Kami mengasihimu, pastor!

147

Pendahuluan

Ada suatu percakapan antara dua orang ibu, Tina dan Suti. Tina bertanya kepada Suti “Anak kamu kalau sudah besar ingin menjadi apa?” Suti menjawab, anakku ingin menjadi dokter bedah. Bagaimana dengan anak kamu yang selalu juara, Tina?” Kemudian Tina menjawab “Anakku ingin menjadi pastor.” Suti terdiam, dan perlahan-lahan berkata “Ehm… sayang juga ya, pintar-pintar kok mau jadi pastor.”

Disinikah kita melihat, seolah-olah kalau yang bagus dan baik, jangan menjadi pastor. Padahal kita melihat di Alkitab bahwa hanya yang terbaik sajalah yang dipersembahkan kepada Allah. Kita melihat bagaimana pemilihan kurban bakaran selalu memilih kurban yang terbaik (Im 14:10). Minyak yang dipakai di bait Allah, juga minyak yang terbaik (Bil 18:12). Hanya yang terbaiklah yang dapat kita persembahkan kepada Tuhan, termasuk imam.

Kalau kita renungkan, kita dapat mengatakan bahwa keberhasilan suatu paroki dalam membina umatnya dapat diukur dari berapa banyak kaum muda yang menjawab panggilan menjadi pastor dari paroki yang bersangkutan. Semakin baik kehidupan spiritual paroki tersebut, maka akan semakin banyak kaum muda yang terpanggil menjadi pastor, karena keinginan untuk menjadi pastor dimulai dari keluarga dan juga dari lingkungan gereja. Jadi hal pertama yang perlu kita renungkan adalah: berapakah yang menjadi pastor dari parokiku? Kalau jawabannya tidak ada, maka perlu dipikirkan bagaimana untuk menggalakkan panggilan, sehingga putera-puteri yang terbaik dari paroki masing-masing dapat menjadi pastor atau suster.

Bukan engkau yang memilih-Ku, namun Aku yang memilihmu

Namun yang terbaik menurut ukuran kita, bukanlah yang terbaik untuk ukuran Tuhan. Jadi, kalau mau ditanya siapa yang layak untuk menjadi pastor? Jawabnya adalah “tidak ada yang layak.” Namun, di tengah ketidaklayakan inilah, Tuhan memilih mereka, sama seperti Tuhan memilih Daud (1 Sam 16:6-13). Nabi Samuel berfikir dan ingin mengambil keputusan berdasarkan penilaian panca indera. Namun dikatakan bahwa Tuhan melihat hati. Dan karena inilah, Tuhan memilih Daud, seorang yang berkenan di hati-Nya(1 Sam 13:14).

Imam dengan segala suka dukanya

Mungkin kita sering melihat ada beberapa imam yang sudah ditahbiskan yang tidak memberikan contoh yang baik kepada umatnya. Dan kita sering mengatakan bahwa mereka juga manusia biasa, yang tidak lepas dari dosa. Hal ini memang ada benarnya, sama seperti para rasul yang dipilih oleh Yesus sendiri, mereka juga manusia biasa, sederhana, namun dipilih oleh Tuhan secara khusus menjadi rasul. Apakah semua rasul-Nya setia? Tidak, karena Yudas terbukti menghianati Yesus. Demikian juga dengan para imam jabatan (pastor), yang dipilih oleh Tuhan secara khusus, ada dari mereka yang karena kelemahan mereka tidak dapat berpartisipasi secara baik dalam imamat Kristus. Namun apakah semuanya atau banyak imam yang demikian? Tentu tidak! Bahkan kita dapat melihat betapa banyak imam yang hidupnya tulus dan sungguh menjadi cerminan kasih Kristus. Mereka adalah tanda kehadiran Kristus yang menyertai Gereja-Nya dan pengorbanan mereka sungguh menjadi teladan bagi kita untuk juga mau berkorban dan menyerahkan diri kepada sesama.

Mari kita renungkan sejenak, kalau melihat takaran dunia, apa yang menarik dari kehidupan para imam? Mereka tidak boleh menikah, diberi uang saku ala kadarnya, harus menuruti perintah atasan. Kalau mereka sudah hidup baik dan menyesuaikan diri dengan orang-orang di parokinya, maka atasannya memindahkan mereka, bahkan kadang ke tempat yang terpencil, yang tidak ada listrik dan transportasi yang mencukupi. Kalau mereka tinggal di dalam komunitas, mereka tidak dapat memilih teman satu rumahnya, sedangkan kita minimal masih dapat memilih teman hidup. Kalau mereka jarang ngobrol dengan umat, dibilang pastornya menjaga jarak, namun kalau pastornya akrab dengan umat, dibilang bahwa pastornya cari perhatian atau malah digosipin dekat dengan seseorang. Kalau ada yang sakit parah, maka pastor harus bergegas memberikan sakramen perminyakan orang sakit, tidak peduli jam berapa. Bukankah serba susah untuk menjadi pastor? Kadang saya pikir-pikir, pelayanan ini jauh lebih sulit daripada orang yang bekerja di kantor. Apa rahasianya, sehingga mereka dapat melakukan hal yang demikian? Ya, karena rahmat dan kasih Allah! Dan memang, tanpa mengandalkan rahmat kasih Allah itu, sungguh sangat sulit untuk menjadi pastor. Tetapi bersama Allah, lihatlah, betapa indah dan ajaibnya buah hasil kerja mereka: banyak orang dapat menyadari akan kehadiran Allah yang hidup. Banyak orang tergerak untuk mengenal dan mengasihi Allah, yang mengantar mereka kepada keselamatan kekal! Manusia biasa tak akan sanggup melakukan hal ini, sebab urusan mengubah hati itu hanya pekerjaan Tuhan, namun berbahagialah para pastor yang dipakai Allah untuk menjadi alat-Nya yang istimewa untuk pekerjaan Tuhan ini.

Syukur kepada Tuhan, di tengah-tengah tantangan yang besar ini, banyak kaum muda yang menjawab panggilan Tuhan ini dengan besar hati. Memang, para imam hanya dapat bertahan kalau mereka benar-benar menyadari akan hakikat mereka sebagai orang-orang pilihan Tuhan. Sama seperti sakramen perkawinan yang hanya dapat bertahan jika suami istri mempunyai komunikasi yang baik, demikian juga dengan Sakramen Imamat, para pastor akan bertahan dalam berkat imamatnya, kalau mereka mereka mempunyai komunikasi yang baik dengan Tuhan. Tanpa bertekun dalam doa, dan berani memberikan dirinya untuk orang lain, maka pastor tidak akan dapat memenuhi pelayanannya sesuai dengan yang Tuhan percayakan kepada mereka.

Imam bersama dan Imam tertahbis

Mari sekarang kita melihat hakikat dari Sakramen Imamat. Di artikel pengakuan dosa bagian-2, telah dibahas tentang imam bersama dan imam tertahbis. Seperti yang kita tahu, bahwa dengan Sakramen Baptis, kita semua menjadi imam, nabi, dan raja (lihat artikel: Sudahkah kita diselamatkan?). Walaupun panggilan sebagai imam belaku untuk semua yang sudah dibaptis, namun Tuhan menunjuk orang-orang pilihan-Nya untuk menjadi imam tertahbis (imamat jabatan).[1]

Dalam Perjanjian Lama.

Kel 19:5-6, menyatakan bahwa Tuhan memerintahkan Musa untuk memberitahukan kepada seluruh umat Israel, bahwa kalau mereka berpegang pada perintah Tuhan, mereka akan menjadi umat kesayangan, kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Di samping mengangkat Israel sebagai kerajaan imam, Perjanjian Lama juga mengatakan bahwa suku Lewi dipersiapkan secara khusus sebagai imam (Bil 3:5-13). Apakah kedua ayat di atas bertentangan? Tidak, sebab secara umum memang bangsa Israel dipersiapkan Tuhan menjadi imam dan bangsa yang kudus, namun secara khusus, Tuhan juga menunjuk suku Lewi untuk menjadi imam dan menjalankan tugas yang berhubungan dengan korban dan persembahan. Suku Lewi yang ditunjuk secara khusus oleh Tuhan untuk menjadi imam (imamat jabatan) melayani umat yang lain atau imam secara umum (imamat bersama). Hal yang sama dapat diterapkan di dalam ajaran Gereja Katolik. Gereja Katolik mengenal adanya dua imamat: (1) Imamat jabatan dan (2) imamat bersama. Dimana imamat jabatan melayani imamat bersama.[2]

Dalam Perjanjian Baru

Yesus tidak pernah melarang perantaraan imam sejauh hal tersebut berpartisipasi dalam karya keselamatan Yesus. Pada saat Yesus menyembuhkan sepuluh orang kusta, Yesus menyuruh mereka untuk memperlihatkan diri mereka kepada para imam (Luk 17:12-14) agar para imam dapat menyatakan mereka tahir. Rasul Petrus juga mengajarkan tentang partisipasi dalam karya keselamatan Tuhan, yaitu setiap dari kita menjadi batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi imamat kudus (1 Pet 2:5). Lebih lanjut Rasul Petrus menegaskan bahwa semua umat Allah adalah bangsa terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, kepunyaan Allah sendiri (1 Pet 2:9). Pemilihan bangsa Israel sebagai bangsa pilihan untuk mendatangkan keselamatan pada bangsa-bangsa lain membuktikan bahwa Tuhan menggunakan ‘perantara’ untuk melaksanakan rencana-Nya.

Yesus adalah Imam yang sejati dan selamanya

Dari konsep imam di Perjanjian Lama dan Perjanjian baru, kita melihat bahwa imam di Perjanjian Lama adalah merupakan persiapan untuk imam yang lebih sempurna di Perjanjian Baru, yang dipenuhi di dalam diri Kristus, imam menurut peraturan Melkisedek, yang sempurna, yang berlangsung untuk selamanya (Ibr 5:1-10). Dengan pengorbanan Kristus di kayu salib, maka Yesus telah melengkapi semuanya, baik sebelum kedatangan-Nya, pada waktu kedatangan-Nya, dan setelah kedatangan-Nya. Pertanyaannya, apakah dengan mengakui Yesus sebagai Imam satu-satunya menutup kemungkinan adanya imam yang lain? Sama seperti penjelasan tentang imam jabatan di dalam Perjanjian Baru dan Perjanjian lama, maka imam-imam jabatan hanyalah menjadikan Imam yang abadi, yaitu Kristus untuk hadir kembali tanpa menghilangkan keunikan imamat Kristus. Imam-imam yang ditahbiskan hanyalah menjadi pelayan dari Imam satu-satunya, yaitu Kristus.[3]

Mungkin ada yang merasa berkeberatan dengan hal ini. Namun kita dapat melihat bahwa Yesus adalah satu-satunya perantara antara Allah dengan manusia. Jadi doa-doa yang kita panjatkan didaraskan dalam nama Yesus. Namun bukankah kita sering meminta seseorang yang kita anggap punya hubungan baik dengan Tuhan untuk juga mendoakan permasalahan kita? Apakah dengan demikian kita menghilangkan keagungan Yesus yang menjadi satu-satunya Perantara kita dengan Allah? Tentu saja tidak, karena semua orang yang mendoakan kita turut berpartisipasi dalam karya keselamatan Kristus. Jadi sampai tahap ini, kita menyetujui bahwa imam yang tertahbis tidak menghilangkan keagungan dan kebenaran bahwa Kristus adalah satu-satunya Imam Agung.

Dan berdasarkan pembuktian di atas dalam Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama, kita tahu bahwa Tuhan telah menjadikan seluruh umat Allah menjadi imam. Namun Yesus menunjuk secara khusus imam yang ditahbiskan untuk melanjutkan karya-Nya di dunia ini sampai akhir jaman, dan juga untuk melayani imam bersama.[4]

Apakah Sakramen Imamat?

Imamat jabatan:

Katekismus, 1536 menyebutkan bahwa Tahbisan adalah suatu Sakramen, di mana perutusan yang dipercayakan Kristus kepada Rasul-rasul-Nya, dilanjutkan sampai akhir zaman. Dari sini jelas, bahwa konsep Gereja bukan hanya tak kelihatan, namun juga kelihatan. Namun demikian, hal yang tak terlihat (spiritual) dan terlihat, tak dapat dipisahkan, sama seperti tubuh dan jiwa manusia tak terpisahkan. Dalam hal struktur yang terlihat (Sakramen) ini, terdapat bagian, yaitu: episkopat, presbiterat, dan diakonat.

Episkopat atau uskup adalah penerus dari para rasul, yang diutus oleh Yesus sendiri. Sama seperti Yesus menunjuk rasul Petrus, sebagai kepala dari para murid, maka uskup Roma menjadi penerus dari rasul Petrus menjadi kepala dari seluruh Gereja di seluruh dunia.[5] Sedang para uskup adalah pemimpin dari gereja lokal, yang dibentuk menurut gambaran Gereja universal (semesta) dan dalam kesatuan dengan Bapa Paus.[6] Dan pembantu dari uskup adalah para pastor (presbiterat), yang biasanya membawahi paroki. Sedangkan diakonat diperbantukan untuk membantu pelayanan para pastor dan uskup. Diakonat dan presbiterat ditahbiskan oleh uskup, sedangkan uskup ditahbiskan oleh para uskup yang lain dengan persetujuan dari uskup Roma, atau Paus. Dari sinilah, kita melihat bahwa seluruh tahbisan di Gereja Katolik saling terkait dan dapat ditelusuri sampai kepada para Rasul, yang diutus oleh Yesus sendiri. Karena inilah maka salah satu ciri Gereja Katolik adalah apostolik (berasal dari para Rasul).

Imamat bersama:

Pada saat kita dibaptis, maka kita juga dipanggil untuk menjadi imam, nabi dan raja. Melalui baptisan, kita juga harus menjadi imam, yaitu dengan menjadi saksi Kristus yang baik, hidup menurut iman, pengharapan, dan kasih. Melalui kesaksian hidup kita, maka kita akan menjadi pancaran terang kasih Kristus, sehingga secara tidak langsung, kita berpartisipasi untuk membawa umat yang lain kepada Sang Imam Agung, yaitu Kristus. Dan cara kedua untuk menjalankan imamat bersama adalah dengan mengikuti perayaan Ekaristi. Dimana dengan persiapan, dan partisipasi aktif, kita semua menyatukan persembahan kita, suka duka kita, dan kehidupan kita dalam kurban Ekaristi.

Imam Jabatan dan Imam bersama berjalan berdampingan untuk membangun Gereja.

Yang menjadi masalah adalah kalau ada orang yang mencoba mencampuradukkan kedua jenis imamat ini. Imam jabatan semakin ingin menyatu dengan umat, dan mengaburkan identitasnya. Dan imam bersama begitu antusias untuk berpartisipasi di pelayanan, sehingga juga mengerjakan pekerjaan-pekerjaan imam jabatan. Padahal, baik imam jabatan maupun imam bersama mempunyai identitas sendiri-sendiri dan keduanya mempunyai tujuan untuk membangun jemaat Allah. Imam bersama terjun ke masyarakat dan menjadi garam di tengah-tengah masyarakat yang nilai-nilainya belum tentu sesuai dengan nilai-nilai kristiani. Sedangkan imam jabatan membangun dan melayani imam bersama, sehingga imam bersama akan semakin dikuatkan untuk menjadi saksi yang hidup di tengah masyarakat.

Imam Jabatan yang melanjutkan tiga misi Kristus: Imam, Raja, dan Nabi

Sebagai Imam, para imam melanjutkan karya Kristus dengan merayakan sakramen dan memimpin umat di dalam liturgi, terutama di dalam liturgi Ekaristi. Di sinilah peran imam menjadi begitu jelas, yang mewakili Kristus (persona Christi) untuk menghadirkan kembali kurban Paskah Kristus. Mereka memberikan sakramen Baptis, Penguatan, Pengakuan Dosa, Sakramen Perminyakan, dan memberikan penguburan kepada yang meninggal. Dalam kesehariannya, mereka juga berdoa brevier, doa yang menjadi doa Gereja.

Sebagai Nabi, para imam melaksanakannya dengan berkotbah, mengajar di sekolah atau persiapan Pembaptisan. Secara prinsip seorang pastor harus menyampaikan kebenaran, yang bersumber pada Kitab Suci, Tradisi Suci, dan Magisterium. Imam yang menyampaikan ajaran yang dianggapnya benar namun tidak berdasarkan tiga pilar kebenaran di atas, sebenarnya tidak menjalankan fungsinya sebagai nabi. Karena sebagai nabi, dia hanyalah meneruskan Kebenaran kepada umat, bukan mengarang kebenaran, berdasarkan pendapat pribadi, atau berdasarkan suara umat, karena kebenaran tidak tergantung dari suara terbanyak.

Sebagai Raja, para pastor melaksanakannya dengan pelayanannya di bidang kepemimpinan umat, baik di paroki atau komunitas yang dipercayakan kepada mereka. Mereka bekerja sama dengan dewan paroki, sehingga kegiatan paroki dapat berjalan dengan baik

Uskup, Imam, dan diakon menurut Bapa Gereja

Mungkin ada yang berfikir bahwa uskup, imam dan diakon hanyalah karangan Gereja Katolik semata. Namun kalau kita melihat sejarah dan belajar dari para bapa Gereja, maka kita akan melihat, bahwa sebenarnya semua itu berakar pada tradisi.

  1. Ignasius dari Antiokia (AD. 110): “Sekarang, sungguh merupakan kehormatan bagiku untuk bertatap muka denganmu secara pribadi dengan uskup (bishop) yang diberkati Tuhan, Damas; dan juga bertemu secara pribadi dengan para imam (presbyters), Bassus dan Apollonius l dan teman satu pelayanan, diakon, Zotion. ..” (Letter to the Magnesians 2).
  2. Ignasius dari Antiokia (AD. 110): “Perhatikanlah untuk melakukan segala sesuatu selaras dengan Tuhan, dengan uskup menempati posisi Tuhan dan dengan para imam di posisi para murid, dan dengan para diakon, yang paling dekat denganku, yang dipercaya dengan pelayanan Kristus, yang berasal dengan Allah Bapa sejak permulaan dan yang pada akhirnya telah dinyatakan (ibid, 6:1).
  3. Ignasius dari Antiokia (AD. 110): “Perhatikanlah, untuk menyelaraskan diri dalam perintah-perintah Allah dan para murid, sehingga di dalam setiap perbuatanmu, kamu dapat berhasil, baik di dalam tubuh maupun jiwa, baik dalam iman dan kasih, dalam Putera, Bapa dan dalam Roh Kudus, di awal dan di akhir, bersama dengan yang terhormat uskupmu; dan dengan para imam, yang terjalin secara baik dalam mahkota rohani; dan dengan para diakon, putera-putera Allah. Tunduklah kepada uskup dan satu sama lain seperti Yesus Kristus taat kepada Allah Bapa, dan para murid kepada Kristus dan Allah Bapa … (ibid, 13:1-2).
  4. Ignasius dari Antiokia (AD. 110): “Memang, engkau harus tunduk kepada uskup seperti engkau tunduk kepada Yesus Kristus, sudahlah jelas bagiku bahwa engkau hidup bukan dengan cara manusia namun di dalam Kristus, yang telah wafat untuk kita… Dengan demikian adalah penting …bahwa engkau tidak melakukan segala sesuatu tanpa persetujuan uskup, dan engkau juga harus tunduk kepada para imam, seperti kepada para murid Kristus…Adalah penting juga bahwa para diakon, pemberi sakramen-sakramen Kristus, dalam segala sesuatu menyenangkan semua orang. .. (Letter to the Trallians 2:1-3).
  5. Ignasius dari Antiokia (AD. 110): ” Setiap orang yang menghormati para diakon menghormati Kristus, dan juga yang menghormati uskup menghormati Allah Bapa, dan menghormati para imam sebagai perwakilan Allah dan persekutuan para murid. Tanpa hal tersebut, maka tidak dapat dikatakan sebuah Gereja. (ibid., 3:1-2).
  6. Ignasius dari Antiokia (AD. 110): “Dia yang ada di dalam tempat kudus adalah kudus; tetapi dia yang berada di luar tempat kudus adalah tidak kudus. Dengan kata lain, seseorang yang bertindak tanpa uskup dan imam dan para diakon tidak mempunyai hati nurani yang bersih” (ibid., 7:2).
  7. Ignasius dari Antiokia (AD. 110): “…saya berbicara dengan suara yang keras, suara dari Tuhan: “Perhatikanlah uskup dan imam dan para diakon“. Sebagian orang mengira bahwa saya mengatakan hal ini karena saya tahu adanya perpecahan di antara beberapa orang; namun Dia, yang menjadi alasan mengapa saya dirantai, menjadi saksi bahwa saya tidak mengetahuinya dari manusia; melainkan dari Roh yang membuatku mengatakan hal ini, ‘Jangan melakukan sesuatu tanpa uskup, jagalah badanmu sebagai bait Allah, cintailah persatuan, jauhkanlah dari perpecahan, turutilah Kristus, seperti Dia telah menuruti Allah Bapa” (Letter to the Philadelphians 7:1-2).
  8. Clemens dari Alexandria (AD. 191): “Banyak nasehat-nasehat untuk orang-orang tertentu telah ditulis di dalam Kitab Suci: sebagian untuk para imam, sebagian untuk para uskup dan para diakon; … (The Instructor of Children 3:12:97:2).
  9. Clemens dari Alexandria (AD. 208): “Di dalam Gereja, gradasi dari para uskup, para imam, dan para diakon terjadi sebagai suatu gambaran, menurut pendapatku, dari kemuliaan malaikat dan dimana susunan tersebut, seperti yang dikatakan di dalam Alkitab, menantikan orang-orang yang telah mengikuti langkah-langkah dari para murid dan yang telah hidup di dalam kepenuhan kebenaran menurut Kitab Suci” (Miscellanies 6:13:107:2).
  10. Origen (AD.234): “Tidak hanya perzinahan, namun juga perkawinan membuat kita tidak pantas untuk penghormatan ekklesiastikal; karena tidak juga seorang uskup, juga imam, atau seorang diakon, …” (Homilies on Luke, number 17).
  11. Konsili Elvira (AD. 300): “Para uskup, para imam, dan para diakon tidak dapat meninggalkan tempat mereka untuk keperluan dagang, dan mereka juga tidak dapat bepergian ke daerah-daerah, atau jual-beli untuk keuntungan mereka sendiri” (canon 18).
  12. Konsili Nicea I (AD. 325): “Sinode yang kudus dan besar telah mengetahui bahwa di beberapa daerah dan kota, para diakon memegang Ekaristi untuk para imam, dimana tidak ada dalam kanonik atau kebiasaan yang memperbolehkan bahwa mereka tidak mempunyai hak untuk memberikan Ekaristi atau Tubuh Kristus kepada mereka yang melakukan persembahan (dalam hal ini imam). Dan juga menjadi perhatian, bahwa beberapa diakon sekarang menyentuh Ekaristi sebelum para uskup. Biarlah praktek-praktek seperti itu harus dihentikan, dan biarlah para diakon bertindak sesuai dengan wewenangnya, mengetahui bahwa mereka adalah para pelayan uskup dan lebih rendah dari para imam, dan biarlah mereka menerima Ekaristi sesuai dengan urutan mereka, setelah para imam, dan baik uskup atau imam memberikannya kepada mereka.” (Canon 18).

Kenapa imam tidak menikah

Dari penjabaran di atas, kita melihat bahwa uskup, imam, dan diakon merupakan suatu tradisi dari jemaat awal yang terus berlaku sampai sekarang. Hal lain yang menjadi pertanyaan banyak orang adalah mengapa imam tidak diperbolehkan untuk menikah? Apakah ini hanya merupakan karangan Gereja Katolik semata? Mari kita melihat bukti-bukti bahwa kaul kemurnian mempunyai dasar yang kuat:

  1. Para rasul telah menjalankan kaul kemurnian sebelum penderitaan Yesus, seperti yang dikemukakan oleh St. Petrus “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?” (Mat 19:27). Dan Yesus menjawab “Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, atau istri (istri termasuk dalam terjemahan Douay Rheims, Vulgate and King James Bible) anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal (Mat 19:29). Meninggalkan segalanya dan istri disini, ditafsirkan sebagai tindakan untuk tidak melakukan lagi hubungan badan. Kalau kita mempelajari riwayat Mahatma Gandhi, beliau juga pada umur tertentu tidak menggunakan haknya sebagai suami demi untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi. Jadi, hal ini bukanlah sesuatu yang aneh.
  2. Di dalam Gereja perdana, karena terbatasnya kandidat yang belum menikah untuk diakon, imam, dan uskup yang, maka mereka dapat menikah sebelum ditahbiskan (lih. 1 Tim 3:1-4), namun mereka dituntut untuk mempraktekkan kaul kemurnian setelah ordinasi.
  3. Dokumen pertama yang menyatakan secara explisit tentang hal ini adalah Konsili Elvira di Spanyol tahun 306 dan Carthage tahun 390, serta dekrit dari Paus Siricius dan Innocent, sekitar akhir abad ke-4 dan awal abad ke-5. Semuanya itu menunjukkan bahwa hidup selibat setelah ordinasi bukanlah inovasi semata, namun merupakan hal yang telah dijalankan oleh para murid, bapa gereja, dan menjadi bagian dari tradisi. Paus Siricius mengatakan bahwa peraturan untuk hidup selibat dimaksudkan untuk memberikan segenap jiwa dan raga untuk Tuhan dalam kaul kesucian mulai dari hari ordinasi. Dan Konsili Carthage menekankan hidup selibat untuk meneruskan ajaran dan praktek hidup selibat seperti yang telah dijalankan oleh para rasul.
  4. Gereja Timur tidak lagi mempraktekan tradisi apostolik ini karena perubahan yang dilakukan di Konsili Trullo (sekitar abad ke-7), namun disebutkan bahwa hanya imam yang tidak menikah yang dapat ditahbiskan menjadi uskup, dan seorang iman tidak dapat menikah setelah dia ditahbiskan.
  5. Yang menjadi motif dari Konsili Trullo adalah begitu banyak penyimpangan, seperti simoni, penyimpangan kehidupan seksual para iman, atau masih menggunakan hubungan suami-istri walaupun sudah ditahbiskan. Menanggapi hal itu, Gereja Latin dibawah kepemimpinan St. Gregory VII mengambil jalan untuk menjalankan peraturan secara ketat, sebaliknya Gereja Timur mengambil cara untuk memperlunak peraturan tersebut. Cara yang sungguh patut dipuji dari St. Gregory VII membuahkan hasil dengan meletakkan pondasi yang kokoh, sehingga membuat Gereja berkembang pesat di abad 12-13.
  6. Alasan yang utama dari kaul ketaatan adalah seorang imam secara sakramental mewakili Kristus sebagai mempelai pria dari Gereja, sehingga tidaklah pantas bahwa dia sendiri mempunyai istri bagi dirinya sendiri.
  7. Jalan yang ‘sulit’ yang ditempuh oleh Gereja Katolik menambahkan kepadanya “motive of credibility” sebagai Gereja yang sejati. Sebuah doktrin yang bertentangan dengan kecenderungan alami tidak dapat diharapkan untuk bertahan selama 2000 tahun tanpa bantuan dari yang Ilahi.

Dari segi kepraktisan, kita dapat melihat bahwa dengan tidak menikah maka seorang imam dapat mencurahkan segenap hati, jiwa, dan pikirannya untuk melayani Tuhan dan sesama. Rasul Paulus sendiri memberikan nasehat ” Aku ingin, supaya kamu hidup tanpa kekuatiran. Orang yang tidak beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan, bagaimana Tuhan berkenan kepadanya” (1 Kor 7:32). Dengan hidup selibat, seorang imam hanya memikirkan apa yang terbaik bagi Tuhan dan umat yang dipercayakan kepadanya.

Siapakah yang berani menjawab panggilan suci ini?

Pada kesempatan ini, saya ingin memberikan tantangan kepada kaum muda. Kalau engkau ingin memberikan dirimu secara khusus kepada Tuhan, mempunyai hati untuk melayani sesama, mengasihi Tuhan dan Gereja-Nya, pertimbangkanlah untuk menjadi imam. Menjadi imam adalah suatu berkat yang istimewa; sebab imam menjadi gambaran nyata atas kasih Kristus yang hidup bagi Gereja dan dunia ini. Yesus sendiri menjanjikan kelimpahan berkat bagi mereka yang menjawab panggilan-Nya ini, dan jika Yesus sendiri yang menjanjikannya, pasti Ia akan memenuhinya.

Saya juga ingin membagikan cerita tentang pemain sepakbola yang terkenal, yaitu Chase Hilgenbrinck. Dia yang sedang mempunyai karir yang hebat dan cerah, kemudian memutuskan untuk meninggalkan karirnya untuk menjadi pastor. Diperlukan suatu keberanian untuk menjawab panggilan Tuhan. Namun kita percaya bahwa berkat dari Tuhan tercurah dengan melimpah bagi orang yang mau menjawab panggilan-Nya. Siapakah yang mau menjadi Chase-chase yang lain? Siapakah yang mau menjawab seruan Tuhan “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Siapa yang akan menjawab bersama nabi Yesaya “Ini aku, utuslah aku!” (Yes 6:8)

Dan saya juga ingin mengundang seluruh pembaca untuk bersama-sama berdoa setiap hari untuk kekudusan para imam. Sebutlah satu-persatu imam yang kita kenal, dan mintalah Bunda Maria menuntun para imam agar mereka dapat semakin menyerupai Putera-Nya. Biarlah para imam dapat menjadi imam yang kudus, sehingga mereka dapat menjadi pancaran kasih Kristus.

Saya ingin mengutip puisi yang dibuat oleh Paus Yohanes Paulus ke-II dalam “Pastores Dabo Vobis“. Ia memohon agar Bunda Maria sendiri menjadi pelindung para imam:

O Mary,
Mother of Jesus Christ and Mother of priests,
accept this title which we bestow on you
to celebrate your motherhood
and to contemplate with you the priesthood
of, your Son and of your sons,
O holy Mother of God.

O Mother of Christ,
to the Messiah-priest you gave a body of flesh
through the anointing of the Holy Spirit
for the salvation of the poor and the contrite of heart;
guard priests in your heart and in the Church,
O Mother of the Savior.

O Mother of Faith,
you accompanied to the Temple the Son of Man,
the fulfillment of the promises given to the fathers;
give to the Father for his glory
the priests of your Son,
O Ark of the Covenant.

O Mother of the Church,
in the midst of the disciples in the upper room
you prayed to the Spirit
for the new people and their shepherds;
obtain for the Order of Presbyters
a full measure of gifts,
O Queen of the Apostles.

O Mother of Jesus Christ,
you were with him at the beginning
of his life and mission,

you sought the Master among the crowd,
you stood beside him when he was lifted
up from the earth
consumed as the one eternal sacrifice,
and you had John, your son, near at hand;
accept from the beginning those
who have been called,
protect their growth,
in their life ministry accompany
your sons,
O Mother of Priests.

Amen.


[1] Gereja Katolik , Katekismus Gereja Katolik, Edisi Indonesia., 787-796, 1268, 1546

[2] KGK, 1547.; Vatican II, Dogmatic Constitution on the Church: Lumen Gentium (Pauline Books & Media, 1965), 10.

[3] KGK, 1545, mengutip St. Thomas Aquinas dalam komentarnya di Ibrani 8:4.

[4] KGK, 1547

[5] KGK, 880-883.

[6] KGK 833, Lumen Gentium, 23.

Share.

About Author

Stefanus Tay telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

147 Comments

    • RD. Yohanes Dwi Harsanto on

      Salam Kizito Denoel,

      Jika Anda masuk biara maka Anda akan menjadi biarawan. Jika Anda ingin masuk seminari, maka Anda ingin menjadi imam. Jika Anda ingin menjadi imam yang biarawan, Anda bisa memilih tarekat imam biarawan. Sebenarnya intinya bukan pada rumusan atau format surat melainkan pada komunikasi yang baik. Anda mengkomunikasikan jati diri Anda kepada pemimpin biara atau seminari, menyatakan maksud, dan mohon bimbingan selanjutnya. Nyatakankah bahwa Anda mau dibimbing. Selanjutnya bisa bertemu langsung dengan pemimpin biara atau seminari dan mengikuti petunjuk beliau. Semoga membantu.

      Salam
      RD. Yohanes Dwi Harsanto

  1. Christian Davin on

    Kepada pengasuh, saya pernah membaca kalau sebelum Konsili Vatikan II pada hirarki Gereja Katolik terdapat jabatan Sub-Diakon. Apa saja tugas dan wewenangnya ? Mengapa jabatan ini dihapuskan ?
    Terima Kasih

    • RD. Bagus Kusumawanta on

      Davin yth

      Subdiakon adalah tahbisan rendah/kecil untuk Lektor dan Akolit saat frater menjalani TOP (Tahun Orientasi Pastoral) diberi kewenangan untuk membaca sabda Tuhan sebagai lektor dan membantu membagi komuni sebagai Akolit.

      salam
      Rm Wanta

  2. shalom tim katolisitas,

    Saya mau tanya,bagaimana tata urutan acara sakramen imamat? Seperti kapan para calon imam bertelungkup dll. Juga peralatan-peralatan apa saja yang dibutuhkan dalam sakramen imamat? Mohon jawabannya, terimakasih.

    Salam, Anneke

    • Romo Bernardus Boli Ujan, SVD on

      Salam Anneke,

      Demikian ini unsur-unsur urutan upacara tahbisan imam:
      sesudah Injil, pemanggilan calon imam, (Doa Penyerahan Orangtua Calon), Penerimaan Calon, Amanat/Homili, Penyelidikan Calon, Janji Setia, Doa Litani Para Kudus pada saat ini diakon bertelungkup dan yang lain berlutut, Penumpangan Tangan Uskup Pentahbis dan para konselebran, Doa Tahbisan, Pengenaan Kasula dan Stola, Pengurapan Tangan Imam Baru, Penyerahan Bahan Persembahan Hosti Anggur, Salam Damai, yang disusul dengan Liturgi Ekaristi yaitu Persiapan Persembahann, Doa Syukur Agung dll.

      Salam dan Doa. Gbu.
      Rm Boli.

  3. shalom,
    1.saya ingin bertanya, apakah jika ingin masuk ke seminari harus mempunyai pengetahuan yang luas tentang ajaran katolik selain daripada keinginan untuk menjadi imam?

    2.apakah sekolah seminari mempunyai tahap atau peringkat-peringkat tertentu?

    • RD. Bagus Kusumawanta on

      Yoseph yth

      Masuk seminari harus memiliki kemampuan intelektual, kerohanian dan fisik yang sehat.

      Tentu ada tahap tahap pembinaan, bukan peringkat.

      Salam
      Rm Wanta

  4. Syalom Tim Katolisitas..

    Saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan :

    1. Apakah seorang Imam yg telah tertahbis boleh berpindah ordo?

    Contoh : Imam A dia pada awalnya ikut ordo Pr. Lalu setelah bertahun2 dia melayani sebagai imam Pr, mendadak dia mengundurkan diri dari pr & menjadi imam CM (sekali lg maaf, ini hanya contoh)

    2. Kalau boleh, apakah dia harus ditahbiskan / menerima Sakramen Imamat ulang? Bagaimana tata cara & peraturan sebenarnya?

    3. Setau saya, setelah imam (pada saat tahbisan) mengucapkan imamatnya, itu berarti sdh menjadi ikatan seumur hidup. Jika dia berpindah ordo, berarti dia tidak setia dgn jalan yg dia pilih di awal.

    Mohon jawaban dr Tim Katolisitas

    Trimakasih & Jesus bless u all

    • RD. Bagus Kusumawanta on

      Chris Yth

      Jawaban pertama, imam boleh pindah ke tarekat atau ke diosesan. Kedua, dia tidak ditahbiskan lagi. Jika dia berpindah ke tarekat/ordo bukan berarti dia tidak setia pada panggilan melainkan karena dia ingin memenuhi motivasinya yang dulu ada di dalam hatinya ketika mau menjadi imam. Tidak berdosa asalkan dia tetap setia dalam panggilannya dan bukan karena mencari kenyamanan duniawi.

      salam
      Rm Wanta

  5. Syalom,

    saya ingin bertanya,
    1. bagaimana hendak penguatkan lagi semangat dan keinginan untuk menjadi seorang imam ?

    2. apakah seseorang yang pernah berbuat dosa boleh menjadi imam?

    • RD. Yohanes Dwi Harsanto on

      Salam Yoseph,

      1. Cara menguatkannya ialah dengan menghayati tradisi Gereja Katolik: berdoa harian, liturgi, dan bacaan harian, memiliki pembimbing rohani / bapa pengakuan yang tetap, perayaan Ekaristi, bacaan rohani, dan berkomunitas dan berbagi pengalaman iman.

      2. Jika Tuhan memanggil maka pasti semua halangan bisa diatasi dengan kekuatan-Nya, asalkan bukan halangan kodrati. Yang disebut halangan kodrati di sini antara lain ialah ikatan perkawinan. Staf seminari bisa mempertimbangkan keadaan si peminat, dan si peminat sendiri bisa memeriksa dengan jujur, kemampuannya untuk lepas dari akibat dosa tersebut. Yang disebut akibat dosa ialah, jika kita menerima Sakramen Pengampunan maka dosa itu sudah diampuni dalam sakramen itu. Namun akibat-akibat dari dosa yang sudah diampuni itu biasanya masih ada. Akibat dosa yang masih dirasakan oleh diri sendiri maupun orang lain itu harus diatasi dengan dengan usaha yang menyandarkan diri pada rahmat Allah. Untuk masuk seminari, akibat dosa itulah yang dilihat, apa saja akibatnya dan apakah bisa diatasi atau tidak untuk menjadi imam.

      Salam
      RD. Yohanes Dwi Harsanto

  6. Alangkah baiknya singkatan RD dikembalikan pada bahasa asal mulanya. Jangan lagi ditulis sebagai Romo Deosesan. Penulisan ini menjadi rancu terutama di umat kebanyakan.

    • RD. Yohanes Dwi Harsanto on

      Salam Yustinus,

      Semua itu masalah konvensi atau kesepakatan umum. Umat di wilayah berbahasa Jawa misalnya di Keuskupan Agung Semarang dan Keuskupan Purwokerto, misalnya, merasa tidak cocok dengan istilah “RD”. Mereka tetap menyebut “Romo” untuk imam-imamnya dalam tulisan resmi. Memang, istilah “Reverrendus Dominus” ialah juga soal konvensi pada zamannya di Barat (Eropa). Maunya orang yang mengusulkan “RD” sebagai “Romo Diosesan” ialah agar ada penyesuaian budaya dengan Indonesia. Namun, menjadi pertanyaan, kalau begitu, “RP” atau “Reverrendus Pater” (Imam biarawan) kita sebut apa dalam bahasa Indonesia? Hal ini bukan soal prinsip teologis dan dogma maupun kanonik. Pembicaraan mengenai hal ini melulu soal konvensi. Aslinya, tulisan di depan nama imam ialah “RD” yang artinya “Reverrendus Dominus”. Anda boleh mengusulkan akan kebenaran hal ini, namun orang lain pun berhak mengusulkan singkatan lain dari RD tersebut untuk menegaskan tekanan pada sifat Diosesan imam tersebut. Di Eropa, asal muasal kedua istilah RD dan RP, pembicaraan mengenai hal ini tidak terjadi, karena mereka pun tak pernah mengenal “Pr” sebagai “Praja”. Pembicaraan mengenai hal ini hanya terjadi di Indonesia khususnya KA Jakarta. Mungkin karena memang sejak awal ketika para imam misionaris datang, mereka tidak menjelaskan hal ini, dan mereka menyesuaikan saja dengan umat setempat yang menuliskan sapaan bagi imam dengan bahasa setempat: “Romo”, “Padri”, “Bapa”, “Amu”, dsb. Maka, silahkan saja.

      RD. Yohanes Dwi Harsanto

  7. shalom,
    saya ingin bertanya,bagaimana hendak merasakan panggilan menjadi imam.

    [pertanyaan berikut ini digabungkan karena masih satu tema:]

    Submitted on 2013/08/25 at 5:11 pm

    saya ingin bertanya,apakah jika ingin menjadi imam mempunyai syarat-syarat khusus dan bagaimana menjadi seorang imam.

    • RD. Yohanes Dwi Harsanto on

      Salam Yoseph,

      Dulu dikatakan, untuk masuk seminari, seorang remaja pria/pemuda Katolik haruslah memiliki kerinduan atau keinginan yang berkobar-kobar untuk menjadi imam, atau memiliki idealisme akan misi. Namun pada masa kini, keinginan atau kerinduan yang lemah pun asalkan ada, bisa dicoba untuk tes masuk seminari. Baik kerinduan yang berkobar maupun yang lemah, bisa diuji dengan tes masuk seminari. Setelah masuk seminari pun masih harus diuji dalam studi, doa, interaksi sosial, dan aneka latihan ketrampilan diri dan kemampuan pastoral. Tentu saja, remaja pria / pemuda Katolik ini harus sehat jiwa raga (dibuktikan dengan tes kesehatan dan psikologi).

      Salam
      RD. Yohanes Dwi Harsanto

      [tambahan dari Katolisitas: kami mengirimkan juga info alamat email Rm Santo melalui email Anda, silakan berkonsultasi secara pribadi dengan Rm Santo jika Anda merasa perlu untuk bertanya lebih lanjut]

    • RD. Yohanes Dwi Harsanto on

      Salam Subagyo Yohanes,

      Sebenarnya sebutan RD (Reverendus Dominus) untuk imam diosesan dan RP (Reverendus Pater) untuk imam biarawan itu sudah lama lazim. Di Indonesia, beberapa keuskupan dalam surat resmi keputusan penugasan imam memakai istilah RD dan RP ini. Sejak semula, KWI memakai istilah ini dalam surat-surat tertulis. Kedua istilah ini baik RD maupun RP makin marak sejak sekitar dua tahun lalu ketika tulisan Romo Simon Lili Tjahyadi (imam Keuskupan Agung Jakarta) yang membahas mengenai hal ini, dimuat di majalah HIDUP. Kemudian semarak semua tulisan mengganti “Rm Nama Pr” menjadi RD Nama. Sedangkan Rm Nama SJ/MSF/SVD, dll menjadi RP Nama SJ/MSF/SVD, dll.

      Beberapa keuskupan seperti Keuskupan Agung Semarang tetap memakai tulisan Rm Nama Pr atau Rm Nama SJ/MSF/SVD. Pertimbanganya ialah bahwa RD yg terjemahan aslinya “Tuan yang Terhormat” dan RP yang berarti “Bapa yang Terhormat”, kurang kena di hati umat Jawa Tengah Keuskupan Agung Semarang dibandingkan dengan sapaan “Romo”. Sedangkan “Pr” yg sebenarnya “Presbyter” (imam/penatua jemaat) dimaknai sebagai “Projo” yang berarti “rakyat”, dengan harapan, imam diosesan atau imam keuskupan sungguh merakyat.

      Di Jakarta, “RD” sering diistilahkan “Romo Diosesan” yang artinya romo milik dioses atau keuskupan. Namun jika demikian, lalu “RP” agak susah dicarikan padan katanya dalam bahasa Indonesia: kalau RD “Romo Diosesan”, lalu “RP” Romo apa?

      Namun, entah ditulis “RD Nama” entah “Rm Nama Pr”, entah “RP Nama SJ/MSF/SVD” entah Rm Nama SJ/MSF/SVD dll, semua benar asalkan jelas maksud dan konteksnya.

      Salam
      RD. Yohanes Dwi Harsanto

  8. Salam damai Paska, “indahnya hidup dalam kasih Kristus” begitulah kata-kata yang sering saya dengar dari para imam namun tidak nampak pada sikap dan tutur katanya contoh kecilnya indahnya ketika kita saling memberi salam ketika bertemu apa lagi ditambah sebuah senyuman ohh begitu menenang jiwa yang haus akan damai, namun sikap ini sungguh sulit saya temukan di oleh imam-imam di kota kupang, mereka begitu angkuh untuk menyapa umat lebih dahulu, mereka lebih senang disapa dari pada menyapa dahulu. yang kedua hidup mengembala ke rumah umat-umat gembalaannya, aduhhhh sangaat saya sayangkan pola hidup para imam sekarang yang lebih suka bertamu ke rumah orang-orang berada daripada rumah orang-orang yang dipinggirkan oleh dunia. Bagaimana mau menjadi gembala yang baik kalau keadaan umatnya baik secara jasmani maupun rohani tidak ia ketahui, bagaimana imam mampu masuk dalam dunia umatnya jikalau imam sibuk dengan dunianya sendiri dan sibuk mengurus keluarga…. mohon komentarnya salam damai Kristus

    • RD. Yohanes Dwi Harsanto on

      Salam Dion,

      Saya setuju dengan pandangan Anda. Sebagai cita-cita ideal, konsep Gembala Yang Baik harus menjadi arah dan perutusan para pastor khususnya akan lebih intensif yang sedang bertugas di tengah umat di paroki. Dokumen KWI berjudul “Pedoman Imam” menggariskan dengan tegas agar imam memupuk sikap sederhana dan mengutamakan yang umat yang kecil dan lemah. Kita melihat Bapa Suci Fransiskus ketika masih Mgr Mario Kardinal Borgeglio Uskup Agung Buenos Aires, sangat menyatu dengan rakyat khususnya yang kecil lemah miskin. Sekarang ketika jadi Paus Fransiskus pun beliau tak mau meninggalkan kesederhanaan. Semoga para imam meneladan sikap sederhana Kristus sendiri, Ia yang Mahakaya mau menjadi miskin demi keselamatan kita. Saya mengajak Anda agar berani mengingatkan dengan penuh kasih, para imam.

      Salam
      RD. Yohanes Dwi Harsanto

  9. Salam sejahtera,
    Yang saya maksudkan adalah st petrus adalah paus/pemimpin umat katolik yg pertama lalu di lanjutkan oleh paus-paus yg selanjutnya pertanyaan saya adalah apakah petrus menikah? Klo st petrus menikah kenapa paus dan pastor tdk menikah? Kayaknya st petrus tdk melarang org menikah deh.

    “Alasan yang utama dari kaul ketaatan adalah seorang imam secara sakramental mewakili Kristus sebagai mempelai pria dari Gereja, sehingga tidaklah pantas bahwa dia sendiri mempunyai istri bagi dirinya sendiri.
    Jalan yang ‘sulit’ yang ditempuh oleh Gereja Katolik” kok aneh ini kan peratiran egois manusia.

    • Shalom Riswan,

      Terima kasih atas komentar Anda. Apakah Anda telah membaca link artikel di atas sebagai berikut?

      Dari penjabaran di atas, kita melihat bahwa uskup, imam, dan diakon merupakan suatu tradisi dari jemaat awal yang terus berlaku sampai sekarang. Hal lain yang menjadi pertanyaan banyak orang adalah mengapa imam tidak diperbolehkan untuk menikah? Apakah ini hanya merupakan karangan Gereja Katolik semata? Mari kita melihat bukti-bukti bahwa kaul kemurnian mempunyai dasar yang kuat:

      1. Para rasul telah menjalankan kaul kemurnian sebelum penderitaan Yesus, seperti yang dikemukakan oleh St. Petrus “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?” (Mat 19:27). Dan Yesus menjawab “Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, atau istri (istri termasuk dalam terjemahan Douay Rheims, Vulgate and King James Bible) anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal (Mat 19:29). Meninggalkan segalanya dan istri disini, ditafsirkan sebagai tindakan untuk tidak melakukan lagi hubungan badan. Kalau kita mempelajari riwayat Mahatma Gandhi, beliau juga pada umur tertentu tidak menggunakan haknya sebagai suami demi untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi. Jadi, hal ini bukanlah sesuatu yang aneh.
      2. Di dalam Gereja perdana, karena terbatasnya kandidat yang belum menikah untuk diakon, imam, dan uskup yang, maka mereka dapat menikah sebelum ditahbiskan (lih. 1 Tim 3:1-4), namun mereka dituntut untuk mempraktekkan kaul kemurnian setelah ordinasi.
      3. Dokumen pertama yang menyatakan secara explisit tentang hal ini adalah Konsili Elvira di Spanyol tahun 306 dan Carthage tahun 390, serta dekrit dari Paus Siricius dan Innocent, sekitar akhir abad ke-4 dan awal abad ke-5. Semuanya itu menunjukkan bahwa hidup selibat setelah ordinasi bukanlah inovasi semata, namun merupakan hal yang telah dijalankan oleh para murid, bapa gereja, dan menjadi bagian dari tradisi. Paus Siricius mengatakan bahwa peraturan untuk hidup selibat dimaksudkan untuk memberikan segenap jiwa dan raga untuk Tuhan dalam kaul kesucian mulai dari hari ordinasi. Dan Konsili Carthage menekankan hidup selibat untuk meneruskan ajaran dan praktek hidup selibat seperti yang telah dijalankan oleh para rasul.
      4. Gereja Timur tidak lagi mempraktekan tradisi apostolik ini karena perubahan yang dilakukan di Konsili Trullo (sekitar abad ke-7), namun disebutkan bahwa hanya imam yang tidak menikah yang dapat ditahbiskan menjadi uskup, dan seorang iman tidak dapat menikah setelah dia ditahbiskan.
      5. Yang menjadi motif dari Konsili Trullo adalah begitu banyak penyimpangan, seperti simoni, penyimpangan kehidupan seksual para iman, atau masih menggunakan hubungan suami-istri walaupun sudah ditahbiskan. Menanggapi hal itu, Gereja Latin dibawah kepemimpinan St. Gregory VII mengambil jalan untuk menjalankan peraturan secara ketat, sebaliknya Gereja Timur mengambil cara untuk memperlunak peraturan tersebut. Cara yang sungguh patut dipuji dari St. Gregory VII membuahkan hasil dengan meletakkan pondasi yang kokoh, sehingga membuat Gereja berkembang pesat di abad 12-13.
      6. Alasan yang utama dari kaul ketaatan adalah seorang imam secara sakramental mewakili Kristus sebagai mempelai pria dari Gereja, sehingga tidaklah pantas bahwa dia sendiri mempunyai istri bagi dirinya sendiri.
      7. Jalan yang ‘sulit’ yang ditempuh oleh Gereja Katolik menambahkan kepadanya “motive of credibility” sebagai Gereja yang sejati. Sebuah doktrin yang bertentangan dengan kecenderungan alami tidak dapat diharapkan untuk bertahan selama 2000 tahun tanpa bantuan dari yang Ilahi.

      Dari segi kepraktisan, kita dapat melihat bahwa dengan tidak menikah maka seorang imam dapat mencurahkan segenap hati, jiwa, dan pikirannya untuk melayani Tuhan dan sesama. Rasul Paulus sendiri memberikan nasehat ” Aku ingin, supaya kamu hidup tanpa kekuatiran. Orang yang tidak beristeri memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan, bagaimana Tuhan berkenan kepadanya” (1 Kor 7:32). Dengan hidup selibat, seorang imam hanya memikirkan apa yang terbaik bagi Tuhan dan umat yang dipercayakan kepadanya.

      Petrus menikah namun setelah dipanggil menjadi rasul, dia tidak menggunakan hak perkawinannya. Apa buktinya? Silakan melihat tulisan dari Clement of Alexandria ini:

      Clement of Alexandria (195) menuliskan “Peter and Philip fathered children, and Philip gave his daughters in marriage. Furthermore, Paul did not hesitate to mention his ‘companion’ in one of his epistles…He says in his epistle, ‘Do I not have the right to take along a sister-wife, as do the other apostles?’ [1Cor 9:5] However the other apostles, in harmony with their particular ministry, devoted themselves to preaching without any distraction. Their spouses went with them, not as wives, but as sisters, in order to minister to housewives” (Clement of Alexandria, Ante-Nicene Fathers 2:390-391 E)

      Silakan memberikan tanggapan atas argumentasi yang telah diberikan di atas. Gereja Katolik tidak menempuh jalan yang sulit, namun jalan yang benar. Kalau memang langkah tersebut benar, maka tidak menjadi masalah kalau itu sulit atau gampang.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

    • Hi Riswan,
      Menjadi lebih egois kalau seorang gembala hanya peduli dengan nafsu seksnya daripada keselamatan jiwa umatnya.
      Gereja berhak mengatur umatnya, tidak ada paksaan untuk mengikutinya. Seorang pria memilih dengan bebas mau menjadi imam atau tidak. Tetapi yang harus diingat, menjadi imam atau menikah itu panggilan dari Allah. Allah pasti memampukan orang yang dipanggilnya. Yang menikah pun banyak yang selingkuh dan bercerai, poinnya itu pada pengendalian diri.
      Salam
      Edwin ST

  10. Syalom Katolisitas.
    Satu hal yang mengganjal di benak saya ketika melihat pengalaman di tempat saya, dimana seorang Imam (sudah cukup lama menjadi pastor) yang akhirnya gagal memenuhi Kaulnya, bahkan (maaf) berzinah dengan seorang Biarawati. Pengalaman Iman apa yang harus saya petik sehingga bertumbuh, berakar dan berbuah Positif bagi Iman saya yang seorang awam ini. meskipun sesungguhnya yang harus saya Imani adalah Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus dan bukan lah sosok Imam.

    • Shalom Tepenus,

      Memang ada sebagian dari kaum klerus yang tidak menjalankan tugasnya dengan baik dan bahkan dapat menjadi batu sandungan bagi umat Katolik maupun non Katolik, sama seperti kita kaum awam, yang juga sering gagal untuk dapat menjadi saksi Kristus dan juga dapat menjadi batu sandungan bagi orang lain. Pelajaran iman yang kita dapatkan dari peristiwa yang menyedihkan ini adalah sama seperti pelajaran yang kita terima ketika melihat kenyataan Yudas Iskariot yang walaupun telah dipilih oleh Kristus sendiri namun mengkhianati Tuhan kita.

      (1) Kita menyadari bahwa walaupun kita semua dipilih Allah, namun kita adalah makhluk yang lemah, yang tidak dapat menolak godaan tanpa bantuan Allah. Jadi, kita harus terus bergantung pada rahmat Allah agar dapat hidup sesuai dengan perintah Allah.

      (2) Iman kita tidak tergantung dari individu-individu yang tidak menjalankan perintah Kristus. Iman kita senantiasa berpusat pada Kristus dan pengajaran yang diberikan oleh Magisterium Gereja. Kehidupan sebagian kaum klerus yang melakukan kesalahan bukanlah cara kehidupan yang diajarkan oleh Kristus dan Gereja, bahkan justru bertentangan dengan apa yang diajarkan. Kalau kita senantiasa mencari kesempurnaan dari individu-individu, maka kemanapun kita pergi, kita akan senantiasa dikecewakan, karena semua institusi pasti mempunyai oknum-oknum yang salah. Jangan melupakan juga bahwa kita juga sering gagal untuk menjadi saksi Kristus.

      (3). Khusus untuk kesalahan yang dilakukan oleh kaum Klerus, sudah seharusnya sebagai kaum awam, kita harus mendukung tugas yang dipercayakan oleh Kristus kepada mereka. Dalam kapasitas kita masing-masing, kita mendukung mereka – terutama dalam doa-doa kita.

      Demikianlah apa yang dapat saya sampaikan. Mari kita mengarahkan pandangan kita kepada Kristus dan Gereja-Nya dan tidak tergoncang dengan oknum-oknum yang tidak menjalankan apa yang diajarkan oleh Kristus dan Gereja-Nya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org