Kasus-kasus pembatalan perkawinan kanonik (nullitas matrimonii)

209

Kasus pembatalan perkawinan kanonik

Dalam konteks studi hukum gereja, kasus pembatalan perkawinan kanonik adalah kasus di mana perjanjian perkawinan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan itu tidak sah sehingga tidak tercipta sebuah perkawinan. Jika pasangan suami – isteri telah menikah secara kanonik telah berpisah dan berdamai kembali menjadi tidak mungkin, kasus-kasus itu disampaikan pada kuasa Gereja untuk diselidiki. Kuasa Gereja yang dimaksudkan adalah Tribunal Perkawinan Keuskupan (memang tidak semua keuskupan memiliki Tribunal karena keterbatasan tenaga ahli). Dalam proses anulasi perkawinan itu jika terbukti dan perjanjian perkawinan itu dinyatakan batal maka pihak-pihak yang berperkara bebas membangun kehidupan perkawinan yang baru.

Jenis-jenis kasus pembatalan perkawinan

Kanon 1057, KHK 1983, menyatakan ada tiga syarat dasar supaya sebuah perkawinan sah kanonik. Tiga syarat itu adalah: (1) adanya saling kesepakatan tanpa cacat mendasar untuk perkawinan, (2) dilaksanakan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang mempunyai kemampuan legitim untuk melaksanakan perkawinan itu, yakni tidak terhalang oleh halangan yang menggagalkan dari hukum ilahi atau hukum positif (gerejawi dan sipil); (3) secara publik dilaksanakan dengan tata peneguhan yang diwajibkan hukum, yakni sebagaimana dituntut oleh hukum gereja atau negara. Maka secara singkat dapat dikatakan bahwa ada 3 hal yang dapat membatalkan perkawinan:

a. Kasus karena cacat dalam kesepakatan perkawinan,

b. Kasus karena halangan yang menggagalkan,

c. Kasus karena cacat atau ketiadaan tata peneguhan kanonik.

        Perkawinan yang dapat dinyatakan batal oleh Tribunal perkawinan

        Kanon 1671 dan 1476 menegaskan bahwa perkara-perkara perkawinan orang-orang yang telah dibaptis dari haknya sendiri merupakan wewenang hakim gerejawi dan siapapun baik dibaptis maupun tidak, dapat menggugat di pengadilan. Adapun pihak tergugat secara legitim harus menjawabnya. Dengan demikian perkawinan apa saja, di mana salah satu pihak sudah dibaptis dapat dinyatakan batal oleh tribunal perkawinan gerejawi.

        Siapa saja yang dapat meminta pembatalan perkawinan?

        Kanon 1674 menyatakan: yang dapat menggugat perkawinan adalah (1) pasangan suami-isteri; (2) promotor iustitiae, jika nullitasnya sudah tersiar apabila perkawinan itu tidak dapat atau tidak selayaknya disahkan. Dengan demikian entah pihak manapun yang berperkara bahkan pihak yang tidak terbaptis dapat membawa perkaranya ke Tribunal perkawinan Gerejawi untuk memohon pembatalan perkawinan (bahkan jika ia yang menyebabkan batalnya perkawinan). Namun demikian usaha untuk rujuk kembali perlu diusahakan pihak-pihak yang bersengketa. Ini adalah tugas pastoral kristiani dan utama bagi Pastor dan umat beriman. Di beberapa negara hukum sipil menuntut bahwa sebelum pasangan suami isteri memulai proses perceraian, mereka harus terlebih dahulu menghadap panitia rujuk kembali (di Indonesia belum ada), badan yang didirikan oleh Pemerintah (Gereja). Sebenarnya tiap keuskupan bahkan paroki bisa mendirikan sendiri semacam komisi rujuk (perdamaian), baru setelah badan itu menyatakan tidak mampu mendamaikan pasangan itu, mereka bisa meminta untuk mengajukan pembatalan perkawinan. Sebagai catatan penting: sebuah tribunal gerejawi hanya akan memulai sidang-sidang perkara perkawinan jika usaha rujuk kembali praktis sudah tidak mungkin lagi.

        Bagaimana kasus pembatalan perkawinan ditangani?

        Perkara pembatalan perkawinan dapat ditangani melalui peradilan gereja (Tribunal perkawinan) atau di luar pengadilan maksudnya diputuskan oleh Ordinaris wilayah. Ada dua macam proses peradilan yakni: proses biasa sebagaimana dalam proses peradilan Gereja (bdk kann 1671-1685) dan proses dokumental (bdk, kann. 1686-1688). Proses biasa digunakan untuk semua kasus, kecuali untuk perkara yang penyebabnya adalah halangan yang menggagalkan, atau cacat dalam tata peneguhan yang sah atau perwakilan secara tidak sah dan ada bukti-bukti dokumental. Sedangkan perkara tidak adanya sama sekali tata-peneguhan yang sah di luar pengadilan.

        Pernyataan pembatalan perkawinan (Surat bebas untuk melangsungkan perkawinan baru)

        Sebuah dekret pernyataan pembatalan perkawinan adalah sebuah pengakuan yang dibuat oleh Hakim gerejawi dalam sebuah kalimat peradilan. Pernyataan itu diperkuat oleh hakim pengadilan gerejawi lain bahwa pengakuan itu telah terbukti dengan kepastian moral bahwa ketika perkawinan dilangsungkan ada suatu penyebab pembatalan. Dalam ranah hukum kanonik, [artinya salah satu atau keduanya (yaitu suami dan istri) tersebut adalah Katolik], jika perkawinan mereka sama sekali tidak diteguhkan dengan tata peneguhan kanonik, maka persatuan itu bukanlah sebuah perkawinan. Karena dilaksanakan secara tidak sah, maka tidak bisa disebut sama sekali sebagai sebuah perkawinan. Persatuan semacam itu tidak bisa dinyatakan batal, tetapi bila mau diadakan sebuah penyelidikan, seperti misalnya penyelidikan pertunangan biasa yang menyatakan tidak adanya tata peneguhan kanonik dan bisa dibuktikan, lalu bisa diberikan surat bebas untuk menikah kembali kepada pihak yang bersangkutan oleh Ordinaris wilayah. Oleh karena itu, dikatakan bahwa kasus ini diurus secara luar peradilan maksudnya tanpa formalitas peradilan (proses dokumental kann. 1686-1688).

        Share.

        About Author

        Romo RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. adalah Hakim Tribunal Keuskupan Denpasar dan Regio Gerejawi Nusra, Sekretaris Komisi Seminari KWI, BKBLII dan pengurus UNIO Indonesia. Lulusan Fakultas Hukum Gereja di Universitas Pontifikal Urbaniana, Roma 2001.

        209 Comments

        1. Yasinta Ajeng on

          Romo Wanta,

          Apakah seseorang yang bukan Katolik dan pernah menikah juga bukan dengan orang Katolik dan diberkati bukan dalam Sakramen Pernikahan Katolik lalu bereka bercerai, dan si pria hendak menikah lagi dengan wanita Katolik, apakah dia harus mengikuti sidang Tribunal untuk proses perceraian gerejawi atas pernikahannya sebelumnya?

          Ini yang sedang dihadapi sahabat saya. Yang sedang kami hadapi sekarang (1 bulan sebelum hari “H”) ada perbedaan pendapat dari beberapa romo yang kami temui, beberapa dari mereka mengatakan harus mengajukan pembatalan ke Tribunal Gereja Katolik dan sebagian mengatakan tidak perlu, karena si pria bukan Katolik dan pernikahan sebelumnya tidak secara Katolik. Romo yg memberi mereka KPP pun yakin proses pernikahan mereka bisa dilanjutkan, tetapi terbentur perngurusan dari paroki asal karena romo di paroki tersebut berpendapat kasus ini harus masuk Tribunal dulu.

          Mohon pencerahannya Romo, karena kami sedang terombang ambing.

          Si pria adalah polisi, surat cerai dikeluarkan oleh kedinasannya, dan mantan istri juga sudah membuat pernyataan tertulis bahwa mereka sudah bercerai.

          Terima kasih

          • Yasinta Ajeng Yth

            Proses pembatalan perkawinan berlaku untuk orang Katolik yang meneguhkan perkawinannya. Orang yang bukan Katolik karena pekawinan dengan orang Katolik terkena aturan secara Katolik. Maka pemutusan perkawinan sebelumnya dengan orang Katolik harus dilakukan di Tribunal.

            Perkawinan yang tidak dilakukan di Gereja Katolik oleh orang bukan Katolik, diakui oleh Gereja Katolik. Karena perkawinan mereka itu sah, misalnya perkawinan di KUA. Jika kemudian dia cerai dan mau menikah dengan orang Katolik, maka ikatan perkawinan di KUA tadi harus diputuskan oleh uskup melalui Tribunal perkawinan. Pihak non Katolik harus diinterogasi oleh pihak Tribunal apakah tahu dengan baik perkawinan Gereja Katolik. Mengapa terjadi perceraian di dalam perkawinan pertama dsbnya? Karena jangan sampai gagal kembali jika mendapat kemurahan untuk menikah kembali dengan seorang Katolik. Jadi memang harus lewat Tribunal, bisa proses biasa yakni peradilan biasa/hukum acara. Mengapa demikian, alasannya adalah karena dia menikah dengan orang Katolik.

            Salam
            Rm Wanta

        2. Mengapa disebut Pembatalan? Mengapa bukan perpisahan atau perceraian saja? Pertimbangannya: Jika disebut Pembatalan, bagaimana dengan anak yang sudah lahir dari perkawinan tsb? Anak tsb lahir dari perkawinan yang sah dan dengan cinta, bukan anak haram. Jika dibatalkan, bukankah seolah-olah anak terlahir dari suatu perkawinan yang tidak sah. Mohon tanggapan, Romo…

          • Ina Yth,
             
            Disebut pembatalan karena apa yang telah dilakukan tidak sah. Anak bukan anak haram, tetap diakui sebagai anak dari kedua orang tua mereka. Ketidaksahan perkawinan itu bisa disembuhkan, diperbaiki, jadi tetap sah kalau kedua pihak atau salah satu pihak menyadarinya. Dalam hal ini, pasangan dapat datang ke romo paroki dan mohon agar dapat diadakan konvalidasi perkawinan.
            Perlu juga diketahui bahwa Gereja Katolik memiliki kewenangan memutuskan ikatan perkawinan karena demi iman dan jika memang terbukti tidak ada keabsahan dari perkawinan yang telah yang dilakukan, misalnya karena cacat konsensus. Namun, dalam kondisi umum, seluruh perkawinan itu diandaikan sah kecuali dapat dibuktikan kebalikannya, yang menunjukkan bahwa perkawinan tidak sah sejak awal mula. Yang membuat sah perkawinan adalah konsensus kedua belah pihak. Jika perkawinan sudah sah, maka jika sekalipun terjadi perpisahan, maka itu bukan merupakan perceraian, namun hanya pisah ranjang; di mana ikatan perkawinan masih utuh tidak terputuskan.
             
            Salam
            Rm Wanta

            Tambahan dari Ingrid:

            Shalom Ina,

            Gereja Katolik mengajarkan bahwa perkawinan yang sudah sah di hadapan Tuhan tidak dapat diceraikan oleh manusia (lih. Mat 19: 6). Namun ada kalanya memang perkawinan diadakan padahal tidak memenuhi syarat untuk dapat dikatakan sebagai perkawinan yang sah di hadapan Tuhan. Ada tiga hal yang membatalkan perkawinan, yaitu: 1) adanya halangan menikah, silakan klik 2) cacat konsensus; 3) cacat forma kanonika, silakan klik.
            Jika hal ini terjadi dalam suatu perkawinan (dan terjadinya sebelum atau pada saat perkawinan diteguhkan), maka salah satu pihak dapat mengajukan permohonan pembatalan perkawinan kepada pihak keuskupan tempat di mana perkawinan diteguhkan. Pihak Tribunal keuskupan nanti akan memeriksa berdasarkan bukti- bukti dan kesaksian dari para saksi, apakah memang perkawinan tersebut sah atau tidak sejak awalnya. Hanya jika telah ditemukan buktinya, baru perkawinan dapat dikatakan tidak sah, sehingga ikatannya dapat dibatalkan. Jika sudah ada anak/ keturunan dari perkawinan itu, anak tersebut tetap diakui sebagai anak pasangan tersebut, sebab dalam hal ini yang berlaku adalah hukum kodrat, yaitu anak itu lahir dari pasangan tersebut. Gereja mengakui keberadaan anak tersebut sebagaimana hukum sipil juga mengakui mereka sebagai anak dari pasangan itu. Jika anak- anak tersebut dibaptis, Gereja Katolik juga dapat membaptisnya, asalkan salah satu pihak orang tua dan orang tua baptisnya bersedia menjamin pendidikan anak tersebut secara Katolik. Setelah mereka dibaptis, anak- anak tersebut mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan umat lainnya; jadi Gereja tidak membedakan mereka atau menganggap mereka sebagai ‘anak haram’. Demikianlah tambahan dari saya.

            Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
            Ingrid Listiati – katolisitas.org

        3. indah magelang on

          Saya dan suami menikah tahun 2005 dengan sakramen, saya belum memiliki keturunan. Dari dulu awal pernikahan suami saya berulang kali selingkuh, tapi sudah saya maafkan. Dan 2 tahun terakhir ini suami saya juga selingkuh dengan beberapa wanita, bahkan suami saya punya anak dari wanita-wanita itu. Secara sipil kami sudah bercerai pada bulan Juli kemarin. Yang ingin saya tanyakan apakah pernikahan saya bisa dibatalkan, mengingat saya sudah tidak bisa hidup dengan dia lagi. Untuk catatan kami pacaran cuma 1 tahun dan ketemu cuma 1,5 bulan sekali. Dan dulu suami yang minta cepat-cepat menikah. Belakangan saya tau dia cuma ingin numpang hidup, bahkan gaji dia juga saya tidak tau dan hanya menafkahi saya sedikit.

          • Indah Yth

            Persoalan anda bisa dianulasi atau tidak tergantung pada pokok anulasi yang diajukan kepada Tribunal Gereja dan bukti-bukti yang menyertai perkara yang diajukan. Saya tidak bisa menjawab bisa atau tidak karena hakim di tribunal yang berwenang berhak memutuskannya setelah memulai proses penerimaan permohonan anulasi dari anda.

            Silakan membuat libellus ke tribunal dimana anda diteguhkan perkawinan atau dimana anda berdomisili.

            salam
            Rm Wanta

        4. Felix Sugiharto on

          Yang terhormat Romo

          Saya mau menanyakan kasus perceraian seorang teman saya…demikian;
          Pasangan pihak suami dari gereja non-Katolik, pihak isteri dari gereja Katolik. Keduanya terbaptis secara sah di gerejanya masing2. Karena sesuatu hal pemberkatan nikahnya dilakukan di sebuah gereja non Katolik. Pelaksanaan pemberkatan nikah tsb oleh pihak Katolik tanpa melaporkannya kepada gereja Katolik setempat, sehingga pemberkatan nikahnya tidak dihadiri oleh Romo seorangpun. Perkawinan yg hanya berjalan 3 tahun itu akhirnya mereka berpisah, dengan kesepakatan bercerai….

          Pertanyaan saya, jika pihak perempuan berniat menikah lagi apakah masih termasuk dalam ‘status bebas’ berdasarkan Hukum Kanonik gereja (?) tanpa diperlukan proses anulasi ke Tribunal ? Menurut pengakuan teman saya ini bahwa, sudah pernah berkonsultasi dengan pihak gereja paroki dan juga telah mendapat kepastian bahwa; perkawinan ke-2 diizinkan (karena tidak ada dasar Kanon-nya), serta pernikahan ke-2 hanya boleh dilakukan dengan calon pasangan yang beragama Katolik dengan pemberkatan yang dilakukan di gereja Katolik. Mohon pencerahannya Romo

          Terima kasih,
          Felix Sugiharto

          • Felix Sugiharto Yth

            Perkawinan yang anda ceritakan secara yuridis tidak sah kanonik karena diteguhkan bukan di depan Imam Katolik (GK) maka cacat forma canonica. Namun demikian perkawinan mereka itu adalah sah secara sipil. GK menghormati ikatan sipil tsb, dengan itu sudah ada ikatan perkawinan. Maka dia tidak memiliki status bebas. Perkawinan kedua harus ada keputusan tentang ikatan perkawinan yang terdahulu melalui proses administratif dokumental maupun proses anulasi biasa. Dari apa yang anda ceritakan kiranya bisa melalui proses dokumental untuk perkara tsb. Silakan menghubungi tribunal dimana mereka diteguhkan perkawinannya. Jika di kemudian hari keputusan ikatan perkawinan terdahulu dikabulkan maka perkawinan baru tidak boleh gagal.

            salam
            Rm Wanta

        5. Dominicus Endy on

          Dengan hormat Tim Katolisitas,

          Terus terang dengan membaca topik Pembatalan Perkawinan di atas, saya agak kecewa dengan ajaran Gereja Katolik tentang perceraian, walaupun tidak menggunakan kata ‘cerai’ tetapi kata pembatalan/Tribunal, akan tetapi pada hakekatnya memisahkan/membatalkan perkawinan dengan mencari-cari alasan sehingga bisa batal/pisah dengan surat pembatalan dan serta mensahkan perpisahan.

          Pengetahuan saya selama ini dalam hal ini GK dengan harga mati walau apapun yang terjadi Perkawinan Katolik tetap tidak terpisahkan walau apa yang terjadi sudah menjadi resiko pasangan suami istri menikah di GK beserta dengan kekurangan dan kelebihan pasangannya, itu yang membuat saya bangga sebagai seorang Katolik, tapi ternyata menurut hukum gereja perpisahan/pembatalan masih dapat dilakukan, kalau begitu di kemudian hari banyak orang akan mencari-cari kesalahan pasangannya demi untuk berpisah dan membatalkan perkawinannya. Mohon tanggapannya dan beberapa pertanyaan sebagai berikut :
          1. Apa dasar Alkitabnya sehingga ada Tribunal
          2. Apa dasar Alkitabnya sehingga ada pembatalan perkawinan, setahu saya di Alkitab tidak mentolerir adanya perpisahan ataupun ajaran pembatalan perkawinan.

          Saya seorang Katolik. Setelah saya mengerti tentang Hukum Perkawinan GK yang bisa “terbatalkan”/”terpisahkan” saya kecewa karena yang saya banggakan selama ini tentang Perkawinan Katolik ternyata jauh dari yang saya pikirkan selama ini, bahwa perkawinan dengan segala resiko apapun tidak dapat terpisahkan, tapi ternyata tidak seperti itu. Terimakasih dan mohon tanggapannya.

          • Endy Yth

            Saya akan menjelaskan secara sederhana saja: dalam permainan sepak bola dikenal istilah offside. Seseorang yang dengan sengaja berdiri dan mendapatkan bola secara tidak fair karena mencuri posisi dan waktu lebih dulu dari pemain belakang lawan dia kena hukuman yaitu offside meskipun dia telah melakukan tendangan yang menghasilkan goal sehingga semua orang dan pemain melompat kegirangan. Tindakannya dianulir dan tidak sah karena offside meskipun terjadi goal.

            Dalam perkawinan bisa terjadi orang melakukan tindakan penipuan, bohong tidak jujur, menipu, mencuri hati pasangan hanya untuk dapat menikahi tapi sebenarnya tidak, dia telah memiliki intensi tersembunyi yang tidak diketahui oleh siapapun. Teks KS: Jangan bersumpah atas nama Allah untuk kesepakatan janji perkawinan, namun dia berbohong (Mat.5:33). Meski perkawinan berjalan dengan meriah dan setelah beberapa bulan atau tahun ternyata dia menipu sudah pernah menikah dengan orang lain sebelum perkawinan terjadi dan diketahui pasangannya keluarganya, maka apa yang dilakukan janji perkawinan di depan imam dan saksi serta umat sekalian dapat dianulir-dibatalkan, karena sebelum perkawinan dia telah menikah. Kesepakatan cacat karena didasarkan pada penipuan.

            Nah demikianlah perkawinan GK dapat dianulir kalau ada cacat dalam konsensus dan sudah ada sebelum perkawinan berlangsung. Semoga dapat dipahami.

            Salam
            Rm Wanta

        6. Shalom Romo,

          Saya ingin menanyakan apabila sepasang kekasih yang belum diikat oleh sebuah perkawinan, tinggal bersama merupakan dosa? Karena jarak yang berjauhan, maka kami tinggal satu rumah untuk lebih kenal satu sama lain. Kami mengikuti hidup Katolik, dan menghindari persetubuhan hingga saatnya dipersatukan oleh Tuhan.
          Namun belakangan saya ragu, apakah kami sudah menjalani kehidupan ini sesuai dengan-Nya?
          Mohon arahannya Romo. Terimakasih.

          • Caecilia Yth

            Pada umumnya orang yang serumah sekamar diandaikan terjadi hubungan intim. Maka supaya jangan ada tuduhan negatif dari orang lain dan tetangga, sebaiknya tidak serumah atau sekost. Lebih baik lain rumah, tapi masih satu kota. Mengenal pasangan tidak perlu serumah, malah nanti tidak ada sesuatu yang mengejutkan, melainkan menjadi rutin dan bosan. Belum menikah sudah bosan, gawat khan.
            Menurut saya tidak baik dan tidak sesuai dengan kehendak-Nya.

            Salam
            Rm Wanta

        7. Otto Bachtiar Tanzil on

          Yang terhormat romo,

          Saya menikah 1992, menikah secara katolik. Istri dari kel katolik. Saya mempunya 1 orang anak.
          Selama perkawinan saya ini, saya bertahan terus karena saya memikirkan anak. Tetapi disatu sisi , saya merasa tertekan karena tidak ada kebahagiaan dalam rumah tangga saya.
          Saya sabar sambil membesarkan anak saya, hingga kini sudah dewasa, dan menurut saya sudah bisa mengurus diri nya.

          Masalah saya, adalah kira2 3 thn setelah perkawinan saya, saya tahu kalo istri saya melakukan hubungan sedarah dengan kakaknya. Juga untuk menutupi perbuatannya itu, dia melakukan berbagai selingkuhan. Disamping itu juga, dengan berbagi cara, agar saya tidak dapat berbuat apa2 itu antara lain : menghabiskan semua harta yang saya peroleh, , juga dengan berbagai cara dilakukan agar diri saya hancur.

          Terus terang saya tahu , itu semua, saya diamkan saja karena saya memikirkan anak saya masih kecil, dan perlu pertumbuhan dan bimbingan yang baik sebagai anak.

          Sekarang anak saya sudah dewasa umur 17 tahun dan saya akan menuntut cerai dari istri saya. Bagaimana caranya , agar saya bisa mendapatkan surat cerai secara katolik dan diakui oleh pihak gereja katolik secara sah/resmi ?

          Saya mohon petunjuk dari Romo, terima kasih.

          Hormat saya,

          Otto Bachtiar Tanzil

          • Otto Bachtiar Yth
             
            Semua perkara bisa diadukan di Tribunal keuskupan. Nanti yang memproses adalah para hakim Tribunal, apakah permohonan itu layak dan dapat diajukan atau tidak. Oleh karena itu, silakan menulis surat libellus untuk perkara anda. Perihal kapan dipanggil tergantung dari tribunal yang bersangkutan. Lebih baik surat libellus diberikan langsung tanpa pos atau pos tercatat, sehingga ada bukti bahwa surat itu sudah dikirim dan diterima. Jika hal ini tidak bisa dilakukan, silakan menelpon sekretariat tribunal dimana anda berdomisili. Pada umumnya 2 minggu setelah surat libellus masuk, permohonan bisa diproses dan Tribunal akan memanggil pihak yang berperkara.
             
            salam

            Rm Wanta

            Tambahan dari Ingrid:

            Shalom Otto Bachtiar,

            Pertama- tama, silakan anda renungkan kembali, apakah memang benar bahwa perkawinan anda tidak dapat dipertahankan lagi. Sebab biar bagaimanapun, perpisahan orang tua tetap akan berpengaruh buruk pada anak secara kejiwaan, walaupun anak sudah beranjak remaja. Apakah anda pernah merenungkan mengapa istri anda berbuat demikian terhadap anda; apakah kiranya juga ada ‘kesalahan’ dari pihak anda? Apakah anda sudah pernah mengikuti konseling keluarga?

            Selanjutnya perlu anda pahami terlebih dahulu bahwa Gereja Katolik selalu menganjurkan rekonsiliasi antara suami istri dan Gereja Katolik tidak mengenal perceraian. Yang ada adalah pembatalan, namun agar sebuah perkawinan dapat dinyatakan batal, harus dibuktikan terlebih dahulu apakah di perkawinan tersebut terjadi tiga hal yang dapat membatalkan perkawinan, seperti yang telah disebutkan di atas, yaitu: 1) adanya halangan menikah, (untuk membaca apa saja yang termasuk halangan menikah, klik di sini); 2) cacat kesepakatan perkawinan (cacat konsensus) dan; 3) cacat forma kanonika (silakan klik di sini).

            Nah untuk kasus anda, silakan anda cari akarnya, apakah misalnya ada cacat konsensus, misalnya istri anda sakit kejiwaan/ psikis sehingga ia dapat berhubungan seksual dengan kakak kandungnya sendiri, atau bahkan berhubungan dengan banyak laki- laki lain. Apakah anda dapat membuktikan hal ini, misalnya dari keterangan saksi, dan jika memungkinkan dari psikolog/ psikiater yang menangani istri anda. Jika memang ada bukti- bukti dan para saksinya, maka anda dapat mengajukan surat libellus, yaitu permohonan pembatalan perkawinan ke pihak Tribunal keuskupan di mana perkawinan diteguhkan, atau keuskupan di mana anda sekarang berdomisili. Baik jika anda mendiskusikannya dengan pastor paroki anda pada saat anda menuliskan libellus tersebut, agar beliau mengetahuinya. Selanjutnya, sesudah surat libellus itu diterima oleh pihak Tribunal, maka pihak Tribunal akan memeriksa apakah kasus anda layak diproses (ada dasarnya, para saksi dan bukti- bukti); dan jika ya, nanti pihak Tribunal akan memanggil anda. Proses berikutnya adalah pemeriksaan Tribunal, dan jika ditemukan bukti- bukti dan keterangan saksi yang mendukung permohonan anda, maka permohonan anda dapat dikabulkan. Bawalah pergumulan anda ini dalam doa, semoga anda dapat memperoleh keadilan, namun juga diberi hati yang tulus untuk mengampuni, dan Tuhan memberi kekuatan kepada anda, untuk menerima apapun keputusan Tribunal.

            Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
            Ingrid Listiati- katolisitas.org

        8. saya punya pengalaman menjadi saksi pada perkawinan teman dimana teman tersebut kawin secara katolik, saat ini di ambang perceraian tetapi belum resmi (masih dalam proses pengadilan), saya sendiri bertanya-tanya koq bisa ya orang katolik cerai melalui pengadilan?
          nah saat ini si teman tersebut menjalin kasih dengan perempuan lain dan berniat untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan. Beliau menunjuk saya menjadi saksi di gereja protestan. saya pun menolak apapun itu alasannya walaupun konsekwensinya tentu akan memusuhi saya. tapi saya berpikir lebih baik saya di musuhi daripada saya memberi kesaksian lagi di gereja protestan. mohon teman-teman bisa memberikan saya pendapat, saya juga bingung.
          apakah kalau saya melakukan ini termasuk dosa berat?
          trims sebelumnya

          • Gunawan Yth

            Perceraian sipil tidak diakui oleh Gereja sebagai putusnya ikatan perkawinan Gereja. Perceraian itu hanya perpisahan karena itu perkawinan mereka kalau sah kanonik maka tetap eksis atau ada sebelum lembaga Gereja menetapkan secara resmi bahwa perkawinannya dibatalkan. Anda berhak tidak bersedia menjadi saksi perkawinan tidak juga berdosa.

            salam
            Rm wanta

        9. Selamat siang Romo,

          Mohon pendapat Romo untuk pasangan yang menikah secara katolik kemudian bercerai (annulment). Dan saat ini sudah keluar surat pernyataan pembatalan pernikahan.
          Pertanyaan saya adalah:
          Apabila saya ingin menikah kembali secara katolik, apakah berarti zinah?

          Mohon pencerahannya Romo, karena saat ini hati saya gundah karena pertanyaan tersebut.
          Terimakasih Romo.

          • Shalom Caecilia,

            Mohon dipahami, Gereja Katolik tidak mengenal perceraian. Maka annulment/ pembatalan perkawinan itu BUKAN perceraian. Pembatalan perkawinan dapat diberikan oleh pihak Tribunal perkawinan karena setelah diperiksa/ dipelajari ditemukan bukti- bukti bahwa perkawinan tersebut tidak sah sejak awal mula. Seperti halnya dalam sepak bola, pemain yang mencetak gol sebelumnya berada di posisi off-set. Sehingga walau terjadi gol, namun golnya tidak sah. Demikian juga dengan perkawinan. Tentang halangan menikah dan cacat konsensus yang membatalkan perkawinan, silakan klik di sini dan di sini.

            Maka jika benar Tribunal sudah mengabulkan permohonan pembatalan perkawinan, dan sudah ada surat pernyataannya, maka artinya pihak otoritas Gereja sudah mengakui bahwa perkawinan tersebut sudah dinyatakan tidak sah, dan karena itu ikatannya dibatalkan. Sesudah menerima surat ini, maka kedua belah pihak dinyatakan bebas dari ikatan terdahulu. Jika di kemudian hari mereka masing- masing memutuskan untuk menikah (dengan pasangannya yang lain) di Gereja Katolik, maka Gereja Katolik dapat memberkatinya, dan perkawinan inilah yang dianggap sah oleh Gereja Katolik. Karena sah, maka mereka tidak berzinah.

            Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
            Ingrid Listiati- katolisitas.org

        10. guntur,Jogja on

          sore Romo. kami nikah dan beragama katolik. dulu saya bekerja dan sekarang saya kluar kerja karna jauh di papua. dan udah lama saya tidak menafkahi istri dan anak saya, tapi saya berusaha skuat tenaga untuk bekerja dan mendapatkan uang untuk menghidupi istri dan anak, namun istri mau nya pingin pembatalan perkawinan aja. serius Romo saya udah berjuang skuat tenaga saya, tapi kan Tuhan belum kasih rejeki ya saya belum dapat kerja, sampe sekarang pun saya trus gigih mencari pekerjaan,sampe saya sakit sakitan Romo.sejak saya puang istri saya jadi dingin Romo,slalu diem,sekali bicara langsung jutek jadi sekarang apa yang semestinya saya lakukan romo?

          • Shalom Guntur,

            Sepertinya anda dan istri anda membutuhkan konseling. Sejujurnya, anda perlu memeriksa diri sendiri, apakah usaha yang anda lakukan selama ini untuk mencari pekerjaan sudah maksimal. Sudah berapa lama anda tidak menafkahi istri dan anak anda? Apakah selama ini anda berkomunikasi dengan istri anda? Ataukah selama anda jauh di Papua anda tidak berkomunikasi dengan istri?

            Ada banyak hal yang tidak anda sebutkan di sini, sehingga sulit bagi kami untuk memberi masukan. Silakan menghubungi seksi kerasulan keluarga di paroki anda, atau mungkin dapat menghubungi Seksi Sosial Paroki untuk melihat apakah ada informasi tentang lowongan pekerjaan di sana. Mohonlah bantuan kepada sesama umat di paroki, siapa tahu ada yang membutuhkan tenaga kerja. Simaklah juga iklan di surat kabar, semoga anda dapat menemukan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan anda.

            Di atas semua itu, janganlah lupa untuk berdoa, berdoa dan berdoa. Silakan berdoa novena. Mohonlah kepada Tuhan untuk berbelas kasihan kepada anda. Adalah baik jika anda bisa mengajak istri untuk berdoa bersama anda, semoga dengan demikian ia tidak marah lagi, dan melihat ketulusan dan perjuangan anda yang keras untuk mencari pekerjaan.

            Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
            Ingrid Listiati- katolisitas.org

            • guntur-jogja on

              saya di Jogja Bu Ingrid, sudah 1 tahun lebih saya tidak menafkahi istri dan anak,karna waktu itu memang saya dalam perkara berat,saya tidak mau menyalahkan siapa siapa biarlah saya aja yg merasakannya.slama itu pula saya jarang berkomunikasi dengan istri. saya orangnya emosional,egois, tapi saya bertobat saya mau berubah untuk dapat mempertahankan perkawinan kami.
              Bu Ingrid apakah Tuhan masih mau menerima orang pendosa seperti saya ya…..?
              klao seksi sosial Paroki di Jogja no telpnya berapa ya Bu Ingrid? saya hanya yakin Tuhan masih mau memaafkan sgala dosa saya shingga tetap diberkahinya keluarga kecil saya untuk memuliakan NamaNya slamanya. Apakah ada diantara Umat yang konseling ada yang butuh tenaga kerja ya Bu Inggrid. [Dari Katolisitas: no. hp anda kami edit]

              • Shalom Guntur,
                Nampaknya anda perlu melakukan usaha sedikit untuk mengetahui anda itu tinggal di paroki apa, dan di mana alamatnya, dan saya percaya anda akan dapat menemukan no. telponnya, juga no, telpon seksi sosial paroki. Temuilah pastor paroki anda, dan mengaku dosalah dalam sakramen tobat. Tunjukkanlah niat anda yang lebih sungguh untuk berubah menjadi lebih rajin, lebih serius dalam mencari pekerjaan. Tuhan kita maha pengampun, namun kita juga harus sungguh bertobat dan mau mengubah diri, agar bisa terlepas dari ikatan dosa. Semoga nanti akan ada jalan keluar bagi masalah anda.

                Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
                Ingrid Listiati- katolisitas.org

        11. Syallom Bu Ingrid dan Pak Stef’
          Selamat Paskah ..semoga damai Paskah selalu beserta kita..

          Saya ingin bertanya,
          1.Tentang hak Perkawinan orang yang terlambat pikiran( setengah down syndrome), apakah di dalam hukum Gereja ada peraturan khusus tentang hal itu?
          2.Apakah bisa diizinkan atau ada semacam pendampingan dalam mempersiapkan perkawinan dalam kondisi tersebut?
          3.Apa ada syarat khusus dalam hal tersebut di atas, semacam syarat minimal kondisi mental orang yang akan melakukan perkawinan?
          Mohon penjelasan

          • Shalom Joan Heru,

            1& 3 Tentang hak Perkawinan orang yang terlambat pikiran (setengah down syndrome), apakah di dalam hukum Gereja ada peraturan khusus tentang hal itu? Apa ada syarat khusus dalam hal tersebut di atas, semacam syarat minimal kondisi mental orang yang akan melakukan perkawinan?

            Secara prinsip, yang berlaku adalah kanon 10, 11, 1057, yang mengacu bahwa hukum hanya dapat berlaku jika orang yang bersangkutan adalah orang yang mampu/ memenuhi syarat hukum. Artinya, jika orang yang melakukan tidak mampu, maka tindakannya tidak sah.

            KHK 10    Yang harus dipandang sebagai undang-undang yang menjadikan-tindakan-tidak-sah (lex irritans) atau menjadikan-orang-tidak-mampu (lex inhabilitans), hanyalah undang-undang yang menentukan dengan jelas, bahwa tindakan tidak sah atau orang tidak mampu.

            KHK 11    Yang terikat oleh undang-undang yang semata-mata gerejawi ialah orang yang dibaptis di dalam Gereja katolik atau diterima di dalamnya, dan yang menggunakan akal-budinya dengan cukup, dan jika dalam hukum dengan jelas tidak ditentukan lain, telah berumur genap tujuh tahun.

            KHK 1057 § 1 Kesepakatan pihak-pihak yang dinyatakan secara legitim antara orang-orang yang menurut hukum mampu, membuat perkawinan; kesepakatan itu tidak dapat diganti oleh kuasa manusiawi manapun.

            Selanjutnya, perlu diketahui prinsip dasarnya bahwa, ada ketiga hal yang menggagalkan perkawinan yaitu halangan menikah, cacat konsensus dan cacat forma kanonika. Tentang cacat konsensus ini, Kitab Hukum Kanonik menyebutkan:

            KHK 1095 Tidak mampu melangsungkan perkawinan:

            1. yang kekurangan penggunaan akal-budi yang memadai;
            2. yang menderita cacat berat dalam kemampuan menegaskan penilaian mengenai hak-hak serta kewajiban-kewajiban hakiki perkawinan yang harus diserahkan dan diterima secara timbal- balik;
            3. yang karena alasan-alasan psikis tidak mampu mengemban kewajiban-kewajiban hakiki perkawinan.

            Secara umum hal down syndrome  dapat mengakibatkan cacat konsensus. Tentang adanya kemungkinan terdapat  tingkatan down syndrome, itu mungkin saja, namun terus terang, saya tidak mengetahui secara persis kriteria- kriteria tentang hal itu.  Maka, secara prinsip dibutuhkan keterangan yang sebenarnya tentang keadaan pasangan atau salah satu dari pasangan yang mempunyai gejala ‘down syndrome‘ (DS) itu, apakah ia mempunyai akal budi yang memadai, apakah ia memahami hak dan kewajiban hakikinya dalam perkawinan, dan apakah secara psikis ia cukup stabil dan mampu untuk mengemban kewajiban dasar dalam perkawinan. Untuk hal ini, masukan dari para ahli -dalam hal ini adalah psikolog yang mendampingi pertumbuhan psikologisnya- menjadi penting, sebab dari penilaian obyektif psikolog tersebut, dapat diketahui apakah orang ini mempunyai kemampuan dasar untuk menikah atau tidak.

            Dalam hal ini memang peran orang tua cukup besar, untuk menilai dengan jujur tentang apakah anaknya yang DS tersebut dapat menggunakan akal budinya dengan baik (jika tingkatan DSnya tidak parah), artinya mempunyai kemampuan untuk membedakan hal- hal yang baik dan yang buruk, dan jika sudah dapat membedakannya, dapat mengusahakan untuk melakukan hal- hal yang baik. Orang tua juga dapat menilai apakah sang anak yang DS itu memahami tugas dan kewajiban sebagai istri atau suami dan juga kelak sebagai orang tua jika Tuhan mempercayakan anak- anak kepadanya? Apakah sang anak yang DS tersebut secara psikis cukup stabil, mempunyai pengendalian diri dan kemampuan untuk mendengarkan usulan orang lain, belajar dari kesalahan dan memperbaikinya? Apakah ia secara psikis siap untuk menjadi ibu/ bapak? Jangan sampai, hanya demi supaya anaknya bisa menikah, lalu orang tua sepertinya mengabaikan hal- hal tersebut. Dan yang tak kalah penting adalah, apakah calon pasangan anak yang DS ini mengetahui kondisi pasangannya? Ataukah kedua pasangan ini ‘setengah DS’, dan keduanya mengetahui kelemahan masing- masing dan bersedia untuk bahu membahu mengemban tugas sebagai istri/ suami/ orang tua?

            2. Apakah bisa diizinkan atau ada semacam pendampingan dalam mempersiapkan perkawinan dalam kondisi tersebut?

            Sepanjang pengetahuan saya, belum ada pendampingan khusus baik dalam persiapan perkawinan maupun pasca perkawinan, bagi pasangan yang ‘setengah DS’ ini. Kasus ini memang menurut hemat saya relatif agak langka, sehingga kemungkinan diperlukan kerja keras ekstra dari para orang tua pasangan, pihak seksi kerasulan keluarga paroki, dan romo paroki. Jika memang ada kebutuhannya dalam keuskupan, kemungkinan dapat diusulkan agar dibentuk kelompok pembinaan bagi pasangan- pasangan yang sedemikian.

            Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
            Ingrid Listiati- katolisitas.org

             

        12. Yang terhormat romo wanta
          singkat cerita tentang perkawinan saya, 23 agustus 2000 saya menikah dgn suami digrja secara kanonik, dan dikarunia 1 putri. pernikahan kami terjadi krn kecelakaan (hamil diusia 19 th). sebenarnya saya tdk cinta dgn suami, pada waktu masih sebagai teman ternyata dia mengguna2i saya dgn ilmu peletnya. pada waktu saya mengucap janji terlintas dalam pikiran saya untuk bercerai, karena pernikahan ini bukan atas cinta. suami jg tahu kalo saya selama pernikahan tidak mencintai dia. ditengah perjalanan rumah tangga tahun2004, ada banyak sekali masalah, dia tidak jujur masalah keuangan hingga hutang menumpuk puluuhan juta, tidak pernah terbuka dengan saya, dan adanya perselingkuhan yg dilakukan suami. th 2006 akhirnya kami pisah ranjang, dan suami sama sekali tidak menafkai kami. th 2008 saya menggugat cerai suami dan resmi bercerai, syah secara sipil. dulu kediaman kami dijawa, mulai th 2008 sampai sekarang saya berada diriau bersama anak saya. selama 5 th suami tidak menafkai saya dan anak saya.
          Pertanyaan saya adalah, apakah saya bisa memproses pembatalan pernikahan digreja? apakah saya bisa menikah dengan pria katolik digreja? pertanyaan ini saya ajukan karena saya berencana menikah dengan pria katolik karena umur saya masih 30 th.
          Semoga romo bisa membantu saya, syallom dan terimaksih.

          • Natalia yth

            Anda bisa memproses perkara perkawinan anda di Tribunal dimana anda diteguhkan perkawinan, artinya memohon pembatalan perkawinan. Oleh karena itu mulailah menulis history perkawinanmu, menulis surat permohonan dan memberikan nama saksi- saksi minimal 5 orang dari pihak anda atau pasangan anda, lampirkan surat dokumen Gereja surat baptis, akte perkawinan, bila sudah cerai sipil akte perceraian sipil. Lalu kirimkan ke tribunal perkawinan keuskupan dimana perkawinan anda dulu diteguhkan. Penting dalam surat permohonan itu dicantumkan alasan permohonan pembatalan perkawinan. Anda dapat menikah lagi di Gereja Katolik jika: 1) permohonan pembatalan perkawinan anda telah dikabulkan; ada pernyataan bahwa perkawinan pertama anda telah dianulir Gereja Katolik (Tribunal perkawinan) 2) tidak ada halangan dengan pasangan baru 3) tidak boleh gagal lagi dalam membangun perkawinan.

            salam
            Rm Wanta

            • yang terhormat romo wanta, saya sudah melalui tahap mengajukan permohonan pembatalan perkawinan di paroki pasirpangarayan, saya juga sudah menulis histori perkawinan saya dan berkonsultasi dengan romo paroki. yang saya tanyakan alasan permohonan pembatalan perkawinan yang dimaksud apa? apakah masalah-masalah yang terjadi dalam keluarga saya dan tidak bisa bersama sama lagi karena tidak ada cinta. atau ingin menikah secara katolik. ? terimakasih Syallom.

              • Shalom Natalia,
                Jika anda ingin mengajukan permohonan pembatalan perkawinan anda harus menulis surat permohonan ke pihak Tribunal Keuskupan, dengan menyertakan histori perkawinan anda. Di sana yang ingin diketahui olah pihak tribunal adalah apakah terdapat hal- hal yang membatalkan perkawinan anda. Gereja Katolik mengajarkan bahwa ada tiga hal yang membatalkan perkawinan yaitu: 1) halangan menikah 2) cacat konsensus 3) cacat forma kanonika. Di mana ketiga hal ini terjadi sebelum atau pada saat perkawinan diadakan.

                Silakan anda membaca tentang apa saja yang termasuk halangan menikah, silakan klik di sini ; sedangkan untuk cacat konsensus dan cacat forma kanonika, silakan klik di sini.

                Sebab jika satu atau lebih dari hal- hal yang disebutkan di atas terjadi perkawinan anda, maka anda mempunyai dasar untuk mengajukan permohonan pembatalan perkawinan, tetapi jika tidak ada dasarnya, sesungguhnya anda tidak mempunyai dasar mengajukan permohonan pembatalan perkawinan. Jadi maksud penulisan histori perkawinan itu bukan untuk mengatakan anda sekarang sudah tidak cinta lagi dengan suami, atau karena ingin menikah lagi; tetapi untuk menyampaikan kepada pihak Tribunal, bahwa sebenarnya perkawinan anda sudah tidak memenuhi syarat sebagai perkawinan yang sah, sejak awalnya. Untuk mendukung pernyataan ini, anda harus menyediakan bukti- bukti dan para saksi. Jika semua ini ada, dan telah diperiksa dengan seksama oleh pihak Tribunal, maka permohonan anda dapat dikabulkan, tentu setelah melalui tahapan- tahapan prosesnya.
                Jadi sekali lagi, penulisan histori perkawinan itu bukan untuk menyatakan perasaan anda, tetapi menyatakan fakta tentang apakah terdapat halangan/ cacat dalam perkawinan anda sejak semula, sehingga dapat dinyatakan tidak sah. Sebab jika tidak ada halangan ataupun cacat, artinya perkawinan tersebut sudah sah; dan dalam keadaan sah, perkawinan tersebut tidak dapat diceraikan atau dinyatakan batal.

                Untuk itu silakan anda berkonsultasi dengan pastor paroki atau pastor yang ahli di dalam hal hukum perkawinan, yang dapat membantu anda menyusun libellus/ surat permohonan pembatalan perkawinan, jika memang ada halangan/ cacat dalam perkawinan anda sejak semula.

                Demikian semoga dipahami.
                Salam kasih dalam Kristus Tuhan, Ingrid Listiati- katolisitas.org
                 

        13. palar siahaan on

          saya seorang Katolik(menikah secara Katolik), menikah dgn istri yg non Katolik(Protestan). meskipun dulu istri sy setuju nikah di Katolik, namun secara khusus kami tidak pernh membicarakan bhwa istri sy hrs jd Katolik dan secara pribadi saya tidak terlalu menekankan istri jd Katolik. saya berprinsip seiring waktu dan proses dalam menjalani nikah rumah tangga akan timbul perubahan dimana istri bisa membuka hati terhadap Katolik, meski saya tadi tidak “jor-jor an” memberi pengaruh pd istri tentang Katolik. namun lewat teladan keseharian sedapat mungkin(saya juga kadang lemah) saya menunjukkan sikap ke Katolikan saya. sesungguhnya yang saya lihat hingga sekarang harapan saya agar istri membuka hati terhadap Katolik jauh dari yg saya harapkan. pertanyaan saya: bolehkah saya menyarankan istri saya untuk mencari pengganti saya sebagai suami?…

          • Rm Agung MSF on

            Sdr. Palar

            Iman seharusnya bertumbuh dari dalam hati, bukan dari paksaan. Gereja Katolik tidak mau memaksa orang untuk dibaptis dan menjadi anggotanya. Jika ada orang yang menjadi Katolik dan dibaptis karena terpaksa atau dipaksa… tidak ada artinya. Biarlah orang menghayati iman karena memang dari dalam hatinya menginginkannya.
            Mempunyai pikiran atau niat menyarankan istri anda mencari orang lain sebagai pengganti anda terasa aneh dan tentu saja tidak benar. Apa hanya karena istri anda tidak atau belum mau menjadi Katolik kemudian anda ingin berpisah darinya dan memintanya mencari pengganti? Pikiran dan niat seperti itu harus anda buang jauh-jauh karena tidak sesuai dengan kehendak Allah yang selalu ditegaskan dalam ajaran Gereja

            In amore Sacrae Familiae
            Agung P. MSF

            • palar siahaan on

              Yang terhormat Rm Agung,

              terimakasih tanggapan romo, gejolak hati saya jg sering mengatakan bahwa apa yg saya pikirkan aneh dan tidak benar. sedapat mungkin tidak berpikir demikian terkadang masih terlintas juga. sebelumnya saya sebut saya terkadang lemah. bagian dari kelemahan yang saya maksud: saya bekerja/mengajar di sebuah sekolah(negeri) dimana karena kondisi wilayah dan transportasi dari dan ke tempat kerja tidak bisa pulang-pergi dalam satu hari. syukur masih bisa pulang sekali seminggu. nah…, kesempatan pulang sekali seminggu ini, praktis hari minggunya saya hanya mengikuti ibadah(Misa) Minggu. kerinduan saya ingin turut berpartisipasi dalam lingkungan Gereja,doa kelompok hingga saat ini saya urungkan, karena setidaknya istri yang saya harapkan untuk bisa mewakili keberadaan rumah tangga saya tidak bergeming apabila hal(kerinduan) itu saya utarakan. inilah yang membuat hati saya terus bergejolak dimana saya merasa seperti menyemai atau bahkan mendirikan rumah tangga diatas angin. hari demi hari yang saya rasa hanyalah kesia-siaan.

              • Rm Agung MSF on

                Ytk. Bapak Palar
                Saya bisa memahami bagaimana kerinduan anda untuk membina satu iman dalam keluarga anda. Namun tidak benar jika kemudian kerinduan anda itu anda jadikan alasan untuk memaksakan kehendak pada istri anda untuk beriman katolik. Sekali lagi iman adalah tanggapan pribadi yang sangat bebas, dalam arti tidak boleh dipaksakan. Gereja katolik pun tidak akan memaksa seseorang untuk menjadi katolik, entah karena perkawinan entah karena alasan lainnya. Karena Gereja menegaskan bahwa iman adalah tanggapan atas pewahyuan diri Allah. Dan rasa-rasanya tidak tepat jika niat baik anda untuk aktif dalam kegiatan gereja diurungkan atau bahkan dibatalkan hanya gara-gara istri anda tidak menjadi Katolik. Janganlah perbuatan dan niat baik kita tergantung pada situasi dan kondisi, tetapi kita melakukan kebaikan karena memang sewajarnya dan selayaknya kita melakukannya. Juga sebagai ungkapan cinta kita pada Allah dan Gereja-Nya.
                Berikanlah kesaksian iman bukan melakukan pemaksaan iman terhadap orang lain, kendatipun itu istri anda sendiri. Selain itu berdoalah agar kehendak Tuhan yang terjadi, bukan keinginan kita sebagaimana Tuhan Yesus berdoa, “biarlah cawan ini berlalu, tetapi karena kehendak-Mu bukan kehendakku”… dan Bunda Maria “terjadilah padaku menurut kehendak-Mu”. Jika suatu saat istri anda menjadi katolik, itu bukan karena anda, melainkan karena Tuhan menghendakinya demikian.

                In amore Sacrae Familiae
                Agung P. MSF

                • palar siahaan on

                  Yth Rm Agung

                  Kembali sy berterimakasih, tanggapan Romo semakin menguatkan saya untuk bisa senantiasa peka, menanti dengan sabar dan tekun(menunjukkan teladan iman) sudah semestinya saya selalu mengundang kehadiran Allah dalam keseharian nikah rmh tangga saya. Semoga pengharapan saya atas kehendak Allah semakin terbentuk bukan pada saat berada dalam kepastian namun disaat penantian(sebagaimana kerinduan saya). Sejujurnya tdk ada sedikit pun niat memaksa dalam benak saya. Mohon doa dari Romo agar nikah yg kami dirikan dalam Gereja(Katolik) dapat kekal dan berkenan bagi Tuhan.

        14. ignatius djumawan on

          Bp. Stef Ytk.

          Saya punya saudara perempuan katolik yang pada waktu menikah dengan lelaki islam di catatan sipil, namun saudara saya tidak mengucapkan syaadat. Agama tetap masing-masing. Dalam perjalanan waktu setelah beberapa tahun dan memiliki anak laki, si suami akhirnya meninggalkan istrinya begitu saja, dan menikah lagi dengan wanita lain, sampai saat ini pun si suami masih hidup.
          Belakangan ini saudara saya ingin menikah lagi, walau belum ada calon. Yang ingin saya tanyakan adalah :
          1. Apakah saudara saya ini masih diperbolehkan menerima komuni setiap misa ?
          2. Apakah saudara saya ini masih bisa menikah dengan calon suami yang beragama katolik ?
          3. Dalam mendidik anaknya, sebaiknya si orang tua harus bagaimana ?
          Mohon penjelasan. Terima kasih – Berkah Dalem

          • Ignatius Yth

            Membaca cerita anda, maka saya mengambil kesimpulan bahwa saudara anda tidak bisa menerima Komuni karena perkawinan orang Katolik wajib tata peneguhannya di depan Imam Katolik dan saksi. Meski tidak mengucapkan syahadat Islam, namun perbuatan itu tidak dibenarkan. Untuk dapat menerima Komuni maka saudara anda perlu mengaku dosa dalam sakramen Tobat, mengikuti pelajaran katekese iman untuk penyegaran karena sudah lama mungkin tidak mempraktekan hidup iman Katolik, baru kemudian boleh Komuni. Syaratnya mereka sudah tidak hidup bersama lagi dan saudara anda juga tidak hidup bersama orang lain. Kedua, kemungkinan menikah lagi dengan orang Katolik dapat dilakukan, asalkan persoalan perkawinan yang terdahulu diselesaikan untuk mendapatkan status bebas. Perkawinan di KUA dan diakui secara sipil publik oleh pihak Gereja Katolik sebagai perkawinan yang memiliki ikatan rohani. Ketiga dalam mendidik anak sebaiknya diikutkan di sekolah minggu atau bina iman anak di Paroki, sekolah di sekolah Katolik, ikut dalam kegiatan misdinar dan mohon ibunya juga aktif di dalam kegiatan anak tersebut.

            salam
            Rm Wanta

        15. Romo Wanta,
          Saya seorang wanita Katolik, jika calon suami saya seorang protestan (GPIB) yang telah bercerai dengan istrinya (mereka menikah secara protestan, namun mantan istri adalah seorang wanita muslim awalnya), di gereja mana kami bisa menikah? Alasan mereka bercerai adalah karena sang mantan istri yang awalnya berjanji untuk mengimani ajaran kristiani setelah menikah, ternyata sudah 12 tahun pernikahan dia tidak bisa mengimani kristus, tetap saja tidak mau dan tidak bisa berdoa dan ke gereja, melakukan kegiatan kerohanian kritiani. Iman memang tidak bisa dipaksakan. Anaknya pun dibimbing oleh papanya secara protestan. Jadi memang ada dualisme dalam iman sekalipun mereka menikah secara protestan. Dan ini menjadi duri dalam daging dimana sang pria menginginkan kebersamaan dalam iman dan tidak pernah dia dapatkan. Sebelum bercerai, sang pria sudah berniat untuk mengimani Katolik yang dia rasakan lebih membawa dia damai dan penguatan. Apakah dia bisa pindah mengimani Katolik dan menikah dengan saya secara Katolik? Kalau tidak bisa menikah secara Katolik tapi tetap mengimani Katolik, apakah diijinkan? Apa cara yang terbaik bagi kami? Terima kasih banyak Romo.

          • Maria Yth

            Kembali saya tegaskan bahwa setiap orang Katolik terikat dengan aturan hukum kanonik. Maka jika anda menikah dengan seorang yang pernah menikah itu menjadi halangan yang harus diatasi shg dia layak dan sah bisa menikah di Gereja Katolik. Masalahnya ada di calon suami anda yang Protestan dan pernah menikah. Maka langkah yang harus ditempuh adalah memohon kemurahan dari Bapak Uskup untuk memutuskan ikatan perkawinan natural dalam diri pasangan calon suami anda dengan istrinya. Setelah itu langkah kedua anda mengurus pernikahan secara Katolik di mana suami anda bisa diterima secara Katolik entah dengan pembaptisan ulang atau tidak tergantung dari baptisannya, apakah sah atau tidak. GPIB setahu saya sah baptisannya maka tidak perlu dibaptis namun perlu pelajaran agama lagi sehingga mantap iman Katoliknya. Kemudian diterima dan diteguhkan perkawinannya secara Katolik, setelah ada status bebas dari calon suami anda yang didapat dari kemurahan Bapak Uskup.
            Dalam proses ini akan ada interogasi dll, pastor paroki dan keuskupan tahu apa yang perlu dilakukan. Silakan anda menghubungi pastor paroki untuk mengetahui langkah- langkah apa yang harus anda lakukan.

            salam
            Rm Wanta

        16. Yang terhormat Romo,

          Saya menikah secara katolik th 1999 dan sdh dikaruniai anak, sebelumnya istri istri mau mengikuti jalan pemberkatan gereja tetapi menikah tanpa restu ibu mertua shg sy tdk setuju. Untuk itu setelah menghadap mertua untuk meminta restu mertua ternyata mensyaratkan pernikahan KUA. Akhirnya sambil menunggu jadwal pernikahan gereja kami melakukan ‘formalitas perkawinan’ KUA dengan cara inisiatif mertua yang memalsukan identitas ktp & KK saya.

          Awal perkawinan baik2 saja tetapi Akhir2 ini istri menurut saya terpengaruh oleh teman2nya (terutama mantan pacar pertamanya) yg mengganggap perkawinan sy di KUA tidak sah shg tiba2 meminta cerai di KUA…
          Pertanyaan saya setelah permintaan gugat cerai di pengadilan agama islam dikabulkan apakah statusnya masih istri saya, mengingat secara sipil & gereja masih sebagai istri sah saya.

          Sebenarnya mantan pacarnya sdh saya temuin & minta maaf untuk tidak mengganggu lagi tetapi proses sdh terlanjur jalan di Pengadilan agama islam; Lagipula pengaruh mantan pacar terhadap istri sdh begitu mendalam.
          Saya merasa ada yg tdk wajar secara psykologis yang terjadi pada istri saya

          Mohon advice Romo

          Terima kasih Romo…

          Salam Kasih,

          yudi

          • Yudi yth

            Masih ada harapan untuk rujuk; maka meskipun dampaknya sudah mendalam secara psikologis, cobalah terus menjalin komunikasi dengan istri. Perceraian
            di KUA tidak mengikat, yang mengakibatkan ikatan perkawinan menjadi putus. Jika ada keinginan untuk kembali saya kira bisa. Masih ada jalan.

            Salam dan doa
            Rm wanta

        17. Romo,

          apa yg harus saya lakukan atau tindakan apa, suami ketauan selingkuh dan saya sudah punya bukti2 yg saya kumpulkan selama 1 thn lebih ini. krn mengingat perkembangan jiwa anak2.

          • Rm Agung MSF on

            Ibu Fani yth

            Memang ketidaksetiaan, yang salah satunya terwujud dalam perselingkuhan sangat mengecewakan dan amat menyakitkan, sehingga seringkali hati kita tidak bisa menerimanya. Dalam keadaan ini, kata-kata Tuhan dalam Kitab Suci, “Ampuni tujuh kali tujuh kali tujuh kali” seolah menjadi tidak masuk akal. Kisah ketidaksetiaan Israel yang tetap dibalas dengan kesetiaan oleh Allah menjadi hal yang “aneh”.

            Maka kalau Ibu Fani bertanya, “Apa yang harus saya lakukan terhadap suami?”, maka saya ingin menanggapinya demikian.
            1. Pertanyaan pertama: Pengumpulan bukti yang sudah ibu lakukan bertujuan untuk apa? Untuk bukti gugat cerai atau apa? Kalau untuk gugat cerai…. saya tidak bisa memberi tanggapannya.
            2. Pertanyaan kedua: Apa yang sudah ibu lakukan untuk mengingatkan dan menyelamatkan suami dari perselingkuhan itu?
            Memaafkan atau mengampuni bukan tindakan yang ringan dan mudah untuk dilakukan. Namun sebaliknya, hal memaafkan itu juga bukan berarti berusaha untuk “melupakan” dan “menyingkirkan” kesalahan itu dalam relasi suami-istri. Memaafkan dan mengampuni juga bertujuan untuk menyelamatkan pasangan. Jadi ketika ibu mengatakan pada suami, “Aku memaafkan kesalahanmu….,” Ibu juga perlu mengatakan pada suami, “Jangan berbuat itu lagi”. Sebagaimana Yesus mengatakan kepada perempuan berdosa yang tertangkap basah melakukan perzinahan, Ia berkata, “Aku tidak menghukum engkau, pergilah dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang” (Yoh 8:11). Pengampunan menjadi sulit dilakukan, karena orang berfikir bahwa mengampuni sebatas “menerima apa adanya dan mau melupakannya”…. jika demikian, selain berat untuk dilakukan juga tidak membuahkan keselamatan bagi orang yang diampuni.

            Jadi yang perlu ibu lakukan sekarang:
            1. mengatakan pada suami memaafkan dan meminta dengan sangat tegas “menghentikan perselingkuhannya itu” juga demi anak-anak.
            2. melakukan upaya agar suami tidak jatuh dalam perselingkuhan lagi. Upaya apa saja? ibu Fani yang tahu kondisi dan situasinya …

            Mudah-mudahan sedikit tanggapan saya ini dapat membantu.
            Tuhan menciptakan Hawa untuk menjadi penolong yang sepadan bagi Adam. Tuhan menciptakan dan mengutus ibu Fani untuk menolong suami terlepas dari dosa dan kesalahannya itu….

            Tuhan memberkati

            In amore Sacrae Familiae
            Rm Agung P. MSF

        18. salam kasih.

          saya ada pertanyaan tp sblmnya saya ingin bercerita
          ibu saya crita kpd saya klo sodara dr temannya ad yg ingin kembali dan rindu kpd yesus tp ia tdk tau caranya krn seblmnya dia adlh seorg katolik dn menikah scr katolik tp kmd bercerai scr sipil.
          ia kmd menikah lg secr ijab krn ktnya gereja tdk bs memberkati pernikahannya
          krn grj tdk bs menceraikan sebuah perkawinan.akhirnya ia menjalani keyakinan baru tp seiring waktu dia merasa ingin ke grj lg dan selalu ingat yesus tp dia sadar,dia g bs krn dia tlh mengambil keputusan dg melepas yesus
          tp kerinduan akn yesus akhirnya membuat dia memberanikan diri utk ke grj walaupn ditentang suaminya.
          pertanyaan saya,apkh sodara teman ibu saya bisa diterima lg digrj katolik,jg bs trma komuni?klo bisa bgmn caranya?
          krn sodaranya prnh tnya kpd seseorg yg dianggap tau ttg katolik,ktnya yg bersangkutan g bs kembali dn g akn diterima krn dia tlh pindah agm.
          terus terang saya tdk setuju dg pernyataan tsb.kita sering menyayangkan klo ad seorang katolik yg pindah ke agm lain.nah,ad yg pgn kembali ke katolik
          malah g bisa dan g diterima.yesus dtng didunia sebagai gembala yang mengumpulkan domba2nya yang tercerai berai.
          saya menyayangkan sj dg tdk bs diterimanya salah satu domba2 yesus yg tersesat dn ingin kembali.
          masak agma lain dg aktif mengajarkn agama mrk,bhkn ad yg dg tambhn klo masuk agm ini ato it bakal masuk surga,kita mlh
          menolak sodara kita sendiri.
          terima kasih ats jwbnnya dn smoga membantu ibu tsb.

          • Elsa Yth

            Benar bahwa Tuhan Yesus adalah gembala baik yang mencari dombanya yang tersesat supaya kembali ke pangkuan-Nya, ke jalan yang benar. Untuk kisah yang anda ceritakan: ibu itu bisa kembali ke Gereja Katolik. Caranya: menerima pengajaran kembali agama Katolik yang sudah lama ditinggalkannya, mengakui dosanya, mengucapkan syahadat para rasul Credo di depan imam dan saksi, kemudian bisa kembali menjadi anggota Gereja Katolik. Syarat yang penting adalah karena suami non Katolik maka harus ada jaminan kebebasan beragama dan dapat pergi ke Gereja Katolik dair pihak suami. Kemudian agar dapat menerima Komuni seperti umat beriman yang lain, maka perkawinan harus dibereskan juga. Nah untuk ini rupanya perlu proses agak lama. Pertama harus diteliti perkawinan pertamanya yang secara Katolik mengapa terjadi perceraian alasan dan sebabnya apa? Apakah bisa diproses dengan anulasi perkawinan? Jika perceraian perkawinan pertamanya terjadi bukan karena kesalahannya, maka memungkinkan ibu tersebut dapat ke Gereja Katolik dahulu, tetapi tanpa Komuni sampai status perkawinannya beres secara kanonik. Semoga dapat dipahami, silakan menghubungi pastor paroki atau langsung ke keuskupan di mana anda tinggal.

            salam
            Rm Wanta

        19. Yang terhormat Romo,

          Saya pernah menikah secara katolik tahun 2002 dengan mantan suami yang kala itu masih calon katolik ( tdk pernah di baptis).
          Tetapi kemudian saya di tinggalkan tanpa alasan yang jelas secara tiba2 krg lebih 2 bulan setelah kami menikah. Selama itu saya menunggu dan tidak ada kabar berita dari suami. Dan akhirnya tahun 2008 kemarin, saya mendaftarkan ke Pengadilan Negeri setempat dan akhirnya kita resmi bercerai. Ternyata ada kabar suami sudah menikah lagi dan mempunyai 2 org anak. Mereka menikah secara Islam.

          Apakah diperbolehkan suatu pernikahan yang sudah sah cerai secara hukum negara didaftarkan dalam pembatalan pernikahan secara hukum Gereja Katolik? Karena saya ingin melanjutkan hidup saya… sekarang umur saya 37 tahun…

          Terima kasih Romo…

          Salam Kasih,

          Maria C.N

          • Maria yth

            Secara yuridis keputusan pengadilan sipil menjadi rujukan untuk menambah bukti proses anulasi/ pembatalan perkawinan. Jadi menyertakan surat keputusan pengadilan sipil ke pihak Tribunal bisa dilakukan dan diperbolehkan. Saya persilahkan untuk mengajukan pembatalan perkawinan anda di Tribunal Keuskupan di mana anda diteguhkan perkawinan dan domisili.

            salam
            Rm Wanta

        Add Comment Register



        Leave A Reply