Diskusi Tentang Ke-Allahan Yesus Kristus

50

Pertanyaan:

Mengapa tidak bisa diterima akal? Karena berikut…

LOGIKA :

Seorang ayah memiliki seorang anak, kekuasaan sang ayah pasti lebih besar ketimbang kekuasaan sang anak, wajar jika seorang anak meminta tolong kepada ayahnya. Tapi apakah mereka satu?? Ya.. mereka satu, satu DNA, satu GARIS KETURUNAN, satu TEMPAT TINGGAL tetapi mereka berbeda pribadi bukan??

Begitu pula dengan Yesus, Yesus berdoa karena dia tahu hanya dari bapanyalah ada keselamatan.

Yoh. 17:3 = “Inilah hidup sejati dan kekal; supaya orang mengenal Bapa, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang diutus oleh Bapa.” (Perhatikan, Yesus tidak menyebut dirinya, tetapi Bapaknya di surga sebagai ”satu-satunya Allah yang benar”)

2 pribadi :
1. supaya orang mengenal Bapa, satu-satunya Allah yang benar
2. dan mengenal Yesus Kristus yang diutus oleh Bapa

Kalimat YANG DIUTUS mengartikan bahwa ada SANG PENGUTUS yang mengartikan 2 pribadi yang berbeda, kuasa SANG PENGUTUS pasti lebih besar ketimbang YANG DIUTUS. jadi Yesus berdoa kepada yang lebih berkuasa daripada dia.

Mat. 4:10 = Yesus menjawab, ”Pergi kau, hai Penggoda! Dalam Alkitab tertulis: Sembahlah Tuhan, Allahmu, dan layanilah Dia saja!” (Yesus jelas tidak mengatakan bahwa dirinya sendiri harus disembah.)

Yoh. 8:17, 18= Di dalam Hukum Musa tertulis begini: Kesaksian yang benar adalah kesaksian dari dua orang. Yang memberi kesaksian tentang diri-Ku ada dua — Aku dan Bapa yang mengutus Aku.” (Jadi, Yesus dengan tegas mengatakan bahwa ia adalah pribadi yang terpisah dan berbeda dengan sang Bapak.) ADA DUA.

Kol. 1:15, 16 = Kristus adalah gambar yang nyata dari diri Allah yang tidak kelihatan; Kristus adalah anak yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan. Sebab melalui Dialah Allah menciptakan segala sesuatu di surga dan di atas bumi, segala sesuatu yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, termasuk juga segala roh yang berkuasa dan yang memerintah. Seluruh alam ini diciptakan melalui Kristus dan untuk Kristus. (Dengan demikian dia diperlihatkan sebagai makhluk ciptaan, bagian dari karya ciptaan Allah.)

Mrk. 13:32 = Meskipun begitu, tidak seorang pun tahu kapan harinya atau kapan jamnya. Malaikat-malaikat di surga tidak dan Anak pun tidak, hanya Bapa saja yang tahu. (Dan andai kata, seperti dikatakan beberapa orang, Putra tidak tahu karena dibatasi oleh sifat manusiawinya, masih timbul pertanyaan, mengapa Roh Kudus tidak tahu?)

Mat. 20:20-23 = Kemudian istri Zebedeus datang dengan anak-anaknya kepada Yesus. Di hadapan Yesus ia sujud untuk minta sesuatu.
21 ”Ibu mau apa?” tanya Yesus. Ibu itu menjawab, ”Saya ingin kedua anak saya ini duduk di kiri dan kanan Bapak apabila Bapak menjadi Raja nanti.”
22 ”Kalian tidak tahu apa yang kalian minta,” kata Yesus kepada mereka. ”Sanggupkah kalian minum dari piala penderitaan yang harus Aku minum?” ”Sanggup,” jawab mereka.
23 Yesus berkata, ”Memang kalian akan minum juga dari piala-Ku. Tetapi mengenai siapa yang akan duduk di kiri dan kanan-Ku, itu bukan Aku yang berhak menentukan. Tempat-tempat itu adalah untuk orang-orang yang sudah ditentukan oleh Bapa-Ku.”

(Betapa aneh, jika, seperti anggapan orang, Yesus adalah Allah! Apakah di sini Yesus hanya menjawab sesuai dengan ’sifat manusiawinya’? Andai kata, seperti dikatakan, Yesus benar-benar ”Manusia-Allah”—Allah dan juga manusia, bukan salah satu—apakah akan benar-benar konsisten untuk memberikan penjelasan demikian? Bukankah Matius 20:23 menunjukkan bahwa Putra tidak setara dengan Bapak, bahwa Bapak mengkhususkan beberapa hak istimewa hanya untuk diri-Nya?

Kesimpulan yang sederhana bukan?? Menggunakan ayat” dari Alkitab untuk menjawab dan tidak memerlukan istilah” yang rumit sehingga orang menjadi bingung dengan istilah” yang digunakan. bukankah Yesus juga jaman dahulu menggunakan bahasa” yang sederhana untuk mengajar??

Jawaban:

Shalom Senyum,

Terima kasih atas tanggapannya. Berikut ini adalah tanggapan yang dapat saya berikan:

1. Yohanes 17:3

Anda memberikan ayat Yoh 17:3 - yang memang sering dipakai oleh Saksi-saksi Yehuwa - untuk membuktikan bahwa Yesus bukan Tuhan dan satu-satunya Tuhan adalah Allah Bapa. Saksi-saksi Yehuwa bukanlah yang pertama kali menggunakan ayat Yoh 17:3 untuk membuktikan bahwa Yesus bukanlah Tuhan, namun hanya sekedar utusan. Tujuh belas abad, ayat ini juga digunakan oleh Arius yang kemudian berkembang menjadi bidaah Arianisme.

