Mengikuti Yesus, menyangkal diri, memikul salib (Mt 16:24)

16

Pertanyaan:

Syallom Pak Stef,
Saya ingin menanyakan beberapa ayat dari kitab Suci bagaimana dan apa maksudnya:

Mat 16:24 Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku, yang dimaksudkan penyangkalan diri di sini apa, lalu konteks yang bisa kita terapkan untuk hidup saya ini bagaimana?

[edit: ayat yang lain dapat ditanyakan kemudian, sehingga tidak tercampur]

Terima kasih – Joan Heru

Jawaban:

Shalom Joan Heru,

Terima kasih atas pertanyaannya tentang Mt 16:24, yang mengatakan “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.

1. Konteks dari Mt 16:24

Kalau kita melihat konteks dari ayat ini, maka kita dapat melihat bahwa Yesus mengatakan perkataan tersebut setelah Dia menegur Petrus. Kalau sebelumnya Petrus menyatakan bahwa Yesus adalah Sang Mesias, Anak Allah yang hidup (lih. Mt 16:16-19), namun di ayat selanjutnya, rasul Petrus justru mencoba menghalangi Yesus untuk menerima rencana Allah, yaitu untuk menerima siksaan, dibunuh dan kemudian bangkit pada hari ke-tiga (lih. ay. 21-22). Di ayat 23 dikatakan bahwa Yesus menegur rasul Petrus dengan keras, karena Petrus menempatkan pemikiran sendiri di atas apa yang dipikirkan oleh Allah.

2. Penyangkalan diri berarti mengikuti Kristus

Dalam konteks inilah, setelah Yesus menegur Petrus, Dia kemudian mengatakan bahwa setiap orang yang mau mengikuti Yesus, harus melakukan apa yang dilakukan oleh Yesus, yaitu melaksanakan kehendak Bapa. Ini berarti seseorang harus melakukan doa seperti yang Yesus doakan dalam taman Getsemani “Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!” (Mt 26:39,42,44). Ini juga berarti seseorang juga harus memikul salib, seperti yang Yesus lakukan. Namun, menerima penderitaan ini harus dilandasi oleh kasih kepada Allah (lih. 1Kor 13:3) dan kebenaran akan Kristus (lih. Mt 5:10-11).

3. Penyangkalan diri berarti menempatkan kebenaran di atas segalanya

Jadi, menyangkal diri adalah menempatkan kebenaran dan kehendak Allah lebih tinggi daripada keinginan pribadi. Ini adalah suatu tindakan yang tidak mudah, karena kita sering melakukan apa-apa yang kita anggap gampang dan menguntungkan kita, tanpa mempertimbangkan apa yang sebenarnya diinginkan oleh Tuhan dalam kehidupan kita. Berapa banyak dalam kehidupan sehari-hari, kita bertanya terlebih dahulu kepada Allah sebelum mengambil keputusan-keputusan? Penyangkalan diri melibatkan pertobatan yang terus-menerus, karena penyangkalan diri melibatkan kerendahan hati – yang menjadi dasar dari pertobatan dan spiritualitas Katolik. Penyangkalan diri adalah menempatkan dogma dan doktrin yang ditetapkan oleh Gereja Katolik lebih tinggi daripada interpretasi pribadi. Kalau Gereja Katolik mengajarkan bahwa pemakaian kontrasepsi (termasuk kondom) adalah berdosa, maka dengan kerendahan hati kita mengikuti pengajaran ini, walaupun ini sulit.

4. Dasar dari penyangkalan diri

Penyangkalan diri yang terus-menerus yang didasari oleh kebenaran dan kasih kepada Allah, akan semakin membuat diri kita menjadi semakin mirip dengan Kristus. Dan penyangkalan diri ini akan membawa kita kepada kebebasan, karena kebenaran adalah membebaskan (lih. Yoh 8:32). Dan dengan kebebasan yang benar ini, maka kita akan semakin mengikuti perintah Allah dengan lebih mudah dan lebih siap, karena mengikuti perintah Allah telah menjadi karakter atau menjadi bagian dan kebiasaan dari jiwa kita.

Akhirnya, seseorang yang menyangkal dirinya, bersama dengan pemazmur, akan menyanyikan “Biarlah aku hidup menurut petunjuk perintah-perintah-Mu, sebab aku menyukainya.” (Mzm 119:35).

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

Share.

About Author

Stefanus Tay telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

16 Comments

  1. anton girsang on

    Saya sangat diberkati dengan penjelasan Romo, namun dalam perjalanan sejarah gereja sering terjadi pemimpin Rohani lebih mengutamakan keinginan sendiri/organisasinya dari pada kehendak Allah.Salah satu contoh Pastor Menno Simon pada abad ke 15 di Belanda, krn menuruti firman Allah mereka dianiaya oleh saudaranya sendiri, Hal ini juga saya rasakan sebagai orang Protestan (menonite)yang punya keluarga dari pihak ibu yang masih Katolik, Terlalu fanatik dengan organisasinya bukan kepada Firman/khendak Allah diatas segala-galanya, bgmn pendapat Romo.?

    • Shalom Anton,

      Sejujurnya, perpecahan dalam Tubuh Kristus (Gereja) itu menyakitkan, dan ini nyata dapat dirasakan dalam keluarga yang anggotanya berasal dari Gereja ataupun denominasi gereja yang berbeda-beda; karena perbedaan ini dapat berpengaruh dalam beberapa hal prinsip dalam keseharian hidup.

      Nampaknya keadaan yang tidak ideal inilah yang Anda alami, walaupun mungkin kedua pihak juga mengetahui bahwa keadaan semacam ini selayaknya dihindari. Diperlukan sikap toleransi dari kedua belah pihak, untuk menyikapi perbedaan ini. Namun baik jika dipahami bahwa kita tidak dapat menyamakan firman Allah dengan interpretasi manusia terhadap firman Allah. Sebab baik Katolik maupun Kristen non-Katolik sama-sama menghormati firman Allah. Hanya memang secara obyektif, interpretasinya berbeda di beberapa artikel iman. Sebagai contohnya, baptisan bayi. Umat Mennonite menolak Baptisan bayi, namun Gereja Katolik, seperti halnya Lutheran, menerima adanya Baptisan bayi. Jika Anda berpandangan bahwa dalam hal Baptisan bayi ini Gereja Katolik dan Lutheran telah menyimpang dan tidak menerapkan firman Tuhan, tentu ini perlu didiskusikan lebih lanjut, sebab baik Gereja Katolik maupun Lutheran, melaksanakan Baptisan bayi ini atas dasar firman Tuhan, yang telah terus dilaksanakan oleh Gereja sejak zaman Gereja perdana. Maka jika berabad-abad kemudian (abad 15 ini) ada sejumlah tokoh yang menolak Baptisan bayi ini, seharusnya pandangan/interpretasi merekalah yang perlu diuji, atas dasar apakah mereka meyakini pandangan mereka. Sebab jika kita percaya bahwa Roh Kudus yang tercurah atas para Rasul itu adalah Roh Kudus yang sama yang menyertai Gereja sepanjang zaman, maka tak sepantasnya kita menuduh Roh Kudus ini berhenti menyertai Gereja dan membiarkannya salah tafsir/ salah mengintrpretasikan firman Allah sampai sekian abad. Kristus yang menjanjikan akan menyertai Gereja-Nya (lih. Mat 28:19-20) tidak akan mengingkari janji-Nya.

      Bahwa konon menurut Anda, pastor Menno Simon menerima penganiayaan dari keluarganya, itu memang sesuatu hal yang terjadi di luar kontrol kita.

      Gereja Katolik tidak dapat memaksakan kehendak kepada setiap anggotanya, namun sejujurnya, Gereja mempunyai hak untuk menyatakan penegasan atas sebuah ajaran. Adalah sesuatu yang dapat dipahami, jika untuk itu harus disebutkan definisi ajaran yang benar, dan dengan demikian membuat patokan untuk menilai ajaran mana yang tidak benar/ tidak sepenuhnya benar menurut Gereja.

      Gereja Katolik tidak pernah mengajarkan penganiayaan, dan malah sebaliknya, Gereja Katoliklah yang sejak abad-abad awal, bahkan sampai sekarang, selalu ada dalam penganiayaan, baik oleh kaum penguasa, maupun oleh pihak-pihak tertentu yang telah sejak awal menentang Gereja Katolik. Pengertian Gereja bagi Gereja Katolik, bukanlah hanya Gereja sebagai organisasi. Gereja adalah Tubuh Mistik Kristus, yang dikehendaki Yesus sebagai Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik. Bahwa sampai saat ini nampaknya perjalanan ke arah kesatuan itu masih panjang dan perlu diusahakan, namun itu tidak mengubah kenyataan bahwa Kristus menghendaki agar Gereja-Nya menjadi kesatuan yang sempurna, sebagaimana Ia berada dalam kesatuan yang sempurna dengan Allah Bapa (lih. Yoh 17:20-23). Kesatuan yang sempurna ini adalah kesatuan yang sungguh-sungguh satu, tanpa ada perbedaan ajaran, tanpa ada perbedaan jalur kepemimpinan, tanpa ada praduga negatif tentang dianiaya atau menganiaya sesama saudara. Mari kita bersama-sama mendoakan kesatuan ini.

      Semoga akan tiba saatnya di mana Tuhan Yesus mempersatukan kita, sehingga terpenuhilah kehendak Kristus, “supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku ….” (Yoh 17:23)

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  2. saya rasa penyangkalan diri itu melakukan apa yang menjadi kehendak TUHAN YESUS terhadap kita / saya agar terlihat baik dan benar di hadapan ALLAH.

    [dari katolisitas: Benar, melakukan kehendak Kristus kadang melibatkan penyangkalan diri.]

  3. Shalom..
    1. Bagaimana cara mengenalkan kepada anak – anak sekolah minggu perihal “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”

    2.Dan Juga pengenalan mengenai Tubuh dan darah Kristus kepada Anak?
    terima kasih^^

    Berkah Dalem..

    • Caecilia Triastuti on

      Shalom Youth,

      Untuk pertanyaan pertama: Anak-anak, sebenarnya seperti juga orang dewasa, lebih mudah menyerap suatu pemahaman jika disajikan dalam bentuk contoh nyata, dalam bentuk permainan, atau cerita (baik secara lisan, melalui media, maupun melalui pertunjukan drama atau sandiwara boneka misalnya).

      Konsep menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti Yesus adalah suatu kesinambungan yang tidak berdiri sendiri, ketiganya terintegrasi menjadi suatu kesatuan yang saling menunjang sehingga tujuan akhir untuk mengikuti Yesus itu dapat tercapai.

      Kita dapat memberikan contoh nyata, sikap yang bagaimana yang merupakan contoh dari penyangkalan diri, yaitu menempatkan apa yang dikehendaki Allah di atas keinginan pribadi. Kita dapat menyajikannya dalam bentuk cerita, misalkan mengambil setting kehidupan sehari-hari di sekolah. Misalnya pada saat sedang menghadapi ulangan, teman-teman di kelas mengajak kita untuk saling bekerja sama memberitahu jawaban dari soal ulangan yang sukar. Ajaran Kristus untuk bersikap jujur berarti juga melarang kita untuk menyontek dalam segala bentuknya. Maka, jika kita ingin ikut memikul salib Kristus yang menebus dosa manusia, kita harus berani mengatakan tidak dan menolak untuk ikut. Walaupun keputusan itu mungkin membawa resiko yang tidak menyenangkan bagi kita, misalnya menjadi dijauhi beberapa teman, dianggap sok suci, dan harus berani menghadapi ulangan itu sepenuhnya sendiri.

      Kisah itu bisa disajikan dalam berbagai bentuk yang menarik, dan anak-anak bisa diberikan kesempatan untuk memberi umpan balik, menuliskan bagaimana perasaan mereka setelah mendengarkan kisah itu, apa yang akan mereka lakukan bila berada dalam posisi yang sama, kemudian saling membacakan apa yang mereka tuliskan. Anak-anak diajak untuk membiasakan diri memohon kekuatan dan perlindungan Tuhan. Anak-anak yang lebih besar dapat diajak untuk berdiskusi bagaimana menyikapi resiko yang muncul. Sampai di mana pemahaman mereka terhadap pengajaran ini bisa diketahui lewat permainan, misalnya setelah kisah selesai dibacakan, dilanjutkan permainan melempar bola secara acak di kelas dan anak yang mendapat lemparan bola harus menangkap bola itu dan mendapat giliran untuk memberikan contoh tindakan menyangkal diri yang lainnya. Tokoh-tokoh dari Kitab Suci yang dikenal dengan kerendahan hatinya untuk menyangkal diri demi ketaatannya kepada Tuhan dapat kemudian dibacakan kisahnya sebagai contoh yang menguatkan, misalnya kisah mengenai Ruth yang setelah suaminya meninggal tidak meninggalkan Naomi ibu mertuanya, mengenai Yusuf yang tidak menghakimi saudara-saudaranya bahkan mengampuni sepenuhnya, atau mengenai Daud yang tidak membunuh Saul yang mengejar-ngejar dia walaupun kesempatan untuk itu terbuka lebar.

      Juga silakan membaca jawaban Pak Stef untuk Regina Winarah di bawah diskusi kita ini, klik di sini

      Untuk pertanyaan kedua, berikut jawaban dari Ibu Ingrid:

      Tentang pengenalan akan Tubuh dan Darah Kristus kepada anak-anak, intinya adalah pihak orang tua harus dengan jelas mengajarkannya kepada anak, “Itu Tubuh Kristus” setiap kali mengikuti Misa Kudus. Jadi cara yang terbaik adalah mengajak anak- anak untuk mengikuti Misa Kudus, dan jelaskan maknanya, terutama makna konsekrasi.

      (Silakan membaca kesaksian Romo Santo, klik di sini)

      sebab cara inilah yang dilakukan oleh ibu Romo Santo, yang masih membekas di ingatan Romo, bahkan mungkin perkataan ini yang turut menabur benih panggilan di hati Romo, yaitu untuk menjadi imam yang oleh kuasa Roh Kudus dapat mengubah roti itu menjadi Tubuh Tuhan.

      Cara kedua adalah, berikan teladan yang baik dengan mempersiapkan diri sebaik mungkin sebelum mengikuti Misa Kudus. Hal ini akan ditangkap oleh anak dengan lebih baik daripada khotbah/ penjelasan yang panjang. Silakan orang tua membaca dan merenungkan bacaan Misa sebelum mengikuti Misa. Berpakaian yang sopan ke gereja. Berdoa ataupun doa hening menjelang mengikuti Misa. Menyiapkan persembahan sejak dari rumah. Berpuasa minimal sejam sebelum Misa Kudus. Jika anak menanyakan alasan dari semua ini, katakanlah sebab kita hendak menyambut Tuhan sendiri (Tubuh dan Darah-Nya), sehingga kita perlu mempersiapkan diri sebaik-baiknya.

      Ketiga adalah mengikuti dengan sungguh-sungguh pada saat Perayaan Ekaristi. Tidak mengobrol ataupun berBBM/ sms. Dengan sendirinya juga tidak memperbolehkan anak untuk makan dan minum saat Misa di gereja, ataupun membawakan anak mainan atau buku komik untuk dibaca di gereja.

      Keempat adalah dengan mencari kesempatan untuk mengadakan pembicaraan dengan anak perihal iman Katolik, dan dalam kesempatan ini silakan menjelaskan misteri kasih Tuhan ini. Penekanannya adalah karena Tuhan Yesus adalah Allah yang mampu melakukan segalanya, maka Ia mampu juga untuk mengubah roti dan anggur itu menjadi Tubuh dan Darah-Nya, agar dengan demikian Ia dapat masuk ke dalam tubuh kita dan dekat bersatu dengan kita.

      Keempat hal ini lebih baik daripada bermain simulasi komuni-komunian. Sebab jika permainan simulasi itu tidak disambung dengan katekese yang baik, maka sesungguhnya hal itu juga tidak memberikan pemahaman iman yang baik kepada anak.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Triastuti dan Ingrid Listiati – katolisitas.org

    • Shalom Regina,

      Menyangkal diri dalam kehidupan sehari-hari dapat bermacam-macam. Sebagai contoh dalam masa prapaskah ini, kita mengadakan penyangkalan diri dengan berpantang dan berpuasa. Kita harus berpantang untuk sesuatu yang kita senangi. Kita juga dapat berpantang setiap hari Jumat, sehingga kita mempersembahkan laku tobat kita dan mempersatukannya dengan kurban salib Kristus. Penyangkalan diri  juga dapat dilakukan dalam pelayanan, seperti: setia dalam pelayanan walaupun tidak ada yang memuji, mau melakukan hal-hal yang kecil demi kebaikan bersama. Dalam keluarga, kita juga dapat menyangkal diri dengan melakukan segala pekerjaan rumah dengan sukacita dan tetap setia melakukan walaupun tidak mendapatkan pujian atau penghargaan sepantasnya. Kita melakukan pekerjaan dengan baik di kantor, tidak menggunakan waktu yang seharusnya untuk bekerja dan dipakai untuk menggosip atau pekerjaan yang tidak perlu. Kita juga dapat menjaga mulut kita, yang tadinya sulit untuk tidak menggosip atau berbicara tentang orang lain, agar dapat menyimpan segala sesuatu di dalam hati seperti Bunda Maria.

      Memikul salib lebih kepada kita mau menanggung resiko apapun demi kebenaran iman dan sebagai konsekuensi dalam mengikuti Yesus. Sebagai contoh: kita siap dikucilkan karena mengikuti Yesus, kita mau menjalankan semua perintah Yesus dan pengajaran Gereja baik yang gampang maupun yang sulit. Kita juga dapat memikul salib pada saat kita menghadapi permasalahan, sakit penyakit, dll.

      Agar penyangkalan diri dan memikul salib mendapatkan arti yang dalam, maka kita harus menyatukannya dalam penderitaan Kristus. Dalam terang penderitaan dan kematian Kristus, maka kita juga akan mempunyai pengharapan yang tidak sia-sia, karena tahu bahwa setelah menderita dan wafat di kayu salib, maka Kristus bangkit dan naik ke Sorga.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  4. RANI HENDRIKUS on

    syallom pak Stef
    Saya mau melanjukan pertanyaan pak Joa, YESUS mengatakan ………….menyangkal dirinya, memikul salib dan mengikuti aku……. Yang mengganggu pikiran saya, apa benar kata-kata “MEMIKUL SALIBNYA” adalah kata-kata Yesus, karena pada saat itu peristiwa salib (Yesus disalibkan) belum terjadi. JAdi kalimat ini menjadi aneh diungkapkan, karena para pendengar (murid Yesus) pasti belum memahami konsep ” MEMIKUL SALIBNYA”
    mohon tanggapannya
    Terima kasih

    • Sdri. Rani yang baik,

      Menanggapi pertanyaan Rani, mungkin perlu dipertegas di sini: “Memikul salibnya”, salib siapakah yang dimaksudkan? Salib Yesus atau salib masing-masing pengikut Yesus? Dalam Injil tertulis persyaratan menjadi murid Yesus sbb: “Lalu Yesus berkata kepada murid-muridNya, “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku” (Mat 16:24; Mrk 8:34, dan dalam Luk 9:23 dirumuskan “memikul salibnya setiap hari”. Yesus tidak mengatakan “memikul salib-Ku”, sehingga jelas yang dimaksudkan salib masing-masing pengikut Kristus.

      Lalu apa salib kita sebagai pengikut Kristus? Apakah setiap penderitaan yang kita alami, termasuk yang karena kesalahan kita sendiri merupakan suatu salib? Tentu, tidak semua penderitaan adalah salib. Salib adalah konsekuensi yang harus kita pikul karena mau mengikuti ajaran Tuhan Yesus. Dan ada kalanya kita sungguh menderita karenanya, seperti diungkapkan dalam Sabda Bahagia, “Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya, dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat” (Mat 5:11). Seorang bapak keluarga yang bekerja sampai lembur untuk menafkahi keluarganya, dia memanggul salibnya. Bapak-Ibu yang dengan penuh kesabaran menerima, menyayangi, dan mendidik anaknya yang cacat atau autis, juga memikul salib mereka sebagai bapak-ibu keluarga Katolik. Seorang gadis Katolik yang terpaksa putus dengan pacarnya karena tidak mau diajak berpindah agama, jelas memanggul salib juga. Begitu juga dengan pelajar yang belajar tekun mempersiapkan ujian demi masa depannya, bisa memaknai penderitaannya sebagai salib. Dan dalam memikul salib kita masing-masing ini, kita perlu mengikuti dan meneladan Kristus sendiri.

      Wassalam,
      Rm. Didik Bagiyowinadi Pr

      • “Tentu, tidak semua penderitaan adalah salib. Salib adalah konsekuensi yang harus kita pikul karena mau mengikuti ajaran Tuhan Yesus.”

        Apakah kalau kita menderita penyakit (tentu itu bukan karena kesalahan kita) – apalagi sakit yg kronis/menahun – hal ini bisa dianggap memanggul salib juga?

        Apakah dengan memanggul salib di dunia ini dapat mengurangi penderitaan kita di api penyucian?

        Terima kasih Romo atas penjelasan yg Anda berikan.

        • Fxe yth,

          Benar, memang sakit penderitaan yang kita tanggung bisa menjadi sebuah salib, asalkan kita mau menanggungnya dengan sabar dan menyatukannya dengan penderitaan Kristus sendiri. Bahkan Konsili Vatikan II mengajarkan bahwa beban sakit-penderitaan ini bisa kita jadikan persembahan rohani yang berkenan pada Tuhan:
          “Melalui perminyakan suci orang sakit dan doa para imam seluruh Gereja menyerahkan mereka yang sakit kepada Tuhan yang bersengsara dan telah dimuliakan, supaya Ia menyembuhkan dan menyelamatkan mereka (lih. Yak 5:14-16); bahkan Gereja mendorong mereka untuk secara bebas menggabungkan diri dengan sengsara dan wafat Kristus (lih. Rom 8:17; Kol 1:24; 2Tim 2:11-12; 1Ptr 4:13), dan dengan demikian memberi sumbangan bagi kesejahteraan umat Allah” (Lumen Gentium 11)

          “Sebab semua karya, doa-doa dan usaha kerasulan mereka {kaum beriman awam}, hidup mereka selaku suami-istri dan dalam keluarga, jerih payah mereka sehari-hari, istirahat bagi jiwa dan badan mereka, bila dijalankan dalam Roh, bahkan beban-beban hidup bila ditanggung dengan sabar, menjadi korban rohani, yang dengan perantaraan Yesus Kristus berkenan kepada Allah” (Lumen Gentium 34).

          Wassalam,
          Rm. F.X. Didik Bagiyowinadi Pr

      • palar siahaan on

        Yth Rm Didik

        Kalau kita yg direpotkan(seseorang) gmn romo.., maksud saya begini…, saya ada kerabat yng mengalami masalah hubungan suami-istri. ketika masalh hubungan mereka semakin sulit dicari jalan keluar si suami kembali ke rumah(tinggal bersama orang tuanya) “meninggalkan” anak-istri.

        Asumsi saya terhadap si suami tadi.., dari kecil dia sudah kadung ketergantungan akan banyak hal sedari kecil, sehingga sulit mandiri(memecahkan sendiri permasalahan yang dihadapinya). orang tua, keluarga, kerabat, sudah banyak memberi masukan, nasehat, (agar si suami) lebih bijak dan tidak putus asa untuk mengupayakan hubungan mereka bisa berjalan lg seperti biasa, justru si suami tadi cenderung emosional terhadap segala masukan yg ia dengar.

        apakah hal demikian memikul salib juga, terlebih untuk orang tua si suami tadi)

        terimakasih
        shalom

        • Shalom Palar,

          Jika kita mempunyai anggota keluarga yang bermasalah, maka memang kita sebagai anggota keluarga dipanggil untuk turut menanggung bebannya. Sebab Sabda Tuhan mengatakan, “Bertolong- tolonglah dalam menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” (Gal 6:2). Jika ini harus dilakukan oleh sesama saudara seiman, maka terlebih lagi jika itu menyangkut hubungan yang lebih dekat, yaitu hubungan persaudaraan/ hubungan darah dalam keluarga. Oleh karena itu, baik orang tua maupun sesama saudara kandung, dipanggil untuk menolong saudara yang bermasalah tersebut. Semua anggota keluarga turut menanggung ‘salib’ tersebut, karena sama- sama mengambil bagian dalam usaha menolong saudara anda tersebut.

          Memang pertanyaan selanjutnya, adalah bagaimana cara yang terbaik untuk menolongnya. Untuk hal ini memang selain dibutuhkan kesabaran, juga dibutuhkan kebijaksanaan, agar bantuan tersebut dapat membangunnya untuk menjadi orang yang lebih baik, dan bukannya menjadi semacam “pelarian”, sehingga sebenarnya bahkan semakin membuatnya semakin terpuruk, dan semakin terpisah dari istri dan anak- anaknya. Diperlukan kebijaksanaan untuk berdialog dengannya dan menanamkan pengertian akan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga untuk tidak meninggalkan anak istri. Mungkin keluarga perlu berdoa bersama untuk mendoakan dia, semoga Roh Kudus berkenan melembutkan dan membuka hatinya agar menyadari kesalahannya dan memampukannya untuk memperbaikinya.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

  5. Syallom Pak Stef,
    Saya ingin menanyakan beberapa ayat dari kitab Suci bagaimana dan apa maksudnya:

    1.Mat 16:24 Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku, yang dimaksudkan penyangkalan diri di sini apa, lalu konteks yang bisa kita terapkan untuk hidup saya ini bagaimana?

    2.at 16:28 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya.”siapa orang yang dimaksud disini ?
    Terima KAsih sebelumnya

    • Shalom Joan Heru,

      Terima kasih atas pertanyaannya. Pertanyaan tentang mengikuti Yesus (Mt 16:24) telah dijawab di tanya jawab di atas – silakan klik. Petanyaan ke-dua tentang Mt 16:28, tentang siapa di antara orang yang hadir di situ yang tidak akan mati sebelum melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya? Ada yang mengartikan bahwa beberapa orang ini adalah orang-orang yang mengikuti Yesus naik ke puncak gunung dan menyaksikan kemuliaan peristiwa transfigurasi, yaitu Petrus, Yohanes, dan Yakobus (lih. Mt 17). Yang lain mengartikan bahwa Anak manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya adalah lahirnya Gereja (lihat S. Gregory, Hom. 32, in Evang.), yang dimanifestasikan secara penuh pada hari Pentakosta. Dalam pengertian ini, maka para rasul memang menyaksikan dan turut serta dalam menyebarkan Injil dan membangun Gereja. Semoga keterangan ini dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org