Mengapa guncang mendengar wahyu-wahyu pribadi yang memojokkan Gereja Katolik?

237

Dewasa ini ada kesaksian-kesaksian atau wahyu pribadi yang memojokkan Gereja Katolik, seperti kesaksian Angelica Zambrano berjudul “Persiapkan dirimu untuk bertemu dengan Allah!” dan juga dari Barbara Fernandez dengan judul “5 hari di Sorga neraka“. Anda dapat melihat begitu banyak kesaksian dari orang-orang yang dibawa ke Sorga dan neraka, baik dari kesaksian-kesaksian yang bersifat religius, termasuk Kristen dan bahkan anda dapat menemukan situs-situs yang memuat pengalaman tentang kematian yang kemudian kembali lagi (near death experience). Anda dapat mencari situs-situs tersebut dengan kata kunci near death experience. Sebagai umat Katolik, kita tidak perlu goyah dengan kesaksian-kesaksian yang memojokkan iman Katolik, karena iman Katolik dapat dipertanggungjawabkan, baik dari Kitab Suci, Tradisi Suci, yang diperkuat oleh Magisterium Gereja. Mari kita membahas kesaksian-kesaksian tersebut.

Contoh kesaksian-kesaksian yang memojokkan Gereja Katolik:

Berikut ini adalah kutipan dari beberapa kesaksian yang memojokkan Gereja Katolik:

1. Dari “Persiapkanlah dirimu untuk bertemu dengan Allah” oleh Angelica Zambrano:

Sebelumnya, aku biasanya hidup sebagai seorang gadis muda Kristen yang berpikiran ganda. Dulu aku berpikir bahwa setiap orang yang mati akan pergi ke Surga, bahwa mereka yang merayakan misa, juga akan masuk surga, tapi aku salah. Ketika Paus Yohanes Paulus II meninggal, teman-teman dan kerabat akan memberitahuku bahwa ia telah pergi ke surga. Semua berita di TV, pada Extra dan banyak tempat lainnya akan berkata, “Paus Yohanes Paulus II telah meninggal, semoga ia beristirahat dalam damai. Ia sekarang bersukacita dengan Tuhan dan malaikat di surga” dan aku percaya semua itu. Tapi aku hanya menipu diriku sendiri, karena aku melihat dia di neraka, yang tersiksa oleh api. Aku menatap wajahnya, itu adalah Yohanes Paulus II (John Paul II)!! Tuhan berkata padaku, “Lihat, Putri, pria yang engkau lihat itu di sana, adalah Paus Yohanes Paulus II. Ia ada di sini di tempat ini; ia sedang tersiksa karena ia tidak bertobat.”

Tapi aku bertanya, “Tuhan, mengapa ia ada di sini? Ia biasa berkhotbah di gereja.” Yesus menjawab, ” Putri, tidak ada pezinah, tidak ada penyembah berhala, tidak ada orang yang serakah dan tidak ada pendusta yg akan mewarisi Kerajaan-Ku.” (Efesus 5:5) Aku menjawab, “Ya, aku tahu itu benar, tapi aku ingin tahu mengapa ia ada di sini, karena ia biasa berkhotbah kepada banyak orang!” Dan Yesus menjawab, “Ya, Putri, ia mungkin telah mengatakan banyak hal, tetapi ia tidak pernah berbicara kebenaran seperti yg ada. Ia tidak pernah mengatakan kebenaran dan mereka tahu kebenaran dan meskipun ia tahu kebenaran, ia lebih menyukai uang daripada berkhotbah tentang keselamatan. Ia tidak akan menawarkan kenyataan; tidak akan mengatakan bahwa neraka itu nyata dan surga juga ada; Putri, sekarang dia ada di sini di tempat ini.

Ketika aku melihat pria ini, ia memiliki ular besar dengan jarum-jarum, melilit tenggorokannya, dan ia akan mencoba utk melepasnya. Aku memohon dengan Yesus, “Tuhan, bantulah dia!” Pria itu akan berteriak,“Tolong aku, Tuhan, kasihanilah aku, bawa aku keluar dari tempat ini, maafkan aku, aku bertobat, Tuhan! Aku ingin kembali ke bumi, aku ingin kembali ke bumi untuk bertobat.” Tuhan mengamati dia dan berkata kepadanya, “Engkau sangat tahu dgn baik. Engkau tahu benar bahwa tempat ini nyata… Sudah terlambat; tidak ada kesempatan lagi untukmu.”
Tuhan berkata, “Dengar, Putri, Aku akan menunjukkan kehidupan orang ini.” Yesus menunjukkan layar besar di mana aku bisa mengamati bagaimana orang ini menawarkan misa berkali-kali kepada orang banyak. Dan bagaimana orang-orang yang ada begitu menyembah berhala. Yesus berkata, “Dengar, Putri, ada banyak penyembah berhala di tempat ini. Penyembahan berhala tidak akan menyelamatkan, Putri. Aku satu-satunya yang menyelamatkan, dan di luar Aku, tidak ada yang menyelamatkan. Aku mengasihi pendosa, tetapi aku benci dosa, Putri. Pergi dan beritahukan manusia bahwa aku mengasihi mereka dan bahwa mereka perlu datang kepada-Ku.”
Ketika Tuhan sedang berbicara, aku mulai melihat bagaimana orang ini menerima banyak sekali koin dan uang kertas; uang, semua yang dia akan simpan. Ia punya begitu banyak uang. Aku melihat gambar orang ini duduk di atas takhta, tetapi aku juga bisa melihat lebih dari itu. Memang benar bahwa orang-orang ini tidak menikah, aku dapat meyakinkanmu, aku tidak mengada-ada, Tuhan menunjukkan kepadaku, orang-orang itu tidur dengan biarawati; dengan banyak perempuan di sana! [1 example]
Tuhan menunjukkan kepadaku orang-orang ini hidup dalam percabulan, dan Firman mengatakan bahwa pezinah tidak akan mewarisi Kerajaan-Nya. Saat aku sedang menonton semua ini, Tuhan berkata, “Lihat Putri, semua ini yang aku tunjukkan kpdmu adalah apa yang terjadi, apa yang ia jalani dan apa yang terus terjadi di antara banyak orang, di antara banyak imam dan paus yang ada.” Kemudian ia berkata, “Putri, pergi dan beritahukan manusia bahwa sudah waktunya untuk berbalik kpdKu.”
…..
Tapi kemudian Ia berkata, “Putri, dia adalah Maria. Maria, yang melahirkan Yesus Kristus, yaitu Aku. Putri, Aku ingin memberitahu engkau bahwa ia tidak memiliki pengetahuan tentang hal-hal yang terjadi di Bumi. Aku ingin mengatakan kpdmu yaitu engkau harus pergi dan beritahukan pd manusia, beritahukan penyembah berhala bahwa neraka itu nyata, dan bahwa penyembah berhala tidak akan mewarisi Kerajaan-Ku, tetapi pergi dan katakan pd mereka bahwa jika mereka bertobat, mereka dapat masuk ke dlm tempat tinggal surgawiKu. Pergi beritahu mereka bahwa Aku mencintai mereka dan beritahu mereka bahwa Maria tidak memiliki pengetahuan apa-apa [yg terjadi di bumi]dan satu-satunya yg mereka harus tinggikan adalah Aku, karena baik Maria, atau St. Gregory ataupun santo lainnya dapat [mungkin maksudnya: tidak dapat] menawarkan keselamatan. Aku adalah Satu-satunya yang menyelamatkan dan di luar Aku – tidak ada, tidak ada, tidak ada – yg menyelamatkan!” la mengulanginya tiga kali – tidak ada yang dpt menyelamatkan, hanya la yg menyelamatkan.

Umat manusia telah tertipu dgn mempercayai dalam anggapan santo, yang mana bukan, tetapi adalah setan, yang bekerja melalui berhala yang dibuat oleh tangan manusia. Tapi, biar Aku beritahukan engkau bahwa Tuhan ingin memberikan yang terbaik. la ingin engkau untuk masuk ke dalam Kerajaan Surga; untuk bertobat dan meninggalkan penyembahan berhala. Karena penyembahan berhala tidak akan menyelamatkanmu. Yesus Kristus dari Nazaret adalah yg dpt menyelamatkan, yang memberikan nyawa-Nya bagimu, bagiku dan bagi semua umat manusia. Tuhan memiliki pesan yg besar bagi manusia. Ketika la menangis, Dia berkata,“Tolong, Putri, jangan diam; pergi dan katakan yang sebenarnya, pergi dan katakan apa yang Aku telah tunjukkan kpdmu.”

2. Dari 5 hari di Sorga Neraka oleh Barbara Fernandez:

Tuhan memanggil seorang wanita yang sangat cantik dengan kecantikan yang tak dapat digambarkan, seperti semua yang aku lihat disana. Dan Tuhan berkata kepadaku : “Ini adalah Maria! Pergilah dan katakan pada setiap orang bahwa Maria bukanlah ratu surga. Raja Surga adalah Aku, Raja dari segala raja, dan Tuhan dari segala tuhan, Satu-satunya yang berkata “Akulah Jalan, Kebangkitan dan Hidup (Yohanes 14 : 6-7). Pergilah dan katakan kepada manusia yang DIBUTAKAN bahwa tidak ada api penyucian, karena kalau ada Aku akan menunjukkannya kepadamu. Sebaliknya, ada Neraka, Lautan api, Yerusalem yang indah, dan Surga yang telah Kutunjukkan kepadamu. Tapi katakan kepada mereka bahwa tidak ada api penyucian; katakan itu adalah tipuan iblis, tidak ada api penyucian ”.

Bagaimana menanggapinya:

Dua kesaksian tersebut adalah dua kesaksian diantara banyak kesaksian yang sedang marak di forum-forum dan dipergunakan banyak orang untuk memojokkan Gereja Katolik. Sebenarnya, pada awalnya saya tidak tertarik untuk menanggapi wahyu-wahyu seperti ini, karena saya pikir bahwa hal ini tidak perlu ditanggapi dan tidak ada gunanya. Namun, ketika ada pertanyaan dari umat Katolik sendiri, yang menyatakan imannya tergoncang karena kesaksian ini, maka saya memutuskan untuk memberikan tanggapan atas isu-isu ini. Berikut ini adalah argumentasi yang dapat saya berikan:

Kesaksian tersebut belum tentu benar

Dari banyak komentar di katolisitas dan mungkin juga di forum-forum Kristen lain, terlihat bahwa ada sebagian umat Kristen non-Katolik yang langsung menganggap bahwa kesaksian tersebut adalah benar. Namun, kalau ditanya, bagaimana seseorang tahu atau bagaimana membuktikan bahwa kesaksian ini benar? Maka, jawabannya sebenarnya sulit untuk dapat dipertanggungjawabkan, karena cenderung sangat subyektif dan sungguh sulit untuk dapat dibuktikan kebenarannya. Bagaimana seseorang dapat membuktikan kebenaran wahyu pribadi seperti dari Barbara Fernandez dan Angelica Zambrano? Sungguh terlalu cepat kalau kesaksian mereka langsung dianggap benar dan apalagi dijadikan sebagai argumentasi dalam berdiskusi dengan umat Katolik. Bagi orang-orang yang percaya akan kesaksian mereka, maka cobalah minimal berfikir, bagaimana saya tahu apakah kesaksian ini benar atau salah dan apakah parameternya?.

