Tentang penyelidikan mukjizat Ekaristi

26

Pertanyaan:

Dear Pengelola katolisitas

Salam, Berkah Dalem

Saya mohon penjelasan dan tanggapan Gereja Katolik tentang beberapa keajaiban-keajaiban sehubungan dengan ‘Perubahan’ dari roti dan anggur menjadi Tubuh dan darah Kristus, atau istilah ‘transubtansiasi’. Saya melihat beberapa video singkat tentang ‘Eucharistic Miracle’ yang terjadi di Eropa, Korea dll, sekaligus kesaksian2 romo, suster dan penyelidikan2 berikutnya oleh ahli2 biologi dsb. Pertanyaan saya, bagaimana pandangan resmi Gereja Katolik tentang hal2 seperti itu.
Terima kasih

Salam
Paulus Pamungkas

Jawaban:

Shalom Paulus Pamungkas,

Kejadian- kejadian mukjizat sehubungan dengan 'perubahan' roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus memang banyak terjadi sepanjang sejarah Gereja. Sepanjang pengetahuan saya, Gereja Katolik terbuka akan diadakannya penelitian atas mukjizat tersebut. Salah satu mukjizat yang terkenal dari Ekaristi tersebut terjadi sekitar abad ke 8 di Lanciano, Italia. Saya pernah menuliskan kisahnya sekilas di artikel ini, silakan klik. Di sana Gereja memberikan izin untuk diadakannya penelitian terhadap potongan 'hosti' yang sudah berubah menjadi irisan daging hati manusia; demikian pula pada gumpalan darah manusia yang membeku yang kini tersimpan di piala tembus pandang. Fakta bahwa kedua specimen itu tetap eksis (dari abad ke 8 sampai sekarang- berarti sudah 12 abad) dan tidak busuk padahal tanpa adanya bahan pengawet apapun, sudah menjadi mukjizat tersendiri. Mukjizat- mukjizat serupa ini tidak hanya terjadi satu dua kali, tetapi banyak kali, terjadi di banyak tempat di dunia. Dan jika dicocokkan, misalnya, sample darah yang ada di Lanciano, misalnya, cocok juga dengan tipe darah yang diteliti di kain Kafan Turin. Ini adalah suatu fakta, yang mestinya menjawab sikap skeptis dari para peneliti, maupun juga umat beriman secara umum.

Mukjizat Ekaristi tidak hanya terlihat dari bukti specimen potongan daging dan gumpalan darah beku yang sekarang masih eksis. Mukjizat lain yang cukup menarik perhatian adalah misalnya adanya fakta bahwa ada orang- orang tertentu yang dapat hidup sampai bertahun- tahun hanya dengan memakan Tubuh Kristus dalam Ekaristi, tanpa makanan lainnya. Berikut ini adalah sekilas ringkasan dari apa yang dituliskan oleh Fr. M. Piotrowski, S Chr, dalam majalah Love one Another, 5th issue, 2005, yang berjudul, "Eucharistic Miracle in the Life of Martha Robin", p. 14-18)

Kisah mukjizat Ekaristi ini terjadi dalam hidup Martha Robin (1902- 1981), seorang Katolik yang sangat taat dan beriman. Ia lahir tanggal 13 Maret 1902 di Chateauneuf-de- Galaure, Perancis, di desa kecil Drome, di lembah Rhone Valley. Pada usia 16 tahun (tahun 1918) ia jatuh sakit yang membuatnya coma selama 20 bulan. Setelah ia sadar, penyakitnya tidaklah membaik, malahan memburuk, yang membuatnya tidak dapat menggerakkan kakinya. Pada tanggal 2 Januari 1929 sampai wafatnya 6 Feb 1981, ia lumpuh, tidak dapat menggerakkan kaki, lengan, bahu dan tenggorokannya, sehingga ia tidak dapat menelan, tidak dapat makan dan minum. Kondisinya ini kemudian diperiksa oleh dokter, seorang profesor dari fakultas kedokteran di Lyons, Dr Jan Dechaume, da Dr. Andre Ricard. Adalah suatu misteri tersendiri bahwa Martha Robin ini dapat hidup tanpa makanan selama 50 tahun, kecuali dari Ekaristi.

Suatu hari seorang filsuf atheis dan dokter bernama Paul Louis Chouchoud mengunjunginya, untuk memeriksanya. Gereja Katolik tidak menghalanginya, dan Dr. Chouchoud mendapat ijin dari uskup setempat untuk menyelidiki keadaan Martha Robin. Dr. Chouchoud mengkonfirmasi bahwa Martha mengalami lumpuh/ paralysis total sehingga ia bahkan tidak dapat menelan air walaupun hanya setetes saja. Yang ajaib adalah, apa yang dituliskan oleh Chouchoud, pada saat Martha menerima Komuni kudus. Dia tidak dapat menelan 'Hosti' tersebut, sebab otot tenggorakannya tidak dapat bergerak. Namun Hosti itu lewat secara misterius melalui bibirnya yang tertutup dan menuju saluran kerongkongannya. Martha tidak dapat makan makanan atau minuman duniawi apapun, karena ketidakmampuannya menelan dan membuka mulutnya, namun ia tidak dapat hidup tanpa Ekaristi.

Maka bagi Martha, menerima Ekaristi adalah sesuatu yang terpenting. Ia menerima Komuni sekali seminggu pada hari Selasa (dan pada hari Rabu pada menjelang wafatnya) yang didahului dengan Sakraman Pengakuan Dosa. Setelah itu ia mengucapkan doa penyerahan dirinya kepada Tuhan Yesus yang dikarangnya sendiri pada tahun 1925. Setelah menerima Komuni, ia 'mengucapkan' syukur dan sukacita dalam keheningan dan tenggelam dalam keadaan 'ekstasi', dan wajahnya bersinar dengan keindahan yang tak terukur.

Mereka dalam komunitas sains, mengungkapkan keheranan mereka bahwa sejak masa kelumpuhan totalnya tahun 1929 sampai wafatnya tahun 1981 selama lebih dari 50 tahun, Martha tidak makan dan minum (dan tidak tidur juga), namun organ dalam tubuhnya masih dapat berfungsi. Ekaristi merupakan satu- satunya makanan yang menguatkan bagi Martha. Dengan mukjizat ini Yesus ingin menunjukkan kekuatan Ekaristi yang luar biasa, jika diterima dengan iman yang dalam dan teguh. Keadaan yang dialami oleh Martha ini menggenapi apa yang dikatakan oleh Yesus dalam Injil Yohanes, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman." (Yoh 6:53-54)

Martha Robin juga menerima karunia stigmata, yaitu kelima luka- luka Yesus, pada tahun 1930. Sejak tahun 1931, secara teratur ia menerima karunia untuk turut merasakan penderitaan Kristus setiap hari Jumat, dan mengalami suka cita kebangkitan Kristus pada hari Minggu pagi. Demikianlah ia mempersembahkan hidupnya untuk mendoakan ribuan orang yang mengunjunginya. Kata-kata sederhana yang keluar dari bibirnya yang nyaris tidak dapat bergerak itu dapat mengubah hidup orang yang mengunjunginya. Martha membawa banyak orang kepada Kristus, melalui doa- doanya dan teladan hidupnya bahwa tidak ada suatu penyakit, kesesakan, atau kuasa apapun yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus (lih. Rom 8:35-39).

Demikianlah kisah Martha Robin, yang merupakan salah satu dari kisah mukjizat Ekaristi. Gereja Katolik tidak pernah melarang diperiksanya keadaan atau bukti- bukti yang menunjukkan tentang keajaiban Ekaristi. Sebab jika itu rekayasa, akan terlihat dengan sendirinya, namun jika itu fakta, maka juga akan bersinar dengan nyata. Prinsipnya Gereja Katolik tidak menghalang- halangi pemeriksaan apapun, karena percaya bahwa "Truth will speak for itself". Memang bagi orang yang sudah percaya, mukjizat- mukjizat tidaklah penting; namun bagi orang yang memutuskan untuk tidak percaya, bahkan mukjizat yang terbesar sekalipun tidak akan pernah cukup. Jadi akhirnya terpulang pada kita masing- masing bagaimana kita menyikapinya, sebab Tuhan juga tidak pernah memaksa.

Semoga kita yang sudah percaya akan kehadiran Yesus dalam Ekaristi, dibimbing oleh Roh Kudus sehingga kita dapat semakin menghayatinya. Semoga setiap kali kita menyambut Ekaristi, kita dapat juga menyebutkan doa ini, yang diucapkan oleh Martha Robin,

"Tuhan ada di dalamku, betapa dalamnya misteri ini!... O Yesus, semoga suatu saat nanti kasih-Mu menyalakan aku, bukan karena hasil usahaku, tetapi karena rahmat-Mu. Tuhan, jika Engkau memberikan damai sejahtera dan kebahagiaan semacam ini di dunia, bagaimanakah indahnya nanti kebahagiaan di surga?"

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Share.

About Author

Ingrid Listiati telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

26 Comments

  1. Met pg mbak, aq mohon klu kesaksian ini di share ke facebook. Trima kasih

    [Dari Katolisitas: Silakan, jika Anda pandang berguna; namun mohon disampaikan sumbernya, dari katolisitas.org]

  2. pertanyaan:
    mohon penjelasan mengenai proses perubahan roti menjadi tubuh Kristus, dan anggur menjadi darah Kristus, baik dari sudut pandang teologi Katolik, iman, dan mungkin ada ilustrasi-ilustrsi yang dapat menggamabarkan lebh jelas akan terjadinya mujizat perubahan tersebut. Sejauh yang saya ketahui dengan bantuan ilustrasi pasir silika yang berubah menjadi gelas / kaca (substansinya berubah dari pasir menjadi kaca, tapi esensinya tetap ada unsur pasir kwarsa dalam kaca tersebut, sebaliknya dengan hosti: substansinya tetap roti, namun esensinya berubah menjadi tubuh Kristus) bagaimana menurut Bapak? Mohon penjelasan lebih detail, hal ini saya butuhkan untuk dapat berbagi kepada saudara saudara kita dalam karya pelayanan saya, terima kasih

    • Shalom Gunawan,

      Agaknya yang perlu diketahui pertama- tama adalah perbedaan antara substansi dan accidents. Segala yang ada di sekitar kita mempunyai substansi (atau disebut juga esensi/ hakekat) dan accidents (ciri yang terlihat dari luar). Misalnya kita manusia, substansinya adalah mahluk rohani yang mempunyai tubuh; dan accidentsnya/ ciri lahiriahnya bisa berbeda-beda, misalnya, tinggi badan 160 cm, berambut keriting, bertubuh kurus, berkulit sawo matang, berkacamata, dst. Perubahan seorang bayi menjadi anak-anak dan kemudian remaja dan dewasa, adalah perubahan accidents, tetapi bukan perubahan substansi, sebab orang itu pada dasarnya tetap orang yang sama, hanya bertambah dewasa.

      Nah, contoh yang Anda sebutkan adalah perubahan pasir silika menjadi kaca. Mohon maaf saya bukan ahli kimia, maka pertanyaannya di sini apakah rumus kimia pasir silika dan kaca adalah sama? Jika ya, maka benar keduanya mempunyai substansi yang sama, namun accidents-nya berbeda. Tetapi jika rumus kimia keduanya tidak sama, maka keduanya tidak sama substansinya, dan juga tidak sama accidents-nya. Mungkin lebih baik memakai analogi substansi H2O, yang dapat mengambil rupa/ accidents sebagai uap air, atau air biasa, atau es batu.

      Transubstansiasi yang terjadi pada saat konsekrasi dalam perayaan Ekaristi adalah perubahan yang terjadi pada roti dan anggur, yang sebelum konsekrasi, substansi dan cirinya adalah sebagai roti dan anggur, namun setelah konsekrasi, oleh kuasa Roh Kudus, diubah substansinya, menjadi Tubuh dan Darah Kristus, walaupun accidents-nya (ciri lahiriahnya) tetap berupa roti dan anggur.

      Terus terang saya kesulitan untuk mencari contoh yang setara dengan transubstansiasi, sebab memang peristiwa perubahan sustansi roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Kristus oleh kuasa Roh Kudus ini, merupakan peristiwa yang adikodrati yang unik yang tidak umum terjadi dalam ranah kehidupan manusia dan alam sekitarnya secara kodrati.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  3. Terpujilah ALLAH TRI-TUNGGAL, BAPA PUTRA ROH-KUDUS.
    Berbahagialah orang yang percaya dan tahu bahwa Tuhan YESUS sungguh hadir serta kita sungguh menyambut Tubuh dan Darah ANAK DOMBA ALLAH (bukan sekedar roti dan anggur yg dengan mudah bisa dibeli di toko-toko rohani).

  4. Tidak diperlukan mukjizat untuk mengetahui bahwa roti yg kita sambut dalam Sakramen Ekaristi adalah benar tubuh KRISTUS.
    Terimalah Sakramen Ekaristi dan rasakan sendiri.

  5. Stefanus Freydy on

    “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.” (Yoh 6:53-54)

    Dari petikan ayat di atas apakah sudah cukup menjadi dasar mengapa di GK selalu mengutamakan Ekaristi?? Lalu apakah ayat di atas juga diinterprestasikan oleh umat Protestan dalam bentuk Perjamuan Kudus?? Jika bukan, bagaimana mereka interprestasikan “makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya”?? apakah sola scriptura yang sangat terkenal tersebut melupakan hal ini dan menggantinya menjadi Praise and Worship untuk ibadah utama,,

    jika iya, lalu mengapa mereka masih saja betah dengan ibadah PW mereka?? Bukankah seharusnya mereka kembali ke ajaran utama Yesus yaitu mengenai Ekaristi sendiri??

    • Shalom Stefanus Freydy,

      Terima kasih atas pertanyaannya tentang Ekaristi. Tentang dasar mengapa Gereja Katolik mempercayai bahwa Kristus hadir secara khusus (Tubuh, Darah, Jiwa dan ke-Allahan) dalam perayaan Ekaristi adalah seperti yang tertulis di dalam Kitab Suci, yang didukung dengan apa yang dilakukan oleh jemaat perdana dan kemudian dogma ini dikuatkan dan dipertegas oleh Magisterium Gereja, seperti yang tertulis di sini – silakan klik dan klik ini dan diskusi tentang topik ini dapat anda lihat di sini – silakan klik, klik ini. Kalau anda membaca beberapa link tersebut, maka anda dapat melihat dasar-dasar Ekaristi bukan saja dari Yoh 6, namun juga dari Perjamuan Kudus dan juga tinjauan tipologis. Pandangan umat Protestan tentang Ekaristi sebenarnya cukup beragam tentang Ekaristi, tergantung dari denominasi mana. Namun, secara umum mereka tidak mengakui kehadiran Kristus secara nyata dalam Ekaristi Kudus, karena mereka hanya menganggap Perayaan Ekaristi sebagai simbol. Tidak ada yang salah dengan nyanyian, pujian dan pewartaan Sabda. Yang keliru adalah kalau semuanya itu menggantikan Perayaan Ekaristi, cara yang diinginkan dan diperintahkan oleh Kristus sendiri. (lih. Luk 22:19).

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  6. Shalom team Katolisitas

    Simak baik2 ayat dibawah ini:

    Ibr 9 : 25 – 28

    9:25 Dan Ia bukan masuk untuk berulang-ulang mempersembahkan diri-Nya sendiri, sebagaimana Imam Besar setiap tahun masuk ke dalam tempat kudus dengan darah yang bukan darahnya sendiri.

    9:26 Sebab jika demikian Ia harus berulang-ulang menderita sejak dunia ini dijadikan.
    Tetapi sekarang Ia hanya satu kali saja menyatakan diri-Nya, pada zaman akhir untuk menghapuskan dosa oleh korban-Nya.

    9:27 Dan sama seperti manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi,

    9:28 demikian pula KRISTUS hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang.
    Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia.

    Penebusan KRISTUS terjadi hanya sekali untuk selamanya, tidak mungkin berulang2 setiap kali kita mengikuti perjamuan kudus atau ekaristi dalam Katolik.

    • Shalom Tristan,

      Terima kasih atas tanggapannya. Anda salah kalau mengatakan bahwa Gereja Katolik tidak mempercayai bahwa penebusan Kristus hanya sekali saja dan tidak mungkin berulang-ulang. Katekismu Gereja Katolik mengajarkan:

      1363. Menurut pengertian Kitab Suci kenangan itu tidak hanya berarti mengenangkan peristiwa-peristiwa di masa lampau, tetapi mewartakan karya-karya agung yang telah dilakukan Allah untuk umat manusia (Bdk. Kel 13:3.). Dalam perayaan liturgi peristiwa-peristiwa itu dihadirkan dan menjadi hidup lagi. Dengan cara ini umat Israel mengerti pembebasannya dari Mesir: Setiap kali apabila Paska dirayakan, peristiwa-peristiwa keluaran dihadirkan kembali dalam kenangan umat beriman, supaya mereka menata kehidupannya sesuai dengan peristiwa-peristiwa itu.

      1366. Jadi, Ekaristi adalah satu kurban, karena ia meragakan kurban salib (dan karena itu.menghadirkannya), Ekaristi adalah.kenangan akan kurban itu dan memberikan buah-buahnya:
      Kristus “memang hendak mengurbankan diri kepada Allah Bapa, satu kali untuk selama-lamanya di altar salib melalui kematian yang datang menjemput-Nya Bdk. Ibr 7:27., untuk memperoleh penebusan abadi bagi mereka [manusia]; tetapi karena imamat-Nya tidak dihapuskan oleh kematian-Nya Bdk. Ibr 7:24., maka dalam perjamuan malam terakhir, pada malam waktu Ia diserahkan (1 Kor 11:23), Ia meninggalkan bagi mempelai kekasih-Nya, Gereja, satu kurban yang kelihatan (seperti yang dibutuhkan kodrat manusia), yang olehnya, [kurban] berdarah itu, yang dibawakan di salib satu kali untuk selama-lamanya, dikenang sampai akhir zaman dan kekuatannya yang menyelamatkan dipergunakan untuk pengampunan dosa, yang kita lakukan setiap hari” (Konsili Trente: DS 1740).

      1367. Kurban Kristus dan kurban Ekaristi hanya satu kurban: “karena bahan persembahan adalah satu dan sama; yang sama, yang dulu mengurbankan diri di salib, sekarang membawakan kurban oleh pelayanan imam; hanya cara berkurban yang berbeda“. “Dalam kurban ilahi ini, yang dilaksanakan di dalam misa, Kristus yang sama itu hadir dan dikurbankan secara tidak berdarah… yang mengurbankan diri sendiri di kayu salib secara berdarah satu kali untuk selama-lamanya” (Konsili Trente: DS 1743).

      Dengan demikian, Gereja Katolik mempercayai bahwa kurban Ekaristi adalah kurban yang sama dari misteri Paskah Kristus – penderitaan, kematian, kebangkitan dan kenaikan Kristus – yang dilakukan 2000 tahun yang lalu dan kemudian dihadirkan kembali dengan cara kurban yang tidak berdarah. Mengapa Gereja Katolik melakukan hal ini? Karena Gereja Katolik melakukan pesan Kristus yang mengatakan “Lalu Ia mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka, kata-Nya: “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku.” (Lk 22:19)

      Jadi, kalau Yesus ingin dikenang dengan cara ini, mengapa kita tidak melakukannya? Berapa sering gereja anda mengenang Yesus dengan cara yang Dia inginkan? Kalau tidak terlalu sering, apakah alasannya? Semoga jawaban dan pertanyaan ini dapat diterima dengan baik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  7. fred juppilin on

    Mukjizat ekaristi memang nyata, ia terus terjadi setiap saat dn utk selama2nya, sesungguhnya ekaristi adalah “surga yg turun ke bumi”…

    [Dari Katolisitas: Agak sulit untuk menerjemahkannya, mungkin ‘surga yang ada di bumi’/ Heaven on Earth; sebab Ekaristi adalah perjamuan surgawi yang dihadirkan di bumi -yaitu di tempat diadakannya perayaan Ekaristi tersebut. Namun ini bukan untuk diartikan bahwa Surga turun ke bumi, sehingga tidak ada Surga lagi di ‘sana’. Surganya tetap ada, namun bumi dapat melihat secercah kemuliaan surgawi, melalui kehadiran Kristus secara nyata dalam rupa Hosti kudus, yang mempersatukan semua orang yang menyambut-Nya dalam satu kesatuan Tubuh-Nya.]

  8. Ibu Inggrid,

    Ibu menuliskan,

    “sample darah yang ada di Lanciano, misalnya, cocok juga dengan tipe darah yang diteliti di kain Kafan Turin. Ini adalah suatu fakta, yang mestinya menjawab sikap skeptis dari para peneliti, maupun juga umat beriman secara umum.”

    Benarkah itu bu? Apakah mujizat roti menjadi daging juga berasal dari sampel yang setipe (saya tidak tahu istilahnya) dengan Lanciano dan Turin juga? Jadi kalau boleh saya mengartikan, sampel2 itu berasal dari tubuh yang itu-itu juga? (maksudnya, tubuh seseorang yang sama). Karena bila benar begitu. Itu akan sangat berarti bagi saya pribadi.

    Salam
    Kris

    • Shalom Kris,
      Ya, setelah diteliti tipe darah pada mukjizat di Lanciano sama dengan tipe darah yang ada pada kain kafan Turin, yaitu sama- sama tipe AB.
      Fakta ini menguatkan bahwa mukjizat tersebut mengacu kepada tubuh dan darah yang sama, yaitu Tubuh dan Darah Kristus.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Shalom,..

        apa boleh saya meminta informasi kebenaran ttg patung yang meneteskan darah, setiap terjadi sesuatu pristiwa menyedihkan… kl tidak salah darahnya juga sama… apa benar ya?

        jika diperbolehkan usul, tlg dimasukkan ke page tersendiri, ttg kejadian2 patung, gambar yang meneteskan darah dan juga bau minyak wangi/zaitun, dan juga penampakan2nya… supaya berguna bagi orang yang membutuhkannya…

        Terimakasih…
        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        Beni

        • Shalom Beni,
          Mengenai fenomena patung yang meneteskan darah ataupun yang mengeluarkan bau wangi, itu termasuk ranah wahyu pribadi yang masih harus diuji/ dibuktikan dulu ke-otentisitasannya. Untuk hal ini kita sebaiknya menunggu penjelasan dari pihak otoritas Gereja. Kami dari Katolisitas memutuskan untuk tidak membuat pernyataan apapun sebelum hal tersebut disetujui secara resmi oleh pihak otoritas Gereja katolik. Hal ini berlaku juga dengan klaim wahyu pribadi yang dialami oleh orang- orang tertentu. Sebaiknya kita sebagai umat Katolik menunggu dan menaati apa yang ditetapkan oleh pihak otoritas, dalam hal ini keuskupan setempat ataupun pihak Vatikan, sebab merekalah yang mempunyai tugas dan kewenangan untuk menguji apakah wahyu pribadi tersebut otentik berasal dari Tuhan atau bukan.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid & Stef- katolisitas.org

  9. diana santoso on

    Dear Stef & Ingrid,

    Apakah mukjizat Ekaristi yang terjadi di Naju, Korea (Yulia Kim) sudah diakui oleh Gereja Katolik?

    Terima kasih.

    Salam;
    diana

    • Shalom Diana,
      Mukjizat Ekaristi Di Naju, Korea, yang dialami oleh Julia Kim, merupakan wahyu pribadi, dan untuk menanggapinya kita sebagai umat memang menunggu keputusan dari pihak otoritas Gereja. Menurut pengetahuan saya, memang telah dikeluarkan surat dari keuskupan Incheon (Naju termasuk dalam wewenang keuskupan ini), oleh uskup Boniface Choi Ki-san tanggal 29 Juni 2007 yang melarang umatnya untuk berziarah ke Naju. Larangan ini merupakan kelanjutan dari pernyataan senada dari Uskup agung Victorinus Youn Kong-hi di tahun 1998, yang menyatakan bahwa tidak ada cukup bukti yang menyatakan bahwa penglihatan- penglihatan dan fenomena yang dialami oleh Julia dan patungnya merupakan sesuatu yang benar- benar supernatural dan berasal dari Tuhan. Pengganti Uskup Agung Youn, yaitu Uskup Agung Andreas Choi Chang-mou, di tahun 2001 dan 2005 juga mengeluarkan pernyataan serupa.

      Waktu sendiri akan membuktikan apakah wahyu pribadi ini otentik atau tidak, dan memang kita sebagai umat selayaknya taat kepada apa yang ditetapkan oleh pihak pemimpin Gereja. Jika dewasa ini yang masih berlaku adalah larangan, maka sebaiknya kita menaatinya. Jika suatu saat nanti larangan ini dicabut oleh Paus Roma, artinya jika Paus kemudian mengakui wahyu pribadi Julia Kim ini dan mengeluarkan pernyataan tertulis yang mendukungnya atau memperbolehkannya; maka baru pada saat itu, kita dapat mempercayainya dan berziarah tanpa melanggar ketentuan. Namun sementara belum ada pernyataan tertulis yang keluar dari Paus di Roma, maka kita selayaknya menaati keputusan Uskup- uskup di Korea.

      Demikianlah yang dapat saya sampaikan sehubungan dengan peristiwa Naju.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Ignatius Liem on

        Shalom,
        Saya ingin bertanya, (apakah saya menulis pertanyaan ini pada post yg benar).
        pertanyaan saya adalah mengenai Julia kim, sampai saat ini masih banyak pertentangan mengenai Julia Kim, tapi bagaimana pandangan bapak dan ibu di web katolistas, yg saya tahu dibaca umat dimana2.
        Terima kasih.

        [Dari Katolisitas: pertanyaan serupa sudah pernah ditanyakan dan dijawab di atas, silakan membaca tanggapan kami di sana]

  10. Bonar Siahaan on

    “… Dia tidak dapat menelan ‘Hosti’ tersebut, sebab otot tenggorakannya tidak dapat bergerak. Namun Hosti itu lewat secara misterius melalui bibirnya yang tertutup dan menuju saluran kerongkongannya. Martha tidak dapat makan makanan atau minuman duniawi apapun, karena ketidakmampuannya menelan dan membuka mulutnya, namun ia tidak dapat hidup tanpa Ekaristi.
    … Ia menerima Komuni sekali seminggu pada hari Selasa (dan pada hari Rabu pada menjelang wafatnya) yang didahului dengan Sakraman Pengakuan Dosa. Setelah itu ia mengucapkan doa penyerahan dirinya kepada Tuhan Yesus yang dikarangnya sendiri pada tahun 1925.”

    Mohon penjelasan atas kisah ini, bagaimana bisa dilakukan Sakramen Pengakuan Dosa sementara ia tidak dapat membuka mulutnya?,
    Terima kasih, salam damai Kristus.

    • Shalom Bonar Siahaan,
      Yang terjadi pada Martha Robin adalah rahang mulutnya yang terkunci/ tidak dapat digerakkan, namun bibirnya masih dapat bergerak untuk mengucapkan sesuatu, walaupun tentu cara bicaranya tidak normal/ sama dengan cara berbicara orang yang normal yang menggerakkan juga rahang mulut pada saat berbicara. Dalam keadaan sedemikian, Martha masih dapat berbicara, dan dapat menghibur para pengunjungnya, yang umumnya memohon agar Martha mendoakan mereka. Ini adalah suatu permenungan bagi kita; apakah pada saat kita terbaring sakit, kita tetap memiliki iman, pengharapan dan kasih, seperti Martha Robin; yang dalam segala keterbatasannya terus memiliki ketiga hal itu; terlebih- lebih, kasihnya kepada Tuhan.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

    • bagi saya ekaristi adalah puncak pengurbanan dan cinta kasih kristus bagi saya dan seluruh umat manusia. Kristus mengundang kita semua untuk datang kepesta perjamuannya. Semoga kita semua juga dapat masuk keperjamuan abadi-NYa kelak di surga amin.

      Salam dalam kasih kristus

  11. Paulus Pamungkas on

    Dear Pengelola katolisitas
    Salam, Berkah Dalem
    Saya mohon penjelasan dan tanggapan Gereja Katolik tentang beberapa keajaiban-keajaiban sehubungan dengan ‘Perubahan’ dari roti dan anggur menjadi Tubuh dan darah Kristus, atau istilah ‘transubtansiasi’. Saya melihat beberapa video singkat tentang ‘Eucharistic Miracle’ yang terjadi di Eropa, Korea dll, sekaligus kesaksian2 romo, suster dan penyelidikan2 berikutnya oleh ahli2 biologi dsb. Pertanyaan saya, bagaimana pandangan resmi Gereja Katolik tentang hal2 seperti itu.
    Terima kasih

    Salam
    Paulus Pamungkas

    [Dari Katolisitas: Pertanyaan ini sudah dijawab di atas, silakan klik]