Keluarga Kristiani sebagai Ecclesia domestica

16

[Dari Katolisitas: pertanyaan ini dipindahkan dari topik artikel Perkawinan Katolik vs Perkawinan dunia, karena menunjuk ke topik khusus, Ecclesia domestica ]

Pertanyaan:

Dear Stef dan Inggrid serta tim Katolisitas,

Suatu ulasan yang luar biasa tentang moral dan spiritualitas perkawinan; saya kira sangat berguna bagi hidup perkawinan dari keluarga-keluarga katolik dalam membangun hidup perkawinana kristiani yang harmonis yang dilandasi dengan cinta perkawinan (cinta suami-istri).

Saya melihat di forum katolisitas.org sudah banyak ulasan dan tanya jawab tentang masalah-masalah perkawinan : hukum, moral dan spritualitas perkawinan. Namun sedikit tentang keluarga. Bagaimana hidup keluarga katolik (kristiani) itu dibangun, masih sedikit (kalaupun ada hanya disinggung sekilas). Padahal sangat penting ulasan tentang keluarga kristiani; apalagi Vatikan II dalam LG no 11 telah menegaskan Keluarga sebagai Ecclesia Domestica (Gereja rumah tangga) dan penjelasan lebih lanjut oleh Puas Yohanes Paulus II dalam  "Familiaris Consortio", sehingga beliau digelari sebagai "Paus Keluarga". Kalau dalam Gereja ada tempat kudus yang membawa/mengantar anggotanya kepada kekudusan, dalam keluarga sebagai 'ecclesia domestica' tempat kudus itu apa ya? (tentu saja tempat bukan hanya dalam arti fisik). atau kalau dikatakan "keluarga harus menjadi tempat kudus dalam Gereja rumah tangga", apa persisnya??

Terima kasih dan salam.

Phiner

Jawaban:

Shalom Phiner,

Makna keluarga sebagai Ecclesia Domestica (Gereja rumah tangga) dijelaskan dalam Katekismus sebagai berikut:

1. Keluarga- keluarga Kristiani merupakan pusat iman yang hidup, tempat pertama iman akan Kristus diwartakan dan sekolah pertama tentang doa, kebajikan- kebajikan dan cinta kasih Kristen.

KGK 1656             …..keluarga-keluarga Kristen itu sangat penting sebagai pusat suatu iman yang hidup dan meyakinkan. Karena itu Konsili Vatikan II menamakan keluarga menurut sebuah ungkapan tua "Ecclesia domestica" [Gereja-rumah tangga] (Lumen Gentium 11, Bdk. Familiaris Consortio 21). Dalam pangkuan keluarga "hendaknya orang-tua dengan perkataan maupun teladan menjadi pewarta iman pertama bagi anak-anak mereka; orang-tua wajib memelihara panggilan mereka masing-masing, secara istimewa panggilan rohani" (LG 11, 2).

KGK 1666             Keluarga Kristen adalah tempat anak-anak menerima pewartaan pertama mengenai iman. Karena itu tepat sekali ia dinamakan "Gereja-rumah tangga" - satu persekutuan rahmat dan doa, satu sekolah untuk membina kebajikan-kebajikan manusia dan cinta kasih Kristen.

KGK 2685             Keluarga Kristen adalah tempat pendidikan doa yang pertama. Atas dasar Sakramen Perkawinan, keluarga adalah "Gereja rumah tangga", di mana anak-anak Allah berdoa "sebagai Gereja" dan belajar bertekun dalam doa. Teristimewa untuk anak-anak kecil, doa sehari-hari dalam keluarga adalah kesaksian pertama untuk ingatan Gereja yang hidup, yang dibangkitkan dengan penuh kesabaran oleh Roh Kudus.

2. Keluarga Kristiani merupakan tempat dilaksanakannya misi imamat bersama yang diterima melalui Pembaptisan, yaitu dengan menyambut sakraman- sakramen, berdoa dan menerapkan kasih.

KGK 1657             Disini dilaksanakan imamat yang diterima melalui Pembaptisan, yaitu imamat bapa keluarga, ibu, anak-anak, semua anggota keluarga atas cara yang paling indah "dalam menyambut Sakramen-sakramen, dalam berdoa dan bersyukur, dengan memberi kesaksian hidup suci, dengan pengingkaran diri serta cinta kasih yang aktif" (LG 10). Dengan demikian keluarga adalah sekolah kehidupan Kristen yang pertama dan "suatu pendidikan untuk memperkaya kemanusiaan" (GS 52,1). Di sini orang belajar ketabahan dan kegembiraan dalam pekerjaan, cinta saudara sekandung, pengampunan dengan jiwa besar, malahan berkali-kali dan terutama pengabdian kepada Allah dalam doa dan dalam penyerahan hidup.

3. Keluarga Kristiani merupakan presentasi dan pelaksanaan persekutuan Gereja, yaitu persekutuan iman, harapan dan kasih.

KGK 2204             Keluarga Kristen adalah satu penampilan dan pelaksanaan khusus dari persekutuan Gereja. Karena itu, ia dapat dan harus dinamakan juga "Gereja rumah tangga" (FC 21, Bdk. LG 11). Ia adalah persekutuan iman, harapan, dan kasih; seperti yang telah dicantumkan di dalam Perjanjian Baru (Bdk. Ef 5:21 - 6:4; Kol 3:18-21; 1 Ptr 3:1-7), ia memainkan peranan khusus di dalam Gereja.

Keluarga sebagai Gereja kecil (Ecclesia domestica) dengan cara tertentu dan dengan caranya sendiri menjadi gambaran yang hidup dan penampilan historis dari misteri Gereja (lih. Familiaris Consortio 49)

4. Keluarga Kristiani adalah persekutuan antar anggota- anggotanya, yang menjadi tanda dan gambaran persekutuan Allah Trinitas.

KGK 2205             Keluarga Kristen adalah persekutuan pribadi-pribadi, satu tanda dan citra persekutuan Bapa dan Putera dalam Roh Kudus. Di dalam kelahiran dan pendidikan anak-anak tercerminlah kembali karya penciptaan Bapa. Keluarga dipanggil, supaya mengambil bagian dalam doa dan kurban Kristus. Doa harian dan bacaan Kitab Suci meneguhkan mereka dalam cinta kasih…..

5. Seperti halnya Gereja, keluarga- keluarga Kristiani mempunyai tugas mewartakan dan menyebarluaskan Injil.

KGK 2205             Keluarga Kristen mempunyai suatu tugas mewartakan dan menyebarluaskan Injil.

Dengan demikian, keluarga sebagai Ecclesia domestica merupakan tempat yang kudus, karena di dalam keluarga Allah sendiri hadir di tengah umat-Nya. Secara khusus dalam doa keluarga digenapilah Sabda Tuhan yang mengajarkan bahwa jika dua atau tiga orang yang bersekutu di dalam nama-Nya, Tuhan hadir (lih. Mat 18:20). “Tempat yang kudus” dalam keluarga tidak untuk diartikan secara jasmani, di mana keluarga menyediakan tempat khusus untuk berdoa; tetapi juga tempat kudus rohani, di mana keluarga bersama-sama menerapkan iman, pengharapan dan kasih yang melibatkan pengorbanan dan pemberian diri seturut teladan Kristus (lih. Familiaris Consortio 49). Dengan menerapkan kasih dan pengorbanan, setiap anggota keluarga mengambil bagian dalam kurban Kristus bagi pengudusan umat manusia dan turut mengambil bagian dalam tugas Gereja menjadi sarana keselamatan (lih. Lumen Gentium 1).

Selanjutnya Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) menjabarkan dengan lebih jelas pengertian keluarga sebagai Ecclesia Domestica. Berikut ini adalah kutipan yang diambil dari buku Pedoman Pastoral Keluarga, KWI, (Jakarta: Obor Jan 2011), hl. 15-18, demikian:

Keluarga adalah Gereja Rumah Tangga (Ecclesia Domestica)

17. Berkat Sakramen Baptis, suami istri dan anak menerima dan memiliki tiga martabat Kristus, yakni martabat kenabian, imamat, dan rajawi. Dengan martabat kenabian mereka mempunyai tugas mewartakan Injil; dengan martabat imamat, mereka mempunyai tugas menguduskan hidup, terutama dengan menghayati sakramen- sakramen dan hidup doa; dan dengan martabat rajawi, mereka mempunyai tugas untuk melayani sesama.

Berkat sakramen Baptis pula, mereka menjadi anggota dan ikut membangun Gereja. Keluarga bukan hanya merupakan sebuah komunitas basis manusiawi belaka, melainkan juga komunitas basis gerejawi yang mengambil bagian dalam karya penyelamatan Allah. Hidup berkeluarga ini menampakkan hidup Gereja sebagai suatu persekutuan (Koinonia) dalam bentuk yang paling kecil namun mendasar, yang merayakan iman melalui doa peribadatan (Leiturgia), mewujudkan pelayanan (Diakonia) melalui pekerjaan, dan memberi kesaksian (Martyria) dalam pergaulan; semuanya itu menjadi sarana penginjilan (Kerygma) yang baru.

Maka keluarga adalah sungguh- sungguh Gereja rumah tangga karena mengambil bagian dalam lima tugas Gereja seperti berikut ini:

a. Persekutuan (Koinonia)
Keluarga adalah 'persekutuan seluruh hidup' (consortium totius vitae) antara seorang laki- laki dan seorang perempuan berlandaskan perjanjian antara kedua belah pihak dan diteguhkan melalui kesepakatan perkawinan. Persekutuan antara mereka berdua diperluas dengan  kehadiran anak- anak dan keluarga besar. Ciri pokok dari persekutuan  tersebut adalah hidup bersama berdasarkan iman dan cinta kasih serta kesediaan untuk saling mengembangkan pribadi satu sama lain. Persekutuan dalam keluarga diwujudkan dengan menciptakan saat- saat bersama, doa bersama, kesetiaan dalam suka dan duka, untung dan malang, ketika sehat dan sakit.

b. Liturgi (Leiturgia)
Kepenuhan hidup Katolik tercapai dalam sakramen- sakramen dan hidup doa. Melalui sakramen- sakramen dan hidup doa, keluarga bertemu dan berdialog dengan Allah. Dengannya mereka dikuduskan dan menguduskan jemaat gerejawi serta dunia. Relasi antara Kristus dengan Gereja terwujud nyata dalam Sakramen Perkawinan, yang menjadi dasar panggilan dan tugas perutusan suami- istri. Suami- istri mempunyai tanggung jawab membangun kesejahteraan rohani dan jasmani keluarganya, dengan doa dan karya. Doa keluarga yang dilakukan setiap hari dengan setia dakan memberi kekuatan iman dalam hidup mereka, terutama ketika mereka sedang menghadapi dan mengalami persoalan sulit dan berat, dan membuahkan berkat rohani, yaitu relasi yang mesra dengan Allah.

c. Pewartaan Injil (Kerygma)
Karena keluarga merupakan Gereja Rumah tangga, keluarga mengambil bagian dalam tugas Gereja untuk mewartakan Injil. Tugas itu dilaksanakan terutama dengan mendengarkan, menghayati, melaksanakan, dan mewartakan Sabda Allah. Dari hari ke hari mereka semakin berkembang sebagai persekutuan yang hidup dan dikuduskan  oleh Sabda. "Keluarga, seperti Gereja, harus menjadi tempat Injil disalurkan dan memancarkan sinarnya. Dalam keluarga, yang menyadari tugas perutusan itu, semua anggota mewartakan dan menerima pewartaan Injil. Orang tua tidak sekedar menyampaikan Injil kepada anak- anak mereka, melainkan dari anak- anak mereka sendiri, mereka dapat menerima Injil itu juga, dalam bentuk penghayatan mereka yang mendalam. Dan keluarga seperti itu menjadi pewarta Injil bagi banyak keluarga lain dan bagi lingkungan di sekitarnya." (Paus Paulus VI, Himbauan Apostolik, "Evangelii Nuntiandi", EN, 71)

Sabda Allah itu termuat dalam Kitab Suci, yang tidak selalu mudah dipahami, maka keluarga sebaiknya ikut mengambil bagian secara aktif dalam kegiatan- kegiatan pendalaman Kitab Suci.

d. Pelayanan (Diakonia)
Keluarga merupakan persekutuan cinta kasih, maka keluarga dipanggil untuk mengamalkan cinta kasih itu melalui pengabdiannya kepada sesama, terutama bagi mereka yang papa. Dijiwai oleh cinta kasih dan semangat pelayanan, keluarga katolik menyediakan diri untuk melayani setiap orang sebagai pribadi dan anak Allah. Pelayanan keluarga hendaknya bertujuan memberdayakan mereka yang dilayani, sehingga mereka dapat mandiri.

e. Kesaksian Iman (Martyria)
Keluarga hendaknya berani memberi kesaksian imannya dengan perkataan maupun tindakan serta siap menanggung resiko yang muncul dari imannya itu. Kesaksian iman itu dilakukan dengan berani menyuarakan kebenaran, bersikap kritis terhadap berbagai ketidakadilan dan tindak kekerasan yang merendahkan martabat manusia serta merugikan masyarakat umum."

Dengan demikian, penjelasan dari KWI ini menegaskan bahwa keluarga menjadi Ecclesia domestica (Gereja Rumah tangga) karena mengambil bagian dalam kelima tugas/ peran Gereja, yaitu persekutuan, liturgi, pewartaan Injil, pelayanan dan kesaksian iman.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Share.

About Author

Ingrid Listiati telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

16 Comments

  1. Dear katolisitas

    Saya ingin menanyakan tentang pengertian dan meminta sedikit wawasan tentang komunitas basis dalam gereja katolik dan apakah berhubungan dengan lingkungan dan stasi / paroki. Sekian pertanyaan dari saya sekirannya tim katolisitas menjawabnya.

    Agustinus – lawang

    • RD. Yohanes Dwi Harsanto on

      Salam Agustinus,

      Silahkan klik keterangan mengenai KBG (Komunitas Basis Gerejani) di link to id.wikipedia.org.

      KBG bukan lingkungan jika anggotanya terlalu banyak, bukan pula paroki karena jelas tak mungkin paroki anggotanya besar menjadi saling kenal satu sama lain. Ciri KBG dan inti semangatnya di baliknya ada di link tersebut. Semoga membantu.

      Salam
      RD. Yohanes Dwi Harsanto

  2. Saya umur 45 tahun, hidup sendiri dan tak punya anak. Saya ingin melayani Kristus di Gereja dan di luar Gereja? Apakah Anda tahu biara yang menerima perempuan untuk menjadi suster sekitar 45-50 tahun? Siapa tahu saya bisa melayani Kristus 20 tahun lagi.

    • Caecilia Triastuti on

      Shalom Gratia,

      saya mempunyai seorang kenalan di dunia maya, Lydia Kidarsa, yang berkenan berbagi informasi di bawah ini, semoga dapat berguna bagi Anda (saya juga akan memberikan alamat emailnya secara japri jika Anda membutuhkan):

      Saya belum tahu kalau mengenai biara, tetapi kalau Gratia ingin mengabdi Tuhan, bisa juga ikut Kompania Santa Ursula / Company of St Ursula / Compagnia di Sant Orsola.

      Kami terbuka untuk menerima wanita single yang mau membaktikan diri kepada Tuhan lewat jalan ini. Kami mengikuti cara hidup Santa Angela Merici, dan tinggal di masyarakat. Santa Angela mendirikan Kompani Santa Ursula ini sudah sejak 476 tahun yang lalu.

      Di mana Gratia berdomisili? Saya ada di Bandung, tapi saudari kami ada juga yang di Jakarta, sampai Kupang dan Waibalun (Flores) juga. Kami bisa mengajak Gratia untuk ikut pertemuan rutin, biasanya sebulan sekali.

      Lalu, pada tanggal 4-8 Juli nanti akan ada pertemuan Nasional – semi retret, di Bandung. Bisa bertemu saudari lainnya se-Indonesia dan mengenal lebih lanjut mengenai kegiatan kami.

      Organisasi ini merupakan Tarekat Kepausan, hanya paus yang berhak membubarkannya.

      Pekerjaan kami bermacam-macam, biasanya kita melanjutkan pekerjaan sebelumnya. Kerasulan kita dilakukan di rumah, paroki, dan masyarakat tempat kita berdomisili. Saya sendiri sudah berkaul pertama (yunior), dan saat ini bekerja baik di studio design, Klinik Pusppa Suryakanti (anak), di bidang peralatan bantu. Di paroki saya aktif sebagai pendamping katekumen.

      Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai kami, dapat dibaca juga di web Ursulin Sekulir yang juga kami tangani,
      link to ursulinsekulir.wordpress.com
      Sedangkan untuk spiritualitas ursulin, sebaiknya masuk dari sini:
      link to ursulin.or.id
      Dan ini mengenai studi Kitab Suci dan renungan harian yang diasuh Sr Emma Gunanto, OSU
      http://ambcosu.wordpress.com

      Salam,
      -Lydia Kidarsa-

      Silakan juga bagi pembaca Katolisitas yang mungkin berkenan berbagi informasi lain yang berguna bagi Sdri Gratia. Kiranya Tuhan senantiasa menyertai Anda untuk menemukan jalan bagi kerinduan Anda ini, sesuai dengan kehendak-Nya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan
      Triastuti – katolisitas.org

  3. Kometputih Omega on

    Nih ada temen saya tanya. Dia pengen jadi suster (biarawan – biarawati) Katolik trus gak dibolehin orang tua gimana penyelesaiannya? Oh ya sekalian bisa tolong tuliskan daftar biara2 buat dia gak yg ada di Indonesia
    Salam sejahtera. Berkah dalem.

    • Caecilia Triastuti on

      Shalom Kometputih Omega,

      Berikut jawaban dari Rm Santo:

      Salam,

      Pada hemat saya, memang perlu mengenal biara-biara dengan kekhasan spiritualitasnya yang sesuai dengan kata hatinya untuk menjadi biarawati, sebelum ia memutuskan memilih salah satu untuk bergabung. Namun tidak harus mengetahui semua biara perempuan di Indonesia. Cukuplah ia menghubungi biara terdekat dan bertanya-tanya di sana.

      Salam
      YDHpr

      Tambahan dari Triastuti:

      Sebaiknya teman Anda meluangkan waktu untuk duduk bersama dengan orangtuanya dan membicarakan harapan dan keinginannya kepada kedua orangtuanya dalam sebuah percakapan yang didasari semangat kasih, saling terbuka, dan saling mengerti. Pertama-tama ia dapat memberikan penjelasan, apa yang mendasari pilihan hatinya untuk menjadi suster, dan ia juga dapat menanyakan dengan lemah lembut mengapa kedua orangtuanya tidak memperbolehkan ia mengambil pilihan itu. Kemudian mereka dapat saling berdiskusi, dapatkah keresahan atau kekhawatiran orangtua itu dijembatani atau adakah suatu bentuk pengertian yang bisa diterima bersama untuk mengakomodasi perasaan dan kebutuhan semua pihak? Karena pada dasarnya anak mempunyai hak untuk menentukan pilihan hidup sesuai panggilan hatinya, tetapi dengan tetap memperhatikan apa yang menjadi keprihatinan/pertimbangan/nasehat dari orangtua. Jangan lupakan untuk selalu membawa dalam doa kepada Tuhan kerinduan untuk melayani sepenuhnya bagi Dia sebagai biarawati, dan akan lebih baik lagi bila teman Anda dapat berdoa bersama-sama kedua orangtuanya untuk memohon bimbingan Tuhan dalam menentukan pilihan hidup yang terbaik, sesuai dengan kehendak-Nya. Karena Tuhan selalu mempunyai rancangan yang terbaik bagi kita.

      Mengenai informasi biara dan ordo, salah satunya misalnya dapat dilihat di website Komunitas Ursulin di Bandung, di dalam website Ordo Santa Ursulin berikut ini,

      silakan klik

      Anda juga bisa mencari informasi misalnya di Pertapaan St. Maria Rawaseneng – Temanggung, Jawa Tengah; Pertapaan Bunda Pemersatu – Gedono, Jateng; atau Pertapaan Karmel, Ngadireso – Tumpang, Jatim.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Triastuti – katolisitas.org

  4. Keluarga sebagai Ecclesia Domestica. Apakah itu berarti juga keluarga Katolik sebagai Imam, Raja dan Nabi? Mohon penjelasan. Terima kasih atas bantuan katolisitas.org.

    • Shalom Anton,

      Anda benar, bahwa keluarga sebagai Ecclesia Domestica dipanggil untuk merealisasikan peran/ misi setiap anggota keluarga sebagai imam, nabi dan raja, yang merupakan partisipasi kita dalam ketiga Misi Kristus ini. Ketiga peran ini kita terima pada saat Pembaptisan, seperti telah dijabarkan di sini, silakan klik. Maka kita yang sudah dibaptis, baik yang hidup berkeluarga maupun yang tidak berkeluarga, semua dipanggil untuk melaksanakan misi ini. Hanya saja bagi keluarga misi ini tentu menjadi unik, sebab peran tersebut dilakukan bersama-sama dalam suatu komunitas kecil yang menjadi gambaran Gereja itu sendiri; karena dijiwai kasih antara sang ayah (suami) dan ibu (istri) yang menjadi gambaran kasih Kristus kepada Tubuh-Nya yaitu Gereja.

      Sesuai dengan tugas kita setelah dibaptis untuk mengambil bagian dalam misi Yesus Kristus sebagai Nabi, Imam dan Raja (lih. KGK 783-786; lih. Paus Yohanes Paulus II, surat ensiklik Christifideles Laici, 14) maka setiap keluarga Kristiani dipanggil Allah untuk turut mengambil bagian di dalam ketiga misi ini; yaitu sebagai komunitas umat yang percaya dan mewarta, sebagai komunitas yang berdialog dengan Tuhan, dan sebagai komunitas yang melayani sesama (lih. Paus Yohanes Paulus II, Familiaris Consortio 50).

      Lebih lanjut tentang panggilan hidup berkeluarga, silakan membaca ulasan sekilas mengenai peran keluarga Kristiani dalam dunia sekarang ini, dalam Ekshortasi Apostolik yang ditulis oleh Bapa Paus Yohanes Paulus II, silakan klik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  5. felix a triyono on

    Bagaimanakah aku harus bersikap 1. Istriku pindah agama islam, 2. dengan kepindahannya tsb dis sering mempermasalahkan aku (suami) dengan berbagai kekurangan yang aku miliki, 3. di luar rumah di menjalin hubungan dengan pria lain. 4. dalam pembahasan keluarga pada endingnya dia selalu meminta aku (suami) menceraikian dia.
    Perkawinan kami, dulu dia beragama islam lalu menikah dengan pemberkatan, dalam perjlnan hidup istriku mejadi katolik dan semua anak-anak kami baptis secara katolik

    itulah yang saat ini sedang aku alami

    • Felix Yth

      Segala tindakan istri pindah agama tentu ada masalah sebelumnya sehingga dia mengambil keputusan tersebut. Memang kalau ada keinginan tersembunyi dari istri mau menikah lagi dengan mudah dia mencari kesalahan suami seperti yang anda ceritakan. Maka yang harus dilakukan adalah meyakinkan istri bahwa perkawinan harus dipertahankan dengan menjawab kebutuhan apa yang kurang dalam diri anda sebagai suami. Sebagai orang Katolik mestinya anda menjadi saksi iman dan memberikan teladan agar dia yang menjadi Katolik dari agama Islam sungguh menemukan keyakinan imannya yang baru. Saya kawatir ada pihak ketiga yang ikut campur tangan dalam keluarga anda sehingga dia menginginkan perceraian. Untuk itu sekali lagi bangunlah komunikasi yang baik dengan istri dan memberikan keyakinan pada istri untuk merubah diri apa yang kurang dalam diri anda supaya istri mengurungkan tindakannya bercerai. Berdoalah selalu memohon penerangan dan kekuatan Tuhan agar bisa menghadapi permasalahan ini.

      salam
      Rm Wanta

  6. Terima kasih inggrid atas tanggapannya…. dan terima kasih juga atas rujukan link…
    Okelah, sebagai olahan hidup rohani pribadi dalam keluarga ataupun komunitas lainnya, saya sih oke saja.
    Namun yang saya harapkan ada pembahasan yang fokusnya pada keluarga dalam kebersamaannya sebagai ecclesia domestica. Selama ini saya lihat fokus bahasan dan diskusi pada perkawinan, sesuatu hal yang baik, apalagi ini aktual dialami dalam hidup keseharian…. dan ini penting. Namun tidak kala pentingnya hidup keluarga itu sendiri sebagai ecclesia domestica. Tidak jarang masalah keluarga mengakibatkan persoalan perkawinan (suami-istri). Terkadang juga urusan kekudusan bersifat pribadi, maka tak jarang kita temukan ada suami istri yang saleh, aktif dan rajin menggereja, doa dan baca Kitab Suci, namun tidak tertular kepada anggota keluarga yang lain (anak-anak), ataupun salah satu diantra mereka yang saleh… yang lainnya, jadi tanda tanya deh…. Padahal Gereja menginginkan seluruh keluarga itulah menjadi ecclesia domestica, keluarga sebagai ‘surga’ yang membawa kebahagiaan dan kesejahteran lahir batin bagi seluruh anggota keluarga atau dalam istilah kekristenan : kekudusan dan keselamatan.
    Ingrid mengatakan : “Kekudusan yang dipraktekkan dalam kehidupan keluarga, itulah yang menjadikan keluarga sebagai Ecclesia Domestica”. Pertanyaannya, bagaimana caranya kekudusan itu dipraktekan di keluarga sehingga menjadi ecclesia domestica??
    Di postingan tentang “Apa itu kekudusan?” ada referensi dari buku “St. Therese of Lisieux, The Story of a Soul, The Autobiography of St. Therese of Lisieux”… . mengingatkan saya tentang keluarga Louis Martin dan Zélie Guérin, orangtua (ayah-ibu) dari Santa. Theresia dari Liseaux. Pasangan suami-istri ini dibeatifikasi pada tanggal 19 Oktober 2008 di Basilika – Liseaux, dan dinobatkan sebagai pelindung dan teladan keluarga kristiani. Yang khas dari keluarga ini, menurut saya, adalah relasi dan ikatan batin anggota keluarga ini, korespondensi – suarat menyurat an”tara anggota keluarga ini boleh dikatakan sempurna tanpa cacat, yang membawa mereka kepada kekudusan…. Terhadap teladan hidup orangtuanya ini, Santa Theresia de Liseaux mengungkapkan : “Tuhan yang mahabaik telah memberikan kepada saya seorang ayah dan ibu, yang lebih pantas di surga daripada di bumi”.

    Salam, Tuhan memberkati

    • Shalom Phiner

      Silakan anda membaca kembali artikel di atas, karena sudah saya tambahkan kutipan yang saya ambil dari buku Pedoman Pastoral Keluarga, yang dikeluarkan oleh KWI, Januari 2011, hl. 15-18.

      Penjelasan dari KWI ini menegaskan bahwa keluarga menjadi Eccelsia domestica (Gereja Rumah tangga) karena mengambil bagian dalam kelima tugas/ peran Gereja, yaitu persekutuan, liturgi, pewartaan Injil, pelayanan dan kesaksian iman.

