Tiada yang mustahil di hadapan Tuhan

57

Pengantar dari Redaksi:

Terima kasih, Aan dan Wulan, atas kesaksian anda. Kisah kesaksian ini sungguh telah menjadi tanda bukti yang indah bahwa kuasa Tuhan mengatasi segalanya. Apa yang tidak mungkin di mata manusia, mungkin di hadapan-Nya. Selamat atas kehadiran Valeria, buah hati bagi perkawinan anda; dan semoga keluarga anda senantiasa diberkati oleh Tuhan di dalam suasana kasih, suka cita dan damai sejahtera.

Terpujilah Kristus! Syukur juga atas dukungan Bunda Maria yang telah menghantar permohonan anda kepada Kristus. Sungguh tiada yang mustahil bagi orang- orang yang percaya.

Buah hati pada umumnya adalah karunia yang dinantikan dalam sebuah pernikahan sebagai bentuk keterbukaan kita akan adanya prokreasi, demikian pula halnya dengan kami.

Nama saya Bernadeta Tri Wulan Windri Hastuti dan suami saya Bernardus Aan Yunanto Prasetyo. Kami menikah pada tanggal 8 Juli 2006 di Gereja St. Theresia Jombor, Klaten. Sebelum menikah saya adalah seorang Protestan, sehingga belum terbiasa melibatkan peran Bunda Maria ataupun berdoa Rosario dalam kehidupan saya.

Tujuh bulan setelah pernikahan, kami sempat menjalani hubungan jarak jauh. Saya bekerja di salah satu perusahaan swasta di Solo dan suami bekerja di Kendari, Sulawesi Tenggara. Kerinduan untuk segera memiliki keluarga yang utuh, akhirnya mendorong saya melepaskan pekerjaan dan tinggal bersama suami di Kendari.

Empat bulan bersama atau satu tahun setelah pernikahan kami pada bulan Juli 2007 belum ada tanda-tanda kehadiran buah hati di tengah-tengah kami. Hal ini mendasari kami untuk berkonsultasi dengan dokter, terlebih saya pernah didiagnosa memiliki kista di indung telur sebelah kiri pada tahun 2005.

Atas rekomendasi beberapa teman, kami mendatangi salah satu dokter spesialis kandungan yang ternama di kota tersebut, dimana kami harus ekstra sabar menunggu antrian yang sangat panjang. Berdasarkan rekomendasi dokter atas keinginan kami untuk segera memiliki momongan, maka suami juga harus melakukan pemeriksaan terhadap kualitas spermanya. Kami melakukan pemeriksaan di laboratorium Prodia, Kendari.

Dua hari sebelum hasil pemeriksaan lab keluar, saya mendapatkan Firman Tuhan yang sepertinya ditujukan kepada saya pada misa Minggu pagi. Firman tersebut diambil dari Kejadian 18 : 10 yang berbunyi demikian, ‘Dan FirmanNya : “Sesungguhnya Aku akan kembali tahun depan mendapatkan engkau, pada waktu itulah Sara, isterimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki.” Dan Sara mendengarkan pada pintu kemah yang di belakang-Nya. Saya tidak tahu mengapa tetapi bagi saya Firman tersebut seperti sebuah janji Tuhan kepada saya, bahwa saya akan mempunyai keturunan, dan Firman itu selalu saya simpan dalam benak saya dengan penuh harapan.

Setelah mengambil hasil lab, kami kembali ke dokter untuk menyerahkan hasil pemeriksaan. Karena ditujukan ke dokter maka saya tidak berani membaca hasil secara keseluruhan (ternyata ada dua lembar). Saya hanya sekilas membaca kata “excellent”, sehingga ketika suami dengan raut wajah cemasnya bertanya tentang hasil tes tersebut, dengan ringan hati saya menjawab, “Bagus, tenang saja.”

Akhirnya giliran kamipun tiba. Tanpa rasa ragu saya serahkan hasil pemeriksaan suami. Tidak sampai satu menit berlalu tanpa basa-basi dokter tersebut mengatakan, “Kalau begini ya suamimu tidak bisa membuatmu hamil sebab ia tidak memiliki sperma.” Mendengar hal tersebut rasanya saya seperti tersengat ribuan lebah, panas hingga ingin membuat mata saya berair, tidak terbayang bagaimana hancurnya perasaan suami saya saat itu. Terlebih lagi kami harus menanggung tatapan -yang kami tidak tahu pasti artinya- dari dua pasien dan suster yang bersama-sama dengan kami di ruangan tersebut. Yang pasti rasanya kami ingin segera menghilang dari hadapan mereka.

Dokter kemudian membuatkan kami surat rujukan ke dokter spesialis bedah yang juga praktek di tempat yang sama, dan syukur pada Allah kami dapat diusahakan bertemu dengan dokter tersebut malam itu juga, setelah beliau selesai melakukan operasi di sebuah rumah sakit swasta yang dipimpinnya.

Dari pemeriksaan awal, dokter mendiagnosa suami saya menderita varicocele (pembesaran secara abnormal pada pembuluh darah vena di testis), yang menyebabkan suami saya mengalami Azoosperma (keadaan dimana sangat sedikit atau bahkan sama sekali tidak ditemukan sel sperma). Dokter mengatakan masih ada kemungkinan positif apabila dilakukan pembedahan. Bertemu dengan dokter yang seiman, berkonsultasi dan mendapatkan penguatan, memberikan kami harapan. Setidaknya malam itu perasaan kami sedikit mendapat penghiburan setelah rasa shock yang baru saja kami alami. Meskipun solusi yang diberikan juga bukan hal yang mudah untuk kami jalani, setidaknya masih ada secercah pengharapan.

Sepanjang perjalanan pulang kami bergelut dan berusaha menahan perasaan kami masing-masing. Perasaan saya sangat hampa malam itu. Empat bulan di tempat baru, saya belum banyak memiliki relasi dan tidak ada aktivitas pekerjaan, jujur hal tersebut membuat saya stress. Hanya harapan untuk segera menimang buah hati yang menguatkan saya. Tetapi keinginan itu pun rasanya melayang menjauh dari kehidupan kami. Sesampainya di rumah, kami berdua menumpahkan perasaan yang berusaha kami tahan dan malam itu kami menangis untuk mengurangi beban yang terasa berat buat kami.

Atas seijin suami, saya mensharingkan masalah tersebut dengan kakak tertua saya. Pesan yang saya ingat dari kakak saya adalah, ”Kamu harus tegar dan bisa terus menguatkan suamimu”, dan kakak saya berjanji untuk mencarikan dokter terbaik untuk konsultasi saat kami pulang ke Solo.

Hari demi hari kami coba jalani sewajar mungkin, terlebih kami tahu masih ada harapan secara medis bagi kami. Di balik itu semua Tuhan memberikan berkat yang lain bagi kami. Bulan Agustus saya bersama seorang sahabat baru saya bernama Selfi membuka Biro Psikologi. Selain itu saya mendapat kesempatan untuk membawakan rubrik konsultasi di sebuah radio swasta terbesar di kota Kendari dan kesempatan mengajar di sebuah akademi kebidanan. Berkat beruntun tersebut sangat saya syukuri, terlebih dua bulan kemudian saya juga diterima di sebuah perusahaan swasta untuk posisi HRD. Kesibukan yang Tuhan anugerahkan tersebut membuat saya tidak terlarut dalam masalah yang kami hadapi.

Pada waktu itu saya juga sempat diperkenalkan Selfi dengan Frater Banin Cornelis. Entah mengapa pada pertemuan pertama tersebut ada dorongan yang membuat saya ingin membagikan beban yang saya alami. Saya mendapat penguatan, saat Frater bersharing pernah membantu dalam doanya, untuk pasangan yang juga belum memiliki keturunan, dan karena kemurahan Tuhan merekapun dikaruniai buah hati. Saya tahu sejak saat itu Frater Cornel (panggilan akrab kami kepadanya) akan selalu membawa kami dalam doanya.

Bulan November 2007 kami berencana pulang ke Solo. Kakak saya berpesan agar kami mencari surat rujukan atau surat keterangan dari dokter yang memeriksa kondisi awal suami saya. Sebenarnya hal ini bukan hal yang mudah untuk kami lakukan, karena dokter yang memeriksa suami saya sudah menawarkan untuk menangani kondisi suami saya. Kami khawatir bila kami terkesan tidak percaya terhadap  kemampuan beliau.

Akhirnya saya menghubungi ponsel dokter tersebut dan mengutarakan niat kami. Di luar dugaan kami ternyata beliau bersedia ditemui keesokan paginya sebelum beliau melakukan operasi. Seperti pasien yang lain kami mendaftar dan menunggu giliran karena kebetulan dokter juga belum datang. Akhirnya kami bisa bertemu dengan dokter yang dimaksud. Di sela kesibukan, beliau masih bersedia menemui kami dan memberikan surat rujukan yang kami butuhkan. Sembari mengantar kami keluar ruangannya, beliau berpesan pada suster yang mendampingi kami agar kami tidak dipungut biaya apapun. Bukan nilai rupiah yang kami lihat namun kemurahan Tuhan yang membesarkan hati kami.

Bulan November 2007 kami pulang ke Solo. Pada waktu itu menjelang libur Lebaran. Kami langsung ke Rumah Sakit Dr. Oen, Solo, dan bertemu dengan dokter andrologi. Suami saya menjalani serangkaian pemeriksaan dari awal, analisis sperma di Lab Prodia Solo, serta menjalani rontgen di RS. Dr. Oen. Dari hasil analisis sperma, tetap dinyatakan suami mengalami Azoosperma dan dari hasil rontgen terlihat adanya varicocele dan spermatocele dextra. Setelah berkonsultasi kembali dengan dokter yang bersangkutan, dokter malah menyarankan kami adopsi saja kalau ingin mempunyai anak. Jawaban yang sungguh menyesakkan meskipun dikatakan dengan lebih halus.

Beberapa bulan yang lalu kami masih berharap ada peluang untuk menimang bayi, tapi kali ini rasanya semua harapan itu pupus sudah. Saya selalu sedih kalau mengingat wajah ayah saya, saya cemas kalau beliau sedih memikirkan kondisi kami. Tidak terasa air mata saya menetes saat kakak kedua saya menanyakan kondisi kami dan saya menjawab “Aku tidak akan punya anak.” Dan saya tahu dia berusaha menguatkan saya dengan kata-kata penghiburannya.

Rasanya kami ingin segera pulang ke Kendari saat itu, rasanya malas sekali datang ke pertemuan keluarga dan bertemu dengan kerabat yang sudah pasti akan menanyakan pertanyaan klise tentang anak. Setelah selesai masa liburan, kami kembali ke Kendari menyibukkan diri dengan segala rutinitas.

Belajar menerima kondisi keluarga minus anak dan mencoba melihat dari kacamata positif adalah pergumulan cukup berat yang kami lalui dengan jatuh bangun. Bilamana salah satu dari kami jatuh, maka yang lain akan menguatkan. Tidak jarang kami menangis bersama, namun kami akhiri dengan obrolan yang saling menguatkan tentang rancangan Tuhan dalam hidup kami. Rasanya seperti pemazmur yang bergumul dalam kesusahan, jiwa kami berseru kepada Tuhan, “Kasihanilah aku Tuhan, sebab aku merana; sembuhkanlah aku, Tuhan, sebab tulang-tulangku gemetar, dan jiwakupun sangat terkejut; tetapi Engkau Tuhan, berapa lama lagi? (Mazmur 6 : 3-4). Namun sekalipun sedih, kami memilih untuk tetap percaya kepada belas kasih dan penyelenggaraan-Nya, kami tetap menaruh harapan di dalam doa-doa kami, karena kami tahu Tuhan tidak pernah meninggalkan kami. Ia adalah setia dan pemurah. Karena Allah telah berfirman, “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau (Ibrani 13 : 5b).

Tidak ada yang mengetahui kondisi kami, selain keluarga tentunya. Syukur kepada Tuhan, kami memiliki rasa kasih yang besar di antara kami, yang membuat kami tetap kompak dan mesra. Mungkin itu juga disebabkan oleh perasaan saling memiliki yang cukup kuat di antara kami, dan kebesaran kasih Allah Bapa yang selalu memelihara kami.

Bulan Mei 2009 dengan kehendak Tuhan, suami saya mendapat tawaran untuk pindah lokasi kerja di Kediri, Jawa Timur. Kami pun pulang ke Jawa. Untuk sementara sambil menunggu suami menemukan tempat tinggal, saya tinggal di Klaten dan menikmati liburan di Klaten, Jawa Tengah, bersama orang tua atau terkadang tinggal dengan mertua. Pada pertengahan bulan Juni 2009 saya menyusul suami. Sebelum rumah yang disediakan kantor siap, selama 1,5 bulan kami tinggal di kos keluarga.

Suatu hari, seingat saya hari itu hari Sabtu, suami saya pulang lebih awal. Sehabis makan siang, seperti biasa kami bercanda dan ngobrol di tempat tidur. Saya terkejut karena tiba-tiba suami saya menangis. Sempat saya kira dia sedang bercanda, tapi ternyata dia sungguh-sungguh menangis. Rasanya saya tidak pernah melihat dia sesedih itu. Ketika agak reda saya bertanya apa yang membuat dia begitu sedih. Suami saya kemudian bercerita bahwa dua sahabatnya mengirimkan MMS foto anak-anak mereka dalam waktu yang hampir bersamaan dan MMS tersebut dikirim oleh dua temannya itu dengan tidak sengaja. Hal itu sangat membuat dia terluka mengingat bahwa kami tidak dapat memiliki momongan.

Ibu Subandi, induk semang kami sangat baik dan perhatian. Pernah dia sampaikan bahwa, ”Jangan dulu mengadopsi anak, karena nanti mbak Wulan juga akan diberikan anak sendiri,“ demikian kata beliau saat saya sampaikan rencana kami. Pernah ada kejadian ketika saya sedang persiapkan kado untuk kelahiran anak dari teman kami di Kendari, cucu ibu kos berkata,  “Kenapa pilih-pilih kado, Tante Wulan mau punya ade ya?” Saya menjawab, ”Iya, makanya didoakan ya.” Wah, keponakan ibu kos yang bernama Taura tersebut senang sekali. Dia mengikuti saya ke kamar dan berdoa keras-keras di atas tempat tidur saya,” Ya Allah, lindungilah Tante Wulan dan ade bayi di perutnya, semoga sehat.” Saya hanya bisa tersenyum melihat tingkahnya. Sewaktu hal tersebut saya ceritakan kepada suami saya, dia mengatakan, ”Kau ini tega sekali membohongi anak kecil.”

Tanggal 8 Juli 2009 adalah ulang tahun pernikahan kami yang ke-tiga. Kami lalui dengan biasa-biasa saja. Hanya pada tanggal 12 Juli saya meminta untuk berziarah ke Gua Maria Poh Sarang. Kami berangkat jam tujuh pagi pada hari Minggu itu dalam cuaca yang cerah. Kami sampai di Gua Maria Poh Sarang jam 7.30 dan kami lihat beberapa umat telah berada di sana. Tanpa menunggu lama, kami telah berdiri di depan gua. Secara mengejutkan pada saat kami tengah berdoa, tiba-tiba terjadi gerimis. Seingat saya ada juga beberapa orang yang bersama-sama dengan kami yang kemudian mencari tempat berteduh. Namun saat itu kami memilih untuk tetap tinggal dan menganggap hujan tersebut adalah berkat dari Tuhan. Tepat selesai berdoa, gerimispun reda dan peristiwa ini benar adanya. Kamipun melanjutkan untuk berdoa Rosario di salah satu bangunan Rosario pada peristiwa gembira. Jika Anda pergi ke Gua Maria Poh Sarang, di sana ada 3 bangunan Rosario yang terdiri dari bangunan untuk peristiwa gembira, bangunan untuk peristiwa sedih, dan bangunan untuk peristiwa mulia. Di tiap bangunan terdapat gambar-gambar indah dari lima peristiwa perenungan doa Rosario.

Pada waktu yang bersamaan di hari itu ternyata ada acara Doa Novena kepada Bunda Maria dari Lourdes dan Misa Kudus. Dengan hati yang ragu-ragu akhirnya kami bergabung. Di tengah misa tersebut ada bagian dimana kita dapat menuliskan kerinduan akan permohonan maupun beban-beban kita di secarik kertas untuk didoakan. Pada saat itu kami tidak membawa kertas, namun beruntung sepasang suami isteri di samping saya memberikan kertas kepada kami. Kami menuliskan permohonan kami yaitu memohon untuk diberikan kekuatan dan iman untuk menerima semua kondisi bilamana kami tidak dianugerahi momongan, dan kerinduan untuk memperoleh kesembuhan agar kami diberikan kesempatan untuk memiliki momongan.

Seusai kami menuliskan permohonan, ternyata sudah ada orang yang berdiri di depan saya,  menawarkan untuk mengantarkan kertas doa saya ke altar. Hal ini kami rasakan sebagai bentuk pertolongan dari Tuhan karena ini merupakan pengalaman pertama kami dan Tuhan memberikan banyak kemudahan lewat orang-orang di sekitar kami…..Allelluia, terpujilah Tuhan.

Dua minggu sesudahnya, atau tanggal 30 Juli 2009, saya seperti mendapat dorongan untuk melakukan doa puasa selama 7 hari setelah tanpa sengaja saya menemukan buku saku doa Rosario Pembebasan Yesus Kristus yang dibeli suami saya sewaktu di Kendari.

Secara manusiawi saya terkadang masih mencoba bersandar pada kemungkinan secara medis dan kekuatan manusia (misalkan lewat program bayi tabung). Saya mengikuti milis bayi tabung sehingga saya sering mendapatkan berita perkembangan terbaru dalam dunia kedokteran mengenai bayi tabung. Saya masih ingat waktu itu saya mengecek email terakhir tentang bayi tabung pada tanggal 5 Agustus 2009. Namun demikian saya menyadari kemungkinan itu menjadi harapan yang langka dengan penghasilan sebagai karyawan seperti kami.

Suatu hari di awal bulan Agustus ibu kos saya berkata, “Mbak Wulan apa hamil ya, kok kayaknya berbeda.” Namun saya bilang tidak, karena tgl 14 Juli saya baru saja menstruasi. Beberapa hari berikutnya, pembantu ibu kos saya mengatakan, ”Mbak Wulan kemarin saya rasani (dijadikan bahan perbincangan) dengan ibu, kok kayaknya aras-arasen (kurang sehat), apa sudah isi?” Saya hanya tertawa sambil bilang, “Amin…”

Pada tanggal 4 Agustus 2009, sahabat saya Monica di Jakarta memberitahu bahwa saat itu dia tengah hamil satu bulan dan dia menyampaikan akan membantu dalam doa agar kami bisa hamil bersama-sama.

Akhirnya rumah dinas kami siap dan pada tanggal 8 Agustus kami pun pindah di rumah yang disediakan kantor. Sebelumnya saya meminta seekor anak anjing yang bisa saya jadikan teman di rumah selama suami bekerja. Anak anjing itu saya bawa kemanapun saya pergi dengan naik motor dan saya masukkan ke dalam tas. Dalam hati saya sempat tertawa sendiri, karena dimana-mana orang mengajak anaknya, sedangkan saya mengajak anjing saya.

Pada tanggal 13 Agustus 2009 saya mendapat undangan interview tahap terakhir dari perusahaan yang saya lamar. Interview tersebut diadakan dengan pemilik dan konsultan perusahaan yang saya lamar. Dalam sesi wawancara, konsultan tersebut bertanya pada saya, “Apa hal yang mustahil Anda peroleh dalam hidup Anda?” dan saya menjawab, “Memiliki momongan, namun saya percaya jika Tuhan berkehendak, maka tidak ada yang mustahil dihadapan-Nya.” Akhirnya saya diterima bekerja dan sesuai kesepakatan, saya akan mulai masuk bekerja pada tanggal 1 September 2009. Sebelumnya saya akan menandatangani kontrak bekerja pada tanggal 19 Agustus 2009.

Saya terbangun jam tiga dini hari pada tanggal 14 Agustus 2009, dan saat itu sempat terlintas dalam angan saya, yaitu seandainya saya hamil, maka saya akan memberikan kesaksian dengan memasang iklan syukur di tujuh media cetak. Perasaan tersebut muncul secara tiba-tiba, mungkin karena menstruasi saya bulan itu tidak terlalu lancar dan tidak biasanya mundur sampai dua hari dan hanya flek-flek saja, atau mungkin dipengaruhi banyaknya pekerjaan rumah.

Sesuai rencana, tanggal 15 Agustus 2009 kami pulang ke Klaten dengan naik kendaraan roda doa. Selain untuk menghabiskan libur tanggal 17 Agustus, kepulangan itu sekalian untuk mengabarkan bahwa saya telah diterima bekerja. Suami juga sekalian ingin menghapalkan jalan jalur Kediri - Klaten. Sebelum berangkat saya sempat bertanya kepada pemilik pet shop di mana saya menitipkan anjing saya, “Apakah aman kalau orang hamil merawat anjing?” Pemilik toko tersebut menyampaikan hal tersebut aman-aman saja karena resiko virus tokso lebih banyak terdapat pada kucing. Sore itu kami langsung berangkat dengan rute memutar karena sekalian hendak melihat lokasi tempat saya bekerja nantinya. Kami berangkat pukul empat sore dan sampai Klaten pukul sebelas malam.

Capek, pastilah, plus kena marah orangtua dan kakak yang mengetahui kami pulang dengan naik kendaraan roda dua. Paginya kami berziarah ke makam ibu saya. Saya merasa badan saya tidak enak, selain karena kecapean juga sebenarnya saya sudah jadwalnya datang bulan tanggal 12 Agustus kemarin, tetapi sampai dengan tanggal 16 saya hanya mengalami flek-flek saja. Sore harinya kami tidur di tempat mertua saya. Dalam perjalanan ke rumah mertua, saya dan suami mampir ke apotik untuk membeli tes pendeteksi kehamilan. Sesuatu yang sebelumnya suami saya tidak pernah mengijinkan untuk saya lakukan (karena mungkin dia takut kecewa). Jauh di lubuk hati, rupanya kami menyadari bahwa harapan yang telah kami sampaikan kepada Allah Bapa dengan perantaraan Tuhan Yesus dan Bunda Maria dalam penyerahan diri yang penuh, telah menguatkan hati kami untuk tidak lagi merasakan takut untuk kecewa.

Malamnya, saya mencoba tes urin saya sendirian dan .....hasilnya di luar dugaan, saya HAMIL……..dengan perasaan tidak percaya dan kaget saya memberitahu suami yang juga merasakan hal yang sama. Dalam kebingungan dan kebahagiaan, kami kembali membeli tes pendeteksi kehamilan.  Kemudian kami memberitahu ibu mertua saya sambil mensharingkan doa kami. Belum habis rasa kebahagiaan kami, tiba- tiba saya rasakan ada darah yg keluar dan seketika kebahagiaan kami berubah menjadi kecemasan. Kami akhirnya memutuskan untuk beristirahat dengan harapan yang telah hilang. Saya ingat saat pergi tidur, suami saya mencium kening saya dan bergumam, “Kita akan berusaha lagi.”

Paginya tanpa sepengetahuan suami, saya mencoba mengetes kembali urin saya dengan test pack yang kami beli semalam. Dan hasilnya tetap positif. Puji Tuhan, terimakasih Tuhan.....lalu dengan hati- hati saya memberitahu suami saya. Kamipun kemudian bertanya kepada teman kami yang juga seorang dokter, yang mengetahui kondisi kami sejak awal. Dia sampaikan bahwa kehamilan palsu atau kehamilan anggur juga menunjukkan tanda-tanda seperti orang yang benar-benar hamil dan juga terdeteksi dengan test pack seperti orang hamil pula. Kamipun sedikit cemas dengan informasi yang kami terima, maka pagi itu kami putuskan untuk memeriksakan diri ke dokter kandungan.

Dengan harap-harap cemas, kami menanti diagnosa dari dokter, dan kami merasa sungguh sangat lega dan bahagia tidak terkira karena dari hasil USG, saya benar-benar dinyatakan hamil dan janin saya dalam keadaan sehat. Hanya saja, saya harus banyak beristirahat dan diberikan obat penguat….Puji Tuhan Raja Semesta Alam. Sungguh, harapan kami di dalam Tuhan tidak sia-sia. Tuhan sungguh berbelaskasih dan memperhatikan kerinduan hati kami melalui doa-doa yang kami panjatkan dengan segenap kerendahan hati dan penyerahan.

Akhirnya diputuskan saya tetap tinggal di Klaten hingga kondisi saya membaik, sedangkan suami kembali ke Kediri. Dua hari kemudian saya bertemu Monica yang pada waktu itu juga sedang liburan di Solo. Mungkin karena kelelahan, sore itu saya mengeluarkan darah segar. Karena khawatir akhirnya saya kembali dibawa ke rumah sakit dan menjalani opname selama lima hari. Baru satu hari di rumah, saya mengeluarkan flek-flek lagi. Akhirnya saya putuskan berganti dokter di Solo. Setelah menerima masukan dari dokter baru, saya lebih bisa bersikap positif terhadap kehamilan saya dan hal tersebut adalah yang seharusnya saya lakukan sejak awal kehamilan.

Tiga hari kemudian saya memilih untuk kembali ke Kediri. Saya berpikir bahwa dekat dengan suami akan lebih menguatkan kondisi saya. Saya menjalani bed rest selama hampir dua bulan. Ketika kehamilan memasuki usia empat bulan, kista saya semakin membesar hingga berukuran 7,5 cm. Saat itu dokter tempat kami memeriksakan diri mengatakan, untuk menghindari pendarahan, kista perlu dikeluarkan ketika bayi menginjak usia lima atau enam bulan, dengan resiko abortus. Saya berpikir bagaimana mungkin saya akan melakukan itu, sehingga akhirnya kami mencari dokter kandungan yang lain.

Saat usia kandungan memasuki usia tujuh bulan, saya dinyatakan mengalami plasenta previa penuh, tetapi masih dalam tahap evaluasi.

Kehamilan menginjak usia delapan bulan ketika tiba-tiba saya terbangun dari istirahat siang dan merasa ingin buang air kecil. Saat saya kembali dan duduk, saya merasa ada air yang terus keluar. Saat saya berdiri saya rasakan air keluar semakin banyak tanpa bisa saya tahan. Akhirnya saya kembali ke ranjang dan menelpon suami (saat itu saya di rumah sendirian). Suami saya segera membawa saya ke rumah sakit bersalin. Dokter menyuruh saya untuk opname. Sayapun opname sehari semalam untuk beristirahat dan untuk dievaluasi.

Akhirnya setelah melewati masa kehamilan dengan perlindungan Tuhan dan atas kehendakNya, pada tanggal 20 April 2010, putri kami lahir dengan selamat melalui operasi caesar. Puteri kami diberi nama oleh ayahnya dengan nama “Valeria Adonia Eklesiana Prasetyo”. Saya bertanya pada suami saya apakah makna nama yang ia buat. Suami saya menjawab, makna nama itu adalah “Gereja Kristus yang cantik dan kuat”………PUJI TUHAN.  Bersama nabi Yesaya seakan hati kami berseru, “Ya Tuhan, Engkaulah Allahku; aku mau meninggikan Engkau, mau menyanyikan syukur bagi nama-Mu; sebab dengan kesetiaan yang teguh Engkau telah melaksanakan rancangan-Mu yang ajaib yang telah ada sejak dahulu” (Yesaya 25 : 1)

Saat saya menyelesaikan kesaksian ini, puteri kami yang kami panggil dengan nama Kesia sudah berusia 9 bulan dan puji Tuhan, ia dibaptis pada tanggal 10 Oktober 2010 dengan nama baptis “Valeria” yang berarti ‘kuat.’ Dia tumbuh sebagai anak yang lincah, murah senyum, dan cerdas. Sungguh, ia adalah anugerah terindah dalam hidup kami…..Terpujilah Kristus.

Melihat kembali ke belakang, sungguh hanya rasa syukur yang meluap dan perasaan kagum mendalam yang kami rasakan terhadap kemurahan-Nya. Hal itu membuat kami sadar bahwa kebesaran Tuhan tidak dapat dibatasi oleh kemampuan manusia, dan itu nyata sebagai suatu kesaksian, dengan hadirnya puteri kami, Valeria Adonia Eklesiana Prasetyo. Hingga salah satu sahabat kami yang berprofesi sebagai dokter menyebut anak kami “miracle baby” dan Frater Cornel yang mengetahui pergumulan kami sejak awal menyebutnya, “anugerah dan buah dari derita, kesabaran, dan kepasrahan kepada Allah.”

Terlantun Mazmur yang indah yang dibisikkan oleh suami saya dengan nyanyian ketika kelahiran puteri kami, ”Ya Tuhan….semoga putera-putera kami tumbuh kuat seperti tanaman yang tumbuh menjadi besar pada waktu mudanya dan putri-putri kami menjadi seperti batu pualam yang menjadi tiang-tiang penjuru yang dipahat untuk bangunan istana.” (Mazmur 144 : 12).

Dan inilah ucapan syukur kami yang tercetak di tujuh media cetak :

Syukur kepada Allah atas kehadiran buah hati kami melalui Doa Rosario Pembebasan Yesus Kristus dan Doa Novena Bunda Maria dari Lourdes. Kami yang terberkati – Aan & Wulan.”

Juga inilah doa yang mengantar kepada Yesus Kristus atas permohonan kami untuk mendapatkan keturunan bersama dengan bantuan doa Bunda Maria :

Jika Yesus membebaskan kami, kami akan sungguh-sungguh bebas. Yesus kasihanilah kami, Yesus sembuhkanlah kami, Yesus selamatkanlah kami, Yesus bebaskanlah kami……”

Salam ya Ratu, Bunda yang berbelas kasih, hidup, hiburan, dan harapan kami. Turunan hawa merana berkeluh kesah, yang kini memohon seraya meratap di dalam lembah derita. Berkenanlah, pembicara kami, dengan wajah yang menampakkan kasihan menolong kami, dan Yesus yang terpuji, buah kandunganmu, sudi pada saat ajal tunjukkan.

O…Kenya, pemurah, yang manis dan penuh kasih.”

Akhirnya kami tutup kesaksian ini dengan Firman Kristus pada Markus 9:23bSegala sesuatu mungkin bagi orang yang percaya.”

Terpujilah Kristus.

Salam saya,
Bernadeta Tri Wulan Windri Hastuti

Share.

About Author

Editor katolisitas.org

57 Comments

  1. Kesaksian yang sungguh meneguhkan dan memberikan semangat serta harapan. Saya juga sudah 3 tahun menikah dan sedang menantikan berkat momongan, namun tahun lalu saya keguguran dan tahun ini harus operasi KET memotong tuba falopi kiri karena hamil di luar kandungan. Namun dengan membaca kesaksian ini, saya menjadi yakin kembali bahwa sungguh tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Ayat ini, Markus 9:23b “Segala sesuatu mungkin bagi orang yang percaya”, tertanam dalam hati saya. Semoga saat menerima anugrah itu, saya sudah menjadi orang yang cukup layak mengemban amanah menjadi orang tua. Doakan kami ya..

  2. junisahat.p.p on

    Syalom.

    Bagaimana kabar nya “valeria”,mudah mudahan sehat yach dan tetep cantik.
    Skarang Valeria sudah punya adik belom?…

    Tinggal kami saja nih yg masih menunggu kedatangan si buah hati yg tak kunjung datang, kami minta bantu dalam doa, semoga kami cepat mempunyai keturunan…

    Terlebih terhadap iman kami saat ini, untuk tetap takut akan TUHAN, karna kami sudah divonis oleh dokter, bahwa kami berdua mempunyai kekurangan, dan sangat sulit untuk mempunyai anak.

    Tolong bantu kami dalam doanya. GBU

    Saya titip salam dong untuk si cantik “VALERIA”
    bilang aja dari “OM GANTENG” hihihi…

    • Wulan Windri on

      Hallo Om ganteng Salam balik Dari Valeria. He.he
      Tetep semangat dlm pengharapan pada Tuhan ya. Dalam kelemahan kita kan dikuatkan. Tetap bertekun dlm doa, kita mungkin terbatas tapi kits punya TUHAN yg tidak terbatas kuasanya.
      Jadi sharing lg neh.
      Saat Valeria 8 bln saya mendapat menstruasi kembali (maaf ). Saat Itu secara manusiawi timbul pertanyaan dlm benak saya, sungguhkah Tuhan telah memulihkan kondisi kami seandainya iya apakah kami dpt memiliki momongan lg (seperti Thomas ya sdh melihat to blm yakin jg).
      Bukan bermaksud menguji kemurahan Tuhan, namun demikan Tuhan sungguh berbelas kasih dalam menjawab pergumulan sy tersebut. Saya mengandung anak kedua kami Mikael Adonai Hizkia P saat Valeria berusia 10 bln.
      Tetap bertekun saudara, Tuhan hanya sejauh DOA kita, mintalah dalam keyakinan, kita telah menerimanya.
      Shalom
      Wulan

    • Bernardus Aan Yunanto Prasetyo on

      Untuk sdr Junisahatdan seluruh pembaca Katolisitas serta rekan team Katolisitas.

      Salam Damai Kristus,

      Perkenankanlah saya untuk memberikan kesaksian sebagai pelengkap dari kesaksian istri saya Bernardeta Tri Wulan Windri Hastuti dan juga sebagai pembelajaran bersama. Bahwa terkadang ketika kita mengalami suatu mujikzat belum tentu kita akan terus memegang iman kita kepada Tuhan.
      Tetapi walaupun kita degil hati dan mencobai Tuhan kita namun Tuhan dengan kasih setia akan mengajarkan kita untuk mengenal siapa dia sehingga iman kita tidak goyah lagi. Seperti halnya Kristus, Tuhan kita, berkata kepada Simon ” Jika engkau sudah insyaf kuatkanlah saudara-saudaramu.” maka kesaksian ini saya buat untuk saling menguatkan.
      Kesaksian saya ini saya mulai pada saat menjelang kelahiran Valeria Adonia. Saat itu sudah menjelang waktunya bagi Valeria Adonia untuk dilahirkan namun istri saya belum menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Kami memeriksakan diri kepada dr. Surinto SP.Og pada tanggal 19 April 2010. Dokter menyatakan kalau memang 4 hari lagi belum menunjukkan tanda-tanda maka akan dilakukan operasi cesar. Pada malam itu hati kami gelisah. Cemas karena kami khawatir kalau harus menunggu lama takutnya air ketuban pada bayi sudah menjadi buruk dan bisa menjadi racun bagi bayi. Pada malam itu kami berdoa memohon petunjuk kepada Tuhan untuk memberikan tanda apakah kami harus menunggu kelahiran normal ataukah harus operasi Cesar.
      Pada pagi harinya sekitar jam 6 pagi sepulang istri saya belanja dia bercerita bahwa bertemu tetangga yang mengenalkannya pada bu Pur (seorang protestan yg dikarunia talenta penyembuhan lewat pemijatan). Pada saat itu mereka sama2 sedang berbelanja. Kami memang belum banyak mengenal tetangga lingkungan kami karena baru 4 bln di lingkungan tersebut. Pada saat itu bu Pur melihat sepertinya kandungan isteri saya dan ia berkata bahwa bayi yang ada di kandungan dalam keadaan miring sehingga tidak memungkinkan untuk melahirkan normal.
      Ketika mendengar hal itu saya terkejut dan saya menganggap bahwa ini adalah tanda dari Tuhan. Kami akhirnya kembali mengunjungi dokter kami pagi itu juga jam 10 pagi. Dokter kemudian memeriksa kembali dan memutuskan hari itu juga jam 14.00 bayi kami akan dilahirkan. Sebenarnya kami ingin bayi kami dilahirkan tanggal 21 April 2010 (agar sama dengan ibu Kartini). Keputusan tersebut membuat kami agak repot dalam mempersiapkan kelengkapan dan belum memberi kabar ke orang tua kami. Maka saat itu juga kami berbenah lalu ke RS. Ratih pada jam 12.00 siang tanggal 20 April 2010 tersebut.
      Akhirnya saat operasi tiba dan betapa saya sangat gelisah menunggu dan berdoa. Sekitar jam 14.00 WIB terdengar tangis bayi keras sekali di tengah suara hujan yang deras. Seorang perawat datang menghampiri saya lalu berkata ” Selamat pak, putri anda telah lahir.” Betapa hati saya bersuka cita memuji Tuhan pada saat itu. Sebentar kemudian dr. Surinto yang sudah selesai melakukan operasi mendekati saya lalu berkata pelan “Ketika saya melakukan operasi saya menemukan myoma di kandungan istri anda.Tapi saya tidak melakukan operasi. Nanti kita evaluasi apakah Myoma tersebut mengganggu atau tidak.” Dengan sedih saya mengiyakan perkataan dokter. Dioperasi berarti harus mengangkat rahim istri saya dan itu pertanda bahwa kami hanya mempunyai 1 orang anak.
      Beberapa saat kemudian seorang perawat mendatangi saya untuk melihat bayi saya. Ketika melihat bayi tersebut ada ketakutan dalam hati saya karena wajah bagian kiri dan kanan tidak simetris. Namun segalanya saya menyerahkan kepada Tuhan. Sesudah memberikan doa memohon berkat, bimbingan dan pimpinan, serta agar tumbuh semakin hari semakin indah dan kuat kepada Tuhan dan setelah memuji Kristus Tuhan Sang Raja Kemuliaan Kekal saya menyerahkan anak tersebut kepada perawat.
      Ketika dokter anak datang untuk memeriksa keadaan bayi-bayi yang lahir, perawat memanggil saya agar dapat berkonsultasi mengenai kondisi anak saya. Nampaknya perawat tersebut juga prihatin dengan kondisi anak saya. Saat itu anak saya sudah saya namakan Valeria Adonia Eklesiana Prasetyo yang berarti Gereja Kristus yang cantik dan kuat.
      Puji Tuhan bahwa dari penjelasan dokter wajah anak kami tersebut bisa pulih karena tulang pipinya juga normal. Analisa dokter adalah wajah bagian kanan tertekan sesuatu seperti myoma sehingga menjadi asimetris. Namun itu bisa pulih.
      Setelah istri saya sedikit pulih saya menceritakan pelan-pelan kondisi Valeria Adonia. Namun ketika saya menceritakan tentang adanya myoma, ia menjadi sedih sekali. Namun kesedihan tersebut tidak berlangsung lama dengan datangnya Valeria Adonia ke kamar kami yang diantar oleh perawat.
      Melalui kesepakatan kami maka Valeria Adonia kami panggil Kesia yang artinya Favorite. Tentu saja memang pada kenyataannya ia menjadi favorite kami, Karunia dari Tuhan yang membuat kami bersyukur. Melalui Ibu Pur sebagai perpanjangan pertolongan Tuhan, Kesia diterapi pijat karena menurut Bu Pur syaraf bagian kiri Kesia lebih lemah daripada yang kanan. Syukur kepada Elohim lama kelamaan wajah Kesia menjadi simetris dan makin lama ia menjadi cantik. Puji Tuhan karena kemurahan-NYA ia juga lincah dan pintar.
      Hingga pada suatu saat isteri saya berkata,” Sungguhkah Tuhan benar-benar bermurah hati memulihkan kesehatan reproduksi kita sehingga anak ini lahir?” Lalu saya berkata “Kamu jangan berkata seperti itu.” Saya bisa memahami keraguan tersebut, karena pada saat itu betapa kuatnya kami berpijak pada ilmu pengetahuan di mana kondisi kami secara ilmiah tidak memungkinkan untuk mempunyai anak.
      Jawaban dan kemurahan Tuhan atas kedegilan hati kamipun sungguh ditunjukkanNYA tanpa tanggung2. Betapa mengejutkan setelah istri saya mengalami menstruasi pertama bulan berikutnya istri saya tidak mengalami menstruasi lagi. Saat itu Kesia berumur 10 bulan. Kemudian istri saya berinisiatif untuk menggunakan alat tes kehamilan. Setelah melakukan pengujian ternyata hasilnya negatif dan alat tes kehamilan tersebut langsung dibuang ditempat sampah. Namun beberapa waktu kemudian istri saya merasakan dorongan untuk mengambil alat tersebut di tempat sampah. Dan setelah dilihat kembali ternyata hasilnya sudah berubah positif. Untuk menghilangkan keraguan lalu istri saya mencoba lagi dengan alat tes dengan merk yang berbeda dan kali ini ditunggu. Hasilnya menunjukkan…………..positip.
      Bercampur bahagia namun ketakutan yang teramat sangat menerpa saya. Lalu saya berkata kepada istri saya “Mari kita bertobat karena meragukan kuasa Tuhan kita agar tidak terjadi apa-apa pada anak yang sekarang dikandung.” Maka kamipun bertobat memohon ampun atas kedegilan hati kami.
      Mengenang peristiwa tersebut kami menjadi bisa mengerti kenapa Petrus dan Yudas bisa mengkhianati Yesus. Murid-murid lari pada saat Yesus ditangkap, bahkan pada saat penyaliban Sang Kristus, tidak dikatakan bahwa mereka mengikuti dari dekat jalan salib Kristus. Hal tersebut karena………….kamipun berbuat demikian, tidak percaya kepada keajaiban Tuhan dan segala rancangan-Nya. Kami masih berpijak pada pemikiran ilmiah kami.
      Pada tanggal 03 Nopember 2011, anak kedua kami lahir melalui operasi cesar. Kelahirannya sungguh menjadi peneguhan bagi iman kami. Ketika perawat menunjukkan anak itu kepada saya sungguh saya bersyukur, anak tersebut lahir dalam kondisi normal dan paras yang cakap. Segera saya berdoa memohon berkat dan bimbingan untuk putra saya, agar ia tumbuh di hadapan Tuhan semakin hari menjadi semakin kuat dan semakin indah baik Roh, jiwa, maupun raganya. DOA dan pujian terlantun bagi kemuliaan Kristus atas anak-anak kami.
      Segera setelah saya menyerahkan anak itu kembali kepada perawat maka saya mencari dr. Surinto untuk menanyakan apa yang menjadi ketakutan kami selama ini yaitu masalah myoma. Jawaban dokter sungguh mengejutkan dan menggembirakan saya karena pada waktu melakukan operasi dr. Surinto tidak menemukan adanya myoma. Suka cita saya makin lengkap saat saya mendengar dari dokter bahwa myoma di kandungan isteri saya pun sudah tidak ada. Sungguh hati saya memuji Tuhan atas pertolonganNya dan kemurahanNya. Tuhan tidak hanya mengampuni kami akan dosa-dosa kami tetapi Tuhan juga menyembuhkan kami…..HallelluYAH.
      Mengingat hal tersebut saya jadi ingat nasihat dari sahabat yang kami kasihi yang berdoa bersama kami di saat pergumulan kami yaitu Frater Cornel. Ia barkata bahwa “Tuhan tidak hanya menyertai kita dalam lembah kekelaman tetapi Tuhan juga sanggup untuk mengeluarkan kita dari lembah tersebut.”
      Sungguh karena anak kedua kami dengan kuatnya dipakai Tuhan dalam mengalahkan myoma di kandungan istri saya, maka saya menyematkan nama Malaikat terkuat pada nama baptisnya yaitu “Mikael”. Nama lengkapnya adalah Mikael Adonai Hizkia Prasetyo…..Tuhanku yang perkasa, Tuhanku kekuatanku. Nama panggilannya diambil dari suku kata tengah Mikael yaitu Kal-El. Betapa kami memuji Tuhan atas kepercayaan-NYA kepada kami dalam mengasuh putri dan putra-NYA yaitu Kesia dan Kal-El.
      Pada saat tulisan ini ditulis, Kesia telah berumur 3,5 tahun dan sudah bersekolah di Play Group Santa Maria di Kediri. Sedangkan Kal-El berumur 1 tahun 11 bulan. Mengingat kebaikan Tuhan atas kami sekeluarga, sungguh bersama Mazmur Daud saya berseru “Ya TUHAN, Engkaulah bagian warisanku dan pialaku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku. Tali pengukur jatuh bagiku di tempat-tempat yang permai; ya, milik pusakaku, menyenangkan hatiku.”
      Agar kami tidak mengulangi kedegilan hati kami maka saya menempelkan Sheema di dekat pintu masuk rumah kami yang berbunyi : ” Tuhan itu Elohim kita, Tuhan itu Echad, Kasihilah Dia dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu.” Karena kasih setia Elohim kepada kami maka sudah selayaknya dan sepantasnya kami membalas kasih setia-Nya dengan iman dan tidak mengulangi kedegilan kami.
      Untuk yang meluangkan waktu untuk membaca tambahan kesaksian saya ini terhadap kesaksian istri saya ini semoga dikuatkan apapun masalah anda. Tuhan itu ada dan Dia tetap sama dulu, sekarang, dan yang akan datang. Apapun masalah anda serahkanlah semuanya kepada Tuhan. Dia adalah Bapa yang baik yang tidak akan memberikan ular pada anaknya yang meminta ikan dan tidak akan memberikan batu pada anaknya yang meminta roti.
      Berdoalah karena Elohim sedekat doa. Mintalah bantuan doa Bunda Maria dan orang-orang Kudus serta syafaat Gereja dan hamba-hamba Tuhan yang mengabdikan diri pada pelayanan Cinta Kasih karena doa orang benar yang didoakan dengan iman sangat besar kuasanya.
      Memohonlah karena siapa yang mengetuk maka pintu akan dibukakan.
      Rendahkanlah hati kita di hadapan Tuhan dengan berpuasa karena siapa yang merendahkan dirinya maka akan ditinggikan.
      Dan seturut dengan perintah Kristus, kasihilah sesama kita, dengan memberi makan mereka yang kekurangan di jalan-jalan, memberikan pakaian yang pantas pada mereka yang membutuhkan, dan perbuatan amal kasih lainnya, maka mereka akan berdoa untuk kita dan doa mereka akan didengarkan oleh Elohim.
      Menutup tambahan kesaksian ini maka ijinkanlah saya mengutip lirik lagu “Masih ada Tuhan.” yang saya rasa tepat sekali untuk disanding dengan kesaksian ini :
      “Masih ada Tuhan, masih ada kuasa tak terbatas, Dia pencipta semesta, Dia juga sanggup mengubah hidupmu sekarang, Masih ada Tuhan, masih ada jawaban.”
      ” Masih ada harapan, masih ada jawaban, Dia masih sanggup, Dia masih mampu, Dia masih Tuhan, Dia masih Tuhan.”
      “Masih ada Yesus, Masih ada Tuhan, masih ada kuasa tak terbatas, Dia pencipta semesta, Dia juga sanggup mengubah hidupmu sekarang, Masih ada Tuhan, masih ada jawaban.”
      Tiada yang mustahil di hadapan Tuhan.
      Tuhan memberkati.
      Shalom,
      Bernardus Aan Yunanto Prasetyo