Kebenaran dokrin vs kesaksian-kesaksian

Dalam suatu diskusi tentang doktrinal, maka argumentasi berupa kesaksian-kesaksian tidaklah dapat membantu. Kalau seseorang mengatakan bahwa api penyucian tidak ada karena dalam kesaksian Barbara Fernandez dikatakan bahwa Api Penyucian tidak ada dan Tuhan telah mengatakannya; Bahkan dikatakan oleh Tuhan bahwa keberadaan Api Penyucian hanyalah merupakan tipuan iblis, maka bukti apakah yang mendukung mereka bahwa kesaksian yang diberikan itu adalah benar? Pertanyaannya, bagaimana kalau ada santa-santo yang mempunyai pengalaman bahwa Api Penyucian itu ada dan bahwa Maria mengerti akan apa yang dialami oleh umat Tuhan sejauh yang diijinkan oleh Tuhan, maka apakah kemudian umat non-Katolik mau menerimanya?

a. Tentang Api Penyucian: St. Faustina dalam buku hariannya mengatakan “…I saw my Guardian Angel, who ordered me to follow him. In a moment I was in a misty place full of fire in which there was a great crowd of suffering souls. They were praying fervently, but to no avail, for themselves; only we can come to their aid. The flames, which were burning them, did not touch me at all. My Guardian Angel did not leave me for an instant. I asked these souls what their greatest suffering was. They answered me in one voice that their greatest torment was longing for God. I saw Our Lady visiting the souls in Purgatory. The souls call Her “The Star of the Sea”. She brings them refreshment. I wanted to talk with them some more, but my Guardian Angel beckoned me to leave. We went out of that prison of suffering. [I heard an interior voice which said] ‘My mercy does not want this, but justice demands it. Since that time, I am in closer communion with the suffering souls.’” (Diary, 20)

Apakah dengan kesaksian seperti ini, maka umat Kristen non-Katolik akan percaya akan keberadaan Api Penyucian? Anda dapat membandingkan kehidupan Barbara Fernandez dengan St. Faustina. Siapakah yang lebih dapat dipercaya? Kalau masih kurang, silakan membaca kesaksian dan kehidupan dari St. Catherine of Genoa, St. Nicholas of Tolentino, St. Gertrude, St. Frances of Rome, St. Padre Pio, dll. yang semuanya menyatakan bahwa Api Penyucian adalah nyata. Kalau parameter kebenarannya adalah individu yang memberikan kesaksian, maka bandingkan kehidupan mereka yang menyatakan bahwa Api Penyucian itu ada dengan kehidupan orang yang menyatakan bahwa Api Penyucian itu tidak ada. Jadi, siapa yang lebih dapat dipercaya?

b. Tentang Maria: Ada begitu banyak cerita tentang penampakan-penampakan Maria, seperti: (sumber: silakan klik)

Our Lady of the Pillar di Spanyol (tahun: 39), oleh Santo Yakobus.
Our Lady of Walsingham di Inggris (tahun: 1061), oleh Richeldis de Faverches.
Our Lady of the Rosary di Perancis (tahun: 1208), oleh St. Dominic
Our Lady of Mount Carmel (+ abad 13), oleh St. Simon Stock.
Our Lady of Guadalupe
Our Lady of Laus
Our Lady of the Miraculous Medal
Our Lady of La Salette
Our Lady of Lourdes
Our Lady of Pontmain
Our Lady of Fátima
Our Lady of Beauraing
Our Lady of Banneux
Our Lady of Akita

Anda juga dapat melihat sumber yang lain seperti marypages – klik ini. Dan ada lagi sumber yang lain di sini – silakan klik. Apakah dengan banyaknya wahyu pribadi sehubungan dengan Maria, yang juga didukung dengan banyak mukjizat, maka umat Kristen non-Katolik dapat menerima bahwa Maria sering membantu umat Allah? Kalau mereka tidak dapat menerimanya – karena diragukan kebenarannya, mengapa sebaliknya mereka menganggap wahyu-wahyu yang memojokkan Gereja Katolik adalah benar? Bukankah dengan demikian terjadi standar ganda? Untuk menghindari standar ganda ini, maka diskusi harus berfokus pada dogma dan doktrin dan bukan berdasarkan wahyu-wahyu pribadi.

c. Tentang Paus Yohanes Paulus II yang dikatakan ada di neraka. Di dalam kesaksian tersebut dikatakan bahwa Paus ada di neraka karena tidak mengatakan kebenaran, lebih menyukai uang daripada berkotbah tentang keselamatan, tidak pernah mengatakan bahwa neraka dan Sorga itu ada, melakukan penyembahan berhala, menerima banyak uang, dll. Kalau seseorang percaya akan kesaksian seperti ini, maka saya kira, mereka tidak tahu apa yang dilakukan oleh Paus Yohanes Paulus II dan tidak membaca apa yang ditulis oleh Paus Yohanes Paulus II, baik tentang kebenaran tentang adanya neraka dan Sorga. Kalau dikatakan Paus menerima uang, kemanakah uang itu sekarang? Apakah ada anggota keluarganya yang menjadi kaya karena dia menjadi Paus? Kalau dikatakan bahwa Paus tidak pernah berkotbah tentang keselamatan, neraka dan Sorga, maka silakan membaca sebagian tulisannya, yang diberikan pada beberapa audiensi umum hari Rabu:

Heaven is Fullness of Communion with God

Heaven as the fullness of communion with God was the theme of the Holy Father’s catechesis at the General Audience of 21 July 1999. Heaven “is neither an abstraction not a physical place in the clouds, but a living, personal relationship with the Holy Trinity. It is our meeting with the Father which takes place in the risen Christ through the communion of the Holy Spirit,” the Pope said.

1. When the form of this world has passed away, those who have welcomed God into their lives and have sincerely opened themselves to his love, at least at the moment of death, will enjoy that fullness of communion with God which is the goal of human life.

As the Catechism of the Catholic Church teaches, “this perfect life with the Most Holy Trinity this communion of life and love with the Trinity, with the Virgin Mary, the angels and all the blessed is called “heaven’. Heaven is the ultimate end and fulfilment of the deepest human longings, the state of supreme, definitive happiness” (n.1024).

Today we will try to understand the biblical meaning of “heaven”, in order to have a better understanding of the reality to which this expression refers.

2. In biblical language “heaven””, when it is joined to the “earth”, indicates part of the universe. Scripture says about creation: “In the beginning God created the heavens and the earth” (Gn 1:1).

Heaven is the transcendent dwelling-place of the living God

Metaphorically speaking, heaven is understood as the dwelling-place of God, who is thus distinguished from human beings (cf. Ps 104:2f.; 115:16; Is 66:1). He sees and judges from the heights of heaven (cf. Ps 113:4-9) and comes down when he is called upon (cf. Ps 18:9, 10; 144:5). However the biblical metaphor makes it clear that God does not identify himself with heaven, nor can he be contained in it (cf. 1 Kgs 8:27); and this is true, even though in some passages of the First Book of the Maccabees “Heaven” is simply one of God’s names (1 Mc 3:18, 19, 50, 60; 4:24, 55).

The depiction of heaven as the transcendent dwelling-place of the living God is joined with that of the place to which believers, through grace, can also ascend, as we see in the Old Testament accounts of Enoch (cf. Gn 5:24) and Elijah (cf. 2 Kgs 2:11). Thus heaven becomes an image of life in God. In this sense Jesus speaks of a “reward in heaven” (Mt 5:12) and urges people to “lay up for yourselves treasures in heaven” (ibid., 6:20; cf. 19:21).

3. The New Testament amplifies the idea of heaven in relation to the mystery of Christ. To show that the Redeemer’s sacrifice acquires perfect and definitive value, the Letter to the Hebrews says that Jesus “passed through the heavens” (Heb 4:14), and “entered, not into a sanctuary made with hands, a copy of the true one, but into heaven itself” (ibid., 9:24). Since believers are loved in a special way by the Father, they are raised with Christ and made citizens of heaven. It is worthwhile listening to what the Apostle Paul tells us about this in a very powerful text: “God, who is rich in mercy, out of the great love with which he loved us, even when we were dead through our trespasses, made us alive together with Christ (by grace you have been saved), and raised us up with him, and made us sit with him in the heavenly places in Christ Jesus, that in the coming ages he might show the immeasurable riches of his grace in kindness toward us in Christ Jesus” (Eph 2:4-7). The fatherhood of God, who is rich in mercy, is experienced by creatures through the love of God’s crucified and risen Son, who sits in heaven on the right hand of the Father as Lord.

4. After the course of our earthly life, participation in complete intimacy with the Father thus comes through our insertion into Christ’s paschal mystery. St Paul emphasizes our meeting with Christ in heaven at the end of time with a vivid spatial image: “Then we who are alive, who are left, shall be caught up together with them in the clouds to meet the Lord in the air; and so we shall always be with the Lord. Therefore comfort one another with these words” (1 Thes 4:17-18).

Sacramental life is anticipation of heaven

In the context of Revelation, we know that the “heaven” or “happiness” in which we will find ourselves is neither an abstraction nor a physical place in the clouds, but a living, personal relationship with the Holy Trinity. It is our meeting with the Father which takes place in the risen Christ through the communion of the Holy Spirit.

It is always necessary to maintain a certain restraint in describing these “ultimate realities” since their depiction is always unsatisfactory. Today, personalist language is better suited to describing the state of happiness and peace we will enjoy in our definitive communion with God.

The Catechism of the Catholic Church sums up the Church’s teaching on this truth: “By his death and Resurrection, Jesus Christ has “opened’ heaven to us. The life of the blessed consists in the full and perfect possession of the fruits of the redemption accomplished by Christ. He makes partners in his heavenly glorification those who have believed in him and remained faithful to his will. Heaven is the blessed community of all who are perfectly incorporated into Christ” (n. 1026).

5. This final state, however, can be anticipated in some way today in sacramental life, whose centre is the Eucharist, and in the gift of self through fraternal charity. If we are able to enjoy properly the good things that the Lord showers upon us every day, we will already have begun to experience that joy and peace which one day will be completely ours. We know that on this earth everything is subject to limits, but the thought of the “ultimate” realities helps us to live better the “penultimate” realities. We know that as we pass through this world we are called to seek “the things that are above, where Christ is seated at the right hand of God” (Col 3:1), in order to be with him in the eschatological fulfilment, when the Spirit will fully reconcile with the Father “all things, whether on earth or in heaven” (Col 1:20).

To the English-speaking pilgrims and visitors the Holy Father said:

I extend a special welcome to the young people taking part in the Forum of the European Youth Parliament, as well as to the St Vincent Ferrer Chorale from Kaohsiung, Taiwan, and the Taiwanese Native Folklore Group, accompanied by Cardinal Shan. Upon all the English-speaking visitors and pilgrims, especially those from England, Scotland, Korea, Taiwan, Canada and the United States, I invoke the grace and peace of our Lord Jesus Christ. May you have a happy and blessed summer!

Hell is the State of Those who Reject God

At the General Audience of Wednesday, 28 July 1999, the Holy Father reflected on hell as the definitive rejection of God. In his catechesis, the Pope said that care should be taken to interpret correctly the images of hell in Sacred Scripture, and explained that “hell is the ultimate consequence of sin itself… Rather than a place, hell indicates the state of those who freely and definitively separate themselves from God, the source of all life and joy”.

1. God is the infinitely good and merciful Father. But man, called to respond to him freely, can unfortunately choose to reject his love and forgiveness once and for all, thus separating himself for ever from joyful communion with him. It is precisely this tragic situation that Christian doctrine explains when it speaks of eternal damnation or hell. It is not a punishment imposed externally by God but a development of premises already set by people in this life. The very dimension of unhappiness which this obscure condition brings can in a certain way be sensed in the light of some of the terrible experiences we have suffered which, as is commonly said, make life “hell”.

In a theological sense however, hell is something else: it is the ultimate consequence of sin itself, which turns against the person who committed it. It is the state of those who definitively reject the Father’s mercy, even at the last moment of their life.

Hell is a state of eternal damnation

2. To describe this reality Sacred Scripture uses a symbolical language which will gradually be explained. In the Old Testament the condition of the dead had not yet been fully disclosed by Revelation. Moreover it was thought that the dead were amassed in Sheol, a land of darkness (cf. Ez. 28:8; 31:14; Jb. 10:21f.; 38:17; Ps 30:10; 88:7, 13), a pit from which one cannot reascend (cf. Jb. 7:9), a place in which it is impossible to praise God (cf. Is 38:18; Ps 6:6).

The New Testament sheds new light on the condition of the dead, proclaiming above all that Christ by his Resurrection conquered death and extended his liberating power to the kingdom of the dead.

Redemption nevertheless remains an offer of salvation which it is up to people to accept freely. This is why they will all be judged “by what they [have done]” (Rv 20:13). By using images, the New Testament presents the place destined for evildoers as a fiery furnace, where people will “weep and gnash their teeth” (Mt 13:42; cf. 25:30, 41), or like Gehenna with its “unquenchable fire” (Mk 9:43). All this is narrated in the parable of the rich man, which explains that hell is a place of eternal suffering, with no possibility of return, nor of the alleviation of pain (cf. Lk. 16:19-31).

The Book of Revelation also figuratively portrays in a “pool of fire” those who exclude themselves from the book of life, thus meeting with a “second death” (Rv. 20:13f.). Whoever continues to be closed to the Gospel is therefore preparing for ‘eternal destruction and exclusion from the presence of the Lord and from the glory of his might” (2 Thes 1:9).

3. The images of hell that Sacred Scripture presents to us must be correctly interpreted. They show the complete frustration and emptiness of life without God. Rather* than a place, hell indicates the state of those who freely and definitively separate themselves from God, the source of all life and joy. This is how the Catechism of the Catholic Church summarizes the truths of faith on this subject: “To die in mortal sin without repenting and accepting God’s merciful love means remaining separated from him for ever by our own free choice. This state of definitive self-exclusion from communion with God and the blessed is called ‘hell'” (n. 1033).

“Eternal damnation”, therefore, is not attributed to God’s initiative because in his merciful love he can only desire the salvation of the beings he created. In reality, it is the creature who closes himself to his love. Damnation consists precisely in definitive separation from God, freely chosen by the human person and confirmed with death that seals his choice for ever. God’s judgement ratifies this state.

We are saved from going to hell by Jesus who conquered Satan

4. Christian faith teaches that in taking the risk of saying “yes” or “no”, which marks the human creature’s freedom, some have already said no. They are the spiritual creatures that rebelled against God’s love and are called demons (cf. Fourth Lateran Council, DS 800-801). What happened to them is a warning to us: it is a continuous call to avoid the tragedy which leads to sin and to conform our life to that of Jesus who lived his life with a “yes” to God.

Eternal damnation remains a real possibility, but we are not granted, without special divine revelation, the knowledge of whether or which human beings are effectively involved in it. The thought of hell — and even less the improper use of biblical images — must not create anxiety or despair, but is a necessary and healthy reminder of freedom within the proclamation that the risen Jesus has conquered Satan, giving us the, Spirit of God who makes us cry “Abba, Father!” (Rm. 8:15; Gal. 4:6).

This prospect, rich in hope, prevails in Christian proclamation. It is effectively reflected in the liturgical tradition of the Church, as the words of the Roman Canon attest: “Father, accept this offering from your whole family … save us from final damnation, and count us among those you have chosen”.

To the English-speaking pilgrims and visitors, the Holy Father said.

I am pleased to greet the English-speaking pilgrims and visitors present at today’s audience, especially those from England, Scotland, Nigeria, Hong Kong and the United States of America. I wish you a pleasant visit to Christian Rome and I invoke upon you the grace and peace of our Lord Jesus Christ.

*[Note: The original Italian says, "(Più che) More than a place, hell indicates..." This suggests correctly that although hell is not essentially "a place," rather the definitive loss of God, confinement is included. Thus, after the general resurrection the bodies of the damned, being bodies not spirits, must be in "some place," in which they will receive the punishment of fire.]

Purgatory Is Necessary Purification

Before we enter into full communion with God, every trace of sin within us must be eliminated and every imperfection in our soul must be corrected

At the General Audience of Wednesday, 4 August 1999, following his catecheses on heaven and hell, the Holy Father reflected on Purgatory. He explained that physical integrity is necessary to enter into perfect communion with God therefore “the term purgatory does not indicate a place, but a condition of existence”, where Christ “removes … the remnants of imperfection”.

1. As we have seen in the previous two catecheses, on the basis of the definitive option for or against God, the human being finds he faces one of these alternatives: either to live with the Lord in eternal beatitude, or to remain far from his presence.

For those who find themselves in a condition of being open to God, but still imperfectly, the journey towards full beatitude requires a purification, which the faith of the Church illustrates in the doctrine of “Purgatory” (cf. Catechism of the Catholic Church, n. 1030-1032).

To share in divine life we must be totally purified

2. In Sacred Scripture, we can grasp certain elements that help us to understand the meaning of this doctrine, even if it is not formally described. They express the belief that we cannot approach God without undergoing some kind of purification.

According to Old Testament religious law, what is destined for God must be perfect. As a result, physical integrity is also specifically required for the realities which come into contact with God at the sacrificial level such as, for example, sacrificial animals (cf. Lv 22: 22) or at the institutional level, as in the case of priests or ministers of worship (cf. Lv 21: 17-23). Total dedication to the God of the Covenant, along the lines of the great teachings found in Deuteronomy (cf. 6: 5), and which must correspond to this physical integrity, is required of individuals and society as a whole (cf. 1 Kgs 8: 61). It is a matter of loving God with all one’s being, with purity of heart and the witness of deeds (cf. ibid., 10: 12f.)

The need for integrity obviously becomes necessary after death, for entering into perfect and complete communion with God. Those who do not possess this integrity must undergo purification. This is suggested by a text of St Paul. The Apostle speaks of the value of each person’s work which will be revealed on the day of judgement and says: “If the work which any man has built on the foundation [which is Christ]survives, he will receive a reward. If any man’s work is burned up, he will suffer loss, though he himself will be saved, but only as through fire” (1 Cor 3: 14-15).

3. At times, to reach a state of perfect integrity a person’s intercession or mediation is needed. For example, Moses obtains pardon for the people with a prayer in which he recalls the saving work done by God in the past, and prays for God’s fidelity to the oath made to his ancestors (cf. Ex 32: 30, 11-13). The figure of the Servant of the Lord, outlined in the Book of Isaiah, is also portrayed by his role of intercession and expiation for many; at the end of his suffering he “will see the light” and “will justify many”, bearing their iniquities (cf. Is 52: 13-53, 12, especially vv. 53: 11).

Psalm 51 can be considered, according to the perspective of the Old Testament, as a synthesis of the process of reintegration: the sinner confesses and recognizes his guilt (v. 3), asking insistently to be purified or “cleansed” (vv. 2, 9, 10, 17) so as to proclaim the divine praise (v. 15).

Purgatory is not a place but a condition of existence

4. In the New Testament Christ is presented as the intercessor who assumes the functions of high priest on the day of expiation (cf. Heb 5: 7; 7: 25). But in him the priesthood is presented in a new and definitive form. He enters the heavenly shrine once and for all, to intercede with God on our behalf (cf. Heb 9: 23-26, especially, v. 24). He is both priest and “victim of expiation” for the sins of the whole world (cf. 1 Jn 2: 2).

Jesus, as the great intercessor who atones for us, will fully reveal himself at the end of our life when he will express himself with the offer of mercy, but also with the inevitable judgement for those who refuse the Father’s love and forgiveness.

This offer of mercy does not exclude the duty to present ourselves to God, pure and whole, rich in that love which Paul calls a “[bond]of perfect harmony” (Col 3: 14).

5. In following the Gospel exhortation to be perfect like the heavenly Father (cf. Mt 5: 48) during our earthly life, we are called to grow in love, to be sound and flawless before God the Father “at the coming of our Lord Jesus with all his saints” (1 Thes 3: 12f.). Moreover, we are invited to “cleanse ourselves from every defilement of body and spirit” (2 Cor 7: 1; cf. 1 Jn 3: 3), because the encounter with God requires absolute purity.

Every trace of attachment to evil must be eliminated, every imperfection of the soul corrected. Purification must be complete, and indeed this is precisely what is meant by the Church’s teaching on purgatory. The term does not indicate a place, but a condition of existence. Those who, after death, exist in a state of purification, are already in the love of Christ who removes from them the remnants of imperfection (cf. Ecumenical Council of Florence, Decretum pro Graecis: DS 1304; Ecumenical Council of Trent, Decretum de iustificatione: DS 1580; Decretum de purgatorio: DS 1820).

It is necessary to explain that the state of purification is not a prolungation of the earthly condition, almost as if after death one were given another possibility to change one’s destiny. The Church’s teaching in this regard is unequivocal and was reaffirmed by the Second Vatican Council which teaches: “Since we know neither the day nor the hour, we should follow the advice of the Lord and watch constantly so that, when the single course of our earthly life is completed (cf. Heb 9: 27), we may merit to enter with him into the marriage feast and be numbered among the blessed, and not, like the wicked and slothful servants, be ordered to depart into the eternal fire, into the outer darkness where “men will weep and gnash their teeth’ (Mt 22: 13 and 25: 30)” (Lumen gentium, n. 48).

6. One last important aspect which the Church’s tradition has always pointed out should be reproposed today: the dimension of “communio”. Those, in fact, who find themselves in the state of purification are united both with the blessed who already enjoy the fullness of eternal life, and with us on this earth on our way towards the Father’s house (cf. CCC, n. 1032).

Just as in their earthly life believers are united in the one Mystical Body, so after death those who live in a state of purification experience the same ecclesial solidarity which works through prayer, prayers for suffrage and love for their other brothers and sisters in the faith. Purification is lived in the essential bond created between those who live in this world and those who enjoy eternal beatitude.

To the English-speaking pilgrims and visitors the Holy Father said:

I am pleased to greet the English-speaking visitors and pilgrims present at today’s Audience, especially those from England, Ireland, Indonesia, Hong Kong, Japan and the United States. Upon all of you I invoke the grace and peace of our Lord Jesus Christ. Happy summer holidays to you all!

Dan ini hanya sebagian kecil dari tulisan-tulisan yang pernah dibuatnya. Dalam salah satu tulisannya, yaitu Reconciliatio et Paenitentia, par.26, dituliskan:

…Nor can the church omit, without serious mutilation of her essential message, a constant catechesis on what the traditional Christian language calls the four last things of man: death, judgment (universal and particular), hell and heaven. In a culture which tends to imprison man in the earthly life at which he is more or less successful, the pastors of the church are asked to provide a catechesis which will reveal and illustrate with the certainties of faith what comes after the present life: beyond the mysterious gates of death, an eternity of joy in communion with God or the punishment of separation from him. Only in this eschatological vision can one realize the exact nature of sin and feel decisively moved to penance and reconciliation.

Kalau dikatakan bahwa Paus Yohanes Paulus II menyembah berhala, apakah buktinya? Bukankah diskusi akan lebih berkualitas kalau seseorang dapat memberikan argumentasi dari Alkitab tentang apakah Sakramen Ekaristi adalah penyembahan berhala? Kalau ada yang tertarik tentang topik ini, silakan bergabung dalam diskusi tentang hal ini di sini – silakan klik. Juga diskusi tentang patung-patung di dalam Gereja Katolik yang dianggap berhala dapat dilihat di diskusi ini – silakan klik, dan ini – silakan klik. Dalam diskusi ini dibahas dasar-dasar dari Alkitab dan juga dari tulisan-tulisan Bapa Gereja. Dan saya yakin diskusi di link tersebut lebih berbobot daripada berdiskusi tentang kesaksian pribadi seseorang yang tidak jelas kebenarannya.

d. Tentang para kudus. Diskusi tentang para kudus dapat dilihat di sini – silakan klik dan ini – klik ini.

Sola Scriptura vs kesaksian-kesaksian

Saya yakin tidak semua umat Kristen non-Katolik mau menggunakan kesaksian-kesaksian pribadi untuk memperkuat argumentasi mereka. Ada kemungkinan, orang-orang yang kurang dapat memberikan argumentasi secara Alkitabiah, mendalam dan terstruktur cenderung untuk menggunakan kesaksian-kesaksian seperti ini. Kalau memang Kitab Suci saja cukup untuk membuktikan dogma dan doktrin dari gereja-gereja Kristen, maka saya yakin tidaklah bijaksana untuk menggunakan kesaksian-kesaksian pribadi seperti ini untuk memojokkan iman Gereja Katolik. Apakah dengan demikian, maka Kitab Suci tidak dapat membuktikan kebenaran dogma dan doktrin dari gereja-gereja ini?

Kesimpulan

Sebagai umat Katolik, kita tidak perlu bimbang dengan kesaksian-kesaksian pribadi yang memojokkan iman Katolik, karena kesaksian-kesaksian tersebut belum tentu benar bahkan banyak sekali kesalahannya. Parameter kebenaran bagi umat Katolik sangatlah mudah, karena kita mempunyai Magisterium Gereja yang memberikan pengajaran yang pasti. Ini berarti, kalau kesaksian-kesaksian tersebut bertentangan dengan pengajaran Magisterium Gereja, maka kesaksian-kesaksian tersebut adalah salah dan menyesatkan.

Sebaliknya saya mengundang umat Kristen non-Katolik untuk berdiskusi dengan berfokus pada dogma dan doktrin. Kalau memang anda mempercayai Sola Scriptura, maka merujuklah pada Kitab Suci dan bukan pada kesaksian-kesaksian pribadi seperti ini, sehingga argumentasi yang diberikan lebih mempunyai dasar dan kriteria yang jelas. Mengedepankan kesaksian seperti ini justru memperlemah posisi anda, karena seolah-olah anda tidak lagi mempunyai argumentasi yang lain, dan memerlukan kesaksian-kesaksian pribadi yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya dan bersifat sangat subyektif. Dan saya yakin, bahwa umat Kristen non-Katolik juga mempunyai dasar yang jelas dan dapat mempertanggungjawabkan dari sumber yang jelas, yaitu Kitab Suci. Semoga usulan ini dapat diterima.

Share.

About Author

Stefanus Tay, MTS dan Ingrid Listiati, MTS adalah pasangan suami istri awam dan telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

237 Comments

  1. JB. Hendar Klestono on

    Saya percaya akan Gereja Katolik yang Kudus, Katolik dan Apostolik…………………..matur sembah nuwun Gusti Tuwin Ibu Maria, Lan para suci ing swarga…………….Amin.

  2. Shalom Bu Grace,

    Ijinkah saya memberikan sedikit komentar atas kondisi yang ibu hadapi.
    Terus terang bagi saya buku karangan tentang kesaksian-2 yang ibu ceritakan itu tidak sedikitpun menggoyahkan iman saya akan ajaran Gereja Katolik.
    Saya punya pengalaman pribadi. Suatu malam ditahun 2000-an setelah +/- 30 tahun kepergian ibu tercinta saya (cat : ibu saya Katolik dan meninggal ketika saya masih kecil & ayah : Kong Hu Cu) saya bermimpi didatangi suatu cahaya yang terang dan mengatakan kepada saya bahwa ibu saya sekarang sudah berada di surga setelah menyelesaikan semua proses penyucian. Waktu itu saya masih belum mengerti apa maksudnya karena pengetahuan Katolik saya masih minim. Dan sekarang saya yakin banget bahwa ibu saya sudah berada di surga setelah melalui api penyucian. Pengalaman ini benar-2 saya alami. Dan yang bisa merasakannya hanya saya sendiri. Kalau saya menceritakan kepada orang lain bahwa Api Penyucian itu ada, apakah orang lain akan percaya? Kalau tidak percaya, kenapa? Mengapa kalau orang lain bilang tidak ada api penyucian kok langsung bisa dipercaya? Ini artinya apa? Ada standar ganda dan bersifat subyektif.
    Ada berapa banyak orang Katolik yang mengalami pengalaman rohani seperti ini? Mungkin sangat banyak tapi tidak dibukukan / diceritakan karena sifatnya sangat pribadi.
    Meskipun saya mengalami suatu pengalaman (walaupun cuma mimpi) yang begitu membahagiakan saya pada waktu itu tapi ini tidak bisa menjadi parameter [dari Katolisitas: kami edit] bagi semua orang bukan?
    Bagaimana kalau suatu saat ada orang mengaku mendapat penglihatan bahwa (maaf) dia dibawa ke Neraka dan melihat Martin Luther, Calvin, Zwingli disiksa disana dan sangat menderita, apakah orang akan langsung percaya atau akan bilang “ah….itu tidak mungkin..?”
    Mari kita kuatkan iman kita dan selalu mengacu kepada pengajaran Gereja Katolik yang Satu, Kudus, Apostolik dan Katolik.

    Salam Dalam Kasih Kristus.
    Simon

  3. Julianti Sugiman on

    Hallo Grace and Pak Stef,

    Grace, terima kasih banyak sudah bertanya ttg kesaksian ini. Semoga pertanyaanmu dan jawaban dari Pak Stef, serta komentar teman2 semuanya bisa semakin menguatkan iman teman2 Katolik lain yang membaca. Amin.

    Sebenarnya, sama seperti Pak Stef, saya juga malas membaca maupun membahas ttg kesaksian yang seperti ini. Maaf, tapi bagi saya, ini adalah kesaksian yang sangat tidak bermutu dan mengandung banyak sekali ketidak-kebenaran di dalamnya.

    Sekitar sebulan yg lalu, saya mendapat YM dari teman Katolikku …, yang memforward kesaksian ini ke saya (mungkin juga ke teman2nya). Karena berasal dari dia, yang …adalah anggota WKRI, saya baca kesaksian tersebut.
    Di awal2 ceritanya, saya agak tertarik, tetapi ketika mulai perjalanan di neraka, saya agak sedikit menyangsikan, lalu baca mulai di skip-skip, lalu sampai kepada Paus Yohanes Paulus II, lalu ttg semua romo2, dll. Lah….kok kesaksian ini mulai aneh2? Saya juga mulai menyadari ada satu kejanggalan yang sangat mencolok di dalam cerita tersebut……[dari Katolisitas: kami edit]

    Temanku mengatakan bahwa kesaksian ini bagus. Setelah kupertanyakan, ternyata dia belum baca habis kesaksian tersebut. Dia juga bilang merasa aneh ttg Paus Yohanes Paulus II dan para romo yang disinggung di situ, tapi tetap memforward kesaksian tersebut. Sungguh…..sangat disayangkan. (Ada baiknya kita selalu meneliti dulu email/YM/sms/apapun yang akan kita forwardkan kepada teman2 kita).

    Teman kantorku, yang juga dikirimi kesaksian ini bertanya kepada saya ttg kesaksian ini, setelah saya memberitahukan ttg opini pribadi saya ttg Paus, dan romo ….dalam cerita tersebut, teman saya mengkonfirm kegelisahan dia saat membaca kesaksian ini dan juga merasakan beberapa kejanggalan dalam cerita ini. [....Dari Katolisitas: kami edit]

    Mungkin saya bisa kasih bbrp tips kepada Grace dalam memperdalam imannya, serta untuk lebih mengenal Gereja Katolik kita yang sangat kaya ini:
    1. Ikutilah SHBDR (Seminar Hidur Baru Dalam Roh Kudus), biasanya diadakan di paroki2. Kemungkinan besar di paroki Grace juga ada. Pastinya di Karmel – Lembang ada. Silahkan di check.
    2. Ikutilah KEP (Kursus Evangelisasi Pribadi) yang juga diselenggarakan di paroki2 setempat. Biasanya setahun sekali.
    3. Pergi retret Awal di Lembah Karmel (Puncak) disana membahas lengkap ttg SHBDR, or retret2 yang diselenggarakan oleh paroki2 setempat.

    Saya sendiri banyak bertumbuh dalam iman, pengetahuan, dan doa sejak mengikuti SHBDR, KEP dan retret2.
    And jika Grace merasa ingin berdoa sendiri dalam mencari kebenaran or bimbingan, silahkan mencoba doa NOVENA ROH KUDUS (terdapat di dalam Puji Syukur). Lupa no. berapa. Yang ku tahu, sejak mendoakan NOVENA ini, iman dan pengetahuanku semakin di tambahkan oleh Tuhan Yesus dengan bimbingan dari Roh Kudus.

    Aaaaa…..betapa kayanya Gereja Katolik kita. Betapa banyaknya cara untuk menuju, mendekat kepada Yesus Kristus Tuhan kita. Serta Bunda Maria yang selalu mendoakanku, membimbingku serta menasehatiku. Aku bangga punya MAMA seperti Bunda Maria.

    Kalo enggak bisa melayani orang miskin demi Tuhan Yesus seperti Bunda Teresa Kalkuta, kita bisa melayani Tuhan Yesus dalam melakukan hal2 kecil dengan cinta yang besar seperti yang dilakukan oleh St. Theresia Lisieux, or mendekat kepada Tuhan melalui doa kontemplasinya St. Teresa Avila, or banyak mendoakan arwah2 di dalam api penyucian, seperti yang dilakukan oleh St. Faustina dan Maria Simma. Membimbing anak2 miskin dan anak2 muda kepada kesucian menurut St. Yohanes Bosco, atau bahkan membawa keluarga kita semakin mendekat kepada Tuhan Yesus, seperti yang dilakukan oleh sepasang pasutri yang telah dijadikan beato dan beata oleh Paus Yohanes Paulus II: Luigi dan Maria Beltrame Quattrocchi.

    Sungguh…..Gereja Katolik kita benar2 kaya, dan menawarkan banyak cara untuk menuju dan bersatu dengan Tuhan Yesus dalam perjalanan kita di dunia ini, membawa jiwa2 kepada-NYA.

    Aku kagum dan bangga akan Gereja Katolik kita. Semoga teman-teman yang lain pun bisa semakin mengenal dan mencintai Gereja Katolik kita yang tercinta ini.

    Terutama, thanks Pak Stef atas website yang LUAR BIASA ini! Semoga Tuhan selalu membimbing, menyertai, merahmati semua karya2 Pak Stef dan Bu Ingrid dengan terang Roh Kudus, amin!

    Julia

    [dari Katolisitas: terima kasih atas sharing anda]

  4. Saudara-saudaraku yang terkasih dalam Kristus
    Sebagaimana yang telah dikatakan oleh Bunda Maria, bahwa kita saat ini sedang dalam peperangan Besar melawan kekuatan kegelapan. Jadi Jangan heran bila Setan menggunakan berbagai tipu muslihatnya untuk menarik anak-anak Allah ke dalam maut.

  5. hmmm…tapi memang kadang, ada orang-orang yang standar ganda…maksudnya, kalo rujukannya alkitab dan ajaran gereja, selalu dipertanyakan (sekalipun ajaran gereja itu sudah banyak ataupun berdasarkan kesaksian)…giliran, cuma ada SATU kesaksian yang tidak jelas asal usulnya, langsung aja, OH INILAH YANG PALING BENAR.

    Jujur aja, kalo ‘cuma’ seperti hal-hal itu, saya pernah, kok, tapi mimpi…beberapa kali, mimpi yang berbau2 non-katolik…seperti, tau-tau di dalam mimpi, ada yang telp saya,”mau tau jalan Allah? (spellingnya pake non-katolik, ya?…hehe)” …dengan suara menggelegar (tapi tidak menyenangkan…seperti intimidasi)…terus ada lagi mimpi2 lainnya…apa terus saya langsung ambil kesimpulan, oooh, inilah pertanda bahwa saya seharusnya tidak jadi katolik?…Tidak, habis mimpi2 seperti itu, saya langsung berdoa kadang dalam keadaan separuh sadar, saya juga sering berdoa dalam tidur…yang paling ampuh? SALAM MARIA…(jangan salah, ada artis yang langsung convert begitu dapet mimpi kayak gini…hehe…)
    Saya bukan orang yang rajin rosario, tapi jujur, setelah beberapa pengalaman “diganggu” (apa itu semacam bau2 aneh atau mimpi…atau apalah), bagi saya, yang paling ampuh itu Salam Maria. Asli, langsung tenang!…Jika doa itu tidak punya kekuatan, jika Maria itu memang no-body, kenapa saya yang pernah panik saat diganggu langsung tenang dengan doa itu?…
    Saya pernah lagi ada prosedur medical. Dokternya mengalami kesulitan lalu saya berdoa dalam hati, Salam Maria..eh, tidak lama dokternya bilang,”naaah, sudah terbuka, nih, (salurannya).”…Jika yang namanya “Bunda Maria” itu bukanlah siapa-siapa, saya mu ucapin doa ribuan kali, nggak akan ada hasil yang bagus juga…malah jadi mungkin manggil roh apaaaa nggak jelas…horor

    Hmm…tidak tau juga, ya? tapi rasa-rasanya, emang dalam tahap pertumbuhan iman apalagi saat kita gencar2nya berdoa, emang godaan itu banyak…macem2, sih. Tidak melulu, tergoda untuk meninggalkan katolik secara judulnya pindah agama, tapi ada juga misalnya, tetep di katolik tapi imannya sudah menipis dan istilahnya, sudah jadi ‘kerutinan’ saja menjadi katolik…

    Kalau ada ‘apa-apa’, jangan putus2 berdoa sama Tuhan dan tanya sama Dia langsung. Bagaimana ini, Tuhan? Mohon Tuhan ajarkan…mohon Tuhan tunjukan jalan yang benar…Sebelum baca2 yang kontroversial2, kuatkan iman anda dengan bacaan2 yang benar dulu. Jangan aneh-aneh dan sok kuat, deh. Hati-hati, lho, kalo mengira iman kuat itu, malah jadi ‘kesombongan’…dan kesombongan itu udah ibaratnya, pintu buat godaan dateng terbuka lebar…bisa kepleset2…
    ….
    [dari Katolisitas: kami edit]

    Intinya, berdoa berdoa berdoa berdoa berdoa…fokus ke kehidupan iman anda sendiri dulu…seperti pak Stef bilang, orang-orang itu juga hidupnya sehari-hari seperti apa? Apakah (maaf, tanpa bermaksud sombong…cuma mungkin pilihan kata2 saya terlalu to the point…hehe) mereka memang memiliki kehidupan iman yang layak ‘dipersandingkan’ dengan kehidupan JPII, Padre Pio, Santo-Santa lainnya?…

    Ada satu ‘patokan’ dari Bunda Maria (saya lupa, suami saya dapat bacaannya di mana, ini kesaksian soalnya tapi lupa yang di mana): kalau sesuatu membawa damai, itu pasti dari Tuhan…
    Nah, kalau saya baca kisah2 Santo Santa, meski singkatnya saja, itu rasanya selalu ingin menangis karena kok, rasanya, hati saya ini hampa dan ‘melihat’ hidup mereka itu seperti penuh kedamaian…cinta akan Tuhan meski mungki iman mereka pun jatuh bangun sebelumnya…
    Tapi kalo baca2 hal2 yang menggelisahkan dan benar2 tidak ada gunanya sama sekali, yah, bagaimana, ya? apa itu benar dari Tuhan?…Kembali lagi, marilah kita berdoa berdoa berdoa…

  6. Shalom Grace,

    Boleh ya saya tuliskan tiga saja faktor yang telah membuat saya kuat sebagai Katolik, yang tentu saja masih banyak sekali faktor lain yang bisa membuat kita kuat sebagai Katolik.

    1. Pendiri Gereja Katolik adalah Tuhan Yesus sendiri.
    Seorang teman saya dengan bangganya pernah berkata, “Gereja sana pendirinya adalah sepasang suami-istri yang rendah hati, sedangkan gereja di sana lagi pendirinya juga sepasang suami-istri yang rendah hati.”
    Dan, saya menyahut, “Kalau Gereja Katolik, pendirinya adalah Tuhan Yesus sendiri.”
    “Masa sih?” tanya teman ini dengan sedikit terkejut.
    Tentu saja saya tidak kalah bangganya karna Gereja Katolik telah didirikan oleh Raja segala raja, yang telah berjanji akan melindungi GerejaNya sampai akhir zaman.
    2. Gereja Katolik bersifat Satu.
    Kalau kita menemukan Gereja Katolik di tempat yang baru, pastilah Gereja ini sama persis ajaran dan liturginya dengan Gereja Katolik di tempat kita, karna Gereja Katolik bersifat satu – laksana perusahaan yang membuka cabangnya sampai di negara-negara asing yang jauh, namun mereka tetap satu.
    Tahun 2008 saya ke kota Kuching, Sarawak. Di kota ini saya mencari Gereja Katolik dan ketemu. Saya bertanya kepada seorang bapak, pukul berapa misa dengan Bahasa Melayu. Ia menjawab, misa dalam Bahasa Melayu sudah tadi pagi, tapi nanti sore masih ada misa dalam Bahasa Inggris.
    Saya menjawab bahwa saya tidak mengerti Bahasa Inggris. Tapi ia langsung memotong, kan sama saja, mau bahasa apapun dan di manapun.
    Saya jadi berpikir, kalau ada perusahaan yang mampu membuka cabangnya di banyak tempat, kita anggap sudah hebat banget. Apalagi kayak Gereja Katolik, yang cabangnya sampai di seluruh dunia tapi tetap kompak nian, apa ndak hebat itu…
    3. Hanya Gereja Katolik yang memiliki Sakramen Tobat.
    Saya selalu merasa suasana yang sangat berbeda saat sedang menerima sakramen ini. Tak ada kata-kata yang bisa saya tulis untuk melukiskannya secara tepat. Saya hanya bisa menulis: suasananya tidak seperti kalau kita ngobrol biasa dengan pastor, hanya yang mau menerimanya yang bisa merasakannya.

    Di samping itu, kalau gereja lain berprinsip “hanya Alkitab / Sola Scriptura”, artinya hanya yang tertulis di Alkitab yang dianggap benar, maka seharusnya kesaksian-kesaksian seperti di atas —yang sudah pasti tidak tertulis di Alkitab — jangan dianggap benar. Nyatanya, kesaksian-kesaksian ini dianggap benar oleh mereka, jadi tidak konsisten dong, standar ganda dong seperti yang ditulis Pak Stef.

    Terima kasih.

    Salam,
    Lukas Cung

  7. Petrus Sudjono on

    Ya, jangan goyah saudara-saudariku terkasih dalam Kristus !
    Mengapa ? Wahyu pribadi tersebut berupa penglihatan tersebut belum / tidak teruji kebaikannya. Sangat beda dengan kesaksian – kesaksian orang saleh katolik, sudah teruji paling tidak dari hirerkie gereja setempat, baru boleh diketahui oleh orang lain. Kedua gadis itu saya rasa mendapat pencobaan berupa penglihatan yang menyesatkan dari iblis, dan dia jatuh. Coba bandingkan dengan kesaksian Sr. Faustina yang sudah disebut oleh pengasuh, dia berapa kali dicobai iblis, tapi dia tetap kuat.
    Coba lihat juga penglihatan dari Beata Anna Anna Katharina Emmerich, penglihatan Theresia Neumann dan penglihatan atau pesan Yesus dan Maria kepada Catalina Rivas,dari Cochabamba – Bolivia, semuanya orang Katolik yang mendapat wahyu pribadi dari Tuhan berupa penglihatan, kesaksian atau pesan. Diidalamnya tidak mengarah ke agama atau pribadi orang tertentu telah salah jalan mencari Tuhan, tetapi pesan yang walaupun kadang keras dari Tuhan, yang menjadi petunjuk jalan manusia menuju ke Surga secara universal.
    Kita doakan saja kedua gadis tersebut lepas dari pencobaannya mereka.
    Tuhan Yesus memberkati kita semua

  8. sebaiknya umat katolik mengimbangi juga dengan membaca riwayat para kudus, juga tulisan2/ajaran2 para kudus, spt St.Teresa Avila, St.Theresia dr kanak2 Yesus, St.Fransiskus Asisi,dll.

    selama ini apa yg saya baca dr pengalaman2 mistik para kudus, mereka sering menggambarkan neraka itu adalah suatu keadaan jiwa dr manusia2 yg menolak Allah, dan bukan Allah yg menciptakan neraka itu, krn Allah yang Maha Pengasih selalu menginginkan kebaikan untuk segala ciptaanNya. Bahkan di buku ttg pengalaman seorang imam ahli exorcist (yg diterbitkan Marian centre), dikatakan bahwa iblislah yg menciptakan neraka, bukan Allah, bahkan Allah tidak pernah sekalipun memikirkan kesana (menciptakan neraka).

    Dan baca juga penampakan Maria di Fatima, dimana anak2 kecil yg dikaruniai penampakan itu, diajak Maria untuk melihat neraka dan surga.
    Dan 1 hal yg menurut saya sangat penting akan peran Maria, bahwa ketika Maria menampakan diri, salah satu akibat dr kejadian itu adalah begitu banyak manusia yg akhirnya bertobat dan kembali kepada Allah, jadi Maria justru bekerja untuk kemuliaan Allah yaitu untuk menarik banyak jiwa kembali kepada Kristus. Bahkan di penampakannya yg pertama (Guadalupe), Maria berhasil mempertobatkan 8 juta jiwa,mengenalkan Kristus kepada mereka yg dulunya adalah penyembah berhala.

    Menurut saya mujizat2 yg terjadi yg menyertai penampakan bunda Maria, spt matahari yg menari (di Fatima), mata air yg memancar keluar (di lourdes) maupun jenazah para kudus yg tetap awet walaupun sudah berusia ratusan thn (dan bahkan ada yg sudah sempat dikubur selama puluhan thn tp ketika digali kembali,jenazahnya masih utuh spt sedang tidur), juga mujizat ekaristi yg banyak terjadi dimana2, dan banyak org sakit yg sembuh kembali ketika berdoa di makam Paus Yohanes Paulus 2 (yg tidak mungkin terjadi bila beliau ada di neraka!) bukti2 dari mujizat2 itu sendiri saja sudah berbicara banyak mengenai kebenaran iman katolik dibandingkan dengan kesaksian2 mereka yg menyudutkan/menjelekkan katolik tapi tidak disertai bukti2 nyata,dan hanya berdasarkan omongan/bualan mereka saja.

    tapi sebaiknya kita menarik sisi positifnya dr hal2 ini, jadi jika kita membaca kesaksian2 yg negatif itu, seharusnya itu dapat membuat kita semakin tergerak ingin mengenali iman katolik kita sendiri, dengan rajin membaca riwayat para kudus, ajaran2 bapa gereja juga mencari tau mengenai hal2 yg berhubungan dengan iman katolik.

    Dan bila ajaran gereja katolik salah (spt yg mereka tuduhkan) tentu tidak mungkin gereja katolik bisa bertahan selama 2000 thn lebih sampai skrg ini. Hal ini saja sudah suatu “tanda bukti” bahwa Kristus benar2 telah menyertai gerejaNya dr awal sampai akhir jaman.

  9. di dunia ini memank banyak ajaran agama yg ditawarkan tetapi yakinlah bahwa yg kita jalani ini benar,waspadalah selalu karena iblis atau setan juga bisa muncul dalam wujud kebaikan ( kebaikan semu) dan setelah manusia terjerat baru akan muncul iblis yg sebenarnya,jika kita sudah percaya kepada Tri Tunggal Maha Kudus maka kita tdk perlu kuatir lagi akan iman kita,dan jika kita meragukan peran Bunda Maria dalam karya penyelamatan maka sesungguhnya kita juga meragukan AnakNYA.

  10. kalau membaca dari kesaksian di atas kok saya masih meragukan keakurasiannya/kebenarannya, saya bisa katakan demikian karena ada beberapa alasan, yaitu:

    cerita diatas seolah-olah menggambarkan bahwa Yesus kejam dan tidak memberikan ampun atau belas kasih sedikitpun kepada paus, sedangkan Rasul Paulus yang notabene dengan masa lalunya saja mendapat sapaan Tuhan Yesus dan menjadi utama dalam rangka karya keselamatan. [dari katolitas: pengampunan terjadi pada saat seseorang masih berada di dunia ini.]

    tentang api pencucian [edit: penyucian], ini memang sulit untuk diungkapkan kepada kristen non katolik karena mereka memang benar-benar diseting untuk tidak percaya, tetapi sebenarnya masalah kesaksian semacamnya(mengetahui alam lain sesudah orang meninggal dunia) sebenarnya tidak terbatas pada kesaksian Zambrano tsb [dari katolisitas: silakan melihat artikel tentang Api Penyucian - silakan klik].

    tetang Maria, tentunya umat Katolik boleh dong kalau memuja [edit: menghormati] Maria?.. terutama sebagai ibu/Bunda, bukankah hal ini dari Tuhan Yesus sendiri waktu diatas salib mengatakan bahwa inilah ibumu… ,
    memang terkadang ada juga umat katolik yang terlalu extrim dalam memuja [edit: menghormati] maria, hal ini menimbulkan ketidak senangan pihak kristen non katolik karena maria bukan Tuhan,
    tetapi yang benar adalah maria merupakan idola bagi kita, ibarat pahlawan rohani yang memperjuangkan datangnya sang juru selamat ke dunia, dan yang perlu kita sadari adalah apapun yang kita lakukan dalam doa dan kegiatan jika itu menghasilkan buah-buah Roh itu cukup berkenan kepada Tuhan

  11. caecilia lestari on

    aku percaya ada api penyucian, aku percaya Bunda Maria menghibur jiwa jiwa di api penyucian, aku sering baca buku rahasia jiwa jiwa di api penyucian, karangan Maria Simma. tiap hari aku berdoa di buku itu untuk jiwa jiwa di api penyucian di halaman belakang byk doa utk jiwa jiwa di api penyucian, dan aku tertolong dalam hidupku baik bidang rohani maupun jasmani. buku ini sgt bagus isinya.

    • erwin philipus on

      Buku yang bagus isinya itu (Bebaskan Kami dari Sini!) BUKAN karangan Maria Simma tetapi hasil wawancara Nicky Eltz kepada Maria Simma. Silahkan klik: link to getusoutofhere.com

      [Dari Katolisitas: Ya, anda benar. Memang buku Bebaskan kami dari sini bukan karangan Maria Simma sendiri, tetapi ditulis atas kisah pengalaman Maria Simma, oleh Nicky Eltz. Oleh sebab itu orang sering keliru mengatakannya]

  12. Mohon tanya:
    Memang kesaksian pribadi seperti itu tidak berbobot dan tidak ada dasar kekuatan apapun untuk membangun jemaat.. Inilah akibat terbisanya dengan gampang orang memberikan kesaksian di depan jemaat khususnya di gereja gereja diluar Gereja katolik,.dengan dalih dalih menguatkan malah sebaliknya menyesatkan….
    Tapi kemudian tumbuh pertanyaan dalam diri saya:
    1. Mungkinkah hal ini dari iblis?(dua kesaksisn di atas)
    2. Kalau dari Iblis, mengapa dia membawa orang percaya kepada Tuhan? apa maksud si Iblis?
    3. kita tahu iblis adalah bapa segala dusta…apakah dengan cara demikian iblis berniat menjauhkan putra putri Gereja Katolik dari Gereja katolik itu sendiri. Kalau benar demikian apakah bisa kita simpulkan bahwa semua gereja diluar Gereja Katolik mengandung unsur unsur “keiblisan” meskipun membawa orang juga kepada Tuhan Yesus ‘secara semu”. Iblis mengakui Tuhan, tapi membawa orang mengenal Tuhan apakah juga perkerjaan iblis?sepertinya tidak mungkin. Ini suatu hal yang simpple tapi sulit untuk dijawab.Dari hal ini semakin menguatkan saya bahwa Iblis menyerang Gereja Katolik dengan berbagai macam cara dan sekaligus menguatkan kesimpulan saya bahwa semua gereja di luar Katolik tidak mengandung kepenuhan kebenaran yang bisa setiap saat disusupi oleh si Iblis ini untuk memisahkan umat yng lemah iman dan akhirnya bergabung dengan gereja gereja ini…..dan akhirnya iblis tersenyum karena berhasil sementara. Tapi segera dia akan dihancurkan oleh kuasa Tuhan. Maaf ini kesimpulan pribadi saya yg awam.
    Bagaimanakah tanggapan team katolisitas. Thanks atas jawabannya….
    Selamat Paskah.

    • Shalom Johanes,

      Memang wahyu-wahyu pribadi dapat membangun maupun dapat menyesatkan. Oleh karena itu, kalau wahyu pribadi itu terjadi di dalam Gereja Katolik, maka perlu dibuktikan kebenarannya dan ditelaah oleh Gereja. Dengan demikian, kalau memang dinyatakan benar, maka umat Katolik dapat mempercainya karena tidak membahayakan iman bahkan dapat membangun iman. Namun, prosesnya biasanya memakan waktu yang cukup lama. Pertanyaan anda tentang wahyu-wahyu pribadi yang memojokkan Gereja Katolik:

      1. Wahyu pribadi dapat berasal dari Tuhan, maupun setan maupun diri sendiri. Karena kita mempercayai bahwa iman Katolik berasal dari Kristus yang dijaga oleh Gereja (yang telah diberikan kuasa oleh Kristus), maka wahyu-wahyu yang bertentangan dengan iman Katolik pasti bukan berasal dari Tuhan. Mengapa? Karena Tuhan tidak mungkin mempertentangan Diri-Nya sendiri. Kalau ada dua hal bertentangan, seperti apakah Api Penyucian ada atau tidak ada, maka yang kita pegang adalah apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik. Kenapa? Karena Tuhan telah mempercayakan kepada Gereja-Nya untuk mengajarkan dan menuntun umat Allah kepada keselamatan. Dan kuasa ini tidak pernah diberikan kepada orang-orang yang mengklaim mendapatkan wahyu dari Allah.

      2. Iblis dapat memberikan setengah kebenaran, namun tidak mungkin dia dapat memberikan kepenuhan kebenaran, karena di dalam iblis tidak ada kebenaran. Dalam iblis hanya ada tipu muslihat, karena dia adalah bapak dari segala kebohongan. Dengan memberikan setengah kebenaran, maka orang akan dibingungkan, sehingga orang mulai bertanya-tanya mana yang benar dan mana yang salah. Untuk itu, sebagai umat Katolik, kebenaran dogma dan doktrin adalah seperti yang diberikan oleh Magisterium Gereja. Dan dengan ketaatan dan kerendahan hati, kita memberikan diri kita – baik akal budi dan kehendak – untuk dapat mempercayai dan melakukannya dengan suka cita.

      3. Kita tidak mengatakan bahwa di gereja lain mengandung unsur-unsur keiblisan, namun kita mengatakan bahwa kepenuhan kebenaran ada di dalam Gereja Katolik. Gereja-gereja lain mempunyai unsur-unsur kebenaran, namun tidaklah penuh. Ada orang-orang dari anggota gereja non-Katolik, yang benar-benar mengasihi Yesus dengan segenap hati, pikiran dan kekuatan mereka. Oleh karena itu, kita tidak dapat mengeneralisasikan bahwa semua umat Kristen non-Katolik pasti tidak tulus dalam mencari Tuhan. Tuhan bekerja dengan cara-Nya yang ajaib. Biarlah dengan cara-Nya yang jauh lebih baik dari cara kita, Dia bekerja. Bagian kita adalah mengerjakan apa yang menjadi bagian kita, yaitu mempelajari dan mengasihi iman Katolik, sehingga kita dapat mempertanggungjawabkannya dengan baik. Dan terlebih, kita harus menjadi saksi yang hidup, sehingga orang dapat melihat Kristus di dalam diri kita. Semoga jawaban singkat ini dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • Bernardus Aan on

        Salam Damai Kristus Pak Steff,

        Saya sependapat sekali dengan tanggapan Pak Steff atas tanggapan Pak Steff terhadap kesimpulan sdr terkasih Johanes. Pad kesempatan ini saya ingin bertanya pula kepada Bp. Steff yaitu sebagai berikut :

        1. Pada kesaksian pendakwa diatas menyatakan bahwa Almarhum Paus Yohanes Paulus II disiksa dineraka. Pertanyaan saya adalah kapankah jiwa-jiwa dimasukkan ke neraka? Saya mencari sumber-sumber dikitab Suci tetapi tidak menemukan bahwa orang yang meninggal jiwanya langsung dimasukkan ke dalam neraka. Tetapi harus menunggu dulu sampai akhir jaman untuk dihakimi lalu ditentukan apakah menerima kerajaan yang dijanjikan oleh Kristus atau ke neraka tempat Iblis dihukum. Adapun dasar kitab suci sebagai berikut :

        Matius25:31-46
        25:31 “Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat
        bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta
        kemuliaan-Nya. 25:32 Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan
        Ia akan memisahkan mereka seorang dari pada seorang, sama seperti gembala
        memisahkan domba dari kambing, 25:33 dan Ia akan menempatkan domba-domba
        di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. 25:34 Dan
        Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai
        kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan
        bagimu sejak dunia dijadikan. 25:35 Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi
        Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang
        asing, kamu memberi Aku tumpangan 25:36 ketika Aku telanjang, kamu memberi
        Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam
        penjara, kamu mengunjungi Aku. 25:37 Maka orang-orang benar itu akan
        menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan
        kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? 25:38
        Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi
        Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? 25:39
        Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami
        mengunjungi Engkau? 25:40 Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata
        kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah
        seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya
        untuk Aku. 25:41 Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah
        kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk,
        enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan
        malaikat-malaikatnya 6 . 25:42 Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi
        Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; 25:43 ketika Aku
        seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang,
        kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu
        tidak melawat Aku. 25:44 Lalu merekapun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan,
        bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang
        asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak
        melayani Engkau? 25:45 Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu,
        sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang
        dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. 25:46
        Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar
        ke dalam hidup yang kekal.”
        Injil Matius bersaksi bahwa Kristus akan menghakimi pada akhir jaman.
        Orang akan ditentukan masuk Neraka pada akhir jaman menurut Injil Matius.

        Juga dikitab Wahyu 20:12-15:
        20:12 Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan
        takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain,
        yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan
        mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu. 20:13
        Maka laut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan maut dan
        kerajaan maut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan
        mereka dihakimi masing-masing menurut perbuatannya. 20:14 Lalu maut dan
        kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian
        yang kedua: lautan api. 20:15 Dan setiap orang yang tidak ditemukan
        namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam
        lautan api itu.
        Kitab Wahyu bersaksi bahwa orang akan dihakimi dan masuk neraka pada akhir
        jaman.

        Jadi jika benar bahwa manusia akan masuk neraka setelah penghakiman terkahir oleh KRISTUS TUHAN maka kesaksian Paus Yohanes Paulus II ada dineraka adalah bertentangan dengan Kitab Suci.

        2. Tentang kesaksian Pendakwa berikut ini : Pergi beritahu mereka bahwa Aku mencintai mereka dan beritahu mereka bahwa Maria tidak memiliki pengetahuan apa-apa [yg terjadi di bumi] dan satu-satunya yg mereka harus tinggikan adalah Aku, karena baik Maria, atau St. Gregory ataupun santo lainnya dapat [mungkin maksudnya: tidak dapat] menawarkan keselamatan.
        Dikesaksian tersebut mengatakan bahwa Bunda Maria tidak memiliki pengetahuan apapun juga para Santo.
        Yang saya tanyakan adalah apakah sebenarnya upah yang orang-orang kudus karena taat kepada Bapa Tuhan kita Yesus Kristus dan kepada Kristus? Apakah memerintah bersama Kristus atau secara pasif hanya berdiam disurga tanpa tahu apa-apa seperti anak-anak?
        Dari Kitab Suci mengatakan demikian :

        Matius 25:34 Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai
        kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan
        bagimu sejak dunia dijadikan.
        Kalimat diatas menyatakan bahwa Orang2 Kudus akan menerima Kerajaan. Jadi jika ia menerima Kerajaan maka ia menjadi salah satu yang memerintah kerajaan tersebut.

        Juga terhadap Kitab Wahyu 20:6 Berbahagia dan kuduslah ia, yang mendapat bagian dalam kebangkitan pertama itu. Kematian yang kedua tidak berkuasa lagi atas mereka, tetapi mereka akan menjadi imam-imam Allah dan Kristus, dan mereka akan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Dia, seribu tahun lamanya.
        Jadi ada kebangkitan pertama dan menurut iman kita Bunda Maria diangkat beserta Jiwa dan Raganya. Berarti Bunda Maria ikut serta dalam Kebangkitan pertama. Menurut Kitab Wahyu tersebut mereka yang ikut serta pada kebangkitan pertama memerintah bersama Kristus selama 1000 tahun. Kata memerintah adalah tindakan aktif dimana mereka dari Surga juga mengadakan Penyelenggaraan Illahi.

