Tentang St. Valentine’s day

Pertanyaan:

Shalom Stef dan Ingrid…

Sebentar lagi, sebagai besar orang akan merayakan Valentine Day. Bahkan, kado-kado istimewa sudah dipersiapkan untuk orang-orang tercinta atau yang dikasihinya. Khusus di kalangan muda-mudi, Valentine Day sering dimaknai berlebihan dan salah kaprah, khususnya dalam hal berpacaran.

Sehingga di hari valentine, tak jarang terjadi hubungan intim dan itu dianggap bagian dari kasih sayang. Dalam kondisi itu, valentine day menjadi kecemasan bagi orangtua. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana cara atau sikap yang tepat memaknai valentine day? Bagaimana cara yang patut dilakukan khususnya kalangan muda-mudi merayakannya?
Terimakasih atas jawabannya. Jab’s Simbolon

Jawaban:

Shalom Jab’s,

Ada beberapa St. Valentine yang dikenal dalam tradisi Gereja Katolik. Namun yang sering dihubungkan dengan Valentine’s day, adalah kisah yang ini, silakan klik. St. Valentine  (abad 3) yang dikisahkan di sini adalah ia yang menjadi martir karena sebagai imam ia banyak menikahkan pasangan muda- mudi, dan dengan demikian ia melanggar perintah Kaisar Claudius di Roma yang pada waktu itu melarang kaum pemuda untuk menikah karena ia berpendapat mereka yang menikah akan terikat pada keluarga dan tidak dapat menjadi serdadu kerajaan yang baik. St. Valentine tidak mengindahkan larangan tersebut, dan meluluskan permohonan para muda- mudi yang ingin menikah, dan karenanya ia ditangkap dan akhirnya dibunuh.

Mengenai makna hari itu yang sekarang jadi dimaknai menyimpang, sampai mengakibatkan hubungan intim muda-mudi di luar pernikahan, tentu menjadi keprihatinan kita semua. Sebab bukan demikian maksudnya. Kasih yang sejati itu sanggup menunggu/ “True love waits” sampai mereka sungguh dipersatukan oleh Tuhan sendiri. Mungkin ini yang harus ditekankan oleh pihak orang tua dan para pengajar muda- mudi. Silakan membaca buku karangan Paus Yohanes Paulus II, “Theology of the Body”, yang telah diterjemahkan di dalam bahasa Indonesia oleh Romo Deshi Ramadhani SJ.

Maka sebaiknya untuk merayakan Valentine’s day, jika ingin merayakannya, saya rasa yang terbaik adalah: para orang tua berdoalah bersama- sama dengan anak remaja mereka itu, sebelum mengizinkan mereka pergi. Jika perlu berdoalah bersama dengan “sang calon” mohonkan rahmat iman, kemurnian dan kasih yang tulus. Kepada ayah/ bapa, silahkan memberkati anaknya, dan setelah anak itu pergi, silakan orang tua berdoa rosario/ berdoa bersama dengan ibu untuk mendoakan anaknya, agar malaikat Tuhan menjaga mereka dan menghindari mereka dari kuasa jahat.

Selanjutnya, kalau mau me-maknai kasih sayang dengan lebih umum, tidak terbatas pada pasangan muda/i, kita dapat  memberi tanda kasih, entah berupa kartu atau kado sederhana, kepada orang-orang yang berjasa pada kita, kepada mereka yang sering kita minta bantuan, yang sering kita lupakan. Kartu/ kado ini bisa diberikan kepada orang tua, guru, sahabat, bahkan pembantu rumah tangga kita, yang sebenarnya menjadi “sahabat” yang membantu kita setiap hari.

Perayaan/ peringatan Valentine’s day jika hanya untuk merayakan persahabatan, itu tidak menjadi masalah, karena pada dasarnya merayakan kasih sayang itu tidaklah keliru asalkan tidak berlebihan. Maka jika acaranya hanya makan- makan atau jika yang berkumpul banyak pasangan muda/i, disertai dengan acara permainan, itu tidak menjadi masalah. Yang salah adalah jika kasih sayang itu diartikan keliru, yang mengarah kepada kehendak sendiri, di luar hukum Tuhan. Inilah yang harus dihindari oleh kaum muda mudi. Sesungguhnya jika para kaum muda mau belajar sedikit saja dari banyaknya surat tentang problema perkawinan yang masuk ke situs ini, mereka akan mengetahui bahwa hubungan seks sebelum pernikahan ternyata membawa banyak masalah, dan bahkan banyak akhirnya menjurus kepada perpisahan. Nantinya kedua belah pihak dapat merasa dibohongi, dan tersiksa sesudahnya atas akibat perbuatan mereka. Ini harus diakui sebagai konsekuensi dosa, yang sebenarnya tidak perlu dialami, seandainya dosa tersebut tidak dilakukan. Bagi yang sudah terlanjur melakukan, tidak ada kata terlambat untuk bertobat, sebab ada kalanya Tuhan mengizinkan seseorang belajar bertumbuh justru dari pengalaman yang menyakitkan. Namun  selanjutnya, ikutilah kehendak Tuhan, jika kemurnian kasih dan kasih sejati yang dicari. Semoga dengan demikian, para muda mudi dapat menemukan pasangan hidup yang sejati, yang mengasihi dengan tulus, tanpa dinodai oleh keinginan daging yang bertentangan dengan perintah Tuhan.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Beberapa artikel di kategori yang sama:

9 Komentar to Tentang St. Valentine’s day

  1. Shalom,

    Apakah Hari Valentine adalah tradisi Gereja Katolik? Atau hasil termodifikasi budaya barat? Apakah tanggal 14 Februari memang adalah sebuah perayaan khusus untuk Santo Valentinus? Apakah tradisi itu wajib dan masih dilanjutkan oleh Gereja hingga saat ini? Terima kasih. Mohon tanggapannya karena saya bingung menghadapi pertanyaan demikian oleh teman2 kKatolik yang lain… ^^

    Shalom,

    Monica

    • Shalom Monica,

      St. Valentinus adalah imam yang dibunuh sebagai martir di zaman kekaisaran Romawi di tahun 269. Ia dikenal sebagai Santo pelindung pasangan yang bertunangan, perkawinan, kaum muda, wisatawan, dan penderita epilepsi. Nama Valentine, berasal dari kata ‘valens‘ yang artinya layak, kuat, berkuasa. Tentang St. Valentinus yang pesta namanya dirayakan tanggal 14 Februari, hal yang dapat dipastikan adalah namanya dan bahwa ia dikubur di Via Flamina di Roma utara. Namun tidak dapat dipastikan bahwa pesta yang dirayakan hari itu apakah untuk mengenangkan namanya, atau beberapa orang kudus dengan nama yang sama. Karena alasan ini, maka sejak tahun 1969, peringatan pestanya secara liturgis tidak lagi diadakan secara universal, namun Martir Valentinus sebagai Imam dan para martir lainnya di Roma, tetap ada di dalam daftar orang kudus yang dihormati oleh umat Katolik.

      Bahwa perayaan Valentine’s day kini cenderung dikomersialkan, itu nampaknya terjadi tidak saja di dunia barat, sebab di negara-negara timur; namun tentu bukan ini sesungguhnya inti perayaan hari Valentinus. Tradisi merayakan hari Valentinus bukan merupakan perayaan wajib, namun juga tidak dilarang, sepanjang tidak berlebihan dan tidak menyimpang.

      Selanjutnya tentang St. Valentine’s Day, silakan membaca kembali artikel di atas, klik di sini.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  2. Shalom,

    Bagaimana pendapat tim Katolisitas mengenai artikel di website ini? http://www.akhirzaman.org/index.php/konten/artikel/1313-fakta-tentang-hari-valentine

    karena ada ‘gereja Katolik’ disebutkan disitu, maka saya ingin tahu apakah benar yg ditulis di website tersebut.

    Terima Kasih.

    • Shalom Devi,

      Yang dituliskan di situs itu tidak benar, karena aliran Gnostik itu bukan Gereja Katolik. Valentinus (yang kebetulan namanya sama dengan St. Valentinus), adalah salah satu pengajar aliran Gnostik yang paling berpengaruh di sekitar abad ke-2 (ia wafat 160- 161). Dengan demikian, Valentinus yang adalah salah satu pelopor Gnosticisme itu bukanlah St. Valentinus yang dihormati oleh Gereja Katolik. Silakan membaca tentang aliran Valentinian di sini, silakan klik. Sedangkan tentang Gnosticism, silakan klik, di sana dituliskan tentang mitos Sophia, yang sama sekali bukan ajaran Kristen.

      Gnosticisme adalah aliran/ sekte sesat yang sudah ada sejak abad pertama bahkan mungkin sebelum zaman Kristus. Aliran ini menggabungkan filosofi Plato dan cerita mitos-mitos Yunani, dan mencampurkannya dengan beberapa ajaran Kristen (bahkan ajaran agama-agama lain). Mereka menulis injil menurut mereka sendiri yang tidak sama dengan Injil yang diberitakan oleh para Rasul. Aliran ini dikecam oleh para rasul, secara khusus oleh Rasul Paulus (lih. 2Kor 11:4); dan para Bapa Gereja, terutama St. Irenaeus (dalam Against Heresies) dan Tertullianus (Against the Valentinians). Justru untuk membedakan Gereja dengan aliran- aliran sesat seperti ini, maka sejak abad ke-2 istilah Gereja “Katolik” mulai dipergunakan dengan lebih luas, untuk menunjukkan bahwa hanya Gereja yang Katolik-lah yang merupakan Gereja yang sungguh berasal dari Kristus dan para rasul dan yang mengajarkan ajaran yang lengkap kepada seluruh umat di seluruh dunia, dan bukan hanya di tempat asal para heretik/ bidat tersebut. Aliran Gnostik, adalah sekte sesat yang mengaku Kristen, namun mengajarkan hal- hal yang bukan ajaran Kristen. Maka sesungguhnya Gnosticism bukan ajaran Kristen, dan juga bukan Gereja Katolik.

      Sedangkan tentang St. Valentinus, silakan klik di sini

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  3. Kita mengenal St Aloysius Gonzaga sbg pelindung kaum muda. Namun secara khusus, adakah pelindung kaum muda yang akan menikah/berpacaran? :D

    Thank you..

    • Shalom Agung,

      Memang orang kudus yang dikenal sebagai santo pelindung untuk mereka yang sedang berpacaran/ akan menikah adalah St. Valentine, dan hal ini sudah pernah ditulis di sini, silakan klik atau di link ini, silakan klik.

      Namun sebenarnya, ada baiknya memohon dukungan doa dari santo/a pelindung yang menjadi teladan kemurnian (chastity):

      1) untuk pihak wanita: Bunda Maria, St. Agnes dari Roma, St. Maria Goretti .

      2) untuk pihak pria: St. Yusuf, St. Thomas Aquinas, St. Fransiskus Asisi.

      Silakan anda membaca riwayat hidup mereka di link ini, silakan klik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  4. Syalom,,,
    kapan St. Valentin dikanonisasi dan oleh Paus siapa??
    kemudian adakah mujizat yg pernah diadakan oleh St. Valentin yg diakui gereja???

    • Shalom Lian,
      Pada abad- abad awal, pengertian perihal “orang kudus” (Santa/ Santo) adalah orang-orang yang menyerahkan hidupnya bagi iman mereka. Tindakan mereka menyerahkan nyawa untuk membela iman dan ajaran Kristus itu merupakan kesaksian yang sempurna tentang iman mereka akan Kristus. Maka jemaat/ Gereja setempat di mana orang kudus itu berasal akan menghormatinya. Kemudian berita kekudusan para Santa/ santo ini dapat meluas juga ke daerah-daerah lainnya di luar tempat asal mereka hidup dan wafat, dan umat dari daerah lain dapat pula menghormatinya.
      Hal inilah yang nampaknya terjadi pada St. Valentine di abad ke 3. Ia dikisahkan dibunuh sebagai martir (269) oleh kaisar Claudius di Roma yang melarang para pemuda menikah, karena ingin menjadikan para pemuda sebagai serdadu kerajaan. St. Valentinus menentang larangan ini, karena percaya bahwa pernikahan adalah sesuatu panggilan hidup yang luhur yang merupakan sesuatu yang diputuskan berdasarkan kehendak bebas setiap orang, dan karenanya tidak menyetujui larangan perkawinan yang dipaksakan dari pihak penguasa. Meskipun dilarang, St. Valentinus tetap menjalankan tugasnya sebagai imam, dan menikahkan para pemuda dan pemudi yang memutuskan untuk menikah. Untuk hal ini ia dibunuh sebagai martir.
      Paus Gelasius pada tahun 496 menandai tanggal 14 Februari untuk menghormati kemartiran St. Valentine. Perlu diketahui bahwa pada abad- abad awal tersebut belum ditentukan syarat-syarat yang mendetail bagi seseorang untuk dapat dinyatakan sebagai Santa/ Santo (dengan step- step seperti yang pernah saya tuliskan di sini, silakan klik). Namun hal ini tidak mengubah kenyataan bahwa St. Valentinus tetaplah orang kudus, karena memang Gereja sejak awal menghormati mereka yang menyerahkan nyawanya demi membina iman mereka sebagai martir/ orang kudus. Menurut catatan jemaat setempat, mukjizat yang terjadi sebelum kematiannya adalah Valentine menyembuhkan anak dari penjaga penjaranya dari kebutaan.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan, Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  5. Shalom Stef dan Ingrid…

    Sebentar lagi, sebagai besar orang akan merayakan Valentine Day. Bahkan, kado-kado istimewa sudah dipersiapkan untuk orang-orang tercinta atau yang dikasihinya. Khusus di kalangan muda-mudi, Valentine Day sering dimaknai berlebihan dan salah kaprah, khususnya dalam hal berpacaran.
    Sehingga di hari valentine, tak jarang terjadi hubungan intim dan itu dianggap bagian dari kasih sayang. Dalam kondisi itu, valentine day menjadi kecemasan bagi orangtua. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana cara atau sikap yang tepat memaknai valentine day? Bagaimana cara yang patut dilakukan khususnya kalangan muda-mudi merayakannya?
    Terimakasih atas jawabannya. Jab’s

    [Dari Katolisitas: Pertanyaan ini sudah dijawab di atas, silakan klik]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CONNECT WITH US: