Trinitas: Satu Tuhan dalam Tiga Pribadi

Doa Pembukaan

Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus,

Ya Allah Tritunggal Maha Kudus, kami memuji nama-Mu dan keajaiban kasih-Mu yang Engkau nyatakan di dalam Kristus Putera-Mu yang telah wafat dan bangkit bagi kami. Di dalam Kristuslah, kami mengenal kedalaman misteri kehidupan-Mu, yang adalah KASIH ilahi. Berikanlah kepada kami, ya Tuhan, rahmat pengertian akan misteri kasih-Mu itu, agar kami dapat memuliakan Engkau dan menyembah kesatuan Kasih Ilahi-Mu. Semoga oleh kuasa-Mu, hati kami dapat terbuka untuk melihat betapa besar dan dalamnya misteri Kasih itu. Di dalam nama Yesus Kristus kami naikkan doa ini. Amin.

Kesalahan persepsi dan tentang Trinitas (Allah Tritunggal Maha Kudus).

Banyak orang yang mempertanyakan ajaran tentang Trinitas, bahkan banyak orang yang bukan Kristen mengatakan bahwa orang Kristen percaya akan tiga Tuhan. Tentu saja hal ini tidak benar, sebab iman Kristiani mengajarkan Allah yang Esa. Namun bagaimana mungkin Allah yang Esa ini mempunyai tiga Pribadi? Untuk memahami hal ini memang diperlukan keterbukaan hati untuk memandang Allah dari sudut pandang yang mengatasi pola berpikir manusia. Jika kita berkeras untuk membatasi kerangka berpikir kita, bahwa Allah harus dapat dijelaskan dengan logika manusia semata-mata, maka kita membatasi pandangan kita sendiri, sehingga kehilangan kesempatan untuk melihat gambaran yang lebih luas tentang Allah. Jika kita berpikir demikian, kita bagaikan, maaf, memakai ‘kacamata kuda’: Kita mencukupkan diri kita dengan pandangan Allah yang logis menurut pikiran kita dan tanpa kita sadari kita menolak tawaran Allah agar kita lebih dapat mengenal DiriNya yang sesungguhnya.

Dari mana kita mengetahui bahwa Tuhan adalah Allah Tritunggal?

Walaupun kita mengetahui bahwa konsep Trinitas ini tidak dapat dijelaskan hanya dengan akal, bukan berarti bahwa Allah Tritunggal ini adalah konsep yang sama sekali tidak masuk akal. Berikut ini adalah sedikit uraian bagaimana kita dapat mencoba memahami Trinitas, walaupun pada akhirnya harus kita akui bahwa adanya tiga Pribadi dalam Allah yang Satu ini merupakan misteri yang tidak cukup kita jelaskan dengan akal, sebab jika dapat dijelaskan dengan tuntas, maka hal itu tidak lagi menjadi misteri. St. Agustinus bahkan mengatakan, “Kalau engkau memahami-Nya, Ia bukan lagi Allah”.[1] Sebab Allah jauh melebihi manusia dalam segala hal, dan meskipun Ia telah mewahyukan Diri, Ia tetap tinggal sebagai rahasia/ misteri yang tak terucapkan. Di sinilah peran iman, karena dengan iman inilah kita menerima misteri Allah yang diwahyukan dalam Kitab Suci, sehingga kita dapat menjadikannya sebagai dasar pengharapan, dan bukti dari apa yang tidak kita lihat (lih. Ibr. 11:1-2). Agar dapat sedikit menangkap maknanya, kita perlu mempunyai keterbukaan hati. Hanya dengan hati terbuka, kita dapat menerima rahmat Tuhan, untuk menerima rahasia Allah yang terbesar ini; dan hati kita akan dipenuhi oleh ucapan syukur tanpa henti.

Mungkin kita pernah mendengar orang yang menjelaskan konsep Allah Tritunggal dengan membandingkan-Nya dengan matahari: yang terdiri dari matahari itu sendiri, sinar, dan panas. Atau dengan sebuah segitiga, di mana Allah Bapa, Allah Putera, dan Allah Roh Kudus menempati masing-masing sudut, namun tetap dalam satu segitiga. Bahkan ada yang mencoba menjelaskan, bahwa Trinitas adalah seperti kopi, susu, dan gula, yang akhirnya menjadi susu kopi yang manis. Penjelasan yang menggunakan analogi ini memang ada benarnya, namun sebenarnya tidak cukup, sehingga sangat sulit diterima oleh orang-orang non-Kristen. Apalagi dengan perkataan, ‘pokoknya percaya saja’, ini juga tidak dapat memuaskan orang yang bertanya. Jadi jika ada orang yang bertanya, apa dasarnya kita percaya pada Allah Tritunggal, sebaiknya kita katakan, “karena Allah melalui Yesus menyatakan Diri-Nya sendiri demikian”, dan hal ini kita ketahui dari Kitab Suci.

Doktrin Trinitas atau Allah Tritunggal Maha Kudus adalah pengajaran bahwa Tuhan adalah SATU, namun terdiri dari TIGA pribadi: 1) Allah Bapa (Pribadi pertama), 2) Allah Putera (Pribadi kedua), dan Allah Roh Kudus (Pribadi ketiga). Karena ini adalah iman utama kita, maka kita harus dapat menjelaskannya lebih daripada hanya sekedar menggunakan analogi matahari, segitiga, maupun kopi susu.

Dasar dari Kitab Suci dan pengajaran Gereja

Yesus menunjukkan persatuan yang tak terpisahkan dengan Allah Bapa, “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh 10:30); “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa…” (Yoh 14:9). Di dalam doa-Nya yang terakhir untuk murid-murid-Nya sebelum sengsara-Nya, Dia berdoa kepada Bapa, agar semua murid-Nya menjadi satu, sama seperti Bapa di dalam Dia dan Dia di dalam Bapa (lih. Yoh 17: 21). Dengan demikian Yesus menyatakan Diri-Nya sama dengan Allah: Ia adalah Allah. Hal ini mengingatkan kita akan pernyataan Allah Bapa sendiri, tentang ke-Allahan Yesus sebab Allah Bapa menyebut Yesus sebagai Anak-Nya yang terkasih, yaitu pada waktu pembaptisan Yesus (lih. Luk 3: 22) dan pada waktu Yesus dimuliakan di atas gunung Tabor (lih. Mat 17:5).

Yesus juga menyatakan keberadaan Diri-Nya yang telah ada bersama-sama dengan Allah Bapa sebelum penciptaan dunia (lih. Yoh 17:5). Kristus adalah sang Sabda/ Firman, yang ada bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah, dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan (Yoh 1:1-3). Tidak mungkin Yesus menjadikan segala sesuatu, jika Ia bukan Allah sendiri.

Selain menyatakan kesatuan-Nya dengan Allah Bapa, Yesus juga menyatakan kesatuan-Nya dengan Roh Kudus, yaitu Roh yang dijanjikan-Nya kepada para murid-Nya dan disebutNya sebagai Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, (lih. Yoh 15:26). Roh ini juga adalah Roh Yesus sendiri, sebab Ia adalah Kebenaran (lih. Yoh 14:6). Kesatuan ini ditegaskan kembali oleh Yesus dalam pesan terakhir-Nya sebelum naik ke surga, “…Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus…”(Mat 28:18-20).

Selanjutnya, kita melihat pengajaran dari para Rasul yang menyatakan kembali pengajaran Yesus ini, contohnya, Rasul Yohanes yang mengajarkan bahwa Bapa, Firman (yang adalah Yesus Kristus), dan Roh Kudus adalah satu (lih 1 Yoh 5:7); demikian juga pengajaran Petrus (lih. 1 Pet:1-2; 2 Pet 1:2); dan Paulus (lih.  1Kor 1:2-10; 1Kor 8:6; Ef 1:3-14). Rasul Paulus

Dasar dari Pengajaran Bapa Gereja

Para Rasul mengajarkan apa yang mereka terima dari Yesus, bahwa Ia adalah Sang Putera Allah, yang hidup dalam kesatuan dengan Allah Bapa dan Allah Roh Kudus. Iman akan Allah Trinitas ini sangat nyata pada Tradisi umat Kristen pada abad-abad awal.

1. St. Paus Clement dari Roma (menjadi Paus tahun 88-99):
“Bukankah kita mempunyai satu Tuhan, dan satu Kristus, dan satu Roh Kudus yang melimpahkan rahmat-Nya kepada kita?”[2]

2. St. Ignatius dari Antiokhia (50-117) membandingkan jemaat dengan batu yang disusun untuk membangun bait Allah Bapa; yang diangkat ke atas oleh ‘katrol’ Yesus Kristus yaitu Salib-Nya dan oleh ‘tali’ Roh Kudus.[3]

“Ignatius, juga disebut Theoforus, kepada Gereja di Efesus di Asia… yang ditentukan sejak kekekalan untuk kemuliaan yang tak berakhir dan tak berubah, yang disatukan dan dipilih melalui penderitaan sejati oleh Allah Bapa di dalam Yesus Kristus Tuhan kita.”[4]

“Sebab Tuhan kita, Yesus Kristus, telah dikandung oleh Maria seturut rencana Tuhan: dari keturunan Daud, adalah benar, tetapi juga dari Roh Kudus.”[5].

“Kepada Gereja yang terkasih dan diterangi kasih Yesus Kristus, Tuhan kita, dengan kehendak Dia yang telah menghendaki segalanya yang ada.”[6]

3. St. Polycarpus (69-155), dalam doanya sebelum ia dibunuh sebagai martir, “… Aku memuji Engkau (Allah Bapa), …aku memuliakan Engkau, melalui Imam Agung yang ilahi dan surgawi, Yesus Kristus, Putera-Mu yang terkasih, melalui Dia dan bersama Dia, dan Roh Kudus, kemuliaan bagi-Mu sekarang dan sepanjang segala abad. Amin.”[7]

4. St. Athenagoras (133-190):
“Sebab, … kita mengakui satu Tuhan, dan PuteraNya yang adalah Sabda-Nya, dan Roh Kudus yang bersatu dalam satu kesatuan, -Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus.”[8]

5. Aristides sang filsuf [90-150 AD] dalam The Apology
“Orang- orang Kristen, adalah mereka yang, di atas segala bangsa di dunia, telah menemukan kebenaran, sebab mereka mengenali Allah, Sang Pencipta segala sesuatu, di dalam Putera-Nya yang Tunggal dan di dalam Roh Kudus. [9]

6. St. Irenaeus (115-202):
“Sebab bersama Dia (Allah Bapa) selalu hadir Sabda dan kebijaksanaan-Nya, yaitu Putera-Nya dan Roh Kudus-Nya, yang dengan-Nya dan di dalam-Nya, …Ia menciptakan segala sesuatu, yang kepadaNya Ia bersabda, “Marilah menciptakan manusia sesuai dengan gambaran Kita.”[10]

“Sebab Gereja, meskipun tersebar di seluruh dunia bahkan sampai ke ujung bumi, telah menerima dari para rasul dan dari murid- murid mereka iman di dalam satu Tuhan, Allah Bapa yang Mahabesar, Pencipta langit dan bumi dan semua yang ada di dalamnya; dan di dalam satu Yesus Kristus, Sang Putera Allah, yang menjadi daging bagi keselamatan kita, dan di dalam Roh Kudus, yang [telah] mewartakan melalui para nabi, ketentuan ilahi dan kedatangan, dan kelahiran dari seorang perempuan, dan penderitaan dan kebangkitan dari mati dan kenaikan tubuh-Nya ke surga dari Kristus Yesus Tuhan kita, dan kedatangan-Nya dari surga di dalam kemuliaan Allah Bapa untuk mendirikan kembali segala sesuatu, dan membangkitkan kembali tubuh semua umat manusia, supaya kepada Yesus Kristus Tuhan dan Allah kita, Penyelamat dan Raja kita, sesuai dengan kehendak Allah Bapa yang tidak kelihatan, setiap lutut bertelut dari semua yang di surga dan di bumi dan di bawah bumi ….”[11].

“Namun demikian, apa yang tidak dapat dikatakan oleh seorangpun yang hidup, bahwa Ia [Kristus] sendiri adalah sungguh Tuhan dan Allah … dapat dilihat oleh mereka yang telah memperoleh bahkan sedikit bagian kebenaran”[12].

7. St. Clement dari Alexandria [150-215 AD] dalam Exhortation to the Heathen (Chapter 1)
“Sang Sabda, Kristus, adalah penyebab, dari asal mula kita -karena Ia ada di dalam Allah- dan penyebab dari kesejahteraan kita. Dan sekarang, Sang Sabda yang sama ini telah menjelma menjadi manusia. Ia sendiri adalah Tuhan dan manusia, dan sumber dari semua yang baik yang ada pada kita”[13].

“Dihina karena rupa-Nya namun sesungguhnya Ia dikagumi, [Yesus adalah], Sang Penebus, Penyelamat, Pemberi Damai, Sang Sabda, Ia yang jelas adalah Tuhan yang benar, Ia yang setingkat dengan Allah seluruh alam semesta sebab Ia adalah Putera-Nya.”[14].

8. St. Hippolytus [170-236 AD] dalam Refutation of All Heresies (Book IX)
“Hanya Sabda Allah [yang] adalah dari diri-Nya sendiri dan karena itu adalah juga Allah, menjadi substansi Allah.[15]

“Sebab Kristus adalah Allah di atas segala sesuatu, yang telah merencanakan penebusan dosa dari umat manusia ….[16].

9. Tertullian [160-240 AD] dalam Against Praxeas
“Bahwa ada dua allah dan dua Tuhan adalah pernyataan yang tidak akan keluar dari mulut kami; bukan seolah Bapa dan Putera bukan Tuhan, ataupun Roh Kudus bukan Tuhan…; tetapi keduanya disebut sebagai Allah dan Tuhan, supaya ketika Kristus datang, Ia dapat dikenali sebagai Allah dan disebut Tuhan, sebab Ia adalah Putera dari Dia yang adalah Allah dan Tuhan.”[17].

10. Origen [185-254 AD] dalam De Principiis (Book IV)
“Meskipun Ia [Kristus] adalah Allah, Ia menjelma menjadi daging, dan dengan menjadi manusia, Ia tetap adalah Allah.”[18].

11. Novatian [220-270 AD] dalam Treatise Concerning the Trinity
“Jika Kristus hanya manusia saja, mengapa Ia memberikan satu ketentuan kepada kita untuk mempercayai apa yang dikatakan-Nya, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” (Yoh 17:3). Bukankah Ia menghendaki agar diterima sebagai Allah juga? Sebab jika Ia tidak menghendaki agar dipahami sebagai Allah, Ia sudah akan menambahkan, “Dan manusia Yesus Kristus yang telah diutus-Nya,” tetapi kenyataannya, Ia tidak menambahkan ini, juga Kristus tidak menyerahkan nyawa-Nya kepada kita sebagai manusia saja, tetapi satu diri-Nya dengan Allah, sebagaimana Ia kehendaki agar dipahami oleh persatuan ini sebagai Tuhan juga, seperti adanya Dia. Karena itu kita harus percaya, seusai dengan ketentuan tertulis, kepada Tuhan, satu Allah yang benar, dan juga kepada Ia yang telah diutus-Nya, Yesus Kristus, yang, …tidak akan menghubungkan Diri-Nya sendiri kepada Bapa, jika Ia tidak menghendaki untuk dipahami sebagai Allah juga. Sebab [jika tidak] Ia akan memisahkan diri-Nya dari Dia [Bapa], jika Ia tidak menghendaki untuk dipahami sebagai Allah.”[19].

12. St. Cyprian of Carthage [200-270 AD] dalam Treatise 3
“Seseorang yang menyangkal bahwa Kristus adalah Tuhan tidak dapat menjadi bait Roh Kudus-Nya …”[20].

13. Lactantius [290-350 AD] dalam The Epitome of the Divine Institutes
“Ia telah menjadi baik Putera Allah di dalam Roh dan Putera manusia di dalam daging, yaitu baik Allah maupun manusia.[21]

“Seseorang mungkin bertanya, bagaimana mungkin, ketika kita berkata bahwa kita menyembah hanya satu Tuhan, namun kita menyatakan bahwa ada dua, Allah Bapa dan Allah Putera, di mana penyebutan ini telah menyebabkan banyak orang jatuh ke dalam kesalahan yang terbesar … [yang berpikir] bahwa kita mengakui adanya Tuhan yang lain, dan bahwa Tuhan yang lain itu adalah yang dapat mati …. [Tetapi] ketika kita bicara tentang Allah Bapa dan Allah Putera, kita tidak bicara tentang Mereka sebagai satu yang lain dari yang lainnya, ataupun kita memisahkan satu dari lainnya, sebab Bapa tidak dapat eksis tanpa Putera dan Putera tidak dapat dipisahkan dari Bapa.”[22]

14. St. Athanasius (296-373), “Sebab Putera ada di dalam Bapa… dan Bapa ada di dalam Putera…. Mereka itu satu, bukan seperti sesuatu yang dibagi menjadi dua bagian namun dianggap tetap satu, atau seperti satu kesatuan dengan dua nama yang berbeda… Mereka adalah dua,(dalam arti) Bapa adalah Bapa dan bukan Putera, demikian halnya dengan Putera… tetapi kodreat/ hakekat mereka adalah satu (sebab anak selalu mempunyai hakekat yang sama dengan bapanya), dan apa yang menjadi milik BapaNya adalah milik Anak-Nya.”[23]

15. St. Agustinus (354-430), “… Allah Bapa dan Putera dan Roh Kudus adalah kesatuan ilahi yang erat, yang adalah satu dan sama esensinya, di dalam kesamaan yang tidak dapat diceraikan, sehingga mereka bukan tiga Tuhan, melainkan satu Tuhan: meskipun Allah Bapa telah melahirkan (has begotten) Putera, dan Putera lahir dari Allah Bapa, Ia yang adalah Putera, bukanlah Bapa, dan Roh Kudus bukanlah Bapa ataupun Putera, namun Roh Bapa dan Roh Putera; dan Ia sama (co-equal) dengan Bapa dan Putera, membentuk kesatuan Tritunggal. ”[24]

Dalam bukunya, On the Trinity (Book XV, ch. 3), St. Agustinus menjabarkan ringkasan tentang konsep Trinitas. Secara khusus ia memberi contoh beberapa trilogi untuk menggambarkan Trinitas, yaitu:
1) seorang pribadi yang mengasihi, pribadi yang dikasihi dan kasih itu sendiri.
2) trilogi pikiran manusia, yang terdiri dari pikiran (mind), pengetahuan (knowledge) yang olehnya pikiran mengetahui dirinya sendiri, dan kasih (love) yang olehnya pikiran dapat mengasihi dirinya dan pengetahuan akan dirinya.
3) ingatan (memory), pengertian (understanding) dan keinginan (will). Seperti pada saat kita mengamati sesuatu, maka terdapat tiga hal yang mempunyai satu esensi, yaitu gambaran benda itu dalam ingatan/ memori kita, bentuk yang ada di pikiran pada saat kita melihat benda itu dan keinginan kita untuk menghubungkan keduanya.

Khusus untuk point yang ketiga ini kita dapat melihat contoh lain sebagai berikut: jika kita mengingat sesuatu, misalnya menyanyikan lagu kesenangan, maka terdapat 3 hal yang terlibat, yaitu, kita mengingat lagu itu dan liriknya dalam memori/ ingatan kita, kita mengetahui atau memikirkan dahulu tentang lagu itu dan kita menginginkan untuk melakukan hal itu (mengingat, memikirkan-nya) karena kita menyukainya. Nah, ketiga hal ini berbeda satu sama lain, namun saling tergantung satu dengan yang lainnya, dan ada dalam kesatuan yang tak terpisahkan. Kita tidak bisa menyanyikan lagu itu, kalau kita tidak mengingatnya dalam memori; atau kalau kita tidak mengetahui lagu itu sama sekali, atau kalau kita tidak ingin mengingatnya, atau tidak ingin mengetahui dan menyanyikannya.

Pengajaran Gereja: Dogma tentang Tritunggal Maha Kudus

Syahadat ‘Aku Percaya’ menyatakan bahwa rahasia sentral iman Kristen adalah Misteri Allah Tritunggal. Maka Trinitas adalah dasar iman Kristen yang utama[25] yang disingkapkan dalam diri Yesus. Seperti kita ketahui di atas, iman kepada Allah Tritunggal telah ada sejak zaman Gereja abad awal, karena didasari oleh perkataan Yesus sendiri yang disampaikan kembali oleh para murid-Nya. Jadi, tidak benar jika doktrin ini baru ditemukan dan ditetapkan pada Konsili Konstantinopel I pada tahun 359! Yang benar ialah: Konsili Konstantinopel I mencantumkan pengajaran tentang Allah Tritunggal secara tertulis, sebagai kelanjutan dari Konsili Nicea (325)[26], dan untuk menentang heresies (ajaran sesat) yang berkembang pada abad ke-3 dan ke-4, seperti Arianisme (oleh Arius 250-336, yang menentang kesetaraan Yesus dengan Allah Bapa) dan Sabellianisme (oleh Sabellius 215 yang membagi Allah dalam tiga modus, sehingga seolah ada tiga Pribadi yang terpisah).

Dari sejarah Gereja kita melihat bahwa konsili-konsili diadakan untuk menegaskan kembali ajaran Gereja (yang sudah berakar sebelumnya) dan menjaganya terhadap serangan ajaran-ajaran sesat/ menyimpang. Jadi yang ditetapkan dalam konsili merupakan peneguhan ataupun penjabaran ajaran yang sudah ada, dan bukannya menciptakan ajaran baru. Jika kita mempelajari sejarah Gereja, kita akan semakin menyadari bahwa Tuhan Yesus sendiri menjaga Gereja-Nya: sebab setiap kali Gereja ‘diserang’ oleh ajaran yang sesat, Allah mengangkat Santo/Santa yang dipakai-Nya untuk meneguhkan ajaran yang benar dan Yesus memberkati para penerus rasul dalam konsili-konsili untuk menegaskan kembali kesetiaan ajaran Gereja terhadap pengajaran Yesus kepada para Rasul. Lebih lanjut mengenai hal ini akan dibahas di dalam artikel terpisah, dalam topik Sejarah Gereja.

Berikut ini adalah Dogma tentang Tritunggal Maha Kudus menurut Katekismus Gereja Katolik, yang telah berakar dari jaman jemaat awal:

  1. Tritunggal adalah Allah yang satu.[27] Pribadi ini tidak membagi-bagi ke-Allahan seolah masing-masing menjadi sepertiga, namun mereka adalah ‘sepenuhnya dan seluruhnya’. Bapa adalah yang sama seperti Putera, Putera yang sama seperti Bapa; dan Bapa dan Putera adalah yang sama seperti Roh Kudus, yaitu satu Allah dengan kodrat yang sama. Karena kesatuan ini, maka Bapa seluruhnya ada di dalam Putera, seluruhnya ada dalam Roh Kudus; Putera seluruhnya ada di dalam Bapa, dan seluruhnya ada dalam Roh Kudus; Roh Kudus ada seluruhnya di dalam Bapa, dan seluruhnya di dalam Putera.
  2. Ketiga Pribadi ini berbeda secara real satu sama lain, yaitu di dalam hal hubungan asalnya: yaitu Allah Bapa yang ‘melahirkan’, Allah Putera yang dilahirkan, Roh Kudus yang dihembuskan.[28]
  3. Ketiga Pribadi ini berhubungan satu dengan yang lainnya. Perbedaan dalam hal asal tersebut tidak membagi kesatuan ilahi, namun malah menunjukkan hubungan timbal balik antar Pribadi Allah tersebut. Bapa dihubungkan dengan Putera, Putera dengan Bapa, dan Roh Kudus dihubungkan dengan keduanya. Hakekat mereka adalah satu, yaitu Allah.[29]

Jadi bagaimana kita menjelaskan Trinitas?

Kita akan mencoba memahaminya dengan bantuan filosofi. Dengan pendekatan filosofi, maka diharapkan kita akan dapat masuk ke dalam misteri iman, sejauh apa yang dapat kita jelaskan dengan filosofi. Dengan demikian, filosofi melayani teologi. Untuk menjelaskan Trinitas, pertama-tama kita harus mengetahui terlebih dahulu beberapa istilah kunci, yaitu apa yang disebut sebagai substansi/ hakekat/ kodrat dan apa yang disebut sebagai pribadi/ hypostatis. Pengertian kedua istilah ini diajarkan oleh St. Gregorius dari Nasiansa. Kedua, bagaimana menjelaskan prinsip Trinitas dengan argumentasi kenapa hal ini sudah sepantasnya terjadi atau “argument of fittingness.” Ketiga, kita dapat menjelaskan konsep Trinitas dengan argumen definisi kasih. Berikut ini mari kita lihat satu persatu.

Arti ‘substansi/ hakekat’ dan ‘pribadi’

Mari kita lihat pada diri kita sendiri. ‘Substansi’ (kadang diterjemahkan sebagai hakekat/ kodrat) dari diri kita adalah ‘manusia’. Kodrat sebagai manusia ini adalah sama untuk semua orang. Tetapi jika kita menyebut ‘pribadi’ maka kita tidak dapat menyamakan orang yang satu dengan yang lain, karena setiap pribadi itu adalah unik. Dalam bahasa sehari-hari, pribadi kita masing-masing diwakili oleh kata ‘aku’ (atau ‘I’ dalam bahasa Inggris), di mana ‘aku’ yang satu berbeda dengan ‘aku’ yang lain. Sedangkan, substansi/ hakekat kita diwakili dengan kata ‘manusia’ (atau ‘human’). Analogi yang paling mirip (walaupun tentu tak sepenuhnya menjelaskan misteri Allah ini) adalah kesatuan antara jiwa dan tubuh dalam diri kita. Tanpa jiwa, kita bukan manusia, tanpa tubuh, kita juga bukan manusia. Kesatuan antara jiwa dan tubuh kita membentuk hakekat kita sebagai manusia, dan dengan sifat-sifat tertentu membentuk kita sebagai pribadi.

Dengan prinsip yang sama, maka di dalam Trinitas, substansi/hakekat yang ada adalah satu, yaitu Tuhan, sedangkan di dalam kesatuan tersebut terdapat tiga Pribadi: ada tiga ‘Aku’, yaitu Bapa. Putera dan Roh Kudus. Tiga pribadi manusia tidak dapat menyamai makna Trinitas, karena di dalam tiga orang manusia, terdapat tiga “kejadian”/ ‘instances‘ kodrat manusia; sedangkan di dalam tiga Pribadi ilahi, terdapat hanya satu kodrat Allah, yang identik dengan ketiga Pribadi tersebut.  Dengan demikian,  ketiga Pribadi Allah mempunyai kesamaan hakekat Allah yang sempurna, sehingga ketiganya membentuk kesatuan yang sempurna. Yang membedakan Pribadi yang satu dengan yang lainnya hanyalah terletak dalam hal hubungan timbal balik antara ketiganya.[30]

Argument of fittingness untuk menjelaskan Trinitas

Aristoteles mengatakan bahwa manusia adalah mahluk yang mempunyai akal budi.[31] Akal budi yang berada dalam jiwa manusia inilah yang menjadikan manusia sebagai ciptaan yang paling sempurna, jika dibandingkan dengan ciptaan yang lain. Akal budi, yang terdiri dari intelek (intellect) dan keinginan (will) adalah anugerah Tuhan kepada umat manusia, yang menjadikannya sebagai ‘gambaran’ Allah sendiri.

Nah, intelek dan keinginan tersebut memampukan manusia melakukan dua perbuatan prinsip yang menjadi ciri khas manusia, yaitu: mengetahui dan mengasihi. Kemampuan mengetahui sesuatu tidaklah menunjukkan kesempurnaan manusia, karena kita menyadari bahwa komputer-pun dapat ‘mengetahui’ lebih banyak daripada kita, kalau dimasukkan program tertentu, seperti kamus atau ensiklopedia. Namun, yang membuat manusia istimewa adalah kerjasama antara intelek dan keinginan, jadi tidak sekedar mengetahui, tetapi dapat juga mengasihi. Jadi hal ‘mengasihi’ inilah yang menjadikannya sebagai mahluk yang tertinggi jika dibandingkan dengan hewan dan tumbuhan, apalagi dengan benda-benda mati.

Kita mengenal peribahasa “kalau tak kenal, maka tak sayang“. Peribahasa ini sederhana, namun berdasarkan suatu argumen filosofi, yaitu “mengetahui lebih dahulu, kemudian menginginkan atau mengasihi.” Orang tidak akan dapat mengasihi tanpa mengetahui terlebih dahulu. Bagaimana kita dapat mengasihi atau menginginkan sesuatu yang tidak kita ketahui? Sebagai contoh, kalau kita ditanya apakah kita menginginkan komputer baru secara cuma-cuma? Kalau orang tahu bahwa dengan komputer kita dapat melakukan banyak hal, atau kalaupun kita tidak memakainya, kita dapat menjualnya, maka kita akan dengan cepat menjawab “Ya, saya mau.” Namun kalau kita bertanya kepada orang pedalaman yang tidak pernah mendengar atau tahu tentang barang yang bernama komputer, maka mereka tidak akan langsung menjawab “ya”. Mereka mungkin akan bertanya dahulu, “komputer itu, gunanya apa?” Di sini kita melihat bahwa tanpa pengetahuan tentang barang yang disebut sebagai komputer, orang tidak dapat menginginkan komputer.

Nah, berdasarkan dari prinsip “seseorang tidak dapat memberi jika tidak lebih dahulu mempunyai”[32] maka Tuhan yang memberikan kemampuan pada manusia untuk mengetahui dan mengasihi, pastilah memiliki kemampuan tersebut secara sempurna. Jika kita mengetahui sesuatu, kita mempunyai konsep tentang sesuatu tersebut di dalam pikiran kita, yang kemudian dapat kita nyatakan dalam kata-kata. Maka, di dalam Tuhan, ‘pengetahuan’ akan Diri-Nya sendiri dan segala sesuatu terwujud di dalam perkataan-Nya, yang kita kenal sebagai “Sabda/ Firman”; dan Sabda ini adalah Yesus, Sang Allah Putera.

Jadi, di dalam Pribadi Tuhan terdapat kegiatan intelek dan keinginan yang terjadi secara sekaligus dan ilahi,[33] yang mengatasi segala waktu, yang sudah terjadi sejak awal mula dunia. Kegiatan intelek ini adalah Allah Putera, Sang Sabda (“The Word“). Rasul Yohanes mengatakan pada permulaan Injilnya, “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” (Yoh 1:1).

Selanjutnya, kesempurnaan manusia sebagai mahluk personal dinyatakan, tidak hanya melalui kemampuannya untuk mengetahui, namun juga mengasihi, yaitu memberikan dirinya kepada orang lain dalam persekutuannya dengan sesama. Maka ‘mengasihi’ di sini melibatkan pribadi yang lain, yang menerima kasih tersebut. Kalau hal ini benar untuk manusia pada tingkat natural, maka di tingkat supernatural ada kebenaran yang sama dalam tingkatan yang paling sempurna. Jadi Tuhan tidak mungkin Tuhan yang ‘terisolasi’ sendirian, namun “keluarga Tuhan”, dimana keberadaan-Nya, kasih-Nya, dan kemampuan-Nya untuk bersekutu dapat terwujud, dan dapat menjadi contoh sempurna bagi kita dalam hal mengasihi. Dalam hal ini, hubungan kasih timbal balik antara Allah Bapa dengan Putera-Nya (Sang Sabda) ‘menghembuskan’ Roh Kudus; dan Roh Kudus kita kenal sebagai Pribadi Allah yang ketiga.

