Misi khusus orang tua: membesarkan anak secara Kristiani

19

Anak-anak adalah titipan Tuhan

Sebagai orangtua, kita dititipi anak-anak oleh Tuhan. Ini adalah tanggung jawab besar yang Tuhan percayakan pada kita. Semuanya terserah kepada kita, bagaimana kita menggunakan otoritas yang diberikan oleh Tuhan ini. Apakah kita akan menggunakannya dengan baik, atau kita akan membuang kesempatan emas yang mulia ini?

Kalau kita melihat dan mempelajari, orangtua sangat berperan besar sekali dalam kehidupan seorang anak. Bagaimana anak-anak ini akan tumbuh? Akan menjadi orang seperti apa mereka kalau sudah besar? Apakah mereka akan menjadi orang baik, pandai dan bermoral? Ataukah mereka akan menjadi nakal, bermasalah, dan tidak bertanggung jawab? Dengan kata lain, menjadi orang seperti apa mereka nantinya, sangat tergantung kepada bagaimana cara kita membesarkan mereka.

Anak-anak datang tidak dengan “petunjuk pemakaian”

Seperti yang kita ketahui, setiap anak berbeda satu sama lain. Dari segi karakter, tabiat, watak, bawaan, dan lain- lain; mereka semua unik dan berlainan. Kadangkala saya berharap Tuhan memberikan setiap orangtua buku petunjuk yang jelas dan lengkap mengenai cara membesarkan anak- anak kita masing-masing. Di buku ini saya harapkan Dia membahas secara detail mengenai: tipe karakter setiap anak, apa yang mereka suka/tidak suka, apa kelebihan/kekurangannya, bagaimana cara membesarkannya supaya mereka bisa menjadi orang benar, apa yang harus dilakukan kalau mereka bersalah, berbuat nakal, tidak mau menurut, dan seterusnya Bukankan Bapa kita di surga adalah Pencipta kita semua? Pastilah Dia tahu apa yang terbaik bagi setiap kita.

Sayangnya setiap anak yang dilahirkan tidak datang dengan ‘Buku Petunjuk Pemakaian’. Mereka dilahirkan dengan keadaan yang sangat sederhana, tanpa pakaian atau perlengkapan apapun juga. Saya pikir, mungkin Tuhan menghendaki agar setiap orang tua untuk terus bertumbuh, mempelajari dan mendalami keadaan anaknya setiap saat. Mungkin Tuhan ingin agar setiap orang tua selalu bergantung kepadaNya Sang Pencipta, agar Ia dapat memberikan kita anugerah, arahan, pandangan dan harapan, dalam membesarkan putra dan putri-Nya di dunia ini. Suatu tanggung jawab yang besar sekali, di mana hanya dengan melalui cara Tuhan Sang Pencipta sajalah kita baru dapat melaksanakannya dengan semaksimal mungkin dan sebaik mungkin.

Santa-santo membantu orang tua untuk mendidik anak-anak

Kalau kita melihat kisah para santo dan santa, kita mengetahui bahwa banyak dari mereka dilahirkan di dalam keluarga yang sangat sederhana. Walaupun demikian, orang tua mereka berhasil mendidik anak-anaknya sehingga mereka dapat menjadi santo/santa. Mari kita lihat keluarga Santa Bernadet. Dia dilahirkan di keluarga yang miskin dan sederhana. Bernadet sendiri sakit-sakitan dan kurang berpendidikan. Walaupun demikian, mereka sangat beriman kepada Tuhan. Sejak kecil, Bernadet mengenal imannya dengan benar dan mengerti cara mengaplikasikan imannya di dalam kehidupannya sehari-hari. Karena kedalaman imannya, kerendahan hatinya, dan kesederhanaannya itulah dia dipilih Tuhan untuk melakukan karya khususNya di dunia. Bunda Maria menampakkan diri padanya, dan melaluinya, banyak orang yang bertobat dan disembukan melalui mukjijat di Gua Lordes. Seperti halnya dengan Santa Bernadet, santo dan santa yang lain (walaupun mempunyai karakter yang sangat berbeda, dan latar belakang keluarga yang sangat berlainan), memiliki satu hal yang sama. Hal ini adalah: iman dan kasih mereka pada Tuhan, GerejaNya, dan sesama. Hal ini membuat mereka menjadi rendah hati dan teguh beriman. Hal ini membuat mereka dipakai Tuhan dengan caranya yang khusus. Setiap santo/santa mempunyai panggilan yang spesifik, sesuai dengan karakter dan kehidupan pribadi mereka. Ada kalanya dengan cara yang sederhana, namun juga ada kalanya dengan cara yang besar mulia. Apapun karya mereka, besar atau kecil, semasa hidupnya mereka semakin lama semakin bertumbuh menjadi lebih rendah hati, dalam melayani dan mencintai Tuhan.
Sama halnya dengan kita, santo dan santa ini hidup di dunia yang nyata. Mereka dihadapkan dengan masalah yang serupa seperti kita. Dunia yang penuh dengan cobaan, ketidaksempurnaan, dosa, dan musibah. Orang tua merekapun dihadapkan dengan keadaan yang serupa dengan yang kita alami. Mereka harus juga melengkapi kehidupan jasmani anak-anaknya; dari mulai makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Merekapun dengan caranya sendiri juga melengkapi kehidupan rohani anak-anaknya, sehingga anak-anaknya tumbuh menjadi orang yang mengenal, memuji dan mencintai Tuhan. Jaman dahulu, mereka dapat membesarkan anaknya dengan baik, tanpa bantuan teknologi yang canggih, psikolog yang ternama, ataupun uang yang berlimpah.
Pada akhirnya, pertanyaannya adalah : “Apakah yang kita inginkan bagi anak-anak yang Tuhan percayakan pada kita?” Setiap orangtua pada umumnya menginginkan anak-anaknya untuk hidup bahagia. Pertanyaannya adalah, “Kehidupan bahagia yang seperti apa?” Kehidupan bahagia yang seharusnya kita inginkan, adalah kebahagiaan yang abadi untuk selama-lamanya. Ini adalah kebahagiaan yang hanya bisa diperoleh apabila kita pada akhirnya hidup bersama Bapa kita di Surga. Kehidupan bahagia yang abadi di Surga inilah yang seharusnya kita cari dan usahakan bagi anak-anak kita; bukan semata-mata hanya kehidupan di dunia yang sifatnya semu dan singkat. Apa artinya kalau kita hidup di dunia dan memperoleh uang, kekuasaan, kepopuleran, atau kemuliaan, tetapi perbuatan kita tidak membawa kita ke rumah Bapa di Surga. Sabda Tuhan mengatakan, bahwa pada akhirnya yang membawa seseorang ke Surga adalah iman, pengharapan dan cinta kasih kita pada Tuhan dan sesama. Ketiga hal inilah yang pada akhirnya akan dilihat oleh Tuhan. Ketiga hal inilah yang akan menyelamatkan seseorang untuk kembali ke rumah Bapa.

Petunjuk pemakaian secara umum adalah hukum kasih

Seperti yang Kristus katakan, hukum yang paling utama di antara semua hukum di Alkitab adalah: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” (Markus 12:30-31)
Apabila kita benar-benar melaksanakan kedua hukum cinta kasih ini, dengan sendirinya hukum-hukum yang lain pasti akan kita penuhi. Seseorang yang mencintai Tuhan dan sesama dengan segenap hati, jiwa dan raga; pasti dengan sendirinya adalah seseorang yang mencintai keluarganya, Gerejanya dan negaranya. Dia pasti adalah seorang warga negara yang benar, teman yang sejati, anak yang bertanggung jawab, dan pekerja yang teguh. Mengapa? Karena dengan sendirinya orang tersebut akan melakukan ajaran Tuhan yang tertera di Kitab Suci, dan hukum Gereja; yang membawa orang tersebut kepada keselamatan di Surga.

Memang Tuhan tidak menuliskan secara spesifik ‘Buku Petunjuk Pemakaian’ untuk setiap anak. Tetapi Tuhan sudah menuliskan ajaran kasihNya melalui sabdaNya di dalam Alkitab. Bersyukurlah Tuhan juga sudah memberikan kuasa otoritas khusus kepada Gereja Katolik untuk menginterpretasikan firmanNya ke dalam hidup kita sehari-hari. Bersyukurlah Gereja Katolik sudah menuliskan ‘Katekismus Gereja Katolik’, dan dokumen Gereja yang lainnya sebagai buku panduan kita untuk menjalani hidup kita dengan baik dan kudus. Kita juga harus bersyukur akan banyaknya psikolog dan penulis Katolik yang ternama, yang membantu kita untuk lebih mengaplikasikan ajaran Tuhan ini dengan lebih nyata lagi dalam kehidupan keluarga.
Bapa kita di Surga telah menyampaikan banyak hal yang penting untuk kita pelajari dan mengerti, sebagai bekal dalam upaya kita menjadi orangtua yang lebih baik. Melalui firmanNya di Kitab Suci, dan ajaran Gereja Katolik inilah, Tuhan sudah memberikan kita informasi yang secukupnya untuk membantu kita para orangtua memulai melakukan misi kita yang mulia ini: “Membantu menunjukkan jalan bagi anak-anak Tuhan yang dipercayakan pada kita untuk pada akhirnya kembali ke rumah Bapa di Surga”.

Misi kudus kita sebagai orangtua adalah: mengarahkan jiwa anak-anak kita untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan di surga

Dengan mengupas kedua sumber utama ini secara seksama, marilah bersama-sama kita renungkan dan pelajari: “Bagaima kita menjadi orangtua yang kudus, yang sesuai dengan apa yang direncanakan Tuhan bagi kita secara pribadi?

Kehidupan Setiap Manusia Ada dalam Rencana Allah

Tuhan menghendaki agar setiap orang bersatu denganNya di Surga. Karena besarnya kasih Allah pada manusia, Dia mengirimkan PuteraNya sendiri untuk menebus dosa manusia, sehingga kita dapat kembali bersamaNya di Surga (lih. Yoh 3:16).
Karena begitu indahnya rencana Allah bagi setiap manusia, sudah sepantasnyalah bagi kita anak- anak-Nya untuk mengikuti jalan yang sudah Dia bukakan bagi kita. Jalan ini adalah jalan yang memberikan keselamatan bagi orang yang percaya kepadaNya. Jalan yang dibekali oleh terang Roh Kudus, anugerah yang kita terima melalui sakramen-sakramen yang diberikan oleh Gereja Katolik, firmanNya yang meneguhkan dan menghibur.

Segala yang terjadi dalam hidup kita ada dalam rencana Tuhan. Segala langkah dan keputusan yang kita ambil (baik atau buruk), semuanya telah diketahui oleh Tuhan. Allah yang MahaTahu dan MahaKasih tidak lelah memanggil dan mengingatkan kita untuk mengambil keputusan yang benar, yaitu yang didasari oleh penerangan Roh Kudus, firmanNya dan GerejaNya. Dia mengajak kita untuk mengambil jalan yang benar dan memberi keputusan yang didasari iman, pengharapan dan kasih.

Karena kita adalah bagian dari rencana Allah, Tuhan pun memakai kita, sebagai orangtua, tidak hanya untuk membawa diri kita sendiri ke dalam Surga, tetapi juga membawa anak-anak (dan orang-orang lain) yang dipercayakan pada kita ke Surga. Ini adalah tanggung jawab terbesar bagi orangtua untuk anak-anaknya: menghantar, menuntun dan menunjukkan jalan menuju Surga. Karena misi yang kudus inilah, orang tua harus berupaya untuk:

1) Menanamkan di dalam hati anak-anak kita kebenaran yang sesungguhnya.
2) Menyatukan dan menguatkan kehendak dan pemikiran mereka terhadap kehendak Tuhan.
3) Menanamkan rasa kasih pada Tuhan dan sesama, dan keinginan untuk menjalani kehidupan dengan kekudusan dan pelayanan.
4) Mengorbankan kepentingan pribadi kita dengan suka cita, demi keselamatan dan kepentingan anak.
5) Dengan bantuan rahmat Tuhan, menuntun anak-anak kita untuk menjadi santo dan santa di dunia modern ini.

Tuhan mengetahui dan mengenal kita semua satu persatu, mulai dari kepribadian kita masing-masing, sampai ke jumlah rambut kita. Karenanya Tuhan pula yang mengetahui secara pasti dan benar keberadaan seorang anak di dalam keluarganya masing-masing. Dia yang menciptakan anak tertentu untuk lahir melalui campur tangan orangtua yang tertentu, di dalam keluarga yang tertentu. Sama seperti misteri bagaimana dua orang yang berlainan dapat bertemu, jatuh cinta dan menikah; begitulah adanya misteri bagaimana anak yang tertentu dapat lahir di keluarga tertentu. Ini adalah suatu misteri Allah yang sangat ajaib dan indah. Sepertinya Tuhan mengetahui orang tua mana yang terbaik untuk anak tertentu. Sepertinya Tuhan mempercayakan keberadaan anak ini di dalam tangan kita.
Begitu besarnya rasa percaya Bapa kita di Surga kepada kita dalam membesarkan anak-anak ini, sehingga melalui kitalah mereka bisa dituntun, dibesarkan dan dikembalikan akhirnya ke rumah Bapa. Kita harus yakin bahwa Tuhan mempunyai rencana yang indah bagi kita dan keluarga kita, apabila kita mau mengikuti kehendakNya dan jalan yang sudah Dia berikan bagi kita.
Selama kita menjalani rencana Allah bagi keluarga kita ini, Tuhan menjanjikan kita harapan dan kekuatan melalui rahmatNya dan Roh Kudus. Sama seperti Tuhan yang menyertai bangsa Israel untuk selamat sampai di Tanah Perjanjian, Tuhan pulalah akan menyertai kita dan melimpahkan berkatnya bagi kita, supaya kita bisa terus dengan setia mengarahkan keluarga kita untuk sampai ke Rumah Bapa di Surga. Karenanya, seperti Musa yang terus bertanya dan berusaha menjalankan kehendak Tuhan, kitapun harus selalu bertanya pada Bapa dan meminta petunjukNya untuk menerangkan dan menuntun kita di jalan yang benar.

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati. Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan memulihkan keadaanmu dan akan mengumpulkan kamu dari antara segala bangsa dan dari segala tempat ke mana kamu telah Kuceraiberaikan, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan mengembalikan kamu ke tempat yang dari mana Aku telah membuang kamu.” (Yeremia 29:11-14)

Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu. (Yesaya 55:8-9)

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. (Roma 8:28)

Share.

About Author

Maria Brownell (Lia) menikah dengan seorang berkebangsaan Amerika dan dikarunia empat anak laki-laki. Bersama dengan suami, Lia telah menyelesaikan master of theological study di Institute for Pastoral Theology - Ave Maria University, USA.

19 Comments

  1. romy adinoto on

    Shalom, pak Tay, bu Ingrid
    , pak Wahyudi …. Terima kasih atas pencerahaannya, saya sadar orang tua sebagai
    alat Tuhan tuk membentuk anak2, jadi tanggung jawab utama orang tua,
    menjadi semakin serupa Yesus tuk membawa anak2nya menyerupai Yesus,
    sehingga sanggup menjalani kehendak Bapa, semasa hidup didunia dengan
    tujuan akhir kembali kerumah Bapa…. Bagaimana pandangan tentang anak2
    yang sudah agak tidat nurut untuk dipukul(dengan tangan tapi tidak keras)…..
    Terima kasih atas kesediaan memberi pangarahan…..God bless all of you….

    • Shalom Romy,
      Sebenarnya, yang lebih penting dalam pendidikan anak bukan hukumannya, tetapi penjelasan sesudahnya mengapa ia dihukum, jika ia melakukan kesalahan. Dengan bertambahnya umur anak, maka umumnya orang tua tidak lagi menggunakan cara- cara pukulan, tetapi lebih kepada berbicara empat mata, tentang mengapa si anak perlu memperbaiki kesalahannya, demi kebaikannya sendiri. Maka saya rasa, jika anak anda memasuki fase ini, yaitu sudah mulai tidak murut karena dipukul, silakan anda memeriksa, apakah anda sudah pernah mengajaknya bicara seperti layaknya berbicara kepada seorang anak yang sudah dewasa, dengan menunjukkan alasan yang masuk akal atas peraturan/ ketentuan yang anda ajarkan ataupun atas kesalahan yang ia lakukan.
      Semoga dengan komunikasi yang baik, di mana orang tua juga mendengarkan alasan ataupun sudut pandang anaknya, maka hubungan orang tua dan anak menjadi semakin baik, dan tercipta saling pengertian antara keduanya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  2. Salam sejahtera tim katolisitas,

    Saya punya sedikit masalah, begini, anak saya yang paling besar (perempuan) usia 12 tahun, sudah hampir 3 tahun ini dekat sekali dengan neneknya. Rumah kami memang saling berjauhan, jaraknya kira2 200 km, jadi sebetulnya kami jarang bertemu, mungkin sekitar 10 – 20 kali dalam setahun. Sedangkan anak saya ini, biasanya kalau libur sekolah pasti selalu menginap di rumah neneknya, paling sebentar 1 minggu.
    Yang saya tidak suka saat ini, ternyata, anak saya itu jadinya justru lebih lengket dg neneknya. Dia selalu membanding2kan apa saja dg kelebihan yg diberikan neneknya (neneknya itu boleh dibilang bukan orang miskin). Dulu sekali, anak saya itu paling tidak suka dg shoping, nah, kalau dia berlibur di rumah neneknya itu, selalu di ajak shopping oleh nenek dan pamannya, sekarang ini, dia punya kebiasaan meminta saya untuk shopping. Tentu saja saya menolak. Pertama, karena shopping bukan hobby saya dan kedua, saya punya penyakit migren, apalagi kalau musti shopping berjam2, perut saya jadi mulas dan kepala rasanya mau pecah. Itu hanya sedikit contoh kecil. Yang paling menyakiti hati saya, bahwa, mereka berdua, nenek dan anak saya ini, selalu membuat rencana diluar sepengetahuan kami sebagai orangtuanya, contohnya seperti pesta natal, atau pengisi liburan. Dan anehnya neneknya inipun sepertinya ‘gak terlalu peduli dg kami. Pendek kata, saat ini buat anak saya, neneknya itu lebih penting dari apapun juga. Satu lagi yang buat saya sangat aneh, bahwa anak saya ini tiap malam pasti kontak neneknya melalui telpon, sekalipun anak saya sakit parah atau apapun halangannya, anak saya ‘gak perduli, yang penting dia harus kontak neneknya. Contohnya seperti minggu lalu, anak saya ada ulangan di sekolah, dan dia belum belajar sama sekali, dan saya bilang kamu harus belajar, tepat pukul 8 malam, dia gelisah sekali, dan terus2an liat jam, dia bilang bagaimanapun juga harus kontak neneknya. Aduh…saya sampai terheran2, sepertinya anak saya ini sudah dicuci otaknya.
    Yang ingin saya tanyakan apakah wajar/normal kedekatan hubungan anak saya dengan neneknya ini?
    Saya ngeri sekali kalau suatu saat kedekatannya ini justru menjadi boomerang bagi keharmonisan rumah tangga kami.
    Terimakasih atas tanggapan dari katolisitas.

    Salam dan doa
    maria

    • Shalom Mega,

      Saya tidak tahu apakah sesungguhnya anda perlu menganggapnya sebagai masalah, atau tidak, tentang kedekatan anak anda dengan neneknya. Sejujurnya, jika kedekatan itu bermotif-kan kasih, maka sungguh, seharusnya tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Sebab neneknya juga adalah orang tua anda (mungkin mertua?), yang seharusnya dikasihi oleh anak dan cucu-cucunya. Namun memang benar juga bahwa sebaiknya, bagaimanapun anak anda dekat dengan neneknya, jangan sampai nenek menggeserkan peran anda sebagai ibu baginya. Sebab biar bagaimanapun tanggungjawab sebagai ibu ada pada anda.

      Maka saya mengusulkan agar anda menilai secara obyektif, apakah sebenarnya motif di balik kedekatan anak anda dengan neneknya. Apakah karena sang nenek lebih perhatian? Lebih mau mendengarkan? Lebih mau menyediakan waktu? Lebih memahaminya?

      Walaupun nampaknya, hubungan itu “dibungkus” oleh jalan- jalan atau shopping, namun yang perlu anda pahami adalah apakah yang menjadi harapan anak anda yang ada pada sang nenek (dan tidak ada pada anda)? Sebab saya rasa bukan shopping-nya yang utama, tetapi kasih/ perhatian yang disampaikan oleh sang nenek kepadanya. Terbukti bahwa dalam keadaan sakit parah (berarti tidak untuk shopping), ataupun setiap malam, anak anda tetap ingin menelpon/ berbicara dengan neneknya.

      Maka saya mengusulkan, agar anda tidak menganggap nenek sebagai saingan anda. Mohonlah pimpinan dari Roh Kudus, agar anda dapat mengetahui kekurangan anda sebagai ibu, terutama dalam memberikan kasih dan pengertian kepada anak anda. Selanjutnya, usahakan agar anda dapat meluangkan waktu bagi anak anda dan berkomunikasi dari hati ke hati dengan anak anda. Jika anda tak suka shopping, pilihlah tempat yang lain atau bahkan di rumah saja juga tidak menjadi masalah, namun luangkan waktu anda untuk mendengarkan anak anda, segala keluh kesahnya, dan segala tawa candanya. Dengan demikian anda kan mengetahui apa yang menjadi kesenangannya, apa yang sedang diharapkannya, dan apa yang menjadi ketakutan ataupun kesedihannya. Lalu silakan anda menghibur dan mendukungnya dengan kasih seorang ibu.

      Akhirnya, ajaklah anak anda untuk berdoa bersama anda, entah pada pagi hari atau malam hari. Anda juga dapat membacakan kisah- kisah Kitab Suci (dari kitab suci anak- anak, jika anak anda belum cukup besar) kepadanya. Mulailah hari bersama dengan anak anda, dan tutuplah hari bersama dengannya. Anda yang membangunkan dia dari tidur, dan yang mengantarnya tidur dengan kecupan selamat malam. Jangan ragu untuk mengatakan kepadanya betapa anda mengasihi dia, dan bahwa Tuhan Yesus mengasihinya.

      Semoga hubungan anda dan anak anda dapat menjadi lebih dekat dan akrab, dan dengan sendirinya anak anda dapat mengatur hubungan yang lebih harmonis dengan anda dan dengan neneknya.
      Selanjutnya, silakan anda membaca tulisan di atas, tentang misi orang tua menurut ajaran Kristiani, silakan klik

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  3. kami mempunyai seorang anak. Kami sendiri beragama Kristen dan istri Katholik. Diantara dari kami tidak ada yg mau mengalah untuk menjadi satu saja. Kami juga sudah lelah untuk bertengkar masalah ini. tetapi muncul permasalahan baru. Anak bagaimana? Istri bersikeras kalau si anak dibawa ke gereja Kristen maka harus boleh ke gereja Katholik juga.
    Dalam Alkitab dibilang kalau suami dan istri adalah satu. Tetapi untuk masalah ini gimana? apakah istri harus menurut kepada suami seperti yg dilakukan naomi kepada suaminya? bangsamu adalah bangsaku, Allahmu adalah Allahku.
    Bagaimanapun Kristen dan Khatolik mempunyai beberapa perbedaan pemahaman yg tidak bisa disatukan. Dan kita memang tidak boleh menghakimi mana yg benar dan mana yg salah. Kebenaran mutlak hanya pada Firman Tuhan dan Allah sendiri. Jadi apa yg harus kami lakukan?

    • Shalom Toko,
      Terima kasih atas pertanyaannya. Sebenarnya masalah yang anda kemukakan memang merupakan resiko dari perkawinan campur. Saya tidak tahu apakah waktu itu anda mengikuti persiapan perkawinan di Gereja Katolik sebelum melakukan perkawinan, serta apakah anda telah menghadap Pastor. Biasanya dalam perkawinan campur seperti ini, pasangan tersebut berjanji untuk mendidik anak-anak dengan iman Katolik. Dan inilah yang mungkin membebani istri anda. Dan kalau anda juga berjanji, maka anda juga sebenarnya terikat dengan janji ini. Dengan adanya janji ini, maka sebenarnya, menjadi kewajiban bagi pasangan untuk juga mendidik anak-anak secara Katolik. Kalau anda ingin berdiskusi tentang iman Katolik – yang dirasa tidak Alkitabiah – maka dengan senang hati saya akan berusaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan anda.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,stef – katolisitas.org

    • Salam sehatera Ibu Ingrid,

      Terimakasih banyak atas pencerahan yg ibu berikan. Saya setuju sekali dg semua yg ibu jelaskan di atas. Seharusnya saya menceritakan lebih dahulu permasalahan saya, supaya agak sedikit jelas posisi saya yg sesungguhnya. Begini bu, nenek yg saya sebut di atas adalah ibu mertua saya. Sebetulnya, sejak pertama kali suami saya mengatakan, bhw dia akan menikah dg orang asia, ibu mertua saya itu sudah anti pati. Jadi, awalnya memang dari rasa anti pati terhadap semua orang asia, menurut suami saya, dikarenakan pengalaman kurang bagus dg orang asia. Ibu mertua saya berpendapat, bahwa orang asia yg menikah dg orang mereka (belanda) semua itu hanya semata2 utk mendapatkan izin tinggal di negara mereka. Nah, dari situlah sebetulnya asal mula rasa anti patinya terhadap saya. Padahal, saya menikah dg anaknya, bukan karena ingin minta izin tinggal di belanda, atau apapun yg dia pikirkan. Sejak saya tinggal disini (sudah kurleb 14 tahun) sebetulnya tidak ada masalah yg berat, hanya sejak ayah mertua saya meninggal sekitar 3 tahun yang lalu, ibu mertua saya ini sedikit berubah, saya bisa katakan bahwa dia sangat otoriter. Dan memang, suami saya juga pernah menjelaskan, bhw ibunya itu agak sulit perangainya, dia tidak bisa bergaul dg orang lain, bukan hanya menantunya saja, tapi juga dengan familinya sendiri, sampai2 dia tidak mempunyai seorang kawanpun. Pendek kata, ibu mertua saya ini sulit bergaul dg orang lain. Sekarang ini dia tinggal seorang diri, tapi ada seorang anak lelakinya (kakak suami saya) yg rumahnya berdekatan dengannya. Kakak ipar saya ini bujangan, sampai sekarang tidak menikah. Itupun menurut saya dikarenakan keegoisan ibunya. Dulu sekali, saya dan suami saya ingin menjodohkan kakak ipar saya ini dg seorang gadis dari indonesia, tapi ibunya langsung ‘gak setuju. Saya beberapa kali mencoba menjodohkan dia, tapi justru ibunya malah semakin ‘gak suka dg ide saya itu, apalagi sekarang ayah mertua saya sudah tidak ada. Jadi, dia membutuhkan seseorang utk bisa mengantarnya kemana2, misalnya berbelanja atau kemana saja. Saya tdk pernah lagi mencoba menjodohkan kakak ipar saya kepada seorang gadispun, kapok.
      Nah, itu penjelasan sedikit ttg situasi saya dg mertua saya.
      Saya pernah bertanya kepada anak saya, kenapa harus setiap hari telephone si nenek, jawabannya, dia hanya melaporkan apa yg dia kerjakan dari pagi sampai sore. Komunikasi saya dan suami dg anak2 sejauh ini tidak ada gangguan. Kami memiliki 3 orang anak. Sampai saat ini, kami selalu melakukan hal bersama2, seperti doa rosario dan doa malam bersama2, juga makan selalu bersama2. Biasanya, kalau makan bersama, anak2 akan menceritakan apa yg mereka lakukan seharian di sekolah. Jadi, saya rasa hubungan saya sbg orangtua dg anak2 cukup normal.
      Saya hanya bingung dg sikap anak saya yg berubah akhir2 ini. Saya tidak tahu, apakah ibu mertua saya ini menjelek2an saya apabila mereka bercakap2 baik di telephone atau apabila anak saya berlibur di rumah neneknya?! Karena, kami ada rencana untuk pindah ke Portugal. Dan ibu mertua saya menentangnya mati2an, sampai saya di damprat habis2an di depan keluarganya dan juga anak2 saya. Saat itu saya kaget luar biasa, dan juga rasanya malu sekali. Karena ide utk pindah ke portugal memang ide saya. Suami saya setuju sekali, juga anak2 saya semuanya. Nah, setelah kejadian saya di damprat mertua saya itu, anak saya itu agak berubah. Kadang2 dia sering menyindir dg kata2 spt ide jelek utk pindah ke portuga, semacam itulah.
      Begitulah ceritanya, saya hanya takut kalau suatu saat anak saya itu bisa menjadi lawan buat saya. Apakah ketakutan saya ini berlebih2an?

      Salam dan doa
      maria

      • Shalom Mega,

        Setelah anda jabarkan kisahnya, kelihatannya situasinya menjadi lebih jelas bagi saya. Namun demikian, terlepas dari watak ibu mertua anda yang ‘khusus’ itu, saya tetap berpikir tetap ada baiknya jika anda memeriksa diri anda, akan apakah yang dapat anda lakukan untuk memperbaiki situasi dalam keluarga anda. Sebab biar sulit sekalipun, selalu ada jalan untuk melakukan kasih, dan nampaknya itulah yang dibutuhkan, baik oleh anak anda, maupun ibu mertua anda.

        Saya sering mendengar sharing kaum manula, yang mengatakan bahwa setelah mereka memasuki usia yang mulai lanjut, mereka akan menjadi semakin sensitif. Kita mungkin belum sepenuhnya memahami, tetapi jika Tuhan memberikan kita umur panjang, kita akan memasuki juga masa- masa seperti itu. Khusus pada ibu mertua anda, perasaan sendirian atau ‘ada yang hilang’ tentunya lebih terasa setelah kematian suaminya. Ini adalah suatu fakta yang harus kita terima. Setidaknya itu yang saya amati dari ibu saya, setelah ayah saya meninggal 7 tahun yang lalu.

        Maka anda sebagai menantu dan suami anda sebagai anaknya, selayaknya memahami situasi ibu anda juga. Sebab dalam keadaan demikian ibu cenderung ingin dekat dengan anak dan menerima penghiburan dari anak- anaknya. Tak mengherankan ia protes keras ketika mendengar anda sekeluarga berencana pindah ke Portugal. Protes ataupun kemarahannya bisa jadi adalah ungkapan kesedihan untuk menerima kenyataan bahwa anaknya sekeluarga memilih untuk meninggalkannya di saat ia sendiri kesepian. Walaupun kakak ipar anda tinggal di dekatnya, namun tentu ibu mertua anda tetap berharap anda sekeluarga tidak pergi jauh meninggalkan dia. Mungkin karena itulah ibu mertua anda membina hubungan dekat dengan anak anda, karena sesungguhnya ia membutuhkan teman. Kebetulan, anak andapun cocok dengannya, sehingga terjadilah keadaan seperti sekarang ini.

        Jadi menurut hemat saya, jika anda ingin membuat situasi menjadi lebih menyenangkan bagi semua pihak, anda dan suami perlu melakukan introspeksi diri dan kemudian melakukan langkah perbaikan bersama- sama. Tanyakan kepada anda sendiri:

        1. Sejauh mana aku (dan suami) menunjukkan perhatian dan kasih kepada mama mertua anda? Pernahkan anda membelikan makanan kesukaan/ memasaknya untuk dia? Jika ia senang membaca, pernahkan anda membelikan buku bacaan untuknya? Jika ia senang minum kopi, pernahkah anda menawarkan kopi dari Indonesia? Atau apakah kesenangan/ hobbynya, dan apakah anda memperhatikan hal itu?

        2. Pernahkah anda dan suami melakukan surprise kecil untuk hari ulang tahunnya?

        3. Pernahkah anda mengunjunginya atau sekedar telpon untuk mengatakan ‘hai’ dan menanyakan keadaan kesehatannya?

        4. Pernahkah anda mengajaknya pergi bersama ke suatu tempat dengan keluarga anda? Pernahkah anda mengundangnya makan malam di rumah anda? Pernahkan anda mengajaknya pergi ke gereja bersama atau doa bersama di rumah anda? Misalnya bersama berdoa rosario mendoakan arwah papa mertua anda?

        5. Hari Natal hampir tiba. Apakah rencana anda pada hari Natal ini? Apa yang dapat anda lakukan untuk melibatkannya dalam merayakan Natal?

        Point- point ini bisa terus bertambah, namun inti-nya adalah anda sebagai menantu harus berusaha menunjukkan kepadanya bahwa dengan menikahi anda, suami anda tidak bertambah jauh kepadanya namun malah bertambah dekat dan menyayanginya. Dengan demikian anda dapat membuktikan bahwa prasangka negatifnya selama ini salah total. Sebab sekarang ini, bukan hanya suami anda saja, tetapi seluruh keluarganya (termasuk anda dan anak- anak) juga tambah memperhatikan dia di masa tuanya. Dengan perhatian dan kasih ini, maka anda tak perlu merasa tersaingi dengan dia, dalam hal merebut kasih dan perhatian anak anda. Tetaplah bersikap terbuka dan sediakanlah waktu untuk berbicara dari hati ke hati dengan anak anda, terutama anak anda yang satu itu. Dengarkanlah dia dan perhatikan apa yang menjadi harapan ataupun kebutuhannya. Saya rasa dengan demikian, anak anda bahkan akan terlebih lagi mengasihi anda sebagai ibunya. Sebab yang namanya kasih itu sifatnya menular dan mudah berlipat ganda.

        Mega, saya memiliki saudara sepupu yang juga tinggal di luar negeri dan menikah dengan orang asing. Ia sudah seperti adik kandung saya sendiri, dan kami sangat dekat satu sama lain. Darinya saya mengerti bahwa dalam keadaan jauh dari keluarga sendiri dan tinggal di negeri orang, tidak ada pilihan selain mendekatkan diri kepada keluarga suami. Pasti akan ada tantangan ataupun kesulitan tersendiri, terutama karena perbedaan latar belakang dan budaya, namun tidak ada kata mustahil untuk dicoba. Anda harus berusaha menganggapnya sebagai ibu anda juga, dan mengasihinya seperti mengasihi ibu anda sendiri. Ini adalah teladan yang baik bagi anak anda, sehingga kelak di masa tua anda, setidaknya anak anda juga akan menghormati dan mengasihi anda, sesuai dengan contoh yang dilihatnya pada diri anda sekarang terhadap ibu mertua anda. Biar bagaimanapun, kesaksian hidup berbicara lebih lantang daripada perkataan. Anak anda akan belajar lebih banyak dari apa yang anda lakukan daripada dari apa yang anda katakan. Ajaklah suami berperan serta dalam hal ini, baik dalam hal menyatakan kasih kepada ibu, maupun dalam hal menyikapi perkembangan anak- anak. Apa yang sudah anda lakukan, yaitu berdoa bersama sebagai satu keluarga sudah baik, dan pantas dipertahankan. Jika anda sudah melakukan apa yang menjadi bagian anda dalam memperbaiki hubungan anda dengan ibu mertua anda dan juga dalam memahami perkembangan anak anda, maka anda tidak perlu kuatir akan apakah anak anda akan menjadi lawan anda di kemudian hari. Sebab anak anda tidak akan mempunyai alasan apapun untuk menentang ataupun melawan anda.

        Namun di atas semua itu, jangan lupa untuk terus berdoa memohon pimpinan Tuhan dan kekuatan dari-Nya. Tidak mudah untuk mengasihi, terutama jika orang yang kita kasihi itu sudah terlanjur mempunyai prasangka negatif terhadap kita. Kita harus mohon karunia kerendahan hati dan rahmat kasih dari Tuhan. Namun jika anda dapat melaksanakannya, berbahagialah, dan berharaplah bahwa Tuhan akan menyempurnakannya dan menjadikan segala sesuatunya indah pada waktunya (lih. Pkh 3:11).

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        Ingrid Listiati- katolisitas.org

        • Salam sejahtera ibu Ingrid,

          Terimakasih banyak atas tanggapan yang ibu berikan dan juga terimakasih dg pengalaman menarik dari ibu Lesminingtyas, saya akan ambil hikmahnya.

          salam dan doa
          mega

  4. Shalom,

    saya ingin bertanya, sebagai seorang anak, bagaimana kita bisa memberitahu orang tua bahwa apa yang mereka lakukan terhadap saya adalah hal yang kurang tepat? bagaimana jika mereka berpikir bahwa kebahagiaan yang penting adalah yang di dunia? Dalam kasus saya, saya sudah menemukan pasangan yang satu iman, tapi berbeda etnis. Orang tua saya tidak suka hal tersebut karena beranggapan bahwa hidup saya akan sulit karena pasangan saya berbeda etnis. Karena perbedaan ini mereka juga tidak mau mencoba mengenal pasangan saya dan keluarganya. Sempat tercetus pula dari orang tua, bahwa mereka menyukai pemikiran ‘lebih baik beda agama, karena agama dapat diubah/pindah’. Dalam hal ini, bukankah orang tua saya dapat dikatakan belum menjalankan tugasnya sebagai orang tua dengan baik? Apa yang harus dilakukan seorang anak dalam menghadapi orang tua yang demikian? Karena dalam budaya indonesia ini kan yang muda mendengarkan, yang tua berbicara

    • Shalom Novan,
      Pertama- tama silakan anda membawa permasalahan yang sedang anda hadapi ini dengan doa. Kedua, silakan anda memeriksa dengan obyektif apakah pasangan anda yang beda etnis tersebut sungguh adalah seorang Katolik yang baik, dalam artian takut akan Tuhan, melaksanakan imannya di dalam perbuatan? Apakah sifat- sifatnya cocok dengan anda, dan apakah anda dapat berkomunikasi dan saling mendukung dan mengasihi satu sama lain? Apakah ia orang yang rajin bekerja dan bertanggungjawab? Apakah ia sabar dan tak lekas naik pitam? Apakah ia hormat pada orang tua? dst. Pertanyaan serupa ini dapat anda sebutkan sendiri, untuk memeriksa hubungan anda dengan dia, dan apakah anda layak ‘berjuang’ untuk mempertahankannya di hadapan orang tua anda. Hanya setelah anda sendiri sudah yakin akan kecocokan anda dengan dia, baru anda membicarakannya secara baik- baik dengan orang tua anda. Ketiga, silakan mendiskusikannya dengan pacar anda, bagaimana caranya untuk menunjukkan perhatian anda dan dia kepada orang tua anda. Jangan sampai sikap orang tua yang ‘banyak menilai’ ini ditanggapi dengan kemarahan dari pihak anda dan pacar anda. Sebab, kemungkinan besar, orang tua anda bermaksud baik, mereka hanya khawatir bahwa anda nantinya tidak cocok, sehingga mereka cenderung menentang hubungan anda. Maka yang mungkin dapat ditunjukkan adalah bahwa anda dan pacar anda adalah pasangan yang cocok dalam arti saling mengisi, saling membangun, saling mengasihi, dan saling menerima, termasuk keadaan keluarga masing- masing; dan yang terpenting satu iman dan satu Gereja, sama- sama sehati sepikir dalam mencari kebahagiaan yang tidak melulu dari dunia ini. Selanjutnya berdoalah mohon petunjuk Tuhan, jika perlu sertai dengan puasa dan novena. Semoga Tuhan memberikan rahmat kebijaksanaan kepada anda berdua dan orang tua anda untuk menyikapi keadaan ini.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  5. Syalom…
    Menanggapi komentar saudari Ane dan Saudari Amaral…

    Seperti yang sudah dijelaskan oleh saudara Stef.. saya mencoba memberikan pemahaman yang sederhana…

    1. Pada hakekatnya anak dilahirkan dalam keadaan suci, bebas dari sifat2 buruk….
    ibarat sehelai kertas.. ia putih dan polos…… (Sebagai titipan Tuhan, ia baik adanya)
    Dalam perkembangannya, lingkungan sangat mempengaruhi sifat2 baru daripada anak tersebut…
    Hal ini menunjukkan betapa berpengaruhnya peran lingkungan yang terdekat… yaitu keluarga.

    a. Bila Keluarga Dominan
    Maka sebagian besar sifat2 anak dibentuk oleh orang tuanya… artinya dalam setiap tindakan maupun ucapan orang tua (baik itu disadari maupun tidak) akan berpengaruh pada sifat2 anak dikemudian hari.
    Jadi lingkungan diluar keluarga tidak terlalu berpengaruh…. kecuali pengaruh dari lingkungan sesuai dengan keadaan di keluarga.. maka sifat2 tersebut akan semakin kuat melekat (jika keluarga dan lingkungan bersifat negatif maka semakin kuat sifat negatif tersebut mempengaruhi si anak demikian sebalikya).
    b. Bila Keluarga tidak dominan
    Maka perkembangan sifat2 anak akan dibentuk atau diambil alih oleh lingkungan diluar keluarga, jika kebetulan lingkungan positif, maka kemungkinan besar anak juga akan mempunyai sifat2 positif. Akan tetapi biasanya lingkungan lebih membawa pengaruh negatif.

    2. Menurut penelitian beberapa ahli , pada dasarnya otak manusia cenderung(sangat mudah) untuk menyerap hal2 yang negatif… maksudnya, untuk hal2 yang bersifat negatif, misalnya perbuatan atau kata-kata yang tidak baik, akan begitu mudah diingat, masuk ke pikiran bawah sadar… akan tetapi untuk hal2 yang positif sangat sulit untuk diingat oleh otak kita, makanya perlu pengulangan pengulangan atau menjadikan suatu kebiasaan. (hal ini yang biasanya enggan dilakukan oleh orang tua).

    3. Orang tua adalah manusia yang sifat2nya sudah terbentuk cukup permanen, sehingga sebagian besar sifat2 tersebut dilakukan dengan tanpa disadari, misal : pemarah, penipu, pendiam, pendengki, penyabar, dll…
    Nah, hal ini yang biasanya menjadi kendala orang tua dalam membentuk sifat2 baik ke anaknya.. orang tua cenderung hanya dengan kata2 (menasehati) dalam membentuk sifat2 anak, seringkali tidak selaras dengan perbuatannya. Jadi anak akan bingung, sebab apa yang dikatakan orang tuanya tidak sama dengan apa yang dilakukan orang tuanya.
    Dengan “hanya” menasehati, orang tua merasa sudah melakukan segala-galanya…. begitu anak punya sifat2 yang menurut orang tuanya “tidak baik”, dibilang itu sudah bawaan, atau pengaruh orang lain…
    Seharusnya…. jika ada sifat anak yang jelek, maka, sebagai orang tua yang bijak, harus merasa DIRI nyalah yang paling bertanggung jawab, sebab dialah yang membentuk. YA, saya SALAH.. (dengan tulus dan rendah hati), kalau perlu kita ungkapkan ke anak permintaan maaf.. lalu kita evaluasi bersama apa penyebabnya, sehingga dapat dikembalikan ke yang semestinya, menjadi benar.

    4. Orang Tua harus juga mau selalu belajar…. (apakah itu ilmu atau pengalaman), baik dari orang lain, dari buku, atau bahkan dari anak kita sendiri. Keadaan atau kondisi dimasa kita dahulu tidak sama dengan kondisi yang ada sekarang. makanya kita harus selalu up to date, mengikuti/ tahu perkembangan.

    5. Dan yang paling penting, Jika kita ingin merubah sesuatu, maka pertama-tama yang harus berubah adalah diri kita. inilah yang paling sulit..
    Jika kita ingin anak kita jujur, maka kita harus berubah menjadi jujur,. atau kita ingin anak kita tekun dalam doa, maka kita harus tekun dalam doa… sehingga dalam otak anak terbentuk bahwa orang tuanya konsekuen, dan konsisten. Anak merasa mantap dan sulit untuk menyangkal. Jangan sungkan untuk minta maaf ke anak jika kita salah, berterima kasih ke anak jika kita sudah dibantu atau diingatkan, memuji jika melakukan yang baik, dan menyayangi jika melakukan kesalahan, sebab orang tua harus bisa menjadi teman, partner, sahabat bagi anaknya. Hanya sesekali saja kita melakukan otoritas kita sebagai orang tua, maksudnya jika anak sudah mendapatkan penjelasan yang baik, akan tetapi masih ngotot… kita memang harus tegas!!! (dalam hal ini harus sangat bijak, tidak dengan emosi yang berlebihan), jika tidak, cukup katakan tidak, atau jika ada alternatif lain bisa dijadikan jalan tengah.

    Dengan kerendahan hati, saya hanya ingin berbagi… bahwa apa yang saya jelaskan di atas benar-benar telah saya lakukan terhadap kedua anak saya… Puji Tuhan, kami cukup mudah untuk membuang pengaruh buruk dari luar yang dibawa anak (karena ketidak tahuan anak), harus diingat sifat anak selalu ingin tahu. Bahkan ke dua anak saya dapat memberikan pengaruh positif bagi lingkungan di luar (sekolah), akibat dari kebiasaan2 yang ada dirumah. Sebagai manusia saya tidaklah sempurna, akan tetapi saya harus “mau” untuk selalu berubah.

    + ” Merekalah(anak2) yang empunya Kerajaan Allah”, maka dari pemahaman firman tersebut kita harus belajar dari anak, dan menjaga supaya anak2 kita selalu menjadi yang “empunya” kerajaan Allah. (mengarahkan jiwa anak untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di surga)
    + “Kebetulan” kita dilahirkan terlebih dahulu dari anak, jadi tidak sepantasnya kita semena-mena terhadap anak, kita selalu merasa lebih dari anak…. kadang kita harus juga belajar dari anak.
    + Tugas kita adalah menjadi Imam(membimbing/ mengarahkan/ mendengarkan), Nabi(menyatakan dan mewartakan firman) dan Raja(melayani)…. bagi anak2 kita.

    “sekarang…., maukah kita belajar untuk menjadi imam, nabi dan raja bagi anak2 kita..??” sebelum semuanya menjadi terlambat…

    Salam Kasih,

    Wahyudi n Fam

    • Terima kasih atas kata2nya… saya merasa sudah diingatkan…
      selama ini saya merasa sudah sangat jahat sekali terhadap anak saya…
      saya merasa kalau dia nakal saya wajib memperingati bahkan saya terlewat smp memukulnya &
      mengurungnya dikamar…

      Semua ini jg ada pengaruh dari perkawinan saya yg tidak sehat lagi… hubungan komunikasi dengan
      suami begitu sulit bahkan kami jarang sekali berbicara… saya kadang merasa perkawinan saya hancur
      dan sering saya lampiaskan ke anak… setelahnya pasti saya sangat menyesal & minta maaf ke anak…

      saya ingin sekali menghentikan kebiasaan saya memukul anak tetapi saya ga bisa mengendalikan emosi klo saya lg kesel…

      di rumah cm ada kami bertiga yaitu saya, suami dan anak. makanya anak menjadi tergantung sama saya… kmn saya melangkah pasti akan ikut… saya sering kesel diikutin melulu… tp ya memang yg dia punya di rmh cm saya… ya saya maklum… tp klo udh merengek2 itu yg saya merasa capek sekali… saya masih harus menyelesaikan pekerjaan rmh yg menumpuk sementara anak merengek terus minta gendong lah atau minta main keluar rumah… saya jadi pusing dan marah…
      sementara kalau suami diceritain soal anak ga pernah kasih komentar malah kaya ga mendengar saja.
      saya merasa ga dihargai sebagai istri dan merasa sebagai pembantu & penjaga anak dirmh…

      saya merasa jenuh sekali dengan semua ini…
      tapi saya janji saya mau berubah demi anak dan tidak mau membuat dampak psikologis dari pertumbuhan anak saya.

      Terima kasih…

      • Shalom Liza,

        Saya teringat akan ayat ini, “Tetapi perempuan akan diselamatkan karena melahirkan anak, asal ia bertekun dalam iman dan kasih dan pengudusan dengan segala kesederhanaan.” (1 Tim 2:15). Maka memang benar besarlah pengorbanan seorang ibu kepada anaknya, namun hal ini tidak sia- sia, sebab dapat menjadi sarana yang digunakan Tuhan untuk menguduskan para ibu. Maka berbahagialah para ibu, yang telah diberi tugas oleh Tuhan untuk melahirkan dan membesarkan anak- anak. Anak adalah titipan Tuhan, karunia yang harus disyukuri tiap- tiap hari, walaupun tidak jarang ‘karunia’ tersebut menuntut juga pengorbanan dari pihak orang tua. Namun dengan melakukan tugas panggilan sebagai orang tua, maka baik pihak ayah maupun ibu keduanya dikuduskan dan dijadikan serupa dengan Tuhan sendiri yang menjadi Bapa bagi kita semua anak- anak angkat-Nya di dalam Yesus Kristus.

        Maka jika anak anda nakal, ingatlah bahwa dalam cara serupa kitapun dapat bersikap demikian kepada Allah Bapa kita, terutama jika kita jatuh ke dalam dosa yang sama. Namun dalam keadaan itupun, kita mengharapkan belas kasihan Tuhan untuk mengampuni kita. Semoga dengan mengingat akan pengampunan Tuhan, maka andapun dapat dimampukan untuk menjadi lebih sabar dan mengasihi anak anda. Selanjutnya, alangkah baiknya jika anda dapat berdoa bersama suami anda setiap hari, dan silakan bersama suami mendoakan anak anda, agar ia dapat berkembang menjadi anak yang baik, taat dan mengasihi anda sebagai orang tua, dan di atas semuanya itu, mengasihi Tuhan yang sudah lebih dahulu mengasihinya. Semoga dengan cara demikian, suamipun menjadi semakin terlibat dalam mendidik anak anda berdua, dan tidak acuh- tak acuh terhadap perkembangan anak anda, yang telah dipercayakan Tuhan kepada anda.

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        Ingrid Listiati- katolisitas.org

  6. Salam admins,

    kalau misal ditambahkan bahwa keluarga adalah seminari tingkat dasar gimana ? bahwa anak2 bisa diarahkan menuju panggilan membiara untuk melayani Tuhan.

    • Shalom Anonymous,

      Terima kasih atas tanggapannya. Keluarga seharusnya menjadi gereja terkecil dan bukan hanya seminari tingkat dasar. Jadi, anak-anak dapat diarahkan kepada kehidupan membiara, menjadi pastor/suster yang kudus, menjadi kaum awam yang kudus. Dengan demikian, keluarga dapat membuka kemungkinan bagi anak-anak untuk membangun Gereja dan mengasihi Kristus dengan cara yang berbeda-beda. Intinya adalah membawa anak-anak ke Sorga. Itulah tujuan akhirnya, yang dapat dicapai dengan cara yang berbeda-beda, baik menjadi imam maupun awam. Namun, perlu juga diajarkan untuk memberikan yang terbaik kepada Tuhan, sehingga nama Tuhan dapat semakin dipermuliakan (Ad Majorem Dei Gloriam). Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  7. Sbg org tua kita sdh mendidik &mengarahkan kpd agama yg kita anut tp bgmn klau anak akhirnya mbelot tdk setia lg akan agamanya dgn alasan2 spt hrs mengikuti agama suami ato sebaliknya,krn klau tdk diikuti bs berakibat fatal,akhirnya kembali org tua yg akan disalahkan lg ga akan pernah bener mnjadi org tua alias GAGAL mendidik &tdk sesuai KEHENDAK “ALLAH”

    • Shalom Ane,

      Terima kasih atas pertanyannya tentang pendidikan anak. Kita harus menyadari bahwa banyak keputusan anak-anak bukanlah suatu keputusan yang mendadak, namun dibuat berdasarkan pondasi yang telah ditanamkan di dalam keluarga masing-masing. Oleh karena itu, tugas orang tua adalah memberikan pondasi iman yang kuat kepada anak-anak. Dan setelah mereka dewasa dan dapat mengambil keputusan sendiri, maka tugas orang tua adalah mendampingi anak-anak dan bukan memaksakan kehendak kepada mereka. Pada saat anak-anak telah dewasa, maka kita mempunyai harapan bahwa mereka dapat menghadapi hidup dengan iman, pengharapan dan kasih, karena telah diberikan pondasi yang kuat. Hal ini termasuk untuk mencari pasangan yang satu iman.

      Jadi, fokusnya adalah bukan pada anak-anak yang membelot ke agama yang lain, namun apakah sebagai orang tua, kita telah memberikan pendidikan iman dan pondasi iman yang kuat. Hal ini sama seperti setiap orang tua berusaha dengan sungguh-sungguh untuk memberikan pendidikan yang baik pada anak-anak sampai S1, S2, sehingga anak-anak dapat berdirkari dan berkarya dalam masyarakat. Kalau ini kita lakukan untuk pendidikan sekular, maka kita juga harus melakukannya untuk pendidikan iman. Kalau kita menyadari bahwa mungkin pendidikan iman yang kita berikan adalah kurang, maka kita menyadari bahwa ini adalah kesalahan kita sebagai orang tua. Namun, kalau ini terjadi, maka janganlah berputus asa, namun terus mendoakan anak-anak. Pada saat yang bersamaan, belajarlah untuk mengetahui dan mengasihi iman Katolik, sehingga pada saat-saat yang tepat, orang tua juga dapat berdiskusi tentang iman Katolik dengan anak-anak yang telah berpindah ke gereja lain. Kita percaya, bahwa Tuhan mengerti dan memberikan yang terbaik dalam kehidupan kita. Yang terpenting adalah, kita harus melakukan apa yang menjadi bagian kita. Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  8. Aquilino Amaral on

    Bagi penulis article ini,

    Saya pikir penjelasan yang diberikan tentang “misi khusus orang tua: membesarkan anak secara Kristiani” hal ini sangat penting dalam keluarga untuk mendidik anak-anaknya di dunia ini. namun ada banyak kendala yang dihadapi oleh beberapa kalangan orang tua dalam mengasuh anaknya, dimana mereka (orang tua) dihadapkan situasi yang sangat sulit diera globalisasi ini. anak-anak sekarang yang hidup di era globalisasi tentunya mereka dihadapkan oleh situasi yang amat sulit tentang moral dan etika. Hal demkian sangat perlu campur tangan orang yang kontinuesly, dan rahmat roh kudus agar mereka dimbimbing untuk merenungkan kasih karunia Allah, agar anak-anak kita tidak terjerumus kedalam kegelapan.

    Apa perlu kita harus mengarahkan anak kita sampai ia tumbuh dewasa, atau kita membiarkan saja saat dia tumbuh dewasa? Baigaimana mereka disibukan dengan kegiatan-kegiatan gereja atau rohani. Bagaimana situasi ini terjadi dalam keluarga yang tak berdaya? yang tidak dapat memenuhi kebutuhan secara financial kepada mereka? apa langkah selanjutnya bagi orang tua dalam mendidik anak?

    Ini moment yang sangat sulit untuk dijawab bila dihadapi situasi semacam ini, yang mana masuk era globalisasi yang teknology semakin canggih seperti? Apa peranan gereja dalam hal ini turuk mengambila bagian suka dan duka cita mereka?

    Comment:
    Aquilino Amaral
    anggota Pasif THS-THM tahun 1993 di Timor-Leste-Cabang Covalima

    • Shalom Aquilino Amaral,

      Sebagai orang tua, kita dipercaya oleh Tuhan untuk membesarkan dan mendidik anak- anak kita sesuai dengan iman Katolik sampai mereka dewasa atau dapat berdiri sendiri. Kita harus menyadari, bahwa tugas terbesar dari orang tua adalah untuk menghantar setiap anak- anaknya agar dapat masuk surga. Sehingga tugas pertama orang tua adalah menghantar anak- anak untuk menerima Pembaptisan, dan kemudian mendidik anak- anak secara Katolik, yaitu untuk bertumbuh dalam iman, pengharapan dan kasih.

      Dengan demikian, tidak menjadi masalah apakah keluarga itu berkecukupan atau kekurangan (miskin), sebab tugas rohani ini tidak mensyaratkan kecukupan materi. Sebagai contohnya saja, Yesus pada saat penjelmaan-Nya di dunia lahir dalam keluarga yang miskin, yaitu sebagai anak tukang kayu (St. Yusuf) dan Bunda Maria ibu-Nya. Dengan demikian kemiskinan itu bukan suatu dosa (poverty is not a sin); bahkan dalam kemiskinan ini sering orang dapat semakin menyadari akan ketergantungannya kepada Allah. Kemiskinan jasmani seharusnya mengarahkan keluarga itu untuk juga mempunyai kemiskinan rohani, yaitu sikap kerendahan hati untuk selalu mengandalkan Tuhan di dalam hidup mereka. Jika kita membaca riwayat hidup para orang kudus, kita sering melihat bahwa banyak di antara mereka lahir dari keluarga yang miskin, seperti contohnya St. Bernadette yang mendapat penampakan Bunda Maria di Lourdes 1858, St. Maria Faustina yang mendapat pesan dari Yesus untuk meluaskan devosi Kerahiman Ilahi (1930), St. Padre Pio yang diberi karunia stigmata luka- luka Yesus selama 50 tahun (1918-1968); dan masih banyak lagi contoh santa- santo yang lainnya yang berasal dari keluarga miskin. Ini membuktikan bahwa kemiskinan jasmani tidak menghalangi orang tua untuk mendidik anak- anak mereka untuk menjadi kudus.

      Orang tua mempunyai tanggung jawab untuk membesarkan anak- anak mereka, sehingga memang orang tua yaitu terutama para ayah harus rajin bekerja untuk mencari nafkah. Namun tugas mencari nafkah ini tidak membebaskan ayah (ataupun ibu jika ibu juga bekerja) untuk tidak mendidik anak untuk mengenal dan mengasihi Tuhan. Gereja memang juga mengambil peran dalam hal ini, misalnya, dengan adanya pendidikan sekolah- sekolah Katolik, pendidikan Bina Iman di Gereja, ataupun kegiatan rohani lainnya seperti putra- putri altar, Legio Mariae untuk anak- anak/ remaja, dll; namun tugas utama mendidik anak- anak secara rohani, pertama- tama adalah tugas orang tua.

      Katekismus mengajarkan:

      KGK 1653 Kesuburan cinta kasih suami isteri terlihat juga di dalam buah-buah kehidupan moral, rohani, dan adikodrati, yang orang-tua lanjutkan kepada anak-anaknya melalui pendidikan. Orang-tua adalah pendidik yang pertama dan terpenting. (Bdk. Gravissimum Educationis 3). Dalam arti ini, maka tugas mendasar dari perkawinan dan keluarga terletak dalam pengabdian kehidupan. (Bdk. Familiaris Consortio 28).

      Demikian, semoga penjelasan di atas berguna bagi kita semua.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

Add Comment Register



Leave A Reply