Apakah Henokh dan Elia diangkat ke surga?

6

Dalam Kitab Suci memang dikatakan bahwa Henokh ‘diangkat oleh Allah’ (lih. Kej 5:24, lih. Sir 44:16), walaupun tidak dikatakan ke mana ia diangkat, hanya dikatakan ‘diangkat dari bumi’ (Sir 49:14) atau ‘tidak mengalami kematian ‘(Ibr 11:5). Dan tentang Nabi Elia, dikatakan, “…. tiba-tiba datanglah kereta berapi dengan kuda berapi memisahkan keduanya, lalu naiklah Elia ke sorga dalam angin badai” (2 Raj 2:11); atau dikatakan bahwa ia “diangkat ke surga” (1Mak 2:58). Maka ayat-ayat ini sering dianggap sebagai dasar yang menunjukkan bahwa baik Henokh maupun Elia diangkat ke surga. Namun demikian, kita juga membaca ayat yang lain dalam Injil Yohanes yang mengatakan, “Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia.” (Yoh 3:13). Ayat ini mengindikasikan bahwa tidak ada seorangpun yang telah naik ke surga sebelum Kristus, sehingga dengan demikian tidak pula Henokh dan Elia. Bagaimana kita menjelaskan hal ini?

Nampaknya kita tidak dapat memperoleh kepastian yang definitif tentang hal ini, dan Gereja Katolik memperbolehkan adanya beberapa interpretasi yang mungkin, yaitu demikian:

1. Kemungkinan Henokh dan Elia tidak diangkat ke Surga dalam artian tempat kediaman Allah dan para malaikat-Nya, namun ke tempat penantian, di mana jiwa-jiwa orang-orang benar menantikan kedatangan Kristus Sang Mesias untuk membawa mereka ke Surga tempat mereka bersatu sempurna dengan Allah, setelah Kristus membuka pintu surga dengan kemenangan-Nya atas maut. Keberadaan tempat penantian jiwa-jiwa orang benar ini dikisahkan dalam perikop Lazarus (lih. Luk 16:19-31).

2. Henokh dan Elia diangkat ke tingkatan surga yang berbeda, sebab di dalam Kitab Suci juga dikisahkan adanya tiga tingkatan surga (lih. 2 Kor 12:2).

Pandangan ini diajarkan oleh St. Thomas Aquinas (lih. Summa Theologica III, q.49, a.5), yang mendasarkan ajarannya atas perkataan Rasul Paulus, yang mengatakan bahwa Kristuslah yang membuka jalan bagi kita untuk masuk ke tempat kudus (yaitu Surga) melalui darah-Nya yang tertumpah di kayu salib; dan karena itu, tidak ada seorangpun yang masuk ke sana sebelum Kristus membuka jalannya/ pintunya.

“Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri…” (Ibr 10:19-20)

St. Thomas Aquinas mengajarkan bahwa jalan ke tempat kudus (surga) itu tertutup karena dosa, sebagaimana dikatakan oleh Nabi Yesaya, “Di situ akan ada jalan raya, yang akan disebutkan Jalan Kudus; orang yang tidak tahir tidak akan melintasinya, dan orang-orang pandir tidak akan mengembara di atasnya….” (Yes 35:8). Dosa yang dimaksud di sini adalah dosa asal yang kita terima dari Adam dan Hawa, dan dosa pribadi yang kita lakukan sendiri.

Oleh pengorbanan Kristus [yang buahnya kita terima melalui Baptisan], dosa-dosa kita dihapuskan. Maka pintu surga terbuka bagi kita melalui pengorbanan Kristus. Hal ini diajarkan oleh Rasul Paulus, “Tetapi Kristus telah datang sebagai Imam Besar untuk hal-hal yang baik yang akan datang… Ia telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus bukan dengan membawa darah domba jantan dan darah anak lembu, tetapi dengan membawa darah-Nya sendiri. Dan dengan itu Ia telah mendapat kelepasan yang kekal.” (Ibr 9:11-12)….

Memang menurut Rasul Paulus para orang benar dan para nabi, “karena iman telah menaklukkan kerajaan-kerajaan, mengamalkan kebenaran…” (Ibr 11:33), namun iman dan kebenaran mereka tak akan cukup untuk menghalau penghalang yang ada akibat dosa manusia. Penghalang ini dilenyapkan hanya oleh darah Kristus. Oleh karena itu, sebelum pengorbanan Kristus, tak akan ada yang dapat memasuki Kerajaan Surga dan memperoleh pandangan surgawi (beatific vision/ eternal beatitude), yang adalah persatuan yang penuh dengan Tuhan: memandang Allah dalam keadaan-Nya yang sesungguhnya (lih. 1Yoh 3:2).

Dengan dasar pemahaman ini, menurut St Thomas, Elia (demikian pula Henokh) diangkat ke surga atmosferik, namun bukan surga empyrean yang merupakan tempat kediaman Allah dan para kudus-Nya; di sanalah keduanya hidup sampai kedatangan Antikristus.

Selanjutnya, walau hal ini bukan ajaran definitif Gereja Katolik, namun beberapa Bapa Gereja (contohnya St. Gregorius, St. Hieronimus, St. Yustinus Martir) mengatakan bahwa Henokh dan Elia adalah kedua orang saksi yang akan datang kembali menjelang akhir zaman (lih. Why 11:3-12); keduanya akan wafat sebagai martir di Yerusalem, dan dibangkitkan dari kematian oleh Kristus, dan setelah itu mereka akan menerima tubuh kebangkitan, bersama dengan semua orang benar di akhir zaman.

3. Namun demikian, ada pula orang-orang yang menginterpretasikan bahwa Henokh dan Elia keduanya sungguh diangkat ke surga tempat kediaman Allah. Mereka tetap menerima karunia ini atas jasa pengorbanan Kristus, namun oleh kehendak Allah, mereka telah menerimanya sebelum pengorbanan Kristus itu terjadi dalam sejarah manusia. Kekecualian ini diberikan oleh Allah, karena semasa hidupnya mereka sungguh berkenan di hadapan Allah. Jika pengertian ini yang diambil, maka ayat Yoh 3:13 diinterpretasikan menggunakan gaya bahasa hiperbolisme, yang menekankan bahwa secara umum memang tidak ada orang yang telah sampai ke surga sebelum Yesus. Kekecualian beberapa kasus khusus (Henokh, Elia, dan bahkan mungkin juga Musa) itu tidak disebutkan karena Yesus tidak ingin menekankan kasus khusus itu dalam konteks pembicaraan-Nya dengan Nikodemus. (Selanjutnya tentang gaya bahasa sebagai salah satu hal yang menentukan interpretasi Kitab Suci, silakan klik di sini)

Sisi lain dari keyakinan akan fakta diangkatnya Henokh dan Elia ke surga, tubuh dan jiwanya, juga memberikan alasan yang kuat, bahwa Allah dapat melakukan hal yang serupa kepada Bunda Maria yang telah dipilih-Nya menjadi ibu yang melahirkan Kristus Putera-Nya. Sebab pemilihan Bunda Maria ini juga atas dasar bahwa Allah berkenan kepadanya, sehingga ia dipercaya untuk melakukan tugas yang teramat mulia (yang tak pernah dipercayakan kepada seorang yang lain), yaitu untuk mengandung dan melahirkan Kristus Sang Juru Selamat kepada dunia. Jika Henokh dan Elia yang mewarisi dosa Adam saja dapat diangkat Allah ke surga, apalagi Bunda Maria yang sejak awalnya telah dipenuhi dengan rahmat Allah, sehingga tidak berdosa. Adapun diangkatnya Bunda Maria tubuh dan jiwanya, (juga Henokh dan Elia) tetap terlaksana atas jasa pengorbanan Kristus, hanya saja mereka telah menerima buah pengorbanan Kristus itu lebih dahulu daripada kita semua orang percaya, yang akan menerima penggenapan janji akan kebangkitan badan di akhir zaman nanti.

Demikianlah beberapa kemungkinan interpretasi tentang pengangkatan Henokh dan Elia. Walaupun berbeda, namun interpretasi-interpretasi ini saling memperkaya satu sama lain. Sepengetahuan kami, Gereja Katolik tidak mengeluarkan pernyataan definitif tentang hal ini, mengingat ayat tersebut memang dapat memberikan pengertian yang berbeda, jika dikaitkan dengan ayat-ayat lainnya dalam Kitab Suci. Fakta ini juga membuat kita merenung dalam kerendahan hati, bahwa adakalanya kita tidak dapat sepenuhnya memahami secara tuntas Sabda Allah dalam Kitab Suci, justru karena kekayaan makna yang dapat disampaikannya.

Share.

About Author

Stefanus Tay, MTS dan Ingrid Listiati, MTS adalah pasangan suami istri awam dan telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

6 Comments

  1. Shalom Bapak/Ibu Tay,

    Setelah membaca artikel diatas, saya cukup tertarik dengan salah satu ayat yang anda sebutkan, yaitu: 2 Korintus 12:2
    “Aku tahu tentang seorang Kristen; empat belas tahun yang lampau–entah di dalam tubuh, aku tidak tahu, entah di luar tubuh, aku tidak tahu, Allah yang mengetahuinya–orang itu tiba-tiba diangkat ke tingkat yang ketiga dari sorga.”

    Disini tertulis ” … ke tingkat yang ketiga dari sorga.”
    Jujur, walau saya pernah mendengar dari saudara non-kristen tentang tingkatan di surga (ada tujuh tingkatan), saya malah baru tau kalau Alkitab juga menyebutkan adanya tingkatan di surga. My bad. Tampaknya saya harus lebih rajin lagi membaca Alkitab. ~_~”

    Pertanyaan saya adalah;
    1) Tingkatan yang ketiga dari sorga yang disebut dalam Alkitab tersebut merupakan makna implisit atau eksplisit?
    2) Surga adalah sebuah tempat/kondisi, lalu jika terdapat tingkatan, siapa yang berhak masuk ke tingkatan 1, 2, atau berikutnya?
    3) Adakah perbedaan tingkat 1, 2, atau berikutnya?
    4) Apakah neraka juga mempunyai tingkatan sejenis?
    5) Tahta Kristus ada di tingkat berapa?
    6) Adakah 3 pilar GK (kitab suci, tradisi, & magisterium) secara khusus menjelaskan tentang hal ini? Selain 2Kor12:2 tentunya.

    Tidak perlu masuk ke tingkat tertinggi, sudah bisa masuk emperan surga aja juga sudah luar biasa buat saya yang pendosa ini. ^__^
    Saya benar-benar mohon maaf jika pertanyaan saya panjang & OOT (out of topic), silakan pertanyaan saya dipindah ke room se-topik jika OOT. Jika sudah pernah dijelaskan, mohon link nya saja karena tadi saya search masih belum ada topik khusus di katolisitas yang membahas tentang tingkatan surga menurut Alkitab. Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk menanggapi pertanyaan saya di waktu sibuk anda.

    Berkah dalem.

    • Shalom Bimomarten,

      Menurut keterangan yang saya peroleh dari The Navarre Bible dan beberapa buku Penjelasan Kitab Suci, ayat 2 Kor 12:2 tersebut tidak bermaksud mengajarkan bahwa ada beerapa tingkatan di Sorga. Rasul Paulus menggunakan peribahasa yang umum digunakan pada saat itu, yaitu bahwa tingkat pertama sorga adalah langit biru atmosfir bumi, tingkat kedua sorga adalah langit tempat bintang-bintang, dan tingkat ketiga sorga adalah tempat kediaman Allah.

      Menurut para ahli Kitab Suci, yang disebutkan sebagai “seorang Kristen yang diangkat ke tingkat ketiga surga itu”, adalah Rasul Paulus itu sendiri. Sekilas tentang hal ini, sudah pernah dibahas juga di artikel ini, silakan klik. St. Agustinus dan St. Thomas Aquinas mengajarkan bahwa Rasul Paulus memperoleh penglihatan akan Tuhan sebagaimana yang dialami oleh Nabi Musa (lih. Kel 33:11; Ul 34:10), sebab Rasul Paulus mengatakan bahwa ia mendengar kata-kata yang tak terkatakan, yang tidak boleh diucapkan oleh manusia (ay. 4) (Summa Theology, II-II, q. 175. a.3).

      Dengan demikian tingkatan tersebut tidak untuk diartikan bahwa di surga ataupun di neraka ada tingkatannya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  2. tercerahkan sudah misteri pertanyaan ttg pintu surga walau dengan interpretasi, setidaknya dapat diterima oleh segenap akal budi,,,
    terima kasih

  3. syalom …

    maap klo boleh tau tubuh yang terangkat itu ke mana ya ? Masalahnya bumi kita khan bulat, mana atas mana bawah sama saja.

    terima kasih, mohon diluruskan.

    • Shalom Pardohar,

      Frasa bahwa Henokh “diangkat dari bumi” (Sir 49:14) merupakan ungkapan gaya bahasa fenomenologi yang digunakan dalam Kitab Suci, yaitu merupakan penggambaran dari apa yang nampak, walau mungkin tidak menjelaskan secara persis apa yang sesungguhnya terjadi. Maka ‘diangkat dari bumi’ adalah untuk mengungkapkan bahwa Henokh tidak lagi berada di bumi, namun tidak untuk menjelaskan di manakah tepatnya ia jika diukur dari keadaan bumi yang bulat ini. Di sini, ungkapan yang digunakan tidak secara menyeluruh menjabarkan apa yang sesungguhnya terjadi.

      Hal serupa terjadi pada penggunaan istilah ‘matahari terbit’ (Hak 5:31) dan ‘matahari terbenam’ (Ef 4:26). Kita mengetahui bahwa kedua hal tersebut merupakan akibat dari perputaran bumi, dan bukan dari pergerakan matahari yang keluar ataupun masuk dari tempat persembunyiannya. Demikian juga dengan ucapan bahwa ‘matahari tidak bergerak’ (Yos 10: 13-14), ini juga menggambarkan keadaan yang terlihat, dan bukan realitas sesungguhnya. Silakan membaca tentang bermacam gaya bahasa yang digunakan dalam Kitab Suci, di artikel ini, silakan klik. Mohon diingat bahwa Kitab Suci bukan buku ilmu pengetahuan, sehingga memang tidak dimaksudkan menyampaikan fakta sains tetapi tentang pesan rohani sehubungan dengan suatu kejadian.

      Nah perihal ‘diangkat ke mana?’, berkaitan dengan Henokh dan Elia, silakan membaca kembali artikel di atas, yang menjabarkan terdapat tiga alternatif interpretasi.

      Sedangkan bagi kita umat beriman, jika kita setia sampai akhir hidup kita, maka pada saat kebangkitan badan di akhir zaman, tubuh kita akan diangkat dalam kesatuan dengan jiwa kita -bersama-sama dengan semua orang benar lainnya- untuk masuk dalam Kerajaan Surga. Di manakah persisnya letak Kerajaan Surga ini terhadap bumi yang bulat, tidaklah menjadi persoalan. Yang terpenting, Kerajaan Surga itu ada, dan semua orang yang diselamatkan akan sampai ke sana, tubuh dan jiwanya, setelah kebangkitan badan di akhir zaman.

      Selanjutnya tentang Kebangkitan Badan, silakan klik di sini.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

    • Maap kalo beleh tau, tubuh Nabi isa diangkat kemana juga ya?
      ama Allah SWT

      [dari katolisitas: Kristus bukan diangkat, namun bangkit dengan kuasa sendiri, karena Dia adalah Tuhan]

Add Comment Register



Leave A Reply