      Setiap keluarga mempunyai tantangan tersendiri untuk memperaktekkan kekudusan di dalam kehidupan berkeluarga. Namun cara yang paling mendasar, sebelum memulai hal- hal lainnya adalah: berdoa bersama setiap hari sebagai satu keluarga. Saat doa bersama ini kemudian dapat dijadikan sebagai saat keluarga untuk membaca dan merenungkan firman Tuhan, sharing pengalaman/ apa yang dihadapi dalam sehari itu- antar anggota keluarga, sehingga sesama anggota keluarga dapat saling memperhatikan, menguatkan dan menghibur. Akan ada banyak buah yang dapat kemudian dipetik melalui kesetiaan berdoa bersama ini. Keluarga akan semakin erat bersatu, keluarga tidak bertengkar, dan saling menjaga agar tidak jatuh ke dalam dosa. Selanjutnya, keluarga yang berdoa bersama ini juga adalah keluarga yang berpusat pada Kristus dan menghargai sakramen- sakramen, keluarga yang saling membagikan kasih dan yang saling menguatkan dalam iman, sambil mengarahkan pandangan kepada hal- hal yang di atas (Kol 3:1), yaitu surga. Dengan demikian, keluarga menjadi gambaran persekutuan yang erat mesra antara sesama kita dengan Tuhan dan inilah sesungguhnya yang menjadi hakekat Gereja (lih. Lumen Gentium 1); oleh karena itu keluarga disebut Gereja rumah tangga/ Eccelesia Domestica .

      Sesungguhnya jika kita membaca kisah hidup para kudus, terutama St. Therese dari Liseux, kita dapat melihat bahwa demikianlah gambaran keluarganya, di mana orang tua mengambil peranan penting untuk mendidik dan membina iman anak. Orang tua mereka mampu untuk mengajarkan anak tentang kehadiran Allah dalam kehidupan sehari- hari, sehingga iman mereka menjadi hidup, karena sejalan dengan perbuatan (kasih); dan karena dengan iman itu mengarahkan pandangan mereka akan hal- hal surgawi (pengharapan). Kehidupan keluarga yang sedemikianlah yang mendatangkan kebahagiaan sejati kepada anggota- anggotanya, sehingga tak heran, St. Therese mengatakan bahwa oleh peran orang tuanya ia seolah telah mengecap kebahagiaan surgawi di dunia ini; walaupun kita mengetahui kehidupan selanjutnya dari St. Therese ini juga bukan kehidupan yang lepas dari pergumulan; sebab iapun wafat di usia yang sangat muda (24 tahun), setelah menderita sakit tuberkulosis.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  7. Dear Stef dan Inggrid serta tim Katolisitas,

    Suatu ulasan yang luar biasa tentang moral dan spiritualitas perkawinan; saya kira sangat berguna bagi hidup perkawinan dari keluarga-keluarga katolik dalam membangun hidup perkawinana kristiani yang harmonis yang dilandasi dengan cinta perkawinan (cinta suami-istri).

    Saya melihat di forum katolisitas.org sudah banyak ulasan dan tanya jawab tentang masalah-masalah perkawinan : hukum, moral dan spritualitas perkawinan. Namun sedikit tentang keluarga. Bagaimana hidup keluarga katolik (kristiani) itu dibangun, masih sedikit (kalaupun ada hanya disinggung sekilas). Padahal sangat penting ulasan tentang keluarga kristiani; apalagi Vatikan II dalam LG no 11 telah menegaskan Keluarga sebagai Ecclesia Domestica (Gereja rumah tangga) dan penjelasan lebih lanjut oleh Puas Yohanes Paulus II dalam “Familiaris Consortio”, sehingga beliau digelari sebagai “Paus Keluarga”. Kalau dalam Gereja ada tempat kudus yang membawa/mengantar anggotanya kepada kekudusan, dalam keluarga sebagai ‘ecclesia domestica’ tempat kudus itu apa ya? (tentu saja tempat bukan hanya dalam arti fisik). atau kalau dikatakan “keluarga harus menjadi tempat kudus dalam Gereja rumah tangga”, apa persisnya??

    Terima kasih dan salam.

    [Dari Katolisitas: pertanyaan ini sudah dijawab di sini, silakan klik]

    • Terima kasih banyak atas tanggapannya.

      Dari tanggapan Inggrid diatas, dengan referensi pada Katekismus Gereja Katolik (KGK), saya bisa simpulkan bahwa tempat kudus dalam keluarga sebagai “écclesia domestica” yang membawa setiap anggota komunitas keluarga kepada kekudusan adalah kehidupan keluarga itu sendiri.

      Analogi antara keluarga dan Gereja rumah tangga menghubungkan dua realitas yang pada awalnya berbeda. Gereja didirikan oleh Kristus dan diselamatkan olehNya menjadi umat Allah yang baru; suatu realitas manusiawi sekaligus ilahi. Sedangkan keluarga, suatu komunitas manusiawi yang terkecil, dibangun oleh manusia, suami-istri; suatu realitas manusiawi. Cinta suami-istrilah yang menjadi dasar keluarga ini dibangun. Artinya adanya keluarga untuk menjawab keinginan untuk saling mencintai dan dicintai: suami-istri, kemudian kepada anak, yang tetap lestari selamanya. Namun dalam perjalanan tidak mudah. Ada tantangan² hidup di dunia moderen ini (globalisasi dengan segala kemajuannya) yang menyebabkan kehidupan keluarga menjadi goyah, ada krisis cinta dalam perkawinan dan keluarga, dll…
      Lalu, bagaimana keluarga dapat menjawab panggilan hidup sebagai Gereja Rumah Tangga, yang membawa anggotanya kepada keselamatan dan kebahagiaan? Apakah Ecclesia Domestika, yang merupakan panggilan hidup keluarga, merupakan sesuatu yang idealis yang tidak mudah mencapainya, alisa sulit terwujud? Atau apakah Ecclesia Domestica merupakan suatu realitas yang mudah dijangkau?

      Ini hanya pertanyaan² refleksi bagi keluarga² kristiani/katolik…. Semoga tim katolisitas bisa memberi pencerahan dalam link tercinta ini.

      Salam dan Tuhan memberkati !

      • Shalom Phiner,

        Sebenarnya, pertanyaan apakah panggilan keluarga untuk mewujudkan Ecclesia domestica itu realistis atau tidak, serupa dengan pertanyaan, apakah panggilan umat beriman untuk hidup kudus, itu realistis atau tidak.

        Magisterium Gereja Katolik menyerukan panggilan kepada semua orang beriman, dan bahkan kepada semua orang yang berkehendak baik, untuk hidup kudus (lih. Lumen Gentium bab V). Tentu bagi kita yang dibaptis, dan telah menerima Roh Kudus dan hidup ilahi di dalam Kristus, maka panggilan ini menjadi sesuatu yang lebih realistis. Mengapa? Karena, walaupun sulit, Tuhan Yesus akan memampukan kita, asalkan kita bersandar kepada rahmat-Nya. Itulah sebabnya alam perjuangan kita untuk hidup kudus, dan mewujudkan Ecclesia domestica itu, kita harus mengandalkan rahmat Tuhan, yang secara khusus diberikan kepada kita melalui sakramen- sakramen, terutama Ekaristi dan Pengakuan Dosa. Selanjutnya kitapun harus bertumbuh di dalam doa dan permenungan Sabda Tuhan, agar kita dapat dibimbing oleh Tuhan sendiri untuk bertumbuh di dalam iman, pengharapan dan kasih, yang menjadi inti dari kekudusan itu sendiri.

        Silakan, jika anda belum membaca, untuk membaca artikel berikut tentang kekudusan di situs ini, untuk melihat bahwa walaupun terdengar sulit, namun selalu ada langkah yang dapat kita lakukan sebagai langkah pertama ataupun langkah berikutnya untuk mencapai tujuan akhir kekudusan itu:

        Apa itu kekudusan?
        Semua orang dipanggil untuk hidup kudus
        Refleksi praktis tentang kekudusan
        Kerendahan hati: dasar dan jalan menuju kekudusan
        Kemurnian dalam perkawinan

        Kekudusan yang dipraktekkan dalam kehidupan keluarga, itulah yang menjadikan keluarga sebagai Ecclesia Domestica.

        Semoga kita tak bosan- bosannya mengusahakannya, dengan bantuan rahmat Tuhan.

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        Ingrid Listiati- katolisitas.org

  8. Yohanes Dwi Harsanto Pr on

    Salam Edwin dan Gabriel Dibya,

    Di Keuskupan Surabaya ada pula diakon tertahbis yang permanen, tanpa pernah ditahbiskan tingkat selanjutnya yaitu presbiterat.

    Benar bahwa hanya uskup (yang memang tahbisannya tingkat episkopat atau tingkat tahbisan tertinggi) memiliki kewenangan untuk memutuskan apakah seseorang ditahbiskan menjadi diakon permanen ataukah diakon yang kelak akan ditahbiskan imam tingkat presbiterat (KHK kan 1015, kan. 1016). Sedangkan tentang penugasan diakon, selain uskup setempat, pemimpin tinggi tarekat religius klerikal tingkat kepausan pun berwenang memberikannya (KHK kan. 1019 par 1).

    Salam
    Yohanes Dwi Harsanto Pr