Dalam keadaan apakah kita boleh tidak menuruti perintah orang tua?

48

Pertanyaan:

Dari 10 perintah Allah. Perintah ke 4 adalah Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu. (Keluaran 20:12)
Jadi… kita harus taat kepada orang tua kita. Adakah saat dimana kita harus tidak taat? Mis : orang tua yang menyuruh seorang anak perempuan untuk mengaborsi janin yang dikandungnya (karena hamil diluar nikah)
Dengan apakah kita sebagai anak harus memfilter kapankah harus mentaat orang tua? dan kapankah kita harus/boleh “melawan” orang tua?

Salam – Alexander Pontoh

Jawaban:

Shalom Alexander Pontoh,

Terima kasih atas pertanyaanya tentang 10 perintah Allah yang keempat, yaitu: “Hormatilah ayahmu dan ibumu” (Kel 20:12). Pertanyaannya adalah sampai seberapa jauh kita harus taat kepada orang tua kita? Apakah kalau orang tua menganjurkan aborsi, seorang anak harus menurut? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus melihat prinsip di balik perintah ke-empat ini. Secara prinsip, orang tua berpartisipasi dalam memberikan kehidupan bagi anak-anak dan mempunyai kewajiban untuk mendidik anak-anak agar mereka dapat bersatu dengan Tuhan di dalam Kerajaan Sorga. Dengan demikian, orang tua harus memberikan pendidikan iman yang benar, sehingga anak-anak dapat mengetahui dan mengasihi Tuhan dan sesama. Dengan dasar ini, anak-anak harus mematuhi orang tua. Namun dalam keadaan di mana orang tua memaksa anak-anak melakukan hal-hal yang berlawanan dengan perintah Allah, maka anak yang telah dewasa tersebut justru tidak boleh mengikuti perintah dari orang tua. Tentu saja, kita harus menyampaikannya dengan hormat dan penuh kasih, karena tahu bahwa apa yang mereka lakukan adalah berdasarkan kasih kepada kita, walaupun manifestasi dari kasih tersebut adalah salah dan melanggar perintah Allah. Katekismus Gereja Katolik (KGK, 2217) mengatakan:

Selama anak tinggal bersama orang-tuanya, ia harus mematuhi tiap tuntutan orang-tua, yang melayani kesejahteraannya sendiri atau kesejahteraan keluarga. “Hai anak-anak, taatilah orang-tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan” (Kol 3:20) Bdk. Ef 6: 1.. Anak-anak juga harus mematuhi peraturan-peraturan yang bijaksana dari pendidiknya dan dari semua orang, kepada siapa mereka dipercayakan oleh orang-tua. Tetapi kalau seorang anak yakin dalam hati nuraninya bahwa adalah tidak sesuai dengan susila untuk menaati satu perintah tertentu, ia jangan mengikutinya. Juga apabila mereka sudah menjadi lebih besar, anak-anak selanjutnya harus menghormati orang tuanya, Mereka harus mendahului kerinduannya, harus meminta nasihatnya, dan menerima teguran yang masuk akal. Kewajiban untuk mematuhi orang-tua berhenti setelah anak-anak dewasa, namun mereka harus selalu menghormati orang-tua. Ini berakar dalam rasa takut akan Allah, salah satu anugerah Roh Kudus.

Dari KGK 2217 di atas, terlihat jelas bahwa kalau seorang anak yang telah dewasa tahu – pengetahuan ini adalah dari hati nurani dan juga dari pengajaran-pengajaran Gereja Katolik -, bahwa aborsi adalah berdosa, maka anak tersebut justru tidak boleh mengikuti perintah orang tuanya yang salah. Kalau anak ini mengikuti keinginan orang tuanya, maka anak dan orang tuanya sama-sama berdosa dan melawan perintah Allah. Secara prinsip, kita harus menempatkan Tuhan dan perintah-Nya lebih daripada apapun juga. Dan ini diungkapkan oleh Yesus sendiri yang mengatakan “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.” (Mt 10:37). Jadi, dengan ayat ini dan dari Katekismus Gereja Katolik di atas, maka kita tahu bahwa kita tetap harus mentaati orang tua sampai kita dewasa dan berdiri sendiri, walaupun kita juga harus tetap menghormati nasihat dan juga teguran dari mereka. Kita harus menghormati orang tua kita seumur hidup kita. Dan kita tidak perlu mengikuti perintah orang tua kalau perintah tersebut melanggar perintah Allah atau membuat hubungan kita dengan Allah terganggu. Namun, di sisi yang lain, kita harus bijaksana dalam menerapkan prinsip-prinsip ini, sehingga hubungan kita dengan orang tua kita tetap baik dan berdasarkan kasih yang murni. Semoga keterangan ini dapat membantu.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Share.

About Author

Stefanus Tay telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

48 Comments

  1. Dwiki Arya on

    Pernah saya membaca sedikit kisah St. Fransiskus Asisi. Pernah pada awal kehidupan rohaninya, saat beliau memutuskan meninggalkan kehidupan duniawi untuk melayani Allah, beliau menanggalkan seluruh bajunya sebagai tanda bahwa ia ‘bukan’ anak ayahnya, tapi anak dari Allah Bapa. Sejak kejadian itu, tidak diceritakan kisah orang tua Fransiskus. Saya teringat bahwa Yesus pernah bersabda kalau Ia datang membawa perpisahan antara anak dengan ayahnya. Nah selama kisah St. Fransikus tersebut, tidak diceritakan perhatiannya terhadap orang tuanya, perbuatan pun doa (siapa yang tahu?). Bagaimana tanggapan katolisitas tentang ini?tentang pertentangan anak dan orang tua?(maaf bukan menantang, hanya terpikir saja bagaimana jika terjadi pada saya)

    [Dari Katolisitas: Memang dalam riwayat St. Fransiskus tidak dikisahkan lagi hubungan antara St. Fransiskus dengan ayah dan ibunya, setelah ia memasuki biara. Namun tidak dapat disimpulkan bahwa ia tidak lagi menghormati dan mendoakan orang tuanya. Sebab hal mengasihi dan mendoakan orang tua lebih bersifat kepada hubungan pribadi antara St. Fransiskus dengan orang tuanya. Sedangkan yang tertulis dalam riwayat hidupnya adalah kisah yang menunjukkan teladan kasihnya kepada Allah sampai ke tingkat yang heroik, yaitu dengan menempatkan Allah sebagai yang utama melebihi segala sesuatu; sehingga St. Frasiskus rela meninggalkan segalanya, demi mempersembahkan hidupnya bagi Allah.]

    • Karena cara yang dipilih Fransiskus adalah kemiskinan mutlak, maka dia melepaskan segala2nya untuk Tuhan, yang tersisa hanyalah doa. Bisakah hubungan kasih yang sebatas doa untuk orang tua saja itu, bisa diterima?terutama di jaman sekarang?Hal itu dalam pandangan budaya ketimuran (yang menekankan penghormatan dan menjaga orang tua), sepertinya berkesan tidak acuh.

      • Shalom Dwiki,

        Hal bagaimana kita menanggapi panggilan Tuhan, itu memang harus diputuskan dengan kebijaksanaan (prudence). Kita menghormati keputusan St. Fransiskus, yang pasti juga telah mempertimbangkan masak-masak keputusannya untuk mengabdikan seluruh hidupnya bagi Kerajaan Allah. Perlu kita ketahui bahwa keluarga St. Fransiskus adalah keluarga yang cukup berada dan terpandang di Asisi, dan bahwa St. Fransiskus juga mempunyai beberapa saudara kandung. Sejumlah catatan biografi St. Fransiskus mencatat bahwa ia memiliki 6 orang saudara kandung, yang juga sama-sama berkewajiban mendukung masa tua kedua orang tua mereka. Maka meskipun St. Fransiskus tidak dapat mendukung orang tuanya dalam hal kebutuhan hidup jasmani, namun ia mendukung orang tuanya dalam bentuk rohani, yang mungkin tidak dapat dilakukan oleh saudara-saudari kandungnya. Dengan demikian tidak dapat dikatakan bahwa St. Fransiskus mengabaikan atau mengacuhkan orang tuanya, sebab kenyataannya, kedua orang tuanya-pun juga “in a good hand“, tidak disia-siakan.

        Namun memang harus diakui bahwa panggilan sebagai imam ataupun biarawati itu adalah suatu panggilan yang mulia, yang melibatkan juga pengorbanan dan kerelaan orang tua mereka. Tuhan pastilah memberkati dan memelihara secara khusus semua orang tua para imam/ biarawan/ biarawati, yang telah dengan lapang hati menyerahkan kembali anak-anak mereka yang secara total mempersembahkan hidup mereka untuk melanjutkan karya keselamatan Allah di dunia ini.
        Allah yang Mahakuasa akan menggenapkan janji-Nya dalam firman ini kepada mereka yang melakukannya dalam arti yang sepenuhnya:
        “Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal.” (Mat 19:29)

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        Ingrid Listiati- katolisitas.org

        • Salam bu Inggrid dan tim katolisitas.terima kasih atas jawabannya. Semoga karya ibu, pak Stef dan tim selalu sesuai dengan kehendak Kristus sendiri dan semakin banyak yang menyadari kalau ini adalah bentuk kasih Tuhan pada Gerejanya. .amin

Add Comment Register



Leave A Reply