Mrk 16:17-18

Pertanyaan:

Salam damai sejahtera

Dear pengasuh katolisitas

Di dalam Injil Markus ada tertulis demikian :

Markus 16 : 17 – 18 = Maka segala tanda ini akan menyertai orang yang percaya itu : bahwa atas namaKu mereka itu akan MEMBUANGKAN SETAN dan mereka itu akan BER-KATA2 DENGAN BAHASA ROH – mereka itu akan MENGANGKAT ULAR, maka jikalau mereka itu MINUM BARANG YANG MEMBAWA MATI, TIADALAH HAL ITU AKAN MEMBERI BAHAYA kepada mereka itu; Maka mereka itu akan MELETAKKAN TANGANNYA KE ATAS ORANG SAKIT, lalu orang itupun akan SEMBUH.

Tetapi pada kenyataannya tidak pada setiap orang beriman ada 5 (LIMA) tanda ini, mengapa ?
Orang percaya yang manakah yang dimaksud dalam ayat ini ?
Bagaimanakah tanda2 orang beriman yang diharapkan oleh Tuhan, yang normal menurut ukuran Tuhan ?

Salam
Mac : 18.February.2010

Jawaban:

Shalom Machmud,

1. Pada masa Gereja awal, mukjizat-mukjizat seperti ini umum terjadi. Banyak terjadi catatan-catatan kejadian seperti ini yang direkam dalam sejarah, seperti yang tertulis dalam Kitab Perjanjian Baru (lih. Kis 3:1-11, 28:3-6) dan dalam tulisan-tulisan jemaat Kristen pertama, seperti yang dituliskan oleh St. Irenaeus (abad ke-2, lih. Eusebius, HE 5, 7, 4-6).

Hal- hal dalam Mrk 16:17-18, juga disebutkan dalam kitab Perjanjian Baru, seperti bagaimana para rasul mengusir kuasa jahat (Kis 5:16; 8:7), berkata-kata dalam bahasa Roh (lih. Kis 2:3-, 10:46; 19:6; 1 Kor 14), mengangkat ular (lih. Kis 28: 3-; Luk 10:19), meletakkan tangannya ke atas orang-orang sakit dan menyembuhkan (lih. Kis 28:8). Maka memang perkataan Yesus ini digenapi secara luar biasa pada para jemaat pertama.

Mukjizat memang merupakan sesuatu yang penting dan pantas terjadi di abad- abad awal, untuk menjadi tanda bukti kebenaran agama Kristiani. Mukjizat-mukjizat seperti ini masih terjadi sekarang, walau dari segi frekuensinya tidak lagi sesering pada jemaat pertama. Hal ini pantas (fitting) juga, karena ajaran Kristiani telah dikenal oleh banyak orang dan diterima sebagai kebenaran, dan untuk memberi ruang bagi iman, di mana oleh iman seseorang dapat menerima mukjizat tersebut dari Tuhan. St. Jerome pernah mengajarkan demikian, “Mukjizat-mukjizat itu diperlukan pada saat awal untuk meneguhkan iman orang-orang. Namun pada saat iman seseorang sudah diteguhkan, maka mukjizat-mukjizat tidak diperlukan” (lih. Commentary on Mark, in loc). Pernyataan ini sungguh benar, karena semakin kita dekat dan bersatu dengan Tuhan, kita mempunyai keterbukaan untuk menerima apapun rencana Tuhan dalam hidup kita. Menerima mukjizat kesembuhan jasmani atau tidak, tidak menjadi sesuatu yang utama; atau hal melihat mukjizat terjadi (melihat orang yang mengangkat ular atau minum racun tapi tidak celaka) tidaklah menjadi berpengaruh terhadap iman mereka. Pendeknya, orang yang sungguh beriman tidak lagi mementingkan mukjizat -mukjizat lahiriah, tetapi lebih memusatkan perhatian terhadap hal- hal rohani, sebab ia mengetahui bahwa pada akhirnya segala yang rohani dan surgawi merupakan sesuatu yang lebih penting dan ‘mengatasi’ yang bersifat jasmani. Sebab orang- orang yang menerima mukjizat jasmani suatu saat tidak akan menerimanya lagi, dan akan ada saatnya semua orang akan wafat dan menghadap Allah. Maka yang terpenting pada akhirnya adalah bagaimana mempersiapkan hati jika saat itu tiba: sebab pada akhirnya para beriman akan kembali ke rumah Bapa dengan hanya membawa ketiga hal ini: iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya adalah kasih (1 Kor 13:13). Nubuat akan berakhir, bahasa Roh akan berhenti, pengetahuan akan lenyap, tetapi kasih akan tetap, tidak berkesudahan (lih. 1 Kor 13:8).

Namun demikian, bukan berarti bahwa Gereja sekarang tidak disertai Allah dengan mukjizat-mukjizat. Allah tetap bekerja melalui para orang kudusnya di sepanjang sejarah manusia. Di dalam sejarah Gereja Katolik, tak terhitung mukjizat-mukjizat yang terjadi melalui perantaraan orang-orang kudusnya. Beberapa mukjizat yang tercatat dalam sejarah adalah mukjizat kesembuhan, mukjizat mengatasi kodrat (ketika berdoa dapat terangkat dari bumi, ketika wafat  jenazahnya masih utuh, seperti contohnya dapat dilihat di sini, silakan klik), ‘bilocation’ (dapat hadir di dua tempat pada saat yang bersamaan), mukjizat menerima stigmata luka- luka Yesus, mukjizat membangkitkan orang mati dst. Mukjizat ini juga terus terjadi sampai saat ini di tempat-tempat ziarah tempat penampakan Bunda Maria, seperti yang terjadi di Lourdes, Perancis.

Kesembuhan ini juga tak terjadi secara supernatural, tetapi juga melalui pengobatan dan perawatan. Melalui karya kerasulan Gereja Katolik, banyak orang mengalami kesembuhan melalui rumah-rumah sakit Katolik (tahun 1992 sekitar 5, 478 rumah sakit  Katolik dengan merawat 4.5 milyar pasien di seluruh dunia), juga panti asuhan dan panti jompo.

Hal ini membuktikan nubuat Yesus sendiri, “Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu…” (Yoh 14:12).

2. Maka bagi umat Katolik, yang terpenting adalah mengimani Tuhan Yesus dan menjalani kehidupan ini bersama-Nya dan di dalam Dia. Selanjutnya masalah perwujudan mukjizat dalam kehidupan manusia tidaklah menjadi faktor utama di dalam iman. Sebab kita tidak perlu melihat mukjizat dahulu baru kemudian percaya. Sebaliknya, kita sudah percaya, dan kita serahkan kepada Tuhan perihal mukjizat tersebut, jika dipandangnya berguna bagi iman kita, Ia dapat memberikannya. Namun jika tidak, tidaklah menjadi masalah, sebab Tuhanlah yang dengan kebijaksanaan-Nya memahami yang terbaik bagi setiap umat-Nya.

Sebab, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibr 11:1) Oleh sebab itu memang kita dikatakan sungguh beriman jika kita tetap dapat mengimani Tuhan walaupun tidak melihat Dia dan mukjizat-mukjizat-Nya. Bagi umat Katolik, mukjizat yang begitu besar namun juga begitu sederhana terjadi di dalam setiap perayaan Ekaristi, di mana Tuhan Yesus hadir mengambil rupa roti dan anggur. Di dalam Ekaristi inilah rahmat Tuhan mengalir di dalam Tubuh Gereja-Nya, untuk menumbuhkan ketiga kebajikan ilahi di hati umat-Nya, yang diperhitungkan di akhir nanti, yaitu: iman, pengharapan dan kasih. Jika ketiga hal ini sudah diberikan di dalam hati umat beriman, adalah kebijaksanaan Yesus yang menentukan apakah Ia akan memberikan mukjizat yang lain, jika dipandang-Nya berguna bagi pertumbuhan rohani umat-Nya. Itulah sebabnya, sampai sekarang mukjizat kesembuhan melalui Ekaristi juga masih terjadi, baik atas perantaraan para pendoa seperti Sr. Briedge McKenna, Romo Yohanes Indrakusuma O Carm, ataupun melalui doa- doa pribadi tiap- tiap orang beriman; namun yang terpenting, adalah bagaimana kehidupan rohani umat beriman setelah menerima mukjizat tersebut.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Beberapa artikel yang berhubungan:

Beberapa artikel di kategori yang sama:

2 Komentar to Mrk 16:17-18

  1. Salam damai sejahtera

    Dear pengasuh katolisitas

    Di dalam Injil Markus ada tertulis demikian :

    Markus 16 : 17 – 18 = Maka segala tanda ini akan menyertai orang yang percaya itu : bahwa atas namaKu mereka itu akan MEMBUANGKAN SETAN dan mereka itu akan BER-KATA2 DENGAN BAHASA ROH – mereka itu akan MENGANGKAT ULAR, maka jikalau mereka itu MINUM BARANG YANG MEMBAWA MATI, TIADALAH HAL ITU AKAN MEMBERI BAHAYA kepada mereka itu; Maka mereka itu akan MELETAKKAN TANGANNYA KE ATAS ORANG SAKIT, lalu orang itupun akan SEMBUH.

    Tetapi pada kenyataannya tidak pada setiap orang beriman ada 5 (LIMA) tanda ini, mengapa ?
    Orang percaya yang manakah yang dimaksud dalam ayat ini ?
    Bagaimanakah tanda2 orang beriman yang diharapkan oleh Tuhan, yang normal menurut ukuran Tuhan ?

    Salam
    Mac : 18.February.2010

    [Dari Katolisitas: Pertanyaan ini sudah dijawab di atas, silakan klik]

    • Salam damai sejahtera

      Dear Ingrid

      Ada sedikit hal yang saya rasa kurang pas dengan yang anda sampaikan sbb :

      “Mukjizat-mukjizat itu diperlukan pada saat awal untuk meneguhkan iman orang-orang.
      Namun pada saat iman seseorang sudah diteguhkan, maka mukjizat-mukjizat tidak diperlukan” (lih. Commentary on Mark, in loc)

      Berikut saya ingin sharingkan pada pembaca katolisitas tentang : MUJIZAT

      MUJIZAT DALAM HIDUP ORANG BERIMAN
      Apakah orang beriman itu selalu hidup dalam mujizat atau sudahkah masa mujizat itu berlalu ?
      Kedua hal ini adalah extrim.

      EXTRIM KOSONG
      Orang2 golongan ini berpendapat bahwa kita tidak boleh mengharapkan mujizat sebab :
      • Yusak menghentikan matahari dan bulan, tetapi itu hanya satu kali di dalam seluruh Alkitab.
      • Tuhan Yesus berjalan di atas air di danau Galilea hanya satu kali. Setiap kali Ia menyeberang danau Galilea Ia selalu naik perahu, Tidak berjalan diatas air
      • Tuhan Yesus membuat mujizat roti ber-tambah2 hanya dua kali. Pada waktu Tuhan Yesus dan murid2Nya lapar dan tak ada makanan, Tuhan Yesus tidak lagi memecahkan roti. Dst

      Sebab itu orang2 kristen semacam ini sama sekali tidak mengharapkan mujizat.
      Kalau toh ada, itu suatu perkecualian dan tidak bisa diharapkan.

      EXTRIM HIDUP SELALU BER MUJIZAT
      Dalam setiap gerak dan tindakannya selalu mengharapkan mujizat Tuhan terjadi.
      Ada banyak ayat2 yang menjanjikan hal ini misalnya :
      • Mar 9 : 23 , kalau punya iman, segala perkara bisa terjadi
      • Rom 8 : 31 , Allah yang di dalam kita adalah Allah yang maha kuasa.
      Sehingga seringkali orang2 seperti ini selalu mengharapkan mujizat Tuhan, misalnya : Di waktu mereka harus rajin bekerja dengan tekun dan membanting tulang, mereka tidak tekun tetapi bekerja dengan malas dan mengharap mujizat Tuhan terjadi sebagai ganti kerja keras.
      Kalau mereka tidak mendapatkannya, maka mereka menjadi kecewa !

      ORANG KRISTEN YANG WAJAR MENURUT ALKITAB
      Jelas kedua extrim diatas menerapkan Firman Tuhan secara sepihak.
      Alasan2 yang ada diatas itu betul, tetapi baru sebagian.
      Kita melihat kehidupan Putra manusia Yesus, murid2 dan orang Kristen dalam Gereja yang tulus di dalam Alkitab selalu limpah dengan mujizat.
      Tidak habis2nya Putra Manusia Yesus membuat mujizat dalam segala segi hidupnya, juga rasul-rasul. Ini adalah contoh dari hidup Kristen yang wajar menurut Alkitab.
      Bahkan :
      1. Hidup suci setiap hari adalah mujizat ! Juga termasuk orang yang lahir baru itu juga suatu mujizat.
      2. Hidup sehat dan setiap kali menerima kesembuhan dari penyakit kita oleh bilur Tuhan Yesus (1Pet 2 : 24) adalah suatu mujizat.

      Ini seharusnya kita alami setiap hari sebab Tuhan Yesus menghendaki kita selalu sehat jasmani dan rohani (3Yoh 2 = Saudaraku yang kekasih, aku berdoa, semoga engkau baik-baik dan sehat-sehat saja dalam segala sesuatu, sama seperti jiwamu baik-baik saja.)

      Di dalam segi kehidupan yang lain, tidak salah mengharapkan mujizat, kalau :
      1. Ada janji dalam ayat2 Alkitab
      2. Ada keyakinan dari Rohkudus bahwa itu maksud Tuhan bagi pribadi kita. Kalau tidak, jangan mengharapkan, jangan bertindak dengan iman, sampai Rohkudus meyakinkan bahwa itu untuk pribadi kita.

      Sebab itu jangan mengharapkan mujizat berlebihan untuk menggantikan kewajiban atau tugas kita.
      Tetapi orang yang percaya bahwa Firman Tuhan tentang mujizat itu sudah lalu, sudah berubah, akan mempunyai hidup yang kosong dari mujizat Tuhan.

      Hidup orang beriman yang wajar itu limpah dengan mujizat, baik yang nyata se-olah2 kebetulan, maupun yang jelas2 nyata di luar kemampuan manusiawi (supra natural)

      Demikianlah seharusnya orang2 beriman itu hidup.
      Kalau ia selalu dipimpin Roh berjalan di jalan rencana Allah, pasti ada cukup banyak mujizat yang dialami baik dalam hidup kesucian, kesehatan dan dalam setiap segi kehidupannya mujizat Tuhan masih berlaku !

      Apakah saudara dan saya masih merasakan mujizat terjadi di dalam diri kita masing-masing ?
      Ataukah mujizat itu sudah berlalu di dalam kehidupan kita ?
      Hanya kita yang bisa menjawabnya .

      Salam
      Mac : 2.Maret.2010

      • Shalom Machmud,

        Yang anda kutip itu adalah pengajaran St. Jerome, yang mengatakan, “Mukjizat-mukjizat itu diperlukan pada saat awal untuk meneguhkan iman orang-orang. Namun pada saat iman seseorang sudah diteguhkan, maka mukjizat-mukjizat tidak diperlukan” (lih. St. Jerome, Commentary on Mark, in loc).

        Tentu maksud St. Jerome mengatakan demikian untuk membandingkannya dengan keadaan di jaman jemaat awal, di mana oleh kuasa Tuhan Yesus, para rasul menyembuhkan semua orang yang sakit yang dibawa ke hadapan mereka (lih. Kis 5:12-16), dalam hal ini tidak disebutkan apakah orang banyak itu beriman kepada Yesus atau tidak sebelum menerima kesembuhan. Yang jelas dikatakan adalah dengan para rasul melakukan tanda/ mukjizat itu maka semakin bertambahlah jumlah orang yang percaya kepada Tuhan (ay. 14). Maka pada saat itu tanda- tanda kesembuhan itu diberikan kepada semua yang sakit, agar orang banyak percaya akan pemberitaan para rasul. Sedangkan pada tahun- tahun berikutnya (pada jaman St. Jerome sampai sekarang), saat sudah banyak orang percaya, maka kita ketahui, tidak semua orang yang memohon mukjizat dari Tuhan, menerimanya. Walau memang dapat dikatakan bahwa ada faktor iman berperan di sini, namun di atas segalanya, kebijaksanaan Tuhanlah yang berperan. Sebab Tuhan melihat ke kedalaman hati setiap orang, apakah mukjizat itu akan semakin menumbuhkan iman orang itu, atau malah sebaliknya; dan Ia sebagai Bapa yang penuh kasih akan memberikan yang terbaik bagi kita umat-Nya yang mengasihi Dia.

        Maka jika St. Jerome mengatakan bahwa “mukjizat-mukjizat tidak diperlukan” hanya dalam konteks jika iman seseorang sudah diteguhkan. Sebaliknya, jika Tuhan memandang mukjizat itu berguna untuk meneguhkan iman seseorang, maka, Ia tetap dapat memberikan mukjizat-mukjizat-Nya, seperti yang masih terjadi di kalangan para umat beriman sampai saat ini. Anda pernah mengalaminya, saya juga pernah mengalaminya. Mukjizat itu akan semakin meneguhkan iman kita. Namun kita harus menyadari pula bahwa bukan kita yang dapat ‘memaksa’ Allah untuk melakukan mukjizat. Kita dapat berdoa memohon mukjizat Allah, kita boleh mengharapkan mukjizat, namun pada akhirnya kita harus dengan rendah hati mengakui bahwa mukjizat itu diberikan atas kehendak Allah. Akan ada saatnya Tuhan atas kebijaksanaan-Nya memutuskan untuk tidak memberikan mukjizat (lagi) kepada kita, misalnya mukjizat kesembuhan dari penyakit, sebab pada akhirnya masing-masing dari kita akan dipanggil Tuhan. Jika iman kita sudah teguh, hal ini tidak akan menjadikan kita kehilangan iman dan kasih kepada Allah. Sebab kita yakin dan percaya akan janji Kristus ini, “Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.” (Yoh 14:3)

        Maka komentar saya berikutnya adalah, “Pernyataan [St. Jerome] ini sungguh benar, karena semakin kita dekat dan bersatu dengan Tuhan, kita mempunyai keterbukaan untuk menerima apapun rencana Tuhan dalam hidup kita. Menerima mukjizat kesembuhan jasmani atau tidak, tidak menjadi sesuatu yang utama; atau hal melihat mukjizat terjadi (melihat orang yang mengangkat ular atau minum racun tapi tidak celaka) tidaklah menjadi berpengaruh terhadap iman mereka.”

        Jadi saya sepakat dengan pendapat anda, memang kita tidak boleh terlalu ekstrim mengatakan bahwa mukjizat itu tidak ada, ataupun sebaliknya terlalu mengagung-agungkan mukjizat, sehingga iman kita tergantung hanya dari mukjizat. Orang yang sungguh beriman harus mampu melihat mukjizat-mukjizat Tuhan dalam hal- hal sederhana yang terjadi di sekeliling kita dan bukannya hanya mengharapkan mukjizat-mukjizat yang spektakular. Kita harus melihat sebagai mukjizat Tuhan, misalnya, seseorang yang bertobat, dari yang tadinya ketagihan rokok ataupun kecanduan obat- obat terlarang, dapat meninggalkan kebiasaan itu dan bahkan dapat “membenci” kebiasaan lama tersebut, oleh kuasa Roh Kudus. Ataupun seperti kata anda, hidup kudus setiap hari, di tengah masyarakat yang mencemooh makna kekudusan, juga adalah sesuatu yang ajaib dan patut disyukuri.

        Ya, mukjizat itu masih tetap terjadi sampai sekarang, dan bagi yang mengalaminya, mengucap syukurlah kepada Tuhan. Namun janganlah sampai iman kita tergantung dari mukjizat dan tanda; dan janganlah kita menghakimi orang lain yang tidak mengalami mukjizat (misal mukjizat kesembuhan) sebagai orang yang ‘tidak beriman’. Sebab kita tidak pernah mengetahui secara persis rencana Tuhan bagi setiap orang.

        Demikian, yang dapat saya tuliskan mengenai komentar anda. Semoga berguna.

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CONNECT WITH US: