Membandingkan Trinitas dengan trimurti

20

Pertanyaan:

Mohon tanggapannya :

Apa hubungan Hinduisme dengan Kekristenan ?????

Yesus terlahir dalam lingkungan Yahudi. Bahasa yg digunakannya adalah bahasa Ibrani. Tapi kenapa kitab-kitab perjanjian baru (Injil) hampir seluruhnya ditulis dalam bahasa Yunani ?. Seharusnya, kitab-kitab tsb ditulis dalam bahasa Ibrani, karena bahasa inilah bahasa yg digunakan oleh kaum Yahudi, kaum Yesus sendiri. Ini menunjukkan, bahwa agama Kristen, berkembang dalam kebudayaan Yunani. Sedangkan kebudayaan Yunani sangat dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu.

Dyaus dalam bahasa Sanskerta atau Zeus dalam bahasa Yunani, sampai sekarang tetap tidak berubah. Nama ini dioknumkan menjadi Zeus Pater atau Jupiter dalam kepercayaan Yunani, atau Zupitri dalam bahasa Sanskerta, sebagai Tuhan Bapak. Zeus = Dyaus = Theos = Tuhan, sedangkan Pater=Bapak=Pitar.

Dalam Hinduisme, Tuhan dioknumkan sebagai Bapak (Zupitri), yaitu Brahma. Wisnu, yg merupakan oknum kedua adalah Anak Tuhan., yg dapat menjelma menjadi manusia dalam bentuk Krisna dan Rama. Sedangkan Shiwa, adalah Roh Suci. Dari kenyataan ini dapat kita lihat persamaan yg sangat akurat dengan Trinitas.

Dalam Bhagavad Gita (Nyanyian Tuhan), pada ayat ke-14, dalam Kitab yang sama, Krishna bersabda kepada Arjuna :
Karena aku adalah Tuhan
Dalam tubuh ini
Kehidupan abadi
Tak akan musnah
Aku adalah kebenaran
Dan kebahagiaan selama-lamanya

Adakah Anda melihat persamaan makna dgn salah satu ayat dalam Injil…?

Siapakah Krishna….?. Krishna adalah penjelmaan Dewa Wishnu, melalui manusia biasa, Devanaki. Hal ini persis sama dengan dgn Yesus, yg diyakini oleh umat Kristen, sebagai Tuhan, yg dilahirkan oleh perempuan manusia bernama Maria.

Kelahiran Yesus, diriwayatkan sama dengan kelahiran Krishna. Kelahiran Krishna digambarkan dalam Athar Veda, salah satu Kitab Suci Hindu sebagai berikut :

Pada suatu malam, waktu raja Kansa tak dapat tidur, berdirilah baginda diteras istananya, digerakkan oleh suatu kekuatan gaib. Ia melihat bintang bergerak dan sinarnya jatuh ke Bumi. Ia bertanya kepada istrinya, Nysumba (seorang ahli sihir, pemuja Dewi Kali, yaitu dewi kerinduan dan kematian), tapi Nysumba tidak mengetahuinya. Maka dipanggillah Brahmana-Brahmana (Pendeta-Pendeta Hindu), untuk melihat bintang itu dan menceritakan kebenarannya. Pendeta-pendeta Hindu tsb, lalu menceritakan, bahwa itu adalah pertanda turunnya Tuhan ke dalam tubuh manusia yang dikandung oleh Devanaki, anak saudara perempuan baginda raja sendiri. Anak yg dikandung itulah yg akan menjadi Tuhan di dunia, raja dunia.

Bandingkanlah riwayat ini dengan riwayat kelahiran Yesus, dalam Injil Matius, yg ditandai dengan bintang yg cemerlang yg bergerak, dan berhenti diatas tempat dimana Yesus dilahirkan.

Karena riwayat kelahiran Krishna, jauh lebih tua dari riwayat kelahiran Yesus, sedangkan Injil yg berkembang adalah Injil berbahasa Yunani, dimana kebudayaan Yunani sangat dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu, maka apa yg dapat kita simpulkan dari kenyataan ini………?.

Yang dapat kita simpulkan :
Ajaran Trinitas adalah modifikasi dari ajaran Trimurti Hinduisme. Brahma dalam Hinduisme dimodifikasi menjadi Allah Bapa, Wisnu dimodifikasi menjadi Yesus Anak Allah dan Syiwa dimodifikasi menjadi Roh Kudus.
Jadi, ternyata Trinitas = Trimurti

Jawaban:

Shalom Yanto,

Terima kasih atas artikel tentang hubungan antara Hinduisme dan Kekristenan. Artikel ini memang sering beredar di internet. Artikel ini mencoba mengupas dan membandingkan antara paham Tri-Murti (three form) dari agama Hindu dengan Trinitas (Satu Allah dalam tiga pribadi) dari agama Kristen. Argumentasi dari artikel ini dapat disarikan sebagai berikut:

1) Karena Alkitab ditulis dalam bahasa Yunani dan kebudayaan Yunani dipengaruhi oleh agama Hindu, maka Trimurti dari agama Hindu mempengaruhi paham Trinitas dari agama Kristen.

2) Karena agama Hindu lebih tua dari agama Kristen, maka kalau ada kesamaan, agama Kristenlah yang meniru agama Hindu.

3) Kemudian penulis berusaha untuk mengambil beberapa ayat dari Kitab Suci agama Hindu dan mencoba melihat kesamaannya dengan Alkitab, seperti: Brahma sebagai bapa, Wisnu sebagai anak Tuhan, dan Shiwa sebagai Roh Kudus.

Mari sekarang kita membahas argumentasi tersebut satu persatu.

I. Pengaruh Hindu dalam budaya Yunani dan trimurti dalam Trinitas

1) Dikatakan bahwa Alkitab seharusnya ditulis dalam bahasa Ibrani dan bukan Yunani. Mungkin yang dimaksud adalah Alkitab Perjanjian Baru, karena Perjanjian Lama ditulis dalam bahasa Ibrani, dan kita tidak perlu mendiskusikan hal ini. Perjanjian Baru (kecuali Matius) memang ditulis dalam bahasa Yunani, karena memang pada waktu itu, bahasa yang dipakai adalah Aramaic dan Koine Greek (Yunani). Dan bahasa Yunani ini adalah bahasa sehari-hari yang dipakai pada abad-abad awal di seluruh provinsi Roma di mediterania Timur. Dengan demikian kalau Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani tidaklah aneh, karena ditulis dalam bahasa yang dipakai pada waktu itu. Kalau Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Sangsekerta barulah aneh.

2) Dikatakan bahwa Yunani dipengaruhi oleh Hinduisme. Mungkin yang menuliskan hal ini perlu membuktikan dengan bukti-bukti yang memadai sebelum memberikan pernyataan ini. Setahu saya kebudayaan ancient greek lebih tua daripada Hinduism. The Samhitas, salah satu naskah tertua Veda ditulis sekitar 1500-1000 SM, the circum-Vedic dan the redaction of the samhitas ditulis sekitar 1000-500 SM (sumber: silakan klik). Bandingkan dengan kebudayaan Yunani kuno, Helladic, dll., yang sebenarnya lebih tua daripada Hinduism. Dan kalau kita melihat kekristenan, yang telah dipersiapkan dari Perjanjian Lama, maka sebenarnya jaman Abraham lebih tua dari Hinduism, karena Abraham adalah 10 generasi setelah nabi Nuh dan 20 generasi setelah Adam, dan diperkirakan sekitar abad 19 SM.

3) Oleh karena itu, argumentasi yang mengatakan bahwa kebudayaan Hindu mempengaruhi kebudayaan Yunani dan kemudian kebudayaan Yunani mempengaruhi kekristenan, saya pikir tidak dapat dibuktikan. Dari jaman yang sama saja, kita tahu bahwa pada masa sebelum kedatangan Kristus, pada masa Yudas Makabee (sekitar abad 2 SM), orang-orang militan Yahudi bersedia mengorbankan nyawanya demi mempertahankan agama Yahudi, walaupun dipaksa untuk menyembah dewa-dewa orang Yunani. Kalau yang satu jaman saja, dimana kebudayaan Yunani tidak berhasil mempengaruhi peradaban agama Yahudi, apalagi Hinduisme yang terpisah oleh jarak dan waktu yang begitu jauh.

4) Dari fakta sejarah tersebut, tidaklah terbukti pengaruh Hinduism terhadap Yunani dan tidak ada pengaruh Yunani terhadap agama Yahudi, dan apalagi mempengaruhi kekristenan. Mungkin yang dapat didiskusikan adalah bagaimana filosofi Yunani membantu untuk menerangkan misteri iman Kristen. Namun, agama Kristen tidaklah mendasarkan kebenarannya pada filosofi Yunani, sebaliknya filosofi melayani teologi. Agama Kristen bukanlah agama berdasarkan akal budi, namun berdasarkan wahyu Allah (yang juga tidak bertentangan dengan akal budi yang benar), yang dilakukan secara terus-menerus melalui para nabi di Perjanjian Lama, dan mendapatkan kepenuhannya dalam diri Yesus, Allah yang menjelma menjadi manusia.

II. Agama Hindu lebih tua dari agama Kristen.

Argumentasi kedua yang digunakan untuk memojokkan konsep Trinitas adalah dengan mengatakan bahwa karena Agama Hindu lebih tua daripada agama Kristen, dan ada persamaan antara trimurti dan Trinitas, maka konsep agama Hindulah yang benar. Alasan ini sebenarnya tidaklah dapat dipertanggungjawabkan, dengan 2 alasan:

1) Agama Kristen harus dilihat satu kesatuan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Oleh karena itu, sebetulnya Agama Kristen lebih tua dari agama Hindu.

2) Dengan menggunakan analogi yang sama, saya dapat juga mengatakan: karena Kitab Suci agama Kristen lebih tua dari Kitab Suci agama Islam, dan keduanya menyebut tentang Yesus, maka dapat disimpulkan bahwa Yesus, seperti yang disebutkan dalam Kitab Suci agama Kristenlah yang benar dan agama Islam telah memodifikasi Yesus seperti yang dijelaskan di dalam Alkitab agama Kristen. Apakah Yanto dapat menerima argumentasi ini? Saya percaya Yanto tidak mau menerima logika berfikir seperti ini. Dan saya juga tidak dapat menerima argumentasi yang diberikan di atas.

III. Perbedaan antara trimurti dan Trinitas

Mari sekarang kita melihat perbedaaan antara Trimurti dengan Trinitas.

1) Secara prinsip Hinduisme sebenarnya lebih mirip dengan ajaran Pantheism, dimana mempercayai bahwa semua ciptaan adalah mempunyai percikan Ilahi. Kita juga melihat bahwa ada begitu banyak dewa-dewi lain yang disembah selain trimurti di dalam Hinduisme. Di satu sisi, agama Kristen tidak menganggap manusia sebagai percikan Ilahi, namun berpartisipasi dalam Allah. Dan tidak ada dewa-dewi yang disembah, kecuali Allah Trinitas. Dan dari prinsip dasar ini sebenarnya telah membuktikan bahwa tidak ada kemiripan antara Hinduisme dan kekristenan.

2) Sebenarnya kapan mulainya trimurti dapat diperdebatkan. Romo J.P. Arendzen mengatakan bahwa trimurti sendiri bukanlah berasal dari ancient Indian atau agama Aryan (silakan klik), namun merupakan perkembangan lebih lanjut. Wisnu dikatakan sebagai tuhan yang baik, dan Shiwa adalah tuhan yang perusak. Kemudian kedua sekte yang menyembah tuhan yang berbeda ini mencoba mengidentifikasikan tuhan masing-masing dengan tuhan yang absolute, yang disebut Brahma. Dan kemudian berkembang menjadi Brahma sebagai sang pencipta, Wisnu sang pemelihara, dan Shiwa sang perusak. Silakan juga melihat site wikipedia, yang bukan site Katolik, dan juga memuat akan perkembangan dari doktrin tentang trimurti (silakan klik).

Namun, anggaplah bahwa konsep ini merupakan pengajaran sedari awal Hinduisme. Maka pertanyaannya adalah apakah kemiripan antara trimurti dan Trinitas? Sebenarnya kalau kita mempelajari konsep dari trimurti dan Trinitas, maka kita akan melihat perbedaan yang menyolok.

a) Dikatakan bahwa Brahma adalah pencipta, Wisnu pemelihara, dan Shiwa perusak. Bandingkan dengan konsep Trinitas, dimana Allah Bapa adalah pencipta, Allah Putera adalah penebus, dan Allah Putera adalah pengudusan. Appropriation (pembedaan) ini dibuat untuk menangkap ketiga pribadi dari Trinitas, namun penciptaan, penebusan dan pengudusan dilakukan bersama-sama oleh ketiga pribadi Trinitas. Lebih lanjut di dalam Trinitas tidak ada elemen Shiwa atau perusak, namun sebaliknya pengudusan, yaitu Roh Kudus.

b) Trinitas atau satu Allah dalam tiga pribadi adalah merupakan wahyu Allah, yang gambarannya dapat dilihat di dalam Perjanjian Lama, dan mencapai puncaknya dengan Inkarnasi, dimana pribadi ke dua (Allah Putera) masuk ke dalam sejarah manusia, yaitu Yesus Kristus. Dan kedatangan-Nya, keberadaan-Nya dapat dilihat dalam sejarah manusia, dan dicatat dalam sejarah manusia, seperti oleh Yosefus, sejarahwan berkebangsaan Yahudi (lihat Antiquities of the Jews). Silakan membandingkannya dengan keberadaan Wisnu.

c) Umat Kristen mengerti akan kesetaraan antara Allah Bapa, Allah Putera dan Allah Roh Kudus, karena ketiga-Nya adalah satu Allah. Oleh karena itu, penyembahan kepada semua pribadi atau masing-masing pribadi adalah merupakan penyembahan kepada setiap pribadi. Dan hal ini dilakukan secara konsisten sepanjang sejarah kekristenan. Bandingkan dengan pemujaan trimurti. Kita dapat menemukan begitu banyak kuil pemujaan terhadap Wisnu dan Shiwa (mungkin ada sekitar 10,000 kuil pemujaan di India), namun jarang sekali kita menemukan kuil pemujaan terhadap Brahma di India (silakan melihat site ini – silakan klik).

Kesimpulan:

Dengan keterangan di atas, maka membandingkan antara Trinitas dengan trimurti, dengan alasan pengaruh Hinduisme terhadap kebudayaan Yunani adalah tidak terbukti dan bahkan terlalu mengada-ada. Dari sisi sejarah hal ini tidak terbukti dan dari sisi teologis tidak ada kesamaan antara trimurti dan Trinitas. Silakan membaca artikel Trinitas (silakan klik) dan beberapa artikel Kristologi, sehingga Yanto dapat menangkap hakekat Trinitas dan Kristus. Dengan demikian, tidak terjadi kesalahpahaman yang terlalu jauh. Di satu sisi, saya berterima kasih atas kiriman artikel ini, sehingga saya diberi kesempatan untuk memberikan penjelasan lebih lanjut tentang Trinitas.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Share.

About Author

Stefanus Tay telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

20 Comments

  1. Dear Katolisitas,

    Berikut ini adalah tulisan dari saudara kita diluar gereja
    yang bernada menghujat kepada iman kita.

    Mohon diulas secara singkat untuk menjawab mereka dengan
    baik dan lemah lembut

    KRISTEN PAGANISME BERKEDOK AJARAN YESUS

    – Trinitas ini sesungguhnya merupakan adopsi dari agama pagan yang sangat populer pada saat itu, yaitu:
    1. Ajaran Trinitas di Mesir: Iziris, Auzuris, dan Huris.
    2. Ajaran Trinitas di India: Brahma, Wisynu, dan Syiwa.
    3. Ajaran Trinitas di Yunani: Zeus, Poseidon, dan Pedos.
    4. Ajaran Trinitas di Romawi: Jupiter, Nipton, dan Pluton.

    – Hari beribadah dilakukan pada SUN-DAY (minggu)

    – Yesus, Mithra, Osiris, Baachus mati utk Menebus dosa manusia

    – Salib kristen meniru salib mesir yg disebut ‘CRUX ANSATA’

    – Vatikan menggambarkan tuhan bapa amat sangat mirip dgn Zeus

    – Orang-orang Romawi merayakan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran dewa matahari, Natalis Solis Invicti (“Kelahiran Matahari Yang Tak Terkalahkan”), dan pada akhirnya para pendeta pagan romawi yg kelak menjadi pendeta vatikan menetapkan tanggal 25 desember sbg hari kelahiran yesus. Adakah bukti Yesus lahir 25 Desember???

    Yesus terlahir dalam lingkungan Yahudi. Bahasa yg digunakannya adalah bahasa Ibrani. Tapi kenapa kitab-kitab perjanjian baru (Injil) hampir seluruhnya ditulis dalam bahasa Yunani ?. Seharusnya, kitab-kitab tsb ditulis dalam bahasa Ibrani, karena bahasa inilah bahasa yg digunakan oleh kaum Yahudi, kaum Yesus sendiri. Ini menunjukkan, bahwa agama Kristen, berkembang dalam kebudayaan Yunani. Sedangkan kebudayaan Yunani sangat dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu.

    Dyaus dalam bahasa Sanskerta atau Zeus dalam bahasa Yunani, sampai sekarang tetap tidak berubah. Nama ini dioknumkan menjadi Zeus Pater atau Jupiter dalam kepercayaan Yunani, atau Zupitri dalam bahasa Sanskerta, sebagai Tuhan Bapak. Zeus = Dyaus = Theos = Tuhan, sedangkan Pater=Bapak=Pitar.

    Dalam Hinduisme, Tuhan dioknumkan sebagai Bapak (Zupitri), yaitu Brahma. Wisnu, yg merupakan oknum kedua adalah Anak Tuhan., yg dapat menjelma menjadi manusia dalam bentuk Krisna dan Rama. Sedangkan Shiwa, adalah Roh Suci. Dari kenyataan ini dapat kita lihat persamaan yg sangat akurat dengan Trinitas.

    Dalam Bhagavad Gita (Nyanyian Tuhan), pada ayat ke-14, dalam Kitab yang sama, Krishna bersabda kepada Arjuna :

    Karena aku adalah Tuhan
    Dalam tubuh ini
    Kehidupan abadi
    Tak akan musnah
    Aku adalah kebenaran
    Dan kebahagiaan selama-lamanya

    Adakah Anda melihat persamaan makna dgn salah satu ayat dalam Injil…?

    Siapakah Krishna….?. Krishna adalah penjelmaan Dewa Wishnu, melalui manusia biasa, Devanaki. Hal ini persis sama dengan dgn Yesus, yg diyakini oleh umat Kristen, sebagai Tuhan, yg dilahirkan oleh perempuan manusia bernama Maria.

    Kelahiran Yesus, diriwayatkan sama dengan kelahiran Krishna. Kelahiran Krishna digambarkan dalam Athar Veda, salah satu Kitab Suci Hindu sebagai berikut :

    Pada suatu malam, waktu raja Kansa tak dapat tidur, berdirilah baginda diteras istananya, digerakkan oleh suatu kekuatan gaib. Ia melihat bintang bergerak dan sinarnya jatuh ke Bumi. Ia bertanya kepada istrinya, Nysumba (seorang ahli sihir, pemuja Dewi Kali, yaitu dewi kerinduan dan kematian), tapi Nysumba tidak mengetahuinya. Maka dipanggillah Brahmana-Brahmana (Pendeta-Pendeta Hindu), untuk melihat bintang itu dan menceritakan kebenarannya. Pendeta-pendeta Hindu tsb, lalu menceritakan, bahwa itu adalah pertanda turunnya Tuhan ke dalam tubuh manusia yang dikandung oleh Devanaki, anak saudara perempuan baginda raja sendiri. Anak yg dikandung itulah yg akan menjadi Tuhan di dunia, raja dunia.

    Bandingkanlah riwayat ini dengan riwayat kelahiran Yesus, dalam Injil Matius, yg ditandai dengan bintang yg cemerlang yg bergerak, dan berhenti diatas tempat dimana Yesus dilahirkan.

    Karena riwayat kelahiran Krishna, jauh lebih tua dari riwayat kelahiran Yesus, sedangkan Injil yg berkembang adalah Injil berbahasa Yunani, dimana kebudayaan Yunani sangat dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu, maka apa yg dapat kita simpulkan dari kenyataan ini………?.

    Yang dapat kita simpulkan :

    Ajaran Trinitas adalah modifikasi dari ajaran Trimurti Hinduisme. Brahma dalam Hinduisme dimodifikasi menjadi Allah Bapa, Wisnu dimodifikasi menjadi Yesus Anak Allah dan Syiwa dimodifikasi menjadi Roh Kudus.
    Jadi, ternyata Trinitas = Trimurti

    [dari katolisitas: Silakan melihat jawaban di atas – silakan klik]

    • Saya muslim, saya akan komentar atas jawaban stef – http://www.katolisitas.org di atas:
      – Mengapa PB menggunakan bahasa Yunani bukan bahasa Yesus?
      Jawabannya mustinya bukan “aneh kalau menggunakan bahasa Sansekerta”. Berikutnya, apa sebenarnya bahasa Yesus ketika menyampaikan risalah (wahyu, firman Allah)? Apakah Yunani atau apa? Saya browsing di internet menemukan Yesus menggunakan bahasa Aramaik untuk percakapan sehari-hari. Apakah Yesus bisa berbicara Yunani juga? Mungkin, mengingat Palestina berada di bawah kekuasaan Romawi.

      Saya mencoba membayangkan menggunakan cara Al Qur’an disampaikan Nabi Muhammad Saw. Pada saat wahyu turun beliau akan sampaikan kepada para pengikutnya dan memberitahu bahwa ini wahyu, bukan omongannya, lalu para pengikutnya ada yang menghafalkan dan menuliskan. Selain itu tidak boleh dicatat bercampur, harus terpisah.

      Lalu secara periodik beliau meminta para penghafal untuk mengulang hafalannya di hadapan beliau, atau yg tertulis untuk dibacakan kembali di hadapan beliau.

      Muhammad Saw sendiri juga secara periodik dites hafalannya oleh Jibril (Roh Kudus). Saya rasa sebagian/ semua Nabi mengikuti prosedur yg sama seperti ini.

      Nah, karena Taurah, Zabur, dan Injil disebut-sebut di dalam Al Qur’an sebagai Al Kitab maka pasti pernah dinyatakan secara tertulis, dan pasti menggunakan suatu bahasa yang dimengerti kaum Yesus pada saat itu. Jadi bahasa kaumnya pada saat itu menentukan bahasa apa yang digunakan Yesus.

      Seperti diterangkan di dalam Al Qur’an, ketika ditanya mengapa Al Qur’an menggunakan bahasa Arab, karena wahyu harus disampaikan dengan bahasa yg dimengerti dengan jelas oleh kaum di mana Nabi tsb berdakwah ketika itu.
      Masalah universalitas ajaran disampaikan lebih lanjut oleh Al Qur’an bahwa meskipun disampaikan di dalam bahasa Arab namun Al Qur’an adalah untuk seluruh umat manusia.

      Karena ada banyak tulisan (kodeks/ mushaf) “paralel” mengenai ajaran Yesus seperti Markus, Lukas, Matius, Yohanes dan banyak lagi yg disebut aprokifa, yang menurut suatu sumber berjarak puluhan tahun dari masa Yesus “ada”, saya menduga bahwa semua kodeks itu bukan merupakan versi yang ditulis atas pengawasan atau sepengetahuan Yesus.

      Jadi ada suatu jarak antara Yesus dan macam-macam mushaf (kodeks) tersebut. Entah seberapa jauh jaraknya dengan ajaran Yesus.

      – Kemudian, apakah Al Kitab sekarang ini merupakan terjemahan dari versi awal yg ditemukan tersebut? Rupanya tidak. Melalui berbagai jalan panjang, dari Vulgate dan Septuaginta, terus menuju ke KJV, RSV, dan banyak lagi versi.

      Jadi sebenarnya Al Kitab yg dipegang orang Kristen saat ini bukanlah terjemahan langsung dari versi awal di atas. Namun merupakan terjemahan atas terjemahan atas terjemahan lagi dan seterusnya. Apa menerjemahkan yg mana, mungkin kalau digambarkan secara diagramatik lumayan rumit dan amat kompleks.

      Saya agak kesulitan membandingkan dengan yang terjadi di Al Qur’an. Al Qur’an diterjemahkan langsung dari versi berbahasa Arab. Katakanlah ada terjemahan Depag, pasti diterjemahkan dari yg berbahasa Arab tsb. Tidak melanglang buana dari terjemahan bahasa Inggris dulu, lalu ke India, baru ke Indonesia. Semua terjemahan dalam berbagai bahasa langsung dari kodeks Arabnya. Kodeks/ mushaf ini sama di seluruh dunia dan hanya satu versi. (kita tidak membicarakan berapa jumlah penghafal – hafidz – Al Qur’an di seluruh dunia).

      Lalu apakah Al Kitab yg ada saat ini di berbagai negara merupakan terjemahan (interpretasi) saja atau merupakan kompilasi? Maksud kompilasi adalah tidak diterjemakan apa adanya, namun termasuk di dalamnya melakukan perubahan-perubahan dan penyesuaian2 material. Saya kutipkan alasan mengapa demikian,” … Dengan dicoretnya kitab Deuterokanonika dari KJV, maka secara objektif versi KJV yang ada sekarang berbeda dengan kanon Kitab Suci yang telah ditetapkan oleh Gereja Katolik sejak abad ke-4 yaitu oleh Paus Damasus di Sinode Roma (382), dan Konsili Hippo (393) dan Konsili Carthage (397). …”

      Berikutnya, selain masalah campur tangan manusia dalam menentukan ayat-ayat mana yg dihapus dan yg mana dipertahankan, kelihatannya ada persoalan lain yaitu ketepatan terjemahan. Saya kutipkan, ” … Terdapat terjemahan ayat- ayat yang tidak sesuai dengan interpretasi Gereja Katolik. Contoh yang paling jelas adalah misalnya pada ayat Luk 1: 28. Menurut KJV dan banyak versi Protestan sekarang, sapaan malaikat kepada Maria adalah, “Highly favoured” sedangkan menurut Douay- Rheims, sesuai dengan Vugate adalah “full of grace.” Ungkapan ini sangat penting, sebab bagi para Bapa Gereja, ucapan inilah yang mendasari pengajaran mereka bahwa karena kepenuhan rahmat Allah di dalam diri Maria (yang tidak pernah diberikan kepada ciptaan lainnya), maka ia dibebaskan dari dosa asal. Maka, walaupun kata “kecharitomene” yang digunakan berkaitan dengan kata Yunani “charis” / kharisma yang mengundang ‘favor’; sehingga dapat bermakna ganda, “favor” atau “grace”, namun yang lebih tepat terjemahannya di sini adalah ‘grace’. ….. ”

      Di kepala saya, mengapa tidak disalin saja versi Yunani (PB) dan Ibraninya (PL) dan disandingkan dengan terjemahan ke dalam Al Kitab, agar warga Kristen dapat mengakses langsung tanpa harus melalui bapa-bapa gereja? Ditakutkan salah mengerti? Ditakutkan kesulitan belajar bahasa? Menurut saya tidak perlu seperti itu. Muslim saja yg kebanyakan bukan orang terpelajar tidak menjadikan para ulama takut mendistribusikan versi bahasa Arabnya. Persoalan harus belajar bahasa Yunani dan Ibrani ya mau tidak mau dilakukan, mengingat hak setiap orang Kristen mendapatkan akses langsung ke “wahyu ilahi”. Persoalan finansial pasti tidak besar bagi Kristen, mengingat banyak negara Kristen yg kaya dan siap membantu.

      Demikian komentar saya. Mengenai Trimurti = Trinitas belum saya komentari. Terima kasih.

      • Shalom Wong Ageng,

        Terima kasih atas komentar Anda. Berikut ini adalah komentar yang dapat saya berikan.

        Sebenarnya kalau Anda ingin memberikan argumentasi bahwa Alkitab yang ada sekarang (misal edisi Bahasa Indonesia) adalah merupakan terjemahan dari rentetan terjemahan sebelumnya, tidaklah tepat. Alkitab dalam Bahasa Indonesia juga menterjemahkan teks dalam bahasa aslinya, baik Aram, Ibrani maupun Yunani. Dan dalam menterjemahkan memang dituntut untuk dapat setia terhadap teks aslinya. Silakan membaca link ini – silakan klik.

        Masalah terjemahan berbeda dengan masalah deuterokanonika. Gereja Katolik sampai sekarang terus berpegang pada Kitab Suci yang lengkap, seperti yang dapat terlihat dalam sejarah – silakan klik – yaitu yang terdiri dari 46 PL dan 27 PB. Dengan demikian, tidak ada persoalan sama sekali dari Gereja Katolik.

        Tentang terjemahan ayat-ayat di dalam Kitab Suci, maka sesungguhnya, Gereja Katolik tidak hanya berpegang pada Kitab Suci saja. Gereja Katolik melihat juga Tradisi Suci, yaitu pengajaran lisan (yang tentunya juga tertulis. Lisan hanya untuk membedakan dengan Kitab Suci). Pengajaran lisan ini bersumber pada pengajaran para rasul, yang diturunkan kepada murid-muridnya. Dengan demikian, pada waktu menentukan ayat-ayat tersebut dalam kaitannya dengan dogma, maka Gereja Katolik melihatnya dalam konteks keseluruhan, baik yang ditulis dalam Kitab Suci, Tradisi Suci, maupun juga Magisterium Gereja. Dengan demikian, bagi umat Katolik sangat mudah untuk mengerti bagaimana menginterpretasikan Kitab Suci. Zaman sekarang, semua orang juga punya akses untuk membaca Kitab Suci dalam bahasa aslinya. Silakan Anda google saja dan banyak sekali program Alkitab yang menyediakan fasilitas ini. Semoga dapat memperjelas.

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        stef – katolisitas.org

  2. Yang perlu kita perhatikan adanya persamaan Hindu atau pemuja manusia lainnya dengan Kristen, itu sudah cukup membuktikan kalau Iman Kristen di bangun di atas kepercayaan yang sudah ada pada waktu itu.. Ini benar-benar mengerikan..

    Kenapa iman Kristen tidak ada bedanya dengan pemuja manusia lainnya kalau memang benar Iman Kristen itu dari Tuhan? Apa Tuhan ingin menyatakan kalau menyembah manusia itu boleh-boleh saja?

    Kalau nyembah manusia itu tidak boleh, maka berarti nyembah Yesus-pun tidak boleh.
    Tapi rupanya tuhan Kristen berlaku tidak adil.. Dia hanya membolehkan nyembah Yesus saja.. padahal Yesus dan Krishna sama-sama manusianya..

    • Shalom Trimurti,

      Sayang, walaupun artikel di atas telah mencoba membuktikan perbedaan konsep Trimurti dan Trinitas, seolah-olah Anda tidak baca dan langsung memberikan tanggapan. Kalau Anda benar-benar mau berdiskusi tentang Trinitas, silakan membaca artikel di atas terlebih dahulu – silakan klik dan juga beberapa artikel tentang Trinitas – silakan klik. Sebenarnya argumentasi yang Anda berikan berakar pada satu hal, apakah Yesus sungguh Allah dan sungguh manusia seperti yang agama Kristen percayai atau Yesus hanya manusia biasa seperti yang Anda percayai. Jadi, menurut saya, akan lebih baik kalau Anda secara langsung membuktikan bahwa Yesus hanya manusia saja dan bukan Tuhan. Untuk itu, silakan membaca beberapa artikel kristologi ini – silakan klik. Dengan membaca secara sungguh-sungguh beberapa artikel tersebut, maka Anda dapat memberikan argumentasi yang lebih mendalam dan bukan merupakan pengulangan. Tidak menjadi masalah kalau kita mempunyai pandangan yang berbeda, namun minimal Anda dapat membaca terlebih dahulu pandangan dari teman diskusi Anda. Semoga hal ini dapat dimengerti.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

    • bukan yesusna yg di sembah tapi roh kudus yang ada padanya.roh kudus adalah Allah itu sendiri semua dalam satukesatuan ya itu Allah.
      itu yang aq tau^^

      • Shalom Duma,

        Sejujurnya, pernyataan Anda itu tidak sepenuhnya sesuai dengan ajaran Kitab Suci. Sebab Kitab Suci jelas mengatakan bahwa Yesus dan Allah Bapa adalah satu (Yoh 10:30). Kitab Suci mencatat, bahwa sebelum kenaikan Yesus ke surga, para murid-Nya menyembah-Nya (lih. Mat 28:17). Tidak disebutkan di sana bahwa yang disembah adalah Roh Kudus di dalam diri Yesus.

        Dalam ayat lainnya, dikatakan, “…. supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi.” (Flp 2:10).

        Maka, Anda benar bahwa Roh Kudus itu adalah Allah sendiri, dan bahwa ketiga Pribadi Allah (Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus) itu ada dalam kesatuan, maka umat Kristiani menyembah Allah Trinitas itu. Jika dikatakan bahwa kita menyembah Allah Bapa, artinya kita menyembah Bapa dalam kesatuan dengan Putera dan Roh Kudus. Jika dikatakan bahwa kita menyembah Yesus Putera Allah, artinya kita menyembah Yesus dalam kesatuan dengan Allah Bapa dan Roh Kudus. Dan jika kita katakan kita menyembah Roh Kudus, artinya kita menyembah Roh Kudus dalam kesatuan dengan Allah Bapa dan Putera-Nya Yesus Kristus.

        Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
        Ingrid Listiati- katolisitas.org

  3. armand setiady liwan on

    Terima kasih banyak admin katolisitas yang luar biasa, menjawab hampir semua tanda tanya besar ada penjelasannya yang memuaskan. Satu hal yang ingin saya tanyakan, menurut info teman saya yang hindu katanya orang-orang beragama hindu walau banyak yang sesat dalam menjalankan agamanya (penyembahan berhala) tetapi Tuhan tetap berkenan kepada mereka melihat ketulusan hati umat hindu dalam menjalankan agamanya yang walau salah tetapi merupakan tradisi dari umat terdahulu yang terlebih dahulu menjadikannya keliru, hal yang sama juga diceritakan teman saya yg kristen protestan bahwa pernah ada pendetanya yang mengatakan demikian karena orang bali tulus dalam menjalankan agamany yang walau sering disalahartikan sampai generasi sekarang? Dan ada juga yang mengatakan bahwa hindu yang palig benar karena tidak hanya mengasihi sesama manusia, tapi juga hewan dan tumbuhan?dengan tidak menjadikan hewan makanan contohnya vegetarian, tetapi kan vegetarian ttettap saja memakan tumbuhan?

    • Shalom Armand,

      Menjadi kewajiban bagi semua orang untuk benar-benar mempelajari imannya, sehingga benar-benar dapat sampai kepada kebenaran. Tentu saja latar belakang seseorang dapat berpengaruh di dalam pencarian kebenaran. Namun, apapun latar belakang seseorang, maka kita harus percaya akan kekuatan kebenaran, yang akan membebaskan kita (lih. Yoh 8:32). Di satu sisi, menjadi pokok iman kita bahwa Yesus adalah jalan, kebenaran dan hidup (lih. Yoh 14:6) dan tanpa iman tidak ada seorangpun yang menyenangkan Allah (lih. Ibr 11:6), serta Gereja sendiri menjadi sakramen keselamatan bagi seluruh umat manusia. Dengan demikian, menjadi sangat sulit bagi kita untuk mengatakan dengan pasti bahwa orang yang menjalankan agama Hindu pasti masuk Sorga. Kita hanya dapat mengatakan, bahwa selama orang tersebut karena bukan kesalahannya sendiri namun tidak sampai pada kebenaran akan Kristus dan Gereja-Nya, mempunyai iman dan kasih yang bersifat adi kodrati, maka dia dapat diselamatkan (lih. LG 16). Silakan membaca diskusi ini – silakan klik. Tentang vegetarian, silakan melihat diskusi ini – silakan klik. Semoga dapat memperjelas.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  4. Yth. katolisitas.org

    Saya masih bingung dengan konsep paganisme dan sinkretisme. Saya sudah membaca link tentangnya. Tapi, jujur. Iman saya goyah ketika saya membaca cerita dari Kitab Iliad dan Odyssey yang mengusahkan peran para dewa dalam kehidupan manusia di Yunani Kuno, juga tentang Perang Troy yang mengisahkan tentang perang antara bangsa Yunani dan Troya. Perang itu sendiri adalah peristiwa sejarah yang dapat dipercaya kenyataannya. Lalu, saya berpikir, apakah para dewa itu “pembantu Allah”? Karena tugas mereka berbeda-beda. Bagaimana dengan Dewi Hera, Pallas Athena, Poseidon, Hades yang menguasai istana kematian, dan juga adanya konsep Punakawan dalam Kejawen? Kata teman saya yang, dia mengaku bisa lepas raga, Punakawan dan dewa-dewa itu ada. Tapi tinggal di tingkat ke sekian di surga yang katanya punya tujuh tingkat. Karena bagaimanapun juga, semua kepercayaan itu amat kuat tumbuh dalam masyarakat di negara kita maupun di tempat lain. Saya jadi meragukan keberadaan Allah yang tunggal dan Yesus yang pernah hadir di dunia. Saya amat terganggu dengan semua itu. Maklum, saya hanya manusia yang punya rasa ingin tahu yang begitu besar. Sejarah mencatat begitu banyak hal dan karenanya sering menimbulkan kebingungan di antara kita yang tidak hidup pada zaman itu. Saya takut akan terjebak dalam pemikiran politheisme. Soalnya Zeus itu amat dipercaya, dan bagaimana dengan tokoh-tokoh perang Troy yang merasa dibantu oleh para Dewa bahkan melihat wujud mereka. Apakah Tuhan memberikan :kekuasaan sementara” pada para dewa itu?

