Siapakah ‘orang- orang suci’ menurut Rasul Paulus?

23

Pertanyaan:

Salam damai sejahtera

Pengasuh Katolisitas

Rasul Paulus sering menulis surat kepada orang-orang suci, seperti yang tertulis di :

Roma 1 : 7
1Korintus 1 : 2
Efesus 1 : 1
Pilipi 1 : 1
Kolose 1 : 2

Siapakah yang dimaksud dengan ORANG-ORANG SUCI ini? Apakah pengasuh Katolisitas juga termasuk ORANG-ORANG SUCI ?

Terima kasih

Salam
Mac : 7.September.2010

Jawaban:

Shalom Machmud,

Mari kita lihat terlebih dahulu ayat- ayat tersebut:

Kepada kamu sekalian yang tinggal di Roma, yang dikasihi Allah, yang dipanggil dan dijadikan orang-orang kudus: Kasih karunia menyertai kamu….(Rom 1:7)

…. kepada jemaat Allah di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus, dengan semua orang di segala tempat, yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Tuhan mereka dan Tuhan kita (1 Kor 1:2).

Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah, kepada orang-orang kudus di Efesus, orang-orang percaya dalam Kristus Yesus (Ef 1:1).

Dari Paulus dan Timotius, hamba-hamba Kristus Yesus, kepada semua orang kudus dalam Kristus Yesus di Filipi, dengan para penilik jemaat dan diaken (Flp 1:1).

…. kepada saudara-saudara yang kudus dan yang percaya dalam Kristus di Kolose. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, menyertai kamu (Kol 1:2).

Berikut ini adalah penjelasannya yang saya sarikan dari keterangan pada the Navarre Bible:

“Dikuduskan di dalam Kristus Yesus”, adalah suatu rahmat yang diterima oleh umat beriman pada saat menerima Pembaptisan, yang menjadikan mereka bangsa pilihan Allah yang baru, bangsa yang kudus (Kel 19:6; 1 Pet 2:9). Maka istilah “dipanggil dan dijadikan kudus” yang digunakan oleh Rasul Paulus artinya adalah menjadikan umat Kristen kudus, sebagai bangsa pilihan Allah seperti dahulu Allah memanggil bangsa Israel (Bil 10:1-4). Pengudusan di dalam Yesus ini maksudnya adalah mempersatukan setiap umat yang dibaptis dengan Kristus, seperti persatuan antara cabang dengan Sang Pokok Anggur (lih. Yoh 15). Persatuan dengan Kristus inilah yang membuat kita menjadi kudus, karena kita mengambil bagian dalam kekudusan Tuhan sendiri; dan dengan demikian kita dituntut untuk hidup sesuai dengan panggilan kita itu. Kita perlu berjuang untuk mencapai kesempurnaan moral dan tingkah laku dalam kehidupan ini.

Paus Pius V menjelaskan, “Seperti mereka yang menjadi seniman profesional, walaupun mereka sesekali tidak mengikuti aturan- aturan seni, mereka tetap dikenal sebagai seniman, demikian pulalah umat beriman. Meskipun mereka adakalanya melanggar ketentuan ataupun kesepakatan yang telah mereka setujui, mereka tetap disebut kudus, sebab mereka telah dipilih dan dijadikan Allah sebagai bangsa pilihan-Nya, dan karena mereka telah dikuduskan di dalam Kristus melalui Pembaptisan, meskipun tentu saja, beberapa di antara mereka ada yang ditegur olehnya (oleh Rasul Paulus) sebagai manusia duniawi …..[1]. Oleh karena itu kekudusan merupakan suatu proses, yang sudah diberikan pada waktu Pembaptisan, namun harus terus diperjuangkan sampai pada akhir hayat kita.

Konsili Vatikan II mengajarkan demikian,

“Semua orang kristiani, bagaimanapun status atau jalan hidup mereka, dipanggil untuk mencapai kepenuhan hidup kristiani dan kesempurnaan cinta kasih…. Untuk memperoleh kesempurnaan itu hendaklah kaum beriman mengerahkan tenaga yang mereka terima menurut ukuran yang dikurniakan oleh Kristus, supaya dengan mengikuti jejak-Nya dan merupai citra-Nya, dengan melaksanakan kehendak Bapa dalam segalanya, mereka dengan segenap jiwa membaktikan diri kepada kemuliaan Allah dan pengabdian terhadap sesama. Begitulah kesucian Umat Allah akan bertumbuh dan menghasilkan buah berlimpah, seperti dalam sejarah Gereja telah terbukti dengan cemerlang melalui hidup sekian banyak orang kudus”[2].

Oleh karena itu, semua orang yang telah dibaptis, yang telah dikuduskan Allah, terus dipanggil untuk hidup kudus. Artinya, kekudusan adalah karunia Tuhan, dan sekaligus kewajiban untuk ditingkatkan lebih lanjut. Kekudusan adalah sesuatu yang sudah diberikan, namun juga sesuatu yang masih perlu diperjuangkan sampai akhir. Ini sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasul Paulus, “Sebab itu aku menasihatkan kamu, … supaya hidupmu sebagai orang-orang yang telah dipanggil berpadanan dengan panggilan itu.” (Ef 4:1) Kita yang sudah dipanggil untuk hidup kudus sebagai anak- anak angkat Allah di dalam Kristus, harus hidup sesuai dengan panggilan itu.

Berdasarkan pengertian di atas, saya menjawab pertanyaan anda demikian:

1. Siapakah yang dimaksud dari “orang- orang kudus” dalam surat Rasul Paulus ini?

Orang- orang kudus yang dimaksudkan di sini adalah semua orang yang telah menerima Pembaptisan yang sah, karena melalui Baptisan, mereka telah dikuduskan Allah di dalam Kristus. Namun kekudusan ini merupakan suatu proses yang harus terus diperjuangkan sampai akhir hayat.

Maka kekudusan di sini adalah karunia Allah, namun juga panggilan dari Allah yang membutuhkan kerjasama dari kita yang sudah dibaptis. Sebagai kesatuan Tubuh Kristus, kita adalah orang- orang kudus, karena Kristus Sang Kepala adalah kudus, namun sebagai pribadi kita masih harus terus berjuang untuk hidup kudus sampai akhir hayat kita.

2. Apakah pengasuh Katolisitas juga termasuk “orang- orang kudus”?

Dengan pengertian di atas, maka pengasuh Katolisitas atau siapapun juga yang sudah dibaptis dengan sah (termasuk juga anda, jika anda sudah dibaptis dengan sah), termasuk bilangan orang- orang kudus ini, namun orang- orang yang telah dikuduskan ini harus terus berjuang untuk terus hidup kudus sampai akhir hidupnya, karena kekudusan adalah suatu proses, seperti telah dijabarkan di atas. Kita harus berjuang untuk hidup kudus dan mempertahankan rahmat kekudusan yang sudah kita terima itu sampai pada akhir hidup kita, sebab tanpa kekudusan, tak seorangpun dapat melihat Allah (Ibr. 12:14). Sekalipun dalam kehidupan ini, bahkan setelah dibaptis, kita masih dapat jatuh dalam dosa karena kelemahan kita, namun selayaknya kita segera bangun, bertobat dan kembali kepada jalan panggilan kita yang semula, yaitu untuk hidup kudus sebagai anak- anak Allah. Marilah kita saling mendoakan agar kita dapat setia mempertahankan rahmat kekudusan yang sudah kita terima, agar kelak kita dapat bersatu dengan Tuhan di surga.

Salam dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org


CATATAN KAKI:
  1. St. Pius V Catechism, I, 10, 15 []
  2. Konsili Vatikan II, Konstitusi Dogmatik tentang Gereja, Lumen Gentium 40 []
Share.

About Author

Ingrid Listiati telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

23 Comments

  1. Salam damai dan kasih
    mudah2an kita dikasih petunjuk oleh Alloh dan RidhoNYa

    Saya hanya ingin berbagi pemikiran, bahwasanya di dalam ajaran agama apapun kita diharuskan untuk saling harga menghargai dan menghormati, Tuhan menciptakan Dunia ini sudah punya rencana, termasuk skenario besar/rencana Allah siapa yg akan menghuni bumi, mk diciptakan Adam di Surga, kalau Adam tdk berbuat kesalahan pasti kita semua tidak ada di dunia, lha siapa yg akan menghuni Dunia ? Nah di sinilah Tuhan berkehendak, karena banyak orang mengatakan bahwa Tuhan bekerja secara misterius shg rencana Besar Tuhan mensetting umat manusia spt itu.
    Tapi Tuhan Maha Kasih untuk menuntun hambaNya di dunia diutuslah Nabi, Semua Nabi adalah special dan istimewa karena memang manusia pilihan, masing-masing Nabi diutus sesuai jamannya, yg tugasnya adalah menuntun manusia untuk menyembahNya (Tuhan Yang Maha Esa), dan tidak bisa disekutukan dengan makhluk, seperti halnya Nabi Isa As, yg umat kristiani menyebutnya Yesus Kristus, dia juga manusia pilihan dan istimewa yg diutus menyampaikan risalahNya untuk bangsa Yahudi, tetapi dalam perjalanannya dia dikultuskan sbagai Tuhan, padahal Dia sendiri tidak pernah mengatakan dirinya Tuhan, hanya orang salah mengartikan sabdanya.
    Paulus sangat berperan besar dalam hal ini, kalau dilihat latar belakang kehidupannya, orang ini sangat membenci Yesus, trus kemudian hanya mengatakan dia bertobat orang langsung percaya, padahal kalau betul bertobat harusnya mengikuti ajaran Yesus yaitu menyembah Satu Tuhan Yaitu Tuhan yang menciptakan Alam Semesta termasuk menciptakan Nabi Isa, kok malah merubah dan menambah- nambahi untuk menyembah Yesus Kristus, apakah ini benar ?
    Oleh karena itu Saudaraku marilah mumpung masih belum terlambat, jangan ikut menjadi tersesat, kembalilah ke ajaran Yesus yang murni yaitu menyembah Satu Tuhan Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan kita semua yang Maha Pengasih dan Penyayang.

    Semoga hati kita bisa tercerahkan

    [dari katolisitas: Dari tulisan anda, maka argumentasi anda sebenarnya hanya ingin mengatakan bahwa Yesus bukan Tuhan. Oleh karena itu, sebelum masuk lebih jauh dalam diskusi ini, silakan mengerti terlebih dahulu dasar mengapa umat Katolik percaya bahwa Yesus adalah Tuhan di artikel ini – silakan klik. Setelah membaca artikel tersebut, silakan memberikan argumentasi. Semoga dapat diterima.]

    • @sdr Vrico:
      Tidakkah sdr lantas bertanya lebih lanjut ” Mengapa Paulus sangat membenci (pengikut pengikut)Yesus?” seperti pada tulisan sdr diatas? Seharusnya pertanyaan sdr tidak hanya berhenti sampai di situ, melainkan sdr harus menyelidikinya lebih lanjut..
      Mari kita selidiki:
      Kisah Para Rasul yang ditulis oleh St.Lukas ,seorang tabib pada masa itu(boleh dikatakan seorang dokter lah untuk masa sekarang). St.Lukas juga menulis satu Injil yakni Injil St.Lukas yang menceritakan tentang kehidupan Yesus Kristus. Sebagai seorang dokter masa itu Lukas mencatat segala sesuatu dengan daya bakat pengamatannya sebagai seorang dokter secara detail!.Dalam Kisah Para Rasul 7:54-8:1a yang menceritakan Martir St Stefanus dan 1b-3 yang menceritakan penganiayaan pengikut Kristus di Yerusalem, St Lukas ini mencatat dengan baik bagaimana St Stefanus dirajam. Mengapa Stefanus dirajam? Silahkan saudara baca kisah sebelumnya di Kisah Para Rasul 7:1-53 dan mencapai puncaknya pada saat doa terakhir Stefanus di Kisah Para Rasul 7:59 yakni: “Sedang mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya: “YA TUHAN YESUS KRISTUS TERIMALAH ROHKU.”Inilah darah martir pertama yang ditulis Kitab Suci, Santo Stefanus. Lukas dengan cermat dan teliti juga mencatat di ayat selanjutnya di Bab 8:1A: Saulus (belum menjadi Paulus karena belum bertobat) juga SETUJU BAHWA STEFANUS MATI DIBUNUH.

      Saudara Vrico….inilah alasan yang dicatat kitab suci untuk menjawab : “Mengapa Paulus membenci pengikut pengikut Kristus?” Pengakuan para pengikut Kristus ini yang mengakui Yesus adalah Tuhan seperti dalam doa kemartiran Stefanus adalah yang menyebabkan Saulus(Paulus)berang dan pergi memerangi pengikut pengikut Kristus . Bagaimana cara memeranginya? Silahkan sdr baca selanjutnya di kisah Para Rasul 8:1b-3.
      Jadi kalau saudara mengatakan bahwa Paulus yang mengajarkan bahwa Yesus adalah Tuhan atau bahasa sdr “menuhankan” Yesus adalah salah besar dan sdr sangat keliru dalam hal ini dan butuh pelurusan. Sebelum Paulus bertobat, Yesus Kristus sudah mendapat pengakuan sebagai Tuhan.Dan memang Dialah Tuhan!!! Santo Stefanus adalah saksi dan martir Nya yang memberikan penegasan ini. Bahkan sebelum naik ke surga , Injil mencatat bahwa : Ketika melihat Dia(Yesus), mereka MENYEMBAHNYA, tetapi beberapa orang ragu ragu…..(Matius 28:17)(Lukas 24:52). Kelihatannya saudara termasuk orang yang ragu ragu itu…Jangan ragu!!.Sebab kalau Yesus bukan Tuhan, maka Ia pasti menolak penyembahan orang orang tersebut.
      [dari Katolitas: kami edit…]

      sdr VRico menulis demikian di atas:
      Nah disinilah Tuhan berkehendak, karena banyak orang mengatakan bahwa Tuhan bekerja secara mesterius shg rencana Besar Tuhan mensetting umat manusia spt itu.

      Komentar saya:
      Tidakkah sdr Vrico melihat bagaimana Tuhan bekerja dengan caraNya yang tak terpikirkan oleh akal manusia? Bagaimana Tuhan menjadikan seorang pembunuh dan pengejar pengikut Kristus(Paulus) menjadi salah satu dari rasulnya yang agung? Itulah Tuhan!! Dia menjadikan sesuatu yang tak mungkin menjadi mungkin!, termasuk menjelma menjadi daging (Incarnasi) dalam sejarah umat manusia untuk menggenapi janji Allah kepada Adam dan Hawa. Jangan ragu untuk percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa(Filipi 2:11)

      Salam dalam Kristus.
      johanes

      • Shalom Katolisitas,

        Saya sangat setuju dgn saudara Johanes, mengenai St. paulus. Tidak perlu ada orang yang mengangkat Yesus sebagai Tuhan, toh dia memang Tuhan dari kekal sampai kekal. Saudara-saudara Muslim banyak menyangka bahwa Paulus telah memalsukan injil dan ajaran Yesus yang sebenarnya. Padahal tuduhan ini sungguh tidak berdasar dan tidak dapat dipertanggung jawabkan argumennya. Secara logika tidak masuk akal kalau dia memalsukan injil atau membohongi umat Kristen dengan pengajarannya, mengapa? 1. Orang yang memalsukan, mengelabui berbohong atau berdusta pasti ada maunya, ada udang di balik batu dan yang jelas ada keuntungan yang dia peroleh sebagai hasil dari kebohongannya. Berarti Paulus sebenarnya tahu yang benar, tapi memilih untuk memalsukan kebenaran injil itu demi keuntungan yang dia peroleh entah apaun itu bentuknya. Namun kalau kita kaji lagi sbenarnya dengan pertobatan Paulus dan percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, hal ini justru menjadi boomerang bagi dirinya. Justru sekarang dia yang dikejar-kejar oleh orang Yahudi yang pada waktu itu anti dengan kekristenan. Andaikan paulus tetap menjadi pemeluk agama Yahudi dan tidak menjadi kristen, hidupnya pasti aman dan nyaman. Dia terpandang diantara orang farisi, secara kedudukan religius dia sudah mapan, dia juga punya pekerjaan yang mapan pembuat kemah) jadi secara ekonomi pun dia berkecukupan, punya status kewarganegaraan Roma yang pada waktu itu memiliki banyak previlige. Jadi secara manusiawi dia sangat enak dan nyaman hidupnya sebelum masuk kristen (bisa baca di Fil 3:5-8) Perubahan drastis justru terjadi dalam kehidupan paulus pada saat dia menjadi kristen. Dia harus mengalami banyak penderitaan, dikejar-kejar, hidup dalam pelarian bahkan pengasingan, disiksa, dipenjara, dibenci kaum sebangsanya dan juga dibenci penguasa Romawi saat itu, sampai akhirnya dia menjadi martir dengan cara dipenggal kepalanya di Roma. Ini semua dia sanggup dia lalui karena satu hal yaitu iman akan Yesus Kristus yang adalah Tuhan. Jadi argumen bahwa paulus berbohong atau memalsukan injil terpatahkan dengan sendirinya melalui kesaksian hidup Paulus. Untuk apa dia bohong kalau justru itu menjadi penderitaan buat dia? karena justru dengan pengajaran yang luar biasa yang dia wartakan bahwa Yesus sungguh Tuhan dan mesias akan membawanya kepada kematian.

        Mudah-mudahan teman-teman muslim bisa melihat ini dan terbuka matanya, dan mulai melihat sosok Paulus secara lebih positif.

        Terima kasih buat Katolisitas yang menjadi perpanjangan tangan Tuhan demi keselamatan jiwa-jiwa.

        St. Paulus doakanlah kami. Amin

        Salam dalam Kristus,

        Stefan

      • Salam Damai,
        mudah2an pertanyaan saya tidak salah tempat, Saya mau tanya apakah rasul petrus menikah?

        [dari katolisitas: “Setibanya di rumah Petrus, Yesuspun melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam” (Mat 8:14). Kalau Anda ingin bertanya mengapa imam tidak menikah, silakan melihat artikel ini – silakan klik]

    • Salama dalam Kristus Yesus,Tuhan, — Yth: Katolisitas, Saya barusan membaca website kristen dgn nama: (mgkn sebaiknya saya tidak tulis ya ?/, atau saya tulis sebaiknya ?? krn: sy tidak bermaksud buruk, — katolisitas boleh menghapus seandainya tidak etis.– website tsb namanya: AjaidTuhanku.blogpsot . — Di website tsb tertulis: “Kesaksian Surga dan neraka”, oleh: Rodolfo Acevedo Hernandez. Lalu diParagraf pertama, dikalimat kedua, tertulis: “Banyak umat katolik memiliki Santa/o, dan (mereka maksudnya) tubuhnya digulung Ular, dan setan itu (mksd: mengambil wujud ular) adalah satu satu setan yang menyiksa para pelacur di Neraka.” — Jujur saya kaget, sekagetnya membaca itu kalimat kalimat- tersebut yg ada di website tsb.

      Lalu diwebiste kristen lain,seperti: Yehuda Ministry, ( Juga bila dianggap tidak etis, maka: katolisitas boleh menghapus) ( sy menuliskan hanya dgn tujuan: menegaskan bhw: apa yg sy baca itu dan website itu benar-benar ada ) , ( katolisitas aja yg mempertimbangakn, apakah akan dihapus atau tidak nama link/website tsb ) — juga ada yaa….nyerempet2 seperti itu ttg: orang-orang kudus di neraka, seperti itulah.

      Baca website tsb, isinya kebanyakan: kesaksian kesaksian ttg: surga dan neraka. — banyak banget itu.

      Lalu pertanyaan saya:
      1) Kayaknya Tanggapan kristen non Katolik (entah: denominasi mana ?? atau banyak denominasi/aliran selain katolik), kayaknya….bertentangn bgt dgn Katolik ya. — Tanya: Kok bisa begitu berbedanya, gimana bisa ya?

      2) bagaimana Tanggapan gereja katolik, dalam hal ini (Paus,Kardinal, uskup, para pastoor) , juga para Theolog katolik ?

      3) bagaimana seharusnya menanggapi website sebegitu Keras dan buruknya , sbg: orang , umat katolik ?

      Terima Kasih u.waktu nya dan kesediaanya memberi jawab.

      [dari katolisitas: Kita tidak usah terpengaruh dengan tulisan-tulisan berdasarkan mimpi atau penglihatan seseorang, karena iman kita tidak tergantung dari mimpi atau penglihatan seseorang. Tanggapan tentang hal ini ada di sini – silakan klik. Kalau mau menganggapi website tersebut, kembalikan ke dasar yang pasti dan yang mereka percaya, yaitu Kitab Suci dan bukan mimpi atau penglihatan.]

    • Shalom Danu,

      Yesus Kristus telah mendirikan Gereja-Nya di atas Rasul Petrus (Mat 16:18) dan telah memberikan mandat kepada para rasul-Nya, sebelum kenaikan-Nya ke surga, untuk menjadikan segala bangsa murid-Nya, membaptis mereka dan mengajarkan mereka melaksanakan semua perintah- perintah-Nya (lih. Mat 28:19-20). Oleh karena itu, Gereja Katolik mengajarkan bahwa pengenalan akan Tuhan dan semua perintah- perintahNya hanya dapat diperoleh di dalam kesatuan dengan Gereja yang didirikan oleh Tuhan Yesus di atas Rasul Petrus itu, yaitu Gereja Katolik.

      Silakan anda membaca di artikel ini, silakan klik, untuk mengetahui bagaimana Tuhan mengajarkan kebenaran-Nya kepada umat-Nya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  2. budiaryotejo on

    Dear Bu Inggrid,

    Wah klo sy ikuti perbincangan ini kayaknya seperti kejuaraan sepakbola.
    Bila kita sudah mendapat Piala juara( anugrah penebusan dosa/Kudus), tentu musti kita pertahankan agar untuk musim kompetisi berikutnya agar piala ini dapat kita raih.

    Untuk itulah kita terus menerus untuk mengintai kelemahan2 dan kekuatan lawan (dosa), latihan secara kontinue dan konsisten serta strategi,tehnik dan skill ( firman tuhan,pertobatan,ekaristi,prilaku hidup).

    Maka pasti piala juara itu tetap ada ditangan kita………

    Namun bila kita lengah ( jatuh dalam dosa ) maka musuh akan mengambil Piala juara itu.
    Dan untuk meraihnya kembali maka kita harus berjuang lebih keras lagi dengan menutup kelemahan2 kita ( bertobat ),bermain cantik,tehnik tinggi dan fair ( serupa Kristus ) untuk memenangi pertandingan akhir.

    Nah lengkap bukan kesebelasan katolik ? heemmmmm sungguh enak ditonton dan dinikmati.

    Siapa dulu dong pelatihnya ? klo bukan Yesus Kristus sendiri…..

    Salom semuanya

    Budi

  3. Aquilino Amaral on

    Salam buat bu Inggrid,

    saya ingin bertanya tentang orang kudus seperti yang diumumkan oleh Bapa Paus Benediktus XVI pada bulan y ang lalu.

    Tentunya kita semua adalah manusia yang cenderung ingin berbuat dosa, entah dosa apa saja. Bagi para yang beriman yang diangkat menjadi santo/santa dari Gereja katolik di lihat dari sisi apa? apakah mereka itu diangkat karena atas pelayanan mereka dengan memuliahkan Allah dan atau mereka melakukan kegiatan bakti social kepada kaum yang lemah? ataukah mereka bebas dari menikah? atau selibat selama mereka hidup didunia ini? Orang selama hidupnya tidak pernah melakukan suami istri dan berdoa kepada Allah saja dapat di angkat menjadi Santo/Santa?

    Mohon pencerahannya makasih.

    Salam
    Aquilino Amaral

    [Dari Katolisitas: Mohon dibaca terlebih dahulu artikel berikut, silakan klik. Jika masih ada pertanyaan, silakan bertanya kembali]

    • Shalom Liquari,

      Demikianlah definisi orang beriman, yang saya peroleh dari New Advent Catholic Encyclopedia:

      Orang beriman adalah mereka yang mengikatkan diri kepada sebuah perkumpulan religius, yang ajaran- ajarannya mereka terima dan yang ke dalam ritus- ritus keagamaannya mereka telah diinisiasikan. Di antara umat Kristiani, terminologi ini dimengerti sebagai mereka yang telah diinisiasikan oleh Baptisan dan umumnya dengan Penguatan. Mereka telah menyatakan iman di dalam Yesus Kristus, yang dari Nya mereka telah menerima iman itu sebagai karunia; dan karena itu mereka akan menyatakan ajaran- ajaran-Nya dan hidup sesuai dengan hukum- hukum-Nya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  4. Salam Damai Sejahtera

    Terima kasih Ingrid atas penjelasannya .

    Mengenai sebutan “Cacing” itu bukan saya yang menyebutkan tetapi ada di dalam Alkitab Terjemahan Lama dalam kitab Mazmur 22 : 7 (Coba di cek kembali)

    Namun masih ada yang harus Ingrid jelaskan tentang ayat2 berikut ini supaya semuanya menjadi jelas dan gamblang :

    1Yoh 3 : 6 Barangsiapa yang tinggal di dalam Dia, tiadalah berbuat dosa; maka barangsiapa yang berbuat dosa, belum nampak Dia dan belum kenal Dia.

    1Yoh 3 : 9 – 10 Barangsiapa yang berasal daripada Allah, tiadalah berbuat dosa, karena benih Allah tinggal di dalam orang itu; maka tiada dapat ia berbuat dosa, karena ia berasal daripada Allah. —– Di dalam hal ini telah nyata segala Anak Allah dengan anak Iblis: Barangsiapa yang tiada berbuat barang yang benar itu bukannya daripada Allah, demikianlah juga orang yang tiada mengasihi saudaranya.

    Yoh 8 : 36 Jikalau Anak itu memerdekakan kamu, baharulah merdeka kamu dengan sesungguhnya.

    BEBAS DARI DOSA , MUNGKINKAH ?

    Roma 6 : 2 Sekali-kali tidak. Maka kita ini yang sudah mati lepas daripada dosa, bagaimanakah dapat lagi kita hidup di dalamnya?

    Roma 7 : 2 Karena seorang perempuan yang bersuami terikat oleh hukum kepada suaminya selagi suami itu hidup; tetapi jikalau suami itu mati, terlepaslah perempuan itu daripada hukum suami.

    Bilamanakah seseorang dapat terlepas dari suaminya yang amat bengis dan keji ? KALAU IA MATI !
    Begitu pula pada waktu kita mati dari dosa, kita lepas dari “suami dosa” untuk selamanya.

    Ini dapat dan pasti terjadi, sebab ini janji Firman Tuhan dan Allah tidak pernah bohong !
    Kalau ini tidak terjadi dalam hidup kita , kita harus mencari kesalahannya pada diri kita sendiri (mungkin kita tidak mengerti atau kita tidak mau).

    Kita dapat bebas, mati lepas dari dosa.

    MENGAPA BISA ?

    Sebab semua itu sudah dikerjakan Tuhan Yesus dengan lengkap, tuntas dan sempurna di Golgota untuk kita.
    Kalau kita mengerti dan mau, kita sudah menerima kemerdekaan itu dengan sempurna ! Sekarang ini juga !

    Roma 6 : 14 Karena dosa itu tiada lagi dapat kuasa atasmu, sebab kamu bukannya di bawah Taurat, melainkan di bawah anugerah.

    Dengan Taurat berarti dengan kekuatan sendiri.
    Dengan cara ini semua manusia sudah gagal dan tetap akan gagal !
    Tidak seorangpun dibenarkan, dibebaskan dengan usaha kekuatan sendiri / Taurat (Roma 3 : 20 Sebab tidak seorangpun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa.)

    Dengan usaha sendiri orang2 akan kembali jatuh dalam dosa ber-ulang2 sampai putus asa.
    Bukan dengan pikul salib kita dapat mati lepas dari dosa (seperti rang2 kafir yang menyiksa dirinya).
    Kita hanya lepas dengan anugerah artinya kita menerima dengan iman hasil pekerjaan Kristus diatas kayu salib. Terima saja !
    Mendengar, percaya , lalu menerima dengan iman !

    APA YANG DIKERJAKAN TUHAN YESUS DI ATAS KAYU SALIB ?

    DARAH YESUS MENYUCIKAN SEGALA DOSA KITA
    1Pet 1 : 18 – 19 sebab mengetahui bahwa kamu sudah ditebus daripada kehidupanmu yang sia-sia, yang turun-temurun daripada nenek moyangmu, bukan dengan barang yang akan binasa, seumpama dengan perak atau emas, —– melainkan dengan darah yang mulia, yang seperti darah anak domba yang tiada bercela dan tiada bercacat, yaitu darah Kristus.

    Sehingga kita dibebaskan dari tuntutan dosa2 yang sudah kita perbuat.
    Ini indah dan luar biasa.
    Dosa bisa habis, bersih, lenyap sebab ditebus dengan darah Anak manusia yang suci dan tiada bercela.
    Kita bebas dari hukuman atas dosa2

    Banyak orang berfikir sudah cukup sampai disini ! Tetapi ini tidak cukup !
    Kalau hanya pengampunan dosa, maka besok kita berdosa lagi, minta ampun lagi, berdosa lagi, minta ampun lagi, begitu terus menerus menumpuk “gunung dosa”

    Pertanyaan ini ada dalam surat Roma.
    Roma 6 : 1 Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu?

    Dengan tegas dan jelas Paulus membantah pengertian yang salah ini dalam ayat berikutnya
    Roma 6 : 2 Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?

    Ber-putar2 terus dalam lingkaran dosa dan pengampunan itu bukan kehendak Allah !
    Bukan rencana Allah !, Firman Tuhan mengatakan itu Kristen babi dan Kristen anjing.
    2Pet 2 : 22 Bagi mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini: “Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya.”

    Tuhan ingin kita bebas, lepas sehingga tidak lagi berbuat dosa, tidak lagi minta ampun dosa terus menerus.
    Bahkan Tuhan ingin kita meningkat dan tumbuh dalam kesucian !
    Kesucian itu ber-tingkat2 seperti bukit, sebab itu disebut bukit kesucian Allah, dalam (Maz 48 : 2 Bahwa besarlah Tuhan dan patutlah Ia dipuji-puji. Bahwa di dalam negeri Allah kami adalah bukit kesucian-Nya.)

    Kita perlu kelepasan dan sudah diberi kelepasan dari dosa !
    Baru dengan demikian kita tidak berdosa lagi.

    Bagaimana tanggapan Ingrid ?

    Salam
    mac

    • Shalom Machmud,

      1. Manusia berdosa = ulat/ cacing?

      Memang dalam Mzm 22:7 dikatakan, “… Tetapi aku ini ulat dan bukan orang, cela bagi manusia, dihina oleh orang banyak…” Ulat/ cacing di sini adalah untuk diartikan secara metafor/ allegoris (bukan arti sesungguhnya). Ayat itu adalah ayat nubuatan tentang penderitaan Yesus di jalan salib-Nya, di mana Ia dicela dan dicibirkan oleh banyak orang, seperti layaknya ulat, dihindari oleh orang- orang.

      Maka ungkapan ‘ulat’ ini harus dilihat konteksnya. Setelah kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa, memang seluruh manusia turut berdosa, karena Allah menciptakan mereka sebagai orang tua pertama (first parents) dari seluruh keluarga besar manusia. Namun hal kejatuhan Adam ini tidak serta merta menjadikan manusia itu ‘ulat’ yang sama sekali tidak berharga, karena hal ini tidak mengubah kenyataan bahwa manusia tetaplah diciptakan menurut gambaran Allah (Kej 1:27); dan tentu gambaran Tuhan ini bukan ulat. Maka akibat kejatuhan Adam ini, memang umat manusia terluka secara rohani dan jasmani, yaitu manusia kehilangan rahmat pengudusan, tidak kebal terhadap penderitaan dan kematian, tidak memiliki lagi pengetahuan (infused knowledge) tentang Allah, dan kehilangan integritas diri (tunduknya perasaan sensual kepada akal sehat). Namun demikian, manusia tidak rusak sama sekali. Manusia tetap dapat menangkap kebenaran, dan tetap dapat melakukan perbuatan yang baik secara moral. Manusia tetap dapat tahu dengan pasti akan keberadaan Tuhan melalui sabda-Nya dan mahluk- mahluk ciptaanNya (Rom 1:19-20, lih. Konsili Vatikan II, Dei Verbum 3). Manusia tetap mempunyai kehendak bebas (lih. Konsili Trente, D 815) untuk melakukan sesuatu, sehingga ia dapat memutuskan segala sesuatu sesuai dengan pertimbangannya sendiri. Dan kemampuan ini tidak dipunyai oleh ulat/ cacing.

      2. 1 Yoh 3:6, 1 Yoh 3:9-10, Yoh 8:36

      Berikut ini adalah penjelasan ayat- ayat tersebut:

      1 Yoh 3 : 6 “Barangsiapa yang tinggal di dalam Dia, tiadalah berbuat dosa; maka barangsiapa yang berbuat dosa, belum nampak Dia dan belum kenal Dia.”

      Oleh karena itu setiap orang Kristen wajib menolak dosa, supaya ia tetap bersatu dengan Kristus. Seseorang yang dengan pengetahuan dan kehendak bebasnya memilih untuk melanggar hukum Tuhan menunjukkan bahwa ia tidak sungguh- sungguh mengenal Kristus. Seseorang yang telah melihat Kristus dengan mata iman, dan mengenali “bahwa Ia datang untuk menghapuskan dosa- dosa kita dan di dalam-Nya tidak ada dosa” akan berusaha sekuat tenaga untuk mengikuti teladan-Nya, dan berusaha untuk tidak melakukan dosa dengan sengaja (disarikan dari Dom Orchard, Catholic Commentary of the Holy Scripture)

      Maka pertanyaannya di sini adalah: adakah kita benar- benar sudah tinggal di dalam Kristus? Sebab kalau kita benar- benar sudah ada di dalam Dia, maka kita akan dimampukan untuk tidak melakukan dosa. Namun kenyataannya, adakalanya kita tidak sungguh- sungguh tinggal di dalam Dia, dalam artian tidak menomorsatukan Dia di atas segalanya. Kita condong untuk menempatkan diri kita, (keinginan, pengertian, kebutuhan kita, dst) terlebih dahulu, sehingga pada saat inilah, kita berdosa di hadapan Tuhan.

      1 Yoh 3:9-10 “Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah. Inilah tandanya anak-anak Allah dan anak-anak Iblis: setiap orang yang tidak berbuat kebenaran, tidak berasal dari Allah, demikian juga barangsiapa yang tidak mengasihi saudaranya.”

      Dosa bertentangan dengan pengangkatan kita menjadi anak- anak Allah. Namun, ketika Rasul Yohanes mengatakan bahwa orang yang lahir dari Allah tidak dapat berdosa lagi, ia tidak bermaksud mengatakan bahwa setiap orang yang dibaptis diteguhkan dalam rahmat sehingga tidak dapat jatuh dari keadaan seperti itu; tetapi maksudnya adalah bahwa dosa adalah bertentangan sama sekali dengan hakekat anak Allah seperti yang dijelaskan dalam Rom 6:6,11-14. Dalam hal ini, kita harus juga melihat ayat 1 Yoh 3:9-10 dengan kesatuan dengan ajaran rasul Yohanes yang lain, yang tertulis dalam 1 Yoh 1:5-10.

      Yoh 8:36 “Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka.”

      St. Agustinus menjelaskan ayat ini demikian: “Orang- orang tidak pernah tidak mempunyai kehendak bebas; tetapi dengan memiliki rahmat Kristus, kehendaknya dibebaskan/ dimerdekakan dari perbudakan dosa.” (St. Augustine, Tract. 41. in Joan.) Selanjutnya, St. Agustinus juga menyatakan demikian, “Concupiscence is the guilt of original sin” (Retraction. i, 15), yang artinya adalah akibat dosa asal, manusia mempunyai concupisentia/ kecenderungan untuk berbuat dosa. Sehingga walaupun rahmat Pembaptisan membebaskan manusia dari dosa namun tetap menyisakan dalam diri manusia kecenderungan untuk berbuat dosa. Ini memang ada maksudnya, yaitu supaya manusia berjuang untuk hidup dalam kekudusan sampai pada akhirnya.

      Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:

      KGK 1263 Oleh Pembaptisan diampunilah semua dosa, dosa asal, dan semua dosa pribadi serta siksa-siksa dosa (Bdk. DS 1316). Di dalam mereka yang dilahirkan kembali, tidak tersisa apa pun yang dapat menghalang-halangi mereka untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Baik dosa Adam maupun dosa pribadi demikian pula akibat-akibat dosa, yang terparah darinya adalah pemisahan dari Allah, semuanya tidak ada lagi.

      KGK 1264 Tetapi di dalam orang-orang yang dibaptis tetap ada beberapa akibat sementara dari dosa: penderitaan, penyakit, kematian, kelemahan yang berhubungan dengan kehidupan (seperti misalnya kelemahan tabiat), serta kecondongan kepada dosa, yang tradisi namakan concupiscentia [keinginan tak teratur] atau, secara kiasan, “dapur dosa” [fomes peccati]. Karena keinginan tak teratur “tertinggal untuk perjuangan, maka ia tidak akan merugikan mereka, yang tidak menyerah kepadanya dan yang dengan bantuan rahmat Yesus Kristus menantangnya dengan perkasa. Malahan lebih dari itu, ‘siapa yang berjuang dengan benar, akan menerima mahkota’ (2 Tim 2:5)” (Konsili Trente: DS 1515).

      Jadi kesimpulannya:

      1. Gereja Katolik mengajarkan bahwa melalui Pembaptisan semua dosa kita dihapuskan; dan karenanya kita dijadikan kudus, sebagai anak- anak angkat Allah di dalam Kristus.

      2. Namun Pembaptisan tidak menghapuskan semua akibat dosa, karena biar bagaimanapun, kita masih menanggung akibat dosa tersebut, yaitu: penderitaan, penyakit, kelemahan sifat, kematian dan kecenderungan untuk berbuat dosa (concupiscentia). Selama kita masih hidup di dunia ini, kita masih mempunyai kecondongan berbuat dosa, sehingga jika kita lengah sedikit saja, kita dapat jatuh dalam dosa. Hal ini nyata, karena biar seseorang yang paling saleh sekalipun, masih saja ia dapat marah, kurang sabar, mengatakan kata- kata yang menyakitkan hati orang lain, mengeluh/ komplain, cepat menghakimi/ membicarakan orang lain, kurang rajin, merasa paling benar sendiri dst, -yang berhubungan dengan kelemahannya sebagai manusia. Kalau seseorang tidak pernah mengalami hal ini, maka sesungguhnya ia sudah sempurna. Namun sejujurnya, umumnya kita masih dapat jatuh dalam hal- hal seperti ini dalam tingkatan yang berbeda- beda. Oleh sebab itu, Rasul Yohanes mengatakan, “Jika kita mengatakan kita tidak berdosa maka kita menipu diri sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.” (1 Yoh 1:8) Menarik untuk direnungkan, Rasul Yohanes mengatakan hal ini justru setelah mengatakan pada ayat 7 demikian, “Jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus… menyucikan kita dari segala dosa.” Maka di sini terlihat bahwa Rasul Yohanes melihat bahwa meskipun darah Yesus menyucikan kita, namun kesucian itu harus terus dijaga, sebab kita masih dapat jatuh di dalam dosa. Jika ini yang terjadi, Rasul Yohanes mengajarkan jalan keluarnya pada ayat 9, yaitu demikian: “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (1 Yoh 1:9)

      3. Dosa itu bertentangan dengan hakekat kita sebagai anak- anak Allah. Oleh karena itu, kita semua yang sudah dibaptis harus berjuang agar tidak jatuh ke dalam dosa. Perjuangan inilah yang menjadikan kekudusan sebagai suatu proses, dan bukan sesuatu yang diperoleh sekali untuk selama- lamanya.

      4. Menyadari bahwa kita masih dapat jatuh, maka kita harus selalu bertobat dan memohon pengampunan Allah, agar kita dikembalikan ke dalam kondisi rahmat Allah seperti pada waktu Pembaptisan.

      3. Kita berhenti berdosa kalau kita mati

      Benar sekali pernyataan anda ini. Ya, kita berhenti berdosa kalau kita sudah mati. Kematian ini tentu bisa dalam arti wafat, namun juga kematian terhadap kehendak diri yang salah. Oleh sebab itu memang salah satu makna baptisan adalah ‘kematian terhadap dosa’ dan ‘kebangkitan dan kehidupan yang baru bersama Kristus, bagi Kristus dan di dalam Kristus’. (lihat. KGK 1227, Rom 6:5-11).

      Maka Rom 6:1-14 adalah Sabda Tuhan yang mengingatkan kita untuk selalu hidup dalam rahmat Allah, yaitu mati bagi dosa, hidup bagi Kristus.

      4. Darah Yesus menyucikan segala dosa kita

      Ya, pernyataan ini sangat benar. Darah Kristus menyucikan kita dari segala dosa, dan kita ditebus oleh-Nya (lih. 1 Pet 1:18-19). Kristuslah yang memampukan kita untuk meninggalkan dosa dan hidup bagi Dia. Jadi memang Kristuslah yang mampu menguduskan kita, dan bukan kita yang menguduskan diri sendiri terlepas dari Kristus. Para ahli taurat dikecam oleh Yesus karena mereka berpikir bahwa mereka dapat menguduskan diri sendiri lewat perbuatan- perbuatan hukum Taurat (lih. Rom 3:20), dan ini tentu tidak benar.

      Jadi benar, kita telah ditebus dan diselamatkan oleh Tuhan Yesus, namun rahmat keselamatan ini harus terus kita jaga sampai akhir hidup kita. Sebab untuk menyelamatkan kita, Yesus melibatkan kita. St. Agustinus mengajarkan demikian dalam Expositions of Psalms 99-120:

      “He (God) who created you without you, will not justify you without you” (Tuhan yang menciptakan kamu tanpa melibatkan kamu, tidak akan membenarkan kamu tanpa melibatkan kamu).

      Jadi tidak dapat dikatakan bahwa sekali sudah ditebus, lalu orang sudah pasti kudus, dan tidak harus mengusahakan apa- apa lagi. Kita harus terus berjuang bersama Kristus, agar kita dapat terus mempertahankan rahmat penebusan itu. Kekudusan ini bukan berarti hanya ‘diselubungi’ kekudusan Kristus, tetapi harus merupakan perubahan total dari keseluruhan diri kita untuk menjadi seperti Kristus. Ini adalah perjuangan seumur hidup, dan bukan urusan sekejap mata. Silakan, jika anda tertarik, membaca artikel ini, silakan klik, untuk mengetahui bahwa ajaran yang mengatakan sekali diselamatkan tetap diselamatkan, itu malah tidak Alkitabiah.

      Maka jika Gereja Katolik mengajarkan umatnya untuk senantiasa bertobat dan mengaku dosanya jika mereka jatuh dalam dosa, itu bukan karena membiarkan umatnya menjadi “Kristen babi atau Kristen anjing“; istilah yang anda tuliskan dengan mengutip 2 Pet 2:22. Ajakan pertobatan itu sungguh sesuai dengan realita yang sesungguhnya, seperti yang diajarkan sendiri pada ayat- ayat lain dalam keseluruhan Alkitab, yang mengajarkan bahwa kita sebagai umat beriman juga perlu untuk mengaku dosa (Yak 5:15-16, 1 Yoh 1:9, Yoh 20:22-23), artinya, sebagai umat beriman yang sudah dibaptis sekalipun, kita masih bisa jatuh dalam dosa. Jika tidak, tentu Tuhan tidak memerintahkan kita untuk mengakui dosa kita, setelah kita menjadi orang percaya. Lihatlah bagaimana di Korintus, walaupun jemaatnya sudah diberi rupa- rupa karunia Roh Kudus, namun tetap dikatakan oleh Rasul Paulus sebagai manusia duniawi, karena masih iri hati dan berselisih. Mereka hanya baru dapat diberi susu dan bukannya minuman keras (lih. 1 Kor 3:1-3). Artinya seseorang yang sudah lahir baru di dalam Kristus dalam Pembaptisan, harus terus bertumbuh, harus mau bertobat dari kesalahan yang dibuatnya. Lihatlah juga bagaimana Rasul Paulus menegur Euodia dan Sintikhe, dua orang dari jemaat di Filipi yang berselisih (Flp 4:2), walaupun di awal salam pembuka surat itu, Rasul Paulus memuji persekutuan jemaat di Filipi yang dipenuhi kasih karunia Allah (lih. Flp 1:1-11).

      Machmud, sudah panjang lebar sekali saya menjabarkan apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik tentang orang- orang kudus, dan bahwa kekudusan merupakan suatu proses yang harus diperjuangkan sampai akhir hidup kita di dunia. Gereja Katolik mendasarkan pengajaran ini dengan memperhatikan ajaran yang disampaikan oleh keseluruhan Alkitab, dan bukannya hanya menekankan pada sebagian ayat tertentu yang nampaknya menyampaikan bahwa begitu kita ditebus, kita sudah pasti kudus dan selamanya akan tetap kudus. Ini tidak sesuai dengan realita, dan tidak cocok dengan ajaran Alkitab secara keseluruhan.

      Mohon maaf, jika anda masih tetap berpegang pada pandangan yang tidak sesuai dengan ajaran Gereja Katolik, maka kami tidak dapat menayangkannya. Mohon maaf, karena kami mempunyai keterbatasan waktu untuk menanggapinya secara mendetail satu persatu. Kami sudah mencoba untuk menjabarkan jawabannya menurut ajaran Gereja Katolik, terhadap pertanyaan anda ini, dan semoga anda dapat menerimanya sebagai masukan bagi anda.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • [Dari Katolisitas: Komentar ini adalah komentar lanjutan dari Machmud, seorang pembaca Katolisitas yang kemungkinan mewakili pandangan non- Katolik tentang kekudusan. Komentar ini adalah komentar terakhir yang dapat kami masukkan, karena sedikit banyak merupakan pengulangan dari apa yang pernah disampaikannya dalam tanya jawab sebelumnya. Katolisitas akan menanggapi komentar ini yang sejujurnya tidak jauh berbeda dengan ajaran Gereja Katolik; hanya saja penekanannya yang berbeda, sehingga dapat dihasilkan pengertian yang berbeda. Ingrid akan menyampaikan alasannya mengapa demikian.]

        Salam damai sejahtera

        Dear Ingrid

        Ijinkan saya sekali lagi untuk menyelesaikan diskusi ini , yang mungkin tidak ada manfaatnya buat anda, tapi saya tetap akan menyampaikan apa yang sudah saya ketahui tentang hal ini,sebab yang telah saya sampaikan terdahulu baru sebagian saja.

        Mudah-mudahan anda masih mau untuk membacanya , tak perlu untuk ditanggapi.
        Terima kasih.

        [Dari Katolisitas: semua komentar yang ditayangkan yang tidak sepenuhnya sesuai dengan ajaran Gereja Katolik akan kami tanggapi]

        BAGAIMANA CARA TUHAN MEMBERI KITA KELEPASAN ?

        KEPALA SI ULAR TUA ITU SUDAH DIREMUKKAN
        Kej 3 : 15b ………. Keturunannya (Tuhan Yesus) akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.

        Setan sudah dikalahkan total.
        Inilah kekalahan prinsipiil setan dan kekalahan yang terbesar !

        Dalam hari-hari yang lalu setan sudah dikalahkan, juga dalam hari-hari yang akan datang ia akan dikalahkan lagi, tetapi semua ini hanya penegasan belaka dari kemenangan yang terbesar dan prinsip di atas Golgota ini !

        Orang yang berdosa itu hamba dosa (Yoh 8 : 34), dicengkeram hukum dosa dan maut (Roma 8 : 2).
        Diperhamba dan dijajah dosa.
        Manusia terikat dalam dosa, tidak dapat lepas, itu sebab dijajah setan !
        Sekarang si penjajah sudah dikalahkan total dan kemenangan itu diberikan kepada orang yang percaya.
        Sebab itu sekarang, siapa saja orang percaya yang mengerti dan mau mati lepas, bebas dari dosa, dapat !
        Sekarang, dapat langsung lepas dari dosa dalam nama Tuhan Yesus !

        [Dari Katolisitas: Ya, benar, Setan telah dikalahkan oleh Tuhan Yesus, sehingga manusia memang dapat lepas dari dosa, jika ia tetap hidup di dalam Tuhan Yesus].

        Tahun 1942 – 1845 Jepang melanda seluruh Asia Tenggara dan menjajahnya dengan kejam.
        Tetapi pada tahun 1945 Kaisar Jepang lewat radio mengumumkan kalah, menyerah.
        Langsung sesudah itu semua Negara-negara yang dijajah Jepang yang tahu berita ini dan percaya, langsung bangun berdiri melucuti senjata semua tentara Jepang, termasuk Indonesia, sehingga kita bebas merdeka.
        Kaisarnya sudah menyerah, semua anak buahnya tidak berdaya.

        Begitulah mirip dengan iblis, kepalanya sudah remuk, tubuh dan ekornya sudah tidak berdaya.
        Tetapi orang yang tidak mengerti dan tidak percaya, tetap di-takut-takuti dan dikuasai, tetap dijajah dengan kejam oleh dosa, tetap dalam perhambaan dosa !
        Kita harus mengerti kebenaran Firman Tuhan, sebab kebenaran inilah yang akan memerdekakan kita.
        Yohanes 8 : 32 Dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.

        Sebab itu kalau sekarang kita sudah mengerti dan mau lepas, bebas total dari dosa, dapat mulai menikmati, kebebasan total dari setan dalam nama Tuhan Yesus !
        Yang mau pasti bebas sekarang juga !
        Kecuali yang tidak mau dan yang tidak mengerti.
        Semua orang yang percaya pasti bisa bebas dari dosa. Dapat !
        Tidak perlu lagi dijajah dosa, setan sudah kalah, yang mau dapat bebas !
        Jangan lagi mau ditipu dan diperhamba oleh dosa apapun.
        Hisabkan, anggap dan perhitungkan diri kita seperti sudah lepas, dengan iman, dan hiduplah demikian ,bertindaklah demikian dalam nama Yesus, maka pasti kita akan mengalami kelepasan total dari dosa dan tidak perlu lagi jatuh kedalamnya.
        Kita dapat bebas, terimalah dengan iman. !
        Roma 6 : 11 Demikianlah juga kamu wajib menghisabkan (menganggap, memperhitungkan) dirimu mati lepas daripada dosa, tetapi hidup bagi Allah di dalam Kristus Yesus.

        Jangan ragu-ragu, terimalah dengan iman.
        Pasti kita akan mengalami kemerdekaan yang sepenuh-penuhnya dari Tuhan.
        Lepaskan, buang semua dosa itu, baik percabulan, perzinahan, dendam, iri, curi, sombong, fitnah, benci, hobatan dsb.
        Hiduplah dengan yakin seperti orang suci, maka kita akan kagum bagaimana ajaib pekerjaan Tuhan Yesus di dalam kita, bebas, lepas dari dosa.
        Kita dapat lepas, dan sekarang kita boleh berbuat kehendak Allah tanpa diganggu dosa lagi, bahkan berani menderita untuk mentaati kebenaran dan kesucian Allah.
        Roma 6 : 18 Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.

        [Dari Katolisitas: Tentu saja Gereja Katolik juga mengamini ayat- ayat ini: ya, memang jika kita selalu bekerja sama dengan rahmat Tuhan, tentu kita dapat lepas dari semua dosa. Namun rahmat pembebasan dari dosa itu bukan saja hanya perlu sekali saja diterima dengan iman, namun harus terus dipertahankan setiap hari, dengan kesediaan kita mengikuti perintah Tuhan]

        BAGAIMANA PERANAN PIKUL SALIB DALAM MATI DARI DOSA ?
        Kita lepas dari dosa bukan sebab mau menyangkal diri dan pikul salib, bukan.
        Dengan memikul salib saja kita tidak akan lepas tetapi kembali berulang-ulang jatuh dalam dosa kembali.
        Kita lepas dengan iman bukan dengan ketekunan memikul salib.
        Kita lepas dengan cara : HANYA MENERIMA DENGAN IMAN
        Sebab itu orang yang paling lemah dalam dosa, iapun bisa lepas, sebab kita hanya menerima dengan iman kemenangan yang besar ini !

        [Dari Katolisitas: Gereja Katolik tidak mengajarkan bahwa manusia lepas dari dosa dari menyangkal diri dan memikul salib. Kita dilepaskan dari dosa, dan diselamatkan, karena jasa Kristus yang telah mengalahkan kuasa dosa dan maut dengan wafat dan kebangkitan-Nya. Namun karunia keselamatan ini juga harus diterima dengan iman yang hidup, yaitu iman yang disertai dengan perbuatan kasih, bukan hanya asal mengimaninya saja. Nah, perbuatan kasih kepada Tuhan dan sesama inilah yang seringkali melibatkan penyangkalan diri, dan ketekunan memikul salib]

        LALU KALAU BEGITU TIDAK PERLU PIKUL SALIB ? PERLU !!

        Kita harus menyangkal diri dan pikul salib setiap hari mengikuti jejak-jejak dan cara hidup Tuhan Yesus (Lukas 9 : 23)

        [Dari Katolisitas: Benar, Machmud! Jadi sebenarnya pandangan anda tidak jauh berbeda dengan ajaran Gereja Katolik, yaitu jika anda juga meyakini bahwa keselamatan itu harus diterima dengan iman yang disertai dengan ketekunan memikul salib yang Tuhan ijinkan terjadi dalam kehidupan kita. Maka sebenarnya, bukan hanya iman saja yang menyelamatkan, tetapi iman ini harus diikuti dengan perbuatan memikul salib demi kasih kita kepada Tuhan. Jadi pernyataan anda ‘HANYA MENERIMA DENGAN IMAN’ itu menjadi kurang lengkap, harusnya, ‘hanya menerima dengan iman yang disertai dengan perbuatan’. Ini menjadi lebih sesuai dengan ayat- ayat Kitab Suci yang lain, yaitu Yak 2:24, 26]

        Bagaimana hubungan salib dan anugerah kelepasan dari dosa ini ?

        Hidup suci itu bertentangan dengan daging.
        Kita sudah diberi kemenangan atas dosa, kita sudah diberi hidup suci.
        Allah yang memungkinkah hal ini.
        Roma 6 : 4 Demikianlah kita dikuburkan sertaNya oleh baptisan itu kedalam maut, sebagaimana Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, sedemikian itu juga kita inipun dapat berjalan di dalam suatu hidup yang baharu.

        Jadi kemenangan itu sudah kita terima, tetapi daging pasti akan melawan.
        Daging dan Roh itu bertentangan (Gal 5 : 17)
        Daging tidak mau hidup dalam kesucian.
        Daging ingin ber-lazat2 menuruti hawa nafsu.
        Timbul peperangan / pergumulan dalam jiwa kita (1Pet 2 : 11)

        Disinilah kita harus memutuskan dengan tegas, bahwa daging kita matikan.
        Kita harus mau mematikan daging (=menyalibkan daging).
        Kekuatan untuk itu sudah diberikan sekaligus dalam kemenangan itu, tetapi sebagai akibatnya kita harus mau mengalami daging yang di-pecah2kan, dimatikan karena kesucian Allah masuk di dalam hidup kita !
        Dengan pengertian dan kemauan, mau menderita akibat2 cara hidup baru.
        Orang yang tidak mau resiko ini (tidak mau salib) akhirnya akan kembali hidup cara lama, hidup dalam dosa.
        Mau pikul salib itu sangat penting, supaya kita tetap tinggal dalam kesucian Tuhan.
        Misalnya tidak lagi menyimpan gambar2 cabul atau hidup dalam pergaulan cabul / zinah, tidak lagi membalas dendam, iri, tidak lagi memfitnah dsb.

        Ini membuat daging kita seperti tidak tahan, tetapi kita harus mau memikul salib, mau menderita apapun akibatnya, bahkan matipun mau !

        [Dari Katolisitas: Ya, Gereja Katolik juga mengajarkan yang sama: kita harus mau meninggalkan cara hidup yang lama dan hidup baru dalam kekudusan bersama Yesus. Ini adalah perjuangan seumur hidup, dan harus setiap saat diperjuangkan]

        Kuasa untuk menaggung hal ini sudah diberikan, tetapi kita harus mau merasakan akibatnya !
        Salib itu sangat penting, tetapi bukan ini yang melepaskan kita dari dosa, melainkan kematian Tuhan Yesus di atas salib itu yang mengampuni kita dari segala dosa yang sudah kita perbuat dan melepaskan kita dari semua ikatan2 dosa yang ada pada kita.
        Salib adalah konsekwensi yang mutlak perlu dipikul sebab kuasa Allah masuk dan bekerja didalam diri kita.
        Ini tidak berat, bahkan ringan dan sangat senang !
        Matius 11 : 30 Sebab kuk (salib) yang kupasang itu enak dan bebankupun (sengsara salib) ringan.

        Luar biasa kita bisa diampuni dan dibebaskan total dari dosa sekarang juga !
        Hebat cara kerja Allah, luar biasa rencanaNya dan Ia tidak pernah gagal.
        Sebab itu sekarang siapa yang mengerti dan mau dapat mati lepas dari dosa, tidak ada satupun yang terkecuali.
        Jangan ditipu oleh setan !

        [Dari Katolisitas: Ya benar, jika kita hidup di dalam Yesus, maka usaha penyangkalan diri tidak lagi terasa berat, karena Allah sendiri memampukan kita]

        Seringkali orang beriman tidak mendapat janji2 Tuhan yang sepenuh, TIDAK MENGALAMI BEBAS DARI DOSA bahkan bisa sesat sebab :

        1.TIDAK MENGERTI FIRMAN TUHAN.
        Markus 12 : 24 Jawab Yesus kepada mereka : “Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah “.

        Sekalipun seorang tokoh yang besar, ia masih mungkin belum mengerti dengan baik salah satu segi, atau ada satu “gap” dalam salah satu pengertian, sehingga ia jatuh dalam dosa.
        Sebab biasanya tokoh2 pimpinan itu seorang “spesialis” yang ahli hanya dalam bidangnya (jabatan) tetapi perlu banyak di-isi oleh anggota tubuh Kristus lainnya untuk bidang2 atau segi2 lain !

        Lebih2 kalau tokoh2 itu merasa dirinya bisa dan merasa tidak perlu belajar satu dari yang lain, ini berbahaya, ia akan mudah terpeleset di tempat2 dimana terang Firman Tuhan kurang cukup baginya.
        Kalau seorang betul mengerti Firman Tuhan, maka ia akan dimerdekakan oleh Firman Tuhan itu sepenuhnya.
        1Yohanes 3 : 5 Maka kamu mengetahui bahwa Kristus diberi nyata supaya Ia melenyapkan segala dosa; maka di dalamNya itu tiada ada dosa.

        Yohanes 8 : 32 Dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.

        [Dari Katolisitas: Ya, benar, bahwa siapapun juga, baik ia tokoh atau bukan tokoh pemimpin, dapat saja ia terpeleset dan jatuh dalam dosa. Maka di sini kita ketahui, walaupun Tuhan telah memberikan rahmat-Nya yang memampukan kita orang percaya untuk tidak berdosa lagi, namun adakalanya, atas kelemahan manusia itu sendiri, ia terpeleset dan jatuh dalam dosa, entah karena ia tidak memahami Firman Tuhan, atau alasan lainnya. Ini tentu bukan sesuatu yang seharusnya terjadi, tetapi faktanya hal ini tetap terjadi dalam kehidupan manusia.]

        Kita perlu mengerti kebenaran Firman Tuhan tentang :

        a.Kelepasan dosa pada umumnya.
        Biasanya ini juga cukup untuk kelepasan dari segala dosa.
        Tetapi dalam pertumbuhan rohani, kita juga perlu bertumbuh dalam pengertian, sebab setan terus menerus menipu dan memperdayakan kita dalam setiap macam dosa.
        Firman Tuhan sudah menyediakan lengkap sebab itu kita perlu mengerti lebih lanjut tentang :

        b.Kebenaran Firman Tuhan tentang setiap dosa.
        Misalnya : sombong, percabulan / perzinahan, bohong, fitnah, kebencian / pembunuhan, menghormati orang tua dsb.
        Kalau seorang tidak mempunyai cukup dasar dalam Firman Tuhan, ia mudah diperdayakan setan dan jatuh dalam dosa dan celaka.
        Orang bodoh itu mati sebab kurang akal budinya (Amsal 10 : 21b).
        Sebab itu kita harus terus makin ber-tambah2 dalam pengertian Firman Tuhan dalam setiap segi kehidupan.

        c.Pengertian-pengertian Firman Tuhan untuk pertumbuhan, misalnya tentang Firman Tuhan, iman, doa, pekerjaan Roh Kudus, rencana Allah dsb.
        Ini sangat penting untuk membuat pondasi rohani kita tetap kuat.

        [Dari Katolisitas: Ya, benar, tanpa pemahaman akan Firman Tuhan dan berakar dalam doa dan persekutuan sesama umat beriman, maka seseorang mudah terpeleset kembali ke dalam dosa. Bagi umat Katolik, rahmat Allah yang istimewa juga diberikan melalui sakramen, terutama Ekaristi dan Tobat. Dengan berakar dalam Sabda Tuhan , doa dan sakramen, maka kita umat Katolik diberi kekuatan oleh Tuhan untuk berjuang agar tidak mudah ‘terpeleset’ jatuh ke dalam dosa lagi, sebab mata hati kita dibukakan sehingga kita membenci dosa].

        2.TIDAK TAAT AKAN FIRMAN TUHAN.
        Lukas 11 : 28 Tetapi Ia berkata : “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan Firman Allah dan yang memeliharanya.”

        Orang yang mengerti tetapi tidak taat, itu akan mengalami kerobohan yang amat besar.

        Matius 7 : 26 – 27 Tetapi setiap orang yang mendengar perkataanKu ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. —– Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya

        3.TIDAK TETAP DIDALAM PERSEKUTUAN DENGAN TUHAN.

        Yohanes 15 : 4a Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.

        [Dari Katolisitas: Orang yang berdosa adalah orang yang dengan kehendak bebasnya memilih untuk tidak taat kepada Tuhan. Orang dapat memilih untuk tidak taat kepada Tuhan, karena ia tidak menghayati persekutuannya dengan Tuhan ataupun bahkan tidak lagi mau bersekutu dengan Tuhan].

        Dengan apa kita boleh tetap tinggal di dalam Tuhan ?

        a.Hidup suci. Dosa menceraikan kita dari Allah,
        Yesaya 59 : 2 Tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.

        Kalau memang ada dosa, jangan disembunyikan, segera bereskan !

        [Dari Katolisitas: Ya, meskipun seseorang telah berusaha untuk hidup suci, namun ada kalanya ia jatuh dalam dosa, entah karena kelemahannya ataupun karena tidak sepenuhnya disengaja, atau dosa karena kegagalannya untuk melakukan kebaikan yang sesungguhnya dapat dilakukannya. Jika ini terjadi, Gereja Katolik menganjurkannya untuk menerima sakramen Tobat, agar dosanya dapat diampuni, dan keadaan rohaninya dikembalikan kepada kekudusan yang sudah ia terima pada waktu Pembaptisan. Sakramen Tobat adalah ‘pemberesan’ dosa yang diinginkan oleh Kristus, seperti disebutkan dalam Yoh 20:22-23)].

        b.Tekun dalam doa di dalam Roh dan Kebenaran (Yoh 4 : 24)
        Tuhan suka kalau kita berdoa non stop (1Tes 5 : 17).
        Tentu mula2 belum bisa, tetapi makin lama doa itu akan menjadi kebutuhan yang makin indah.

        c.Setiap hari makan Roti Hidup Sorgawi, yaitu Firman Tuhan (Mat 4 : 4).
        Seperti tubuh perlu makanan dan kita suka makan, begitu juga kebutuhan kita akan Firman Tuhan.

        [Dari Katolisitas: Bagi umat Katolik makan Roti Surgawi adalah tidak saja makan Firman Tuhan, namun juga dengan makan Sang Roti Hidup itu sendiri dalam rupa Ekaristi kudus. Ini adalah kehendak Kristus, yang dinyatakan oleh Kristus sendiri dalam perjalanan-Nya ke Emmaus: di mana Ia mulai menjelaskan Sabda Allah lewat kitab para nabi, dan kemudian dilanjutkan dengan pemecahan roti yang adalah Tubuh-Nya sendiri (Luk 13:35). Hal inilah yang terus dilakukan oleh para rasul (Kis 2:42). Setelah kita menerima Kristus itu sendiri maka kita dapat menyembah Dia dalam kepenuhannya, yaitu dalam Roh dan Kebenaran, sebab Kristus adalah Allah yang adalah Roh (Yoh 4:24) dan Kebenaran (Yoh 14:6)].

        d. Bersekutu dengan saudara2 seiman dalam kebaktian dan secara informal di mana2, dengan saling menasehati (Ibr 3 : 13; Kol 3 : 16), me-muji2 Tuhan (Efesus 5 : 19) dan saling menguatkan (Roma 14 : 19)
        Dengan demikian kita akan tetap kuat sebab tinggal di dalam Kristus dan TubuhNya.

        BAGAIMANA KALAU JATUH LAGI DALAM DOSA ?

        Penting ketulusan dan kesungguhan !
        Orang yang pura2 akan belajar terus seumur hidup, tetap tidak bebas, malah tambah terikat dalam dosa pura2nya !
        2Tim 3 : 7 Yang senantiasa belajar, tetapi tidak pernah sampai kepada pengenalan akan yang benar.

        (Sebab itu tidak pernah bebas dari dosa sebab belum mengenal kebenaran (Yah 8 : 32)
        Orang2 seperti ini tidak tulus !
        Mulut dan sikapnya saja seperti orang beribadat, tetapi hatinya tetap ingin dosa, tidak mau lepas dari dosa, kuasa ibadat ditolaknya !

        [Dari Katolisitas: Kita tidak dapat mengatakan bahwa orang yang terpeleset jatuh ke dalam dosa setelah ia dibaptis adalah orang yang tidak tulus, yang terikat dalam dosa pura- pura, menolak kuasa ibadat dan tidak mau terlepas dari dosa. Sebab bisa saja, ia terpeleset jatuh karena kelemahannya sebagai manusia. Maka relevan di sini dibahas tentang adanya pembedaan antara dosa besar (mortal sin) dan dosa ringan (venial sin), seperti yang pernah dibahas di sini, silakan klik]
        APA KUASA IBADAT ITU ?
        Itulah kelepasan dari dosa dan tumbuh dalam rencana Allah.
        2Tim 3 : 5 Yang merupakan dirinya seperti orang beribadat, tetapi kuasa ibadat itu telah ditolakkannya (sehingga tetap hidup dalam perhambaan dosa), maka daripada orang itu palingkanlah dirimu.

        Kalau seorang tidak tulus, Firman Tuhan otomatis tidak jadi !
        Firman Tuhan itu untuk orang yang sungguh2 mau dan tulus !
        Lukas 12 : 57 Apakah sebabnya tiada dapat kamu mengambil keputusan yang sungguh dari pada dirimu sendiri

        Kalau kita sungguh2 mau, pasti kita akan mengalami kebebasan yang ajaib dan indah ini.
        Tetapi kalau pada suatu saat karena lengah, kita tertipu dan jatuh dalam dosa, maka segera pada kesadaran akan dosa yang pertama kali, langsung minta ampun, bereskan akibat2 dosa itu lalu kembali hidup dalam kesucian !
        Sekali atau beberapa kali, masih mungkin terjadi semacam ini !

        MENGAPA ?

        1.Belum terbiasa
        Hidup suci itu suatu hidup cara baru bagi kita.
        Kita sudah terbiasa di dalam dosa, dalam kebencian, dalam ketamakan, menuruti keinginan mata, daging, jemawa dsb.
        Sudah biasa dalam hidup dosa ber-puluh2 tahun, sebab itu waktu belajar hidup cara baru kadang2 terjadi beberapa kekeliruan.
        Tetapi jangan takut, pada kesadaran pertama, kembaliah lagi dalam posisi permulaan.

        2.Tetipu oleh setan, oleh segala siasatnya.
        Kalau sudah tertipu, ya sudah ! Langsung perbaiki dan lainkali jangan sampai tertipu lagi.
        Kita harus lebih cerdik daripada sisetan (tentunya dengan bantuan Tuhan, 2Kor 2 : 11 — 2Tim 2 : 26) yaitu dengan banyak belajar Firman Tuhan dan berdoa serta dengan perhatian mendengar pimpinan Roh Kudus.
        Roh Kudus tahu lebih dahulu segala siasat setan !
        Dipimpin Roh Kudus itu berarti pasti menang !

        Karena lemah, tidak kuat, tidak berani sehingga jatuh.
        Tetapi segera sadar, kembali lagi kepada Tuhan, pakai iman, hampiri Allah dan lawan setan, pasti kuat (Yak 4 : 7 – 8)
        Lemah itu bukan dari Allah.
        Allah menghendaki kita kuat (Ef 6 : 10)
        Dengan iman jadilah kuat !
        Apapun alasannya, bangun dan kembali pada Tuhan, lawan setan, usir dia, kembali pada posisi semula, perangi setan, jangan mau dikalahkan lagi, tetapi hiduplah dalam kesucian, mati lepas dari dosa !
        Orang2 yang betul2 mau bebas, sudah merdeka dan akan tetap merdeka untuk selamanya !

        Waktu tergelincir dalam dosa, setan akan datang dengan kata2 penipuannya, katanya :
        Lihat, engkau toh jatuh lagi dalam dosa, engkau kembali dalam hidup yang lama, engkau tidak dapat lepas dari tabiat dosa, engkau pasti akan jatuh lagi. Tidak mungkin engkau lepas dari dosa. Puaslah dengan menjadi lebih baik sedikit demi sedikit !

        Jangan percaya mulut penipu setan !
        Kita sudah menjadi baru dan yang lama sudah lenyap !
        2Kor 5 : 17 Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru; yang lama sudah berlalu (sudah lenyap), sesungguhnya yang baru sudah datang (sudah terbit)

        Firman Tuhan berkata semua tabiat yang lama sudah lenyap bukan akan lenyap atau lenyap sedikit demi sedikit, tetapi sekaligus sudah lenyap.
        Terimalah kebenaran Firman Tuhan ini, jangan di-ganti2 menurut saran setan, nanti tertipu seperti Hawa dalam taman Eden sebab mengganti kata-kata Allah !
        Semua yang lama sudah lenyap dan semua yang baru sudah terbit, sudah ada ! Kita sudah menjadi baru !
        Jangan perduli dengan sekali dua kali tergelincir (tentu kita harus ber-jaga2 jangan sampai berdosa lagi (Maz 119 : 11), tetapi kalau toh itu terjadi, itu bukan sebab yang lama masih ada, sebab yang lama sudah lenyap !
        Percayalah akan Firman Tuhan yang berkata ;”Yang lama sudah lenyap” !
        Yang baru sudah ada meskipun belum tumbuh semua dengan sempurna (untuk tumbuh perlu cukup waktu tetapi yang baru sudah ada !)
        Yang lama sudah lenyap tetapi mengapa timbul lagi dosa dari hidup yang lama ?
        Sebab tertipu setan !
        Tetapi segera kita sadar, bersihkan semuanya, lalu usir setan dan kembalilah dalam hidup yang sudah jadi baru !
        Jangan mau mengakui bahwa tergelincir itu berarti yang lama masih ada, tidak !
        Dengan iman kita sudah menerima semua yang baru dan dengan iman kita juga berkata bahwa itu tergelincir, tetapi yang lama sudah lenyap !
        (tentu lebih baik jangan sampai tergelincir. Ber-tanya2lah akan Tuhan selalu, dengan banyak doa dan Firman Tuhan, kita tidak mudah tergelincir. Tetapi orang yang sembarangan tentu tergelincir lebih sering atau rutin, sebab tidak sungguh2 mau bebas !)

        Semua barang yang baru tumbuh itu masih halus, (bayi,kecambah dll) sebab itu harus dipelihara lebih hati2 pada permulaannya.
        Tetapi kalau toh tergelincir, segera bereskan, lalu sesudah diperbaiki pasti kita dapat hidup kembali merdeka dari dosa !
        Amsal 24 : 16 Karena jikalau sekiranya orang benar itu jatuh sampai tujuh kali, maka berbangkitlah pula ia, tetapi segala orang fasik itu akan terperosok ke dalam jahat.

        [Dari Katolisitas: Ya, Gereja Katolik juga mengajarkan hal ini. Ada kalanya memang setelah seseorang dibaptis dan dikuduskan Allah, ada kalanya ia masih dapat jatuh ke dalam dosa. Namun ia harus kembali bangkit, bertobat dan kembali kepada Allah. Tentu jatuhnya seseorang ke dalam dosa ini bukan untuk dijadikan ‘kebiasaan’, tetapi untuk dihindari di lain kali].

        Biasanya semua sahabat dunia bahkan beberapa tokoh yang belum lahir baru juga berkata seperti setan :
        “Ah, yang lama masih ada, tidak bisa lenyap”.
        Pepatah mengatakan, sekalipun sudah ompong (giginya sudah gugur semua), kalau macan tetap macan.
        Artinya tabiat itu tidak bisa berubah, kalau suka berzinah akan tetap suka begitu, kalau suka bohong akan tetap berdusta, kalau sombong, maka akan tetap sombong.
        Memang dunia hanya menganali hal-hal ini !

        Tetapi justru Tuhan Yesus datang untuk melepaskan manusia dari ikatan2 dosanya yang se-olah2 nampaknya “abadi” ini !
        Dia pelepas dosa, namanya YESUS = PELEPAS DOSA (Mat 1 : 21) supaya kita bisa dilepaskan total dari dosa ! Bebas, Firman Tuhan berkata : “Dapat” !
        Biasanya kalau seorang sungguh2 mau hidup dalam kesucian, maka sesudah satu atau dua kali tergelincir dengan penuh penyesalan, ia sudah belajar untuk tidak jatuh lagi dan ia akan menikmati suatu hidup bebas dari dosa.
        Orang Parisi orang yang pura2 itulah yang banyak menimbulkan serangan2 dan ajaran untuk menyangkal kebenaran Firman Tuhan ini.
        Jangan tersesat oeh ajaran2 mereka (Mark 12 : 24)
        Dengan doa dan dengan segenap hati, pelajarilah baik2 pelajaran ini dengan Alkitab yang terbuka, pasti Roh Kudus akan sanggup menolong setiap orang Kristen dimanapun diseluruh dunia untuk lepas dari dosa, sebab kemenangan itu sudah rampung dan dengan penuh sukacita disediakan Allah cuma2 bagi barang siapa yang mau percaya, dan yang mau menerimanya.

        [Dari Katolisitas: Gereja Katolik juga mengajarkan demikian. Yesus memang mampu menyelamatkan kita, namun cara-Nya menyelamatkan kita adalah dengan melibatkan kita: kita harus mau diselamatkan oleh-Nya. Dan kemauan kita ini harus diperbaharui terus setiap hari, dengan kehendak kita untuk menolak dosa setiap hari, bahkan setiap saat].

        Kadang2 ada orang yang sungguh2 tetapi mengalami sedikit lebih banyak kegagalan, sehingga ia putus asa.
        Biasanya dalam pikirannya banyak kata2 logis tetapi penuh tipu daya yang menyesatkan.
        Sering kali setan berkata :
        “lihatlah dari pengalaman sekian banyak, dan engkau selalu gagal. Percuma engkau terlalu berusaha, nanti engkau kecewa. Pengalaman membuktikan bahwa engkau tidak bisa merdeka betul. Mungkin satu atau dua orang lain saja yang dapat, tetapi engkau tidak dapat. Baru kemarin engkau jatuih lagi dalam dosa”.

        Pengalaman membuktikan kebenaran. Ini tipu daya setan.

        [Dari Katolisitas: Jika Gereja Katolik mengajarkan umatnya untuk selalu bertobat, itu bukan karena pengalaman, atau karena terkena tipu daya setan. Gereja Katolik mengajarkan pertobatan bukan karena mentolerir dosa, tetapi karena menyadari bahwa kekudusan itu sendiri harus diperjuangkan, dan terus bertumbuh sampai menjadi sempurna. Karena akibat dosa asal, manusia masih memiliki kecenderungan berbuat dosa (concupicentia), namun seseorang belum berdosa jika kecenderungan itu sendiri belum dituruti sehingga membuahkan dosa. Namun adakalanya, karena kelemahan manusia, seseorang dapat tergelincir dan jatuh dalam dosa, dan pada saat ini ia harus bertobat dan kembali kepada Allah. Itulah sebabnya Rasul Yohanes mengatakan, “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan. Jika kita berkata, bahwa kita tidak ada berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita.” (1 Yoh 1:8-10).

        Ayat ini jelas mengatakan bahwa walaupun kita sudah dikuduskan Allah lewat Pembaptisan, namun oleh kelemahan kita, kita masih dapat jatuh/ tergelincir ke dalam dosa. Kalau kita mengatakan bahwa begitu kita jadi orang percaya, maka pasti tidak berdosa lagi, maka kita membuat Allah menjadi pendusta!]

        Jangan percaya tipu daya setan.
        Jangan melihat kepada pengalaman.
        Bagi dunia pengalaman adalah guru terbesar, tetapi bagi kita Firman Tuhan adalah kebenaran yang sesungguhnya (Yoh 17 : 17) dan guru yang terbesar, bukan pengalaman.
        (Penglaman yang sesuai dengan Firman Tuhan dapat menguatkan, istimewa dalam kesaksian2, tetapi pengalaman yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan jangan diterima, sekalipun dunia menerimanya).
        Jangan memandang pada pengalaman, pandanglah pada Yesus (=Firman) yang memulai timbulnya iman dalam kita dan dengan Firman juga iman kita ditumbuhkan terus sampai sempurna.
        Ibrani 12 : 2a serta memandang kepada Yesus, yang mengadakan dan menyempurnakan iman. Memandang kepada kebenaran Firman Tuhan.
        Sekalipun kemarin baru jatuh dalam dosa, katakan lagi, itu tergelincir, yang lama sudah lenyap, yang baru sudah terbit.
        Aku sudah jadi baru dan tidak mau kembali hidup dalam hidup yang lama.
        Di dalam Kristus akan sanggup ! (Pil 4 4 : 13)
        Jangan mau di-injak2 oleh pengalaman, jangan mau dibatasi oleh pengalaman, kita tidak akan keluar dari pengalaman, tidak akan tumbuh lebih dari pengalaman, tidak akan merdeka dari dosa, sebab pengalaman lama semua manusia adalah hidup dalam dosa.

        Memang saudara yang sungguh2, tetapi sering jatuh dalam dosa perlu dibimbing atau diberi nasehat oleh saudara seiman yang sudah dewasa rohaninya.
        Mungkin ada perangsangan2 yang diterimanya terus menerus dalam hidupnya, sehingga terus jatuh (Roma 13 : 14) atau mungkin karena pergaulannya sangat jelek seperti di Sodom dan Gomora; sebab justru orang2 Kristen harus meninggalkan semua yang nampak jahat sekalipun dengan pengorbanan (Ams 22 : 3 — 1Tes 5 : 22)

        [Dari Katolisitas: Baiklah direnungkan di sini, bahwa memang orang yang sudah dewasa rohaninya dapat membimbing mereka yang belum dewasa dalam iman. Namun itu tidak berarti bahwa mereka yang sudah dewasa imannya artinya tidak berdosa lagi. Sebab jika demikian ia yang mengaku sudah dewasa imannya malah menipu dirinya sendiri (lih 1 Yoh 1:8) dan bahkan menjadikan Allah sebagai penipu (1 Yoh 1:10), karena biar bagaimanapun pasti masih ada sesuatu yang dapat dilakukannya untuk menjadi lebih baik dan kudus, untuk menjadi semakin lebih menyerupai Kristus. Selama ini belum dilakukannya, ia belum sempurna, dan masih ada dosa, walaupun dosanya mungkin tidak sama dengan dosanya sebelum ia bertobat dan menjadi orang percaya. Sebab, “jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” (Yak 4:17). Maka kegagalan berbuat kebaikan saja sudah merupakan dosa, dan siapa yang dapat luput dari dosa ini, karena selalu saja ada perbuatan baik dan lebih baik yang dapat kita lakukan.]

        Memang sesudah lahir baru perjalanan hidup kita dalam kesucian masih panjang, siasat2 setan masih banyak mau menyerang kita, sebab itu jangan lepas dari persekutuan dengan orang2 suci lainnya dan dengan Tuhan Yesus (dalam doa, Firman Tuhan, kesucian dan pimpian RohNya).
        Semua hal2 ini akan kita pelajari satu persatu, tetapi untuk langkah permulaan, ini sudah cukup, pasti tidak akan banyak kesukaran kalau orang beriman ini betul2 mengerti dan mau lepas serta mau menanggung resikonya, yaitu pikul salib mengikut langkah2 Kristus.
        Kita bisa lepas dari dosa dengan total ! Puji Tuhan.
        Dengan anugerah Tuhan Yesus kita bebas.

        Kebenaran Firman Tuhan ini sudah banyak melepaskan orang dari ikatan2 dosanya.
        Kalau saudara ada ikatan dosa, bereskanlah sekarang. Jangan tunda sampai besok atau lusa, sebab hal itu berarti :

        1.Keras hati, berbahaya (Ibr 3 : 15)
        2. Sudah kena tipu daya dosa, sehingga tidak mau dilepaskan sekarang, sebab rasanya masih ingin pada dosa (Ibr 3 : 13)

        Jangan tertipu oleh setan.
        Hari ini , kalau saudara mau lepas dari dosa, terimalah dengan iman !, maka hidup saudara akan berubah sama sekali, tidak sama seperti dahulu !

        [Dari Katolisitas: Ya, apa yang anda katakan ini benar. Setelah kita lahir baru melalui Pembaptisan, jalan kesucian masih panjang. Kita harus terus berjuang untuk hidup kudus. Jika kita jatuh lagi dalam dosa, kita harus segera betobat dan kembali ke jalan Tuhan]

        Tahukah saudara ?
        Hidup dalam kesucian Allah itu paling indah, mengesankan, penuh kejutan2 yang indah, segar dan ber-buah2.
        Lepaskanla segala dosa hari ini, jangan tunda besok, bertobatlah sungguh2 dan terimalah kemerdekaan saudara HARI INI !

        [Dari Katolisitas: Ya, hidup dalam kekudusan adalah sesuatu yang indah yang harusnya kita usahakan setiap hari. Jika kita melakukannya, kita akan mengalami kedamaian dan suka cita yang dari Tuhan, yang tak dapat diberikan oleh dunia ini]

        Demikianlah yang dapat saya sampaikan, mungkin hal ini tidak sama atau bertentangan dengan pengajaran gereja Katolik, namun harapan saya mudah-mudahan masih ada manfaatnya untuk direnungkan; tapi kalau tidak lupakan saja.

        Terima kasih anda sudah mau membacanya.
        Salam
        mac

        [Dari Katolisitas: Apa yang anda tuliskan sebenarnya tidak jauh berbeda dengan apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik. Hanya penekanan anda yang berbeda, sehingga kadang terkesan mengatakan bahwa seseorang yang sudah lahir baru maka tidak dapat lagi jatuh ke dalam dosa. Namun jika anda mengakui bahwa orang yang sudah lahir barupun masih dapat terpeleset jatuh dalam dosa, dan perlu untuk bertobat maka sesungguhnya pandangan anda hampir serupa dengan ajaran Gereja Katolik. Apa yang membedakannya, dan tanggapan kami selanjutnya, silakan membaca pada jawaban saya di bawah ini].

        • Shalom Machmud,

          [Dari Katolisitas: komentar ini adalah kelanjutan/tambahan dari komentar Katolisitas yang diberikan menanggapi tulisan Machmud tentang kekudusan di atas ini]

          Saya memutuskan untuk menayangkan kembali tanggapan anda, namun komentar ini adalah yang terakhir dapat saya masukkan untuk topik ini karena argumen yang diberikan sudah cenderung mengulang apa yang sudah disampaikan, sehingga saya rasa para pembacapun sudah paham akan apa yang anda sampaikan, dan apa yang menjadi tanggapan kami di Katolisitas. Semoga anda dapat melihat bahwa sebenarnya pandangan anda tidak jauh berbeda dengan ajaran Gereja Katolik, namun penekanan anda yang berbeda, sehingga dapat menghasilkan kesimpulan yang berbeda.

          Gereja Katolik juga percaya bahwa seseorang yang sudah percaya dan dibaptis, telah dikuduskan oleh Allah. Namun dalam perjalanan iman selanjutnya, ia masih dapat terpeleset jatuh di dalam dosa (hal inipun juga anda akui dalam tulisan anda). Ini terjadi, bukan karena Tuhan Yesus yang kurang kuasa, atau karena korban salib-Nya tidak cukup untuk menyelamatkan kita; tetapi karena orang itu sendiri yang tidak sungguh- sungguh tinggal di dalam Kristus, sehingga ia kurang kuat untuk menolak kecondongannya terhadap dosa. Lagipula, semakin dekat seseorang dengan Allah yang adalah Terang, maka ia semakin dapat melihat adanya noda dalam dirinya, walaupun hanya sedikit. Semakin kita dekat pada Allah kita semakin peka akan dosa, dan sedikit saja kita melakukan sesuatu yang dulu kita pandang biasa- biasa saja, namun kini kita pandang sebagai suatu kesalahan, karena kita mengejar kesempurnaan.

          Namun Tuhan memberikan jalan keluar. Jika dalam perjalanan hidup sebagai orang beriman, kita jatuh/ ‘terpeleset’ dalam dosa, maka kita harus bertobat, agar dapat kembali dikuduskan oleh-Nya. Menurut Gereja Katolik, rahmat pengampunan Allah yang menguduskan ini diperoleh melalui sakramen Pengakuan Dosa/ sakramen Tobat. Dengan menerima sakramen Tobat dan selanjutnya Ekaristi, maka kita dikuduskan kembali dan dikuatkan untuk menolak dosa di kemudian hari. Dengan ini kita menjaga rahmat kekudusan yang telah diberikan melalui Pembaptisan atas jasa pengorbanan Kristus.

          Apakah ada orang yang dapat hidup kudus sampai akhir? Tentu ada. Contoh yang jelas adalah adanya para orang kudus (Santa/ Santo) dalam Gereja Katolik [dan juga Kristus Bunda Maria]. Namun bukan berarti kekudusan adalah hanya milik para Santa/ Santo, karena semua orang beriman dipanggil untuk hidup kudus. Para Santa dan Santo semasa hidupnya juga berjuang untuk mempertahankan kekudusan; mereka juga mengaku dosa dan menerima Ekaristi, sehingga dapat hidup makin kudus sampai akhir hayat mereka. Jika kita membaca riwayat hidup dan perjuangan mereka untuk hidup kudus, kita akan terkagum. Karena walaupun mereka terbatas seperti kita, namun kasih mereka kepada Tuhan dan sesama begitu besar dan total, yang menjadi bukti dari iman yang hidup. Mereka tidak lagi memikirkan kesenangan diri sendiri, tetapi berfokus kepada Tuhan, dan bagaimana untuk menyenangkan hati Tuhan, berjuang untuk bertumbuh dalam kekudusan sampai akhir. Karena kekudusan mereka inilah, mereka dibenarkan oleh Tuhan, dan ini dibuktikan dengan besarnya kuasa doa mereka bukan hanya semasa mereka hidup di dunia, tetapi juga bahkan setelah mereka beralih dari dunia ini.

          Nah, maka tidak benar jika Gereja Katolik mentolerir dosa. Justru sebaliknya, Gereja Katolik percaya bahwa setiap orang dapat diubah menjadi kudus, dan selanjutnya dapat benar- benar kudus, asalkan terus berjuang bersama Tuhan. Maka kekudusan bagi Gereja Katolik adalah benar- benar transformasi jiwa, dari yang penuh dosa, menjadi kudus, tentu atas bantuan rahmat Tuhan dan kerjasama dari yang menerima rahmat.

          Sebaliknya, Martin Luther pendiri gereja Protestan, mengajarkan hal yang berbeda. Konsep keselamatan menurut Luther adalah meskipun kita berdosa berat, kita tetap “diselimuti oleh jubah keselamatan Kristus”, sehingga dibenarkan Tuhan. Jadi dalam hal ini, pengertian Sola Fide/ iman saja adalah benar- benar iman saja, tidak termasuk perbuatan baik, atau perbuatan baik tidak dianggap sebagai kesatuan dengan iman. Maka “justification” menurut Luther adalah kita dibenarkan karena kita diselubungi Kristus, sehingga Allah tidak lagi melihat dosa kita, tetapi melihat Kristus yang menyelubungi kita. Jadi di sini tidak ada perubahan kondisi sebelum atau sesudah dibenarkan oleh Tuhan: kita tetap berdosa. Biarpun berdosa, tetapi dibenarkan. Dalam suratnya kepada muridnya yang bernama Melancthon tanggal August 1, 1521, (translated by Erika Bullmann Flores for Project Wittenberg); online at link to iclnet.org , lihat nomor 13, Luther mengatakan, “…Be a sinner, and let your sins be strong, but let your trust in Christ be stronger…. No sin can separate us from Him, even if we were to kill or commit adultery thousands of times each day…

          Terjemahannya:

          “Jadilah pendosa, dan biarlah dosamu besar, tetapi biarlah kepercayaanmu di dalam Kristus bertambah besar… Tidak ada dosa yang dapat memisahkan kita dari Dia, bahkan jika kita membunuh atau melakukan dosa perzinahan seribu kali sehari….”

          Pernyataan ini tidak sesuai dengan ajaran Gereja Katolik yang mensyaratkan iman dan pertobatan, hidup dalam Kristus, dan melaksanakan kasih, baru manusia dapat diselamatkan. Sepertinya anda, walaupun anda bukan Katolik, anda tidak sependapat dengan Luther, dan sejujurnya, paham anda lebih dekat dengan ajaran Katolik daripada pandangan Luther.

          Gereja Katolik mengajarkan bahwa Justification harus melibatkan pertobatan yang mengubah kita menjadi sepenuhnya baru. Artinya kita harus meninggalkan manusia lama dan segala dosa-dosa kita, untuk hidup sebagai manusia baru yang hidup dalam persekutuan dengan Kristus (lihat Ef 4:17). Manusia baru di dalam Kristus ini adalah manusia yang berbuat kasih, karena Allah adalah Kasih (1 Yoh 4:8), dan Kristus adalah perwujudan kasih Allah yang sempurna, sehingga hidup dalam Kristus = hidup dalam kasih. Dengan demikian kita dibenarkan, karena rahmat Tuhan sungguh- sungguh mengubah kita menjadi kudus. Efek inilah yang sesungguhnya kita peroleh setelah Pembaptisan kita. Kita bukan hanya diselubungi, tetapi sungguh-sungguh diubah menjadi kudus oleh Tuhan sendiri, dan selanjutnya sesudah pembaptisan, kita harus terus berjuang untuk hidup kudus, memenuhi hukum kasih, agar kita dapat diselamatkan. Maka konsekuaensinya, jika setelah dibaptis kita kembali hidup dalam dosa, maka kita tidak dapat diselamatkan. Dengan demikian, maka, Gereja Katolik tidak mengajarkan bahwa kita boleh berdosa terus. Sebab dosa bertentangan dengan hukum kasih dan dosa-lah yang memisahkan kita dari Allah. Maka iman, menurut Gereja Katolik tidak pernah dipertentangkan dengan hukum kasih, melainkan harus menjadi kesatuan. Jika kita tidak mengasihi, sesungguhnya kita tidak beriman, dan karenanya kita tidak dapat diselamatkan. Namun jika kita mengasihi Allah dan sesama, atas dasar iman kita kepada Kristus, maka kita diselamatkan.

          Demikian, semoga diskusi ini yang walaupun panjang, tetap berguna bagi semua yang membacanya. Saya rasa, siapapun yang dengan hati terbuka dan obyektif dapat menilai ajaran mana yang lengkap dan benar, dan dengan harapan inilah saya menutup diskusi ini sampai di sini.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

          • Marcellus Rudy on

            Bu Inggrid.. saya baru tahu lho kalo Marthin Luter mengajarkan.. ‘“Jadilah pendosa, dan biarlah dosamu besar, tetapi biarlah kepercayaanmu di dalam Kristus bertambah besar… Tidak ada dosa yang dapat memisahkan kita dari Dia, bahkan jika kita membunuh atau melakukan dosa perzinahan seribu kali sehari….”

            menurut hati nurani saya saja yang kurang berpengetahuan saya sudah bisa menyimpulkan kalau itu adalh pendapat pribadi tanpa dasar Alkitab.. kok masih banyak orang yang mempercayai sola scriptura dan sola gratia ya?? jadi heran sendiri, padahal mereka ahli theologi… seharusnya mereka mau mengosongkan diri, berdoa dan merenungkan kata2 marthin luther itu sesuai tidak dengan ajaran Yesus…

            btw, saya minta ijin copy paste yah Bu..tanya jawabnya membangun sekali, luar biasa talenta yang Tuhan beri kpd anda!! terima kasih kepada para penanya yang turut memperkuat iman Katholik saya…

            GBUs

            • Shalom Marcellus Rudy,
              Ya, silakan jika anda pandang baik untuk mempergunakan bahan yang anda di situs ini, dengan mencantumkan sumbernya, yaitu dari Katolisitas.org.
              Segala pujian dan kemuliaan kita berikan kepada Tuhan.

              Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
              Ingrid & Stef- katolisitas.org

  5. Yth. Pak Stef dan Ibu Inggrid,
    Terima kasih dengan adanya website ini, sungguh saya sangat terbantu terutama untuk mendalami iman saya yang sejak lahir telah dibaptis di dalam Gereja Katolik. Saai ini saya aktif (tapi bukan aktivis) dalam lingkungan saya yang baru. Saya melihat hampir di semua lingkungan (saya bisa salah) dalam doa lingkungan yang datang umatnya ya itu-itu saja orangnya. bahkan tidak “greget” sama sekali untuk hadir hadir dalam doa lingkungan, padahal menurut saya dengan hadir dalam doa lingkungan bisa membangun jemaat seperti yang dikatakan oleh Santo Paulus kepada jemaat di Korintus. tetapi ini kurang disadari oleh umat katolik. kalau pun mereka hadir dalam doa lingkungan, ya pokoknya sekedar rutinitas belaka.

    Bisakah pak Stef dan ibu nggrid memberikan sebuah artikel yang kira-kira dapat saya bagikan kepada saudara- saudara kami di lingkungan saya sehingga dapat membuka hati dan pikiran mereka akan pentingnya doa lingkungan (Pemberdayaan Umat Basis)? Saya mengucapkan banyak terima kasih atas kerja kerasnya tim katolisitas. Proficiat untuk Katolisitas.

    • Shalom Aris,

      Terima kasih, atas dukungan anda. Ya, memang kita perlu menggiatkan umat basis di lingkungan kita. Jika anda pandang berguna, silakan anda menggunakan materi yang ada di situs ini untuk pertemuan lingkungan anda. Silakan anda mencari topiknya pada rubrik Arsip, dan silakan temukan topik- topik seri, atau topik Alkitab, atau topik lainnya yang sekiranya diminati oleh umat di lingkungan anda.

      Mohon maaf kami tidak dapat menyusun secara khusus topik seri untuk pertemuan lingkungan, karena banyaknya pertanyaan yang masuk dan terbatasnya energi kami. Namun kami percaya, materi yang sudah ada di situs ini sedikit banyak dapat digunakan. Silakan jika anda ingin meng- copy, mohon sertakan juga sumbernya dari katolisitas.org, sehingga jika ada yang belum jelas ataupun ada masukan lain, mereka dapat menghubungi kami.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid dan Stef- katolisitas.org

      • Salam damai.
        Yth. Ibu Ingrid,
        Terima kasih atas tanggapan tim katolisitas. Semoag artikel di katolisitas bermanfaat untuk membangun jemaat/umat du lingkungan saya yang baru. Dan akan saya perhatikan permintaan ibu Ingrid untuk mencantumkan alamat situs ini. Saya sudah masuk ke dalam arsip di situs ini dan saya juga sudah membaca sebagian dari arsip-arsip yang ada. Dan saya akan mencoba untuk membagi kepada umat di lingkungan saya. Selamat berkarya dan semoga Roh Kudus senantiasa menyertai.

        Aris

  6. Salam damai sejahtera

    Pengasuh Katolisitas

    Rasul Paulus sering menulis surat kepada orang-orang suci ,seperti yang tertulis di :
    Roma 1 : 7
    1Korintus 1 : 2
    Efesus 1 : 1
    Pilipi 1 : 1
    Kolose 1 : 2

    Siapakah yang dimaksud dengan ORANG-ORANG SUCI ini ?
    Apakah pengasuh Katolisitas juga termasuk ORANG-ORANG SUCI ?

    Terima kasih

    Salam
    Mac : 7.September.2010

    [Dari Katolisitas: pertanyaan ini dan jawabannya sudah tertera di atas, silakan klik]

    • [Dari Katolisitas: Berikut ini adalah renungan yang dibuat oleh salah seorang pembaca Katolisitas, yang mewakili pandangan umat Kristen non- Katolik. ]

      Salam Damai Sejahtera

      Terima kasih Ingrid atas jawabannya.

      Baru saja kita menyaksikan saudara-saudara kita yang Muslim merayakan hari kemenangan mereka dan kelahiran barunya
      Apakah kelahiran baru mereka sama dengan kelahiran baru kita kita walahualam.
      Semoga saja sama.

      Jadi setelah kita menerima kelahiran baru , kita sudah disebut menjadi orang orang suci dan sudah menjadi sebagai anak-anak Allah bukan “ANAK CACING”

      ANAK CACING ?
      Banyak orang2 kristen hingga kini hanya menginsafi / hanya mengerti bahwa status mereka adalah sebagai orang berdosa, seperti cacing yang tak ada harganya, yang HARUS BERUSAHA supaya satu kali kelak dapat menjadi orang suci.
      Ini pengertian yang salah karena tidak tahu yang benar.
      Akibatnya iblis sudah merebut kemenangan yang besar atas mereka, dia sudah memojokkan mereka dalam sudut “status orang berdosa”.
      Dalam keadaan seperti ini mereka kurang kemenangan yang besar seperti yang dijanjikan Tuhan.
      Kita bukannya orang berdosa lagi, kita bukan cacing2 yang tidak berharga lagi, kitalah anak2 Allah yang mulia !

      [Dari Katolisitas: silakan membaca tanggapan kami di bawah ini, bahwa meskipun kita sudah disucikan Allah, namun kita tetap dapat jatuh ke dalam dosa/ berdosa. Tentu saja ini tidak berarti bahwa kita menjadi cacing, namun dengan jatuh dalam dosa berat, maka kita dapat kehilangan rahmat pengudusan itu, jika kita tidak kembali bertobat. Namun jika kita bertobat, kita kembali dikuduskan oleh Allah.]

      Kalau kita sudah diampuni dosa dosanya, dan sudah diangkat anak oleh Allah, dan masih mengakui bahwa kita cacing yang tidak ada harganya, bukankah kita menghinakan Tuhan sendiri bahwa pengangkatanNya (mengangkat kita sebagai anak) itu tidak ada harganya ?
      Adalah baik kalau kita mengingat keadaan kita yang dahulu itu asalnya seperti cacing yang tidak ada harganya, sehingga tidak putus-2nya kita bersyukur dan memuliakan Allah karena besarlah kemurahanNya, yang sudah mengangkat kita dalam lumpur dosa menjadi begitu mulia sebagai anak Allah.
      Kalau kita selalu mengingat hal ini, maka tak putus2nya ucapan syukur dan penyembahan kita kepada DIA (dan tidak akan cepat tinggi hati), tetapi sekarang kita bukan cacing lagi !

      [Dari Katolisitas: Ya benar, kita sepantasnya terus mengucap syukur kepada Tuhan, jika kita menyadari bahwa Tuhan telah mengangkat kita dari keadaan tidak berdaya, menjadi anak- anak-Nya. Mengakui bahwa kita berdosa di hadapan Allah bukan berarti kita tidak menghargai rahmat pengudusan yang telah diberikan Allah kepada kita, tetapi justru sebaliknya, kita mengakui bahwa rahmat pengudusan itu begitu istimewa, namun kita yang lemah tidak dapat hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Oleh karena itu, kita membutuhkan rahmat Nya secara terus menerus; agar kita dapat diampuni dan dikuduskan kembali]

      Mazmur 22 : 7
      Tetapi aku ini seperti CACING, bukannya manusia, suatu kecelaan kepada manusia dan suatu kehinaan kepada orang banyak.

      Tidak tepatlah kalau ayat ini kita tafsirkan dan kita pakai sebagai alasan untuk menyebut orang2 kristen (anak2 Allah) itu dengan sebutan “CACING”.
      (Perlu diperhatikan juga bahwa ayat ini adalah suatu ayat nubuat, sama seperti ayat2 lainya dalam fatsal ini, yaitu tentang Tuhan Yesus yang sudah dijadikan begitu hina sekali di atas salib sehingga menjadi kecelaan dan kehinaan orang banyak !)
      Sebagai hamba

      Matius 23 : 11
      Tetapi yang terlebih besar di antara kamu, hendak menjadi hamba kepada kamu.

      Yang dipakai Tuhan dengan heran , harus menjadi hamba yang melayani.

      Lukas 17 : 10
      Demikianlah juga kamu, apabila kamu sudah berbuat segala perkara yang diperintahkan atasmu itu, berkatalah: Bahwa kami ini hamba yang tiada berguna; kami hanya berbuat barang yang wajib atas kami.”

      Kalau kita berbuat semuanya (dipakai Tuhan dengan heran), janganlah kita menonjolkan diri kita untuk mendapat segala kepujian, melainkan melakukan diri sebagai hamba yang taat (berbuat barang yang wajib atas kami) dan yang tiada berguna, sehingga segala hormat hanya bagi DIA saja, yang patut disembah dan dipuji, sebab dari DIA lah semunya berasal

      Zakaria 4 : 6b
      …………………………………………………………. Bukannya oleh kuat dan bukannya oleh gagah, melainkan oleh Roh-Ku juga ia itu akan jadi, demikianlah firman Tuhan serwa sekalian alam.

      Sebagai anak Allah dan sebagai hamba itu memang benar; tetapi bukan sebagai anak Allah dan sebagai cacing (orang berdosa)
      Tak mungkin sebagai anak Allah yang suci dan juga sebagai cacing (orang yang berdosa)
      Juga bukan untuk merendahkan diri dengan mengaku sebagai orang berdosa atau sebagai cacing (ini bukan rendah hati) tetapi merendahkan diri di hadapan Tuhan itu ialah sebagai anak Allah dan hamba Allah yang taat !
      Itulah kehidupan yang seperti Yesus !
      Jadi kita dengan kelahiran baru , dijadikan orang suci dan kita harus TETAP TINGGAL dalam keadaan sebagai orang suci, BUKAN BERUSAHA UNTUK MENCAPAI ATAU MENJADI ORANG SUCI.

      [Dari Katolisitas: Gereja Katolik mengajarkan bahwa kekudusan merupakan suatu proses. Rahmat awalnya sudah kita terima pada saat Pembaptisan, namun harus terus dipertahankan dan diperjuangkan, agar kita dapat mencapai akhirnya, yaitu kesempurnaan kasih kepada Allah dan kepada sesama. Gereja Katolik juga mengajarkan bahwa kekudusan ini merupakan rahmat kasih karunia dari Tuhan, sehingga memang bukan sesuatu yang dicapai sendiri oleh manusia, terlepas dari Allah. Allah yang lebih dahulu memberikan rahmat pengudusan ini, dan memampukan manusia untuk bertumbuh di dalamnya]

      Allah itu suci, bahkan maha suci adanya.
      Oleh karena itu anak-anak Allah (anak-Nya) JUGA ADALAH ORANG SUCI
      Tidak mungkin YANG MAHA SUCI mempunyai anak-anak orang berdosa.
      Kita ini orang suci !
      Nama ini (istilah ini) memang kedengaran “sangat muluk”, terlalu tinggi untuk disebutkan pada kita , sehingga tidak heran banyak orang-orang kristen segan disebut sebagai orang suci.
      Memang demikianlah sepantasnya.
      Bahkan beberapa orang kristen mencoba membuktikan dengan ayat-ayat Firman Tuhan bahwa kita bukan orang suci.
      Memang orang-orang ini bukan orang suci, sebab belum celik matanya

      [Dari Katolisitas: Ya, kita adalah orang- orang kudus/ suci oleh karena rahmat pengudusan Allah yang kita terima dalam Pembaptisan, namun bukan berarti kita tidak dapat berdosa. Kenyataan menunjukkan sebaliknya, dan Rasul Yohanespun menyatakan demikian (lih. 1 Yoh 1:8)]

      2.Korintus 4 : 4
      yang telah dibutakan oleh penghulu dunia mata hati orang yang tiada percaya itu, supaya jangan mereka itu diterangi oleh cahaya Injil kemuliaan Kristus, yaitu bayang-bayang Allah.

      Tetapi adalah kehendak Tuhan supaya kita (manusia berdosa ini) menjadi orang suci

      1Petrus 1 : 15
      melainkan, sebagaimana Tuhan yang sudah memanggil kamu itu ada kudus, demikian juga kamu pun hendaklah kudus di dalam segenap perkara kehidupanmu;

      Bahkan ini suatu PERINTAH Allah !
      Kalau Allah minta, malahan menuntut anak-anakNya menjadi suci, dan kalau hal ini tidak mungkin, atau amat sukar sehingga hanya beberapa orang saja yang dapat mengerjakan, maka Allah itu KEJAM, karena menuntut sesuatu yang tidak mungkin dikerjakan anak-anakNya.
      Tetapi tidaklah demikian halnya, kita semua percaya dan yakin bahwa tidak ada kekejaman di dalam Allah

      Maz 92 : 16
      supaya dimasyhurkannya bahwa benarlah Tuhan; maka Ialah gunung batuku dan lalimpun tiada dalamnya.

      dan bahwa Allah itu kasih adanya

      1Yahya 4 : 8
      maka orang yang tiada menaruh kasih itu tiada mengenal Allah; karena Allah itu kasih adanya.

      bahkan lebih dari kasih seorang ibu.

      Seorang ibu tidak akan menuntut dari anaknya, perkara perkara yang tidak mungkin dilakukan anaknya.
      Kita dapat menerima ini, sebab kita percaya tiap-tiap ibu mempunyai cinta pada anak-anaknya.
      Kalau cinta Tuhan itu jauh lebih besar dari cinta seorang ibu, mungkinkah Allah menuntut dari anak-anakNya sesuatu yang mustahil dapat dikerjakan, lalu kalau gagal dihukum ? Tidak mungkin !
      Tipu daya iblis mengatakan bahwa tidak mungkin kita hidup suci dan tuntutan Allah itu terlalu banyak.
      Allah itu kasih adanya, tetapi iblis itu dari mulanya pendusta dan penipu

      Yah 8 : 44
      Kamu ini daripada bapamu Iblis, dan segala hawa nafsu bapamu itulah yang kamu turut. Ialah pembunuh manusia dari mulanya, tiada ia berdiri di atas yang benar, oleh karena kebenaran tidak ada di dalamnya. Jikalau ia mengatakan bohong, maka ia mengatakan menurut tabiatnya sendiri, karena ia pembohong dan bapa pembohong.

      dan mau merusak dan membinasakan saja

      Yah 10 : 10a
      Adapun pencuri itu datang hanya akan mencuri dan membunuh dan membinasakan

      Sebab itu kalau Allah minta (menyuruh) kita menjadi orang-orang suci, pasti kita dapat melaksanakannya, asal kita mau menurut jalan yang diberikan Allah (bukan menurut cara-cara dan pendapat kita), bahkan cara-caraNya mudah
      Baiklah kita menyerah dan taat.
      Seluruh Alkitab penuh bukti-bukti dari pelaksanaan perintah Allah ini.

      Roma 1 : 7
      Datang kepada segala orang yang ada di negeri Rum, yang dikasihi oleh Allah, dan dipanggil menjadi ORANG SUCI, turunlah kiranya atas kamu anugerah dan sejahtera daripada Allah Bapa kita dan Tuhan kita Yesus Kristus.

      1Korintus 1 : 2
      kepada sidang jemaat Allah yang di negeri Korintus, yaitu kepada segala orang yang dikuduskan di dalam Kristus Yesus, dan yang dipanggil menjadi ORANG SUCI, dengan sekalian orang yang menyeru nama Tuhan kita Yesus Kristus di segala tempat, yaitu tempat mereka itu dan kita;

      Segera sesudah dosa kita diampuni dengan cara menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat kita, kita dilahirkan kembali, lalu status kita berubah !
      Dari keadaan orang berdosa dijadikan orang suci

      Efesus 1 : 1
      Daripada Paulus rasul Kristus Yesus dengan kehendak Allah, kepada segala ORANG SUCI yang ada di Epesus dan yang beriman kepada Kristus Yesus,

      Ini bukan berarti orang-orang Efesus sudah sempurna, mereka sama seperti kita.
      Lihatlah sebuah nasehat bagi orang-orang suci ini dalam

      Efesus 5 : 3
      Tetapi zinah dan segala perbuatan yang cemar atau tamak, jangan sampai disebut namanya pun di antara kamu, sebagaimana yang patut bagi ORANG SUCI.

      Meskipun mereka sudah menjadi orang suci, mereka harus terus ber-jaga2 dan ber-hati2, mereka belum sempurna, masih harus dinasehati.
      Orang suci tidak sama dengan orang sempurna!

      Pilipi 1 : 1
      Daripada Paulus dan Timotius, hamba-hamba Kristus Yesus, kepada segala ORANG SUCI di dalam Kristus Yesus di negeri Pilipi, serta dengan segala pemimpin dan pembela sidang

      Kolose 1 : 2
      kepada segala SAUDARA YANG SUCI dan beriman di dalam Kristus, yang di Kolose, turunlah kiranya atas kamu anugerah dan sejahtera daripada Allah, yaitu Bapa kita.

      Kisah 9 : 13
      Maka jawab Ananias, “Ya Tuhan, hamba sudah mendengar banyak dari hal orang ini, berapa jahat yang dilakukannya kepada segala ORANG SUCI Tuhan di Yeruzalem.

      Apakah dalam waktu beberapa bulan orang-orang di Yerusalam sudah menjadi sempurna ? Tentu belum.
      Keadaannya sama seperti kita, tetapi mereka menginsyafi dan mengerti bahwa mereka sudah dalam status atau keadaan sebagai orang suci segera sesudah proses yang pertama dari kehidupan kristen selesai.

      Dahulu kita orang berdosa, tetapi sejak kita menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadi kita, dosa kita diampuni, kita dibenarkan, kita dilahirkan kembali oleh air dan Roh, lalu kita menjadi orang suci, bukan tetap orang berdosa.
      Mungkin di kemudian hari kita jatuh dalam dosa, tetapi segera sesudah kita mengakuinya di hadapan Tuhan dan sungguh2 bertobat, kita diampuni dan dijadikan orang suci lagi !
      (memang anugerah Allah besar, tetapi bukan alasan untuk tidak bertobat !

      [Dari Katolisitas: Pernyataan- pernyataan ini kurang lebih sesuai dengan yang diajarkan oleh Gereja Katolik. Tuhan memanggil semua orang untuk hidup kudus, dan Ia dapat memampukan kita untuk hidup kudus. Jika kita jatuh di dalam dosa, namun kemudian kita mengakuinya dan bertobat, maka kita akan diampuni dan disucikan kembali].

      Roma 6 : 1 – 2
      Jikalau begitu, apakah hendak kita katakan? Bertekunkah kita di dalam dosa supaya anugerah Allah bertambah-tambah?
      6:2 Sekali-kali tidak. Maka kita ini yang sudah mati lepas daripada dosa, bagaimanakah dapat lagi kita hidup di dalamnya?

      Roma 2 : 4
      Atau engkau hinakankah kemurahan-Nya yang limpah dan sabar dan panjang hati-Nya, dengan tiada mengetahui bahwa kemurahan Allah itu menarik engkau kepada hal bertobat?.

      Banyak orang menganggap terlalu muluk untuk disebut sebagai orang suci, bahkan mereka merasa terlalu “tekebur” untuk menyebut dirinya orang suci.
      Mereka merasa harus merendahkan diri dengan mengaku dirinya orang berdosa. Ini tidak benar.
      Kita merendahkan diri (tidak tinggi hati), tetapi jangan merendahkan derajat kita yang sudah dianugerahkan Allah.

      Yahya 1 : 12
      Tetapi seberapa banyak orang yang menerima Dia, kepada mereka itulah diberi-Nya hak akan menjadi anak-anak Allah, yaitu kepada segala orang yang percaya akan nama-Nya;

      Bagaimana kalau kita sudah menjadi anak Allah, tetapi tetap menjadi orang berdosa ?
      Orang2 berdosa disebut sebagai anak2 iblis (dosa itu sifatnya iblis), masakan anak2 Allah (Allah itu suci) itu orang berdosa ?
      Itu bertentangan dengan sifat2 Allah

      1Yahaya 1 : 5b
      ……….. bahwa Allah itu Ialah terang adanya, dan sekali-kali tiada gelap di dalam-Nya.

      Anak Allah haruslah juga orang yang terang, orang yang suci !

      1Yahya 3 : 10
      Di dalam hal ini telah nyata segala Anak Allah dengan anak Iblis: Barangsiapa yang tiada berbuat barang yang benar itu bukannya daripada Allah, demikianlah juga orang yang tiada mengasihi saudaranya.

      Dalam nama terkandung arti !
      Misalnya seorang yang terkenal dengan sebutan pelit (kikir) , itu karena ada alasan2 tertentu yang terjadi ber-ulang2 dan didapati oleh semua (banyak) orang.
      Dalam nama itu ada artinya !
      Mengerti Firman Tuhan dengan benar itu amat penting.

      Matius 13 : 9
      Siapa yang bertelinga, hendaklah ia mendengar.”

      Tidak mengerti arti sebenarnya itu sama artinya dengan tidak mempunyai Firman Tuhan (dicuri burung = setan)
      Pengertian yang keliru membawa pada hidup kekristenan yang kalah.
      Pengertian yang benar, langsung membawa kita kepada hidup kekristenan yang berkemenangan !
      Allah memang menghendaki kita terus hidup dalam kemenangan yang betul2 dan caranya bukannya sukar, sebab kemenangan itu sudah didapat Yesus, kita tinggal menerimanya.
      Kita sudah dijadikan orang2 suci, anak2 Allah dengan segala hak dan kuasaNya yang menjamin kita selalu dapat hidup dalam kemenangan.
      Salam
      Mac
      [Dari Katolisitas: Hal kemenangan di sini tidak terlepas dari perjuangan dan penderitaan. Silakan membaca keterangan pada jawaban kami di bawah ini]

      Salam
      Mac

      • Shalom Machmud,

        Sejujurnya, walaupun ada persamaaan antara pengertian anda dengan pemahaman kami umat Katolik, tentang “orang kudus” ini, namun ada juga perbedaan penekanan di sini.

        Gereja Katolik mengajarkan bahwa semua orang yang telah dibaptis secara sah telah menerima rahmat pengudusan Tuhan, yang menjadikan mereka anak- anak angkat Allah di dalam Tuhan Yesus. Jadi melalui Pembaptisan kita semua dikuduskan, menjadi orang kudus, karena mengambil bagian di dalam kekudusan Allah yang mengangkat kita. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa meskipun kita sudah dikuduskan, kita masih tetap dapat jatuh ke dalam dosa. Rasul Yohanes mengajarkan,

        “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.” (1 Yoh 1:8).

        Jadi jika kami umat Katolik memohon belas kasihan Allah dan mengakui bahwa kami berdosa di hadapan Allah, itu bukan untuk mengatakan bahwa kami belum menerima rahmat pengudusan Allah [atau kalau menurut istilah anda: “cacing”], tetapi karena kami mengakui bahwa adakalanya kami gagal menjaga rahmat pengudusan itu, karena kelemahan kami sebagai manusia. Oleh karena itu kami mohon pengampunan Allah, agar Ia berkenan menguduskan kami kembali.

        Jadi rahmat pengudusan Allah itu harus dijaga, dan kita tidak boleh menyombongkan diri seolah kita tidak berdosa lagi, setelah diangkat menjadi anak- anak Allah. Seharusnya, jika kita terus teguh berjuang dengan Allah, kita memang tidak perlu jatuh ke dalam dosa lagi, namun seringkali kenyataan menunjukkan hal yang berbeda. Kita tetap masih dapat jatuh dalam dosa, karena kelemahan kita, entah kita jatuh dalam keinginan mata, keinginan daging atau keangkuhan hidup (1 Yoh 2:16) dengan derajat yang berbeda- beda. Kegagalan untuk mengakui bahwa kita berdosa adalah kesombongan rohani, dan menurut Rasul Yohanes, jika demikian, kebenaran tidak ada di dalam kita. Lagipula, definisi dosa juga tidak hanya sesuatu yang salah yang kita lakukan, tetapi hal yang baik yang gagal kita lakukan itu juga sudah merupakan dosa di hadapan Allah (lih. Yak 4:17). Ini semua mengingatkan kita bahwa kekudusan itu merupakan proses yang harus diperjuangkan sampai akhir hidup kita, dan kita tidak bisa berpuas diri dengan mengatakan bahwa kita “sudah jadi orang kudus” dalam arti tidak mungkin berdosa lagi, atau kudus dalam arti sudah sempurna. Sebab kenyataannya, kita manusia masih tetap dapat jatuh dalam dosa, dan pada umumnya kita masih jauh dari sempurna, dan ada banyak hal yang dapat kita lakukan untuk bertumbuh dalam kekudusan itu.

        Rasul Paulus juga mengingatkan kita agar jangan cepat berpuas diri atau menganggap diri sudah teguh. memperingatkan, “Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!” (1 Kor 10:12). Itulah sebabnya, baik jika kita mengetahui bahwa kita adalah anak- anak Allah dan di dalam Kristus kita memperoleh kemenangan atas dosa dan maut; namun juga sama pentingnya, kita mengetahui bahwa segala kemenangan itu diperoleh melalui penderitaan. Maka seperti Kristus mencapai kemenangan lewat penderitaan dan wafat-Nya di kayu salib, maka kita juga dipanggil untuk menyalibkan keinginan kita sebagai manusia (keinginan mata, keinginan daging dan keangkuhan hidup) agar kita dapat menang bersama Dia. Kabar gembiranya adalah, jika kita menderita bersama Kristus, kita juga akan bangkit dan menang bersama Dia. Di dalam penderitaan ataupun duka cita sekalipun, akan selalu ada penghiburan dari Tuhan, sebagai pemenuhan dari janji Tuhan dalam Mat 5: 4. Tuhan tidak menjanjikan bahwa di hidup ini semua berjalan mulus, tetapi Ia menjanjikan bahwa Ia akan setia menyertai kita.

        Ingatlah bahwa Minggu Paska tidak terlepas dari Jumat Agung, dan karenanya dalam kehidupan ini kita harus melihat segala ujian dan pencobaan dari kacamata yang positif, sebab semua itu dapat menghantar kita kepada kemenangan yang Allah janjikan. Rasul Petrus mengajarkan, “Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya.” (1 Pet 5:1). Artinya, kemuliaan kita di surga kelak juga tergantung kepada seberapa banyak kita mau mengambil bagian dalam penderitaan Kristus.

        Jadi, hanya memfokuskan diri pada kemenangan saja, itu bukan penghayatan iman yang lengkap. Sebab kemenangan tersebut tidak terlepas dari perjuangan mengatasi ujian di dalam kehidupan kita, yang diijinkan Allah untuk terjadi justru untuk memurnikan dan menguduskan kita. Kemenangan itu dapat mulai dapat kita alami di dunia ini, misalnya saat kita mengalami mukjizat dan pertolongan Tuhan, namun semua itu tidak dapat dibandingkan dengan kemenangan yang sesungguhnya yang kita peroleh di surga kelak. Jangan sampai kita memfokuskan diri kepada kemenangan di dunia ini misalnya atas berkat- berkat, mukjizat kesembuhan, karunia- karunia, dan sebagainya, sampai lupa pada kesempurnaan yang Tuhan inginkan yang harus ada pada diri kita sebelum kita dapat bersatu dengan-Nya di surga: yaitu kasih. “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” (1 Kor 13:13) Maka inti dari kekudusan yang harus kita perjuangkan adalah kasih, yaitu kasih yang rela berkorban seperti teladan Kristus. Sebab hanya dengan kekudusan, yang adalah kesempurnaan kasih inilah, kita dapat melihat Allah (lih. Ibr 12:14).

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        Ingrid Listiati- katolisitas.org