Karunia Roh Kudus dan manfaatnya

37

Kita perlu membedakan antara karunia- karunia Roh Kudus, dengan karunia- karunia karisma Roh Kudus.

1. Karunia- karunia Roh Kudus

Karunia- karunia Roh Kudus, itu ada tujuh, seperti yang disebut dalam Yes 11:2-3. Ketujuh karunia ini diberikan kepada kita pada waktu Pembaptisan, di mana melaluinya kita menerima Roh Kudus, dan mengambil bagian dalam hidup di dalam Kristus, yang memampukan kita untuk hidup sebagai anak- anak angkat Allah. Karunia- karunia ini kemudian menerima pertambahannya oleh karena rahmat Allah yang diberikan melalui sakramen- sakramen selanjutnya, terutama Krisma (Penguatan) dan Ekaristi, dan juga dalam doa- doa, permenungan akan Sabda Allah, dan juga melalui persekutuan doa di dalam komunitas umat beriman, seperti dalam acara SHBDR (Seminar Hidup Baru dalam Roh Kudus).

Katekismus Gereja Katolik mengajarkan tentang karunia- karunia Roh Kudus, sebagai berikut:

KGK 1830 Kehidupan moral orang-orang Kristen ditopang oleh karunia-karunia Roh Kudus. Karunia ini merupakan sikap yang tetap, yang mencondongkan manusia, supaya mengikuti dorongan Roh Kudus.

KGK 1831 Ketujuh karunia Roh Kudus adalah: kebijaksanaan, pengertian, nasihat, keperkasaan, pengetahuan, kesalehan, dan rasa takut akan Allah. Dalam seluruh kepenuhannya mereka adalah milik Kristus, Putera Daud (Bdk. Yes 1-2). Mereka melengkapkan dan menyempurnakan kebajikan dari mereka yang menerimanya. Mereka membuat umat beriman siap mematuhi ilham ilahi dengan sukarela.
“Kiranya Roh-Mu yang baik menuntun aku di tanah yang rata” (Mzm 143:10).
“Semua orang yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah … Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris; kita adalah ahli waris Allah dan rekan ahli waris Kristus” (Rm 8:14.17).

Jadi Katekismus mengajarkan bahwa karunia- karunia Roh Kudus membantu kita untuk menaati dorongan ilahi dalam diri kita, agar kita dapat hidup sebagai anak- anak Allah.

2. Manfaat karunia- karunia Roh Kudus: untuk menjadikan kita bahagia

Maka benar, bahwa jika Allah memberi karunia, pasti ada manfaatnya. Karunia- karunia Roh Kudus dimaksudkan Allah untuk menguduskan kita supaya kita dapat mencapai kebahagiaan yang sejati, yaitu kebahagiaan menurut Tuhan, dan bukan menurut manusia.

St. Agustinus dalam penjelasannya tentang khotbah di bukit (Delapan Sabda Bahagia) menghubungkan antara ketujuh karunia Roh Kudus (Yes 11:2-3) dengan ketujuh Sabda Bahagia tersebut (Mat 5:3-9), hanya urutannya terbalik. Nabi Yesaya menyebutkan karunia itu dengan urutan mulai dari yang paling tinggi sampai yang paling sederhana, sedangkan Tuhan Yesus memberikan Sabda Bahagia mulai dari urutan yang paling sederhana sampai kepada yang paling tinggi. Dari tiap- tiap pasangannya, karunia Roh Kudus merupakan cara untuk mencapai Sabda Bahagia tersebut.

Demikian sekilas kutipan dari pengajaran St. Agustinus:

“Oleh karena itu, kelihatannya bagiku bahwa ketujuh karunia Roh Kudus yang disebutkan oleh Nabi Yesaya bertepatan dengan urutan- urutan ini. Namun demikian, urutannya berbeda. Di Kitab Yesaya, urutan bermula dari yang tertinggi, sedangkan dalam Sabda Bahagia, urutan dimulai dari yang ter-rendah. Dari Yesaya, dimulai dari karunia hikmat kebijaksanaan dan berakhir dengan karunia takut akan Tuhan. Tetapi ‘takut akan Allah adalah permulaan hikmat’. Maka, jika kita menanjak selangkah demi selangkah…., tingkatan pertama adalah takut akan Tuhan, kedua adalah kesalehan, ketiga adalah pengetahuan, keempat adalah keperkasaan, kelima adalah nasihat, keenam adalah pengertian dan ketujuh adalah kebijaksanaan. Takut akan Tuhan berkaitan dengan orang- orang yang rendah hati, yang kepadanya dikatakan, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah.” Ini maksudnya: Berbahagialah mereka yang tidak meninggikan diri, tidak sombong… jangan memuliakan diri sendiri. Kesalehan berkaitan dengan mereka yang lemah lembut, sebab jika seseorang dengan saleh menelaah Kitab Suci, dan tidak menyalahkan sesuatu hal yang belum ia pahami, ia menghormati Kitab Suci dan tidak melawannya. Ini adalah kelemahlembutan…. Pengetahuan berkaitan dengan mereka yang berduka cita. Orang-orang yang berduka adalah mereka yang setelah mempelajari Kitab Suci, menjadi paham akan betapa mereka telah dihindarkan dari kejahatan- kejahatan, yaitu segala kejahatan yang dulunya mereka pandang sebagai sesuatu yang baik dan berguna…. Keperkasaan berkaitan dengan mereka yang lapar dan haus, sebab mereka bekerja sambil menginginkan kegembiraan di dalam hal- hal yang sungguh- sungguh baik, dan mereka rindu untuk mengalihkan cinta mereka dari hal- hal yang sifatnya duniawi dan sementara…. Nasihat berkaitan dengan mereka yang berbelas kasihan, sebab satu- satunya obat untuk melepaskan diri dari kejahatan yang besar adalah untuk mengampuni seperti kita sendiri ingin diampuni dan untuk membantu orang lain ketika kita mampu, sama seperti kita ingin dibantu pada saat kekuatan kita sendiri tidak cukup …. Pengertian berkaitan dengan hati yang murni; ini berhubungan dengan mereka yang mempunyai mata yang bersih,….yang olehnya dapat dilihat sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh mata, apa yang tidak dapat didengar oleh telinga, dan apa yang tak pernah terpikirkan dalam hati manusia (lih. 1 Kor 2:9)…. Kebijaksanaan berkaitan dengan para pembawa damai, sebab dengan pembawa damai segala sesuatu diletakkan dalam tempatnya yang layak, dan tak ada keinginan/ hasrat yang membangkang terhadap akal budi tetapi segalanya tunduk kepada roh manusia, sebab roh taat kepada Tuhan.”[1]

Kaitan antara karunia Roh Kudus dengan Sabda Bahagia ini menunjukkan kepada kita bahwa maksud karunia Roh Kudus ini diberikan adalah supaya kita yang menerimanya mencapai kebahagiaan sejati.

3. Karunia- karunia karisma Roh Kudus.

Selain karunia- karunia Roh Kudus yang pertama- tama ditujukan untuk menguduskan diri orang yang menerimanya, ada juga yang disebut sebagai karunia- karunia karisma Roh Kudus, yang bertujuan untuk menguduskan jemaat/ Gereja (lih. 1 Kor 14:12). Karunia- karunia karisma ini dijelaskan oleh Rasul Paulus secara khusus di dalam suratnya kepada jemaat di Korintus yaitu 1 Kor 12 dan 1 Kor 14. Di 1 Kor 12:8-10 dikatakan bahwa karunia- karunia karisma itu adalah: berkata- kata dengan hikmat, berkata- kata dengan pengetahuan, iman, karunia untuk menyembuhkan, karunia untuk mengadakan mujizat, karunia nubuat, membeda- bedakan roh, berkata- kata dengan bahasa roh dan menafsirkan bahasa roh. Di 1 Kor 12:28, mungkin lebih jelas menurut urutannya, yaitu, yang tertinggi/ pertama adalah karunia sebagai rasul, sebagai nabi, sebagai pengajar, karunia melakukan mujizat, menyembuhkan, melayani, memimpin, dan untuk berkata- kata dalam bahasa roh. [Itulah sebabnya Gereja Katolik mengajarkan bahwa penilaian akan otentisitas suatu karunia karisma dan pengaturan-nya harus tunduk kepada karisma apostolik/ rasuli yang diberikan kepada Magisterium Gereja, agar karunia tersebut dapat diberdayakan di dalam kesatuan seluruh Gereja- (lihat Konsili Vatikan II tentang Gereja, Lumen Gentium 12)]. Di 1 Kor 14 kembali Rasul Paulus menyebutkan adanya karunia berkata- kata dalam bahasa roh, namun ia mengajarkan bahwa yang lebih penting adalah karunia untuk menafsirkannya (lih. 1 Kor 14:5,13) dan karunia nubuat untuk membangun, menasihati dan menghibur jemaat (lih. 1 Kor 14:3).

Menarik di sini untuk disimak bahwa antara 1 Kor 12 dan 1 Kor 14 adalah 1 Kor 13 yang mengajarkan tentang Kasih.  Jangan dilupakan bahwa Roh Kudus itu adalah Roh Kasih Allah Bapa dan Allah Putera. Sebab hubungan kasih antara Allah Bapa dan Allah Putera menghembuskan Roh Kudus. Kasih adalah hakekat Allah, Allah adalah Kasih (1 Yoh 4:8), dan Roh Kudus adalah Roh Kasih itu. Maka, Nampaknya bukan kebetulan bahwa Rasul Paulus meletakkan perikop tentang Kasih di antara perikop yang mengajarkan tentang karunia- karunia karisma Roh Kudus ini. Rasul Paulus mau mengajarkan kepada kita bahwa di atas semua karunia itu, yang ter-utama dan terpenting adalah Kasih. Rasul Paulus jelas menyatakan bahwa Kasih adalah yang terutama, dalam 1 Kor 12:31, 1 Kor 13:13, dan 1 Kor 14:1. Kasih inilah yang mengingatkan bahwa jika kita diberi karunia- karunia Roh Kudus, jangan sampai kita menjadi tinggi hati dan sombong, atau menganggap diri lebih hebat dari yang lain. Sebab, “Kasih itu sabar, murah hati…. tidak memegahkan diri dan tidak sombong” (1Kor 13:4). Kasih yang rendah hati ini membuat seseorang yang menerima karunia Roh Kudus semakin menginginkan persatuan dan kesatuan di dalam Gereja, dan tunduk kepada pengarahan dari Magisterium Gereja yang dipercaya oleh Kristus untuk mengatur penggunaan karisma untuk membangun Tubuh Kristus.

Konsili Vatikan II mengajarkan tentang karunia- karunia karisma Roh Kudus, demikian:

“Selain itu, tidak hanya melalui sakramen- sakramen dan pelayanan Gereja saja, bahwa Roh Kudus menyucikan dan membimbing Umat Allah dan menghiasinya dengan kebajikan- kebajikan, melainkan, Ia juga “membagi-bagikan” kurnia-kurnia-Nya “kepada masing-masing menurut kehendak-Nya” (1Kor 12:11). Di kalangan umat dari segala lapisan Ia membagi-bagikan rahmat istimewa pula, yang menjadikan mereka cakap dan bersedia untuk menerima pelbagai karya atau tugas, yang berguna untuk membaharui Gereja serta meneruskan pembangunannya, menurut ayat berikut : “Kepada setiap orang dianugerahkan pernyataan Roh demi kepentingan bersama” (1Kor 12:7). Karisma-karisma itu, entah yang amat istimewa, entah yang lebih sederhana dan tersebar lebih luas, hendaknya diterima dengan rasa syukur dan gembira, sebab karunia- karunia tersebut sangat sesuai dan berguna untuk menanggapi kebutuhan-kebutuhan Gereja. Namun kurnia-kurnia yang luar biasa janganlah dikejar-kejar begitu saja; jangan pula terlalu banyak hasil yang pasti diharapkan daripadanya untuk karya kerasulan. Adapun keputusan tentang tulennya karisma-karisma itu, begitu pula tentang penggunaanya secara layak/teratur, termasuk dalam wewenang mereka yang bertugas memimpin dalam Gereja. Terutama mereka itulah yang berfungsi, bukan untuk memadamkan Roh, melainkan untuk menguji segalanya dan mempertahankan apa yang baik (lih. 1Tes 5:12 dan 19-21).” (Konsili Vatikan II tentang Gereja, Lumen Gentium 12)

4. Karunia discernment/ membeda- bedakan roh

Sejauh yang saya ketahui, karunia membeda- bedakan roh (discernment) adalah penting, sebab dengan kemampuan kita membedakannya maka kita akan dapat mengetahui apakah suatu dorongan yang ada di dalam hati kita itu berasal dari Roh Kudus, dari si jahat atau dari diri kita sendiri. Dorongan yang berasal dari Roh Kudus selalu menghasilkan damai sejahtera, walaupun dapat saja terlihat sulit pada awalnya. Sedangkan dorongan yang berasal dari si jahat umumnya terlihat enak dan mudah pada awalnya, namun akhirnya tidak mendatangkan damai sejahtera.

Memang bagi seseorang yang sudah hidup diperbaharui di dalam Kristus, maka tidaklah terlalu sulit untuk membedakan hal yang baik dari yang buruk, sehingga tidaklah terlalu sulit untuk memilih satu di antara keduanya. Yang kemungkinan lebih sulit adalah untuk memilih satu keputusan dari antara dua atau lebih pilihan yang kelihatannya sama- sama baik. Untuk hal ini memang diperlukan karunia discernment untuk menentukan pilihan tersebut. Mungkin dalam hal ini, kita perlu belajar dari St. Ignatius dari Loyola, yang mengajarkan di dalam membuat keputusan, maka kita perlu memilih sesuatu yang mendatangkan kemuliaan lebih besar kepada Allah (for the greater glory of God/ ad maiorem Dei gloriam).

5. Bolehkah meminta karunia- karunia Roh Kudus?

Kitab Suci mencatat bahwa Tuhan Yesus mengajarkan agar kita meminta Roh Kudus kepada Allah Bapa, “Oleh karena itu Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; …. Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Luk 11:9-13). Maka tak salah jika kita memohon Roh Kudus dan memenuhi jiwa kita dengan rahmat dan karunia-Nya. Gereja memohon Roh Kudus juga dalam doa- doanya. Tentu kita ingat salah satu kidung pujian di Puji Syukur 565 yang dimulai dengan, “Datanglah, ya Roh Pencipta, hati kami kunjungilah, penuhi dengan rahmat-Mu, jiwa kami ciptaan-Mu.”

Dengan demikian, jika kita meminta Roh Kudus, dan ketujuh karunia-Nya itu adalah sesuatu yang baik, dan itu sesuai dengan kehendak-Nya; sebab sudah menjadi kehendak Tuhan agar kita dapat hidup kudus seperti Ia sendiri adalah kudus (Im 19:2; 1 Pet 1:16). Nah, karena kekudusan itu bertolak belakang dengan dosa, maka akibat yang paling langsung dari seseorang yang terkena jamahan Roh Kudus adalah ia semakin menyadari akan segala dosanya. Ini memang cocok dengan apa yang diajarkan oleh Yesus dalam Injil Yohanes, “Dan kalau Ia [Roh Kudus] datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman…” (Yoh 16:8). Maka selain membawa ketujuh karunia-Nya, jika Roh Kudus datang, Ia mengakibatkan pertobatan. Dengan demikian pertobatan dan ketujuh karunia Roh Kudus itu memang dapat, atau bahkan harus kita minta kepada Tuhan.

Namun demikian, dalam hal karunia karisma Roh Kudus, agaknya kita harus menyerahkannya ke dalam tangan Allah Bapa, sebab maksud utama pemberian karunia karisma tersebut adalah untuk membangun jemaat. Tuhanlah yang paling mengetahui apa kebutuhan jemaat-Nya dan bagian apa yang dapat kita lakukan untuk dapat turut membangun jemaat-Nya. Tuhan Yesus adalah Kepala Tubuh (Kol 1:18) dan yang menciptakan Tubuh itu; Ia yang paling memahami apakah yang dibutuhkan oleh anggota- anggota-Nya. Jika dipandangNya baik maka akan diberikannya kepada kita karunia- karunia karisma itu sesuai dengan kemampuan kita.

5. Karunia- karunia yang umumnya diberikan pada saat SHBDR

Dalam Seminar Hidup Baru dalam Roh, kita diajak untuk merenungkan kasih Allah dan bagaimana agar kita dapat hidup diperbaharui di dalam Roh Kudus. Maka umumnya karunia yang diterima oleh para peserta, pertama- tama adalah pengalaman dikasihi oleh Allah dan pertobatan. Jadi kelirulah motivasi mengikuti SHBDR jika yang “diincar” adalah karunia karisma Roh Kudus. Sebab yang lebih utama adalah pengalaman rohani bersama Allah yaitu mengalami secara nyata bahwa Tuhan itu mengasihi kita dan Ia mau mengampuni kita, sebab Ia mau agar kita hidup baru di dalam-Nya.

Hidup baru di dalam Roh ini dapat ditandai dengan diberikannya karunia bahasa roh. Sepanjang pengetahuan saya karunia bahasa roh ini sendiri terbagi menjadi dua macam, yaitu 1) karunia berdoa dalam bahasa Roh, sering dikenal juga sebagai karunia ’senandung dalam Roh’, 2) karunia berkata-kata dalam Roh, yang dapat ditafsirkan dan memberikan pesan rohani kepada umat (lih. 1 Kor 14:27). Hal ini telah disampaikan oleh Sr. Skolastika di sini, silakan klik.

Selanjutnya tentang apa itu bahasa Roh, silakan anda klik di sini.

Nah, sedangkan karunia- karunia karisma lainnya dapat diberikan oleh Allah sesudah seseorang diperbaharui di dalam Roh Kudus, dengan cara- cara tertentu sesuai dengan kehendak-Nya.

6. Apakah karunia- karunia karisma hanya dapat diperoleh di SHBDR?

Tidak. Kami mengenal beberapa orang yang menerima karunia berdoa dalam bahasa roh pada saat mereka berdoa sendiri (melalui doa- doa pribadi). Ada yang menerimanya saat Adorasi di hadapan Sakramen Maha Kudus, ada yang menerimanya pada saat berdoa rosario, ada yang melalui doa pribadi di gereja setelah Misa. Fr. Raniero Cantalamessa, pengkhotbah kepausan di Roma, menerima karunia bahasa roh pada saat mendoakan Ibadah Harian (the Liturgi of the Hour/ the Divine Office/ Doa Brevier), dan Mother Angelica, pendiri EWTN (Eternal Word Television Network) memperoleh karunia bahasa roh ketika ia sedang membaca dan merenungkan Kitab Suci. Jadi walaupun umumnya seseorang dapat memperoleh karunia bahasa Roh dalam SHBDR (Seminar Hidup Baru dalam Roh Kudus), namun tidak menutup kemungkinan diperolehnya karunia ini dalam doa pribadi.

Adapun karunia bahasa roh ini bukanlah segala- galanya yang seolah ‘harus’ diterima, sebagai tolok ukur apakah seseorang telah dijamah oleh Roh Kudus atau belum. Sebaliknya, yang menjadi tanda utama seseorang diperbaharui oleh Roh Kudus adalah pertobatan dan kasih, sebagai akibat dari pengalaman dikasihi oleh Tuhan dengan sedemikian hebatnya. Karunia bahasa roh- umumnya karunia berdoa dalam roh- adalah salah satu cara berdoa, yang memang dapat diberikan oleh Allah kepada kita, jika dipandang-Nya baik, terutama agar kita mengalami penggenapan ayat Rom 8:26-27, “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus.”

Namun demikian, kenyataan bahwa Tuhan tidak memberikan karunia bahasa roh kepada semua orang, bukan berarti bahwa Roh Kudus tidak bekerja di dalam mereka. Ada banyak orang yang mungkin tidak bisa berdoa dalam bahasa roh, namun hidup mereka jauh lebih kudus daripada mereka yang telah menerima karunia dalam bahasa roh. Ini sesungguhnya yang perlu menjadi permenungan bagi setiap orang yang sudah menerima karunia bahasa roh: “bagaimana agar hidupku lebih memancarkan kasih?” Sebab firman Tuhan mengatakan kasih itu adalah yang terutama dan terpenting daripada segala karunia- karunia yang lain.

Akhirnya, marilah kita pertama- tama memohon Roh Kudus, dan selanjutnya, mari kita percayakan kepada Tuhan, untuk memberikan kepada kita segala sesuatu yang dipandang-Nya baik bagi jiwa kita dan bagi seluruh anggota Tubuh-Nya.


CATATAN KAKI:
  1. St. Augustine, Commentary on the Lord’s Sermon on the Mount, 1,4,11, trans. by Denis Kavanagh (Washington, DC: Catholic University of America Press, 1951), p.27-28 []
Share.

About Author

Stefanus Tay, MTS dan Ingrid Listiati, MTS adalah pasangan suami istri awam dan telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

37 Comments

  1. Shalom Pak Stef dan Bu Ingrid :)

    ada pertanyaan yang membingungkan dari seorang teman yang bercerita seperti ini :

    Memang benar, pada saat di baptis kita menerima Roh Kudus yang di curahkan kepada kita pada saat pembaptisan yang memampukan kita menjadi anak-anak angkat Allah dan menerima karunia-karunia Roh Kudus

    Nah pada saat dia mengikuti SHDR, ada yang bilang bahwa di SHDR, Roh Kudus di curahkan lagi kepada kita dalam SHDR ini, teman saya bingung dan bertanya-tanya : seolah2 Roh Kudus dapat di panggil dengan seenaknya dan di curahkan ke orang-orang dalam SHDR… Bukankah Roh Kudus adalah Roh Allah sendiri.. Teman saya berpendapat bahwa alangkah baiknya kalau di bilang bahwa dalam SHDR kita di ajak untuk lebih mau berusaha dan berjuang untuk bekerja sama dengan Roh Kudus yang kita terima pada saat pembaptisan untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan

    yang jadi pertanyaan dari teman saya : apakah Roh Kudus hanya kita terima satu kali dalam pembaptisan yang akan diam di dalam diri kita atau Roh Kudus dapat di curahkan berkali-kali seperti dalam SHDR

    Mohon penjelasannya dan bimbingannya

    Tetap semangat untuk team Katolisitas dalam karya kerasulan ini

    Amoro Misericordioso

    • Shalom Win,

      Roh Kudus memang adalah Roh Allah, dan karena itu tidak terbatas. Artinya, walaupun kita sudah dibaptis dan menerima Roh Kudus yang menjadikan kita sebagai anak-anak angkat Allah di dalam Kristus, namun kita masih tetap dapat menerima pencurahan Roh Allah yang tiada terbatas itu, agar semakin menguduskan dan menguatkan persatuan kita dengan Allah. Maka kita tidak dapat membandingkan Roh Kudus seperti keberadaan mahluk ciptaan yang terbatas, seolah kalau sudah diberikan maka tidak dapat diberikan lagi.

      Mohon diketahui bahwa bahkan sebelum kita dibaptis Allah sudah meniupkan Roh-Nya kepada manusia, sehingga jiwa manusia menjadi hidup (lih. Kej 2:7). Namun Roh Kudus itu secara khusus diberikan kepada setiap orang yang percaya dan dibaptis, sebab melalui Pembaptisan, Roh Kudus bukan hanya memberikan kehidupan di dunia, namun juga Ia mau tinggal berdiam di dalam jiwa orang yang dibaptis, untuk memberikan kehidupan ilahi di dalam Kristus, agar orang tersebut dapat memperoleh hidup yang kekal, jika ia terus setia beriman sampai akhir. Jika orang itu jatuh dalam dosa berat, Roh Kudus tidak lagi tinggal di dalam dia, dan agar Roh Kudus dapat kembali tinggal di dalamnya, ia perlu mengaku dosa dalam sakramen Pengakuan dosa. Demikianlah maka sakramen Baptis berhubungan juga dengan sakramen Pengakuan Dosa/ Tobat.

      Maka, tidak menjadi masalah jika sesudah dibaptis orang menerima pencurahan Roh Kudus, tidak saja pada saat SHDR, tetapi juga pada saat-saat lainnya, misalnya pada saat kita mengikuti perayaan Pentakosta, pada saat menerima sakramen-sakramen lainnya, bahkan dalam doa-doa pribadi. Jangan lupa bahwa sakramen Penguatan/ Krisma, itu secara khusus menguatkan karunia-karunia Roh Kudus, yang sudah diberikan pada saat Pembaptisan. Roh Kudus itu bukan sesuatu yang hanya berada di Surga, sehingga tidak dapat hadir di dunia. Allah itu Maha hadir, silakan klik, dan karena itu, oleh kuasa doa, Sabda dan Gereja, Allah dapat hadir di tengah umat-Nya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  2. Shalom bu inggrid, saya mau tanya.. Berkaitan dengan pernyataan ibu bahwa ‘ dibaptis dalam Roh Kudus itu tidak tepat’ padahal dalam Yohanes 1 : 32-33 disitu dituliskan dengan sangat Jelas baptis air dan baptis Roh Kudus dan kedua baptis itu berbeda. Bgmn ibu menanggapi hal tersebut karna dalam mempelajari Firman Tuhan diperlukan hikmat.

    • Shalom Stef,

      Anda benar bahwa untuk mengartikan Firman Tuhan diperlukan hikmat, dan hikmat ini telah diberikan oleh Kristus kepada Gereja, dengan memberikan Roh Kudus-Nya kepada para rasul dan para penerus mereka (lih. Yoh 20:21-23).

      Silakan membaca tanggapan kami atas pertanyaan Anda ini, yang sepertinya juga sudah kerap kali ditanyakan oleh pembaca, dan karena itu kami pisahkan di tulisan terpisah, khusus tentang topik ini, yaitu mengapa Gereja Katolik mengajarkan hanya ada satu Baptisan, silakan klik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  3. Penjabaran terlalu bias..terlalu berteori..sesuaikan saja dengan realita kehidupan yg membutuhkan sandang pangan papan. Realita kehidupan saat ini tidak sama dengan jaman Yesus or sebelum Yesus. Jd harus realistis menterjemahkan apa yg ada di Alkitab biar g tambah oon umatnya. Jika terus berbicara cara yg baku maka akan bertolak belakang dengan realita ke hidupan, hal ini yg membuat banyak org semakin menjadi tidak percaya. Pandai2 lah menelaah masalah tentang ke agamaan,jangan kaku dan berdalil menurut pendapat pribadi. Ingat,banyak kelaparan,kejahatan..dan itu tidak akan berhenti hanya dengan pemahaman teoritas dr Alkitab yg baku. Mari belajar cerdas menguraikan maksud Allah.

    [Dari Katolisitas: Silakan Anda sebutkan dahulu, di manakah biasnya. Dan silakan menyampaikan argumen Anda dengan santun sebagaimana layaknya bagi seorang yang beriman. Kristus datang bukan sebagai Mesias untuk membebaskan manusia dari belenggu kemiskinan jasmani, tetapi sebagai Mesias untuk membebaskan manusia dari belenggu dosa, dan dengan demikian lebih luas dari hal-hal sandang pangan papan. Bahwa sebagai satu saudara dalam Kristus kita harus saling mengasihi dan berbagi, itu juga diajarkan oleh Gereja, namun peran Gereja dalam masyarakat dan dunia bukan hanya terbatas dalam urusan memperhatikan kebutuhan sandang, pangan dan papan. Justru jika ini saja perhatian Gereja, malah tidak sesuai dengan ajaran Kristus dalam Kitab Suci. Ya, mari kita sama-sama berusaha memahami maksud Allah, dan melakukannya dengan kasih yang nampak dalam perbuatan dan tutur kata kita.]

    • Teguh Cahyadi on

      Heehehhhe…Ibu/sdri Lidya yang terkasih dalam Yesus Kristus-marilah kita belajar untuk memahami perbedaan dengan cara berpikir yang positif, karena di dunia ini-sifatnya fana dan selama nafas kita masih ada tentunya, kita terus belajar untuk lebih memperbaiki diri…jadi lebih bijaksana kalau kita kedepankan Kasih….JBU all

      [Dari Katolisitas: Ya, memang yang terutama adalah kasih (1Kor 13:1-13), dan kasih ini yang mendorong kita untuk berbagi dan saling menolong satu sama lain (Gal 6:2)]

  4. Shalom..katolisitas saya ingin bertanya mengenai karunia bahasa roh, sewaktu orang2 menerima karunia tersebut, ada yang dikatakan bahwa selain menerima karunia bahasa Roh, ada juga yang mendapatkan karunia bernubuat,.. Bisakah dijelaskan apakah, arti bernubuat itu? Dan apa sajakah contoh2 bernubuat? Terimakasih

    • Shalom Steven,

      Rasul Paulus mengajarkan kepada kita, bahwa karunia nubuat (dan karunia-karunia karismatik Roh Kudus lainnya) adalah karunia yang diberikan Allah untuk membangun Gereja/ Jemaat (lih. 1 Kor 14:4;12). Orang yang mendapat karunia nubuat dapat dipakai oleh Allah untuk menyampaikan peneguhan, teguran ataupun penghiburan kepada Gereja, entah melalui pengajaran Sabda Allah maupun pembicaraannya dalam pertemuan-pertemuan ibadat (lih. 1Kor 14:5), ataupun dalam persekutuan jemaat. Dalam keadaan-keadaan tertentu mereka dapat pula mengetahui keadaan yang akan terjadi, yang dapat menjadi pembelajaran bagi Jemaat. Maka memang karunia bernubuat umumnya tidak menyangkut kepada ‘ramalan kasus pribadi’ yang tidak ada hubungannya dengan iman Jemaat.
      Contoh dalam Kitab Suci tentang karunia nubuat ini tertulis dalam Kis 21:10-11 dan Kis 27:21-26.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  5. salam RD Yohanes, Bp Stefanus Tay & IBu Inggrid

    1. Apakah seorang yang dikatakan memiliki ROH KUDUS adalah berkarunia “profektik” misal dapat berbahasa lidah, menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, membedakan roh-roh di dunia, melihat roh halus, menimun racun tidak mati dll

    2.Apakah seorang yang percaya TUHAN YESUS dapat mendengar suara TUHAN secara audible ?

    3.Apakah Rumah TUHAN (BAIT ALLAH) di dalam hati orang yang percaya pada TUHAN YESUS ? dan apakah TUHAN tidak ada di SORGA ?

    terimakasih & salam
    rusli

    Submitted on 2013/03/11 at 4:18 pm

    Salam RD Yohanes, Stefanus Tay & team

    1.Apakah arti kata “digenapkan” oleh TUHAN YESUS dimaksud berarti = “Dihapuskan” ???

    2.apabila pandangan seluruh Hukum Taurat sudah digenapi/dihapus oleh Tuhan Yesus, maka hanya Perjanjian Baru saja yang dihayati.

    salam & terimakasih
    rusli

    Submitted on 2013/03/11 at 3:45 pm | In reply to RD. Yohanes Dwi Harsanto.

    Salam Romo Yohanes

    Mohon pencerahannya, ada beberapa pertanyaan saya sbb:

    1.Apakah Perjanjian Lama sudah tidak berlaku lagi dengan adanya Perjanjian Baru? dalam firman Tuhan mana yang mendasarinya

    2.Apa bukti yang dapat terlihat seseorang memiliki ROH KUDUS ? apakah dengan percaya saja atau dibaptis saja atau hal lain sehingga terlihat orang yang percaya memiliki ROH KUDUS?

    terimakasih & salam
    rusli

    • RD. Yohanes Dwi Harsanto on

      Salam Rusli,

      1. Hubungan antara Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB), serta PB atas PL begitu erat. Hal ini ada dalam Dei Verbum no 16. Allah, pengilham dan pengarang kitab-kitab suci PL maupun PB, dalam kebijaksanaan-Nya mengatur Kitab Suci sedemikian rupa, sehingga PB tersembunyi dalam PL dan PL terbuka dalam PB. Sebab meskipun Kristus mengadakan Perjanjian yang Baru dalam darah-Nya (lih. Luk 22;20, 1Kor 11:25), namun kitab-kitab PL seutuhnya ditampung dalam pewartaan Injil. PL itu dalam PB memperoleh maknanya dan memperlihatkan maknanya secara penuh (Lih: Mat 5:17; Luk 24:27; Rom 16:25-26; 2Kor 3:14-16).

      2. Roh Kudus dalam diri orang tampak dalam buah-buah baik yang ditampilkan dalam perilaku orang dan lembaga-lembaga manusia. Buah-buah Roh Kudus tampak dilukiskan dalam Surat Rasul St. Paulus kepada umat di Galatia bab 5 ayat 22 sampai 26.

      Salam
      RD. Yohanes Dwi Harsanto

    • Shalom Rusli,

      1. Gereja mengajarkan bahwa Perjanjian Baru (PB) menggenapi Perjanjian Lama (PL). Penggenapan ini memang tidak berarti bahwa segala sesuatu yang tertulis dalam kitab PL harus tertulis lagi dalam kitab PB, sebab jika demikian tidak ada bedanya antara PL dan PB dan tidak ada yang “diperbaharui” dalam perjanjian antara Allah dan manusia itu. Maka penggenapan perjanjian di sini maknanya adalah bagaimana PB menyampaikan makna yang sesungguhnya, yaitu makna yang lebih penuh, dari suatu pengajaran yang telah disampaikan dalam PL.

      Pada prinsipnya, penggenapan perjanjian antara Allah dan manusia dinyatakan di dalam Yesus Kristus, melalui wafat-Nya di salib dan kebangkitan-Nya dari kematian. Kurban Kristus itulah yang menggenapi seluruh kurban (kurban bakaran, kurban penebus dosa, kurban syukur, dst) dalam Perjanjian Lama. Kristus menggenapi kurban ini, dengan menjadi Sang Kurban Anak Domba Allah, dan sekaligus juga Sang Imam Agung, yang mempersembahkan Kurban yang sempurna, yaitu diri-Nya sendiri (lih. Ibr 9), dan dengan demikian menyempurnakan ajaran tentang kurban dan imam dalam Perjanjian Lama.

      Pembaptisan kitapun memperoleh penggenapan maknanya dari wafat dan kebangkitan Kristus. Dengan dibaptis, kita dibersihkan dari dosa-dosa kita, kita disatukan dengan Kristus dalam kematian-Nya (yaitu agar kita mati terhadap dosa), supaya kita beroleh hidup yang baru dalam kebangkitan-Nya (yaitu agar kita hidup sebagai manusia baru di dalam Kristus).

      Maka perayaan Paska yang dalam PL menjadi peringatan akan pembebasan bangsa Yahudi dari penjajahan Mesir, memperoleh penggenapannya dalam PB, yaitu: melalui Baptisan, kita umat-Nya memperoleh pembebasan dari penjajahan dosa. Perjalanan bangsa Yahudi ke Tanah terjanji menjadi gambaran samar-samar akan perjalanan hidup kita menuju Tanah Terjanji yang sesungguhnya, yaitu Surga. Demikian pula, sunat jasmani yang disyaratkan sebagai tanda perjanjian dalam PL digenapi oleh sunat rohaniah, yang menjadi makna Pembaptisan dalam PB. Sebab melalui pertobatan yang diwujudkan dalam Pembaptisan, seseorang tidak hanya menanggalkan kulit jasmani, tetapi meninggalkan seluruh hidupnya yang lama dengan segala dosanya. Dengan demikian, Pembaptisan dalam PB menggenapi makna sunat yang sudah diajarkan dalam PL.

      Hal yang sama juga terjadi dalam penggenapan makna hari Sabat. Melalui wafat dan kebangkitan Kristus, hari Sabat memperoleh makna puncaknya. Hari Sabat yang merayakan puncak karya Allah yaitu terselesaikannya karya Penciptaan-Nya dengan sangat baik, digenapi oleh hari Tuhan (yaitu hari Minggu) yang merupakan puncak karya Allah bagi keselamatan umat manusia dan penyempurnaan segala ciptaan di dalam Kristus, yang tercapai melalui wafat dan kebangkitan-Nya. Itulah sebabnya, bagi Gereja, Sabat adalah peringatan akan hari kebangkitan Kristus, yang merupakan puncak dari karya keselamatan Allah bagi manusia. Oleh kebangkitan Kristus, kita orang percaya dapat memperoleh kehidupan kekal dalam Tanah Terjanji sebagaimana yang samar-samar telah digambarkan dalam PL. Maka kebangkitan Kristus adalah kejadian fundamental yang atasnya iman Kristiani berdiri (lih. 1 Kor 15:14), sebab melalui Kristus yang bangkit, Allah menjadikan segala sesuatunya baru (lih. 2Kor 5:17; Gal 6:15).

      Maka, penggenapan PL di dalam Kristus membawa implikasi dikembalikannya hukum-hukum Tuhan sesuai dengan maksudnya. Hukum moral sebagaimana tertulis dalam sepuluh perintah Allah, tetap berlaku, yang kemudian disempurnakan oleh Kristus dalam hukum kasih (lih. Mat 22:34-40; Luk 10:25-37). Namun hukum seremonial dan hukum yudisial yang berkaitan dengan kurban dan sangsi, keduanya digenapi justru dengan tidak memberlakukannya lagi dengan cara yang lama, oleh karena kurban Kristus telah menyempurnakannya. Oleh karena kurban Kristus yang sempurna itulah, maka tidak diperlukan lagi persembahan kurban PL yang tidak sempurna. Demikian juga, pelaksanaan sangsi yang oleh PL dilakukan oleh pihak penatua agama, kini dipercayakan kepada pihak otoritas yang berwenang, yaitu pihak Gereja, bagi umat beriman; atau pihak negara, bagi masyarakat secara umum. Dalam hal ini, sangsi tidak semata diartikan sebagai hukuman, namun juga sebagai pelaksanaan hukum kasih dan keadilan yang diajarkan oleh Kristus, demi mengarahkan orang yang bersalah kepada pertobatan, agar ia dapat kembali mengasihi Allah dan sesama. Dengan demikian, hukum-hukum yang tertera dalam PL memang tetap diakui keberadaannya oleh Kristus (lih Mat 5: 17), sebab hukum-hukum tersebut memang harus ada, sebagai persiapan bagi penggenapan yang dikehendaki oleh Allah di dalam Kristus.

      Selanjutnya untuk topik ini, silakan membaca artikel ini, silakan klik.

      2. Gereja mengajarkan bahwa Roh Kudus diberikan kepada kita melalui Pembaptisan. Sebab oleh Pembaptisan kita dilahirkan kembali dalam air dan Roh (lih. Yoh 3:5) sehingga kita memperoleh hidup ilahi di dalam Kristus. Ini terjadi karena Ia memberikan Roh Kudus-Nya kepada kita. Oleh Roh Kudus inilah kita diangkat menjadi anak-anak angkat Allah, menjadi ‘milik Allah’, dan karena itu kita dapat diselamatkan.

      Selanjutnya tentang hal ini, silakan klik di sini.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Salam Ibu Ingrid

        terimakasih sebelumnya telah memberikan penjelasan,

        1.jawaban ibu point 1 membuat saya bingung, maaf, seperti demikian : …..sebab jika demikian tidak ada bedanya antara PL dan PB dan tidak ada yang “diperbaharui” dalam perjanjian antara Allah dan manusia itu…. ==>apakah kata “diperbaharui” yang dimaksud ibu berarti PB itu adalah ADDENDUM/AMANDEMEN dari PL kah ?

        lalu …Pada prinsipnya, penggenapan perjanjian antara Allah dan manusia dinyatakan di dalam Yesus Kristus, melalui wafat-Nya di salib dan kebangkitan-Nya dari kematian. Kurban Kristus itulah yang menggenapi seluruh kurban (kurban bakaran, kurban penebus dosa, kurban syukur, dst) dalam Perjanjian Lama…. ==> apakah penggenapan yang dimaksud ibu adalah HANYA “SACRIFICE/KURBAN” saja atau termasuk “OFFERING/SUMBANGAN/PERSEMBAHAN PERPULUHAN” ataukah seluruh HUKUM TAURAT telah dihapuskan ????

        Lalu….apakah “SABAT” jatuh pada hari “Minggu” ???? ini sesuai catatan ibu …Hari Sabat yang merayakan puncak karya Allah yaitu terselesaikannya karya Penciptaan-Nya dengan sangat baik, digenapi oleh hari Tuhan (yaitu hari Minggu)….”
        ==>apabila ketentuan SABAT masih dipakai ya berarti ibu melakukan hukum taurat, hal ini apakah konsisten dengan penggenapan janji Tuhan kah ????

        Lalu …Dengan demikian, hukum-hukum yang tertera dalam PL memang tetap diakui keberadaannya oleh Kristus (lih Mat 5: 17), sebab hukum-hukum tersebut memang harus ada, sebagai persiapan bagi penggenapan yang dikehendaki oleh Allah di dalam Kristus…..==> apakah maksud ibu HUKUM TAURAT tidak “dibatalkan” Tuhan ? bagaimana dengan Ef 2:15 sesuai catatan artikel yang menyatakan bahwa “Yesus membatalkan Hukum Taurat”, dengan menuliskan “sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya……==> maaf sebenarnya jika Firman itu diturunkan pasti konsisten dan ada kepastianNYA.

        2.Maaf jawaban ibu belum sesuai maksud saya sbb:

        a.Apakah seorang yang dikatakan memiliki ROH KUDUS adalah berkarunia “profektik” misal dapat berbahasa lidah, menyembuhkan orang sakit, membangkitkan orang mati, membedakan roh-roh di dunia, melihat roh halus, menimun racun tidak mati dll

        b.Apakah seorang yang percaya TUHAN YESUS dapat mendengar suara TUHAN secara audible ?

        c.Apakah Rumah TUHAN (BAIT ALLAH) di dalam hati orang yang percaya pada TUHAN YESUS ? dan apakah TUHAN tidak ada di SORGA ?

        d.apakah dengan percaya saja atau dibaptis saja atau hal lain sehingga terlihat orang yang percaya memiliki ROH KUDUS? Apakah diluar Baptis Tidak bisa mendapat ROH KUDUS ??? apakah buktinya seseorang memiliki ROH KUDUS menjadi milik ALLAH dan pasti diselamatkan ?????????

        MOHON penjelasan & atas pengarahannya dari ibu saya mengucapkan terimakasih

        salam
        rusli

        • Shalom Rusli

          1. Tentang hubungan Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru, silakan klik di sini.

          2. Tanggapan saya:

          a. Gereja Katolik mengajarkan bahwa Roh Kudus diberikan melalui Pembaptisan (lih. KGK 1215, 1262, Yoh 3:5). Maka Roh Kudus yang dikaruniakan pada saat Pembaptisan, memberikan kita kehidupan ilahi, yaitu kehidupan baru di dalam Kristus sebagai anak-anak angkat Allah. Bersamaan dengan Roh Kudus yang dicurahkan ini, maka seseorang yang dibaptis menerima tujuh karunia Roh Kudus, untuk membantunya mencapai tujuan akhirnya, yaitu Surga. Ketujuh karunia ini membantu seseorang- secara pribadi- untuk bertumbuh dalam kekudusan. Tentang ketujuh karunia Roh Kudus ini, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik. Sedangkan karunia- karunia yang Anda sebutkan itu, yaitu: karunia berbahasa roh, menyembuhkan orang sakit, bernubuat/ profetik, dst, adalah karunia karismatik Roh Kudus, yang gunanya adalah untuk membangun iman dalam jemaat. Kedua jenis karunia Roh Kudus tersebut penting, namun harus dipahami secara benar. Banyak orang terlalu mencari karunia-karunia karismatik Roh Kudus, karena umumnya manifestasinya terlihat dari luar. Namun sesungguhnya, karunia yang lebih penting dan harus terus bertumbuh di dalam kehidupan kita adalah ketujuh karunia Roh Kudus yang berakar di dalam hati, yaitu: kebijaksanaan, pengertian, nasihat, keperkasaan, pengenalan, kesalehan, dan rasa takut kepada Allah (lih. Yes 11:2; KGK 1845).

          b. Kitab Suci mengajarkan bahwa mendengar suara Allah secara audible merupakan karunia khusus yang diberikan Allah kepada orang-orang tertentu yang dipercayakan suatu tugas tertentu oleh Allah. Tidak semua orang percaya dapat mendengar suara Tuhan secara audibel. Namun Tuhan memakai banyak cara untuk berbicara kepada kita dan memampukan kita untuk mendengarkan suara-Nya di dalam hati kita, seperti, melalui doa, merenungkan Sabda Allah dalam Kitab Suci, melalui sakramen Pengakuan Dosa, melalui homili/ khotbah imam, uskup dan Paus, dan banyak cara lainnya.

          c. Tuhan kita adalah Tuhan yang maha hadir (Omnipresent), yang tak terbatas oleh ruang dan waktu, maka Allah yang di surga dapat juga hadir di dalam hati orang percaya, di tengah-tengah jemaat, dan secara khusus, dapat hadir dalam rupa roti dan anggur dalam perayaan Ekaristi.

          d. Gereja Katolik mengajarkan bahwa melalui sakramen Baptis, seseorang dilahirkan kembali dalam air dan Roh Kudus (lih. Yoh 3:5), dan dengan demikian ia menerima pengampunan semua dosanya, dan menerima Roh Kudus (lih. KGK 1215).

          Sedangkan tentang pertanyaan apakah di luar Baptisan seseorang tidak dapat menerima Roh Kudus?, Gereja Katolik mengajarkan:

          KGK 1257    Tuhan sendiri mengatakan bahwa Pembaptisan itu perlu untuk keselamatan (Bdk. Yoh 3:5). Karena itu, Ia memberi perintah kepada para murid-Nya, untuk mewartakan Injil dan membaptis semua bangsa (Bdk. Mat 28:19-20; DS 1618; LG 14; AG 5). Pembaptisan itu perlu untuk keselamatan orang-orang, kepada siapa Injil telah diwartakan dan yang mempunyai kemungkinan untuk memohon Sakramen ini (Bdk. Mrk 16:16). Gereja tidak mengenal sarana lain dari Pembaptisan, untuk menjamin langkah masuk ke dalam kebahagiaan abadi. Karena itu, dengan rela hati ia mematuhi perintah yang diterimanya dari Tuhan, supaya membantu semua orang yang dapat dibaptis, untuk memperoleh “kelahiran kembali dari air dan Roh”. Tuhan telah mengikatkan keselamatan pada Sakramen Pembaptisan, tetapi Ia sendiri tidak terikat pada Sakramen-sakramen-Nya.

          Atas dasar ini Gereja Katolik mengajarkan, bahwa selain Baptisan dengan air, terdapat dua jenis Baptisan yang lain yaitu Baptisan darah dan Baptisan keinginan/ Baptis Rindu.

          KGK 1258    Gereja sudah sejak dahulu yakin bahwa orang-orang yang mengalami kematian karena iman, tanpa sebelumnya menerima Pembaptisan, telah dibaptis untuk dan bersama Kristus oleh kematiannya. Pembaptisan darah ini demikian pula kerinduan akan Pembaptisan menghasilkan buah-buah Pembaptisan walaupun tidak merupakan Sakramen.

          Untuk pertanyaan Anda selanjutnya, saya mempersilakan Anda membaca terlebih dahulu artikel-artikel ini, karena nampaknya sudah jelas jawabannya di sana:

          Apakah itu Baptisan Rindu (implicit desire for Baptism)?
          Baptisan Rindu menurut St. Thomas Aquinas
          Apakah Roh Kudus hanya dapat dimiliki oleh orang Katolik?

          Apakah yang diselamatkan hanya orang Katolik dan yang lainnya masuk neraka?

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

  6. Shalom Bp Stef dan Ibu Inggrid,

    Mohon penjelasan tambahan mengenai 7 karunia RK seperti yang diulas di awal yang diambil dari Yes 11:2-3. Saya sempat menerima penjelasan dan pengajaran mengenai hal ini mengenai mengapa 7 bukan 6 (karena secara harafiah hanya tertulis 6 seperti yang tertera di ayat ke 2), tetapi saya lupa.

    terima kasih,

    Tuhan memberkati

    [Dari Katolisitas: Pertanyaan ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik; dan penjelasan tentang ketujuh karunia Roh Kudus, klik di sini]

  7. Shalom Katolisitas,

    Mohon penjelasan lagi mengenai dibaptis dalam Roh Kudus:
    1. Bedanya dengan menerima karunia Roh Kudus?
    2. Mengapa denominasi Reformed Injili tidak percaya lagi bahwa saat ini tidak terjadi lagi (yang saya tahu mereka hanya percaya terjadi pada KIS 2 saja).

    Terima kasih, Tuhan Yesus memberkati

    • Shalom Teddy,

      1. Gereja Katolik mengajarkan adanya satu baptisan (lih. Ef 4:5) yaitu yang diterima melalui Sakramen Baptis. Dengan demikian istilah “dibaptis dalam Roh Kudus” sesungguhnya tidak tepat, sebab Pembaptisan itu diberikan di dalam nama Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus (lih. Mat 28:19-20). Namun demikian Roh Kudus dapat terus dicurahkan kepada orang- orang yang sudah dibaptis, dalam banyak kesempatan, baik dalam perayaan Ekaristi secara khusus dalam perayaan Pentakosta, melalui sakramen Krisma, maupun juga lewat acara pencurahan Roh Kudus dalam seminar hidup baru dalam Roh Kudus, dan istilah yang lebih tepat di sini adalah “pencurahan Roh Kudus”.

      2. Memang beberapa Bapa Gereja (seperti St. Agustinus, yang kemudian dikutip oleh St. Leo Agung dan St. Thomas Aquinas) mengajarkan bahwa karunia karismatik Roh Kudus nampaknya hanya diberikan di jaman para rasul dan Gereja perdana, seperti pernah diulas di sini, silakan klik. Namun demikian, dari sejarah Gereja Katolik, karunia karismatik Roh Kudus itu masih terus ada dan dicurahkan walaupun tidak kepada semua orang, dan hal ini nyata di dalam kehidupan para orang kudus (Santo/ Santa).

      Maka kemungkinan gereja Injili mengambil dasar dari pengajaran St. Agustinus, namun untuk lebih jelasnya silakan anda menanyakan sendiri ke pihak pemimpin jemaat tersebut.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

       

      • Shalom Bu Inggrid,

        Terima kasih atas jawabannya. Dan ada sedikit tambahan bu:
        1. Pencurahan Roh Kudus dalam bahasa Inggris apa sebutannya?
        2. Berkaitan dengan St Agustinus dan juga St Thomas Aquinas, dua pujangga Gereja yang disebutkan tadi, pertanyaan ini mungkin tidak berhubungan dengan Roh Kudus, tapi saya tidak tahu harus taruh di mana: Benarkah ketika muncul ajaran St. Thomas Aquinas, ada pengikut St. Agustinus yang terguncang imannya, kalau ya dalam ajaran apa? Paus Yohanes Paulus II, juga ditengarai dapat menjadi the next Pujangga Gereja yang mengguncang antara lain lewat Teologi Tubuh? Benarkah demikian? Adakah mungkin ajaran Ekaristi perlu ada revisi dengan adanya Teologi Tubuh? Sejauh mana teologi tubuh sudah diterima di kalangan Gereja?

        Terima kasih.

        • Shalom Teddy,

          1. Pencurahan Roh Kudus dalam bahasa Inggris adalah the outpouring of the Holy Spirit.

          2. Saya tidak mengetahui adanya kisah murid St. Agustinus yang terguncang imannya dengan munculnya ajaran St. Thomas Aquinas. Silakan jika anda mengetahuinya, silakan anda sertakan sumbernya, dari mana anda mengetahui akan hal itu. Sebab setahu saya, St. Thomas Aquinas banyak mengutip ajaran St. Agustinus juga, walaupun ia juga mengutip Bapa Gereja lainnya.

          Jika kelak Paus Yohanes Paulus II diberi gelar pujangga Gereja, sesungguhnya juga tidak terlalu mengherankan, sebab ia memang banyak sekali menulis tentang ajaran Gereja. Paus Yohanes Paulus II menekankan dialog dalam menyampaikan ajarannya, sehingga sudah menjadi ciri khasnya bahwa ia menuliskan ajaran Gereja dengan cara yang berbeda dengan para pendahulunya, yaitu dengan ‘mempertemukan’ ajaran Gereja yang telah lama ada, dengan kondisi manusia di jaman sekarang. Inilah mungkin yang menjadi ciri khas dalam ajarannya tentang teologi tubuh. Sebenarnya tidak ada yang baru dalam teologi tubuh itu, secara teologis. Jika anda sudah membacanya maka kemungkinan anda akan setuju dengan saya, bahwa tidak ada yang baru dari apa yang dituliskannya di sana, dari segi ajaran iman Katolik. Paus hanya menjelaskannya dengan lebih detail tentang makna tubuh manusia, dan kaitannya dengan maksud Allah menciptakannya, dan bagaimana kaitannya dengan keseluruhan realitas sakramen Gereja, terutama dalam hal ini adalah Ekaristi. Mengapa Ekaristi? Sebab Ekaristi adalah tanda pemberian diri yang total yang dinyatakan oleh Kristus kepada Mempelai-Nya yaitu Gereja; dan dengan demikian dengan merayakan Ekaristi, suami istri yang dipanggil untuk mengambil bagian di dalam kasih Kristus yang total itu, agar mampu juga saling memberikan diri yang total kepada pasangan, seperti teladan Kristus itu. Maka tidak ada yang perlu direvisi tentang ajaran Ekaristi. Pemahaman tentang teologi tubuh akan dapat membantu umat Katolik semakin menghayati Ekaristi yang adalah Tubuh Kristus, karena kita semua dipanggil kepada kesatuan dengan Tubuh Kristus itu.

          Jika anda tertarik untuk mengetahui tentang Teologi Tubuh (Theology of the Body), silakan anda membaca buku tersebut, yang merupakan kumpulan homili dari Paus Yohanes Paulus II (dari General Audience sejak tanggal 5 Sept 1979 sampai 28 November 1984) yang berjudul: The Theology of the Body, Human Love in the Divine Plan, (Boston: Pauline Books and Media, 1997), atau dapat juga anda membaca ulasan tentang teologi tubuh, yang dikarang oleh Christopher West, yang ditulis dengan gaya bahasa yang lebih ringan/ ‘membumi’. Judul bukunya adalah: Theology of the Body Explained (Boston: Pauline Books and Media, 2007).

          Anda dapat menghubungi komunitas Domus Cordis yang memberi pembelajaran tentang TOBIT (Theology of the Body Insight) yang situsnya ada di link ini, silakan klik.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

          • Shalom Bu Ingrid,

            Terima kasih atas jawabannya.

            1. Mengenai St Agustinus dan St. Thomas Aquinas, seorang Romo yang mengatakannya, tidak perlu saya sebutkan namanya, terjadi dalam sebuah seminar, dan saya tidak sempat bertanya.
            2. Mengenai Revisi Ekaristi dengan kaitan teologi tubuh, mungkin saya tidak tepat mengatakannya, karena secara prinsip rasanya tidakada yang berubah, namun penjelasannya mungkin menjadi lebih lengkap jika teologi tubuh sudah diterima luas. Ini pula yang saya ingin tanyakan, sejauh mana sebetulnya Teologi Tubuh sudah diterima di kalangan Rohaniwan? Khususnya Indonesia? Mohon maaf, kita harus akui kadang terjadi hal-hal yang tidak sepatutnya sebagai contoh, seorang mengaku dosa karena melakukan masturbasi, dengan enteng Romonya mengatakan, oh itu bukan dosa.

            • Shalom Teddy,

              Nampaknya ada kesalahpahaman di sini. Sebab baik secara prinsip maupun secara praktek seharusnya tidak ada yang salah dari Teologi Tubuh ini. Teologi Tubuh tidak mengajarkan masturbasi ataupun memperbolehkan masturbasi. Seharusnya jika seseorang memahami dengan sungguh apa yang diajarkan dalam Teologi Tubuh, maka ia akan semakin merasa berdosa kalau melakukan masturbasi, dan dengan demikian tidak akan mengatakan kepada orang lain bahwa ‘masturbasi itu bukan dosa’. Komentar ini menunjukkan bahwa ia belum sepenuhnya memahami ajaran Paus Yohanes Paulus II dalam Teologi Tubuh. Mengapa? Karena Paus mengajarkan kesucian makna seksualitas sedemikian, yang tidak pernah dihubungkan dengan pemuasan dorongan keinginan jasmani sebagaimana terdapat dalam masturbasi. Paus Yohanes Paulus II mengajarkan totalitas makna seksualitas, dan bahwa seksualitas tidak dapat direduksi menjadi ‘keinginan daging’ sehingga ia mengajarkan bahwa seorang suamipun harus memurnikan kasihnya kepada istrinya, sehingga tidak selayaknya memandang kepada istrinya dengan nafsu.  Paus Yohanes Paulus II mengatakan, “Adultery in the heart is not committed only because the man ‘looks’ in this way at a woman who is not his wife, but precisely because he looks in this way at a woman…. Even if he were to look in this way at a woman who is his wife, he would commit the same adultery ‘in the heart’ ” (Theology of the Body, 43:2). Artinya seorang pria tidak selayaknya melihat seorang perempuan dengan nafsu, meskipun perempuan itu adalah istrinya sendiri, sebab jika demikian ia memperlakukan istrinya sebagai sebuah obyek untuk memuaskan nafsunya (lih. TOB 43:3), dan bukan sebagai keseluruhan pribadi yang ia kasihi tanpa syarat. Dengan prinsip ini, tidak ada celah yang bisa diinterpretasikan bahwa Paus memperbolehkan masturbasi, sebab Paus tidak pernah membenarkan tindakan menuruti nafsu seksual. Maka Paus menggarisbawahi makna kekudusan tubuh – baik itu tubuh orang lain ataupun tubuh sendiri- sebagai bait Allah (lih. 1 Kor 3:16; 6:19) sehingga tidak untuk diperlakukan sebagai obyek pemuas nafsu.

              Selain itu Katekismus Gereja Katolik juga jelas mengajarkan:

              KGK 2352     Masturbasi adalah rangsangan alat-alat kelamin yang disengaja dengan tujuan membangkitkan kenikmatan seksual. “Kenyataan ialah bahwa, baik Wewenang Mengajar Gereja dalam tradisinya yang panjang dan tetap sama maupun perasaan susila umat beriman tidak pernah meragukan, untuk mencap masturbasi sebagai satu tindakan yang pada dasarnya merupakan tindakan yang sangat menyimpang (“intrinsically and gravely disordered action“), karena penggunaan kekuatan seksual dengan sengaja, dengan motif apa pun itu dilakukan, di luar hubungan suami isteri yang normal, bertentangan dengan hakikat tujuannya“. Kenikmatan seksual yang dicari karena dirinya sendiri tidak mempunyai “tujuan susila yang dituntut oleh hubungan seksual, yaitu yang melaksanakan arti sepenuhnya dari penyerahan diri secara timbal balik dan juga satu pembuahan manusiawi yang sebenarnya di dalam cinta yang sebenarnya” (CDF, Perny. “Persona humana” 9). Supaya membentuk satu penilaian yang matang mengenai tanggung jawab moral dari mereka yang bersalah dalam hal ini, dan untuk menyusun bimbingan rohani supaya menanggapinya, orang harus memperhatikan ketidakmatangan afektif, kekuatan kebiasaan yang sudah mendarah daging, suasana takut, dan faktor-faktor psikis atau kemasyarakatan yang lain, yang dapat mengurangkan kesalahan moral atau malahan menguranginya ke tingkat minimum (reduce to a minimum).

              Sedangkan definisi dosa menurut Katekismus adalah:

              KGK 1849     Dosa adalah satu pelanggaran terhadap akal budi, kebenaran, dan hati nurani yang baik; ia adalah satu kesalahan terhadap kasih yang benar terhadap Allah dan sesama atas dasar satu ketergantungan yang tidak normal kepada barang-barang tertentu. Ia melukai kodrat manusia dan solidaritas manusiawi. Ia didefinisikan sebagai “kata, perbuatan, atau keinginan yang bertentangan dengan hukum abadi” (Agustinus, Faust. 22,27) Dikutip oleh Tomas Aqu., s. th. 1-2,71,6, obj. 1)

              Maka masturbasi sebagai tindakan yang sangat menyimpang dari akal budi dan tujuan Allah menciptakan seksualitas, merupakan perbuatan dosa. Jadi, tidak seharusnya seorang imam mengatakan, “masturbasi itu bukan dosa” kepada peniten. Jika sampai ia mengatakannya, itu tidak hanya menunjukkan kekurang pahamannya akan ajaran Teologi Tubuh, tetapi juga kekurang pahamannya akan ajaran Gereja Katolik. Mari kita doakan saja imam ini, atau jika anda mengenalnya, silakan, dengan motivasi kasih, anda memberitahukan kepadanya tentang apa yang disebutkan dalam Katekismus Gereja Katolik tentang masturbasi. Imam yang tulus dan rendah hati akan menerima apa yang anda sampaikan, sebab ia tidak selayaknya mengajarkan apa yang tidak sesuai dengan ajaran Gereja Katolik.

              Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
              Ingrid Listiati- katolisitas.org

  8. Shalom Katolisitas,

    Sekitar sebulan yang lalu di lingkungan pergaulan saya sedang marak membicarakan tentang peranan malaikat dalam hidup pribadi. Pada saat mendiskusikan hal – hal ini, terdapat beberapa hal yang membingungkan kami dan karenanya saya berpikir lebih baik untuk bertanya secara langsung di situs ini.

    Beberapa dari teman saya mengklaim mereka dapat melihat dan berkomunikasi dengan malaikat pelindung mereka. Hal ini tidak menjadi persoalan buat saya apakah mereka benar dapat mendengar suara malaikat yang melindungin mereka, namun ada juga sejumlah pertanyaan yang ada dibenak kami yang kurang jelas.

    1. Saya sudah mengetahui tentang konsep hati nurani yang merupakan keputusan akal budi, lewat katekismus yang waktu itu juga dijelaskan dari situs ini. Inspirasi dan bimbingan juga bisa didapatkan dari Roh Kudus, dengan melihat buah-buahNya. Namun bagaimana cara kita mengetahui bimbingan yang berasal dari malaikat pelindung ?

    ada beberapa situs katolik yang mengatakan bahwa malaikat pelindung katanya berbicara lewat suara hati. Campur aduk informasi ini membingungkan tentang bagian – bagian yang dikerjakan roh kudus , malaikat dan suara hati.

    2. Saya mendapat pemahaman, sebagai rekan yang diutus oleh Tuhan untuk menjaga kita, dan melalui doa – doa dengan perantaraan mereka, malaikat bisa membimbing, melindungi dan menjaga kita dengan baik.

    Saya pernah membaca artikel yang menyatakan bahwa kita perlu membina hubungan yang baik dengan malaikat pelindung kita, dan menyediakan waktu yang khusus untuk berkomunikasi dengan mereka.
    Dulu waktu masih kecil saya pernah diajarkan untuk berterima kasih atas perlindungannya, dan dapat meminta bantuan dari malaikat secara fisik seperti mengingatkan saya akan hal – hal tertentu dan sebagainya.

    Apakah bentuk komunikasi efektif yang bisa kita lakukan dalam penyediaan waktu luang itu, maksud saya jika ini membina relasi, dan mereka begitu dekat dengan kita bukankah bisa terjadi hubungan komunikasi dua arah ?

    Seberapa jauh hubungan kerja sama ini bisa dilakukan dan apakah kebiasaan ini baik untuk dikembangkan ?

    Apakah selain Roh Kudus, malaikat juga bisa menginspirasikan kepada kita tentang hal – hal tertentu, misalnya membantu memahami sabda Tuhan atau menggerakkan kita untuk berdoa dan sebagainya ?

    3. Bagaimana dengan kesaksian – kesaksian orang tertentu bahwa dalam kondisi tertentu mereka mendapatkan dorongan yang kuat, atau pengalaman ditolong oleh malaikat pelindung mereka ?

    4. Saya pernah mendengar bahwa malaikat – malaikat juga dalam penampakan mereka, juga mempunyai simbol – simbol tertentu, seperti pedang, perisai dan sebagainya. Apakah Katolisitas bisa menggambarkan apa saja hal itu?

    Lebih lanjut saya ingin mengetahui pemisahan yang jelas antara kerja Roh Kudus dalam hubungannya dengan para malaikat jika memang ada.

    Terima Kasih
    Yosh

    • Shalom Yosh,

      Terima kasih atas pertanyaannya. Secara prinsip, kita tidak perlu membedakan dorongan dari Roh Kudus dan dorongan dari malaikat pelindung, karena dorongan dari malaikat pelindung senantiasa sesuai dengan dorongan dari Roh Kudus. Karena malaikat adalah utusan Allah, maka dia hanya dapat memberikan pesan yang memang sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah. Jadi, kita tidak perlu membedakannya. Yang perlu dibedakan adalah apakah dorongan hati nurani kita berasal dari Allah atau bukan, karena dorongan hati nurani yang tidak dibina dengan baik dapat salah. Memang Tuhan telah memberikan kepada kita malaikat pelindung untuk menjaga dan melindungi kita dan menemani kita dalam perjalanan kita menuju Sorga. Anda dapat membaca terlebih dahulu link ini – silakan klik, tentang malaikat pelindung dan doanya. Anda dapat berkomunikasi dengan malaikat pelindung anda dalam doa. Anda dapat berdoa bersama malaikat pelindung anda pada saat anda pergi, atau juga mengambil keputusan-keputusan. Katakan juga bahwa anda mengasihi malaikat pelindung anda, karena malaikat pelindung andapun mengasihi anda. Namun, yang perlu diingat adalah penghormatan kepada malaikat pelindung tidak boleh menjauhkan kita dari Yesus, bahkan seharusnya membawa kita lebih dekat kepada Yesus.

      Pertolongan dari malaikat pelindung sering dialami oleh orang-orang tertentu. Dan kita hanya bisa mengucap syukur akan kebaikan Allah yang telah mengirimkan malaikat pelindungnya untuk melindungi kita. Kalau malaikat pelindung memberikan perlindungan kepada orang lain, maka ini berarti malaikat pelindung kita juga akan melindungi kita. Kami minta maaf, karena tidak dapat memenuhi permintaan anda untuk menampilkan simbol-simbol malaikat, karena keterbatasan waktu. Semoga jawaban singkat ini dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

    • Romo Yohanes Dwi Harsanto, Pr. on

      Salam Yosh

      Saya kutipkan dari buku Komisi Liturgi KWI, “Direktorium tentang Kesalehan Umat dan Liturgi, Asas-Asas dan Pedoman”, Jakarta: OBOR, 2011, no. 213-217 dan KGK, alih-alih menjawab pertanyaan Anda satu per satu yang memang tidak mudah, agar kita tidak malahan jatuh pada pendangkalan terhadap misteri Allah yang agung ini.

      Gereja mengajarkan bahwa ada makhluk spiritual, nir-raga, yang oleh Kitab Suci disebut “malaikat”. Itu merupakan kebenaran iman, dan kesaksian Kitab Suci jelas sekali sebagai kesatuan tradisi (KGK 328). Malaikat ialah pelaksana perintah Allah, yg selalu siap siaga mendengarkan titah Allah (Mzm 103:20). Mereka melayani rencana keselamatan dari Allah, diutus melayani mereka yg akan mewarisi keselamatan (Ibr 1:14). Malaikat disebut beserta karya dan hakikatnya misalnya dalam Kej 3:24; Kej 19; Kej 21:17; Kej 22:7; Ul 10:9-12; Mzm 137:1; Ydt 13:3-7; Mzm 91:11; Mzm 103:20; Yes 6:1-4; Why 8:34; 1 Raj 19:4-8; Dan 3:49-50; Tob 12:15; Luk 1:26-38; Mat 1:18-25; Luk 2:8-24; Mat 2:13-20; Mat 4:11; Luk 22:43; Luk 15:10; Luk 20:36; Mat 16:1-8; Mat 25:31; Kis 1:11; Ibr 1:6; Why 5:8; 8:3. Jadi, jelas bahwa malaikat bisa berkomunikasi dengan manusia.

      Gereja yg pada saat lahirnya diselamatkan dan dilindungi berkat pelayanan malaikat, terus menerus mengalami bantuan mereka yang misterius dan penuh kuasa. Gereja senantiasa memohon pertolongan mereka. Gereja memperingati mereka: 29 Sept (Pesta Malaikat Agung Mikael, Gabriel, Rafael), 2 Oktober (Pesta Malikat Pelindung). Gereja berseru pada Allah untuk mengurus para malaikat menyertai jiwa-jiwa orang benar untuk masuk ke Firdaus dan supaya menjaga kubur mereka (lihat buku upacara pemakaman).

      Adanya Malaikat Pelindung didasarkan pada Mat 10:10. Banyak sekali bentuk devosi kepada malaikat Pelindung. St Basilius Agung (+378) mengajarkan bahwa: “Setiap dan masing-masing anggota kaum beriman mempunyai seorang malaikat pelindung yang melindungi, menjaga, dan membimbing dia meniti hidupnya” (St Basilius dari Kaisarea, “Adversus Eunomium III, 1: PG 29, 656).
      St Bernardus dari Clairvaux (+1153) adalah guru agung dan pendorong ulung devosi kepada malaikat pelindung. Baginya, malaikat ialah bukti bahwa surga senantiasa membantu kita”, dan karena itu “roh-roh surgawi ini telah ditempatkan di sisi kita untuk melindungi, mengajar dan membimbing kita” (St Bernardus dari Clairvaux, Sermo XII in Psalmum “qui habitat”, 3; Sancti Bernardi Opera IV, Editiones Cistercienses, Roma 1966, hlm 459.

      Devosi kepada para malaikat secara sehat membangkitkan hidup dengan ciri khas:
      1. Sikap syukur kepada Allah yang telah menempatkan roh-roh surgawi yang kudus dan agung untuk melayani manusia.
      2. Sikap saleh yang muncul dari kesadaran terus menerus di hadirat malaikat kudus Allah.
      3. Ketenangan dan keyakinan dalam menghadapi situasi-situasi sulit, karena Tuhan menjaga dan melindungi kaum beriman dalam meniti keadilan, melalui pelayanan para malaikat kudusNya. Di antara doa-doa kepada malaikat pelindung, maka doa “Angelus” (Malaikat Allah) sangat populer dan didoakan pada jam 6 pagi, 12 siang dan 6 petang.

      Namun, devosi kepada para malaikat yang memang sah dan baik, karena kekurangpahaman, bisa menyimpang:
      1. Kadang terjadi, umat terseret oleh gagasan bahwa dunia takluk pada perjuangan baik dan buruk, antara malaikat dan setan, di mana seolah manusia tergantung pada belas kasih kuasa-kuasa yang lebih kuat atas mereka dan manusia sendiri tak berdaya. Pandangan kosmologis seperti itu kurang selaras dengan pandangan Injil yang benar tentang pergulatan untuk menguasai iblis, yang menuntut komitmen moral, pilihan fundamental kepada Injil, kerendahan hati, dan doa.
      2. Kadang-kadang peristiwa hidup sehari-hari, yang tidak berhubungan dengan perkembangan kedewasaan pribadi menuju Kristus, diikuti secara skematis-simplistis, kekanak-kanakan. Sehingga, kegagalan dikaitkan dengan iblis, kesuksesan dikaitkan dengan malaikat pelindung.

      Malikat itu kodratnya roh. Sebagai makhluk rohani murni, mereka mempunyai akal budi dan kehendak, berwujud pribadi dan tak dapat mati. (KGK 329). Dalam segala pekerjaan baik, para malaikat bekerja sama dengan kita (KGK 350). Adalah kehendak Allah bahwa makhluk-makhluk Nya berbeda satu sama lain. (KGK353). Ada makhluk rohani saja, dan ada yang jasmani-rohani. Karena itu sangat mungkin kita berkontak dengan sesama ciptaan termasuk dengan makhluk rohani. Namun demikian, bagaimana terjadinya, tidak bisa diterangkan dengan seterang benderang menerangkan komunikasi antar sesama manusia.

      Salam: Rm Yohanes Dwi Harsanto Pr.

      • Syalom kepada Pak Stef dan Romo Yohanes Dwi Harsanto, Pr.

        Terima kasih atas tanggapannya ditengah kesibukan yang ada di situs ini dan dalam aktivitas pelayanan dari pak Stef maupun Rm Harsanto. Saya akhirnya bisa mengerti tentang peran para malaikat, bagaimana seharusnya kita bersikap dan berkomunikasi dengan mereka tanpa melupakan bahwa Tuhanlah yang berada diatas segala-galanya.

        Artikel yang diberikan sungguh bermanfaat dan saya bisa bersikap sesuai dengan apa yang diajarkan oleh gereja Katolik. Dewasa ini banyak orang yang salah mengartikan kehadiran dan “misteri” dari para malaikat, namun menyadari bahwa pengalaman bantuan dan kehadiran para malaikat telah membuat saya mempunyai rasa syukur yang amat besar dan semakin mencintai Tuhan.

        Maju terus untuk Katolisitas.org…
        Yosh

  9. pertanyaan.
    SHALOM
    Dalam masa prapaskah saat ini ada beberapa pertanyaan yang membuat saya bingung,dengan pertanyan apakah kita sudah menjadi anak -anak allah?
    Dan apa yang dimaksud dengan anak-anak ALLAH?
    Bukankah jika sudah di baptis sudah menjadi anak-anak ALLAH?
    SALAM
    EVAN.

    • Shalom Evan,
      Katekismus Gereja Katolik, berdasarkan Kitab Suci mengajarkan:

      KGK 1265 Pembaptisan tidak hanya membersihkan dari semua dosa, tetapi serentak menjadikan orang yang baru dibaptis suatu “ciptaan baru” (2 Kor 5:17), seorang anak angkat Allah (Bdk. Gal 4:5-7); ia “mengambil bagian dalam kodrat ilahi” (2 Ptr 1:4), adalah anggota Kristus (Bdk. 1 Kor 6:15; 12:27), “ahli waris” bersama Dia (Rm 8:17) dan kenisah Roh Kudus (Bdk. 1 Kor 6:19).

      Maka Sabda Allah mengajarkan bahwa setelah kita dibaptis, memang kita diangkat untuk menjadi anak- anak angkat Allah di dalam Kristus, karena melalui Pembaptisan kita mengambil bagian dalam kodrat ilahi yang memungkinkan kita dapat masuk dalam Kerajaan Surga.
      Jadi, anak- anak angkat Allah di sini maksudnya adalah saudara dan saudari Kristus (yang adalah Allah Putera), yang menjadi ahli waris Kerajaan Allah, dan yang mengambil bagian di dalam kehidupan ilahi-Nya. Ya, anda benar melalui Pembaptisan kita diangkat menjadi anak- anak angkat Allah. Selanjutnya tentang makna Baptisan, silakan klik di sini

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  10. Syalom Ibu Inggrid yang terkasih…
    akhir2 ini saya sering mendengar tentang ANAK INDIGO,,,,Bila Ibu Inggrid belum tahu, saya akan memberikan sedikit pengertiannya…

    Indigo dtmukan oleh Nancy Ann Torp, konselor, 1970. Dia mneliti warna aura mnsia & mnghbngkanny dgn kpribdian mrka yg mmiliki aura nila. Anak indigo ini trnyta anak2 yg dianugrahi klbihan khususny kmampuan extra sensory perception = sixth sensens = indera keenam. Anak indigo istilah yg dberikan kpd anak yg mnunjukkn prilaku lbih dwsa dbnding usianya & mmiliki kmampuan intuisi sgt tinggi. Biasanya mrk tdk mau dprlkukan scr anak2. Anak indigo mmiliki energi sinar elektromagnetik atau aura di skitar tbuhnya (Edratna).
    Berikt karakteristk indigo mnurt pngamatan, pngalaman & dr brbagai rferensi
    1. Sering pusing, insomnia, rentan trhdp polusi, alergi, kelelahan, sult fokus, skt d leher/punggung 2. Kpribadian ganda, pmbosan, cuek tp sensitif, hperaktif tp pmurung, supel tp sk menyendiri, idealis, hdp d dunia sndiri, standar tinggi, moody, introvert, perfectionis, obsesif, extrem, empati tinggi, emosional, bingung, posesif, kcemasan, sok tau, btuh perhatian lebh, biasany maniac game, HP,TV, PC
    3. Slain krn adany klainan otak & syaraf krn gen bnyk klainan dlm organ tbuh indigo mis jantung, hati, pancaindra, prnafasan, pncernaan yg brakbt tdk seimbangny sstm mtabolism tbuh & tdk brfungsiny sstm kkbalan tbuh. Ada jg yg keindigoanny muncl stlh jatuh & alami trauma d kpala atau slamat dr maut
    4. Suka brbicara sndiri
    5. Daya imaginasi tinggi
    6. Mmiliki intuisi tajam EXTRA SENSORY PERCEPTION atau indra keenam
    7. Mmiliki ide2 yg tdj dcapai org biasa
    8. Serg alami dejavu, keadaan dmana kt prnah alami pristiwa itu sblumny & serg alami kbetulan2 yg akn trjd d masa yg akn dtang
    9. Slalu ingn bhagiakn org lain walo akbtny dmanfaatkn org
    10. Utk nonmuslim srg dkaitkn dgn reinkarnasi
    11. Pny misi & visi trtentu & target untk mncapai prubahan & pencerahan
    12. Ada yg mmiliki keahlian/ilmu pngetahuan baru walau dia tdk mmahami ilmu itu sblumny
    13. Mmiliki gjala ADD Attention Deficit Disorder = autisme & ADHD (Hiperaktf)
    14. Mmiliki kcerdasan spiritual dsisi lain rntan stres & depresi
    15. Sult mnghadapi dsiplin & aturan
    16. Tbuh rentan sakt/lemah & serg alami prjalanan gaib OBE Out of Body Experience diikuti ksulitan brnafas pd saat pralihan k alam mimpi/tdur yg dsbt transient ischaemic yaitu trhentiny ssaat suplai darah k otak krn otak kkurangn nutrisi & oksign. Biasany brkaitan dgn pnykt pnyempitan urat arteri carotid, jantung, asma, pngendapn d kpala yg brakbt stroke
    17. Otak mlaju lbh cept dr grakn fisik
    18. Harta bkn tjuan hdup
    19. Mnyukai khdupan alami
    20. Cerdas, kreatif, berbakat walau scara akademis tdk brprestasi. Tdk brprestasi diakbtkn krn serg mlamun & pusing d kelas. Indigo lbh snang mnuls puisi & cerita srta mnggambar saat plajarn brlangsung
    21. Serg alami mimpi aneh (mimpi buruk mrpkn refleksi keadaan mental sseorg & pnyakt yg dderita
    22. Bl konsentrasi pnuh mmpu mlakukn ssuatu dluar kmampuan org biasa mis mmpu mnggerakkn bnda, transfr energ, mlhat aura & makhluk gaib
    23. Sult brfkir dgn logika & lbh mngedpankn rasa
    24. Tdk takt ancaman, tdk sk dganggu & tdk mdah kompromi
    25. Pmikiranny jauh k dpan, kata2ny tajam, dalam & serg jd problem solver
    26. Biasany indigo mmiliki darah ningrat/leluhurny mnguasai ilmu gaib, tnaga dlam & energ
    27. Mmpu mrasakn 2 frekuensi positf & negatf yaitu malaikat & setan
    28. Snang mlhat bintang & benda2 langt
    29. Tdk suk kgiatan mnunggu, antri & suka trburu2
    30. Pny hub yg kuat dgn Tuhan bl dpngaruhi hal positf & pny hua kuat dgn setan bl dpngaruhi hal negatf

    Nah….
    Pertanyaan yang pengen saya ajukan adalah:
    1. Bagaimanakah pandangan gereja Katolik mengenai anak indigo?
    2. Adakah hubungan antara anak indigo dengan karunia2 karismatik?

    Mungkin itu dulu…semoga bisa bermanfaat buat yang lain juga..

    JBU

    • Shalom Budi,
      Saya pernah menanggapi soal anak Indigo di sini, silakan klik. Prinsipnya, karena fenomena ini juga masih bersikap spekulatif, maka Gereja Katolik tidak perlu menyikapinya. Dengan demikian menghubungkan fenomena anak Indigo dengan karunia- karunia karismatik Roh Kudus, juga nampaknya tidak relevan. Sebab karunia karismatik Roh Kudus itu fungsi utamanya adalah untuk membangun Gereja, dan membangunnya itupun atas dasar Kasih, karena Roh Kudus adalah Roh Kasih itu sendiri. Karunia- karunia karismatik yang dari Roh Kudus itu harusnya mempersatukan Gereja, setia kepada ajaran Kristus dan bukan malah mengajarkan ajaran yang menentang ajaran Kristus. Dengan melihat dua syarat ini saja kita ketahui bahwa fenomena anak Indigo tidak ada hubungannya dengan karunia karismatik Roh Kudus. Yang pertama, Kasih bukan merupakan hal yang dominan dalam fenomena anak indigo, sebaliknya mereka cenderung berkembang menjadi pribadi yang moody, emosional, kadang meledak- ledak kurang pengendalian diri, mencari perhatian, ingin dipuji, dst, yang tidak sesuai dengan buah- buah Roh Kudus (lih. Gal 5: 22-23). Yang kedua, fenomena ini dipropagandakan oleh kaum New Ager yang mengajarkan reinkarnasi, dan mempromosikan ajaran ini. Reinkarnasi dan NAM adalah ajaran yang bertentangan dengan ajaran Kristus. Silakan membaca di sini untuk NAM, silakan klik.
      Jadi kesimpulannya, fenomena indigo tidak ada kaitannya dengan karunia karismatik Roh Kudus.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  11. robertus freddy on

    Berkah dalem ..

    Bu Inggrid, saya mau menanyakan apakah gerakan karismatik merupakan gerakan yang resmi dalam gereja katolik? karena menurut saya gerakan ini lebih mirip dengan gerakan ibadat di gereja reformasi? Ada penumpangan tangan, bahasa roh…Bukankah penyembahan tertinggi kita dipersembahkan lewat misa dengan menyambut tubuh kristus sendiri? Lalu sejarahnya karismatik katolik bagaimana bu?
    terimakasih penjelasannya..

    • Shalom Robertus,

      Gerakan Karismatik Katolik merupakan gerakan yang diakui resmi oleh Gereja Katolik. Silakan anda membaca di sini, silakan klik. Walaupun diterima, tetapi ibadah persekutuan doa karismatik memang bukanlah merupakan puncak ibadah kita sebagai umat Katolik. Perayaan Ekaristi tetaplah merupakan sumber dan puncak kehidupan kita sebagai umat Kristiani, seperti sudah pernah dibahas di sini, silakan klik; sebab Kristus sendirilah yang kita sambut dalam Ekaristi, dan ini tidak diperoleh dalam bentuk- bentuk ibadah lainnya.

      Kami memang belum pernah mengulas tentang sejarah gerakan Karismatik dalam Gereja Katolik, mungkin di waktu mendatang. Mohon kesabarannya. Sementara ini, silakan anda membaca dulu buku karangan Romo Deshi, yang judulnya Mungkinkah Karismatik Sungguh Katolik, sebab di situ disebutkan sekilas sejarahnya. Selanjutnya komentar kami tentang buku itu, sudah pernah kami tayangkan di sini, silakan klik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Robertus Freddy on

        Berkah Dalem..

        Bu Ingrid, dada saya merasa sangat sesak ketika melihat ada banyak umat katolik merasa bahwa ekaristi saja belum cukup. sehingga harus “meniru” cara ibadat saudara kita yang kristen sehingga lebih ekspresif dan semacamnya.

        Saya yang umat biasa memang tidak lebih pandai dari Bu Inggrid dan mereka yang telah menyetujui gerakan ini, namun saya yakin di kemudian hari gerakan ini pasti akan dihilangkan dari bunda gereja yang kudus. Bukannya membawa umat semakin katolik namun malahan semakin pantekosta dan menjauh dari bunda gereja.. Banyak orang beranggapan bahwa KRISTEN dan KATOLIK adalah sama sebagai akibat dari peran sebagian orang yang membawa pengaruh kristen ke dalam pangkuan bunda gereja. Sehingga berpikir ternyata kristen pun sama dengan katolik, buktinya karismatik di katolik juga ada tidak hanya di pantekosta.

        Jika memang Ibu merasa ada kejanggalan terhadap gerakan ini mohon dibantu untuk memperlihatkan ketidaksesuaiannya dengan ajaran gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik sehingga banyak orang tidak keliru.

        Terimakasih tanggapannya.
        Maaf atas penulisan yang kurang berkenan.

        • Shalom Robertus,

          Agaknya kita harus dengan rendah hati menyerahkan penilaian akan hal Karismatik ini kepada otoritas Gereja Katolik. Saya mohon anda membaca terlebih dahulu link yang saya sebutkan, klik di sini, untuk melihat bagaimana seharusnya kita menyikapi gerakan ini. Selayaknya kita tidak menjadi ‘anti’ kepada gerakan Karismatik Katolik, hanya karena sikap negatif dari segelintir orang Karismatik. Dengan demikian, maka saya rasa tak perlu dada anda menjadi ‘sesak’.

          Benar bahwa cara berdoa dalam gerakan Karismatik memang ekspresif dan berkesan mirip dengan ibadah dalam gereja Kristen non- Katolik, namun itu hanya merupakan cara berdoa saja, yang juga tidak sama antara komunitas Karismatik yang satu dengan yang lainnya. Mohon diingat bahwa ada banyak cara berdoa dalam Gereja Katolik, seperti meditasi, rosario, ibadah harian, Taize, ataupun bermacam devosi lainnya. Namun yang terpenting, semua cara itu tidak dapat menggantikan Misa Kudus (Perayaan Ekaristi), dan tidak ada yang setara dengan Misa Kudus.

          Jadi soal menerima gerakan Karismatik bukan karena soal ‘pandai atau tidak’. Ini soal kerendahan hati untuk menerima keputusan Magisterium Gereja, dan kebesaran hati untuk melihat adanya hal- hal positif yang dihasilkan gerakan tersebut. Gerakan Karismatik itu setara dengan gerakan gerejawi lainnya seperti Legio Mariae dan Marriage Encounter (ME). Jadi kalau kita bisa menerima kedua gerakan tersebut, maka seharusnya kitapun dapat menerima gerakan Karismatik Katolik. Seperti tidak semua orang harus ikut Legio Mariae ataupun ikut Marriage Encounter, demikian pula tidak semua orang harus ikut gerakan Karismatik. Sebab yang terpenting adalah intinya, yaitu sama- sama kita ingin hidup kudus di dalam Kristus, sesuai dengan panggilan kita sebagai anak- anak Allah. Semua gerakan gerejawi mengarah ke tujuan tersebut, dan itulah yang terpenting.

          Maka anda keliru jika menilai semua orang Karismatik malah menjauh dari Bunda Gereja. Sebab ada banyak contoh tokoh Karismatik yang tidak demikian. Fr. Raniero Cantalamessa ofmcap, misalnya, ia tetap tinggal dalam kesederhanaan dan kerendahan hatinya sebagai seorang biarawan Capuchin, namun khotbahnya sangatlah mendalam dan mengena; dan kemungkinan karena itulah ia sampai sekarang menjadi pengkhotbah Kepausan, membawakan renungan juga di hadapan Bapa Paus. Sudahkan anda mendengarkan pengajaran Fr. Cantalamessa? Beberapa kali beliau datang ke Indonesia, dan jika belum, jika nanti beliau datang lagi, silakan anda hadir untuk dapat mendengarkannya.

          Hal sama terjadi pada Mother Angelica. Saya pernah berkesempatan mengunjungi stasiun TV Katolik EWTN (Eternal Word Television Network) yang didirikannya di Alabama, Amerika Serikat, dan mengunjungi biaranya. Di tengah angka menurunnya jumlah panggilan rohaniwan/ rohaniwati di Amerika, justru biara ini malah kewalahan menerima anggota baru. Ada banyak kaum muda yang ingin masuk biara, dan tempatnya di sana kurang. Komunitas mereka berkembang. Doa mereka tidak ‘gonjrang ganjreng’, namun tetap agung seperti layaknya dalam tradisi Gereja Katolik. Walaupun para biarawati di sana menerima pengurapan Roh Kudus dan menerima karunia bahasa roh, mereka tidak semata- mata mengagung- agungkan bahasa roh, sampai mengabaikan tradisi Gereja Katolik. Mereka tetap setia berdoa brevier, membaca Kitab Suci, berdoa rosario, melantunkan puji- pujian dalam bahasa Latin. Misa di sana begitu indahnya, dibarengi dengan nyanyian bahasa Latin yang sangat merdu. Setiap lagu bahasa Latin disertai dengan lirik terjemahannya sehingga dapat dipahami artinya. Koor para biarawati di sana juga sangat membantu mengangkat hati umat, sampai hampir berkesan paduan suara malaikat. Demikian pula dengan Adorasi Sakramen Maha Kudus yang berlangsung terus sepanjang hari. Di sana, karunia karismatik Roh Kudus digunakan dalam keselarasan dengan tradisi Katolik, dan menjadikan tradisi Katolik menjadi semakin ‘hidup’ dan agung. Ini selaras dengan misi EWTN untuk mewartakan kebenaran Injil Kristus ke seluruh dunia.

          Maka, jika kita ingin melihat kebaikan ajaran iman Katolik, mari kita melihat teladan hidup para Santa/o, yang sungguh melaksanakan ajaran imannya, dan bukan kepada orang- orang Katolik yang gagal menjalankan imannya. Jika kita ingin melihat kebaikan gerakan Karismatik, lihatlah kepada orang- orang yang sungguh hidup menurut semangat Karismatik ini menurut Gereja Katolik. Janganlah berfokus pada contoh ekstrim yang keliru yang sesungguhnya tidak diajarkan oleh gerakan Karismatik ini, tetapi lihatlah kepada buah- buahnya yang positif yang jelas membangun Gereja. Adalah tugas pihak pemimpin Gereja Katolik untuk mengarahkan gerakan ini agar menjadi semakin ‘Katolik’, namun bukan berarti harus memadamkan karya Roh Kudus yang memang sedang aktif berkarya untuk membawa pertobatan banyak jiwa kepada Tuhan.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

        • Budi Darmawan Kusumo on

          Syalom Pak Robertus,

          Saya adalah pengikut gerakan Katolik Kharismatik di HSM / Heman Salvation Ministry di Surabaya ( WTC lantai 3 ). Dulu saya adalah Katolik ‘biasa’ yang cukup rajin ke gereja dan berdoa. Justru ketika saya mengikuti gerakan Katolik Kharismatik, iman saya JAUH lebih bertumbuh dan malah lebih mamahami Sakramen Ekaristi sebagai PENYEMBAHAN TERTINGGI. Saya semakin cinta akan Gereja Katolik yang satu, kudus, katolik dan apostolik dan membela IMAN KATOLIK dari IMAN – IMAN yang lain ( alias menjadi KATOLIK yang LEBIH militan ). Malahan orang – orang di Komunitas HSM ini TIDAK MAU meninggalkan Gereja ( alias semakin cinta akan IMAN KATOLIK ). Saya yang dulunya tidak tahu apa – apa, malahan diberi masukan teologi – teologi Katolik pada komunitas ini. Jadi menurut saya Gerakan ini adalah Gerakan yang juga dari TUHAN ( Sudah di Magisteriumkan lho ) [Dari Katolisitas: Nampaknya istilah yang tepat bukan "diMagisteriumkan", tetapi diterima oleh Magisterium sebagai 'gerakan gerejawi'/ ecclesial movement] dan baik untuk pertumbuhan IMAN.

          Hal ini TIDAK AKAN pernah menggantikan Sakramen Ekaristi sebagai PENYEMBAHAN TERTINGGI. Well, ibaratnya kalo di komunitas gerakan Katolik Kharismatik itu kita DIJAMAH oleh TUHAN, sedangkan dalam sakramen ekaristi kita itu BERSATU oleh TUHAN. Nah menurut anda, mana yang lebih intim ? DIJAMAH saja atau BERSATU dengan TUHAN ?

          Tuhan Yesus memberkati & Bunda Maria selalu menuntun anda pada putraNYA

  12. Terima kasih atas jawaban yang diberikan,

    Saya mendapatkan pemahaman dari jawaban yang diberikan bahwa sebagai umat katolik kita harus menjaga kekudusan hidup kita senantiasa. Pusat dari perbuatan kita seharusnya adalah yang membawa cinta kasih kepada Tuhan ditambah denga pertobatan yang sejati. Dari dulu, saya selalu penasaran dengan karya roh kudus secara pribadi dalam hidup kita dan setelah menerima informasi ini, betapa saya sangat bersyukur sekali karena ternyata pekerjaan Roh Kudus itu betul – betul sangat bisa terintegrasi dalam kehidupan sehari – hari yang berpusat kepada Tuhan dan sesama.

    Baru kali ini saya mengetahui dengan lebih jelas makna dari SHBDR. sebelumnya, saya tidak pernah mengikuti SHBDR ini namun saya sempat memikirkan tentang motivasi orang – orang yang mengejar karunia bahasa roh itu sebagai hal yang utama. Sebagian besar dari mereka berpikir bahwa mereka pasti akan mendapatkan karunia itu, dan kegagalan untuk menerima karunia itu membuat mereka merasa bahwa mereka ditolak.Bahkan mereka menganjurkan saya untuk meminta karunia tersebut. Karenanya, didasari bahwa setiap orang di SHBDR menurut pemahaman mereka “pasti” mendapatkan karunia bahasa roh itu membuat saya menghindari SHBDR ini.

    Saya pribadi tidak berniat untuk memaksakan apapun dalam doa kepada Tuhan,
    Saya menyerahkan sepenuhnya semua hal atas apa yang hendak saya cari, misalnya tentang informasi ini yang disampaikan,
    sebagai bentuk komunikasi yang diberikan kepada Tuhan untuk saya pahami.

    Bagi saya, sangat indah sekali untuk mengetahui bahwa di SHBDR sesungguhnya saya bisa dapat lebih mengenal Kasih Tuhan dan dibawa kepada pertobatan.

    Berkaitan dengan Karunia karisma Roh Kudus, saya masih ingin menanyakan beberapa hal, yah fenomena umum yang saya temui di sekitar saya.
    1. Apakah ini merupakan salah satu bentuk karunia karisma Roh Kudus atau sesuatu yang lain, yang memampukan seseorang untuk dapat membaca kondisi orang lain, misalnya saat orang lain sedang menghadapi masalah. Mereka dapat menginterpretasikan kegelisahan orang itu tanpa perlu diberitahukan dari orang yang bersangkutan.
    2. Bagaimana dengan kepekaan / inspirasi yang muncul, entah dari pikiran atau perasaan tertentu yang membuat seseorang langsung mengambil sebuah keputusan.Apakah ini juga merupakan pekerjaan Roh Kudus?
    3. Untuk orang – orang yang bisa melihat hal – hal mistik , seperti orang – orang yang sudah meninggal, kadang – kadang juga bisa mendapatkan pengalaman rohani yang indah tentang Tuhan, misalnya dapat mendengarkan sapaanNya secara langsung, apakah ini juga dapat dihitung sebagai karunia karisma roh kudus ?

    terima kasih atas tanggapan dan perhatiannya

    • Shalom Yosh,

      1. Kemampuan mengetahui kondisi orang lain tanpa diberi tahu, apakah ini dari Roh Kudus?

      Jika pengetahuan ini didapat di dalam kondisi hati yang berdoa dari seseorang yang memang hidup di dalam Kristus, dapat terjadi bahwa pengetahuan tersebut berasal dari Roh Kudus. Mengapa demikian? Karena ada kalanya Tuhan mengizinkan hal itu untuk diketahui oleh orang itu agar ia membangun iman saudaranya yang sedang mengalami suatu keadaan tertentu; misalnya, jika yang dialami adalah masalah, agar supaya dibantu, jika itu suatu kesalahan, agar saudaranya itu diarahkan supaya bertobat dengan tulus. Contoh yang paling jelas misalnya karunia ini diberikan kepada St. Padre Pio dan St. John Vianney. Dalam beberapa kesempatan, mereka dapat menyebutkan secara persis dosa para penitent, bahkan sebelum mereka mengakukan dosa mereka, atau pada saat mereka berusaha ‘menyembunyikan’ dosa yang sesungguhnya.

      Namun, karisma ini umumnya bersifat tidak permanen dalam setiap saat, namun hanya pada saat di mana Roh Kudus memberikan pengetahuan ini kepadanya. Dalam hal ini, pentinglah karunia membeda- bedakan roh dalam diri orang yang menerimanya, agar ia dapat mengenali apakah ilham tersebut sungguh berasal dari Roh Kudus, dan bukan dari si jahat atau dari dirinya sendiri.

      2. Bagaimana dengan kepekaan / inspirasi yang muncul, entah dari pikiran atau perasaan tertentu yang membuat seseorang langsung mengambil sebuah keputusan. Apakah ini juga merupakan pekerjaan Roh Kudus?

      Nampaknya belum tentu. Orang tidak dapat langsung mengklaim bahwa segala sesuatu yang diputuskannya pasti adalah karena dorongan Roh Kudus. Memang bisa terjadi demikian, tetapi tidak selalu pasti terjadi demikian. Seringkali hal yang diputuskan tiba- tiba-pun dapat merupakan kehendak sendiri, dan bukan dari Roh Kudus, terutama jika kehidupan doa orang yang bersangkutan tidaklah baik. Bagaimana ia dapat mengklaim “diinspirasikan” oleh Roh Kudus, jika ia sendiri tidak akrab dengan Roh Kudus? Sudahkah ia menerapkan hubungan yang erat dengan Tuhan, yang mendorongnya untuk selalu menghayati kehadiran Tuhan di setiap saat dalam hidup-Nya?

      3. Untuk orang – orang yang bisa melihat hal – hal mistik , seperti orang – orang yang sudah meninggal, kadang – kadang juga bisa mendapatkan pengalaman rohani yang indah tentang Tuhan, misalnya dapat mendengarkan sapaanNya secara langsung, apakah ini juga dapat dihitung sebagai karunia karisma roh kudus ?

      Salah satu yang disebutkan sebagai karunia Roh Kudus adalah karunia pengetahuan. Namun cara Tuhan memberikannya memang dapat berbeda- beda pada setiap orang. Tentang hal- hal mistik itu bukan dari Roh Kudus, karena malah bertentangan dengan Roh Kudus. Namun tentang seseorang mendapat penampakan jiwa- jiwa di Api Penyucian karena mereka memohon dukungan doa, itu dapat terjadi pada orang -orang tertentu, dan ini diijinkan oleh Tuhan. Sebagai contohnya, itu terjadi pada St. Padre Pio, St. Gertrude dan Maria Simma.

      Hal mendapat sapaan Tuhan secara langsung, inilah yang nampaknya sulit dibuktikan, kecuali diyakini oleh orang yang bersangkutan. Jika dialami, ini juga perlu diteliti, sebab kita juga harus memeriksa kembali tentang “suara- suara” ini, sebelum dapat mengatakan apakah benar itu dari Roh Kudus. Sebab ada banyak orang yang mengklaim ‘mendengar suara Tuhan’, tetapi pesan yang disampaikan ternyata bertentangan dengan kehendak Tuhan, misalnya, mengklaim mendengar suara Tuhan lalu memisahkan diri dari Gereja dan mendirikan gereja baru. Padahal tindakan skisma/ pemisahan diri dari kesatuan dengan Gereja, itu adalah perbuatan yang bertentangan dengan kasih, maka tidak mungkin hal demikian disarankan oleh Roh Kudus yang adalah Roh Kasih Allah yang mempersatukan itu.

      Jadi agaknya kita harus meneliti terlebih dahulu, tentang dorongan ataupun “suara- suara” di dalam batin kita itu, apakah sesuai dengan keseluruhan perintah dan Sabda Allah. Jika tidak, itu bukan dari Roh Kudus. Dalam hal ini Gereja Katolik memiliki ‘pagar’ yang sangat membantu, yaitu, apakah hal yang ‘disarankan’ itu sesuai dengan ajaran Magisterium Gereja? Jika ya, itu dari Roh Kudus, jika tidak, lebih baik diabaikan saja, sebab itu berasal entah dari si jahat, atau dari diri sendiri.

      Demikian, semoga berguna.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  13. Shalom katolisitas,

    Saya ingin mengajukan pertanyaan seputar karya roh kudus dan karunia-karunianya. Bisakah katolisitas membahas mengenai karunia – karunia dari Roh Kudus, menjelaskan manfaatnya dan bagaimana sikap dan peran kita sebagai umat untuk memberdayakan karunia tersebut.

    Saya juga ingin mengetahui lebih jauh tentang karunia pembedaan roh ( discernment) yang katanya bisa membantu untuk membedakan yang baik dan yang jahat. Namun ada beberapa orang yang mengatakan pada saya bahwa membedakan roh bisa juga benar2 membedakan roh dan yang lainnya adalah yang baik dan yang benar.

    Jika seseorang dengan kesadarannya sendiri, meminta suatu karunia kepada Tuhan, apakah itu diperbolehkan ? atau tidak layak bagi seseorang untuk meminta karunia – karunia tersebut ?

    Saya mengetahui bahwa karunia – karunia ini biasanya didapatkan pada SHDR, lalu yang menjadi pertanyaan saya, apakah hanya di SHDR saja orang baru dapat menerima karunia atau tidak ?

    Terima kasih
    Yosh

    [Dari Katolisitas: Pertanyaan ini sudah dijawab di atas, silakan klik]

Add Comment Register



Leave A Reply