat beriman dalam kesatuan sehingga seluruh umat beriman dapat sampai kepada tujuan akhir, yaitu Surga.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
stef
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Pak Stef, terimakasih atas jawaban yang telah diberikan, tetapi pada pertanyaan yang pertama, maksud yang saya tanyakan adalah “Mengapa St. Petrus yang tinggal di Jerusalem datang ke Roma? Apakah dalam Kitab Suci Yesus pernah mengatakan kepada Petrus untuk pergi ke Roma/Babilon? Mengapa Petrus pada saat itu pergi ke Roma?
Saya sangat berterimakasih atas jawaban2 dari pak Stef dan Bu Inggrid, semua jawaban itu sangat membantu saya.
Semoga anda berkenan memberikan jawaban atas pertanyaan saya diatas.
Terimakasih atas waktu dan kebaikan anda berdua.
Salam,
Joseph
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Joseph,
St. Petrus yang tinggal di Jerusalem datang ke Roma adalah:
Dari bukti-bukti di atas kita dapat menyimpulkan bahwa St. Petrus memang datang ke Roma dan meninggal di Roma. Kalau ditanya mengapa Petrus datang ke Roma? Saya percaya bahwa St. Petrus sebagai rasul yang dipercayai oleh Kristus sebagai batu karang (Mat 16:18) dimana Gereja didirikan di atasnya, dan dinubuatkan oleh Yesus sendiri bahwa dia akan memuliakan Allah dengan kematiannya (Yoh 21:18-19), maka Roh Kudus sendiri yang menuntun Petrus untuk memberitakan kebenaran Kristus ke pusat dunia pada waktu itu, yaitu Roma. Dengan demikian, banyak orang dari segala bangsa dapat mendengarkan kebenaran Kristus, sehingga St. Petrus sendiri memenuhi apa yang difirmankan oleh Kristus untuk memberitakan kebenaran ke seluruh bangsa (Mat 28:19-20). Dan melalui karya Roh Kudus inilah, dunia menyaksikan bahwa janji Tuhan yang melindungi Gereja-Nya sampai akhir jaman (Mat 16:18; Mat 28:20) terpenuhi dengan adanya Paus, yang menjadi uskup Roma sekaligus gembala seluruh umat Katolik seluruh dunia, yang dimulai dari Rasul Petrus, sampai saat ini, Paus Benediktus XVI - Paus ke 265, dan pengganti-penggantinya sampai akhir jaman.
Jadi Kabar Gembira diberitakan di Yerusalem, kemudian ke seluruh Yudea ke orang-orang Yahudi, kemudian ke Samaria, yaitu orang-orang tidak murni Yahudi, dan akhirnya ke "ujung bumi", yaitu ke kaum Gentile/yang belum mengenal Tuhan. Dan inilah yang dilakukan oleh Paus kita yang pertama, St. Petrus, dimana dia mengunjungi orang-orang yang percaya di Samaria (Kis 8:14-17), dan kemudian orang-orang dari golongan yang tidak percaya, yang kemudian menjadi percaya akan Kristus (Kis 10:34-38). Dan akhirnya, Kisah Para Rasul di tutup dengan pewartaan di Roma. Ini merupakan karya Roh Kudus yang menyertai para rasul dan murid untuk menyebarkan Kabar Gembira dari Yerusalem, seluruh Yudea, Samaria, dan akhirnya Roma - pusat dunia - sehingga dapat mencapai ke seluruh bangsa. Dan karya Roh Kudus jugalah yang membuat Paus sampai saat ini terus berada di Roma.
Demikian tambahan keterangan yang dapat saya sampaikan, semoga dapat menjawab pertanyaan Joseph.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
stef
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Terimaksih Pak Stef atas jawabannya, semoga katolisitas.org tidak bosan dan lelah menjawab pertanyaan2 kami umat awam Katolik yang memang membutuhkan pengetahuan2 tentang ajaran iman Katolik yang didapat dari sumber yang credible spt di katolisitas.org ini.
Bravo untuk katolisitas.org Allah Tritunggal & Bunda Maria beserta selalu.
Salam,
Joseph S.
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by albertus yuniarto on 7 December 2008:
shalom..
saya mau nanya neh kepada rekan-rekan seiman soalnya aq msh agak bingung tentan perkataan ini, pada injil yohanes 14:28 disitu tuhan yesus mengatakan “bapa lebih besar daripada aku” apa maksudnya ya, bukanya tuhan yesus itu satu dengan Allah kenapa ada firman seperti itu, mohon pencerahanya.thanks
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Albertus,
Berikut ini adalah pengertian ayat Yoh 14:28, "….karena Aku pergi kepada BapaKu, sebab Bapa lebih besar dari pada Aku," menurut "A Catholic Commentary on Holy Scripture", oleh Dom Bernard Orchard OSB, (general editor), 1953, hl. 1007;
"The greatness of the Father over the Son was conceived by some early Fathers as the relation of the giver of the divine nature to him who receive it by generation. Though theologically justifiable in the sense of priority of relationship, this conception is not exegesis. Jesus is speaking as the Word Incarnate and as one going to the Father by the glorification of his humanity. The Word as Son was equal to the Father; the Word Incarnate as man was less than the Father."
Jadi, menurut penjelasan di atas, ada dua hal dalam hal ini:
Kita dapat hal ini di dalam Kitab Suci sendiri, di mana Yesus yang adalah sang Sabda/ Firman, dikatakan sudah ada sejak awal mula, "Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah…. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan". (Yoh 1:1,3).
Origen (185-254), salah seorang Bapa Gereja mengatakan bahwa, karena Kristus Allah Putera adalah Sang Sabda, Sang Kebijaksanaan dan Kehidupan Allah Bapa, sehingga tidak mungkin Allah Bapa ada tanpa Allah Putera.
St. Athanasius (296-373) adalah Bapa Gereja yang sangat berjasa dalam meluruskan doktrin kesetaraan Yesus dengan Allah Bapa. Doktrin ini ditetapkan pada Konsili Nicea (325) untuk menolak ajaran sesat Arianisme yang mengatakan bahwa Yesus tidak setara dengan Bapa, melainkan setingkat lebih rendah (jadi semacam ‘super angel‘). Ajaran Arianism ini dapat mengarah kepada sejenis polytheism, yang mengakui tuhan lebih dari satu, di mana allah yang satu lebih rendah dari allah lainnya. Ini tentu tidak sesuai dengan ajaran Gereja! Kita percaya pada Allah yang satu, dalam Tiga Pribadi, namun yang ketiganya berhakekat sama. Ini adalah misteri Allah, yang memang hanya dapat kita tangkap jika kita mempunyai iman akan apa yang diwahyukan sendiri oleh Allah tentang Diri-Nya melalui Kristus.
Yesus sendiri menyatakan kesetaraan-Nya dengan Bapa dalam banyak kesempatan, seperti yang dituliskan dalam artikel "Kristus yang kita imani= Yesus menurut sejarah". Terutama bahwa Yesus mengatakan bahwa "Barangsiapa telah melihat Aku; ia telah melihat Bapa….Percayalah kepadaku, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku…" (Yoh 14: 9-11). Dan segala pekerjaan dan mukjizat yang dilakukan oleh Yesus membuktikan bahwa Ia adalah sungguh-sungguh Tuhan.
Jadi Yesus mengatakan ‘Bapa lebih besar daripada Aku’, adalah dalam konteks bahwa Ia adalah Tuhan yang menjelma menjadi manusia, sehingga dan dalam kapasitasnya sebagai manusia, Yesus mengatakan bahwa Ia akan kembali kepada Allah Bapa yang lebih besar dari padaNya, yaitu Allah yang mengutusNya untuk menjelma menjadi manusia.
Masih berkaitan dengan hal ini adalah perkataan Yesus tentang akhir jaman, di mana Ia mengatakan, bahwa, hanya Allah Bapa yang tahu hari dan waktunya (lihat Mrk 13:32). Tentang hal ini sudah pernah saya jawab