Argumen dari definisi kasih.

Seperti telah disebutkan di atas, kasih tidak mungkin berdiri sendiri, namun melibatkan dua belah pihak. Sebagai contoh, kasih suami istri, melibatkan kedua belah pihak, maka disebut sebagai “saling” mengasihi. Kalau Tuhan adalah kasih yang paling sempurna, maka tidak mungkin Tuhan tidak melibatkan pihak lain yang dapat menjadi saluran kasih-Nya dan juga dapat membalas kasih-Nya dengan derajat yang sama. Jadi Tuhan itu harus satu, namun bukan Tuhan betul- betul sendirian. Jika tidak demikian, maka Tuhan tidak mungkin dapat menyalurkan dan menerima kasih yang sejati.

Orang mungkin berargumentasi bahwa Tuhan bisa saja satu dan sendirian dan Dia dapat menyalurkan kasih-Nya dan menerima balasan kasih dari manusia. Namun, secara logis, hal ini tidaklah mungkin, karena Tuhan Sang Kasih Ilahi tidak mungkin tergantung pada manusia yang kasihnya tidak sempurna, dan kasih manusia tidak berarti jika dibandingkan dengan kasih Tuhan. Dengan demikian, sangatlah masuk di akal, jika Tuhan mempunyai “kehidupan batin,” di mana Dia dapat memberikan kasih sempurna dan juga menerima kembali kasih yang sempurna. Jadi, dalam kehidupan batin Allah inilah Yesus Kristus berada sebagai Allah Putera, yang dapat memberikan derajat kasih yang sama dengan Allah Bapa. Hubungan antara Allah Bapa dan Allah Putera adalah hubungan kasih yang kekal, sempurna, dan tak terbatas. Kasih ini membuahkan Roh Kudus.[34] Dengan hubungan kasih yang sempurna tesebut kita mengenal Allah yang pada hakekatnya adalah KASIH. Kesempurnaan kasih Allah ini ditunjukkan dengan kerelaan Yesus untuk menyerahkan nyawa-Nya demi kasih-Nya kepada Allah Bapa dan kepada kita. Yesus memberikan Diri-Nya sendiri demi keselamatan kita,[35] agar kita dapat mengambil bagian dalam kehidupan-Nya oleh kuasa Roh-Nya yaitu Roh Kudus.

Trinitas adalah suatu misteri, dan Tuhan menginginkan kita berpartisipasi di dalam-Nya agar dapat semakin memahami misteri tersebut

Memang pada akhirnya, Trinitas hanya dapat dipahami dalam kacamata iman, karena ini adalah suatu misteri[36], meskipun ada banyak hal juga yang dapat kita ketahui dalam misteri tersebut. Manusia dengan pemikiran sendiri memang tidak akan dapat mencapai pemahaman sempurna tentang misteri Trinitas, walaupun misteri itu sudah diwahyukan Allah kepada manusia. Namun demikian, kita dapat mulai memahaminya dengan mempelajari dan merenungkan Sabda Allah dalam Kitab Suci, pengajaran para Bapa Gereja dan Tradisi Suci yang ditetapkan oleh Magisterium (seperti hasil Konsili), juga dengan bantuan filosofi dan analogi seperti diuraikan di atas. Selanjutnya, pemahaman kita akan kehidupan Trinitas akan bertambah jika kita mengambil bagian di dalam kasih Trinitas itu, seperti yang dikehendaki oleh Tuhan.

Di sinilah pentingnya peran Sakramen dan doa: Sakramen Pembaptisan merupakan rahmat awal, ‘gerbang’ yang memungkinkan kita mengambil bagian dalam kehidupan ilahi (lihat artikel: Sudahkah kita diselamatkan?). Kemudian, Sakramen Ekaristi mengambil peranan utama, karena di dalamnya kita menyambut Kristus sendiri, dan dengan demikian kita mengambil bagian di dalam kehidupan Allah Tritunggal melalui Yesus (baca artikel: Ekaristi: Sumber dan Puncak Spiritualitas Kristiani). Di sinilah juga pentingnya peran penghayatan akan Sakramen Perkawinan, sebab di dalam Perkawinan, kita melihat bagaimana hubungan kasih antara suami dan istri yang direncanakan oleh Allah untuk menjadi gambaran akan kasih Allah Tritunggal (silakan baca: Indah dan Dalamnya Makna Sakramen Perkawinan Katolik). Demikian pula, kasih Allah Tritunggal pula yang mengilhami Sakramen Tahbisan Suci, karena melalui Tahbisan Suci, para imam dipanggil untuk meniru teladan hidup Yesus, terutama dalam hal mengasihi, yaitu dengan memberikan diri kepada Allah dan sesama secara total. Memang, pada dasarnya sakramen-sakramen adalah ‘sarana’ yang diberikan oleh Allah kepada kita, agar kita dapat mengambil bagian di dalam kehidupan ilahi-Nya (mohon dibaca: Sakramen: apa pentingnya dalam kehidupan kita?, terutama pada sub judul: Akibat utama penerimaan Sakramen). Akhirnya, kitapun perlu memeriksa kehidupan doa kita, apakah kita setia dalam menyediakan waktu untuk Tuhan dan menghayati kesatuan denganNya di dalam kehidupan rohani kita? Bagaimana sikap kita terhadap sakramen- sakramen yang dikaruniakan Allah? Adakah kita cukup menghargai dan merindukannya? Pertanyaan ini memang kembali kepada diri kita masing-masing.

Kesimpulan

Melihat begitu dalamnya kehidupan batin Allah, hati kita melimpah dengan ucapan syukur. Sebab kehidupan batin tersebut tidak hanya ‘tertutup’ bagi Allah sendiri, namun Ia ‘membuka’ kehidupan-Nya agar kita dapat mengambil bagian di dalamnya. Ya, Allah sesungguhnya tidak ‘membutuhkan’ kita, sebab kasihNya telah sempurna di dalam kehidupan Tritunggal Maha Kudus. Namun justru karena kasih yang sempurna itu, Ia merangkul kita semua, jika kita mau menanggapi panggilan-Nya. Mari bersama kita berjuang, agar lebih menghargai rahmat Allah yang terutama dinyatakan di dalam sakramen-sakramen, terutama sakramen Ekaristi, sehingga kita dapat semakin menghayati persatuan kita dengan Kristus, yang membawa kita kepada persatuan dengan Allah Tritunggal: Bapa, Putera dan Roh Kudus. Dengan persatuan dengan Allah ini, kita mencapai puncak kehidupan spiritualitas, di mana kita dimampukan oleh Allah untuk mengasihi Dia dan sesama.

Doa Penutup

Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus,

Ya Allah, kami bersyukur untuk misteri kehidupan-Mu dalam Tritunggal Maha Kudus. Di dalam kehidupan batinMu, Engkau telah menyingkapkan kepada kami kedalaman kasih-Mu yang tiada batasnya. Ampunilah kami, jika kami sering tidak menyadari panggilan-Mu untuk mengambil bagian di dalam misteri kasih-Mu itu. Kami mohon, ya Tuhan, bantulah kami dengan rahmat-Mu agar kami dapat untuk turut mengambil bagian di dalam misteri Kasih itu, dengan mengambil bagian di dalam sakramen-sakramen yang Engkau berikan, dan bantulah aku untuk lebih setia di dalam kehidupan doaku, agar dengan kekuatan yang Engkau berikan, Engkau memampukan kami untuk mengasihi Engkau dan sesama kami. Di dalam nama Yesus Kristus kami naikkan doa ini. Amin.

Konsili Konstantinopel I (359): menegaskan kembali Credo Nicea. Konsili ini mengembangkan Credo Nicea, yang bersangkutan dengan Roh Kudus, sebagai, “Allah, Pemberi kehidupan, yang berasal dari Bapa, bersama Bapa dan Putera, disembah dan dimuliakan.” Seperti Allah Putera, Roh Kudus adalah satu dan sama hakekatnya (ousia).


CATATAN KAKI:
  1. St. Agustinus, sermon. 52, 6, 16, seperti dikutip dalam KGK 230. []
  2. St. Clement of Rome, Letter to the Corinthians, chap. 46, seperti dikutip oleh John Willis SJ, The Teachings of the Church Fathers, (San Francisco, Ignatius Press, 2002, reprint 1966), p. 145 []
  3. St. Ignatius of Antiokh, Letter to the Ephesians, Chap 9, Ibid., p. 146 []
  4. St. Ignatius, Letter to the Ephesians, 110 []
  5. ibid., 18:2 []
  6. St. Ignatius, Letter to the Romans, 110 []
  7. St. Polycarp, Ibid., 146 []
  8. St. Athenagoras, A Plea for Christians, Chap. 24, ibid., 148 []
  9. Aristides, Apology 16 [A.D. 140] []
  10. St. Irenaeus, Against Heresy, Bk. 4, Chap.20, Ibid., 148 []
  11. St. Irenaeus, Against Heresies, I:10:1 [A.D. 189] []
  12. St. Irenaeus, ibid., 3:19:1 []
  13. St. Clement, Exhortation to the Greeks 1:7:1 [A.D. 190] []
  14. ibid., 10:110:1 []
  15. St. Hippolytus, Refutation of All Heresies 10:33 [A.D. 228] []
  16. ibid., 10:34 []
  17. Tertullian, Against Praxeas 13:6 [A.D. 216] []
  18. Origen, The Fundamental Doctrines 1:0:4 [A.D. 225] []
  19. Novatian, Treatise Concerning the Trinity 16 [A.D. 235] []
  20. St. Cyprian, Letters 73:12 [A.D. 253] []
  21. Lactantius, Divine Institutes 4:13:5 [A.D. 307] []
  22. Lactantius, (ibid., 4:28–29 []
  23. St. Athanasius, Four Discourses Against the Arians, n. 3:3, in NPNF, 4:395. []
  24. St. Augustine, On The Trinity, seperti dikutip oleh John Willis SJ, Ibid., 152. []
  25. Gereja Katolik , Katekismus Gereja Katolik, Edisi Indonesia., 234, 261. []
  26. Konsili Nicea (325): Credo Nicea: “…Kristus itu sehakekat dengan Allah Bapa, Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar …” []
  27. Lihat KGK 253 []
  28. Lihat KGK 254 []
  29. Lihat KGK 255 []
  30. Lihat KGK 252. []
  31. Dalam bukunya “Isagoge“, pengenalan akan kategori menurut Aristoteles, Filsuf Yunani Porphyry, mengemukakan bahwa Aristoteles membagi substansi atau “substance” berdasarkan “genus” yang mengindikasikan esensi dari sesuatu dan “a specific differences” yang merupakan kategory yang lebih detail dari genus tertentu. []
  32. Prinsip ini sering disebut sebagai salah satu Prinsip yang tidak perlu dibuktikan (‘self-evident principles’), karena memang demikian halnya. []
  33. Lihat KGK 259 []
  34. Roh Kudus adalah buah dari operasi kasih antara Allah Bapa dan Allah Putera. Ini sebabnya bahwa setelah Pentakosta terjadi setelah Yesus wafat di kayu salib. Bapa mengasihi Putera-Nya, dan Putera-Nya menunjukkan kasih-Nya dengan sempurna di kayu salib. Buah dari pertukaran dan kasih yang mengorbankan diri inilah yang menghasilkan Roh Kudus. Sehingga dalam ibadat iman yang panjang (Nicene Creed), kita melihat pernyataan “….Aku percaya akan Roh Kudus, Ia Tuhan yang menghidupkan; Ia berasal dari Bapa dan Putera….“ []
  35. John Paul II, Encyclical Letter on The Redeemer Of Man: Redemptor Hominis (Pauline Books & Media, 1979), no. 10 – Paus Yohanes Paulus II menekankan bahwa kasih yang sempurna adalah kasih yang dapat memberikan diri sendiri kepada orang lain. Dengan demikian, adalah “sesuai atau fitting” bahwa Tuhan, melalui Putera-Nya menjadi contoh yang snempurna bagaimana menerapkan kasih. Dengan demikian ini juga membuktikan bahwa Tuhan bukanlah Allah yang sendirian. []
  36. KGK 237. []

Beberapa artikel yang berhubungan:

Beberapa artikel di kategori yang sama:

122 Komentar to Trinitas: Satu Tuhan dalam Tiga Pribadi

  1. Thomas Soeharto 7 Maret 1950 January 14, 2012 at 5:14 am

    Terima kasih & Puji Tuhan untuk Pencetus dan Team Pelaksana “pelayanan interaksi situs” Katolisitas ini.Tritunggal Maha Kudus memang suatu “misteri Ilahi” yang merupakan anugerah Nya kepada siapa yang mengimani. Buat saya adalah “mantra” manakala saya merasa “tidak dapat total berbuat sesuatu” / menjalani perbuatan apapun dengan rasa “kasih” (ada rasa negatif, tidak rela,tidak pantas,enggan dll) , saat itu saya membuat “tanda salib” …dengan nama Bapa, Putra dan Roh Kudus, Amin….Tanda salib adalah ritual kita ( hanya orang Katolik) yang paling sederhana yang paling sering kita lakukan. Dan ritual yang selalu dipakai sebagai “pembuka” dan “penutup” doa / ibadat.
    Sangat setuju dengan tahapan “suatu perbuatan” adalah: “mengetahui” ,”minat” / ingin , baru “kasih” / totalitas, dan untuk sampai tahap “bisa” / meyakini , kita harus mencoba berulang-ulang dan mendalaminya.Kepada saudara-saudara kita yang mengetahui tapi menolaknya saya mengatakan coba renungkan lagi , karena Trinitas adalah “jalan pintas” untuk menjalankan “PERINTAH ALLAH” yang paling utama. Kami orang Katolik menyebutnya “hukum KASIH” seperti yang diajarkan Jesus Kristus:
    - “Kasihilah Tuhan,Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu,dengan segenap akal budimu”
    - “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”.(yang ini yang sering kita berlaku tidak adil)
    Tanpa “spirit Trinitas”, kita “tidak akan bisa total” mengerjakan apapun didunia ini, tapi jika kita mengimaninya, kita akan merasa “lancar dan merasa tanpa beban” dalam mengerjakan apapun.
    Kita orang Katolik mengiman “jalan-pintas” kepada Allah [Bapa] dengan adanya Jesus dan Roh Kudus, Amin
    Itulah yang saya rasakan dalam hidup saya ini.

  2. Pak Stef dan Ibu Inggrid yang saya hormati

    Saya sangat suka dengan penjelasan Tritunggal menggunakan prinsip Allah adalah Kasih. Menurut pemahamanku ini adalah cara yang paling baik sejauh ini. Memang benar bahwa analogi tidak pernah menggambarkan dengan sempurna Pribadi yang diwakili, ada satu hal yang mengganggu pikiranku. Jika memang benar hubungan Kasih Allah Bapa dengan Allah Putra begitu sempurna sehingga membuahkan pribadi Ketiga yaitu Roh Kudus, mengapa Allah Bapa tidak mengasihi Roh Kudus sehingga membuahkan Pribadi Ke4. dan kenapa Allah Bapa tidak mengasihi Pribadi Ke4 hingga membuahkan Pribadi Ke5. dan kenapa Allah Bapa tidak mengasihi Pribadi Ke5 membuahkan Pribadi Ke6. dan siklus ini akan berlanjut terus menjadi tidak terbatas.

    Sekilas, setidaknya menurut pikiranku, ini terlihat sebagai alasan mengapa Gereja Orthodox menolak “filioque” dan menyatakan bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa. Karena bila Roh Kudus berasal dari Bapa dan Putra (melalui ikatan Kasih sempurna di antara KeduaNya) maka alur berpikir tak terhingga di atas akan muncul. Alur pikiran tak terhingga dapat dicegah dengan menyatakan bahwa Bapa merupakan Sumber dari Putra dan Roh Kudus (yang juga dipercayai oleh Gereja Katolik). Roh Kudus hanya memiliki satu Sumber yaitu Bapa (yang tidak disetujui oleh Gereja Katolik).

    Mohon penjelasan Pak Stef dan Ibu Inggrid
    Akhir kata, pikiran manusia tidak akan mampu mengetahui Misteri Ilahi tpi setidaknya “faith seeking understanding”
    Terima kasih

    • Shalom Alexander Wang,

      Terima kasih atas komentar anda tentang Trinitas. Seperti yang anda juga tuliskan, tidak ada satu analogipun yang secara sempurna dapat menggambarkan kehidupan interior Allah, yaitu dalam Tritunggal Maha Kudus. Kita harus mengingat bahwa ketiga Pribadi ini ada sepanjang segala abad dan ketiganya adalah murni spiritual. Definisi kasih adalah salah satu untuk menjelaskan hubungan ketiga Pribadi ini. Dalam tanya-jawab ini – silakan klik, saya mencoba melihat bahwa dalam hubungan kasih ada tiga hal yang membedakan secara esensial, yaitu: (1) yang memberi, (2) yang menerima, (3) dan apa yang diberi dan apa yang diterima. Dengan penjelasan ini, maka kita melihat bahwa ada tiga Pribadi dan tidak bisa dua maupun tidak bisa empat atau lebih dari empat, karena masing-masing Pribadi harus unik dan memang pribadi yang berbeda – walaupun ketiganya adalah satu hakekat.

      Secara lebih teknikal, maka perbedaan dari ke-tiga pribadi terletak pada relasi asal (relations of origin). Katekismus Gereja Katolik menuliskannya demikian:

      KGK 254.    Ketiga Pribadi ilahi berbeda secara real satu dengan yang lain. Allah yang satu bukanlah “seakan-akan sendirian” (Fides Damasi: DS 71). “Bapa”, “Putera”, “Roh Kudus”, bukanlah hanya nama-nama yang menyatakan cara-cara berada berbeda dari hakikat ilahi, karena,mereka secara real berbeda satu dengan yang lain: “Bapa tidak sama dengan Putera, Putera tidak sama dengan Bapa, Roh Kudus tidak sama dengan Bapa dan Putera”(Sin. Toledo XI 675: DS 530). Masing-masing berbeda satu dengan yang lain oleh hubungan asalnya: Adalah “Bapa yang melahirkan, dan Putera yang dilahirkan dan Roh Kudus yang dihembuskan” (K. Lateran IV 1215: DS 804). Kesatuan ilahi bersifat tritunggal.

      Kalau Roh Kudus adalah berasal dari dari Bapa dan Putera berasal dari Bapa, maka apa yang membedakan antara Allah Putera dan Allah Roh Kudus, sedangkan kita mengakui bahwa masing-masing Pribadi dari Trinitas adalah unik? Lebih lanjut Katekismus Gereja Katolik menjelaskan:

      KGK 255.    Ketiga Pribadi ilahi berhubungan satu dengan yang lain. Karena perbedaan real antar Pribadi itu tidak membagi kesatuan ilahi, maka perbedaan itu hanya terdapat dalam hubungan timbal balik: “Dengan nama-nama pribadi, yang menyatakan satu hubungan, maka Bapa dihubungkan dengan Putera, Putera dihubungkan dengan Bapa, dan Roh Kudus dihubungkan dengan keduanya: Walaupun mereka dinamakan tiga Pribadi seturut hubungan mereka, namun mereka adalah satu hakikat atau substansi, demikian iman kita” (Sin.Toledo XI 675: DS 528). Dalam mereka “segala-galanya… satu, sejauh tidak ada perlawanan seturut hubungan” (K. Firenze 1442: DS 1330). “Karena kesatuan ini, maka Bapa seluruhnya ada dalam Putera, seluruhnya ada dalam Roh Kudus; Putera seluruhnya ada dalam Bapa, seluruhnya ada dalam Roh Kudus; Roh Kudus seluruhnya ada dalam Bapa, seluruhnya ada dalam Putera” (ibid., DS 1331).

      Dengan demikian, kita harus melihat bahwa masing-masing Pribadi di dalam Trinitas adalah real dan unik, di mana keseluruhan masing-masing Pribadi ada di dalam masing-masing Pribadi sehingga Pribadi-Pribadi tersebut tidak membagi hakekat menjadi tiga dan tidak ada pertentangan di antara ke-tiga Pribadi tersebut. Perbedaan masing-masing Pribadi hanya ada di dalam hubungan asal (relations of origin). Semoga keterangan tambahan ini dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  3. Dengan hormat.

    ada sebuah pertanyaan yang masih susah saya jawab sendiri, karena itu mohon bantuannya.
    Pertanyaan :
    1. Apakah Bapa, Kristus dan Roh Kudus saling bergantung atau independen?
    1.A. Jika saling bergantung berarti Bapa, Kristus, dan Roh Kudus tidak maha kuasa? Ataukah memang yang satu lebih kuasa dari pada yang lain? (karena ada ayat yang menyatakan yesus memerintahkan Roh Kudus)
    1.B. Jika saling Independen, apa yang terjadi jika ada yang tidak sekehendak (se-ide), Misal Bapa ingin api panas tetapi Roh kudus ingin api dingin?
    2. Jika Allah Tritunggal, apakah Bapa, Putra dan Roh Kudus punya kemampuan, pengetahuan dan kekuasaan yang sama? Mohon penjelasannya. terima kasih.

    Hormat kami.

    • Shalom Byur 77,

      Agaknya pertanyaan Anda agak rancu, sebab sudah diwarnai oleh praduga bahwa Allah Bapa, Kristus dan Roh Kudus adalah tiga Pribadi yang terpisah/ berdiri sendiri [sehingga bisa saling bergantung atau saling independen], padahal tidak demikian. Ketiga Pribadi Allah itu adalah Satu Allah, sehingga kehendak-Nya adalah satu dan sama. Tidak ada yang lebih kuasa daripada yang lain, sebab Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus adalah satu hakekatnya. Dalam kesatuan ini, tidak mungkin terjadi seperti analogi yang Anda katakan, “Bapa ingin api panas tetapi Roh kudus ingin api dingin”. Jika dalam perikop doa Yesus di taman Getsemani sebelum sengsara-Nya, Yesus berdoa agar cawan penderitaan berlalu daripada-Nya (lih. Mat 26:42), itu adalah karena dalam penjelmaan-Nya sebagai manusia, Ia mengalami perasaan dan kehendak sebagai manusia. Namun sebagai Allah, Yesus tetap mempunyai kehendak yang sama dengan kehendak Allah Bapa, sehingga pada akhirnya, dengan kehendak bebas-Nya, Ia berkata kepada Allah Bapa, “jadilah kehendak-Mu.” (Mat 26:42)

      Jadi karena satu hakekat-Nya, maka Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus mempunyai kemampuan, pengetahuan dan kekuasaan yang sama.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  4. Yth Ibu/Bapak
    Team Katolisitas.org

    Saya ingin menanyakan sebuah hal yg menurut sy berbahaya dan mengganggu pikiran saya yg terkait dgn Tri Tunggal Mahakudus kita. Sblmnya mohon maaf bila hal ini sudah pernah ditanyakan.

    Baru saja sy membaca sebuah forum yg menguraikan bahwa wujud Trinitas dalam Katolik diciptakan dari konsep Trinitas yg mjd ajaran kepercayaan bangsa2 purba dulu, yaitu; Mesir, Yunani, Romawi, India. Forum tsb menjelaskan bahwa Trinitas mmg diciptakan untuk merangkul bangsa2 penyembah dewa matahari tsb.

    Disitu juga dikatakan bahwa utk merangkul rakyat Babylonia yg meyakini bahwa roh “tuhan” bersemayam dalam pohon cemara lalu pohon tsb disembah, maka ditetapkanlah bahwa pohon cemara adalah simbol kelahiran Yesus. Sorry OOT

    Saya mohon penjelasan Ibu/Bapak untuk hal ini ?

    Sumber :
    <>

    Mohon bantuan, kiranya bpk/ibu bisa menghapus sumber link diatas tsb.

    Terima kasih atas perhatian Ibu/Bapak.

    Salam kasih dalam Tuhan kita Yesus Kristus,
    Antonius – Manado

    [dari katolisitas: silakan melihat link ini - silakan klik, dan klik ini]

  5. mau tau ajaran tritunggal yang orthodox dong….
    makasi

    [Dari Katolisitas: Silakan klik di sini untuk membaca tentang ajaran Tritunggal yang orthodoks (sesuai dengan aslinya) menurut Gereja Katolik]

  6. stanli supardi June 16, 2011 at 10:43 pm

    Salam Pak Stef sy mau tanya: Apakah Allah Bapa yang menciptakan langit dan bumi sama dengan Tuhan kita Yesus Kristus???

    • Shalom Stanli Supardi,

      Terima kasih atas pertanyaannya tentang penciptaan. Kita tidak dapat mengatakan bahwa pada waktu penciptaan, maka hanya Allah Bapa saja yang melakukannya. Untuk mengatakan bahwa hanya Allah Bapa yang melakukan penciptaan, Allah Putera penebusan, dan Allah Roh Kudus pengudusan, secara kaku akan menyebabkan seseorang terjerumus pada modalisme. Modalisme (Modalism) adalah bidaah yang dimulai Sabelius (abad 3), yang salah satu prinsipnya adalah mereduksi konsep Trinitas menjadi tiga mode (modes). Oleh karena itu, kita harus melihat bahwa Allah Bapa dan Allah Putera dan Allah Roh Kudus – dalam persatuan abadi Tritunggal Maha Kudus – melakukan penciptaan, penebusan dan pengudusan bersama-sama. Bahwa tiga tugas ditujukan secara spesifik kepada salah satu pribadi Trinitas disebut appropriation, yang berguna untuk memperlihatkan perbedaan tiga Pribadi dalam Trinitas. Dengan kata lain, kita tidak boleh memisahkan maupun menyatukan Pribadi dalam Trinitas secara kaku, karena akan jatuh ke salah satu bidaah. Jadi, menjawab pertanyaan anda, tugas penciptaan dilakukan bersama-sama oleh Trinitas, walaupun diperuntukkan (appropriation) kepada Allah Bapa, karena Allah Putera dan Allah Roh Kudus belum menyatakan diri Mereka secara penuh di dalam Perjanjian Lama. Semoga dapat menjawab pertanyaan anda.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • Stanli supardi June 20, 2011 at 12:59 pm

        Maaf pa. Stef. jawaban Bapa mengenai pertanyaan saya, masih kurang dapat saya pahami, sy baru berumur 15 tahun. Adakah jawaban yang lebih simple untuk dapat saya pahami? Trima kasih .

        • Shalom Stanli,

          Saya minta maaf, kalau jawabannya belum dapat dimengerti. Secara prinsip, kita harus mengingat bahwa apa yang dilakukan oleh Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus senantiasa dalam konteks Tritunggal Maha Kudus, karena ke-tiga Pribadi tersebut tidak pernah terpisahkan, baik pada waktu penciptaan, penebusan maupun pengudusan. Namun, karena Allah Putera dan Allah Roh Kudus belum dinyatakan secara eksplisit, maka orang sering mengatakan bahwa penciptaan dilakukan oleh Allah Bapa. Namun, kalau kita menyadari bahwa apa yang dilakukan oleh Allah Bapa juga dilakukan oleh Allah Putera dan Allah Roh Kudus, maka kita juga dapat menyatakan bahwa penciptaan juga dilakukan oleh Tritunggal Maha Kudus. Semoga dapat dimengerti.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – katolisitas.org

          • stanli supardi June 25, 2011 at 8:40 pm

            Slm Pak Stef.
            trimakasih atas jawabannya yang lalu,
            skrg saya mau bertanya apakah pembacaan Alkitab setiap hari di Geraja selama 1 tahun telah mencakup seluruh isi kitab suci perjanjian lama dan perjanjian baru??? trimakasih pak Stef

            • Shalom Stanli Supardi,

              Terima kasih atas pertanyaannya. Saya pernah mengulasnya di artikel ini – silakan klik, dimana saya menuliskan:
              Dalam prakteknya saat ini, setelah pembukaan, dilanjutkan dengan Liturgi Sabda yang terdiri dari: (1) Bacaan I, (2) Mazmur tanggapan, (3) Bacaan II, (4) Alleluya/bait pengantar Injil, (5) Injil, (6) Aklamasi sesudah Injil, (7) Homili, (8) Syahadat, (9) Doa Umat. Pengaturan bacaan dibagi menjadi dua. Untuk bacaan hari Minggu dan hari raya diberikan 3 bacaan (1 bacaan PL, 1 bacaan PB, 1 Injil), yang dibagi menjadi tahun A, B, C. Tahun C dihitung kalau tahun saat ini dapat dibagi 3. Sebagai contoh, tahun 2010 adalah angka yang dapat dibagi 3, maka tahun 2010 adalah tahun C dan tahun 2011 adalah tahun A. Tahun A mengambil Injil Matius, B Markus ,C Lukas. Injil Yohanes digunakan pada masa-masa Prapaskah dan Paskah, sedangkan Kisah Para Rasul dipakai sebagai bacaan I pada masa Paskah. Sedangkan untuk bacaan Misa Harian, ada dua bacaan, yaitu bacaan I menggunakan tahun I (tahun ganjil, contoh: 2011) dan tahun II (tahun genap). Dan bacaan II (Injil) menggunakan perhitungan: Pekan I-IX adalah Injil Markus, X-XXI – Injil Matius, XXII-XXXIV – Injil Lukas.

              Dengan demikian, kalau kita membaca bacaan harian dan mingguan, maka kita hampir mengupas keseluruhan Alkitab secara garis besar.

              Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
              stef – katolisitas.org

        • Salam Stanli Supardi. Coba buka Kitab Sucimu, buka kitab Kejadian . Lihat Bab 1:1-2, bacalah : Allah menciptakan langit dan bumi. Roh Allah ikut di situ. Roh Allah yg kita kenal dg Roh Kudus melayang-layang. Adegan berikutnya, . yak… Allah berFIRMAN… Nah, Siapakah Firman Allah? Kristus. Firman ini kelak menjadi manusia, kan? Itulah Kristus. Naaah… Stanli, saya senang kamu masih remaja tapi sudah mau serius belajar iman Katolik. Semoga Allah memanggilmu menjadi orang berguna bagi Gereja Katolik dan masyarakat. Siapa tahu terpanggil jadi imam, atau jadi tokoh awam seperti Pak Stef. Salam saya, kakek dari Semarang: Isa inigo

          • Stanli supardi June 21, 2011 at 10:05 pm

            kakek terimakasih atas penjelasannya. Saya sdh cukup mengerti. kek trimaka kasih juga atas perhatian kakek. Smoga kakek sehat selalu GBU always :D

  7. Aquilino Amaral June 16, 2011 at 7:24 am

    Salam bu Ingrid,

    saya ada lagi pertanyaan tentang Kristologi.
    Pertanyaan saya adalah: Yesus bertumbuh di Nazaret dan dibesarkan di sana, dan mengajar segala sesuatu kepada orang Yahudi maupun non-Yahudi. Dan Yesus bersama-sama dengan para muridNya serta hidup bersama dengan mereka sebelum wafat, bangkit dan naik ke surga. Namun selama 40 hari setelah Tuhan Yesus bangkit masih ada didunia ini.

    Apakah Yesus yang tubuhnya sudah dimuliahkan masih tidur dan makan seperti dulu sebelum Ia wafat, dan bangkit?
    ataukah setelah Tuhan Yesus bangkit lingkungan mengalami perubahan bukan seperti dulu?
    Di injil tidak menyebutkan secara detail kehidupan Yesus setelah bangkit. hanya menampakan diri lalu menghilang. mohon penjelasannya!!!

    Salam damai dalam Kristus Tuhan!

    Aquilino Amaral

    • Shalom Aquilino,

      Silakan anda membaca artikel tentang Kebangkitan Badan, silakan klik.

      Secara umum para Bapa Gereja mengajarkan bahwa tubuh akan bangkit lagi dengan integritas yang lengkap, bebas dari distorsi, dari bentuk yang buruk maupun cacat. St. Thomas Aquinas mengajarkan, “Orang akan bangkit lagi dengan kemungkinan terbesar akan kesempurnaan alami,” sehingga artinya, [tubuh yang bangkit itu] di tahap usia yang dewasa (Summa Theology, Suppl. 81.1). Integritas dari tubuh setelah kebangkitan juga mensyaratkan organ- organ tubuh, dan pembedaan jenis kelamin. Namun demikian fungsi- fungsi vegetatif (makan dan berkembang biak) tidak ada lagi. Sebab dikatakan dalam Mat 22:30, “Mereka akan menjadi seperti malaikat Tuhan di surga.”

      Namun untuk membuktikan kepada para murid-Nya bahwa Ia sungguh telah bangkit dari mati, ketika Yesus menampakkan diri kepada para rasul-Nya, Ia minta diberi makan ikan. Dengan demikian para rasul menjadi percaya, tidak ragu lagi, bahwa yang nampak di hadapan mereka adalah Kristus, dan bukan hantu. Meskipun demikian, keadaan umum setelah kebangkitan badan di akhir jaman kelak, semua orang percaya yang diselamatkan akan diubah menjadi seperti malaikat; sehingga tidak akan merasa lapar, haus, lelah, mengantuk ataupun memiliki keinginan badani lainnya yang menunjukkan adanya kekurangan akan pemenuhan kebutuhan tubuh. Sebab semua orang yang diselamatkan oleh Tuhan akan bersatu dengan-Nya dan mencapai kesempurnaan kebahagiaan kekal di surga, dan tidak ada lagi yang kurang yang harus dipenuhi, sebab Tuhan sudah meraja di dalam semua.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  8. Budi Darmawan Kusumo June 8, 2011 at 4:04 pm

    Syalom Tim Katolisitas,

    Kita tahu bahwa selama di Perjanjian Lama itu Tuhan berbicara pada Bangsa Israel, nah yang saya tanyakan itu sebenarnya yang berbicara dengan bangsa Israel adalah Allah Bapa atau Allah Putera ?
    (berhubung saya tidak punya alkitab bahasa yunani) sering kali saya dengar katanya nama YHWH itu dipake di perjanjian lama sebanyak 5000 kali lebih. Sedangkan di alkitab Bahasa Indonesia, seringkali Tuhan berfirman dengan menggunakan kata – kata ‘demikianlah FIRMAN Tuhan’. Nah kita tahu bahwa Firman Tuhan adalah Yesus sendiri.

    Kalau menurut pemikiran saya sih, perjanjian lama itu yang ngomong adalah Allah Putera ( sabda dari YHWH ) yang menciptakan segala sesuatu tapi tentunya sesuai kehendak Allah Bapa. Karena kayaknya kita manusia itu bahkan tidak pantas mendengar suara Allah Bapa itu sendiri ( terlalu kudus bagi kita ), sehingga Allah putera adalah perantara kita.

    Tuhan Yesus memberkati & Bunda Maria selalu menuntun anda pada putraNYA

    • Shalom Budi Darmawan,

      Silakan anda terlebih dahulu membaca jawaban Stef atas pertanyaan yang serupa dengan pertanyaan anda, silakan klik.

      Dengan penghayatan akan kesatuan Allah Trinitas, maka sesungguhnya kita tidak akan mempertanyakan siapakah di antara Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus, yang kedudukannya “lebih tinggi”. Karena ketiganya Satu hakekatnya, maka tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah, atau lebih kudus dan lebih kurang kudus. Allah yang menyebut diri-Nya YHWH adalah sehakekat dengan Sang Firman itu yang adalah Kristus. “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.” (Yoh 1:1-3).

      Jadi kelirulah anggapan yang mengatakan bahwa Kristus Allah Putera “lebih rendah” dari Allah Bapa; apalagi mengatakan bahwa Allah Putera itu merupakan mahluk yang diciptakan oleh Allah Bapa, semacam malaikat yang tertinggi. Ini adalah prinsip ajaran sesat Arius di awal abad ke 4, yang alirannya dikenal dengan nama Arianisme. Ajaran sesat Arianisme ini ditolak oleh para Bapa Gereja, di Konsili Nicea (325). Melalui Konsili Nicea inilah kita mengenal Kredo/ Syahadat panjang, teksnya ada pada buku Puji Syukur no.2, yang intinya mengakui kesetaraan Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus, sebagai Allah yang Satu.

      Maka walaupun memang sesungguhnya manusia tidak pantas mendengar suara Allah Bapa yang Maha agung itu karena besarnya jurang antara Allah dan manusia yang berdosa, namun Allah Bapa sendiri yang berusaha menghapuskan jurang itu. Allah Bapa merangkul kita manusia, dengan mengutus Putera-Nya yang Maha agung itu kepada manusia, agar kita dapat mendengar-Nya, melihat-Nya, dan agar melalui Kristus kita ‘diangkat’ menjadi anak- anak angkat-Nya dan mengambil bagian dalam kehidupan ilahi-Nya. Maka Kristus memang adalah Pengantara kita, namun tidak berarti dia menjadi ‘lebih rendah’ dari Bapa, atau kekudusan-Nya tidak sama dengan Allah Bapa. Kristus adalah Putera Allah yang Tunggal, Ia setara dengan Allah Bapa. Hanya saja, dalam suatu periode dalam sejarah manusia, Kristus mengambil rupa manusia (namun demikian, Ia tidak berhenti menjadi Allah), agar dapat membawa manusia kepada Allah Bapa.

      Teks Flp 2:5-11, Rom 8:15, 2 Kor 8:9  dengan jelas menyebutkan hal ini.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

       

  9. Aquilino Amaral May 18, 2011 at 12:09 pm

    Salam bu Inggrid,

    Saya telah membaca artikel tentang Trinitas, dan telah memahaminy dengan baik walaupun sulit untuk menjelaskan kepada orang lain dengan bahasa yang sama, namun saya dapat menjelaskan dengan bahasa ku sendiri kepada orang lain.

    Namun saya ingin bertanya, bahwa tentunya sebelum dunia dijadikan Yesus (firman telah ada) yang bersama-sama dengan Allah telah mencipatkan segala sesuatu. Setelah firman itu menjadi manusia dan diam didalam dunia bersama-sama dengan manusia dan naik ke surga. yang menjadi pertanyaan saya adalah, Apakah Tuhan Yesus yang duluNya Sebagai Firman ini setelah naik ke surga akan di sebut sebagai Firman? atau Yesus tidak lagi di panggil melainkan Tuhan Yesus, anak Putra Bapa saja?

    Kalau seandainya pertanyaan ini sudah di jawab di artikel lain, saya mohon maaf. Dan saya sangat menghargai jika bu Inggrid menjawabnya kembali.

    Salam damai dalam kristus Yesus

    Aquilino

    • Shalom Aquilino Amaral,

      Terima kasih atas pertanyaannya. Memang tidak mudah untuk menjelaskan Trinitas. Seperti yang dikatakan di Yoh 1:1 bahwa Firman itu telah ada bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah serta dari Yoh 8:58 yang mengatakan bahwa sebelum Abraham jadi, Yesus telah ada, maka Yesus telah ada bersama-sama dengan Bapa dan bersama dengan Roh Kudus melakukan segala sesuatunya bersama-sama. Dengan demikian, penciptaan, penebusan dan pengudusan dilakukan secara bersama-sama oleh Tritunggal Maha Kudus. Bagaimana dengan kodrat Yesus setelah naik ke Sorga? Dikatakan di dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK, 668):

      “Kristus telah-wafat dan hidup kembali,supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup” (Rm 14:9). Kenaikan Kristus ke surga berarti bahwa Ia sekarang dalam kodrat manusiawi-Nya ikut serta dalam kekuasaan dan wewenang Allah. Yesus Kristus adalah Tuhan: Ia mempunyai segala kuasa di surga dan di bumi. Ia “jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan” dan Bapa “meletakkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus” (Ef 1:20-22). Kristus adalah Tuhan semesta alam Bdk. Ef 4:10; 1 Kor 5:24.27-28. dan sejarah. Dalam Dia sejarah manusia, malahan seluruh ciptaan sekali lagi “dipersatukan” di bawah satu kepala (Ef 1:10), dan secara transenden disempurnakan.”

      Ini berarti di dalam Sorga, Kristus tetap membawa kodrat-Nya yang sungguh Allah dan sungguh manusia, dengan tubuh yang telah dimuliakan dan dengan kodrat kemanusiaan dan ke-Allahan-Nya. (lih. St. Thomas Aquinas, Summa Theology, III, q.54 a.1-4)Jadi, semua attribut yang diberikan kepada Kristus tidaklah berubah, hanya pada saat kita berada di Sorga, maka kita akan dapat melihat Kristus seperti adanya Dia dalam relasi-Nya dengan Tritunggal Maha Kudus. Bahkan kita melihat dan berpartisipasi dalam kehidupan Trinitas melalui dan dalam Kristus (The Word). Hanya melalui dan dalam Kristus inilah, maka kita dapat melihat Allah sebagaimana adanya Dia atau kita melihat Allah muka dengan muka. Semoga dapat memperjelas.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  10. Antonius Widya Sasongko April 4, 2011 at 4:22 pm

    Shalom pengelola Katolisitas,
    Saya ingin menanyakan perihal ajaran Trinitas, apakah telah dikenal oleh orang-orang Yahudi baik tersirat maupun tersurat sebelum masa Yesus, karena mereka mengenal istilah-istilah “Anak Allah”, “Anak manusia”, ” Mesias”, dimana mereka mempunyai ekspetasi yang tinggi terhadap Mesias dan meragukan Yesus adalah Mesias dan Anak Allah, juga beberapa kali Yesus menyatakan bahwa Dialah “Anak Manusia” istilah yang akrab di telinga orang-orang Yahudi. Mohon maaf kalau pertanyaan ini sudah pernah dibahas. Terima kasih

    • Shalom Antonius Widya,

      Nampaknya orang- orang yang beragama Yahudi (Judaism), baik dahulu maupun sampai sekarang belum mengenal konsep Trinitas, sebab mereka tidak percaya bahwa Kristus adalah Putera/ Anak Allah dan karena itu Yesus adalah Allah sendiri (karena hakekat anak selalu sama dengan hakekat bapanya), dan berada di dalam kesatuan Allah Trinitas. Justru karena orang Yahudi tidak percaya bahwa Yesus adalah Allah dan menganggap Yesus menghujat Allah karena menyatakan diri-Nya sebagai Putera Allah, maka mereka menjatuhi Yesus dengan hukuman mati di kayu salib.

      Maka, konsep mereka tentang Mesias juga berbeda dengan konsep Mesias yang diajarkan oleh Yesus. Orang Yahudi mengharapkan Mesias sebagai seseorang yang dapat memulihkan kejayaan bangsa Israel (lih. Kis 1:6), sedangkan Yesus mengajarkan bahwa Mesias adalah Sang pemulih umat manusia dari dosa, menggenapi nubuatan para nabi, bahwa Mesias harus menderita (Luk 24:46; Kis 3:18) sebelum kejayaan-Nya untuk memulihkan umat Israel agar masuk Tanah terjanji yaitu kehidupan kekal di Surga (lih. Yer 30:3, Yoh 3:36; 6:40).

      Sedangkan arti kata “Anak Manusia”, yang memang sudah ada di Kitab Perjanjian Lama:

      1) Sebagai ungkapan puitis untuk manusia yang sempurna, seperti yang pernah disebutkan dalam Bil 23:19, “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta; bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal.” Yes 56:2, “Berbahagialah orang yang melakukannya, dan anak manusia yang berpegang kepadanya…” Mzm 80:17, “Kiranya tangan-Mu melindungi orang yang di sebelah kanan-Mu, anak manusia yang telah Kauteguhkan bagi diri-Mu itu.”

      2) Mengacu kepada Nabi Yehezkiel, yang dinyatakan oleh Tuhan sebanyak lebih dari 90 kali sebagai anak manusia (lih. Yeh 2:1-).

      3) Di penglihatan Nabi Daniel, sebagai Raja Mesianis (lih. Dan 7:13)

      Di Kitab Perjanjian Baru yaitu Injil, istilah “Anak Manusia” ini sering diucapkan oleh Yesus sendiri untuk menyebut Diri-Nya. Ini berkaitan juga sebagai pemenuhan misi-Nya sebagai Adam yang kedua. Sebab Adam (manusia pertama) telah jatuh dalam dosa dan membawa seluruh umat manusia jatuh ke dalam kuasa dosa dan maut, sehingga Allah Bapa mengutus Putera-Nya Yesus Kristus untuk menjadi manusia sebagai Adam yang kedua untuk memulihkan umat manusia dari kejatuhan akibat dosa dan memberikan hidup kekal. Perbandingan Yesus sebagai Adam yang kedua ini diajarkan oleh rasul Paulus (lih. Rom 5: 12-21).

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  11. Tuhan Allah “Segala dari Maha”, salah satunya Maha suci = tidak ada satupun ciptaan-Nya yang bisa berhadapan langsung denga-Nya, Dia adalah Roh / zat. Maha Kuasa = Kun kayafun jadi ; apapun bisa dilakukan Allah meski tidak bisa dilogika manusia karena kesangat terbatasnya akal manusia, kita diberi anugerah berupa iman sebagai wujud karya roh Tuhan sendiri Roh kudus. Maha Kasih, Pengampun & Penyayang : Tuhan sangat mengasihi setiap ciptaan-Nya termasuk manusia. Manusia berdosa, wajib masuk neraka dan tidak layak dihadapan-Nya, tetapi dilayakkan oleh-Nya sendiri melalui perwujudan Tuhan Yesus karena tidak ada yang bisa menebus dosa manusia selain kasih Tuhan Allah sendiri yang jelas tidak bisa berinteraksi langsung dengan wujud roh / zat sehingga menyatakan diri-Nya / menjelma menjadi manusia Yesus Kristus (Allah roh berfirman mewujudkan diri-Nya sebagai manusia Yesus, Terangkat Surga menjadi Firman seperti semula menjadi Satu kembali Tuhan Allah yang Esa. Maha Benar ; Ketika Yesus dimuliakan diatas gunung Tabor berubah rupa / bercahaya ada suara sorgawi “inilah Anak-ku yang Ku kasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia !, Firman Tuhan. Dengarkanlah Dia, artinya tidak ada yang lain, selain sabda Tuhan Yesus “jangan didengar”. tetapi ironinya di gunung Tabor Tuhan Yesus dimuliakan tetapi di bukit Golgota Dia dihina, diludahi, dibunuh ; apa artinya ? sebagai murid Yesus dan penerima keselamatan dari-Nya ; wajib memikul salib & menyangkal diri dengan segala pengorbanan bahkan nyawa kita (tidak heran menjadi pengikut kristus sering dihujat bahkan terbunuh / sudah menjadi nubuatan Tuhan Yesus dihujat sejak jaman Yahudi sampai sekarang bahkan tidak ada nabi2 sebelumnya yang diberlakuan seperti Yesus), “maka” kemulian berupa kehidupan kekal yang menjadi upahnya. Kesimpulannya pengorbanan & kemuliaan menjadi satu paket yang tidak bisa dipisahkan dan berjalan seiring sebagai orang kristen.

    [Dari Katolisitas: komentar ini digabungkan karena masih satu topik]

    Berbahagialah apabila kita dipilih Tuhan Yesus, sekali lagi tidak ada satupun manusia termasuk nabi bisa menyelamatkan dirinya sendiri apalagi seluruh manusia dari zaman ke zaman “kecuali” hanya Tuhan sendiri. Kita diberi anugerah “Iman”, Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak bisa kita lihat karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat. Firman juga telah menjadi manusia yaitu Tuhan Yesus, menyapa & menyatu pada ciptaannya di bumi. Tuhan Allah berfirman langsung kedunia nyata dalam penjelmaannya sebagai manusia dan berkarya sebagai wujud nyata kasih-Nya kepada ciptaa-Nya, mengampuni dan menyelamatkannya dari maut kekal bagi yang mengimaninya. Ketekunan wajib bagi pengikutnya. “Sebab itu janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya” (Ibrani 10:36). Ingatlah saudara2 ; jika orang yang menolak hukum taurat Musa saja bisa dihukum mati tanpa belas kasihan “apalagi/ betapa beratnya” yang menolak, menginjak-injak penyelamatan karya Roh Allah yang menjadi manusia Yesus tersebut (Ibrani 10:28-29). dan camkan ini : “sebab sedikit, bahkan sedikit waktu lagi, dan Ia yang akan datang, sudah akan ada, tanpa menangguhkan kedatangan-nya. Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya. (Ibrani 10:37-38). Halelluya

    • Shalom Andri,

      Di dalam kamus “zat” diartikan sebagai 1) “substance” atau esensi/ hakekat, 2) namun zat juga dapat berarti unsur atau bagian yang merupakan pembentuk bagian yang lain. Nah, maka pengertian yang kedua ini tidak dapat digunakan untuk menjelaskan definisi Allah, sebab Allah bukan unsur.

      Bahwa Kristus dimuliakan di gunung Tabor, tetapi kemudian disalibkan di gunung Golgota, itu bukan untuk dipertentangkan tetapi untuk dilihat sebagai kesatuan. Dalam hal ini pandangan anda benar. Rasul Pauluspun mengajarkan demikian, sebab baginya kekuatan Allah dinyatakan oleh Kristus yang disalibkan, “…. aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu. Sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan…. Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.” (1 Kor 2:1-5).

      Selanjutnya, ya memang benar bahwa kita harus dengan tekun mengerjakan keselamatan kita (artinya melaksanakan semua perintah- perintah Tuhan), seperti juga telah diajarkan oleh Rasul Paulus, “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir….” (Fpl 2:12).

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

       

      • Di dalam teologia, Putera Allah berbeda dengan Allah Putera. Di dalam KGK, saya tidak menemukan Allah Putera, yang ada hanya Putera Allah. Mengapa Anda banyak memakai Allah Putera di dalam artikel ini?

        • Shalom Johnsum,
          Sebenarnya Putera Allah dan Allah Putera keduanya mengacu kepada Yesus Kristus. Di Katekismus memang digunakan istilah ‘Putera Allah’ (Son of God). Sedang penggunaan kata ‘Allah Putera’ (God the Son) juga mengacu kepada Kristus sebagai Putera yang tunggal (the Son), sebagaimana kita menggunakan kata [God] the Father and the Holy Spirit> (Dikatakan dalam Mat 28:19-20: Allah Bapa dan Putera dan Roh Kudus). Jadi penggunaan istilah God the Son ini, hanya untuk menunjukkan keistimewaan Yesus sebagai Putera Tunggal Allah yang sehakekat dengan Allah, jika dibandingkan dengan kita umat beriman, yang melalui baptisan juga menjadi ‘son of God’ (putera Allah).

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • ajaran satu tuhan tiga pribadi bertabrakan dengan

        Kis 7:55 Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah.

        Stefanus menyaksikan ada dua tuhan yaitu Yesus dan Allah yang sedang berdiri bersebelahan pada saat bersamaan …

        [dari katolisitas: Dimanakah pertentangannya? Stefanus mengalami satu Allah dalam tiga Pribadi: Allah Roh Kudus, Allah Bapa dan Allah Putera.]

        • Stefanus bukan MENGALAMIi satu Allah tiga pribadi tetapi MELIHAT ada dua pribadi berbeda yang sedang berdiri bersebelahan yaitu Tuhan Allah dan Yesus

          Kis 7:55 Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu MELIHAT kemuliaan Allah dan Yesus BERDIRI DI SEBELAH KANAN Allah.

          Apa yang disaksikan Stefanus adalah dua pribadi berbeda yaitu pribadi Tuhan Allah dan pribadi Yesus ….mereka ada DUA pribadi ….bukan SATU

          • Shalom Cisko,

            Terima kasih atas komentarnya. Seperti yang saya katakan sebelumnya, tidak ada pertentangan antara Trinitas dan ketika Stefanus mengalami tiga Pribadi dari Trinitas: dua Pribadi dilihatnya, dan satu Pribadi (Roh Kudus dialaminya), seperti yang dituliskan “Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah.” (Kis 7:55)

            Umat Kristen mempercayai Trinitas yang adalah tiga Pribadi (three persons) bukan satu; yang satu adalah hakekatnya (one substance). Kalau anda ingin memberikan argumentasi bahwa tiga Pribadi ini bertentangan dengan Satu Tuhan, maka anda harus memberikan argumentasi bahwa “hakekat” adalah sama dengan “pribadi”. Jadi, silakan memberikan definisi “pribadi” dan “hakekat”.

            Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
            stef – katolisitas.org

  12. menurut saya dr ketiga unsur trinitas itu, yg berbentuk secara fisik yg di tengah, yaitu kristus, dua yg lain berbentuk abstrak (spiritual), tlg dikoreksi kl salah.

    • Shalom Bung,

      Ketiga pribadi dalam Trinitas menjalankan fungsi penciptaan, penebusan dan pengudusan secara bersama-sama. Namun, pribadi ke dua – yaitu Allah Putera, Kristus – inilah yang masuk dalam sejarah manusia, mengambil kodrat manusia, sehingga Yesus mempunyai dua kodrat, yaitu sungguh Allah dan sungguh manusia. Karena Yesus mengambil kodrat manusia, maka Dia mempunyai tubuh dan jiwa, sama seperti kita. Bagaimana dengan dua Pribadi yang lain, tentu saja Mereka tidak terpisahkan dengan Kristus sendiri (Pribadi ke-dua), di mana ketiganya mempunyai satu hakekat (essence), yaitu Allah, yang spiritual. Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • shalom, terima kasih atas penjelasan yg singkat padat dan jelas atas pertanyaan saya tsb. jadi bisa saya jelaskan pada perdebatan dgn keluarga istri saya yg muslim ( saya menikah dgn istri secara muslim, namun saya tetap ‘katolik’, walau saya tdk dpt menerima hosti, maaf).

        • Shalom Bung,
          Jika anda rindu untuk menerima Komuni kembali, silakan anda menghadap pastor paroki bersama dengan istri anda agar anda dapat mengadakan Convalidasi perkawinan; yang artinya ikatan perkawinan anda diteguhkan/ disahkan secara Katolik. (Tentu anda perlu mengaku dosa dalam Sakramen Pengakuan Dosa sebelumnya, karena telah sekian lama meninggalkan iman Katolik anda). Istri anda tidak harus menjadi Katolik, tetapi tentu kalau ia mau menjadi Katolik itu baik, sehingga anda dapat menerima sakramen perkawinan. Jika istri anda tetap muslim juga tidak apa-apa, namun ia mengetahui dan menyetujui janji anda di hadapan Tuhan untuk tetap teguh memegang iman anda dan komitmen anda untuk mengusahakan sedapat mungkin agar dapat meneruskan iman ini kepada anak- anak yang dipercayakan Tuhan kepada anda.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

  13. Saya kesulitan menjelaskan Trinitas adalah paham MonoTheis (Allah yang Esa)
    ketika ada (umat agama lain) yang bertanya mengenai peristiwa pembaptisan Yesus (Mat 3:16-17 dan paralelnya),
    di mana setelah pembaptisan di sana nampak 3 pribadi secara bersamaan:
    Yesus, Roh Allah (Roh Kudus) dalam rupa Merpati, dan Suara dari Langit (Bapa)…

    Di mana pada Peristiwa tersebut terlihat ada lebih dari 1 Allah….
    Bagaimana menjelaskan kepada mereka mengenai keEsaan Allah, menanggapi perikop tersebut??

    • Shalom Wisnu,

      Allah kita adalah Allah yang Satu tetapi mempunyai tiga Pribadi, yaitu Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus. Memang tidak mudah menjelaskan bagaimana tiga Pribadi ini adalah satu Hakekatnya. Kita dapat menjelaskannya dengan contoh sederhana yaitu hakekat air yang mempunyai tiga wujud, yaitu air biasa, es batu dan uap air. Namun demikian, ini bukan contoh yang sempurna- karena sebenarnya Tuhan itu adalah Roh (Yoh 4:24) sehingga tidak berwujud material.

      Walaupun Allah tidak mempunyai wujud materi, namun pada suatu saat dalam sejarah manusia ketika telah genap waktunya, Allah Bapa memutuskan untuk mengirimkan Allah Putera ke dunia (lih. Rom 4:4) oleh kuasa Roh Kudus, dan Ia diberi nama Yesus. Sewaktu menjadi manusia, Yesus mempunyai tubuh dan jiwa manusia, walaupun juga, karena Yesus adalah Allah, maka Ia tidak berhenti menjadi Allah (lih. KGK 464); dan kepenuhan Allah juga tetap diam di dalam Dia (Kol 1:19). Pada waktu penjelmaannya, orang banyak di sekitar Yesus tidak mengetahui bahwa Yesus adalah Allah, karena Yesus tidak pernah mengatakan bahwa Diri-Nya adalah Allah. Tapi, ada banyak bukti yang tertulis dalam Kitab Suci yang menunjukkan bahwa Yesus itu Allah. Contohnya antara lain adalah pada waktu Tuhan Yesus dibaptis oleh Yohanes. Pada waktu itu, terdengarlah suara dari sorga, yang mengatakan, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” (Mat 3:17). Suara ini datang dari Allah Bapa di surga. Dan Roh Allah yang seperti burung merpati turun ke atas Yesus. Nah, di sini kita melihat sepertinya ada tiga Pribadi Allah itu, namun sesungguhnya ketiga-nya adalah Satu. (Ingat analoginya seperti prinsip perumpamaan ketiga wujud air H2O).

      Jadi ketiga-Nya adalah Satu Allah, walaupun pada saat pembaptisan itu terlihat Kristus (Allah Putera yang menjelma menjadi manusia), dan Roh Kudus yang dikatakan ‘seperti burung merpati’ dan terdengar suara Allah Bapa. Maka manifestasi Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus pada saat Pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis ini adalah untuk menyatakan adanya ketiga Pribadi Allah, dan untuk menyatakan kepada masyarakat publik bahwa Kristus adalah Sang Mesias, Anak Allah (lih. KGK 535). Sama bahwa setiap anak sama hakekatnya dengan ayahnya, maka jika Allah menyebutkan bahwa Kristus adalah Anak-Nya, maka hakekat Kristus sama dengan hakekat Allah Bapa yang mengutus-Nya. Dan bahwa Kristus Allah Putera mengambil rupa manusia (lih. Flp 2:7) itu dimungkinkan karena kuasa Roh Kudus (lih. Luk 1:35, KGK 484). Roh Kudus itu selalu bersama dengan Kristus, dan Roh Kudus pula yang membangkitkan-Nya dari kematian (lih. Rom 8:11).

      Demikian sekilas tanggapan saya, semoga berguna.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  14. saya mau tanya..
    saya dr kecil sudah hidup sbg katolik.. saya percaya YESUS.. namun saya sadar bahwa yang saya imani salah, saya mengimani YESUS sebagai PUTERA ALLAH bukan sebagai ALLAH BAPA.. saya percaya YESUS dan ALLAH merupakan 2 pribadi yaitu Bapa dan Putera, karena dalam tiap injil Yesus sering mengatakan bahwa dirinya anak Allah.. sampai dititik saya menyadari bahwa Yesus adalah Allah sendiri.. namun mengapa Yesus mengatakan klo dirinya anak Allah dan doa aku percaya yang menjadi landasan iman katolik pun,, mengatakan Yesus bangkit duduk disebelah kanan Allah? saya semakin tidak mengerti.. tolong dibantu, karena saya percaya pada Yesus, merasakan kehadiranNYA namun tidak mengenal DIA.. terimakasih..
    tolong kirimkan juga jawaban ke email saya… GBU

  15. Katolisitas, ada yg ingin sy tanyakan ttg konsep tritunggal. Sbg orang awam dan masih sekolah,sy masih rancu dg konsep ini. Apakah yg dimaksud dg Tritunggal ini mengacu pd 3 pribadi yg kmudian dikenal dg nama Allah yg brsifat mahakuasa? artinya Allah Bapa + Allah Putra + Allah Roh Kudus = bersatu mjd Allah pencipta yg mahakuasa. ataukah yg brsifat mahakuasa hanya Allah Bapa? ( spt dlm syahadat ‘aku prcya akan Allah,Bapa yg mahakuasa,pncipta lngit & bumi…’) jika dmikian Allah Bapa lbh brkuasa drpd prbdi Allah Putra (Yesus) ? lalu,kalimat ini jg membuat sy rancu – ‘dan putraNya yg tunggal,Tuhan kita Yesus Kristus..,’ lalu dimana posisi Yesus?sbg putra Allah,atau Tuhan? pemahaman sy Tuhan= Allah=pncipta yg mahakuasa,maha sglanya… Jika bgtu Yesus adl Allah sndiri? Tp knpa saat Yesus d baptis,ada suara ‘inilah Anak yg Kukasihi’, kalau bgtu Yesus bukan Allah/Tuhan itu sndiri,krna ada pribadi yg lbh tinggi?
    dikatakan Yesus kturunan Daud,kalau Bunda Maria mngndung dr Roh Kudus,knpa Yesus dktakan kturunan Daud?bkankah yg kturunan Daud adl Yusuf?
    Saya mhn pncerahannya,terimakasih.
    Berkah dalem

    • Shalom Gracia Karina,

      1. Terima kasih atas pertanyaannya tentang Trinitas. Mungkin ada baiknya anda membaca artikel tentang Trinitas di atas – silakan klik. Semoga dengan membaca artikel tentang Trinitas, maka anda mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang topik ini. Secara prinsip, Trinitas adalah kehidupan interior dari Allah, yang terdiri dari Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus. Manusia tidak akan mengetahui hal ini, kalau Allah sendiri tidak memberikan wahyu kepada manusia. Dan Wahyu tentang Allah Bapa dapat kita lihat secara jelas di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Allah Putera dan Allah Roh Kudus digambarkan secara samar-samar dalam PL. Kemudian di dalam PB, maka pribadi Allah Putera menjadi lebih jelas, karena Yesus membuktikan bahwa Dia adalah Tuhan, yang dapat mengampuni dosa, memberikan hukum dalam nama-Nya sendiri, dan memberikan begitu banyak mukjizat, yang hanya Allah saja yang dapat melakukannya. Dan pribadi ke-tiga dalam Trinitas – Roh Kudus – dimanifestasikan secara penuh pada hari Pentekosta. Jadi, Trinitas bukanlah berdasarkan praduga atau sekedar konsep. Lebih daripada itu, kita mempercayai Trinitas karena Tuhan sendiri yang mewahyukannya kepada kita. Untuk lebih mudah menangkap konsep Trinitas, mulailah dari sosok Yesus – pribadi ke-dua dalam Trinitas, karena Dia hadir secara nyata di dunia, dicatat dalam sejarah manusia. Kalau anda mau, maka anda dapat membaca beberapa artikel Kristologi di bawah ini:

      Iman Katolik bersumber pada Allah Tritunggal dan berpusat pada Kristus, Allah yang menjelma menjadi manusia untuk menyelamatkan kita. Inkarnasi, Allah menjadi manusia, adalah perbuatan Tuhan yang terbesar, yang menunjukkan segala kesempurnaanNya: KebesaranNya, namun juga KasihNya yang menyertai kita. Penjelmaan Allah ini telah dinubuatkan oleh para nabi. Yesus Kristus yang kita imani sekarang adalah sungguh Yesus Tuhan yang ber-inkarnasi dan masuk ke dalam sejarah manusia, karena Yesus sungguh Allah dan sungguh manusia.

