Berdoa dengan benar secara Katolik

143

Mengapa kita berdoa?

“Prayer is the raising of one’s mind and heart to God or the requesting of good things from God.” But when we pray, do we speak from the height of our pride and will, or “out of the depths” of a humble and contrite heart? He who humbles himself will be exalted; humility is the foundation of prayer. Only when we humbly acknowledge that “we do not know how to pray as we ought,” are we ready to receive freely the gift of prayer. “Man is a beggar before God.” (CCC, 2559)

KGK 2559 “Doa adalah pengangkatan jiwa kepada Tuhan, atau satu permohonan kepada Tuhan demi hal-hal yang baik”. Dari mana kita berbicara, kalau kita berdoa? Dari ketinggian kesombongan dan kehendak kita ke bawah atau “dari jurang” (Mzm 130:1) hati yang rendah dan penuh sesal? Siapa yang merendahkan diri akan ditinggikan (Bdk. Luk 18:9-14). Kerendahan hati adalah dasar doa, karena “kita tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa” (Rm 8:26). Supaya mendapat anugerah doa, kita harus bersikap rendah hati: Di depan Allah, manusia adalah seorang pengemis.

Itulah sebuah pemahaman tentang arti doa dari ajaran Gereja Katolik. Berdoa adalah getaran hati suara nurani yang menyapa Allah. Suatu permohonan dan syukur kepada Allah. Oleh karena itu tidaklah dapat dipungkiri bahwa berdoa merupakan suatu bagian penting bagi orang beriman. Tanpa doa iman kita akan lemah tanpa daya, kering dan tidak berbobot, tapi dengan berdoa iman kita dikuatkan, diteguhkan, ditopang hingga kokoh kuat tak tergoyahkan. Maka kebiasaan berdoa bagi umat Katolik sangatlah penting mulai dari anak-anak hingga orang tua dan kakek nenek tak terkecuali wajib berdoa. Namun berdoa macam mana yang benar secara Katolik? Itulah yang menjadi pokok persoalan kita. Kemarin pada tgl 7 Desember 2010 ketika terjadi pertemuan darat tim katolisitas.org dengan para pengunjung umat katolik di Jakarta, saya menyinggung perihal berdoa secara benar dan katolik. Sudah banyak kali saya mendengarkan orang Katolik berdoa tidak sesuai dengan iman Katolik. Doanya mengambang, intensi tidak berisi dan kesulitan dalam mengakhiri doanya. Lalu bagaimana berdoa secara benar dan Katolik? Menurut pengalaman rohani dari St Theresa dari Lisieux doa adalah:

“For me, prayer is a surge of the heart; it is a simple look turned toward heaven, it is a cry of recognition and of love, embracing both trial and joy” (suatu gelora, sentakan dalam hati, sebuah penglihatan kembali untuk ke depan menuju tahta surgawi, sebuah jeritan pengetahuan akalbudi dan cinta yang memeluk keduanya dalam suatu cobaan dan sukacita (bdk. St. Therese of Lisieux, Manuscrits autobiographiques, C 25r.).

Berdoalah menurut pola ”Doa Bapa Kami”.

Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. [Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.] (Matius 6:9-13). Dalam doa Bapa Kami ada 3 pokok penting yang mendapat perhatian saat kita hendak doa: 1). Menyebut nama Allah dengan atributnya (kemahakuasaan Allah). Menyapa Allah sebagai Bapa yang sungguh dekat di hati manusia. Dia yang tidak jauh namun ada dan tinggal di anatara kita sebagai Bapa kita. Memohon datangnya kerajaan-Nya di dunia. 2). Intensi (permohonan) kita kepada Allah Bapa yakni rezeki setiap hari, kesehatan jiwa dan badan. 3) Menutup doa dengan memohon agar dikuatkan iman kita sehingga tidak jatuh dalam pencobaan. Terakhir setiap doa yang benar dan katolik ditutup dengan rumusan panjang lengkap bersifat trinitaris Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus, atau rumusan pendek kristologis, yaitu “…. Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami.” Pola doa Bapa Kami juga memberikan contoh kepada kita untuk berdoa secara benar dan sungguh Katolik (di bawah artikel ini diberikan contoh yang benar).

Sifat-sifat yang menyertai doa yang benar:

a) Berdoalah dengan tekun.

Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. (Matius 7:7). Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Kata-Nya: “Dalam sebuah kota ada seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun. Dan di kota itu ada seorang janda yang selalu datang kepada hakim itu dan berkata: Belalah hakku terhadap lawanku. Beberapa waktu lamanya hakim itu menolak. Tetapi kemudian ia berkata dalam hatinya: Walaupun aku tidak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku.” Kata Tuhan: “Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? (Lukas 18:1-7). Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama,… (Kisah Para Rasul 1:14)

b) Berdoalah secara tersembunyi dengan rendah hati.

Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu. (Matius 6:6). Tempat tersembunyi yang dimaksudkan dalam sabda Tuhan ini adalah di dalam hati. Hati adalah tempat kita berjumpa dengan Tuhan. Kerendahan hati adalah dasar dari doa yang benar. Berdoalah dengan rendah hati dan dengan pertobatan. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.” (Lukas 18:13).

c) Berdoalah dengan tidak bertele-tele.

Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan (Matius 6:7). Ia berkata kepada mereka: “Berdoalah supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan” (Lukas22:40).

d) Berdoalah dalam pribadi Tuhan Yesus.

Dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya.” (Yohanes 14:13-14). Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya (Yohanes 15:7). Berdoalah dengan iman dan keyakinan bahwa doamu sedang dikabulkan. Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu (Markus.11:24).

e) Berdoalah dengan kuasa dari Roh Kudus.

”Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Lukas 11:13). ”Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi.” (Lukas 24:49). ”Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kisah 1:8)

f) Berdoa itu mempersatukan umat beriman dengan Allah Bapa.

Hal ini ditekankan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus 3:18-21: “Aku berdoa supaya kamu bersama-sama dengan semua orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu yang melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa supaya kamu dipenuhi dalam seluruh kepenuhan Allah. Bagi Dia  yang dapt melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita. Bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun temurun sampai selama-lamanya”. Teks dari “Catechism of the Catholic Church”  (Katekismus Gereja Katolik) di bawah ini menambah pemahaman kita tentang berdoa.

“In the New Covenant, prayer is the living relationship of the children of God with their Father who is good beyond measure, with his Son Jesus Christ and with the Holy Spirit. The grace of the Kingdom is “the union of the entire holy and royal Trinity….with the whole human spirit.” Thus, the life of prayer is the habit of being in the presence of the thrice-holy God and in communion with him. This communion of life is always possible because, through Baptism, we have already been united with Christ. Prayer is Christian insofar as it is communion with Christ and extends throughout the Church, which is his Body. Its dimensions are those of Christ’s love” (CCC, 2565).

KGK 2565      Dalam Perjanjian Baru, doa adalah hubungan yang hidup anak-anak Allah dengan Bapanya yang tidak terhingga baiknya, bersama Putera-Nya Yesus Kristus dan dengan Roh Kudus. Rahmat Kerajaan Allah adalah “persatuan seluruh Tritunggal Mahakudus dengan seluruh jiwa” manusia (Gregorius dari Nasiansa, or. 16,9). Dengan demikian, kehidupan doa berarti bahwa kita selalu berada dalam hadirat Allah yang tiga kali kudus dan dalam persekutuan dengan Dia. Persekutuan hidup ini memang selalu mungkin, karena melalui Pembaptisan kita sudah menjadi satu dengan Kristus (Bdk. Rm 6:5). Doa itu Kristen, sejauh ia merupakan persekutuan dengan Kristus dan menyebar luas di dalam Gereja, Tubuh Kristus. Ia merangkum segala sesuatu, sama seperti cinta kasih Kristus (Bdk. Ef 3:18-2).

Contoh doa pribadi yang benar dan Katolik.

Allah Bapa kami yang mahabaik, kami bersyukur untuk hari baru ini yang telah Kau anugerahkan bagi kami. Engkau telah melindungi kami selama semalam yang telah berlalu dan memberikan begitu banyak rezeki hingga saat ini. Kami mohon berikanlah kami hati yang sanggup bersyukur dan hati yang selalu memberi kepada orang lain dari anugerah yang telah kami terima daripada-Mu. Semoga kami sanggup melakukan itu dengan menolong sesama yang berkekurangan. Doa ini kami sampaikan kepadamu dengan pengantaraan Yesus Kristus Tuhan dan pengantara kami yang hidup bersama Dikau dalam persatuan dengan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin. (Penutup doa bersifat trinitaris: Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus)

