Tidak bawa Alkitab pada saat Misa Kudus?

Pertanyaan:

salam kasih

mengikuti misa lebih dari empat tahun saya memperhatikan dan saya pun melakukannya, mengapa tidak ada satu jemaat pun yang bawa alkitab? apakah jemaat sudah mempercayakan perkatan firman Tuhan kepada magisterium? sehingga tidak perlu bawa alkitab?kenapa kotbah misa selalu membicarakan tentang kasih, tolong menolong atau lebih banyak kepada pemberitaan moral? saya masih beruntung bangun pagi atau malamnya masih membaca alkitab sehingga saya lebih puas.

Riswan Adrian

Jawaban:

Shalom Riswan,
1. Kalau anda mau membawa Kitab Suci ke gereja pada saat Misa Kudus, itu adalah sesuatu yang baik. Silakan anda melakukannya. Kalau di gereja saya, Kitab Suci disediakan di belakang gereja, jadi umat dapat turut ‘meminjam’ dan membacanya, pada saat liturgi Sabda. Tetapi sebenarnya, yang terbaik adalah anda membaca dan merenungkan bacaan Kitab Suci yang akan dibacakan dalam Misa Kudus, sebelum anda mengikuti Misa Kudus. Misalnya, sebelum anda mengikuti Misa hari Minggu anda sudah membaca dan merenungkan bacaan Misa Kudus pada hari Sabtu malam atau dalam doa pribadi anda di pagi hari Minggu sebelum Misa. Ini adalah salah satu cara mempersiapkan diri untuk mengikuti Misa Kudus, supaya anda dapat lebih menghayatinya. Cara membaca dan merenungkan Kitab Suci yang diajarkan oleh Gereja Katolik di antaranya adalah dengan Lectio Divina, seperti yang pernah dituliskan di sini, silakan klik.

Sungguh, jika anda sudah melakukan hal ini, maka pada hari Minggu, walaupun anda tidak membawa Alkitab ke Misa, namun Sabda Tuhan itu sudah meresap di dalam hati anda. Homili yang akan anda terima akan jadi semacam peneguhan atupun tambahan yang memperkaya pemahaman anda akan teks Kitab Suci yang sudah anda renungkan. Tentang langkah selanjutnya untuk mempersiapkan diri sebelum mengikuti Misa Kudus, silakan klik di sini.

Untuk mengetahui bacaan Misa Kudus untuk setiap hari, silakan klik di kalender liturgi. Atau di situs ini, silakan klik.

2. Jadi jika umat Katolik tidak membawa Alkitab pada Misa Kudus, tentu bukan karena Alkitab itu tidak penting bagi umat, ataupun karena firman Tuhan itu hanya untuk Magisterium. Lha, ini pandangan yang keliru. Sebab Gereja Katolik dalam Katekismus mengajarkan:

KGK 133 Gereja “menasihati seluruh umat Kristen dengan sangat, agar melalui pembacaan Kitab Suci Ilahi yang kerap dilakukan, sampai kepada ‘pengenalan Yesus Kristus secara menonjol’ (Flp 3:8). ‘Tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus’ (Hieronimus, Is. prol.)” (Dei Verbum 25).

Mungkin terjemahan bahasa Inggrisnya lebih jelas, demikian:

CCC 133 The Church “forcefully and specifically exhorts all the Christian faithful…. to learn ‘the surpassing knowledge of Jesus Christ,’ by frequent reading of the divine Scriptures. ‘Ignorance of the Scriptures is ignorance of Christ’ ” (Dei Verbum 25).

Maka umat diajarkan untuk membaca dan merenungkan Kitab Suci. Kalau ada orang Katolik yang tidak rajin membaca Kitab Suci, itu adalah kesalahan di pihak orang tersebut; dan bukan karena Gereja Katolik menyetujui demikian. Bahwa kerinduan untuk membaca dan merenungkan Kitab Suci itu harus ‘digalakkan’ di tengah umat, itu benar. Dan untuk ini perlu didorong juga oleh pastur paroki dan seksi Kitab Suci dan Katekese di paroki maupun wilayah, ataupun kegiatan komunitas yang lain seperti Pendalaman Kitab Suci, Kursus Evangelisasi ataupun Persekutuan Doa.