Yohanes 17:3 menuliskan "Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus."  Dalam ayat ini, memang terlihat bahwa Bapa adalah satu-satunya Allah yang benar. Namun, di satu sisi, kita juga dapat melihatnya bahwa ayat ini ingin menekankan bahwa Allah itu satu dengan membandingkan allah-allah lain (interpretasi yang dikemukakan oleh St. Sirilius dan St. Krisostomus). Ayat ini juga untuk menekankan sebab dan akibat, yaitu ingin mengatakan bahwa sebab dari seseorang mendapatkan kehidupan kekal adalah dia harus mempunyai iman terhadap Allah Bapa dan Yesus Kristus. Bahwa Bapa satu-satunya Allah yang benar tidaklah menutup adanya Pribadi yang lain, yang mempunyai hakekat yang sama dengan Allah Bapa. Menjadi benar bahwa Allah Bapa adalah satu-satunya Allah, kalau tidak ada Pribadi yang lain yang setara. Kesetaraan ini dapat kita lihat pada ayat ini "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak." (Yoh 5:19) Bahwa di ayat ini dikatakan Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau Ia tidak melihat Bapa mengerjakannya memang benar, namun sama benarnya bahwa apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak. Dan lebih lanjut ditegaskan bahwa semua orang harus menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa. (lih. Yoh 5:23) Kalau Yesus hanya sekedar ciptaan dan Bapa adalah Allah, maka bagaimana mungkin Kitab Suci yang sama mengatakan bahwa manusia harus menghormati ciptaan sama seperti manusia menghormati Pencipta? Bukankah ini menjadi berhala?

Kalau anda masih belum menerima hal ini dan tetap berpendapat bahwa dengan struktur kalimat seperti di atas hanya dapat diartikan bahwa Allah Bapa-lah satu-satunya Allah tanpa ada Pribadi yang lain, maka bagaimana anda menafsirkan ayat-ayat berikut ini dengan cara yang sama seperti anda menafsirkan Yohanes 17:3?

Luk 18:19 "Jawab Yesus: "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari pada Allah saja." Apakah anda setuju bahwa Yesus adalah baik atau apakah anda setuju bahwa Yesus juga tidak baik karena Yesus bukan Allah menurut anda?

Yudas 1:4 "Sebab ternyata ada orang tertentu yang telah masuk menyelusup di tengah-tengah kamu, yaitu orang-orang yang telah lama ditentukan untuk dihukum. Mereka adalah orang-orang yang fasik, yang menyalahgunakan kasih karunia Allah kita untuk melampiaskan hawa nafsu mereka, dan yang menyangkal satu-satunya Penguasa dan Tuhan kita, Yesus Kristus." Apakah dengan cara penafsiran yang sama, maka anda berpendapat bahwa sebenarnya satu-satunya Tuhan adalah Yesus Kristus, yang berarti tidak termasuk Allah Bapa? Bagaimana anda membandingkan ayat ini dengan Yoh 17:3?

Jadi, kembali ke Yoh 17:3, memang yang diutus dan yang mengutus adalah dua pribadi yang berbeda. Dan inilah yang dipercayai oleh Gereja Katolik, bahwa Allah Bapa dan Allah Putera serta Allah Roh Kudus adalah tiga pribadi yang berbeda namun mempunyai hakekat yang sama atau satu substansi dalam tiga pribadi. Bahwa yang mengutus adalah lebih besar dari yang diutus atau Allah Bapa - yang mengutus - adalah lebih besar dari yang diutus - Allah Putera - adalah benar dalam pengertian Allah Bapa lebih besar dari Allah Putera dalam kemanusiaan-Nya. Namun, Kitab Suci yang sama juga menunjukkan bahwa Allah Putera bukan hanya sekedar utusan, namun ditunjukkan bahwa Dia adalah Tuhan. Untuk lengkapnya, silakan membaca artikel ini - silakan klik.

2. Mat 4:10

Dituliskan: "Maka berkatalah Yesus kepadanya: "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!" Memang Yesus tidak mengatakan bahwa diri-Nya sendiri yang harus disembah. Namun, jangan lupa juga bahwa Yesus tidak menolak ketika rasul Tomas mengatakan "Ya Tuhanku dan Allahku!" (Yoh 20:28). Menurut anda, mengapa Yesus menerima perkataan Tomas dan tidak mengkoreksi Tomas? Kalau Yesus bukan Tuhan, maka sungguh tidak layak dia menerima penghormatan dan pengakuan iman ke-Allahan-Nya dari rasul yang dipilihnya? Mengapa kaum Farisi mengatakan "Ia menghujat Allah." (Mat 9:3)? Karena Yesus mengatakan di ayat sebelumnya "Percayalah, hai anak-Ku, dosamu sudah diampuni." (Mat 9:2). Mengapa Yesus tidak menjelaskan kepada kaum Farisi bahwa Diri-Nya bukan Allah kalau memang Yesus bukan Allah? Kalau Yesus bukan Allah, mengapa Dia dapat mengampuni dosa?

3. Yoh 8:17-18

Tertulis: "17 Dan dalam kitab Tauratmu ada tertulis, bahwa kesaksian dua orang adalah sah; 18  Akulah yang bersaksi tentang diri-Ku sendiri, dan juga Bapa, yang mengutus Aku, bersaksi tentang Aku." Saya terus terang tidak tahu pengertian anda tentang Trinitas, karena anda menyajikan ayat-ayat yang mendukung bahwa antara Allah Bapa dan Allah Putera adalah dua pribadi yang berbeda. Dan ini yang memang sebenarnya dipercayai oleh Gereja Katolik, bahwa Allah Bapa, Allah Putera, dan Allah Roh Kudus adalah tiga pribadi yang berbeda, namun mempunyai substansi atau hakekat (substance) yang sama. Jadi, dalam ayat yang anda berikan ini tidak ada pertentangan apapun.

4. Kol 1:15-16

"15 Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, 16  karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia." (Kol 1:15-16) Dari ayat ini anda beranggapan bahwa Kristus hanyalah makhluk ciptaan Allah dan merupakan bagian dari karya ciptaan.

Ayat ini juga digunakan oleh Arianisme. Kita dapat menjelaskan bahwa ayat-ayat ini berbicara tentang kesetaraan Allah Putera dengan Allah Bapa, di mana Allah Putera merupakan gambar Allah (Bapa). St. Thomas Aquinas mengatakan bahwa sesuatu disebut "gambar" adalah dalam dua cara. (lih. St. Thomas Aquinas, ST, I, q.35, a.2) Cara yang pertama adalah sesuatu menjadi "gambar" karena dia mempunyai kodrat yang sama, seperti gambar seorang raja ditemukan dalam diri anaknya. Cara yang kedua adalah, sesuatu menjadi "gambar" untuk menggambarkan ketidaksempurnaan, sama seperti manusia diciptakan menurut gambar Allah (lih. Kej 1:26), di mana manusia mempunyai karakter tertentu dari Allah, namun tidaklah sempurna. Inilah sebabnya dalam Kej 1:26 tidak digunakan kata "gambar" namun "menurut gambar". Sedangkan kalau kita lihat, di ayat Kol 1:15 dikatakan bahwa Kristus adalah gambar Allah yang tidak kelihatan. Dengan demikian, gambar di sini adalah dalam pengertian yang pertama, yang mempunyai kodrat yang sama dengan yang digambarkan. Hal ini juga didukung dengan apa yang dikatakan di dalam Kol 1:16, yang mengatakan bahwa segala sesuatu, baik yang di Sorga maupun yang di bumi, yang kelihatan maupun yang tak kelihatan, baik singasana, kerajaan, pemerintahan diciptakan oleh (by), di dalam (in), untuk (for). Siapakah yang dapat melakukan ini kalau bukan Tuhan? Bagaimana anda mengartikan Kol 1:17 "Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia."? Siapakah yang lebih dari segala sesuatu dan bagaimana menjelaskan bahwa segala sesuatu ada di dalam Dia?

5. Mrk 13:32

Tentang Mrk 13:32, anda dapat melihatnya dalam diskusi ini - silakan klik. Di ayat tersebut tidak disebutkan bahwa Roh Kudus tidak tahu. Kalau kita memberikan argumentasi bahwa Allah Putera tahu dari kodrat ke-Allahan-Nya, maka apakah yang menghalangi kita untuk mempercayai bahwa Roh Kudus, yang sungguh Allah atau pribadi ke-tiga dalam Trinitas juga tahu tentang hari dan saatnya? Alasan mengapa Roh Kudus tidak disebutkan di ayat tersebut, karena memang manifestasi Roh Kudus belum saatnya dinyatakan. Manifestasi Roh Kudus dinyatakan setelah pengorbanan Kristus telah selesai. Dan hal ini dinyatakan secara jelas, ketika Kristus sendiri memberikan amanat agung, yaitu "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus" (Mat 28:19). Sungguh menjadi sesuatu yang tidak masuk akal, kalau baptisan diberikan dalam nama yang tidak sejajar. Kristus memerintahkan bahwa baptisan harus dilaksanakan dalam tiga nama, yaitu Allah Bapa, Allah Putera, dan Allah Roh Kudus, karena memang ketiganya adalah tiga Pribadi yang berbeda namun mempunyai hakekat yang satu. Dan karena ketiga Pribadi ini adalah setara, satu hakekat, maka dapat disejajarkan. Menurut anda, apakah alasan Matius memberikan formula baptisan dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus? Apakah mungkin baptisan diberikan dalam Allah dan kemudian disandingkan dengna nama ciptaan?

6. Mat 20:20-23

Dikatakan "20 Maka datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. 21 Kata Yesus: "Apa yang kaukehendaki?" Jawabnya: "Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu." 22 Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya: "Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?" Kata mereka kepada-Nya: "Kami dapat." 23 Yesus berkata kepada mereka: "Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa Bapa-Ku telah menyediakannya.""

Kembali ini juga ayat yang digunakan oleh Arianisme, yang mencoba untuk membuktikan bahwa Yesus bukanlah Allah. Ayat tersebut tidak mempertentangkan bahwa apa yang dapat dilakukan Bapa tidak dapat dilakukan oleh Kristus - dalam ke-Allahan-Nya. Kita juga mengingat ayat yang lain "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi." (Mat 28:18). Mengapa segala kuasa telah diberikan kepada Yesus? Karena Kristus "6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, 7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. 8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib." (Fil 2:6-8) Karena Kristus adalah sungguh Allah, maka Dia memberikan perintah di ayat berikutnya, yaitu untuk membaptis dalam nama Allah, yaitu Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus. (lih. Mat 28:29)

7. Kesimpulan dan pertanyaan-pertanyaan lain

Saya telah mencoba menjawab ayat-ayat yang anda gunakan, yang juga digunakan oleh Arianisme yang mencoba membuktikan bahwa Yesus bukan Tuhan. Semua ayat-ayat yang anda berikan tentu saja benar dan saya mempercayainya. Namun, perbedaan di antara kita adalah cara menginterpretasikannya. Dengan demikian tidaklah semudah yang anda katakan "Kesimpulan yang sederhana bukan?? Menggunakan ayat” dari Alkitab untuk menjawab dan tidak memerlukan istilah” yang rumit sehingga orang menjadi bingung dengan istilah” yang digunakan. bukankah Yesus juga jaman dahulu menggunakan bahasa” yang sederhana untuk mengajar??" Di Kitab Suci yang sama, juga dikatakan "Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain." (2Pet 3:16)