      2. Dari beberapa artikel tersebut, anda dapat membaca pembuktian bahwa Yesus adalah Allah. Hal penting yang lain adalah, ketiga Pribadi Tritunggal Maha Kudus melakukan penciptaan, penebusan dan pengudusan secara bersama-sama. Saran saya, mulailah dari pribadi Yesus sendiri. Dengan memahami Yesus sebagai Allah, maka kita akan dibawa masuk secara lebih mendalam kepada Trinitas. Anda bertanya “dimana posisi Yesus”? Posisi Yesus adalah pribadi ke-dua dalam Trinitas, yang mempunyai kodrat sungguh Allah dan sungguh manusia. Mengapa saat dibaptis ada suara “inilah Anak yang kukasihi”? Hal ini untuk mengungkapkan ada pribadi yang lain dari Trinitas, yaitu Allah Bapa dan juga Allah Roh Kudus – yang dilambangkan dengan burung merpati.

      3. Kemudian, dikatakan bahwa Yesus adalah keturunan Daud, karena di dalam Perjanjian Lama telah dinubuatkan bahwa keturunan Daud akan memegang kerajaan untuk selamanya (lih. 2Sam 7:12). Sang Mesias juga dikenal sebagai Anak Daud, sehingga orang buta berteriak “Kasihanilah kami, hai Anak Daud” (lih. Mt 9:27) dan memperoleh kesembuhan sebagai pemenuhan ayat Yes 35:5. Bagaimana menjelaskan bahwa Yesus adalah keturunan Daud?

      St. Agustinus mengatakan, bahwa dengan perkawinan St. Yusuf dengan Bunda Maria, maka Yesus dapat dikatakan sebagai anak St. Yusuf (walaupun kelahiran Yesus tidak melibatkan campur tangan St. Yusuf), yang adalah keturunan Daud (St. Augustine, On the Harmony of the Gospels, II, i, 2).

      Tradisi juga mengatakan bahwa Bunda Maria adalah keturunan Daud. Sebab menurut Bil 36:6-12 dikatakan bahwa seorang anak tunggal perempuan harus menikah dengan salah seorang anggota keluarga besarnya sendiri. Hal ini diajarkan oleh para Bapa Gereja yaitu St. Yustinus (Adv. Tryph. 100), St. Ignatius (Letter to the Ephesians 18), yang juga secara tidak langsung disampaikan dalam Kitab Suci (lih. Rom 1:3, 2 Tim 2:8). St. Yohanes Damaskus mengatakan bahwa ayah kakek Bunda Maria adalah Panther yang adalah saudara laki-laki/ brother dari Mathat. Kakek Bunda Maria yaitu Barphanter, adalah sepupu dari Heli (Eli) dan ayah Bunda Maria yaitu Yoakim adalah sepupu dari St. Yusuf. Dengan demikian, Bunda Maria adalah keturunan Daud dari Nathan.

      Semoga keterangan ini dapat menjawab pertanyaan anda. Dan mari kita menyadari, bahwa walaupun Trinitas adalah suatu misteri, namun misteri ini tidak bertentangan dengan akal budi dan menjadi lebih nyata, karena Yesus – pribadi ke-dua dari Trinitas – telah menjadi manusia dan telah membuktikan bahwa Dia adalah Tuhan. Dan Roh Kudus – Pribadi ke-tiga dalam Trinitas – terus berkarya sampai sampai akhir zaman sebagai jiwa dari Gereja dan memberikan inspirasi dan kekuatan kepada seluruh umat beriman untuk berjuang dalam kekudusan menuju kepada kehidupan kekal.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  16. aq gak tw kolom untuk bertanya……..
    emg dimn kolom bwt bertanya????????

    aq ingin tau di katolik kita mengenal namanya Allah tritunggal yaitu Allah bapa, Allah putra( yesus), roh kudus, tetapi yang saya mbuat bingung lalu kita meyembah yg mn Allah bapa atau yesus kristus???????

    menurut aku sendiri yesus sbgai sang juru slamat yg menuntun kita ke jalan Allah, shingga yesus sbg perantara untuk melihat kepribadian Allah dalam diri Yesus sendiri, agar manusia mengetahui kepribadian Allah yg sesungguhnya, Sehingga saya berpendapat bahwa yg sesungguhnya kita sembah ialah Allah ( bapa).

    Apakah pendapat aq benar?????

    saya sebagai umat katolik merasa bingung untuk menjawab pertanyaan ini.

    mohon di jawab ya….

    walaupu pertanyaan ini gak bermutu…..

    thanks

    [dari katolisitas: Pertanyaan anda justru sangat sulit. Oleh karena itu, silakan membaca terlebih dahulu artikel tentang Trinitas di atas - silakan klik, dengan harapan bahwa anda dapat memperoleh pengertian tentang Trinitas. Semoga artikel di atas dapat membantu.]

  17. Shalom Pak Stef dan Bu Ingrid,
    Saya ingin menanyakan tentang Yesus,dikatakan
    Mat 1:1 Inilah daftar nenek moyang Yesus Kristus, keturunan Daud, keturunan Abraham. Dari Abraham sampai Daud, nama-nama nenek moyang Yesus sebagai berikut:
    Mat 1:2 Abraham, Ishak, Yakub, Yehuda dan saudara-saudaranya, Peres dan Zerah (ibu mereka bernama Tamar), Hezron, Ram, Aminadab, Nahason, Salmon, Boas (ibunya adalah Rahab), Obed (ibunya ialah Rut), Isai,
    Sebenarnya yang dimaksudkan apa, ya? Kalo dikatakan bahwa Yesus putra Allah kok ada silsilahnya, .mohon penjelasan..lalu kalo Yesus punya silsilah apa Allah juga punya silsilah…

    Mat 20:18 “Dengarkan! Kita sekarang menuju Yerusalem. Di sana Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan guru-guru agama. Lalu Ia akan dihukum mati,
    Mat 26:2 “Kalian tahu dua hari lagi Hari Raya Paskah, dan Anak Manusia akan diserahkan untuk disalibkan!”
    Kenapa Yesus tidak menyebutkan sebagai Anak Allah,tetapi kok Anak Manusia yang dimaksudkan apa…?

    Mat 26:39 Kemudian Yesus pergi lebih jauh sedikit, lalu Ia tersungkur ke tanah dan berdoa. “Bapa,” kata-Nya, “kalau boleh, jauhkanlah daripada-Ku penderitaan yang Aku harus alami ini. Tetapi jangan menurut kemauan-Ku, melainkan menurut kemauan Bapa saja.
    Kenapa Yesus masih menyebutkan Bapa..Allah..bukankah Yesus sebagai Allah Bapa,Putera dan Roh Kudus…mohon penjelasannya…
    Terima kasih …syallom

    • Shalom Joan Heru,
      Nampaknya kebingungan anda terletak pada bagaimana memahami bahwa Yesus yang adalah sungguh Allah itu, adalah juga sungguh manusia, pada saat penjelmaan-Nya ke dunia sebagai manusia. Jika anda belum membaca silakan anda membaca artikel tentang topik ini, silakan klik.

      1. Jika anda sudah dapat menerima ajaran bahwa Yesus itu mempunyai kodrat sebagai sungguh Allah dan sungguh manusia, maka tidak akan menjadi masalah bagi anda untuk memahami bahwa sebagai manusia, maka Ia mempunyai orang tua, dan orang tua-Nya juga mempunyai orang tua lagi, dan seterusnya, seperti yang anda baca dalam Mat 1.

      2. Sedangkan istilah “Son of Man” atau Anak Manusia, itu digunakan untuk menunjukkan bahwa:

      a. Ia adalah penggenapan bagi nubuat dalam kitab Daniel (Dan 7:13-14), “Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti Anak manusia; datanglah ia kepada Yang Lanjut Usianya itu, dan ia dibawa ke hadapan-Nya. Lalu diberikan kepadanya kekuasaan dan kemuliaan dan kekuasaan sebagai raja, maka orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa mengabdi kepadanya. Kekuasaannya ialah kekuasaan yang kekal, yang tidak akan lenyap, dan kerajaannya ialah kerajaan yang tidak akan musnah.” Istilah “Anak Manusia” tersebut mengacu kepada gelar mesianis yang disandang oleh Yesus, yaitu sebagai Penyelamat manusia; dan kepadaNya diberikan segala kuasa dan kemuliaan dan seluruh bangsa tunduk kepada-Nya.

      b. Istilah “Anak manusia” juga menunjukkan bahwa Yesus, selain sungguh Allah, juga sungguh manusia. Yesus adalah sungguh Allah (Yoh 1:1) namun Ia juga adalah sungguh manusia (Yoh 1:14). “Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah…. (1 Yoh 4:2)

      3. Sedangkan Yesus, pada saat menjadi manusia memanggil Allah sebagai “Bapa” adalah untuk: mengajar kita untuk memanggil Allah sebagai Bapa kita, seperti yang diajarkan-Nya dalam doa Bapa kami (lih. Mat 6: 9-13); dan juga untuk menunjukkan hubungan asal dalam kehidupan ilahi-Nya, sebab Kristus yang adalah Firman Allah (Yoh 1:1) berasal dari Allah, dan Ia sendiri adalah Allah.

      4. Maka dengan demikian kita tidak dapat mencampur adukkan ketiga Pribadi Allah, walaupun ketiganya adalah Satu. Sebab Allah Bapa dan Allah Putera dan Allah Roh Kudus merupakan Pribadi Allah yang unik dan tidak dapat dikacaukan satu sama lain. Maka tidak benar bahwa Yesus itu adalah Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus sekaligus. Yesus adalah Allah Putera, yang berasal dari Allah Bapa, dan hubungan kasih antara kedua-Nya itu menghembuskan Roh Kudus; sehingga Roh Kudus itu berasal dari Allah Bapa dan Allah Putera.

      Demikian tanggapan saya tentang pertanyaan anda. Semoga berguna.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  18. Dear Stef dan Inggrid yang baik,
    Menurut saya (mohon dikoreksi bila saya salah) sebagian gereja protestan saya pikir tidak mengimani Trinitas seperti halnya Gereja Katolik.
    Misalnya bisa dilihat di:
    http://www.akupercaya.com/pengajaran-alkitab/2787-yesus-adalah-yhvh.html
    atau di:
    http://www.sarapanpagi.org/yesus-kristus-adalah-yhvh-vt41.html#p2668
    (Kalo sekiranya tidak perlu link2 diatas tidak perlu ditampilkan).

    Akhirnya:

    Bapa = Putra = Roh Kudus = Yesus..

    Mengapa untuk hal yang substansial dalam kekristenan bisa terjadi pemahaman semacam ini?

    • Shalom Thomas,

      Terima kasih atas komentarnya. Saya minta maaf, saya tidak dapat membaca link-link yang diberikan, karena keterbatasan waktu. Namun, kalau memang dalam tulisan tersebut mengatakan bahwa Bapa=Putra=Roh Kudus, maka yang perlu dipertanyakan adalah sama dalam hal apa. Mungkin saja sebenarnya mereka mempunyai pengertian yang benar, bahwa ketiga pribadi (Bapa, Putera dan Roh Kudus) mempunyai satu hakekat (essence). Atau mungkin mereka ingin menyoroti bahwa Bapa, Putera dan Roh Kudus melakukan penciptaan, penyelamatan dan pengudusan secara bersama-sama. Jadi, kita harus membaca argumentasi yang diberikan secara teliti dan menyeluruh. Saya yakin bahwa agama Kristen secara umum mempunyai pengertian yang benar akan Trinitas. Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • Wiwid Sumowijoyo (WS) October 11, 2010 at 11:12 am

        Dari katolisitas.org “Trinitas” di bagian “Arti ‘substansi/ hakekat’ dan ‘pribadi’ ditulis:

        Quote:
        Mari kita lihat pada diri kita sendiri. ‘Substansi’ (kadang diterjemahkan sebagai hakekat/ kodrat) dari diri kita adalah ‘manusia’. Kodrat sebagai manusia ini adalah sama untuk semua orang. Tetapi jika kita menyebut ‘pribadi’ maka kita tidak dapat menyamakan orang yang satu dengan yang lain, karena setiap pribadi itu adalah unik. Dalam bahasa sehari-hari, pribadi kita masing-masing diwakili oleh kata ‘aku’ (atau ‘I’ dalam bahasa Inggris), di mana ‘aku’ yang satu berbeda dengan ‘aku’ yang lain. Sedangkan, substansi/ hakekat kita diwakili dengan kata ‘manusia’ (atau ‘human’). Analogi yang paling mirip (walaupun tentu tak sepenuhnya menjelaskan misteri Allah ini) adalah kesatuan antara jiwa dan tubuh dalam diri kita. Tanpa jiwa, kita bukan manusia, tanpa tubuh, kita juga bukan manusia. Kesatuan antara jiwa dan tubuh kita membentuk hakekat kita sebagai manusia, dan dengan sifat-sifat tertentu membentuk kita sebagai pribadi.
        Dengan prinsip yang sama, maka di dalam Trinitas, substansi/hakekat yang ada adalah satu, yaitu Tuhan, sedangkan di dalam kesatuan tersebut terdapat tiga Pribadi: ada tiga ‘Aku’, yaitu Bapa. Putera dan Roh Kudus. Tiga pribadi manusia tidak dapat menyamai makna Trinitas, karena di dalam tiga orang manusia, terdapat tiga “kejadian”/ ‘instances‘ kodrat manusia; sedangkan di dalam tiga Pribadi ilahi, terdapat hanya satu kodrat Allah, yang identik dengan ketiga Pribadi tersebut. Dengan demikian, ketiga Pribadi Allah mempunyai kesamaan hakekat Allah yang sempurna, sehingga ketiganya membentuk kesatuan yang sempurna. Yang membedakan Pribadi yang satu dengan yang lainnya hanyalah terletak dalam hal hubungan timbal balik antara ketiganya.[14]
        Unquote.

        Pertanyaan saya:

        Manakah analogy berikut ini yang benar:

        1. Analogi I
        A. Bangsa Manusia pada hakekatnya 1, tetapi ada banyak pribadi
        Ada Anton, ada Opa Markus, ada Ibu Theresia, ada Anak Bernard, dll
        B. Bangsa Malaikat ada St. Mikhael, St. Gabriel, St. Rafael, dll
        C. Bangsa ….. (saya kurang yakin menuliskannya) ada 3 pribadi Bapa, Putera, Roh Kudus

        2. Analogi II
        A. Manusia: Anton itu anaknya Opa Markus, Anton itu suaminya Ibu Theresia, Anton itu bapak-nya
        Anak Bernard. Jadi Anton itu hanya 1 orang, tetapi pada saat yang bersamaan dia berstatus Anak,
        Suami, Bapak
        B. St. Mikhael adalah salah satu Malaikat Agung, St. Mikhael adalah pemimpin Bala Tentara
        Surgawi, St. Mikhael adalah pemegang Buku Kehidupan. Hanya ada 1 Malaikat Mikhael, tetapi
        mempunyai 3 (atau lebih tugas/status)
        C. Tuhan Allah itu pada hekekatnya satu, tetapi mempunyai status/tugas/ pribadi sebagai Allah
        Bapa, Allah Putera, Allah Roh Kudus

        Terima kasih atas perhatian dan jawabannya. Saya perlu mendapat keterangan lebih lanjut tentang hal tersebut, justru setelah saya membaca uraian karolisitas.org di atas. Kalau kurang pantas di munculkan di website, saya mohon dibalas langsung ke email saya. Tuhan Memberkati.

        WS

        • Shalom Wiwid Sumowijoyo,

          Mohon maaf atas keterlambatan jawaban saya. Terus terang, analogi apapun tidak dapat secara tuntas menjelaskan misteri Allah Trinitas. Namun demikian, analogi berguna untuk membantu kita memahami misteri tersebut. Maka tentang analogi yang ada sampaikan saya menanggapi sebagai berikut:

          1. Analogi I: tentang “bangsa manusia”

          Benar bahwa semua umat manusia mempunyai hakekat dan kodrat yang sama (sebagai mahluk rohani yang mempunyai tubuh, yang mempunyai akal budi dan kehendak bebas). Yang membedakan kita adalah “accidents” dan ciri- ciri lahiriah (particular matter) yang membedakan seorang manusia dengan yang lain (seperti jenis kelamin, warna kulit, tinggi badan, rambut lurus/ keriting, tingkat pendidikan, budaya, bangsa dst.), dan inilah yang menjadikan pribadi manusia berbeda satu dengan lainnya. Dengan demikian, setiap manusia itu unik, dan tidak ada satupun orang yang persis sama dengan seorang yang lain. Manusia walau kodratnya sama, tetapi tidak dapat dikatakan sebagai ‘satu species’ yang sama.

          Demikian juga, para malaikat tidak dapat juga dikatakan sebagai ‘satu species’. St. Thomas Aquinas dalam Summa Theology, I, q.50, a.4. mengajarkan bahwa tidak mungkin semua malaikat dianggap sebagai satu species, sebab pada malaikat ada tingkatan- tingkatan yang berbeda. Maka sebagaimana Tuhan menciptakan tiap manusia unik adanya, maka setiap malaikat diciptakan juga diciptakan unik adanya. Manusia diciptakan unik dengan perbedaan “accidents” dan ciri- ciri fisik yang nampak secara lahiriah antara seorang manusia dan manusia lainnya. Sedangkan para malaikat yang tidak punya ciri lahiriah, diciptakan Tuhan dengan perbedaan tingkatan secara spiritual/ rohaniah antara satu malaikat dengan malaikat lainnya.

          Namun pada Allah, hakekat Allah adalah satu dan sama. Adanya ketiga Pribadi (Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus) ini bukan disebabkan karena perbedaan accidents dan matter, karena hal- hal tersebut tidak ada pada Allah. Yang membedakan antara ketiganya adalah hubungan asal usul (the relation of origin). Allah Putera menerima kodrat ilahi-Nya dari Allah Bapa, dan Allah Roh Kudus menerima kodrat-Nya dari Allah Bapa dan Allah Putera, sedangkan Allah Bapa tidak memperoleh kodrat-Nya dari siapapun. Keadaan asal usul ini terjadi bersamaan dalam kekekalan, sehingga tidak dapat dikatakan salah satu Pribadi ada terlebih dahulu, jika dibandingkan dengan Pribadi lainnya.

          Sesungguhnya analogi “bangsa manusia” yang anda sebutkan ini dapat memperjelas tentang maksud Allah menciptakan seluruh manusia dalam kesatuan. Seluruh manusia diturunkan dari sepasang manusia pertama, Adam dan Hawa. Sayangnya mereka, sebagai orang tua pertama (first parents) bangsa manusia, jatuh ke dalam dosa ketidaktaatan, sehingga seluruh bangsa manusia harus menanggung akibat dosa asal ini. Namun kemudian, Allah menyelamatkan bangsa manusia ini dengan mengutus Putera-Nya, untuk menjadi Adam yang baru, yang lahir ke dunia, dengan melibatkan ketaatan Hawa yang baru (Bunda Maria).

          2. Analogi II: tentang “seorang manusia dengan tiga peran”

          Anda membandingkan peran Trinitas dengan peran seorang manusia, yang bisa menjadi suami, anak dan ayah sekaligus. Atau peran seorang malaikat, yang dapat merangkap tiga jabatan. Ini adalah contoh/ analogi yang baik, sepanjang dipahami bahwa Pribadi Allah tidak terbatas hanya dengan peran/ tugas-Nya dalam sejarah keselamatan. Sebab pembagian yang kaku tentang hal ini juga tidak menggambarkan makna Trinitas yang sesungguhnya. Maka walaupun ada benarnya, bahwa Allah Bapa dihubungkan dengan peran sebagai Pencipta; Allah Putera sebagai Penyelamat; dan Allah Roh Kudus sebagai Roh yang menguduskan/ menghibur; namun pembagian ini yang kaku akan hal ini dapat dapat mengkotak- kotakkan sejarah keselamatan menjadi tiga bagian: Creation (oleh Bapa), Incarnation (oleh Putera) dan Pentecost up to now (oleh Roh Kudus). Pembagian ini menjadi tidak tepat, karena sesungguhnya, walaupun Penciptaan sering kali dihubungkan dengan Allah Bapa, namun Allah Bapa mencipta di dalam Kristus (lih. Kol1:16), oleh Kristus yang adalah Sang Firman Allah (lih. Yoh 1:1-2), dengan kuasa Roh Kudus (Kej 1:1-2). Sebab dalam segala peran dan tindakan-Nya Allah Trinitas selalu melakukannya bersama- sama. Hanya kemudian, suatu tindakan dihubungkan dengan Pribadi Allah yang tertentu, yang secara teologis disebut sebagai “appropriation“, agar lebih mudah dipahami oleh kita manusia.

          Analogi peran yang terlalu kaku mempunyai resiko jatuh dalam ajaran sesat Modalism atau Sabellianism (218) yang mengajarkan bahwa Allah Trinitas adalah Satu Pribadi Allah yang melakukan 3 macam mode/ peran/ wajah. Paham ini mengajarkan bahwa Allah Bapa menampakkan diri di dunia sebagai Allah Putera, sehingga yang disalibkan adalah Allah Bapa sendiri. Ini adalah sesuatu kekeliruan, sehingga ajaran ini dikecam Gereja pada tahun 220. Konsili pertama dan ketiga Konstantinopel, di tahun 381 dan 680 mengulangi keputusan ini dan menyatakan bahwa baptisan menurut Sabellius tidak sah.

          Jadi analogi “peran” tadi (satu orang dapat berperan sebagai anak, suami dan bapak) memang dapat digunakan namun tidak dapat secara penuh menjelaskan makna Trinitas; sebab ketiga Pribadi Allah yang satu hakekat ini memang tidak dapat disamakan dengan ketiga peran atau ketiga mode/ wajah.

          Demikian keterangan dari saya, semoga berguna.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

          • Terima Kasih Bu Inggrid, penjelasan Ibu cukup membuat kemajuan dalam pemahaman saya.
            Saya akan merenungkannya lebih jauh dan mohon pencerahan Roh Kudus agar lebih memahami dari hari ke hari.

            Dan semoga saya juga bia bersaksi bila ada yang bertanya kepada saya, terutama anak-anak saya.

            Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
            wiwid Sumowijoyo

  19. syaloom….
    saya mau nanya…
    apakah pada jaman perjanjian lama atau sebelum dunia diciptakan, konsep Trinitas ini sudah ada?
    mohon dijelaskan dengan jelas agar saya dapat mengerti. terimakasih

    • Shalom Yohanes,

      Ya, sebelum dunia diciptakan, Allah Trinitas sudah ada, karena Allah itu kekal, tidak mempunyai awal dan akhir. Kita membaca dalam Kitab Kejadian:

      “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi.” (Kej 1:1-3)

      Di sini Allah Bapa menciptakan dalam kesatuan dengan Roh-Nya dan Firman-Nya. Kita mengetahui bahwa Roh Allah adalah Allah Roh Kudus, dan Firman-Nya adalah Allah Putera (Kristus). Ini sesuai dengan yang dikatakan oleh Rasul Yohanes dalam Injilnya:

      “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatupun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan… Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita… ” (Yoh 1:1-3, 14)

      Memang untuk memahami hakekat Allah ini diperlukan kelapangan hati untuk menerima bahwa Allah itu tidak terbatas, dan dalam kesempurnaan-Nya, Allah yang Esa ini mempunyai Tiga Pribadi.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  20. Shalom Pak Stef dan Bu Inggrid. Saya mohon agar bapak dan ibu mau menuliskan secara khusus tentang Allah Roh Kudus. Soalnya banyak sekali orang yg dengan mudah mengatas namakan Roh Kudus untk membenarkan ajarannya. Bagaimana kita bisa mengetahui bahwa sesuatu itu karya Roh Kudus atau bukan? Bagiaman kita bisa mengetahui Roh kudus menyertai seseorang dalam pengajarannya? apa bukti otentiknya? Ini penting bagi kita utk diketahui

    Terima kasih

    Dela

    • Shalom Dela,

      Terima kasih atas permintaannya akan artikel tentang Roh Kudus. Kami memang mempunyai rencana untuk menuliskan artikel tentang Roh Kudus, hanya memang kami mempunyai keterbatasan waktu dan tenaga. Ada orang yang mengatakan “Roh Kudus mengatakan kepada saya bahwa ….” Secara prinsip, hal tersebut dapat dikatakan dari Roh Kudus kalau: 1) tidak bertentangan dengan Firman Tuhan, 2) tidak bertentangan dengan dogma dan pengajaran Gereja Katolik, 3) tidak bertentangan dengan akal budi. Ketiga hal tersebut tidak mungkin bertentangan, karena ketiganya datang dari sumber yang sama, yaitu Allah. Oleh karena itu, Roh Kudus – yang merupakan pribadi ketiga dari Trinitas – tidak akan membuat kontradiksi. Semoga dapat membantu. Mohon kesabarannya untuk artikel tentang Roh Kudus.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

      • shalom katolisitas.

        saya seorang Katolik sejak lahir, saya mengenal dan mengimani Tritunggal Maha Kudus dengan berbagai analogi yg ada, meskipun analogi2 itu tidak sempurna (ya karna memang keterbatasan kita sebagai manusia yg ingin menjelaskan suatu hal yg adalah Sempurna itu sendiri) .. tp yg membuat saya mengimani kebenaran Tritunggal Maha Kudus adalah karena memang benar Yesus itu Tuhan, so saya tidak kesulitan memahami analogi2 itu.

        Di samping itu saya ingin oot ne.. saya sebagai Katolik yg jarang ke gereja, dengan berbagai alasan dan kemalasan saya tentu (tetapi saya tdk lupa berdoa lho.. seperti yg diajarkan Tuhan kita Yesus Kristus, jika kamu berdoa masuklah kamar supaya tidak dilihat kalayak orang dan supaya hanya Bapamu yg melihat)..
        1. apakah ke gereja itu wajib
        2. gimana ya membuat saya dan teman2 saya rajin lagi ke gereja
        hahah.. pertanyaan yg konyol dari seorang pemalas .. mohon maaf sebelumnya atas kebodohan saya dalam bertanya..

        terimakasih
        salam cinta kasih Tuhan kita Yesus kristus
        JBU katolisitas

        • Yohanes Dwi Harsanto Pr November 16, 2011 at 8:29 am

          Salam Cristoporus,

          1. Ya. Menerima Ekaristi itu wajib. Menerima Sakramen Tobat itu wajib. Berdoa bersama itu wajib. Karena semua itu diperintahkan oleh Kristus. Dan Kristus memerintahkan itu karena Ia rindu padamu dan pada Gereja-Nya. Tanpa Gereja, Anda tak kenal Kristus.

          2. Langsung saja ke gereja paroki terdekat. Jika Anda sudah dibaptis dan pernah menerima komuni, maka temuilah imam, terimalah Sakramen Tobat, dan menyambut komuni, yaitu Kristus dalam Sakramen Mahakudus.

          Salam
          Yohanes Dwi Harsanto, Pr

          • Yohanes Dwi Harsanto Pr November 16, 2011 at 11:22 am

            Cristoporus, saya ingin menambahkan, demi pertumbuhan rohani Anda, silahkan membaca-baca artikel-artikel di website ini mengenai Ekaristi yaitu di artikel “Sudahkah kita pahami pengertian Ekaristi”, klik di sini, kemudian artikel “Sejarah yang mendasari pengajaran tentang Ekaristi, klik di sini, juga artikel “Ekaristi sumber dan puncak spiritualitas Kristiani”, klik di sini.

            Juga mengenai Sakramen Tobat di artikel “Masih perlukah Sakramen Pengakuan Dosa”, klik di sini, sampai bagian 4.

            Semoga rahmat Allah membuka hati Anda demi makin utuhnya hidup Anda sebagai manusia beriman.

            Salam,
            Yohanes Dwi Harsanto, Pr

          • Salam Kasih Yohanes,

            Terimakasih atas tanggapan penuh kasih saudara Yohanes.
            banyak teman saya yang Katolik termasuk saya tp hanya ke gereja (termasuk Misa harian) sesuka hati aja (dengan berbagai pertimbangan. tp Natal n Paskah pasti ke gereja lo ) kami udah dibaptis dan sebagian teman termasuk saya udah Krisma. Tapi apakah karena ketidakaturan kami pergi ke gereja ( sesuka hati ) dan waktu Natal dan Paskah aja, jadi kita harus terima Sakramen Tobat sebelum ke gereja lagi?
            mohon maaf sebelumnya atas kebodohan saya dalam bertanya..

            “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah”

            Terimakasih, Yohanes n Katolisitas,
            Salam Cinta Kasih Tuhan kita Yesus Kristus
            JBU All

            • Yohanes Dwi Harsanto Pr November 17, 2011 at 9:35 am

              Salam Cristoporus,

              Tidak harus. Memang Sakramen Tobat diwajibkan diterima setahun sekali, dan bagi yang berdosa berat wajib segera mengakukan dosanya. Namun, sebagai imam, dan juga karena pengalaman, saya menyarankannya untuk Anda.

              Sakramen Tobat yang diterima rutin menolong kita makin bertumbuh dalam iman, harapan dan kasih, serta membuat hidup makin damai penuh berkat dan semangat, juga mengarahkan hati dan budi pada kerahiman dan kasih Allah. Para imam, para uskup, dan Sri Paus sendiri mengaku dosa rutin sebagai bagian dari perjalanan rohani agar makin mengalami kasih Allah.

              Salam
              Yohanes Dwi Harsanto, Pr

              • Salam Kasih Yohanes n katolisitas,

                Trimakasih atas tanggapannya dan saran anda yang sangat membangun dan memperkokoh iman.

                Allah adalah Roh kebaikan (Bapa di surga) merelakan firmannya untuk menjelma menjadi Manusia dan mengajarkan cinta kasih secara langsung dan jadi Juruselamat (Anak) dan mengutus pribadinya yang ketiga yang mengajar/membimbing manusia menuju jalan kebaikan dalam Roh kita (Roh Kudus), dan kesemuanya itu merupakan kesatuan yang tak terpisahkan dalam ikatan yang Kudus dan Sempurna,
                mohon maaf atas kebodohan saya dalam mengutarakan Trinitas. Mohon koreksinya jika ada yang tidak sesuai dan kesalahan dalam mengutarakannya.

                Terimakasih, Yohanes n Katolisitas,
                Salam Cinta Kasih Tuhan kita Yesus Kristus
                JBU All

                • Yohanes Dwi Harsanto Pr November 17, 2011 at 5:12 pm

                  Salam Cristoporus,

                  Kita berjalan menuju Allah dengan tuntunan yang jelas dari Putera-Nya yang mendirikan Gereja dan memberikan sakramen-sakramen tanda nyata cinta-Nya, dalam kehadiran Roh Kudus yang membimbing kita selalu pada Kristus menuju Bapa. Entah paus, uskup, imam, dan umat, semuanya dipanggil menuju Dia. Mari selalu membuka hati memenuhi panggilan-Nya.

                  Salam
                  Yohanes Dwi Harsanto Pr.

                  • Salam Kasih Yohanes n katolisitas,

                    Trimakasih banyak Romo Yohanes atas kesediaannya menanggapi pertanyaan/pernyataan saya.
                    Meski dlm kesibukan yg luar biasa masih meluangkan waktunya yg berharga.

                    Web ini sangat membantu. Semoga Tuhan Beserta kita Sekarang dan Selama-lamanya.

                    Terimakasih, Yohanes n Katolisitas,
                    Salam Cinta Kasih Tuhan kita Yesus Kristus
                    GBU All

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CONNECT WITH US: