Kasus-kasus pembatalan perkawinan kanonik (nullitas matrimonii)

205

Kasus pembatalan perkawinan kanonik

Dalam konteks studi hukum gereja, kasus pembatalan perkawinan kanonik adalah kasus di mana perjanjian perkawinan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan itu tidak sah sehingga tidak tercipta sebuah perkawinan. Jika pasangan suami – isteri telah menikah secara kanonik telah berpisah dan berdamai kembali menjadi tidak mungkin, kasus-kasus itu disampaikan pada kuasa Gereja untuk diselidiki. Kuasa Gereja yang dimaksudkan adalah Tribunal Perkawinan Keuskupan (memang tidak semua keuskupan memiliki Tribunal karena keterbatasan tenaga ahli). Dalam proses anulasi perkawinan itu jika terbukti dan perjanjian perkawinan itu dinyatakan batal maka pihak-pihak yang berperkara bebas membangun kehidupan perkawinan yang baru.

Jenis-jenis kasus pembatalan perkawinan

Kanon 1057, KHK 1983, menyatakan ada tiga syarat dasar supaya sebuah perkawinan sah kanonik. Tiga syarat itu adalah: (1) adanya saling kesepakatan tanpa cacat mendasar untuk perkawinan, (2) dilaksanakan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang mempunyai kemampuan legitim untuk melaksanakan perkawinan itu, yakni tidak terhalang oleh halangan yang menggagalkan dari hukum ilahi atau hukum positif (gerejawi dan sipil); (3) secara publik dilaksanakan dengan tata peneguhan yang diwajibkan hukum, yakni sebagaimana dituntut oleh hukum gereja atau negara. Maka secara singkat dapat dikatakan bahwa ada 3 hal yang dapat membatalkan perkawinan:

a. Kasus karena cacat dalam kesepakatan perkawinan,

b. Kasus karena halangan yang menggagalkan,

c. Kasus karena cacat atau ketiadaan tata peneguhan kanonik.

        Perkawinan yang dapat dinyatakan batal oleh Tribunal perkawinan

        Kanon 1671 dan 1476 menegaskan bahwa perkara-perkara perkawinan orang-orang yang telah dibaptis dari haknya sendiri merupakan wewenang hakim gerejawi dan siapapun baik dibaptis maupun tidak, dapat menggugat di pengadilan. Adapun pihak tergugat secara legitim harus menjawabnya. Dengan demikian perkawinan apa saja, di mana salah satu pihak sudah dibaptis dapat dinyatakan batal oleh tribunal perkawinan gerejawi.

        Siapa saja yang dapat meminta pembatalan perkawinan?

        Kanon 1674 menyatakan: yang dapat menggugat perkawinan adalah (1) pasangan suami-isteri; (2) promotor iustitiae, jika nullitasnya sudah tersiar apabila perkawinan itu tidak dapat atau tidak selayaknya disahkan. Dengan demikian entah pihak manapun yang berperkara bahkan pihak yang tidak terbaptis dapat membawa perkaranya ke Tribunal perkawinan Gerejawi untuk memohon pembatalan perkawinan (bahkan jika ia yang menyebabkan batalnya perkawinan). Namun demikian usaha untuk rujuk kembali perlu diusahakan pihak-pihak yang bersengketa. Ini adalah tugas pastoral kristiani dan utama bagi Pastor dan umat beriman. Di beberapa negara hukum sipil menuntut bahwa sebelum pasangan suami isteri memulai proses perceraian, mereka harus terlebih dahulu menghadap panitia rujuk kembali (di Indonesia belum ada), badan yang didirikan oleh Pemerintah (Gereja). Sebenarnya tiap keuskupan bahkan paroki bisa mendirikan sendiri semacam komisi rujuk (perdamaian), baru setelah badan itu menyatakan tidak mampu mendamaikan pasangan itu, mereka bisa meminta untuk mengajukan pembatalan perkawinan. Sebagai catatan penting: sebuah tribunal gerejawi hanya akan memulai sidang-sidang perkara perkawinan jika usaha rujuk kembali praktis sudah tidak mungkin lagi.

        Bagaimana kasus pembatalan perkawinan ditangani?

        Perkara pembatalan perkawinan dapat ditangani melalui peradilan gereja (Tribunal perkawinan) atau di luar pengadilan maksudnya diputuskan oleh Ordinaris wilayah. Ada dua macam proses peradilan yakni: proses biasa sebagaimana dalam proses peradilan Gereja (bdk kann 1671-1685) dan proses dokumental (bdk, kann. 1686-1688). Proses biasa digunakan untuk semua kasus, kecuali untuk perkara yang penyebabnya adalah halangan yang menggagalkan, atau cacat dalam tata peneguhan yang sah atau perwakilan secara tidak sah dan ada bukti-bukti dokumental. Sedangkan perkara tidak adanya sama sekali tata-peneguhan yang sah di luar pengadilan.

        Pernyataan pembatalan perkawinan (Surat bebas untuk melangsungkan perkawinan baru)

        Sebuah dekret pernyataan pembatalan perkawinan adalah sebuah pengakuan yang dibuat oleh Hakim gerejawi dalam sebuah kalimat peradilan. Pernyataan itu diperkuat oleh hakim pengadilan gerejawi lain bahwa pengakuan itu telah terbukti dengan kepastian moral bahwa ketika perkawinan dilangsungkan ada suatu penyebab pembatalan. Dalam ranah hukum kanonik, [artinya salah satu atau keduanya (yaitu suami dan istri) tersebut adalah Katolik], jika perkawinan mereka sama sekali tidak diteguhkan dengan tata peneguhan kanonik, maka persatuan itu bukanlah sebuah perkawinan. Karena dilaksanakan secara tidak sah, maka tidak bisa disebut sama sekali sebagai sebuah perkawinan. Persatuan semacam itu tidak bisa dinyatakan batal, tetapi bila mau diadakan sebuah penyelidikan, seperti misalnya penyelidikan pertunangan biasa yang menyatakan tidak adanya tata peneguhan kanonik dan bisa dibuktikan, lalu bisa diberikan surat bebas untuk menikah kembali kepada pihak yang bersangkutan oleh Ordinaris wilayah. Oleh karena itu, dikatakan bahwa kasus ini diurus secara luar peradilan maksudnya tanpa formalitas peradilan (proses dokumental kann. 1686-1688).

        Share.

        About Author

        Romo RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. adalah Hakim Tribunal Keuskupan Denpasar dan Regio Gerejawi Nusra, Sekretaris Komisi Seminari KWI, BKBLII dan pengurus UNIO Indonesia. Lulusan Fakultas Hukum Gereja di Universitas Pontifikal Urbaniana, Roma 2001.

        205 Comments

        1. Dear Pastor tercinta,

          Salam sejahtera, Saya Angel ( Nama Palsu )
          Pastor, saya pernah menikah secara gereja katholik selama beberapa hari saya bersama dengan suami saya tapi ternyata ketahuan bahwa suami saya sudah mempunyai istri dan anak ( menikah secara agama islam ), mereka masih berhubungan baik dan tinggal satu rumah.
          Selama saya pacaran 1.5 tahun saya tidak menemukan jejak mencurigakan, saya dikenalkan dengan keluarganya namun tidak ada yang memberitahu bahwa suami saya sudah berkeluarga.
          suami saya mempunyai 2 KTP yang 1 agama islam dengan status menikah dan ktp satunya agama katholik dengan status lajang.
          3 hari setelah saya tau dia sudah menikah saya memilih mundur dan mengadukan hal tersebut kepada pihak pastor yg menikahkan saya, saya disarankan untuk tidak tinggal bersama lagi dan tidak boleh melakukan hub suami istri.
          Karena posisinya saya benci kebohongan akhirnya saya memilih sendiri, pada saat itu saya sudah hamil anaknya.

          Sudah 1 tahun lebih kami tdk berkomunikasi lagi, suami tidak pernah liat anak.
          hanya waktu saya 2 setelah melahirkan dia datang, untuk meminta maaf tanpa ada niat menggendong anaknya.

          Sekarang saya dekat dengan pria, saya ingin membangun keluarga yang utuh, yang diberkati oleh gereja katholik tercinta, saya bermimpi mempunya keluarga kecil, saya ingin anak saya dapat dibaptis secara katholik :(
          Seperti sangat sulit, sampai 1.5 thn lebih saya tidak ada kepastian, saya datang ke pastoran tapi pastor sangat sibuk, sering saya datang/menunggu pastor berjam-jam untuk berbicara, tetapi beliau sangat sibuk. Hanya berbicara sebentar minta no tlp tapi sampai saat ini tidak ada kepastian. Saya sedih, seperti dilupakan, tidak dianggap, tetapi tiap malam saya tetap berdoa ingin memiliki rumah tangga.
          Saya ingin bahagia seperti mama dan bapa saya, kesedihan mereka terhapuskan jika saya bahagia dengan suami saya.

          romo, saya harus gimana dalam masalah ini?
          apa saya boleh langsung ke keuskupan?

          terima kasih.

          • Romo Wanta on

            Angel yth

            Ikut prihatin dengan masalah perkawinan anda. Sebaiknya kasus anda bisa disampaikan ke tribunal dengan alasan bahwa saat penyelidikan kanonik tidak teliti sehingga calon pernah menikah tidak diketahui. Berarti ada cacat dokumen dan semoga dapat memohon anulasi perkawinan yang telah berjalan dan gagal. Semoga anda menemukan hidup baru yang lebih baik.

            salam
            RD. Wanta

        2. Syalom Romo
          Saya ingin bertanya, ada umat dari gereja saya yg awalnya sangat aktif dalam setiap kegiatan di gereja, tetapi akhirnya dia menikah dengan umat Protestan dan dia menerima pemberkatan di gereja Protestan dan dia tidak lagi menjadi umat Katolik, tetapi sekitar setahun kemudian dia ditinggal pergi suaminya. Setelah ditinggal pergi dia pun ingin kembali ke gereja Katolik tetapi pastor paroki tidak membolehkannya dan sekarang sudah 2 tahun 3 bulan semenjak ditinggal suaminya, tetapi dia masih tetap tidak bisa kembali menjadi umat Katolik. Saya ingin bertanya apakah dia memang sudah tidak bisa lagi diterima kembali di Katolik dan selanjutnya apa yg harus dilakukannya Romo?
          Terimakasih Romo

          • Romo Wanta, Pr on

            Luvita Yth

            Siapapun yang ingin mencari keselamatan di dalam Gereja Katolik tidak boleh ditolak meskipun masa lalunya pernah gagal dan tidak setia pada imannya. Jika ia bertobat dan kembali ke pangkuan Gereja Katolik dia harus diterima dengan baik. Jadi dia bisa kembali ke Gereja Katolik, tentu ada syaratnya, pertama mengakui dosanya dengan menerima Sakramen Pengakuan Dosa, kedua mengakui dan mengucapkan iman rasuli (credo) sebagai perwujudan kembali ke iman Katolik dan diberi pembekalan katekese iman sebelum diterima kembali.

            salam
            Rm Wanta

        3. Sigit Pujiatmoko on

          Yang terhormat Romo,

          Saya seorang Katolik, Romo dan telah menikah secara Katolik pada tahun 2001, dan juga telah memiliki anak. Tapi sudah hampir 6 tahun ini kami sudah berpisah rumah dan keluarga istri saya (mertua) jg menginginkan untuk segera menceraikan dia karena menyesal mempunyai menantu seperti saya. Ingin saya ceritakan Romo sewaktu menikah dulu saya tidak pernah melakukan syaratnya yang wajib dilakukan seperti penyelidikan kanonik dan kursus persiapan perkawinan dan jujur saya katakan orang tua saya juga tidak merestui perkawinan ini. Yang ingin saya tanyakan Romo bagaimana mengurus pembatalan pernikahan ini? Sudah 6 tahun terakhir ini kami sudah tidak pernah berkomunikasi lagi, bahkan untuk menjumpai anak saya pun keluarga besar istri saya tidak boleh menemuinya tapi bila saya memberikan uang untuk anak saya mereka menerimanya.
          Bila mertua saya senang kalo kami berpisah (cerai) sebaliknya keluarga saya senang juga akhirnya saya bisa kembali ke rumah. Saya hanya ingin kejelasan status saya Romo, karna selama ini bila pergi ke gereja saya sudah tidak merasa nyaman dan sudah tak pantas menerima Tubuh dan Darah Kristus. Mohon penjelasannya Romo

          Sigit

          • Romo Wanta, Pr on

            Sigit yth,

            Perlu ada kejelasan ttg kasus anda, karena tidak semua kasus perkawinan dapat dibatalkan. Tentu ada cacat berat dalam konsensus atau cacat tata peneguhan/forma canonica sehingga perlu pembatalan. Tapi semua perkawinan selalu diasumsikan sah sebelum ada bukti hukum dinyatakan kebalikannya. Maka sebaiknya anda menceritakan secara detil kepada pastor paroki. Jikalau hanya alasan tidak suka maka itu tidak kuat untuk pembatalan perkawinan. Apalagi ada anak dari perkawinan anda, diandaikan ada cinta keduanya. Mohon maklum

            salam
            Rm Wanta

        4. Romo yang terhormat, saya seorang Katolik, menikah dgn seorang Katolik namun perkawinan hanya bertahan 3 bulan. Sudah resmi bercerai secara sipil dan saya adalah tergugat. Sebetulnya saya sudah diberi rumah oleh orang tua saya untuk ditempati bersama suami saya. Sebelum menikah, suami saya setuju untuk tinggal di sana. Namun, setelah menikah, suami saya lbh senang tinggal di rumah orang tuanya dan memaksa saya untuk tinggal bersama orang tuanya. Padahal, di rumah orang tuanya itu selain ke 2 orang tuanya, sudah ada adiknya yg jg sudah menikah dan mempunyai 1 anak. Pekerjaan suami sebagai sales jg mengharuskan dia sering keluar kota 2 minggu tiap bulan. Akhirnya, kami seperti tidak punya tempat tinggal tetap. Berpindah dr rumah orang tuanya dan rumah orang tua saya. Pada saat terjadi masalah, suami saya pulang ke rumah orang tuanya hingga awalnya 9 hari. Waktu saya telp, dia jwb ’9hari aja kok bingung’. Akhirnya hingga 1 bulan. Saya bilang kalo tidak ada niat baik,jangan telantarkan saya seperti itu. Akhirnya dia buat surat gugatan hingga akhirnya terjadi perceraian. Saya ingin bertanya : Bisakah saya menerima komuni kudus? Jika suatu saat saya ingin menikah kembali dgn orang yg beragama Katolik, bagaimana saya bisa melangsungkan pernikahan di gereja Katolik? Terima kasih.

          • Romo Wanta, Pr on

            Amelia Yth

            saya ikut prihatin dengan keadaan anda dan keluarga. Sangat prihatin karena baru 3 bulan menikah sudah berpisah tentu ada sesuatu yang tidak beres sebelum menikah. Itulah yang perlu digali untuk menjadi pokok pembatalan perkawinan. Cobalah menulis surat permohonan pembatalan perkawinan ke Tribunal Perkawinan di mana anda berada dengan melampirkan kisah perjumpaan dan perkawinan anda secara singkat (2 halaman). Nanti akan ada proses lebih lanjut, jangan lupa cantumkan nama dan alamat anda. Perihal komuni sejauh sekarang tidak hidup bersama dengan orang lain dan tidak berdosa berat serta tidak ada halangan dapat menerima komuni. Sebaiknya mengaku dosa lebih dahulu baru komuni.

            salam
            Rm Wanta

            Tambahan dari Ingrid :

            Shalom Amelia, Pertama-tama perlu diketahui terlebih dahulu bahwa Gereja Katolik tidak mengenal istilah perceraian. Namun jika sejak awal perkawinan sudah tidak memenuhi syarat untuk disebut perkawinan yang sah, maka pasangan yang terlibat dapat mengajukan surat permohonan pembatalan perkawinan kepada pihak Tribunal keuskupan tempat di mana perkawinan itu diteguhkan. Silakan membaca dahulu di sini, tentang hal-hal apa saja yang membatalkan perkawinan menurut hukum Gereja Katolik, silakan klik.

            Jika Anda menemukan salah satu halangan/ cacat sebagaimana disebut di sana, maka terdapat kemungkinan perkawinan Anda dapat dibatalkan (tentu jika dalam pemeriksaan Tribunal menemukan bukti-bukti dan para saksi tentang kasus Anda). Silakan menemui pastor paroki agar ia dapat membantu Anda menuliskan surat permohonan pembatalan perkawinan kepada pihak Tribunal.

            Hanya jika permohonan pembatalan perkawinan disetujui oleh pihak Tribunal, dan telah keluar suratnya, maka artinya perkawinan Anda itu telah dinyatakan batal, sehingga dalam keadaan demikian, Anda dapat menikah, kali ini usahakan agar jangan sampai gagal lagi.

            Teriring doa dari kami bagi Anda di saat-saat yang sulit ini.

            Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
            Ingrid Listiati -katolisitas.org

        5. Kepada yang terhormat Romo,
          Saya dan suami saya menikah secara Katolik, dan kami berdua adalah Katolik. Sewaktu menikah, kami menikah dengan sadar dan tanpa paksaan, dan kami menjalani 6,5 tahun pernikahan dengan baik. Namun, 6 bulan terakhir ini suami saya mengatakan dia ingin menjalani hidup sendiri, dan alasannya tidak ingin menyakiti saya. Sebagai informasi, suami saya adalah seorang terapis dan sekarang ini dia memiliki pemahaman tentang misi dia bersama teman kerjanya seorang terapis perempuan, dan mereka meyakini bahwa mereka adalah pasangan di kehidupan masa lalu (past life). Sekarang ini situasinya adalah, saya sudah menemukan bahwa suami saya berselingkuh dengan perempuan ini, bahkan dia merasa mantap tidak ingin memutuskan hubungan dengan dia. Suami saya bilang dia cinta saya dan juga cinta perempuan itu. Saya tidak terima dengan penjelasan tsb dan saya meminta suami untuk setia menjalani janji pernikahan. Memang pasti ada kesalahan dari saya juga sebagai istri, antara lain karena sering tugas kantor ke luar, namun, setelah saya mengetahui masalah perselingkuhan ini dan alasan yang dikemukakan suami, saya lalu menawarkan untuk berhenti bekerja, dan sudah mantap untuk itu. Suami saya malah meminta saya untuk memikirkan hidup saya sendiri, jangan menggantungkan kebahagiaan kepada orang lain, dan bahwa dia tetap tidak mau memutuskan hubungan dengan perempuan itu. Bagaimana ya Romo, saya sampai sekarang tidak mau mengingkari janji pernikahan, tetapi situasinya sekarang suami saya sudah siap pergi, apakah artinya kami akan hidup berpisah? Lalu, apa yang akan terjadi pada saya apakah saya tetap boleh menerima komuni? Bagaimana jika dalam kasus seperti ini satu pihak bersikeras ingin berpisah, namun satu pihak ingin tetap menjaga keutuhan keluarga? Kalau hitungan & ukuran manusia, kan mustinya tidak bisa, tetapi di Gereja Katolik kan pahamnya apa yang sudah dipersatukan Tuhan tidak boleh diceraikan manusia. Mohon bantuan nasihatnya, Romo. Terima kasih banyak.

          • Romo Bernardino Agung Prihartana, MSF on

            Sdri Esther,

            Ketika seseorang berambisi mendapatkan sesuatu, tidak jarang hati dan pikirannya tertutup akan kebaikan sehingga menghalalkan segala cara. Termasuk ketika seseorang melakukan perselingkuhan. Alasan bahwa dia adalah pasangan masa lalunya (past life) tentu merupakan salah satu bentuk “menghalalkan” segala cara. Jadi rasanya tidak perlu ditanggapi, walaupun kemungkinan suami anda akan tetap nekat melakukannya.

            Perkawinan yang sah tidak bisa diputuskan dengan alasan apa pun kecuali kematian. Jadi dalam kasus anda ini, walaupun suami bersikeras akan menceraikan anda dan menikah lagi dengan teman perempuannya itu, Gereja tidak akan menyetujuinya.

            Mengenai apakah anda boleh komuni atau tidak, jika anda tidak mempunyai atau menjalani hidup bersama dengan orang lain yang bukan suami anda (selingkuh, hidup bersama tanpa ikatan perkawinan yang sah) anda tidak terhalang untuk menerima Komuni kudus.

            In amore Sacrae Familiae
            Agung P. MSF

            • Terima kasih banyak Romo Agung & Romo Wanta atas jawabannya. Memang, kadang manusia menghalalkan segala cara untuk mencapai apa yang ia mau. Setelah berkonsultasi dengan Romo di Paroki saya, dan juga merenungkan lagi apa tujuan perkawinan dari Kitab Suci, dan dari bacaan2, memang yang saya temukan adalah bahwa ajaran Katolik akan tetap meminta saya untuk menjadi istri yang setia, pemaaf, sabar, penuh dengan semangat pengorbanan diri dan penyangkalan diri. Dan bahwa perkawinan adalah suci, sekali dan tidak terceraikan. Menurut Romo Paroki kami berdua diminta merenung dulu, ada masa refleksi, karena sekarang sepertinya konsep kami berdua sebagai suami istri sedang tidak cocok, bahkan bertolak belakang. Saya pikir-pikir lagi, pasti berat yah, hidup terpisah dari suami, dan harus berusaha tetap menjaga kemurnian. Mungkin kasarnya, yang selingkuh sih malah tenang jalan sendiri, yang ditinggal dan berusaha menjalani janji perkawinan, malah susah sendiri. Saya sempat berpikir, apakah saya ini istri yang bodoh. Tetapi menurut Romo Paroki, ya ini namanya menjalani komitmen. Saya sudah mengampuni suami saya & perempuan tsb, dan saya sudah mengalami kelegaan luar biasa. Saya juga bersyukur bahwa saya menikah secara Katolik sehingga saya bisa fokus menjalani komitmen & keyakinan saya. Seandainya saya bukan Katolik, mungkin saat ini saya sedang sibuk mencari tahu cara bercerai, dan mungkin “pasang mata” lihat calon lain… Tetapi saya diingatkan lagi oleh Tuhan bahwa kadang kita harus memilih yang sulit, dan saya harus tetap beriman dan menyerahkan keputusan & waktu kepada Tuhan. Akhirnya saya disadarkan, bahwa walau dengan segala cara apa pun, suami saya mungkin tidak akan berubah. Hanya Tuhan yang dapat mengetuk & mengubah hati. Maka, kalau Tuhan berkenan mengubah suami saya disaat saya masih hidup & bernafas, alangkah senangnya. Namun, jika Tuhan memutuskan lain, maka saya juga akan tetap percaya pada waktuNya. Saya akan berusaha terus menjalani iman saya sebagai seorang Katolik, memang berat sih, namanya juga masih muda, kalau sampai hidup sendiri, tidak boleh menikah lagi, tidak boleh pacaran lagi, sementara suami hidup bebas. Namun, saya juga bersyukur saya mengalami ini, karena saya jadi jauh lebih dekat dengan Tuhan dan mengakui bahwa selama ini saya mengandalkan kemampuan saya, bukan bersandar pada Tuhan. Setiap hari sekarang memang terasa seperti cobaan, tetapi saya lebih suka hati menjalaninya, dan saya percaya Tuhan punya rencana. Mudah-mudahan bagi istri Katolik lain yang mengalami nasib serupa dengan saya, cerita saya bisa mengingatkan akan kasih Tuhan yang tidak pernah putus dan kadaluwarsa. Keputusan bahwa “saya akan menjalani hidup saya sebagai seorang Katolik yang baik, yaitu memaafkan dosa suami saya, tetap mencintai dia, tetap mendukung dia, tetap percaya pada dia, dan selalu menggantungkan kepercayaan & harapan serta iman kepada Tuhan” sementara urusan suami adalah urusan dia dengan Tuhan, akan menguatkan saya, dan membuat saya keluar dari lubang penderitaan / tidak lagi jadi korban.
              Terakhir, saya juga ingin membagikan Serenity Prayer, God grant me the serenity to accept the things I cannot change, the courage to change the things I can, and the wisdom to know the difference. That I may be happy enough in this world, and exteremely happy with HIM in heaven.

              Terima kasih sekali lagi, Romo Agung dan Romo Wanta. Nanti kalau saya perlu bimbingan dan penguatan lagi, saya email lagi yaah. Tuhan memberkati selalu.

              • Romo Bernardino Agung Prihartana, MSF on

                Sdri. Esther,

                Memaafkan dan mengampuni tidak hanya sekedar melupakan, menyingkirkan, atau berusaha sekuat tenaga menghapus kepahitan atau sakit hati. Tetapi tujuan utama memaafkan adalah menyelamatkan. Jadi di dalam sikap memaafkan itu juga semestinya ada upaya menyelamatkan si pendosa. Tuhan sendiri mengatakan kepada wanita yang kedapatan berzinah, “Aku tidak menghukum engkau, pergilah dan jangan berbuat dosa lagi”. Selain mengampuni, Tuhan memintanya untuk tidak berbuat dosa lagi.

                Oleh karena itu anda tidak cukup hanya sekedar memaafkan suami anda yang sudah mengingkari kesetiaan dan kemurnian perkawinan. Sebisa mungkin anda juga mencari cara bagaimana menyelamatkan suami anda dari kedosaannya itu. Memang akhirnya kembali pada pribadi suami anda sendiri mau bertobat atau tidak. Yang penting anda sudah mau memaafkannya dan sebaiknya ditambah lagi dengan upaya menyelamatkan agar dia tidak jatuh ke dalam dosa lagi. Sambil memohon belas kasih Allah agar berkenan menyelamatkan suami anda itu. Ingat, Allah tidak menciptakan maut. Ia tidak bergembira melihat ciptaannya sengsara apalagi binasa. Sebaliknya Ia menciptakan segala-galanya demi keselamatan ciptaan-Nya. Tetapi karena dengki setan, maka maut masuk ke dunia (lih. Keb. 1:13 – 2:24). Jadi dalam pengalaman pahit anda ini, bukan Allah mau menguji anda, tetapi karena dengki setan, maka dosa itu dilakukan dan terjadi.

                Sebagai manusia yang lemah, selain berusaha semampunya, kita juga hanya berdoa memohon belas kasih Tuhan agar memberikan berkat-Nya bagi anda dan suami sehingga bisa mengalahkan kejahatan yang berasal dari setan.

                Salam
                Rm. Agung P. MSF

                • Romo Agung yang terhormat,
                  Terima kasih banyak atas pendampingan dan nasihatnya. Apakah masih boleh saya lanjutkan lagi, karena sangat tepat nasihat yang Romo berikan. Saya telah berusaha menemui perempuan tsb dan tadinya saya berencana datang secara baik2 dan mau mengingatkan, menyentuh hatinya dari perempuan ke perempuan. Namun ternyata reaksinya sangat berbeda, dia sangat keras dan berkata bahwa saya lancang, lalu dia berkata bahwa dia bukan perempuan pertama yang selingkuh dgn suami saya, jadi saya dibuat kaget duluan. Jadi, rencana bertemu baik2 gagal total, akhirnya malah dia meminta suami saya datang dan akhirnya kami bertemu bertiga. Keduanya tetap tenang sementara saya menangis, dan mereka bahkan tetap bersikeras yang mereka lakukan adalah tidak salah, menurut aturan siapa? katanya. Jadi, sudah tidak ketemu lagi caranya untuk diskusi baik2 dengan mereka. Saya juga jadi tersadar bahwa selama ini saya terlalu lugu dan polos, sehingga diremehkan dan dibohongi sedemikian rupa. Mungkin kalau dari ayat Aklitab, mungkin saya kebanyakan tulus seperti merpati-nya, kurang cerdik seperti ular.
                  Mohon nasihat, Romo, bagaimana supaya saya bisa menyelamatkan suami saya. Dia tetap bilang dia mencintai saya, tapi merasa tidak salah dengan perbuatannya (karena menurut dia ada perintah untuk kerjasama dengan perempuan ini), dan mereka berdua bilang silahkan kalau mau dibilang ikut ajaran sesat. Perempuan tsb bilang bahwa di kehidupan lalu mereka berdua menikah dan saya jadi pengganggu perkawinan mereka. Jadi, kalau di kehidupan sekarang posisinya terbalik ya terima aja karmanya. Jelas saya tidak terima dan tidak habis pikir antara saya ini sedang menghadapi kuasa gelap, atau orang yang sangat bebal atau sebetulnya sangat cerdik & licik.
                  Terima kasih banyak Romo Agung. Berkah Dalem…

                  • Romo Bernardino Agung Prihartana, MSF on

                    Sdri Esther,

                    Ternyata perjuangan anda untuk menyelamatkan suami dari kesalahan dan dosanya luar biasa sampai anda harus korban perasaan. Dan rupanya anda mengalami kesulitan luar biasa untuk menyelamatkan suami anda dengan menyadarkan kesalahan yang dia lakukan karena dia merasa tidak bersalah, malah sebaliknya anda yang dianggap bersalah karena sudah mengganggu “perkawinan” mereka.

                    Biasanya orang yang merasa diri benar (= tidak menyadari bahwa dia bersalah atau berdosa) sangat sulit diberitahu kesalahannya, apalagi dinasehati. Orang begitu tidak akan pernah mampu berefleksi atas kesalahan dan dosanya yang sedang dijalani dan dilakukannya.

                    Maka satu-satunya jalan yang bisa anda lakukan, membawanya di dalam doa, serahkan kepada Allah karena dia adalah milik Allah. Kalau anda masih mampu bicara dari hati ke hati dengan suami (tidak perlu dengan wanita tersebut), silahkan melakukannya lagi. Tetapi jika anda belum siap dan belum mampu melakukannya, silakan anda membawanya di dalam doa dan keprihatinan. Biarlah Allah sendiri yang menyentuh hatinya, biarlah Allah yang menyadarkannya dengan cara dan kehendak-Nya yang pasti terbaik. Semoga permohonan menjadi doa sebagaimana santa Monica yang mampu menyelamatkan Santo Agustinus dari segala kesalahan dan dosanya.

                    In amore Sacrae Familiae
                    Agung P. MSF

                    • Terima kasih banyak Romo Agung, saya akan tetap mendoakan suami saya, dan memohon supaya Tuhan yang meraja dalam perkawinan kami. Saya memang tidak mengerti bagaimana ke depan, tapi saya akan berusaha untuk tetap pasrah dan berserah kepada Tuhan dan mohon dikuatkan menjalaninya. Terima kasih sekali lagi, Romo Agung. Tuhan memberkati selalu

          • Romo Wanta, Pr on

            Esther yth

            Ada pepatah Jawa, “Witing tresna jalaran kulino”, cinta emosi itu bisa bertumbuh karena keseringan atau kebiasaan. Hidup manusia itu berkembang dan manusia itu membutuhkan dicintai, dihargai agar tangki cinta penuh, oleh siapa? Oleh pasangannya bukan oleh orang lain. Dalam perkawinan sering terjadi kehabisan cinta akhirnya dingin hambar karena tidak diisi oleh pasangannya. Karena itu cara agar suami anda tidak menyendiri hidup married single, dan memiliki pilihan wanita lain adalah memutuskan komunikasi dengan wanita tsb dan anda mengisi cinta yang dibutuhkan oleh suami agar tidak kering kosong tetapi terisi terpenuhi oleh cinta anda. Itulah harapan saya agar anda bersatu kembali. Pilihan married single hidup sendiri adalah bentuk kekecewaaan yang perlu dicari jalan keluar dan diobati.

            salam
            Rm Wanta

          • Tetaplah berpegang kepada janji Tuhan. Saya juga mengalami masalah seperti anda lebih 15 tahun. Jika difikirkan secara manusiawi rasanya usia muda telah disia-siakan untuk tetap mengasihi dan mengampuni suami yang selingkuh. Tapi apabila direnung kembali sepanjang 15 tahun yang lalu, banyak blessing yang kita terima daripada Tuhan. Cuma sekarang saya takut apabila saya meninggal, harta2 saya akan diambil oleh suami kerana tidak bercerai secara sivil. Tentu mahkamah akan menyerahkan semua harta saya kepada suami saya. Anak-anak tentu tak dapat walau sesen pun kerana saya tahu siapa suami saya apatah lagi kalau dia mempunyai anak lain dari teman selingkuhnya. Apa pendapat saudari? Tq.

            • Shalom Msintian,

              Syukurlah kalau Anda dapat melihat bahwa Tuhan selalu menyertai kehidupan Anda, bahkan di saat- saat yang paling sulit, yaitu dalam masa 15 tahun pergumulan dalam perkawinan Anda. Semoga sekarang permasalahan Anda itu telah teratasi, atau setidaknya tidak lagi sesulit pada waktu- waktu yang lalu.

              Tentang apa yang terjadi dengan keluarga kita tinggalkan setelah kematian kita, kita tidak dapat mengontrolnya. Maka nampaknya tak ada gunanya kita risaukan sekarang, karena hanya akan menambah kekuatiran yang tidak perlu. Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita untuk memikirkan hal- hal yang sederhana (lih. Rm 12:6), artinya yang memang masih dalam jangkauan pemikiran kita. Kita tak bisa mengetahui akan masa depan, termasuk masa depan anak-anak kita, dan biarlah demikian, sebab ini akan menumbuhkan di dalam hati kita sikap kerendahan hati dan ketergantungan kita kepada Tuhan. Kita akan menyadari bahwa ada banyak hal yang di luar jangkauan kemampuan kita, dan kita membutuhkan campur tangan Tuhan. Oleh sebab itu, sabda Tuhan mengajarkan kita untuk memikirkan perkara-perkara yang di atas, bukan yang di bumi (lih. Kol 3:2); sebab kita tidak dapat mengandalkan kemampuan diri kita sendiri dan segala ketentuan yang kita buat sendiri, namun kita harus mengandalkan Tuhan.

              Maka jika saya boleh menyarankan, serahkanlah segala kekhawatiran Anda, baik tentang masa depan anak-anak, maupun segala sesuatunya (harta, kesehatan, pendidikan dst.) ke dalam tangan pemeliharaan Tuhan. Adalah baik, jika Anda telah menyiapkan masa depan anak-anak dengan pendidikan yang baik, namun selanjutnya semua ada dalam tangan Tuhan dan anak-anak Anda sendiri. Adalah sesuatu yang baik Anda telah memutuskan untuk mengampuni suami Anda, dan Tuhan pasti berkenan. Adalah baik jika Anda telah memberikan contoh/ teladan yang hidup, tentang bagaimana kita harus mengasihi. Semoga karena kasih Anda yang tulus ini, suami Anda dapat sungguh bertobat dan mencurahkan perhatian dan kasihnya sepenuhnya kepada Anda dan anak-anak Anda, sesuai dengan janji perkawinan yang diucapkannya di hadapan Tuhan. Selanjutnya, biarlah Tuhan memberikan rahmat-Nya agar memampukan Anda mempunyai iman dan kepasrahan yang serupa dengan iman Bunda Maria, “Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu, ya Tuhan”.

              Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
              Ingrid Listiati- katolisitas.org

               

            • Paulus Sunarto on

              Syalom Alaikhem msintian,
              Puji syukur anda dapat melihat dan merasakan betapa besar penyertaan Tuhan dalam hidup anda. saya kagum bahwa ‘anda’ dapat menjaga kesucian hiudp perkawinan anda selama 15 tahun apalagi anda harus menghidupi dan membesarkan anak-anak anda sendiri. Hebat..
              Apa yang ibu Ingrid memang benar agar kita menyerahkan segala kekuatiran kita kepada Tuhan. Memang bekal Pendidikan yang baik merupakan harta yang tidak ternilai. Kalo boleh saya tambahakan kita juga perlu berusaha agar apa yang menjadi kekuatiran ibu tidak terjadi. Saran saya apabila anak-anak ibu sudah cukup umur sehingga mereka dapat menjadi pemilik atas harta yang ibu miliki saat ini, ada baiknya ibu berkonsultasi dengan seorang notaris sehingga dapat ibu dapatkan jalan keluar yang terbaik sesuai dengan hukum yang berlaku.

            • Hallo Ibu Msintian,terima kasih sudah membagikan pengalaman hidup ibu. Memang untuk kita menjalani hidup seperti ini, kalau diukur pakai hati & perasaan manusia, sungguh berat. Saya bersyukur selama ini dikuatkan oleh kasih Tuhan, betul, kalau saya ingat masa-masa saya tidak bisa tidur sama sekali, tidak bisa makan, menangis terus..Jauh sekali dengan keadaan sekarang, 8 bulan setelah “pecah”nya kejadian tsb. Tapi, memang ada hikmahnya, bahwa Tuhan menunjukkan bahwa saya ini dulu terlalu tergantung dan menganggap suami saya ini sempurna. Memang tidak ada manusia yang sempurna. Hanya kasih Tuhan yang sempurna dan tidak ada kadaluwarsanya. Ada beberapa berkat melalui lagu ataupun bacaan rohani, antara lain mengenai penyelenggaraan ilahi yang ditulis oleh Romo Yohanes. Bahwa Allah mengetahui segala sesuatu sejak semula, dan Allah merencanakan segala sesuatu yang baik bagi saya, baik dan buruk, adalah penting bagi keselamatan jiwa saya. Maka, tidak perlu ada alasan merasa takut, cemas, khawatir berlebihan. Tuhan yang mengatur semua. Yah… sekarang pun saya masih merasakan ada masa-masa kesepian, dan merasa sendirian. Yang jelas, suami saya memang tidak bisa dianggap “ada” lah, secara fisik sudah sangat jarang sekali bertemu, secara perasaan pun, tidak jelas, namun tetap tidak mau berjanji untuk tidak menduakan. Sekarang saya berusaha memasrahkan semuanya kepada Tuhan. Jelas, masih perlu perjuangan, Bu. Mudah-mudahan Ibu juga dapat menemukan kedamaian dalam hidup, dan semoga
              Ibu dan keluarga rukun dan sehat selalu. Tuhan memberkati.

              [Dari Katolisitas: Terima kasih atas sharing ini. Semoga Tuhan selalu menyertai Esther, memberikan damai sejahtera, suka cita dan kekuatan yang dari Tuhan, terutama atas kesediaan Anda untuk tetap setia dengan janji perkawinan Anda.]

              • Bolehkah saya lanjutkan lagi topik ini? Hari ini suami saya sudah mengatakan mau cerai. Dari sisi Katolik, apa yang bisa saya lakukan? Sebetulnya saya masih tidak ingin bercerai, namun kalau suami sudah berketetapan begitu susah juga ya. Bagaimana mengurus proses perceraian tsb? Kedua, saya dengar jika suami / istri yang menggugat cerai tidak boleh menerima Komuni. Apakah benar demikian? Mohon informasinya. Terima kasih banyak…

                • Shalom Esther,
                  Menurut hukum Gereja Katolik, jika sakramen perkawinan sudah sah diberikan maka tidak dapat diceraikan. Sedangkan kalau sejak awal mula memang perkawinan tidak memenuhi persyaratan untuk dapat dikatakan sah, maka pasangan dapat memohon kepada pihak Tribunal Keuskupan agar perkawinan tersebut dinyatakan tidak sah, atau istilahnya anulasi. Nah, tentang ketiga hal yang dapat menjadikan perkawinan dapat dinyatakan tidak sah, dapat dibaca di sini, silakan klik.
                  Maka silakan Anda lihat, apakah ada dari ketiga hal itu (dan perinciannya) yang terjadi sebelum dan pada saat perkawinan Anda? Jika ada, dan Anda mempunyai bukti dan saksi-saksi, maka adalah hak Anda, untuk memohon kepada pihak Tribunal Keuskupan untuk membatalkan perkawinan Anda. Namun jika tidak ada sesuatupun yang terjadi dalam perkawinan Anda yang dapat dijadikan dasar anulasi, maka artinya perkawinan Anda sah dan tidak dapat dibatalkan. Dalam kasus ini, meskipun diperoleh keputusan perceraian secara sipil, namun di hadapan Tuhan sesungguhnya ikatan perkawinan Anda dengan suami Anda tetap tak terceraikan, sebab apa yang sudah dipersatukan Tuhan tidak dapat diceraikan oleh manusia (lih. Mat 19:6). Dalam keadaan Anda yang berpisah ini, maka selama Anda tidak menikah lagi dan tidak jatuh dalam dosa berat, maka Anda tetap dapat menerima Komuni kudus.
                  Bawalah permasalahan Anda ini di dalam doa-doa Anda setiap hari. Semoga Tuhan membukakan jalan agar dapat terjadi rekonsiliasi antara Anda dan suami Anda, sehingga perpisahan jangan sampai terjadi. Ingatlah akan janji perkawinan Anda di hadapan Tuhan, dan kalau Anda sudah mempunyai anak-anak, pikirkanlah masa depan anak-anak Anda, dan betapa mereka sangat membutuhkan Anda berdua sebagai orang tua.
                  Jika masih memungkinkan, silakan mengajak suami untuk konseling perkawinan. Silakan menghubungi seksi kerasulan keluarga di paroki Anda atau pastor paroki. Atau silakan mengikuti retret pasangan suami istri, seperti yang diadakan oleh Marriage Encounter dan retret Tulang Rusuk bersama Pastor Yusuf Halim, SVD. (Mohon maaf, saya belum berhasil memperoleh informasi jadwal retret untuk tahun 2013, namun silakan menghubungi situs ini, silakan klik, atau klik di sini).
                  Doa kami menyertai Anda.
                  Salam kasih dalam Kristus Tuhan,Ingrid Listiati- katolisitas.org

        6. saloom romo, berkah dalem..

          trimakasih romo atas penjelasannya..sebenarnya saya udah mencoba memasukan masalah saya ini ke gereja st, Monica, BSD dengan disertai data saya dan pernyatan dari saksi2. Akan tetapi pastor kepala di gereja St. Monica minta surat bukti itu untuk melanjutkan ke tribunal, sampai akhirnya saya pindah ke jogja, dan sepertinya permohonan anulasi saya melalui gereja sana terhalang karena permintaan surat bukti itu yang susah banget saya dapatkan, pertanyaan saya romo apakan saya bisa mengajukan lg melalui paroki dimana saya tinggal skr ini, mmg dulu wkt pernikahan saya di gereja Jogja, mohon bantuan doanya romo agar masalah saya ini segera terselesaikan dan saya bisa melanjutkan masa depan saya dan menjadi domba-domba Yesus yang setia..

          trimakasih, berkah Dalem.

          • Shalom Antonius,

            Ya, dalam kasus Anda, Anda dapat mengajukan permohonan ke Tribunal keuskupan tempat dahulu perkawinan Anda diteguhkan, dan tempat sekarang Anda tinggal menetap. Sebab memang terdapat beberapa kemungkinan dalam mengajukan surat permohonan pembatalan perkawinan (Anulasi), yaitu: 1) ke Tribunal di mana perkawinan diteguhkan, atau 2) ke Tribunal di mana pasangan yang terdahulu itu tinggal, atau 3) ke Tribunal di mana pemohon tinggal, asalkan pemohon dan pasangannya itu tinggal di Konferensi Gereja yang sama (satu negara) atau 4) ke Tribunal di mana terdapat bukti-bukti yang mendukung permohonan itu dapat ditemukan, jika Tribunal pihak pasangan sebelumnya itu menyetujuinya.

            Silakan mencoba mengajukan surat permohonan tersebut, dengan surat pengantar dari Romo Paroki Anda sekarang di Yogyakarta, dengan disertai bukti-bukti dan data saksi-saksi yang mengetahui keadaan ketidak-sah-an perkawinan Anda sejak awal mula. Jika memang Anda di pihak yang benar, semoga semua dapat dibuktikan, sehingga permohonan Anda dapat diluluskan.

            Salam kasih dalam Krisus Tuhan,
            Ingrid Listiati- katolisitas.org

        7. siang Romo…

          1.Romo jika masalah saya ini, saya limpahkan ke pengadilan ke gereja apakah pengadilan gereja bersedia untuk memprosesnya jika saya tidak mendapatkan surat2 bukti tersebut akan tetapi saya berani bersumpah di hadapan pengadilan gereja nanti jika bukti2 itu mmg ada di KUA dan pengadilan agama tempat mantan istri saya dulu cerai, dan disertai pernyataan bukti2 yg dibuat oleh saksi yg mengetahui perjalanan saya selama saya berumah tangga dengan mantan istri saya dulu sampai akhirnya kami cerai.

          2. Romo saya sdh punya calon dan calon saya ini jg Katholik, calon saya ini mau menikah jika menerima sakramen perkawinan, Romo apakah masalah saya ini bisa terselesaikan dan saya bisa menikah lg secara gereja, saya jd bingung Romo krn secara agama Katholik saya blm bisa menikah lg secara Katholik krn terhambat masalah saya ini, apakah jika menikah secara sipil gereja mau mengakui perkawinan saya ini

          • Antonius yth

            Silakan Anda ke Tribunal, namun perihal mau atau tidak bukan kewenangan saya. Jadi Anda berhak mengajukan masalah ini ke Tribunal.

            Salam
            Rm Wanta

            Tambahan dari Ingrid:

            Shalom Antonius,

            Jika sudah diusahakan semaksimal mungkin tetapi tetap tidak dapat diperoleh bukti dari KUA, maka yang nampaknya harus ada adalah kesaksian para saksi, yang harus dibuat secara resmi. Silakan memohon bantuan Romo Paroki untuk membantu anda menyusun surat permohonan pembatalan perkawinan, jika memang Anda melihat bahwa perkawinan Anda telah cacat sejak awal mula. Hal apakah pihak Tribunal akan meluluskan permohonan Anda itu adalah hal berikutnya, yang memang harus dilalui, setelah proses pemeriksaan kasus Anda dilakukan.

            Tanpa surat dari Tribunal yang meluluskan permohonan pembatalan perkawinan Anda itu, memang Anda sebaiknya tidak menikah dengan pasangan Anda yang sekarang, walaupun secara sipil, karena di hadapan Tuhan sesungguhnya Anda masih terikat dengan istri Anda melalui perkawinan terdahulu. Baru jika dapat dibuktikan bahwa perkawinan itu memang tidak sah sejak awal mula, dan izin anulasi diberikan oleh Tribunal Keuskupan, maka Anda dapat dikatakan bebas dari ikatan perkawinan tersebut. Jika Anda tetap memilih untuk menikah secara sipil dan kemudian hidup bersama pasangan Anda yang baru, maka Anda sesungguhnya telah melanggar perintah dan kehendak Tuhan yang menghendaki perkawinan hanya untuk seorang pria dan seorang wanita, demi kekudusan yang dilambangkannya, sebagai persatuan antara Kristus dan Gereja (lih. Ef 5:22-33). Jika pelanggaran ini tetap dilakukan, maka Anda dan pasangan Anda itu tidak dapat menerima Ekaristi Kudus dalam perayaan Misa, karena kehidupan perkawinan Anda tidak mencerminkan kasih persatuan suami istri sebagaimana yang dikehendaki Allah. Nampaknya sekarang ini adalah kesempatan Anda untuk membuktikan kepada Allah, apakah Anda ingin mendahulukan kehendak Allah, ataukah kehendak Anda sendiri.

            Mohonlah kekuatan dari Tuhan dalam keadaan yang sulit ini, dan mohonlah karunia kesabaran, untuk menantikan hasil pemeriksaan Tribunal. Jika memang Anda di pihak yang benar, semoga bukti dan saksi semua cukup mendukung keadaan Anda, sehingga permohonan Anda dapat dikabulkan.

            Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
            Ingrid Listiati- katolisitas.org

        8. Selamat siang Romo!

          Saya punya pertanyaan seputar pengumuman nikah.
          1. Apa dasar hukum dari pengumuman nikah?
          2. Apa maksud dan tujuan dari pengumuman nikah?
          3. Kenapa harus tiga kali pengumuman hari minggu? Apakah ada dampak hukum jika pengumuman hanya sekali saja?

          Sebelumnya saya ucapkan limpah terima kasih.

          Salam,

          brian

          • Brian Yth

            Dasar hukumnya ada dalam kanon-kanon KHK 1983, misalnya kanon 1066, sebelum perkawinan dirayakan haruslah pasti bahwa tak satu hal pun menghalangi perayaannya yang sah dan licit. Dengan ini jelas wajib hukumnya mengumumkan kepada umat, apakah tidak ada halangan. Sebanyak tiga kali tidak wajib, bisa dua kali saja, yang penting esensinya diumumkan, namun bukan menjadi celah hukum untuk dilanggar. Tujuannya jelas bahwa setiap orang yang akan menikah kanonik haruslah bebas dari halangan (kanon 1073 dan seterusnya, serta kanon 1083 dan seterusnya).

            Salam
            Rm Wanta

        9. siang romo..berkah Dalem

          lanjut yg kemarin romo, saya kenal dengan tetangganya..apakah org ini bsa dijadikan saksi jika dia mengetahui penikahan mantan istri saya dgn suaminya yang terdahulu dan apakah ini sudah cukup untuk melengkapi data saya untuk mengajukan anulasi ke keuskupan, asalkan dia mengetahui pernikahan mantan istri saya dulu baik tgl dan tempat dia menikah dan disyahkan di notaris catatan sipil, bgtu romo..

          tmksi

        10. syaloom romo..

          slmt siang romo, romo saya seorang Katholik..pernah menikah dan skr saya sudah cerai secara sipil, dulu kami menikah secara gereja saya Katholik dan mantan istri saya Islam..kami memutuskan bercerai krn rumah tangga kami yang tidak harmonis, sebelum kami bercerai kami pisah ranjang satu tahun lebih, selama pisah ranjang itu saya berusaha untuk memperbaiki rumah tangga kami akan tetapi gagal krn dia tetap bersikukuh ingin bercerai dia merasa berdosa dengan agamanya krn sdh keluar dr ajarannya di samping itu dia merasa berzina dengan saya krn menikah secara Katholik, satu hal lagi dia menginginkan saya agar masuk Islam dan itu tidak saya setujui, dia mau kembali kalau saya masuk Islam itu yg membuat saya mengabulkan permintaan dia untuk bercerai karena bagi saya agama tidak bisa dipermainkan, dari kecil saya sudah dididik secara Katholik dan saya tidak bisa terima dengan permintaan dia itu..di samping itu dr awal dia tidak jujur klo dia (mantan istri saya pernah menikah) saya merasa dibohongi dan tertipu, skr ini saya sdh memproses utk pembatalan perkawinan saya, tp saya msh terganjal krn dr pihak gereja meminta bukti surat perkawinan mantan istri saya dl..ini yg menjadi mslh buat saya..krn dia tidak kooperatif tidak mau kerja sama, padahal dia sendiri yang mengajak untuk bercerai..meski saya yg mengajukan gugatan ke pengadilan negri..meski saya sudah meminta baik2, bahkan sdh berusaha berdiaolog sma keluarganya tp tetap dia tidak mau memberikan surat itu, yang ada alasan dia hrs minta ijin sama mantan suaminya dahulu, ada lagi alasannya sdh dibakar krn sdh tidak ada gunanya lg buat dia..saya sendiri sdh berusaha mengecek ke KUA tempat dia dl menikah memang ada arsip itu tp saya memohon bantuan dr pihak KUA tidak dikasih..saya jg sudah mengecek di pengadilan agama tempat dl dia bercerai arsip itu ketemu jg dan saya meminta bantuan dari pihak pengadilan jg tidak dikasih..saya sudah berusaha untuk surat bukti itu tp sampai skr blm bsa mendapatkan sebagai syarat untuk maju ke pengadilan tribunal..mohon bimbingan dan masukannya romo..apakah saya bsa menyelesaikan saya ini krn saya sudah punya calon yang seiman dengan saya padahal masalah saya ini blm selesai saya hanya ingin menikah secara Katholik..pernah terbersit dlm pikiran saya apakah kami bisa menikah secara sipil sambil mengurus masalah saya ini sampai selesai tp pemasalahannya apakah nanti kalau kami punya anak, anak kami itu bisa dibaptis secara Katholik..mohon bantuannya romo

          • Antonius yth

            Jika tidak didapatkan surat nikah di KUA maka bisa diberikan surat keterangan saksi nikah yang mengetahui perkawinan tersebut (perkawinan antara istri Anda dan pasangannya terdahulu) dalam bentuk surat resmi yang menyatakan adanya perkawinan ini yang dibuat oleh saksi, dengan mencantumkan tandatangan saksi dan bisa diteguhkan dengan notaris sipil agar itu juga sah. Karena kasus tidak akan dapat jalan/ diperiksa, kalau Anda hanya meminta surat nikah istri Anda di KUA, dan ternyata surat itu tidak dapat diperoleh.

            Semoga dengan adanya keterangan yang resmi tersebut kasus Anda dapat terus diperiksa oleh pihak Tribunal Keuskupan.

            salam
            Rm Wanta

            • siang romo…berkah Dalem..

              melanjutkan penjelasan dari romo…saya sdh meminta baik2 dgn pihak keluarganya utk keterangan surat itu, krn dr pihak keluarganya tidak ada kerjasama juga..jd saya hrs gmn romo….

              tmksi….

              • Antonius Yth

                Jika keluarga mantan istri tidak mau kerjasama maka carilah saksi perkawinan saat itu yang bisa diajak kerjasama untuk membuat pernyataan di hadapan notaris, bahwa pernah terjadi perkawinan di KUA tanggal sekian di mana, dan lain-lain. Demikian maksud saya, siapa saja yang mengetahui dengan benar dan saksi mata dapat menjadi saksi untuk menyatakan bahwa pernah menikah di KUA.

                salam
                Rm Wanta

        11. Shalom Romo, saya mau tanya,saya sudah menikah tetapi suami tidak jujur kepada saya sebelum pernikahan dengan melakukan tindak pidana yaitu menggadaikan beberapa mobil orang lain, di mana hal tsb termasuk tindak pidana, selain itu dia juga banyak hutang, yang masalah tsb meledak stelah anak pertama kami lahir, dia ditekan dari mana2 untuk menyelesaikan hutang, sampai suatu ketika dia membenturkan kepala ke pintu, saya berniat membatalkan pernikahan kami karena sangat berbahaya bagi saya dan anak jika dia bertindak lebih berbahaya lagi, walaupun dia berjanji tidak akan mengulangi lagi tp saya tetap takut mengingat jml hutang tidak sedikit dan ke banyak pihak, selain itu ternyata uang tersebut juga digunakan untuk minum minuman keras bersama teman temannya, kebohongannya tidak bisa saya terima dan dampaknya pun membuat saya tidak aman untuk tinggal dengan suami saya lagi, mohon dibantu romo, apakah saya bisa membatalkan pernikahan saya? Untuk keamanan saya dan anak

          Terima kasih

          Nova

          • Shalom Nova, 

            Pertama- tama perlu diketahui bahwa mengusahakan pembatalan perkawinan merupakan jalan terakhir jika memang jalan memperbaiki hubungan kasih suami istri tidak dapat diusahakan karena salah satu pihak sudah sungguh merasa tertipu sudah sejak saat perkawinan dilangsungkan atau bahkan sejak sebelum perkawinan. Namun jika keadaan masih dapat diperbaiki tentu yang terbaik adalah mengusahakan keutuhan perkawinan, apalagi jika sudah ada anak- anak yang lahir dari perkawinan tersebut. Silakan Anda menghubungi Seksi Kerasulan Keluarga di paroki Anda, atau mengikuti retret pasangan suami istri dalam Gereja Katolik, seperti retret Tulang Rusuk maupun Marriage Encounter (ME); semoga dapat tercapai keterbukaan dan saling pengertian antara Anda berdua.

            Sebaliknya jika keadaan dan akibat penipuannya sudah sedemikian parah sehingga mengancam keselamatan Anda dan anak- anak, dan penipuan ini memang sudah dilakukannya sebelum Anda menikah dan Anda sama sekali tidak tahu menahu akan keadaan ini, maka Anda dapat menulis surat kepada keuskupan tempat di mana perkawinan Anda dahulu diteguhkan, untuk memohon pembatalan perkawinan Anda (Permohonan ini nanti akan diperiksa oleh pihak Keuskupan, dan dalam proses pemeriksaan kelak, Anda harus menyertakan bukti-bukti dan saksi-saksi). Silakan mendatangi pastor paroki Anda dan mohonlah bantuannya untuk menuliskan surat permohonan itu. Sebelumnya, silakan pula membaca adanya tiga hal yang membatalkan perkawinan menurut hukum Gereja Katolik, silakan klik, dan jika salah satu dari halangan/cacat itu terjadi dalam perkawinan Anda, maka Anda dapat menuliskannya sebagai dasar bagi permohonan Anda.

            Namun, sebelum melakukan langkah-langkah Anda, pertama- tama, berdoalah dan mohonlah pimpinan Roh Kudus agar Anda beroleh kebijaksanaan untuk mengambil keputusan sehubungan dengan perkawinan Anda. Biar bagaimanapun ingatlah bahwa Anda pernah mengucapkan janji setia kepadanya di hadapan Tuhan. Maka jika suami sudah sungguh bertobat dan meninggalkan kehidupannya yang yang lama, mungkin Andalah yang selayaknya mempunyai kesediaan untuk mengampuni dan memberikan kesempatan kepadanya untuk menunjukkan bukti pertobatannya, agar keluarga Anda tetap utuh.

            Saya turut berdoa semoga Tuhan Yesus memberikan Anda kekuatan dan kebijaksanaan untuk menjalani masa-masa yang sulit ini dan agar apapun yang Anda lakukan dan putuskan dapat sesuai dengan kehendak-Nya.

            Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
            Ingrid Listiati- katolisitas.org

        12. Salam Romo,
          Saya ingin membantu sodara saya dan ini pertanyaannya: Apakah seorang suami yang sudah ditinggalkan istrinya selama 6 tahun, dan menikah dengan pria Protestan, pergi begitu saja dan tanpa meninggalkan keturunan. Suami yang pertama ingin menikah lagi, apakah diperbolehkan?
          Terima kasih

          • Elias yth,

            Prinsipnya, seseorang diberi kebebasan untuk menentukan pilihan hidupnya. Namun sesuai aturan Gereja, bagi yang sudah menikah dan akan menikah lagi tentu dilarang atau karena ada halangan ikatan perkawinan sebelumnya. Maka persoalan ini harus diajukan ke tribunal perkawinan keuskupan melalui proses anulasi. Baru sesudah menerima keputusan bahwa pihak yang ditinggal pergi itu bebas, dia dapat menempuh perkawinan baru.

            Salam,
            Rm Wanta

            Tambahan dari Ingrid:

            Shalom Elias,

            Terus terang keterangan yang Anda berikan tidak lengkap, sehingga agak sulit bagi kami untuk memberikan masukan. Misalnya, mengapa sampai istri saudara Anda itu meninggalkan suaminya? Apa yang dilakukan oleh suaminya sampai sang istri berbuat demikian? Sebab umumnya dalam perkawinan jika terjadi perselisihan apalagi perpisahan, selalu melibatkan kesalahan kedua belah pihak, baik istri maupun suami. Jika ada perselisihan, apakah akar masalah dari perselisihan itu? Sebab adakalanya perselisihan itu mempunyai akar yang termasuk sebagai halangan perkawinan ataupun cacat perkawinan, sehingga perkawinan itu dapat dikatakan tidak sah sejak awal mula, (namun hal ini perlu dibuktikan terlebih dahulu); tetapi, dapat juga terjadi bahwa akar permasalahannya tidak menyangkut halangan ataupun cacat perkawinan. Dan jika hal ini yang terjadi maka perkawinan tersebut sudah sah diberikan, dan ikatannya tetap ada, walaupun salah satu pihak sudah meninggalkan pasangannya. Maka untuk hal ini, silakan Anda atau saudara Anda itu menyelidiki, apakah ada halangan ataupun cacat dalam perkawinannya itu. Silakan membaca di sini, untuk mengetahui, hal- hal apa saja yang membatalkan perkawinan menurut Hukum Gereja Katolik, silakan klik. Jika memang ada, silakan menghubungi Pastor paroki, dan mohon bimbingannya untuk dapat mengajukan permohonan pembatalan perkawinan kepada pihak Tribunal Keuskupan tempat di mana perkawinan diteguhkan. Nanti perkaranya akan diselidiki oleh Tribunal. Dan jika diperoleh bukti-bukti dan saksi yang mendukung permohonan tersebut, maka permohonan dapat dikabulkan. Baru setelah diperoleh surat pembatalan perkawinan tersebut (disebut anulasi), maka status saudara Anda itu bebas, dan setelah itu ia dapat menikah dengan sah di dalam Gereja Katolik.

            Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
            Ingrid Listiati – katolisitas.org

        13. Alexander Pontoh on

          saya ada 2 pertanyaan :

          1. Seingat saya. Di katolik… Sakramen pernikahan berlaku seumur hidup. Perceraian duniawi tidak dianggap cerai oleh Tuhan. Jadi… Jika saya menikah secara Katolik. Kemudian 1 tahun kemudian saya cerai secara duniawi. Gereja Katolik tidak akan mengakui perceraian saya itu.

          1 tahun kemudian setelah perceraian pertama saya itu. saya mau menikah lagi. jika saya tetap saja menikah. karena Gereja Katolik tidak mengakui perceraian saya yg pertama. maka… pernikahan saya yg kedua ini akan dianggap sebagai berzinah… apa benar seperti itu?

          Jika pasangan menjadi gila. Bisakah dianggap seperti sudah mati?

          Jika dianggap sudah mati. Bisakah mencari pasangan baru?

          2. di Matius 18:15-17 ada perkataan Yesus seperti ini :

          “Pandanglah dia sebagai orang yang tidak mengenal Allah”

          Pertanyaan saya adalah…

          Orang yg tidak mengenal Allah yg dimaksud oleh Yesus ini seperti apa ya?

          demikian pertanyaan saya… mohon kirim email pemberitahuan jika pertanyaan saya sudah dijawab

          • Shalom Alexander Pontoh,

            1. Tentang Sakramen Perkawinan.

            Anda benar bahwa sakramen perkawinan berlaku seumur hidup, jika sudah secara sah diberikan. Dalam keadaan ini, perkawinan tidak terceraikan; dan sekalipun terjadi perceraian secara sipil (anda katakan secara cerai duniawi), hal itu tidak menceraikan ikatan suami istri tersebut di hadapan Tuhan.

            Namun kekecualiannya di sini adalah jika ternyata sakramen perkawinan tersebut dengan tidak sah. Silakan membaca di sini ketiga hal yang membatalkan perkawinan menurut hukum kanonik Gereja Katolik, silakan klik. Pembatalan perkawinan ini bukan perceraian, tetapi menyatakan bahwa perkawinan yang sudah diteguhkan itu ternyata tidak sah karena tidak memenuhi syarat-syarat perkawinan.

            Kasus yang Anda tanyakan adalah jika istri menjadi gila. Menjadi gila umumnya tidak terjadi sesaat/ seketika. Maka yang perlu dibuktikan adalah apakah sebelum perkawinan sudah terdapat tanda-tanda ketidaknormalan itu, (karena jika ada maka itu dapat berkaitan dengan cacat konsensus). Jika sudah ada, Anda sebagai pasangannya (ini contoh saja) dapat menulis permohonan pembatalan perkawinan kepada pihak Tribunal keuskupan tempat di mana perkawinan diteguhkan. Sebelumnya silakan berkonsultasi dengan Romo paroki tempat Anda berdomisili.  Nanti pihak Tribunal akan memeriksa kasus tersebut. Jika melalui pemeriksaan dapat dibuktikan dengan bukti-bukti (surat keterangan dokter/ ahli jiwa) ataupun keterangan kuat dari para saksi, yang menguatkan permohonan Anda, maka permohonan Anda dapat dikabulkan oleh Tribunal. Proses pemeriksaan ini memang tidak instan/ segera. Baru jika surat permohonan pembatalan perkawinan dikabulkan, Anda dapat menikah, kali ini secara sah, di Gereja Katolik.

            Jika tanpa proses ini, atau sebelum proses ini selesai, Anda memutuskan untuk menikah lagi, maka ya, Anda melakukan pelanggaran sebagaimana dituliskan dalam Mrk 10:11-12, karena ikatan suami istri dalam perkawinan terdahulu itulah yang masih dianggap sah di hadapan Tuhan. Dalam keadaan ini, Anda tidak diperkenankan menerima Komuni kudus, karena kesaksian hidup perkawinan Anda yang tidak sesuai dengan ajaran iman Katolik.

            2. Mat 18:15-17: “Pandanglah dia sebagai orang yang tidak mengenal Allah”

            Demikianlah keterangan yang saya sarikan dari The Navarre Bible:

            Tuhan Yesus mengajak kita untuk bekerja bersamanya dalam hal pengudusan sesama, dengan cara mengkoreksi dalam suasana persaudaraan (fraternal correction). Mata terdapat kewajiban kita untuk mengkoreksi sesama atas dasar kasih.

            Terdapat tiga tingkatan koreksi: 1) sendirian/ empat mata; 2) melibatkan satu atau dua orang saksi; 3) di hadapan Gereja. Tahap pertama dilakukan jika menyangkut skandal atau dosa pribadi; di sini koreksi diberikan empat mata, untuk menghindari publikasi yang tidak perlu, agar tidak mempermalukan orang yang bersangkutan, dan agar ia dapat dengan lebih mudah melakukan perbaikan. Jika koreksi ini tidak mendatangkan hasil, maka dilakukan tahap yang kedua, dengan melibatkan satu atau dua orang lain yang kemungkinan dapat memberikan pengaruh terhadap orang yang bersangkutan. Tahap yang terakhir adalah koreksi yang formal secara yuridis dengan acuan otoritas Gereja. Jika orang itu tidak menerima koreksi ini, ia harus di- ekskomunikasi, yaitu dipisahkan dari persekutuan dengan Gereja dan sakramen-sakramennya.

            Maka ayat yang Anda tanyakan itu sesungguhnya menjadi dasar Gereja Katolik melakukan keputusan ekskomunikasi, yaitu pemisahan dari kesatuan dengan Gereja, karena keputusan orang itu sendiri yang tidak mau menerima dan mengenali kehendak Allah sebagaimana diajarkan oleh Gereja. Selanjutnya tentang ekskomunikasi, silakan klik di sini.

            Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
            Ingrid Listiati- katolisitas.org

             

             

          • Shalom Fransiskus,
            Dalam hal ini Gereja mengacu kepada hukum sipil yaitu anak itu tetaplah anak dari orang tua yang secara hukum menjadi orang tuanya, sebagaimana tertera di dalam akte kelahiran mereka.

            Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
            Ingrid Listiati- katolisitas.org

        14. Pertama tama, saya mau memperkenalkan diri saya. Nama saya Iin, usia 24 tahun.
          saya ingin menanyakan mengenai ‘kasus’ yg menimpa teman saya, yang seusia dengan saya.

          Mereka menikah pada 2010 yang lalu, dilandasi oleh rasa cinta tentunya. Menurut teman saya, sebelum menikah semua terlihat baik baik saja, terlihat keluarga yg baik, tapi tanpa disangka, setelah menikah (sampai hari ini) sang suami hanya memberikan kebutuhan jasmani/biaya rumahtangga hanya 2 (dua) kali.
          Selain itu, saat sang istri sedang mengalami masalah dalam kandungannya (muncul flek), sang suami dan keluarga sang suami “mengintimidasi” sang istri, karena pada saat itu, sang istri tidak bisa ikut acara ‘hiking’ di salah satu perbukitan karena sang istri diwajibkan istirahat selama 1 minggu oleh sang dokter di rumah sakit. Pada saat flek ini pun, sang istri mendapat kekerasan “psikologis” dengan dikata-katai dengan kasar, serta TIDAK MEMBIAYAI ketika sang istri di rumah sakit.

          Pada saat sang istri hamil memasuki bulan ke tujuh, sang suami ‘meninggalkan’ sang istri untuk tinggal di kota lain, dengan alasan untuk mengejar pelatnas. Sampai akhirnya, ketika sang istri terpaksa melahirkan secara caesar pun, sang suami tidak menunggui, dan hanya mampir selama 2 jam di rumah sakit. Selama di rumah sakit pun, sang istri juga mendapat perlakuan yang tidak sepantasnya dari sang suami. Untuk melahirkan ini pun, sang istri juga mengeluarkan dana sendiri.

          Ternyata, selama menikahpun, sang suami ini memiliki ‘wanita lain’, dan setiap ada pertengkaran selalu mengancam dengan CERAI, seolah-olah lembaga perkawinan pun hanya dibuat mainan. Sang istri sudah berusaha mengalah, dan berusaha ngga ambil pusing atas masalah itu (karena dokter menyatakan teman saya ini stres sehingga ketika hamil 9 bulan pun nampak seperti orang hamil 4 bulan dan sungsang). Alasan sang suami memperlakukan sang istri dengan buruk pun juga karena kata mama si suami, si istri ini bukan anak yang baik, tidak menurut (karena sang istri tidak mau disuruh periksa ke bidan, maunya periksa ke dokter kandungan), dan nampaknya sang suami pun selalu menuruti apapun kata si mami. Sang suami pun juga sudah berpesan kepada sang istri, jika si anak bertanya papanya di mana, disuruh bilang bahwa papanya sudah mati. Tetapi, surat yang berkaitan dengan anak tersebut justru ‘disandera’ oleh keluarga sang suami (disebut disandera karena diminta berkali kali tetapi tidak mau memberikan – dan memang menyatakan TIDAK AKAN DISERAHKAN). Sekarangpun, sedang akan mengurus perceraian secara hukum/negara, tetapi sang suami tidak mau mengurus secara gereja

          Pertanyaan saya:
          1. Apakah bisa sang istri mengurus sendiri mengenai perceraian tersebut? Dilengkapi dengan bukti percakapan mereka di telepon seluler?
          2. Bagaimanakah prosedur pembatalan pernikahan? Karena sang suami tidak mau mengurus perceraian, dan kebetulan sang suami juga masih di luar kota
          3. Bagaimanakah dampaknya bagi sang istri di masa depan (bila dia bertemu dengan pria lain – alias menikah lagi), seandainya pembatalan pernikahan ini tidak diurus?

          Terima kasih atas saran dan jawabannya. Semoga saran dan jawabannya akan membantu teman saya menghadapi masalah yang dihadapi saat ini. Terima kasih banyak

          • Shalom Iin,

            Nampaknya teman Anda dan suaminya membutuhkan bantuan konseling keluarga. Walau kisah Anda terbatas, namun dari yang disampaikan sepertinya perkawinan dilaksanakan awalnya tidak ada masalah/ halangan, dilandasi cinta, artinya tidak ada cacat konsensus. Jika perkawinan diberkati secara Katolik, maka memenuhi syarat kanonik, dan perkawinan itu sah.

            Bahwa setelah itu ada masalah, maka menjadi perlu ditelusuri, mengapa demikian. Apakah karena memang suami belum mampu bekerja karena ia seorang atlet (karena mengejar pelatnas?), atau karena keadaan ekonomi yang memang sangat pas-pasan, atau karena memang sifatnya yang keras? Atau hal lain? Hal ini yang perlu digali dalam komunikasi suami istri. Sebab nampaknya fakta bahwa surat yang berkaitan dengan anak ditahan oleh pihak keluarga suami menunjukkan itikad yang positif untuk mempertahankan anak itu, dan dengan demikian juga secara implisit mereka juga tidak menghendaki perceraian antara teman Anda dan suaminya.

            Saya tidak tahu sejauh mana teman Anda itu akan mengurus perceraian, tetapi jika belum terlambat, maka izinkan saya menganjurkan agar janganlah dilakukan, sebab siapa tahu masih ada jalan keluarnya untuk mempertahankan keutuhan keluarga, terutama demi kebaikan anak mereka. Di dalam Gereja Katolik tidak ada istilah perceraian. Jika perkawinan sudah sah maka tidak dapat diceraikan ataupun dibatalkan. Kekecualian adalah jika memang sejak awal perkawinan sudah tidak memenuhi syarat untuk disebut sebagai perkawinan yang sah. Ketiga hal yang membatalkan perkawinan adalah: 1) halangan menikah, klik di sini, 2) cacat konsensus, dan 3) cacat forma kanonika, tentang keduanya klik di sini. Maka, jika teman Anda menemukan adanya halangan/ cacat yang terjadi sebelum atau pada saat menikah, baru ia mempunyai dasar yang kuat untuk menulis surat permohonan pembatalan perkawinan (libellus) untuk dikirimkan ke pihak tribunal keuskupan tempat perkawinan mereka dulu diteguhkan. Selanjutnya pihak Tribunal akan memeriksa, berdasarkan bukti-bukti dan saksi- saksi, dan hanya jika terbukti, permohonan dapat dikabulkan, dan pihak tribunal akan mengeluarkan surat keputusan pembatalan perkawinan tersebut.

            Berikut ini jawaban pertanyaan Anda:

            1 & 2. Maka, jika teman Anda menemukan dasarnya (dari ketiga hal di atas), barulah ia dapat menuliskan surat permohonan tersebut. Prosedurnya, temuilah pastor paroki, dan sampaikanlah kisah perkawinan tersebut. Sehabis itu tulislah surat libelus, dengan bantuan pastor/ pastor paroki turut mengetahui. Sampaikanlah juga kanon- kanon KHK (Kitab Hukum Kanonik) yang mendukung permohonan tersebut. Silakan mendengarkan arahan dari pastor paroki.

            3. Jika surat pembatalan diperoleh, maka teman Anda dan suaminya tidak lagi terikat perkawinan, dan keduanya dapat bebas menikah dengan orang lain, kali ini secara sah. Namun jika surat pembatalan tidak diperoleh, maka perkawinan terdahulu tetap dianggap sah, dan baik sang istri maupun suami, meskipun mereka memutuskan untuk berpisah, tidak dapat menikah lagi dengan orang lain, sebab di hadapan Tuhan mereka tetap suami istri dan terikat dalam perkawinan.

            Jika pembatalan perkawinan tidak diurus namun salah satu atau keduanya memilih untuk menikah lagi, maka mereka sebenarnya mengingkari janji perkawinan suci di hadapan Tuhan, sehingga dalam keadaan dosa berat ini, mereka tidak dapat menerima Ekaristi/ Komuni kudus.

            Akhirnya, sekiranya belum terlambat, izinkan kami menganjurkan agar baik suami dan istri mengikuti retret Tulang Rusuk yang akan diadakan oleh Rm Halim SVD, klik di sini, atau mengikuti week-end Marriage Encounter, klik di sini. Saya telah melihat sendiri banyak keluarga terselamatkan dengan mengikuti retret ini. Semoga hal ini dapat terjadi juga dalam keluarga teman Anda.

            Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
            Ingrid Listiati- katolisitas.org

        15. Pertama-tama saya mau memperkenalkan diri saya, nama saya Indi– saya berusia 34 th.

          Romo, saya mau menanyakan bolehkah saya menikah dengan seorang pria yang sebelumnya pernah bercerai?
          Mereka menikah di gereja presbyterian, setelah 20 th pernikahan istrinya selingkuh dengan pria lain dan mereka bercerai. Mengenai perselingkuhan isterinya saya mendapatkan informasi bukan hanya dari pria itu saja tapi juga dari teman-teman dekat isterinya.
          Saat ini saya menjalin hubungan yang cukup serius dengannya tapi sebelum melanjutkan ke jenjang pernikahan saya ingin mendapatkan informasi yang benar mengenai hal ini supaya saya tidak salah mengambil keputusan.

          Romo, terima kasih untuk penjelasannya.

          • Shalom Indira,

            Jika teman Anda itu dan istrinya dibaptis secara sah, maka sesungguhnya perkawinan mereka adalah sakramen (lih. KGK 1601, KHK Kan 1055,1), walaupun tidak diberkati di Gereja Katolik. Artinya perkawinan sebagai sakramen adalah bahwa dalam perkawinan itu suami menjadi tanda kehadiran Kristus bagi istrinya, dan sebaliknya, dan karena itu tidak terceraikan sampai mati. Kenyataan bahwa sekarang istrinya selingkuh,  tidak serta merta membatalkan ikatan perkawinan mereka di hadapan Tuhan. Kekecualian hanya dapat diberikan, jika ternyata dapat dibuktikan bahwa perkawinan tersebut tidak sah sejak awal mula; dan melalui penyelidikan Tribunal kemudian mengabulkan permohonan pembatalan perkawinan yang diajukan. Namun terus terang saja, saya agak ragu bahwa ijin pembatalan perkawinan dapat diperoleh, sebab perkawinan sudah berjalan begitu lama selama 20 tahun, mengapakah baru terjadi akibatnya sekarang.

            Silakan membaca tentang topik ini di sini, silakan klik. Jika tidak ada halangan/ cacat pada pernikahan teman anda itu yang sudah ada sejak sebelum dan pada saat menikah, maka artinya, ikatan perkawinannya itu sah, dan tidak dapat dibatalkan. Dan dengan demikian, jika ia bermaksud menikah lagi, maka perkawinan itu tidak dapat diberkati di Gereja Katolik.

            Sikap Anda sudah benar dengan mempertimbangkan hal ini sebelum mengambil keputusan. Janganlah sampai Anda menjadi pihak yang menceraikan apa yang sudah dipersatukan di hadapan Tuhan. Sebab bukannya tidak mungkin, suatu hari istrinya dapat bertobat dan kembali kepada sang suami.

            Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
            Ingrid Listiati- katolisitas.org

            • Dear Ibu,

              Bagaimana dengan sabda Tuhan Yesus sendiri bahwa perceraian diijinkan dengan alasan perselingkuhan? (Matius brp saya lupa) Karena saya bertemu dan menjalin hubungan pada saat mereka sudah bercerai dan bukan karena saya maka mereka bercerai.
              Kalau keadaannya sekarang bahwa isterinya sudah menikah lagi apakah dia tetap tidak mempunyai hak untuk melanjutkan hidupnya dengan berkeluarga lagi?
              Apa maksudnya bahwa perkawinan tidak dapat diberkati di gereja Katholik? Dan apa konsekuensinya?

              Terima kasih untuk penjelasannya
              Indira

              • Shalom Indira,

                Ayat yang Anda maksud mungkin adalah, “Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.” (Mat 19:9)

                Gereja Katolik mengambil penjelasan St. Clemens dari Alexandria (150-216),tentang ayat tersebut, yaitu pada ayat Mat 5:32, dan 19:9,  ‘zinah’ di sini artinya adalah perkawinan antara mereka yang sudah pernah menikah namun bercerai, padahal pasangannya yang terdahulu itu belum meninggal (St. Clement of Alexandria, Christ the Educator, Bk. 2, Chap.23). Jadi, dalam hal ini, Yesus mengakui perkawinan yang pertama sebagai yang sah, dan perkawinan kedua itulah yang harusnya diceraikan agar pihak yang pernah menikah secara sah dapat kembali kepada pasangan terdahulu.

                Jadi jika perkawinan teman anda dan istrinya yang terdahulu itu sudah sah, maka ikatan perkawinannya itu tetap ada di hadapan Tuhan, walaupun istrinya sudah menikah lagi secara sipil dengan orang lain. Kekecualian adalah jika perkawinan yang terdahulu tidak sah karena adanya halangan/ cacat seperti telah dijabarkan di sini, silakan klik. Jika ada halangan/ cacat dalam perkawinannya yang terdahulu, maka ia berhak mengajukan surat permohonan pembatalan perkawinan ke pihak Tribunal Gereja Katolik. Jika setelah melalui pemeriksaan Tribunal diperoleh bukti ataupun saksi yang mendukung hal tersebut, maka permohonan dapat dikabulkan; dan setelah memperoleh surat keputusan Tribunal tentang pembatalan perkawinan tersebut, ia dapat menikah secara sah di Gereja Katolik.

                Sebaliknya jika surat pembatalan perkawinan tidak diberikan, atau kalau sebenarnya tidak ada halangan/ cacat dalam perkawinannya, maka perkawinan itu tetap sah, dan tidak dapat dibatalkan. Dalam kondisi ini ia tidak dapat menikah lagi secara Katolik atau Gereja Katolik tidak dapat memberkati perkawinan yang dilakukan dalam keadaan ia masih terikat dengan istrinya dalam perkawinan yang terdahulu (sebab Gereja Katolik tetap mengakui perkawinannya yang terdahulu sebagai yang sah di hadapan Tuhan). Jika misalnya Anda tetap menikahi dia dalam keadaan seperti ini, maka sesungguhnya perkawinan Anda dengannya itu tidak sah menurut Gereja Katolik, dan karena itu, setelahnya Anda tidak dapat menerima Ekaristi/ Komuni di dalam Gereja Katolik. Silakan anda membaca makna perkawinan Katolik di artikel: Indah dan Dalamnya Makna Sakraman Perkawinan Katolik, silakan klik, dan Seruan Apostolik Bapa Paus Yohanes Paulus, Familiaris Consortio, silakan klik. Dalam seruan Apostolik itu, Paus menyatakan demikian untuk kasus orang yang sudah menikah, namun kemudian bercerai dan menikah lagi, demikian:

                Kondisi khusus selanjutnya adalah pasangan yang terpaksa berpisah. Perpisahan [bukan perceraian] ini sesungguhnya harus dianggap sebagai langkah terakhir, jika segala cara untuk berdamai terbukti tidak berhasil. Keadaan kesepian maupun kesulitan lainnya mungkin sekali dihadapi oleh pihak yang tidak bersalah. Dalam hal ini pelayanan pastoral harus membantu mereka untuk tetap memelihara kesetiaan, walaupun sulit, dan untuk menumbuhkan kesadaran untuk mengampuni, dan jika mungkin, untuk rujuk dengan pasangannya. Jika sampai terjadi perceraian [secara sipil], tidak diperkenankan bagi masing- masing untuk menikah lagi, namun mengkhususkan diri untuk melaksanakan tugas- tugas keluarga dan tanggung jawabnya sebagai seorang Katolik (lih. FC 83). Namun adakalanya orang- orang yang mengajukan cerai sipil ini bermaksud untuk menikah lagi, walau tidak di Gereja Katolik. Dalam kondisi ini, Gereja kembali menegaskan ketentuan yang berdasarkan Kitab Suci bahwa mereka yang telah menikah secara sah, namun bercerai dan kemudian menikah lagi tidak diperkenankan untuk menerima Komuni kudus (lih. FC 84). Mereka dilarang untuk menerima Komuni karena status dan kondisi hidupnya bertentangan dengan kesatuan kasih antara Kristus dengan Gereja-Nya -yang total dan setia seumur hidup- yang ditandai dengan Ekaristi. Jika mereka diperbolehkan menerima Komuni, maka umat akan dibawa kepada kebingungan tentang ajaran Gereja tentang perkawinan yang tak terceraikan. Jika sampai mereka sungguh menyesal dan bertobat dari perbuatan mereka ini, mereka dapat mengaku dosa dalam sakramen Pengakuan Dosa, yang dapat membuka jalan kepada Ekaristi, asalkan mereka siap melaksanakan konsekuensinya, yaitu untuk tidak hidup sebagai suami istri dengan pasangan yang sekarang (live in perfect continence),  artinya pantang melakukan tindakan- tindakan yang layak hanya bagi suami istri (lih. FC 84). Penghormatan yang tinggi akan makna perkawinan Katolik inilah yang melarang para imam untuk melakukan upacara perayaan apapun untuk mereka yang bercerai namun kemudian menikah lagi, sebab upacara itu menimbulkan kesan adanya perkawinan sah yang berikutnya, dan ini akan menimbulkan kebingungan pada umat (lih. FC 84).

                Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga Roh Kudus membimbing anda untuk mengambil keputusan. Mungkin inilah saatnya bagi Anda untuk membuktikan sejauh mana Anda mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan Anda, sehingga Anda  dapat taat kepada kehendak-Nya, walaupun mungkin itu melibatkan pengorbanan dari pihak Anda.

                Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
                Ingrid Listiati- katolisitas.org

                • Dear Ibu,

                  Yang saya masih bingung, bagaimana kami mendapat pembatalan perkawinan yg dulu padahal mereka tidak menikah di Gereja Katholik? Karena kami juga berkonsultasi tentang masalah ini dengan pendeta di gereja tempat mereka dulu menikah, dan mereka tidak mengenal pembatalan perkawinan mengacu pada Matius 19:9 bahwa isterinya telah benar2 terbukti berselingkuh sehingga tidak ada masalah untuk menikah lagi.

                  Salam
                  Indira

                  • Shalom Indira,

                    Umat Katolik berpegang kepada Sabda Kristus dalam Mat 16:19, 18:18, bahwa Kristus memberikan kuasa kepada para rasul untuk ‘mengikat dan melepaskan’, dan kuasa ini diturunkan juga kepada para penerus rasul yaitu para uskup di Gereja Katolik. Hal ‘mengikat dan melepaskan’ ini berkaitan dengan ajaran tentang iman dan moral maupun ketentuan yang mendasari sesuatu perbuatan dapat disebut sebagai dosa atau tidak. Dalam hal ini, Uskup dan para pembantunya dalam Tribunal keuskupan diberi kuasa oleh Tuhan untuk menyatakan suatu perkawinan sah (dan artinya tetap mengikat seumur hidup) atau tidak. Dengan demikian, meskipun perkawinan teman anda yang terdahulu itu tidak diadakan di Gereja Katolik, namun jika memang terdapat hal- hal yang menunjukkan bahwa perkawinannya yang terdahulu itu tidak sah, dan ia ingin mengajukan permohonan pembatalan perkawinan karena ia ingin menikah dengan Anda yang Katolik, maka ia dapat mengajukan permohonan tersebut, yang disebut libellus, yang ditujukan kepada pihak Tribunal Keuskupan. Mohonlah bantuan pastor paroki untuk membantu Anda membuat surat libellus tersebut. Jika setelah diterima dan diperiksa oleh pihak Tribunal, ada dasar, bukti dan saksi yang mendukung adanya ketidaksah-an perkawinan tersebut maka pihak keuskupan dapat mengabulkan permohonan tersebut. Setelah surat itu keluar, baru Anda dapat menikah secara sah dengan dia di Gereja Katolik. Tanpa persetujuan dari pihak Tribunal keuskupan, maka Anda tak dapat menikah dengannya di Gereja Katolik, sebab bagi Gereja Katolik, sesungguhnya ikatan perkawinan mereka sebelumnya itulah yang sah di hadapan Tuhan, dan karena itu, tidak terceraikan.

                    Memang gereja- gereja non- Katolik ada yang menginterpretasikan Mat 19:9 dengan adanya izin untuk perceraian jika terjadi kasus perzinahan. Tetapi bukan ini sesungguhnya yang dimaksud, seperti sudah saya sampaikan pada jawaban sebelumnya. Gereja Katolik, berpegang teguh pada ayat- ayat lain dalam Kitab Suci yang tidak mengizinkan perceraian, dan tidak mengartikan Mat 19:9 sebagai izin untuk bercerai karena salah satu berzinah. Kita tidak dapat melepaskan satu ayat, lalu menginterpretasikannya menurut kehendak/ kebutuhan kita, dan melepaskannya dari keseluruhan pesan dalam Kitab Suci. Kristus tidak akan memerintahkan sesuatu untuk kemudian disangkal-Nya sendiri. Maka jika Ia sudah berkata bahwa “seorang laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan menjadi satu daging dengan istrinya…. apa yang telah dipersatukan Allah tidak dapat diceraikan oleh manusia” (Mat 19:5), tidak mungkin Ia mempertentangkan DiriNya sendiri dengan memberikan izin orang untuk bercerai, karena dengan demikian artinya Ia mengijinkan bahwa apa yang telah dipersatukan Allah boleh diceraikan manusia. Yesus tidak mungkin menyangkal perkataan-Nya sendiri (lih. 2 Tim 2:13). Dengan demikian interpretasi ‘zinah’ dalam Mat 19:9 bukan setelah orang menikah secara sah di hadapan Tuhan lalu boleh bercerai karena zinah. Interpretasi yang benar adalah yang diajarkan oleh Bapa Gereja, yaitu yang boleh diceraikan adalah perkawinan yang tidak sah (karena zinah) agar orang tersebut dapat: 1) menikah di hadapan Tuhan secara sah 2) atau agar kalau orang tersebut sudah menikah dengan orang lain sebelumnya secara sah di hadapan Tuhan, maka orang itu dapat kembali kepada pasangannya yang sah, dengan menceraikan pasangannya yang sekarang, yang tidak sah di hadapan Tuhan.

                    Demikian, Indira. Saya sudah memberitahukan kepada Anda ketentuan Gereja Katolik tentang hal yang Anda tanyakan. Semoga Roh Kudus membimbing Anda untuk mengambil keputusan yang sesuai dengan kehendak Allah.

                    Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
                    Ingrid Listiati- katolisitas.org

                    • Dear Ibu..

                      Terima kasih banyak untuk penjelasannya. Kita akan mencoba mendapatkan surat tsb, saya percaya kalau co itu memang dari Tuhan pasti Tuhan sendiri yang akan membuka jalannya dan mempersatukan kami.

                      Salam
                      Indira

                      [Dari Katolisitas: silakan terlebih dahulu menuliskan surat libellus untuk dikirimkan ke Tribunal Keuskupan Anda, jika memang ada dasar yang dapat diperhitungkan bagi permohonan tersebut.]

        16. Kepada yth
          Romo Wanta….
          saya sudah 13 thn single parent. Saya pisah / meninggalkan mantan suami karena kasus KDRT sewaktu anak saya masih usia 4th. Kami ber2 Katolik. Kami menikah Katolik, tetapi kami tidak pernah mencatatkan pernikahan kami di catatan sipil. Sementara mantan suami saya sudah menikah lagi (ini yang saya tahu dari bekas tetangga saya di lingkungan rumah kami dulu tinggal & dia menikah dengan cara alirah Yehofa, karena istrinya Muslim dan masuk Yehofa, sedang mantan suami saya sendiri dulu tidak rajin ke gereja, jadi terjeratlah mereka ke aliran tsb)

          Yang saya mau tanyakan….seandainya suatu hari saya ingin menikah lagi bagaimana caranya? Sedangkan saya pernah diminta oleh pastor paroki saya belasan tahun lalu untuk cerita dan dimasukkan ke dalam CD. Saya sudah berikan ke pastor paroki saya & katanya sudah dikirim ke Roma, tapi sampai saat ini setelah belasan tahun tidak pernah ada kabar, malah pastor parokinya telah meninggal dunia.

          Saya mau tanya bila ada kasus seperti di bawah ini, bagaimana yang harus dilakukan?
          1.Kalau saya mau menikah lagi dengan laki2 yang duda & Katolik apakah bisa? Caranya bagaimana?
          2.Kalau saya mau menikah lagi dengan laki2 yang belum menikah& Katolik juga, apakah juga bisa? Dan caranya bagaimana? Karena pihak laki2 kan belum pernah menikah, apakah harus mengikuti pelajaran menikah dulu? Sedangkan saya kan dahulu pernah.

          Proses pembatalan pernikahan memakan waktu berapa lama? Apakah cukup saya sendiri dan saya harus datang ke mana u/ melakukan pembatalan pernikahan? Dan berkas2 apa saja yang harus saya bawa.

          Terima kasih atas perhatiannya
          hormat saya,
          desi

          • Shalom Desi,

            Pertama- tama perlu diketahui bahwa walaupun Anda tidak mencatatkan perkawinan Anda secara sipil, namun jika perkawinan Anda sudah diberkati secara sah di Gereja Katolik, maka perkawinan Anda sifatmya sakramen dan tidak terceraikan. Jika faktanya sekarang Anda berpisah dengan suami Anda, maka itu tidak otomatis menjadikan perkawinan Anda batal sehingga Anda dapat menikah lagi secara sah menurut Gereja Katolik. Sebab jika perkawinan Anda yang terdahulu adalah perkawinan Katolik yang sah, maka ikatan itu tidak dapat dibatalkan. Yang menjadi pertanyaan memang adalah apakah perkawinan Anda yang terdahulu itu memenuhi syarat untuk disebut sebagai perkawinan yang sah. Perlu diketahui bahwa ada tiga hal yang dapat menjadikan perkawinan tidak sah, yaitu: 1) halangan menikah, silakan klik di sini; 2) cacat konsensus, dan 3) cacat forma Kanonika, (tentang kedua hal ini), klik di sini

            Mohon diketahui bahwa jika ketiga hal tersebut terjadi, maka terjadinya adalah pada saat menikah atau bahkan sebelum menikah, dan bukan sesudahnya. Maka jika masalah Anda sudah ada sebelum perkawinan (kekerasan/ abuse), dan kemudian timbul kembali pada saat perkawinan dan sejak awal perkawinan, maka kemungkinan Anda mempunyai dasar untuk mengajukan surat permohonan  pembatalan perkawinan. Seperti misalnya, jika anda menemukan adanya halangan/ cacat itu, misalnya kalau terdapat kelainan psikis dari suami (yang sudah terjadi sebelum menikah dan anda mempunyai bukti- bukti/ saksi-saksi yang menguatkan hal ini) yang menyebabkan sampai dia melakukan abuse/ KDRT atau kalau Anda ditipu/ tertipu dst sebagaimana yang termasuk dalam salah satu halangan/cacat konsensus tersebut, maka Anda dapat menyebutkannya dalam surat libelus (permohonan pembatalan perkawinan). Surat permohonan pembatalan perkawinan ditujukan kepada Tribunal Keuskupan di mana perkawinan diteguhkan- tidak perlu sampai ke Roma/ Vatikan. Namun jika tidak halangan/ cacat dalam perkawinan Anda, maka sesungguhnya Anda tidak mempunyai dasar untuk mengajukan surat pembatalan tersebut.

            Hanya setelah anda melalui proses penyelidikan (bisa memakan waktu sekitar 2 tahun) dan hanya jika Tribunal telah meluluskan permohonan Anda (perkawinan Anda yang terdahulu dinyatakan batal), baru anda dapat melangsungkan perkawinan, kali ini secara sah, dalam Gereja Katolik. Namun tentu calon Anda harus yang bebas dari ikatan perkawinan. Maka yang dapat menikahi Anda secara sah adalah pria lajang ataupun duda karena istrinya terdahulu meninggal dunia (bukan yang cerai sipil, namun sebenarnya masih terikat perkawinan terdahulu, karena Gereja Katolik tidak mengakui adanya perceraian). Jika setelah anulasi diperoleh, kemudian Anda akan menikah dengan pria lajang, maka ya, anda perlu mengikuti lagi kursus persiapan perkawinan, sesuai dengan yang disyaratkan.

            Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
            Ingrid Listiati- katolisitas.org

             

          • Perlu saya informasikan di sini, bahwa semasa saya berpacaran dan akan menikah, saya baru tahu kalau mantan suami saya pernah menikah sipil tapi tidak menikah gereja, dan pernikahan sipil itu sendiri juga sudah ada surat cerainya, maka dari itu dia tidak pernah menikahi saya secara sipil.

            Dan 1 lagi, mantan suami sudah menikah lagi sejak bertahun-tahun lamanya. Jadi, kami memang tidak mungkin lagi bersatu dan saya pribadi sudah sangat trauma dengan perlakuan KDRT dia 13 thn yang lalu.

            Saya pernah konsultasi dengan pastor paroki, kebetulan pastor tsb juga sekarang tidak ada lagi di paroki tsb. Beliau mengatakan kepada saya u/ menulis di CD dan akan dikirim ke Roma. Mengenai ini saya tidak pernah tahu apakah CD tsb sudah dikirim/ belum, karena tidak ada konfirmasinya bertahun2 lamanya. Beliau juga mengatakan kalau mantan suami seperti itu, saya diperbolehkan u/ menikah lagi.

            Jujur saya ingin sekali mempunyai jodoh seiman, tapi selama ini selalu saya mencoba cari yang Muslim supaya mudah u/ menikah lagi, tapi sudah lama ini saya sudah putus dengan pacar saya.

            • Shalom Desi,

              Jika anda memasuki perkawinan dalam keadaan tertipu (yaitu bahwa suami sudah pernah menikah, namun anda tidak mengetahuinya karena ia tidak memberitahu anda; dan karena alasan ini ia tidak bersedia menikahi anda secara sipil), maka sepertinya ada halangan menikah di sini. Maka anda berhak mengajukan permohonan pembatalan perkawinan ke pihak Tribunal Keuskupan tempat di mana perkawinan diteguhkan, atau Keuskupan tempat anda sekarang berdomisili. Silakan memohon bantuan dari romo paroki, untuk menuliskan permohonan libellus (permohonan pembatalan perkawinan), dan sedapat mungkin sampaikan kisahnya yang lengkap, dan bukti- buktinya jika ada, yaitu surat kawin dari suami anda sebelumnya, sertakan juga kanon dari KHK yang dapat dipakai sebagai dasar permohonan anda yaitu halangan menikah (lih. KHK. kan 1085):

              KHK 1085    

              § 1     Tidak sahlah perkawinan yang dicoba dilangsungkan oleh orang yang terikat perkawinan sebelumnya, meskipun perkawinan itu belum consummatum.
              § 2     Meskipun perkawinan yang terdahulu tidak sah atau telah diputus atas alasan apapun, namun karena itu saja seseorang tidak boleh melangsungkan perkawinan lagi sebelum ada kejelasan secara legitim dan pasti mengenai nulitas dan pemutusannya.

              Demikian, silakan anda menghubungi pastor paroki anda, semoga anda dapat memperoleh bantuan yang diperlukan.

              Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
              Ingrid Listiati- katolisitas.org

        17. halo Romo
          saya ingin bertanya, saya dan istri saya sama sama Katolik, kami telah menikah selama 5 tahun dan sampai saat ini belum memiliki keturunan, hal ini disebabkan karena ketidakmampuan istri dalam hal fisik maupun psikis, jadi selama ini tidak berhubungan suami istri, pengobatan melalui jalur medis dan alternatif sudah saya lakukan, bisakah saya mengajukan anulasi?

          • Ferdy yth,

            sebaiknya Anda berkonsultasi dahulu, jangan buru buru mengajukan anulasi. Coba ke pastor paroki atau kalau Anda di Jakarta, silahkan ke Komisi Keluarga, nanti akan dibimbing. Semoga Anda tetap setia dalam perkawinan.

            Salam
            Rm Wanta

            Tambahan dari Ingrid:

            Shalom Ferdy,

            Sesungguhnya infertilitas bukanlah hal yang menggagalkan perkawinan. Yang menjadi halangan bagi perkawinan adalah impotensi, artinya jika salah satu dari pasangan tidak dapat melakukan hubungan seksual dan keadaan tersebut tidak dapat diobati. Silakan membaca lebih lanjut di artikel ini, silakan klik.
            Maka dalam kasus anda, silakan anda melihat, apakah sebenarnya yang menjadikan istri anda tidak mampu secara fisik maupun psikis untuk melakukan hubungan suami istri? Dapatkah hal tersebut diterapi/diobati? Apakah keadaan tersebut sudah ada sebelum perkawinan dan bukan setelah perkawinan? Apakah sejak awal perkawinan, anda belum pernah melakukan hubungan seksual dengan istri anda? Apakah anda mempunyai bukti bahwa istri anda sakit secara fisik dan psikis/ mental tersebut? Apakah istri anda memang tidak ‘normal’ kesehariannya, sehingga tidak dapat bekerja dan melakukan tanggungjawabnya yang lain sebagai istri dan sebagai orang dewasa yang normal?
            Sebab jika memang ternyata semuanya negatif, maka mungkin anda mempunyai dasar mengajukan permohonan anulasi, tetapi jika tidak semuanya negatif, maka sebenarnya yang anda butuhkan adalah konseling keluarga/ suami istri. Sebab misalnya halangan dari istri anda itu adalah karena dia merasa tegang, takut atau nervous, dan ini selain memerlukan terapi, juga memerlukan kesabaran anda sebagai suami.

            Mohonlah bimbingan Allah untuk dapat melakukan segala sesuatunya sesuai dengan kehendak-Nya dalam perkawinan anda.

            Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
            Ingrid Listiati – katolisitas.org

        18. Yoseph Jarot on

          Yang terhormat Romo,

          Saya seorang Katholik, saya mempunyai masalah perkawinan. Dulu sebelum menikah dengan saya, istri saya seorang Muslim, setelah berkenalan dan berpacaran dengan saya melalui sebuah proses dia mau ikut saya untuk masuk ke agama Katholik. Setelah melalui pembelajaran agama, kami berdua menikah secara hukum gereja Katholik tahun 1995. Pada waktu itu kami berdua tinggal di Sorong Irian Jaya (Papua) karena orang tua istri saya berdomisili di Sorong IRIAN JAYA.

          Tahun 2000 kami berdua pulang ke Jawa tepatnya di Solo, Jawa Tengah dan menetap sama ibu saya (ayah saya sudah meninggal dunia). Tahun 2001 kami berdua dikaruniai anak perempuan yang manis, rumah tangga kami bahagia saat kehadiran anak yang sudah kami berdua nanti-nantikan selama hampir 7 tahun. Tahun 2006 adalah awal dari hancurnya rumah tangga kami, tiap malam istri saya sering bertelepon dengan seseorang yang kalau ditanya masih keponakannya yang tinggal di Sorong, komunikasi tersebut hampir tiap hari istri saya lakukan, saya tidak menaruh curiga sedikitpun karena istri saya bicara dengan keponakannya sendiri dan saya sendiri pernah sekali bicara sama keponakannya (laki-laki) itu.

          Beberapa bulan kemudian kakak perempuan istri saya memberitahukan pada istri saya kalau ibunya sakit keras di Sorong dan istri saya diharuskan untuk pulang sebentar ke Sorong. Kami berdua membicarakan hal tersebut, sambil melihat perkembangan kesehatan ibu dari istri saya, istri saya mengatakan kalau ibunya sudah sehat dia tidak akan pergi ke Sorong untuk tengok ibunya. Kemudian kakak perempuannya mengabarkan kalau ibunya kesehatannya sudah membaik, tapi kemudian istri saya bilang kalau dia ingin pulang ke Sorong dengan alasan tengok ibunya di Sorong selama 3 bulan, tapi saya mencegah karena ibunya sudah sehat lagi terbentur masalah beaya transport ke Sorong yang mahal, tetapi dia tetep ngotot ingin pulang, dengan sangat terpaksa saya mengijinkan pulang dengan catatan cuma selama 3 bulan dan istri saya menyanggupinya.

          Selama bulan berjalan hubungan kami tetap jalan lewat telepon, tetapi lama kelamaan setelah 3 bulan terakhir istri saya mengatakan kalau dia tidak ingin kembali ke Jawa dan ingin tinggal sama kedua orang tuanya, saya sangat kecewa dan sempat marah, karena dia mempermainkan saya. Bulan-bulan selanjutnya kabar yang sangat mengejutkan bahwa dia ingin menikah lagi dengan keponakannya yang selama ini dia ajak bicara lewat telepon waktu di Jawa, saya kecewa, marah dan menyesal kenapa ini terjadi pada saya.

          Beberapa bulan kemudian saya diberitahu oleh adik dan kakak istri saya kalau istri saya mau menikah dan sudah masuk agama Islam kembali, istri saya menikah bulan April 2007, setelah itu komunikasi kami berdua putus. Tapi adik istri saya tetap komunikasi dengan saya, setelah beberapa tahun kemudian saya dengar dari adiknya kalau suami kakaknya kerja di Manado dan sudah tidak ada kabar beritanya selama 1 tahun.

          Tahun berikutnya mantan istri saya menikah untuk yang ke 3 (tiga) kalinya dan ini berita yang sangat menyakitkan buat saya, begitu mudahnya dia menikah kembali, hingga sekarang ini tidak ada kabar beritanya, baik adiknya beserta keluarganya tak ada kabar berita sama sekali sampai sekarang sudah berjalan hampir 7 (tujuh) tahun. Saya benar-benar kecewa dan merasa sakit merasakan kejadian ini menimpa saya, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan.

          Yang perlu saya tanyakan pada Romo, apakah perkawinan saya ini bisa dibatalkan? Sekarang ini saya sedang menjalin hubungan dengan perempuan yang seiman, mohon petunjuk dan bimbingannya….

          • Shalom Yoseph Jarot,

            Pertama- tama mohon maaf atas jawaban yang terlambat.

            Sejujurnya kasus Anda cukup pelik, justru karena jika sekilas membaca pengakuan Anda, terkesan bahwa perkawinan Anda dengan istri Anda itu sepertinya sudah sah dilakukan. Walaupun istri Anda tadinya muslim, namun ia menjadi Katolik dan menikah dengan Anda, dan rumah tangga Andapun bahagia sampai tahun 2006. Menurut hukum Gereja Katolik, perkawinan yang sudah sah dilaksanakan tidak dapat dibatalkan. Atau dengan kata lain, yang dapat dibatalkan adalah perkawinan yang sejak awalnya sudah tidak memenuhi untuk disebut sebagai perkawinan yang sah.

            Maka dalam hal ini, sesungguhnya Anda-lah yang dapat mengetahui dengan jujur, apakah perkawinan Anda dengan istri Anda itu sudah sah atau belum? Silakan Anda membaca di situs ini tentang ketiga hal yang dapat membatalkan perkawinan: 1) halangan menikah, klik di sini, 2) cacat konsensus dan 3) cacat forma kanonika, tentang kedua hal ini, klik di sini.

            Walaupun memang setiap orang berhak memohon kejelasan atas status perkawinannya dan dengan demikian dapat menulis libellus (surat permohonan pembatalan perkawinan) kepada Tribunal keuskupan, namun jika tidak ada dasar yang kuat maka permohonan tidak dapat dikabulkan. Maka silakan Anda memeriksa terlebih dahulu perkawinan Anda, apakah Anda menemukan adanya cacat/ halangan yang terjadi sebelum atau pada saat perkawinan? Apakah Anda memiliki dasar yang kuat, beserta bukti- bukti dan para saksi yang mendukung fakta tentang halangan dan cacat perkawinan tersebut? Jika ada, silakan Anda menghubungi pastor paroki, untuk membantu Anda menuliskan surat libellus yang ditujukan kepada pihak Tribunal Keuskupan tempat perkawinan diteguhkan atau di keuskupan di mana Anda sekarang berdomisili. Namun jika Anda tidak menemukan dasar yang kuat, bukti maupun saksi, agaknya sulit bagi Anda untuk memperoleh izin pembatalan perkawinan.

            Sesungguhnya sayapun sangat prihatin mendengar kisah Anda, namun saya juga tidak dapat memberikan komentar yang tidak berpadanan dengan ketentuan hukum perkawinan dalam Gereja Katolik. Dalam saat- saat yang sulit ini, mohonlah kekuatan, kesabaran dan kebijaksanaan dari Tuhan, agar Anda dapat mengutamakan perintah dan kehendak Tuhan di atas kehendak Anda sendiri; dan agar Anda dimampukan untuk bertindak sesuai dengan perintah dan kehendak Tuhan. Teriring doa dari kami di katolisitas.

            Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
            Ingrid Listiati- katolisitas.org

        19. Yang terhormat ROMO,

          Romo saya seorang Khatolik, saya mempunyai masalah perkawinan. Istri saya dulunya seorang Muslim, sekarang sudah menjadi Khatolik. Sebab ia menjadi Khatolik adalah suatu hari saya main ke rumahnya (di saat itu saya hanya menganggap dia adik saya bukan lebih). Tiba-tiba banyak orang laki-laki menggrebek rumahnya (termasuk bapaknya). Posisi kami di ruang tamu tidak “melakukan hal apapun”. Mereka pun menyuruh kami untuk menikah. Tapi saya memberi catatan agar dia pindah Khatolik (pemikiran saya waktu itu, tidak mungkin dia pindah agama karena dia seorang guru ngaji). Selang waktu dia datang ke saya, dia bilang saya mau pindah Khatolik. Pertama saya tidak yakin dengan keputusannya karena saya anggap dia masih kecil dan dia mengajak pacaran. Lalu dia saya bimbing agama Khatolik, terus dia ikut ulangan agama. Hari pertama saya antar dan selanjutnya dia berangkat sendiri. Dia dibaptis dan selang waktu berjalan kami menikah di gereja Khatolik. Di perjalanan perkawinan kami ini memang kami bahagia. Tetapi dari waktu ke waktu istri saya sering pergi 1 bulan tidak pulang, ijinnya ke tempat ini tapi kenyataan ke tempat lain. Saya sering sabar menghadapi itu. Dan di saat itu masih mengenal HT di situlah mulai muncul masalah yang sangat menyakitkan bagi saya, dia selingkuh lewat kopi udara dan terus waktu berjalan dia mulai kopi darat bertemu dengan selingkuhannya. Saya selalu bersabar dan bersabar menghadapi semua itu. Dia sering kasar sama saya. Suatu saat dia pergi alasan ke Jakarta di tengah perjalanan dia mengenal seorang pria dan mengajaknya kerja di Malaysia, dia mau dan pergi meninggalkan saya dengan laki-laki itu. Sebelum kepergiannya memang dia minta cerai tapi saya tidak mau sampai saya mendatangkan uskup dan tidak berhasil. Waktu dia di Malaysia dia sering mengatakan kalau saya disuruh istri lagi. Saya benar-benar hancur waktu itu. Saya tidak ke gereja selama berbulan-bulan. Apakah perkawinan ini bisa dibatalkan? Sekarang saya sudah mengenal seorang perempuan yang Khatolik. Mohon bimbingannya…

          • Rm Agung, MSF on

            Sdr. Antonius,

            Banyak orang Katolik sekarang ini yang “kurang dapat membedakan” antara anulasi (atau pembatalan sebuah perkawinan) dengan perceraian. Tidak jarang pasutri Katolik yang bermasalah dan ingin mengakhiri perkawinan mereka, mengatakan, “kalau di Gereja Katolik tidak boleh cerai, ya sudah….kami minta anulasi saja…”

            Pembatalan atas sebuah perkawinan dilakukan oleh Gereja Katolik (melalui Tribunal) karena menemukan bahwa perkawinan itu terhalang keabsahannya. Jika “perkawinan” yang tidak sah itu tidak dianulasi/dibatalkan, maka konsekuensinya pasutri yang bersangkutan hidup dalam kedosaan. Jadi pembatalan perkawinan tidak dilakukan karena alasan-alasan seperti sudah tidak cocok lagi, karena salah satunya tidak setia, dan sejenisnya. Sdr. Antonius mengatakan bahwa beberapa waktu setelah perkawinan, anda berdua merasakan kebahagiaan… baru kemudian tidak bahagia karena istri anda tidak setia (melakukan perselingkuhan). Sekilas dari cerita anda, saya menangkap bahwa pada akhirnya perkawinan anda dilakukan atas dasar saling mencintai, walaupun sebelumnya pernah digrebek dan dipaksa untuk menikah. Maka persoalan yang harus anda atasi adalah perselingkuhan istri anda itu dan tugas kewajiban anda menyelamatkan perkawinan anda, yang juga menyelamatkan istri anda dari perselingkuhan itu. Cerai bukanlah penyelesaian masalah, tetapi mengganti masalah.

            Semoga jawaban singkat ini membantu sdr. Antonius untuk berfikir lebih jernih atas persoalan yang terjadi saat ini. Jangan lupa berdoalah untuk meminta penerangan Roh Kudus agar anda dapat menyelesaikan permasalahan ini. Tuhan selalu menyertai dan memberkati.

            In amore Sacrae Familiae
            Agung P. MSF

            • Terimakasih Romo atas penjelasannya, tapi sekarang ini dia sudah pindah Islam lagi dan mau menikah dengan selingkuhannya itu. Bagaimana saya hadapi ini?

              [Dari Katolisitas: Pesan ini digabungkan]

              Malam Romo, kalau dulu dia tak mau menjadi Khatolik, tidak mungkin ada perkawinan, tapi saya akui dulu saya terlalu idealis, merasa bangga kalau bisa mengkhatolikan orang, apalagi dia guru ngaji, jadi ini masalah agama bukan cinta, dan setelah dia setiap saat selalu bilang mau kembali Islam lagi, saya baru sadar ada yang salah pada perkawinan saya, dan cara dia biar lepas dari saya adalah dengan melukai hati saya, satu kali saya dilukai saya semakin kuat berdoa pada Tuhan Yesus, karena saya anggap ini salib saya, saya sudah berani membuat dia jadi Khatolik jadi perlakuan apapun saya terima sebagai salib dan terus saya sabari dan beri pengertian, dua kali, tiga kali tetap saya sabar, tapi setelah dia pergi ke Malaysia dengan ” teman dekatnya”, dan dia bilang sudah nikah siri di sana, dan kalau masih mau dengan dia, saya harus gantian jadi Muslim, saya sadari ini batasan saya sebagai laki – laki dan orang Khatolik, akhirnya dia saya lepaskan dan saya mengurus ke pengadilan untuk cerai secara sipil sesuai anjuran seorang romo, tapi sampai saat ini semua menjadi semakin berat buat saya, bagi saya gereja adalah lembaga yang terlalu suci dan terlalu lambat untuk melayani. Mungkin dulu lebih baik saya jadi Muslim, habis perkara, semoga Gereja bisa lebih perduli pada orang orang kotor seperti saya, sehingga merasa punya pegangan, kenyataan di lapangan lebih kejam bagi muda mudi Khatolik, mohon petunjuk lebih lanjut.

              • Rm Agung, MSF on

                Sdr. Antonius,

                Memang banyak orang yang mengatakan bahwa Gereja lambat, tidak manusiawi dan tidak peduli dengan orang-orang yang bermasalah dalam perkawinan.

                Yang perlu anda ketahui adalah bahwa Gereja hanya ingin menegaskan perkawinan itu bukan seperti mainan yang bisa dihentikan kapan saja ketika orang sudah tidak suka atau terganggu olehnya. Orang harus menyadari bahwa perkawinan bukan hanya sekedar memenuhi kebutuhan biologis dan psikologis, sosial dan dimensi kehidupan manusia saja, tetapi juga ada tugas perutusan. Saya rasa kekecewaan anda pada Gereja, sampai-sampai anda mengatakan lebih baik dulu pindah agama, itu terlalu berlebihan.

                Semoga anda mau rendah hati mohon penerangan Roh Allah, agar kemarahan dan kekecewaan anda pada Gereja tidak berlarut-larut dan berkepanjangan. Pasti Tuhan akan melimpahkan rahmat-Nya, tetapi tergantung anda sendiri…apakah mau menerimanya atau tidak.

                In amore Sacrae Familiae
                Agung P. MSF

                Tambahan dari Ingrid:

                Shalom Antonius,

                Apakah anda masih berkomunikasi dengan istri anda itu? Di mana istri anda sekarang, di sini atau di Malaysia? Sebab nampaknya anda perlu berdialog dengannya untuk membicarakan masalah perkawinan anda. Sejujurnya informasi yang anda berikan kepada kami pun nampak sepotong- sepotong dan tidak lengkap dari awal, sehingga menyulitkan kami untuk memberi masukan. Di surat pertama anda katakan anda pernah mengecap suasana bahagia dalam perkawinan anda, namun kemudian istri anda selingkuh. Walau sepertinya dia yang bersalah, namun pernahkah anda memeriksa diri adakah andil anda dalam hal ini, yang membuatnya berpaling dari anda, padahal awalnya kehidupan perkawinan anda berdua bahagia? Maka tanggapan Romo Agung adalah agar anda berusaha mencari caranya agar istri anda dapat menghentikan perselingkuhannya dan kembali kepada anda, dan silakan mengusahakan kembali kebahagiaan bersama yang sudah pernah terwujud di awal-awal perkawinan anda.

                Namun kemudian, di surat kedua, anda katakan ternyata anda sudah mengurus surat perceraian. Walau surat perceraian sipil tidak mempengaruhi status ikatan perkawinan Gereja Katolik, namun hal itu secara tidak langsung sangat berpengaruh pada proses dialog untuk mencari jalan temu kembali antara anda dan istri anda. Namun demikian, surat cerai pengadilan sekalipun, tidak dapat menghalangi proses rekonsiliasi, dan nampaknya inilah yang perlu anda usahakan, jika anda ingin menyelamatkan perkawinan anda. Seharusnya usaha rekonsiliasi inilah yang harus dilakukan dengan sehabis- habisnya, dan baru kalau tidak berhasil dan jalan sudah tertutup, misalnya istri anda sudah menikah lagi dengan orang lain dan tidak mau berpisah dengannya, baru terpaksa, nampaknya anda harus menerima kenyataan bahwa anda dan dia tidak dapat bersama- sama lagi. Saya tidak tahu selama ini, sejauh manakah usaha yang sudah dilakukan untuk rekonsiliasi? Sudahkah melibatkan sahabat/ kerabat/ rekan separoki yang juga prihatin akan kehidupan perkawinan anda? Sebab mungkin masukan dari orang-orang yang dikenal dekat oleh istri anda akan lebih kuat pengaruhnya daripada anda mengundang seorang uskup.

                Nampaknya anda membutuhkan bantuan konseling; mungkin baik jika anda bertemu dengan konselor keluarga di paroki. Walau memang sekarang nampaknya keadaan sudah sangat ruwet, tetapi justru karena anda pernah mengalami saat-saat bahagia dengan istri anda itu, maka menjadi agak sulit menemukan dasar bahwa perkawinan anda tidak sah sejak awal dan karena itu dapat dibatalkan. Sebab perkawinan tersebut, walau awalnya sangat unik, tetapi melibatkan konsensus anda yang nampaknya dibuat dalam keadaan bebas dan jika demikian nampaknya tidak cacat. Kecuali bahwa anda waktu itu sangat terpaksa, ada ancaman yang membahayakan nyawa jika anda menolak, atau anda sesungguhnya tidak cinta kepadanya. Namun pernyataan yang terakhir ini jadi bertentangan dengan pernyataan anda sendiri yang mengatakan bahwa anda pernah bahagia bersamanya; apalagi jika sudah ada anak-anak yang dilahirkan dari perkawinan anda itu.

                Maka mohon dimengerti bahwa tidak semudah itu meminta pembatalan perkawinan. Dalam kasus anda, nampaknya, harus dibuktikan dahulu bahwa anda memasuki perkawinan dalam keadaaan ‘tertipu’/ ditipu, bahwa ia sesungguhnya dari dahulu tidak ingin menjadi Katolik dan hanya menjadi Katolik untuk menipu anda, dan anda harus mempunyai saksi- saksinya. Jika anda memang mensyaratkan dia harus Katolik dan hanya jika ia Katolik saja anda mau menikah dengannya, adakah saksinya? Jika anda diancam kalau menolak kawin, adakah saksinya? Jika tidak ada saksi yang dapat diminta kesaksiannya dan buktinya, maka anda tidak mempunyai dasar yang kuat untuk membatalkan perkawinan anda. Dalam kondisi yang sulit ini, gunakan waktu yang ada untuk merefleksikan diri anda, dan mohon petunjuk Tuhan untuk melangkah selanjutnya. Jangan pernah berputus asa, sebab Tuhan selalu menyertai. Jangan karena kesulitan ini anda malah urung berdoa dan menjauh dari kegiatan ibadah di Gereja. Justru anda harus mengandalkan doa dan rahmat Allah dalam sakramen-sakramen supaya anda dikuatkan dan dapat dipimpin oleh Roh Kudus untuk memutuskan dan melakukan segala sesuatunya sesuai dengan kehendak Tuhan.

                Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
                Ingrid Listiati- katolisitas.org

        Add Comment Register



        Leave A Reply