Terlalu menyederhanakan ayat-ayat tersebut tanpa memperhatikan ayat-ayat yang lain dapat menghasilkan interpretasi yang salah dan menyimpang. Ayat-ayat yang anda berikan sering digunakan oleh Arius dan juga diikuti oleh Saksi-Saksi Yehuwa untuk membuktikan bahwa Yesus bukanlah Tuhan. Ayat-ayat yang anda berikan memang dapat menunjukkan bahwa Yesus mempunyai kodrat manusia. Dalam beberapa ayat yang anda berikan memang terlihat bahwa Allah Bapa seolah-olah lebih tinggi dari Yesus. Hal ini disebabkan karena Kristus "6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, 7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia." (Phil 2:6-7) Fakta bahwa Yesus masuk dalam sejarah manusia dan mengambil rupa manusia, sama seperti manusia kecuali dalam hal dosa, telah membuktikan bahwa Kristus adalah sungguh manusia. Dan Yesus yang sungguh manusia ini juga diakui oleh Gereja Katolik. Gereja Katolik tidak berhenti pada ayat-ayat yang anda berikan, namun, juga melihat ayat-ayat yang lain, yang juga menunjukkan ke-Allahan Kristus, seperti yang dapat kita lihat sebagai berikut:

a) Pertama-tama, ketika berusia 12 tahun dan Ia diketemukan di Bait Allah, Yesus mengatakan bahwa bait Allah adalah Rumah Bapa-Nya (lih. Luk 2:49). Dengan demikian, Yesus mengatakan bahwa Ia adalah Putera Allah.

b) Pernyataan ini ditegaskan kembali oleh Allah Bapa pada saat Pembaptisan Yesus, saat terdengar suara dari langit, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nya Aku berkenan.”(Luk 3:22).

c) Pada saat Yesus memulai pengajaranNya, terutama dalam Khotbah di Bukit (Delapan Sabda Bahagia), Ia berbicara di dalam nama-Nya sendiri, untuk menyatakan otoritas yang dimiliki-Nya (Mat 5:1-dst). Ini membuktikan bahwa Ia lebih tinggi dari Musa dan para nabi, sebab Musa berbicara dalam nama Tuhan (lih. Kel 19:7) ketika Ia memberikan hukum Sepuluh Perintah Allah; tetapi Yesus memberikan hukum dalam nama-Nya sendiri, “Aku berkata kepadamu….” Hal ini tertera sedikitnya 12 kali di dalam pengajaran Yesus di Mat 5 dan 6, dan dengan demikian Ia menegaskan DiriNya sebagai Pemberi Hukum Ilahi (the Divine Legislator) itu sendiri, yaitu Allah. Demikian pula dengan perkataan “Amen, amen…”, pada awal ajaranNya, Yesus menegaskan segala yang akan diucapkan-Nya sebagai perintah; bukan seperti orang biasa yang mengatakan ‘amen’ diakhir doanya sebagai tanda ‘setuju’.

d) Jadi dengan demikian Yesus menyatakan bahwa Ia adalah Taurat Allah yang hidup, suatu peran yang sangat tinggi dan ilahi, sehingga menjadi batu sandungan bagi orang-orang Yahudi untuk mempercayai Yesus sebagai Sang Mesias. Hal ini dipegang oleh banyak orang Yahudi yang diceriterakan dengan begitu indah dalam buku Jesus of Nazareth, yaitu dalam percakapan imajiner seorang Rabi Yahudi dengan Rabi Neusner, mengenai bagaimana mencapai kesempurnaan hidup. Kesempurnaan inilah yang dimaksudkan oleh Yesus ketika Ia berbicara dengan orang muda yang kaya, “Jika engkau mau sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan bagikanlah kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku” (Mat 19:21). “Aku” di sini hanya mungkin berarti Tuhan sendiri.

e) Yesus menyatakan DiriNya sebagai Seorang yang dinantikan oleh para Nabi sepanjang abad (lih. Mat 13:17). Ia juga berkata,“…supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, … sampai Zakharia… semuanya ini akan ditanggungkan pada angkatan ini!” (Mat 23:34-36). Secara tidak langsung Ia mengatakan bahwa darah-Nya yang akan tertumpah dalam beberapa hari berikutnya merupakan rangkuman dari penumpahan darah orang yang tidak bersalah sepanjang segala abad.

f) Yesus sebagai Tuhan juga terlihat dengan jelas dari segala mukjizat yang dilakukan dalam nama-Nya sendiri, yang menunjukkan bahwa kebesaran-Nya mengatasi segala sesuatu. Yesus menghentikan badai (Mat 8: 26; Mrk 4:39-41) menyembuhkan penyakit (Mat 8:1-16), mengusir setan (Mat 8:28-34), mengampuni dosa (Luk5:24; 7:48), dan membangkitkan orang mati (Luk 7:14; Yoh 11:39-44). Di atas semuanya itu, mukjizat-Nya yang terbesar adalah: Kebangkitan-Nya sendiri dari mati (Mat 28:9-10; Luk 24:5-7,34,36; Mrk 16:9; Yoh 20:11-29; 21:1-19).

g) Pada saat Ia menyembuhkan orang yang lumpuh, Yesus menyatakan bahwa Ia memiliki kuasa untuk mengampuni dosa (Mat 9:2-8; Luk5:24), sehingga dengan demikian Ia menyatakan DiriNya sebagai Tuhan sebab hanya Tuhan yang dapat mengampuni dosa.

h) Pada beberapa kesempatan, Yesus menyembuhkan para orang sakit pada hari Sabat, yang menimbulkan kedengkian orang-orang Yahudi. Namun dengan demikian, Yesus bermaksud untuk menyatakan bahwa Ia adalah lebih tinggi daripada hari Sabat (lih. Mat 12:8; Mrk 3:1-6).

i) Yesus juga menyatakan Diri-Nya lebih tinggi dari nabi Yunus, Raja Salomo dan Bait Allah (lih. Mt 12:41-42; 12:6). Ini hanya dapat berarti bahwa Yesus adalah Allah, kepada siapa hari Sabat diadakan, dan untuk siapa Bait Allah dibangun.

j) Yesus menyatakan Diri-Nya sebagai Tuhan, dengan berkata “Aku adalah… (I am)” yang mengacu pada perkataan Allah kepada nabi Musa pada semak yang berapi, “Aku adalah Aku, I am who I am” (lih. Kel 3:14):

Pada Injil Yohanes, Yesus mengatakan “Aku adalah….” sebanyak tujuh kali: Yesus menyatakan Dirinya sebagai Roti Hidup yang turun dari Surga (Yoh 6:35), Terang Dunia (Yoh 8:12), Pintu yang melaluinya orang diselamatkan (Yoh 10:9), Gembala yang Baik yang menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya (Yoh 10:10), Kebangkitan dan Hidup (Yoh 11:25), Jalan, Kebenaran, dan Hidup (Yoh 14:6), Pokok Anggur yang benar (Yoh 15:1).

