Tuhan menciptakan segala sesuatu karena kasih dan dari sesuatu yang tidak ada. Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan untuk bersatu dengan-Nya, untuk berpartisipasi dalam kasih ilahi-Nya.
Setelah kita membahas tentang Pencipta di beberapa pertemuan sebelumnya, baik dari hakekat-Nya, kehidupan di dalam Diri-Nya, dan bagaimana Ia mewahyukan diri-Nya kepada kita, maka sekarang kita akan membahas tentang ciptaan, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Penciptaan adalah awal dari sejarah keselamatan Allah, yang mencapai puncaknya di dalam Kristus. Kristus sendiri menyingkapkan tujuan awal dari penciptaan dan bagaimana Kristus menata kembali seluruh karya ciptaan, agar dapat kembali seperti yang direncanakan oleh Allah, sehingga akhirnya Kristus akan “menjadi semua di dalam semua” (1Kor 15:28).
Dengan mengenal penciptaan, maka kita akan dapat menjawab pertanyan-pertanyaan tentang mengapa kita diciptakan, tujuan dari keberadaan kita, dari mana kita berasal, hubungan manusia dengan ciptaan yang lain. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut menentukan bagaimana kita hidup, cara kita menjalankan hidup, sehingga menentukan apakah kita akan sampai ke tempat tujuan akhir atau tidak (lih. KGK, 282).
“Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi”, artinya adalah: 1) Allah yang kekal memberi awal mula pada segala sesuatu; 2) Tuhan sendiri adalah Sang Pencipta; 3) semua ciptaan tergantung pada Allah yang menciptakannya. (lih KGK 290)
Kitab Suci mengajarkan kepada kita bahwa Tuhan menciptakan semuanya oleh Firman-Nya (lih. Yoh 1:1-3), yaitu Putera-Nya (Kol 1:16-17). Gereja juga mengakui bahwa penciptaan juga adalah karya Roh Kudus, “pemberi kehidupan” (lih. KGK 291).
Kitab Suci menyatakan bahwa karya penciptaan Allah Putera dan Roh Kudus tidak terpisahkan dari karya Bapa… Penciptaan adalah karya bersama Allah Trinitas (lih. KGK 292)
Tuhan adalah sempurna dan bahagia secara absolut, yang berarti Dia tidak membutuhkan apapun dan siapapun untuk membuat-Nya bahagia. Inilah sebabnya, tiga Pribadi dalam satu hakekat menjadi sungguh fitting, karena kebahagiaan hanya mungkin kalau seseorang mengasihi atau memberikan dirinya. Karena Tuhan berbahagia di dalam diri-Nya, maka sebenarnya Tuhan tidak pernah kesepian tanpa adanya ciptaan, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Dengan demikian, penciptaan adalah karya dari Tritunggal Maha Kudus (lih. KGK, 290-292), yang dilakukan secara bebas tanpa paksaan dan di dalam kebijaksaan-Nya, Tuhan memandang baik.
Kalau memang Tuhan tidak memerlukan makhluk ciptaan, mengapa Tuhan menciptakan langit dan bumi, menciptakan segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan? St. Thomas Aquinas memberikan prinsip “Bonum Diffusivum Sui” atau the good is diffusive in itself atau kebaikan adalah menyebar. Kalau Tuhan adalah kasih dan kebaikan itu sendiri, maka menjadi kodrat dari kebaikan dan kasih untuk semakin dibagikan. Kebaikan Tuhan terjadi secara sempurna, kekal di dalam kehidupan interior Tritunggal Maha Kudus. Secara terbatas, kebaikan ini diwujudkan dalam ciptaan atau kebaikan yang dinyatakan di luar diri Tuhan. Kebaikan Tuhan dinyatakan dengan menciptakan makhluk, baik yang paling rendah sampai yang paling tinggi, yaitu dari benda ciptaan, makhluk hidup yang tidak berakal budi – seperti tumbuhan dan binatang, makhuk hidup yang berakal budi – seperti manusia sampai malaikat.
Kita melihat Tuhan ingin menyampaikan kebaikannya kepada makhluk ciptaan dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi. Dengan kata lain, Tuhan membagikan kebaikannya kepada mahluk-makhluk ciptaan yang mempunyai tingkatan yang berbeda-beda. Tingkatan ini tidak hanya dalam perbedaan spesies atau kelompok, namun juga terdapat tingkatan dalam satu kelompok. Tingkatan ini dilihat dari kodrat kelompok tersebut dalam kaitannya dengan tujuan akhir. Sebagai contoh, ada tingkatan di dalam manusia, sehingga di dalam Sorga, manusia juga akan menempati tingkatan yang berbeda-beda. Tingkatan ini juga terjadi di dalam kelompok malaikat.
Katekismus Gereja Katolik, 293-294 menuliskan hal ini dengan begitu indahnya.
KGK, 293. Kitab Suci dan tradisi selalu mengajar dan memuji kebenaran pokok: “Dunia diciptakan demi kemuliaan Allah” (Konsili Vatikan I: DS 3025). Sebagaimana santo Bonaventura jelaskan, Tuhan menciptakan segala sesuatu “bukan untuk menambah kemuliaan-Nya melainkan untuk mewartakan dan menyampaikan kemuliaan-Nya” (sent. 2,1,2,2, 1). Tuhan tidak mempunyai alasan lain untuk mencipta selain cinta-Nya dan kebaikan-Nya: “Makhluk ciptaan keluar dari tangan Allah yang dibuka dengan kunci cinta” (Tomas Aqu. sent.2, prol.). Dan Konsili Vatikan I menjelaskan:
“Satu-satunya Allah yang benar ini telah mencipta dalam kebaikan-Nya dan ‘kekuatan-Nya yang maha kuasa’ – bukan untuk menambah kebahagiaan-Nya, juga bukan untuk mendapatkan [kesempurnaan], melainkan untuk mewahyukan kesempurnaan-Nya melalui segala sesuatu yang Ia berikan kepada makhluk ciptaan – karena keputusan yang sepenuhnya bebas, menciptakan sejak awal waktu dari ketidak-adaan sekaligus kedua ciptaan, yang rohani dan yang jasmani” (DS 3002).
KGK, 294. Adalah kemuliaan Allah bahwa kebaikan-Nya menunjukkan diri dan menyampaikan diri. Untuk itulah dunia ini diciptakan. “Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia” (Ef 1:5-6). “Karena kemuliaan Allah adalah manusia yang hidup; tetapi kehidupan manusia adalah memandang Allah. Apabila wahyu Allah melalui ciptaan sudah sanggup memberi kehidupan kepada semua orang yang hidup di bumi, betapa lebih lagi pernyataan Bapa melalui Sabda harus memberikan kehidupan kepada mereka yang memandang Allah” (Ireneus, haer. 4,20,7). Tujuan akhir ciptaan ialah bahwa Allah “Pencipta akhirnya menjadi ‘semua di dalam semua’ (1 Kor 15:28) dengan mengerjakan kemuliaan-Nya dan sekaligus kebahagiaan kita” (Ad Gentes, 2).
Dari teks KGK di atas, maka kita dapat menyimpulkan bahwa Tuhan menciptakan seluruh ciptaan untuk menyatakan kemuliaan-Nya, sehingga akhirnya seluruh ciptaan yang berakal budi dapat menikmati kebahagiaan bersama-Nya, Sang Tritunggal Maha Kudus.
Pada awal mula sebelum ada segala sesuatu, hanya ada Tuhan. Waktu dimulai dengan adanya bumi dan tata surya, sehingga sebelum penciptaan bumi dan tata surya, belum ada waktu. Kitab Kejadian mengatakan bahwa pada mulanya Tuhan menciptakan langit dan bumi (Kej 1:1). Langit di sini adalah tempat kediaman para malaikat dan para kudus-Nya, sehingga perkataan, “Tuhan menciptakan langit,” dimaksudkan agar manusia ingat akan tujuan akhirnya. Dunia spiritual terdiri dari para malaikat dan surga di mana mereka tinggal. Sedangkan dunia material disebut bumi, sebab bumi adalah bagian yang terpenting dari dunia material.
Tuhan mencipta elemen-elemen material, yang olehnya dunia dibentuk (lih. Kej 1:1-2).
Hari pertama, Ia menciptakan terang; hari kedua, cakrawala; hari ketiga, daratan dan tumbuh-tumbuhan; hari keempat, matahari, bulan dan bintang-bintang; hari kelima, segala ikan dan burung-burung di udara; hari ke-enam, binatang dan akhirnya, manusia. (lih. Kej 1,2)
Hari Sabat, hari ketujuh, merupakan akhir pekerjaan Allah. Tuhan beristirahat pada hari ini, memberkati dan menguduskannya (lih. Kej 1:31). Maka Penciptaan diadakan dengan pandangan ke hari Sabat, yaitu kepada pujian dan penyembahan kepada Tuhan (lih. KGK 345-348). Namun bagi kita, hari yang baru telah datang: hari yang kedelapan, yaitu hari Kebangkitan Kristus. Hari ketujuh menyelesaikan Penciptaan yang pertama; hari kedelapan memulai Penciptaan yang baru. Penciptaan yang pertama memperoleh maknanya dan puncaknya di dalam Penciptaan yang baru di dalam Kristus (lih. KGK 349).
Tuhan bersabda, maka semuanya terjadi. Ia tidak perlu berbicara, sebab yang diperlukan adalah Ia menginginkannya, dan apa yang dikehendakinya terjadi. Pada mulanya adalah Firman. Firman itu bersama- sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah… Segala sesuatu dijadikan oleh Dia [Firman]…. (Yoh 1:1-3). Allah, “..menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada.” (Rom 4:17)
Segala alam raya dan yang hidup di dalamnya bukan terjadi secara kebetulan atau takdir yang buta, melainkan diciptakan berdasarkan kebijaksanaan Tuhan (lih. KGK 295, Keb 9:9, Mzm 104:24). Tuhan yang mencipta seturut kehendak bebas-Nya, ingin agar ciptaan-Nya mengambil bagian di dalam keberadaan-Nya, kebijaksanaan-Nya dan kebaikan-Nya (lih. Why 4:11). “Tuhan itu baik kepada semua orang, penuh belas kasihan kepada segala yang dijadikan-Nya” (Mzm 145:9). Tuhan mencipta, sebab Ia menghendaki agar ciptaan-Nya berbahagia!
Makhluk ciptaan hanya dapat menciptakan sesuatu dari sesuatu yang sudah ada. Namun, Tuhan yang maha kuasa dapat menciptakan dari sesuatu yang tidak ada. Ia tidak membutuhkan sesuatu yang sudah ada ataupun bantuan apapun agar dapat mencipta. Juga ciptaan bukan semacam pancaran yang terjadi dengan sendirinya dari hakekat Allah (lih. KGK 296).
Kitab Suci mencatat hal tentang penciptaan dari ketidak-adaan ini dalam kitab ke-dua dari Makabe: “Aku tidak tahu bagaimana kamu muncul dalam kandunganku. Bukan akulah yang memberi kepadamu napas dan hidup atau menyusun bagian-bagian pada badanmu masing-masing. Melainkan Pencipta alam semestalah yang membentuk kelahiran manusia dan merencanakan kejadian segala sesuatunya. Tuhan akan memberikan kembali roh hidup kepadamu, justru oleh karena kamu kini memandang dirimu bukan apa-apa demi hukum-hukum-Nya… Aku mendesak, ya anakku, lihatlah ke langit dan ke bumi dan kepada segala sesuatu yang kelihatan di dalamnya. Ketahuilah bahwa Allah tidak menjadikan kesemuanya itu dari barang yang sudah ada. Demikianlah bangsa manusia dijadikan juga…” (2 Mak 7:22-23,28).
Karena Tuhan dapat menciptakan segalanya dari ketidak-adaan, maka Ia dapat juga, melalui Roh Kudus, memberikan kehidupan rohani kepada para pendosa dan menciptakan hati yang murni di dalam diri mereka; dan memberikan kehidupan jasmani kepada orang- orang yang telah wafat melalui Kebangkitan badan. Allah, “menghidupkan orang mati dan menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada.” (Rom 4:17). Dan karena Tuhan dapat membuat terang bersinar dalam kegelapan dengan Firman-Nya, maka Ia juga dapat memberikan terang iman kepada mereka yang belum mengenal Dia.” (Kej 1:3; 2 Kor 4:6, KGK 298)
“Akan tetapi segala-galanya telah Kauatur menurut ukuran, jumlah dan timbangan (Keb 11:20). Alam semesta diciptakan Allah untuk manusia, yang dipanggil untuk mempunyai hubungan yang pribadi dengan Tuhan (lih. KGK 299). Karena ciptaan dihasilkan dari kebaikan Allah maka ciptaan mengambil bagian dalam kebaikan Allah (lih. Kej 1:4,10, 12,18,21,31). Allah menghendaki ciptaan sebagai hadiah bagi manusia, sebagai warisan yang dipercayakan kepadanya.
Allah tidak meninggalkan ciptaan-Nya sendirian, namun memelihara dan menopang keberadaannya, membuatnya mampu bertindak dan membawanya kepada tujuan akhirnya. “Sebab Engkau mengasihi segala yang ada, dan Engkau tidak benci kepada barang apapun yang telah Kaubuat. Sebab andaikata sesuatu Kaubenci, niscaya tidak Kauciptakan. Bagaimana sesuatu dapat bertahan, jika tidak Kaukehendaki, atau bagaimana dapat tetap terpelihara, kalau tidak Kaupanggil? Engkau menyayangkan segala-galanya sebab itu milik-Mu adanya, ya Penguasa penyayang hidup!” (Keb 11:24-26)
Walau ciptaan diciptakan baik adanya, namun pada saat yang sama seluruh ciptaan diciptakan dalam keadaan “dalam perjalanan” menuju kesempurnaan akhir sebagaimana dikehendaki Tuhan (lih. KGK 302). Tuhan memelihara semua ciptaan-Nya. Yesus mengajarkan tentang penyelenggaraan Tuhan, demikian, “Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? ….Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Mat 6:31-33; lih. 10:29-31)
Tuhan tidak saja menciptakan, tetapi memberikan kesempatan untuk bekerjasama dengan-Nya mewujudkan rencana-Nya (lih. KGK 306). Kepada manusia diberikan kuasa untuk memenuhi dan menaklukkan bumi (lih Kej 1:26-28); mengambil bagian dalam karya penciptaan, dan mengusahakan keseimbangannya demi kebaikannya dan kebaikan sesama. Manusia diundang untuk mengambil bagian dalam rencana Allah, melalui perbuatannya, doa- doanya maupun penderitaannya, dan dengan demikian menjadi “kawan sekerja Allah” (1 Kor 3:9, 1 Tes 3:2; Kol 4:11).
Tuhan berkarya di dalam diri ciptaan-Nya, Ia menjadi Penyebab utama yang bekerja melalui manusia, “Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” (lih. Flp 2:13, 1Kor 12:6). Namun demikian, tanpa bantuan rahmat Allah, manusia tidak dapat sampai kepada tujuan akhirnya (lih. KGK 308)
Tidak ada jawaban yang cepat yang memuaskan atas pertanyaan, mengapa jika Tuhan Maha Besar, peduli dan memelihara ciptaan-Nya, tetapi ada kejahatan di dunia? Sebab segala hal pesan iman Kristiani (ajaran tentang penciptaan dan kejatuhan manusia ke dalam dosa, kasih Allah, penjelmaan Kristus, pengutusan Roh Kudus, Gereja, kuasa sakramen, panggilan untuk hidup kudus) adalah sebagian dari jawaban untuk pertanyaan ini (lih.KGK 309).
Tuhan mengizinkan adanya kejahatan, sebab dalam kebijaksanaan-Nya, Tuhan menjadikan keseluruhan ciptaan di dalam tahap perjalanan menuju kesempurnaan akhir (lih. KGK 310).
Malaikat dan manusia harus menempuh perjalanan menuju tujuan akhir mereka melalui pilihan mereka sendiri, sehingga karena kebebasan ini, mereka dapat menyimpang. Maka, kejahatan moral lebih parah dari kejahatan fisik. Tetapi Tuhan tidak pernah baik secara langsung maupun tidak langsung menjadi penyebab kejahatan moral (KHK 311). Sebaliknya, dalam kemahakuasaan-Nya Allah dapat mendatangkan kebaikan dari sesuatu yang buruk (lih. Rom 8:28), seperti dalam kasus Yusuf yang dibuang oleh saudara-saudaranya (lih. KGK 312,313).
Akhirnya kita percaya akan Tuhan yang mengatasi dunia dan sejarah. Walau penyelenggaraan-Nya sering tak dapat kita pahami, tetapi pada akhirnya ketika kita memandang Tuhan muka dengan muka, kita akan mengetahui dengan sempurna bagaimana bahkan jalan- jalan kejahatan dan dosa, telah mengarahkan ciptaan-Nya kepada perhentian terakhir, seperti rencana-Nya.
Tuhan adalah Pencipta langit dan bumi, segala yang kelihatan dan tak kelihatan (lih. KGK 325). Langit dan bumi di sini adalah segala ciptaan secara keseluruhan. Bumi adalah dunia manusia, sedangkan langit mengacu kepada cakrawala dan surga tempat Tuhan sendiri. Langit juga mengacu kepada para orang kudus, tempat bagi para mahluk rohani, para malaikat yang mengelilingi Tuhan (lih. KGK 326).
Para malaikat adalah para pelayan dan pembawa pesan Tuhan (KGK 329). Mereka adalah mahluk rohani murni (yang tidak mempunyai tubuh), yang ber- akal budi dan berkehendak bebas (lih KGK 330). Para malaikat “selalu memandang wajah Tuhan” (lih. Mat 18:10); mereka adalah “pahlawan-pahlawan perkasa yang melaksanakan firman-Nya dengan mendengarkan suara firman-Nya” (Mzm 103:20).
Kristus adalah pusat dunia malaikat. Para malaikat itu adalah malaikat-malaikat-Nya (lih. Mat 25:31). Para malaikat itu adalah milik Kristus sebab mereka diciptakan melalui Dia dan untuk Dia (lih. Kol 1:16). Mereka adalah milik Kristus, sebab Ia telah menunjuk mereka sebagai pembawa kabar bagi rencana keselamatan-Nya: “Bukankah mereka [para malaikat] semua adalah roh-roh yang melayani, yang diutus untuk melayani mereka yang harus memperoleh keselamatan?”
Para malaikat telah ada sejak penciptaan dan terus ada sepanjang sejarah keselamatan (lih.KGK 332), sejak zaman para nabi menyampaikan rencana Allah, sampai saat malaikat Gabriel menyampaikan kabar gembira untuk kelahiran Yohanes Pembaptis dan Kristus sendiri. Sejak penjelmaan Kristus di dunia sampai kenaikan-Nya ke surga, kehidupan Yesus senantiasa dikelilingi oleh para malaikat. Para malaikat memuja-Nya saat kelahiran-Nya, melindungi-Nya, menguatkan-Nya di saat di Taman Getsemani. Merekalah yang mewartakan kabar gembira saat Inkarnasi dan Kebangkitan-Nya; dan akan menyertai Yesus pada saat kedatangan-Nya kembali di akhir zaman (lih. KGK 333, Kis 1:10-11; Mat 13:41;24:31; Luk 12:8-9).
Seluruh kehidupan Gereja juga, secara rahasia memperoleh bantuan dari para malaikat (lih. KGK 334). Dalam liturginya, Gereja menggabungkan diri dengan para malaikat untuk memuji dan menyembah Tuhan (KGK 335). Sejak awal kehidupan sampai wafatnya, setiap manusia berada di dalam perlindungan malaikat dan doa syafaatnya (lih.KGK 336).
Tuhan menciptakan dunia dengan segala keanekaragaman di dalamnya. Segala yang ada memperoleh keberadaannya dari Allah. Setiap ciptaan mempunyai keindahan/ kebaikannya sendiri, karena itu manusia harus menghormati ciptaan yang lain dan menghindari penggunaan yang tidak teratur akan alam dan ciptaan yang lain tersebut (lih. KGK 337-339).
Tuhan menghendaki saling ketergantungan antara ciptaan-Nya, agar saling melengkapi dan melayani satu sama lain (lih. KGK 340). Keindahan alam: Keteraturan dan keseimbangan alam tercapai dari keberagaman ciptaan dan dari hubungan di antara mereka (lih. KGK 341).
Penghormatan akan hukum kodrat yang diperoleh dari keadaan alami ciptaan merupakan dasar kebijaksanaan dan dasar hukum moral (lih.KGK 354).
Solidaritas antara mahluk ciptaan ada karena semuanya diciptakan oleh Tuhan dan semua ditentukan untuk memuliakan Tuhan (lih. KGK 344).
Manusia merupakan “puncak karya Sang Pencipta” (KGK 343), sebab manusia menempati posisi yang unik dalam Penciptaan, yaitu: 1) diciptakan menurut gambaran Allah; 2) dalam kodratnya, manusia mempersatukan dunia rohani dan jasmani; 3) manusia diciptakan laki-laki dan perempuan; 4) Tuhan menentukan manusia di dalam persahabatan dengan-Nya (lih. KGK 355).
Dari segala ciptaan, hanya manusia yang diciptakan untuk dapat mengenal dan mengasihi Pencipta-Nya. Di bumi, hanya manusia-lah ciptaan yang dikehendaki Tuhan demi kebaikan manusia itu sendiri; dan hanya manusialah yang dipanggil untuk mengambil bagian -melalui pengetahuan dan kasih- di dalam kehidupan Allah sendiri (lih. KGK 356)
Tuhan mencipta segalanya untuk manusia; dan sebaliknya manusia diciptakan untuk melayani dan mengasihi Tuhan dan mempersembahkan semua ciptaan kepada-Nya (lih. KGK 358)
Dengan menjadi gambaran Allah, maka manusia tidak hanya ‘sesuatu’ tetapi ‘seseorang’. Ia mempunyai pengetahuan akan dirinya sendiri, memiliki dirinya sendiri dan dapat memberikan dirinya dan masuk dalam persekutuan dengan orang-orang lain. Manusia dipanggil oleh rahmat Tuhan untuk memberikan tanggapan iman dan kasih kepada-Nya, yang tidak dapat diberikan oleh ciptaan yang lain (lih. KGK 357)
Rasul Paulus membandingkan Adam dengan Kristus: “Adam pertama menjadi jiwa yang hidup, Adam yang terakhir adalah Roh yang memberi hidup. Adam pertama diciptakan oleh Adam yang terakhir, yang dari-Nya Adam yang pertama memperoleh jiwa dan hidupnya… Adam yang kedua ini memeteraikan gambaran-Nya di dalam Adam yang pertama saat menciptakannya…. Adam yang pertama mempunyai awal, sedangkan Adam yang terakhir tidak berakhir. Adam yang terakhir merupakan awal segalanya, sebab Ia sendiri berkata, “Aku adalah yang pertama dan terakhir… “ (lih. St. Petrus Krisologus, Sermo 117, KGK 359)
“O penglihatan yang menakjubkan, yang membuat kita memandang umat manusia di dalam kesatuan asalnya di dalam Tuhan…. di dalam kesatuan kodratnya, yang terdiri dari tubuh material dan jiwa spiritual; di dalam kesatuan akhirnya dan misinya di dunia; di dalam kesatuan di dalam tempat kediamannya, yaitu di bumi yang mendatangkan kebaikan bagi manusia yang dapat mempergunakannya untuk mengembangkan kehidupan; di dalam kesatuan kepada tujuan akhirnya yang adikodrati: yaitu Tuhan sendiri, yang kepada-Nya semua mahluk harus menuju; di dalam kesatuan cara mencapai tujuan ini; …. di dalam kesatuan penebusan yang dikerjakan oleh Kristus bagi semua orang.” (Paus Pius XII, Summi Pontificatus, 3, KGK 360)
Manusia, yang diciptakan menurut gambaran Allah adalah sekaligus mahluk jasmani dan mahluk rohani. Tuhan membentuknya dari debu tanah, dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya (lih Kej 2:7); maka manusia keseluruhannya, tubuh dan jiwa, dikehendaki oleh Tuhan (KGK 362).
Jiwa manusia mengacu kepada ‘kehidupan manusia atau keseluruhan pribadi manusia’ (lih. KGK 363), dan mengacu kepada hal terdalam dalam diri manusia. Oleh jiwa, manusia menjadi sangat istimewa sesuai dengan gambaran Allah: jiwa menandai prinsip rohani di dalam diri manusia. Jiwa menjadi ‘bentuk’ bagi tubuh; karena adanya jiwa maka tubuh menjadi hidup. Di dalam manusia bukan dua kodrat yang menyatu, tetapi kesatuan antara jiwa dan tubuh itu yang membentuk satu kodrat (lih. KGK 365).
Tubuh manusia mengambil bagian di dalam martabat ‘gambaran Allah’. Disebut tubuh manusia sebab ia dihidupkan oleh jiwa yang rohani. Keseluruhan pribadi manusia di dalam Tubuh Kristus, dimaksudkan untuk menjadi bait Allah (lih. 1Kor 6:19-20; 15:44-45)
Gereja mengajarkan bahwa: 1) setiap jiwa manusia diciptakan langsung oleh Allah dan bukan dihasilkan oleh orang tua; dan bahwa 2) jiwa itu kekal. Jiwa tidak mati ketika terpisah dari tubuh pada saat kematian, dan akan kembali bersatu dengan tubuhnya pada saat kebangkitan badan (lih. KGK 366)
Kadangkala jiwa dibedakan dari roh, “roh, jiwa dan tubuh” (lih. 1 Tes 5:23); namun Gereja mengajarkan bahwa pembedaan ini tidak menunjukkan adanya dualitas di dalam jiwa. Roh menunjukkan bahwa sejak penciptaannya, manusia diarahkan kepada tujuan akhir yang adikodrati (rohani) dan bahwa jiwa tersebut dapat diangkat melampaui apa yang layak baginya kepada persekutuan dengan Tuhan (KGK 367).
Manusia laki-laki dan perempuan diciptakan Allah, dengan kesamaan derajat sebagai pribadi manusia, namun di dalam perbedaannya sebagai laki-laki dan perempuan. Baik laki-laki dan perempuan mempunyai martabat yang sama sebagai ‘gambaran Allah’. Di dalam kelaki-lakiannya dan keperempuanannya, mereka mencerminkan kebijaksanaan dan kebaikan Sang Pencipta (lih. KGK 369).
Namun perlu diketahui, bahwa rumusan ‘gambaran’ ini tidak terjadi sebaliknya, sebab Tuhan tidak sama sekali menurut gambaran manusia: Ia bukan laki-laki ataupun perempuan. Tetapi kesempurnaan laki-laki dan perempuan mencerminkan kesempurnaan Allah yang tak terbatas: yaitu kesempurnaan sebagai ibu dan sebagai ayah dan suami (lih. KGK 370).
Tuhan Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” (Kej 2:18). Tidak ada satupun binatang dapat menjadi pasangan bagi manusia. Perempuan diciptakan Allah untuk menjawab kerinduan laki-laki akan pasangan baginya (lih. Kej 2:23), yang sama-sama mempunyai kodrat manusia (lih. KGK 371).
Manusia diciptakan satu untuk yang lainnya, bukan artinya menjadikan mereka tidak lengkap tanpa yang lain, tetapi Allah menciptakan keduanya supaya membentuk persekutuan, di mana yang satu menolong yang lain. Di dalam perkawinan, Allah mempersatukan keduanya menjadi ‘satu daging’ (Kej 2:24) dan mereka dapat meneruskan kehidupan manusia: “Beranak cuculah….” (Kej 1:28). Dengan meneruskan kehidupan kepada keturunan mereka, laki-laki dan perempuan sebagai pasangan dan orang tua, bekerjasama dengan cara yang unik dalam karya Sang Pencipta.
Menjadi penakluk bumi bukan dengan merusak bumi, sebab Tuhan memanggil manusia laki- laki dan perempuan untuk menjadi gambaran Allah yang menyayangi semua yang ada dan mengambil bagian dalam penyelenggaraan bagi ciptaan yang lain dan manusia bertanggungjawab atas bumi kepada Tuhan yang telah mempercayakannya kepadanya (lih. KGK 373)
Penciptaan adalah karya Allah Tritunggal Mahakudus. Allah mencipta langit dan bumi. Allah mencipta langit dan bumi, karena ingin menyampaikan cinta kasih dan kebaikan-Nya kepada sesuatu yang di luar diri-Nya sendiri. Maka dunia diciptakan demi kemuliaan Allah. Kemuliaan Allah ditunjukkan oleh kebaikan-Nya yang menunjukkan diri dan menyampaikan diri. Allah menciptakan dunia spiritual (yaitu surga dan para malaikat-Nya) dan dunia material (yaitu bumi dan segala isinya). Penciptaan bukan kebetulan namun karena kebijaksanaan dan cinta Tuhan. Tuhan mencipta dari ketidakadaan, Ia menciptakan segala sesuatu dengan baik dan teratur, memelihara dan menopang hidup mereka. Tuhan peduli akan segala ciptaan-Nya dan menghendaki ciptaan-Nya bekerjasama denganNya untuk mewujudkan rencana-Nya.
Manusia merupakan puncak karya penciptaan Allah, karena ia diciptakan menurut gambaran dan rupa Allah. Maka, kemuliaan Allah adalah manusia yang hidup, namun hidup manusia adalah memandang Allah. Maka asal usul manusia adalah dari Allah dan tujuan akhir manusia adalah Allah sendiri. Manusia diciptakan untuk mengenal, mengasihi dan melayani Allah, serta mengambil bagian di dalam hidup Allah. Inkarnasi menjelaskan misteri hidup manusia, sebab di dalam Kristuslah seluruh umat manusia membentuk kesatuan sebagai satu saudara. Manusia merupakan kesatuan antara tubuh dan jiwa spiritual, yang diciptakan laki-laki dan perempuan. Keduanya diciptakan agar saling menolong dalam persekutuan kasih.
Hal pembagian tugas para malaikat ini tidak dapat dikatakan sebagai ajaran iman yang termasuk “the truth of Faith” setingkat dengan Dogma, melainkan masih ada dalam katagori ‘free theological opinion‘, sehingga para teolog masih dapat mempunyai pandangan yang berbeda tentang hal ini. Berikut ini adalah penjabaran yang mengambil sumber utama dari pengajaran St. Thomas Aquinas dalam Summa Theology.
Menurut St. Thomas Aquinas, keempat tingkatan malaikat yang pertama merupakan tingkatan malaikat yang tidak diutus untuk menyampaikan pesan Allah, sedangkan kelima tingkat sesudahnya memiliki tugas untuk diutus ke luar /external ministry (lih. ST. I, q. 112, a.4). Ia mengutip St. Gregorius (Hom. xxxiv in Evang) dan Dionysius (Coel. Hier. xiii) yang mengatakan bahwa Malaikat yang ada di tingkat yang lebih tinggi tidak menjalankan pelayanan ke luar. Sehingga tugas para malaikat menurut tingkatannya, menurut St. Thomas Aquinas adalah:
1. Seraphim/ Serafim berasal dari kata Ibrani, saraph, artinya “untuk menghanguskan dengan api”. Para Bapa Gereja mengajarkan bahwa Serafim adalah para malaikat surgawi yang ada di sekitar tahta pengadilan Tuhan. Serafim ini sering dihubungkan dengan kelompok malaikat yang memuji- muji Allah dengan kidung surgawi di sekitar tahta Allah.
2. Cherubim/ Kerubim, berasal dari kata Assyria, kirubu, karabu, artinya “dekat”, maka diartikan sebagai malaikat yang dekat dengan Allah, yang ada di sekitar kemuliaan Tuhan, dan melayani Tuhan. Dengan demikian baik Serafim maupun Cherubim keduanya menempati hirarki tertinggi dalam tingkatan malaikat di surga.
3. Thrones/ Singgasana/ Tahta suci, tidak disebutkan secara khusus, namun dari namanya, dapat diperkirakan bahwa para malaikat pada tingkatan ini juga yang ada di daerah sekitar tahta Allah.
4. Dominations/ Pemerintah, (bersama dengan ketiga tingkatan malaikat di atasnya) membimbing para malaikat di bawahnya tentang misteri Allah (St. Thomas Aquinas, Summa Theology, I, q.112, a.3)
5. Virtues/ Kebajikan: para malaikat yang menjaga/ melindungi semua mahluk ciptaan corporeal; Virtues bertugas melakukan mukjizat dalam dunia material/ corporeal (ST, I, q.113, a.2).
6. Powers/ para malaikat yang bertugas mengatasi kuasa jahat (ST, I, q.113, a.2).
7. Principalities/ Kerajaan bertugas untuk menjaga semua jiwa- jiwa yang baik (ST, I, q.113, a.3).
8&9. Archangels/ penghulu malaikat dan angels/ malaikat (dan kemungkinan juga Principalities/ Kerajaan) bertugas untuk melindungi manusia (ST, I, q.113, a.3 dan 4). Hal ini disebutkan dalam Mazmur 90:11. Menurut St. Thomas para malaikat inilah yang sering disebut sebagai malaikat pelindung manusia.
Hal nama- nama maupun urutan tingkatan para malaikat ini bukanlah dogma, sehingga memang para Teolog masih dapat mempunyai pandangan sendiri- sendiri tentang hal ini. Urutan yang disampaikan di atas adalah berdasarkan tulisan St. Thomas Aquinas, namun ia tidak memberikan secara rinci urutan nama- nama malaikat satu- persatu secara pribadi. Secara umum, menurut St. Thomas, para malaikat yang diutus kepada manusia (Mikael, Gabriel, Rafael) adalah tingkatan malaikat yang terendah/ dua terendah (angels/ archangels) (Summa Theology, Ia, 113.3).
Namun tentang tingkatan Malaikat Mikael, terdapat pandangan lain: St. Basil (dalam Hom. de angelis) dan Bapa Gereja Yunani seperti Salmeron dan Bellarminus menempatkan St. Mikael di atas semua para malaikat. St. Bonaventura mengatakan bahwa St. Mikael adalah pangeran dari Malaikat Serafim, yang pertama dari kesembilan tingkatan malaikat. Kemungkinan ini disebabkan karena pada Why 12:7 disebutkan bahwa Mikael dan para malaikatnya bertarung melawan Iblis (ular naga) tersebut.
Demikian juga terdapat pandangan yang berbeda tentang kedudukan Lucifer. Para Teolog ada yang menempatkan dia di tingkatan Serafim, namun juga ada yang menempatkan dia di tingkatan di bawahnya, di bawah tingkatan Serafim, Kerubim dan Tahta Suci. Dalam hal ini, Gereja sendiri memberi kebebasan kepada para Teolog untuk mempunyai pandangan berbeda karena ini bukan masalah prinsip yang berhubungan dengan hal dogmatik.
Teori Evolusi yang kita kenal sebenarnya merupakan suatu hipotesa, yang masih memerlukan pembuktian lebih lanjut, sebelum dapat dikatakan sebagai kebenaran. Sementara ini, bukti ilmiah belum dapat dikatakan cukup mendukung hipotesa tersebut.
Ada dua inti besar teori Evolusi- yang dikenal sebagai “Macroevolution/ evolusi makro” yang dipelopori oleh Darwin:
Sebelum kita membahas lebih lanjut, kita melihat bahwa di sini terdapat 2 jenis evolusi, yaitu Evolusi makro, dan evolusi mikro. Evolusi makro membicarakan evolusi melewati batas-batas species, di mana species secara berangsur-angsur berubah menjadi species yang lain. Sedangkan evolusi mikro adalah evolusi yang berada di dalam batas satu species. Evolusi mikro adalah suatu realita yang dapat kita amati secara langsung pada alam, jadi tidak perlu dipermasalahkan. Umumnya, evolusi mikro ini berhubungan dengan adaptasi dengan lingkungan baru, dan berupa pengurangan organ dan bukan penambahan dan penyesuaian.