        Juga Kitab Wahyu 22:1-5 Lalu ia menunjukkan kepadaku sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal, dan mengalir ke luar dari takhta Allah dan takhta Anak Domba itu. 22:2 Di tengah-tengah jalan kota itu, yaitu di seberang-menyeberang sungai itu, ada pohon-pohon kehidupan yang berbuah dua belas kali, tiap-tiap bulan sekali; dan daun pohon-pohon itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa. 22:3 Maka tidak akan ada lagi laknat. Takhta Allah dan takhta Anak Domba akan ada di dalamnya dan hamba-hamba-Nya akan beribadah kepada-Nya, 22:4 dan mereka akan melihat wajah-Nya , dan nama-Nya akan tertulis di dahi mereka. 22:5 Dan malam tidak akan ada lagi di sana, dan mereka tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka, dan mereka akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya.
        Jadi menurut Kitab Wahyu diatas pada kebangkitan ke dua orang-orang Kudus akan memerintah bersama Kristus sampai selama-lamanya.
        Berdasarkan ayat tersebut bukankah orang-orang Kudus ini akan secara aktif ikut serta dalam penyelenggaraan Illahi karena kata memerintah disini berarti kalimat aktif bukan pasif.
        Jika benar pendapat saya maka kesaksian pendakwa diatas bertentangan dengan Injil maupun Kitab Wahyu.
        Mohon pendapatnya Pak Steff dan TUHAN memberkati,

        Banyak-banyak Salam Dalam Kasih Karunia Kristus,
        Bernardus Aan

        • Shalom bernardus Aan,

          Terima kasih atas komentarnya. Tentang apakah yang terjadi pada jiwa-jiwa yang telah meninggal, kami pernah membahasnya di sini – silakan klik. Secara prinsip, orang yang meninggal akan langsung diadili – apakah dia masuk ke Neraka, Sorga maupun Api Penyucian – dan ini disebut pengadilan khusus. Sedangkan pada pengadilan terakhir, semua akan dihakimi di depan semua bangsa. Inilah yang disebut pengadilan umum. Sedangkan Maria dan para kudus dapat menerima pengetahuan akan apa yang terjadi di dunia ini, sejauh memang dipandang baik oleh Tuhan dan sejauh yang berhubungan dengan mereka. Hal ini dapat kita lihat dari penampakan-penampakan Maria, yang mengindikasikan bahwa Bunda Maria tahu – sejauh diijinkan oleh Tuhan – akan apa yang terjadi di dunia. Dan di Alkitab juga disebutkan bahwa jika ada satu orang bertobat, maka seisi Sorga (para malaikat dan termasuk para orang kudus) akan bersorak-sorai. Sorak sorai ini adalah suatu indikasi bahwa mereka tahu ada pertobatan. Tahu sampai seberapa jauh? Tergantung dari keterlibatan mereka dan apa yang dipandang baik oleh Tuhan. Hal ini pernah dibahas secara panjang lebar di dialog ini – silakan klik. Silakan membaca terlebih dahulu beberapa prinsip dalam beberapa link tersebut.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – katolisitas.org

          • Bernardus Aan on

            Salam Damai Kristu Pak Steff,

            Terimakasih atas penjelasannya tetapi apakah Bapak Stefanus tidak keberatan menjelaskan arti kata “memerintah” Pada ayat -ayat sebagai berikut :

            Wahyu 20:6 Berbahagia dan kuduslah ia, yang mendapat bagian dalam kebangkitan pertama itu. Kematian yang kedua tidak berkuasa lagi atas mereka, tetapi mereka akan menjadi imam-imam Allah dan Kristus, dan mereka akan “memerintah” sebagai raja bersama-sama dengan Dia, seribu tahun lamanya.

            Juga pada ayat ini :

            Wahyu 22:1-5 Lalu ia menunjukkan kepadaku sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal, dan mengalir ke luar dari takhta Allah dan takhta Anak Domba itu. 22:2 Di tengah-tengah jalan kota itu, yaitu di seberang-menyeberang sungai itu, ada pohon-pohon kehidupan yang berbuah dua belas kali, tiap-tiap bulan sekali; dan daun pohon-pohon itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa. 22:3 Maka tidak akan ada lagi laknat. Takhta Allah dan takhta Anak Domba akan ada di dalamnya dan hamba-hamba-Nya akan beribadah kepada-Nya, 22:4 dan mereka akan melihat wajah-Nya , dan nama-Nya akan tertulis di dahi mereka. 22:5 Dan malam tidak akan ada lagi di sana, dan mereka tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka, dan mereka akan “memerintah” sebagai raja sampai selama-lamanya.

            Demikian Pak Steff mohon penjelasnnya dan Tuhan memberkati.

            Salam Dalam Kasih Karunia Kristus Yesus,
            Bernardus Aan

            • Shalom Bernardus Aan,

              Berikut ini penjelasan dari A Catholic Commentary on Holy Scripture, Dom Orchard, OSB, ed.:

              Menurut St. Agustinus (Civ. Dei, 20, 7-13, etc) dan St. Jerome (Hieronimus), pengikatan Setan dan masa pemerintahan para orang kudus adalah keseluruhan masa setelah masa Inkarnasi. Oleh kuasa Kristus, kuasa jahat dipatahkan, dan semua orang Kristen yang menerima rahmat Tuhan melalui Baptisan adalah para raja dan imam, ‘imamat yang rajani ‘(1 Pet 2:9), sekalipun mereka dianiaya. Mereka ini bukan saja para martir dan para kudus yang di surga, tetapi mereka semua yang tidak menyembah binatang itu, meskipun mereka belum dilahirkan (lih. Why 7; 15:2-4, 14:1-5)

              Angka ‘1000’ diperkirakan menurut pandangan Yahudi, berhubungan dengan dunia yang akan eksis selama 7000 tahun, sesuai dengan 7 hari penciptaan, dengan hari terkhir sebagai hari istirahat, dan sesudahnya milinium ke 8 adalah kekekalan. Namun dalam kitab Wahyu, 1000 tahun ini mengacu kepada masa rahmat di mana para umat beriman hidup, entah di dunia maupun kehidupan sesudahnya di surga (Why 14:13). Disebutkan ada kematian yang pertama akibat dosa, dan kematian kedua adalah penghukuman; dan karenanya ada yang disebut kebangkitan pertama, oleh rahmat (lih. Ef 5:14; Kol 3:1, dan semua pengajaran Rasul Paulus tentang akibat Pembaptisan), dan kebangkitan kedua seperti disebutkan dalam Yoh 5:24-25, di mana bukan saja mereka yang mendengarkan Kristus akan memperoleh hidup, tetapi mereka akan memperoleh hidup yang kekal.

              Namun Rasul Yohanes juga mengatakan dengan jelas bahwa walaupun diikat Setan juga tetap mempunyai pengaruh atas jiwa- jiwa. Setelah masa 1000 tahun (penggambaran masa kejayaan umat beriman secara figuratif), Setan akan dilepaskan dan akan menipu semua bangsa di dunia. Mereka (Gog dan Magog) akan menyerang para orang kudus, namun kemudian Setan dan semua pengikutnya akan dikalahkan dan dibuang ke lautan api neraka, seperti yang nampak pada penglihatan berikutnya seperti disampaikan oleh Rasul Yohanes.

              Dengan demikian, kata ‘memerintah’ /βασιλεύω (basileúō), memang mengacu kepada ‘raja’, meraja, memerintah. Kata ‘memerintah’ ini menjelaskan kuasa Kristus sang Mesias (Mat 2:22; Luk 1:33; Luk 19:14, Luk 19:27, 1 Kor 15:25), kuasa Tuhan (Why 11:15,17; 19:6; Mzm 93:1; 96:10; 97:1; 99:1); namun juga kuasa diberikan kepada mereka yang menjadi milik Kristus (Why 5:10, Why 20:4, 6; 22:5). Maka ‘memerintah’ di sini berhubungan dengan ‘kuasa mengatasi’, seperti yang diajarkan oleh Rasul Paulus, dalam Rom 5:14,17,21; Rom 6:12). Kuasa ‘memerintah’/ mengatasi ini dimiliki oleh orang beriman untuk mengalahkan kecenderungan berbuat dosa/ keinginan daging, untuk hidup seturut dengan kehendak Allah.

              Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
              Ingrid Listiati- katolisitas.org

              • Bernardus Aan on

                Salam Damai Kristus bu Ingrid,

                Klo memang kata memerintah memang mengacu pada ‘raja’. meraja, memerintah maka berdasarkan Kitab Suci tersebut apakah bisa dikatakan dengan bahasa sederhana begini : Orang-orang Kudus menerima Kuasa Kristus yang menjadikan mereka menjadi Raja dan memerintah bersama Kristus di Surga. Bunda Maria menurut iman kita juga ikut serta dalam kebangkitan pertama. Berarti bisa disimpulkan bahwa Bunda Maria juga menerima Kuasa Kristus untuk memerintah bersama Kristus dalam arti Sang Theotokos juga menerima kuasa sebagai sorang Ratu di surga (Jika laki-laki disebut Raja maka Bunda Maria disebut Ratu karena beliau adalah seorang wanita). Benarkah apa yang saya tangkap ini bu Ingrid?

                Demikian dan TUHAN memberkati,

                Salam Dalam Kasih Karunia Kristus Tuhan,
                Bernardus Aan

                • Shalom Bernardus Aan,

                  Memang di dalam beberapa buku tafsir Kitab Suci tidak disebutkan secara mendetail bagaimana persisnya arti kata ‘memerintah’ di sini. Umumnya dikatakan bahwa para orang kudus (Santa dan Santo) dan para martir berjaya bersama Kristus, yang memberikan kuasa kepada mereka untuk mengatasi dan mengalahkan dosa.

                  Saat ini, kuasa ‘memerintah’ bersama Kristus di surga dijalankan oleh para orang kudus dengan turut mengambil bagian dalam karya keselamatan yang masih terus dikerjakan oleh Kristus melalui Gereja-Nya. Para kudus itu (termasuk Bunda Maria) adalah anggota-anggota Gereja yang telah berjaya di surga, dan mereka turut mendukung karya Kristus dengan doa- doa syafaat mereka (lih. KGK 956, 957)

                  Peran Bunda Maria sebagai Ratu surga/ Ratu alam semesta dalam keikutsertaannya memerintah bersama Kristus, bukan disebabkan semata karena dia adalah seorang perempuan; sebab tidak semua orang kudus yang perempuan disebut sebagai Ratu surga. Bunda Maria disebut Ratu Surga, karena perannya yang istimewa dalam sejarah keselamatan, yaitu bahwa ia adalah ibu yang melahirkan Kristus yang menjadi Raja dalam Kerajaan Surga. Sama seperti Batsyeba ibu Raja Salomo, menjadi Ratu mendampingi Raja Salomo, demikian pula Bunda Maria menjadi Ratu mendampingi Kristus di surga.

                  Konsili Vatikan II mengajarkan tentang hal ini demikian:

                  “Akhirnya Perawan tak bernoda, yang tidak pernah terkena oleh segala cemar dosa asal (Lih. PIUS IX, Bulla Ineffabilis, 8 Desember 1854) sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, telah diangkat melalui kemuliaan di sorga beserta badan dan jiwanya (Lih. PIUS XII, Konstitusi apostolik Munificentissimus, 1 November 1950) Ia telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu alam semesta, supaya secara lebih penuh menyerupai Puteranya, Tuan di atas segala tuan (lih. Why 19:16), yang telah mengalahkan dosa dan maut.” (Lumen Gentium 59)

                  Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
                  Ingrid Listiati- katolisitas.org

  13. menanggapi dua cerita di atas, hati-hati… terkadang iblis dapat menipu manusia dengan mewujudkan dan menyerupai TUHAN. alangkah lebih baik kita tetap pada pendirian kita percaya kepada TUHAN dan alangkah jauh lebih baik jika kita meminta jawaban dari TUHAN langsung melalui doa. dan saya yakin TUHAN pasti akan menjawab semua petanyaan dan permintaan kita asalkan kita memintanya dengan sungguh-sungguh, jangan sampai iman kita tergoyahkan oleh artikel-artikel duniawi yang akan menghacurkan kepercayaan kita. sedikit pertanyaan apakah surga dan neraka itu ada???? jawabanya hanya orang yang telah meninggal dan di panggil kembali oleh TUHAN yang dapat menjawabnya. dan orang yang telah meninggal dan di panggil oleh TUHAN tidak akan dapat membuka internet. apakah internet di dunia lain dapat online dengan dunia nyata????

  14. apapun agama yg kta anut tdk akan mmpengaruhi kita masuk sorga atau neraka,, manusia yang goncang lah yang akan sulit untuk masuk kedalam kerajaan sorga! jika kebaikan selalu ada dalam diri kita akan membawa kita kedalam sorga,,! bukankah sudah ada kitab suci untuk sebagai sumber kehidupan,,dan tergantung bagaimana kita harus memahaminya!

    [dari katololisitas: dalam hubungan antara agama dan keselamatan, silakan melihat tanya jawab ini – silakan klik dan klik ini
    .

  15. Saya memang bukan seorang katholik yang saleh… Tapi saya tidak pernah bergeming terhadap apapun yang menyudutkan Katholik…. Saya cinta Yesus dengan cara & pikiran saya…. Masa bodoh orang mau bersaksi apa yang menyudutkan iman Katholik saya…. Untuk saya, banyak orang sirik didunia ini… Tapi, saya percaya Tuhan membimbing saya! Hail Jesus! Keep the faith…

  16. kesaksian bahawa paus ada di neraka.bagi umat yang kurang iman atau masih novis.pasti berbalah bagi kepercayaanya.mesti diingat bagi mereka yang non katolik tidak mempercayai akan semua dogma.atau apapun ajaran katolik baik tradisinya mahu pun lain.ada diantara denominasi non katolik ajaranya mengelirukan.umpamanya.salib.gambar para kudus.rosaria dan lainnya.mereka anggap itu termasuk penyembahan salah.berhala.hal ini saya sendiri dan umat di tempat saya mengalaminya.bagaimana pandangan mereka yang pada kita tidak tidak relavan dan sesuai mengikut dotrin katolik.oleh itu kepada umat katolik dimana saja.percayalah jangan goyahkan imanmu.imani.renungi sabda hidupnya.salam damai..

  17. budiaryotejo on

    Dear Para Romo / Pak Stef/Bu Inggrid.

    Apakah Paus Paulus ( Pope John Paul II ) bener bener berada di Neraka ?
    Saya baca ( dlam bahasa ingrris ) di web sbb :
    link to jesus-is-savior.com

    Mungkin dapat Romo/Pak Stef ato Bu Inggrid lihat di web tersebut.

    Bagaimana mungkin mereka mereka bisa mengetahui bahwa John Pope berada di neraka ?

    Saya jadi kaga ngerti ..yang menentukan ke neraka ato surga itu khan Tuhan, no body know lah begitu.
    Selain itu didalam alkitab dituliskan bahwa setelah kita mati setahu saya nanti pasti masuk kesuatu tempat yg disebut tempat penantian. Mengapa ? karena nanti manusia klo bener bener sdh diadili oleh Yesus baru tahu mana yg masuk surga dan yg ke neraka.
    Sedang masa/hari penghakiman / pengadilan disebutkan dial kitab suci setelah kiamat ato kedatangan Tuhan Yesus yg ke 2 x

    Jadi ini bagaimana yaa..apa mereka omongnya berdasarkan asbun alias asal bunyi / berdasarkan alkitab atau kesaksian yg masih perlu diuji….

    Mohon penjelasannya.

    salom


    [dari katolisitas: silakan melihat jawaban di atas - silakan klik]

  18. Grace Christine on

    dengan hormat,

    Saya seorang katolik, tinggal di Bandung. Saya ingin berusaha mendekatkan diri kepada Tuhan hari demi hari, antara lain dengan cara melakukan Doa Rosario setiap pagi (sudah rutin saya lakukan kira-kira 1 bulan terakhir ini) setelah Doa Pagi. Beberapa hari lalu seorang teman Facebook mengirimi saya tautan [edit]. Di dalam website tsb ada banyak sekali kesaksian mengenai pengalaman mereka dibawa rohnya oleh Yesus melihat surga dan neraka. Kesaksian2 itu sangat menggoyahkan iman katolik saya, terutama karena di beberapa kesaksian dikatakan bahwa Yesus mengatakan seperti ini, “Api penyucian itu tidak ada, itu adalah tipuan iblis,” dan yang paling menggoyahkan iman saya adalah kesaksian dari Angelica Zambrano berjudul “Persiapkan dirimu untuk bertemu dengan Allah!”

    …….


    [dari katolisitas: silakan melihat jawaban di atas - silakan klik]

    • Ibu Grace yang baik,

      Saya juga tinggal di bandung, saya juga mempunyai saudara yang goyah imannya setelah membaca kesaksian seperti ini.

      Kesaksian seperti ini menurut saya penuh dengan kebencian kepada umat Katolik, tapi Ibu Grace tidak usah khawatir, bawa dalam renungan point-point dari penjelasan Pak Stef, biar hati yang menjawab.
      Coba baca buku Rome Sweet Home karangan Scott dan Kimberly Hahn, banyak orang yang dikuatkan iman Katoliknya setelah membaca buku ini, termasuk Saudara saya.

      Jangan takut untuk terus berdoa Rosario, saya banyak kenal orang yang rajin berdoa Rosario dan hidupnya menghasilkan “buah” yang baik. Ibu juga bisa membaca tentang kisah penampakan Bunda Maria di banyak tempat, saya sendiri sangat tertarik dengan penampakan Bunda Maria di Guadalupe.

      Banyak yang tidak suka Ibu Grace bisa semakin dekat kepada Tuhan, akan tetapi Tuhan juga dengan nyata menuntun Ibu Grace untuk menemukan website katolisitas sehingga Ibu dapat menemukan kebenaran akan Iman Katolik yang kita imani di web ini.

      Salam Kasih dalam Kristus Tuhan :-)

  19. Sdr stef..

    Ada kesaksian dari angelica sambrano asal ekuador yg di bawa ama Tuhan Yesus utk menyaksikan bahwa surga dan neraka itu nyata…

    singkat cerita ( boleh di lihat di youtube angelica sambrano ) Angelica melihat Paus Yohanes Paulus ke II ada di neraka dan disiksa sangat mengerikan oleh si iblis… dan sempat di pertanyakan mengapa paus ada di neraka? Dia memberikan pencerahan di depan ribuan umat di seluruh dunia, pemimpin gereja.. Tuhan menjawab angelica bahwa Orang ini ( paus ) tau kebenaran tetapi menyembunyikan kebenaran di hadapan umat … di sorga angelica melihat orang2 suci yg ada di alkitab dan Tuhan menunjukan kepada angelica maria di sorga tetapi maria yg di puja2 dan di hormati dan di sanjung oleh GK dan umatnya tidak seperti itu maria tidak mendapatkan tempat seperti yg GK bicarakan, Tuhan memberitahukan kepada angelica bahwa maria tidak mempunyai pengetahuan tentang dunia… Tetapi GK katolik mengajarkan sebaliknya… kalau Paus saja ada di neraka bagaimana stef bisa mengimani bahwa magistarium itu benar tidak mungkin salah ?

    [dari katolisitas: silakan melihat jawaban di atas - silakan klik]

  20. Saudara yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus,

    Membaca atau mendengarkan kesaksian pribadi seperti di atas terus terang sama sekali tidak menggoncangkan iman Katolik saya, maaf malah menurut saya itu suatu bentuk kesombongan (rohani) – terutama di bagian yang menyatakan melihat Paus Yohanes Paulus II di neraka. Seolah-olah dalam pengakuan Angelica Zambrano mengklaim dirinya lebih layak di hadapan Yesus daripada Paus Yohanes Paulus II (Ampuni dia ya Tuhan, karena dia tidak tahu apa yang dia katakan. Amin).

    Kita semua tahu bahwa menjadi Pastur itu tidak mudah, jasmani dan rohani. Hanya segelintir dari sekian banyak yang dengan suka rela menjalani latihan jasmani dan rohani selama bertahun-tahun akhirnya bisa ditasbihkan. Dari sekian jumlah yang sudah ditasbihkan itu ada segelintir (yang memenuhi persyaratan rohaniah – jasmaniah) yang terpilih menjadi Uskup. Tidak semua Uskup menjadi Kardinal, dan hanya 1 dari sekian banyak Kardinal yang terpilih menjadi Paus, itupun maaf, menunggu Paus yang terdahulu dipanggil menghadap Tuhan lebih dahulu. Jadi jalan menjadi Paus sungguh memerlukan latihan rohani dan jasmani yang luar biasa selama puluhan tahun, bahkan itupun tidak cukup, rasa-rasanya kita setuju bahwa tanpa Yesus sendiri yang memilih (seperti saat Yesus memilih Petrus) mustahil seseorang menjadi Paus seperti Paus Yohanes Paulus II.

    Meskipun saya percaya bahwa Tuhan kadang-kadang memilih orang-orang sederhana seperti St. Bernadet misalnya untuk menerima wahyu-Nya, tetapi jelas tidak sembarang orang bisa mengaku-aku mendapat wahyu dari Tuhan apalagi bertemu sendiri dengan Yesus dan menyatakan bahwa Paus Yohanes Paulus II tidak layak secara rohaniah (dan jasmaniah) untuk bersatu dengan Kasih Yesus.

    Mungkin gambarannya seperti ini:
    a. Saya (boleh saja) mengaku-aku mendapat karunia transendental suatu malam saat berdoa dibawa malaikat terbang di atas api neraka untuk mengingatkan saya (dan saudara-saudara saya) akan hukuman api neraka.
    b. Saya menceriterakan mendapat karunia terbang di atas api neraka dan melihat Bunda Teresa sedang menderita disana.

    Yang (a) jelas tidak masalah karena dengan seketika orang lain yang mendengarnya boleh percaya dan boleh tidak percaya.
    Tetapi yang (b) sungguh tidak pada tempatnya. Karena seolah-olah saya merasa lebih suci daripada Bunda Teresa. Mengenai hal ini sungguh bukan kesombongan rohani yang bisa anda sematkan ke saya apabila meng-klaim hal tersebut, melainkan lebih cocok sebagai kebodohan rohani saya. Meskipun saya memang Katolik 100%, jelas saya bukan apa-apanya dalam hal rohaniah terutama dibandingkan dengan Bunda Teresa. Saya masih harus berjuang keras setiap harinya untuk hidup dalam kekudusan, itupun masih sering gagal. Bahkan seluruh sisa hidup sayapun belum tentu cukup untuk mencapai tingkat rohaniah yang sudah dicapai Bunda Teresa. (Maafkan Bunda Teresa, yang b itu hanya contoh saja, maaf dan doakanlah saya agar bisa meneladani hidupmu yang luar biasa).

    Sekali lagi saya tekankan, iman Katolik saya tidak goyah dengan hal-hal seperti itu. Saya yakin apa yang diajarkan Gereja Katolik sudah melalui penelitian, perenungan, dan kebijaksanaan dari sekian banyak rohaniawan-rohaniawati Katolik selama ribuan tahun. Sudah teruji dalam berbagai jaman. Dan dalam terang Roh Kudus. Dan saya yakin bahwa para jenius itu tidak hanya diciptakan Tuhan untuk Ilmu Pasti saja, tetapi juga dalam Gereja Katolik. Para Doktor-doktor gereja itu telah mem-bumi-kan Teologi Katolik yang demikian dalam dan pelik menjadi kelihatan sederhana sehingga benar-benar “Katolik” – Universal – untuk semua orang. Tidak peduli kita ini sarjana, buruh, atau anak-anak; kita bisa mengimaninya. Mungkin bisa dilambangkan menjadi satu kata: “TAAT” – Fiat. Bila kita (tidak perduli seberapa cerdas atau seberapa bodoh kita) menjalankan semua ajaran Gereja Katolik dengan taat dan secara lengkap, mengikuti semua liturginya dengan penuh penghayatan, dan menerima Sakramen-Sakramen dengan penuh iman, niscaya jalan ke Surga itu “PASTI”.
    Bukankah yang tidak bisa dilakukan iblis itu adalah “taat”? Dan bukankah contoh ke-TAAT-an yang paling nyata dalam alkitab adalah ketaatan Bunda Maria, dari sejak mengatakan “YA” didepan Malaikat Gabriel sampai berdiri di bawah salib Yesus dan seterusnya?

    Terima Kasih Yesus, Engkau telah memilihku dan keturunanku menjadi Katolik.

    Tuhan Memberkati kita
    Yohanes W

  21. Yosefa Margareta on

    Saya sangat terkesan dengan semua penjelasan di atas.Saya pikir adalah suatu tindakan yang bijaksana yang telah dilakukan untuk menjawab semua keragu2an umat Katolik yang merasa tergoncang imannya dengan kesaksian2 yang belum tentu dapat dipertanggungjawabkan.Memang sebagai orang Katolik kita tidak perlu membenci mereka,tapi rasanya sekali2 kita perlu juga untuk menjelaskan hal2 yang terkadang sering melecehkan iman kristian.Semoga makin memperkuat iman kita sebagai orang Katolik

Add Comment Register



Leave A Reply