Yesus menyatakan diri-Nya sebagai sumber air hidup yang akan menjadi mata air di dalam diri manusia, yang terus memancar sampai ke hidup yang kekal (Yoh 4:14). Dengan demikian Yesus menyatakan diri-Nya sebagai sumber rahmat; hal ini tidak mungkin jika Yesus bukan Tuhan, sebab manusia biasa tidak mungkin dapat menyatakan diri sebagai sumber rahmat bagi semua orang.

Yesus menyatakan, “Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14:6); dan dengan demikian Ia menempatkan diri sebagai Pengantara yang mutlak bagi seseorang untuk sampai kepada Allah Bapa.

Ia menyatakan bahwa “… kamu akan mati dalam dosamu… jika kamu tidak percaya bahwa Akulah Dia” (Yoh 8:24) yang datang dari Bapa di surga (lih. Yoh 21-29).

Yesus mengatakan, “Aku ini (It is I)…”, pada saat Ia berjalan di atas air (Yoh 6:20) dan meredakan badai.

Yesus mengatakan, “Akulah Dia,” pada saat Ia ditangkap di Getsemani.

Ketika Yesus diadili di hadapan orang Farisi, dan mereka mempertanyakan apakah Ia adalah Mesias Putera Allah, Yesus mengatakan, “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah.”

Mungkin yang paling jelas adalah pada saat Yesus menyatakan keberadaan DiriNya sebelum Abraham, “…sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” (Yoh 8:58)

Dengan demikian, Yesus menyatakan DiriNya sudah ada sebelum segala sesuatunya dijadikan. Dan ini hanya mungkin jika Yesus sungguh-sungguh Tuhan. Mengenai keberadaan Yesus sejak awal mula dunia dinyatakan oleh Yesus sendiri di dalam doa-Nya sebelum sengsara-Nya, “Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.” (Yoh 17:5)

k) Dengan keberadaan Yesus yang mengatasi segala sesuatu, dan atas semua manusia, maka Ia mensyaratkan kesetiaan agar diberikan kepadaNya dari semua orang. “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat 10:37). Ia kemudian berkata bahwa apa yang kita lakukan terhadap saudara kita yang paling hina, itu kita lakukan terhadap Dia (lih. 25:40). Ini hanya dapat terjadi kalau Yesus adalah Tuhan yang mengatasi semua orang, sehingga Dia dapat hadir di dalam diri setiap orang, dan Ia layak dihormati di atas semua orang, bahkan di atas orang tua kita sendiri.

l) Yesus menghendaki kita percaya kepada-Nya seperti kita percaya kepada Allah (lih. Yoh 14:1), dan Ia menjanjikan tempat di surga bagi kita yang percaya. Dengan demikian Ia menyatakan diriNya sebagai yang setara dengan Allah Bapa, “Siapa yang melihat Aku, melihat Bapa, (Yoh 14:9), Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa (Yoh 10:38). Tidak ada seorangpun yang mengenal Anak selain Bapa, dan mengenal Bapa selain Anak (lih. Mat 11:27). Yesus juga menyatakan DiriNya di dalam kesatuan dengan Allah Bapa saat mendoakan para muridNya dan semua orang percaya, ”… agar mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau…” (Yoh 17:21). Ini hanya mungkin jika Ia sungguh-sungguh Tuhan. Pernyataan Yesus ini berbeda dengan para pemimpin agama lain, seperti Muhammad dan Buddha, sebab mereka tidak pernah menyatakan diri mereka sendiri sebagai Tuhan.

m) Ketika Yesus menampakkan diri kepada para murid setelah kebangkitan-Nya, Thomas, Rasul yang awalnya tidak percaya menyaksikan sendiri bahwa Yesus sungguh hidup dan ia berkata, “Ya Tuhanku dan Allahku”. Mendengar hal ini, Yesus tidak menyanggahnya (ini menunjukkan bahwa Ia sungguh Allah), melainkan Ia menegaskan pernyataan ini dengan seruanNya agar kita percaya kepadaNya meskipun kita tidak melihat Dia (Yoh 20: 28-29).

n) Yesus menyatakan Diri sebagai Tuhan, dengan menyatakan diriNya sebagai Anak Manusia, yang akan menghakimi semua manusia pada akhir jaman (lih. Mat 24:30-31), sebab segala kuasa di Surga dan di dunia telah diberikan kepada-Nya, seperti yang dikatakanNya sebelum Ia naik ke surga, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus…” (Mat 28:18). Dengan demikian, Yesus menyatakan diriNya sebagai Pribadi Kedua di dalam Allah Tritunggal Maha Kudus, dan dengan kuasaNya sebagai Allah ini maka ia akan menghakimi semua manusia di akhir dunia nanti, seperti yang dinubuatkan oleh nabi Daniel (Dan 7:13-14). Yesus tidak mungkin membuat pernyataan sedemikian, jika Ia bukan sungguh-sungguh Tuhan.

Jadi, saya mengundang anda untuk memberikan jawaban dari beberapa pertanyaan yang saya beri warna (merah) dan silakan memberikan penjelasan terhadap ayat-ayat di atas di point 7 (kesimpulan). Saya hanya berharap bahwa anda juga dapat melihat bahwa di samping ayat-ayat yang membuktikan kemanusiaan Yesus, ada juga ayat-ayat di dalam Alkitab yang membuktikan ke-Allahan Yesus. Kita seharusnya mengambil semua ayat-ayat tersebut sebagai satu paket, sehingga kita dapat mempercayai Kristus yang sungguh manusia dan sungguh Allah. Dan satu hal yang harus direnungkan, kalau anda memang anggota saksi-saksi Yehuwa, apakah anda mempercayai semua yang diajarkan oleh Saksi Yehuwa? Silakan membaca artikel tentang Saksi Yehuwa di atas - silakan klik dan kalau anda tidak setuju akan artikel yang saya berikan, silakan memberikan argumentasi. Saya juga pernah memberikan tulisan yang menyanggah apa yang ditulis oleh traktat dari Saksi Yehuwa tentang Trinitas di sini - silakan klik. Kembali, saya mengundang anda untuk membaca dua link tersebut dan kemudian anda dapat memberikan tanggapan. Semoga diskusi ini dapat berguna bagi kita dan pembaca katolisitas.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef - katolisitas.org

Share.