Sedangkan teori evolusi yang kita kenal umumnya adalah evolusi makro. Ini bertentangan dengan iman, karena definisinya, teori evolusi makro merujuk pada asumsi bahwa tidak ada campur tangan Tuhan, sebagai Divine Intelligence, sebagai Pencipta umat manusia.
Beberapa problem mengenai teori Evolusi makro, baik dari segi filosofi maupun ilmu pengetahuan, adalah sebagai berikut:
B. Problem Evolusi makro dari segi Ilmu Pengetahuan:
Kenyataan di atas sesungguhnya dapat membantu kita untuk melihat hal evolusi tersebut secara lebih objektif. Kini, mari kita lihat pandangan Gereja mengenai hal evolusi ini, yang dapat saya rumuskan dalam beberapa point:
Uraian di atas adalah merupakan prinsip dasar mengapa kita sebagai orang Katolik tidak dapat menerima teori evolusi makro ala Darwin, sebab prinsip ajaran Gereja adalah manusia diciptakan bukan sebagai hasil kebetulan, tetapi karena sungguh diinginkan oleh Allah. Sedangkan mengenai evolusi mikro di dalam batas species, kita semua dapat menerimanya, sesuai dengan penjelasan di atas. Prinsipnya, jikapun ada evolusi, tidak mungkin melangkahi batas penyelenggaraan Allah. Allah-lah yang menciptakan manusia, yaitu jiwa dan tubuh. Jiwa manusia diciptakan dari ketiadaan, (out of nothing) dan tubuh dari materi yang sudah ada (pre-existing matter) namun Allah mempersiapkan tubuh itu agar layak menerima jiwa manusia. Kesatuan tubuh dan jiwa manusia tersebut diciptakan menurut gambaran Allah.
Yth. Pak Stef dan Bu Ingrid
Salam,
Bagaimana menjelaskan kepada anak2 SMA dan OMK yang bertanya “Apakah Adam dan Hawa sungguh2 manusia pertama (dalam arti historis)..?? Jika iya, lalu bagaimana menghubungkannya dengan bab dan ayat yg menceritakan tentang pernikahan Kain setelah diusir orangtuanya di tempat lain, bukankah jawaban iya tadi lalu tidak mendapat dukungan dari bab dan ayat tentang Kain ini tadi..?? Lalu, jika Adam dan Hawa bukan manusia pertama (dalam arti historis), lalu bagaimana menjelaskan bahwa Kitab Suci bukan buku fakta sejarah, melainkan buku “Kebenaran Iman” dan tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan..??
Adam dan Hawa bukan nama identitas diri, melainkan merujuk pada manusia universal. Apa arti Adam dan Hawa..??
Terimakasih. Tuhan memberkati.
Shalom Adrianus,
Pertanyaan-pertanyaan Anda kurang lebih sudah pernah dibahas/ diulas di situs ini. Silakan membaca terlebih dahulu beberapa artikel-artikel berikut ini, dan jika masih ada pertanyaan, silakan menuliskan pertanyaan Anda di bawah artikel yang bersangkutan:
Tentang apakah Adam dan Hawa adalah manusia pertama, dan siapa istri Kain, sudah pernah dibahas di artikel ini, silakan klik
Tentang bagaimana hubungan antara teori evolusi dan iman, silakan klik
Penjelasan tentang 6 Hari Penciptaan, silakan klik
Tentang bagaimana dapat terjadi bermacam ras/ bangsa, silakan klik
Tentang Sains Penciptaan, silakan klik
Kebenaran Sejarah dalam Kitab Kejadian, silakan klik
Kitab Suci memang bukan buku sejarah ataupun buku science, namun demikian bukan berarti yang dituliskan di dalamnya adalah kisah fiktif. Silakan membaca artikel-artikel di atas terlebih dahulu. Memang Adam artinya adalah ‘manusia’ atau ‘umat manusia’, sedangkan Hawa artinya adalah ‘ibu dari segala yang hidup’. Maka sesuai dengan namanya, Adam dan Hawa diciptakan sebagai sepasang manusia pertama yang daripada mereka akan diturunkan segenap umat manusia.
Teori Adam sebagai manusia pertama tidak bertentangan dengan ditemukannya fosil purbakala oleh para arkeolog. Sebab meskipun dianggap bahwa tubuh manusia ‘berasal’ dari perkembangan tubuh mahluk lain (walau hal ini tetap memerlukan pembuktian lebih lanjut), tetap tidak mengubah prinsipnya bahwa diperlukan intervensi Tuhan untuk mengubah tubuh mahluk lain tersebut untuk dapat menjadi tubuh manusia yang cocok untuk menerima jiwa manusia. Prinsip ini tidak menentang makna yang disampaikan oleh Kitab Kejadian, sebab Tuhan membentuk tubuh manusia juga dari ‘sesuatu materi’ yang sudah ada, yaitu debu tanah (lih. Kej 2:7).
Masalahnya sekarang, banyak fosil ditemukan, yang diyakini sebagian orang berasal dari semacam ‘kera’/ apes yang berevolusi menjadi manusia. Namun fosil yang menunjukkan perubahan pelan- pelan antara kera menjadi manusia itu tidak pernah ditemukan. Maka para ahli mengatakan fosil peralihan antara ‘kera’ menjadi manusia yang tidak ditemukan tersebut sebagai ‘the missing link‘ (rantai yang hilang). Namun demikian, jika kita mendasarkan pada prinsip logika berpikir, kita akan dapat menerima, bahwa ‘rantai yang hilang’ ini bukannya hilang, tetapi tidak ada. Sebab tidak mungkin mahluk yang lebih rendah bisa berubah jadi mahluk yang lebih tinggi, atas dasar prinsip: ‘sesuatu tidak dapat memberi, jika sebelumnya ia tidak punya’. Maka kalau pada kera tidak ada akal budi dan kehendak bebas seperti pada manusia, maka tidak mungkin mereka dapat disebut sebagai ‘orang tua’ manusia. Dengan kata lain, tanpa campur tangan Tuhan, suatu mahluk hidup yang di bawah derajat manusia tidak dapat berubah pelan- pelan/ berevolusi menjadi manusia. Sekalipun diyakini terjadi perubahan, perubahan itu hanya mungkin karena campur tangan Tuhan, sehingga terjadi perubahan drastis yang tidak lagi menyerupai kera, tetapi sungguh menjadi tubuh manusia yang layak menjadi kediaman jiwa manusia. Di saat itulah (jika saja teori ini benar) Tuhan menciptakan Adam dan Hawa, manusia pertama yang menjadi orang tua pertama bagi umat manusia.
Gereja Katolik, berdasarkan Kitab Suci mengajarkan bahwa Adam dan Hawa adalah sepasang orang tua pertama, dan dari mereka seluruh umat manusia berasal. Maka konsekuensinya, pada jaman awal mula, memang terjadi perkawinan sesama saudara (incest), dalam hal ini antara sesama anak- anak dari Adam dan Hawa, sebab Kitab Suci mencatat bahwa Adam dan Hawa tidak hanya memiliki 2 anak (Kain dan Habel), tetapi juga Set dan anak-anak laki-laki dan perempuan (Kej 5:4) yang jumlahnya dan namanya tidak dituliskan di dalam Kitab Suci. Maka pada saat itu memang terjadi pernikahan antar saudara, yaitu antara anak-anak Adam dan Hawa, walaupun kemudian setelah jumlah umat manusia berkembang, hal ini tidak lagi diperbolehkan oleh Tuhan (lih. Im 18:6-18). Larangan ini cocok dengan kenyataan bahwa kode genetik manusia dapat mengalami “defect”/ cacat yang dapat bertambah besar sehubungan dengan regenerasi manusia. Maka jika pada generasi pertama-tama, efek resesif sangat minimal namun semakin ke bawah generasinya, efek ini makin besar. Oleh sebab itu Allah akhirnya melarang perkawinan sesama saudara.
Prinsip Adam sebagai manusia pertama, yang darinya turunlah semua umat manusia, dan oleh karena ketidaktaatannya ia berdosa, dan karena itu semua orang turut berdosa dan menerima maut sebagai akibatnya; adalah penting; sebab Kristus justru diutus oleh Allah untuk memulihkan keadaan ini dengan keadaan kebalikannya. Yaitu Kristus sebagai Adam yang baru, dengan ketaatan-Nya menghancurkan kuasa dosa dan maut. (lih. Rom 5:12-21)
Selanjutnya jika Anda masih mempunyai pertanyaan, silakan menggunakan fasilitas pencarian di sudut kanan atas homepage, dan ketik kata kuncinya, lalu enter. Semoga Anda dapat menemukan pembahasannya. Jika belum ada, silakan Anda bertanya kembali kepada kami.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Yth. Pak Stef dan Bu Inggrid,
Dalam litani St. Rafael, terdapat kalimat “satu dari ketujuh malaikat yang berada di hadirat Yang Mahatinggi, doakanlah kami.”
Siapa saja ketujuh malaikat yang dimaksud di atas? mohon dapat diberikan profil malaikat-malaikat tersebut.
terima kasih
[dari katolisitas: Silakan melihat artikel di atas di bagian ini - silakan klik]
bahasannya sederhana dan inspiratip
Saya ingin bertanya soal archangels atau malaikat agung, apa benar ada 7 archangels menurut ajaran Katolik ? Thanks
[dari katolisitas: Silakan melihat link di atas - silakan klik]
Mengenai Penciptaan dan Evolusi, Kardinal Schonborn dari Wina telah menyampaikan satu rangkaian kuliah katekese, yg merupakan 6 kuliah katekese yg disampaikan di katedralnya di Wina. Kuliahnya ini dapat diakses di website-nya, yaitu cardinalschonborn.com.
Sbg diketahui Kardinal Schonborn ini adalah jendralnya komisi Tahta Suci yg menghimpun Catechism of the Cath Church (1994).
Melalui tangan beliau ini juga telah diterbitkan katekese utk kaum muda, yaitu yg dikenal sbg YOUCAT, yg dipopulerkan pd World Youth congress di Madrid th yg lalu. Yg saya tidak faham adalah mengapa hal ini tidak ada gemanya sama sekali di kalangan gereja di Indonesia ini
Salam Agustinus Purnama,
YOUCAT sedang saya terjemahkan, dan akan diterbitkan oleh Penerbit-Percetakan Kanisius, dan akan dipakai dalam “Indonesian Youth Day” 2012, 20-26 Oktober 2012 di Sanggau. Informasi mengenai IYD itu sendiri silahkan klik http://www.orangmudakatolik.net
Salam
Yohanes Dwi Harsanto, Pr
Salam, Syukurlah ternyata Youcat ada gemanya juga di sini.Saya usulkan agar teks terjemahan tsb dimasukkan juga di jejaring internet , shg siapa saja, (termasuk yg bukan Katolik) dpt ikut meng-akses dan men-download freely, dan Rama menjadi penjaga gawang yg akan menjawab setiap kali ada pertanyaan2 lewat Twitter maupun lewat Facebook. Maklumlah anak2 muda itu biasanya pelit utk beli buku, dan mereka itu sangat faham dunia cyber.
Romo, namanya nanti apa juga tetap YOUCAT?
Salam Agung,
Di seluruh dunia, dengan bebagai bahasa, nama buku itu tetap YOUCAT.
Salam
Yohanes Dwi Harsanto Pr
Kejadian 1 : 1 – 19 :
1. Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.
2. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.”
3. Berfirmanlah Allah : “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi.
4. Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap.
5. Dan Allah menamai terang itu siang dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama.”
6. Berfirmanlah Allah : “Jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air.”
7. Maka Allah menjadikan cakrawala dan Ia memisahkan airj yang ada di bawah cakrawala itu dari air yang ada di atasnya. Dan jadilah demikian.
8. Lalu Allah menamai cakrawala itu langit. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kedua.”
9. Berfirmanlah Allah : “Hendaklah segala air yang ada di bawah langit berkumpul pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering.” Dan jadilah demikian.
10. Lalu Allah menamai yang kering itu darat dan kumpulan air itu dinamai-Nya laut. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.
11. Berfirmanlah Allah : “Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi.” Dan jadilah demikian.
12. Tanah itu menumbuhkan tunas-tunas muda, segala jenis tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan segala jenis pohon-pohonan yang menghasilkan buah yang berbiji. Allah melihat bahwa semuanya itu baik. 13. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari ketiga.”
14. Berfirmanlah Allah : “Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda mneunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun,
15. dan sebagai penerangh pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi.” Dan jadilah demikian.”
16. Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang.
17. Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi,
18. dan untuk menguasai siang dan malam, dan untuk memisahkan terang dari gelap.
19. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keempat.”
Kalau kita baca ayat-ayat Alkitab tersebut, sepertinya tidak ada masalah. Padahal kalau kita sedikit jeli dan teliti, sebenarnya pada ayat-ayat tersebut banyak bermasalah.
bingung,,,matahari belum di jadikan, kok udah terang dan siang…???
Dan ada lagi
Contoh : Pada ayat ke 5 dikatakan oleh penulis Alkitab sebagai berikut : “Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama.”
Kemudian pada ayat ke 8 dikatakan juga sebagai berikut : “Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kedua.”
Dan sama saja pada ayat ke 13 juga dikatakan sebagai berikut : “Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari ketiga.”
Pertanyaannya : Darimana penulis Alkitab mengetahui dan menentukan petang, pagi, hari pertama, hari kedua dan hari ketiga, sementara pada saat itu matahari, bulan dan bintang belum diciptakan?
Bukankah untuk mengetahui petang harus ada matahari yang sudah mulai tenggelam? Dan bukankah untuk mengetahui pagi, harus ada matahari yang baru mau terbit.
Dan bukankah untuk mengetahui hari pertama, hari kedua dan hari ketiga, harus ada perputaran bumi mengelilingi matahari selama 24 jam?
Shalom Restu Alam,
Pada saat terjadi terang (Kej 1: 3-6), kitab Kejadian tidak menyebutkan apakah yang menjadi sumber dari terang. Kita tidak dapat mengatakan bahwa sumber terang adalah matahari, karena matahari baru diciptakan pada hari ke-empat. Oleh karena itu, kita hanya dapat menyimpulkan bahwa ada suatu terang, namun sumber terang tersebut bukanlah matahari. Kalau kita percaya bahwa Tuhan adalah Pencipta segalanya, maka tidaklah sukar bagi kita untuk mengatakan, Tuhanlah yang menciptakan terang, walaupun belum ada matahari pada hari pertama. Jadi, pada hari pertama-ketiga, Tuhanlah atau suatu sumber terang yang diciptakan Tuhan -yang tidak kita ketahui- yang menjadi sumber terang. Bahwa Tuhan yang menjadi sumber terang Kitab Wahyu mengatakan, “Dan malam tidak akan ada lagi di sana, dan mereka tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka, dan mereka akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya.” (Why 22:5)
Maka pada hari pertama ini diciptakanlah terang oleh Tuhan, entah berupa partikel terang atau sesuatu terang menyeluruh, yang kemudian dibedakan dengan gelap. Terang ini dapat pula menyerupai terang tiang awan yang menemani bangsa Israel (lih. Kel 14:19) yang terangnya tidak berasal dari matahari. Namun di samping adanya terang, esensi dari penciptaan hari pertama adalah waktu. Sebelum Tuhan menciptakan sesuatu yang bersifat material, maka Tuhan harus menciptakan sesuatu yang begitu esensial bagi semua hal yang bersifat material, yaitu adanya dimensi waktu, yang ditandai dengan adanya terang dan gelap atau siang dan malam.
Pada saat Kitab Suci dituliskan penulis Kitab Suci tidak/ belum mengetahui teori heliosentris tentang perputaran bumi mengelilingi matahari yang menjadi penentu waktu (Teori heliosentris baru mulai dikenal di abad ke-16). Para penulis Kitab Suci menuliskannya atas ilham Roh Kudus, bahwa pada hari pertama Penciptaan, Allah menciptakan waktu, yang ditandai dengan pergantian siang dan malam, petang dan pagi. Setelah ada dimensi waktu, Allah menciptakan segala sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada. Bahwa kemudian Allah menciptakan benda- benda penerang (matahari, bulan, bintang) itu merupakan kelanjutan dari apa yang telah ditentukan Allah sebelumnya, dan menyempurnakan dalam hal pergantian terang dan gelap tersebut dalam tatanan alam semesta.
Akhirnya, perlu kita ketahui bahwa Kitab Suci bukanlah buku science/ ilmu pengetahuan tempat kita dapat memperoleh penjelasan mendetail tentang terbentuknya alam semesta. Yang dapat kita ketahui dalam kisah Penciptaan adalah bahwa Allah mencuptakan segala sesuatunya secara bertahap, ada urutannya, dari segala yang tidak berbentuk menjadi semakin sempurna, sampai kepada manusia, yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej 1:26). Tentang selang waktunya secara persis kita tidak dapat memperoleh konfirmasinya, sebab segalanya dapat pula terjadi sedemikian, namun dapat juga terjadi dalam kurun waktu yang lama, mengingat satu hari bagi Tuhan dapat berarti ribuan tahun (lih. 2Pet 3:8).
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Shalom….
saya sudah membaca semua uraian diatas… tapi masih ada yang mengganjal..
berikut kutipan’nya :
=======================================
b. Tuhan bukan laki-laki atau perempuan
=======================================
lalu bagaimana dengan kenyataan bahwa Yesus Tuhan kita adalah Laki2?
Aku semakin meragukan ajaran-ajaran Kristen….
Shalom Stefany,
Tuhan memang mengatasi gender, karena Dia adalah Roh. Namun, kalau Tuhan memutuskan untuk masuk ke dalam sejarah manusia dan mengambil kodrat manusia, walaupun tanpa meninggalkan ke-Allahan-Nya, maka Dia harus mengambil rupa manusia, termasuk dengan gendernya, yaitu laki-laki. Jadi tidak ada pertentangan di dalam-Nya. Diskusi akan menjadi lebih substansial, kalau kita membahas apakah Yesus sungguh Allah dan sungguh manusia.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org
Pak Stef dan Bu inggrid yg baik,
Trimakasih atas atas artikel terbarunya.
Saya sering membaca web katolisitas. Web yg Bapak dan Ibu asuh sangat membantu saya dalam mengajar sekolah iman di paroki saya sejak 2 tahun yll. Banyak info yg sangat bermanfaat.
Saya usul bagaimana kalo katolisitas juga menambah menu ‘email alert’. Artinya setiap ada artikel, dokumen, faq, tanyajawab, even iman, dsj, yg baru ditampilkan ke email pembaca yg memang sengaja berlangganan. Sehingga kalo ada yg baru, saya diberitau via email dan linknya, dan saya segera bisa mengetahuinya dan membukanya.
Trimakasih.
Salam dan doa
Rm Triwidodo Pr
Shalom Romo Triwidodo, Pr.,
Terima kasih atas dukungannya untuk karya kerasulan katolisitas.org. Kami sangat senang jika ada tanya-jawab maupun artikel di situs ini yang berguna untuk membantu mengembangkan iman Katolik. Usulan Romo untuk menambahkan fasilitas pemberitahuan lewat email akan kami perhatikan. Sementara ini, Romo dapat menggunakan fasilitas RRS: link to katolisitas.org. Mohon doa dari Romo agar karya kerasulan ini dapat berguna dan turut serta membangun Gereja Katolik yang kita kasihi.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
tim katolisitas.org
Dear Pak Stef,
Terlebih dahulu mohon maaf atas pertanyaan yg agak nyeleneh ini : Karena Tuhan maha pencipta dan menciptakan dari ketidak adaan, apakah mungkin Tuhan dapat juga menciptakan Tuhan (lain/baru)?
Regards,
Yanto
Shalom Yanto,
Nampaknya pertanyaannya sendiri keliru, sebab hakekat Tuhan adalah “Ia yang mengatasi segala ciptaan, sehingga Ia sendiri tidak diciptakan.” Dengan demikian, yang namanya Tuhan itu tidak diciptakan. Maka dalam teologi Kristen, Allah yang mengatasi segala waktu dan segala ciptaan itu sudah ada sejak kekekalan dalam kesempurnaan-Nya, yaitu dalam Pribadi Allah Trinitas. Ketiga Pribadi dalam satu Allah tersebut ada bersama-sama sejak awal mula. Baru kemudian setelah waktunya genap, sesuai dengan rencana-Nya, Pribadi Allah yang kedua, yaitu Sang Putera Allah, mengambil rupa manusia, dan masuk dalam sejarah umat manusia. Dalam penjelmaan-Nya ini, Ia tidak berhenti menjadi Allah, walaupun Ia mengambil rupa manusia; sehingga dikatakan bahwa Kristus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia.
Selanjutnya, silakan membaca di artikel-artikel ini, Trinitas: Allah yang satu dalam Tiga Pribadi, silakan klik; dan Yesus Sungguh Allah sungguh manusia, silakan klik.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Sungguh membantu banget dalam memberi jawaban pada pertanyaan pertanyaan dalam hatiku selama ini, sangat beralur dan mendasar apa yang disampaikan. terima kasih Katolisitas. Tuhan memberkati pelayanan anda selalu. Amin.