Mujizat Yesus Terulang Kembali di Retret Sabah

33

Pengantar Kesaksian dari Katolisitas:

Terima kasih Hany, atas kiriman kesaksian anda yang kedua ini. Sungguh indah dan ajaib pertolongan Allah yang anda alami! Kami bersyukur anda bersedia membagikan kisah ini kepada kami semua di Katolisitas. Kesaksian ini sungguh merupakan bukti, bahwa Allah sungguh memperhatikan semua orang yang menaruh harap kepada-Nya, dan bahwa mujizat-Nya masih terjadi sampai pada saat ini.

Semoga kesaksian ini menguatkan iman dan pengharapan kita semua akan Allah kita yang Maha Pengasih dan Penyayang. ”Sebab Engkau ya Allah, baik dan suka mengampuni dan berlimpah setia bagi semua orang yang berseru kepada-Mu. Pada hari kesesakanku aku berseru kepada-Mu sebab Engkau menjawab aku. Sebab Engkau besar dan melakukan keajaiban- keajaiban; Engkau sendiri saja Allah.... Aku hendak bersyukur kepada-Mu ya Tuhan, Allahku, dengan segenap hatiku, dan memuliakan nama-Mu untuk selama- lamanya...” (Mzm 86:5-12)

Mujizat Yesus Terulang Kembali di Retret Sabah
oleh Hany Widjaja

Sobat Katolisitas pasti pernah membaca kisah- kisah mujizat yang dilakukan oleh Tuhan Yesus di dalam Kitab Suci. Salah satu kisah mujizat-Nya tertulis pada Injil Markus 5: 25-34 mengenai Tuhan Yesus yang menjamah seorang perempuan yang sakit pendarahan. Kisah itu begitu mengena di hatiku, mungkin karena kurang lebih aku pun mengalami kisah yang serupa. Mungkin sebagian dari kita juga pernah mendapatkan anugerah mujizat dari-Nya. Namun, mungkin ada pula di antara kita yang terus berharap atau bahkan akhirnya putus asa karena merasa bahwa mujizat itu tidak akan terjadi  lagi pada abad ini. Sobat Katolisitas, aku mencoba untuk menuliskan pengalaman imanku, bagaimana Tuhan Yesus berbelaskasihan kepadaku, sehingga aku dapat mengalami begitu banyak mujizat-Nya. Ya, bahkan mujizat yang tidak pernah aku bayangkan sekalipun.

Kisah ini terjadi pada tahun 2002. Pada waktu itu, aku merasakan hidupku ini sungguh bermasalah. Dalam hal pekerjaan, saat itu aku sering gonta-ganti pekerjaan. Ada saja masalah yang membuat aku tidak betah. Aku merasa teman sekerjaku tidak baik padaku, atasanku menekanku, atau pekerjaanku tidak cocok dengan kemampuanku. Berhubung waktu itu aku menjadi seorang staf technical, masalah yang timbul adalah saat aku melakukan presentasi, banyak yang tidak bisa aku jawab. Sampai aku kesal pada diriku sendiri, aku merasa terlalu bodoh untuk seorang technical. Dalam keluarga, aku selalu kesal dengan orang tuaku. Papiku (sekarang sudah almarhum) adalah seorang yang keras sifatnya. Atau Mami yang juga tidak kelah kerasnya, selalu membuat selisih paham di antara kami. Belum lagi masalah pacar, menambah keruwetan. Heran, apakah aku ini jelek, sampai tidak ada orang yang sesuai dengan impianku, dan bersedia menjadi kekasihku. Tempat cerita? Susah, aku termasuk orang yang tidak mudah percaya pada orang lain. Punya sahabat, tapi dia sudah pindah dengan suaminya ke Singapura. Sesekali kami saling menelpon dan aku curhat sehabis-habisnya.

Mungkin karena kemarahan, kebencian dan stress lain yang terpendam akhirnya aku menjadi sakit-sakitan. Bahkan saat itu aku mengalami perdarahan yang cukup serius. Aku sering merasa tidak enak badan, demam, pusing, mual... ah ada-ada saja rasanya. Aku periksa ke dokter biasa, katanya masuk angin. Aku periksa ke dokter internist (ahli penyakit dalam), didiagnosa thypus. Pindah dokter jantung, katanya gejala jantung. Menurut dokter ginekolog (ahli kandungan), ada gangguan hormonal. Jadilah aku minum segala macam obat, ganti dokter ya berarti ganti obat. Aku sering tidak masuk kerja dan sifatku menjadi pemurung dan pemarah.

Pada suatu hari sahabatku yang tinggal di Singapura menelponku. Dia bermimpi melihat aku yang berada di dalam pusaran air. “Ah yang bener? Ngeri amat”, kataku tidak percaya. “Iya kamu tertarik semakin dalam dan dalam....” Akhirnya aku bercerita kepadanya tentang semua masalahku. Mendengar hal itu, sahabatku berkata, ”Kalau kamu mau, aku sarankan kamu mengikuti retret penyembuhan yang dipimpin oleh Father Vincent Lee di Sabah, tapi ini retret Katolik Karismatik. Kamu pikir-pikir saja dulu. Kalau kamu setengah-setengah, tidak perlu retret ini. Tetapi kalau kamu mau, kamu harus cepat membuat keputusan karena tempatnya terbatas. Banyak sekali orang yang mau ikut. Batas pendaftaran tinggal sembilan hari lagi, tapi ya tidak tahu juga sampai batas akhir masih ada atau tidak tempatnya,” sambung sahabatku dengan tegasnya.  Dalam hati aku bergumam, ”Untuk apa pergi-jauh-jauh ke Sabah, sudah mahal, pakai bahasa Inggris lagi, aku tak yakin apakah aku bisa ngerti. Karismatik pula, aku paling tidak suka tuh nyanyi-nyanyi sambil tepuk tangan... Tapi, apa iya ini bisikan dari Tuhan... Aku sudah kesal dengan hidup yang porak poranda seperti ini. Benar juga sahabatku itu ya, aku hidup dalam pusaran yang menarik aku ke dalam kehancuran....

Dalam kebingungan, aku berpikir, waktu masih sembilan hari. Masih cukup untuk meminta pertolongan Tuhan untuk memutuskan pergi atau tidak. Aku memulai novena Tak Pernah Gagal, untuk memohon kepada Bunda Maria, agar aku dapat membuat keputusan. Setiap hari, sepulangnya aku dari tempat kerja aku pergi ke gereja. Wah, memang tantangannya sangat berat, ada saja yang membuat aku hampir-hampir tidak bisa menyelesaikan sembilan hari novena berturut-turut. Pada hari kelima misalnya, hujan terjadi sangat deras di sore hari. Sesampaiku di gereja,  pagar gereja tertutup. Wah, tidak ada orang sama sekali. Akhirnya aku naik pagar dalam kondisi hujan deras.. rokku sobek pula. Dengan basah kuyup akhirnya aku berdoa di dalam gereja. Tiba-tiba ada suara organ berbunyi. Ajaib, padahal sepertinya tidak ada orang lain di gereja. Aku mulai merasakan kalau Tuhan menemaniku. Aku teringat nyanyian syukur Raja Daud dalam Mazmur 66:19, “Sesungguhnya Allah telah mendengar, Ia telah memperhatikan doa yang kuucapkan.” Dan dalam Mazmur 86:15, “Tetapi Engkau, ya Tuhan, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih dan setia”.

Keesokan harinya di hari keenam, setelah berdoa, ternyata ada acara PDKK (Persekutuan Doa Karismatik Katolik). Aku akhirnya ikut mendengarkan. Dan ternyata aku bisa menikmati juga acara doa dan nyanyian-nya. Mulai saat itu aku tidak lagi antipati pada Katolik Karismatik. Pada hari kesembilan akhirnya aku putuskan untuk mengikuti retret. Wah, aku langsung menelpon sahabatku di Singapura untuk didaftarkan pada hari terakhir. Tak lama kemudian sahabatku menelponku. Ia mengulangi perkataan panitia retret, ”I think this retret is meant for your bestfriend. Somebody has cancelled her application, so your friend can take her place.” Puji Tuhan, ternyata, tempat yang sisa hanya satu. Itupun karena baru saja ada seorang calon peserta yang batal ikut retret, sehingga akhirnya tempatnya dapat diberikan kepadaku. ”Kamu hanya perlu datang ke Singapura, biaya ke Sabah dan seluruh biaya retretnya tidak perlu kamu pikirkan lagi”, demikian kata sahabatku. Aku senang sekali. Supaya murah, aku merencanakan naik pesawat ke Batam, lalu dari airport Batam naik taksi ke pelabuhan, lalu menyambung naik ferry. Meskipun aku tidak pernah bepergian seorang diri, tapi aku percaya Tuhan akan mengantarkan aku sampai ke tempat retret itu. Aku percaya apa yang Nabi Yesaya ungkapkan di Yesaya 59:1, “Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar.”

Sebelum berangkat, sesuai dengan pesan sahabatku, aku persiapkan diriku untuk retret. Aku mengaku dosa, berpuasa, dan berdoa rosario tiada henti. Akhirnya dalam kondisi pendarahan, aku tinggalkan Jakarta menuju Singapura. Aku tinggalkan juga semua obat-obatan yang aku minum setiap hari, yang tidak kunjung memberikan efek kesembuhan bagiku. ”Tuhan Yesus, tolonglah aku.  Bunda Maria, doakanlah aku, sampaikan kerinduan hatiku kepada Putra-mu”, demikian doaku, dan dengan penuh harapan, aku mengingat, “Oleh sebab itu, ya Tuhan ALLAH, Engkaulah Allah dan segala firman-Mulah kebenaran; Engkau telah menjanjikan perkara yang baik ini kepada hamba-Mu” (2 Sam 7:28)

Di pesawat, aku duduk berdampingan dengan seorang pria seumuranku yang ingin pergi ke Singapura dengan ferry. Lho, kok kebetulan sekali. Aku tidak mengenal kota Batam. Akhirnya dia mengajak aku naik taksi bersama sampai di Pelabuhan. Ternyata dia orang baik-baik yang Tuhan utus untuk mengantarkan aku dari Jakarta ke Singapura. Setelah tiba di Singapura, aku diantar sahabatku untuk melewati masa persiapan retret di gereja Father Vincent Lee.  Keesokan harinya aku berangkat ke Sabah, Malaysia. Setelah mendarat, kami melanjutkan perjalanan dengan bis sederhana tanpa AC ke puncak gunung. Ya Tuhan, di dalam rasa dingin yang menusuk, aku menangis dan menangis. Aku merasa sangat lelah menanggung permasalahan dalam hidupku dan tidak sabar bertemu dengan Tuhan Yesus dan Bunda Maria. ”Tuhan Yesus, kasihanilah aku”, demikian hatiku menangis pilu.

Aku mulai melewati masa-masa retretku di Sabah. Puji Tuhan, aku bisa mengerti semua doa, pengajaran dan nyanyian, meskipun disampaikan dalam bahasa Inggris. Aku terus berpuasa dan berdoa. Pagi-pagi benar sebelum retret, aku sudah ke ruang doa untuk berdoa rosario. Malam hari setelah acara retret aku pergi lagi ke tempat yang sama. Aku merasa sangat dekat dengan Tuhan, aku meletakkan semua bebanku di tangan-Nya, Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu (1 Petrus 5:7)

Acara yang menyentuh hatiku adalah acara memanggul salib, yang maknanya adalah suatu permenungan akan sengsara Kristus dan juga akan pergumulan hidup kita di dunia ini sebagai murid Kristus. Terngiang di telingaku perkataan Yesus ini, "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Mat 16:24) Di acara itu kami peserta retret harus berjalan dengan cara berlutut sepanjang kurang lebih 50 meter sambil memanggul salib. Aku memilih untuk mengangkat salib kayu yang besar dan berat itu sendirian. Begitu salib diletakkan dipundakku.. astaga berat sekali! Aku jatuh berguling. Dengan susah payah aku bangun sendiri. Jatuh berguling beberapa kali, aku bangun lagi sendiri, jatuh lagi, bangun lagi, aku jatuh lagi..sampai akhirnya tiba di tempat tujuan. Aku menangis. Ya Tuhan Yesus, betapa berat salib yang Engkau panggul untukku. Aku malu selalu mengeluh kalau ada permasalahan dalam hidupku. Ampuni aku, Tuhan. Tidak lama kemudian, secara ajaib seorang frater yang tidak kukenal mendekatiku, beliau menyapaku dan mengatakan, ”Anakku, jangan kuatir akan hidupmu. Aku lihat Tuhan Yesus ikut membantumu mengangkat salibmu saat kamu jatuh”. Ya Tuhan, aku percaya, bahwa Engkau sendiri yang mengatakan demikian padaku. Padahal kerap kali aku tidak percaya kalau Engkau menyertai aku saat berhadapan dengan cobaan hidup. Seperti Rasul Petrus, aku mau terus datang kepada-Nya, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal(Yoh 6 : 68).

Acara lainnya yang sangat berkesan adalah acara pengampunan dosa.  Father Vincent mengajak umat untuk mengingat semua hal yang membuat kita sakit hati, benci, marah dan kami harus memilih seseorang di sana yang mukanya mirip dengan orang yang telah menyakiti kami, untuk dicuci dan dicium kakinya. Setelah aku renungkan, aku baru sadar bahwa aku membenci papi dan mamiku.  Aku memendam rasa sebal, benci, dan marah kepada mereka selama berpuluh-puluh tahun. Namun untuk mengampuni mereka, hatiku bergumul. “Ya ampun, aku harus mencium kaki papi dan mamiku? Enak amat, tidak adil. Papi yang tidak perhatian,  keras kepala, membiarkan aku tinggal dalam rumah tumpangan yang memalukan, yang seenaknya dalam keluarga....Ayo ampuni, Hany... Tidak mau.. ..Ayo ampuni.. Tuhan Yesus bersedia mengampunimu, mengapa kamu tidak.,” terus saja ada suara-suara yang muncul dari dalam hatiku.  Selanjutnya, sepertinya ada kekuatan yang sangat besar yang mendorongku, sehingga akhirnya aku maju. Aku memilih seorang laki-laki yang mempunyai wajah seperti papiku.. Aku peluk dan aku bisikkan kata- kata kepadanya, ”Papi, aku mengampunimu”. Aku basuh kakinya, aku cium dan aku peluk kakinya erat-erat.  Aku menangis sejadi-jadinya di atas kaki orang itu. Ya Tuhan, lepaslah sudah kebencianku selama ini. Aku pilih juga seorang wanita yang serupa mamiku, aku basuh, peluk dan cium kakinya, ”Mami, aku mengampunimu”. Ada kedamaian yang sungguh amat indah. Aku tidak dapat melukiskannya. Setelah acara ini, aku mengikuti Sakramen Tobat. Karena peserta retret begitu banyak, maka antrian begitu panjang. Aku terus berdoa, memohon pengampunan Tuhan hingga saat aku masuk ke tempat pengakuan dosa... dan akhirnya sungguh mendapat rahmat pengampunan dari pada-Nya. Aku merasa lega tak terkira. Beban berat yang kutanggung selama ini telah terangkat, dan hatiku dipenuhi suka cita yang dari Tuhan. Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: "Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku," dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku (Mazmur 32 : 5). Sebab Engkau, ya Tuhan, baik dan suka mengampuni dan berlimpah kasih setia bagi semua orang yang berseru kepada-Mu (Mazmur 86 : 5).

Keesokan harinya adalah hari penyembuhan. Hari yang paling aku tunggu-tunggu. Acara didahului dengan Perayaan Ekaristi. Aku ingat Father Vincent berkata, ”Hari ini aku akan membagikan kepadamu hosti yang besar yang biasanya hanya dipegang oleh Imam. Aku ingin membuat engkau mengenang kedatangan Yesus di tempat ini”. Perayaan Ekaristi berlangsung dengan sangat indah dan aku sungguh mengalami kehadiran Kristus. Setelah selesai, Father berdoa berkeliling. Aku malu, ya Tuhan. Mungkinkah seorang berdosa seperti aku mendapat jamahan-Nya seperti cerita dalam Injil Markus? Tapi aku tetap berharap dan berharap agar Tuhan Yesus melihat aku dari antara kerumunan perserta retret yang jumlahnya ratusan orang itu. Aku benar-benar pasrah. Saat Father Vincent berjalan berkeliling, aku mulai mendengar suara orang berjatuhan, orang berteriak  ataupun yang melompat kegirangan. Seorang ibu di sampingku yang datang dengan kursi roda tiba-tiba-tiba dapat berdiri. Ya Tuhan, mungkinkah Engkau akan datang padaku? Tidak lama kemudian, Father Vincent datang kepadaku dan merentangkan tangannya di atas kepalaku. Aku merasakan seperti muntah, dan bulatan warna biru besar seperti keluar dari dalam tubuhku... aku lemas dan terjatuh. Aku tidak sadar untuk beberapa waktu, hanya ada perasaan damai dan tenang. Ternyata Tuhan Yesus menjamahku. Pada malam penyembuhan itu, perdarahanku yang sudah kualami selama ini berhenti seketika. Ajaib Tuhan! Tidak ada seperti Engkau …, ya Tuhan, dan tidak ada seperti apa yang Kau buat. Sebab Engkau besar dan melakukan keajaiban-keajaiban; Engkau sendiri saja Allah (Mazmur 86 : 8,10).

Dalam retret, aku juga bertemu dengan seorang biarawati yang bernama Sr. Florence Theo dari Singapura, yang tiba-tiba mendekatiku dan berkata, ”Saudariku, kamu tidak perlu rendah diri, kamu cantik”... Perkataan yang membuat hatiku menjadi besar kembali. Kemudian, di suatu sore, di saat coffee break, aku mulai berpikir, bagaimana aku ingin membelikan oleh-oleh buat papiku. Dalam hitungan menit, seorang frater mendekatiku dan berkata,” Saudaraku, aku punya sebuah t-shirt untuk ayahmu!”. Ya ampun, banyak sekali keajaiban yang aku alami dan mungkin terlalu panjang untuk diceritakan dalam rubrik ini. Singkat cerita, aku pulang dari retret dengan suka cita. Tuhan telah menyembuhkan luka di hatiku dan sakitku dengan jalan-Nya sendiri. Tuhan berbicara melalui sahabatku untuk menarik aku dari pusaran dosa yang menarik aku menjauhi-Nya. Ajaib, bagaimana Dia memilih sahabatku yang pada saat itu tinggal di luar negeri untuk membuka jalan bagiku, sehingga aku dapat disembuhkan Tuhan. Aku hendak bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan, Allahku, dengan segenap hatiku, dan memuliakan nama-Mu untuk selama-lamanya; (Mazmur 86 : 12). Terpujilah Tuhan, karena Ia telah mendengar suara permohonanku. Tuhan adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya. Aku tertolong sebab itu beria-ria hatiku, dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepada-Nya. Tuhan adalah kekuatan umat-Nya dan benteng keselamatan bagi yang diurapi-Nya! Selamatkanlah kiranya umat-Mu dan berkatilah milik-Mu sendiri, gembalakanlah mereka dan dukunglah mereka untuk selama-lamanya (Mazmur 28 : 6-9).

Bagaimana kehidupanku setelah retret, sobat Katolisitas? Sebagaimana kata Father Vincent, makna retret itu seumpama tangan kita menyentuh permukaan air. Gelombang air akan merambat ke luar semakin melebar dan melebar. Setelah pulang dari retret, rupanya gelombang kasih dan kebahagiaan memancar keluar dari diriku. Begitu sampai ke rumah, aku memeluk papi dan mamiku...wah baru pertama kali terjadi selama aku hidup. Dengan tulus aku bisikkan kata- kata ini kepada papiku, ”Papi, maafkan aku”. Begitu juga pada mamiku. Mulai saat itu hubungan kami menjadi baik. Aku merasakan papi dan mamiku juga berubah. Rupanya gelombang kasih menyentuh keluargaku dan orang-orang di sekelilingku. Hubungan aku dengan pacarku juga membaik, mulai ada jalan terang pada hubungan kami, bahkan akhirnya kami menikah.  Dan dalam pekerjaan, hubungan aku dengan rekan kerja juga semakin baik dan aku jadi menyukai pekerjaanku. Aku menjadi sehat dan tidak sakit-sakitan lagi. Bila ada permasalahan, aku selalu ingat bahwa Tuhan Yesus tidak meninggalkan aku dan bahkan memanggul salibku. Satu hal lagi yang sangat penting.. Aku percaya bahwa mukjizat Yesus masih terjadi di abad ini... Hanya saja, waktu yang Tuhan telah tetapkan mungkin berbeda dengan waktu yang kita harapkan. Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya….(Pkh 3:11)

Tuhan Yesus, terima kasih untuk segala kebaikan-Mu. Aku percaya bahwa mukjizat-Mu masih terjadi hingga saat ini. Bunda Maria, terima kasih untuk selalu menyampaikan doaku kepada Putra-Mu, Yesus. Ya Tuhan,  berikanlah juga kepercayaan, kekuatan, ketekunan, dan kesabaran bagi setiap orang yang merindukan jamahan-Mu....”

Nantikanlah Tuhan! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu! Ya, nantikanlah Tuhan! (Mazmur 27 : 14)

Oleh: Hany Widjaja

Share.

About Author

Editor katolisitas.org

33 Comments

  1. Kpn aku bsa mngalami ksmbuhan ?? Terkdang aku mrsa iri mndengar kesaksian tentang ksmbuhan, oh Tuhan..apakah aku blm pntas mnerimanya?

    [dari Katolisitas: Tuhan Bapa kita adalah Tuhan yang amat mengasihi kita, Ia selalu melindungi kita dan mengerti segala kesusahan kita, pertolonganNya tak akan terlambat. Doa-doa yang kita panjatkan dengan penuh kerendahan hati, semangat pertobatan, dan iman yang tulus, pasti didengar olehNya. Kesembuhan itu akan datang pada waktu dan caraNya yang tepat. Dalam segala bentuk kesukaran hidup, baik jika kita mengingat bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. (lih. Rm 8:28). Jadi tetap bertekun dalam pengharapan adalah sikap iman yang paling tepat. Kami juga akan turut mendoakan Anda, silakan menuliskan ujud doa Anda di Pojok Doa sehingga tim doa kami dapat berdoa dengan intensi yang jelas mengenai kesembuhan yang Anda rindukan. Semoga berkat dan kasih setiaNya selalu menyertai Saudara]

  2. Wah! Saya amat terharu dengan kesaksian ini, apalagi tempat retret itu di negeri saya sendiri, Sabah. Suatu hari nanti saya juga berharap dapat pergi ke retret di Indonesia terutama sekali di Lembah Karmel di Cipanas kalau saya tidak salah.. Betulkan saya kalau saya salah ya.. :)

    [dari Katolisitas: benar, retret yang dibina para suster dan frater Karmel dan didirikan Rm Yohanes Indrakusuma, O Carm itu bisa diikuti di Cikanyere, Kecamatan Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Juga bisa diikuti di Tumpang, Jawa Timur. Semoga suatu hari Anda bisa mengikutinya. Jadwal retret di Cikanyere serta informasi penting yang berkaitan dapat disimak di situs ‘Berita Katolik’ di FB, silakan klik di sini]

  3. Saudari Hani, terimakasih atas sharingnya. Saya langsung merinding ketika membacanya dan hati saya juga bergetar. Entah kenapa, kesaksian ini menyentuh kehidupan pribadi saya yang mengalami hal serupa saat ini. Semoga ini bisa menjadi renungan buat saya dan semuanya dan dapat membuka hati kita semua untuk saling memaafkan sesama. Amin

    Gbu all

  4. Hany.. Oshin.. Ya ampun.. kamu gak tau kalau kamu itu cantik ya? Coba bilang dari dulu, aku bisa kasih tau.. hehehe..

    Terima kasih untuk cerita yang bagus (kamu ternyata punya bakat jadi penulis juga..), membuat kita semua sadar kalau Tuhan masih ada bersama kita dan tidak meninggalkan kita sendirian di dunia.

    Maaf kalau aku tidak peduli dengan cerita-ceritamu dulu, maklum agak autis. But nevertheless, Tuhan sudah memberikan yang terbaik untuk kamu, semua ini tidak akan kamu dapatkan tanpa melalui semua yang dulu kamu kira buruk kan? Jadi kita harus bersyukur untuk semua yang kita dapat, karena setiap langkah kita datangnya dari Dia juga.

    Jadi sekarang kamu sudah bisa bilang lagi : “Hany senaaaaang sekali”

    Hehehe..

  5. Aku ingin mencoba berbagi sebuah kesaksian yang menurutku sungguh sangat menakjubkan. Kejadiannya waktu istriku sedang hamil tua menjelang persalinan yaitu bulan Januari 2011 ini. Waktu pemeriksaan kandungan di RS Jeumpa Pontianak dengan Dr.Taufik, istriku sdh divonis harus menjalani operasi cesar karena bayinya 3,7 kg lebih. Padahal anak yang pertama dulu lahir 4,05 kg tanpa operasi. Kami jadi kalut. Bukan masalah biaya tapi proses kelahirannya dan pasca kelahiran yang kata orang sangat susah. Apalagi kami di perantauan tanpa sanak keluarga. Aku mencoba berdoa Novena Kepada Hati Kudus Yesus setiap malam dan waktu subuh.
    Dipemeriksaan (satu minggu setelah itu) hari Jumat tanggal 7 Januari 2011 selanjutnya kami mencoba dengan dokter lain. Keputusan dokter itu hampir sama, tapi dia memberi alternatif dicoba infus dulu. Kami diberi waktu 2 hari untuk mengambil keputusan. Akhirnya isteri pada hari Minggu tanggal 9 Januari memutuskan masuk RS. Waktu itu perawat RS menanyakan keadaan istri ke Dokter, keputusan dokter di coba dipacu obat dulu dulu. Kalo sampe infusnya g bisa , maka harus di operasi. Kami pasrah-pasrah aja. Pagi masuk.. siang belum ada reaksi.. sore masih belum juga ada reaksi sakit kata isteri saya.. Oleh perawat isteri diberi obat pacu lagi pada sekitar jam 10 malam… Pas jam 11 malam ketuban istri pecah membasahi lantai RS… akhirnya isteri di bawa ke ruang perawatan.. Puji Tuhan proses persalinan tidak sampai setengah jam .. jam 11.35 sang jabang bayi lahir…. Setelah itu isteri saya bercerita kalo dia selama proses kelahiran itu mencoba berdoa Salam Maria sekenanya karena tidak hapal……Disini posisi isteri seorang muslim.. tapi setiap hari saya mencoba mengenalkan sosok Yesus dan Bunda Maria .. bahkan waktu dokter memutuskan operasi dulu , istri saya suruh berdoa Salam Maria… Sampai sekarang istri mencoba belajar tentang katolik .. Mohon doanya agar istri bisa percaya kepada Yesus dan menjadi pengikutnya… Amien….

    • Shalom Iwan,
      Terima kasih atas kesaksian anda. Ya, Tuhan dapat melakukan banyak cara untuk menyatakan kebaikan dan kemahakuasaan-Nya kepada kita. Kami turut bersyukur atas kasih Tuhan yang anda dan istri anda alami, melalui kelahiran anak anda, dengan selamat. Semoga peristiwa ini dapat semakin meneguhkan iman anda, dan semoga dapat juga mengetuk hati istri anda, untuk mengenal dan mengimani Kristus.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • terimakasih bunda Inggrid, kemarin perayaan Paskah kami sekeluarga ke gereja… isteri sudah mulai berani untuk tampil ke depan, waktu mau minta pemberkatan anak kami… semoga iman dia semakin tumbuh…

  6. Membaca kesaksian yang begitu mengharukan membuat hati lebih merasai kehadiran Tuhan Yesus dalam diri kita. Dalam zaman moden sekarang ini, ramai orang kurang, malah tidak percaya kepada Tuhan Yesus,ada pula yang sangat aktif dalam gereja tetapi langsung tidak memperlihatkan hidup katolik yang sebenarnya dalam kehidupannya seharian dan ada pula yang keluar dari katolik. Kami juga mempunyai masalah kekeluargaan yang memedihkan hati -kerana ego yang sangat tinggi, sikap memandang rendah antara satu dengan yang lain dan sikap tidak mahu mengampuni; yang telah sekian lama sepatutnya kami perbaiki. Mudah-mudahan dengan kesaksian Hany yang indah ini, membuka hati dan perasaan ramai orang untuk terus mengikuti Yesus dan bukan sahaja hanya dalam percakapan tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
    Terimakasih hany dan web katolisitas. Shalom to all & God Bless.

  7. Anastasia Harnani Sumaryono on

    Hani, terimakasih share nya. Memang sungguh indah Rencana Tuhan. Semoga Hani menjadi saluran BerkatNya bagi kita semua. Syaloom n GBU.

  8. Indra sugiarta on

    Terima Kasih atas kesaksiannya yang sangat menguatkan. Saya mau bertanya, bagaimana caranya kalau saya ingin ikut retret penyembuhan ini dng Father Vincent Lee?
    Puji dan Syukur bagi Tuhan Yesus. amin

    [Dari Katolisitas: Silakan anda membaca jawaban ini, silakan klik]

  9. Yohanes Alwi Jasin on

    Terima kasih Hani atas kesaksian yang mengharukan. Saya juga sering menyalahkan orang tua saya atas masalah-masalah yang menimpaku selama ini. Saya mau minta maaf pada papa dan mama saya…dan juga memaafkan mereka. Terima kasih Tuhan Yesus yang menuntunku ke situs ini. Segala puji dan hormat bagi Tuhan Yesus. Amin.