Tuhan Yesus Kristus, kami bersyukur atas penyertaanmu sepanjang hari ini. Kami menyadari bahwa banyak kesalahan dan kekurangan telah kami lakukan sepanjang hari ini. Kami mohon pengampunan darimu dan berilah kami kekuatan untuk bangkit dari kesalahan kami. Semoga besok kami mampu menjadi murid-Mu yang sejati. Karena Engkaulah Tuhan dan Pengantara kami yang hidup dan berkuasa kini dan sepanjang masa. Amin. (Penutup doa bersifat kristologis di mana Kristus menjadi pengantara kita satu-satunya dan bersifat universal kepada Allah Bapa).

Share.

About Author

Romo RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. adalah Hakim Tribunal Keuskupan Denpasar dan Regio Gerejawi Nusra, Sekretaris Komisi Seminari KWI, BKBLII dan pengurus UNIO Indonesia. Lulusan Fakultas Hukum Gereja di Universitas Pontifikal Urbaniana, Roma 2001.

143 Comments

  1. christia nt on

    Syaloom, dalam kasih Tuhan Yesus menyertai tim Katolisitas.
    saya belum Katolik, namun
    saya selalu doa Rosario, Koronka, dan 15 Bapa kami ,Salam Maria, 2 (bapa kami,salam maria, kemuliaan) setiap hari.
    Pertanyaan saya,
    Apa saya dapat terus berdoa mengikuti tata cara Katolik?
    Apa ada doa yang perlu diperlengkapi lagi dalam doa-doa saya tiap hari?
    Apa Tuhan mau mendengarkan doa saya? mengingat saya belum katolik?
    Saya sering bingung kepada siapa saya berdoa, apakah Maria atau Yesus?

    Saya hanya suka beroa setiap hari,. Mohon Tuntunannya, TUHAN memberkati tim Katolisitas :)

    • Shalom Christia,

      Tentu saja boleh, jika Anda memang terpanggil untuk berdoa secara Katolik. Sebab Tuhan dapat memberikan rahmat-Nya kepada semua orang, tanpa kecuali. Namun jika Anda terdorong oleh rahmat Tuhan untuk menjadi Katolik, memang pertanyaannya adalah apakah Anda bersedia menanggapinya. Sebab jika Anda bersedia, tentu rahmat Allah itu akan ditambahkan lagi oleh Allah kepada Anda.

      Jika Anda dibaptis dan menjadi Katolik, maka artinya Anda memperoleh pengampunan dosa, digabungkan dengan Kristus, memperoleh hidup ilahi di dalam Dia. Anda menjadi tempat kediaman Roh Kudus-Nya. Dengan demikian, Anda sungguh menghidupi makna perkataan doa ‘di dalam nama Yesus’, sebab Roh-Nya berdiam di dalam Anda.

      Tuhan memang akan mendengarkan setiap doa kita. Tuhan berjanji akan mengabulkan doa yang dimohonkan dalam nama-Nya, agar nama Allah Bapa dimuliakan di dalam Yesus (lih. Yoh 14:13). Maka di dalam setiap permohonan kita, kita memohonnya demi kemuliaan nama Tuhan. Doa yang sedemikian, dan yang dimohonkan di dalam nama Yesus, akan dikabulkan oleh Tuhan, pada waktu-Nya.

      Gereja Katolik mengajarkan agar kita berdoa kepada Allah Bapa di dalam Yesus. Sebab Sebab di dalam Yesus-lah kita dapat menyebut Allah sebagai Bapa.

      Selanjutnya tentang makna doa Bapa Kami, klik di sini.

      Sedangkan jika dikatakan kita berdoa kepada Bunda Maria, maksudnya adalah kita memohon agar ia mendoakan kita, atau agar ia menyampaikan doa-doa kita kepada Yesus Puteranya.

      Selanjutnya tentang apakah itu Devosi kepada Bunda Maria, silakan klik di sini.
      Dan Mengapa Umat Katolik Menghormati Bunda Maria, klik di sini.

      Adalah sesuatu yang baik jika Anda mengalami kerinduan untuk berdoa. Percayalah itu adalah suatu dorongan dari Allah sendiri, agar Anda dapat menjadi semakin lebih dekat kepada-Nya. Semoga Tuhan memampukan Anda juga untuk menanggapi dan bekerja sama dengan dorongan rahmat-Nya itu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  2. Selamat siang tim katolisitas.
    Saya mau bertanya, sebenarnya kalau kita berdoa itu, kita berdoa kepada siapa? Allah Bapa ataukah Yesus?
    Kata Bapak saya, kita itu berdoa kepada Allah Bapa dengan perantaraan Yesus. Tapi sampai sekarang saya belum memahami maksud kalimat tersebut dengan baik. Saya belum tahu apa sapaan yg tepat dalam doa saya, kepada Allah atau kepada Yesus. Karena selama ini saya berdoa dengan menyapa Yesus. Apakah itu salah? Mohon pencerahannya kepada saya yg kebingungan ini. Terima kasih.

    [Dari Katolisitas: Silakan membaca artikel di atas, silakan klik. Bapak Anda benar, Andapun benar.]

  3. michael heriyanto on

    Saya mau bertanya.. sepengetahuan saya kata amin adalah kata untuk mengakhiri/ menutup doa. Tetapi kenapa kalo dikatolik doa pembukaan justru dalam nama bapa dan putra dan roh kudus amin lalu berdoa …… dan terakhir melakukan pengulangan lagi dalam nama bapa dan putra dan roh kudus amin… kenapa dlm doa pembuka harus berkata dalam nama bapa dan putra dan roh kudus amin… bukankah sebaiknya .contoh: ya Tuhan saya mengucap syukur atas hari ini atas kesehatan, rezeki, perlindugan, yang telah kau berikan kepada kami. Dan saya juga memohon ampun atas segala dosa yang telah saya perbuat. Ya Tuhan saya juga mohon agar engkau terus mejaga aku agar aku tetap dijalanmu. Dalam nama bapa dan putra dan roh kudus amin. Mohon pencerahannya sekian dan terima kasih

    [dari katolisitas: Tanda salib begitu dalam maknanya. Silakan membaca dalamnya makna tanda salib - silakan klik]

    • michael heriyanto on

      sebenarnya yang saya pertanyakan adalah kata amin itu bukan tanda salibnya… jadi biar lebih jelas saya ingin mengetahui terlebih dahulu apa arti amin itu sendiri??

      • Shalom Michael,

        Penggunaan kata Amin dapat kita temukan baik di dalam Kitab Suci PL dan PB, juga dalam liturgi dan doa-doa. Dari sisi etimologi kata amin berarti dengan sungguh, ungkapan konfirmasi dan persetujuan akan satu satu ungkapan religius.

        Dengan kata lain, kalau kita kembalikan kepada diskusi kita, maka kita tetap dapat menggunakan kata Amin baik di bagian agak awal, tengah, maupun akhir, karena kata amin tidak hanya digunakan sebagai penutup. Kitab Wahyu menuliskan “Ia yang memberi kesaksian tentang semuanya ini, berfirman: “Ya, Aku datang segera!” Amin, datanglah, Tuhan Yesus!” (Why 22:20). Kalau kita membuat tanda salib di awal doa, maka kita mau memberikan persetujuan iman kita, yaitu dalam Tritunggal Maha Kudus, sehingga setelah tanda salib dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus, kita katakan Amin. Kemudian kita berdoa, dan akhirnya kita dapat mengatakan Amin juga, sebagai persetujuan akan pertobatan, permohonan, pujian dan penyembahan kita dalam doa. Dan kita tutup dalam ungkapan iman kita dengan tanda salib, dan kita memberikan konfirmasi kembali dengan mengatakan Amin. Semoga dapat memperjelas.

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        stef – katolisitas.org

  4. Aku mohon untuk didoakan study saya, krn sya lagi mau menyusun tugas akhir di perkuliahan, biar berjalan dengan lancar tanpa hambatan dari setan dan cobaan.
    Dan biar aku diberi kelimpahan dan kesanggupan untuk membiayai perkuliahan ku, krn aku biaya sendiri.
    amin

  5. syaloom tim katolisitas
    saya evelyn.
    saya ingin membuat buku doa untuk mengenang ibunda saya yang telah meninggal dan untuk rasa syukur saya krn telah dirawat. Dan buku ini akan dibagikan gratis, mgkn dlm jumlah terbatas. Yang saya ingin tanyakan, doa2 apa yang sebaiknya ada di dlm buku? Karena saya tidak ingin menyebarkan doa2 yg ternyata bertentangan dengan cinta kasih.
    Terima kasih atas perhatiannya.

    evelyn

    • Shalom Evelyn,

      Umumnya teks doa tidak bertentangan dengan cinta kasih. Namun yang mungkin perlu diperiksa apakah teks tersebut sesuai dengan ajaran iman Katolik. Silakan Anda mencari di internet tentang doa-doa yang umum bagi umat Katolik. Salah satunya adalah yang tercantum di situs EWTN, silakan klik; atau jika Anda ingin memperoleh lebih banyak contoh doa, silakan membaca di situs ini yang memuat sekitar 3500-an contoh doa, klik di link ini.

      Atau, jika Anda ingin mengutip doa dalam bahasa Indonesia, silakan mengutip banyak doa yang tercantum di buku Puji Syukur, maupun banyak buku doa lainnya yang dikeluarkan oleh para religius dari Ordo tertentu, sebab umumnya buku-buku doa itu telah dilengkapi dengan nihil obstat dan imprimatur, artinya, pengakuan dari pihak otoritas Gereja Katolik bahwa teksnya tidak ada yang bertentangan dengan ajaran iman Katolik dan karena itu dapat dicetak/ diprint. Anda dapat mengutip teks doa tersebut dan memasukkannya dalam buku kecil yang ingin Anda bagikan kepada kerabat/ sahabat-sahabat Anda.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  6. Ignatius Priadi on

    Berusahalah untuk menjadi “Hamba Tuhan” yang tidak MUNAFIK !!!, Semua orang pintar berbicara dan bersiasat, tetapi sulit untuk menjadi manusia yang mau bebuat tulus untuk kebaikan. Selama manusia masih mencari keduniawian semata jangan pernah mengajarkan kebajikkan tentang “IMAN” dan beragama. Sebab beriman artinya percaya bahwa manusia itu sendirilah yang tahu akan kebajikan utk dapat diterima atau tidak oleh “Tuhannya / Allahnya”

    [dari katolisitas: Terima kasih atas masukannya. Menjadi hamba Tuhan yang baik memang tantangan bagi kita semua. Mari kita bersama-sama berjuang untuk menjadi hamba Tuhan yang baik.]

  7. apakah ada perbedaan fungsi antara doa spontan dan doa yang sudah tertulis atau suda ada, seperti dalam bentuk buku-buku doa lalu di doakan?

    [Dari Katolisitas: Doa adalah komunikasi kita dengan Allah, maka doa yang baik adalah doa yang keluar dari hati. Doa spontan atau doa-doa yang sudah tercetak di buku, tetap dapat didoakan dengan sungguh-sungguh dan keluar dari hati. Dapat pula doa dinyatakan tanpa kata-kata -yaitu doa hening- dengan kita mengarahkan hati dan pikiran kepada Tuhan, dan menikmati hadirat-Nya. Itu juga adalah doa yang baik. Namun bentuk doa syukur yang tertinggi adalah Ekaristi, saat kita bersama-sama dengan Kristus dan Gereja-Nya memperingati Misteri Penebusan kita, yang dicapai melalui sengsara, wafat, kebangkitan dan kenaikan Kristus ke Surga.]

  8. Bagaimanakah cara berdoa yang benar? disatu kesempatan saya mendengarkan sebuah ceramah tentang doa, apakah harus kita doa dengan menuntut seperti terjadi di dalam alkitab? apakah itu benar?? atau saya yang salah menangkap?? lalu apakah kita harus selalu meminta pertanda setiap kita mengambil keputusan?? bagaimanakah kita tau kalau pertanda itu benar apabila benar??

    [Dari Katolisitas: Silakan membaca artikel di atas. Jangan lupa doa yang diajarkan oleh Kristus sendiri, yaitu Doa Bapa Kami. Jika kita berdoa dengan sikap kerendahan hati, maka kita tidak akan menuntut Tuhan untuk melakukan ini dan itu menurut kehendak kita, tetapi kita akan bersyukur dan memohon kepada-Nya dengan sikap percaya yang penuh, bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik kepada kita. Maka sikap yang terbaik adalah seperti yang ditunjukkan oleh Kristus dan Bunda Maria pada saat berdoa, "Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu, ya Tuhan", "Bukan kehendakku tetapi kehendak-Mulah yang terjadi."]

Add Comment Register



Leave A Reply