Kebenaran Kitab Suci

31

Pertanyaan:

Bagaimana Al Kitab ditulis? Apakah bahasa yang digunakan dalam penulisan Al Kitab pertama dan yang kedua? Bilakah Al Kitab ditulis buat pertama kali? Di manakah Al Kitab yang tertua sekali dan apakah versinya? dan mengapa kita mengatakan Al Kitab itu kita katakan firman/sabda Tuhan sedangkan Al Kitab di tulis oleh manusia?
– Lacius Dalius

Jawaban:

Shalom Lacius Dalius,

Terima kasih atas pertanyaannya tentang Alkitab. Berikut ini adalah jawaban yang dapat saya berikan:

1) Bagaimana Al Kitab ditulis?: Sebelum menjawab pertanyaan ini, maka saya akan memberikan definisi dari Katekismus Gereja Katolik (KGK) tentang Alkitab

KGK, 109: Di dalam Kitab Suci Allah berbicara kepada manusia dengan cara manusia. Penafsir Kitab Suci harus menyelidiki dengan teliti, agar melihat, apa yang sebenarnya hendak dinyatakan para penulis suci, dan apa yang ingin diwahyukan Allah melalui kata-kata mereka (Bdk. DV 12,1.)

KGK, 110: Untuk melacak maksud para penulis suci, hendaknya diperhatikan situasi zaman dan kebudayaan mereka, jenis sastra yang biasa pada waktu itu, serta cara berpikir, berbicara, dan berceritera yang umumnya digunakan pada zaman teks tertentu ditulis. “Sebab dengan cara yang berbeda-beda kebenaran dikemukakan dan diungkapkan dalam nas-nas yang dengan aneka cara bersifat historis, atau profetis, atau poetis, atau dengan jenis sastra lainnya” (DV 12,2).

Alkitab bukanlah diturunkan dari langit dalam bentuk Alkitab yang kita kenal sekarang. Alkitab merupakan kumpulan buku-buku yang ditulis sepanjang 17 abad. Gereja Katolik, dengan kuasa Roh Kudus, menentukan buku-buku mana yang menjadi bagian dari kanon Alkitab yang kita kenal sampai saat ini. Gereja Katolik menentukan 46 buku Perjanjian Lama dan 27 buku Perjanjian Baru, sehingga ada 73 buku dalam Alkitab. Allah sendiri adalah penyebab Kitab Suci, dimana dengan ilham Roh Kudus, Allah memberi inspirasi kepada manusia atau sang penulis dari masing-masing buku. Masing-masing penulis dengan cara dan gaya bahasanya sendiri bekerja sama dengan ilham dari Roh Kudus, sehingga buku-buku yang dihasilkan adalah sesuai dengan ilham Roh Kudus sendiri. Karena Gereja ada terlebih dahulu dibandingkan dengan Alkitab, dan Gereja yang menentukan buku-buku yang termasuk dalam Alkitab, maka Gereja jugalah yang mempunyai kuasa untuk menafsirkan Alkitab secara benar.

2) Apakah bahasa yang digunakan dalam penulisan Al Kitab pertama dan yang kedua? Ada tiga bahasa yang digunakan, yaitu Ibrani, Yunani dan Aram (Aramaic). Perjanjian Lama ditulis dalam bahasa Ibrani, dengan beberapa bagian dalam Aramaic, sedangkan deuterokanonikal ditulis dalam bahasa Yunani. Seluruh Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani, kecuali Matius ditulis dalam bahasa Ibrani / Aram, namun manuscript yang masih ada dalam bahasa Yunani.

3) Bilakah Al Kitab ditulis buat pertama kali? Kalau yang dimaksudkan Alkitab di sini adalah keseluruhan Alkitab, maka lima kitab pertama (Pentateuch) adalah yang pertama ditulis, sekitar abad 15 SM. Keseluruhan kitab Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani (Septuagint) ditulis pada abad 3-2 SM.  Sedangkan untuk Perjanjian Baru, buku yang paling pertama ditulis adalah Injil Matius tahun 38-45 (dalam bahasa Aram), kemudian Injil Markus tahun 55-62, Lukas tahun 62 dan Yohanes tahun 85-100 (semua dalam bahasa Yunani). Sedangkan surat- surat para rasul yang pertama ditulis adalah Surat Rasul Paulus yang pertama kepada jemaat di Tesalonika (1 Tes) yaitu pada sekitar akhir tahun 50.

4) Di manakah Al Kitab yang tertua sekali dan apakah versinya? Codex Sinaiticus dan Codex Vaticanus adalah manuskrip Yunani tertua dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Codex Sinaiticus ditemukan di Gunung Sinai, di biara St. Catherine. Manuskrip ini hampir sama dengan Codex Vaticanus. Kedua-duanya diperkirakan ditulis abad ke-4. Codex Sinaiticus tersimpan di British Library dan Codex Vaticanus tersimpan di Vatican Library. Dead Sea Scroll adalah manusrip sebagian Perjanjian Lama dan beberapa manuskrip yang lain, yang ditulis dalam bahasa Ibrani, Aramaic dan Yunani. Manuskrip ini dipercaya ditulis sekitar tahun 150BC – 70AD.

5) dan mengapa kita mengatakan Al Kitab itu kita katakan firman/sabda Tuhan sedangkan Al Kitab di tulis oleh manusia? Silakan melihat jawaban dalam point no: 1, dimana secara prinsip memang Alkitab ditulis oleh manusia, namun dengan inspirasi dari Roh Kudus. Dan kemudian, Gereja Katolik yang mempunyai kuasa untuk meneruskan warisan iman ini secara murni dari generasi ke generasi menentukan buku-buku yang menjadi bagian dari Alkitab. Kita juga dapat melihat keagungan pengajaran Alkitab, terutama di dalam Perjanjian Baru, yang mengajarkan ajaran moral yang begitu tinggi, seperti delapan Sabda Bahagia atau kotbah di bukit (lih. Mt. 5) Dan semua rencana keselamatan Allah, yang ditulis selama lebih dari 17 abad saling terkait dan terpenuhi dalam diri Yesus. Lebih lagi, kita dapat melihat adanya nubuat yang ditulis berabad-abad sebelumnya, misal oleh nabi Yesaya (7 abad SM) terpenuhi dalam diri Yesus. Untuk lebih lengkapnya, saya akan kutipkan apa yang dikatakan oleh Gereja Katolik tentang inspirasi dan kebenaran Kitab Suci:

KGK, 105.   Allah adalah penyebab [auctor]Kitab Suci. “Yang diwahyukan oleh Allah dan yang termuat serta tersedia dalam Kitab Suci telah ditulis dengan ilham Roh Kudus”.”Bunda Gereja yang kudus, berdasarkan iman para Rasul, memandang kitab-kitab Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru secara keseluruhan, beserta semua bagian-bagiannya, sebagai buku-buku yang suci dan kanonik, karena ditulis dengan ilham Roh Kudus (lih. Yoh 20:31; 2 Tim 3:16; 2 Ptr 1:19-21; 3:15-16), dan dengan Allah sebagai pengarangnya, serta dalam keadaannya demikian itu diserahkan kepada Gereja” (DV 11).

KGK 106.   Allah memberi inspirasi kepada manusia penulis [auctor]Kitab Suci. “Tetapi dalam mengarang kitab-kitab suci itu Allah memilih orang-orang, yang digunakan-Nya sementara mereka memakai kecakapan dan kemampuan mereka sendiri, supaya – sementara Dia berkarya dalam dan melalui mereka – semua itu dan hanya itu yang dikehendaki-Nya sendiri dituliskan oleh mereka sebagai pengarang yang sungguh-sungguh” (DV 11).

KGK, 107.   Kitab-kitab yang diinspirasi mengajarkan kebenaran. “Oleh sebab itu, karena segala sesuatu, yang dinyatakan oleh para pengarang yang diilhami atau hagiograf (penulis suci), harus dipandang sebagai pernyataan Roh Kudus, maka harus diakui, bahwa buku-buku Kitab Suci mengajarkan dengan teguh dan setia serta tanpa kekeliruan kebenaran, yang oleh Allah dikehendaki supaya dicantumkan dalam kitab-kitab suci demi keselamatan kita” (DV 11).

KGK, 108.    Tetapi iman Kristen bukanlah satu “agama buku”. Agama Kristen adalah agama “Sabda” Allah, “bukan sabda yang ditulis dan bisu, melainkan Sabda yang menjadi manusia dan hidup” (Bernard, hom. miss. 4,11). Kristus, Sabda abadi dari Allah yang hidup, harus membuka pikiran kita dengan penerangan Roh Kudus, “untuk mengerti maksud Alkitab” (Luk 24:45), supaya ia tidak tinggal huruf mati.

Semoga keterangan di atas dapat menjawab pertanyaan Lacius.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Share.

About Author

Stefanus Tay telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

31 Comments

  1. Dear Katolisitas,

    Ada dua kutipan Kitab Suci yang membingungkan saya. Dua kutipan itu adalah:
    Injil Yohanes 7: 37-38, “Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.”

    Surat Yakobus 4:5 Janganlah kamu menyangka, bahwa Kitab Suci tanpa alasan berkata: “Roh yang ditempatkan Allah di dalam diri kita, diingini-Nya dengan cemburu!”

    Yang membuat saya bingung adalah, dalam dua kutipan di atas dikatakan atau dikutip sumber Kitab Suci. Dari mana sumbernya? Atau Kitab Suci apa yang dikutip?

    Demikianlah pertanyaan saya. Atas perhatian dan jawabannya, saya menghaturkan ganda terima kasih.

    • Shalom Brian,

      1. Yohanes 7:37-38

      “Dan pada hari terakhir, yaitu pada puncak perayaan itu, Yesus berdiri dan berseru: “Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.”

      Yesus Sang Hikmat Kebijaksanaan Allah telah dinubuatkan akan menyerukan pengajaran-Nya (lih. Ams 1:20; 8:3)

      “Barangsiapa haus….,

      Yesus sebagai Sang Baru karang rohani (1Kor 10:4) telah digambarkan dalam Perjanjian Lama akan memuaskan dahaga umat Allah (lih. Bil 20:11, Kel 17:6).
      Seruan itu merupakan penggenapan nubuat nabi Yesaya (lih. Yes 55:1,3).

      2. Yak 4:5

      “Janganlah kamu menyangka, bahwa Kitab Suci tanpa alasan berkata: “Roh yang ditempatkan Allah di dalam diri kita, diingini-Nya dengan cemburu!”

          Kitab Kejadian 2:7 menyatakan bahwa Allah telah meniupkan nafas/ Roh-Nya kepada manusia.
          Allah yang sama ini adalah Allah yang cemburu (Kel 34:14, Ul 4:24, Kel 20:5)

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Shalom Mbak Ingrid,

        Terima kasih atas jawabannya. Untuk yang kedua (Yak 4: 5), saya bisa tangkap. Itu berarti bahwa kutipan Kitab Suci, “Roh yang ditempatkan Allah di dalam diri kita, diingini-Nya dengan cemburu!”, merupakan kutipan langsung.

        Namun untuk yang pertama (Yoh 7: 38), “Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup.”, saya belum menangkap maksud penjelasannya. Saya jadi bingung dengan rujukan 1 Kor 10: 4. Bukankah ini jadi semacam ahistoris? Karena Injil Yohanes memuat perkatakan Yesus. Jadi, logisnya Yesus mengutip Kitab Suci sebelumnya (Perjanjian Lama). Rujukan-rujukan kitab Bilangan dan Keluaran semakin membingungkan saya, karena dua kitab itu mengisahkan kejadian yang sama dan sama sekali tidak ada semacam ramalan akan sosok pribadi.

        Salam,

        • Shalom Brian,

          Penjelasan itu adalah untuk menunjukkan bahwa ayat-ayat dalam Kitab Suci itu saling terkait. Sebab untuk mengetahui apakah maksudnya ‘batu-karang yang mengeluarkan air’, yang dicatat dalam Bil 20:11, Kel 17:6, adalah untuk melihat bahwa batu karang yang ditulis di sana menggambarkan secara samar-samar figur Kristus yang adalah batu karang rohani (1Kor 10:4) yang menjadi sumber air hidup bagi umat-Nya, sehingga barangsiapa percaya kepada-Nya tidak akan haus lagi (lih. Yoh 6:35).

          Demikianlah apa yang ditulis dalam Yoh 6:35 tersebut sejalan dengan ditulis dalam Yoh 7:37-38.

          Pada prinsipnya, Gereja membaca kitab-kitab Perjanjian Lama dalam terang penggenapannya dalam Perjanjian Baru, dan membaca Perjanjian Baru dalam terang Perjanjian Lama yang menubuatkannya. Tentang hal ini secara sekilas telah disampaikan di sini, silakan klik, dan klik di sini.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

  2. Bimomartens on

    Shalom Bapak/Ibu Thay,

    Langsung saja. Saya melakukan surfing di internet, dan akhirnya berhenti pada sebuah site; klik disini . Tampaknya site itu memaparkan manuskrip Injil, hanya saya sebagai awam tidak mengetahui kebenarannya, namun saya tertarik untuk mengulasnya walau hanya sedikit.

    1. Bagaimana menurut anda tentang situs ini?
    2. Saya paham pada awalnya tidak ada penomoran dalam Injil, dan kita mengikuti penomoran St. Agustinus, sedangkan saudara protestan mengikuti penomoran Origen. Namun di situs codexsinaiticus saya menemukan istilah Eusebian Canon Number di beberapa popup penomoran ayatnya. Apa anda tahu tentang Eusebian Canon Number tersebut?
    3. Kenapa terjemahan Inggris dari manuskrip tersebut berbeda dengan terjemahan baru bahasa Indonesia? Sebagai contoh pada Injil Markus, Mark Chapter 16 Verse 8, ayat 18 disitu menyinggung soal ‘Zakaria’? Padahal Injil Markus 16 sampai ayat 20.
    4. Bagaimana saya sebagai sebagai awam mempertanggungjawabkan iman saya jika ada pertanyaan tentang manuskrip Injil yang asli?
    5. Adakah situs yang menampilkan manuskrip Injil kanonik?

    Mohon maaf jika pertanyaan saya agak berlebihan. Tanpa bermaksud untuk meragukan keaslian Injil Kanonik, saya hanya ingin lebih jauh mengenal sejarah Gereja yang Satu, Kudus, Katolik dan Apostolik. Intellige ut credas, crede ut intelligas. Terima kasih sebelumnya, Dominus vobiscum.

    Berkah dalem.

    • Shalom Bimomartens,

      1. Mohon maaf, bukan fokus kami di Katolisitas untuk memeriksa situs-situs tertentu dan menilainya. Itu membutuhkan energi dan waktu yang tidak sedikit, dan bukan bagian kami untuk melakukannya, karena fokus kami adalah menyampaikan ajaran iman Katolik, sebagaimana diajarkan oleh Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja Katolik. Mohon pengertian Anda.

      2. Menurut apa yang disampaikan dalam Catholic New Encyclopedia, Eusebian Canon, itu tidak menyampaikan seluruh teks Injil. Yang disampaikan di sana adalah perbandingan beberapa manuskrip Injil, tentang perbandingan narasi dari perikop yang paralel, dari Injil Matius, Markus, Lukas dan Yohanes.

      Maka perbandingan narasi ini tidak mencakup keseluruhan teks Injil, namun dimaksudkan untuk melihat perbandingan teks dari keempat Injil, dan dengan demikian dapat ditangkap makna yang lebih menyeluruh dari suatu topik, dengan melihat teks keempat Injil yang saling melengkapi. Maka penomoran/ pengurutan ayat-ayat itu diadakan untuk maksud ini.

      Menurut pengetahuan kami, pemberian nomor ayat-ayat dalam Kitab Suci baru dibuat di abad ke-16, oleh Robert I Estienne (1503-1559), yang juga dikenal dengan nama Robertus Stephanus dalam bahasa Latin atau Robert Stephens. Sedangkan penomoran oleh St. Agustinus dan Origen, setahu kami itu adalah penomoran/ pengurutan Kesepuluh Perintah Allah, sebagaimana telah disebut di sini, silakan klik. Klaim bahwa gereja-gereja Protestan mengikuti Kanon Kitab Suci menurut Origen (184-254), nampaknya bias, sebab jika demikian seharusnya di Kitab Suci versi Protestan tidak ada surat Rasul Yakobus, surat Rasul Petrus yang kedua, dan surat Rasul Yohanes yang kedua dan ketiga, karena Origen tidak memasukkan surat-surat tersebut ke dalam Kanon Kitab Sucinya. Kita ketahui tidak demikian halnya.
      St. Agustinus yang hidup pada zaman Kitab Suci dikanonkan, memang menerima sepenuhnya kanon yang ditentukan oleh Magisterium Gereja Katolik, dan tidak mempertanyakannya.

      3 & 4. Terjemahan Kitab Suci yang ada pada kita, mengambil patokan pada terjemahan Latin Vulgata (Vulgate) yang disusun oleh St. Hieronimus/ St. Jerome (selesai sekitar tahun 406). Dari Vulgata itulah, kita menerima keseluruhan teks Kitab Suci, termasuk kitab-kitab Deuterokanonika, sehingga keseluruhan PL dan PB ada 73 kitab. Terjemahan Latin dari Kitab Suci, yang dikenal dengan Vulgate/ Vulgata ini menjadi pegangan bagi Gereja Katolik, sampai sekarang.

      Tentang Kebenaran Kitab Suci, klik di sini.
      Tentang Kanon Kitab Suci, klik di sini
      Menjawab keberatan tentang Septuaginta dan Deuterokanonika, klik di sini
      Tentang Apakah Injil dipalsukan Paulus, klik di sini
      Tentang Otentisitas Mrk 16:16-20, klik di sini

      5. Tentang situs yang menampilkan manuskrip Injil Kanonik

      Situs Kitab Suci Vulgate, klik di sini.

      Umat Kristiani menerima Kitab Suci, sebagaimana ditentukan oleh Magisterium Gereja Katolik di akhir abad ke-4, yaitu pertama kali oleh Paus Damasus I di tahun 382, yang kemudian diteguhkan dalam Konsili-konsili sesudahnya. Magisterium Gereja, selaku penerus para Rasul itulah yang oleh bimbingan Roh Kudus memutuskan/ menetapkan kitab-kitab mana sajakah yang ditulis atas inspirasi Roh Kudus, dan karenanya termasuk dalam Kitab Suci. Gereja adalah pilar kebenaran (lih. 1 Tim3:15), yang kepadanya Allah memberikan Sabda-Nya, dan kuasa untuk mengajarkannya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org.

  3. apakah mungkin suatu saat nanti isi Alkitab berubah jika ditemukan Injil yg ditulis oleh saksi-saksi di zaman Yesus dan bisa dibuktikan kebenarannya?
    Apakah bila memenuhi syarat, akankah Injil itu dijadikan Injil Kanonik juga?

    [dari katolisitas: Menurut iman Katolik, wahyu Allah telah selesai dengan meninggalnya Rasul Yohanes. Kalau melihat kesaksian dari para jemaat perdana, tidak mungkin ada lagi Injil yang lain.]

  4. Justinus Repi on

    Salom….
    Setelah ditemukan berbagai naskah asli, apa itu berpengaruh pd isi Alkitab saat ini atau tidak. Dan mengapa di Alkitab sering skali terdapat catatan kali yg menjelaskan tentang ayat-ayat sisipan?
    Saat ini juga sudah banyak penemuan-penemuan Injil selain dari ke-4 Injil resmi yg diakui. Mengapa tidak dijadikan referensi?
    Mengapa banyak ajaran dan aturan dari gereja yg tdk sesuai dengan ajaran dalam Alkitab? Apakah kedudukan hasil Konsili Vatican (hukum kanonik) lebih tinggi kedudukannya dari Alkitab, sehingga banyak ajaran dalam Alkitab yg dibatalkan oleh hasil Konsili (kanonik)…

    Salon,
    Justinus R.

    • Shalom Justinus,

      Penemuan berbagai naskah asli dari abad-abad awal (seperti yang ditemukan di Qumran) tidak berpengaruh terhadap isi Kitab Suci. Karena Kitab Suci yang ada pada kita sekarang merupakan Kitab Suci yang sudah final/ definitif. Pembahasan sekilas tentang teks-teks Qumran tersebut (yang juga dikenal dengan sebutan Dead Sea Scrolls) sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

      Jika ada di dalam Kitab Suci ayat yang ditulis di dalam tanda kurung, itu bukan ayat sisipan, tetapi memang ayat tersebut ada dalam suatu salinan dalam Codex tertentu, yang berasal dari suatu manuskrip tertentu yang juga manuskrip yang asli. Kitab Suci kita memang tidak pernah melewati masa standarisasi sehingga hal sedemikian dapat terjadi. Namun demikian ayat- ayat di dalam tanda kurung ini jumlahnya relatif sangat sedikit, dan pada prinsipnya tidak mengubah pesan yang disampaikan oleh keseluruhan Kitab Suci.

      Penemuan- penemuan injil lain di luar ke-empat Injil yang resmi diakui juga tidak mempengaruhi ataupun dapat dijadikan referensi yang setara dengan keempat Injil. Sebab penentuan keempat Injil tersebut adalah berdasarkan kesaksian para Bapa Gereja, yaitu mereka yang terhubung dengan para Rasul sendiri, sehingga oleh kesaksian mereka kita dapat yakin bahwa Injil tersebut betul otentik merupakan pengajaran para rasul, dan Injil tersebut ditulis oleh orang yang namanya digunakan sebagai nama Injil tersebut (Injil Matius benar ditulis oleh Matius, Markus oleh Markus, dst). Sedangkan injil-injil yang lain yang ditermukan kemudian banyak yang tidak otentik artinya tidak sungguh ditulis oleh orang yang namanya tertulis sebagai pengarangnya, dan bahkan ada yang ditulis belasan abad kemudian, seperti halnya injil Barnabas.

      Sedangkan pertanyaan Anda, “Mengapa banyak ajaran dan aturan dari gereja yang tidak sesuai dengan ajaran dalam Alkitab?” perlu diperjelas, apakah ajaran/ aturan yang Anda maksud. Karena semua ajaran yang diajarkan oleh Gereja Katolik mengambil dasar dari Kitab Suci. Namun Sabda Tuhan memang tidak hanya diturunkan melalui Kitab Suci (yaitu ajaran Kristus dan para rasul yang tertulis) tetapi juga ajaran mereka yang disampaikan secara lisan (inilah yang disebut Tradisi Suci); dan keduanya inilah yang dilestarikan oleh Gereja Katolik, sesuai dengan ajaran Rasul Paulus (lih. 2 Tes 2:15).

      Maka hasil Konsili yang merupakan pengajaran Magisterium, tidak mengatasi Kitab Suci, namun Magisterium tersebut merupakan Wewenang Mengajar Gereja yang bertugas untuk menjaga agar Gereja dapat dengan setia meneruskan dengan sepenuhnya ajaran yang berasal dari Kristus dan para rasul. Tentang Magisterium, apakah itu? silakan klik di sini; dan tentang kaitan antara ketiga pilar kebenaran dalam Gereja Katolik yaitu Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium, silakan klik di sini.

      Selanjutnya tentang dugaan Anda tentang ajaran Alkitab yang dibatalkan oleh hasil Konsili, silakan Anda sebut apakah itu. Silakan menggunakan fasilitas pencarian di situs ini: Anda dapat mengetik kata kunci topik yang ingin Anda ketahui, karena mungkin saja topik tersebut sudah pernah dibahas di situs ini.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

       

  5. Titus Panggau on

    Syaloom…

    U/ saudaraku yang seiman di dalam Kristus Yesus Tuhan kita.
    Pertanyaan saya adalah:
    1. Apakah Kitab Suci itu pasti dan benar
    2. Jika suci dan benar, knp sdh banyak yang tidak ditaati seperti : Kudusnya hari sabbat diganti perbaktian hr pertama, pembaptisan dll.

    [dari katolisitas: silakan melihat dua link ini - silakan klik dan klik ini]

  6. To : Stepanus
    Apakah sorga menurutmu suatu tempat? termasuk neraka ? tidak-kah kita tahu Alkitab disusun baru 1500 tahun yang lalu ? lebih dari 40 pengarang dari berbagai macam bahasa ?ada Aramaic,Yunani,Ibrani…..apakah penjelasanmu tentang neraka sodaraku ?

    • Shalom Ahmad,

      1. Surga dan neraka

      Katekismus Gereja Katolik mengajarkan tentang surga dan neraka sebagai berikut:

      a. Tentang surga sebagai keadaan bahagia dan ‘tempat’ di mana orang beriman akan hidup selama- lamanya, saat ia dapat melihat Allah dalam keadaan yang sebenarnya.

      KGK 1023     Orang yang mati dalam rahmat dan persahabatan Allah dan disucikan sepenuhnya, akan hidup selama-lamanya bersama Kristus. Mereka serupa dengan Allah untuk selama-lamanya, karena mereka melihat Dia “dalam keadaan-Nya yang sebenarnya” (1 Yoh 3:2) dari muka ke muka (Bdk. 1 Kor 13:12; Why 22:4).

      “Kami mendefinisikan berkat wewenang apostolik, bahwa menurut penetapan Allah yang umum, jiwa-jiwa semua orang kudus… dan umat beriman yang lain, yang mati sesudah menerima Pembaptisan suci Kristus, kalau mereka memang tidak memerlukan suatu penyucian ketika mereka mati,… atau, kalaupun ada sesuatu yang harus disucikan atau akan disucikan, ketika mereka disucikan setelah mati,… sudah sebelum mereka mengenakan kembali tubuhnya dan sebelum pengadilan umum, sesudah Kenaikan Tuhan dan Penyelamat kita Yesus Kristus ke surga sudah berada dan akan berada di surga, dalam Kerajaan surga dan firdaus surgawi bersama Kristus, sudah bergabung pada persekutuan para malaikat yang kudus, dan sesudah penderitaan dan kematian Tuhan kita Yesus Kristus, jiwa-jiwa ini sudah melihat dan sungguh melihat hakikat ilahi dengan suatu pandangan langsung, dan bahkan dari muka ke muka, tanpa perantaraan makhluk apa pun” (Benediktus XII: DS 1000; bdk. LG 49).

      b. Tentang neraka sebagai keadaan keterpisahan abadi dengan Allah dan ‘tempat’ penghukuman bagi mereka yang menolak Allah.

      KGK 1035    Ajaran Gereja mengatakan bahwa ada neraka, dan bahwa neraka itu berlangsung sampai selama-lamanya. Jiwa orang-orang yang mati dalam keadaan dosa berat, masuk langsung sesudah kematian ke dunia orang mati, di mana mereka mengalami siksa neraka, “api abadi” (Bdk. DS 76; 409; 411; 801; 858; 1002; 1351; 1575; SPF 12). Penderitaan neraka yang paling buruk adalah perpisahan abadi dengan Allah; hanya di dalam Dia manusia dapat menemukan kehidupan dan kebahagiaan, karena untuk itulah ia diciptakan dan itulah yang ia rindukan.

      Maka baik surga maupun neraka adalah pertama- tama sebuah kondisi (keadaan) namun juga suatu ‘tempat’, namun bukan seperti tempat dengan batasan- batasan yang kita kenal sekarang ini.

      2. Kitab Suci baru disusun 1500 tahun yang lalu?

      Yang ditetapkan pada sekitar tahun 380 adalah kanon Kitab Suci, namun Kitab Sucinya sendiri sudah lama sekali dituliskan. Lima kitab pertama Kitab Suci (Pentateuch) adalah yang pertama ditulis, sekitar abad 15 SM (sebelum masehi). Keseluruhan kitab Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani (Septuagint) ditulis pada abad 3-2 SM. Sedangkan untuk Perjanjian Baru, Kitab yang paling pertama ditulis adalah Injil Matius tahun 38-45 (dalam bahasa Aram), kemudian Injil Markus tahun 55-62, Lukas tahun 62 dan Yohanes tahun 85-100 (semua dalam bahasa Yunani). Sedangkan surat- surat para rasul yang pertama ditulis adalah Surat Rasul Paulus yang pertama kepada jemaat di Tesalonika (1 Tes) yaitu pada sekitar akhir tahun 50. (Selanjutnya tentang kebenaran Kitab Suci, silakan klik di sini)

      Kitab Suci Kristiani tidak ditulis oleh satu orang dalam satu bahasa dan dalam satu jaman tertentu. Allah memberikan wahyu Ilahi kepada banyak orang pilihan-Nya, tidak hanya kepada satu orang saja, untuk dituliskan. Justru karena penulisan Alkitab melibatkan banyak orang selama jangka waktu ribuan tahun, maka secara objektif kita melihat campur tangan Allah dalam hal ini. Wahyu Ilahi ini diberikan dalam sejarah manusia, yaitu kepada para nabi dalam Perjanjian Lama, dan selanjutnya diteruskan oleh para rasul dan para muridnya untuk menyampaikan penggenapan Perjanjian Lama dalam diri Kristus dalam Perjanjian Baru. Ini adalah karya Allah yang sangat mengagumkan, dan justru tidak mungkin salah, karena wahyu tersebut tidak tergantung oleh satu orang saja, namun melibatkan banyak orang dari banyak generasi. Bagaimana naskah- naskah kitab yang terpisah satu sama lain yang ditulis oleh orang-orang yang bisa saja tidak saling kenal satu sama lain, karena terpisah oleh jarak dan waktu/ perbedaan generasi, namun yang memberikan inti pengajaran yang sama, yang pada akhirnya menunjuk dan membuka jalan bagi kedatangan Kristus, itulah yang seharusnya membuat kita tertunduk kagum. Betapa indahnya rencana keselamatan Allah yang melibatkan umat-Nya. Keikutsertaan manusia dalam rencana keselamatan Allah ini tidak mengurangi kemuliaan-Nya, namun semakin melipat-gandakannya. Ia membuktikan DiriNya Mahakuasa, karena Ia memampukan manusia yang lemah untuk mengambil bagian dalam rencana Keselamatan-Nya; baik dalam menuliskan, menyebarluaskan dan melestarikan Kitab Suci, dan tentu saja, dalam melaksanakannya, jika manusia mau bekerjasama dengan Dia.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  7. Dear Katolisitas
    Up. Yth. Ibu Inggrid dan pak Stefanus Tay

    Sebegitu banyaknya salinan Perjanjian Baru (13 rb), apakah bisa diartikan semuanya sama…???
    Mohon pencerahan…
    Terima kasih.

    Max.

    [Dari Katolisitas: Silakan membaca terlebih dahulu artikel ini, silakan klik, lihat point 2. Memang ada kemungkinan salinan Perjanjian baru yang mencapai ribuan tersebut tidak sama persis, namun tetap akurat. Tingkat kesesuaian manuskrip- manuskrip asli Perjanjian Baru adalah 99.5 %. Kebanyakan perbedaan adalah dari segi ejaan dan urutan kata. Tidak ada perbedaan yang menyangkut doktrin yang penting yang dapat mengubah doktrin Kristiani].

  8. maaf saya mau bertanya mengapa Alkitab kita umat katolik lebih tebal dari pada alkitab saudara kita umat protestan ? maaf kalau saya salah kolom karena saya ga tau cara untuk memulai pertanyaan, dan maaf kalau hal ini sering di bahas…

    • Shalom Andrian,

      Silakan anda membaca artikel- artikel berikut ini, karena yang anda tanyakan sudah dibahas di sana:

      Perkenalan dengan Kitab Suci, bagian 2, silakan klik, di sana tertulis asal usul Kitab terbentuknya Kitab Suci

      Tentang Kitab- kitab Deuterokanonika, silakan klik di sini.

      Apakah Deuterokanonika tidak termasuk dalam Alkitab?, silakan klik di sini.

      Silakan anda membaca terlebih dahulu link- link di atas, dan jika masih ada pertanyaan, silakan bertanya lagi.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  9. Budi Darmawan Kusumo on

    Syalom pak stef

    Saya juga melihat salah satu artikel dari website ini yang mengatakan bahwa kitab suci perjanjian lama di tulis pada abad ke-3 sebelum masehi. kalau pak stef menuliskan ini bukannya berarti bahwa kertas asli ( abad ke-3 itu ada ), karena untuk mengetahui umur dari suatu kertas harus dilakukan dengan uji karbon yang tentunya memerlukan wujud kertas itu sendiri. kalau hanya dikira – kira saja kok menurut saya kurang otentik ya

    mohon bantuannya. terima kasih dan TUHAN YESUS MEMBERKATI

    • Shalom Budi,

      Terima kasih atas pertanyaannya. Manuskrip Alkitab bukan hanya pada abad ke-3, namun juga ada manuskrip sebelum abad ke-3, bahkan beberapa abad sebelum masehi. Namun, manuskrip-manuskrip tersebut hanyalah merupakan bagian kecil dari Alkitab. Manuskrip yang lebih lengkap ada pada Codex Vaticanus dan Codex Siniatic. Untuk menentukan umur dari manuskrip tersebut memang biasanya menggunakan carbon-14 dating (yang tentu saja memerlukan manuskrip yang akan dianalisa), yang menganalisa kandungan radioaktif karbon pada manuskrip tersebut. Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  10. Maximillian Reinhart on

    Yth. Pak Stefanus

    Aku cuma ingin tau saja, di manakah manuskrip yang disebutkan itu tersimpan hingga saat ini (baca: Codex Sinaiticus dan Codex Vaticanus adalah manuskrip Yunani tertua dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru)..?

    Terima kasih.

    • Shalom Maximillian Reinhart,

      Terima kasih atas pertanyaannya tentang dua codex. Penjelasan tentang Codex Sinaiticus dapat dilihat di sini – silakan klik, dimana dituliskan dapat paragraf 1: “The text which follows, concerning the history of the Codex Sinaiticus, is the fruit of collaboration by the four Institutions that today retain parts of the said Codex: the British Library, the Library of the University of Leipzig, the National Library of Russia in Saint Petersburg, and the Holy Monastery of the God-Trodden Mount Sinai (Saint Catherine’s).” Keterangan tentang Codex Vaticanus dapat dibaca di sini – silakan klik. Codex ini tersimpan dengan baik di Vatican Library, sehingga dinamakan Codex Vaticanus. Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  11. Dear Admin Katolisitas.org,

    Salam sejahtera dan semoga Allah memberikan kebijakannya kepada pengelola Katolisitas.org agar bisa menjawab setiap pertanyaan-pertanyaan yang datang.

    Kali ini saya ingin bertanya mengenai “Kitab Kemuliaan” yang ada di Vatican.

    Pertanyaannya:
    1. Apa isi “Kitab Kemuliaan” tersebut?
    2. Bagaimana sejarah adanya “Kitab Kemuliaan” tersebut?
    3. Bagaimana pandangan gereja Katolik terhadap “Kitab Kemuliaan” tersebut?

    Saya tidak tahu apa-apa mengenai “Kitab Kemuliaan” ini sehingga membuat saya ingin tahu lebih jauh mengenai “Kitab Kemuliaan” ini. Saya mendapatkan sedikit penjelasan dari teman yang katanya “Kitab Kemuliaan” berada dan tertahan di Vatican.

    Demikian pertanyaan saya, yang saya ajukan melalui form ini karena tidak tahu di mana halaman penempatan seharusnya dalam bertanya.

    Bila sudah dijawab, mohon kiranya dapat memberitahukan kepada saya melalui email di mana link halaman jawabannya, sehingga saya tidak mencari-cari Katolisitas.org yang saat ini sudah beratus-ratus halaman atau mungkin ribuan halaman daripada sejak pertama kali saya datang di bulan Desember 2008.

    Syalom,

    jeffreywinmart™

    • Shalom Jeffreywinmart,

      Terima kasih atas pertanyaannya tentang Kitab Kemuliaan. Saya minta maaf, karena saya tidak tahu tentang kitab kemuliaan ini. Kitab kemuliaan yang saya tahu adalah merupakan bagian dari Injil Yohanes, yaitu bab 13-20, yang berbicara tentang masuknya Yesus dalam kemuliaan, yaitu mulai dari kesengsaraan sampai kebangkitan-Nya. Saya juga sudah tanyakan ke Romo Pidyarto, namun beliau juga tidak tahu keberadaan kitab ini. Apakah anda mendapatkan sumber di internet?

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  12. Mohon bantuan untuk beberapa pertanyaan :

    1. Bagaimana kita mengetahui bahwa kitab yang kita pegang sekarang itu sama isinya dengan kitab yang dipegang musa ( panteteuch ) ? karena saya pernah mendengar bahwa tulisan asli perjanjian lama yang kita punya itu hanya sekitar tahun 700 M. karena saya susah mencari keabsahan untuk perjanjian lama
    2.Ada beberapa orang yang mengklaim bahwa dead sea scroll itu untuk mengkonfirmasi kebenaran perjanjian lama, padahal kalau saya baca isinya ( kebetulan saya punya buku hanya tentang dead sea scroll ), saya hanya melihat tentang cerita orang qumran. dan tidak melihat hubungannya dengan perjanjian lama.
    3.bagaimana kita melihat bahwa kebenaran perjanjian lama itu sebagai sesuatu yang bisa kita percayai.
    4.masalah perjanjian baru malah saya lebih bisa dipercaya jauh karena berdasarkan salinannya yang katanya sampai 23000 salinan di perjanjian baru.

    mohon bantuannya saudara stef dan ingrid.

    • Shalom Budi,

      Terima kasih atas pertanyaannya tentang keaslian dari text di Alkitab. Mari kita melihatnya satu-persatu:

      1) "Bagaimana kita mengetahui bahwa kitab yang kita pegang sekarang itu sama isinya dengan kitab yang dipegang musa ( panteteuch ) ? karena saya pernah mendengar bahwa tulisan asli perjanjian lama yang kita punya itu hanya sekitar tahun 700 M. karena saya susah mencari keabsahan untuk perjanjian lama"

      a) Untuk menjawab hal ini, maka ada enam identifikasi manuskrip dari awal sampai saat ini. (diambil dari: H.S. Miller, M.A, General Biblical Introduction from God to us, (Houghton, N.Y: The Word-Bearer Press, 1950), p.178):

      1) Manuskrip yang asli: Manuskrip asli yang dimaksud di sini adalah manuskrip yang ditulis oleh pengarang dari kitab-kitab di dalam Alkitab. Dan sampai sejauh ini, tidak pernah ada manuskip asli yang tertinggal.

      2) Manuskrip kuno (280 SM – 870 M), hanya Perjanjian Lama (280 SM – 200 M) dan PL dan PB (150 M – 870 M): Yang termasuk hanya Perjanjian Lama adalah: The Samaritan Pentateuch (430 SM), Aramaic: The Targums (450 SM), Greek: The Septuagint (300 SM – 200 SM) , Aquila’s Version (120 M), Aquila’s Version (128 M), Theodotion’s Version (180 M), Symmachus’s Version (200 M), Origen’s Hexapha atau Sixfold Version (250 M). Yang termasuk Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru adalah: Syriac (150 M), Latin: Old Latin (150 M), Italic (abad ke-4), Vulgate (383-405), Egyptian or Coptic (250), Ethipic (abad ke-4), Gothic (350), Armenian (400), Gerogian (570), Arabic (abad ke-8), Slavonic (870), Persian.

      3) Kutipan dari para Bapa Gereja (96 – 600): Kutipan ini termasuk dari Clemen of Rome (96), Barnabas (100), Hermas (100), Ignatius (107-115), Polycarp (69-155), Papias (70-155), Didache (100), Justin Martyr (100-165), Irenaeus (120-192), Clement of Alexandria (150-217), Hippolytus (235), Origen (185-254), Dionysius the Great (190-265), Eusebius (270-340), Athanasius (296-373), Cyril of Jerusalem (315-386), Basil the Great (329-379), Chrysostom (347-407), Tertullian (150-220), Cyprian (200-258), Hilary (305-366), Ambrose (340-397), Jerome (340-420), Augustine (354-430), Tatian (170), Aphraates (350), Ephraem Syrus (373).

      4) Salinan manuskrip (250-300 – 1450): Hanya sedikit manuskrip yang memuat seluruh Perjanjian Lama, namun yang memuat sebagian dari Perjanjian Lama ada sekitar 1700. Dan ada sekitar 350 uncial (capital text) dan minuscule (small text) dari Septuagint. Sedangkan untuk Perjanjian Baru ada sekitar 4000 manuskrip Yunani, 8000 manuskrip Latin Vulgate, dan 1000 manuskrip dalam bahasa-bahasa lain, sehingga total ada sekitar 13,000 manuskrip.

      5) Salinan cetak dari teks asli (1477 – 1932): Salinan cetak ini dilakukan setelah mesin cetak ditemukan pada tahun 1450.

      6) Versi modern (1380 – 1901): Versi-versi Alkitab yang kita kenal sekarang dalam berbagai bahasa.

      b) H.S. Miller dalam buku yang sama, hal 184-185 menjabarkan bagaimana di abad-abad awal melakukan salinan manuskrip. Ada dua kelas manuskrip, yaitu Synagogue rolls dan Privite or common. Untuk menuliskan manuskrip Synagogue rolls, yang dipakai dalam bait Allah, maka ada aturan-aturan ketat yang harus diikuti. Aturan-aturan ini dituliskan di dalam Talmud:

      1) Media penulisan harus terbuat dari kulit binatang yang tidak najis, dan harus dipersiapkan oleh seorang Yahudi. Dan kulit binatang yang menjadi media penulisan harus diikat dengan tali yang diambil dari binatang yang tidak najis.

      2) Setiap kolom harus tidak boleh kurang dari 48 dan tidak boleh lebih dari 60 baris. Seluruh salinan harus ada di dalam garis yang telah dipersiapkan sebelumnya. Jika ada tiga kata yang ditulis tidak di dalam garis, maka salinan tersebut tidaklah berharga apapun.

      3) Tinta yang digunakan harus menggunakan warna hitam, yang dibuat dengan bahan-bahan yang telah ditetapkan.

      4) Tidak boleh ada kata maupun huruf yang ditulis berdasarkan ingatan; Penyalin harus mempunyai otentik salinan di depannya dan dia harus membaca dan menyerukan dengan keras setiap kata sebelum menuliskannya.

      5) Penyalin harus secara hormat mengelap alat tulis yang dipakainya sebelum menuliskan kata "Tuhan" dan dia harus membersihkan seluruh tubuhnya sebelum menuliskan kata "Yahweh", karena takut nama yang kudus tercemari.

      6) Aturan-aturan yang keras diberikan mengenai bentuk dari huruf, spasi antar huruf-huruf, kata-kata, dan bagian-bagian, penggunaan alat penulis, dan juga warna dari media penulisan, dll.

      7) Revisi dari sebuah gulungan yang disalin harus dibuat dalam 30 hari setelah pekerjaan selesai; kalau tidak maka salinan tersebut dianggap tidak berharga. Satu kesalahan di satu lembaran, membuat lembaran tersebut tak berguna. Jika ada tiga kesalahan ditemukan di dalam halaman manapun, seluruh salinan tidak berharga.

      8) Setiap kata dan setiap huruf dihitung, dan jika sebuah huruf dihilangkan, atau sebuah huruf ditambahkan, atau jika satu huruf bersinggungan dengan huruf yang lain, manuskrip tersebut tidak berharga dan dihancurkan saat itu juga.

      9) Dan masih begitu banyak lagi peraturan-peraturan ketat yang harus mereka jalankan dalam menyalin manuskrip, yang kadang di telinga kita terdengar tidak masuk akal.

      c) Oleh karena itu, walaupun salinan Perjanjian Lama dalam bahasa Ibrani adalah yang tertua adalah dari tahun 700-1000, tetapi kita tetap yakin akan keaslian dari text tersebut. Ini dapat dilihat dari aturan mereka menyalin manuskrip, dimana mereka percaya bahwa mereka menulis kata-kata yang sakral, sehingga setiap huruf dan kata diperhitungkan.

      2) "Ada beberapa orang yang mengklaim bahwa dead sea scroll itu untuk mengkonfirmasi kebenaran perjanjian lama, padahal kalau saya baca isinya ( kebetulan saya punya buku hanya tentang dead sea scroll ), saya hanya melihat tentang cerita orang qumran. dan tidak melihat hubungannya dengan perjanjian lama."

      a) Dead Sea Scrolls terdiri dari 900 dokumen, yang terdiri dari teks Alkitab dan teks non-Alkitab. Sebagian dokumen tersebut memuat text dari Perjanjian Lama dalam bahasa Ibrani, seperti: Enoch, Tobit, Sirach, dll.

      b) The Oxford Companion to Archeology mengatakan "The biblical manuscripts from Qumran, which include at least fragments from every book of the Old Testament, except perhaps for the Book of Esther, provide a far older cross section of scriptural tradition than that available to scholars before. While some of the Qumran biblical manuscripts are nearly identical to the Masoretic, or traditional, Hebrew text of the Old Testament, some manuscripts of the books of Exodus and Samuel found in Cave Four exhibit dramatic differences in both language and content. In their astonishing range of textual variants, the Qumran biblical discoveries have prompted scholars to reconsider the once-accepted theories of the development of the modern biblical text from only three manuscript families: of the Masoretic text, of the Hebrew original of the Septuagint, and of the Samaritan Pentateuch. It is now becoming increasingly clear that the Old Testament scripture was extremely fluid until its canonization around A.D. 100"

      c) Oleh karena itu, mungkin yang anda baca bukanlah semua dokumen, namun dokumen yang non-Alkitab.

      3) "bagaimana kita melihat bahwa kebenaran perjanjian lama itu sebagai sesuatu yang bisa kita percayai."

      a) Jawaban singkat dari pertanyaan ini adalah karena Gereja Katolik mengatakan demikian. Gereja Katolik yang menetapkan buku-buku mana yang menjadi bagian dari Alkitab, seperti yang kita kenal saat ini, yang terdiri dari 46 PL dan 27 PB, sehingga berjumlah total 73 buku. St. Agustinus berkata "I would not believe in the Gospel myself if the authority of the Catholic Church did not influence me to do so." (Against the letter of Mani, 5,6, 397 A.D.) Dengan demikian, kita dapat mengatakan hal yang sama akan otoritas dari Gereja untuk menentukan buku-buku yang termasuk dalam Perjanjian Lama.

      Hal yang lain adalah membandingkan teks-teks tersebut dengan kutipan dari para Bapa Gereja. Kutipan dari para Bapa Gereja memberikan referensi yang sama akan PL yang kita kenal saat ini.

      b) Gereja melihat Perjanjian Lama sebagai Sabda Allah, yang harus dimengerti dalam terang Perjanjian Baru. Katekismus Gereja Katolik mengatakan:

      KGK, 121. Perjanjian Lama adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari Kitab Suci. Buku-bukunya diilhami secara ilahi dan tetap memiliki nilainya (Bdk. DV 14.) karena Perjanjian Lama tidak pernah dibatalkan.

      KGK, 122. "Tata keselamatan Perjanjian Lama terutama dimaksudkan untuk menyiapkan kedatangan Kristus Penebus seluruh dunia." Meskipun kitab-kitab Perjanjian Lama "juga mencantum hal-hal yang tidak sempurna dan bersifat sementara, kitab-kitab itu memaparkan cara pendidikan ilahi yang sejati. … Kitab-kitab itu mencantum ajaran-ajaran yang luhur tentang Allah serta kebijaksanaan yang menyelamatkan tentang peri hidup manusia, pun juga perbendaharaan doa-doa yang menakjubkan, akhirnya secara terselubung [mereka] mengemban rahasia keselamatan kita" (DV 15).

      KGK, 123. Umat Kristen menghormati Perjanjian Lama sebagai Sabda Allah yang benar. Gereja tetap menolak dengan tegas gagasan untuk menghilangkan Perjanjian Lama, karena Perjanjian Baru sudah menggantikannya [Markionisme].

      4) "masalah perjanjian baru malah saya lebih bisa dipercaya jauh karena berdasarkan salinannya yang katanya sampai 23000 salinan di perjanjian baru."

      a) Tentu saja, karena rentang penulisan dan manuskrip PB yang tersedia tidaklah sejauh rentang penulisan dan manuskrip PL, kita dapat lebih mempercayai salinan yang ada. Namun, dari keterangan di atas, bagaimana salinan di buat, dapat memberikan kepercayaan kepada kita akan keaslian teks yang sampai kepada kita.

      b) Banyakya Salinan Perjanjian baru bukan 23,000 namun sekitar 13,000.

      Demikian keterangan yang dapat saya berikan. Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

  13. Justinus Budi Darmawan Kusumo on

    kalau manuskript tertua bukannya dari dead sea scroll ya untuk perjanjian lama. yang menurut uji karbon ditulis sekitar abad ke 2 – 4 sebelum masehi. karena saya sering mendengar bahwa dead sea scroll itu untuk mengkonfirmasikan kebenaran perjanjian lama kita

    tambahan pertanyaan :
    *Bagaimana kita bisa mengetahui bahwa dari abad ke abad ( mulai perjanjian lama ) kitab yang diturunkan mulai musa sampai dengan kita adalah kitab yang sama ? padahal saya pernah mendengar bahwa tulisan tentang perjanjian lama yang paling tua yang kita punya adalah ditulis sekitar tahun 700M. apakah akan terjadi banyaknya salah penulisan.

    *di bawah ini ada yang menarik tentang artikel dead sea scroll :

    Penemuan arkeologi apa yang paling mempengaruhi Alkitab sepanjang zaman?

    “Mungkin Gulungan-gulungan Laut Mati memberikan pengaruh paling besar pada Alkitab. Gulungan tersebut memberikan manuskrip Perjanjian Lama yang berusia 1000 tahun lebih tua dari manuskrip tertua yang kita miliki sebelumnya. Gulungan-gulungan Laut Mati memperlihatkan bahwa Perjanjian Lama disalin dengan akurat selama selang waktu tersebut. Sebagai tambahan, gulungan tersebut juga memberikan banyak informasi mengenai era menjelang dan selama kedatangan Kristus.”

    Muhammed, yang termuda dari ketiganya, esok paginya bangun terlebih dahulu dari kedua rekannya sesama ‘pencari harta karun’ dan bergegas menuju ke gua. Lantai gua ditutupi serpihan, termasuk dari guci yang pecah. Di sepanjang dinding terdapat sejumlah guci bermulut sempit, sebagian dengan penutup berbentuk mangkok. Dengan cepat Muhammed mulai menjelajahi isi setiap guci tetapi tidak ditemukan emas… hanya ada beberapa bundelan terbungkus kain kehijauan akibat terlalu tua. Setelah kembali kepada saudara-saudaranya, ia menceritakan kabar buruk itu – tidak ada harta karun.

    Memang tidak ada harta karun! Gulungan-gulungan yang diambil anak-anak Bedouin dari gua gelap pada hari itu dan hari-hari selanjutnya akan dikenal sebagai harta karun manuskrip/naskah terbesar yang pernah ditemukan – tujuh naskah pertama dari Gulungan Laut Mati.

    Demikianlah penemuan kelompok naskah yang berumur 1000 tahun lebih tua dari teks Alkitab Ibrani yang dikenal sebelum penemuan itu (banyak diantara naskah tersebut berasal dari masa 100 tahun sebelum kelahiran Yesus). Naskah-naskah ini segera menggemparkan dunia arkeologi yang menyiapkan satu tim penerjemah dengan tugas raksasa yang bahkan hingga hari ini belum terselesaikan.

    Kisah bagaimana gulungan-gulungan tersebut beredar dari tangan para gembala Bedouin muda tersebut sampai menjadi objek penelitian yang saksama dari para ahli internasional sendiri merupakan kisah yang lebih mencengangkan dibandingkan cerita fiksi. Meskipun tidak semua detail dari tahun-tahun pertama setelah penemuan tersebut akan pernah benar-benar terungkap, garis besar ceritanya cukup jelas. Setelah disimpan di sebuah kemah Bedouin beberapa waktu, ketujuh gulungan asli tersebut dijual kepada dua toko antik Arab di Bethlehem. Dari sana, empat gulungan dijual (dengan harga murah) kepada Athanasius Samuel, Syrian Orthodox Metropolitan di St. Mark’s Monastery di Kota Tua Yerusalem. Para ahli dari American School of Oriental Research, yang menelaahnya, adalah yang pertama-tama menyadari kekunoannya. John Trever mengambil foto naskah tersebut secara detil dan ahli arkeologi terkemuka William F. Albright segera mengumumkan bahwa naskah-naskah tersebut berasal dari periode antara 200sM sampai 200M. Pengumuman pertama dimunculkan bahwa naskah tertua yang pernah ditemukan telah ditemukan di padang gurun Yudea.

    Tiga gulungan asli lainnya yang ditemukan oleh anak-anak Bedouin dijual kepada E.L. Sukenik, ahli arkeologi di Hebrew University dan ayah Yigal Yadin (seorang jenderal tentara Israel yang kemudian menjadi seorang ahli arkeologi terkemuka dan penggali situs Masada serta Hazor). Perlu dicatat bahwa drama peristiwa ini sangat menarik karena periode tersebut adalah saat-saat terakhir periode Mandat Inggris di Palestina dan ketegangan antara penduduk Arab dan Palestina sangat besar. Ini juga yang menyebabkan pengkajian naskah-naskah oleh para ahli sangatlah berbahaya.

    Semua gulungan akhirnya terkumpul di Hebrew University dengan cara yang aneh pula. Setelah berkeliling Amerika dengan keempat gulungannya dan tidak menemukan seorang pun pembeli yang tertarik, Metropolitan Samuel memasang iklan di Wall Street Journal (sebuah koran bisnis terkemuka di Amerika, pen.). Secara kebetulan (atau campur tangan ilahi?) Yigal Yadin sedang mengajar di New York dan melihat iklan tersebut. Melalui para makelar, ia berhasil membeli gulungan yang tak ternilai tersebut dengan harga US$250,000. Bulan Februari 1955, Perdana Menteri Israel mengumumkan bahwa Negara Israel telah membeli gulungan-gulungan tersebut dan ketujuh gulungan (termasuk tiga yang dibeli terlebih dahulu oleh Profesor Sukenik) akan diletakkan di sebuah museum khusus di Hebrew University dan diberi nama Shrine of the Book (Kilauan Buku), dimana semuanya masih dapat dilihat sampai hari ini.

    Tidak diragukan lagi, pengumuman awal mengenai gulungan-gulungan ini segera mendorong banyak penelitian di daerah penemuan semula. Ekspedisi arkeologi resmi dimulai tahun 1949 yang akhirnya berhasil menemukan sepuluh gua lagi di daerah sekitarnya yang juga mengandung gulungan-gulungan naskah. Para arkeolog kemudian mengarahkan perhatian mereka pada sebuah reruntuhan kecil yang disebut “Khirbet (reruntuhan) Qumran, yang sebelumnya diduga merupakan sisa sebuah benteng kuno dari zaman Romawi. Setelah enam periode penggalian secara intensif, para ahli sangat yakin bahwa gulungan-gulungan tersebut berasal dari komunitas yang muncul antara tahun 125 sM sampai 68M. Gulungan-gulungan tersebut disimpan dengan tergesa-gesa di dalam gua sewaktu komunitas di daerah tersebut melarikan diri dari serbuan tentara Romawi yang sedang berada di Yudea untuk menumpas Pemberontakan Yahudi tahun 66-70 M.

    Reruntuhan Qumran, yang dapat dikunjungi hari ini, menyingkapkan sejumlah besar asketis Yahudi yang mendiami komunitas tersebut. Ruang penyimpanan, saluran air, pemandian ritual dan ruang pertemuan telah berhasil digali. Salah satu ruangan paling menarik yang telah digali adalah sebuah ruang kitab, dicirikan oleh dua wadah tinta yang ditemukan beserta sejumlah tempat duduk untuk para penyalin kitab. Di ruangan inilah disalin sebagian besar, kalau tidak semua, naskah yang ditemukan.

    Penjelasan Gulungan-gulungan Kitab
    Segera setelah diumumkannya penemuan gulungan-gulungan kitab, debat ilmiah tentang asal usul dan pentingnya penemuan tersebut bergulir. Debat memanas ketika isi gulungan yang menakjubkan tersebut disebarluaskan secara bertahap.

    Ketujuh gulungan asli, yang berasal dari “Gua Pertama”, terdiri dari naskah-naskah berikut: (1) Salinan utuh dan terawat dari seluruh nubuat Yesaya – salinan kitab Perjanjian Lama tertua yang pernah ditemukan; (2) Sebagian gulungan yang berisi kitab Yesaya; (3) Tafsiran dua pasal pertama kitab Habakuk – peanfsir menjelaskan kitab tersebut secara alegoris menurut istilah yang dipakai oleh persekutuan Qumran; (4) “Manual Disiplin” atau “Aturan Komunitas” – sumber informasi paling penting tentang sekte keagamaan di Qumran – menjelaskan persyaratan yang harus dipenuhi oleh mereka yang ingin bergabung dalam persekutuan tersebut; (5) “Himne Ucapan Syukur, suatu kumpulan ‘mazmur’ devosional bagi pengucapan syukur dan pujian kepada Tuhan; (6) sebuah parafrase kitab Kejadian berbahasa Aram; dan (7) “Aturan Perang” yang berisi kisah peperangan antara “Anak-anak Terang” (yaitu orang-orang Qumran) dengan “Anak-anak Kegelapan” (orang-orang Romawi?) yang akan terjadi pada “zaman akhir”, yang diyakini oleh orang-orang Qumran akan segera tiba.

    Ketujuh gulungan pertama tersebut baru merupakan suatu awal. Lebih dari 600 gulungan dan ribuan fragmen (bagian dari kitab/gulungan, penerjemah) telah ditemukan di dalam kesebelas gua di daerah Qumran. Fragmen dari setiap kitab di Alkitab kecuali kitab Ester telah ditemukan, selain teks-teks non-Alkitab lainnya.

    Salah satu penemuan paling menarik adalah sebuah gulungan tembaga yang harus dipotong sebelum dapat dibuka dan mengandung daftar 60 harta karun yang terletak di berbagai lokasi di Yudea (namun satupun belum pernah ada yang ditemukan)! Gulungan lainnya, yang ditemukan oleh para arkeolog Israel pada tahun 1967 di bawah lantai sebuah penjual barang antik di Betlehem, menjelaskan secara detil pandangan komunitas tersebut tentang tata ibadah Bait Suci yang rumit. Gulungan ini diberi nama “Gulungan Bait Suci.”

    Isi gulungan-gulungan Laut Mati memberi indikasi bahwa para penulisnya adalah sekelompok imam dan orang awam yang mengejar kehidupan komunal dengan dedikasi penuh kepada Allah. Pemimpin mereka disebut “Guru Kebenaran”. Mereka memandang diri mereka sebagai satu-satunya Israel yang benar – hanya mereka yang setia kepada Hukum Allah.

    Mereka menentang “Imam Jahat” – Imam Besar Yahudi di Yerusalem yang merepresentasikan kemapanan dan dengan berbagai cara telah menganiaya mereka. Imam jahat ini mungkin adalah salah satu pemimpin Makabe yang secara tidak sah telah mengangkat diri sebagai imam besar antara tahun 150-140 sM. Sebagian besar ahli mengidentifikasikan persekutuan Qumran dengan orang-orang Esseni, suatu sekte Yahudi pada zaman Yesus sebagaimana digambarkan oleh Josephus dan Philo.

    Seperti apapun orang-orang Qumran, tulisan mereka memberikan kita gambaran latar belakang yang mengagumkan tentang salah satu aspek dunia religius yang didatangi Yesus. Sebagian ahli mencoba menarik kesejajaran antara tokoh-tokoh di dalam gulungan tersebut dengan Yohanes Pembaptis atau Yesus, namun penelitian objektif terhadap kesejajaran semacam itu menunjukkan bahwa perbedaannya jauh lebih besar daripada kemiripannya. Setiap hubungan antara Yesus dengan Qumran bersifat spekulatif dan sangat tidak mungkin. Pandangan bahwa Yohanes Pembaptis mungkin menghabiskan sebagian waktunya dengan komunitas Qumran mungkin saja karena kitab-kitab Injil menceritakan bahwa ia menghabiskan banyak waktu di padang gurun dekat dengan daerah dimana komunitas Qumran berada (Matius 3:1-3; Markus 1:4, Lukas 1:80; 3:2-3). Namun demikian, berita yang dibawa Yohanes sangat berbeda dengan konsep yang dikembangkan oleh persekutuan Qumran. Satu-satunya titik kesamaan adalah keduanya mengajarkan bahwa “Kerajaan Allah” sedang datang.

    Salah satu sumbangan penting Gulungan-gulungan Laut Mati adalah banyaknya naskah Alkitab yang ditemukan. Sebelum penemuan Qumran, naskah Perjanjian Lama yang tertua disalin pada abad ke-9 dan 10 Masehi oleh sekelompok penyalin Yahudi yang disebut kaum Masoret. Sekarang kita memiliki naskah-naskah yang berumur 1000 tahun lebih tua dari sebelumnya. Kenyataan yang mengagumkan adalah bahwa naskah-naskah ini hampir identik! Inilah contoh nyata akan perhatian sungguh-sungguh yang diberikan oleh para penyalin Yahudi selama berabad-abad dalam usahanya menyalin Alkitab secara akurat. Kita dapat yakin bahwa Perjanjian Lama benar-benar menggambarkan kata-kata yang diberikan kepada Musa, Daud dan para nabi.

    DOKTRIN GULUNGAN LAUT MATI
    Orang-orang Qumran sungguh-sungguh percaya kepada doktrin “zaman akhir”. Mereka lari ke padang gurun dan menyiapkan diri untuk menghadapi penghakiman yang segera akan tiba ketika musuh-musuh mereka dihancurkan, dan mereka, umat pilihan Allah, akan diberikan kemenangan terakhir sesuai dengan ramalan para nabi. Hubungan dengan kejadian akhir zaman inilah yang memunculkan salah satu pengajaran paling menarik dari sekte ini. Pengharapan mesianis menyebar dalam pemikiran kelompok persekutuan ini. Bahkan bukti-bukti menunjukkan bahwa mereka sesungguhnya percaya akan tiga orang mesias – yang satu seorang nabi, yang kedua seorang imam dan yang ketiga seorang raja atau pangeran.

    Dalam dokumen yang disebut “Manual Disiplin” atau “Aturan Komunitas”, dijelaskan bahwa orang beriman harus terus hidup mengikuti aturan “sampai datangnya seorang nabi dan seorang yang diurapi [mesias] dari garis Harun dan Israel” (kolom 9, baris 11). Ketiga tokoh ini akan muncul untuk menuntun memasuki zaman yang sedang disiapkan oleh komunitas tersebut.

    Dalam dokumen lainnya yang ditemukan di Gua Empat dan dinamakan “Testimonia”, sejumlah ayat Perjanjian Lama dituliskan sebagai basis pengharapan mesianis mereka. Yang pertama adalah kutipan dari Ulangan 18:18-19 dimana Allah berkata kepada Musa:”seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini.” Berikutnya adalah kutipan dari Bilangan 24:15-17, dimana Bileam meramalkan munculnya seorang pangeran penguasa: “bintang terbit dari Yakub, tongkat kerajaan timbul dari Israel, dan meremukkan pelipis-pelipis Moab” dsb. Yang ketiga adalah berkat yang diucapkan oleh Musa kepada suku Lewi (suku imam) di Ulangan 33:8-11. Cara bagaimana ketiga kutipan ini disatukan menandakan bahwa penulisnya melihat kedepan kepada bangkitnya seorang nabi besar, pangeran besar dan imam besar.

    Ada tiga orang di dalam tulisan Perjanjian Lama yang diacu sebagai “orang yang diurapi” – nabi, imam dan raja (lihatlah Kel 29:29; 1 Sam 16:13, 24:6, 1Raj 19:16, Mazmur 105:15). Masing-masing dikuduskan bagi pekerjaannya oleh urapan minyak. Kata Ibrani “yang diurapi” adalah meshiach, dan dari kata itu muncullah kata Mesias.

    Kebenaran mengagumkan dari doktrin Perjanjian Baru tentang Mesias adalah bahwa masing-masing ketiga jabatan ini digenapi dalam pribadi dan karya Yesus dari Nazaret! Orang-orang tercengang ketika Ia memberi makan orang banyak dan berkata, “Dia ini adalah benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia.” (Yoh 6:14; juga Yoh 7:40; Kis 3:22, 7:37). Yesus juga seorang imam, bukan menurut peraturan Lewi tetapi peraturan Melkisedek (Maz 110:4, Ibr 7), yang memberikan Diri-Nya sebagai korban dan berdiri untuk kita di hadapan Bapa-Nya (Ibr 9:24-26; 10:11-12). Juga, Yesus disebut sebagai Seseorang yang akan menerima “takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” (Lukas 1:32-33). Ia akan diakui sebagai “Raja segala raja dan Tuan di atas segala tuan.” (Wahyu 19:16).

    Jadi, kita telah menemukan titik kontak yang menarik antara Qumran dan kekristenan – titik kontak yang juga merupakan titik pemisah. Komunitas Qumran dan orang-orang Kristen awal sepakat bahwa pada hari-hari penggenapan nubuat Perjanjian Lama akan muncul seorang nabi besar, imam besar dan raja besar. Namun ketiganya merupakan tokoh yang berbeda dalam pengharapan Qumran sedangkan Perjanjian Baru memandangnya menyatu dalam pribadi Yesus dari Nazaret.

    Satu naskah lagi yang muncul dalam beberapa tahun terakhir ini memberikan latar belakang yang menarik atas pengharapan mesianis Perjanjian Baru. Naskah ini telah direkonstruksi dari 12 fragmen kecil, menghasilkan tidak lebih dari dua kolom tulisan; namun idenya dapat diketahui dari isinya yang singkat. Isinya adalah ramalan kelahiran seorang Anak Ajaib, yang barangkali diambil dari Yesaya 9:6-7: “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita… dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib.” Anak ini akan menunjukkan tanda-tanda khusus pada tubuh-Nya dan akan dikenal melalui kebijaksanaan dan kepandaiannya. Ia akan mampu mengetahui rahasia semua makhluk hidup dan Ia akan memulai suatu zaman baru yang sudah sejak lama dinantikan oleh orang-orang beriman.

    Tidakkah mengejutkan bahwa segera setelah naskah ini disusun, seorang anak dilahirkan yang menggenapi pengharapan Israel dan memulai suatu zaman baru? Meskipun orang-orang Qumran keliru dalam detil-detil mesias mereka, namun mereka mengharapkan seseorang yang ciri-ciri umumnya diilustrasikan dengan luar biasa dalam hidup Yesus dari Nazaret, Anak Allah dan Mesias. Kita tidak tahu apakah sejumlah orang Kristen membawa pesan Yesus kepada komunitas di gurun ini. Kita hanya bisa berspekulasi bagaimana caranya mereka menanggapi Anak Ajaib yang dilahirkan di Bethlehem yang adalah Nabi, Imam dan Raja Israel.

    –kalau saya melihat penjelasan orang di atas saya tidak melihat adanya “sesuatu yang menggemparkan atau mempengaruhi alkitab sepanjang jaman”.

    *terima kasih atas penjelasan saudara stef atau ingrid untuk membantu saya dalam memahami kebenaran kitab suci secara akurat.

    • Shalom Justinus,

      Terima kasih atas tambahan informasinya. Memang sebagian manuskrip yang tertua untuk Perjanjian Lama dalam bahasa Ibrani / aramaic / Yunani adalah Dead Sea Scroll. Namun, Dead Sea Scroll ini tidak memberikan PL secara lengkap, hanya beberapa kitab. Pertanyaan yang lain telah saya jawab di sini (silakan klik). Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

  14. Lacius Dalius on

    Bagaimana Al Kitab ditulis? Apakah bahasa yang digunakan dalam penulisan Al Kitab pertama dan yang kedua? Bilakah Al Kitab ditulis buat pertama kali? Di manakah Al Kitab yang tertua sekali dan apakah versinya? dan mengapa kita mengatakan Al Kitab itu kita katakan firman/sabda Tuhan sedangkan Al Kitab di tulis oleh manusia?

    [dari katolisitas: silakan melihat jawaban di atas - silakan klik]

    • Shalom Alex,
      Terima kasih atas pertanyaannya. Kalau pertanyaannya kapan ditemukan, maka kita dapat melihat Codex Sinaiticus dan Codex Vaticanus. Codex Sinaiticus dan Codex Vaticanus adalah manuskrip Yunani tertua dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Codex Sinaiticus ditemukan di Gunung Sinai, di biara St. Catherine. Manuskrip ini hampir sama dengan Codex Vaticanus. Kedua-duanya diperkirakan ditulis abad ke-4. Kalau pertanyaannya kapan ditulis, maka ke-empat Injil ditulis dari tahun 38 – 100, di mana Matius tahun 38-60, Markus tahun 55-62, Lukas tahun 62 dan Yohanes tahun 90-100. Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Stef – katolisitas.org

      • Yth Bapak/ Ibu Pengasuh

        Syalom, salam damai semua…

        Saya paham penjelasan komentar kpd sdra. Alex ini, tapi kenapa ada tulisan “Kedua-duanya diperkirakan ditulis abad ke-4″. Pdhl berikutnya mgtakan bhwa rata2 Injil2 itu ditulis di abad ke-1.

        Saya sdg berusaha mencari kebenaran bahwa Injil Matius ditulis tahun 55-60, tapi tdk pernah ketemu sumbernya.

        Apakah mungkin mksdnya angka tahun “55-60″ ini adalah mmg tertulis di dalam Codex Sinaiticus,….. ataukah masih ada sumber lainnya yg menunjukkan angka2 55 s.d 60 di luar Codex tsb, ataupun yg krna diuji karbon ?

        Mohon pencerahannya, Thnx sblmnya. Syalom +

        • Shalom Wenang,

          Kitab Injil asli (original) memang ditulis di abad ke-1. Injil pertama yang ditulis adalah Matius, ditulis sekitar tahun 38-45, tentang hal ini sudah dibahas di sini, silakan klik. Selanjutnya tentang Injil Matius, silakan klik di link ini.

          Nah, memang Kitab Suci Perjanjian Baru tidak sekaligus terbentuk menjadi satu buku. Kitab-kitab itu ditulis oleh para pengarang yang berbeda, dan terpisah selama bertahun-tahun, antara satu pengarang dengan pengarang lainnya. Nah, oleh Gereja perdana, kitab-kitab itu dikumpulkan, lalu disalin dalam manuskrip-manuskrip yang kini dikenal dengan istilah Codex. Oleh karena terjadi penganiayaan Gereja di abad-abad pertama oleh pihak penguasa (dalam hal ini adalah penguasa Romawi, seperti di zaman Diocletian 313 AD), yang diikuti oleh penghancuran kitab-kitab suci, maka sulitlah diperoleh teks/ naskah asli original kitab-kitab itu. Syukurlah, masih ada manuskrip asli/ otentik yang survive, yaitu beberapa salinan manuskrip-manuskrip kuno, yang berasal dari abad 4-5, seperti Codex Vaticanus, Codex Sinaiticus, Codex Alexandrinus, teks Vulgata, dst.

          Silakan juga membaca asal usul kanon Kitab Suci di artikel ini, silakan klik, dan juga jawaban ini, silakan klik.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

Add Comment Register



Leave A Reply