Jika umat tidak membawa Kitab Suci pada saat Misa, namun ia sudah merenungkannya di rumah, itu malah efeknya terhadap kehidupan kerohanian lebih besar daripada membawa Kitab Suci ke gereja, tapi sebelumnya belum membacanya. Silakan anda terapkan anjuran ini, dan alamilah perbedaannya. Selanjutnya, memang Gereja Katolik menganjurkan agar umat Katolik membaca Kitab Suci dengan terang Roh Kudus yang sama dengan terang Roh Kudus pada saat kitab itu dituliskan, sehingga di sini bimbingan dari Magisterium sangatlah penting; karena Magisterium menjelaskan segala ajaran yang berkaitan dengan iman dan moral sesuai dengan pengajaran para Rasul dan para Bapa Gereja dari abad- abad awal. Ini penting, supaya ajaran Gereja tidak didasari oleh pemahaman pribadi, karena pemahaman pribadi bisa salah atau tidak sesuai dengan maksud Yesus dan para rasul.

Jika anda membaca artikel Romo Wanta tentang homili, maka anda ketahui bahwa memang fokus dari homili adalah mengaitkan pesan Kitab Suci dengan kehidupan sehari- hari. Jadi memang fokus utamanya tentang penerapan hukum kasih. Walau kedengarannya klise, tetapi sejujurnya, meskipun sudah diingatkan terus setiap minggu kita masih sering gagal berbuat kasih (dalam setiap perbuatan dan perkataan kita), apalagi kalau tidak diingatkan.

3. Jadi kalau anda sudah membaca dan merenungkan Kitab Suci tiap pagi dan malam hari, itu adalah sesuatu yang sangat baik. Silakan anda mengajak istri (dan anak anda juga) untuk membaca Alkitab bersama anda. Belilah buku Kitab Suci bergambar untuk anak- anak, dan mulailah membacakan kisah Kitab Suci kepada anak anda sebelum tidur. Kecintaan anak terhadap firman Tuhan dimulai saat masih kecil, dan anda sebagai kepala keluarga dipercaya oleh Tuhan untuk melakukan hal ini. Selanjutnya, laksanakanlah peran anda sebagai ‘imam’ dalam keluarga anda, dengan berdoa bersama dengan istri dan anak anda, minimal satu kali sehari (misal pada malam hari sebelum tidur), namun alangkah baik juga di saat pagi, maupun sebelum dan sesudah makan. Biasakanlah untuk berdoa bersama sebagai keluarga, di samping anda berdoa secara pribadi.

Mother Teresa pernah mengajarkan demikian, “A family who prays together will stay together.” Jadikanlah doa sebagi pondasi dalam kehidupan rohani keluarga anda, maka anda dapat yakin, bahwa walau ada ‘badai’ melanda bahtera rumah tangga, namun anda sekeluarga akan kuat menghadapinya, dan selalu bersatu, karena Tuhan ada di pihak anda.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Beberapa artikel yang berhubungan:

Beberapa artikel di kategori yang sama:

11 Komentar to Tidak bawa Alkitab pada saat Misa Kudus?

  1. bgamana anda bisa tahu & mengerti Alkitab, sedangkan membaca pun tidak pernah.
    bnyk pesan2 Tuhan yg disampaikan.

    gereja aliran Pantekosta Kharismatik diharuskan membawa, itu menandakan bhw kita berusaha utk mengerti & menjalani hidup sesuai dengan Firman Tuhan. memang tdk lah mudah, tp dng kuasa Rohol Kudus tdk ada yg mustahil.

    sy jg pernah beberapa kali mendengarkan kotbah pastur di gereja katolik, tp tdk berbobot.
    apa karena sy sdh terbiasa mendengarkan Pdt. Nikko Notorahardjo (GBI), yg dipakai Tuhan luar biasa, dan dng urapan dari Rohol Kudus yg dahsyat.

    • Shalom Joakim,

      Terima kasih atas komentarnya. Sebenarnya kalau anda benar-benar mau mencoba mengerti apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik, anda tidak akan memberikan komentar seperti itu. Secara prinsip, dalam kalendar Gereja, ada bacaan mingguan A,B,C dan bacaan harian menggunakan tahun I dan II. Dalam lingkaran 3 tahun kalendar Gereja, maka umat Katolik secara prinsip telah membaca secara keseluruhan Kitab Suci. Umat Katolik diminta untuk membaca bacaan pada hari itu sebelum Misa. Dan pada waktu misa, juga disediakan lembar misa, yang juga memuat bacaan pada hari itu. Pada waktu misa, umat diminta untuk benar-benar mendengarkan, sehingga Sabda Allah yang sebelum dibaca di rumah dapat benar-benar diresapkan dengan lebih baik. Anda dapat bandingkan dengan apa yang dibahas di gereja anda dalam tiga tahun. Kalau anda merasa bahwa kotbah pendeta anda lebih baik dan mereka dipakai Tuhan dengan luar biasa, maka itu adalah hak anda. Menjadi hak kami juga untuk senantiasa setia dengan apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik dan bersyukur atas karunia para pastor yang dengan setia menguraikan Sabda Allah sesuai dengan bacaan dan topik yang diberikan tanpa memilih-milih ayat atas kehendak sendiri.

      Saya terus terang tidak tahu, apakah motif dari anda menuliskan komentar-komentar yang, mohon maaf, tidak mempunyai substansi diskusi. Anda telah memberikan komentar-komentar cukup banyak (6-7 komentar) beberapa hari ini, namun saya tidak dapat memasukkannya, karena memang tidak ada argumentasi sama sekali. Kalau anda mau berdiskusi secara serius, maka anda dapat memilih satu topik iman Katolik yang anda pandang salah dan kemudian silakan memberikan argumentasi yang baik dan dapat dipertanggungjawabkan, sesuai dengan apa yang anda minta, yaitu alkitabiah.

      Sebelumnya anda memberikan komentar dengan mana Lucia – dengan gaya penulisan dan warna yang sama dengan komentar di atas. Kemudian anda memakai nama yang lain, yaitu: Joakim, The Kim, Joyce, Jeanny Tan, Maria, Patricia. Semua nama itu memakai alamat e-mail yang sama dan menggunakan IP address yang sama. Kalau anda mau serius berdiskusi, saya akan mencoba menjawab semampu saya, namun kalau hanya memberikan komentar-komentar yang tidak mempunyai argumentasi, mohon maaf kami tidak dapat memasukkkannya di dalam website ini. Dan mohon maaf, kami sungguh mempunyai waktu yang terbatas untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang masuk ke website ini, sehingga kami tidak mempunyai waktu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti ini. Semoga hal ini dapat dimengerti.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  2. Mengapa Umat Katolik tidak membawa kitab suci di gereja ? Dari pengajaran yg saya ingat karena :
    1. Jaman dahulu (Gereja perdana) semua umat mendengarkan penuh hikmat bacaan Kitab Taurat (Kitab Suci) yg dibacakan di Bait Allah (Gereja), baik saat dibacakan oleh Yesus Kristus maupun murid-murid Yesus atau Imam-iman Bait Allah. Tujuannya agar umat lebih memahami apa yg di bacakan, karena merupakan Sabda Allah, Sabda Tuhan. Dijaman dahulu umat belum punya kitab suci sendiri. Dijaman saat ini, jika umat membaca sendiri dari Kitab Suci yang di bawa atau teks yang dibagikan di gereja,menurut saya sebenarnya agak kurang baik, karena Imam/Romo/Pastor sebelumnya berkata ” Marilah kita MENDENGARKAN sabda Tuhan, bukan marilah kita BACA sabda Tuhan.
    Jadi Imam/Romo yg merupakan wakil Yesus Kristus mengharapkan semua umat yg hadir di dalam gereja untuk MENDENGARKAN Sabda Tuhan yg di bacakan oleh Lektor/Lektris yang terpilih sbg pembaca.

    2. Umat katolik merayakan Misa fokus utama adalah perayaan Ekaristi, bukan fokus pada mendengarkan Sabda Tuhan atau Homili Imam, berbeda dg saudara kita di denominasi non katolik dimana setiap ibadat fokus utama mereka adalah mendengarkan kotbah pendeta, bukan EKaristi

    3. Saya di ajarkan untuk selalu membaca terlebih dahulu bacaan liturgi harian tiap malam sebelum mengikuti Misa esok paginya, ataupun tetap membaca liturgi harian walaupun tidak ikut misa harian. Sedangkan untuk bacaan Misa hari minggu, saya diajarkan untuk membaca beberapa hari sebelumnya, baik bacaan pertama, bacaan ke dua dan bacaan injil, lalu merenungkan & berdoa, biasanya saya banyak dibantu dengan membaca buku Percikan Hati, Ruah, Mutiara Iman, atau Ziarah Batin, sehingga saat hari minggu homili Imam/Romo semakin melekat dalam hati dan pikiran agar supaya kita taat menjalankan ajaran Yesus Kristus.

    4. Homili Imam/Romo masing-masing punya style sendiri, ada yg singkat padat & jelas, ada yg bertele-tele, ada yg penuh dengan guyonan, ada yang datar-datar saja, bagi saya semuanya harus saya terima sebagai ucapan syukur masih boleh bisa MENDENGARKAN ajaran dari wakil Yesus Kristus melalui hambanya di gereja katolik. Kalau saya sudah mempersiapkan diri dengan membaca bacaan-bacaan liturgi tersebut, niscaya saya tidak akan ngantuk dan tentunya saat saya berucap ” SYUKUR KEPADA ALLAH ” benar2 saya mensyukuri dan memuji Kristus dari apa yg saya dengarkan bacaan yang dibaca oleh para lektor/lektris

    Saat Injil selesai di bacakan Imam/Romo, Saya sungguh2 berucap “TERPUJILAH KRISTUS” atau ” Sabda-Mu adalah jalan kebenaran dan hidup kami ” atau saat dahulu kita masih berucap ” Tanamkanlah Sabda-Mu ya Tuhan dalam hati Kami” ini sungguh bermakna bahwa saya sungguh2 sudah MENDENGARKAN Sabda Allah dan Sabda Allah merupakan jalan kebenaran dalam kehidupan saya.

    5. Mengenai Kitab Suci, saya lebih suka membaca langsung dari Kitab Suci yang selalu saya bawa kemana-mana, saya tidak begitu suka membaca kitab suci dari HP apalagi saat menerima pengajaran / pendalaman kitab suci, lebih enak langsung baca dari kitab suci, karena bisa mencatat hal-hal penting dari ayat2 yg sedang dipelajari dan membuat saya jadi lebih lancar mencari-cari 45 kitab perjajian lama dan 27 kitab perjanjian baru. Umat katolik menurut saya terlalu dimanjakan sehingga malas bawa kitab suci, malas baca kitab suci, karena semua sudah tersedia, di Gereja saat misa tersedia teks bacaan, saat Persekutuan Doa atau pertemuan2 lain sudah tersedia bacaan di layar, memang tujuannya baik agar umat bisa turut membaca. Anyway…kembali ke diri kita masing-masing.

    Bagi saya : Jika saya mencintai Tuhan Yesus Kristus, berarti saya harus mencintai Firman atau Sabda-Nya, karena menurut saya Firman atau Sabda-Nya adalah suara Tuhan Yesus Kristus yang saya cintai, kalau saya tidak bosan dengan Tuhan Yesus Kristus berarti saya tidak akan bosan mendengarkan suara Tuhan Yesus Kristus, bagaimana mungkin saya benar-benar mencintai Tuhan Yesus Kristus kalau kita malas mendengarkan suara-Nya dan bagaimana saya mencintai suara-Nya melalui Firman atau Sabda-Nya jika saya tidak mencintai Kitab Sucinya terlebih dahulu.

    Trims..mohon maaf jika ada kata-kata yang tidak berkenan.

    GOD Bless Us all the time..
    Samuel Rismana S

    • Shalom Samuel,

      1, 3. Ya benar, memang dalam Liturgi Sabda dalam Misa Kudus, umat diharapkan untuk mendengarkan Sabda Tuhan. Namun memang ada gereja- gereja tertentu, yang menyediakan bacaan Kitab Suci-nya, baik dalam bentuk teks, buku ataupun kitab sucinya sendiri. Hal ini tentu bukan untuk menggeserkan prinsip utama bahwa umat diharapkan untuk “mendengarkan” Sabda Tuhan pada liturgi Sabda; melainkan untuk membantu sebagian umat yang mungkin dapat lebih terbantu jika turut membaca bacaan tersebut, misalnya jika sound system kurang baik, orang- orang yang tidak mempunyai indra pendengar yang baik, ataupun jika ada orang asing yang kurang dapat mengikuti bacaan Kitab Suci jika hanya melalui pendengaran. Walaupun tentu, masalah ini sesungguhnya dapat diatasi, jika seseorang sudah terlebih dahulu membaca teks Kitab Suci hari itu di rumah, sebelum menghadiri Misa Kudus. Hal ini memang dianjurkan, seperti yang juga sudah pernah dibahas dalam artikel Cara Mempersiapkan diri Menyambut Ekaristi, silakan klik di sini

      2. Ya, benar bahwa Liturgi Sabda adalah salah satu cara Kristus menyatakan Diri-Nya dalam Misa Kudus, dan bukan satu- satunya cara; sebab kehadiran Kristus juga ada di dalam liturgi Ekaristi, dalam diri imam-Nya (persona Christi), dalam diri jemaat/ umat sebagai Tubuh Mistik Kristus, dan secara khusus, dalam rupa hosti/roti dan anggur setelah konsekrasi.

      4. Ya, benar bahwa tiap- tiap Romo mempunyai gaya sendiri pada saat menyampaikan homili, maka sebaiknya kita tidak terpaku kepada gayanya, tetapi kepada apa yang disampaikannya. Selanjutnya memang adalah suatu tugas bagi kita untuk mendoakan para imam, terutama iman di paroki kita, agar mereka selalu dibimbing oleh Roh Kudus pada saat memimpin Misa Kudus, dan memberikan homili, agar dapat menjawab kebutuhan rohani umat.

      5. Ya, baik untuk selalu membawa dan membaca Kitab Suci, merenungkannya, dan di atas semua itu, melaksanakan apa yang diajarkan di dalamnya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  3. Terima kasih banyak Bu inggrid, atas jawaban yang memuaskan…
    saya mau tanya lagi tetang malakukan tanda salib di dalam misa.
    hal yang sebenar nya membuat tanda salib sewaktu Misa itu
    waktu kapan saja sih ? saya selalu memperhatikan orang-orang
    mulai masuk gereja, Buat tanda salib, mau duduk sambil berlutut tanda salib,
    bahkan sewaktu Romo selesai memberikan Homili Juga tanda salib lagi.
    dan mengenai hal itu saya berpikir terlalu boros menggunakan tanda salib.

    Ada cerita lagi neh, kebetulan saya saat ini sedang berada di Negri sebrang, waktu itu kami
    berdua makan bersama orang pri bumi di sebuah Lestoran, dan kebetulan temen saya itu
    juga seorang katolik, ketika saya berdoa sebelum makan saya selalu menggunakan
    tanda salib di awal dan di akhir Doa, tetapi saya malah di tertawain oleh teman saya itu,
    katanya “tanda salib itu cukup sekali waktu sebelum doa saja”.
    mengenai hal ini bagaimana Bu Inggrid ?
    Terima kasih sebelum dan sesudah nya

    Salam dan Doa

    Mike

    • Mike,
      Menurut rubrik dalam Tata Perayaan Ekaristi, tanda salib liturgis dilakukan pada waktu awal sebelum memberi salam liturgis dalam Ritus Pembuka, dan pada Ritus Penutup ketika menerima berkat pengutusan. Jadi pada awal dan akhir Perayaan Ekaristi. Di tengah Perayaan Ekaristi, tanda salib kecil tiga kali (di dahi, bibir, ulu hati) dibuat pada saat awal pemakluman Injil. Sebelum pembaruan Buku Misa menurut Konsili Vatikan II, ada banyak tanda salib yang dibuat selama misa. Ada kesan bahwa banyaknya tanda salib itu membuat orang melakukannya tanpa sadar dan membuat tanda itu kurang berarti. Maka pengurangan dalam Misale Paulus VI dimaksudkan untuk lebih memaknai arti dari tanda itu dan diharapkan agar dilakukan dengan penuh kesadaran. Tanda salib lain yang dibuat dalam perayaan Ekaristi sebenarnya tidak ditulis dalam Buku Misa Paulus VI. Waktu makan sangat baik berdoa dengan tanda salib pada awal dan akhir doa. Tidak ada larangan untuk membuat tanda salib pada akhir doa. Salam dan doa. Terima kasih untuk semuanya.
      Rm Boli.

      Tambahan dari Ingrid:

      Shalom Mike,
      Seperti disampaikan oleh Rm. Boli, memang menurut rubrik Tata Perayaan Ekaristi, tanda salib dibuat hanya di awal misa dan di akhir misa, serta sebelum pembacaan Injil suci. Namun tentu tidak dilarang bagi umat untuk membuat tanda salib di luar liturgi, misalnya pada saat memasuki gedung gereja, pada saat mengambil air suci dan mengenakannya di dahi. Pada saat itu tanda salib dibuat untuk mengingatkan bahwa kita memasuki rumah Allah, dan kita diingatkan akan janji baptis kita di dalam nama Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus. Ataupun juga dalam doa pribadi lainnya di dalam gereja, kita tetap dapat membuat tanda salib; yang terpenting adalah, pada saat membuat tanda salib, seseorang harus sungguh- sungguh menghayati maknanya, dan tidak boleh hanya asal- asalan saja.

      Semoga kita dapat semakin menghayati makna tanda salib, sehingga melakukannya dengan sikap hormat dan syukur.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  4. Saya mendapat penjelasan dari Rm Zepto, Pr dari FB Seputar Liturgi dan Perayaan Ekaristi Gereja Katolik : Pola pembacaan Firman dalam Perayaan Ekaristi adalah pola Allah bersabda, bangsa Israel mendengarkan. Maka, kini yang paling penting adalah: ketika Firman di-BACA-kan, umat MENDENGAR-kan, bukan ikut-ikutan membacakannya.

    PUMR 29. Bila Alkitab dibacakan dalam gereja, Allah sendiri bersabda kepada umat-Nya, dan Kristus sendiri mewartakan kabar gembira, sebab Ia hadir dalam sabda itu.

    Oleh karena itu, pembacaan Sabda Allah merupakan unsur yang sangat penting dalam liturgi. Umat wajib mendengarkannya dengan penuh hormat. Memang, Sabda Allh ditujukan kepada semua orang dari segala zaman dan dapat mereka pahami. Namun sabda itu akan dipahami secara lebih penuh dan lebih berhasil guna bila dijabarkan secara konkret. Ini dilakukan dalam homili, yang merupakan bagian dari perayaan liturgis.

    • Shalom Chris,

      Ya, benar yang anda sampaikan bahwa memang seharusnya pada saat Sabda Tuhan dibacakan, umat mendengarkan. Tetapi, memang kadang untuk sebagian orang, mengikuti dengan turut membaca teks juga dapat membantu, khususnya, jika sound system di gereja kurang baik, atau kalau organ pendengaran kurang berfungsi dengan baik (pada orang- orang tua) dst, sehingga dalam hal ini adanya teks Kitab Suci dapat membantu. Namun idealnya, tentu umat mendengarkan pembacaan Sabda Tuhan itu, dengan sebelumnya sudah membacakan perikop tersebut di rumah, sebelum menghadiri Misa Kudus. Itulah sebabnya umat sebaiknya setiap hari merenungkan bacaan harian Misa Kudus, yang dapat diketahui melalui Kalender Liturgi.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  5. Salam kasih Bu Inggrid, saya juga mau tanya tentang kitab suci. Saya selalu merenungkan kitab suci, tetapi saya selalu membacanya dari kitab suci online atau Alkitab di Hape saya. Maaf karena saya waktu pergi merantau tidak bawa Alkitab versi indonesia. Selain itu saya merasakan lebih praktis dgn media elektronika ini,karena tinggal klik ayatnya saja sudah terbuka. Yang mau saya tanyakan adalah, dengan tidak membaca Alkitab (dalam bentuk buku) apakah hal ini salah ? Karena wkt itu kami pernah di marahi seorang Romo, sewaktu bacaan pertama dan kedua dalam misa, tidak pakai kitab suci melainkan dengan texs misa saja. Sampai di bilang “seperti membaca dongeng atw novel saja kalian” ↲Mohon tanggapan nya Bu Inggrid↲Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan Terima kasih banyak.

    • Shalom Mike,

      Jika anda selalu merenungkan Sabda Tuhan dalam Kitab Suci, itu adalah sesuatu yang baik; walaupun anda membacanya online ataupun lewat telpon genggam. Maka membaca dengan cara ini tidak salah. Namun kalau anda melakukannya dalam Misa Kudus, misalnya pada saat Liturgi Sabda, maka ini mungkin menjadi kurang bijak; karena dapat menarik perhatian, mengganggu konsetrasi ataupun menjadi batu sandungan bagi orang di sekitar anda. Bukan tidak mungkin mereka berpikir anda sedang main game, sehingga di dalam hati mereka bertanya- tanya atau kesal. Rasul Paulus mengingatkan, agar kita harus berusaha untuk tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain (1 Kor 8:9); seperti yang Yesus ajarkan (lih. Mat 17:27).

      Jadi supaya tidak menjadi batu sandungan, dan juga supaya lebih baik bagi anda sendiri, sebaiknya anda membaca bacaan Alkitab hari itu terlebih dahulu sebelum ke Misa Kudus, sehingga pada waktu Misa anda hanya mendengarkannya, dan tidak perlu membaca lagi perikop itu dari Hp anda. Selanjutnya, ada baiknya anda tetap memiliki Kitab Suci cetak, sehingga anda dapat memberikan tanda- tanda pada beberapa ayat yang menyentuh hati anda, ataupun menuliskan catatan- catatan di dalamnya; sesuatu yang tidak dapat anda lakukan jika anda hanya membaca secara online di komputer atau Hp.

      Saya tidak mengatahui persis kejadiannya, tentang mengapa anda ditegur oleh Romo. Silakan anda introspeksi kembali, apa yang salah sehingga Romo beranggapan bahwa anda ‘seperti membaca dongeng atau novel’? Adakah anda ngobrol, atau tidak dengan sikap hormat/ serius pada saat mengikuti pembacaan Kitab Suci? Lalu tentang membaca teks misa, memang diterapkan di beberapa paroki, walaupun seperti dikatakan oleh Romo Wanta, sebenarnya ini tidak ideal juga, karena kadang malah membelokkan perhatian umat, yang turut sibuk membaca teks, padahal seharusnya duduk tenang mendengarkan dan merenungkan teks yang sedang dibacakan.

      Demikian komentar saya, semoga berguna.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  6. salam kasih

    mengikuti misa lebih dari empat tahun saya memperhatikan dan saya pun melakukannya, mengapa tidak ada satu jemaat pun yang bawa alkitab? apakah jemaat sudah mempercayakan perkatan firman Tuhan kepada magisterium? sehingga tidak perlu bawa alkitab?kenapa kotbah misa selalu membicarakan tentang kasih, tolong menolong atau lebih banyak kepada pemberitaan moral? saya masih beruntung bangun pagi atau malamnya masih membaca alkitab sehingga saya lebih puas.

    [Dari Katolisitas: pertanyaan ini sudah dijawab di atas, silakan klik]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CONNECT WITH US: