Adakah Kristus di gereja- gereja Protestan?

Pertanyaan:

Dear pengasuh katolisitas.org,
Beberapa waktu yang lalu saya membaca buku tentang Wanita dan Naga yang mengulas penampakan-penampakan Bunda Maria, saya membaca tentang Martin Luther dan Protestanisme, asal muasal sola fide. Dan juga perlakuan orang Protestan terhadap orang-orang Katolik di Irlandia pada abad lampau. Jelas orang-orang Protestan menentang/ memusuhi Katolisme, sekarang dengan begitu banyak denominasi apakah mereka masih bisa disebut Kristen, karena menurut Katolik merekalah yang keluar jalur, sehingga lahir penafsiran2 alkitab ‘dicocok’ kan dengan kebutuhan. Terus terang teologi kemakmuran ala Protestan sangat menggangu pemikiran saya, sangat kontras dengan teladan santo-santa yang mau menderita demi orang lain. Pertanyaan saya, mohon maaf kalau agak keras; Apakah Kristus ada di gereja-gereja Protestan? Apakah gereja Protestan itu yang disebut dalam kisah, tentang seorang bukan murid Yesus mengusir setan dalam namaNya? Bukankah Kristus menghendaki persatuan bukannya perpecahan? Demikian terima kasih.
Antonius Widya.

Jawaban:

Shalom Antonius Widya,

Memang patutlah disayangkan bahwa di dalam sejarah Gereja, terjadi perpecahan yang membawa dampaknya sampai sekarang. Hal perpecahan ini memang tidak sesuai dengan kehendak Kristus yang menghendaki Gereja-Nya Satu (lih. Yoh 17:20-21).

Untuk menjawab pertanyaan anda, saya mengacu kepada apa yang diajarkan oleh Magirsterium Gereja Katolik dalam Konsili Vatikan II, Unitatis Redintegratio (Dekrit tentang Ekumenisme):

3. (Hubungan antara saudara-saudari yang terpisah dan Gereja Katolik)

“Dalam satu dan satu-satunya Gereja Allah itu sejak awalmula telah timbul berbagai perpecahan (Lih. 1Kor 11:18-19 ; Gal 1:6-9 ; 1Yoh 2:18-19), yang oleh Rasul dikecam dengan tajam sebagai hal yang layak dihukum (Lih. (1Kor 1:11- dan 1Kor 11:22). Dalam abad-abad sesudahnya timbullah pertentangan-pertentangan yang lebih luas lingkupnya, dan jemaat-jemaat yang cukup besar terpisahkan dari persekutuan sepenuhnya dengan Gereja Katolik, kadang-kadang bukan karena kesalahan kedua belah pihak. Tetapi mereka, yang sekarang lahir dan dibesarkan dalam iman akan Kristus di jemaat-jemaat itu, tidak dapat dipersalahkan dan dianggap berdosa karena memisahkan diri. Gereja Katolik merangkul mereka dengan sikap bersaudara penuh hormat dan cinta kasih. Sebab mereka itu, yang beriman akan Kristus dan dibaptis secara sah, berada dalam suatu persekutuan dengan Gereja Katolik, meskipun persekutuan ini tidak sempurna. Perbedaan- perbedaan yang ada dalam derajat yang berbeda di antara mereka dan Gereja Katolik- baik perihal ajaran dan ada kalanya juga dalam tata-tertib, maupun mengenai tata-susunan Gereja, memang menciptakan banyak hambatan, kadang menjadi hambatan yang serius, terhadap persekutuan gerejawi yang penuh. Gerakan ekumenis bertujuan mengatasi hambatan-hambatan itu. Sungguhpun begitu, karena mereka dalam Baptis dibenarkan berdasarkan iman, mereka disaturagakan dalam Kristus. Oleh karena itu mereka memang dengan tepat menyandang nama kristen, dan tepat pula oleh putera-puteri Gereja katolik diakui selaku saudara-saudari dalam Tuhan (Lih. St. Agustinus, Uraian tentang Mzm 32, Ur.II, 29: PL 36, 299).

Kecuali itu, dari unsur-unsur atau nilai-nilai, yang keseluruhannya ikut berperanan dalam pembangunan serta kehidupan Gereja sendiri, beberapa bahkan banyak sekali yang sangat berharga, yang dapat ditemukan di luar kawasan Gereja Katolik yang kelihatan: Sabda Allah dalam Kitab suci, kehidupan rahmat, iman, harapan dan cinta kasih, begitu pula kurnia-kurnia Roh kudus lainnya yang bersifat batiniah dan unsur-unsur lahiriah. Itu semua bersumber pada Kristus dan mengantar kepada-Nya, dan memang selayaknya termasuk gereja Kristus yang tunggal.

Tidak sedikit pula upacara-upacara agama kristen, yang diselenggarakan oleh saudara-saudari yang tercerai dari kita. Upacara-upacara itu dengan pelbagai cara dan menurut bermacam-ragam situasi masing-masing Gereja dan jemaat sudah jelas memang dapat menyalurkan hidup rahmat yang sesungguhnya, dan harus diakui dapat membuka pintu memasuki persekutuan keselamatan.

Oleh karena itu Gereja-Gereja dan Jemaat-Jemaat yang terpisah, walaupun menurut pandangan kita diwarnai oleh kekurangan-kekurangan, sama sekali bukannya tidak berarti atau bernilai dalam misteri keselamatan. Sebab Roh Kristus tidak menolak untuk menggunakan mereka sebagai upaya-upaya keselamatan, yang kekuatannya bersumber pada kepenuhan rahmat serta kebenaran sendiri, yang dipercayakan kepada Gereja katolik.

Akan tetapi saudara-saudari yang tercerai dari kita, baik secara perorangan maupun sebagai Jemaat dan Gereja, tidak menikmati kesatuan, yang oleh Yesus Kristus hendak dikurniakan kepada mereka semua, yang telah dilahirkan-Nya kembali dan dihidupkan-Nya untuk menjadi satu tubuh, bagi kehidupan yang serba baru, menurut kesaksian Kitab suci dan tradisi Gereja yang terhormat. Sebab hanya melalui Gereja Kristus yang katoliklah, yakni upaya umum untuk keselamatan, dapat dicapai seluruh kepenuhan upaya-upaya penyelamatan. Sebab kita percaya, bahwa hanya kepada Dewan Para Rasul yang diketuai oleh Petruslah Tuhan telah mempercayakan segala harta Perjanjian Baru, untuk membentuk satu Tubuh Kristus di dunia. Dalam tubuh itu harus disaturagakan sepenuhnya siapa saja, yang dengan suatu cara telah termasuk umat Allah, selama berziarah di dunia, umat itu, meskipun dalam para anggotanya tetap tidak terluputkan dari dosa, berkembang dalam Kristus, dan secara halus dibimbing oleh Allah, menurut rencana-Nya yang penuh rahasia, sampai akhirnya penuh kegembiraan meraih seluruh kepenuhan kemuliaan kekal di kota Yerusalem sorgawi.” (UR 3)

Dengan berpegang pada pengajaran ini, maka saya menjawab pertanyaan anda:

Ya, Kristuspun ada di dalam gereja- gereja Protestan, sebab Kristus, di dalam kebijaksanaan-Nya dapat memakai banyak cara untuk menuntun manusia kepada keselamatan. Namun kepenuhan Kristus dan kepenuhan upaya- upaya penyelamatan hanya ada di dalam Gereja Katolik yang didirikan oleh Kristus di atas Rasul Petrus (lih. Mat 16:18).

Karena kepenuhan Kristus, rahmat dan kebenaran-Nya ada di dalam Gereja Katolik, maka sebagai umat Katolik kita sesungguhnya dituntut banyak (lih. Luk 12:48), dan hal ini harus mendorong kita untuk mewartakannya. Kesadaran bahwa Kristus ada juga di dalam gereja- gereja yang lain tidak dimaksudkan agar kita tidak perlu mewartakan kepenuhan Kristus. Sebaliknya, kita perlu memahami iman Katolik yang kita terima sebagai warisan iman dari para Rasul agar kitapun dapat memiliki kehendak yang sama dengan Kristus dan para Rasul, yaitu mengusahakan persatuan Gereja-Nya, seperti yang didoakan oleh Kristus dalam Yoh 17.

Di jaman dahulu memang terjadi perpecahan (pemisahan diri) antara sekelompok jemaat yang dipimpin oleh tokoh- tokoh tertentu, dengan Gereja Katolik; dan hal ini memang tidak sesuai dengan kehendak Kristus. Biarlah mengenai hal ini, kita serahkan kepada Tuhan saja untuk menilai semua orang yang terlibat sehingga terjadi perpecahan itu. Namun, sebaiknya kita mengakui bahwa pada generasi- generasi selanjutnya, dapat muncul orang- orang yang sungguh- sungguh tulus mencari Tuhan sesuai dengan hati nuraninya, sehingga mereka ini tidak dapat dipersalahkan sebagai ‘memisahkan diri’ dari Gereja Katolik. Sebab jika orang- orang semacam ini mencari terus dengan suara hati yang murni, mereka akan dapat sampai kepada Gereja Katolik, seperti yang terjadi pada Cardinal Henry Newman di abad ke 19(1801- 1890), dan Scott Hahn di abad ini, yang kisah kesaksian hidupnya telah kita kenal lewat bukunya Rome Sweet Home, dan juga banyak tokoh/umat Protestan lainnya yang akhirnya menjadi Katolik. Kisah kesaksian hidup mereka yang kemudian bergabung ke pangkuan Gereja Katolik dapat kita simak, di link ini, silakan klik. [Di sana ada 616 video kesaksian bagaimana seseorang yang belum mengenal Gereja Katolik, ataupun yang tadinya 'membenci' Gereja Katolik, akhirnya malah menjadi Katolik, antara lain, setelah mendalami Kitab Suci dan sejarah Gereja, yang memuat ajaran para Bapa Gereja]. Jangan kita lupa, bahwa perpecahan yang terjadi di masa silam pun akhirnya dapat membawa seseorang kepada persatuan penuh dengan Gereja Katolik, seperti yang baru-baru ini terjadi tanggal 10 November 2010 pada 5 orang Kardinal Anglikan yang menyatakan surat pengunduran diri mereka sebagai uskup Anglikan, karena mereka bergabung sepenuhnya dengan Gereja Katolik. Beritanya dapat anda baca di sini, silakan klik.

Maka tugas kita sebagai umat Katolik adalah mendalami iman kita, melaksanakannya dan menyebarkannya. Sebab, walaupun kita percaya bahwa Kristus ada di dalam gereja- gereja lain, dan kebenaran-Nya bahkan ada juga di dalam agama- agama lain, namun kepenuhan Kristus dan kebenaran-Nya hanya ada di dalam Gereja Katolik. Itulah sebabnya kita sebagai umat Katolik mempunyai tanggungjawab yang besar, sebab jika kita sudah menemukan kepenuhan kebenaran ini kita tidak dapat begitu saja meninggalkannya, hanya demi kepentingan pribadi, misalnya karena urusan pekerjaan, pernikahan ataupun selera/ perasaan pribadi. Sebab jika kita menempatkan kepentingan pribadi di atas kepenuhan kebenaran ini, malah kita menjauhkan diri dari jalan yang sudah ditentukan oleh Tuhan Yesus sendiri untuk menyelamatkan kita. Kasus ini menjadi berbeda dengan kasus seseorang yang bukan karena kesalahannya sendiri, belum dapat menemukan Kristus dan Gereja-Nya yang hadir dalam kepenuhan-Nya dalam Gereja Katolik. Silakan membaca selanjutnya tentang topik ini di artikel ini, silakan klik, dan di sini, silakan klik.

Semoga kita diberi kebijaksanaan oleh Tuhan untuk dapat mengakui keberadaan Kristus di tengah umat Kristen non- Katolik, yang adalah juga saudara- saudari kita dalam Kristus, namun pada saat yang sama, kitapun teguh di dalam iman Katolik dan dalam Gereja Katolik, karena di dalamnya, Kristus hadir dalam kepenuhanNya.

Salan kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

PS: Mengenai Teologi kemakmuran sudah dibahas di artikel terpisah, silakan anda baca di sini, silakan klik

Beberapa artikel yang berhubungan:

Beberapa artikel di kategori yang sama:

6 Komentar to Adakah Kristus di gereja- gereja Protestan?

  1. Shalom Bu Inggrid,
    Terima kasih atas penjelasannya, pertanyaan dan pernyataan saya di atas ada yang salah yaitu “Adakah Kristus di gereja- gereja Protestan?” dari penjelasaan Bu Inggrid saya percaya Kristus ada di gereja-geraja non Katolik juga bahkan pada diri setiap orang, karena siapa yang mengasihi sesamanya berarti juga mengasihi Kristus. Saya mohon maaf atas pernyataan dan pertanyaan saya terutama kepada umat Protestan, saya percaya Kristus mencintai kita semua dan menghendaki kita semua selamat.Saya juga berharap umat Protestan melihat Katolik secara “benar” jangan hanya dari kacamata Protestan.
    Catatan : Judul bukunya “Perempuan dan Naga” oleh David Michael Lindsey, bukan ” Wanita dan Naga”. Terima kasih

  2. Dear Bu Ingrid,

    Terima kasih atas penjelasan ibu atas pertanyaan sdr Antonius, akan tetapi ada beberapa hal yang masih membingungkan.

    Dari kutipan UR-3, “Oleh karena itu Gereja-Gereja dan Jemaat-Jemaat yang terpisah, walaupun menurut pandangan kita diwarnai oleh kekurangan-kekurangan, sama sekali bukannya tidak berarti atau bernilai dalam misteri keselamatan. Sebab Roh Kristus tidak menolak untuk menggunakan mereka sebagai upaya-upaya keselamatan, yang kekuatannya bersumber pada kepenuhan rahmat serta kebenaran sendiri, yang dipercayakan kepada Gereja katolik”

    Sejauh saya pahami, itu ditujukan kepada saudara2 kita yang ada dalam Gereja2 yang mempunyai ikatan Apostolik sebagaimana di jelaskan dalam Konsili Lateran jauh sebelum adanya Protestanism. Saya meyakini bahwa gerakan Ekumeni Gereja Katoik lebih di prioritaskan untuk usaha pemersatuan kembali Gereja2 yang terpisah tapi masih memiliki ikatan Apostolik. Bagaimana mungkin menyatukan gereja yang tidak mempunyai ikatan Apostolik ke dalam Gereja Katolik, yang paling mungkin adalah menyatukan umatnya agar kembali kepangkuan Gereja yang didirikan oleh Kristus dan digembalakan oleh Petrus dan suksesi nya.

    Mohon tanggapannya. Terima kasih
    Gerardus

    • Shalom Gerardus,

      Menurut pengetahuan saya, Unitatis Reditegratio itu adalah dokumen Konsili Vatikan II yang dituliskan tentang saudara- saudari kita yang terpisah dari Gereja Katolik, yaitu gereja- gereja Kristen non-Katolik yang tidak mengakui kepemimpinan Paus. Termasuk di sini adalah gereja- gereja Protestan dan gereja- gereja Timur Ortodoks. Sedangkan untuk dokumen tentang Gereja- gereja Timur yang ada dalam persekutuan penuh dengan Gereja Katolik, adalah Orientalium Ecclesiarum.

      Berikut ini saya kutip paragraf 3 Unitatis Redintegratio yang menjelaskan tentang hal ini:

      3. (Hubungan antara saudara-saudari yang terpisah dan Gereja Katolik)

      Dalam satu dan satu-satunya Gereja Allah itu sejak awal mula telah timbul berbagai perpecahan, yang oleh Rasul dikecam dengan tajam sebagai hal yang layak di hukum. Dalam abad-abad sesudahnya timbullah pertentangan-pertentangan yang lebih luas lingkupnya, dan jemaat-jemaat yang cukup besar terpisahkan dari persekutuan sepenuhnya dengan Gereja Katolik, yang seringnya karena kesalahan orang- orang di kedua belah pihak. Tetapi mereka, yang sekarang lahir dan dibesarkan dalam iman akan Kristus di jemaat-jemaat itu, tidak dapat dipersalahkan dan dianggap berdosa karena memisahkan diri. Gereja Katolik merangkul mereka dengan sikap bersaudara penuh hormat dan cinta kasih. Sebab mereka itu, yang beriman akan Kristus dan dibaptis secara sah, berada dalam suatu persekutuan dengan Gereja Katolik, meskipun persekutuan ini tidak sempurna. Perbedaan- perbedaan yang ada dalam derajat yang berbeda di antara mereka dan Gereja Katolik- baik perihal ajaran dan ada kalanya juga dalam tata-tertib, maupun mengenai tata-susunan Gereja, memang menciptakan banyak hambatan, kadang menjadi hambatan yang serius, terhadap persekutuan gerejawi yang penuh. Gerakan ekumenis bertujuan mengatasi hambatan-hambatan itu. Sungguhpun begitu, karena mereka dalam Baptis dibenarkan berdasarkan iman, mereka disaturagakan dalam Kristus. Oleh karena itu mereka memang dengan tepat menyandang nama Kristen, dan tepat pula oleh putera-puteri Gereja Katolik diakui selaku saudara-saudari dalam Tuhan

      Kecuali itu, dari unsur-unsur atau nilai-nilai, yang keseluruhannya ikut berperanan dalam pembangunan serta kehidupan Gereja sendiri, beberapa bahkan banyak sekali yang sangat berharga, yang dapat ditemukan diluar kawasan Gereja katolik yang kelihatan: Sabda Allah dalam Kitab suci, kehidupan rahmat, iman, harapan dan cinta kasih, begitu pula kurnia-kurnia Roh kudus lainnya yang bersifat batiniah dan unsur-unsur lahiriah. Itu semua bersumber pada Kristus dan mengantar kepada-Nya, dan memang selayaknya termasuk gereja Kristus yang tunggal.

      Tidak sedikit pula upacara-upacara agama kristen, yang diselenggarakan oleh saudara-saudari yang tercerai dari kita. Upacara-upacara itu dengan pelbagai cara dan menurut bermacam-ragam situasi masing-masing Gereja dan jemaat sudah jelas memang dapat menyalurkan hidup rahmat yang sesungguhnya, dan harus diakui dapat membuka pintu memasuki persekutuan keselamatan.

      Oleh karena itu Gereja-gereja Jemaat-jemaat yang terpisah, walaupun menurut pandangan kita diwarnai oleh kekurangan-kekurangan, sama sekali bukannya tidak berarti atau bernilai dalam misteri keselamatan. Sebab Roh Kristus tidak menolak untuk menggunakan mereka sebagai upaya-upaya keselamatan, yang kekuatannya bersumber pada kepenuhan rahmat serta kebenaran sendiri, yang dipercayakan kepada Gereja katolik.

      Akan tetapi saudara-saudari yang tercerai dari kita, baik secara perorangan maupun sebagai Jemaat dan Gereja, tidak menikmati kesatuan, yang oleh Yesus Kristus hendak dikurniakan kepada mereka semua, yang telah dilahirkan-Nya kembali dan dihidupkan-Nya untuk menjadi satu tubuh, bagi kehidupan yang serba baru, menurut kesaksian Kitab suci dan tradisi Gereja yang terhormat. Sebab hanya melalui Gereja Kristus yang katoliklah, yakni upaya umum untuk keselamatan, dapat dicapai seluruh kepenuhan upaya-upaya penyelamatan. Sebab kita percaya, bahwa hanya kepada Dewan Para Rasul yang diketuai oleh Petruslah Tuhan telah mempercayakan segala harta Perjanjian Baru, untuk membentuk satu Tubuh kristus di dunia. Dalam tubuh itu harus disaturagakan sepenuhnya siapa saja, yang dengan suatu cara telah termasuk umat Allah, Selama berziarah di dunia, umat itu, meskipun dalam para anggotanya tetap tidak terluputkan dari dosa, berkembang dalam Kristus, dan secara halus dibimbing oleh Allah, menurut rencana-Nya yang penuh rahasia, sampai akhirnya penuh kegembiraan meraih seluruh kepenuhan kemuliaan kekal di kota Yerusalem sorgawi.”

      Sedangkan apa itu gerakan ekumenisme, disebutkan di paragraf no.4:

      “…. Yang dimaksudkan dengan “Gerakan Ekumenis ialah: kegiatan-kegiatan dan usaha-usaha, yang – menanggapi bermacam-macam kebutuhan Gereja dan berbagai situasi – diadakan dan ditujukan untuk mendukung kesatuan umat kristen; misalnya: pertama, semua daya-upaya untuk menghindari kata-kata, penilaian-penilaian serta tindakan-tindakan, yang ditinjau dari sudut keadilan dan kebenaran tidak cocok dengan situasi saudara-saudari yang terpisah, dan karena itu mempersukar hubungan-hubungan dengan mereka; kemudian, dalam pertemuan-pertemuan umat kristen dari berbagai Gereja atau Jemaat, yang diselenggarakan dalam suasana religius, “dialog antara para pakar yang kaya informasi, yang memberi ruang kepada masing-masing peserta untuk secara lebih mendalam menguraikan ajaran persekutuannya, dan dengan jelas menyajikan corak-cirinya. Sebab melalui dialog itu semua peserta memperoleh pengertian yang lebih cermat tentang ajaran dan peri hidup kedua persekutuan, serta penghargaan yang lebih sesuai dengan kenyataan. Begitu pula persekutuan-persekutuan itu menggalang kerja sama yang lebih luas lingkupnya dalam aneka usaha demi kesejahteraan umum menurut tuntutan setiap suara hati kristen; dan bila mungkin mereka bertemu dalam doa sehati sejiwa. Akhirnya mereka semua mengadakan pemeriksaan batin tentang kesetiaan mereka terhadap kehendak Kristus mengenai Gereja, dan sebagaimana harusnya menjalankan dengan tekun usaha pembaharuan dan reformasi.

      Bila itu semua oleh umat Katolik dilaksanakan dengan bijaksana dan sabar dibawah pengawasan para gembala, akan membantu terwujudnya nilai-nilai keadilan dan kebenaran, kerukunan dan kerja sama, semangat persaudaraan dan persatuan. Semoga dengan demikian lambat-laun teratasilah hambatan-hambatan, yang menghalang-halangi persekutuan gerejawi yang sempurna, dan semua orang kristen dalam satu perayaan Ekaristi dihimpun membentuk kesatuan Gereja yang satu dan tunggal. Kesatuan itulah yang sejak semula dianugerahkan oleh kristus kepada Gereja-Nya. Kita percaya, bahwa kesatuan itu tetap lestari terdapat dalam Gereja Katolik, dan berharap, agar kesatuan itu dari hari ke hari bertambah erat sampai kepenuhan zaman.”

      Ya, jadi memang gerakan ekumenisme ini menuju puncaknya dengan persatuan dengan Gereja yang Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik dalam satu perayaan Ekaristi. Untuk mencapai hal ini memang kita semua perlu berdoa dengan sungguh dan sedapat mungkin melakukan bagian kita, pertama- tama dengan mengenali iman Katolik kita sehingga dapat memberikan pertanggungjawabannya kepada saudara- saudari kita yang terpisah, agar mereka juga dapat memahaminya dan merenungkannya sebagai kebenaran yang dari Tuhan Yesus sendiri.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  3. Dear pengasuh katolisitas.org,
    Beberapa waktu yang lalu saya membaca buku tentang Wanita dan Naga yang mengulas penampakan-penampakan Bunda Maria, saya membaca tentang Martin Luther dan Protestanisme, asal muasal sola fide. Dan juga perlakuan orang Protestan terhadap orang-orang Katolik di Irlandia pada abad lampau. Jelas orang-orang Protestan menentang/ memusuhi Katolisme, sekarang dengan begitu banyak denominasi apakah mereka masih bisa disebut Kristen, karena menurut Katolik merekalah yang keluar jalur, sehingga lahir penafsiran2 alkitab ‘dicocok’ kan dengan kebutuhan. Terus terang teologi kemakmuran ala Protestan sangat menggangu pemikiran saya, sangat kontras dengan teladan santo-santa yang mau menderita demi orang lain. Pertanyaan saya, mohon maaf kalau agak keras; Apakah Kristus ada di gereja-gereja Protestan? Apakah gereja Protestan itu yang disebut dalam kisah, tentang seorang bukan murid Yesus mengusir setan dalam namaNya? Bukankah Kristus menghendaki persatuan bukannya perpecahan? Demikian terima kasih.
    Antonius Widya.

    [Dari Katolisitas: Pertanyaan ini sudah dijawab di atas, silakan klik]

    • Larasati Shinta Lukito December 10, 2010 at 10:05 am

      Syalom Ibu Ingrid

      Jawaban yang menyejukkan hati.

      Mengenai perpecahan , saya rasa itu adalah kehendak Tuhan.
      Sama seperti bangsa Israel yang terpecah menjadi Israel dan Yehuda di zaman Rehabeam dan semua itu di-izinkan Tuhan sebab ada maksud-2 tertentu yang sudah direncanakan Tuhan buat umatnya.
      Begitu juga Kristen terpecah menjadi Katolik dan Protestan serta denominasi lainnya pastilah ada maksud dan rencana Tuhan buat umatnya.
      Bagi kita umat Katolik yang terpenting marilah kita tetap melaksanakan ajaran dan perintah Kristus untuk bisa mengasihi walaupun ajaran kita berbeda dengan ajaran Protestan.

      Laras

      • Shalom Laras,

        Sebenarnya, tidak mungkin Tuhan menghendaki perpecahan. Tuhan Yesus menghendaki agar para muridnya bersatu, dan itu tertulis dalam Yoh 17:20-21 demikian:

        “Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” (Yoh 17:20-21)

        Maka kita ketahui, bahwa Tuhan Yesus menginginkan persatuan dan bukannya perpecahan. Fakta bahwa sekarang terjadi perpecahan atau tepatnya pemisahan diri beberapa kelompok komunitas gerejawi dari Gereja yang didirikan oleh Kristus, itu bukan karena kehendak Tuhan, tetapi karena faktor manusianya yang karena satu dan lain hal kemudian tidak lagi mempertahankan persatuan itu. Demikian juga dengan perpecahan antara Israel dan Yehuda. Bahwa Tuhan mengizinkan hal- hal tersebut terjadi, itu adalah karena Tuhan menghormati kehendak bebas manusia; dan meskipun demikian Tuhan mampu mengubah keadaan terburuk sekalipun untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang tulus mengasihi Dia (lih. Rom 8:28).

        Jadi dalam hal ini memang kita sebagai sesama murid Kristus harus saling mendoakan, saling mengasihi, dan mengusahakan persatuan di antara kita.

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        Ingrid Listiati- katolisitas.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CONNECT WITH US: