Bagaimana Ordo Benediktin membangun Kebudayaan Eropa?

1

St. Benediktus dari Nursia (480-543) dihormati oleh Gereja Katolik sebagai Santo pelindung benua Eropa dan para pelajar. Ia dikenal terutama karena “the Rule of St. Benedict“/ Ketentuan St. Benediktus, yang intinya sebagai berikut (untuk selengkapnya, silakan klik di sini):

1) Ketentuan St. Benediktus secara prinsip dapat dilakukan oleh siapa saja yang ingin hidup dengan ketaatan untuk berjuang bagi Kristus.

2) Pekerjaan merupakan sesuatu yang utama/ penting untuk bertumbuh dalam kebaikan, jadi bukan hanya keadaan untuk para budak (sebagaimana merupakan pandangan umum di zaman itu);

3) Kehidupan religius secara mendasar adalah bersifat sosial: karena itu dalam komunitas, mereka bekerja dan berdoa bersama, memiliki segala sesuatunya secara bersama. Ora et Labora, berdoa dan bekerja, merupakan semboyan mereka.

4) Walaupun tidak boleh mempunyai harta milik sendiri, para rahib Benediktin tidak mempunyai kaul kemiskinan. Mereka diperbolehkan memiliki kepemilikan bersama yang digunakan untuk karya komunitas dan untuk keuntungan masyarakat sekitar. Maka walaupun para rahib secara individual hidup sederhana, namun biara merupakan tempat untuk memberi sedekah untuk orang-orang miskin, untuk memberi pakaian kepada yang tidak punya pakaian, merawat yang sakit, menguburkan yang meninggal, dst.

5) St. Benediktus memulai suatu komunitas yang didasari oleh ketentuan tersebut yang kemudian berkembang menjadi ordo St. Benediktus.

6) Doa digabungkan dengan keseluruhan hidup, hidup tak lengkap jika tidak diresapi doa. Tingkat pertama adalah kesadaran akan kehadiran Tuhan dalam diri sesama. Maka mereka melayani orang sakit seperti melayani Kristus, menjamu tamu/ peziarah, seperti menyambut Kristus sendiri. Doa dalam komunitas adalah doa bersama secara publik, dan doa pribadi. Doa-doa ini digabungkan dalam kehidupan komunitas, dalam karya mereka mengajar di sekolah-sekolah dan universitas, dalam memajukan seni maupun pertanian maupun bidang studi lainnya, serta membimbing kerohanian umat.

Dalam tahapan periode sejarah, zaman Benediktin dan pengaruhnya ini jatuh di periode tahun 500-1500 sebelum zaman Renaissance, yang sering salah kaprah disebut “the Dark Ages“. Sekarang para ahli sejarah telah mengetahui dengan lebih objektif tentang apakah masa itu layak disebut sebagai “Dark Ages“. Sebab dalam abad-abad itu, manuskrip Yunani dan Latin disalin kembali, disimpan, didiskusikan, dan dilestarikan sehingga membuka jalan terhadap lahirnya Renaissance, yang merupakan kelahiran kembali ke zaman kuno yang dipadukan dengan agama Kristen, sehingga menghasilkan kebudayaan yang unik.

Masa tiga abad pertama dalam milenium kedua (yang disebut High Middle Ages) adalah jauh dari kegelapan ataupun terbelakang dalam hal ilmu pengetahuan. Pada masa itu banyak dibangun katedral-katedral yang dari kompleksitasnya, terbukti dibangun oleh masyarakat yang beradab.

Maka para ahli sejarah kini berpandangan bahwa masa “Dark Ages” itu berkaitan dengan periode tahun 500-700, di mana saat itu memang masih relatif sedikit buah-buah yang dapat dirasakan dalam hal pendidikan, hasil karya sastra dan indikator budaya lainnya. Di periode itu memang terjadi kemunduran kebudayaan Eropa secara umum, yang disebabkan oleh invasi bangsa barbar yang menghancurkan kebudayaan Romawi. Invasi itu menghancurkan banyak kota, biara, perpustakaan, sekolah, dst. Hanya Gereja-lah yang bertahan dan bahkan berperan dalam masa ke-vakuman tersebut, untuk mempertahankan sisa-sisa kebudayaan yang ada, dengan menyalin kembali banyak naskah-naskah kuno, dan melestarikan ilmu bercocok tanam, metalurgi, fisika, biologi dst, dan mengajarkannya di sekolah-sekolah. Dengan prinsip “berdoa dan bekerja”, ordo Benediktin ini berkembang hingga menangani 37,000 biara yang tersebar di seluruh Eropa di abad- abad berikutnya. Ordo ini melestarikan agrikultur dan seni di Eropa. Mereka mengajarkan bagaimana bercocok tanam, membangun sistem irigasi, beternak, membuat perkebunan, membuat keju, menangkap ikan, dst. Biara-biara mereka menjadi unit yang efektif dalam hal menggunakan tenaga air, yang dipakai untuk menghancurkan bulir gandum, mengayak tepung, menenun, dst. Para rahib juga dikenal karena keahlian mereka di bidang metalurgi. Mereka memotong gunung penghasil marmer, mengerjakan pekerjaan kaca, mencetak plat besi, menambang garam, membuat jam, dst. Namun yang juga tak kalah penting, sebagaimana telah disebut di atas, mereka menyalin naskah-naskah kuno sehingga kebudayaan Barat akhirnya tidak punah. Itulah sebabnya kebudayaan Eropa tidak hancur, walaupun sempat diserang habis-habisan oleh kaum barbar.

Selanjutnya tentang kisah ini, silakan membaca artikel ini, silakan klik, yang ditulis oleh seorang profesor sejarah dari kalangan sekular, bukan dari kalangan imam Katolik, sehingga kita dapat mengetahui bahwa apa yang ditulisnya bersifat netral, tidak berisi muatan apapun untuk membela Gereja Katolik.

Kesimpulan:

Berikut ini adalah hal-hal yang menjadi ciri khas biara-biara Benediktin di Eropa yang berpengaruh terhadap kebudayaan Eropa:

1) menjadi tempat persinggahan peziarah ataupun orang-orang yang melakukan perjalanan, menjadi tempat pelayanan bagi orang-orang sakit, dengan memberikan tempat yang menawarkan keteraturan, kesalehan dan keramahan.

2) menjadi tempat pembelajaran bagi ilmu kedokteran dan ilmu pengetahuan lainnya, melalui pelestarian manuskrip/ naskah-naskah kuno, yang memberikan kontribusi terhadap kebudayaan klasik. Banyaknya istilah dan nama Latin yang digunakan dalam biologi dan ilmu kedokteran sampai sekarang adalah bukti nyata akan pengaruh kaum Benediktin dalam melestarikan ilmu tersebut.

3) menjadi pusat dikembangkannya jalan hidup yang berpusat pada liturgi, yang disebut sebagai ‘karya Allah’, dengan menggabungkan doa dengan pekerjaan manual maupun intelektual: “Ora et Labora

4) menjadi pusat pengembangan agrikultur, metalurgi dan sastra klasik.

5) memberikan pondasi bagi pendidikan kaum muda dan pembentukan Eropa di zaman Abad Pertengahan. Di setiap desa dan kota, di setiap katedral dan biara, terdapat sekolah, yang memberikan pendidikan gratis kepada kaum miskin. Prinsip pendidikan yang dilakukan kaum Banediktin memberikan pondasi bagi berdirinya universitas- universitas di Eropa, yang kemudian secara sistematik menyebar ke seluruh dunia.

6) Ordo Benediktin telah menghasilkan 24 orang Paus, 200 orang kardinal, 7.000 orang uskup agung, 15.000 orang uskup dan 1.500 orang Santo. Sampai tahun 1400, ordo Benediktin mempunyai 37.000 biara yang masing-masing menjadi pusat lokal budaya Katolik.

Dengan semua fakta ini, tak mengherankan jika St. Benediktus dinyatakan sebagai Santo pelindung Eropa, dan bahkan Paus kita yang sekarang mengambil nama Benediktus sebagai namanya, ketika ia dipilih sebagai Paus.

Share.

About Author

Stefanus Tay, MTS dan Ingrid Listiati, MTS adalah pasangan suami istri awam dan telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

1 Comment

  1. Bonifasius Rey on

    Mengapa di komuni anglikan terdapat OSB atau biarawan benediktin ? Apakah biarawan OSB yang berada di anglican mengakui otoritas Uskup Roma ?

    [Dari Katolisitas: Secara umum, Gereja Anglican belum mengakui otoritas Paus (Uskup Roma), kecuali dari sejumlah Uskup dan umatnya yang memutuskan untuk bergabung secara penuh dalam kesatuan dengan Gereja Katolik; dan tentang hal ini pihak Vatikan telah mengeluarkan dokumennya, klik di sini.]