Sekilas Makna Liturgi dan Beberapa Pelanggaran Liturgi

263

[Berikut ini adalah artikel tentang Liturgi, yang ditulis berdasarkan atas korespondensi/ diskusi dengan Rm. Boli Ujan SVD, seorang pakar Liturgi di tanah air, dan salah satu pembimbing situs katolisitas.org. Apa yang tertulis di sini telah disetujui oleh beliau].

Arti liturgi

Liturgi (leitourgia) pada awalnya berarti "karya publik". Dalam sejarah perkembangan Gereja, liturgi diartikan sebagai keikutsertaan umat dalam karya keselamatan Allah. Di dalam liturgi, Kristus melanjutkan karya Keselamatan di dalam, dengan dan melalui Gereja-Nya.[1] Dalam kitab Perjanjian Baru, yaitu Surat kepada Jemaat di Ibrani, kata leitourgia dan leitourgein disebut 3 kali (lih. Ibr 8:6; 9:21; 10:11) yang mengacu kepada pelayanan imamat Kristus.

Maka, liturgi merupakan wujud pelaksanaan tugas Kristus sebagai Imam Agung, di mana Kristus menjadi Pengantara satu-satunya antara manusia kepada Allah Bapa, dengan mengorbankan diri-Nya sekali untuk selama-lamanya (lih. Ibr 9:12; 1 Tim 2:5). Korban Kristus yang satu-satunya inilah yang dihadirkan kembali oleh kuasa Roh Kudus, dalam perayaan Ekaristi. Dengan demikian, liturgi merupakan penyembahan Kristus kepada Allah Bapa di dalam Roh Kudus, dan dalam melakukan penyembahan ini, Kristus melibatkan TubuhNya, yaitu Gereja. Karena itu, liturgi merupakan karya bersama antara Kristus-Sang Kepala, dan Gereja yang adalah Tubuh Kristus,[2] sehingga tidak ada kegiatan Gereja yang lebih tinggi nilainya daripada liturgi karena di dalam liturgi terwujudlah persatuan yang begitu erat antara Kristus dengan Gereja sebagai ‘Mempelai’-Nya dan Tubuh-Nya sendiri.[3]

Jadi definisi liturgi, menurut Paus Pius XII dalam surat ensikliknya tentang Liturgi Suci, Mediator Dei, menjabarkan definisi liturgi sebagai berikut:

"Liturgi adalah ibadat publik yang dilakukan oleh Penebus kita sebagai Kepala Gereja kepada Allah Bapa dan juga ibadat yang dilakukan oleh komunitas umat beriman kepada Pendirinya [Kristus], dan melalui Dia kepada Bapa. Singkatnya, liturgi adalah ibadat penyembahan yang dilaksanakan oleh Tubuh Mistik Kristus secara keseluruhan, yaitu Kepala dan anggota-anggotanya."[4]

atau menurut Rm. Emanuel Martasudjita, Pr, "Liturgi adalah perayaan misteri karya keselamatan Allah di dalam Kristus, yang dilaksanakan oleh Yesus Kristus, Sang Imam Agung, bersama Gereja-Nya di dalam ikatan Roh Kudus."[5]

Partisipasi aktif dan sadar

Karena liturgi merupakan perayaan karya keselamatan yang dilakukan oleh Kristus dalam kesatuan dengan Gereja-Nya, maka kita yang adalah anggota- anggota-Nya harus turut mengambil bagian secara aktif di dalam liturgi. Mengapa? Karena liturgi dimaksudkan sebagai karya Kristus dengan melibatkan kita anggota- anggota-Nya, yaitu karya keselamatan Allah yang diperoleh melalui Misteri Paska Kristus, yaitu: wafat, kebangkitan dan kenaikan Kristus ke surga. Kita disatukan dalam Misteri Paska Kristus ini, dengan membawa persembahan hidup kita ke hadapan Allah, dan dengan inilah kita menjalankan martabat Pembaptisan kita sebagai umat pilihan Allah.

Redemptionis Sacramentum (RS) 36     Perayaan Misa, sebagai karya Kristus serta Gereja, merupakan pusat seluruh hidup Kristiani, baik untuk Gereja universal maupun untuk Gereja partikular, dan juga untuk tiap-tiap orang beriman, yang terlibat di dalamnya "pada cara-cara yang berbeda-beda sesuai dengan keanekaragaman jenjang, pelayanan dan partisipasi nyata." Dengan cara ini umat Kristiani, "bangsa terpilih, imamat rajawi, bangsa yang kudus, milik Allah sendiri", menunjukkan jenjang-jenjangnya menurut susunan hirarki yang rapih. "Adapun imamat umum kaum beriman dan imamat jabatan atau hirarkis, kendati berbeda hakekatnya dan bukan hanya tingkatannya, saling terarahkan. Sebab keduanya dengan cara khasnya masing-masing mengambil bagian dalam satu imamat Kristus."

RS 37     Maka itu partisipasi kaum beriman awam dalam Ekaristi dan dalam perayaan-perayaan gerejawi lain, tidak boleh merupakan suatu kehadiran melulu, apalagi suatu kehadiran pasif, sebaliknya harus sungguh dipandang sebagai suatu ungkapan iman dan kesadaran akan martabat pembaptisan.

Partisipasi secara aktif dan sadar ini terlihat dari keikutsertaan umat dalam aklamasi-aklamasi yang diserukan oleh umat, jawaban-jawaban tertentu, lagu-lagu mazmur dan kidung, gerak-gerik penghormatan, menjaga keheningan yang suci pada saat-saat tertentu, dan adanya rubrik-rubrik untuk peranan umat. Di samping itu peluang partisipasi umat dapat diwujudkan dalam pemilihan lagu-lagu, doa-doa, pembacaan teks Kitab Suci, dan dekorasi gereja. Keikutsertaan umat ini tujuannya adalah untuk semakin meningkatkan penghayatan akan sabda Allah dan misteri Paska Kristus yang sedang dirayakan (lih. RS 39). Namun demikian, di atas semua itu, partisipasi aktif dan sadar ini menyangkut sikap batin, yang semakin menghayati dan mengagumi makna perayaan Ekaristi:

RS 40   Akan tetapi, meskipun perayaan liturgis menuntut partisipasi aktif semua orang beriman, belum tentu berarti bahwa setiap orang harus melakukan kegiatan konkrit lain di samping tindakan dan gerak-gerik umum, seakan-akan setiap orang wajib melakukan satu tugas khusus dalam perayaan Ekaristi. Sebaliknya, melalui instruksi katekis harus diusahakan dengan tekun untuk memperbaiki pendapat-pendapat serta praktek-praktek yang dangkal itu, yang selama beberapa tahun terakhir ini sering terjadi. Katekese yang benar akan menanam kembali dalam hati seluruh orang Kristiani kekaguman akan mulianya serta agungnya misteri iman, yakni Ekaristi.... seluruh hidup Kristiani yang mendapat kekuatan daripadanya dan sekaligus tertuju kepadanya....

Tentang sikap batin ini, Redemptionis Sacramentum mengajarkan:

"Maka, haruslah menjadi jelas buat semua, bahwa Tuhan tidak dapat dihormati dengan layak kecuali pikiran dan hati diarahkan kepada-Nya.... (RS 26) Oleh karena itu, ..... semua umat harus sadar bahwa untuk mengambil bagian di dalam kurban Ekaristi adalah tugas dan martabat mereka yang utama. Dan maka bahwa bukan dengan cara yang pasif dan asal-asalan/malas, melantur dan melamun, tetapi dengan cara penuh perhatian dan konsentrasi, mereka dapat dipersatukan dengan se-erat mungkin dengan Sang Imam Agung, sesuai dengan perkataan Rasul Paulus, "Hendaklah kamu menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus" (Flp 2:5) Dan bersama dengan Dia dan melalui Dia hendaklah mereka membuat persembahan, dan di dalam kesatuan dengan Dia, biarlah mereka mempersembahkan diri mereka sendiri (RS 80). "....menaruh pikiran yang terdapat juga dalam Kristus Yesus" mensyaratkan bahwa semua orang Kristen harus mempunyai, sedapat mungkin secara manusiawi, sikap batin yang sama dengan yang telah terdapat pada Sang Penebus ilahi ketika Ia mempersembahkan Diri-Nya sebagai korban. Artinya mereka harus mempunyai sikap kerendahan hati, memberikan penyembahan, hormat, pujian dan syukur kepada Tuhan yang Maha tinggi dan maha besar. Selanjutnya, artinya mereka harus mengambil sikap seperti halnya sebagai kurban, [yaitu]bahwa mereka menyangkal diri mereka sendiri sebagaimana diperintahkan di dalam Injil, bahwa mereka dengan sukarela dan dengan kehendak sendiri melakukan pertobatan dan tiap-tiap orang membenci dosa-dosanya dan membayar denda dosanya. Dengan kata lain mereka harus mengalami kematian mistik dengan Kristus di kayu salib, sehingga kita dapat menerapkan kepada diri kita sendiri perkataan Rasul Paulus, "Aku telah disalibkan dengan Kristus" (Gal 2:19) (RS, 81)

".... Jelaslah penting bahwa ritus kurban persembahan yang diucapkan secara kodrati, menandai penyembahan yang ada di dalam hati. Kini kurban Hukum yang Baru menandai bahwa penyembahan tertinggi di mana Sang Kepala yang mempersembahkan diri-Nya, yaitu Kristus, dan di dalam kesatuan dengan Dia dan melalui Dia, semua anggota Tubuh Mistik-Nya memberi kepada Tuhan penghormatan dan sembah sujud yang layak bagi-Nya. (RS 93).... Agar persembahan di mana umat beriman mempersembahkan Kurban ilahi di dalam kurban ini kepada Bapa Surgawi memperoleh hasil yang penuh, adalah penting bahwa orang-orang menambahkan.... persembahan diri mereka sendiri sebagai kurban (RS 98). Maka semua bagian liturgi, akan menghasilkan di dalam hati kita keserupaan dengan Sang Penebus ilahi melalui misteri salib, menurut perkataan Rasul Paulus, "Aku telah disalibkan dengan Kristus. Aku hidup namun bukan aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku." (Gal 2:19-20) Jadi kita menjadi kurban.... bersama dengan Kristus, untuk semakin memuliakan Bapa yang kekal." (RS 102)

Penyesuaian liturgi bertujuan untuk meningkatkan peran serta para peraya secara aktif

Liturgi, sebagai karya Gereja (karya Kristus dan anggota-anggota-Nya) mengalami perkembangan dan penyesuaian; dan hal ini kita lihat dalam sejarah Gereja. Sebab bagaimanapun, liturgi menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Gereja, dan karena itu segala bentuk penyesuaiannya harus semakin mendorong partisipasi umat di dalamnya dan mengarahkan umat kepada peningkatan penghayatan akan maknanya yang luhur.

Romo Boli Ujan SVD, seorang pakar liturgi di tanah air dan salah seorang narasumber di situs ini, pernah menulis di artikel tentang Penyesuaian dan Inkulturasi liturgi, silakan klik, demikian:

"Arah penyesuaian liturgi dari pihak para peraya sekaligus mengingatkan kita akan tujuan dari penyesuaian liturgi yaitu agar para peraya dapat dengan mudah dan jelas serta aktif mengambil bagian dalam perayaan. Dengan demikian kita lebih mampu memahami tindakan Tuhan dan bersyukur kepada-Nya. .... Liturgi adalah perayaan pertemuan antara Allah dengan manusia dan antara anggota persekutuan satu sama lain yang disatukan dalam Allah. Kehadiran Allah dalam liturgi ini merupakan hal pokok yang tidak dapat digantikan oleh yang lain. Inilah yang membuat keseluruhan suasana perayaan menjadi kudus dan berbeda dengan suasana profan.....

[Namun] Sering penyesuaian liturgi dipandang sebagai kegiatan satu arah saja yaitu upaya dari pihak Allah dan para petugas khusus untuk membuat liturgi itu menjadi relevan dan sesuai dengan para peraya. Padahal liturgi merupakan pertemuan antara Allah dan manusia, dalamnya terjadi dialog bukan monolog. Liturgi sebagai karya Allah ditanggapi oleh para peraya. Maka penyesuaian dari pihak Allah dan para petugas khusus dalam liturgi perlu ditanggapi oleh semua peraya. Dalam liturgi manusia harus berusaha menyesuaikan diri dengan Allah serta rencana-rencana-Nya, dan menyesuaikan diri dengan pedoman-pedoman liturgi terutama pedoman umum mengenai hal-hal pokok dan penting yang dipandang sebagai unsur pembentuk liturgi. Arah penyesuaian terakhir sering kurang mendapat perhatian dalam pembicaraan mengenai pokok ini, sebab yang lebih diutamakan dalam diskusi dan proses penyesuaian liturgi adalah segala upaya membuat liturgi itu sesuai atau cocok untuk para peraya. Kalau demikian penyesuaian liturgi menjadi pincang."

Beberapa Pelanggaran Liturgi dalam Perayaan Ekaristi

Setelah kita mengetahui pengertian tentang liturgi, mari kita lihat bersama adanya pelanggaran-pelanggaran yang umum terjadi di dalam liturgi Perayaan Ekaristi, yang biasanya didasari oleh kekurangpahaman ataupun ketidakseimbangan dialog antara pihak Allah dan pihak peraya. Dewasa ini, ada kecenderungan untuk terlalu mengikuti kehendak para peraya, sampai mengesampingkan apa yang sebenarnya menjadi hal prinsip yang menjadi kehendak Allah, atau yang selayaknya diberikan kepada Allah sebagai ungkapan penghargaan kita akan Misteri Paska yang kita rayakan dalam liturgi. Kekurangpahaman ataupun ketimpangan penyesuaian dalam liturgi ini melahirkan banyak pelanggaran-pelanggaran, dan berikut ini adalah beberapa contohnya:

Pelanggaran sehubungan dengan persiapan batin sebelum mengikuti Misa Kudus:

1. Tidak berpuasa sedikitnya sejam sebelum menerima Komuni

Seharusnya:

KHK Kan. 919

§ 1 Yang akan menerima Ekaristi Mahakudus hendaknya berpantang dari segala macam makanan dan minuman selama waktu sekurang-kurangnya satu jam sebelum komuni, terkecuali air semata-mata dan obat-obatan.

Maksud puasa sebelum Komuni tentu adalah untuk semakin menyadarkan kita bahwa yang akan kita santap dalam Ekaristi adalah bukan makanan biasa, namun adalah Tuhan sendiri: yaitu Kristus Sang Roti Hidup, yang dapat membawa kita kepada kehidupan kekal (lih. Yoh 6:56-57)

2. Menggunakan pakaian yang tidak/ kurang sopan ke gereja, datang terlambat, ngobrol, berBBM/ SMS di gereja, makan dan minum di dalam gereja, terutama anak- anak, anggota koor yang minum sebelum/ sesudah bertugas, umat saat menunggu dimulainya perayaan Ekaristi.

Seharusnya:

KGK 1387 ....Di dalam sikap (gerak-gerik, pakaian) akan terungkap penghormatan, kekhidmatan, dan kegembiraan yang sesuai dengan saat di mana Kristus menjadi tamu kita. (CCC 1387 .... Bodily demeanor (gestures, clothing) ought to convey the respect, solemnity, and joy of this moment when Christ becomes our guest)

Sudah sewajarnya dan sepantasnya jika kita memberikan penghormatan kepada Allah yang kita jumpai di dalam liturgi. Jika sikap seenaknya tidak kita lakukan jika kita sedang bertemu bapak Presiden, maka selayaknya kita tidak bersikap demikian kepada Tuhan yang kita jumpai di gereja.

3. Tidak memeriksa batin, namun tetap menyambut Komuni meskipun dalam keadaan berdosa berat

Seharusnya:

RS 81    Kebiasaan sejak dahulu kala menunjukkan bahwa setiap orang harus memeriksa batinnya dengan mendalam, dan bahwa setiap orang yang sadar telah melakukan dosa berat tidak boleh menyambut Tubuh Tuhan kalau tidak terlebih dahulu menerima Sakramen Tobat, kecuali jika ada alasan berat dan tidak tersedia kemungkinan untuk mengaku dosa; dalam hal itu ia harus ingat bahwa ia harus membuat doa tobat sempurna, dan dalam doa ini dengan sendirinya tercantum maksud untuk mengaku dosa secepat mungkin (lih. KGK 1385, KHK Kan 916, Ecclesia de Eucharistia, 36) 

Dosa berat memisahkan kita dari Kristus, dan karena itu untuk bersatu dengan-Nya kita harus meninggalkan dosa tersebut, dan mengakukannya di dalam sakramen Tobat. Contoh dosa berat ini misalnya jika hidup dalam perkawinan yang tidak sah menurut hukum Gereja Katolik, atau hidup dalam perzinahan/ percabulan, atau dalam keadaan kecanduan obat-obatan, dst. Kekecualian akan "adanya alasan berat dan tidak tersedia kemungkinan mengaku dosa", contohnya adalah bahaya maut, atau jika tinggal di daerah terpencil di mana Komuni dibagikan oleh seorang asisten imam dalam waktu sekian minggu sekali.

Pelanggaran dalam bagian- bagian Misa Kudus:

1. Mazmur Tanggapan digantikan dengan lagu rohani lainnya

Seharusnya:

Redemptoris Sacramentum (RS) 62    "Tidak juga diperkenankan meniadakan atau menggantikan bacaan-bacaan Kitab Suci yang sudah ditetapkan, atas inisiatif sendiri, apalagi "mengganti bacaan dan Mazmur Tanggapan yang berisi Sabda Allah, dengan teks-teks lain yang bukan dari Kitab Suci." (lih. juga PUMR 57)

Katekismus mengajarkan bahwa kehadiran Kristus dalam Perayaan Ekaristi nyata dalam: 1) diri imamnya; 2) secara khusus dalam rupa roti dan anggur; 3) dalam sabda Allah (bacaan-bacaan Kitab Suci); 4) dalam jemaat yang berkumpul (lih. KGK 1088). Nah sabda Allah yang dimaksud di sini adalah bacaan di dalam Liturgi Sabda, dan ini termasuk bacaan Mazmur pada hari itu.

Selanjutnya tentang pembahasan topik ini, klik di sini.

2. Ordinarium digantikan dengan lagu- lagu lain dengan teks yang berbeda, yang tidak sama dengan yang sudah disahkan KWI.

RS 59    Di sana-sini terjadi bahwa Imam, Diakon atau umat dengan bebas mengubahkan atau menggantikan teks-teks liturgi suci yang harus mereka bawakan. Praktek yang amat tidak baik ini harus dihentikan. Karena dengan berbuat demikian, perayaan Liturgi Suci digoyahkan dan tidak jarang arti asli liturgi dibengkokkan.

Seharusnya:

PUMR 393    Perlu diperhatikan pentingnya nyanyian dalam Misa sebagai bagian utuh dari liturgi. Konferensi Uskuplah yang berwenang mengesahkan lagu-lagu yang serasi, khususnya untuk teks-teks Ordinarium, jawaban dan aklamasi umat, dan untuk ritus-ritus khusus yang diselenggarakan dalam kurun tahun liturgi....

Rumusan Ordinarium merupakan pernyataan iman Gereja yang sifatnya baku, sehingga tidak selayaknya diubah-ubah atas kehendak pribadi.

3. Kurangnya saat hening.

Seharusnya:

PUMR 45    Beberapa kali dalam Misa hendaknya diadakan saat hening. Saat hening juga merupakan bagian perayaan, tetapi arti dan maksudnya berbeda-beda menurut makna bagian yang bersangkutan. Sebelum pernyataan tobat umat mawas diri, dan sesudah ajakan untuk doa pembuka umat berdoa dalam hati. Sesudah bacaan dan homili umat merenungkan sebentar amanat yang didengar. Sesudah komuni umat memuji Tuhan dan berdoa dalam hati.
Bahkan sebelum perayaan Ekaristi, dianjurkan agar keheningan dilaksanakan dalam gereja, di sakristi, dan di area sekitar gereja, sehingga seluruh umat dapat menyiapkan diri untuk melaksanakan ibadat dengan cara yang khidmat dan tepat.

PUMR 56    Liturgi Sabda haruslah dilaksanakan sedemikian rupa sehingga mendorong umat untuk merenung. Oleh karena itu, setiap bentuk ketergesa-gesaan yang dapat mengganggu permenungan harus sungguh dihindari. Selama Liturgi Sabda, sangat cocok disisipkan saat hening sejenak, tergantung pada besarnya jemaat yang berhimpun. Saat hening ini merupakan kesempatan bagi umat untuk meresapkan sabda Allah, dengan dukungan Roh Kudus, dan untuk menyiapkan jawaban dalam bentuk doa. Saat hening sangat tepat dilaksanakan sesudah bacaan pertama, sesudah bacaan kedua, dan sesudah homili.

4. Diizinkannya seorang awam untuk berkhotbah/ memberikan kesaksian di dalam homili  (misalnya untuk mengisi homili Minggu Panggilan, homili di misa requiem, ataupun kesempatan khusus lainnya).

Seharusnya:

RS 64    Homili yang diberikan dalam rangka perayaan Misa Kudus, dan yang merupakan bagian utuh dari liturgi itu "pada umumnya dibawakan oleh Imam perayaan. Ia dapat menyerahkan tugas ini kepada salah seorang imam konselebran, atau kadang-kadang, tergantung situasi, kepada diakon, tetapi tidak pernah kepada seorang awam...."

RS 66    Larangan terhadap orang awam untuk berkhotbah dalam Misa, berlaku juga untuk para seminaris, untuk mahasiswa teologi dan untuk orang yang telah diangkat dan dikenal sebagai "asisten pastoral"; tidak boleh ada kekecualian untuk orang awam lain, atau kelompok, komunitas atau perkumpulan apa pun.

RS 74    Jika dipandang perlu bahwa kepada umat yang berkumpul di dalam gereja, diberi instruksi atau kesaksian tentang hidup Kristiani oleh seorang awam, maka sepatutnya hal ini dibuat di luar Misa. Akan tetapi jika ada alasan kuat, maka dapat diizinkan bahwa suatu instruksi atau kesaksian yang demikian disampaikan setelah Doa sesudah Komuni. Namun hal ini tidak boleh menjadi kebiasaan. Selain itu, instruksi atau kesaksian itu tidak boleh bercorak seperti sebuah homili, dan tidak boleh homili dibatalkan karena ada acara dimaksud.

RS 67 Perlulah diperhatikan secara khusus, agar homili itu sungguh berdasarkan misteri-misteri penebusan, dengan menguraikan misteri-misteri iman serta patokan hidup Kristiani, bertitik tolak dari bacaan-bacaan Kitab Suci serta teks-teks liturgi sepanjang tahun liturgi, dan juga memberi penjelasan tentang bagian umum (Ordinarium) maupun bagian khusus (Proprium) dala Misa ataupun suatu perayaan gerejawi lain.....

5. Pemberian Salam Damai yang dilakukan terlalu meriah dan panjang, sampai imam turun dari panti imam.

Seharusnya:

RS 71    Perlu mempertahankan kebiasaan seturut Ritus Romawi, untuk saling menyampaikan salam damai menjelang Komuni. Sesuai dengan tradisi Ritus Romawi, kebiasaan ini bukanlah dimaksudkan sebagai rekonsiliasi atau pengampunan dosa, melainkan mau menyatakan damai, persekutuan dan cinta sebelum menyambut Ekaristi Mahakudus. Segi rekonsiliasi antara umat yang hadir lebih diungkapkan dalam upacara tobat pada awal Misa, khususnya dalam rumus pertama.

RS 72    "Salam damai hendaknya diberikan oleh setiap orang hanya kepada mereka yang terdekat dan dengan suatu cara yang pantas." "Imam boleh memberikan salam damai kepada para pelayan, namun tidak meninggalkan panti imam agar jalannya perayaan jangan terganggu...."

Salam Damai perlu dipertahankan, hanya hal dinyanyikan atau tidak, itu tidak secara eksplisit dinyatakan di dalam dokumen Gereja. Bagi yang memilih untuk menyanyikannya, dasarnya karena menganggap bahwa nyanyian itu merupakan cara menyampaikan damai. Sedangkan yang tidak menyanyikannya, kemungkinan menganggap bahwa hal dinyanyikannya Salam Damai tidak eksplisit disyaratkan dalam dokumen Gereja, dan karena jika dinyanyikan malah dapat mengganggu pusat perhatian saat itu yang seharusnya difokuskan kepada Kristus. Jika kelak ingin diseragamkan, maka pihak KWI-lah yang berwenang untuk menentukan apakah Salam Damai ini akan dinyanyikan atau tidak dinyanyikan.

Pelanggaran dalam hal penerimaan Komuni:

1. Umat mencelupkan sendiri Hosti ke dalam piala anggur.

Seharusnya:

RS 94     Umat tidak diizinkan mengambil sendiri- apalagi meneruskan kepada orang lain- Hosti Kudus atau Piala kudus.

RS 104     Umat yang menyambut, tidak diberi izin untuk mencelupkan sendiri hosti ke dalam piala; tidak boleh juga ia menerima hosti yang sudah dicelupkan itu pada tangannya…..

PUMR 160     Umat tidak diperkenankan mengambil sendiri roti kudus atau piala, apalagi saling memberikannya antar mereka. Umat menyambut entah sambil berlutut atau sambil berdiri, sesuai dengan ketentuan Konferensi Uskup...

Pada hakekatnya Komuni adalah sesuatu yang "diberikan" oleh Kristus: "Terimalah dan makanlah inilah Tubuh-Ku yang diserahkan bagi-Mu.... Terimalah dan minumlah, inilah darah-Ku yang ditumpahkan bagimu....". Jadi bukan sesuatu yang dapat diambil sendiri.

2. Pengantin saling menerimakan Komuni.

Seharusnya, tidak boleh:

RS 94     Umat tidak diizinkan mengambil sendiri- apalagi meneruskan kepada orang lain- Hosti Kudus atau Piala kudus. Dalam konteks ini harus ditinggalkan juga penyimpangan di mana kedua mempelai saling menerimakan Komuni dalam misa perkawinan.

Ekaristi kudus adalah kurban Kristus, dan diberikan oleh Kristus (melalui imam ataupun petugas pembagi Komuni tak lazim yang diberi tugas tersebut), sehingga bukan untuk saling diterimakan oleh umat sendiri.

3. Umat yang menerima Komuni dengan tangan, tidak melakukan sikap penghormatan sebelum menerimanya.

Seharusnya:

PUMR 160    ....Tetapi, kalau menyambut sambil berdiri, dianjurkan agar sebelum menyambut Tubuh (dan Darah) Tuhan mereka menyatakan tanda hormat yang serasi, sebagaimana ditentukan dalam kaidah- kaidah mengenai komuni.

Adalah baik jika sesaat sebelum menyambut Komuni umat menundukkan kepala, tanda penghormatan kepada Kristus Tuhan yang hadir di dalamnya.

4. Patena sudah jarang digunakan.

Seharusnya:

RS 93    Patena Komuni untuk umat hendaknya dipertahankan, demi menghindarkan bahaya jatuhnya hosti kudus atau pecahannya.

5. Umat tidak menjawab "Amin" pada perkataan Romo, "Tubuh Kristus" sebelum menerima hosti.

Seharusnya:

PUMR 287    Kalau komuni dua rupa dilaksanakan dengan mencelupkan hosti ke dalam anggur, tiap penyambut, sambil memegang patena di bawah dagu, menghadap imam yang memegang piala. Di samping imam berdiri pelayan yang memegang bejana kudus berisi hosti. Imam mengambil hosti, mencelupkan sebagian ke dalam piala, memperlihatkannya kepada penyambut sambil berkata: Tubuh dan Darah Kristus. Penyambut menjawab: Amin, lalu menerima hosti dengan mulut, dan kemudian kembali ke tempat duduk.

6. Petugas Pembagi Komuni Tak Lazim (atau dikenal umat dengan istilah pro-diakon) membagi Komuni, Pastor malah duduk.

Seharusnya:

RS 154    Seperti  sudah dinyatakan, "pelayan yang selaku pribadi Kristus dapat melaksanakan sakramen Ekaristi, hanyalah Imam yang ditahbiskan secara sah" (lih. KHK Kan 900, 1) Karena itu, istilah "pelayan Ekaristi: hanya dapat diterapkan pada seorang Imam. Di samping itu, berdasarkan pentahbisan suci, pelayan-pelayan yang lazim untuk memberi komuni adalah Uskup, Imam dan Diakon....

RS 151    Hanya kalau sungguh perlu, boleh diminta bantuan pelayan-pelayan tak lazim dalam perayaan liturgi. Permohonan akan bantuan yang demikian bukannya dimaksudkan demi menunjang partisipasi umat, melainkan, karena kodratnya, bersifat pelengkap dan darurat.....

RS 152    Jabatan- jabatan yang semata- mata pelengkap ini jangan dipergunakan untuk menjatuhkan pelayanan asli oleh para Imam demikian rupa.....

RS 157    ....Tidak dapat dibenarkan kebiasaan para Imam yang, walaupun hadir pada perayaan itu, tidak membagi komuni dan menyerahkan tugas ini kepada orang-orang awam.

Pelanggaran dalam hal musik liturgis:

1. Dinyanyikannya lagu-lagu pop rohani dalam perayaan Ekaristi

Seharusnya:

Tra le Sollecitudini  1    Musik liturgis (sacred music)... mengambil bagian dalam ruang lingkup umum liturgi, yaitu kemuliaan Tuhan, pengudusan dan pengajaran umat beriman. Musik liturgis memberi kontribusi kepada keindahan dan keagungan upacara gerejawi, dan karena tujuan prinsipnya adalah untuk melingkupi teks liturgis dengan melodi yang cocok demi pemahaman umat beriman, tujuan utamanya adalah untuk menambahkan dayaguna-nya kepada teks, agar melaluinya umat dapat lebih terdorong kepada devosi dan lebih baik diarahkan kepada penerimaan buah-buah rahmat yang dihasilkan oleh perayaan misteri-misteri yang paling kudus tersebut.

Tra le Sollecitudini  2     Karena itu musik liturgis (sacred music) ... harus kudus, dan harus tidak memasukkan segala bentuk profanitas, tidak hanya di dalam musik itu sendiri, tetapi juga di dalam cara pembawaannya oleh mereka yang memainkannya.

Tra le Sollecitudini  5    Gereja telah selalu mengakui dan menyukai kemajuan dalam hal seni, dan menerima bagi pelayanan agama semua yang baik dan indah yang ditemukan oleh para pakar yang ada sepanjang sejarah -- namun demikian, selalu sesuai dengan kaidah- kaidah liturgi. Karena itu musik modern juga diterima Gereja, sebab musik tersebut menyelesaikan komposisi dengan keistimewaan, keagungan dan kedalaman, sehingga bukannya tak layak bagi fungsi-fungsi liturgis. Namun karena musik modern telah timbul kebanyakan untuk melayani penggunaan profan, maka perhatian yang khusus harus diberikan sehubungan dengan itu, agar komposisi musik dengan gaya modern yang diterima oleh Gereja tidak mengandung apapun yang profan, menjadi bebas dari sisa-sisa motif yang diangkat dari teater, dan tidak disusun bahkan di dalam bentuk- bentuk teatrikal seperti cara menyusun lagu- lagu profan.

Harus dibedakan bahwa untuk lagu-lagu liturgis, lagu bukan hanya sebagai ungkapan perasaan tetapi ungkapan iman (lex orandi lex credendi).

2. Adanya tari- tarian yang menyerupai pertunjukan/ performance diadakan dalam perayaan Ekaristi, kemudian diikuti dengan tepuk tangan umat.

Seharusnya:

RS 78     ... Perlu dihindarkan suatu Perayaan Ekaristi yang hanya dilangsungkan sebagai pertunjukan atau menurut gaya upacara-upacara lain, termasuk upacara-upacara profan: agar Ekaristi tidak kehilangan artinya yang otentik.

Direktorium tentang Kesalehan Umat dan Liturgi 17    .... Di kalangan sejumlah suku, nyanyian secara naluriah terkait dengan tepuk tangan, gerak tubuh secara ritmis, dan bahkan tarian. Ini semua adalah bentuk lahiriah dari gejolak batin dan merupakan bagian dari tradisi suku ....Jelas, itu hendaknya menjadi ungkapan tulus doa jemaat dan tidak sekedar menjadi tontonan...

Paus Benediktus XVI dalam The Spirit of the Liturgy (San Francisco: Ignatius Press, 2000), p. 198: "Adalah suatu kekacauan untuk mencoba membuat liturgi menjadi “menarik” dengan memperkenalkan tarian pantomim (bahkan sedapat mungkin ditarikan oleh grop dansa ternama), yang sering kali (dan benar, dari sudut pandang profesionalisme) berakhir dengan applause -tepuk tangan. Setiap kali tepuk tangan terjadi di tengah liturgi yang disebabkan oleh semacam prestasi manusia, itu adalah tanda yang pasti bahwa esensi liturgi  telah secara total hilang, dan telah digantikan dengan semacam pertunjukan religius. Atraksi sedemikian akan memudar dengan cepat- ia tak dapat bersaing di arena pertunjukan untuk mencapai kesenangan (leisure pursuits), dengan memasukkan tambahan berbagai bentuk gelitik religius."

Kardinal Arinze menjelaskannya demikian: bahwa pada budaya- budaya tertentu (yaitu di Afrika dan Asia), tarian menjadi bagian yang tak terpisahkan dari cara penyembahan, namun gerakan ini adalah 'graceful movement' untuk menunjukkan suka cita dan penghormatan, dan bukan 'performance'. Dalam budaya ini, gerakan tersebut dapat diadakan dalam prosesi perayaan Ekaristi, namun bukan sebagai pertunjukan. Sedangkan di tempat- tempat lain di mana tarian tidak menjadi bagian dari penyembahan/ penghormatan (seperti di Eropa dan Amerika) maka memasukkan tarian ke dalam perayaan Ekaristi menjadi tidak relevan. Untuk mendengarkan penjelasan Kardinal Arinze tentang hal ini, silakan klik.

3. Band masuk gereja dan digunakan sebagai alat musik liturgi.

Seharusnya:

Tra le Sollecitudini 19    Penggunaan alat musik piano tidak diperkenankan di gereja, sebagaimana juga alat musik yang ribut atau berkesan tidak serius (frivolous), seperti drum, cymbals, bells dan sejenisnya.

Tra le Sollecitudini 20    Dilarang keras menggunakan alat musik band di dalam gereja, dan hanya di dalam kondisi- kondisi khusus dengan persetujuan Ordinaris dapat diizinkan penggunaan alat musik tiup, yang terbatas jumlahnya, dengan penggunaan yang bijaksana, sesuai dengan ukuran tempat yang tersedia dan komposisi dan aransemen yang ditulis dengan gaya yang sesuai, dan sesuai dalam segala hal dengan penggunaan organ.

Maka diperlukan izin khusus untuk menggunakan alat-alat musik lain, terutama jika alat tersebut dapat memberikan efek ribut/ keras, dan berkesan profan/ tidak serius.

Beberapa Pertanyaan tentang Liturgi:

1. Mengenai musik liturgi, apa seharusnya alat musik yang digunakan? Bolehkah menggunakan organ dengan tambahan suara alat musik lain?
Bila mengacu kepada Sacrosanctum Concilium 120, alat musik yang sebaiknya digunakan adalah organ pipa. Namun demikian, tidak menutup kemungkinan penggunaan alat musik lain, sepanjang disetujui oleh pihak otoritas Gereja, dan asalkan sesuai untuk digunakan dalam musik sakral.

SC 120    "Dalam Gereja Latin orgel pipa hendaknya dijunjung tinggi sebagai alat musik tradisional, yang suaranya mampu memeriahkan upacara-upacara Gereja secara mengagumkan, dan mengangkat hati Umat kepada Allah dan ke surga. Akan tetapi, menurut kebijaksanaan dan dengan persetujuan pimpinan gerejawi setempat yang berwenang, sesuai dengan kaidah art. 22 (2), 37 dan 40, alat-alat musik lain dapat juga dipakai dalam ibadat suci, sejauh memang cocok atau dapat disesuaikan dengan penggunaan dalam liturgi, sesuai pula dengan keanggunan gedung gereja, dan sungguh membantu memantapkan penghayatan Umat beriman."

Paus Pius XII mengeluarkan dokumen tentang Musik Liturgis yang berjudul Musicae Sacrae (MS), dan secara khusus menyebutkan tentang hal ini demikian:

MS 59    "Selain organ, alat-alat musik lain dapat digunakan untuk memberikan bantuan besar dalam mencapai maksud yang tinggi dari musik liturgi, asalkan mereka tidak memainkan apapun yang profan, yang berisik atau hingar bingar dan tidak bertentangan dengan pelayanan sakral atau martabat tempat kudus. Di antara alat-alat musik ini, biola dan alat-alat musik lainnya yang menggunakan cekungan (bow) adalah baik sebab ketika dimainkan sendiri atau dengan alat musik senar lainnya, alat- alat musik ini mengekspresikan perasaan suka cita dan dukacita dalam jiwa dengan kekuatan yang tak dapat dilukiskan..."

Sedangkan tentang hal alat musik ini, Rm. Bosco da Cunha dari Komisi Liturgi KWI mengatakan:

"KWI masih dalam proses berusaha mengaktualisasi dokumen Sacrosanctum Concilium Konsili Vatikan II; KWI tidak gegabah. Usaha penelitian dan percobaan alat musik tradisional aneka suku bangsa sudah mulai dengan "Pusat Musik Liturgi" Yogyakarta dipimpin Romo Karl Edmund Prier SJ sejak 1980an namun masih berlangsung".

Beliau menyarankan bagi yang berminat mengetahui lebih lanjut untuk mengunjungi PML Yogyakarta di Jl. Abubakar Ali Kotabaru Yogyakarta untuk mengetahui studio dan showroom karya-karya musik liturgi inkulturatif.

2. Bila dikaitkan dengan adaptasi-adaptasi yang muncul di Sacrosanctum Concilium, bagaimana batasan-batasannya agar tidak mengontradiksi dokumen-dokumen Gereja lainnya (dalam hal penentuan musik liturgi)?

Musicae Sacrae 60    "Sebab jika musik itu tidak profan atau bertentangan dengan kesakralan tempat dan fungsi dan tidak berasal dari keinginan untuk mencapai efek-efek yang luar biasa dan tidak lazim, maka gereja-gereja kita harus menerimanya, sebab mereka dapat menyumbangkan dalam cara yang tidak kecil terhadap keagungan upacara-upacara sakral, dapat mengangkat pikiran kepada hal-hal yang lebih tinggi dan dapat menumbuhkan devosi yang sejati dari jiwa." (lih. MD 193)

Maka, nampaknya yang perlu dijadikan patokan adalah prinsipnya, yaitu:

1) Tidak memasukkan unsur profanitas dalam musik liturgis;
2) Musik itu tidak menghasilkan efek suara yang luar biasa dan tak lazim
3) Musik itu dapat membantu mengangkat pikiran kepada hal- hal yang lebih tinggi:
Apakah membantu ke-empat hal ini: penyembahan (worship/ adoration), syukur (thanksgiving), pertobatan (contrition),     permohonan (supplication).
4) Menggunakan musik-musik yang sudah mendapat persetujuan dari otoritas Gereja (ada Nihil Obstat dan Imprimatur);
5) Mengacu kepada ketentuan yang sudah pernah secara eksplisit ditentukan oleh otoritas Gereja.

3. Bolehkah choir (koor) terdiri dari perempuan?
Walaupun di dokumen yang dikeluarkan oleh Paus Pius X, Tra le Sollecitudini 13,14 (1903) dikatakan bahwa untuk koor anggotanya harus laki-laki- mungkin karena hal ini merupakan tradisi Gereja sejak zaman dulu; namun ketentuan ini kemudian diperbaharui di dokumen berikutnya tentang Musik Liturgi yang dikeluarkan oleh Paus Pius XII, Musicae Sacrae, demikian:

MS 74     Ketika tidak mungkin diperoleh sekolah paduan suara (Scholae Cantorum) atau di mana tidak ada cukup anak laki-laki untuk koor, diperbolehkan bahwa "kelompok pria dan wanita atau anak-anak perempuan, yang ditempatkan di luar tempat kudus (sanctuary) yang terpisah untuk penggunaan kelompok ini secara khusus, dapat menyanyikan teks-teks liturgi pada saat Misa Agung, sepanjang para pria dipisahkan dari para wanita dan anak- anak perempuan dan segala yang tidak pantas dihindari....

4. Perlukah kita ikut membungkuk setiap saat seorang imam membungkuk dalam Perayaan Ekaristi?
Tidak perlu. Yang ditulis dalam Tata Perayaan Ekaristi adalah, umat membungkuk pada waktu Ritus Pembuka ketika Imam dan Pelayan lain menghormati Altar, dan pada sesudah kata-kata Konsekrasi atas roti dan anggur, ketika Imam berlutut; dan pada saat Credo (syahadat) yaitu pada perkataan, "[Yesus Kristus] yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria".

5. Bolehkah imam menambah hanya beberapa kata atau bagian dalam sebuah Perayaan Ekaristi?
Jika ada titik-titik (....) boleh disebutkan nama orang yang didoakan (doa bagi orang yang masih hidup maupun orang yang sudah meninggal) seperti dalam Doa Syukur Agung pertama.

RS 51    ...."Tidak ada toleransi terhadap imam-imam yang merasa berhak menyusun Doa Syukur Agungnya sendiri" atau mengubahkan teks-teks yang sudah disahkan oleh Gereja atau memperkenalkan teks-teks lain, yang telah dikarang oleh pribadi-pribadi tertentu.

6. Bagaimana seharusnya kostum pelayan altar? Apakah betul pelayan altar putri seharusnya mengenakan alba dan mengapa?
Apakah wanita ideal untuk menjadi pelayan altar walaupun diperbolehkan?

PUMR 339    Akolit, lektor dan pelayan awam lain boleh mengenakan alba atau busana lain yang disahkan oleh Konferensi Uskup untuk wilayah gerejawi yang bersangkutan.
RS 47    Sangat dianjurkan untuk mempertahankan kebiasaan yang luhur yakni pelayanan altar oleh anak laki-laki atau pemuda, biasanya disebut pelayan Misa, suatu tugas yang dilaksanakannya seturut cara akolit. Hendaknya mereka diberi katekese tentang fungsi mereka sesuai dengan daya tangkap mereka. Perlu diingat bahwa berabad-abad lamanya dari amat banyak anak seperti ini telah muncul banyak pelayan tertahbis..... Anak perempuan atau ibu-ibu boleh diterima untuk melayani altar, sesuai dengan kebijakan Uskup diocesan dan dengan memperhatikan norma-norma yang sudah ditetapkan.

7. Apakah inkulturasi liturgi memperbolehkan penggunaan berbagai macam alat musik di luar organ pipa?

Hal ini dimungkinkan. Pimpinan Gereja yang mengambil keputusan untuk menggunakan alat- alat musik lain, hendaknya dalam proses adaptasi- inkulturasi membuat penelitian untuk mengetahui apakah alat musik tersebut digunakan dalam ibadat religius menurut budaya setempat dan sungguh membantu umat beriman mengangkat hati kepada Tuhan untuk memuji dan menyembahnya? Bisa saja alat musik yang sama digunakan baik dalam upacara keagamaan dan dalam perayaan profan, tetapi harus diperhatikan perbedaan dalam cara menggunakannya. Ada nada dan melodi yang khas dalam upacara keagamaan dan dalam acara profan. Seperti pada alat tifa dalam budaya orang Papua Selatan, ada bunyi dan cara memukul yang khas dalam ibadat religius, yang berbeda dengan bunyi dan cara memukul tifa tersebut jika digunakan untuk kegiatan- kegiatan yang profan saja.

PUMR 393     .... Demikian pula, Konferensi Uskuplah yang berwenang memutuskan gaya musik, melodi, dan alat musik yang boleh digunakan dalam ibadat ilahi; semua itu sejauh serasi, atau dapat diserasikan dengan penggunaannya yang bersifat kudus.

Kesimpulan: Mengapa perlu memperhatikan norma-norma Liturgi dan menghindari penyelewengannya?

Adalah penting kita ketahui bersama, bahwa "Norma-norma liturgi Ekaristi dimaksudkan untuk mengungkapkan dan melindungi misteri Ekaristi dan juga menjelaskan bahwa Gerejalah yang merayakan sakramen dan pengorbanan yang agung. Sebagaimana yang ditulis oleh Paus Yohanes Paulus II, "Norma-norma ini adalah ungkapan konkret dari kodrat gerejawi otentik mengenai Ekaristi; inilah maknanya yang terdalam. Liturgi tak pernah menjadi milik perorangan, baik dari selebran maupun komunitas, tempat misteri-misteri dirayakan."[6] Ini berarti bahwa "... para imam yang merayakan Misa dengan setia seturut norma-norma liturgi, dan komunitas-komunitas yang mengikuti norma-norma itu, dengan tenang namun lantang memperagakan kasih mereka terhadap Gereja.[7]

Adanya penyelewengan-penyelewengan yang terjadi dalam liturgi seringkali berhubungan dengan salah persepsi tentang makna 'kebebasan'; dan hal ini tidak menuju kepada pembaharuan sejati yang diharapkan oleh Konsili Vatikan II. Karena penyimpangan ini dapat mengakibatkan merosotnya/ hubungan yang perlu antara hukum doa dengan hukum iman, yaitu bahwa doa harus merupakan ungkapan iman (lex orandi, lex credendi).

Akhirnya, marilah kita berpartisipasi secara aktif dan sadar setiap kali kita mengikuti perayaan liturgi, dan juga dengan memperhatikan dan melaksanakan ketentuan- ketentuannya, sebagai tanda bukti bahwa kita mengasihi Kristus dan Gereja-Nya.


CATATAN KAKI:
  1. lih. Katekismus Gereja Katolik (KGK) 1069 []
  2. lih. Konsili Vatikan II, Sacrosanctum Concillium 7 []
  3. lih. KGK 1070, SC 7 []
  4. Paus Pius XII, Mediator Dei 20 []
  5. Rm. Emanuel Martasudjita, Pr., Liturgi, Pengantar untuk Studi dan Praksis Liturgi, (Yogyakarta: Kanisius, 2011), p.22 []
  6. Ecclesia de Eucharistia, 52 []
  7. Ibid., lih. Redemptoris Sacramentum, Lampiran, 2 []
Share.

About Author

Ingrid Listiati telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

263 Comments

  1. Yohanes Mikael on

    Syalom,

    Saya senang sekali membaca artikel ini dari awal sampai akhir dan saya memuji tim katolisitas yang berani bersikap lembut namun tegas mengenai Liturgi. Saya bilang berani sebab pasti kecaman, sinisme, dan respon negatif pasti banyak, tidak cuma dari kaum awam tapi kaum biarawan, biarawati dan kaum tertahbis sendiri.

    Mungkin di lain kesempatan bisa dibuatkan artikel selanjutnya yang berhubungan dengan “salah kaprah” umat tentang Liturgi.
    Misalnya pandangan bahwa semenjak Konsili Vatikan II segala ibadat liturgi semakin disemangati oleh bahasa vernakular saja. Padahal ada anjuran seperti mempertahankan penggunaan bahasa latin untuk Kyrie, Sanctus, Agnus Dei.

  2. Salam

    Maaf kalau pertanyaan saya menyimpang dari artikel. Saya ingin bertanya soal cara berpakaian imam.
    Setau saya imam kalau di luar liturgi dianjurkan memakai collar bahkan Paus Benediktus pernah menyinggung hal tsb. Tapi knp di Ind para imamnya jarang sekali memakai collar? Padahal itu merupakan identitas seorg imam apalagi di negara yg mayoritas muslim. Seperti halnya muslimah yg berjilbab/muslim memakai peci, begitu jg collar merupakan pakaian keharusan untuk seorang imam yg membedakan dr awam. Pernah saya liat di tv seorang romo yg diundang di acara talkshow hanya memakai kemeja tanpa collar atau romo yg berkumpul dlm lintas agama hanya berpakaian biasa, bahkan romo di paroki sy yg diundang dlm kegiatan luar liturgi/grj bnr2 membaur dg awam tnpa collarnya. Kenapa imam di Ind beda dg di luar? Yang bahkan foto profil mrk di akun facebook mrk tdk prnh melepas collar. Hanya bersama keluarga mrk melepas collar. Padahal collar bkn hnya identitas untuk seorg imam tp jg kebanggaan utk awam Katolik. Kenapa? Ya semisal ada lintas agama saya bisa dg bangga menunjukan pembimbing rohani sy, itu lho romo saya yg pake collar yg pasti langsung bisa dikenali

    Mohon maaf klo sdh ditanyakan sblmnya
    Terima kasih

    • Romo Wanta, Pr on

      Maria yth

      Anda benar bahwa setiap imam sesuai norma kanonik menggunakan pakaian yang pantas sesuai identitasnya. Terutama saat acara resmi saya sangat setuju dengan pandangan anda. Saya sebagai ketua Unio Indonesia para rama diosesan menganjurkan hal itu memakai pakaian imam colar yang sekarang di mana-mana dapat dibeli di toko. Bahkan saya ingatkan kepada umat kalau memberi hadiah berikanlah baju imam (baju colar romano). Keuskupan Surabaya mewajibkan imamnya memakai baju colar. Nanti saat Munas Unio Indonesia Amboina 2014 kami akan bagikan baju setiap imam memakai imam/colar (sekarang harus mencari dana untuk 200 imam). Namun situasi Indonesia sangat berbeda, identitas perlu tapi dalam kebersamaan kita harus juga melebur dengan sesama, misalnya memakai pakaian batik maka imam ada yang senang dengan pakaian batik. Tapi harus diberi salib kecil di kerah, tanda sebagai imam. Itupun bisa diakui sebagai tanda pakaian yang pantas seorang imam. Jadi identitas imam tidak boleh dilupakan terutama dengan cara berpakaian dan membawa diri dalam perilaku sehari-hari.

      salam
      Rm Wanta

  3. salam damai Kristus….

    buat tiem katolisitas

    di daerah saya sering terjadi kasus kematian tidak wajar ( bunuh diri) dan dari pihak Gereja Paroki memperbolehkan mayat tersebut saat mau dikuburkan hanya diibadatkan tanpa menggunakan perlengkapan Gereja spt air berkat, salib dan ukup.
    saya ingin bertanya tentang tanggapan Gereja mengenai kasus Kematian Tidak Wajar dan aturan ini benar – benar sudah sah?? saya mohon bantuannya tentang artikel tentang kematian tidak wajar dan dokumen gereja tentang kehidupan

    terimakasih

    • Shalom Lidya Muda,

      Pertanyaannya adalah apakah orang yang meninggal karena bunuh diri boleh mendapatkan pemakaman gerejawi. Dalam Kitab Hukum Kononik dituliskan sebagai berikut:

      Kan. 1184 § 1    Pemakaman gerejawi harus ditolak, kecuali sebelum meninggal menampakkan suatu tanda penyesalan, bagi:
      10 mereka yang nyata-nyata murtad, menganut bidaah dan skisma;
      20 mereka yang memilih kremasi jenazah mereka sendiri karena alasan yang bertentangan dengan iman kristiani;
      30 pendosa-pendosa nyata (peccatores manifesti) lain yang tidak bisa diberi pemakaman gerejawi tanpa menimbulkan sandungan publik bagi kaum beriman.

      Kan. 1184 § 2    Jika ada suatu keraguan, hal itu hendaknya dikonsultasikan kepada Ordinaris wilayah yang penilaiannya harus dituruti.

      Jadi, selama orang yang meninggal bukanlah murtad, menganut bidaah dan skisma, memilih kremasi dengan alasan yang bertentangan dengan iman kristiani, serta pendosa-pendosa nyata, maka berhak mendapatkan pemakaman gerejawi. Kalau masih ada keraguan, maka silakan berkonsultasi kepada ordinaris wilayah.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  4. shalom katolisitas
    pernah saya menemui (mengikuti) dalam perayaan Ekaristi syukur di lingkungan/umat. Hosti yg telah dikonsekrasi habis sedangkan umat masih banyak yang belum menerima, kemudian pastor mengambil hosti yg belum dikonsekrasi dengan anggur yg sudah dikonsekrasi, umat diminta mengambil hosti tersebut dan mencelupkannya ke dalam anggur tsb. Bagaimana tanggapan mengenai hal ini?

    salam kasih dlm Kristus Tuhan
    Arie

    • Shalom Arie,

      Memang di beberapa tempat terjadi bahwa karena kehabisan hosti yang telah dikonsakrir sementara banyak umat yang masih menungguh untuk Komuni, maka seorang imam mencelupkan hosti yang belum dikonsakrir ke dalam anggur yang telah dikonsakrir. Walaupun hal ini didasari dengan niat baik agar semua umat dapat menerima Komuni, namun sesungguhnya, hal ini dapat membingungkan umat. Umat yang sebelumnya telah menerima hosti yang telah dikonsakrir dapat saja bertanya-tanya apakah hosti yang telah mereka terima telah dikonsakrir atau belum. Dan bagi yang menerima hosti yang belum dikonsakrir dengan dicelupkan ke dalam anggur yang telah dikonsakrir akan bingung apakah hal ini sah atau tidak.

      Redemptionis Sacramentum (SC 104) menuliskan: “Umat yang menyambut, tidak diberi izin untuk mencelupkan sendiri hosti ke dalam piala; tidak boleh juga ia menerima hosti yang sudah dicelupkan itu pada tangannya. Hosti yang dipergunakan untuk pencelupan itu harus dibuat dari bahan sah dan harus sudah dikonsakrir; karena itu dilarang memakai roti yang belum dikonsakrir atau yang terbuat dari bahan lain.” Dari dokumen ini, maka sesungguhnya sangat jelas, bahwa praktek seperti ini adalah tidak diperbolehkan. Kalau sampai terjadi bahwa Hosti tidak cukup, maka seorang imam harus memecah Hosti yang sudah dikonsakrir, sehingga cukup untuk seluruh umat. Cara lain adalah dengan memberikan Anggur yang telah dikonsakrir kepada umat. Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  5. Salam dalam kasih Kristus

    Sy mau bertanya mgkn d luar topik ini,jd klo smisal mnyimpang bisa d sesuai kan oleh tim katolisitas

    Bbrp hr lalu ktika ada ptmuan umat lingk.sy bercakap dng katekis sy,beliau bercerita bbrp mggu lalu saat berada d temanggung dn mnjaga warnet milik putri nya,ada seorang yg nge-print artikel hasil rekoleksi sebuah Persekutuan Doa Karismatik,ketika beliau akan mencetak nya dr flasdisk,tnpa sengaja beliau melihat artikel tsb,kmudian beliau sempat membaca nya yg d simpulkan bahwa dr rekoleksi kelompok tsb ada bbrp kputusan yg isi nya scr garis besar m’kritisi atau lebih pasti nya m’kritik kinerja para romo,antara lain(yg sempat d baca dn d ingat oleh katekis sy)antara lain:
    1.Prodiakon tidak boleh membagi komuni,krn itu adl tugas imam dan diakon tertahbis
    2.Misa lingk.tidak sesuai dng ajaran gereja,mnrt ajaran gereja rumah Tuhan ada d tabernakel sedang d misa lingk,tidak ada tabernakel nya
    3.Umat tidak d perkenankan membaptis pd saat darurat,hanya romo ato imam tertahbis saja yg boleh
    Dan msh ada bbrp bagian yg mnrut beliau sungguh bertentangan dng ajaran gereja….
    Apakah pendapat tsb benar atau tidak,mohon penerangan nya,supaya tidak tjd salah paham
    Trima kasi
    Berkah Dalem

    • Shalom Michael,

      Terima kasih atas pertanyaannya. Berikut ini adalah komentar yang dapat saya berikan.

      1. Tentang membagi komuni: Salah satu tugas dari Prodiakon atau lebih tepatnya adalah pelayan tak lazim adalah membagikan komuni di saat pelayan tertahbis (imam) tidak mungkin menjalankan tugasnya sendirian. Jadi, kalau memang tidak banyak umat dalam perayaan Ekaristi, maka memang pelayan tak lazim tidak diperlukan, karena tugas membagikan komuni dapat dilakukan oleh imam. Namun, dalam kondisi Misa dengan umat yang begitu banyak dan jika hanya dilayani imam, maka komuni dapat memakan waktu yang begitu lama serta dapat mengganggu jalannya Perayaan Ekaristi, maka memang diperlukan pelayan tak lazim.

      2. Tentang misa lingkungan: Jika uskup setempat mengizinkan (lih. Sacred Congregation for Divine Worship, Instruction Actio pastoralis, on Masses with special groups, 15 May 1969: AAS 61 (1969), pp. 806-811;) dan juga dalam kondisi khusus (lih. Redemptionis Sacramentum, 108), maka misa lingkungan juga dapat dilakukan. Yang tertenting adalah jangan sampai terjadi pelanggaran liturgi karena Misa dilakukan di luar Gereja. Jadi, imam harus tetap memakai pakaian yang disyaratkan dan juga tidak boleh sampai terjadi kecemburuan sosial karena pilih kasih.

      3. Tentang umat membaptis: Sebenarnya, dalam kondisi darurat (hidup dan mati), justru umat awam harus dapat membaptis, sehingga tidak ada seorangpun yang kehilangan rahmat baptisan yang menyelamatkan. Sebagai contoh, kalau seorang kakek mau meninggal dan dia mau dibaptis, namun pastor tidak dapat hadir secara cepat, maka anaknya atau umat yang lain dapat membaptisnya. Baptisan yang dilakukan ini adalah sah, sehingga kalau kakek tersebut hidup, maka tidak perlu dibaptis lagi. Katekismus Gereja Katolik (KGK 1256) menuliskan sebagai berikut:

      “Biasanya pelayan Pembaptisan adalah Uskup dan imam dan, dalam Gereja Latin, juga diaken (Bdk. CIC, can. 861 §1; CCEO, can. 677 §1.). Dalam keadaan darurat setiap orang, malahan juga seorang yang belum dibaptis, dapat menerimakan Pembaptisan, asal saja ia mempunyai niat yang diperlukan: Ia harus bersedia melakukan, apa yang dilakukan Gereja , waktu Pembaptisan, dan memakai rumusan Pembaptisan yang trinitaris. Gereja melihat alasan untuk kemungkinan ini dalam kehendak keselamatan Allah yang mencakup semua orang (Bdk. 1 Tim 2:4) dan perlunya Pembaptisan (Bdk. DS 1315; 646; CIC, can. 861 §2) demi keselamatan (Bdk. Mrk 16:16).”

      Semoga jawaban singkat tersebut dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  6. selamat malam, mengenai pelanggaran liturgi saya memiliki pertanyaan yang mengganjal dari dulu, yaitu
    1. apabila terjadi pelanggaran liturgi dalam pembagian komuni, misalnya hosti ambil sendiri dan celup sendiri ke dalam anggur, apakah umat sebaiknya tetap menurut dan mengambil komuni dengan cara yang salah tersebut walaupun tau bahwa itu salah, atau menolaknya dengan resiko tidak menerima komuni hari itu.

    2. Dari pilihan yang kedua, yaitu tidak menerima komuni karena caranya salah, apakah umat yang tidak menerima komuni tersebut(padahal dia berada dalam status yang diperbolehkan untuk menerima komuni) berdosa? apakah umat wajib menerima komuni setiap minggu? ataukah kewajibannya cukup mengikuti misa setiap minggu?

    terima kasih

    • Shalom Evelyn,

      Kondisi yang Anda sampaikan tersebut memang tidak ideal, namun jika harus memilih, maka yang lebih baik adalah tetap menerima Komuni (jika memang tidak terhalang untuk menerimanya), meskipun caranya salah.

      Adakalanya, dapat terjadi karena ketidaktahuan imam yang memimpin perayaan Misa, Komuni diberikan dua rupa, namun umat dipersilakan mengambil dan mencelup sendiri. Hal ini sesungguhnya dilarang secara eksplisit dalam Redemptionis Sacramentum, 104. Namun jika imam atau umat tidak tahu tentang hal ini, tentu bobot kesalahannya tidak berat. Jika umatnya sekarang sudah mengetahuinya, ada baiknya membicarakan hal ini secara baik-baik dengan imamnya, atau dengan seksi liturgi di paroki, agar hal ini dapat menjadi perhatian, dan tidak terulang kembali.

      Pada umat yang tidak terhalang menerima Komuni (ia dalam kondisi rahmat dan tidak sedang dalam dosa berat), maka menguduskan hari Tuhan artinya adalah mengikuti perayaan Ekaristi secara penuh, termasuk menerima Komuni kudus. Dalam lima perintah Gereja, memang disebut persyaratan minimal seorang Katolik, yaitu minimal menerima Komuni sekali setahun dalam perayaan Paskah. Namun tentu, bagi tidak terhalang menerima Komuni kudus, ia harus mengikuti perayaan Ekaristi dan menerima Komuni kudus setiap hari Minggu atau hari raya yang diwajibkan. Bahkan ia dapat menerima Komuni setiap hari pada perayaan Ekaristi harian.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Bagaimana dengan misa yang dilakukan di tempat-tempat lain dan tidak seperti di dalam Gereja, misalnya pada suatu latihan dasar kepemimpinan, pada hari terakhir misa dilakukan di ruangan yang relatif sempit (dibanding jumlah peserta)? Tidak ada diakon atau prodiakon yang membantu imam dalam membagikan hosti sehingga imam memegang kedua piala dan umat sendiri mencelupkan hosti ke dalam anggur.

        [Dari Katolisitas: Dalam keadaan khusus seperti tersebut di atas, sesungguhnya tetap tidak diperbolehkan umat mencelupkan sendiri hosti ke dalam anggur yang sudah dikonsekrasikan. Maka yang dapat dilakukan adalah salah satu umat yang dipandang baik menurut teladan iman, dapat dipilih oleh imam itu untuk berdiri di samping imam dengan memegang piala anggur tersebut. Lalu imamlah yang mencelupkan hosti itu ke dalam piala anggur tersebut dan membagikannya kepada umat, dengan berhati-hati agar anggur tidak tercecer. Lalu, umat menerima Komuni dalam dua rupa itu dengan mulut.

        Silakan membaca Ketentuan umum untuk menyambut Komuni, silakan klik; dan Cara menyambut Komuni dua rupa, silakan klik]

  7. Shalom,

    bolehkah orang yang sudah menikah menjadi misdinar? apakah boleh tapi tidak lazim? atau yang boleh hanya yang belum menikah saja?

    lalu sampai sejauh mana pelayan gereja terbatas hanya pada para pria? selain imam, jabatan apalagi yang dikhususkan bagi pria?

    terima kasih

    • Shalom Agung,

      1. Tentang persyaratan Misdinar

      Berdasarkan Kitab Hukum Kanonik 1983 dan jawaban yang diberikan oleh Tahta Suci tertanggal 11 Juli 1992 (AAS 86 (1994) 541-542, Communicationes 26 (1994) 159-160, Origins 23 (1994) 777-779), umat awam -baik laki-laki maupun perempuan- dapat menunaikan tugas liturgis, sesuai dengan ketentuan yang berlaku:

      Kan. 230 § 2      Dengan penugasan sementara orang-orang awam dapat menunaikan tugas lektor dalam kegiatan-kegiatan liturgis; demikian pula semua orang beriman dapat menunaikan tugas komentator, penyanyi atau tugas-tugas lain menurut norma hukum.

      Tugas melayani altar ini adalah termasuk tugas pembaca (lektor), pemazmur, pengantar, misdinar, petugas pembagi Komuni tak lazim, sakristan, petugas kolekte, petugas penata umat. Dari ketentuan di atas, memang tidak secara eksplisit disebutkan, apakah misdinar itu harus anak-anak/ remaja yang belum menikah.

      Menurut Rm. Wanta:  Tidak ada ketentuan eksplisit, bahwa misdinar itu harus laki-laki yang belum menikah, tapi pada umumnya laki laki dan pihak Vatikan menghendaki laki laki. Tentu yg menjadi misdinar adalah mereka yang sudah Katolik mengetahui liturgi. Petugas Akolit (khusus untuk pelayanan pembacaan Sabda Tuhan) dulu adalah tahbisan rendah, sedangkan sekarang hanya pelantikan saja. Para frater sebelum top dilantik menjadi lektor akolit. Semua pelayan liturgi misa berhubungan dengan kepemimpinan adalah laki-laki.

      Selanjutnya, ketentuan tentang petugas Akolit dan Lektor dan pelayan lainnya, dapat dibaca di dokumen Pedoman Umum Misale Romawi/ PUMR (General Instruction of the Roman Missal/ GIRM), silakan klik di link ini.

      2. Pelayan Gereja terbatas hanya pria? Selain imam, jabatan apa yang dikhususkan bagi pria?

      Jika pelayan yang dimaksud adalah pelayan tertahbis, maka jawabannya adalah Ya, dengan mengacu kepada Kristus dan para rasul yang kesemuanya adalah laki-laki. Namun pelayanan lainnya yang tidak tertahbis dan bermacam karya apostolat tidak terbatas pada kaum pria. Sedangkan pelayan liturgis, sebagaimana disebut di atas, juga tidak terbatas pada kaum pria. Untuk melakukan tugas pelayanan tersebut, terdapat ketentuan maupun persiapan khusus yang harus dipenuhi oleh petugas tersebut.

      Jabatan tertahbis lainnya yang dikhususkan bagi pria adalah diakon tertahbis. Ketentuannya yang dikeluarkan tentang diakon tertahbis (diakon permanen), dapat dibaca di link ini, silakan klik. Namun hal diperlukan atau tidaknya tugas ini dalam setiap keuskupan adalah tergantung dari keputusan Uskup yang bersangkutan.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Romo Wanta dan Ingrid Listiati- katolisitas.org


  8. Stefanus Ardi Watuseke on

    Tujuan liturgi sangat jelas: Mengarahkan manusia untuk ‘menyembah Dia dalam roh dan kebenaran’. Jadi sebenarnya larangan-larangan (aksi-reaksi dari pelanggaran liturgi) adalah arah agar manusia tidak memperhatikan diri-Nya sendiri tetapi dalam misa sungguh-sungguh Allah-lah yang menjadi pusat perhatian. Sayangnya, bahkan lagu-lagu gregorian tidak menjamin bahwa pendengar (umat) mengarahkan diri pada Allah, namun juga terjebak pada side efek beberapa lagu-lagu rohani yakni pusat perhatian pada manusia.
    Aturan liturgi itu bagus dan baik….tetapi jangan sampai menjadi boomerang bagi kita sehingga terjebak pada sikap liturgi yang benar tetapi ‘hati’ tidak benar

  9. Mario Tokan on

    syalom…
    Saya mau tanya, sebelumnya dikatakan:
    Tra le Sollecitudini 19 Penggunaan alat musik piano tidak diperkenankan di gereja, sebagaimana juga alat musik yang ribut atau berkesan tidak serius (frivolous), seperti drum, cymbals, bells dan sejenisnya.

    Tra le Sollecitudini 20 Dilarang keras menggunakan alat musik band di dalam gereja, dan hanya di dalam kondisi- kondisi khusus dengan persetujuan Ordinaris dapat diizinkan penggunaan alat musik tiup, yang terbatas jumlahnya, dengan penggunaan yang bijaksana, sesuai dengan ukuran tempat yang tersedia dan komposisi dan aransemen yang ditulis dengan gaya yang sesuai, dan sesuai dalam segala hal dengan penggunaan organ.

    Pertanyaan saya bagaimana dengan misa dengan gaya karismatik? Terkadang saya mendapati misa karismatik penuh dengan nyanyian meriah, tepuk tangan, penari tamborin dan flag, mazmur tanggapan yang diubah dengan lagu karismatik yang bersifat teduh, lagu kemuliaan yang diganti dengan lagu karismatik yang bersifar utk masuk dalam penyembahan yang diakhiri dengan penyembahan dalam bahasa roh dan beberapa nubuat bila ada. Apakah misa karismatik berarti sejatinya merupakan misa yang penuh dengan pelanggaran sekalipun di sisi lain misa karismatik telah banyak mengubah orang katolik sungguh2 orang kristen (bukan beragama kristen dlm konotasi protestan) yang boleh lebih lagi mencintai Tuhan dan merasakan kasih lawatan Tuhan? Seandainya misa karismatik adalah suatu misa yang melanggar aturan yang baku, bukankah ini bisa diartikan bahwa dalam misa Gereja membatasi kuasa dan karya Roh Kudus yang sebenarnya bisa lebih tercurah dan dirasakan umat?

    Itu saja yang mau saya tanyakan. Trima kasih. Tuhan memberkati.

    • Shalom Mario Tokan,

      Sejujurnya mungkin harus diakui, bahwa ketentuan penggunaan alat musik dalam liturgi (sebagaimana tercantum dalam Tra le Sollecitudini) maupun ketentuan tentang apa yang perlu dilaksanakan ataupun dihindari dalam Ekaristi kudus (sebagaimana tertulis dalam Redemptionis Sacaramentum) relatif belum secara meluas diketahui oleh umat Katolik, dan bahkan mungkin juga oleh para imam, sehingga kerap terjadi ketidaksesuaian di lapangan. Instruksi Redemptionis Sacramentum baru dikeluarkan Maret 2004, dan diterjemahkan oleh KWI Desember 2004, jadi terhitung relatif baru, jika dibandingkan dengan pelaksanaan perayaan Ekaristi dengan gaya karismatik, yang sudah dilaksanakan bertahun-tahun sebelumnya. Maka jika sampai ada pelanggaran, kemungkinan  disebabkan karena kurangnya pengetahuan, dan bukan karena kesengajaan.

      Namun ceritanya berbeda sekarang, jika baik imam maupun umat sudah mengetahui ketentuan tentang perayaan Ekaristi yang dikeluarkan oleh pihak Vatikan. Ketentuan ini dikeluarkan agar perayaan Ekaristi dapat semakin dihayati maknanya, dan agar umat beriman dapat mengalami kehadiran Kristus sebagaimana yang dialami oleh kedua murid dalam perjalanan ke Emaus (lih. RS 6). Tentu, sudah selayaknya ketentuan ini ditaati sebagai bukti ketaatan kita kepada Kristus dan Gereja yang diberi kuasa oleh Kristus untuk mengajar umat-Nya.

      Kita ketahui bahwa yang mengajarkan adanya dua jenis liturgi dalam perayaan Ekaristi, yaitu Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi, adalah Kristus sendiri, pada saat Ia menampakkan diri dalam perjalanan bersama dua orang murid ke Emaus. Yesus pertama-tama menyingkapkan makna Kitab Suci, dan kemudian memecah roti (lih. Luk 24:13-35). Gereja tidak mempunyai kuasa untuk mengubah hal-hal yang sudah ditetapkan oleh Kristus sendiri (lih. RS 10), yang kemudian dilestarikan secara turun temurun sejak zaman Gereja awal. Berikut ini adalah ketentuan tentang Liturgi Sabda yang tertulis dalam Pedoman Umum Misale Romawi/ PUMR (General Instruction of the Roman Missal/ GIRM), silakan membaca dokumen selengkapnya di link ini, silakan klik:

      “B Liturgi Sabda

      55. Bagian utama Liturgi Sabda terdiri dari bacaan-bacaan Kitab Suci bersama-sama dengan pendarasan Mazmur di antara bacaan-bacaan tersebut. Homili, Syahadat dan Doa Umat mengembangkan dan menyimpulkan bagian Misa ini….

      Bacaan-bacaan Kitab Suci

      57. Dalam bacaan-bacaan ini, mimbar Sabda dipersiapkan bagi umat beriman, dan kekayaan Kitab Suci dibukakan kepada mereka. Oleh karena itu, dianjurkan untuk mempertahankan penyusunan bacaan-bacaan Kitab Suci, yang melaluinya dicurahkan terang kesatuan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dan sejarah keselamatan. Lagipula, tidak diperbolehkan untuk menggantikan dengan teks-teks non Biblis terhadap bacaan-bacaan Kitab Suci dan Mazmur Tanggapan, yang mengandung Sabda Allah.”

      61. Setelah bacaan pertama, Mazmur Tanggapan didaraskan, yang menjadi satu kesatuan dengan keseluruhan Liturgi Sabda dan memegang posisi penting secara liturgis dan pastoral, sebab pendarasan Mazmur mendukung permenungan Sabda Tuhan.

      Katekismus mengajarkan bahwa kehadiran Kristus dalam perayaan Ekaristi itu nyata dalam 4 hal: 1) dalam diri imam (in persona Christi); 2) di dalam Sabda-Nya dalam liturgi Sabda; 3) di dalam rupa roti dan anggur yang sudah dikonsekrasikan; 4) di dalam jemaat, atas dasar firman-Nya bahwa di mana ada dua atau tiga orang berkumpul Yesus hadir ditengah mereka (lih. Mat 18:19) (lih. KGK 1088). Mengingat bahwa bacaan-bacaan Kitab Suci dan Mazmur Tanggapan adalah Sabda Tuhan yang saling berkaitan, di mana Tuhan Yesus sendiri hadir di dalamnya, maka sesungguhnya, bukan bagian umat untuk mengubah ataupun memisahkan keterkaitan ini dengan lagu pilihan sendiri yang tidak ada kaitannya dengan bacaan Kitab Suci yang sudah ditentukan pada perayaan Ekaristi tersebut.

      Maka prinsip ini selayaknya dipegang teguh oleh semua anggota Gereja, termasuk mereka yang tergabung dalam gerakan karismatik.

      Jika hal ini dipahami, maka sesungguhnya, tidak pada tempatnya untuk mengganti Mazmur dengan nyanyian lain walaupun merupakan lagu rohani. Dalam pendarasan Mazmur, umat menanggapi bacaan Sabda Tuhan, juga dengan doa yang diambil dari Sabda Tuhan, yang umumnya berhubungan juga dengan tema bacaan Kitab Suci yang dibacakan. Mazmur Tanggapan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari bacaan-bacaan Kitab Suci lainnya dalam Liturgi Sabda, dan karena itu tidak selayaknya diganti menurut selera umat ataupun komunitas yang menyelenggarakan Misa Kudus. Sebagaimana imam ataupun umat tak sepantasnya mengganti teks dalam Liturgi Ekaristi, demikian juga tak sepantasnya umat tidak mengganti teks dalam Liturgi Sabda, yang dalam hal ini meniadakan Sabda Allah yang harusnya dibacakan/ dinyanyikan sebagai Mazmur Tanggapan; karena di dalam pembacaan teks tersebut, hadirlah Tuhan Yesus sendiri.

      Ini juga jelas disebutkan dalam Redemptionis Sacramentum:

      “62. Tidak juga diperkenankan meniadakan ataupun menggantikan bacaan-bacaan Kitab Suci yang sudah ditetapkan, atas inisiatif sendiri, apalagi “mengganti bacaan dan Mazmur Tanggapan yang berisi sabda Allah, dengan teks-teks lain yang bukan dari Kitab Suci” (RS 62)

      Penggantian Mazmur dengan lagu-lagu lain ini dilarang, demikian juga, tidak pada tempatnya menyanyikannya lagu-lagu pop rohani ataupu lagu-lagu sekular/ profan dalam perayaan Ekaristi. Karena kalau hal-hal ini dilakukan, tanpa disadari hal ini dapat berakibat pada umat, semacam sikap yang menghubungkan perayaan iman dengan ‘apa yang saya sukai’, daripada mengindahkan ‘apa yang tepat dan benar’, menurut kehendak Tuhan. Jika ini yang terjadi, maka sebenarnya terjadi penyimpangan dari hakekat liturgi, yang harusnya merupakan karya bersama antara Kristus sebagai kepala Gereja dan kita sebagai anggota-anggota-Nya; sehingga kita harus mengutamakan kehendak Kristus terlebih dahulu -sebagaimana yang telah dilestarikan selama berabad-abad dalam Gereja- dan tidak mengutamakan selera ataupun perasaan kita sendiri.  Selain itu dengan dinyanyikannya lagu-lagu non liturgis dalam perayaan liturgis, lama kelamaan dapat menghasilkan kecenderungan sikap mensejajarkan persekutuan doa dengan perayaan Ekaristi (sebab lagu-lagu yang dinyanyikan juga sama/ mirip), dan sikap ini tentu tidak benar, sebab biar bagaimanapun perayaan Ekaristi merupakan bentuk ibadah Gereja yang tertinggi, yang tak dapat digantikan dengan bentuk doa apapun. Sikap yang mungkin lebih keliru lagi adalah jika menyangka bahwa liturgi dapat diubah untuk ‘disekularkan’, agar bisa lebih menarik, semacam pertunjukan. Ini adalah sikap yang sangat menyimpang dari hakekat liturgi, yang merupakan karya Kristus sendiri dan Gereja dalam menghadirkan kembali Misteri Paska Kristus: yaitu sengsara, wafat, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga. Misteri ini adalah peristiwa iman, dan sama sekali bukan tontonan ataupun pertunjukan/ performance. Selanjutnya tentang Apakah boleh lagu pop dinyanyikan di Misa, silakan klik di sini; Apakah Band sebagai alat musik di Misa diperbolehkan?, silakan klik

      Maka izinkan saya mengutip langsung apa yang ditulis dalam Redemptoris Sacramentum  sehubungan dengan penyimpangan yang terjadi dalam liturgi:

      “7. Tak jarang penyelewengan-penyelewengan itu bersumber pada salah pengertian mengenai makna kebebasan. Dalam Kristus, Allah tidak menjamin bagi kita suatu kebebasan semu yang memberi kita peluang untuk berbuat apa saja yang kita kehendaki, melainkan suatu kebebasan yang dengannya kita boleh berbuat apa yang tepat dan benar. Ini berlaku bukan hanya untuk perintah-perintah yang berasal langsung dari Allah, melainkan juga untuk hukum dan undang-undang yang dimaklumkan oleh Gereja, tentu dengan memperhatikan secara wajar ciri-ciri khas setiap peraturan. Karena itu, semua harus menuruti ketetapan-ketetapan yang berasal dari pimpinan Gereja yang sah.

      9. Akhirnya, penyelewengan-penyelewengan itu sering berlandaskan ketidakpahaman, dan dapat menyingkirkan unsur-unsur yang maknanya tidak dipahami secara lebih mendalam dan yang nilai sejarahnya tidak diperhatikan….

      11. Misteri Ekaristi ini “terlalu agung bagi siapa pun juga untuk merasa bebas memperlakukannya sesuai dengan pandangannya sendiri sehingga kekudusannya dan ketetapannya yang universal menjadi kabur.” Sebaliknya, siapa saja yang bertindak demikian dan melampiaskan saja kecenderungannya sendiri -juga bila dia seorang Imam- melukai kesatuan hakiki Ritus Romawi, yang seharusnya dijaga dengan ketat. Diapun harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan yang sama sekali tidak menanggapi kelaparan serta kehausan akan Allah yang hidup yang dialami orang, dewasa ini. Perbuatan-perbuatan yang demikian tidak juga membawa manfaat untuk reksa pastoral yang otentik atau pembaharuan liturgi yang benar; sebaliknya, karena ulah-ulah itu, umat beriman dirampasi dari harta kekayaan dan warisannya. Demikianlah perbuatan-perbuatan yang sewenang-wenang itu bukannya jalan menuju ke pembaharuan sejati, melainkan melanggar hak umat beriman akan sebuah perayaan liturgis yang adalah pengungkapan hidup Gereja sepadan dengan tradisi serta tata tertibnya. Pada akhirnya sikap ini menyebabkan masuknya unsur-unsur yang merusak dan menghancurkan ke dalam perayaan Ekaristi itu sendiri, yang justru seharusnya- karena mulianya dan berdasarkan maknanya sendiri- menandai serta menghadirkan secara mengagumkan persekutuan hidup ilahi dan persatuan umat Allah. Alhasil ialah kebingungan di bidang ajaran Gereja, kekacauan dan scandalum di pihak umat Allah, dan -sebagai akibat hampir pasti- perlawanan yang kuat; dan semuanya itu akan membuat banyak orang beriman merasa bingung dan sedih, khususnya di masa kita ini ketika hidup Kristiani sudah begitu dipersulit akibat menjalarnya “sekularisasi”.

      12. Sebaliknya, menjadi hak sekalian orang beriman bahwa liturgi, khususnya perayaan Misa Kudus, dilangsungkan sungguh sesuai dengan hasrat Gereja, sesuai dengan ketetapan-ketetapannya seperti digariskan dalam buku-buku liturgi dan dalam hukum-hukum serta peraturan lainnya. Demikian pula, umat Katolik berhak untuk Kurban Misa Kudus yang dirayakan bagi mereka secara utuh, sesuai dengan ajaran Gereja. Dan akhirnya, adalah hak komunitas Katolik bahwa Ekaristi yang Mahakudus itu dilaksanakan baginya sedemikian rupa sehingga sungguh mencolok sebagai sakramen kesatuan, serta menjauhkan segala cela dan ulah yang dapat menimbulkan perpecahan dalam Gereja.” (RS, 7, 9,11,12)

      Maka sudah seharusnya komunitas karismatik, menyelenggarakan perayaan Ekaristi kudus dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan yang sudah digariskan Gereja, sebagai ungkapan ketaatan yang penuh kepada Kristus, dan demi menjaga keagungan dan kesakralan perayaan Ekaristi yang memang sungguh sangat luhur maknanya.

      Saya tidak menampik kenyataan, bahwa dalam Misa bergaya karismatik itu, walaupun terdapat pelanggaran/ ketidaksesuaian dengan ketentuan, Allah tetap dapat mencurahkan berkat-Nya. Mari kita memandangnya sebagai belas kasih dan kemurahan hati Allah, yang melihat kesungguhan hati umat-Nya, dan melihat juga bahwa pelanggaran itu dilakukan karena ketidaktahuan dan bukan karena kesengajaan. Namun mari, setelah kita mengetahuinya, kita-lah yang menyesuaikan diri, sebab perayaan Ekaristi yang sama, di sepanjang sejarah Gereja juga sudah mendatangkan rahmat dan berkat yang luar biasa, terutama bagi mereka yang sungguh mempersiapkan diri sebelumnya dan mempunyai disposisi batin yang baik.

      Gereja Katolik tidak melarang gerakan karismatik, ataupun persekutuan doa karismatik Katolik. Komunitas karismatik Katolik tetap dapat melakukan persekutuan doa dengan lagu-lagu karismatik, dan karena itu tidak benar jika dikatakan Gereja membatasi kuasa dan karya Roh Kudus dalam gerakan Karismatik. Hanya jika itu berkenaan dengan perayaan Ekaristi, Gereja sudah mempunyai ketentuannya sendiri, dan sudah selayaknya dihormati dan dilakukan oleh semua umat Katolik, termasuk yang tergabung dalam gerakan Karismatik. Sebab perayaan Ekaristi adalah puncak perayaan iman yang mempersatukan seluruh Gereja sehingga tidak pada tempatnya untuk diubah/ diimprovisasikan sesuai selera kelompok.

      Selanjutnya, perlu kita ketahui bahwa Allah tetap dapat melawat umat-Nya meskipun di luar perayaan Ekaristi kudus. Beberapa kali saya juga menghadiri persekutuan doa karismatik Katolik dengan doa Adorasi dan doa penyembuhan yang dilakukan tanpa Misa Kudus, dan Tuhan juga tetap melawat umat-Nya, dan banyak juga orang-orang sakit yang memperoleh kesembuhan. Jadi jika diinginkan mengadakan ibadah dengan lagu-lagu dan gaya karismatik, tentu saja tetap dapat dilakukan, di luar perayaan Ekaristi. Namun kalau mau merayakan Ekaristi, mari dengan kepatuhan sepenuhnya kepada Kristus, kita melaksanakan sesuai dengan ketentuan yang sudah ada.

      Demikian tanggapan saya, yang juga sudah disetujui oleh Rm. Boli SVD, pembimbing bidang Liturgi di situs ini. Semoga berguna.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  10. Anastasia Rafaela on

    Salam kasih Katolisitas,

    Ada hal yang ingin saya tanyakan mengenai kriteria keluarga umat yang diperbolehkan terlibat dalam pelayanan saat awal persiapan persembahan (Preparation of the Table/Presentation of the Gifts), dimana roti dan anggur diantar atau diserahkan oleh satu keluarga umat kepada imam.

    Sudah dua kali kami diminta secara spontan oleh Acolytes yang bertugas saat itu untuk berpartisipasi dalam pelayanan tersebut, yang tentunya dengan senang hati dan suka cita kami menerimanya. Namun demikian agar tidak terjadi kekeliruan atau kesalahpahaman, maka tanpa diminta kami pun memberitahukan sebelumnya bahwa hanya saya dan putera saya adalah Kristen Katolik, sedangkan suami saya Kristen non Katolik. Mohon pencerahannya agar hati kami semakin mantap lagi dalam memenuhi tugas tersebut di lain waktu bilamana diminta kembali, sehingga kami tidak perlu kembali mengulang untuk menjelaskan kondisi kami tersebut. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih. Tuhan memberkati kita semua.

    Peace and Best Wishes
    Anastasia Rafaela

    • Salam bu Anastasia,

      puji Tuhan bahwa Ibu bersama putra yang Kristen Katolik bersedia menghantar bahan-bahan persembahan. Kalau ada kesempatan lagi, jangan ragu-ragu menerimanya. Memiliki suami dan anak-anak lain dengan iman non-Katolik bukan halangan untuk ibu dan putramu yang Katolik untuk melakukan tugas liturgis itu.

      Selamat melayani. Doa dan Gbu.
      Rm Boli Ujan SVD.

      • Anastasia Rafaela on

        Salam kasih Romo Boli,

        Terima kasih sekali atas tanggapannya yang sungguh melegakan hati, Tentunya akan saya sampaikan juga khabar gembira ini kepada suami. Sungguh Tuhan benar-benar baik hati sekali,
        Hingga kami pun dapat turut serta melayani dalam tugas liturgi.

        Peace and Best Wishes
        Anastasia Rafaela

  11. Salam Katolisitas,

    Terima kasih sudah banyak sekali memberikan banyak artikel – artikel yang luar biasa membangun.

    Saya ada pertanyaan mengenai aturan membungkuk, sejauh yang saya tau umat tidak perlu membungkuk ketika Imam menghormati altar (dan ketika mencium altar). Umat membungkuk hanya ketika Credo bagian “Ia dikandung oleh Roh Kudus, dilahirkan oleh perawan Maria – dan menjadi manusia”. Saya mohon minta penjelasan mengenai sumbernya yang mengatakan umat juga harus membungkuk.

    Mengenai tidak boleh menerima komuni ketika sedang dalam keadaan dosa berat, artinya boleh tidak kita mengikuti misa tapi tidak menerima komuni? Maksud saya adalah perintah gereja untuk mengikuti misa pada hari minggu apakah harus dengan menyambut komuni (atau dalam keadaan dosa, kita hanya mengikuti misa tanpa menerima komuni dan itu sudah dihitung mengikuti misa)?

    terima kasih.

    • Salam Kevin,

      Jawaban saya tulis dalam huruf miring di bawah pertanyaan Anda.

      Salam Katolisitas,
      Terima kasih sudah banyak sekali memberikan banyak artikel – artikel yang luar biasa membangun. Saya ada pertanyaan mengenai aturan membungkuk, sejauh yang saya tau umat tidak perlu membungkuk ketika Imam menghormati altar (dan ketika mencium altar). Umat membungkuk hanya ketika Credo bagian “Ia dikandung oleh Roh Kudus, dilahirkan oleh perawan Maria – dan menjadi manusia”. Saya mohon minta penjelasan mengenai sumbernya yang mengatakan umat juga harus membungkuk.

      Dalam buku Tata Perayaan Ekaristi bahasa Indonesia ada rubrik tentang hal itu, karena sudah dibicarakan dengan Kongregasi Ibadat yang memberi rekonyisi (persetujuan-pengakuan) untuk itu

      Mengenai tidak boleh menerima komuni ketika sedang dalam keadaan dosa berat, artinya boleh tidak kita mengikuti misa tapi tidak menerima komuni?

      Sangat boleh, dan sebaiknya demikian. Jangan pikir bahwa karena berada dalam keadaan dosa berat jadi tidak usah datang ke gereja untuk merayakan Ekaristi

      Maksud saya adalah perintah gereja untuk mengikuti misa pada hari minggu apakah harus dengan menyambut komuni (atau dalam keadaan dosa, kita hanya mengikuti misa tanpa menerima komuni dan itu sudah dihitung mengikuti misa)?

      Kalau berada dalam keadaan dosa berat boleh ikut Misa tanpa komuni. Ini dihitung mengikuti Misa, tetapi mengambil bagian tidak penuh dalam Misa

      terima kasih.

      Tks dan doa. Gbu.
      Rm Boli.

    • Hi Kevin,
      Ada baiknya saat Komuni ikut antri untuk menerima berkat dari Romo dengan tangan dilipat di dada daripada hanya duduk di bangku. Saya percaya berkat tersebut akan meningkatkan kerinduan kita untuk meninggalkan dosa kita dan menyambut Komuni dengan layak.
      Salam,
      Edwin

  12. Fransisca Julianti on

    Maraknya kasus pelanggaran liturgi dengan masuknya lagu lagu pop ataupun lagu lagu rohani non liturgi ke dalam liturgi adalah karena ada beberapa Romo (Paroki)/Pemimpin/Pembimbing merasa hal itu tidak apa apa, membiarkan dan bahkan ada yang mendukung pelanggaran liturgi tetap terjadi, selama anak anak muda mau dan rajin ke Gereja, atau terlibat dalam kegiatan gereja. Ini sikap yang salah, sepertinya kok ada kesan mereka try to be “up to date”, mencari yang berbeda dengan paroki yang lain, tapi salah jalan, atau takut kehilangan umat sehingga membiarkan hal hal seperti ini terjadi. Kalau takut kehilangan umat kabur ke gereja lain, gunakanlah pendekatan dengan cara yang benar, tidak melanggar aturan-aturan yang baku. Pelanggaran liturgi membuat umat yang mengerti liturgi resah, tidak nyaman mengikuti misa penuh pelanggaran. Komisi Liturgi KWI/maupun keuskupan menyusun Tata Perayaan Ekaristi itu perlu digunakan sebaik-baiknya, jangan malah dilanggar. Ini sama dengan apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, berbagai peraturan yang ada justru sengaja dilanggar, seperti lampu lalu lintas menyala merah, justru kendaraan berjalan.

  13. Shallom Tim Katolisitas,

    Mohon petunjuknya,

    Saat ini saya (Kristen non-Katolik) bersilang pendapat dengan calon mertua (Katolik aktif, prodiakon di gerejanya) mengenai tata acara perkawinan saya dan calon istri yang akan dilaksanakan di gereja Katolik.

    Point-2 perdebatan kami:

    Camer menginginkan adanya penyalaan Unity Candle dalam ibadah dengan alasan sebagai simbol persatuan. Saya menolak, karena bagi saya itu tidak perlu lagi, sebab pengucapan janji perkawinan dan pengenaan cincin kawin sudah memberikan simbolisme yang cukup.

    Camer menginginkan ada sungkeman mohon doa restu dalam ibadah. Saya menolak, karena bagi saya tidak tepat dan “mengganggu” alur komunikasi selama ibadah, yaitu dari umat dengan Tuhan (komunal) menjadi dari kami dengan ortu (personal).
    Bukan berarti saya tidak menghormati orang tua, tetapi menurut saya tidak pada tempatnya sungkeman dilakukan dalam ibadah di gereja. Bagi saya hal itu cukup dilakukan di acara tea pay atau bahkan dalam resepsi.
    Alasan lain adalah, berdasarkan pengamatan saya selama ini, kegiatan sungkeman cenderung menjadi momen drama yang berlebihan dimana umat hanya menjadi penonton dan sibuk mengusap air mata sesudahmya. Saya merasa tidak sreg dengan segala drama ini, apalagi di dalam ibadah.

    Camer ingin ada bagian dimana mereka menyerahkan Kitab Suci, salib dan rosario setelah sungkeman. Saya menolak, saya menginginkan penyerahan dilakukan oleh romo, bukan orang tua, dan dilakukan setelah pemberkatan perkawinan. Alasan saya adalah ini merupakan simbol dari jawaban Gereja, bukan jawaban orang tua, atas permohonan berkat.

    Camer ingin ada pembukaan cadar pengantin perempuan disusul first kiss. Saya menolak, karena tidak melihat relevansi kegiatan ini dengan ibadah perkawinan.
    Lagi, tidak pada tempatnya untuk berciuman di dalam gereja.

    Camer ingin ada kegiatan kami berdoa di hadapan patung Bunda Maria. Saya menolak hal ini, bukan karena saya menolak untuk berdoa kepada Bunda Maria (seperti yang dikira camer, karena saya bukan beragama Katolik), tetapi saya keberatan jika ini dilakukan dalam ibadah. Saya bersedia melakukan hal ini asalkan diluar ibadah, entah sebelum (pilihan pertama saya) tamu2 datang dan ibadah dimulai, atau setelah ibadah selesai.
    Dalam pandangan saya, ini adalah ibadah pribadi yang tidak perlu dilakukan di depan orang banyak.

    Mohon petunjuk dan penjelasan atas poin2 perdebatan kami diatas.

    Saya juga ingin bertanya, sebenarnya siapa yang seharusnya menyusun dan menentukan liturgi yang akan digunakan dalam perkawinan dan bagaimana prosesnya? Bolehkah calon mertua langsung menghadap romo yang akan memimpin dan kemudian bersama menyusun liturgi tanpa berkonsultasi dengan calon pengantin?

    Terima kasih!

    • Shalom Yoshi,

      Pertama-tama, saya menghargai Anda atas kesediaan Anda yang Kristen non-Katolik, untuk memberkati perkawinan Anda di Gereja Katolik. Selanjutnya, karena Anda tidak berlatarbelakang Katolik, maka adalah wajar, kalau Anda bertanya tentang beberapa hal dalam upacara perkawinan yang dilakukan secara Katolik tersebut. Baik untuk diketahui, bahwa karena ibadah dilakukan secara Katolik, maka adalah wajar jika Anda memahami sudut pandang Katolik dalam memaknai simbol-simbol yang ada dalam perayaan tersebut, walaupun mungkin berbeda dengan pengertian Anda selama ini. Selanjutnya setelah Anda mengetahuinya, silakan mendiskusikannya kembali dengan keluarga calon istri Anda, agar dicapai kesepakatan bersama atas dasar saling memahami dan saling menghormati.

      Perlu diketahui bahwa hal- hal yang Anda tanyakan berikut ini, memang bukan merupakan keharusan yang mutlak dalam perayaan liturgi sakramen perkawinan. Namun demikian walaupun tidak harus, namun hal-hal tersebut dapat dilakukan karena memberikan gambaran makna yang baik/ sesuai dengan ajaran iman Katolik dan tidak mengganggu liturgi. Berikut ini adalah penjelasan dari hal-hal yang Anda tanyakan:

      1. Tentang Unity Candle

      Sesungguhnya ini bukan suatu keharusan, namun dapat dilakukan jika diinginkan dan dipandang berguna oleh kedua mempelai. Memang benar persatuan sudah dilambangkan dengan pengucapan janji perkawinan dan pengenaan cincin kawin. Namun tidak ada salahnya dengan pemberkatan lilin di mana pasangan akan menyalakannya bersama, ataupun memperoleh nyala lilin dari lilin itu, yang dapat diartikan bahwa pasangan bersama-sama menimba kekuatan dari Terang Kristus. Selanjutnya lilin ini dapat dibawa pulang dan menjadi kenangan yang dapat diperingati setiap kali Anda merayakan ulang tahun perkawinan. Setiap tahun, Anda dan istri Anda dapat berdoa mengucap syukur kepada Tuhan atas sekian tahun kehidupan perkawinan yang telah Anda lewati berdua, dan diingatkan akan kehadiran Yesus Sang Terang Dunia, yang menjadi pusat kehidupan rumah tangga Anda; dan bahwa terang-Nya harus memancar di antara Anda berdua. Anda harus memancarkan terang Kristus pada istri Anda, dan istri Anda kepada Anda. Ini sesuai dengan makna sakramen Perkawinan, yaitu suami menjadi tanda kehadiran Kristus bagi istrinya, demikian juga, istri menjadi tanda kehadiran Kristus bagi suaminya.

      Jika Anda tidak menganggap makna seperti ini berarti bagi Anda, ataupun jika simbol semacam ini menurut Anda tidak berguna, maka sejujurnya Anda boleh saja tidak mengadakan penyalaan lilin (unity candle) ini, sebab hal ini tidak mempengaruhi ke-sah-an perkawinan Anda.

      2. Sungkem doa restu kepada orang tua.

      Sejujurnya, hal ini juga bukan sesuatu yang mutlak dalam perayaan sakramen perkawinan di Gereja Katolik. Di Amerika misalnya, sering kali penghormatan kepada orang tua dalam pemberkatan perkawinan ini tidak diadakan. Namun di Asia, mungkin karena pengaruh budaya Jawa ataupun Cina, yang menempatkan penghormatan kepada orang tua sebagai sesuatu yang sangat penting dan tak terpisahkan dari perayaan perkawinan, maka seringkali penghormatan kepada orang tua diadakan juga di dalam perayaan Misa kudus tersebut. Istilahnya adalah adaptasi akulturasi. Maksudnya adalah, ritus Romawi diterapkan dengan memasukkan budaya setempat yang baik dan dapat diterima di dalam liturgi.

      Bagi umat Katolik, penghormatan kepada orang tua tidak pernah sama ataupun disamakan dengan penghormatan kepada Tuhan. Maka jika sungkem/ penghormatan kepada orang tua itu diadakan di dalam ibadah/ misa kudus perayaan perkawinan tersebut, maksudnya bukan untuk menyaingi Tuhan, tetapi sebagai ungkapan kasih dan hormat kepada orang tua yang dilakukan di hadapan Tuhan. Penghormatan kepada orang tua ini menjadi penting mengingat bahwa merekalah yang telah berjasa [sebagai perpanjangan tangan dari Tuhan sendiri] untuk membesarkan kedua mempelai tersebut sampai mereka memilih untuk hidup berkeluarga sendiri.

      Selanjutnya untuk mengetahui apakah perbedaan penghormatan terhadap orang tua (istilahnya dulia) dan penghormatan terhadap Tuhan (latria), silakan klik di sini. Prinsip pemahaman inilah yang membuat umat Katolik tidak menganggap sebagai sesuatu yang aneh jika kita menghormati para orang kudus, terutama Bunda Maria yang adalah ibu rohani bagi semua umat beriman. Sebab penghormatan terhadap para orang kudus itu (dulia) tidak pernah menyaingi penghormatan kepada Tuhan (latria), namun malah semakin mendukungnya, sebab kita semakin mensyukuri kebaikan dan kasih Tuhan yang telah menciptakan mereka.

      3. Pemberian Kitab Suci, crucifix dan rosario oleh orang tua.

      Hal ini juga merupakan suatu kebiasaan yang baik namun tidak mutlak. Namun jika diadakan, memang nampaknya lebih tepat (lebih sesuai dengan ajaran iman Katolik) kalau yang memberikan Kitab Suci, salib dan rosario ini adalah orang tua. Mengapa? Karena menurut ajaran iman Katolik, yang menjadi pendidik utama dan pertama di dalam keluarga adalah orang tua (lih. Katekismus Gereja Katolik, KGK 1653). Gereja ataupun pastor, guru di sekolah ataupun guru Bina Iman hanyalah membantu peran orang tua, tetapi tidak menggantikan peran mereka. Nah, Kitab Suci, salib dan rosario merupakan simbol iman Katolik, dan jika kedua orang tua pasangan Anda Katolik, maka adalah wajar jika mereka ingin memberikan benda-benda religius itu kepada Anda berdua, sebagai tanda bahwa mereka telah melaksanakan tugas, yang dipercayakan Tuhan kepada mereka, yaitu untuk membesarkan dan mendidik anak mereka secara Katolik, yang kini telah memilih untuk menikah dengan Anda.

      4. Pembukaan cadar pengantin dan first kiss.

      Sejujurnya ini juga tidak merupakan keharusan, tetapi dapat dilakukan. Tetapi tentu saja harap dimaknai sebagai sesuatu yang agung. Dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, Rasul Paulus pernah menuliskan agar mereka saling memberi salam dengan cium kudus (1Kor 16:20). Demikianlah cium kudus dapat diberikan untuk memberi salam kepada saudara seiman. Dalam hal ini menjadi relevan bahwa pasangan suami istri yang telah dipersatukan Tuhan, saling memberikan cium kudus di hadapan Tuhan yang telah mempersatukan mereka melebihi sesama saudara, namun sebagai suami istri yang menggambarkan persatuan antara Kristus dan Gereja.

      5. Berdoa di hadapan patung Bunda Maria.

      Penghormatan kepada Bunda Maria memang juga bukan keharusan dalam sakramen Perkawinan, tetapi kebiasaan ini tentu baik, dan sejujurnya, dari semua hal yang Anda tanyakan, hal ini adalah yang paling umum dilakukan oleh para pengantin yang melangsungkan perkawinannya di Gereja Katolik. Doa di hadapan patung Bunda Maria ini bagi umat Katolik bukan penyembahan berhala (tentang ini, silakan klik), namun merupakan ungkapan permohonan agar Bunda Maria menyertai perkawinan mereka, dan mendoakan mereka kepada Yesus, sebagaimana kehadirannya dalam perkawinan di Kana (lih. Yoh 2:1-11). Oleh permohonan Bunda Maria, Yesus mengubah air menjadi anggur, maka semoga oleh permohonan Bunda Maria, pasangan tersebut dijauhkan dari tawarnya hubungan antara suami istri, dan menjadikan hubungan kasih antara mereka selalu manis, bagaikan anggur yang baik.

      Namun perlu juga diluruskan di sini, bahwa sepanjang pengetahuan saya, sekalipun penghormatan kepada Bunda Maria ini diadakan, maka penghormatan ini dilakukan setelah berkat penutup, jadi artinya memang dilakukan di luar ibadah perayaan Misa Kudus. Dengan demikian, seharusnya, kalau Anda tidak berkeberatan memohon dukungan doa dari Bunda Maria, maka sesungguhnya tidak ada yang menghalangi Anda untuk melakukan hal tersebut, sebab tidak seperti dugaan Anda, penghormatan kepada Bunda Maria itu memang tidak dilakukan di dalam ibadah, tetapi di luar ibadah, yaitu sesudah perayaan Ekaristi selesai.

      6. Siapa yang bertugas/ berhak menyusun teks Misa perayaan perkawinan?

      Idealnya memang teks disusun oleh pasangan yang akan menikah itu sendiri, sehingga pasangan tersebut semakin memahami makna janji perkawinan mereka di hadapan Tuhan. Penyusunan teks (termasuk pemilihan bacaan dan lagu-lagunya) selayaknya adalah yang memang dihayati oleh pasangan dan yang memang layak/sesuai untuk dipilih dalam liturgi tersebut.

      Namun jika hal ini sudah dilakukan atau dibantu oleh pihak calon mertua Anda, janganlah Anda melihatnya sebagai sesuatu yang negatif. Sebab kemungkinan mereka membantu, mengingat Anda bukan Katolik, sehingga mereka berpikir bahwa bantuan mereka dapat berarti bagi kalian, dan agar meringankan beban Anda juga.

      Pihak Gereja Katolik sendiri tidak mengharuskan agar teks Misa yang akan dibacakan itu harus disusun oleh mempelai sendiri. Yang disyaratkan adalah bahwa teks itu sesuai dengan norma-norma liturgi, dan sudah dibicarakan dan disetujui oleh imam yang nantinya akan memberkati perkawinan tersebut. Karena pemberkatan dilakukan secara Katolik, tentu pemaknaan simbol-simbol yang dibicarakan di sini adalah yang sesuai dengan iman Gereja Katolik, sehingga jika salah satu pihak dari calon pengantin tidak Katolik, maka hal perbedaan yang ada perlu dibicarakan terlebih dahulu agar ada saling pengertian dan diperoleh kesepakatan.

      Demikian tanggapan saya, semoga berguna. Di atas semua itu, silakan melakukan dialog dengan keluarga calon pasangan Anda/ calon mertua Anda itu, dengan semangat kasih. Jika kasihlah yang menjadi dasarnya, maka pasti akan ada jalan keluar yang dapat diterima oleh semua pihak. Ingatlah bahwa pihak calon mertua Anda itu akan menjadi orang tua Anda sendiri, yang harus Anda hormati dan kasihi, dan dengan demikian Anda melaksanakan kehendak Tuhan.

      Selamat mempersiapkan perkawinan Anda. Teriring doa dari kami di katolisitas.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  14. Untuk saudara Elton,
    saya sangat salut dengan saudara yang dengan gagah berani mau menampilkan argumentasinya.
    Saya sebagai umat Katolik yang tidak banyak tahu, melalui diskusi dengan Bapak Stef ini sangat berterimakasih juga karena melalui “debat” ini saya menjadi diperkaya.
    Saya tertarik juga dengan “paralelisasi” yang dibuat oleh saudara Elton, antara Yesus di zamannya dan kita (umat katolik) di zaman ini. Namun, yang dikatakan pak Stef mungkin saya pikir lebih benar, karena yang anda lakukan saat ini adalah kritik ajaran, bukan kritik praktis. Seandainya memang anda tujukan sebagai kritik praktis (konkritisasi manusiawi atas ajaran gereja), saya pikir itu oke-oke saja (sejauh bisa dipertanggungjawabkan dengan fakta). Namun soal kritik ajaran, saya belum yakin dengan saudara elton yang baik. Tentu saja saya cukup kagum, bahwa keingintahuan anda mengalir dan mengalir, tapi tentu sebagai kritik ajaran, hal tersebut membutuhkan argumentasi yang lebih memadai dari pada “menurut saya, menurut saya”. Minimal pertanggungjawaban logis, sudah lebih memuaskan daripada “menurut saya”. Dasar epistemologis macam apa yang anda andalkan?

    Untuk Pak Stef,
    saya sangka, ada yang menarik juga di balik argumentasi Sdr.Elton. Saya sempat bertanya2, apa yang memungkinkan sdr. Elton sedemikian berani (sungguh keberaniannya saya acungi jempol) untuk berargumentasi demikian. Apa di balik argumen itu ada suatu luka atas kenyataan praktis kita semua dalam ber-liturgi pada khususnya dan beragama pada umumnya? Apakah argumentasi-argumentasi ala kaum relativist (yang begitu sering saya temukan dalam forum ini dari pelbagai guests) menjadi suatu fenomena makin suburnya relativisme di dalam Gereja kita, yang sungguh concern terhadap hal ini, terutama dalam KV II?

    Banyak hal yang sungguh memperkaya saya dalam forum ini. 2 tahun saya hanya sekadar membaca-baca begitu saja, tapi hari ini saya sungguh tergerak untuk sedikit aktif dalam forum ini.
    Sungguh saya merasa begitu diperkaya dengan forum diskusi katolisitas ini. Saya semakin yakin, Katolisitas.org adalah media yang begitu efektif dalam pewartaan zaman ini, sekaligus mungkin bisa menjadi parameter aktitivitas dan kondisi umat Gereja itu sendiri.
    Dalam doa, semoga anda semua diberkati Tuhan.
    Salam,
    Bambang.

    • Shalom Bambang,

      Terima kasih  atas komentar dan dukungan Anda. Sebenarnya ada cukup banyak orang-orang yang antipati terhadap aturan, institusi, maupun terhadap kebenaran yang bersifat absolut. Sebagian dari mereka melihat bahwa institusi, aturan mengikat kehidupan mereka, tanpa menyadari bahwa kehidupan di dunia ini yang menuntut hidup dalam masyarakat yang majemuk, tidak dapat berjalan tanpa aturan yang jelas. Kalaupun mereka dapat melihat bahwa aturan diperlukan dalam kehidupan, namun kadang mereka tidak mengakui adanya kebenaran absolut dan sebagian dari mereka hidup dalam relativisme, yang tidak mengakui adanya kebenaran absolut. Namun, tanpa disadari, mereka sebenarnya tanpa disadari mempertahankan kebenaran absolut, yaitu percaya bahwa “tidak ada kebenaran absolut”. Jadi, secara tidak langsung mereka juga memaksakan kebenaran absolut – yaitu prinsip relativisme – kepada orang lain. Dan kalau harus memilih kebenaran absolut mana yang harus kita pegang, prinsip relativisme atau kebenaran absolut yang diberikan oleh Kristus lewat Gereja-Nya, kita memilih yang terakhir, karena kebenaran-Nya dijamin oleh Kristus sendiri.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  15. Shalom Katolisitas,

    Liturgi itu menurut saya adalah tatacara ibadat yang dibuat manusia yang membimbing agar kita merasakan hadirat Tuhan dalam perayaan ibadat di Gereja atau di tempat2 lain misalnya ibadat pemberkatan rumah, baptis bayi dll
    Tidak ada masalah bagi saya selama motivasi kita hadir adalah kerinduan untuk berjumpa Yesus scr pribadi, mau berlutut, mau berdiri mau pake bhs latin yng tidak bisa dimengerti, wis lah opo jare pastur wae…kalo ada pelanggaran ntar kaya polisi ada surat tilang….hehehe
    Yang penting di atas semua apakah kita melakukan segala hal dgn kasih atau tidak, Tuhan tidak akan pernah ditipu walau cuma sekedar suara hati….. Oke

    • Shalom Budi Yoga,

      Seperti telah dijabarkan di atas, Liturgi itu bukan hanya sekedar tata cara ibadat, tetapi ibadat-nya itu sendiri, yang dilakukan oleh keseluruhan Kristus– yaitu Kristus sebagai Kepala Tubuh, dan Gereja sebagai anggota-anggota Tubuh Mistik Kristus– kepada Allah Bapa. Dengan pengertian inilah kita memahami bahwa apa yang ada dalam liturgi itu bukan karya manusia semata, tetapi pertama-tama adalah karya Allah, yang olehnya Allah melanjutkan karya keselamatan-Nya di dunia ini.

      Sebagai Gereja, secara prinsip kita menerima liturgi ini sebagai “pemberian” yang diperoleh dari Tradisi Suci para Rasul, dan karena itu tidak pada tempatnya untuk diubah atau disesuaikan dengan selera ataupun kehendak pribadi. Bahwa memang terdapat perkembangan liturgi dalam Gereja, itu secara historis dapat diamati, namun apapun pertumbuhannya tetap mengacu kepada makna awal yang sudah ditetapkan sebelumnya. Dengan demikian kita melestarikan dan menghargai apa yang sudah diajarkan oleh Kristus dan para Rasul, tentang cara yang dikehendaki oleh Tuhan untuk menyembah-Nya dan merayakan karya keselamatan-Nya.

      Sesungguhnya jika kita memahami maksud liturgi ini ini, kita dapat semakin mengalami perjumpaan Yesus secara pribadi, sebab kita sungguh datang kepada-Nya dengan sikap kerendahan hati seperti seorang anak kecil. Walau mungkin tak sepenuhnya kita memahami (karena begitu besar dan dalamnya misteri yang kita rayakan), namun kita membiarkan diri dibimbing oleh Roh Kudus untuk mengikutinya, sebab kita mengimani bahwa cara inilah yang dipilih sendiri oleh Tuhan kita Yesus Kristus untuk menyatakan kepenuhan kasih-Nya kepada kita: menggabungkan kita di dalam persatuan-Nya dengan Allah Bapa oleh kuasa Roh Kudus.

      Maka istilah “pelanggaran” di sini sebenarnya bukan untuk disamakan dengan “surat tilang”, tetapi bahwa apa yang dilakukan tidak sesuai dengan makna tertentu yang ingin disampaikan dalam liturgi. Kami di Katolisitas menggunakan istilah “pelanggaran”, karena memang istilah tersebut (pelanggaran/ penyelewengan) yang digunakan dan tertulis dalam Instruksi Redemptionis Sacramentum tersebut (lih. RS, 173-174, 6,7,9). Mohon diketahui bahwa diadakannya ketentuan liturgi juga maksudnya agar kita dapat semakin beribadat dengan baik dengan dasar pemahaman yang benar, agar kita dapat semakin menghayati kasih Tuhan dan mempersembahkan kasih kita kepada Tuhan.

      Maka benar pernyataan Anda bahwa yang penting adalah melakukan segalanya dengan kasih. Namun tentu, dengan prinsip kasih yang sama itu, kita akan berusaha dengan segenap hati dan kekuatan kita untuk menyembah Tuhan, memperingati dan merayakan kasih-Nya, dengan cara yang sesuai dengan kehendak-Nya, dan bukan hanya melakukan tata cara ibadat yang saya suka, pokoknya asal saya lakukan dengan kasih. Sikap yang terakhir ini perlu kita renungkan, sebab sejujurnya yang menjadi pusat bukan kehendak Tuhan melainkan kehendak sendiri.

      Ya, benar bahwa Tuhan tidak pernah bisa ditipu, dan karena itu marilah kita memohon rahmat-Nya agar kita dimampukan untuk menghayati semakin menghayati misteri kasih-Nya dalam liturgi, supaya kita dapat mengikutinya dengan kasih (bukan sekedar formalitas), sehingga Tuhan dapat melanjutkan karya kasih-Nya itu di dalam hidup kita.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  16. Shalom om Stef n tante Inggrid

    mungkin benar apa yang sudah tertulis diatas terutama mengenai alat musik yang diperbolehkan.tetapi om n tante,bagaimana dengan yang ada di salah satu Gereja Katolik African-American yang webnya berikut dibawah ini bahkan didalam Gerejanya pun ada alat2 yang dilarang tersebut?
    dan saya juga gak tau apa mereka juga mungkin merubah liturgi atau liturgi nya mungkin masih sama sementara alat2 tersebut hanya dimainkan seperlunya saja.tapi,mengingat apa yang sudah om dan tante jelaskan di atas,
    Bagaimana jadinya tuh om dan tante?

    Website:http://www.ourladyofconsolation.org

    Trims n Tuhan Yesus Memberkati
    -Richard

    • Shalom Richard,

      Pertama-tama harus diakui bahwa dalam hal liturgi memang seluruh Gereja bersama-sama bertumbuh untuk semakin menghayatinya, dan ini memang merupakan suatu proses. Penghayatan ini terutama adalah tentang penghayatan makna liturgi, dan dalam hal inilah musik merupakan pendukungnya. Maka penghayatan akan makna liturgi akan mendorong mereka yang terlibat di dalamnya untuk menentukan jenis musik dan alat musik yang akan digunakan di dalam liturgi. Dalam hal ini tak bisa dilepaskan peran keuskupan yang memang juga dapat menyetujui pemakaian alat-alat musik tertentu sesuai dengan keadaan diocesan yang dipimpinnya.

      Dalam link situs gereja yang Anda sertakan itu, tidak terlalu jelas bagi saya, alat musik apa yang ada di sana. Namun jika sampai diperbolehkan alat musik perkusi, itu tidak mengherankan, karena bagi budaya Afrika, alat musik perkusi tidak terpisahkan dari kebudayaan Afrika, yang juga dapat dihubungkan dengan penghargaan religius mereka kepada Tuhan. Maka jika alat musik perkusi ini diperbolehkan dalam gereja African-American ini, tentu maksudnya adalah bahwa Gereja Katolik merangkul apa yang baik di dalam budaya masyarakat setempat, namun mengarahkannya kepada penyembahan tertinggi yang dberikan kepada Tuhan. Ini serupa dengan diperbolehkannya alat musik gamelan di gereja-gereja di daerah Jawa Tengah di tanah air. Dengan diperbolehkannya penggunaan alat- alat musik semacam ini, tidak berarti prinsip utama musik liturgi diabaikan; sebab cara memainkan alat musik tersebut juga tetap berbeda, antara musik liturgis dan non-liturgis. Perbedaan inilah yang harus tetap dijaga, agar musik liturgis tetap mempunyai kekhususannya sendiri, sebagai musik yang memang ditujukan untuk pujian dan penyembahan kepada Tuhan.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

       

  17. budiaryotejo on

    Elton,

    Sedikit untuk Elton, mungkin anda lupa bahwa seluruh sendi kehidupan kita baik yg bersifat jasmani maupun rohani memerlukan kaidah2,aturan. Bahkan metabolistme tubuh kita diatur sesuai dgn kaidah2 chemistry dan juga management baik negara,organisasi ato lembaga.
    Kaedah dan aturan menghasilkan output sesuai dgn tujuan diadakan aturan ato kaedah tersebut dengan syarat aturan/kaedah tersebut diikuti dengan benar. Dan kaedah/aturan/petunjuk tentu ada karena memang dibuat oleh orang2 yang berwenang/pemimpin/sekolompok yg memang memiliki wewenang.
    Demikian juga kaedah/petunjuk keselamatan yang disampaikan Yesus ato kitab suci. Yesus yang adalah Allah punya wewenang dan otoritas untuk menyampekan kaedah/aturan/petunjuk/firman mengenai keselamatan atas umat ciptaannya ( Hukum kasih )saat didunia. Nah persoalannya akan timbul setelah Yesus wafat, oleh karena itu tentulah harus ada penerusnya dan untuk itu Yesus telah melimpahkan wewenang/otoritasnya kepada murid2Nya ( Petrus dan para murid ) untuk meneruskan kaedah/aturan/petunjuk keselamatan itu sendiri didunia ini.
    kaedah/aturan/petunjuk itu sendiri bisa berkembang menjadi sub-sub kaedah/aturan/petunjuk sesuai dengan keadaan dan perkembangan zaman ASALKAN tidak menyimpang dari kaedah/aturan/petunjuk utama.

    Bagaimana munculnya kaedah/aturan/petunjuk ? dari sumber2 mana timbulnya ?
    Dari Allah sendiri (firman,hukum kasih,keselamatan dsb)dan dari sumber tsb dalam perkembangannya menjadi aturan2 dalam berbagai dan segala bidang kehidupan manusia, termasuk dalam tata kehidupan beribadah.

    Pada saat didunia, Allah sendiri ( Yesus ) yang berwenang menyampekan kaedah/aturan/petunjuk melalui firman dan pengajaran kepada para murid.

    Kenapa Yesus didunia ini memerlukan kerjasama dengan manusia (para murid) ? salah satu tujuannya adalah agar kelak para murid dapat meneruskan kaedah2/aturan/petunjuk firman,pengajaran,keselamatan itu sendiri kepada generasi yad. Sampe2 Yesus menyatakan kepada Petrus bhw IA akan mendirikan gerejaNya. Ini adalah pelimpahan WEWENANG DAN TUGAS.

    TRADISI adalah pengajaran ( LISAN ) yang turun temurun dari Yesus kepada murid2 dan penerusnya yang didalamnya terkandung firman,kaedah2/aturan/petunjuk keselamatan itu sendiri.
    Siapakah yang berwenang melaksanakan,mengawasi dan memonitor,menjaga firman,kaedah2/aturan dan petunjuk itu agar dapat disebarkan keseluruh umat tanpa adanya kekeliruan,penyelewengan,pelanggaran yang intinya menyimpang dari firman/kaedah utama ( Hukum/Firman Allah ) ? Tentu para murid dan penerusnya. Nah rupanya perlu management juga yaa…!!!
    Untuk itulah ada MAGISTERIUM.

    Nah kombinasi dari Tradisi + Magisterium ini dalam perkembangan selanjutnya munculah KITAB SUCI (DITULISKAN / Data record ) yang saya dan anda percaya. Tetapi anda harus INGAT bahwa banyak pula ajaran2 baik yang tidak tercantum didalam kitab suci, sebab pasti tidak akan muat…..demikian kata kitab suci itu. Dan tidak bertentangan.

    LITURGI,merupakan kaedah/aturan/petunjuk2 beribadah dengan benar sesuai dengan firman/kaedah/petunjuk utama, yg merupakan turunan/sub dari yang utama yang tidak menyimpang ( bila ada mohon ditunjukan ). Output dari liturgi itu sendiri sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah sendiri.

    Yang menjadi problem adalah bila anda tidak mau mengikuti kaedah2/aturan/petunjuk yang sudah dibuat oleh Yesus, para murid, martir ,penerus Yesus sampe saat ini , anda tidak menghargai mereka semua dan anda rupanya lebih senang menghargai aturan/petunjuk/kaedah anda sendiri yang tentu perlu diuji kebenarannya dan jangan2 terjebak dalam Hedonisme seperti kata ibu Linda Maria.

    Kalo anda menjadi Martin Luther, pasti gerejamu terkoyak dan pecah menjadi 28000 denominasi. Lha punya pendapat sendiri2 dan masing2 membenarkan sendiri2.

    Anda beranggapan bhw aturan/kaedah/petunjuk ( Liturgi ) itu tidak penting, yang penting dihadapan Tuhan apakah yg sudah kamu lakukan untukKu saat ditanya pada pengadilan akhir nanti. Lho man itu kan outputnya.
    Khan kaedah/aturan/petunjuk itu menghasilkan output. Kalo anda mengikuti kaedah/aturan/petunjuk pasti menghasilkan output yang sesuai yg dikehendaki oleh kaedah/aturan/petunjuk itu sendiri.

    Lha sekarang anda mo mengikuti kaedah/aturan/petunjuk yang anda mo buat sendiri….ya bentuklah komunitas sesuai dengan selera anda dalam beribadah, bebas merokok,pake helm,berteriak-teriak, pake celana dalam aja kegereja.

    Kita hidup ini penuh kaedah/aturan dan petunjuk2 demi keselamatan rohani,jasmani,sekurity,etika,bernegara,berbangsa dsb.

    syalom…….

  18. vincensius susilo on

    Terima kasih, setelah membaca beberapa komentar dan jawabannya tentang liturgi dan khususnya sikap tubuh pada saat berdoa Bapa Kami , maka saya sekarang tahu (menyimpulkan) ternyata konsep imam di GK dan di tempat Saudara kita Muslim itu berbeda,Kalau di GK apa yang diperbuat/ dilakukan imam tidak boleh dilakukan oleh umat, tetapi kalo di tempat Saudara kita yang Muslim apa yang dilakukan oleh Imam (yang memimpin ibadat di tempat ibadat/ mesjid) ditirukan oleh umat (jemaatnya) misalnya saat imam berdiri umat berdiri, saat mengatupkan tangan, umat mengatupkan tangan, saat imam menoleh ke kiri umat menoleh ke kiri dll. Mohon dikoreksi kalau kesimpulan saya salah. Terima kasih,Berkat Dalem.
    Vincensius Susilo

    • Shalom Vincensius,
      Dalam liturgi, dalam hal ini liturgi Ekaristi, Imam Gereja Katolik bertindak sebagai Kristus (in persona Christi). Hal ini memang merupakan hal yang khas Gereja Katolik yang tidak ada di dalam agama lain yang non- Katolik. Maka agak sulitlah dibandingkan jika memang kondisinya tidak untuk dibandingkan, yaitu imam di Gereja Katolik dan pemimpin ibadah dalam agama non- Katolik.
      Nah, dalam keadaan “in persona Christi” tersebut, tidak selalu bahwa apa yang dilakukan oleh imam itu otomatis dapat ditiru ataupun dilakukan oleh umat, justru karena dalam Gereja Katolik ada istilah imamat jabatan (yang diberikan para tertahbis) dan imamat bersama (yang diberikan kepada semua umat yang telah dibaptis). Oleh karena itu ada bagian-bagian dari perayaan liturgis yang hanya dapat dilakukan oleh imam yang tidak dapat dilakukan oleh umat, misalnya gestikulasi memberkati, membaca Injil dan memberikan homili, mengucapkan konsekrasi, gestikulasi memimpin ibadah dengan mengangkat tangan/ merentangkan tangan, menumpangkan tangan, dst.
      Namun dalam hal ini, juga tidak benar kalau dikatakan bahwa semua gestikulasi (gesture) yang dilakukan imam tidak boleh dilakukan oleh umat di dalam liturgi. Misalnya, pada saat imam masuk mendekati panti imam, maka imam membungkuk hormat, dan semua umat-pun bersama membungkuk hormat. Imam membuka perayaan Ekaristi dengan membuat tanda salib, maka semua umat membuat tanda salib. Kesatuan sikap doa ini juga ada cukup banyak  dalam perayaan Ekaristi, sebab perayaan Ekaristi merupakan perayaan bersama antara Kristus sebagai Sang Kepala dengan Gereja, sebagai Tubuh Mistik-Nya
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,Ingrid Listiati- katolisitas.org

  19. Dear Katolisitas;

    Setau saya, dalam tradisi perjamuan makan Yahudi, ada DUA macam piala. Piala pertama digunakan oleh masing-masing orang yg ikut perjamuan, jadi jumlahnya banyak, semacam gelas untuk minum dalam perjamuan di zaman sekarang. Sedangkan piala kedua hanya satu, lebih besar dan bagus daripada piala pertama, dikhususkan sebagai piala syukur, dimana di akhir perjamuan tuan rumah / pemimpin perjamuan mengucap syukur atas piala kedua yg berisi anggur yg terbaik, lalu setelah pengucapan syukur piala kedua tsb dia minum lalu diedarkan ke setiap orang yg ikut perjamuan dari tangan ke tangan dan tiap-tiap orang minum dari piala yg satu tsb. Karena piala kedua tsb untuk diminum bersama-sama, maka setiap orang yg ikut perjamuan biasanya bersikap hati-hati saat menerima piala tsb, meminumnya sedikit, kemudian membersihkan dan menjaga kebersihan piala tsb, agar peserta perjamuan berikutnya dapat minum dgn nyaman/bersih. Saya kira, Piala Kedua inilah yg digunakan oleh Kristus untuk kurbanNya. Bukan piala-piala lebih kecil yg dipegang oleh masing-masing Rasul peserta perjamuan. Oleh karena itu ketika Yudas mencelupkan rotinya kedalam cawan tsb sebelum meminumnya, hal itu menjadi tindakan aneh dalam kebiasaan saat itu karena dia mengotori Piala tsb bagi orang yg minum sesudah dia.

    Sekarang dalam Misa pun, Piala yg satu diminum bergantian oleh peserta Misa dan dijaga kebersihannya (diusap kain). Tetapi pertanyaan saya, kenapa sering kali Imam pemimpin Misa, justru mencabik sedikit Hosti besar dan memasukkannya ke dalam Piala Syukur tsb sebelum membagikan Komuni kepada umat..? Bukankah tindakan itu seperti yg dilakukan oleh Yudas? Apalagi kata Yesus, orang yg berbuat demikianlah yg akan mengkhianatiNya ..? Mohon pencerahan, Terima kasih. Semoga Tuhan memberkati kita.

    • Shalom Fxe,

      Menurut penjelasan yang diambil dari A Catholic Commentary on Holy Scripture, Dom Orchard, OSB, untuk ayat Mrk 14: 20, “Ia [Kristus] menjawab: “Orang itu ialah salah seorang dari kamu yang dua belas ini, dia yang mencelupkan roti ke dalam satu pinggan dengan Aku” adalah demikian:

      Ekspresi “ia yang bersama-sama dengan Aku mencelupkan tangannya ke dalam pinggan ini….” mempunyai arti yang sama dengan pernyataan, “ia yang makan bersama-sama dengan Aku.” (lih. ay. 18). Maka perkataan ini tidak menyatakan kepada para Rasul yang lain bahwa Yudas adalah sang pengkhianat, sebab perkataan itu juga dapat mengacu kepada siapapun yang hadir pada saat perjamuan itu. Menurut kebiasaan saat itu, setiap orang [yang mengambil bagian dalam perjamuan itu], dapat melakukan hal tersebut, yaitu dengan mencelupkan rotinya ke dalam pinggan yang sama itu.”

      Dengan demikian, kita tidak dapat secara langsung menghubungkan Yudas dengan perbuatan pencelupan roti itu, sebab Rasul yang lain juga dapat melakukan pencelupan roti ke dalam pinggan yang sama. Maka hal yang terpenting yang membedakan pencelupan roti yang dilakukan oleh para rasul itu dengan pemecahan roti/ pencelupan hosti ke dalam piala yang dilakukan oleh imam di setiap perayaan Ekaristi adalah: para rasul melakukannya sebelum perkataan konsekrasi (jadi anggur dalam pinggan itu tetaplah masih anggur biasa); sedangkan pemecahan roti, dan dimasukkannya sepotong roti/ hosti ke dalam piala, yang dilakukan imam dalam perayaan Ekaristi, dilakukan setelah konsekrasi, sehingga yang anggur di dalam pinggan itu telah diubah menjadi darah Kristus. Dengan demikian, dimasukkannya sepotong hosti (yang sudah diubah menjadi Tubuh Kristus) ke dalam piala anggur (yang telah diubah menjadi Darah Kristus) adalah untuk melambangkan wafat Kristus (korban Tubuh dan Darah-Nya), dan bersatunya kembali Tubuh dan Darah Kristus tersebut di saat kebangkitan-Nya. Kita semua yang mengambil bagian dalam Ekaristi yang satu dan sama itu dipersatukan di dalam satu Tubuh, yaitu Kristus sendiri, Sang Roti Hidup.

      Hal ini sesuai dengan yang disampaikan dalam Instruksi Redemptionis Sacramentum, demikian:

      73. Dalam perayaan Misa Kudus, pemecahan Roti Ekaristi -yang dibuat hanya oleh Imam, namun jika perlu dengan bantuan seorang Diakon atau seorang Imam koselebran- mulai sesudah ucapan Salam Damai, yakni pada waktu Agnus Dei.  Pemecahan roti yang “dilaksanakan oleh Kristus pada kesempatan Perjamuan Malam yang Terakhir, di masa para rasul menjadi sebutan yang dipakai untuk seluruh pelaksanaan Ekaristi. Acara ini menandai bahwa kaum beriman, sekalipun banyak, namun menjadi satu Tubuh dalam persekutuan Roti Kehidupan yang satu itu yang adalah Kristus sendiri yang mati dan bangkit untuk keselamatan dunia.” (bdk. 1Kor 10:17)….” (Redemptionis Sacramentum, 73)

      Semoga ulasan ini menjawab pertanyaan Anda.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

       

      • Terima kasih Katolisitas atas jawaban yg telah diberikan. Sungguh! Katolisitas telah menjadi berkat bagi saya dan banyak umat Katolik. Semoga Katolisitas tetap sabar menerima banyaknya pertanyaan2 yg masuk.

        Bu Ingrid, menurut referensi yg saya baca (maaf saya lupa sumbernya), Piala yg digunakan oleh Tuhan Yesus saat konsekrasi dalam Perjamuan Terakhir adalah SATU Piala. Hal ini sesuai cerita tradisi, setelah tragedi penyaliban Rasul Petrus menyimpan Satu Piala tsb. Kemudian, satu Piala tsb disimpan turun-temurun oleh para pengganti Rasul Petrus. Sekarang Piala tsb disimpan di Katedral Valencia. Dan ada tradisi bila Paus merayakan Ekaristi menggunakan Piala tsb, maka kata-kata “This Most Precious Chalice” ditambahkan dalam Doa Syukur Agung. Jadi karena Piala itu satu, maka sewajarnya (sesuai kebiasaan makan saat itu) dalam perjamuan para murid tidak mengotori Piala dgn mencelupkan roti ke dalamnya. Justru Yudas yg melakukan hal itu, dalam Injil Matius dan Yohanes keanehan Yudas ini lebih kelihatan.

        Apakah memang ada instruksi liturgis yg menyarankan imam stlh Konsekrasi mencabik Hosti lalu melarutkan-Nya kedalam Piala?

        Mengenai penjelasan: “Maka hal yang terpenting yang membedakan pencelupan roti yang dilakukan oleh para rasul itu dengan pemecahan roti/ pencelupan hosti ke dalam piala yang dilakukan oleh imam di setiap perayaan Ekaristi adalah: para rasul melakukannya sebelum perkataan konsekrasi (jadi anggur dalam pinggan itu tetaplah masih anggur biasa); sedangkan pemecahan roti, dan dimasukkannya sepotong roti/ hosti ke dalam piala, yang dilakukan imam dalam perayaan Ekaristi, dilakukan setelah konsekrasi, sehingga yang anggur di dalam pinggan itu telah diubah menjadi darah Kristus.”… mohon penjelasan lebih lanjut, karena yg saya tahu para Murid menerima Roti dan minum dari Piala yg SATU tsb SETELAH Tuhan Yesus mengucapkan konsekrasi “Terimalah, Inilah Tubuh-Ku…” dan “Terimalah dan minumlah. Inilah Darah-Ku”. Dalam film The Passion pun digambarkan begitu.

        Demikian juga bila umat komuni dalam dua rupa, apakah aturannya umat mencelupkan Hosti ke dalam Piala, atau seharusnya umat minum dari Piala tsb?

        Mohon penjelasan ya Bu…, karena saya merasa risih melihat Romo mencabik Hosti dan melarutkan kedalam Piala stlh konsekrasi. Apalagi bila saya komuni dua rupa, waktu saya diminta mencelup Hosti, di dalam Piala ada gumpalan “putih-putih” yg melayang-layang dalam air Anggur (Darah Kristus) yg bening. Terima kasih.

        [Dari Katolisitas: Pertanyaan ini digabungkan karena masih satu topik, dan oleh pengirim yang sama]

        Dear bu Ingrid, Romo Boli dan Ioannes, terima kasih atas semua ulasan yg telah diberikan.

        Jadi, dapatkah kita menyimpulkan bahwa:
        penelitian oleh Scott Hann maupun Dom Orchard OSB berpendapat sama bahwa PIALA yg SATU setelah Konsekrasi tidak di-celupi Roti ?

        Dan, bagaimana men-sinkronkan penelitian tsb dgn cerita tradisi (huruf “t” kecil) yang mengumpulkan beberapa potongan Hosti besar dari beberapa stasi ke dalam Piala yg digunakan oleh Paus..? Bila Piala di Katedral Valencia benar otentik (bukti2 sejarah dan science cukup mendukung), tampaknya Piala tsb ukurannya tidak terlalu besar (dia= 9cm tinggi= +/-9cm, dgn kaki tinggi= 17cm, sumber: Wikipedia) untuk menampung banyak potongan Hosti.

        Apakah sebaiknya kebiasaan pencampuran secuil Hosti besar kedalam Piala setelah Konsekrasi ini ditiadakan.., kecuali bila ada makna khusus yg penting untuk dilestarikan?

        Terima kasih.

        • Shalom Fxe,

          Sebenarnya, terdapat beberapa hipotesa/ teori tentang piala yang digunakan dalam Perjamuan Terakhir itu. Tetapi sebagaimana yang telah saya sampaikan di jawaban ini, silakan klik, sebaiknya bermacam teori tersebut kita pandang sebagai beberapa kemungkinan. Namun demikian, hal itu tidak dapat kita mutlakkan bahwa pasti terjadinya demikian, sebab di dalam Kitab Suci sendiri tidak dijelaskan secara rinci. Maka hal cara perjamuan itu berlangsung, ada berapa piala yang digunakan, apakah urutannya secara mendetail, janganlah kita pandang sebagai suatu yang terpenting atau setara pentingnya dengan makna yang terutama dari Perjamuan Terakhir tersebut: yaitu bahwa Kristus menginstitusikan Ekaristi, dengan mengubah roti dan anggur itu menjadi Tubuh dan Darah-Nya, sebagaimana tergenapi dengan sempurna dalam kurban salib-Nya.

          Dengan demikian Anda tidak akan merasa terganggu dengan peristiwa pemecahan sedikit hosti yang kemudian dimasukkan ke dalam piala anggur tersebut, sebab sungguh hal itu tidak ada kaitannya dengan Yudas (ataupun rasul lainnya) yang mungkin mencelupkan roti mereka ke dalam piala yang digunakan oleh Yesus. Apa yang digambarkan oleh film the Passion tak terlepas dari imajinasi Mel Gibson sebagai sutradara, namun sekali lagi semua itu sebaiknya diterima sebagai kemungkinan, namun bukan sesuatu yang mutlak. Sebab jika praktek liturgis Gereja memasukkan pecahan roti yang sudah dikonsekrasikan itu ke dalam piala anggur yang sudah dikonsekrasikan, itu mengacu kepada arti bersatunya kembali Tubuh dan Darah-Nya dalam Tubuh kebangkitan-Nya yang mulia.

          Hal ini jelas disebutkan dalam PUMR/ General Instruction of the Roman Missal:

          “The Fraction

          83. The priest breaks the Eucharistic Bread, assisted, if the case calls for it, by the deacon or a concelebrant. Christ’s gesture of breaking bread at the Last Supper, which gave the entire Eucharistic Action its name in apostolic times, signifies that the many faithful are made one body (1 Cor 10:17) by receiving Communion from the one Bread of Life which is Christ, who died and rose for the salvation of the world. The fraction or breaking of bread is begun after the sign of peace and is carried out with proper reverence, though it should not be unnecessarily prolonged, nor should it be accorded undue importance. This rite is reserved to the priest and the deacon.

          The priest breaks the Bread and puts a piece of the host into the chalice to signify the unity of the Body and Blood of the Lord in the work of salvation, namely, of the living and glorious Body of Jesus Christ. The supplication Agnus Dei, is, as a rule, sung by the choir or cantor with the congregation responding; or it is, at least, recited aloud. This invocation accompanies the fraction and, for this reason, may be repeated as many times as necessary until the rite has reached its conclusion, the last time ending with the words dona nobis pacem (grant us peace).”

          Terjemahan yang dicetak tebal:

          “Imam memecahkan Hosti itu dan meletakkan pecahan Hosti itu ke dalam piala untuk menandai kesatuan Tubuh dan Darah Tuhan di dalam karya keselamatan, yaitu [kesatuan] dari Tubuh Yesus Kristus yang hidup dan mulia.”

          Sedangkan untuk ketentuan penerimaan Komuni dua rupa (menurut PUMR dan Redemptionis Sacramentum) sudah pernah dituliskan di sini, silakan klik.

          Selanjutnya untuk pertanyaan Anda bahwa apakah menurut teori Scott Hahn dan Dom Orchard, maka piala setelah konsekrasi tidak dicelupi dengan roti para rasul, itu memang benar. Namun teori ini tidak menyatakan apapun tentang pencampuran pecahan Roti [yang sudah dikonsekrasikan- sehingga telah berubah menjadi Tubuh Tuhan Yesus sendiri] ke dalam anggur yang telah dikonsekrasikan menjadi Darah Kristus. Dengan demikian, teori mereka tidak mempunyai pengaruh apapun terhadap tradisi Gereja yang mencampurkan pecahan hosti ke dalam anggur yang keduanya sudah dikonsekrasikan itu.

          Mungkin ada baiknya kita membaca terjemahan kutipan dari buku karangan Rev. Bernard C Loeher, Following Christ through the Mass, demikian:

          “31. Pecahan Hosti ditempatkan di dalam Piala.

          Kita telah melihat bahwa kematian Yesus Kristus digambarkan dengan pemisahan secara simbolis antara Tubuh dan Darah-Nya. Oleh karena alasan ini, kebangkitan-Nya yang mulia dari kematian tidak dapat digambarkan dengan lebih sempurna kecuali dengan menempatkan pecahan Hosti itu ke dalam piala tersebut, maka menunjukkan kesatuan kembali Tubuh dan Darah-Nya…..

          Tanda salib yang dibuat sebanyak tiga kali di atas piala menggambarkan tiga hari Tubuh Kristus terbaring di dalam kubur. Penempatan pecahan Hosti ke dalam piala, atau kesatuan kembali Tubuh dan Darah tersebut, melambangkan kebangkitan Kristus dari kematian….” (Rev. Bernard C Loeher, Following Christ through the Mass, (Detroit, Michigan USA: Sacred Heart Seminary), 1934, p. 73)

          Demikian, semoga tulisan di atas berguna bagi Anda, dan tidak lagi membuat Anda bertanya-tanya, mengapa Gereja mempunyai tradisi memasukkan pecahan hosti ke dalam piala setelah keduanya dikonsekrasikan. Mengingat artinya yang sangat penting, yaitu sebagai simbol kebangkitan Yesus, maka tradisi ini nampaknya tidak mungkin dihapuskan dari tata perayaan Ekaristi.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Salam Fxe,

        Memecahkan hosti besar dan memasukkan satu pecahan kecil ke dalam piala pada saat Anak Domba Allah sebelum komuni, artinya amat berbeda dari tindakan Yudas. Tidak mungkin gereja melaksanakan hal ini ratusan tahun sebagai tanda pengkhianatan. Gereja justru mempertahankan pencampuran itu dengan arti dan latar belakang yang amat positif.

        Latarbelakangnya adalah perayaan kepausan di kota Roma pada abad-abad pertama ketika kota Roma mempunyai tujuh stasi tempat Paus merayakan Ekaristi secara bergilir. Bila Paus merayakan Ekaristi di salah satu stasi, maka di 6 stasi lain Ekaristi dipimpin oleh pastor kepala stasi bersangkutan, dan pada saat pemecahan roti, sebagian dari pecahan itu diserahkan imam kepala yang memimpin Ekaristi itu kepada seorang akolit yang segera pergi ke stasi tempat Paus sedang merayakan Ekaristi dan memberikan pecahan itu kepada Paus yang menerimanya dan memasukkannya dalam piala berisi anggur kudus sebagai tanda persatuan umat di stasi lain dengan Paus dan umat di stasi tempat Paus merayakan Ekaristi.

        Pencampuran itu masih terus dilaksanakan hingga sekarang dalam perayaan Ekaristi yang sama, dengan arti persatuan persaudaraan dalam Yesus.

        Tks dan doa. Gbu.
        Rm Boli.

    • Salam,

      Sedikit sharing dari yang pernah saya baca dari buku Scott Hahn : Catholic for Reason III mengenai tradisi seder Paskah Yahudi. Ini apa yang saya pahami secara dangkal mengenai tradisi tersebut. Mohon perbaiki apabila saya salah menangkap atau informasi ini tersebut salah :

      Seder Paskah dilakukan dengan 4 tahap cawan. Cawan pertama adalah cawan Qiddush yang diminum setelah makan roti tak beragi dengan mencelupkannya ke dalam sejenis saus dan dimakan dengan sayuran pahit. Mungkin di tahap inilah Yesus dan para murid mencelupkan roti dalam pinggan.

      Cawan kedua adalah cawan Haggadah. Cawan ini diminum setelah menceritakan kembali peristiwa eksodus bangsa Israel dari Mesir.

      Cawan ketiga adalah cawan Berakah. Cawan ini diminum dari satu cawan setelah makan daging anak domba yang dipanggang bersama roti tak beragi. Mungkin di tahap ini Yesus memberikan tubuhNya alih-alih daging anak domba.

      Cawan keempat adalah cawan Halles. Cawan ini diminum setelah pendarasan mazmur Halel yang diambil dari beberapa bab Mazmur (kalau tidak salah 113-118) yang digunakan untuk memuji Allah atas karyaNya pada Israel. Dari kata Halel Yah (Puji Tuhan) ini berkembang menjadi Haleluya/Aleluia.

      Mohon koreksi apabila saya salah menangkap atau menjelaskan. Terima kasih.

      Pacem,
      Ioannes

      • Shalom Ioannes,

        Hal adanya empat cawan dalam tradisi perayaan Paskah Yahudi merupakan salah satu hipotesa para ahli Kitab Suci yang mempelajari kebiasaan Yahudi. Namun sesungguhnya hal ini bukan merupakan suatu konsensus yang disetujui oleh semua ahli Kitab Suci. Kalau membaca dari pandangan Scott Hahn dalam buku itu, urutan umum yang dilakukan bangsa Yahudi dalam memperingati Paskah Yahudi adalah (lih. Scott Hahn, Catholic for a Reason III: Scripture and the Mystery of the Mass, Emmaus Road Publishing (p. 23, 24). Emmaus Road Publishing. Kindle Edition):

        1) Cawan pertama Quiddus isinya adalah anggur, yang sesudah itu diikuti dengan menu tumbuh-tumbuhan hijau, sayuran pahit dan haroset, yaitu saus campuran antara buah, kacang-kacangan yang digerus dengan cuka dan kayu manis.

        2) Lalu dibacakan kitab Mazmur 113 atau 114, kemudian diminum cawan anggur kedua Haggadah.

        3) Dimulailah makanan yang sesungguhnya yaitu daging anak domba, roti tak beragi, sayuran pahit, dan kemudian cawan ketiga diedarkan, Berakah.

        4) Dinyanyikan Mazmur penutup Hallel, dan pengucapan syukur atas cawan terakhir, Hallel.

        Scott Hahn kemudian mengungkapkan bahwa memang di Injil tidak disebutkan ke-empat tahapan ini, namun langsung pada tahapan yang ketiga. Hahn menyebutkan, yang menarik di sini, keempat Injil tidak menyebutkan tentang adanya daging anak domba yang dimakan. Maka ini mengisyaratkan maksud Yesus untuk menggantikan daging anak domba Paska, dengan diri-Nya sendiri (lih. ibid. p. 25-26), sebagaimana sungguh tergenapi keesokan harinya, saat Ia menjadi kurban penebus dosa di kayu salib. Sebagai kurban, Kristus yang memenuhi persyaratan sebagai kurban Paska, yaitu kurban Anak Domba yang tidak dipatahkan tulang-Nya (lih. Kel 12:46; Yoh 16:36).

        Nah, namun teori empat macam cawan ini adalah salah satu kemungkinan. Kita tidak mengetahui secara persis apakah memang terjadinya demikian, sebab di Injil tidak disebutkan secara persis urutannya secara mendetail seperti ini. Ada juga suatu teori yang lain bahwa yang dipergunakan adalah satu cawan besar (yang digunakan oleh Yesus) dan yang lainnya adalah beberapa cawan kecil yang dipergunakan oleh para Rasul untuk minum (seperti yang ditulis di situs ini, silakan klik).

        Demikian juga, tidak cukup dijelaskan di dalam Injil, tentang hal para Rasul (termasuk Yudas) mencelupkan roti ke dalam cawan anggur, sebelum Yesus mengucap syukur dan mengubah roti itu menjadi Tubuh-Nya dan anggur itu menjadi Darah-Nya. Namun secara implisit hal ini mungkin terjadi, sebab dikatakan bahwa perkataan konsekrasi tersebut diucapkan di tengah-tengah saat Yesus dan para murid-Nya sedang makan.

        “Dan ketika mereka sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya, lalu memberikannya kepada murid-murid-Nya dan berkata: Ambillah dan makanlah, inilah tubuh-Ku …..” (Mat 26:26)

        “Dan ketika Yesus dan murid-murid-Nya sedang makan, Yesus mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada mereka dan berkata: “Ambillah, inilah tubuh-Ku ….” (Mrk 14:22)

        “Ketika tiba saatnya, Yesus duduk makan bersama-sama dengan rasul-rasul-Nya. Kata-Nya kepada mereka: “Aku sangat rindu makan Paskah ini bersama-sama dengan kamu,…” (Luk 22:14)

        Maka jika kita membaca beberapa teori-teori seperti ini, sikap yang terbaik adalah bahwa kita menerimanya sebagai suatu kemungkinan. Yang terutama adalah kita menangkap maksud yang terpenting, yaitu bahwa ketika Yesus sedang makan dengan para rasul-Nya, Ia mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikannya kepada mereka dan berkata, “Inilah Tubuh-Ku…..” dan demikian juga sesudah itu Ia mengambil piala dan berkata, “Inilah darah-Ku….” Dan kemudian para murid mengambil bagian dari Roti yang satu itu, dan minum dari piala yang satu itu (yang telah diubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus), sebab maksud utama dari makan dan minum tersebut adalah persekutuan dengan Tubuh dan Darah Kristus (lih. 1 Kor 10:16).

        Jadi hal seputar perjamuan itu, walaupun penting, namun tidaklah sepenting makna Perjamuan Tubuh dan Darah Kristus itu sendiri. Tentang tahapan perjamuan, atau kapankah tepatnya Yudas (atau para rasul lainnya sebelumnya) mencelupkan roti ke dalam pinggan, atau apakah Yesus yang kemudian secara khusus memberikan kepada Yudas, sepotong roti yang sebelumnya dicelupkan-Nya ke dalam pinggan (Yoh 13:26), janganlah sampai mengalihkan perhatian kita terhadap makna Perjamuan Ekaristi yang diinstitusikan oleh Tuhan Yesus pada saat itu.

        Tambahan keterangan dari A Catholic Commentary on Holy Scripture, ed. Dom Orchard, OSB, tentang ayat Yoh 13:26:

        ay. 26 “Tanda tersebut, sepotong roti yang dicelupkan, menunjukkan bahwa perjamuan malam itu belum selesai, indikasi bahwa Ekaristi belum diinstitusikan. Potongan roti itu bukan Ekaristi, dan mungkin adalah sepotong roti tak beragi, yang dicelupkan dalam saus yang disebut charoseth. Tanda ini, yang arti pentingnya hanya diberitahukan kepada Rasul Yohanes, adalah merupakan tanda persahabatan terhadap Yudas, tetapi yang pada akhirnya malah mengeraskan hatinya….”

        Demikianlah, jika menggabungkan teori Scott Hahn, dan Dom Orchard, maka kemungkinan pandangan Anda benar, bahwa pencelupan roti yang diberikan kepada Yudas itu terjadi pada cawan pertama/ Quiddus itu. Interpretasi ini juga secara implisit sejalan dengan narasi yang ditulis dalam Injil Matius, yang menyebutkan hal pencelupan roti itu sebelum perkataan konsekrasi.

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        Ingrid Listiati- katolisitas.org

        • Salam,

          Betul, saya juga baru menemukan ada banyak perkiraan selain teori empat cawan tersebut. Terima kasih atas informasinya. Semoga kita senantiasa menghayati Ekaristi sebagai pemberianNya yang luar biasa.

          Pacem,
          Ioannes