    Mohon Penjelasannya. Karena saya amat terganggu dengan semua itu. Saya sudah membaca banyak link yang berkaitan dengan hal tersebut tapi saya masih belum mengerti sejelas-jelasnya. Karena hanya dibahas sekilas tentang dewa-dewa. Bagaimana Gereja Katolik menganggapi semua itu?

    Mohon Bantuannya.
    Syalom,
    Anonymus

    Mitologi Yunani/Pembalasan Zeus
    Saya pernah membaca cerita ini dari wikipedia:

    Rea memberikan bungkusan berisi batu pada Kronos.
    Kronos menjadi penguasa dunia dan menikahi saudarinya, Rea. Sementara Okeanos menjadi penguasa lautan dan Hiperion sebagai dewa matahari. Pada masa pemerintahan Kronos, manusia mengalami Zaman Emas, sebuah masa yang paling membahagiakan bagi manusia karena tidak ada penderitaan di dunia. Tetapi Kronos tidak membebaskan para Kiklops dan Hekatonkhire yang oleh ayahnya dikurung di Tartaros padahal mereka adalah alasan baginya untuk mengambil alih kekuasaan dari ayahnya, dia malah menyuruh monster Kampe untuk menjaga mereka agar tidak kabur. Hal ini membuat Gaia marah dan menyatakan bahwa Kronos suatu saat akan dikalahkan oleh anaknya. Ramalan ini ikut memperkuat kutukan Uranus.
    Kronos memerintah selama berabad-abad dan memiliki beberapa anak. Tetapi Kronos takut suatu saat kutukan Uranus dan ramalan Gaia akan menjadi kenyataan sehingga dia langsung menelan semua bayi yang dilahirkan oleh Rea. Rea, yang marah karena semua anak-anaknya harus ditelan oleh suaminya, akhirnya berusaha melakukan perlawanan. Ketika akan melahirkan anaknya yang keenam, Rea pergi ke sebuah gua di Kreta dan melahirkan di sana. Rea lalu membungkus sebongkah batu dengan kain dan memberikannya pada Kronos. Kronos yang tidak menyadari tipuan Rea akhirnya menelan batu itu sementara bayi yang diberi nama Zeus itu diasuh oleh para nimfa di Kreta.
    Bayi Zeus tumbuh dengan meminum susu Amaltheia, seekor kambing. Di kemudian hari, Zeus membalas kebaikan Amaltheia dengan menempatkannya di angkasa sebagai rasi bintang Capricorn. Selain itu ada juga para Kuretes, mereka adalah sekumpulan prajurit penari yang ikut membantu menyembunyikan Zeus dari Kronos. Ketika Zeus sedang menangis, para Kuretes langsung membuat keributan dengan cara bernyanyi, menari, dan memukulkan tombak pada perisai mereka supaya Kronos tidak mendengar tangisan Zeus.
    Setelah dewasa, Zeus menikahi Metis, Titan kebijaksanaan dan kepandaian. Zeus juga berusaha mencari cara untuk membalas perbuatan ayahnya. Dia berkonsultasi pada Metis. Metis membuat suatu minuman ajaib yang telah diisi dengan ramuan dari Gaia dan menyuruh Zeus memberikannya pada Kronos. Sementara itu, Rea meyakinkan Kronos untuk menerima kembali Zeus sebagai pembawa minum bagi Kronos. Kronos setuju dan Zeus pun akhirnya memperoleh kesempatannya. Zeus memberikan minuman buatan Metis pada Kronos. Kronos meminumnya dan seketika itu juga Kronos memuntahkan semua anak-anak yang telah ditelannya. Kronos memuntahkan Poseidon, Hades, Hera, Demeter, dan yang terakhir Hestia. Mereka adalah dewa sehingga tetap hidup walau sudah ditelan.
    Zeus, bersama saudara-saudaranya, kemudian menyatakan perang pada Kronos dan para Titan, sebuah perang yang disebut Titanomakhia dan akan berlangsung selama sepuluh tahun.

    Ada juga cerita mengenai Romulus dan Remus cucu Zeus, pendiri Kota Roma. Apakah semua itu nyata?
    Saya sangat bingung tetapi saya juga percaya itu nyata. Bagaimana dengan kedatangan Yesus, apakah sama halnya seperti mengambil alih peran para dewa. ia memang lebih tinggi dari segalanya, tetapi saya bingung, itu bagaimana ceritanya? Kalau Yunani dan Romawi menyembah dewa dan mereka bisa berhasil, berarti dewa itu nyata? Bagaimana dengan Tuhan? Saya amat bingung. Apa tanggapan Gereja Katolik mengenai hal ini? Saya malah jadi ragu tentang Allah dan putranya. Apa yang harus saya lakukan?

    Mohon Bantuannya. Saya amat membutuhkan penjelasan rohani yang terpercaya. Terima Kasih.

    • Romo Yohanes Dwi Harsanto, Pr. on

      Salam Anonymous
      Ketika di Seminari Menengah, kami dulu mempelajari dan membaca kisah-kisah Yunani dan Romawi. Sangat menarik serta inspiratif. Juga kisah-kisah pewayangan Jawa, Bali, Sunda sampai Mahabarata dan Ramayana yang asli India. Kisah folkor Nusantara sangat kaya. Dewa-Dewa Yunani serta Kisah Punakawan dalam dunia pewayangan Jawa bisa disejajarkan dengan tokoh-tokoh fiktif oleh para novelis modern. Anda pun bisa saja menghadirkan dalam imajinasi Anda, kisah dan tokoh fiktif untuk Novel Anda sendiri. Namun tokoh-tokoh iman kita, apalagi Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus ialah pribadi Allah yang hidup, yang secara realitas menyejarah. Yesus Kristus yang hidup itu bukanlah tokoh fiktif. Kenyataan ini diimani dan dijamin oleh Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik yang Ia dirikan. Allah kita ialah Allah yang hidup, bukan tokoh fiktif. Kenyataan ini merupakan kenyataan iman, bukan fiksi.
      Kalau pun ada orang mengaku bertemu seorang punakawan misalnya Gareng, maka kemungkinan besar secara psikologis di alam selain sadarnya, terbenam kenangan masa kecil yang kuat mengenai tokoh wayang ini. Saya penggemar wayang kulit sejak kecil. Saya pun kadang mimpi nonton wayang. Tetapi saya realitas imaginer sangat lain dari realitas iman. Saya tak mungkin beriman kepada Gareng. Saya hanya merasa lucu dan jengkel saja akan perangai tokoh imajiner Gareng punakawan, namun tak bisa saya mengimaninya. Saya hanya bisa mengimani pribadi yang hidup yaitu Kristus, penentu hidup mati saya. Silahkan berimajinasi sebebas-bebasnya. Namun itu semua tak akan bisa mengubah realitas iman akan penebusan melalui Kristus. Sehebat-hebatnya para dewa dalam imaginasi pencipta kisah wayang dan kisah Yunani, tak kan ada yang berani mengatakan: “Akulah jalan, kebenaran dan hidup”… “Di luar Aku kamu tidak berbuat apa-apa”, “Untuk apa kamu mendapatkan seluruh dunia, namun kehilangan nyawamu sendiri” … “Aku mengasihi kamu”… Hanya Allah Bapa melalui Kristus dalam Roh Kudus-lah yang bisa melakukannya untuk kita. Imajinasi manusia hendaknya membantu kita beriman, namun imajinasi itu bukanlah tujuan. Percayalah bahwa Gareng Petruk Bagong, Dewa Guru (Batara Guru), Dewa Andini, Dewa Hermes, Dewi Hera, dll itu tidak ada dalam realitas sejarah. Itu tokoh-tokoh fiktif sastra ciptaan akal pengarang. Majapahit pernah ada. Namun orang bisa mengisahkan roman mengenai Majapahit dengan berbagai versinya dengan tokoh-tokoh rekaan buatan si pengarang. Itu disebut Novel sejarah, yaitu novel fiktif yang disusun berdasar sejarah nyata. Namun novelnya sendiri tetap fiktif. Anda bisa saja membuat novel dengan latar belakang sejarah tertentu yang nyata. Kisah kasih romantisme, peperangan kekejaman, pengkhianatan dll berdasarkan latar belakang kerajaan tertentu di Jawa misalnya. Banyak sekali novel dan karya hikayat jenis ini. Termasuk kisah peperangan zaman Yunani, Romawi yang dibuat novel dengan segala imajinasi akan dewa-dewanya. SIlahkan. Itu kemerdekaan imajinasi. Mosok Anda mau mempercayai imajinasi Anda sendiri? Mosok Anda mau mengimani imajinasi orang zaman itu? Kalau pun Anda percaya, maka silahkan pula, tetapi pasti tidak akan ada damai sejahtera. Karena Anda percaya pada hasil imajinasi orang, bukan pada pribadi yang hidup.

      Salam: Y Dwi Harsanto Pr

  5. Pak Steph dan bu Ingrid, selamat tahun baru semoga sejahtera dan selalu diberkati. Mohon tanggapannya atas artikel dibawah ini, yang diajukan seorang teman di wilayah kami. Thx sebelumnya.

    MANY people view the Trinity as “the central doctrine of the Christian religion.” According to this teaching, the Father, Son, and holy spirit are three persons in one God. Cardinal John O’Connor stated about the Trinity: “We know that it is a very profound mystery, which we don’t begin to understand.” Why is the Trinity so difficult to understand?

    The Illustrated Bible Dictionary gives one reason. Speaking of the Trinity, this publication admits: “It is not a biblical doctrine in the sense that any formulation of it can be found in the Bible.” Because the Trinity is “not a biblical doctrine,” Trinitarians have been desperately looking for Bible texts—even twisting them—to find support for their teaching.
    A Text That Teaches the Trinity?

    One example of a Bible verse that is often misused is John 1:1. In the King James Version , that verse reads: “In the beginning was the Word, and the Word was with God [Greek, ton the·on′], and the Word was God [the·os′].” This verse contains two forms of the Greek noun the·os′ (god). The first is preceded by ton (the), a form of the Greek definite article, and in this case the word the·on′ refers to Almighty God. In the second instance, however, the·os′ has no definite article. Was the article mistakenly left out?

    Why is the Trinity doctrine so difficult to understand?

    The Gospel of John was written in Koine, or common Greek, which has specific rules regarding the use of the definite article. Bible scholar A. T. Robertson recognizes that if both subject and predicate have articles, “both are definite, treated as identical, one and the same, and interchangeable.” Robertson considers as an example Matthew 13:38, which reads: “The field [Greek, ho a·gros′] is the world [Greek, ho ko′smos].” The grammar enables us to understand that the world is also the field.

    What, though, if the subject has a definite article but the predicate does not, as in John 1:1? Citing that verse as an example, scholar James Allen Hewett emphasizes: “In such a construction the subject and predicate are not the same, equal, identical, or anything of the sort.”

    To illustrate, Hewett uses 1 John 1:5, which says: “God is light.” In Greek, “God” is ho the·os′ and therefore has a definite article. But phos for “light” is not preceded by any article. Hewett points out: “One can always . . . say of God He is characterized by light; one cannot always say of light that it is God.” Similar examples are found at John 4:24, “God is a Spirit,” and at 1 John 4:16, “God is love.” In both of these verses, the subjects have definite articles but the predicates, “Spirit” and “love,” do not. So the subjects and predicates are not interchangeable. These verses cannot mean that “Spirit is God” or “love is God.”
    Identity of “the Word”?

    Many Greek scholars and Bible translators acknowledge that John 1:1 highlights, not the identity, but a quality of “the Word.” Says Bible translator William Barclay: “Because [the apostle John] has no definite article in front of theos it becomes a description . . . John is not here identifying the Word with God. To put it very simply, he does not say that Jesus was God.” Scholar Jason David BeDuhn likewise says: “In Greek, if you leave off the article from theos in a sentence like the one in John 1:1c, then your readers will assume you mean ‘a god.’ . . . Its absence makes theos quite different than the definite ho theos, as different as ‘a god’ is from ‘God’ in English.” BeDuhn adds: “In John 1:1, the Word is not the one-and-only God, but is a god, or divine being.” Or to put it in the words of Joseph Henry Thayer, a scholar who worked on the American Standard Version: “The Logos [or, Word] was divine, not the divine Being himself.”

    Jesus made a clear distinction between him and his Father

    Does the identity of God have to be “a very profound mystery”? It did not seem so to Jesus. In his prayer to his Father, Jesus made a clear distinction between him and his Father when he said: “This means everlasting life, their taking in knowledge of you, the only true God, and of the one whom you sent forth, Jesus Christ.” (John 17:3) If we believe Jesus and understand the plain teaching of the Bible, we will respect him as the divine Son of God that he is. We will also worship Jehovah as “the only true God.”

    [dari katolisitas: silakan melihat jawaban ini – silakan klik.]

  6. kuat sekali dugaan bahwa agama kristen sebenarnya bkn menyembah tuhan yg disebut yesus.. tapi menyembah matahari.. agama kristen adalah modifikasi dari agama paganisme… awalnya dari mesir.lebih dari itu adalah banyak persamaan sosok yesus dengan tokoh sebelum yesus datang yaitu horus dr mesir,krishna dr india,mitra dr persia dan dyonisus dari yunani.anda bisa memeriksa cacatan sejarah yang meski tidak terlalu lengkap tapi sejarah mereka sepertinya masih lebih lengkap daripada sejarah yesus sendiri yg tidak terlalu jelas keberadaannya.

  7. Hi semua

    Menurut sepengetahuan saya Trinity tidak sama dengan Trimurti, walupun tidak bisa dipungkiri ada kemiripan2, dalam konsep2 dasar bagaimana kedua konsep ini menerangkan ‘tuhan’nya masing2, sebagian penjelasan kemiripan bisa dijelakan diatas. Bagi kita yang katolik sudah jelas selain Holy Trinity?AllahTritinggal Mahakudus itu hanya ‘Gods of the legend’. Namun ada hal2 ‘beda’ yang tidak bisa disamakan, contoh: syiwa : dewa penghancur/destruction god , jelas2 tidak bisa disamakan sama sekali dengan tritunggal ketiga(roh kudus) yg ada di kristiani, bisa dibilang malah konsep ‘syiwa’ itu lebih mirip konsep ‘setan/lucifer’ di kekeristenan ( mahlluk dengan god-like power yang jahat/suka merusak), syiwaw justru lebih menjadi momok/ketakutan bagi umat hindu (contoh : kalu tidak beri sesajen , syiwa akan marah & membawa petaka, dsb2… sanga berbeda dengan penjelana tentang roh kudus & lainnya).
    Walau brahma & wishnu mungkin ada kemiripan lebih banyak, namun menurut saya itu hanya merupakan perlambangan dari ‘kerinduan manusia nenek moyang hindu awal’ terhada konsep2 kebaikan. Di dokumen gereja ada yang menulis bahwa alah menaruh ‘kerinduan’ di hati setiap manusia (termasuk nenek moyang hindu awal) tentang keberadaan sifat2 tuhan yang ‘baik2′ spt itu.

    Kalu mengenai ‘tuanya’ tradisi, kalau mau ‘strict’ sih yg paling tua itu justru mesir, hidnu ndak ada apa2nya dibandingkan mesir.. sekan dari saya.. jadi trinity tidak sama dengan trimuirti, walua ada kemiripan2 yang bsia dijadikan jembatan untuk menerangkan konsep.. tapi tetap beda..

  8. frank tasada on

    Saya minta penjelasan dan contoh dari Allah tri tunggal, yg biasa dijelaskan adalah dengan contoh matahari yaitu sinar, panas dan matahari merupakan satu kesatuan atau contoh rokok, tapi buat saya contoh2 tsb kok kurang pas.
    Menurut saya bapa dan putra tetap ada bedanya, contohnya waktu putra ditanya kapan kiamat ( saya tdk ingat ayat nya ) dia jawab hanya bapak yg tau.
    Saya sedang baca buku Misquoting Jesus oleh Bart D.Ehrman, benar ga bahwa banyak sekali isi alkitab yg direkayasa oleh manusia, dan banyak sekali isi alkitab yg saling bertentangan antara injil yg satu dgn yg lainnya.
    Thanks and GBU

    • Shalom Frank,
      Saya dan Stef pernah menuliskan tentang Trinitas di artikel ini: Trinitas, satu Tuhan dalam tiga Pribadi, silakan klik. Silakan Frank membacanya dahulu, siapa tahu sudah menjawab pertanyaan anda. Kami setuju bahwa penjelasan seperti sinar matahari dan matahari atau rokok atau kopi susu dan segitiga semuanya kurang pas untuk menjelaskan Trinitas. Dan tidak seharusnya kita menjelaskan misteri Allah dengan hanya memberikan contoh-contoh seperti demikian.
      Jika mau memberikan contoh, mungkin ada baiknya kita mengikuti pengajaran St. Agustinus, yang juga sudah pernah saya tuliskan di sini, silakan klik. Walau demikian St. Agustinus sendiri mengakui contoh seperti apapun tidak ada yang bisa sempurna menggambarkan Trinitas tersebut, justru karena kita dan segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah sesuatu yang terbatas, sedangkan Tuhan itu tidak terbatas, sehingga memang tidak ada contoh di dunia ini yang bisa sepadan menggambarkan hakekat Allah.

      Maka dalam Pribadi Trinitas ini, memang Yesus itu satu dengan Bapa, namun juga tidak sama persis/ ‘tercampur aduk’ dengan Pribadi Allah Bapa. Lalu bagaimana mengartikan ayat “Putra tidak tahu hari dan saatnya akhir jaman” ini juga sudah pernah saya tuliskan di sini, silakan klik. Atau bahkan kalau Frank tertarik membaca tanya jawab yang panjang sehubungan dengan topik ini, silakan juga membaca artikel ini, yaitu Yesus sungguh Allah, sungguh manusia, silakan klik.

      Mengenai buku Misquoting Jesus, itu adalah buku yang berdasarkan pandangan pribadi berdasarkan textual criticism, yang banyak memperhitungkan tulisan teks di jaman Desiderius Erasmus di abad ke 15. Memang harus diakui bahwa terdapat beberapa kesalahan dalam penyalinan Kitab Suci, karena faktor manusia yang menyalin, tetapi kesalahan itu sebenarnya sangat insignifikan karena umumnya hanya kesalahan ejaan, angka, titik koma, dst, namun secara keseluruhan pesan Alkitab tetap sama. Saya pernah menjawab pertanyaan apakah Injil dipalsukan Paulus, silakan klik, yaitu pertanyaan yang umumnya didasari oleh tuduhan bahwa Alkitab itu sebenarnya “hanya” karya tulis manusia. Padahal jika kita melihat data sejarah untuk membandingkan dengan “karya tulis” manusia, sudah terbukti bahwa meskipun ditulis/ disalin oleh banyak orang yang terpisah dalam tempat dan generasi, namun bahwa tingkat akurasi manuskrip nya masih sangat tinggi (99.5 %) tanpa mengalami proses standarisasi, itupun sudah menjadi bukti yang sangat kuat akan keilahian dan campur tangan Tuhan dalam menjaga keotentikan Kitab Suci.
      Sebagai tambahan, buku Misquoting Jesus karangan Bart Erhman ini juga sudah “ditanggapi” dengan buku yang lain yaitu “Misquoting Truth” oleh Timothy Paul Jones. Secara sekilas saya membaca ulasannya di link ini, jika anda tertarik silakan membacanya di sini, silakan klik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  9. sedikit sharing,
    konsep TRIMURTI dalam Hindu dengan TRINITAS dalam Gereja Khaolik ,berangkat dari latar belakang yang amat berbeda.
    secara umum,dalam Trimurti,ada tiga pribadi yang di hayati sebagai Pencipta,Pemelihara dan Perusak .
    antara Wisnu dan Shiwa di sebut sebagai kekuatan penyeimbang dalam konsep penciptaan Alam Semesta yang selalu terdiri dari 2 sisi..laki2/wanita,siang/malam,terang/gelap.keras/lembut,padat/cair,kasar/halus dsb,sedang Brahma adalah yang sempurna.
    SEDANG
    dalam Trinitas,ke tiga pribadi ini adalah satu kesatuan,…Bapa,Putra & Roh Kudus,sehingga bila kita melihat Yesus,di katakan kita telah melihat Bapa (Inkarnasi Allah) dan dalam Yesus sendiri,tak bisa di pisah dengan Roh Kudus yang ada dalam diriNya.
    JADI pada saat Yesus menyembuhkan orang sakit,mengajar,membangkitkan orang mati,menghentikan badai,mengubah air menjadi anggur dan mujijat lain,semua itu merupakan karya bersama dengan Allah Bapa dan dalam penyertaan Roh Kudus.
    SEHINGGA juga saat ada dogma tentang Maria yang di gelari THETOKOS,hal ini juga karena Yesus memang tidak dapat di pisahkan sebagai satu kesatuan dalam Trinitas.

    Berkah Dalem.

  10. Mohon tanggapannya :

    Apa hubungan Hinduisme dengan Kekristenan ?????

    Yesus terlahir dalam lingkungan Yahudi. Bahasa yg digunakannya adalah bahasa Ibrani. Tapi kenapa kitab-kitab perjanjian baru (Injil) hampir seluruhnya ditulis dalam bahasa Yunani ?. Seharusnya, kitab-kitab tsb ditulis dalam bahasa Ibrani, karena bahasa inilah bahasa yg digunakan oleh kaum Yahudi, kaum Yesus sendiri. Ini menunjukkan, bahwa agama Kristen, berkembang dalam kebudayaan Yunani. Sedangkan kebudayaan Yunani sangat dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu. …..

    [dari katolisitas: silakan melihat jawaban di atas – silakan klik]