About Author

Stefanus Tay telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

50 Comments

  1. dear katolisitas .
    Mohon dibantu menjawabnya , saya mendapat pertanyaan dari umat muslim seperti ini
    1. periksa di “Kitab Raja-raja yang kedua” pasal 13 ayat 21.

    disini ada menyebutkan: “Maka sekali peristiwa apabila dikuburkannya seorang Anu, tiba-tiba terlihat mereka itu suatu pasukan lalu dicampakkannya orang mati itu kedalam kubur Elisa, maka baru orang mati itu dimasukkan ke dalamnya dan kena mayat Elisa itu, maka hiduplah orang itu pula, lalu bangun berdiri.”

    Disini menyebutkan malah tulang-tulang Elisa dapat menghidupkan orang mati. Jadi bukan Yesus saja dapat menghidupkan orang mati bahkan tulang-tulang Elisa dapat menghidupkan orang mati. Yang berarti tulang-tulang Elisa adalah tulang-tulang ketuhanan. Kalau Yesus di waktu hidupnya dapat menghidupkan orang mati, akan tetapi Elisa di waktu tak bernyawa, malah hanya dengan tulang-tulangnya, yang di dalam kubur dapat menghidupkan orang mati. Kalau perbuatan Yesus dikatakan ajaib maka Elisa lebih ajaib dari pada Yesus. Jadi seharusnya Ilyaspun dianggap Tuhan juga.
    2Periksa lagi di “Kitab Raja-Raja yang pertama,” pasal 17 ayat 22.
    apakah elisa pun bisa disebut tuhan?

    berkah dalem
    agustinus

    • Shalom Agustinus,

      Sebenarnya argumentasi yang diberikan teman dialog Anda tidaklah kuat, karena pembuktian Kristus sebagai Tuhan bukanlah hanya karena mukjizat membangkitkan orang mati, namun merupakan rangkaian argumentasi, seperti: mukjizat yang dilakukannya, Dia telah dinubuatkan terlebih dahulu, Dia memberikan hukum dalam nama-Nya sendiri serta dapat mengampuni dosa dalam nama-Nya. Silakan membaca beberapa artikel tentang kristologi di situs ini – silakan klik. Silakan bertanya kepada rekan Anda, adalah nabi yang dapat mengampuni dosa dalam namanya sendiri? Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  2. shalom aleichem,
    saya sungguh tidak mengerti kadang, Yesus dgn jelas berkata Hai orang israel Tuhan kita adalah Allah yang esa, dan nikodemus sang pengajar israel mengakui bahwa muzizat yg dilakukan Yesus karna Tuhan ikut menyertai, berkali kali Yesus mengajar bahkan dengan lantang berbicara kasihilah Tuhan Allah mu… hanya kepada Dia kamu menyembah bahkan Yesus juga bilang seorang hamba tidak lebih dari pada tuannya, dan Bapa lebih besar dari pada aku(yesus), tapi yang terjadi bapa2 gerejawi malah salah tafsir sendiri mereka membuat koncili nicea utk mempertuhankan yesus, sungguh ironis gereja yang menganut monoteisme di bantai habis2an bahkan mereka dibilang bidat atau sesat karena mereka tidak sepaham dengan gereja barat, mereka membuat keputusan sangat tidak alkitabiah, karena itu saya kecewa dgn bapa2 gerejawi, jika perintah Yeshua mengatakan kasihilah Tuhan Allahmu ya seperti itulah yg kita kerjakan, bapa2 gerejawi itu manusia biasa dan sangat mungkin salah dalam pemikiran2nya.

    • Shalom Simon,

      Anda berpandangan demikian, sebab Anda tidak melihat bahwa para Bapa Gereja itulah yang menentukan Kitab Suci. Kitab Suci tidak terbentuk dengan sendirinya, namun Gereja melalui para Bapa Gereja, itulah yang menentukan kitab-kitab apa saja yang ditulis atas inspirasi Roh Kudus, dan kitab-kitab itulah yang kemudian menjadi Kitab Suci sebagaimana yang kita ketahui sekarang. Maka Roh Kudus yang mengilhami para Bapa Gereja dalam menentukan Kitab Suci adalah Roh Kudus yang sama yang membimbing mereka dalam menginterpretasikan Kitab Suci. Para Bapa Gereja itu adalah para penerus Rasul, dan mereka hidup lebih dekat dengan zaman Kristus dan para Rasul, sehingga ajaran merekalah yang lebih akurat, ketimbang interpretasi sejumlah orang modern (yang terpisah belasan bahkan puluhan abad dengan zaman para rasul) dalam menginterpretasikan Kitab Suci. Sebab orang-orang modern cenderung menginterpretasikan suatu ayat tanpa melihat kaitannya dengan ayat-ayat yang lain, atau memilih ayat-ayat tertentu saja yang sesuai dengan prakonsepsinya tentang Yesus. Sedangkan para Bapa Gereja, mengartikan suatu ayat dalam Kitab Suci dengan keseluruhan ayat dalam Kitab Suci dan dengan pengajaran yang mereka terima dari para Rasul.

      Para Bapa Gereja itu tidak mempertentangkan monotheisme dengan ajaran tentang Allah Trinitas. Sebab memang dari dulu sampai sekarang dan untuk selama-lamanya, Gereja mengajarkan monotheisme, yaitu hanya ada satu Tuhan. Namun berdasarkan wahyu Allah sendiri, Allah yang satu itu menyatakan diri-Nya dalam tiga Pribadi. Hal ini dinyatakan dalam diri Kristus, dan tercatat dalam Kitab Suci. Bahwa ada ayat-ayat dalam Kitab Suci yang mengatakan bahwa Kristus memanggil Bapa-Nya dengan sebutan Allah, atau mengajarkan bahwa Allah adalah esa, itu tidak menihilkan fakta bahwa Kristus adalah Putera Allah, sebab di ayat-ayat lainnya Yesus menyatakan kesatuan-Nya dengan Bapa dan bahwa yang melihat Dia, melihat Bapa. Maka, mari jangan mengandalkan pemahaman hanya dari ayat-ayat yang tertentu saja. Kita harus dengan lapang hati menerima, bahwa oleh karena Putera Allah itu juga adalah sungguh manusia, maka ada banyak ayat dalam Kitab Suci yang terkait dengan kodrat-Nya sebagai manusia, namun juga banyak ayat dalam Kitab Suci yang terkait dengan kodrat-Nya sebagai Allah.

      Jadi Anda keliru jika menganggap bahwa baru pada Konsili Nicea, Yesus dianggap sebagai Tuhan. Ini adalah kesalahpahaman yang umum dari kalangan non- Kristen. Faktanya adalah hal ke-Tuhanan Yesus sudah diajarkan oleh para rasul dan diteruskan oleh para Bapa Gereja di abad-abad awal sebelum Konsili Nicea. Lagipula Konsili Nicea itu dihadiri oleh mayoritas uskup dari Gereja Timur, sehingga tidak tepat jika dikatakan bahwa apa yang ditetapkan di sana adalah ajaran Gereja Barat. Ajaran Konsili Nicea itu adalah ajaran seluruh Gereja, baik Timur maupun Barat. Jika Anda tertarik dengan topik ini, dan ingin mengetahui mengapa Gereja mengajarkan bahwa, dalam penjelmaan-Nya sebagai manusia, Yesus itu tetap adalah Tuhan, silakan untuk selanjutnya membaca artikel-artikel berikut ini:

      Di ayat-ayat  manakah dalam Kitab Suci, Yesus disebut sebagai Allah (God)?
      Ajaran Bapa Gereja sebelum abad ke-4 tentang Trinitas
      Allah Trinitas: Satu Tuhan dengan Tiga Pribadi
      Aku percaya akan Yesus Kristus, Putera Allah yang Tunggal
      Yesus sungguh Allah sungguh manusia
      Kristus yang kita imani =Yesus menurut sejarah
      Mengapa orang Kristen percaya bahwa Yesus itu Tuhan
      The Tome of Leo
      Yesus, Tuhan yang dinubuatkan oleh para nabi

      Dan sehubungan dengan Konsili Nicea, silakan membaca artikel-artikel berikut:

      Tentang ajaran sesat Arianism
      Apa yang terjadi di Konsili Nicea (325)?

      Jika Anda adalah Kristen non- Katolik, namun mempunyai pandangan yang berbeda dengan kami umat Katolik dan bahkan dari mayoritas umat Kristen non- Katolik lainnya, nampaknya itu adalah karena buah dari doktrin Sola Scriptura (Kitab Suci saja), yaitu prinsip yang menyerahkan interpretasi Kitab Suci kepada pandangan pribadi (walaupun dengan mengklaim memperoleh tuntunan Roh Kudus). Tentang Sola Scriptura, dan mengapa itu tidak cukup, kami sudah pernah mengulasnya di sini, silakan klik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  3. Shalom bagi saudara-saudara yang menuju kebenaran,
    Saya mempertanyakan Logika Ke-Allahan Yesus Kristus dalam pembukaan di atas:
    Seorang ayah memiliki seorang anak, kekuasaan sang ayah pasti lebih besar ketimbang kekuasaan sang anak, wajar jika seorang anak meminta tolong kepada ayahnya. Tapi apakah mereka satu?? Ya.. mereka satu, satu DNA, satu GARIS KETURUNAN, satu TEMPAT TINGGAL tetapi mereka berbeda pribadi bukan??

    Jawaban menurut pemikiran biasa saja menolak konklusi di atas anak dan bapak tentu saja mempunyai DNA yang tidak sama karena DNA anak sebagian dari DNA ibu dan sebagian dari DNA bapak, garis keturunan juga beda garis keturunan bapak pasti berbeda dari garis keturunan ibu, satu tempat tinggal juga tidak bisa diterima karena anak bisa saja tinggal di rumah neneknya atau orang lain mis: panti asuhan. Jadi dari mana kesamaannya.

    Menurut logika ada istilah “identik” dan “sama” sesuatu yang sama tidak berarti identik karena tidak ada sesuatu pun yang identik.

    Tapi kalau yang dimaksud adalah Yesus memiliki sifat ke-Allahan masig bisa diterima tapi itu tidak berati Yesus adalah (sama dengan or identik dengan) Allah, seperti seorang anak pasti memiliki sifat bapaknya tetapi tidak berarti anak itu adalah (sama dengan or identik dengan)bapaknya. Dan jangan lupa semua makhluk pasti memiliki sifat ke-Allahan dengan intensitas yang berbeda.

    dari katolisitas: Apakah Anda ingin benar-benar mencoba mengerti apanya yang sama dan apanya yang berbeda antara Allah Putera dan Allah Bapa? Silakan membaca perbedaan antara “pribadi” dan “hakekat” di sini – silakan klik. Kalau Anda ingin menggali lagi lebih dalam, silakan membaca terlebih dahulu beberapa artikel ini:

    Iman Katolik bersumber pada Allah Tritunggal yang dinyatakan dalam doa syahadat bagian Aku Percaya akan Allah Bapa yang Maha Kuasa dan berpusat pada Kristus, Allah yang menjelma menjadi manusia untuk menyelamatkan kita. Inkarnasi, Allah menjadi manusia, adalah perbuatan Tuhan yang terbesar, yang menunjukkan segala kesempurnaanNya: KebesaranNya, namun juga KasihNya yang menyertai kita. Penjelmaan Allah ini telah dinubuatkan oleh para nabi. Yesus Kristus yang kita imani sekarang adalah sungguh Yesus Tuhan yang ber-inkarnasi dan masuk ke dalam sejarah manusia, karena Yesus sungguh Allah dan sungguh manusia. Semuanya itu menunjukkan kesempurnaan rancangan keselamatan Allah.

  4. Shalom Katolisitas,
    Sampai detik ini saya percaya bahwa Yesus itu adalah Allah Pencipta yang Maha Kuasa.
    Yang ingin saya tanyakan adalah{mohon maaf pertanyaan saya ini sangat naif}
    a.Adakah manusia biasa yang bisa mencelikkan mata orang buta dengan cara instan atas kuasa sendiri tanpa berdoa kepada Tuhan Allah dan tanpa Nama Yesus”? Saya pernah menonton tv yg menayangkan pengobatan mata di India dengan menggunakan pasir secara instan
    b.Adakah manusia biasa yang bisa menyembuhkan bisu tuli secara instan tanpa berdoa kepada Tuhan dan tanpa nama Yesus?
    c.Adakah manusia biasa yang menyembuhkan kelumpuhan secara instan tanpa berdoa kepada Tuhan dan tanpa nama Yesus?
    bdk.Yes 35 ayat 4b sampai 6
    d.Adakah manusia biasa yang bisa membangkitkan orang mati secara instan tanpa berdoa kepada Allah dan tanpa nama Yesus?
    e.Adakah manusia biasa yang bisa bangkit dari kematiannya sendiri? saya pernah menonton film2 horor dimana orang bangkit dari kubur sering jadi adegan2 yg sering muncul secara universal di seluruh dunia
    Mohon team katolisitas memberikan jawaban secara jujur dengan mencari sumber2 yg terpercaya{media massa,internet,literatur2,kesaksian hidup,dll}.Kita harus sepakat bahwa kebenaran lebih penting daripada agama.
    Saya mendasarkan iman saya bahwa Yesus adalah Allah karena Yesus dpt mencelikkan mata orang buta,menyembuhkan orang bisu tuli,menyembuhkan orang lumpuh,membangkitkan orang mati tanpa berdoa dahulu kepada Allah
    secara instan,bahkan Yesus bangkit dengan kuasaNya sendiri.Jika ada manusia biasa yang dapat melakukan hal2 tsb di atas,sebenarnya apakah lebihnya Yesus? Tetapi bila ternyata jawabannya sungguh2 tidak ada manusia biasa yg mampu melakukan hal2 tsb di atas,maka saya satu trilyun persen yakin bahwa Yesus adalah sungguh2 Allah yang menjelma menjadi manusia.Secara jujur saya akui bahwa pondasi iman saya masih berupa pasir bukan batu sehingga mudah goyah.
    Atas jawabannya,saya ucapkan banyak terima kasih.

    • Shalom Tarsisius,

      Terima kasih atas pertanyaannya. Berikut ini adalah jawaban singkat yang dapat saya berikan.

      a. Silakan saja dunia medis yang membuktikan apakah mukjizat yang Anda sebutkan sungguh-sungguh terjadi dan dapat dibuktikan secara ilmu pengetahuan. Sebagai perbandingan, apa yang telah dinyatakan sebagai mukjizat di Lourdes harus disertai dengan bukti-bukti otentik medis sebelum terjadinya mukjizat dan dibandingkan dengan bukti medis setelah mukjizat dan juga disertai dengan bukti medis beberapa tahun setelah terjadinya mukjizat tersebut sehingga terbukti apakah secara medis sungguh telah terjadi penyembuhan yang tidak dapat diterangkan secara medis. Anggota tim medis juga bukan hanya anggota Gereja Katolik, namun juga dari non-Katolik.

      b. Sejauh Tuhan memandang baik dan atas seizin Tuhan, maka tentu saja mukjizat dapat saja terjadi. Namun, tentu saja tidak menutup kemungkinan juga bahwa mukjizat juga dapat dibuat oleh yang jahat. Bagaimana membedakan keduanya? Kita melihat dari buah-buah pertobatan.

      c. Yesaya 35 adalah menjadi gambaran bahwa Tuhan sendiri akan datang di tengah-tengah umat-Nya. Itu adalah salah satu nubuat bahwa Putera Allah datang mengunjungi umat-Nya.

      d. Saya tidak tahu apakah ada orang yang membangkitkan orang mati tidak dalam nama Tuhan atau Yesus. Dalam sejarah Santa-santo, kita juga dapat melihat bahwa santa-santo dipakai Tuhan untuk menyembuhkan orang sakit dan bahkan membangkitkan orang mati.

      e. Terus terang, saya juga tidak tahu apakah ada orang yang bangkit dari kematiannya sendiri dalam dunia nyata.

      Akhirnya, saya ingin memberikan penekanan, bahwa mukjizat yang dilakukan Yesus hanyalah salah satu bukti yang dapat langsung terlihat bahwa Dia adalah Allah yang telah dinubuatkan oleh para nabi. Namun, ke-Allahan-Nya tidak saja dilihat dari kemampuannya menyembuhkan banyak orang sakit, namun terlebih adalah Dia mengampuni dosa dalam nama-Nya sendiri dan memberikan hukum dalam nama-Nya sendiri – yang menyatakan bahwa Dia adalah Sang Pemberi Hukum. Dan kebangkitan-Nya yang disaksikan oleh begitu banyak orang dan diimani oleh jemaat perdana, juga menambahkan bukti bahwa Yesus adalah sungguh Allah. Bahkan kebangkitan-Nya telah dinubuatkan sendiri oleh Kristus. Jadi, sesungguhnya iman kita mempunyai dasar yang kuat. Dan semoga kita tetap teguh dalam iman kita, iman yang sama yang diajarkan oleh Kristus, diteruskan oleh para rasul, diterapkan oleh jemaat perdana dan diteruskan oleh Gereja dari satu generasi ke generasi yang lain.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org