Dear,
Salam dari Sydney, Australia.
Saya adalah bekas pengikut agama Katolik yg sekarang pindah ke Kristen.
Penyebabnya adalah dikarenakan krn pengajaran agama Katolik tdk benar2 berdasarkan alkitab, tetapi lebih berdasarkan hukum kanonisasi.
Karena itu saya melihat banyak org2 Katolik yg berperilaku kasar dan berhati jahat. Saya mengerti karena mereka tidak pernah membaca alkitab, sebagaimana di agama Kristen, karena itu mereka tdk tahu bagaimana cara hidup Kristiani yg benar.
Banyak sekali rekan2 Katolik di Sydney Australia yg pindah agama karena alasan yg sama.
Tentang pemujaan patung2, kita tdk perlu bingung. Karena pada saat penghakiman terakhir nanti kita harus mempertanggung jawabkan perbuatan kita di hadapan Tuhan. Semoga kalian bisa menjelaskan kepada Tuhan alasan kalian memuja/menggunakan patung2 sebagai alat untuk bisa percaya.
Sebab kalau kalian belajar sejarah, kaisar Constantinus memerintahkan untuk membuat patung2 tersebut supaya bangsa Romawi tidak lagi memuja dewa2 mereka dan pemujaan dewa2 mereka digantikan dgn pemujaan patung santo-santa.
Bahkan ahli2 skrg mencoba membuktikan muka asli Yesus berdasarkan kain kafannya.
Bagaimana jika muka Yesus yg kita buat patung bukanlah muka aslinya? tetapi hanya muka seseorg yg saat itu dibayar utk dijadikan contoh pembuatan patung? maka kita memuja manusia biasa (spt diketahui Kaisar Constantinus memerintahkan artist2nya utk membuat patung Yesus – dan mereka hidup 1 decade setelah Yesus wafat.)
Mungkin hal ini berat untuk dimengerti bagi kalian di Indonesia yg tidak pernah tahu ttg sejarah agama Katolik. Semoga suatu hari mata kalian terbuka.
Bagi saya pribadi, beruntunglah saya bisa percaya tanpa harus melihat rupa nyata Tuhan.
Beruntunglah saya bisa bercakap2 dengan Tuhan tanpa harus berlutut didepan patung2 siapa yg tidak dikenal.
Beruntunglah saya tidak lagi terperangkap dalam ritual2 agama Katolik yg berdasarkan hukum Kanon – dimana hukum Kanon adalah buatan manusia belaka… bukan datang dari Tuhan.
Tetapi alkitab adalah datang dari Tuhan.
So we fix our eyes not on what is seen, but on what is unseen. For what is seen is temporary, but what is unseen is eternal. (2 Corinthians 4:18)
BERBAHAGIALAH ORANG YANG TIDAK MELIHAT NAMUN PERCAYA
Yohanes 20:24-31
Sherly.
Shalom Sherly,
Selamat datang di site ini dan terima kasih atas beberapa tanggapan anda. Saya akan mencoba untuk menjawab beberapa pertanyaan dan tanggapan yang anda berikan. Saya juga percaya bahwa anda membuat tanggapan tersebut karena anda mengasihi Yesus Kristus. Dan karena anda menganggap bahwa Gereja Katolik tidak menjalankan perintah Kristus secara murni, maka anda mencoba memperingatkan kami agar kami tidak percaya akan dogma dan doktrin dari Gereja Katolik. Hal ini ditunjang dengan anda sendiri yang sebelumnya adalah anggota Gereja Katolik yang akhirnya “sadar” dan berpindah ke gereja Protestan atau denominasi yang lain. Untuk itu, mari kita berdiskusi dengan hormat dan lemah lembut (lih. 1 Pet 3:15). Berikut ini adalah jawaban yang dapat saya berikan untuk keberatan-keberatan yang anda ajukan:
Anda mengatakan “Saya adalah bekas pengikut agama Katolik yg sekarang pindah ke Kristen. Penyebabnya adalah dikarenakan krn pengajaran agama Katolik tdk benar2 berdasarkan alkitab, tetapi lebih berdasarkan hukum kanonisasi.”
a) Saya tidak tahu apakah alasan sebenarnya mengapa anda berpindah dari Gereja Katolik ke gereja lain. Saya percaya bahwa kepenuhan kebenaran ada di dalam Gereja Katolik. Untuk itu, silakan anda membaca artikel ini – silakan klik.
b) Saya tidak tahu, pada waktu anda mengatakan “Penyebabnya adalah dikarenakan krn pengajaran agama Katolik tdk benar2 berdasarkan alkitab, tetapi lebih berdasarkan hukum kanonisasi.” apakah anda benar-benar telah mencari tahu dan mempelajari apa yang sebenarnya diajarkan oleh Gereja Katolik. Untuk mengatakan pengajaran agama Katolik tidak benar-benar berdasarkan Alkitab, maka anda perlu membuktikan lebih jauh. Bahkan untuk mendasarkan pengajaran HANYA pada Alkitab (sola scriptura) justru tidak Alkibiah, karena Alkitab tidak pernah mengatakan hal ini. Untuk itu, silakan melihat beberapa link berikut ini: silakan klik, silakan klik. Untuk membuktikan klaim anda bahwa Gereja Katolik tidak mendarkan ajarannya pada Alkitab, maka anda harus menunjukkan ajaran yang mana yang tidak sesuai dengan pengajaran Alkitab. Anda dapat melihat semua arsip di katolisitas.org – silakan klik – dan silakan melihat semua artikel dan jawaban dari kami yang mendasarkan pengajaran pada Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja.
c) Untuk mengatakan bahwa ajaran gereja Katolik berdasarkan ajarannya pada hukum kanonik adalah salah besar. Saya tidak tahu darimana anda mendapatkan keterangan seperti ini. Hukum Kanonik adalah merupakan manifestasi dari apa yang dipercayai oleh Gereja. Dengan demikian, Gereja mendasarkan kebenaran dogma dan doktrin berdasarkan tiga pilar kebenaran: 1) Kitab Suci, 2) Tradisi Suci, 3) Magisterium Gereja. Dan Hukum kanonik adalah merupakan refleksi dari kebenaran-kebenaran yang telah dirumuskan – artinya: kalau kita percaya A, maka kita melakukan 1,2,3, contoh: kalau kita percaya bahwa perkawinan adalah tak terceraikan, maka Kitab Hukum Kanonik (KHK) mengatur bagaimana perkawinan yang sah, kondisi yang membuat perkawinan tidak sah, dll. Pembahasan tentang hukum kanonik dapat dilihat di sini – silakan klik. Kalau gereja anda mempunyai pengikut 1,3 milyar dan tersebar di seluruh dunia, maka gereja anda juga akan memerlukan semacam KHK.
Anda memberikan tuduhan “Karena itu saya melihat banyak org2 Katolik yg berperilaku kasar dan berhati jahat. Saya mengerti karena mereka tidak pernah membaca alkitab, sebagaimana di agama Kristen, karena itu mereka tdk tahu bagaimana cara hidup Kristiani yg benar. Banyak sekali rekan2 Katolik di Sydney Australia yg pindah agama karena alasan yg sama.”
a) Saya mengerti ada sebagian umat Katolik yang hidup tidak sesuai dengan iman Katolik, dan saya rasa ini berlaku juga bagi seluruh umat Kristen-non Katolik, yang sebagian dari mereka juga hidup tidak sesuai dengan pesan Kristus. Dengan demikian, perjuangan untuk hidup kudus merupakan tantangan bagi semua umat beriman. Jadi, kalau ada umat Katolik yang anda lihat berlaku kasar dan berhati jahat, maka anda tidak dapat mengatakan bahwa semua umat Gereja Katolik adalah kasar dan berhati jahat. Saya mengundang anda untuk membaca riwayat para kudus, santa-santo dari Gereja Katolik, sepanjang sejarah Gereja. Saya pribadi menyadari bahwa kehidupan saya tidaklah berarti apa-apa dibandingkan dengan mereka. Mereka membuktikan kasih mereka kepada Tuhan secara luar biasa. Apakah komentar kita akan orang-orang seperti yang terberkati ibu Teresa dari kalkuta – yang melayani orang-orang miskin, St. Maximilian Kolbe – yang menyerahkan nyawanya untuk menyelamatkan seorang tawanan Yahudi yang mempunyai keluarga? Kalau mau melihat orang-orang yang benar-benar menjalankan ajaran Gereja Katolik, lihatlah figur seperti ibu Teresa dari Kalkuta, St. Maximilian Kolbe, dan santa-santo yang lain. Semakin seseorang berakar pada dogma dan dokrin dari ajaran Gereja Katolik, maka kehidupannya akan semakin mirip dengan para santa-santo yang telah dibuktikan dalam sejarah Gereja Katolik, dan tentu saja yang paling utama adalah semakin mirip dengan Yesus. Janganlah mengukur pengajaran Gereja Katolik dari orang-orang yang tidak menjalankan iman Katolik dengan baik.
b) Apalagi, kalau anda memberikan tuduhan bahwa mereka tidak pernah membaca Alkitab sebagaimana di agama Kristen, maka ini adalah kesimpulan yang perlu dibuktikan kebenarannya. Apakah “mereka” yang anda maksudkan adalah orang-orang Katolik yang jahat atau semua orang Katolik? Kalau anda mempelajari kanon Kitab Suci, maka sudah seharusnya kita semua berterima kasih kepada Gereja Katolik yang menentukan buku-buku mana yang menjadi bagian dari Kitab Suci. Anda dapat membaca diskusi tentang hal ini di sini – silakan klik. Bagaimana anda menerangkan orang-orang Kristen non-Katolik yang tidak baik dan tidak mencerminkan Kristus? apakah penyebabnya?
Anda mengatakan “karena itu mereka tdk tahu bagaimana cara hidup Kristiani yg benar.” Untuk mengerti pengajaran Gereja Katolik tentang kehidupan kristiani, maka silakan anda membaca artikel tentang kekudusan – silakan klik dan klik ini, dan klik ini dan kerendahan hati – silakan klik. Sekali lagi, ukurlah Gereja Katolik dari orang-orang yang menjalankan apa yang diajarkan Gereja Katolik. Kita tidak dapat menyalahkan seorang dokter karena pasiennya tidak sembuh-sembuh, yang disebabkan karena si pasien tidak mengikuti nasehat dan resep dari dokter tersebut.
Kalau anda mengatakan “Banyak sekali rekan2 Katolik di Sydney Australia yg pindah agama karena alasan yg sama.“, maka alasan anda dan rekan-rekan di Sydney Australia berpindah dari Gereja Katolik adalah karena melihat kasus-kasus yang tidak benar dan kemungkinan salah mengerti akan apa yang sebenarnya diajarkan oleh Gereja Katolik. Apakah kalau anda melihat ada orang-orang Kristen non-Katolik yang tidak baik, maka anda akan berpindah ke agama lain? Memeluk suatu agama bukanlah hal yang main-main, yang saya yakin Sherly juga menyadarinya. Oleh karena itu, dasar untuk pindah ke agama lain karena hanya melihat kasus-kasus yang jelek (mungkin hal-hal yang baik tidak dilihat) tidaklah cukup. Perpindahan seseorang dari Gereja Katolik ke gereja lain, tidak boleh hanya berdasarkan kasus, kotbah yang baik, komunitas yang akrab, dll, melainkan harus berdasarkan alasan untuk mencari kebenaran sejati, untuk mengasihi Kristus secara penuh. Saya mengundang anda untuk membaca artikel ini – silakan klik.
Anda mengatakan “Tentang pemujaan patung2, kita tdk perlu bingung. Karena pada saat penghakiman terakhir nanti kita harus mempertanggung jawabkan perbuatan kita di hadapan Tuhan. Semoga kalian bisa menjelaskan kepada Tuhan alasan kalian memuja/menggunakan patung2 sebagai alat untuk bisa percaya.”
a) Seperti yang dijelaskan di artikel ini – silakan klik, maka Gereja Katolik tidak menyembah patung. Patung hanyalah sarana yang membantu kita agar dapat berfokus pada Tuhan. Sama seperti kadang kita menggunakan lilin, salib, dll. Silakan melihat contoh di Perjanjian Lama, bagaimana Tuhan sendiri memerintahkan umat-Nya untuk membuat ular tedung (lih. Bil 21:8), dua kerub dari kayu (1 Raj 6:23-35).
b) Tentu saja masing-masing dari kita harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan kita di hadapan Tuhan pada saat pengadilan terakhir. Dan hal ini bukan hanya masalah patung, namun juga dalam keputusan kita untuk memilih agama, dan seluruh perbuatan kita, atau dengan kata lain seluruh iman, pengharapan dan kasih.
c) Kalau anda memberikan argumentasi “Sebab kalau kalian belajar sejarah, kaisar Constantinus memerintahkan untuk membuat patung2 tersebut supaya bangsa Romawi tidak lagi memuja dewa2 mereka dan pemujaan dewa2 mereka digantikan dgn pemujaan patung santo-santa.“, maka silakan mencari di google dengan kata kunci “christian art in catacombs“, karena itu adalah apa yang dilakukan oleh jemaat perdana sebelum masa kaisar constantine membuat peraturan bahwa agama Kristen boleh diajarkan secara bebas melalui edict of Milan tahun 313. Di dalam katakombe, kita juga melihat adanya gambar-gambar, simbol-simbol agama Kristen. Silakan melihatnya di sini – silakan klik.
d) Anda mengatakan “Bahkan ahli2 skrg mencoba membuktikan muka asli Yesus berdasarkan kain kafannya. Bagaimana jika muka Yesus yg kita buat patung bukanlah muka aslinya? tetapi hanya muka seseorg yg saat itu dibayar utk dijadikan contoh pembuatan patung? maka kita memuja manusia biasa (spt diketahui Kaisar Constantinus memerintahkan artist2nya utk membuat patung Yesus – dan mereka hidup 1 decade setelah Yesus wafat.)” Kami telah membahas hal ini sebelumnya, dimana dituliskan:
1. Maka bukti ilmiah dari wajah Yesus memang kita ketahui dari bukti sejarah. Misalnya, bukti gambar wajah Yesus dalam “the Shroud of Turin”/ kain kafan Turin, yang selengkapnya dapat anda baca di link ini, silakan klik. Dan temuan gambar- gambar Yesus di katakombe (gereja bawah tanah) Domitilla. Uraian lebih lanjut dapat anda baca di link ini, silakan klik. Berikut juga temuan gambar-gambar wajah Yesus di abad-abad pertama.
Mengenai gambar wajah dan tubuh Yesus di kain kafan Turin memang masih menjadi topik perdebatan para ahli sampai saat ini, justru karena memang tidak bisa dijelaskannya mengapa sampai ada gambar tubuh dan wajah Yesus ‘tercetak’ pada kain itu. Para skeptik mengatakan bahwa itu lukisan yang diciptakan oleh seorang genius di abad pertengahan, walaupun kemudian para scientist membuktikan bahwa warna yang tertera di situ bukan pigmen cat, tetapi darah manusia. Lalu teori bahwa itu hasil fotografi juga sebenarnya tidak mungkin, karena teknik reproduksi fotografi untuk menghasilkan gambar sedemikian (kalau misalnya-pun anggapan ini benar) baru ada 400 tahun sesudahnya. Silakan anda membaca di link yang saya sertakan di atas, untuk melihat penjelasan secara ilmiah mengenai Kain kafan Turin tersebut.
Namun terlepas dari kontroversi Kain Kafan Turin ini, kita mengakui bahwa gambar Yesus yang kita kenal sekarang ber-evolusi dari apa yang digambarkan pada gambar ini, dan gambar Yesus yang ditemukan di abad- abad pertama.
2. Menurut perkembangannya, memang ditemukan beberapa versi gambar wajah Yesus. Walaupun umumnya wajah Yesus yang kita kenal menggambarkan-Nya sebagai seorang dari Timur Tengah, namun adapula yang menggambarkannya sesuai dengan budaya setempat. Hal ini sesungguhnya tidak menjadi masalah, karena yang terpenting bukan gambarnya, namun Siapa yang digambarkan oleh gambar itu.
Dalam memahami hakekat Yesus yang digambarkan oleh lukisan/ gambar/ patung itu, kita harus memahami bagaimana pikiran/ imajinasi manusia menangkap essensi dari sesuatu/ seseorang. Setiap orang, dapat menangkap universalitas dari sesuatu yang digambarkan dalam imaginasinya. Sebagai contoh, mendengar kata ‘kucing’ secara otomatis, kita menggambarkan kucing di dalam imaginasi kita. Kemampuan untuk menangkap universalitas, membuat manusia dapat menangkap hakekat kucing, yang tidak ditentukan oleh ukuran, apakah itu kecil, besar, atau oleh warna, ukuran dll. Contoh ini juga dapat diterapkan di semua agama pada saat seseorang berdoa. Mungkin umat dari agama lain dapat mengatakan bahwa yang tergambar dalam pemikirannya pada waktu berdoa adalah cahaya, atau huruf, atau yang lain. Namun bagi umat Kristen, sebagian besar yang tergambar dalam pikiran kita pada saat berdoa adalah wajah Yesus, karena umat Kristen mempercayai bahwa Yesus, adalah Tuhan yang datang menjadi manusia. Itu adalah latar belakang dari seni atau gambar yang mempresentasikan Yesus.
Nah, sekarang permasalahannya adalah bagaimana kita mengetahui apakah wajah Yesus yang sesungguhnya adalah Yesus seperti yang ada pada gambar-gambar yang kita kenal? Maka di sini kita harus melihat prinsip manusia menangkap ‘hakekat’ sesuatu/ seseorang seperti pada contoh di atas. Kita manusia mampu menangkap hal-hal yang bersifat accidental (‘kulit’ luar) dan essensi. Accidental dari manusia adalah berkumis, berjenggot, tinggi/pendek, kulit hitam atau putih, rambut panjang atau pendek, dll. Namun essensi dari manusia adalah manusia yang diciptakan menurut gambaran Allah, mempunyai tubuh danjiwa, dimana jiwanya adalah bersifat kekal dan spiritual. Spiritualnya karena manusia mempunyai akal budi (intellect) dan juga kehendak bebas. Selanjutnya, kesempurnaan manusia ditunjukkan dengan bagaimana manusia dapat bersikap untuk mencapai tujuan akhirnya, yaitu Tuhan. Di sinilah, Yesus sebagai Tuhan datang ke dunia ini untuk memberikan jalan kepada manusia dan menunjukkan bagaimana seharusnya manusia bersikap sebagaimana layaknya manusia menurut gambaran Allah (yaitu dengan kasih kepada Allah dan sesama), sehingga manusia pada akhirnya akan memperoleh persatuan dengan Allah. Jadi dari sini, tidaklah terlalu penting apakah Yesus berjenggot atau tidak, karena jenggot, warna kulit, dll. Itu semua hanyalah accidental, yang tidak menentukan kualitas dari Yesus. Yang menentukan kualitas/esensi dari Yesus, yaitu Tuhan yang menjadi manusia, yang menunjukkan kepada kita manusia untuk hidup sesuai dengan gambaran Allah, agar kita dapat sampai kepada Allah. Jadi dalam seni, yang paling penting adalah mempresentasikan dan mengekspresikan tentang sosok tersebut, misalkan Yesus terlihat sebagai Seseorang yang lemah lembut, penuh kasih, dll.
3. Dengan pengertian di atas, seperti apa detail gambar Yesus, yang mungkin berbeda antara satu gambar dengan yang lainnya, tidak menjadi masalah. Yang terpenting, umat menangkap hakekat Yesus yang digambarkannya. Gambar itu bukannya saingan Allah, karena akhir penghormatan kita bukan kepada gambar itu, tetapi pada Siapa yang digambarkannya. Dan bukannya menjadi sesuatu yang aneh jika gambaran wajah Yesus dalam imajinasi saya berbeda dengan gambaran wajah Yesus dalam imajinasi anda. Ini tidak berarti bahwa Yesus yang kita sembah adalah Yesus yang berbeda atau Yesusnya ada dua dan bersaing satu sama lain. Tidak demikian. Yesusnya tetap sama, hanya imajinasi kita dalam menggambarkannya itu yang bisa berbeda, dan itu tidak apa- apa.
e) Pernyataan “Mungkin hal ini berat untuk dimengerti bagi kalian di Indonesia yg tidak pernah tahu ttg sejarah agama Katolik. Semoga suatu hari mata kalian terbuka.” mungkin terlalu cepat untuk dituliskan, karena kita belum membuktikan kebenaran argumentasi masing-masing pihak. Kalau anda benar-benar mengerti sejarah perkembangan Gereja Katolik, maka saya yakin anda akan tetap berada di dalam Gereja Katolik. Cardinal John Henry Newman, yang berpindah dari Anglikan ke Katolik mengatakan “To be deep in history is to cease to be Protestant“
Akhirnya anda mengatakan “Bagi saya pribadi, beruntunglah saya bisa percaya tanpa harus melihat rupa nyata Tuhan. Beruntunglah saya bisa bercakap2 dengan Tuhan tanpa harus berlutut didepan patung2 siapa yg tidak dikenal.
Beruntunglah saya tidak lagi terperangkap dalam ritual2 agama Katolik yg berdasarkan hukum Kanon – dimana hukum Kanon adalah buatan manusia belaka… bukan datang dari Tuhan. Tetapi alkitab adalah datang dari Tuhan.”
a) Bagi Gereja Katolik, penyembahan yang tertinggi adalah Sakramen Ekaristi. Mau ada patung atau tidak, Sakramen Ekaristi tetaplah sah. Ini menunjukkan bahwa ibadah Gereja Katolik tidaklah tergantung dari patung-patung. Patung dan simbol-simbol yang lain hanyalah untuk membantu umat Allah untuk dapat berfokus pada Kristus. Lihatlah bagaimana detailnya Tuhan memberikan perintah kepada Raja Salomo untuk membuat bait Allah. (lih. 1 Raj 6).
Apakah Gereja anda mempunyai salib kayu? Apakah pada saat praise and worship anda menggunakan gambar-gambar Yesus di dalam slide? Apakah ada lilin di dalam Gereja anda? Kalau anda melihat gereja-gereja Lutheran (pengikut Martin Luther), maka anda akan kaget, karena ada begitu banyak christian art (gambar, patung) sama seperti di dalam Gereja Katolik. Apakah mereka juga salah? Apakah anda pernah ke gereja Lutheran, yang juga mempunyai ritual dan liturgi yang hampir mirip dengan Gereja Katolik? Apakah anda pernah melihat ritual dari gereja Anglikan? Mereka tidak masuk dalam Gereja Katolik, namun mempunyai ritual, liturgi tersendiri. Apakah mereka salah? dan apakah alasannya? Apakah dengan demikian Martin Luther telah salah karena tidak menghancurkan patung-patung di gereja Lutheran?
b) Setelah anda membaca tentang pengertian Kitab Hukum Kanonik, maka anda tidak akan mengatakan “Beruntunglah saya tidak lagi terperangkap dalam ritual2 agama Katolik yg berdasarkan hukum Kanon – dimana hukum Kanon adalah buatan manusia belaka… bukan datang dari Tuhan“. Silakan membaca pengertian tentang Hukum Kanonik di sini – silakan klik. Dan silakan anda membaca KHK (Kitab Hukum Kanonik) dan silakan menunjukkan bagian mana yang bertentangan dengan Alkitab. KHK memang merupakan disiplin dari Gereja, namun bersumber pada Alkitab, Tradisi Suci, dogma dan doktrin dari Gereja. Untuk mengatakan bahwa semua itu bukan datang dari Tuhan, maka anda harus membuktikan bahwa semuanya itu bertentangan dengan kebenaran Allah, karena tidak mungkin yang datang dari Tuhan saling bertentangan.
5) Dari tulisan anda, maka anda telah memberikan tuduhan yang begitu banyak kepada Gereja Katolik, walaupun anda sebelumnya adalah umat Katolik. Kalau anda memang serius untuk berdiskusi tentang dogma dan doktrin dari Gereja Katolik yang membuat anda berpindah ke gereja lain, maka dengan senang hati saya mau untuk berdialog dengan anda. Pilihlah satu dogma, dan kemudian kita dapat membahasnya secara mendalam. Terlalu banyak topik yang ingin disampaikan tidak memberikan diskusi yang mendalam. Semoga dari pemaparan di atas, minimal Sherly mempunyai pandangan yang lebih baik terhadap Gereja Katolik.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org
lisitas.org/2008/06/10/apa-itu-kekudusan/
Salam semuanya…
Nama saya Aldi. Umur saya 14 tahun.
Saya adalah seorang katolik sejak kecil. Saya sudah dibabtis dan menrima komuni.
Saat ini saya dalam kebimbangan antara memilih agama katolik dan agama protestan. Saya sudah meyampaikan keinginan saya kepada orang tua.
Menurut pandangan saya, ibadah agama kristen protestan lebih mempunyai makna daripada agama katolik. Meskipun saya belum pernah terlibat langsung dalam ibadah agama kristen protestan, tetapi saya pernah melihatnya di situs Youtube. Mereka tidak terlalu mempedulikan tata cara yang benar, yang jelas mereka dapat memuji dan memuliakan Tuhan. Hati saya selalu tergugah ketika melihat mereka melaksanakan ibadah.
Menurut pendapat Ibu Bapak semua, apa yang harus saya lakukan? Tetap di agama katolik atau di agama kristen protestan? Karena saya melihat agama bukan dari tata caranya tetapi dari bagaimana mereka memuliakan Tuhan. Saya sendiri merasa lebih cocok ketika berada di agama kristen protestan. Mohon bantuannya.
Salam, Aldi
Syukur pada Allah, Aldi tergerak untuk mencari penghayatan lebih dalam mencintai Kristus. Saya yakin, Aldi bingung antara Kristen Protestan dengan Katolik karena Aldi ingin mencintai Kristus lebih dalam lagi. Ijinkan saya share sedikit mengenai kisah hidup saya, yang mungkin kurang lebih pernah menghadapi apa yang Aldi hadapi.
Jujur, saya juga pernah bingung antara memilih Protestan atau Katolik. Ketika Yesus pertama kali memanggil saya untuk mengikutiNya, Dia belum memberikan petunjuk ke Gereja mana Ia mau saya ikut. Syukur atas rencana Allah, panggilan Yesus padaku juga berbarengan dengan ketika ibu saya merasa dipanggil Yesus juga untuk mengikutiNya. Padahal, kita sedang berada di benua yang berbeda. Setelah berdiskusi, kedua orang tua saya memilih ikut Protestan (Pentakostal lebih tepatnya) karena keluarga kita memang berteman dekat dengan sepasang suami istri pendeta. Saya masih mencari, sehingga saya tidak segera memutuskan.
Saya juga bingung. Dalam kasus saya, saya menikmati suasana hening dalam Misa walaupun tidak paham, namun tidak percaya pada Gereja Katolik. Bagi saya dulu, Gereja Katolik diselubungi misteri dan intrik. Taat pada Paus dan hierarki merupakan hal yang aneh bagi saya. Bagi saya dulu, Gereja Katolik seolah penuh dengan konspirasi. Sebaliknya, saya lebih terkesan melihat cara hidup orang Protestan terlihat lebih taat. Mereka terlihat lebih tulus dan mengimani Kitab Suci. Tapi, saya kurang suka dengan cara ibadah yang terlalu gaduh. Akhirnya, saya memutuskan untuk melakukan pencarian. Saya berkomitmen pada Yesus untuk mencari kebenaran dan ajaranNya, mencari Gereja mana yang Ia sendiri dirikan. Saat itu, aku berkomitmen : Seandainya Tuhan menunjukkan bahwa kebenaran berada di tempat yang aku tidak suka, aku tetap akan kesana. Entah itu Katolik atau Protestan, karena di mataku keduanya memiliki kekurangan.
Saya mencari di kedua pihak. Pagi saya misa di paroki, lalu siangnya saya mengantar orang tua ke gereja mereka sekaligus mengikuti ibadah disana. Bahkan, saya sempat diizinkan membantu melayani sebagai singer. Saya menggali sebisa saya berbagai buku mengenai ajaran dan kesaksian dari kedua gereja, baik Katolik maupun berbagai jenis denominasi Protestan. Namun, Tuhan menunjukkan bahwa memang Gereja Katolik memang adalah Gereja yang Ia dirikan sendiri dan tetap teguh menjaga ajaran Kristus supaya tidak berubah. Akhirnya, saya memilih Gereja Katolik.
Setelah memilih Gereja Katolik pun, saya masih harus berjuang untuk mempelajari dan menerima semua ajaran Gereja, karena saya tidak mau setengah-setengah. Yesus menunjukkan ini Gereja yang Ia dirikan, sehingga semua yang diajarkan di dalamnya adalah keinginanNya. Salah satu yang tersulit adalah menghayati Misa dan ketaatan pada Paus. Suasana Misa yang tenang memang menyenangkan, tapi Misa bukan hanya sekedar suasana tenang. Saya perlu menghayati Misa. Setelah membuka hati dan mencoba belajar apa makna Misa, Yesus menyingkapkan keindahan Misa dan kedalaman maknanya. Ternyata, Misa jauh lebih indah dan sarat makna dibanding ibadah-ibadah meriah yang dahulu saya ikuti di gereja orang tua saya. Misa juga lebih indah dibandingkan komunitas persekutuan doa karismatik Katolik yang juga saya ikuti. Mungkin saya dulu belum menghayati karena saya tidak mau tahu apa makna yang terkandung dalam Misa. Yang terlihat meriah belum tentu penuh iman, yang penuh iman belum tentu terlihat meriah.
Syukur pada Allah, Tuhan membimbing aku. Satu hal yang aku baru sadari sekarang adalah, Tuhan ternyata menuntun komitmenku saat itu agar lebih mendahulukan yang Tuhan inginkan daripada yang aku inginkan. Yang lebih utama bagi saya bukanlah apakah saya tergugah atau menikmati ibadah-ibadah tertentu, tapi dengan cara apa Yesus ingin saya menyembahNya. Toh, penghayatan juga bukan bergantung dari lagu yang meriah atau musik yang menggelegar, tapi hati yang terbuka untukNya. Terutama, Ia hadir dalam Ekaristi, sesuai dengan cara yang Ia kehendaki sendiri.
Pada akhirnya, kedalaman makna ajaran tidak hanya terlihat dari cara ibadah. Misa sendiri penuh makna dan penghayatan. Coba kita melihat cara hidup orang yang menghayati ajaran Katolik. Coba kita lihat kehidupan orang-orang kudus di abad-abad terakhir ini : St. Pio, Beato Yohannes Paulus II, dan Beata Teresa dari Kalkuta. Penghayatan iman dan cinta mereka begitu luar biasa dan dalam. Semua karya mereka juga mendapat kekuatan dari Misa kudus. Bahkan, Beata Teresa pernah mengatakan bahwa Ekaristi adalah sumber hidup beliau. Bila daerah yang beliau layani tidak ada Misa, beliau tidak akan mampu hidup. Yesus adalah sumber hidupnya.
Pilihan bebas memang berada di tangan Aldi. Tapi, saya sarankan, Aldi pastikan bahwa Aldi lebih mendahulukan apa yang Yesus mau dibanding apa yang Aldi mau. Hati yang tergugah atau menghayati bukan bergantung dari model ibadah atau musik, namun pada hati kita sendiri. Aldi dapat memulai dengan membaca beberapa buku, seperti Rome Sweet Home karya Dr. Scott Hahn. Ini buku kesaksian, jadi cerita ringan mengenai bagaimana pergumulan Dr. Scott Hahn, seorang ahli Kitab Suci Protestan, menemukan keindahan Misa dan iman Katolik sehingga memutuskan menjadi Katolik. Aldi juga bisa membaca buku para kudus di abad modern, yang hidup dekat dengan zaman kita. Selain itu, ada banyak artikel dalam Katolisitas yang membantu Aldi mengerti arti iman Katolik. Semoga Yesus membawa hati Aldi melekat pada Hati KudusNya yang mencurahkan Air dan Darah bagi kita. Semoga Bunda Maria membawa kita untuk semakin mengenal Yesus, Putranya yang ia rawat sedari lahir hingga disalib dan bangkit.
Pacem,
Ioannes
Salam Damai dalam Kristus.
Terimakasih atas pengalaman hidupnya Kak Ioannes Wirawan.
Akhir akhir ini sendiri saya selalu sibuk untuk mengatahui perbedaan agama Kristen Protestan dan Katolik sendiri. Setiap hari saya berdoa kepada Tuhan Yesus untuk meminta kepastian dimana Ia akan menempatkan saya dalam agama nantinya. Tidak lupa saya juga meminta Tuhan Yeus untuk mengirimkan Roh Kudusnya untuk menerangi hati dan akal budi saya agar saya tidak salah dalam mengambil keputusan.
Pada awalnya, saya merasa sangat yakin dengan keputusan saya untuk mengikuti agama Kristen Protestan (saya merasa itu adalah bimbingan Tuhan kepada saya). Saya selalu merasa ingin mengenal Tuhan Yesus lebih dekat lagi dengan mengikuti agama Kristen Protestan.
Sebelum saya mencari perbedaan kedua agama dengan lebih mendalam,saya hanya mengetahui letak perbedaan nya hanya pada jika Kristen tidak menggunakan tanda salib dan kurang menghormarti Bunda Maria.
Setelah saya mencari dan akhirnya mengetahui secara mendalam apa perbedaanya (sumbernya terutama berada pada website ini dan beberapa artikel lain), saya sempat merasa bimbang atas keputusan saya menjadi Agama Kristen Protestan. Saya tahu bahwa yang ada disini sudah mengetahui perbedaanya lebih daripada saya sehingga tidak perlu saya sebutkan satu satu.
Tetapi pada kenyataanya, yang saya tahu orang yang beragama Kristen Protestan tetap menghormati orang Katolik dengan sebaik-baiknya. Contohnya saja teman satu sekolah saya. Sekolah saya merupakah sebuah sekolah Katolik di Surabaya. Teman saya itu merupakan orang Kristen Protestan tetapi menghormati saya sebagai orang Katolik. Dia tidak pernah berkomentar apalagi menjelek jelekkan agama Katolik. Pada saat waktunya berdoa (pastinya secara Katolik karena sekolah saya berbasis Agama Katolik) dia tetap menggunakan Tanda Salib. Dia berkata untuk menhormati agama Katolik. Dia juga ikut berdoa Salam Maria pada waktu kita berdoa.
Dan itu semua membuat saya kagum dengan dia juga dengan Agama Kristen. Dengan begitu saya menyimpulkan bahwa tidak ada perbedaan dalam berdoa yang perlu saya khwatirkan. Dan karena itu juga saya memutuskan untuk menjadi orang Kristen Protestan.
Lalu selain itu yang membuat saya kagum yaitu dengan cara mereka memuji dan memuliakan Tuhan dengan penuh semangat dan penghayatan seperti Malaikat di Surga yang memuji Tuhan Yesus. Dan tidak dapat dipungkiri bahwa banyak dari mereka (dan dari teman Kristen Protestan yang saya tahu, mereka semua sudah dibabtis dengan Babtisan Roh Kudus)yang sudah menerima Babtisan Roh Kudus yang membuat mereka mendapatkan karunia berbahasa roh. Tetapi yang saya bingungkan, mengapa banyak orang Katolik yang tidak menerima Babtisan Roh Kudus sebagai tanda Tuhan Yesus hadir di tengah – tengah umat Katolik sedangkan mereka yang Kristen Non Katolik menerimanya? Kita semua sudah tahu bahwa Gereja Katolik didirikan oleh Kristus sendiri, tetapi saya malah merasa bahwa Roh Kudus tidak hadir di Gereja Katolik. Banyak diantara orang Katolik yang saya rasa tidak mengikuti ajaran Katolik dengan benar. Bukan berarti saya menjelek-jelekkan agama Katolik sendiri. Saya hanya ingin berbagi cerita apa yang saya tahu.
Apakah nantinya dengan keputusan saya mengikuti Agama Kristen akan membuat saya berdosa berat kepada Tuhan walaupun yang disembah adalah Tuhan yang sama? Mohon penjelasannya.
Tuhan memberkati kita semua.
Surabaya,
Aldi
Salam, Aldi
Terima kasih atas tanggapannya. Syukurlah jika Aldi terus melakukan pencarian ajaran dan mendalami doa. Semoga Yesus menuntun Aldi pada kepenuhan cinta padaNya.
Sebetulnya, ini yang sering terjadi pada orang Katolik. Banyak orang Katolik yang terdorong untuk mencintai Kristus lebih dan lebih lagi, di mana hal ini adalah hal yang baik. Namun, mereka mengekspresikan dorongan ini dengan berpindah dari Gereja Katolik ke gereja Kristiani lainnya. Mungkin ini disebabkan kurangnya penghayatan akan ajaran Gereja, luka batin akibat beberapa oknum sesama Katolik yang menjadi sandungan, atau terinspirasi dari cara hidup saudara Kristiani lainnya (seperti yang Aldi dan saya alami). Sambil menghargai niat baik mereka, cukup disayangkan bahwa mereka tidak mempertimbangkan beberapa hal :
1. Jika kita mencintai Kristus, kita akan berusaha semaksimal mungkin untuk menaati semua ajaran dan perintah-Nya. Ajaran dan perintah Kristus secara utuh dijaga oleh Gereja Katolik dari abad pertama Gereja didirikan Kristus hingga hari ini. Gereja Katolik mengakui bahwa ada sebagian kebenaran dan hal-hal baik di gereja Kristiani lainnya. Namun, ajaran Kristus yang lengkap berada dalam Gereja Katolik. Berpindah dari Gereja Katolik bisa jadi menyebabkan seseorang tidak melakukan semua perintah-Nya. Contohnya :
- Yesus meminta kita untuk menerima dan menghormati Bunda-Nya, Bunda Maria (Yoh 19:27), sedangkan sebagian besar Kristiani non-Katolik tidak menganggap Bunda Maria sebagai sosok Bunda.
- Atau ketika Yesus mengatakan bahwa Ia adalah Tubuh dan Darah-Nya membawa kehidupan kekal (Yoh 6:54), hanya Katolik dan Ortodoks Timur yang benar-benar mengimani bahwa Ekaristi adalah Tubuh dan Darah Kristus, bukan sekedar simbol, kenangan, atau tanda.
- Atau juga ketika Yesus memerintahkan St. Petrus dan para Rasul mengajarkan seluruh ajaran-Nya pada dunia (Mat 28:19) di mana tugas St. Petrus dan para Rasul diteruskan oleh Paus dan Para Uskup, apakah ada Kristiani lain yang tetap taat pada para penerus Rasul ini?
Masih banyak ajaran lainnya yang setelah kita pelajari, ternyata memang dijaga oleh Gereja Katolik sedari dahulu hingga detik ini. Mencintai Yesus lebih dari sekedar apakah kita merasakanNya sewaktu ibadah, atau merasa tergugah oleh imam/pendeta tertentu. Mencintai Yesus terlihat dari seberapa taat kita melakukan ajaran dan perintah-Nya, sekalipun orang lain atau bahkan diri kita sendiri tidak mau/ enggan melakukannya.
2. Orang terinspirasi oleh gaya hidup orang Kristiani yang terlihat semangat dan menghayati iman. Ini hal yang Aldi alami dan pernah saya alami. Dahulu, saya juga merasa bahwa orang Protestan terlihat lebih mengimani dan taat akan ajaran agama mereka. Tapi, itu sebelum saya bertemu dengan orang Katolik yang tidak kalah baiknya, terutama Para Kudus.
Secara logika, kita pasti menemukan orang yang berperilaku baik dan mengamalkan ajaran agamanya dengan baik, entah itu Katolik atau Protestan, bahkan di luar ajaran Kristiani juga demikian. Sebaliknya, kita juga dapat menemukan orang yang tidak mencerminkan ajaran iman mereka, apapun agamanya. Dengan demikian, perilaku seseorang tidak menjadi dasar bahwa suatu agama adalah yang paling benar, walaupun memang mereka dapat memberikan inspirasi.
Syukur apabila Aldi memiliki teman yang menghormati ajaran agama Katolik. Karena, pada kenyataannya kita dapat menemukan beberapa oknum Kristiani yang menyerang ajaran agama Katolik. Ada juga oknum Kristiani lain yang menganggap orang di luar jemaat gereja mereka pasti masuk neraka. Padahal, mereka sesama Kristiani, sesama pengikut Yesus.
Namun, ajaran Katolik tidak pernah menuding bahwa orang di luar Katolik pasti masuk neraka. Jadi, jika Aldi tergugah oleh toleransi beragama teman Aldi, ketahuilah bahwa Gereja Katolik juga mengajarkan demikian.
3. Manifestasi Karisma Roh Kudus seringkali membuat orang tercengang dan merasa bahwa itu adalah jaminan Allah hadir di suatu gereja tertentu. Gereja Katolik mengajarkan bahwa hanya ada satu Baptisan (lih. Ef 4:5). Melalui Sakramen Baptis, seseorang telah menerima Roh Kudus, sebab ia menerima, “permandian kelahiran kembali dan pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus” (Tit 3:5). Pembaptisan menandakan dan melaksanakan kelahiran dari air dan dari Roh, yang dibutuhkan setiap orang untuk “dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Yoh 3: 5). (Katekismus Gereja Katolik/KGK 1215).
Melalui Sakramen Krisma, Roh Kudus kembali dicurahkan untuk menyempurnakan rahmat Baptisan (KGK 1288) dan menyampaikan karunia-karunia Roh Kudus untuk menguatkan dan mendewasakan iman. Maka Iman Katolik juga mengakui bahwa ada karunia-karunia karisma-karisma Roh Kudus serupa dengan yang Aldi jumpai, seperti bahasa Roh, nubuat, penyembuhan, dan lain-lain (Lumen Gentium 12; KGK 798). Namun karunia-karunia karismatik Roh Kudus itu sifatnya adalah melengkapi untuk membangun Gereja. Maka yang lebih utama adalah ketujuh karunia Roh Kudus yang menguduskan pribadi yang menerimanya. Ketujuh karunia itu diberikan pada saat Pembaptisan, yaitu yang disebutkan dalam Yes 11:2-3: kebijaksanaan, pengertian, nasihat, keperkasaan, kesalehan, pengenalan, takut akan Tuhan, dan yang akan dikuatkan kembali pada Sakraman Penguatan. Selanjutnya, tentang ketujuh karunia Roh Kudus ini, silakan klik di sini.
Lalu, mengapa seolah karunia-karunia karismatik tersebut tidak tampak dalam Gereja Katolik? Mengapa orang Katolik tidak berbahasa Roh atau terlihat tidak menerima Baptisan Roh Kudus? Karena iman pada Kristus tidak bergantung dan tidak dipengaruhi oleh manifestasi karunia karismatik Roh Kudus. Beragam karunia tersebut memang berguna bagi Gereja, namun bukan yang utama. St. Paulus sendiri mengajarkan bahwa karunia yang terutama bukanlah karunia karismatis yang “dramatis” demikian, melainkan iman, harapan, dan kasih. Yang paling utama adalah kasih (1 Kor 13:1-13).
Oleh sebab itu, tidak perlu bingung bila Roh Kudus tidak memberikan karunia karismatik pada Aldi atau orang Katolik yang Aldi kenal. Walaupun sebenarnya karunia-karunia karismatik itu juga ada dalam Gereja Katolik, Roh Kudus membagikan karunia sesuai dengan kebijaksanaan-Nya. Maka mari kita syukuri adanya karunia-karunia itu, namun janganlah terlalu mengagung-agungkan karunia karismatik seperti itu, sebab jika demikian kita dapat terjatuh dalam dosa kesombongan, seperti aliran sesat Montanus di abad pertama Gereja berdiri (Montanus dapat berbahasa Roh sehingga merasa Allah berbicara melalui dia dan perkataannya paling benar dibandingkan orang lain).
Tetapi, katakanlah Aldi menganggap karunia karismatik seperti itu adalah bentuk pujian yang luar biasa kepada Allah. Aldi dapat menemukan orang-orang dalam Gereja Katolik yang memuliakan Allah dengan semangat dan penghayatan yang sangat luar biasa. Kenapa luar biasa? Karena orang-orang ini tidak hanya ingin merasakan kemuliaan hadirat Allah, namun bahkan meminta diri mereka turut mengambil bagian dalam penderitaan Kristus. Dua contoh berikut adalah St. Pio dan Bt. Teresa, orang kudus yang hidupnya cukup dekat dengan zaman modern kita.
- Kita lihat Beata Teresa dari Kalkuta. Bila Aldi pernah membaca surat-surat rahasia beliau yang dirangkum dalam buku “Come, Be My Light”, Aldi dapat melihat betapa Yesus membiarkan suaraNya terdengar oleh Ibu Teresa, betapa Yesus mencintai Ibu Teresa, dan itu semua dibalas beliau dengan memberikan hidupnya secara penuh. Beliau bertekad untuk tidak menolak permintaan Yesus, sekecil apapun permintaan itu. Kita juga melihat beliau rela menderita demi melakukan kehendak Kristus, sekalipun ia dipandang rendah atau diolok-olok oleh banyak orang di awal perjuangannya. Beliau mengikuti misa setiap hari, melakukan adorasi, mendaraskan rosario, dan melakukan renungan. Beliau juga masih menolong orang-orang miskin yang tertindas sehingga beliau rela hanya punya sedikit waktu tidur. Ini lebih dari sekedar terlihat bersemangat dan menghayati dalam doa atau ibadah. Hidup Bunda Teresa adalah doa beliau, dan doa menjadi sumber hidupnya.
- Kita melihat pula St. Pio. Betapa beliau membaktikan hidupnya untuk menderita bersama Kristus melalui stigmata yang beliau terima. Stigmata, atau bekas luka penyaliban Yesus, beliau terima secara mukjizat dan menghilang secara mukjizat pula ketika beliau meninggal dunia. Beliau menyembunyikan luka tersebut dengan balutan kain atau pakaian karena merasa sebagai manusia berdosa sehingga tidak layak. Oleh sebab itu, beliau memohon pada Yesus agar stigmata tersebut tidak terlihat. Namun, beliau memohon agar penderitaan dan sakit luka tersebut tetap ia rasakan agar ia merasakan penderitaan bersama Yesus. Beliau merasa bahagia ketika menderita, karena ia berasa seolah jantungnya berdetak bersama Jantung Yesus :
“O what precious moments these are. It is a happiness that the Lord gives me to relish almost always in moments of affliction. At these moments, more than ever, when the whole world troubles and weighs on me, I desire nothing other than to love and to suffer. Yes my father, even in the midst of so much suffering I am happy because it seems as if my heart is beating with Jesus’ heart.”
Dalam persatuannya dengan penderitaan Kristus ini, St. Pio melayani umat yang datang kepadanya, entah minta didoakan atau menerima sakramen-sakramen, dan melalui dia, banyak mukjizat dan rahmat Allah tercurah bagi mereka. Perlu diketahui bahwa karunia stigmata adalah karunia yang diberikan Yesus mayoritas kepada orang-orang kudus dalam Gereja Katolik, terutama mereka yang menyatukan hidup mereka dengan penderitaan Yesus. Kasih mereka yang besar kepada Kristus mendorong mereka untuk turut menderita bersama Kristus demi mendoakan bagi pertobatan dunia. Ini mirip dengan perumpamaan, jika mama atau papa kita sakit keras dan menderita, tidakkah kita pernah merasa ingin menanggung sedikit penderitaan mereka supaya penderitaan mereka sedikit berkurang? Orang-orang yang berani berbagi penderitaan Kristus adalah orang yang mencintai Yesus lebih dari apapun. Bagi saya pribadi, contoh terbaik untuk hal ini saya temukan dalam diri Santo-santa. Hidup mereka, yang dimampukan oleh Kristus dalam Ekaristi, adalah contoh yang lebih menggugah daripada sekedar ibadah yang terlihat meriah.
Pada akhirnya, mencintai Kristus lebih dari sekedar apakah kita merasa terharu di gereja ini atau di gereja itu. Mencintai Kristus lebih dari sekedar melihat perilaku umat Kristiani ini atau umat Kristiani itu. Mencintai Kristus berarti berani melakukan semua yang Ia perintahkan tanpa kecuali, termasuk menerima Tubuh dan Darah-Nya (Mrk 14:22), menghormati Bunda-Nya, dan taat kepada gembala yang ditunjukNya untuk menggembalakan Gereja-Nya (Yoh 21:16-17).
Kehadiran Roh Kudus tidak ditentukan oleh karunia karismatik yang tampak oleh mata. Gereja-Nya yang tetap berdiri selama ribuan tahun tanpa terpecah adalah bukti bahwa Roh Kudus, Sang Roh Pemersatu, tetap bekerja dalam Gereja. Berbahagialah kita yang percaya sekalipun tidak melihatNya (Yoh 20:29). Fakta bahwa ada orang-orang Katolik yang tidak melaksanakan ajaran iman Katolik bukan bukti bahwa ajaran Katolik salah atau kurang hidup. Sebab kenyataannya, banyak orang Katolik yang melaksanakan iman mereka dengan luar biasa, namun dengan rendah hati sehingga tidak terlihat oleh mata kita. Silahkan ikuti misa harian jam 6 pagi dan saksikanlah sendiri orang-orang yang dengan sepenuh hati setia menemui Yesus sekalipun masih pagi buta. Semoga mereka yang mengikuti Misa pagi tersebut dapat bekerjasama dengan rahmat Allah yang mereka terima dalam Ekaristi, sehingga dapat menjadi saksi-saksi yang hidup bagi kemuliaan Tuhan.
Apapun pilihan kita, kita bebas memilih dan Kristus menghormati kehendak bebas kita. Tapi, bila kita mencintai Kristus, kita tahu bahwa Ia ingin agar Gereja-Nya menjadi satu, seperti Yesus dan Bapa adalah satu (Yoh 17:11). Sedari awal, hanya satu Gereja yang Ia dirikan sendiri, yaitu Gereja yang ia dirikan di atas Petrus (Mat 16:18). Mari, Aldi, kita terus berdoa supaya Aldi dapat melihat dengan jelas apa yang Kristus inginkan dan ajarkan, sehingga apa yang Aldi putuskan bukan hanya sekedar perasaan atau keinginan Aldi. Semoga Yesus mengikat kita dengan cinta kasih-Nya yang mempersatukan dengan Gereja yang Ia dirikan sendiri.
Pacem,
Ioannes
Shalowm Aldi,
sy Katolik dr kecil jg, usia sy 38 th, sdh banyak Ekaristi sy lalui, namun hanya Ekaristi saat komuni pertama yg paling berkesan, sy msh ingat pakaian yg sy pakai, siapa saja teman2 yg masuk berbaris bersama-sama ke dalam gereja, sy ingat lagu-lagunya dsb. Sungguh hari yg paling indah & membahagiakan.
Ibadah dapat dilakukan dimana saja Aldi suka, toh Alkitab mengatakan “di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (lih. Mat 18:15-20)
Jadi menurut saya “sah-sah” saja jika Aldi mengikuti kebaktian di gereja lain, drpd hanya melihat dr Youtube (yg tentunya diunggah sesuai keperluan).
Aldi adalah seorang Katolik, utk pindah menjadi Protestan sebaiknya berkonsultasi kepada Romo, krn ada aturan2nya. Jangan sampai menjadi murtad.
Memuliakan Tuhan bukan hanya dapat dilakukan melalui kegiatan di gereja. Tdk harus beragama tertentu br dapat memuliakan Tuhan. Aldi dapat memuliakan Tuhan selama kamu hidup, dalam setiap nafasmu dapat memuliakan Allah.
Berdoalah, sy doakan juga!
[dari katolisitas: Kita memilih ibadah bukan sesuai dengan keinginan kita namun sesuai dengan perintah Kristus. Ibadah apa yang dimau oleh Kristus? Perjamuan Suci atau Ekaristi. Kita ke Gereja bukan hanya ke semua gereja, namun ke Gereja yang didirikan oleh Kristus. Silakan membaca link ini - silakan klik]
Untuk Tim Katolisitas.
Terimakasih atas peneguhannya. Tuhan memberkati Bapak dan Ibu semua.
Saya memutuskan ingin tetap mempertahankan iman Katolik saya dan tidak akan melepaskan begitu saja iman Katolik saya karena kesenangan saya sendiri (meskipun saya tidak pernah memikirkan itu).
Tapi, apakah tidak diperbolehkan untuk mengikuti kebaktian di agama Kristen Protestan?
Misalnya pada hari Sabtu saya pergi ke kebaktian dan pada hari Minggu saya tetap mengikuti misa.
Dengan begitu, saya mendapat peneguhan dari agama Katolik maupun dari agama Kristen Protestan.
Sejujurnya, di dalam hati saya yang paling dalam saya setuju dengan apa yang telah diungkapkan oleh Bapak Oktavianus bahwa kita dapat berdoa dimana saja karena Tuhan berada dimana saja.
Shalom Aldi,
Jika saya boleh menyarankan, adalah lebih baik bagi pertumbuhan imanmu, kalau Aldi memusatkan perhatian untuk semakin memperdalam pemahaman akan ajaran iman Katolik dan berakar dalam iman Katolik. Maksudnya adalah agar Aldi tidak lekas bingung atau terpengaruh dengan begitu banyaknya pandangan yang tidak sepenuhnya sesuai dengan ajaran iman kita.
Mengikuti kebaktian yang diadakan oleh gereja non-Katolik, nampaknya tidak masalah, namun dapat menjadi masalah, jika Aldi belum dengan sungguh memahami ajaran iman Katolik. Sebab maksud Aldi untuk mendapat peneguhan dari Gereja Katolik dan non-Katolik, belum tentu tercapai, jika Aldi datang mengikuti kebaktian di gereja-gereja yang tidak mengajarkan ajaran iman Katolik. Saya sendiri pernah mengalaminya, dan salah satu contoh pengalaman saya, pernah saya tuliskan di sini, silakan klik.
Maka saya mengajak Aldi untuk merenungkan, apakah alasannya sehingga Aldi ingin mengikuti ibadah di luar Gereja Katolik? Apakah karena komunitasnya, lagu-lagunya, atau suasananya? Apakah Aldi sudah pernah mengikuti persekutuan doa di Gereja Katolik sendiri? Silakan Aldi mengikutinya terlebih dahulu, sebab siapa tahu Aldi dapat menemukan apa yang telah lama Aldi cari di sana.
Memang Tuhan ada di mana saja, dan karena itu kita dapat berdoa di mana saja. Tetapi Tuhan Yesus telah menyatakan cara yang dikehendaki-Nya, agar kita mengenangkan Dia, yaitu dengan merayakan Ekaristi. Maka oleh ketaatan kita kepada-Nya, mari kita lakukan ini dengan sepenuh hati, dalam kesatuan dengan Gereja-Nya, yaitu Gereja Katolik. Jika orang belum sampai mengenal Gereja-Nya, maka dipahami kalau ia tidak mengalami kerinduan terhadap Ekaristi. Tetapi bagi kita yang sudah dibaptis Katolik, sudah seharusnya kita merindukan persatuan dengan Kristus dalam Ekaristi, sebagaimana dikehendaki oleh-Nya. Kalau kita belum dapat mengalaminya dan merindukannya, mari memohon kepada Tuhan Yesus agar kita dapat mengalaminya. Sebab jika kita sudah mengalaminya, maka ini akan mengarahkan kita dalam pertumbuhan iman kita, dan kita akan dapat memutuskan dengan bijaksana, tentang pertemuan ibadah manakah yang akan kita ikuti, demi membangun iman yang Tuhan telah tanamkan di hati kita, dalam kesatuan dengan Gereja-Nya.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org.
Shalom Aldy
Puji Tuhan Aldi mau menanyakan hal ini, sedikit saran dari saya, ke gereja itu tujuannya utk mencari Tuhan (walaupun Tuhan bisa hadir dimana saja jika Dia berkenan), jadi bukan utk mencari kesenangan sendiri. Nanti setelah Aldi bisa mengerti apa itu Ekaristi dan bisa menghayatinya, percayalah! bahwa komuni itu akan sangat Aldi rindukan utk bisa diterima setiap hari dan tidak akan ada tempat lain lagi yg bisa menggantikan hal itu. Jika aldi memang menyukai hal2 yg sifatnya hingar atau lainnya, aldi bisa ikut dikegiatan mudika katolik dan bisa menyalurkan hobi tersebut, banyak ladang yg telah Tuhan siapkan. Janganlah krn kesenangan pribadi, Aldy meninggalkan misa Ekaristi yg sangat penting. Percayalah, rahmat Tuhan sdh turun dlm diri Aldi dan sekarang berdoalah minta Roh Kudus menuntun diri Aldi agar rahmat itu bisa bekerja dgn baik di hati Aldi. Saya disini akan bantu dgn doa.
Salam dalam Kasih Kristus,
Yindri
Penerbitan Buku ” Mengapa Berpindah dari Gereja Katolik ke Gereja Lain?”
Pak Stef paling tahu dan bisa menjawab apakah benar bahwa frekuensi diskusi topik ini secara statistik paling tinggi di antara diskusi topik lainnya sejak didirikannya Website Katolisitas ini?
Bagi pembaca pada umumnya, apalagi yang sudah berumur, membaca tulisan sangat panjang di layar komputer, sangat melelahkan.
Apakah dimungkinan diskusi topik ini dijadikan buku?
Tolong hitung anggarannya dan para pembaca / pencinta Website ini kiranya ikhlas membantu pembiayaannya, apalagi dalam masa Pra Paskah ini.
[dari katolisitas: Memang topik ini diakses cukup banyak dan banyak juga yang memberikan komentar. Kami dalam proses editing untuk menjadikan topik ini sebagai buku cetak. Mohon kesabarannya.]
Shalom, selamat pagi..
Saya mau menanyakan soal ibadah khusus kaum muda Katolik yang diadakan tiap minggu, apakah ada? Karena saya prihatin sekali melihat teman2 saya yang begitu gampangnya mendapatkan pasangan yang non Katolik, maupun non Kristen, namun begitu susahnya mendapat kawanan yang seiman, sehingga ikatan persaudaraan dalam Kristus tidak se’kuat’ saudara2 kita yang Protestant.
Terimakasih
Salam Prissa,
Terimakasih kepedulian Anda. Sebenarnya hal ini menjadi problem semua agama di mana penganutnya minoritas dalam suatu wilayah. Bahkan penganut Protestan masih terbagi lagi dalam banyak aliran di mana tiap aliran punya gerejanya dan ibadahnya sendiri-sendiri berdasar suku, minat, ataupun aliran teologi tertentu.
Misa untuk OMK selalu ada namun jadwal di tiap paroki berbeda-beda. Namun untuk lebih intensif bertemu, ada pula acara khusus untuk OMK. Karena itu kontaklah dan doronglah pastor paroki serta teman-teman yang peduli untuk membuat acara bersama OMK.
Salam
RD. Yohanes Dwi Harsanto