      • Puji Tuhan atas kehadiran buah hati mas Ann dan mbak Wulan.. :))
        memang benar mas/mbak terkadang kita sering memandang sesuatu dari sudut pandang logika kita dan mempertanyakan kehadiran dan kebaikan Tuhan…terutama saat doa bagai tak dijawab dan pergumulan yg kita alami tak berakhir..pasti kita merasa lelah untuk berharap…hal itu juga yang saya alami saat ini…namun ketika membaca kesaksian mas dan mbak saya merasa dikuatkan untuk tetap berpengharapan pada Allah..terima kasih mas Ann dan mbak Wulan berkat kesaksian ini saya menjadi semakin yakin dan percaya bahwa apa yang kita harapkan akan dapat jadi nyata walaupun kemungkinan itu kecil bahkan mustahil asalkan kita tetap percaya dan berharap padaNya.. semoga keluarga mas/mbak selalu dalam lindungan dan limpahan kasihNya… semoga Kesia dan Kal-El selalu sehat… Berkah Dalem.. :))

        • Saya ikut berbahagia atas mukjizat TUHAN yang terjadi pada anda berdua. Sungguh suatu kesaksian yg luar biasa yang wajib dibagikan kepada siapa saja.

          Salam Kasih

  3. Saya sampe nangis baca nya … Sangat2 mustahil di mata manusia .. Tp tdk di mata Tuhan.. Selamat yaa mba wulan … Sy jg berharap dpt kan momongan .. Sdh 4 thn menikah…. Awalnya sy tdk jd kan beban ..karna sy pngin relax… Biar kehendak Tuhan yg jadi …. Tp belakangan sy begitu merindukan buah hati di tengah rumah tangga saya .. Krn kerap sy sering di hina kk ipar sy ..krn belom pny anak … Tp sy tdk pernah ambil pusing .. Sy dan suami sdh periksakan diri ke dkter … Dan kami berdua tdk ada masalah medis .. Hny sy sering tdk lancar menstruasi nya … Sy kembalikan kepada Tuhan … Kalo Tuhan sdh berkehendak..maka semua nya jadi …. Skrg sy menjalani kehidupan seperti biasa…kami bekerja dan berusahaan ..utk memperbaiki kehidupan ekonomi kami yg belum begitu stabil . Dan kami selalu percaya ini lah mengapa Tuhan belom mberi kmi momongan .. Tolong bantu doa nya yaah .. Thx GBU

    • Mbak Sherly, tetap semangat ya mbak, tiada yg mustahil bagi Tuhan, tetap selalu berdoa , mbak bisa scroll ke bawah, sy pernah posting tgl 2 April 2012, Puji Tuhan, anak kembar kami lahir dengan selamat melalui operasi caesar tgl 24 April 2012, berkat doa dan dukungan dari katolisitas dan teman2 smua. Anak kami cewek cewek, Petra Feodora Rosari Tedyna dan Petra Nathania Rosari Tedyna. Petra merupakan nama pilihan Romo Paroki kami saat scr khusus mendoakan kami, Feodora dan Nathania artinya hadiah/anugerah dari Tuhan, Rosari karena doa kami terkabul lewat perantaraan doa rosario yg didoakan tiap malam antara jam 1-4. Pengalaman kami jg hampir mirip dg mbk wulan, pernah berdoa di Gua Maria Poh Sarang Kediri, beberapa bulan sebelum kehamilan istri, saya mengambil anak anjing (usia 2 bln) krn sy pernah memiliki anjing saat msh SD-SMA, sampai2 setelah kelahiran anak kembar kami, keluarga berseloroh ” Wah, kakak pertama udah punya adik sekarang “, dan kami pun tertawa. Tetap semangat ya mbak Sherly, semoga lekas mendapatkan momongan, Tuhan Yesus memberkati senantiasa

    • Wulan Windri on

      Terimakasih mbak sherly..
      Says sungguh yakin dan percaya bahwa kemurahan Tuhan Allah jug a akan melawat keluarga mbak Sherly dgn cara dan waktuNYA. Tuhan pastilah mendengar dan mengerti beban mbak sherly saat ini percayalah DIA akan menjawab dengan cara yg luar biasa. Segala rancanganNYA at as kita pastilah mendatangkan damai sejahtera.
      Tetap berserah dlm ketekunan dan pengharapan pada Tuhan kits Yesus Kristus

      Shalom
      Wulan

  4. Puji Tuhan… terima kasih Yesus dan Bunda Maria…telah hadir di tengah-tengah kami Faustina Vrinda J. Setelah membaca tulisan mbak Wulan (lupa kira-kira th.2011) kami merasa mendapat kekuatan untuk berusaha mendoakan sebuah doa secara lebih baik (mengingat kami masih bolong-bolong dalam berdoa). Akhirnya kami berdua sepakat mendoakan DOA KERAHIMAN ILAHI dan mengikuti novena Roh Kudus….dan Puji Tuhan kami mendapatkan anugerah di bulan ulang tahun saya (saya dinyatakan positif hamil bulan Mei 2012) dan melahirkan bayi cantik dan sehat “Vrinda” pada Januari 2013.
    Terima kasih.
    Tuhan memberkati

    • Puji Tuhan, selamat u kelihiran Vrinda. Saya ikut berbahagia dan merasa terharu merasakan kebahagian mbak Zita sekeluarga. Seperti mendapat kesempatan kedua dlm hidup kita ya. Semoga ini jg makin menguatkan kita bahwa Tuhan hanya sejauh doa kita. Sekali lagi selamat ya..semoga anak2 kita akan tumbuh dlm kesetiaan pada Tuhan Allah kita. Amin

  5. junisahat.p.p on

    Muzizat yg luar biasa, semoga anda menjadi keluarga yg selalu takut akan Tuhan,selalu.
    Kami juga minta doanya, rumah tangga saya dan anda memiliki masalah yg serupa. GBU.

    • junisahat.p.p on

      Sekarang saya harus menghadapi keada’an istri yg mengalami usus buntu, dan harus dilakukan operasi besar.

      Ohhh…sungguh Tuhan Yessus sangat sayang kepada kami, orang yg diberi ujian orang yg disayang Tuhan.

      [dari Katolisitas: kami turut mendoakan istri Anda dan mengirimkan posting Anda ini kepada tim doa Katolisitas]

      • Bernardus Aan Yunanto Prasetyo on

        Shalom sdr.Junisahat

        Saya mengucapkan terimakasih atas doa saudara agar kami sekeluarga selalu hidup dengan Takut akan Tuhan. Semoga Roh Kudus selalu membimbing kami dan menguatkan kami untuk sll takut akan Tuhan dan setia kepada GerejaNya karena tujuan dari segala sesuatu adalah Gereja.

        Dan saya kagum kepada anda atas iman anda dimana ketika anda mengalami kesulitan anda bisa memandang dengan positif dan mengambil hikmah yang baik betapa Tuhan menyayangi anda dan itu memang suatu kebenaran.

        Dengan keterbatasan iman kami maka kami akan mendoakan anda. Bersama dengan doa orang-orang Kudus semoga Tuhan mengasihi kita dan mengabulkan permohonan kita.

        Tuhan memberkati

        Shalom,
        Bernardus Aan Yunanto Prasetyo

    • Terimakasih, kiranya sdr Junisahat sekeluarga juga merasakan kebahagiaan dalam limpahan berkat Allah. Dan kamipun percaya Tuhan Allah kita akan menjawab setiap pergumulan doa kita. Berkah Dalem

  6. Puji Tuhan ,,, betapa aku dan istriku sngat merindukan apa yang telah kalian alami, Tiga tahun sdh berlalu kami menikah dan smpai skrng kami belum mempunyai momongan , sering aku di jadikan bahan tertawaan teman2 dan orang terdekatku, aku hanya pasrah dan memintah Tuhan Yesus untk sllu menguatkan kami berdua . aku yakin suatu saat Tuhan akan mengabulkan permohonan kami berdua , selamat yah untuk kalian berdua .

    • Semoga keluarga sdr joventmeko senantiasa dlm limpahan berkat Allah. Percayalah bawasananya penyelenggaraan Allah atas hidup kita sungguh luar biasa. Senantiasa berharap dan bersandar pada Allah, sumber kekuatan kita. Ssemoga kebahagian yg kami alami dan rasakan juga akan Sdr alami dgn cara dan waktu Tuhan. Tetap kuat dlm pengharapan Sdr, Allah kita adalah Allah yg peduli terhadap setiap doa dan pengharapan kita.

  7. terima kasih atas sharing yang sungguh sangat luar biasa, semoga ini menjadi ragi bagi semua orang agar tidak putus asa dalam menghadapi pergumulan hidup…. semoga bapak sekeluarga beserta buah hatinya terberkati sampai selamna-lamanya

  8. trimakasih atas kesaksian ini, sekarang saya semangat lagi…
    Sungguh saya sangat bersyukur menemukan web ini dan membaca kisah pengalaman mbak wulan, smoga mbak wulan menjadi keluarga yang terberkati..
    sekarang saya semangat lagi, hati jadi tenang…
    saya juga belum punya keturunan, saya stress, depresi, murung hingga kesehatan saya agak terganggu saat ini… sekarang saya mau memulihkan kesehatan dulu tentunya dengan bantuan YESUS dan BUNDA MARIA dan mohon dikaruniai keturunan.
    Tiada yang mustahil bagi TUHAN YESUS, aku percaya itu, sekarang aku berani berharap lagi. mohon bantuan doanya….
    Suatu saat kan tiba saatnya kumenulis lagi disini dengan kelahiran anakku kelak… Amin

    Mohon bantuan doanya….

    [Dari Katolisitas: Ya, tiada yang mustahil bagi Tuhan. Mari menyerahkan hidup kita ke dalam pimpinan-Nya dengan penuh iman bahwa Allah mengetahui yang terbaik, dalam hal waktu maupun caranya untuk menjawab kerinduan hati kita terdalam. Teriring doa dari kami di Katolisitas.]

    • Salam Kasih Mbak Hotma, semoga kesehatannya saat ini sdh prima kembali.Percaya mbak Hotma Allah kita sungguh luar biasa, Dia tau setiap tetes air mata dan tarikan nafas kita. Senantiasa berpengharapan pada Allah sumber kekuatan kita. Dia merancang yang terbaik dalam peta hidup kita..jadi jgn berputus asa. Tuhan akan menjawab doa mbak dengan cara dan waktuNYA. Bila ingin share dan berbagi beban boleh kontak saya. GBU

  9. terima kasih buat kak Wulan, setelah membaca artikel ini saya semakin percaya akan mujizat Tuhan Yesus, doakan kami ya kak semoga cepat dapat momongan karna kami juga mempunyai Kerinduan untuk segera mempunyai anak, kami sudah menikah 3 tahun lebih, dan aku percaya dengan firman Tuhan yang tertulis di Kejadian 18 ayat 10. GBU.

    • Terimakasih kembali sdri Tia. Terus berpengharapan pada Allah. Milik Dialah kita, sumber kehidupan. Kita mesti percaya rancanganNYA adalah yg terbaik dan terindah u hidup kita. Berkah Dalem

  10. Agustina Dwi WUlandari on

    sungguh kesaksian yg boleh menguatkan dan mengingatkan kami untuk tetap setia dalam doa dan pengharapan dalam penantian kami menanti jawaban doa untuk segera mendapat momongan.. terima kasih mba Wulan dan keluarga, Tuhan Memberkati

  11. Terima kasih sharingnya, sungguh pengalaman kasih Tuhan yang luar biasa.
    Kasih Tuhan yang juga Tuhan limpahkan kepada kami, pasangan suami istri yg saat ini tengah menantikan kelahiran bayi kembar setelah 4,5 tahun menikah belum dikaruniai momongan. Mohon doanya jg agar proses persalinan nantinya berjalan dengan lancar, ibu dan bayi sehat.
    Sungguh, tiada yang mustahil bagi Tuhan.
    Semoga kesaksian mbak wulan dan suami dapat memberikan kekuatan dan pengharapan bagi pasangan suami istri yang belum dikaruniai momongan, segala sesuatu mungkin bagi orang yang percaya.

    Salam hangat,

    Tedy

    [dari Katolisitas: terima kasih atas sharing Anda, kami turut bersyukur atas karunia Tuhan bagi Anda dan turut mendoakan semoga proses kelahiran bayi kembar Anda berjalan dengan lancar, sehat, dan selamat bagi ibu dan bayi-bayinya.]

  12. simon m tulasi on

    kesaksian yg mengagumkan, karya TUHAN selalu ada dlm perjalanan hidup ini, dan pd kesempatan ini saya mau bertanya kepada katolisitas: bagaimana caranya utk mengirimkan atau memberi kesaksian via katolisitas ini, syarat2nya apa dll. Trim katolisitas. Salom

    [dari katolisitas: silakan mengirimkan kesaksian ke katolisitas@gmail.com . Katolisitas mempunyai hak untuk mengedit atau tidak memuat semua kesaksian yang masuk ke meja redaksi. Terima kasih.]

  13. selamat ya mbak wulan sekeluarga dan Puji Tuhan saya menemukan sharing ini…smoga menjadi kekuatan untuk kami yg sampai saat ini masih menantikan kehadiran buah hati..terimakasih. Tuhan memberkati.

    • Bernardus Aan Yunanto Prasetyo on

      Kembali kasih mbak Zita semoga kasihNya menyentuh anda sekeluarga melalui karyaNYa yang melampaui pemikiran kita. Kasih dan doa kami.

  14. Gregorius isharmoko on

    terima kasih atas sharringnya,kami telah memiliki satu anak,dan saat ini kami berencana untuk menambah momongan lagi,tapi kondisi saat ini membuat kami putus asa harapan kami,setelah membaca sharring diatas,kami percaya bahwa tiada yang mustahil dalam nama Yesus,dan kami akan terus berharap…