Arti memanggul salib & apakah Komuni boleh dikunyah?

30

Pertanyaan:

Hallo bu Inggrid, kita sering dengan istilah “Apakah kita sudah memanggul Salib” . Apakah arti yang mendalam dari kalimat tersebut ? . Dan satu lagi , kalau kita terima komuni apakah di kulum atau boleh di kunyah ( di gigit ) ? terima kasih.
Harsen

Jawaban:

Shalom Harsen,

1. Arti 'memanggul salib'

Memanggul/ memikul salib di sini disebutkan antara lain dalam Mat 10:38, dan Mat 16:24, yang keduanya mengacu kepada perintah Kristus kepada kita murid- murid-Nya untuk mengikuti jejak-Nya, yaitu mencapai kebangkitan dengan melalui kematian. Dalam hal ini, seperti ajaran Rasul Paulus dalam Rom 6: 5-11, kita diajak untuk mati terhadap dosa, untuk bangkit dan hidup baru bersama Kristus.

St. Augustinus, seperti dikutip dalam Haydock's Commentary on Holy Scriptures, mengajarkan demikian:

"Ada dua jenis salib yang oleh Kristus kita diperintahkan untuk memikulnya: yang satu adalah bersifat jasmani dan yang lainnya bersifat rohani. Dengan salib yang berkenaan dengan hal jasmani, Kristus memerintahkan kita untuk mengendalikan segala keinginan jasmani yang berkaitan dengan indera perasa, peraba, pelihat, dst. Dengan salib yang rohani, yang jauh lebih penting kita perhatikan adalah, Kristus mengajarkan kita untuk mengatur afeksi pikiran kita, dan mengendalikan segala alur pikiran kita yang tidak teratur, yaitu dengan kerendahan hati, ketenangan jiwa, kesederhanaan, damai sejahtera, dst. Sungguh sangat berharga di mata Tuhan dan demikian mulialah salib itu, yang mengatur dan menghasilkan keteratuan yang layak bagi semua gerakan pikiran yang tidak menentu."

2. Komuni, bolehkah dikunyah?

Menurut pengetahuan saya, tidak ada dokumen Gereja yang menyebutkan secara eksplisit tentang bagaimana seharusnya kita 'memakan' Ekaristi/ Komuni Kudus. Namun prinsipnya jelas diajarkan, bahwa karena Kristus benar- benar hadir dalam rupa Hosti tersebut (lihat KGK 1364, 1366, 1382, 1085), maka kita yang menerima-Nya harus memperlakukan-Nya dengan hormat. Jadi sebaiknya, hosti dibiarkan hancur sendiri di dalam mulut kita, atau jika perlu mengunyah, lakukan seperlunya, dan bukan untuk dikunyah seperti mengunyah biskuit atau kacang.

Kehadiran Kristus di dalam Ekaristi bermula pada waktu konsekrasi dan berlangsung selama rupa roti dan anggur masih ada (lihat Katekismus, KGK 1377). Maksudnya pada saat hosti dicerna di dalam tubuh kita dan sudah tidak lagi berbentuk hosti, maka itu sudah bukan Yesus. Jadi kira-kira Yesus bertahan dalam diri kita [dalam rupa hosti]selama 15 menit. Sudah selayaknya kita menggunakan waktu itu untuk berdoa menyembah-Nya dengan ucapan syukur.

Maka hal dikunyah atau dikulum, sesungguhnya menjadi secondary, sebab yang terpenting adalah kita menerima Komuni dengan hormat dan syukur. Karena jika kita telah menerima-Nya dengan sikap batin sedemikian, maka umumnya kita akan dapat memperlakukan Kristus yang masuk dalam tubuh kita dengan sikap yang layak.

Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 17 April 1980, mengajarkan:

"Umat beriman dianjurkan untuk tidak lupa mengucap syukur yang layak [kepada Tuhan]setelah Komuni. Mereka dapat melakukan hal ini sepanjang perayaan dengan periode hening, dengan menyanyikan lagu pujian, mazmur, atau madah syukur lainnya, atau juga setelah perayaan, jika memungkinkan dengan tinggal di gereja untuk berdoa selama waktu yang pantas." (Inaestimabile Donum, 17)

Demikian semoga ulasan di atas berguna bagi kita semua.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Share.

About Author

Ingrid Listiati telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

30 Comments

  1. Anastasia Rosary Hurint on

    pasal persoalan tentang mengunyah hosti tu..pada pendapat saya,,memang patut dikunyah sebab Yesus berkata ”terimalah dan makan la..ini lah tubuhku yg dikorbankan bagimu..” makan sudah semestinya ”mengunyah”.

    [dari katolisitas: Tidak menjadi masalah mau dikunyak atau tidak. Yang penting adalah menerima dengan penuh syukur dan cinta serta mengalami persatuan dengan Kristus.]

  2. lolita widjaja on

    Shalom,
    Kepada Yth Bu Inggrid dan Pak Stef,
    mohon penjelasan mengenai situasi yga saya alami, pada saat misa pemberkatan rumah umat katolik, misa tersebut juga dihadiri oleh keluarga yg non katolik. Pada saat pembagian komuni Romo sdh mengumumkan bahwa yg berhak menerima komuni adalah yg sdh dibaptis secara katolik dan sudah menerima komuni pertama.Ternyata ada anggota keluarga yg bukan katolik ikut menerima komuni dan terlanjur memakannya. Apa yg seharusnya saya lakukan? Terimakasih

    [dari Katolisitas: silakan membaca diskusi serupa di link ini, dan juga tanya jawab sebelumnya di sini, serta di artikel yang memang membahas mengenai hal itu, yaitu “Mengapa umat Kristen non-Katolik tidak dapat menerima Komuni di Gereja Katolik, silakan klik]

    • Shalom Monica,

      Katekismus Gereja Katolik menjelaskan tentang kondisi untuk menerima komuni demikian:

      KGK, 1415.    Siapa yang hendak menerima Kristus dalam komuni Ekaristi, harus berada dalam keadaan rahmat. Kalau seorang sadar bahwa ia melakukan dosa berat, ia tidak boleh menerima Ekaristi tanpa sebelumnya menerima pengampunan di dalam Sakramen Pengakuan.

      Dengan demikian, kalau seseorang menyadari bahwa dia melakukan dosa berat, maka dia harus mengaku dosa terlebih dahulu sebelum menyambut Ekaristi. Silakan melihat tanya jawab ini tentang dosa berat – silakan klik. Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  3. Shalom,

    Apakah misalnya jika kita menggadaikan liontin emas berbentuk salib yang sudah diberkati karena membutuhkan uang kita berdosa sakrilegi juga?

    Terima Kasih…

    • Shalom Monica,

      Kalau sampai seseorang menggadaikan liontin emas berbentuk salib yang telah diberkati karena membutuhkan uang, maka perlu ditelaah lebih dahulu apakah hal ini termasuk dosa sakrilegi atau bukan. Katekismus Gereja Katolik menjelaskan tentang dosa sakrilegi sebagai berikut:

      KGK, 2120.    Sakrilegi dilakukan seorang yang menajiskan atau tidak menghormati Sakramen-sakramen atau tindakan liturgi yang lain, pribadi, benda, atau tempat yang telah ditahbiskan kepada Allah. Sakrilegi itu lalu merupakan dosa berat khusus, apabila itu ditujukan kepada Ekaristi, karena di dalam Sakramen ini, Tubuh Kristus hadir secara substansial (Bdk. CIC, cann. 1367; 1376.)

      Dalam kasus tersebut, kalau anda memang benar-benar terpaksa dan tidak mempunyai sumber dana yang lain untuk memenuhi kebutuhan utama, kecuali dengan menjual liontin yang telah diberkati, maka anda dapat menjualnya kepada teman Katolik anda dan memberitahu mereka bahwa liontin tersebut telah diberkati. Dengan demikian yang membeli liontin anda juga dapat menghormatinya sebagai benda sakramentali. Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  4. Dionysius Topo Mardiyono on

    Salam bu Inggrid. Apakah saya diam saja bila ada orang yang menganiaya saya atau mengebiri aktivitas keagamaan misal tidak boleh latihan koor pada jam belajar karena ada warga yang terganggu, bila kita mengacu pada ayat Mat:5:39. terima kasih.

    • Shalom Dionysius,

      Terus terang saya kurang memahami mengapa anda mengkaitkan ayat Mat 5:39 dengan larangan latihan koor pada jam belajar. Karena menurut hemat saya, nampaknya hal ‘bentrok’ kepentingan ini seharusnya dapat diatasi. Pertanyaannya, apakah ada kemungkinan untuk melakukan latihan koor di tempat lain, sehingga tidak mengganggu warga? Atau, apakah jam/ hari latihannya yang diubah, sehingga lebih dapat diterima oleh warga? Dapatkah diadakan dialog dengan warga setempat, agar diperoleh kata sepakat? Apakah ada yang dapat anda lakukan untuk mendukung juga kegiatan warga setempat dalam rangka membina kerukunan umat beragama? Pernahkah anda membawa masalah ini kepada pastor paroki, supaya beliau dapat membantu mengusahakan jalan keluarnya? Sebab walaupun maksud kegiatan adalah baik, tetapi jika pelaksanaannya malah mengganggu warga setempat, itu juga bukan hal yang baik. Biar bagaimanapun, situasi seperti ini sebaiknya dihindari.

      Jika semua hal di atas sudah diupayakan, plus didukung dengan doa, saya mempunyai pengharapan akan ada jalan keluar yang terbaik yang dapat dilakukan untuk masalah yang anda hadapi. Adakalanya memang kita harus cerdik, walaupun juga tetap tulus, dalam menyelesaikan masalah.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  5. Bagaimana jika seseorang yang berdosa berat terlanjur menerima Hosti dalam waktu lama karena belum memahami secara lebih mendalam bahwa harus mengakui dosa berat itu dulu baru boleh menerima Hosti?? Masih bisakah di ampuni saat mengaku dosa?? Terima kasih sebelumnya

    • Shalom Dia,

      Kalau seseorang berdosa berat dan terlanjur menerima Tubuh Kristus, maka yang harus dilakukan adalah secepatnya menerima Sakramen Tobat. Ceritakan kepada pastor dosa berat anda dan juga dosa dalam kondisi tidak layak (dosa berat) telah menerima Tubuh Kristus, dan dilakukan dalam tempo yang cukup lama. Nanti Romo akan memberikan penitensi dan nasehat yang berguna bagi kehidupan spiritual anda. Yang terpenting adalah benar-benar menyesali dosa tersebut dan berjanji dengan bantuan rahmat Tuhan untuk tidak mengulangi dosa berat tersebut. Semoga anda dapat mempersiapkan diri dengan baik dan yakinlah akan belas kasih Allah yang mengalir dari Sakramen Tobat.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  6. Shalom,

    Ketika saya memperhatikan misa di Amerika sewaktu komuni mereka memakan hosti dan ada yang menyodori mereka sibori untuk diminum darah Kristus satu per satu orang sehabis itu. mengapa di tempat kita tidak ada yang menyodori sibori untuk meminum darah Kristus seperti tata cara mereka?

    Terima kasih

    • Shalom Leonard,
      Sebenarnya, jika Komuni diberikan dengan dua rupa (Hosti dan anggur) maka cara membagikan anggur yang benar adalah dengan menyodorkan piala, karena intinya adalah umat minum dari piala yang sama. (Terimalah dan minumlah….., demikian kata Yesus)
      Di Indonesia Komuni diberikan hanya dalam satu rupa, namun hal ini tidak mengubah makna Komuni kudus. Hal ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  7. anton gunar on

    Salam Dalam Kristus

    Saya ingin bertanya,
    apakah saat kita berdosa kita pantas menerima Kristus dalam Komuni ?
    perlukah kita mengaku dosa terlebih dulu sebelum kita menerima Komuni ?
    apa pengertian mencemarkan Hosti ?

    • Shalom Anton,

      Terima kasih atas pertanyaannya tentang dosa dan Komuni. Gereja mengajarkan bahwa dalam kondisi dosa berat maka umat beriman tidak dapat menerima Komuni. Hal ini berdasarkan pengajaran dari Rasul Paulus di 1Kor 11:27-29. Katekismus Gereja Katolik (KGK) mengajarkan:

      1385. Untuk menjawab undangan ini, kita harus mempersiapkan diri untuk saat yang begitu agung dan kudus. Santo Paulus mengajak supaya mengadakan pemeriksaan batin: “barang siapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu. Karena barang siapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya” (1 Kor 11:27-29) Siapa yang sadar akan sebuah dosa besar, harus menerima Sakramen Pengakuan sebelum ia menerima komuni.

      1415. Siapa yang hendak menerima Kristus dalam komuni Ekaristi, harus berada dalam keadaan rahmat. Kalau seorang sadar bahwa ia melakukan dosa berat, ia tidak boleh menerima Ekaristi tanpa sebelumnya menerima pengampunan di dalam Sakramen Pengakuan.

      Pertanyaan anda tentang mencemarkan hosti adalah berhubungan dengan KGK yang telah saya sebutkan di atas. Kita mencemarkan hosti – lebih tepatnya adalah Tubuh Kristus sendiri – dengan cara menerima-Nya walaupun kita tahu bahwa kita berdosa berat dan belum mengakukan dosa di dalam Sakramen Tobat. Semoga keterangan ini dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • Salam Damai Kristus.

        Terima kasih atas penjelasannya pak Stefanus,
        Ya, saya akui kadang saya merasa tidak enak (merasa bersalah) jika dalam keadaan berdosa saya menyambut Komuni dalam Ekaristi, tetapi saya juga merasa tidak enak kepada Yesus Kristus jika saya tidak menyambut TubuhNya pada saat perjamuan Ekaristi, karena berarti saya terlalu sombong dan angkuh serta tidak mempercaya bahwa Tuhan Yesus menerima saya apa adanya dengan segala dosa, kelemahan dan kekurangan.

        Pak Stefanus, sering saya mendapat giliran menjadi tatib (pertugas tata tertib) pada saat Misa di gereja, pada saat Komuni saya selalu mendampingi Romo atau Suster atau Diakon saat mereka membagi Hosti kepada umat. Setahu saya mendampingi Romo/Suster/Diakon saat membagikakan Hosti kepada umat tujuannya adalah agar mencegah pencemaran Hosti secara fisik (jasmani), misalnya mengantongi Hosti, meremas Hosti atau membuangnya setelah mereka terima, dan banyak kejadian kekerasan (khusus didaerah yang mayoritas Katolik) akibat pencemaran Hosti yang dilakukan oleh “oknum umat” atau oleh mereka yang sebenarnya memang tidak tahu tata cara Gereja Katolik khususnya mengenai ketentuan dalam menerima Hosti dalam perjamuan Ekaristi.

        Pertanyaan saya :
        Seandainya ada orang yang berhasil mendapatkan Hosti yang telah diberkati dalam Perjamuan Ekaristi kemudian setelah sampai dirumah atau ditempat lain dia melakukan pelecehan-pelecehan terhadap Hosti misalnya membakarnya, memakai dalam ritual-ritual okultisme, atau menghinanya dengan hal-hal yang tidak pantas, APAKAH KRISTUS DALAM RUPA HOSTI TETAP SUCI (maksudnya apakah Hosti tersebut masih layak dan pantas kita sebut sebagai TUBUH KRISTUS ) ?? dan dosa apakah yang akan ditanggung oleh sipelaku karena perbuatannya ?

        Saya berharap semoga hal seperti ini tidak pernah terjadi dan akan berusaha bertugas sebaik mungkin sebagai petugas tatib sehingga hal-hal seperti ini tidak terjadi.

        Terima kasih, Semoga Kristus memberkati kita semua, Amin.

        • Shalom Anton Gunar,

          Tentang kehadiran Kristus dalam Ekaristi, Katekismus mengajarkan:

          KGK 1377 Kehadiran Kristus dalam Ekaristi mulai dari saat konsekrasi dan berlangsung selama rupa Ekaristi ada. Di dalam setiap rupa dan di dalam setiap bagiannya tercakup seluruh Kristus, sehingga pemecahan roti tidak membagi Kristus (Bdk. Konsili Trente: DS 1641).

          Dengan demikian setelah konsekrasi, kehadiran Kristus tetap ada dalam rupa Hosti tersebut, meskipun Misa Kudus telah selesai, dan Hosti itu dibawa pulang, selama Hosti itu masih berupa Hosti. Dalam keadaan ini maka Hosti tetap Hosti Suci, karena Kristus tetap hadir di dalamnya. Namun jika Hosti itu sudah tidak lagi berupa Hosti, maka Kristus tidak lagi hadir di dalamnya. Maka jika seseorang melakukan sesuatu yang tidak pantas terhadap Hosti yang telah dikonsekrasikan tersebut, ia berdosa terhadap Kristus sendiri, dan ia melakukan dosa sakrilegi. Tentang hal ini, Katekismus mengajarkan:

          KGK 2120 Sakrilegi dilakukan seorang yang menajiskan atau tidak menghormati Sakramen-sakramen atau tindakan liturgi yang lain, pribadi, benda, atau tempat yang telah ditahbiskan kepada Allah. Sakrilegi itu lalu merupakan dosa berat khusus, apabila itu ditujukan kepada Ekaristi, karena di dalam Sakramen ini, Tubuh Kristus hadir secara substansial (Bdk. CIC, cann. 1367; 1376).

          Sayapun berharap agar hal- hal sakrilegi ini tidak terjadi.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

          • Anton Gunar on

            Salam Damai Kristus

            Terima kasih bu Inggrid atas penelasannya….
            sekarang saya tidak heran jika terjadi banyak mujizat berkaitan dg Hosti Suci Kristus, karena bagaikan emas, sekalipun dia dibuang ke tempat sampah, emas tetaplah emas.
            Dan secara pribadi saya akui, walaupun saya hanya orang biasa dan banyak dosa, tetapi Hosti Suci memberikan suka-cita, damai dan perasaan aman dan nyaman kepada saya, sehingga selalu ada kerinduan utk kembali menyambut Hosti yang sama dilain kesempatan, dan buah kehadiran Kristus dalam diri saya melalui Hosti Suci yg saya santap juga terasa bagi orang disekitar saya, walaupun mereka tdk mengungkapkannya tetapi dari pandangan mata mereka seakan mereka melihat sesuatu yg lain dalam diri saya.

            Semoga orang semakin menghormati Yesus dalam rupa Roti, dan saya percaya Tuhan juga tidak akan membiarkan orang berbuat dosa sakrilegi, Dia akan menjaga kekudusannya baik seara langsung maupun melalui kita umatnya.

            Damai Kristus besertamu, Inggrid.

  8. Masih ber kaitan dengan komuni, saya mau tanya mengapa anggur yang di gunakan untuk komuni adalah anggur yang cendrung minuman keras ? Berbeda dengan yang di pakai umat protestan yang memakai juice anggur yang bisa di dapat di mall2 ? Terimakasih Bu Inggrid Tuhan memberkati.

    • Shalom Mike,

      Gereja Katolik menggunakan wine, bukan grape juice, karena besar kemungkinan Yesus Yesus meminum wine pada saat Perjamuan Terakhir, dan bukan jus anggur.

      Berikut ini adalah jawaban yang saya kutipdan terjemahkan dari penjelasan Fr. John Noone, yang saya peroleh dari Catholic Answers, klik di sini:

      “Yesus minum wine…. Mari lihat kenyataan historis. Anggur dipanen pada musim gugur, dan Paskah (pada saat Perjamuan Terakhir), jatuh pada musim semi. Tanpa lemari es, anggur (dan grape juice) tidak akan tahan. Dalam beberapa hari setelah dipanen, anggur mulai terfermentasi atau akan membusuk. Metoda pengawetan yang ada pada abad pertama adalah untuk memerasnya (membuat ekstrak anggur) dan membiarkannya terfermentasi dalam keadaan yang terkontrol (disebut sebagai pembuatan anggur) atau untuk mengeringkan anggur, sehingga menghasilkan semacam kismis. Pada saat Perjamuan Terakhir, Yesus mengatakan, “Aku tidak akan minum lagi hasil pokok anggur ini …. (Mat 26:29). Pada saat itu, mereka membuat wine dari banyak macam buah- buahan, tetapi wine yang dari anggur, yaitu hasil pokok anggur, adalah yang digunakan pada saat Perjamuan Terakhir. Karena saat itu adalah musim semi, dan liturgi Paska menentukan agar umat meminum empat cawan anggur, grape juice yang terfermentasi (wine) adalah yang paling mungkin digunakan. Jika tidak, misalnya, ada mukjizat yang lain dari keadaan natural, tentulah salah satu penulis Injil akan mengatakannya, seperti yang dilakukan oleh penulis Injil pada mujizat- mujizat Yesus yang lainnya. Ketentuan tentang merayakan Paskah menyebutkan agar anggur di cawan tersebut diencerkan dengan air. Ini perlu, sebab proses fermentasi membuatnya menjadi kuat dan juga bejana- bejana tempat menyimpan anggur agak berpori dan anggur cenderung menjadi kental dengan bertambahnya waktu, karena kadar airnya menguap. Ini adalah latar belakang historis mengapa imam menambahkan setitik air ke piala pada saat liturgi Ekaristi. Wine yang tidak diproteksi dari udara ketika disimpan akan menjadi anggur asam (cuka).”

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Alexander Pontoh on

        Bu Inggrid… saya ada pertanyaan… hanya saja saya merasa pertanyaan saya kali ini agak konyol… tapi ini cukup membuat saya bertanya-tanya

        boleh kah kita melakukan ini?

        kita duduk bersama. kemudian kita makan roti sambil minum jus anggur. untuk mengenang perjamuan terakhir.

        karena seingat saya… ada yg bilang kalo kita hanya boleh mengenang perjamuan terakhir yaitu di Misa.

        kalau Bu Inggrid merasa ini pertanyaan ini bisa berguna… silahkan ditampilkan.

        • Shalom Alexander,
          Boleh saja jika kita makan roti sambil minum jus anggur, lalu mengenang Perjamuan Terakhir. Tetapi efeknya hanya mengenang saja, tetapi tidak menghadirkan Yesus. Di dalam Ekaristi, yang dirayakan dalam kesatuan dengan Gereja Katolik, oleh imam tertahbis yang mengatakan kata- kata konsekrasi seperti yang diucapkan Yesus, maka oleh kuasa Roh Kudus, Kristus hadir secara istimewa dalam rupa roti dan anggur itu.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas. org

      • Budi Darmawan Kusumo on

        Syalom Tim Katolisitas,

        Menurutku, kayaknya pada zaman dahulu belum ada JUICE ANGGUR. dan kalaupun tidak mau pake anggur ya itu terserah YESUS, misalnya YESUS mau memakai juice apokat. itu terserah YESUS. Karena darahnya tidak terbatas oleh makanan duniawi yang sangat fana ini.

        Tuhan Yesus Memberkati & Bunda Maria selalu menuntun anda pada putraNYA

        [Dari Katolisitas: Jaman dulu, sebelum membuatnya menjadi wine, anggurnya juga diperas, jadi itu semacam jus anggur juga, hanya saja setelah itu ada proses fermentasi yang dikondisikan. Kenyataan bahwa Yesus memakai anggur tentu ada alasannya, dan lebih baik kita tidak usah mengandaikannya dengan alpukat atau buah yang lain.]

  9. Shalom katolisitas.org,Saya ingin bertanya, apabila Kristus hanya bertahan selama beberapa menit dalam tubuh kita, bagaimana dengan dampak dari memakan tubuh Kristus tersebut? Apakah dampaknya, dan apakah juga hanya bertahan sementara saja? Terima Kasih. Tuhan memberkati.

    [Dari Katolisitas: Pertanyaan serupa sudah pernah dijawab di sini, silakan klik]

  10. Martinus Aloysius Andry on

    Ada yang mengatakan bahwa “TubuhKu adalah benar-benar makanan” , lalu berpegang pada perkataan Yesus tersebut orang berpikiran bahwa ‘makanan itu ya dikunyah’. Yang perlu diperhatikan dari hal ini adalah kemungkinan hosti akan terselip di gigi ketika dikunyah dan setelah itu berusaha dikeluarkan dengan tidak sopannya… Tidak pantas rasanya memperlakukan Tubuh Kristus seperti itu. Tidak bermaksud melarang atau apapun,tapi mohon berhati-hati saja.

    Pax Christe Vobiscum

  11. Yohanes Yudi Purnomo on

    BU Inggrid terkasih,
    Sungguh katekese yang sangat baik… tetapi sayang jarang sekali katekese seperti ini disampaikan kepada umat agar mencapai kedalaman misteri iman… khususnya di beberapa paroki yang pernah saya tinggal.
    Semoga hal ini diserukan oleh Kepausan/KWI agar kami dapat merasakan betapa cinta Tuhan dalam Ekaristi Kudus.
    Semoga Bunda Maria menolong kita semua.

  12. Shalom katolisitas.org,

    Saya ingin bertanya, apabila Kristus hanya bertahan selama beberapa menit dalam tubuh kita, bagaimana dengan dampak dari memakan tubuh Kristus tersebut? Apakah dampaknya, dan apakah juga hanya bertahan sementara saja?

    Terima Kasih.
    Tuhan memberkati.

    • Shalom Yohanes,
      Pertama- tama harus dibedakan sedikitnya ada tiga cara kehadiran Tuhan di dalam diri ciptaan-Nya. Yang pertama adalah kehadiran Allah di dalam mahluk ciptaan-Nya dalam artian Tuhanlah yang memberikan rahmat kehidupan kepada mereka, secara khusus kepada umat manusia yang termiskin dan terhina (lih. Mat 25:40). Yang kedua adalah kehadiran-Nya secara sakramental di dalam setiap sakramen. Ketiga, Yesus hadir secara spiritual/ rohani di dalam diri semua orang yang berada dalam keadaan rahmat (in the state of grace). Keempat, kehadiran Kristus secara istimewa, yaitu secara nyata (real) dan substansial dalam Ekaristi.

      Maka yang disebut sebagai kehadiran Kristus yang sekitar 15 menit tersebut adalah kehadiran-Nya secara real dan substansial tersebut, di mana Yesus dalam keseluruhan-Nya (Tubuh, Jiwa dan ke-Allahan-Nya) berkenan masuk di dalam tubuh kita dan bersatu dengan kita selama waktu sekitar 15 menit tersebut, yaitu pada saat kita menerima Komuni kudus. Sesudahnya, ketika Ekaristi yang kita terima itu telah terurai dalam tubuh kita, maka Kristus sudah tidak lagi hadir secara nyata dan substansial, namun tentu Ia masih hadir di dalam hati kita, memberikan kehidupan ilahi-Nya kepada kita.

      Jadi kehadiran Kristus, dan rahmat ilahi-Nya inilah yang seharusnya mengubah kita menjadi semakin kudus, menjadikan kita bertumbuh di dalam iman, pengharapan dan kasih. Maka walau kehadiran Kristus secara real dan substansial di dalam tubuh kita hanya berlangsung sekitar 15 menit, namun dampak kehadiran-Nya ini berlangsung seterusnya. Kehadiran Kristus ini, dan persatuan-Nya dengan kita, membawa kita untuk semakin bertumbuh di dalam Kristus.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  13. Hallo bu Inggrid, kita sering dengan istilah “Apakah kita sudah memanggul Salib” . Apakah arti yang mendalam dari kalimat tersebut ? . Dan satu lagi , kalau kita terima komuni apakah di kulum atau boleh di kunyah ( di gigit ) ? terima kasih.
    Harsen

    [Dari Katolisitas: Pertanyaan ini sudah dijawab di atas, silakan klik]