Mengapa umat Kristen non-Katolik tidak dapat menerima komuni di Gereja Katolik?

45

Kita mungkin pernah mendengar dalam beberapa perayaan Ekaristi, yang mungkin juga dihadiri oleh umat dari agama lain, diumumkan bahwa yang boleh menerima Tubuh Kristus adalah orang-orang yang dipermandikan secara Katolik dan telah menerima komuni pertama. Ada umat Kristen non-Katolik yang tidak mengerti akan hal ini dan mengatakan bahwa mereka ingin menyambut Tubuh Kristus, karena percaya. Namun, mengapa keinginan mereka dihalangi? Sebenarnya kalau kita lihat, tidak ada yang melarang orang-orang untuk datang kepada Kristus dalam setiap perayaan Ekaristi. Namun, untuk dapat menyambut Kristus dalam perayaan Ekaristi, maka bagi umat Kristen, harus telah dibaptis dan masuk ke dalam Tubuh Mistik Kristus, yaitu Gereja Katolik. Hal ini adalah hal sangat wajar, karena kalau kita ingin memperoleh hak, maka kita juga harus menjalankan kewajiban. Adalah menjadi hak umat Katolik untuk berpartisipasi dalam setiap perayaan Ekaristi, namun menjadi kewajiban umat tersebut untuk tetap berada dalam kesatuan dengan Gereja Katolik, percaya akan dogma dan pengajaran Gereja Katolik. Dengan demikian, kalau memang mereka ingin menyambut komuni di dalam Gereja Katolik, maka dengan senang hati Gereja Katolik menyambut mereka. Namun, karena Gereja Katolik menyadari bahwa Sakramen Ekaristi adalah Sakramen yang menuntun orang kepada keselamatan kekal, maka dalam kondisi yang mendesak (bahaya kematian, dll), bagi umat Kristen non-Katolik yang percaya akan Sakramen ini, atas inisiatifnya sendiri, dapat meminta pastor untuk memberikan Tubuh Kristus kepada mereka.

Keberatan lebih lanjut adalah ada yang mengatakan bahwa larangan seperti ini adalah buatan manusia belaka dan tidak perlu dipatuhi. Kalau mereka berpendapat bahwa larangan tersebut hanya bikinan manusia saja, mengapa mereka ingin menerima Ekaristi, yang berarti mereka mengakui bahwa Yesus hadir secara nyata (Tubuh, Darah dan ke-Allahan-Nya) dalam rupa roti dan anggur? Bukankah kedua hal ini dikeluarkan oleh Gereja yang sama? Kalau mereka mengakui bahwa pengajaran Gereja Katolik ini adalah suatu kebenaran, maka apakah yang menghalangi mereka untuk masuk ke dalam Gereja Katolik? Apakah dengan demikian mereka mengakui bahwa dogma Kristus hadir secara nyata dalam Ekaristi mempunyai dasar di Alkitab dan pada saat yang bersamaan mereka mengklaim bahwa larangan umat Kristen non-Katolik untuk menerima Ekaristi adalah hanya bikinan manusia belaka? Bukankah dengan demikian maka sikap seperti ini adalah sikap yang memilih-milih dan menggunakan parameter yang sebenarnya adalah double standard? Kalau memang percaya bahwa Bapa adalah baik, sehingga Dia memberikan Putera-Nya untuk menjadi manusia dan kemudian hadir secara nyata dalam rupa roti dan anggur, apakah yang menjadi alasan untuk tidak masuk ke dalam Gereja yang mempercayai bahwa Yesus hadir secara nyata (Tubuh, Jiwa, dan ke-Allahan-Nya) dalam rupa roti dan anggur?

Berikut ini mari kita melihat hakekat dari Ekaristi, sehingga kita dapat mengerti mengapa ada larangan bahwa umat Kristen non-Katolik tidak dapat menerima Ekaristi di dalam perayaan Misa. Ada banyak hakekat dari perayaan Ekaristi. Namun, satu hal yang saya ingin soroti dalam menanggapi pernyataan anda adalah Ekaristi sebagai Sakramen Persatuan. Berikut ini adalah apa yang dituliskan di dalam Katekismus Gereja Katolik:

KGK, 1396. Kesatuan Tubuh Mistik: Ekaristi membangun Gereja. Siapa yang menerima Ekaristi, disatukan lebih erat dengan Kristus. Olehnya Kristus menyatukan dia dengan semua umat beriman yang lain menjadi satu tubuh: Gereja. Komuni membaharui, memperkuat, dan memperdalam penggabungan ke dalam Gereja, yang telah dimulai dengan Pembaptisan. Di dalam Pembaptisan kita dipanggil untuk membentuk satu tubuh Bdk. 1 Kor 12:13.. Ekaristi melaksanakan panggilan ini: "Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus? Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu" (1 Kor 10:16-17):
Kalau kamu Tubuh Kristus dan anggota-anggota-Nya, maka Sakramen yang adalah kamu sendiri, diletakkan di atas meja Tuhan; kamu menerima Sakramen, yang adalah kamu sendiri. Kamu menjawab atas apa yang kamu terima, dengan "Amin" [Ya, demikianlah] dan kamu menandatanganinya, dengan memberi jawaban atasnya. Kamu mendengar perkataan "Tubuh Kristus", dan kamu menjawab "Amin". Jadilah anggota Kristus, supaya Aminmu itu benar" (Agustinus, serm. 272).

KGK, 1398. Ekaristi dan kesatuan umat beriman. Karena keagungan misteri ini, santo Augustinus berseru: "O, Sakramen kasih sayang, tanda kesatuan, ikatan cinta" (ev. Jo 26,6,13) Bdk. SC 47.. Dengan demikian orang merasa lebih sedih lagi karena perpecahan Gereja yang memutuskan keikutsertaan bersama pada meja Tuhan; dengan demikian lebih mendesaklah doa-doa kepada Tuhan, supaya saat kesatuan sempurna semua orang yang percaya kepada-Nya, pulih kembali.

KGK, 1400. Persekutuan-persekutuan Gereja yang muncul dari Reformasi, yang terpisah dari Gereja Katolik, "terutama karena tidak memiliki Sakramen Tahbisan, sudah kehilangan hakikat misteri Ekaristi yang otentik dan sepenuhnya" (UR 22). Karena alasan ini, maka bagi Gereja Katolik tidak mungkin ada interkomuni Ekaristi dengan persekutuan-persekutuan ini. "Kendati begitu, bila dalam Perjamuan Kudus mereka mengenangkan wafat dan kebangkitan Tuhan, mereka mengimani, bahwa kehidupan terdapat dalam persekutuan dengan Kristus, dan mereka mendambakan kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan" (UR 22).

KGK, 1401. Jika menurut pandangan Uskup diosesan ada situasi darurat yang mendesak, imam-imam Katolik boleh menerimakan Sakramen-sakramen Pengakuan, Ekaristi, dan Urapan Orang Sakit juga kepada orang-orang Kristen lain yang tidak mempunyai kesatuan penuh dengan Gereja Katolik, bila mereka sendiri secara sukarela memintanya, asalkan mengerti Sakramen-sakramen itu mereka memperlihatkan iman Katolik serta berada dah disposisi yang baik Bdk. CIC, can. 844 -4

Jadi, dengan demikian, maka terlihat jelas, pada saat kita mengikuti perayaan Ekaristi, bukan saja kita disatukan dengan Kristus, namun kita juga disatukan dengan seluruh umat beriman, yang berada di dalam satu kumpulan di bawah Paus. Dan juga seluruh umat beriman yang menerima Tubuh Kristus dalam Ekaristi percaya akan dogma yang sama, yaitu kehadiran Yesus secara nyata dalam setiap perayaan Ekaristi. Tentang siapa saja yang berhak menerima komuni di atur di dalam Kanon 844.

Kan. 844 – § 1. Para pelayan katolik menerimakan sakramen-sakramen secara licit hanya kepada orang-orang beriman katolik, yang memang juga hanya menerimanya secara licit dari pelayan katolik, dengan tetap berlaku ketentuan § 2, § 3 dan § 4 kanon ini dan kan. 861, § 2.
§ 3. Pelayan-pelayan katolik menerimakan secara licit sakramen-sakramen tobat, Ekaristi dan pengurapan orang sakit kepada anggota-anggota Gereja Timur yang tidak memiliki kesatuan penuh dengan Gereja katolik, jika mereka memintanya dengan sukarela dan berdisposisi baik; hal itu berlaku juga untuk anggota Gereja-gereja lain, yang menurut penilaian Takhta Apostolik, sejauh menyangkut hal sakramen-sakramen, berada dalam kedudukan yang sama dengan Gereja-gereja Timur tersebut di atas.
§ 4. Jika ada bahaya mati atau menurut penilaian Uskup diosesan atau Konferensi para Uskup ada keperluan berat lain yang mendesak, pelayan-pelayan katolik menerimakan secara licit sakramen-sakramen tersebut juga kepada orang-orang kristen lain yang tidak mempunyai kesatuan penuh dengan Gereja katolik, dan tidak dapat menghadap pelayan jemaatnya sendiri serta secara sukarela memintanya, asalkan mengenai sakramen-sakramen itu mereka memperlihatkan iman katolik dan berdisposisi baik.
§ 5. Untuk kasus-kasus yang disebut dalam § 2, § 3 dan § 4, Uskup diosesan atau Konferensi para Uskup jangan mengeluarkan norma-norma umum, kecuali setelah mengadakan konsultasi dengan otoritas yang berwenang, sekurang-kurangnya otoritas setempat dari Gereja atau jemaat tidak katolik yang bersangkutan.

Dari kanon tersebut di atas, maka tidak benar bahwa dalam situasi biasa, orang-orang Kristen non-Katolik dapat menerima komuni di dalam Gereja Katolik. Hal ini dikarenakan orang-orang Kristen yang lain tidak dalam bahaya mati atau ada keperluan berat lain yang mendesak, walaupun mereka mempunyai disposisi hati yang baik (lih. Kan 844 § 4. di atas). Jadi Misa di dalam kelompok doa Ekumene, harus diumumkan bahwa hanya umat yang telah dibaptis dan beragama Katolik saja yang dapat menerima Ekaristi. Kalau mau, Romo dapat mendoakan umat Kristen yang lain setelah komuni atau setelah Misa.

Persyaratan untuk menerima komuni bukan hanya disposisi hati yang percaya/ mengimani bahwa hosti tersebut (setelah konsekrasi) adalah Tubuh Kristus. Sebab komuni di sini bukan hanya berarti Komuni/ persatuan dengan Tubuh Kristus dalam hosti kudus, namun juga komuni/ persatuan dengan Tubuh Mistik Kristus yaitu Gereja Katolik, di bawah pimpinan Bapa Paus. Hal yang kedua inilah yang mungkin tidak diimani oleh banyak orang Kristen Protestan, karena mereka tidak mengakui kepemimpinan Bapa Paus. Oleh karena itu, mereka tidak dapat menerima Komuni dalam Perayaan Misa, karena mereka pengertian mereka tentang Komuni tidak sama dengan pengertian Gereja Katolik. Semoga keterangan ini dapat memperjelas dan membantu.

Share.

About Author

Stefanus Tay, MTS dan Ingrid Listiati, MTS adalah pasangan suami istri awam dan telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

45 Comments

  1. Antonius Changitra on

    Syalom P Stef dan Bu Inggrid….

    Pada hari Jumat Agung kemarin, pastor paroki gereja saya mengumumkan bahwa bagi orang protestan yang menghadiri perayaan Jumat Agung di [nama paroki dihapus] boleh ikut menyambut Tubuh Kristus dengan syarat percaya kepada Yesus dan langsung memasukkan Nya ke dalam mulut atau tidak membawa pulang sebagai oleh oleh dari Gereja Katolik.
    Mendengar pengumuman ini, saya sangat tercengang, karena selama ini 33 tahun saya menjadi Katolik, saya baru kali ini mendengar pengumuman seperti itu bahkan dari seorang Pastor Paroki yang notabene sangat senior dan memahami semua Hukum Gereja dengan baik dan konon berpendidikan S3 di Roma.
    pertanyaan saya adalah apakah memang yg diumumkan oleh pastor tersebut adalah benar sesuai dengan Hukum Gereja Katolik? kalo memang benar, kenapa selama ini yang didapat saya bahwa hanya orang yang telah dibaptis dalam Katolik yang bisa menerima komuni? kalau salah, mengapa pastor tersebut berani mengumumkan hal tersebut atau apakah memang diberikan kuasa kepada pastor untuk mengubah tata cara dan persyaratan komuni dalam sebuah gereja katolik?
    kalau memang diberikan wewenang, atas dasar apa wewenang trsbt diberikan ? dan apabila tidak, apakah tidak sebaiknya sang pastor mengundurkan diri sebagai seorang imam?

    terima kasih banyak atas jawaban yang akan diberikan

    • Shalom Antonius,

      Sebenarnya apa yang dilakukan oleh pastor tersebut tidak tepat. Yang dituntut dari umat Kristen non-Katolik untuk menerima Ekaristi bukan hanya mempunyai disposi hati yang baik dan percaya akan tubuh dan darah Kristus, namun juga “situasi darurat yang mendesak”. Katekismus Gereja Katolik mengutip Kitab Hukum Gereja menuliskan:

      KGK, 1401. Jika menurut pandangan Uskup diosesan ada situasi darurat yang mendesak, imam-imam Katolik boleh menerimakan Sakramen-sakramen Pengakuan, Ekaristi, dan Urapan Orang Sakit juga kepada orang-orang Kristen lain yang tidak mempunyai kesatuan penuh dengan Gereja Katolik, bila mereka sendiri secara sukarela memintanya, asalkan mengerti Sakramen-sakramen itu mereka memperlihatkan iman Katolik serta berada dalam disposisi yang baik (bdk. CIC, can. 844 -4)

      Dalam konteks tersebut, tidak ada kondisi yang mendesak, seperti pada kasus kecelakaan, bahaya kematian, dll. Hal ini telah diulas di sini- silakan klik. Kalau Anda mengenap pastor tersebut, maka Anda dapat berdiskusi dengan beliau dengan semangat kasih. Jangan marah-marah, apalagi menuntut pastor tersebut mengundurkan diri. Mintalah karunia kebijaksanaan, sehingga kita dapat menyampaikan maksud baik kita dengan cara yang baik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  2. Budi Winarno on

    Terus terang saya sgt sedih membaca semua koment di atas seakan2 untuk menerima Kristus secara sukarela aja kok sulitnya minta ampun jgn lupa Penyerahan diri dan penerimaan kita akan kristus hanya kita msg2 pribadi dan Kristus sendiri yang tau. Terimakasih.

    • Shalom Budi,

      Sejujurnya, tidak ada yang sulit, jika di sepanjang sejarah tidak ada sejumlah orang yang memisahkan diri dari Gereja yang didirikan Kristus. Namun kenyataannya tidak demikian, inilah persoalannya. Anda mempunyai pandangan seolah-olah kita berhak menerima Kristus, tergantung penghayatan masing-masing pribadi. Maka seolah-olah tidak ada peran Gereja di dalamnya. Tetapi dalam Kitab Suci sendiri, perayaan perjamuan kudus itu tidak pernah terlepas dari kesatuan dengan para Rasul dan jemaat. Hal inilah yang sesungguhnya dilestarikan oleh Gereja Katolik. Maka tentu kalau mau mudahnya, ya silakan bergabung dengan Gereja Katolik, dan dengan demikian menerima perjamuan kudus sesuai dengan kehendak Kristus yang mempercayakan perjamuan kudus itu kepada para Rasul-Nya. Sebab Komuni kudus itu merupakan persekutuan dengan Tubuh Kristus dan Tubuh Mistik Kristus (yaitu Gereja-Nya), yang didirikan di atas Rasul Petrus (lih. Mat 16:18).

      Sebab keselamatan, jika kita membaca dari Kitab Suci, adalah kehendak Tuhan bagi semua orang (1 Tim 2:4). Yaitu agar kita semua dipersatukan dengan Kristus sebagai Kepala segala sesuatu (lih. Ef 1:10). Karena itu, keselamatan bukan hanya urusan antara masing-masing orang dengan Kristus, tetapi urusan kita bersama sebagai anggota-anggota Kristus dengan Kristus. Sebab dalam tubuh yang sehat tak cukup hanya ada suatu hubungan yang baik antara anggota-anggota tubuh tertentu dengan kepala, tetapi juga keseluruhan anggota itu dalam kesatuan dengan kepalanya. Nah kesatuan Tubuh Kristus dengan Sang Kepala itu dijamin dengan adanya wakil Kristus di dunia, yaitu Paus (penerus Rasul Petrus); dan itulah sebabnya kesatuan dengan Paus menjadi salah satu syarat untuk menerima Komuni kudus dalam Gereja Katolik. Selanjutnya, ketiadaan dosa berat, juga menjadi persyaratan penerimaan Komuni, di samping harus mengimani Ekaristi sebagai sungguh Tubuh dan Darah Kristus. Persyaratan ini sudah ada sejak zaman Gereja awal, silakan klik. Maka Gereja Katolik tidak dapat berbuat yang lain, selain melestarikannya demi kasih dan ketaatannya kepada Kristus yang mendirikannya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Salam Sejahtera Ibu Ingrid.

        Saya kira kalimat yang ibu tuliskan sbb: Karena itu, keselamatan bukan hanya urusan antara masing-masing orang dengan Kristus, tetapi urusan kita bersama sebagai anggota-anggota Kristus dengan Kristus…. adalah sangat tepat.

        Kita seringkali mendengar kawan2 Protestan yang mengatakan saya tidak butuh pengantara, saya bisa langsung menuju Yesus, bahkan lebih ektream lagi mengatakan tidak butuh Gereja karena TUHAN ada di dalam tiap2 orang. Jadi menggambarkan bahwa TUHAN bisa langsung mendatangi kita atau kita bisa langsung datang kepadanya TANPA “JASA” ORANG LAIN. Keimanan model inilah yang kelihatan seperu keimanan yang berbungkus kesombongan, inilah yang tidak pernah disadari oleh kebanyakan dari kita. Jadi bagaimana Iman kita bertumbuh jika kita tidak terlebih dlu mendengar pengajaran, dan darimana pengetahuan tentang Yesus didapat? Dari Alkitab. Dan jika kita tarik terus kebelakang maka semua itu berasal dari Yesus sendiri. Tetapi terkadang sikap2 dari kawan2 Protestan yg merasa tidak butuh doa orang kudus, tidak butuh gereja karena TUHAN bisa langsung saja didatangi itu seperti sikap orang yang mau potong jalan, seperti kacang lupa pada kulit. Setelah diperkenalkan siapa dan bagaiamana TUHAN mereka kemudian menyangkal bahwa ada orang yg pernah berjasa memperkenalkan TUHAN kepada dirinya.

        Pertanyaaan saya adalah, bagaiamna tanggapan Katolik akan sikap seperti itu? Benarkah sikap demikian? Apakah Iman dapat bertumbuh tanpa orang lain? Ataukah dapatkah Iman bertumbuh tanpa persekutuan umat beriman?

        Salam Kasih

        • Shalom Olvy,

          Sejujurnya, kalau kita membaca Kitab Suci, kita mengetahui bahwa Tuhan menghendaki agar kita yang percaya kepada-Nya saling bahu membahu dan saling membantu, agar dapat sampai kepada keselamatan kekal. Keselamatan yang maknanya adalah persatuan/ persekutuan selamanya antara kita dengan Allah, diumpamakan oleh Kristus sebagai gambaran kesatuan antara tubuh dengan kepalanya.

          Maka pengajaran yang paling jelas tentang hal ini ada dalam surat Rasul Paulus di 1Kor 12. Kita adalah anggota-anggota Tubuh Kristus, dan Kristus adalah Kepala kita. Setiap anggota tidak bisa mengatakan bahwa ia tidak membutuhkan anggota yang lain. Sebab tubuh itu tidak ada, kalau hanya ada tangan dan kepala, atau kaki dengan kepala. Tubuh baru disebut tubuh, kalau lengkap semua anggotanya. Adalah menjadi kehendak Allah, bahwa terdapat keberagaman anggota tubuh, dengan fungsinya masing-masing -ada yang menjadi rasul, nabi, pengajar, pelayan, pendoa, dst- supaya setiap anggota yang berbeda itu saling memperhatikan (1 Kor 12:25), supaya jemaat dapat dibangun (1 Kor 14:5).

          Maka kita tidak dapat mengatakan bahwa kita tidak butuh Gereja (Tubuh Kristus) itu, atau kita hanya butuh Kitab Suci saja. Sebab hal ini tidak sesuai dengan realita. Sebab jalau Gereja tidak penting, maka Tuhan Yesus tidak perlu mendirikan Gereja. Namun nyatanya Tuhan Yesus mendirikan Gereja-Nya (Mat 16:18) dan menyerahkan diri-Nya bagi Gereja-Nya itu (Ef 5:25). Juga Kitab Suci itu tidak jatuh sendiri dari langit. Kita menerima Kitab Suci dari Gereja Katolik, yang menentukan kanonnya di abad ke-4 (selanjutnya, silakan klik di sini dan di sini).

          Proses penyusunan/penulisan Kitab Suci sendiri menunjukkan keterlibatan banyak orang pilihan Tuhan, sehingga Sabda-Nya itu dapat sampai kepada kita. Di atas semua itu, Allah berkenan melibatkan juga peran Bunda Maria, sehingga melalui persetujuannya, Kristus Putera-Nya dapat menjelma menjadi manusia. Kristus juga mengutus para Rasul-Nya ke seluruh dunia. Melalui para penerus Rasul inilah, kita menerima ajaran iman Kristiani. Maka, dalam mewujudkan rencana-Nya, Allah melibatkan peran manusia.

          Melihat semua kenyataan ini, maka kita melihat bahwa iman kita tidak bisa dikatakan hanya merupakan urusan pribadi kita masing-masing dengan Allah. Memang keputusan mengimani Kristus adalah keputusan pribadi, tetapi hal ini terjadi setelah keterlibatan banyak orang, dan karena itu, kitapun mempunyai tugas untuk mewartakannya kepada banyak orang (lih. Mat 28:19-20) dan untuk tinggal dalam kesatuan dengan Gereja yang didirikan-Nya (lih. Yoh 17:20-21). Sebab kesatuan kasih dengan sesama saudara, sebagai satu tubuh adalah bukti iman kita kepada Tuhan. Maka masalah iman dan kasih bukan semata-mata antara setiap kita secara pribadi dengan Allah, tetapi juga antara sesama kita sebagai satu tubuh.

          Mari membaca secara perlahan petikan surat Rasul Paulus ini:

          “Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan. Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah. Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu. Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.” (Kol 3:12-17)

          Allah menghendaki agar kita saling tolong menolong (Gal 6:2), juga dalam hal iman. Sebab dalam pertumbuhan iman kita, ada orang yang menanamkannya, ada yang menyiram, walaupun memang Allah-lah yang memberi pertumbuhan (lih. 1Kor 3:7). Marilah dengan kerendahan hati kita mengakui keterlibatan Gereja dalam pertumbuhan iman kita, dan sekaligus melihatnya sebagai panggilan bagi kita untuk mengambil bagian dalam karya Gereja dalam kesatuan dengan Kristus, untuk menghantar banyak orang kepada keselamatan kekal.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org