Pandangan Vatikan tentang pesan Bunda Maria di Fatima 1917

28

Pertanyaan:

Salam Damai Kristus,
Saya ingin mengetahui tentang pendapat Gereja Katolik terutama Tahta Suci tentang Surat Bunda Maria di Fatima yang diterima oleh 3 anak-anak pada th 1917. Dan apakah benar isinya tentang kehancuran dunia?
Mohon penjelasannya.

Salam,
Thomas

Jawaban:

Shalom Thomas,

Selengkapnya tentang tanggapan Vatikan terhadap pesan Bunda Maria di Fatima 1917 yang disampaikan oleh Sr. Maria Lucia, terdapat di link ini, silakan klik. Pada penampakan itu, dikatakan bahwa Bunda Maria menampakkan diri kepada tiga anak-anak yaitu Jacinta, Francesco dan Lucia. Dan Lucia (Sr. Lucia) adalah saksi yang menyampaikan pesan-pesan itu secara tertulis karena kedua saksi lainnya telah meninggal dunia pada usia muda/ anak-anak.

Melihat pertanyaan anda, kelihatannya ada dua hal yang anda tanyakan, yaitu tentang apa pesan penampakan, dan apa tanggapan Vatikan mengenai hal ini. Maka berikut ini saya sampaikan ringkasannya:

1) Garis besar pesan penampakan Bunda Maria di Fatima 1917

Pesannya di sini terbagi menjadi tiga bagian. Pesan pertama dan kedua menggambarkan penglihatan tentang neraka, devosi kepada Hati Maria yang tak bernoda, tentang Perang Dunia kedua, dan prediksi tentang kerusakan yang dapat diperbuat oleh Rusia kepada umat manusia dengan penolakan terhadap iman Kristiani dan penerapan totalitarianisme- komunisme.

Pesan pertama dan kedua ini telah dituliskan terlebih dahulu 31 Agustus 1941, dan dipublikasikan terlebih dahulu sebelum pesan yang ketiga. Sedangkan pesan ketiga yang dituliskan oleh Sr. Lucia tanggal 3 Januari 1944 atas perintah Uskup Leiria. Pesan/ rahasia ketiga ini dibawa ke hadapan Paus Yohanes XXIII pada tahun 1959, namun beliau memutuskan untuk tidak menyatakan secara publik, demikian juga Paus Paulus VI.

Namun Paus Yohanes Paulus II,setelah percobaan pembunuhan dirinya pada tanggal 13 Mei 1981 gagal, kemudian memutuskan untuk memberitahukan pesan itu secara publik, yang dikenal sebagai "The third secret of Fatima".  Teks pesan ketiga Fatima baru dipublikasikan tgl 26 Juni 2000, (setelah diumumkan oleh Kardinal Angelo Sedano atas nama Bapa Paus, bahwa pesan ketiga tersebut akan diumumkan dalam waktu dekat. Pengumuman ini diadakan tanggal 13 Mei 2000, pada hari beatifikasi Francisco dan Jacinta Marto).

Tanggal 7 Juni 1981, Paus Yohanes Paulus, pada perayaan Pentakosta, mendoakan dan meng-konsekrasikan dunia kepada hati Bunda Maria yang tak bernoda, yang disebutkan sebagai "Act of Entrustment", memohon agar Bunda Maria menjaga dan mendoakan para umat beriman dan dunia.

Maka pesan/ rahasia ketiga yang disampaikan di sini berkaitan dengan perkataan Bunda Maria, yang memperingatkan akan apa yang terjadi jika manusia tidak bertobat dan mengindahkan pesan Bunda Maria, maka Rusia akan menyebarkan faham sesatnya tentang Komunisme. Sr. Lucia mengatakan bahwa akan terjadi penghukuman yang disebabkan oleh manusia sendiri yang terus hidup dalam dosa, kebencian, balas dendam, ketidak- adilan, pelanggaran hak-hak manusia, pemerosotan moral dan kekerasan, dst.

Maka Paus Yohanes Paulus II memutuskan untuk mempublikasikan pesan ketiga ini. Ia sendiri meng-konsekrasikan/ menyerahkan Rusia dan dunia kepada doa-doa Bunda Maria pada tahun 1981. Selanjutnya, kita ketahui pada tahun 1989 tembok Berlin dirubuhkan dan tumbanglah komunisme di Rusia.

2. Isi pesan Penampakan Bunda Maria di Fatima 1917

Pesan pertama:

"Bunda Maria menunjukkan kepada kami sebuah lautan api yang besar yang sepertinya berada di bawah bumi. Yang terbenam di dalam api adalah setan-setan dan jiwa-jiwa di dalam rupa manusia, seperti bara api yang transparan, semua kehitaman atau gosong seperti tembaga, mengambang di atas lautan api, sekarang naik ke udara dengan lidah-lidah api yang keluar dari dalam diri mereka sendiri bersama dengan awan-awan api yang besar, sekarang jatuh kembali pada setiap sisi seperti percikan di dalam api yang besar sekali, tanpa berat atau keseimbangan, di tengah-tengah tawa dan erangan kesakitan dan keputusasaan, yang menakutkan kami dan membuat kami gemetar ketakutan. Setan-setan dapat dibedakan dengan kemiripan mereka yang menakutkan dan menjijikkan dengan binatang-binatang yang menakutkan dan tidak dikenal, semua hitam dan transparan. Penglihatan ini berakhir dalam sekejap. Bagaimana kami dapat bersyukur kepada Bunda Surgawi yang baik, yang telah mempersiapkan kami dengan menjanjikan di dalam Penampakan yang pertama, untuk membawa kami ke surga. Jika tidak, saya rasa kami akan sudah mati ketakutan...."

Pesan kedua:

Kami lalu melihat kepada Bunda Maria yang berkata:

"Kamu telah melihat kemana jiwa-jiwa yang berdosa pergi. Untuk menyelamatkan mereka Tuhan berkehendak untuk mengadakan di dunia devosi kepada Hatiku yang tidak bernoda (Immaculate Heart). Jika apa yang aku katakan kepadamu dilakukan, banyak jiwa akan diselamatkan dan akan ada damai. Perang [Perang Dunia I] akan berakhir, tetapi kalau orang-orang tidak berhenti menentang Allah, sebuah perang yang lebih parah akan pecah pada saat pontifikat Paus Pius XI. Ketika kamu melihat malam yang diterangi oleh sebuah terang yang tak dikenal, ketahuilah bahwa ini adalah tanda yang besar yang diberikan kepadamu dari Tuhan bahwa Ia akan menghukum dunia karena kejahatannya, dengan cara perang, kelaparan, penganiayaan terhadap Gereja dan terhadap Bapa Suci. Untuk menghindari ini, saya datang untuk memohon konsekrasi Rusia kepada hatiku yang tidak bernoda, dan Komuni untuk silih dosa pada setiap Sabtu pertama. Jika permohonanku dipenuhi, Rusia akan bertobat dan akan ada damai, jika tidak, ia akan menyebarkan kesesatannya kepada seluruh dunia, menyebabkan perang dan penganiayaan terhadap Gereja. Orang-orang baik akan dibunuh; dan Bapa Suci akan mengalami penderitaan berat, bangsa- bangsa akan dilenyapkan. Pada akhirnya Hatiku yang tak bernoda akan menang. Bapa Suci akan meng-kosekrasikan Rusia kepadaku dan Rusia akan bertobat, dan sebuah periode damai akan diberikan kepada dunia."

Pesan ketiga:

Saya [Sr. Lucia] menulis dalam ketaatan kepada Engkau, Tuhanku, yang memerintahkan kepadaku melalui Uskup Leiria dan melalui Bunda-Mu yang tersuci dan Bundaku.

Setelah dua bagian yang telah kujelaskan, di sebelah kiri Bunda Maria dan sedikit ke atas, kami melihat seorang Malaikat dengan sebuah pedang yang berapi di tangan kirinya, mengkilat, mengeluarkan lidah-lidah api yang terlihat seperti seolah-olah akan menyalakan dunia dengan api, tetapi lidah-lidah api itu mati bersentuhan dengan kemuliaan yang Bunda Maria pancarkan kepadanya [malaikat itu], dari tangan kanannya. Menunjuk ke bumi dengan tangan kanannya, Malaikat itu berteriak dengan suara keras: 'Bertobatlah, bertobatlah, bertobatlah!" Dan kami melihat di dalam sebuah terang yang besar yang adalah Tuhan: 'sesuatu yang mirip dengan bagaimana orang orang muncul di cermin ketika mereka melewatinya', seorang Uskup berpakaian putih 'kami mempunyai kesan bahwa itu adalah Bapa suci'. Uskup-uskup yang lain, para imam, kaum religius laki-laki dan perempuan menanjak sebuah gunung yang terjal, pada puncaknya terdapat sebuah Salib yang besar dari batang pohon yang secara kasar ditebang seperti dari pohon perop ..; sebelum sampai ke sana Bapa suci melewati sebuah kota yang besar yang separuhnya hancur dan separuhnya gemetar, dengan langkah terhenti, terpukul dengan kesakitan dan penderitaan, ia berdoa bagi para jiwa dan jenazah yang ditemuinya di jalan; setelah sampai di puncak bukit, dengan berlutut pada kaki Salib yang besar, ia dibunuh oleh sebuah kelompok parjurit yang menghujaninya dengan peluru- peluru dan panah terarah kepadanya, dan dengan cara yang sama di sana satu persatu wafatlah para Uskup, imam dan kaum religius laki-laki dan perempuan dan bermacam orang awam dari berbagai tingkatan dan posisi. Di bawah kedua lengan Salib, terdapat dua Malaikat, masing-masing dengan wadah kristal di tangannya, yang dipakai untuk mengumpulkan darah para martir dan dengan itu memerciki para jiwa yang sedang mengambil jalan menuju Allah."

3. Interpretasi pesan ke-3:

a) Berikut ini adalah ringkasan pembicaraan Archbishop Tarcisio Bertone, sekretaris dari Congregation for the Doctrine of Faith yang diutus oleh Paus Yohanes Paulus II untuk bertemu dengan Sr. Lucia (27 April 2000):

Sr. Lucia mengulangi keyakinannya bahwa penglihatan di Fatima tersebut terutama adalah mengenai pergolakan antara komunisme atheis melawan Gereja dan umat Kristiani dan menjabarkan penderitaan para korban demi iman ini di abad ke-20. Figur sentral dari pesan terakhir ini menurut Sr. Lucia adalah Bapa Paus, meskipun pada penglihatan itu tidak disebutkan siapa nama Paus yang dibunuh tersebut. Maka ketika ia melihat Paus Yohanes Paulus II ditembak di tahun 1981, ia segera teringat akan penglihatannya tersebut yang dituliskannya pada tahun 1944. Sr. Lucia percaya, sama seperti yang dipercayai oleh Bapa Paus sendiri, bahwa  “it was a mother's hand that guided the bullet's path and in his throes the Pope halted at the threshold of death” (Pope John Paul II, Meditation from the Policlinico Gemelli to the Italian Bishops, 13 May 1994).

Di akhir pertemuan itu Sr. Lucia menyatakan ketaatannya kepada Bapa suci, dan berharap agar tulisannya dapat membantu memimpin semua orang yang bermaksud baik ke jalan menuju Tuhan.

b) Dari hasil pertemuan di atas, pengumuman dibuat oleh Kardinal Angelo Sodano, Sekretaris negara (Secretary of State), ringkasannya adalah sebagai berikut:

Nubuatan yang terdapat dalam pesan Fatima ini harus diinterpretasikan secara simbolis (in a symbolic key). Penglihatan Fatima adalah perang yang diadakan oleh sistem atheis melawan Gereja dan umat Kristiani, dan itu menggambarkan penderitaan yang dialami oleh para saksi iman pada abad terakhir di milenium kedua, sebagai Jalan Salib yang dipimpin oleh para Paus di abad ke 20.

Sesuai dengan interpretasi para visioner, seperti yang ditegaskan oleh Sr. Lucia,"Uskup dengan pakaian putih" yang berdoa bagi umat beriman adalah Bapa Suci. Setelah ia mendaki menuju Salib melewati jenazah-jenazah para martir (para uskup, imam, kaum religius, dan kau awam), ia sendiri jatuh ke tanah, wafat karena dihujani peluru.

Sesudah percobaan pembunuhan tanggal 13 Mei 1981, maka begitu nyata bahwa "tangan seorang ibu yang mengarahkan jalur peluru sehingga Bapa Paus dapat terluput dari kematian." (Perlindungan ini diyakini oleh Sr. Lucia dan Bapa Paus sendiri sebagai campur tangan dari Bunda Maria). Pada kejadian tahun 1989 baik Rusia maupun negara-negara Eropa Timur mengalami kejatuhan sehubungan dengan runtuhnya Komunisme. Untuk ini Bapa Paus mengucapkan syukur kepada Bunda Maria. Meskipun seolah kejadian tentang pesan/ rahasia ketiga dari Fatima ini merupakan hal yang lampau/sudah terjadi, namun pesan Bunda Maria untuk pertobatan tetaplah sangat penting sekarang. "Undangan Bunda Maria kepada pertobatan adalah pertama-tama perwujudan perhatian keibuannya kepada keluarga besar umat manusia, yang memerlukan pertobatan dan permohonan maaf." (Pope John Paul II, Message for the 1997 World Day of the Sick, No. 1, Insegnamenti, XIX, 2 [1996], 561)

4. Komentar Teologis oleh Joseph Cardinal Ratzinger, Prefect of the CDF (Congregation for the Doctrine of the Faith) sekarang Paus Benediktus XVI, berikut ini ringkasannya:

Perlu diketahui bahwa pesan Fatima ini termasuk dalam kategori wahyu pribadi yang statusnya berbeda dengan wahyu publik (yaitu Kitab Suci, yaitu dalam PL dan PB). Wahyu publik sudah selesai dengan berkahirnya kitab Perjanjian Baru. Namun meskipun Wahyu telah selesai, hal itu belum dibuat sepenuhnya secara eksplisit, maka tetaplah tertinggal pada iman Kristiani untuk berangsur-angsur menangkap makna pentingnya secara penuh di sepanjang abad" (KGK 66). Ini sesuai dengan perkataan Yesus, "Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku." (Yoh 16:12-14)

Katekismus 67 mengajarkan, "....wahyu pribadi itu tidak termasuk dalam perbendaharaan iman. Bukanlah tugas mereka [wahyu-wahyu pribadi] untuk "menyempurnakan" wahyu Kristus yang definitif atau untuk "melengkapinya", melainkan untuk membantu supaya orang dapat menghayatinya lebih dalam lagi dalam rentang waktu tertentu....". Jadi:

a) Otoritas wahyu pribadi secara prinsip berbeda dengan Wahyu publik. Wahyu Publik menuntut iman [dari seluruh umat], sebab di dalamnya Tuhan sendiri berbicara melalui perkataan manusia dan melalui perantaraan komunitas yang hidup dalam Gereja, sedangkan wahyu pribadi tidak demikian. Iman terhadap Wahyu publik ini berbeda dengan bentuk kepercayaan kepada manusia atau pendapat. Iman kepada Allah ini adalah keyakinan yang di  atasnya kita membangun hidup kita dan kepadanya kita memasrahkan diri kita pada saat kita mati.

b) Wahyu pribadi adalah sebuah bantuan terhadap iman ini, dan menunjukkan kredibilitasnya justru dengan memimpin kita kembali kepada Wahyu publik yang definitif tersebut. Oleh karena itu, kriteria untuk kebenaran dan nilai dari sebuah wahyu pribadi adalah orientasi kepada Kristus. Maka ketika wahyu pribadi itu memimpin orang menjauh dari Kristus, menjadi berdiri sendiri atau bahkan menampilkan diri sebagai rencana keselamatan yang 'lebih baik'/ lebih penting daripada Injil, maka dipastikan wahyu itu bukan berasal dari Roh Kudus. Ini bukan berarti bahwa wahyu pribadi tidak akan menyatakan penekanan-penekanan baru, atau bentuk devosi baru, atau memperdalam dan menyebarkan bentuk devosi yang sudah ada. Tetapi di dalam semua ini, harus ada pembinaan iman, harapan dan kasih.

Pentingnya wahyu pribadi disampaikan oleh Rasul Paulus (1Tes 5:19-21). Sepanjang sejarah Gereja terdapat nubuat- nubuat yang harus diteliti kebenarannya, bukan dicemooh. Nubuat adalah sebuah peringatan dan penghiburan, atau keduanya sekaligus. Untuk menginterpretasikan/ "menilai zaman ini" (Luk 12:56) dalam terang iman berarti mengenali kehadiran Yesus pada setiap zaman.

Struktur anthropologis dari wahyu pribadi: silakan membaca lebih lanjut di link di atas. Intinya adalah "interior vision"/ penglihatan ini bukan merupakan fantasi yang merupakan ekspresi dari imajinasi yang subyektif. Penglihatan ini melibatkan "obyek" yang benar-benar ada yang menyentuh jiwa, meskipun tidak terdapat di dalam dunia sensorik. Maka ini memerlukan sikap berjaga-jaga secara rohani.... Namun penglihatan juga mempunyai keterbatasan, sebab obyek yang dilihat juga bukan yang murni/ sebenarnya, tetapi melalui filter dari alat sensorik yang melihat, maka terpengaruh oleh keterbatasan dari subyek yang melihat. Maksud dari nubuatan Kristiani terlihat apabila penglihatan itu menjadi sebuah perintah dan bimbingan atas kehendak Allah.

Usaha untuk menginterpretasikan pesan/ 'rahasia' Fatima

Secara singkat pesan pertama dan kedua adalah anak-anak itu diberi penglihatan tentang neraka. Mereka melihat di sana 'jiwa-jiwa yang malang'. Lalu mereka diberi pesan untuk menyelamatkan jiwa-jiwa- yang artinya untuk menunjukkan kepada mereka jalan menuju keselamatan. Untuk ini kita mengingat pengajaran Rasul Petrus: "karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu." (1 Pet 1:9). Untuk mencapai ini, jalan yang diberikan adalah devosi kepada hati Maria yang tak bercela.  Dalam bahasa Alkitabiah, "hati" mengacu pada pusat hidup manusia, di mana akal budi, keinginan, temperamen dan sensitivitas berasal, di mana seseorang menemukan kesatuan dan orientasi sikap hati. Menurut Mat 5:8, "hati yang suci/ tak bernoda" adalah sebuah hati yang, dengan rahmat Tuhan, yang telah mencapai kesempurnaan kesatuan sikap hati dan karena itu dapat "melihat Tuhan." Maka untuk mempunyai devosi terhadap hati Maria yang tak bernoda, adalah untuk mempunyai sikap hati yang demikian, yang bersikap taat "Ya", terjadilah kehendak-Mu- sebagai pusat dari keseluruhan hidup seseorang. Mungkin ada orang yang berkata, kita jangan meletakkan seorang manusiapun antara kita dengan Kristus. Tetapi Rasul Paulus sendiri berkata agar kita meniru dia (lih. 1 Kor 4:16, Fil 3:17; 1 Tes 1:6; 2 Tes 3:7,9). Pada Rasul Paulus kita melihat bagaimana kita mengikuti Kristus. Tetapi dari siapa kita dapat lebih belajar pada setiap masa, selain dari Ibu Tuhan Yesus sendiri?

Sr. Lucia sendiri mengakui bahwa yang diberikan kepadanya adalah penglihatan, tetapi bukan interpretasinya. Interpretasi ini menurut Sr. Lucia, bukan menjadi miliknya tetapi milik Gereja. "Untuk menyelamatkan jiwa-jiwa" adalah kata kunci dari pesan pertama dan kedua Fatima. Sedangkan, kata kunci pada pesan yang ketiga adalah, "Bertobatlah, bertobatlah, bertobatlah!" Ini sesuai dengan Injil dalam Mrk 1:15. Untuk mengetahui tanda jaman adalah untuk menerima pentingnya pertobatan, dan iman. Maka maksud dari penampakan-penampakan Bunda Maria ini adalah untuk memimpin orang-orang untuk bertumbuh di dalam iman, pengharapan dan kasih.

Sekarang tentang penglihatan mengenai malaikat dengan pedang yang menyala, seperti dalam gambaran di kitab Wahyu. Ini adalah untuk menunjukkan ancaman penghakiman. Jaman sekarang manusia sendiri dapat menghancurkan dunia menjadi abu, dengan penemuan-penemuannya, manusia sendiri menempa pedang yang menyala. Penglihatan kemudian memperlihatkan bahwa kekuatan yang merusak itu dikalahkan oleh kemuliaan Bunda Allah, dengan ajakan pertobatan. Maka di sini terdapat pentingnya kehendak bebas manusia: masa depan bukan sesuatu fakta yang tidak bisa diubah. Maka penglihatan itu adalah untuk mengarahkan kekuatan untuk mengadakan perubahan ke arah yang benar.

Selanjutnya adalah karakter sinbolis dari penglihatan itu: Tuhan adalah yang tak terukur, sebagai terang yang tak terukur. Para manusia kelihatan seperti di dalam cermin. Karena kita sekarang melihat dalam cernin suatu gambaran yang samar- samar (1 Kor 13:12).

Sekarang tentang gunung yang terjal dengan Salib dipuncaknya. Gunung dan kota besar yang menjadikan reruntuhan, melambangkan arena sejarah manusia: arena kreativitas dan harmoni sosial maupun juga arena penghancuran, di mana manusia menghancurkan hasil pekerjaannya sendiri. Salib merupakan lambang tujuan dan bimbingan sejarah manusia. Salib mengubah kerusakan menjadi keselamatan; salib merupakan tanda kemalangan sejarah tetapi juga sebuah janji bagi sejarah. Lalu tentang penderitaan Uskup (Bapa suci) dan para uskup, imam dan kaum religius. Jalan Gereja dikatakan sebagai perjalanan Via Crucis, melalui waktu kekerasan, penghancuran, dan penganiayaan. Seluruh sejarah abad ini diwakili oleh gambar ini. Abad ini merupakan abad para martir, penganiayaan Gereja, abad perang dunia dan perang lokal lainnya. Maka diperingatkan oleh Bunda Maria, "Jika tidak [bertobat], Rusia akan menyebarkan kesesatannya ke seluruh dunia...."

Di tengah perjalanan ini dari seluruh abad, gambaran Paus yang mendaki adalah gambaran generasi para Paus dari Paus X sampai Paus yang sekarang, mereka semua menderita mendaki menuju ke Salib. Di penglihatan itu Paus itu dibunuh bersama para martir. Bukankah itu yang hampir terjadi pada percobaan pembunuhan Paus Yohanes Paulus II tanggal 13 Mei 1981? Namun tangan Bunda Maria menolongnya; kekuatan iman dan doa-doa dapat mempengaruhi sejarah; dan kekuatan doa lebih kuat daripada peluru.

Ahkirnya, darah Kristus dan darah para martir merupakan satu kesatuan. Darah para martir turun dari kedua lengan Salib itu. Para martir wafat dalam persekutuan dengan Kristus. Demi Tubuh Kristus, para martir menggenapkan apa yang kurang pada penderitaan Kristus (Kol 1: 24). Darah para martir adalah biji umat Kristiani. Seperti melalui kematian Kristus, Gereja lahir; maka kematian para martir menjadi kan kehidupan Gereja semakin berkembang. Maka tak ada penderitaan yang sia- sia. Dari penderitaan para saksi iman, lahirlah kekuatan yang memurnikan dan memperbaharui, sebab penderitaan mereka adalah aktualisasi dari penderitaan Kristus sendiri dan pernyampaian efeknya yang menyelamatkan di sini dan sekarang.

Maka, arti pesan/ rahasia Fatima sebagai satu kesatuan adalah ajakan/ desakan bagi para umat beriman untuk berdoa, sebagai jalan untuk keselamatan jiwa-jiwa dan juga perintah untuk bertobat (penance and conversion).

Saya ingin menyebutkan lagi ekspresi kuci dari pesan Fatima, "Hatiku yang tak bernoda akan menang" Apa maksudnya? Hati yang terbuka terhadap Tuhan, dimurnikan oleh kontemplasi akan Tuhan, adalah lebih kuat daripada senjata apapun. Ketaatan Bunda Maria telah mengubah dunia, sebab dengan ketaatannya ia telah membawa Kristus ke dunia. Syukurlah atas "Ya" dari Bunda Maria, Tuhan dapat menjadi manusia di dunia dan tetap hadir di dunia sepanjang jaman. Walaupun ada kuasa jahat di bumi, seperti yang kita lihat; namun karena Tuhan sendiri menjadi manusia dan mempunyai hati manusia, maka karenanya dapat menggiring kehendak bebas manusia menuju apa yang baik, maka kebebasan memilih yang jahat tidak lagi menjadi keputusan akhir. Maka ayat yang akhirnya merangkum semua adalah, "Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia." (Yoh 16:33)

-------------

Demikianlah yang dapat saya sampaikan tentang pesan Penampakan Bunda Maria di Fatima 1917, dan tanggapan dari Vatikan tentang hal itu. Dari sini memang kita melihat wahyu pribadi yang diterima oleh Sr. Lucia tersebut tidak merupakan nubuat khusus tentang akhir jaman. Penglihatan yang demikian mengenaskan tentang banyaknya korban martir dan bahkan Bapa Paus sendiri, merupakan peringatan bagi dunia untuk segera bertobat, sebab jika tidak, kejadian itulah yang dapat terjadi. Maka pesan Fatima tetap sangat penting bagi kita semua saat ini, yaitu agar kita bertobat, berdoa dan mempunyai hati yang terbuka seperti hati Bunda Maria. Sebab, apapun yang terjadi, jika kita mempunyai sikap hati yang demikian dan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan, maka kita akan mengalahkan dunia dan melangkah menuju Surga, seperti Bunda Maria.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Share.

About Author

Ingrid Listiati telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

28 Comments

  1. Wahyu 13:18 mengatakn bhw 666 adlh lmbng bilngn seorang manusia.
    Yg dmksud ‘seorang manusia’ tu syp? Apkh udh mati to udh lahir n msih hidp to belm lahir? Mohon pnjlsnx. Trims

    [Dari Katolisitas: Silakan membaca tentang 666, di artikel ini, silakan klik. Memang ada kelompok orang-orang yang menuduh bahwa 666 atau sang antikristus itu adalah Paus, sebagaimana pernah ditanyakan dan kami tanggapi di sini, silakan klik. Silakan Anda membaca link-link tersebut terlebih dahulu, dan jika masih ada pertanyaan, silakan bertanya kembali.]

  2. KATHARINA KEWA SABON LAMABLAWA on

    AKU PERCAYA BAHWA APA YANG DISAMPAIKAN OLEH BUNDA MARIA ADALAH SEBUAH KEBENARAN. ASALKAN KITA PERCAYA KITA PASTI AMAN DALAM NAUNGANNYA.

    • Philipus Wuring on

      Kasih Yesus akan menyertai kita, dengan iman yang teguh kita akan bersamaNya. Saya pribadi tidak takut menghadapi hari-hari itu, karena saya yakin bahwa Tuhan akan memberikan kekuatan dalam diriku, saya yakin bahwa semua yang disampaikan dalam pesan Fatima memberikan kita persiapan dan pertobatan. Bunda Maria pasti akan memberikan kita kemenangan surgawi. Mari kita bersama memuji keagungan Tuhan, kita berdoa pantang dan berpuasa menyerahkan semua pada Tuhan.

  3. salam kpd semua sahabat sekalian:
    pertama jgn mrh krn seorang muslim memberi komen disini.ita semua umat manusia yg bersaudara yg asal usul kita dr nabi adam juga.saya terasa hati bila dikatakan Islam itu teroris.sebenarnya teroris itu bukan shj terdiri dr muslim tetapi juga pd bangsa dn kaum dr agama lain.cthnya di India ada teroris hindu,di Ireland ada teroris kristian dn bgitu juga diseluruh dunia ada teroris.apabila manusia hidup tertekan dn ditindas,maka satu cara shj yg ada utk membebaskan diri,iaitu berperang.patutkah kita mengatakan insan2 yg beperang utk kemerdekaan Indonesia itu teroris?bagi mata penjajah mereka adalah teroris,tp pd mata rakyat Indonesia mereka adalah nasionalis.harap saudara2 dpt mennerima penjelasan saya..
    yang kedua:siti mariam yg disebut dlm Alquran adalah sama dgn Marry yg disebut dlm bible..ia adalah ibu yg sama melahirkan Nabi Isa.knp islam tdk menyatakan yg isa itu tuhan..krn Allah itu tdk dpt dibandingkan dgn segala sesuatu dialam nyata atau dialam ghaib.sy disini bukan utk berdakwah akan tetapi menjelaskan perkara yg benar.Maksud hati maria yg tdk ternoda,mudah sekali mentafsirkannya..ia adalah sekeping hati yg tdk syirik kpd Allah.hati yg bersih yg tdk mengatakan yg isa itu anak Allah tetapi adalah anaknya sendiri Maria.saya nampak ramai yg keliru dgn kenyataan2 tentang visi yg dilihat di fatima.sebenarnya adalah amat mudah utk ditafsirkn jika dekat dirinya dgn Allah.Allah akan membuka hijab yg terselindung sehingga seseorang itu dpt menafsir pekara2 yg ghaib.
    yg ketiga:sebenarnya perkara difatima yg berlaku ini adallah sebuah peringatan Allah buat umat kristian semua.oleh kerana mazhab katolik adalah yg besar dn berpengaruh,maka Allah meberikan petunjuk agar kaum kristian segera bertaubat dn kembali kpd Allah dgn sebenar2 iman tanpa mensyirikkan Allah..Allah sebenarnya menyayangi semua kaum yg telah diberi al kitab.patutkah kita menytakan ALlah itu tuhan tapi pd masa yg sama kita meminum arak,makan daging babi dn berzina serta tdk menutup aurat..hukum tuhan perlu dipatuhi.setelah hukum tuhan dipatuhi barulah manusia akan beroleh kesejahteraan.mana boleh cinta dn ingkar berada dlm sekeping hati.kalau benar mencintai Allah,maka bunaglah segala perbuatan yg ktoro dn jijik,dn berserah diri kpd Allah dgn hati yg tulus barulah kita akan beroleh petunjuk drnya….mohon maaf jika terkasar bahasa…salam sejahtera…

    • Shalom Azman,

      Terima kasih atas komentar Anda. Menurut saya, diskusi akan menjadi lebih substansial dengan fokus pada dogma dan doktrin. Yang perlu dipahami adalah kami tidak mendasarkan iman kami pada wahyu pribadi seperti Fatima. Dengan demikian, sangat keliru kalau Anda ingin mengatakan bahwa ke-Allahan Kristus ditentukan dari wahyu-wahyu pribadi seperti ini. Kalau Anda ingin benar-benar mengetahui dasar mengapa umat Katolik mempercayai bahwa Kristus adalah Allah, maka silakan membaca artikel ini – silakan klik – terlebih dahulu.

      Untuk topik yang lain: diskusi tentang makan babi, silakan lihat di sini – silakan klik. Diskusi tentang kemurnian di luar perkawinan lihat di sini – silakan klik dan kemurnian di dalam perkawinan lihat ini – silakan klik. Dua artikel tersebut dapat memberikan gambaran kepada Anda bagaimana umat Katolik memandang seksualitas. Anda juga dapat mengetahui bagaimana pandangan Gereja Katolik tentang perkawinan yang monogami, tak terceraikan dan terbuka terhadap kehidupan. Tentu saja kesopanan dan juga berzina tidak pernah diajarkan oleh Gereja Katolik. Kalau Anda mau menilai Gereja Katolik, maka cobalah juga melihat orang-orang yang sungguh-sungguh menjalankan apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik, seperti contohnya adalah Bunda Teresa dari Kalkuta.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  4. Salam damai Kristus.
    Saya tertarik untuk mencari artikel mengenai rahasia surat fatima setelah melihat tayangan di TV kabel mengenai Surat yang ditulis oleh Suster Lucia sebagai kesaksian atas penampakan Bunda Maria di Fatima Portugal. Yang akan saya sampaikan adalah dari sisi sejarah.

    Rusia menyebarkan kesesatan/komunisme yang pada waktu itu dipimpin oleh Lenin seorang diktaktor komunis, pada masanya gereja-gereja dirubuhkan dan sebagai gantinya adalah negara yang patut disembah. Pada waktu itu Pius ke XI tidak begitu menanggapi dengan segera dan serius untuk mengadakan konsekrasi dunia bagi RUsia(Permintaan Bunda Maria pada surat ke 2), konsekrasi dunia mensyaratkan harus diikuti oleh seluruh uskup di dunia termasuk oleh gereja orthodoks. Kelambatan pelaksanaan konsekrasi tersebut benar-benar membuat kejadian seperti pada Kitab Wahyu : “Naga merah yang ekornya menyapu sepertiga bintang” yang artinya Komunisme telah menyebar hingga sepertiga populasi dunia mulai China dan sekitarnya hingga Kuba dengan sistem yang sama penggulingan pemerintahan oleh pemberontak komunisme.
    Uskup Leira mendesak Suster Lucia untuk segera menulis Surat ke3 pada tahun 1944 tetapi suster Lucia berpesan untuk membukanya pada tahun 1960.
    Pada tahun 1960 Vatikan membuka surat itu dan setelah membacanya kemudian
    memutuskan tidak mengumumkannya.
    Sebenarnya apakah yang terjadi pada tahun 1960an? Kita tidak banyak tahu kejadian bahwa dunia memang benar-benar berada di ambang kehancuran oleh pedang berapi-api alias Perang Nuklir. Pada tahun itu perang dingin antara AS dan Uni Soviet benar-benar akan berubah menjadi perang nuklir. AS saat itu melancarkan perang dengan Kuba di teluk babi; dan Uni Soviet yang mendukung Kuba mengirimkan kapal2 perang bersenjatakan Hulu Nuklir, tinggal hitungan waktu dunia akan hancur terbakar. Bunda Maria melindungi dunia dan berkarya lewat kepiawaian politik JFK untuk menghindarkan perang nuklir terjadi. JFK adalah presiden pertama AS yang beragama Katholik setelah 450 tahun.
    Kejadian dunia berikutnya adalah peran besar Paus Yohanes Paulus II, Paus YP II mengalami penembakan dan bisa selamat dengan peluru yang hanya berapa cm dari organ vitalnya. Paus YP II kemudian melakukan konsekrasi dunia untuk Rusia dan hasilnya benar-benar luar biasa bagi perubahan dunia. President Gorbacev seorang mantan Agen KGB berkunjung ke Roma; tembok berlin roboh dan komunisme tumbang.
    Kenapa Surat ke3 fatima baru diumumkan tahun 2000?
    Setelah rangkaian kejadian sejarah dunia tadi, terkadang memang perlu untuk diumumkan pada saat yang tepat.

    Mari kita teruskan devosi kita pada Bunda Maria pelindung dunia.
    Salam Damai

    • Shalom Toms,

      Agaknya perlu disebut di sini bahwa yang cukup berperan dalam mencegah perang nuklir di Kuba di tahun 1962 adalah Paus Yohanes XXIII (bukan semata-mata Presiden JF Kennedy). Silakan membaca kisahnya di sini, silakan klik

      Paus Yohanes XXIII menulis pesan kepada Presiden Rusia, yang kemudian dipublikasikan di surat kabar resmi negara Komunis itu, Pravda, pada tanggal 26 Oktober 1962. Oleh pesan Paus Yohanes XXIII inilah, dua hari kemudian, Preisden Khrushnev menarik rudal (missiles)-nya dari Kuba, dan perang nuklir yang mengerikan itu tidak terjadi.

      Ya, sudah banyak terdapat bukti betapa Tuhan sudah berbelas kasihan kepada dunia, dan betapa besar kuasa doa syafaat Bunda Maria yang menyertai Gereja Kristus. Semoga fakta ini dapat mendorong kita untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, dan mempersiapkan diri untuk kedatangan-Nya yang kedua kalinya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Gaspar Djata Doy on

        Per Maria ad Jesum:Melalui Maria kita sampai pada Yesus.Kita semestinya senanantiasa lebih dekat dengan St.Maria dalam semua bentuk doa dan dalam cara hidup kita.Yesus selalu mendengarkan permohonan kita
        via Bunda Maria.Asal kita tetap tekun dalam doa,dan dalam perwujudan
        doa kita.

  5. Syaloom,

    Mau tanya tentang Wahyu Pribadi dan Wahyu Publik?

    Abraham ketika menerima perintah dari Allah utk pergi dari kampungnya, itu merupakan wahyu pribadi
    tetapi sekarang sudah menjadi wahyu publik. Dan ada banyak Wahyu Pribadi di Kitab Suci yang kemudian menjadi Wahyu Public.

    Pertanyaan saya:

    1. Apakah kira2 yang membedakan Wahyu pribadi yang dulu dengan sekarang? Bahkan di Kisah Para Rasul, ketika St. Petrus melihat penglihatan makanan “haram” turun dari langit, bukankah itu wahyu pribadi?

    2.Karena banyak orang yang mengaku menerima wahyu pribadi seperti itu, bagaimana kita harus melihat wahyu2 pribadi ini dengan kacamata iman? Apakah harus skeptis? Atau menunggu pernyataan verifikasi dari gereja?

    Terima Kasih

    • Shalom Leonard,

      Benar bahwa apa yang tertulis dalam Kitab Suci sebagai Wahyu Umum/ Wahyu Publik tersebut berasal dari wahyu pribadi, yaitu wahyu Allah kepada orang- orang tertentu, seperti kepada para nabi dan para rasul. Namun setelah Wahyu tersebut dituliskan, diterima dan dinyatakan oleh Gereja menjadi bagian dari Kitab Suci yang ditujukan untuk semua umat-Nya (disebut Wahyu Umum), maka wahyu tersebut menjadi perbendaharaan iman (deposit of faith). Katekismus Gereja Katolik mengajarkan bahwa apa yang dituliskan dalam Kitab Suci (Perjanjian Lama dan Baru) sudah merupakan hal yang definitif, sehingga tidak perlu dilengkapi ataupun direvisi oleh wahyu- wahyu pribadi yang terjadi sesudah Wahyu Umum tersebut selesai.

      Katekismus mengajarkan demikian:

      KGK 66 “Tata penyelamatan Kristen sebagai suatu perjanjian yang baru dan definitif, tidak pernah akan lenyap, dan tidak perlu diharapkan suatu wahyu umum baru, sebelum kedatangan yang jaya Tuhan kita Yesus Kristus” (Dei Verbum 4). Walaupun wahyu itu sudah selesai, namun isinya sama sekali belum digali seluruhnya; masih merupakan tugas kepercayaan umat Kristen, supaya dalam peredaran zaman lama kelamaan dapat mengerti seluruh artinya.

      KGK 67 Dalam peredaran waktu terdapatlah apa yang dinamakan “wahyu pribadi”, yang beberapa di antaranya diakui oleh pimpinan Gereja. Namun wahyu pribadi itu tidak termasuk dalam perbendaharaan iman. Bukanlah tugas mereka untuk “menyempurnakan” wahyu Kristus yang definitif atau untuk “melengkapinya”, melainkan untuk membantu supaya orang dapat menghayatinya lebih dalam lagi dalam rentang waktu tertentu. Di bawah bimbingan Wewenang Mengajar Gereja, maka dalam kesadaran iman, umat beriman tahu membedakan dan melihat dalam wahyu-wahyu ini apa yang merupakan amanat otentik dari Kristus atau para kudus kepada Gereja. Iman Kristen tidak dapat “menerima” wahyu-wahyu yang mau melebihi atau membetulkan wahyu yang sudah dituntaskan dalam Kristus. Hal ini diklaim oleh agama-agama bukan Kristen tertentu dan sering kali juga oleh sekte-sekte baru tertentu yang mendasarkan diri atas “wahyu-wahyu” yang demikian itu.

      Maka memang prinsip yang kita pegang adalah: 1) Wahyu umum yang tertulis dalam Kitab Suci merupakan sesuatu yang sudah final/ definitif, sehingga tidak perlu dilengkapi/ dikurangi/ ataupun diubah. 2) Wahyu Allah diberikan kepada Gereja, sehingga Gerejalah (melalui Magisterium/ Wewenang Mengajar Gereja) yang berhak untuk menentukan apakah suatu wahyu pribadi otentik atau tidak. Dengan demikian, sikap yang benar terhadap wahyu- wahyu pribadi tersebut adalah menunggu verifikasi dari pihak Magisterium Gereja.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  6. salam

    saya sepertinya lebih se7 dg saudara Finu. Mungkin yg dimaksud dg negara Rusia bukan negara Rusia yg kita kenal seperti halnya bangsa Israel yg sering disebut di Kitab Suci bukanlah Israel yg kita kenal sekarang. Itu semua perumpamaan ttg kemerosotan moral manusia yg akhirnya menggantikan posisi Tuhan. Umat muslim memang berdoa kepada Tuhan dan tekun beribadah tapi di sini definisi Tuhan spti apa. Saya tdk memusuhi Islam ato org Islam cuma saya tidak se7 dg ajaran mereka. Contoh: mereka menyebarkan agama mereka dg kekerasan (perang Badhar dll), mereka jg mempercayai mata diganti mata (ada di Alquran), sblm peristiwa 11 Sept di Amerika Islam tdk dikenal (ini ada di berita2, salah satunya di TVone), setelah itu jumlah Muslim meningkat di Amerika maupun di dunia barat lainnya. Terorist jg tekun beribadah lho dan berdoa kepada Tuhan (profil pelaku bom bunuh diri di TV -TV) Islam tdk menghormati Bunda Maria (Miriam) spti umat Katolik hanya manusia, mereka bahkan tdk mengganggap Yesus/Isa sbg Tuhan hanya sbg nabi, bahkan mereka memutarbalikkan isi Kitab Suci (bahkan kisah sengsara dan wafat Yesus) sesuka mereka. Jadi saya mohon jgn menyamakan Bunda Maria dg Miriam, jika begitu anda juga percaya klo Yesus tdk wafat dan disalib spti ajaran mereka. Jujur saya tdk terima Bunda Maria yg kudus, berbelas kasih, penolong, disamakan dg Miriam yg hanya melahirkan Isa. Apakah krn mereka menyembah Tuhan dan tekun beribadah hal ini tdk berlaku negara Rusia yg dipesankan Bunda Maria? Kalau hanya ttg atheisme, berarti ajaran Lia Eden tdk termasuk krn mereka berdoa kpd Tuhan dan tekun beribadah. Menurut saya Rusia hanya perumpamaan ato simbol spti halnya Sodom dan Gomora. Kita jgn hanya memandang krn sama2 menyembah Tuhan kita benarkan ajaran mereka krn kebenaran hanya milik Yesus dan Gereja Katolik sbg TubuhNya. Seorang atheis klo ditanya, mereka jg menyembah Tuhan tapi definisi Tuhan bagi mereka adalah diri sendiri. Saya se7 inti dr pesan tersebut bertobat dan kembali ke ajaran Tuhan, TUHAN YESUS bukan yg lain.
    Terima kasih

    • Shalom Maria,

      Pertama- tama harap diketahui di sini bahwa fokus pewartaan di Katolisitas ini adalah tentang ajaran Gereja Katolik berdasarkan atas ketiga pilar yaitu Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium, dan bukan yang berkenaan dengan interpretasi wahyu pribadi. Dengan demikian, komentar yang kami berikan adalah yang berdasarkan dari apa yang kami ketahui dari ajaran ketiga pilar tersebut. Mengenai agama- agama non Kristen, secara khusus Muslim, ajaran Gereja Katolik jelas menyatakan:

      KGK 841    Hubungan Gereja dengan umat Islam. “Namun rencana keselamatan juga merangkum mereka, yang mengakui Sang Pencipta; di antara mereka terdapat terutama kaum Muslimin, yang menyatakan, bahwa mereka berpegang pada iman Abraham, dan bersama kita bersujud menyembah Allah yang tunggal dan maharahim, yang akan menghakimi manusia pada hari kiamat.” (Luman Gentium 16, Bdk. Nostra Aetate 3).

      Konsili Vatikan II mengajarkan:

      “Gereja Katolik tidak menolak apapun yang benar dan suci di dalam agama-agama ini [agama- agama non- Kristen]. Dengan sikap hormat yang tulus Gereja merenungkan cara-cara bertindak dan hidup, kaidah-kaidah serta ajaran-ajaran, yang memang dalam banyak hal berbeda dari apa yang diyakini dan diajarkannya sendiri, tetapi tidak jarang toh memantulkan sinar Kebenaran, yang menerangi semua orang. Namun Gereja tiada hentinya mewartakan dan wajib mewartakan Kristus, yakni “jalan, kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6); dalam Dia manusia menemukan kepenuhan hidup keagamaan, dalam Dia pula Allah mendamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya.

      Maka Gereja mendorong para puteranya, supaya dengan bijaksana dan penuh kasih, melalui dialog dan kerja sama dengan para penganut agama-agama lain, sambil memberi kesaksian tentang iman serta perihidup kristiani, mengakui, memelihara dan mengembangkan harta-kekayaan rohani dan moral serta nilai-nilai sosio-budaya, yang terdapat pada mereka.” (Nostra Aetate 2).

      “Gereja juga menghargai umat Islam, yang menyembah Allah satu-satunya, yang hidup dan berdaulat, penuh belaskasihan dan mahakuasa, Pencipta langit dan bumi, yang telah bersabda kepada umat manusia. Kaum muslimin berusaha menyerahkan diri dengan segenap hati kepada ketetapan-ketetetapan Allah juga yang bersifat rahasia, seperti dahulu Abraham – iman Islam dengan sukarela mengacu kepadanya – telah menyerahkan diri kepada Allah. Memang mereka tidak mengakui Yesus sebagai Allah, melainkan menghormati-Nya sebagai Nabi. Mereka juga menghormati Maria Bunda-Nya yang tetap perawan, dan pada saat-saat tertentu dengan khidmat berseru kepadanya. Selain itu mereka mendambakan hari pengadilan, bila Allah akan mengganjar semua orang yang telah bangkit. Maka mereka juga menjunjung tinggi kehidupan susila, dan berbakti kepada Allah terutama dalam doa, dengan memberi sedekah dan berpuasa.

      Memang benar, disepanjang zaman cukup sering timbul pertikaian dan permusuhan antara umat Kristiani dan kaum Muslimin. Konsili suci mendorong mereka semua, supaya melupakan yang sudah-sudah, dan dengan tulus hati melatih diri untuk saling memahami, dan supaya bersama-sama membela serta mengembangkan keadilan sosial bagi semua orang, nilai-nilai moral maupun perdamaian dan kebebasan.” (Nostra Aetate 3)

      Berpegang pada ajaran ini, maka tidak selayaknya kita menganggap umat muslim sebagai musuh. Kita harus menganggap mereka juga sebagai umat yang sama- sama mengakui Abraham sebagai bapa umat beriman; dan bahwa mereka juga menghormati Bunda Maria yang tetap perawan (yang mereka sebut sebagai Miriam). Maka jika kami menuliskan demikian, ini ada dasarnya, yaitu dari pengajaran Magisterium Gereja sebagaimana tertulis di atas. Jadi walau mereka tidak menghomati Kristus sebagai Tuhan- seperti penghormatan umat Kristen, namun adalah fakta bahwa mereka juga menghomati Maria (Miriam) sebagai ibu Tuhan Yesus Kristus (yang mereka sebut Nabi Isa), walaupun penghormatannya tidak sama dengan penghormatan kita umat Katolik kepada Bunda Maria. Maka hubungan kita secara rohani dengan kaum muslimin memang relatif lebih dekat daripada dengan orang- orang atheis, yang pada titik ekstrimnya bahkan sampai tidak mengakui adanya Tuhan.

      Maka saya setuju jika anda mengajak agar kita kembali kepada ajaran Tuhan, namun mari kita mengacu kepada ajaran Gereja Katolik, dan tidak mengandalkan interpretasi pribadi jika itu menyangkut ajaran iman.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  7. TArsisius Heru Wibowo on

    Ada hal yang mengganggu pikiran saya tentang kelompok PELAYANAN KASIH Ibu AGNES (IBU YANG BERBAHAGIA. Saya tinggal di Batam, tepatnya di Paroki St. Damian BENGKONG. Dalam sebuah acara diskusi dengan Pastor Paroki, secara tegas pastor Paroki melarang Ajaran kelompok doa ini. Yang menjadi pertanyaan saya apakah pelarangan ini merupakan sikap resmi Gereja Katolik? Terima KASIH

    • RD. Yohanes Dwi Harsanto on

      Salam Tarsisius,

      Setelah mengadakan penelitian dan selesai pada bulan November 2012, Komisi Teologi KWI telah memberi penilaian bahwa beberapa hal dari “ajaran” kelompok tersebut tidak sesuai dengan ajaran iman Katolik. Untuk lebih detilnya, silakan mengontak Komisi Teologi KWI di komteo@kawali.org

      Salam
      RD. Yohanes Dwi Harsanto

  8. Fidelia S Fung on

    Shalom Ibu Ingrid,
    Sebelum ini (kalau x silap tahun 1995) saya pernah menerima dan membaca beberapa artikel berhubung dengan rahsia pesan ketiga dari Fatima mengenai 3 hari kegelapan yang akan terjadi diseluruh bumi yang dipesan oleh Bunda Maria kpd ketiga anak gembala. Menurut pesan tersebut bahawa akan terjadi 3 hari kegelapan dan gempa yang sangat dahysat di seluruh bumi dan untuk menghadapinya Bunda Maria berpesan agar manusia bertobat dan kembali kepada Allah seutuhnya dengan banyak berdoa (terutama doa rosari) dan melakukan segala kebaikan. Selain itu, saya juga ada membaca perkara yang sama di satu laman web, kasihibuyangbahagia.com yang dipimpin oleh Ibu Agnes Sawarno dan boleh dikatakan sebagai kesinambungan dari pesan tersebut. Namun setelah saya membaca ketiga-tiga isi surat dari Sr. Lucia yg disebut di atas oleh Ibu Ingrid, sedikitpun tidak menyentuh pesan tentang 3 hk. Hal ini membuat saya tertanya-tanya, mohon penjelasan dari ibu bagaimanakah yang sebenarnya?.

    • Shalom Fidelia,
      Terus terang, saya juga pernah membaca artikel sehubungan dengan adanya tiga hari kegelapan yang anda maksud. Namun setelah saya periksa dokumen yang disetujui oleh Vatikan, hal kegelapan tiga hari tersebut tidak disebutkan. Situs Katolisitas hanya dapat menyampaikan pesan atau dokumen yang sudah disetujui oleh Vatikan, sehingga kami tidak dapat menyampaikan pesan- pesan yang berupa wahyu pribadi lainnya. Tentang wahyu pribadi, Gereja Katolik tidak mengharuskan umat untuk mempercayainya, namun juga tidak serta merta menolaknya. Jika wahyu itu memang otentik, maka pesannya akan terus berlanjut dan mendapatkan perhatian dari Gereja, seperti halnya dengan wahyu pribadi yang diterima St. Bernadette dan St. Maria Faustina.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  9. Antonius Wisnu on

    Salam dalam Kristus, mohon kiranya Ibu Inggrid Listiati bisa memuat artikel atau kirim ke e-mail saya mengenai Struktural Tahta Suci Vatikan secara lengkap dan tugas-tugas Duta Besar Vatikan di suatu negara dan hubungannya dengan kepemimpinan Bapa Kardinal. Salam : Antonius Wisnu

    • Shalom Antonius Wisnu,
      Silakan anda klik di sini untuk membaca secara garis besar topik yang anda tanyakan.
      Mohon maaf, karena banyaknya pertanyaan yang masuk saya belum dapat menuliskannya/ membuat terjemahannya.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  10. Lalu mengapa sekarang bkn antara komunisme dan kristiani melainkan selalu perdebatan dgn muslim???? Adakah pesan tsb utk hal ini??? Trimakasih, finu.

    • Shalom Finu,
      Pesan Bunda Maria seperti yang tertulis di atas memang bersangkutan dengan komunisme. Walau sekarang blok negara-negara komunis dapat dikatakan sudah ‘tumbang’ dengan berkurangnya pengaruh Rusia dan dirubuhkannya tembok Berlin, namun harus kita akui pengaruh mentalitas komunisme yang menjurus ke atheisme masih sangat kuat berkembang di seluruh dunia. Pengaruh materialisme dan atheisme inilah yang masuk perlahan-lahan baik di dalam masyarakat negara maju maupun berkembang. Dan mentalitas semacam ini lama- kelamaan ‘menggusur’ Tuhan dalam kehidupan masyarakat, dan cenderung tidak lagi mempunyai perhatian kepada hal-hal rohani.
      Sedangkan umat muslim tidaklah dapat disamakan dengan orang-orang atheis tersebut. Kaum muslim adalah umat yang mengimani Tuhan Allah, dan banyak di antara mereka tekun beribadah, dan sesungguhnya merekapun menghormati Bunda Maria, yang mereka sebut sebagai Mariam.
      Sepanjang pengetahuan saya, tidak ada pesan khusus tentang adanya konflik antara umat Kristiani dan muslim. Walau secara khusus, memang pesan yang selalu disampaikan oleh Bunda Maria adalah agar kita semua bertobat, berdoa dan berpuasa demi pertobatan dan perdamaian dunia. Maka pesan ini sesungguhnya tertuju kepada segenap umat manusia, baik umat Katolik maupun non- Katolik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  11. “Bapa Suci akan meng-kosekrasikan Rusia kepadaku dan Rusia akan bertobat, dan sebuah periode damai akan diberikan kepada dunia.”.

    Bila kita berpendapat hal ini sudah terpenuhi ketika Pope JPII mengkonsekrasikan dunia 1981 (saat itu Rusia tidak disebut eksplisit!), dan kejatuhan komunisme 1989. Tentunya setelah itu adalah periode damai.

    Tapi kita semua melihat, setelah periode itu beberapa perang terjadi: di Teluk, perang saudara di Afrika, terorisme dan pre-emptive war nya , perlombaan nuklir ,dll… Demikian juga Gereja masih dianiaya di banyak tempat sampai saat ini, sebagian dilecehkan oleh kaum klerusnya sendiri, ditinggalkan oleh umatnya. Gereja Orthodox Rusia juga belum mulai berjalan ke persatuan dgn Roma. Inikah “periode damai” yg dijanjikan setelah nubuat terpenuhi?

    Saya pikir, kejadian-kejadian itu masih akan datang, Salah satu dari tanda-tanda zaman.
    Walaupun Pope JPII merasa nubut itu terkait pengalaman beliau, bisa saja itu pre-figurasi saja.
    Bukankah juga tidak ada larangan dari GK untuk interpretasi demikian.

    • Shalom Fxe,
      Ya benar, bahwa memang nubuatan di Fatima itu masih dapat diartikan sampai sekarang, dan bahwa ‘rahasia’ ketiga itu bukannya sudah definitif terpenuhi pada percobaan pembunuhan Paus Yohanes Paulus II. Sehingga ajakan untuk bertobat masih berlaku sampai sekarang, terutama di tengah dunia dan masyarakat yang makin kurang peka akan arti dosa dan akibatnya bagi keselamatan manusia.

      Maka ‘periode damai’ yang ada setelah konsekrasi Rusia, juga sebenarnya bersifat relatif. Maksudnya meskipun masih terjadi pergolakan/ perang di beberapa daerah di dunia, sifatnya tidak seperti pada perang dunia pertama dan kedua, yang mempunyai pengaruh yang besar bagi seluruh dunia. Hal perang dan pergolakan, seperti halnya kemiskinan dan penderitaan memang tidak terpisahkan dari realitas manusia yang dipengaruhi oleh akibat dosa asal. Dan memang jika dunia sekarang ini tidak bertobat, bukannya tidak mungkin perang dingin yang sudah berakhir dengan kejatuhan Rusia tersebut, dapat berkembang menjadi perang berikutnya yang lebih besar. Dan dalam hal ini maka nubuatan di Fatima tersebut masih relevan.

      Jadi dapat saja memang kasus Paus Yohanes Paulus II merupakan pre-figurasi dari kejadian lain yang mungkin masih dapat terjadi. Namun tidak dapat dipungkiri, bahwa kejadian percobaan pembunuhan Paus Yohanes Paulus II tersebut langsung mengingatkan kita kepada rahasia ke 3 Fatima, justru karena juga dilatarbelakangi oleh pihak-pihak/ oknum atheisme Rusia yang menolak Allah dan Gereja, seperti yang disebutkan dalam nubuatan itu. Paus Yohanes Paulus II sendiri memutuskan untuk mengumumkan rahasia itu bukan dengan maksud bahwa nubuatan itu seolah sudah terpenuhi. Sebab baginya dan saya rasa bagi kita semua, yang terpenting adalah ajakan untuk bertobat, ajakan yang sungguh sangat relevan pada sekarang ini.

      Jadi untuk menjawab pertanyaan anda, ya, tidak ada larangan untuk menginterpretasikan demikian, karena bagi kita nubuatan itu juga dapat bermaksud sebagai peringatan. Dalam hal ini adalah, jika dunia tidak bertobat, atheisme berkembang dan menyebarkan kesesatannya, dapat saja terjadi penganiayaan yang demikian terhadap Gereja, dan terutama Bapa Paus. Namun yang jelas, bukan kesengsaraan di dunia yang memegang kata akhir, sebab Yesus berkata, “Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.” (Mat 10:28)
      Karena kehidupan di dunia ini sementara sifatnya, sedangkan kehidupan surgawi itulah yang kekal selamanya. Kehidupan surgawi itu hanya kita peroleh dengan memiliki iman dan hati seperti Bunda Maria dalam kemurniannya (Immaculate), yaitu dengan kekudusan. Karena hanya dengan kekudusan kita melihat Allah (Ibr 12:14), maka kekudusan itulah yang akan menang pada akhirnya, karena kekudusan itulah yang menghantar kita kepada ALlah “yang berkuasa membunuh jiwa” namun berkuasa juga “memberikan hidup yang kekal”. Maka apapun yang terjadi, janji yang diberikan dalam nubuatan itu tetap berlaku; bahwa pada akhirnya hati Maria yang tidak bernoda (Immaculate heart of Mary) dan kita semua yang hidup kudus seturut dengan teladan Bunda Maria, akan menang.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

    • Shalom Aguslie,
      Terima kasih. Anda benar. Teks pesan ketiga Fatima baru dipublikasikan tgl 26 Juni 2000, (setelah diumumkan oleh Kardinal Angelo Sedano atas nama Bapa Paus, bahwa pesan ketiga tersebut akan diumumkan dalam waktu dekat. Pengumuman ini tertanggal 13 Mei 2000, pada hari beatifikasi Francisco dan Jacinta Marto). Sudah saya tambahkan di artikel di atas. Sebelumnya saya lupa mencantumkan tanggalnya di sana, sehingga berkesan sudah dipublikasikan tahun 1981, padahal hal itu baru dipublikasikan ke publik pada tahun 2000.
      Sekali lagi terima kasih. Tuhan memberkati.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  12. Thomas Aquinas Windu Pawartajati on

    Salam Damai Kristus,
    Saya ingin mengetahui tentang pendapat Gereja Katolik terutama Tahta Suci tentang Surat Bunda Maria di Fatima yang diterima oleh 3 anak-anak pada th 1917. Dan apakah benar isinya tentang kehancuran dunia?
    Mohon penjelasannya.
    Salam, Thomas Aquinas Windu Pawartajati.

    [Dari Admin Katolisitas: Pertanyaan ini sudah dijawab di atas, silakan klik]

  13. [Dari Katolisitas: Pesan ini dipindahkan ke topik ini karena lebih sesuai]

    Terima kasih kpd ibu Ingrid utk jawaban atas pertanyaan saya, dan juga utk pak Stefanus.
    Sebenarnya masih banyak sekali pertanyaan saya tentang iman Katolik ini, yg saya berusaha untuk mengerti lebih jauh, agar saya dapat mempertanggung-jawabkannya. jadi bila ibu Ingrid dan pak Stefanus masih berkenan, berikut ini adalah pertanyaan saya yg membuat saya binggung.
    Dalam penampakan di Fatima tgl 13 Okt 1917 yg saya baca dlm beberapa artikel, diceritakan bahwa Bunda Maria menyampaikan beberapa pesan, yg antara lain mengatakan bahwa bila berdoa rosario secara khusuk maka dosa2 si pendoa tsb akan diampuni (surat ketiga, yg sudah dibuka).
    Selain itu juga dalam penampakan kpd Sr. Faustina pd thn 1935, Yesus mengatakan bahwa kpd mereka yg berdoa Kerahiman Illahi, dosa2nya akan diampuni (ini saya dengar di gereja pd pengantar saat akan dimulai melakukan doa Koronka Kerahiman Illahi).
    Ini sebenarnya sangat membingungkan saya, karena selama ini saya selau berkeyakinan, bahwa semua dosa memang bisa diampuni (tak peduli berapa beratnya, kecuali dosa ke pd Roh Kudus), asalkan si pendoa tsb mau bertobat. Tobat ini menurut saya, adalah sebuah proses, yi penyesalan sungguh2 atas semua kesalahannya, serta pertobatan sungguh2 tak akan mengulanginya dan minta ampun dgn mengaku dosa tsb dan menerima Sakramen Tobat + indulgensi dari seorang pastur.
    Saya merasa bahwa sebuah doa yg hanya diucapkan dgn kata2 & cara tertentu (hanya dgn mulut dan lidah) tanpa adanya penyesalan, tobat dan Sakramen Tobat, sama sekali tidak mengapus dosa seseorang karena unsur adanya “tobat” tidak ada sekali disitu. Menurut saya setiap orang akan dengan sangat mudah utk melakukan doa2 (rosario & Kerahiman Illahi) tsb tanpa merasa adanya penyesalan atas dosa2nya, bahkan mungkin masih ada perasaan dendam. Jadi hanya melakukan “minta ampun” tsb karena takut akan hukuman tapi samasekali tidak ada penyesalan dalam hatinya.
    Mohon penjelasannya.
    Terima kasih, GBU
    Salam Damai,
    Martin

  14. Shalom Martin,
    Pesan tentang pertobatan yang disampaikan di Fatima (1917) maupun pesan Kerahiman Ilahi melalui St. Maria Faustina (1935) tidak untuk dipertentangkan dengan Sakramen Tobat. Ulasan mengenai pesan penampakan Bunda Maria di Fatima dan interpretasinya, sudah pernah dituliskan di atas ini, silakan klik. Maka pertobatan yang dimaksud, bukan hanya sekedar “mengucapkan kata- kata tertentu tanpa unsur tobat” seperti yang anda katakan. Jika anda pernah ke Fatima, di sana anda dapat melihat banyaknya/ panjangnya antrian para peziarah untuk menerima Sakramen pengakuan dosa melalui pastor. Jadi pertobatan yang tulus itu akhirnya mendorong seseorang untuk juga dengan rendah hati mengakui dosa- dosanya di hadapan imam yang menjadi wakil Tuhan untuk menyampaikan absolusi dan rahmat pengampunan dosa yang dari Tuhan.
    Demikian juga pada devosi kerahiman ilahi. Puncak perayaan devosi ini adalah pada hari Minggu Kerahiman Ilahi, yang dirayakan seminggu setelah Paska. Sebelum hari Minggu tersebut diadakan novena kerahiman ilahi yang dimulai pada hari Jumat Agung. Lalu jika kita ingin menerima indulgensi, maka pada hari Minggu tersebut kita harus mengikuti Misa Kudus, menerima Sakramen Pengakuan Dosa, berdoa bagi intensi Bapa Paus. Jadi pertobatan di sini juga tidak terlepas dari Sakramen Pengakuan Dosa, Ekaristi dan kesungguhan hati dalam berdoa dan bertobat.

    Maka kalau seorang yang sudah dibaptis Katolik, lalu hanya berdoa Rosario atau doa Kerahiman Ilahi saja tetapi tidak mau mengaku dosa dalam Sakramen, sesungguhnya itu belum sungguh bertobat. Kekecualian hanya pada kondisi seseorang yang di saat ajal, yang karena satu dan lain hal tidak dapat/ tidak sempat memanggil pastor untuk menerimakan sakramen Pengakuan Dosa. Dalam hal ini, kita percaya, jika hati orang tersebut sungguh- sungguh telah bertobat (mempunyai pertobatan yang sempurna), maka kerahiman dan belas kasihan Tuhan tetap dapat menjangkaunya. Namun pada kasus orang yang sehat dan tidak ada halangan untuk menemui imam/ pastor, maka pertobatan yang sempurna itu melibatkan pengakuan dosa di hadapan imam, sebab hal itulah yang disyaratkan sendiri oleh Tuhan Yesus (lih. Yoh 20:21-23). Mengenai perlunya Sakramen Pengakuan Dosa sudah pernah dibahas di artikel seri di situs ini (ada bagian 1 s/d 4), silakan membacanya.

    Akhirnya, mungkin perlu diluruskan di sini, bahwa yang memberikan indulgensi adalah Gereja, bukan pastor/ imam secara pribadi. Mengenai pengertian Indulgensi, klik di sini. Indulgensi ini diberikan pada kesempatan- kesempatan tertentu, dan dapat berupa indulgensi penuh atau sebagian. Namun yang diberikan pada sakramen Tobat adalah absolusi, dan bukannya indulgensi. Untuk indulgensi masih ada persyaratan lain yang harus dipenuhi, seperti yang dituliskan di artikel tentang Indulgensi tersebut. Sedangkan absolusi yang diberikan oleh imam tersebut adalah sesuai dengan kuasa yang diberikan oleh Kristus kepada para rasul-Nya, dan para penerus mereka, untuk ‘mengikat dan melepaskan’ (Mat 16:18-19: 18:18). Dengan absolusi, imam, atas kuasa yang diberikan Kristus kepadanya, melepaskan orang yang mengaku dosa tersebut dari belenggu/ ikatan dosa, dan menyalurkan rahmat pengampunan Allah, seperti yang disebutkan dalam Yoh 20:21-23.

    Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
    Ingrid Listiati- katolisitas.org

  15. Shalom Ibu Ingrid,
    Terima kasih banyak atas penjelasannya, saya menjadi bisa lebih memahami. Namun, selama ini dari perwartaan lisan maupun tulisan2 yg saya baca sama sekali tidak pernah disebutkan bahwa semua itu (doa dgn cara tertentu : rosario, kerahiman Illahi dll) harus dilanjutkan dgn pengakuan dosa dan penerimaan Sakramen Tobat. Mungkin para pewarta maupun penulis2 tsb sudah merasa jelas dan tidak perlu diberi keterangan lebih lanjut, namun bagi saya (dan juga mungkin ribuan org katolik lainnya) yg awam dan masih dalam proses pembelajaran (apalagi utk mereka yg bukan katolik) akan menganggap (misinterpreted) bhw doa tsb sudah cukup dan tak perlu proses lebih lanjut. Terjadi suatu misleading informasi.
    Dengan adanya situs ini semoga semua kesalahan-pahaman tsb dapat dikoreksi, semoga juga nanti saya dapat mendukung secara riil exist-nya situs ini. Proficiat.
    Salam, GBU