Tentang Bahasa Roh

62

Berikut ini adalah beberapa tanya jawab tentang bahasa roh:

Sepanjang pengetahuan saya, memang Gereja Katolik belum mengeluarkan dokumen resmi yang mengajarkan mengenai bahasa Roh ini, walaupun pengajaran tentang Roh Kudus bukan merupakan sesuatu yang asing bagi kita, dan banyak terdapat dalam Kitab Suci. Salah satu pengajaran penting dari Magisterium tentang peran Roh Kudus terdapat dalam surat ensiklik Paus Yohanes Paulus II yang berjudul, Dominum et Vivificantem (Roh Kudus di dalam kehidupan Gereja dan dunia). Dokumen tersebut membahas tentang peran utama Roh Kudus, yaitu untuk: 1) menginsyafkan dunia akan dosa, meyakinkan tentang kebenaran dan penghakiman (lih. Yoh 16:8) dan 2) memberikan kehidupan ilahi kepada kita dan menjadikan kita anak-anak angkat Allah (lih. Gal 4:6, Rom 5:5, 2 Kor 1:22; Rom 8:15). Mengenai yang terakhir ini kita alami pada waktu Baptisan dan selanjutnya di dalam sakramen-sakramen Gereja, sedangkan hal menginsyafkan akan dosa, kebenaran dan penghakiman ini, dapat kita alami sepanjang kehidupan kita di dunia.

Maka, pemberian karunia bahasa Roh, menurut ajaran Gereja Katolik, tidak terlepas dari misi Roh Kudus ini. Bahwa karunia berdoa dalam bahasa Roh yang otentik harus disertai juga dengan pertobatan, dan penghayatan akan kehidupan ilahi yang Tuhan berikan kepada kita melalui sakramen-sakramen.

1. Apakah tanda seseorang mendapatkan karunia berdoa dalam bahasa Roh?

Saya harus dengan jujur mengatakan bahwa karunia bahasa Roh ini lebih mudah dijelaskan kalau sudah pernah dialami. Sebab jika belum mengalami, maka akan sulit untuk menjabarkannya dengan kata-kata. Namun yang pasti ada beberapa prinsip yang berkaitan dengan karunia bahasa Roh ini.

a) Umumnya karunia ini diberikan pada saat/ setelah orang tersebut bertobat dan mempunyai komitmen yang baru untuk percaya dan berserah secara total kepada Tuhan Yesus sebagai Juruselamatnya.

b) Karunia berdoa di dalam Roh ini merupakan pemenuhan janji Rom 8:26, “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.”

Oleh dorongan Roh Kudus, seseorang yang mendapat karunia bahasa Roh akan dapat berdoa dengan cara yang baru, yang tidak pernah dikenalnya sebelumnya. Pada saat ia memusatkan hati memuji Allah dan membuka mulutnya, maka ia akan mengeluarkan “keluhan-keluhan yang tidak terucapkan” yang melibatkan pergerakan lidahnya, sehingga bahasa Roh kadang juga disebut bahasa lidah. Inilah yang dikenal dengan berdoa dengan bahasa Roh, di mana Roh Kudus sendiri yang membantunya berdoa.

c) Buah dari bahasa Roh ini adalah sesuai dengan buah Roh Kudus yang dijanjikan, yaitu, kasih, suka cita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri (Gal 5:22). Maka pengalaman pada saat orang mendapat karunia berdoa dalam bahasa Roh, pertama-tama adalah pengalaman akan kasih Tuhan, yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata, dengan suka cita dan damai sejahtera yang melimpah.

d) Seseorang yang mendapat karunia berdoa dalam bahasa Roh ini dapat menggunakannya pada saat ia berdoa, namun ia mempunyai kuasa untuk menggunakannya atau tidak, ataupun mengendalikannya. Jadi bukan seperti orang ‘kesurupan’ di mana ucapan-ucapan menjadi tidak terkendali.

e) Umumnya seseorang dapat memperoleh karunia bahasa Roh dalam pertemuan doa yang dikenal dalam Seminar Hidup dalam Roh Kudus (SHDR), namun tidak menutup kemungkinan diperolehnya karunia ini dalam doa pribadi, doa rosario, maupun pada saat mendoakan Ibadat Harian, seperti yang pernah dialami oleh Fr. Raniero Cantalamessa, pengkhotbah kepausan di Roma, dan pada saat membaca dan merenungkan Kitab Suci, seperti yang dialami oleh Mother Angelica, pendiri EWTN (Eternal Word Television Network), atau saat berdoa Adorasi di hadapan sakramen Maha Kudus, seperti yang dialami oleh beberapa mahasiswa Katolik pertama yang menerima karunia Roh Kudus tersebut dalam ‘Duquesne weekend’ di tahun 1967.

f) Namun apapun caranya, akibat yang dialami dari orang yang menerima karunia bahasa Roh, adalah pengalaman dikasihi oleh Allah dan semangat yang luar biasa untuk membalas kasih-Nya, kesadaran akan kehadiran Allah dalam hidupnya dan membina hubungan yang pribadi dengan-Nya. Pengalaman rohani ini mendorongnya untuk selalu selalu bertobat dan memperbaiki diri, dan melakukannya dengan senang hati. Selanjutnya, ada yang terinsiprasi untuk membaca Kitab Suci, mempelajari tulisan para Bapa Gereja, dan mempelajari imannya karena didorong oleh keinginan yang besar untuk semakin mengenal Allah dan Kebenaran-Nya. Ada pula yang terdorong untuk semakin memberikan komitmen dalam doa pribadi dan doa syafaat bagi orang lain, melibatkan diri dalam komunitas kerasulan awam, semakin menghayati misteri kasih Allah di dalam sakramen- sakramen dan sebagainya.

2. Ada orang yang berdoa dengan keras dengan bahasa tak dikenal. Apakah itu bahasa Roh? Bagaimana menafsirkan?

Jawabannya bisa ya, bisa tidak. Agaknya sulit untuk menentukan, sebab terdapat beberapa faktor yang menentukan. Mungkin sebaiknya kita melihat kepada Alkitab untuk menyikapinya. Walaupun tidak secara eksplisit dibedakan, namun Alkitab menuliskan setidaknya terdapat perbedaan perwujudan doa dalam bahasa Roh ini:

a) merupakan doa pribadi, di mana Roh Kudus berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan yang tak terucapkan (Rom 8:26). Jadi dalam hal ini, keluhan yang tak terucapkan tersebut merupakan bentuk doa pribadi, sehingga tidak memerlukan interpretasi untuk diketahui orang lain. Menurut pandangan saya, jika didoakan bersama dalam satu kesatuan/harmoni, bentuk doa ini, walau tidak diinterpretasikan, tetap terdengar indah.

b) merupakan perkataan dalam bahasa lain (salah satu bahasa di dunia), yang sebelumnya tidak diketahui oleh sang pembicara, yang dapat dimengerti oleh yang mendengarkannya, karena sesuai dengan bahasa yang dipergunakan oleh negara asal pendengar (lih. Kis 2:7-11).

c) merupakan perkataan dalam bahasa yang bukan merupakan salah satu bahasa di dunia, yang diucapkan kepada jemaat sebagai nubuat. Bahasa Roh ini memerlukan interpretasi, entah dari orang yang mengatakannya atau dari orang lain, dengan maksud membangun umat (lih. 1 Kor 14:5, 13), sebab tanpa interpretasi maka umat yang hadir tidak mengerti akan apa yang sedang dibicarakan. Untuk maksud inilah Rasul Paulus berkata, dalam pertemuan umat, setidaknya dua atau tiga mengucapkan doa bahasa Roh, dan dilanjutkan dengan interpretasinya (lih. 1 Kor 14:  27, 29).

Kebanyakan dalam pertemuan doa Karismatik Katolik, yang umum dilakukan adalah bentuk yang pertama (point a., berdoa pribadi dalam bahasa Roh bersama-sama) dan tak banyak persekutuan doa yang juga menyampaikan bentuk doa yang ketiga (point.c). Menurut pandangan saya, jika didoakan bersama dalam satu kesatuan/harmoni, berdoa bersama dalam bahasa Roh ini walau tidak diinterpretasikan, tetap terdengar indah (terutama jika didukung oleh tim musik ). Namun, jika ada orang yang kemudian mengucapkannya dengan keras di hadapan jemaat, yang dikenal juga dengan istilah “speaking in tongue”/ berbicara di dalam Roh untuk menyampaikan pesan Allah, maka dapat dimengerti bahwa hal ini baru dapat membangun keseluruhan umat jika ada yang menginterpretasikannya.

Jika tidak ada yang menginterpretasikan bahasa Roh ini, menurut Rasul Paulus, lebih baik digunakan kata-kata yang dapat dimengerti oleh semua orang, untuk membangun iman umat yang hadir (lih.  Kor 14:19). Oleh karena itu, memang Rasul Paulus mendorong agar ibadat bahasa roh ini diadakan dengan tertib (lih. 1 Kor 14:33, 40). Maksudnya di sini, jangan sampai di pertemuan jemaat orang saling berbicara keras, yang melibatkan lebih dari tiga nubuatan dalam bahasa Roh namun tidak ada yang menginterpretasikannya.

Penafsiran bahasa Roh ini bukan suatu ilmu yang bisa dipelajari, namun merupakan karunia Tuhan. Karunia menafsirkan bahasa Roh ini dihubungkan dengan karunia bernubuat (lih. 1 Kor 12:10; 14:5). Rasul Paulus berkata, “Usahakanlah dirimu untuk memperoleh karunia untuk bernubuat dan janganlah melarang orang berkata-kata dalam bahasa Roh.” (1Kor 14:39)

3. Bagaimana meyakinkan bahwa bahasa Roh tersebut berasal dari Allah?

Yesus mengajarkan agar kita menilai baik dan buruknya suatu pohon dari buahnya (Mat 12:33). Maka khusus mengenai bahasa Roh ini, kita menilainya buahnya dari:

a) Jika karunia bahasa Roh tersebut memberikan pertobatan sejati yang terus menerus dalam kehidupan orang tersebut.

b) Jika karunia bahasa Roh tersebut menghasilkan buah yang baik sesuai dengan pengajaran Alkitab: kasih, suka cita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri (lih. Gal 5:22)

c) Jika karunia tersebut menjadikan orang tersebut semakin rendah hati untuk bertumbuh di dalam iman dan pengenalannya akan Allah, dan untuk menggunakan karunia yang diberikan oleh Roh Kudus itu untuk membangun umat. Bagi umat Katolik, maka sikap kerendahan hati juga diwujudkan ketaatan kepada pihak otoritas Gereja Katolik.

Berikut ini adalah pengajaran Magisterium yang terdapat dalam Lumen Gentium 12:

“Selain itu Roh Kudus juga tidak hanya menyucikan dan membimbing Umat Allah melalui sakramen-sakramen serta pelayanan-pelayanan, dan menghiasnya dengan keutamaan-keutamaan saja. Melainkan Ia juga “membagi-bagikan” kurnia-kurnia-Nya “kepada masing-masing menurut kehendak-Nya” (1Kor 12:11). Di kalangan umat dari segala lapisan Ia membagi-bagikan rahmat istimewa pula, yang menjadikan mereka cakap dan bersedia untuk menerima pelbagai karya atau tugas, yang berguna untuk membaharui Gereja serta meneruskan pembangunannya, menurut ayat berikut : “Kepada setiap orang dianugerahkan pernyataan Roh demi kepentingan bersama” (1Kor 12:7). Karisma-karisma itu, entah yang amat menyolok, entah yang lebih sederhana dan tersebar lebih luas, sangat sesuai dan berguna untuk menanggapi kebutuhan-kebutuhan Gereja; maka hendaknya diterima dengan rasa syukur dan gembira. Namun kurnia-kurnia yang luar biasa janganlah dikejar-kejar begitu saja; jangan pula terlalu banyak hasil yang pasti diharapkan daripadanya untuk karya kerasulan. Adapun keputusan tentang tulennya karisma-karisma itu, begitu pula tentang penggunaannya yang sepantasnya, termasuk wewenang mereka yang bertugas memimpin dalam Gereja. (… but judgment as to their genuinity and proper use belongs to those who are appointed leaders in the Church). Terutama mereka itulah yang berfungsi, bukan untuk memadamkan Roh, melainkan untuk menguji segalanya dan mempertahankan apa yang baik (lih. 1Tes 5:12 dan 19-21).”

d) Selanjutnya untuk memeriksa keotentikan karunia nubuat, ialah: nubuat itu harus sesuai dengan Alkitab dan yang diajarkan oleh Gereja Katolik, sebab Roh Kudus tidak mungkin mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang sudah pernah diwahyukan-Nya kepada Gereja.

e) jika nubuat yang disampaikan bertentangan dengan Alkitab dan ajaran Gereja, apalagi kemudian tidak terbukti, maka dapat dikatakan itu bukan dari Roh Kudus.

4.  Dari point 1-3 di atas, maka saya telah menyampaikan secara ringkas tentang bahasa Roh; semoga berguna bagi anda.

Selanjutnya tentang karismatik, mungkin dapat kami uraikan lebih lanjut dalam artikel terpisah. Mohon kesabarannya.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Share.

About Author

Ingrid Listiati telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

62 Comments

  1. budiaryotejo on

    He3x…….saya juga bisa bahasa roh/lidah kok……..sy dapat bahasa roh krn tekun dan fokus doa pada Yesus……..
    2 ato 3 orang lebih berkumpul berdoa pujian penyembahan maka niscsya Tuhan akan mengkaruniakan bahasa roh itu diantara mereka. Namun sayangnya saya sendiri tidak mengerti maknanya. Dan pd umumnya sulit ato tidak dpt memaknainya diantara mereka yg berkumpul.

    [Dari Katolisitas: Jika berpegang pada perkataan Rasul Paulus dalam 1 Kor 14:14, maka memang kita tidak dapat menangkap dengan akal budi kita, jika kita berdoa dalam bahasa roh. Itulah sebabnya Rasul Paulus tetap menganjurkan agar kita selain berdoa dalam bahasa roh, juga berdoa dengan akal budi, yaitu dengan menyanyi, ataupun memuji Tuhan dengan cara yang dipahami oleh akal budi.]

  2. Saya org khatolik,pa bnar org khatolik punya bhasa roh sndri?
    Apkah d bnarkan pa bila da seseorang khatolik blajar bhsa roh d grja laen(slaen khatolik)?
    N apkah cra org khatolik mengusir roh halus yg berusaha mengganggu,dan dgn d0a apkah? ?

    M0h0n d jwb ,thank’s

    • Salam, Vinsensius

      Gereja Katolik mengimani bahwa Kristus berkarya dengan kuasa Roh Kudus pertama-tama melalui Gereja Katolik. Namun, Allah juga bebas berkarya diluar Gereja Katolik sesuai kebijaksanaanNya, termasuk di gereja-gereja non-Katolik. Bahasa Roh adalah salah satu dari sekian banyak karunia Roh Kudus yang tergolong Karunia Karismatis. Diatas karunia karismatis, ada karunia yang lebih penting bagi keselamatan jiwa, yakni Sapta Karunia Roh Kudus. Sapta Karunia Roh Kudus mengubah jiwa manusia menjadi jiwa yang berkenan pada Allah, sekalipun tidak mendapat karunia bahasa Roh. Mengenai Karunia Roh Kudus dan Manfaatnya dapat anda lihat dalam artikel ini – silakan klik.

      Sekarang, mari kita melihat pertanyaan anda :

      1. Apakah Orang Katolik memiliki Bahasa Roh sendiri?
      Bahasa Roh adalah karunia dari Roh Kudus, sekalipun bermanifestasi dalam wujud yang beragam. Artinya, sekalipun bentuk bahasa Roh terdengar beragam, hanya ada satu sumber karunia bahasa Roh, yakni Roh Kudus. Umat Katolik tidak memiliki bahasa Roh “versi” Katolik, melainkan bahasa Roh dari Roh Kudus dalam bentuk apapun itu. Bahkan, sebenarnya bahasa Roh bukan klaim eksklusif golongan atau gereja tertentu saja, melainkan milik Allah. Kita tahu bahwa bahasa Roh sudah muncul sejak awal kelahiran Gereja, dimulai dari Para Rasul.

      Yang menarik disimak di sini adalah perkembangan yang terjadi setelah jaman para rasul. Montanus (135-177), adalah seorang yang dikenal sebagai pelopor karunia bahasa Roh pertama di abad ke-2, dengan menekankan adanya karunia nubuat. Ia menekankan bahasa roh dan kehidupan asketisme (mati raga) yang ketat; dan ia mengklaim sebagai penerima wahyu Tuhan secara langsung, sehingga membahasakan diri sebagai orang pertama dalam nubuat-nubuatnya, seolah- olah ia sendiri adalah Tuhan. Gerakan Montanism ini akhirnya memecah Gereja di Ancyra menjadi dua; dan karena itu Uskup Apollinarius menyatakan bahwa nubuat Montanus adalah palsu (Eusebius 5.16.4) Gerakan Montanus akhirnya ditolak oleh para pemimpin Gereja.

      Montanus dan para pengikutnya lalu memisahkan diri dari kesatuan dengan Gereja yang ada pada saat itu. Oleh karena itu, tak mengherankan bahwa para Bapa Gereja pada abad-abad awal menekankan agar jemaat tunduk pada pengajaran para uskup yang adalah para penerus Rasul; dan mereka relatif tidak terlalu menekankan karunia bahasa roh [kemungkinan mengingat bahwa hal itu faktanya dapat menimbulkan perpecahan]. St. Policarpus (69-159) yang hidup di jaman Rasul Yohanes, tidak menyebutkan tentang bahasa roh, demikian pula St. Yustinus Martir (110-165). St. Irenaeus (120-202) hanya menyebutkan secara sekilas dalam tulisannya Against Heresies. Selanjutnya karunia bahasa roh ini disebutkan dalam tulisan-tulisan St. Hilarius dari Poitiers (300-367) dan St. Ambrosius (340-397), walaupun tidak dikatakan secara eksplisit bahwa mereka mengalaminya. Juga pada masa itu, seorang pertapa Mesir, Pachomius (292-348) dilaporkan memperoleh karunia bahasa roh, yang disebut sebagai “bahasa malaikat”, dan di suatu kesempatan dapat menguasai bahasa Yunani dan Latin yang tidak dipelajarinya terlebih dahulu.

      Namun sejak abad ke-3, dengan matinya sekte Montanus dan relatif urungnya para Bapa Gereja untuk mengekspos tentang bahasa roh, maka bahasa roh tidak lagi menjadi praktek yang umum di dalam Gereja. Beberapa Bapa Gereja yang tergolong skeptis tentang bahasa roh di antaranya adalah Eusebius (260–340) dan Origen (185–254). St. Krisostomus (344-407), uskup Konstantinopel dalam homilinya kepada jemaat di Korintus (lih. Homilies on First Corinthians, xxix, 1, NPNF2, v. 12, p. 168), mempertanyakannya, mengapa karunia bahasa roh tidak lagi terjadi di dalam Gereja; dan selanjutnya mengatakan bahwa di antara karunia- karunia Roh Kudus yang disebutkan di 1 Kor 12:18, karunia bahasa roh menempati tingkatan yang ter-rendah (Homily xxxii, NPNF2, v. 12, p. 187).

      Selanjutnya, St. Agustinus (354-430) memberikan pengajaran demikian tentang bahasa roh, dan prinsip inilah yang kemudian dipegang oleh Gereja untuk tujuh ratus tahun berikutnya:
      “Pada awal mula, Roh Kudus turun atas mereka yang percaya: dan mereka berkata-kata dalam bahasa lidah (bahasa roh) yang tidak mereka pelajari, yang diberikan oleh Roh Kudus untuk mereka ucapkan. Ini adalah tanda- tanda yang diberikan pada saat di mana diperlukan bahasa roh untuk membuktikan adanya Roh Kudus di dalam semua bahasa bangsa-bangsa di seluruh dunia. Hal itu dilakukan sebagai sebuah bukti dan [kini] telah berlalu…. Sebab siapa yang di masa sekarang ini yang menerima penumpangan tangan berharap bahwa saat mereka menerima Roh Kudus juga akan dapat berkata- kata dalam bahasa roh?” (Homilies on 1 John VI 10; NPNF2, v. 7, pp. 497-498).

      “… Bahkan sekarang Roh Kudus diterima, namun tak seorangpun berkata- kata dalam bahasa semua bangsa, sebab Gereja sendiri telah berbicara dalam bahasa semua bangsa: sebab barangsiapa tidak di dalam Gereja tidak menerima Roh Kudus.” (The Gospel of John, Tractate 32).

      Maka menurut St. Agustinus, bahasa roh adalah kemurahan khusus di jaman apostolik demi kepentingan evangelisasi, yang tidak lagi terjadi di saat itu. Paus Leo I Agung (440-461) mendukung pandangan St. Agustinus. Maka setelah kepemimpinannya sampai abad ke- 12, tidak ada literatur yang menyebutkan tentang bahasa roh.

      Namun demikian, walaupun tidak umum, beberapa kejadian sehubungan dengan bahasa roh terjadi di dalam kehidupan beberapa orang kudus. Seorang biarawati Benediktin St. Hildegard dari Bingen (1098 – 1179) dilaporkan menyanyikan kidung dengan bahasa yang tidak diketahui yang disebutnya sebagai “konser Roh”. Sekitar seratus tahun kemudian St. Dominic (1221) kelahiran Spanyol dilaporkan dapat berbicara dalam bahasa Jerman setelah berdoa dengan khusuk. St. Antonius dari Padua (wafat 1231) menuliskan tentang pengalaman rohaninya bahwa lidahnya menjadi pena Roh Kudus. Demikian pula St. Joachim dari Fiore (1132-1202) yang memulai kebangunan rohani yang mempengaruhi masa akhir Abad Pertengahan.

      St. Thomas Aquinas (1247) menyinggung tentang bahasa roh dalam bukunya Summa Theology (ST II-II, q.176, a.1&2), dan mengutip kembali pengajaran St. Agustinus. St. Thomas mengatakan bahwa pada awalnya memang diberikan karunia bahasa roh kepada para rasul, agar mereka dapat menjalankan tugas mereka untuk mewartakan Kabar Gembira kepada segala bangsa. Sebab tidaklah layak bagi mereka yang diutus untuk mengajar orang lain harus diajar terlebih dahulu oleh orang lain. Selanjutnya ia mengatakan bahwa karunia bernubuat adalah lebih tinggi daripada karunia bahasa roh (lih. 1Kor 14:5).

      Setelah sekitar seabad berlalu, St. Vincentius Ferrer (1350) dicatat telah berbicara dalam bahasa roh. Di Genoa, para pendengarnya yang terdiri dari bangsa yang berbeda- beda, dapat mendengarnya bicara dalam bahasa mereka. Setelah ditanyakan tentang hal ini, St. Vincent menjawab, “Kamu semua salah, dan [sekaligus] benar, sahabat- sahabatku,” katanya dengan senyum, “Saya berbicara dalam bahasa Valencian, bahasa ibu saya, sebab selain Latin dan sedikit bahasa Ibrani, saya tidak mengenal bahasa Spanyol. Adalah Tuhan yang baik, yang membuat perkataan saya dapat kamu mengerti.” Hal ini adalah salah satu yang diuji dalam proses kanonisasi St. Vincentius, dan dinyatakan benar oleh lebih dari 100 orang saksi …. (Angel of the Judgment: A Life of St. Vincent Ferrer, 1953, p. 137-138). Selain dari bahasa roh, St. Vincent dapat (tentu hanya karena rahmat Tuhan) menyembuhkan orang buta, tuli, lumpuh dan mengusir setan pada orang- orang yang kerasukan; dan juga membangkitkan beberapa orang dari kematian. Mukjizat-mukjizat publiknya ini mencapai ribuan.

      Di abad ke-16 kejadian-kejadian serupa termasuk berkata- kata dalam bahasa roh dicatat dalam kehidupan dua orang Santo, yaitu St. Fransiskus Xavier dan St. Louis Bertrand (Kelsey, p. 50). Selanjutnya, beberapa orang mistik seperti St. Yohanes dari Avila (1500 – 1569), St. Teresa dari Avila (1515 – 1582), St. Yohanes Salib (1542 – 1591) dan St. Ignatius Loyola (1491-1556), menulis tentang banyaknya pengalaman rohani yang mereka alami, termasuk bahasa roh. (Laurentin. pp 138-142).

      Selanjutnya, di abad 19-20, kita mengetahui bahwa St. Padre Pio (1887-1968) juga mempunyai berbagai karunia Roh Kudus dan juga karunia khusus lainnya seperti karunia nubuat, mukjizat, menyembuhkan, membeda- bedakan roh, membaca pikiran/ hati orang lain, karunia dapat mempertobatkan orang, karunia bilocation, dan termasuk juga karunia bahasa roh.

      Pada dasarnya, karunia karismatis, termasuk bahasa Roh, harus diuji terlebih dahulu buahnya sehingga kita bisa mengetahui apakah karunia tersebut benar-benar berasal dari Allah (1 Tes 5:21). Bila buah yang dihasilkan mengarahkan hidup penerima karunia menuju pertobatan dan cinta pada Allah & sesama, karunia tersebut dapat kita yakini berasal dari Allah (Mat 7:17).

      2. Apakah Dibenarkan Seorang Katolik Belajar Bahasa Roh di Gereja Lain?
      Pertama, perlu kita sadari terlebih dahulu bahwa bahasa Roh bukanlah suatu “kemampuan” yang dapat “dipelajari”, melainkan karunia semata yang diberikan secara cuma-cuma oleh Allah. Seseorang tidak dapat “belajar” bahasa Roh. Kepada seorang diberikan satu karunia, kepada yang lain diberikan karunia yang lain (1 Kor 12:7-12). Setiap karunia karismatik diberikan untuk pelayanan Gereja, yang adalah Tubuh Kristus. Oleh sebab itu, seseorang tidak perlu khawatir apabila tidak mendapat karunia bahasa Roh. Jika Allah akan memberikannya, waktunya pasti tepat sesuai rencanaNya. Jika tidak, Allah pasti memberinya karunia lain yang tidak kalah pentingnya untuk melayani Gereja. Penting disini untuk menyadari bahwa bahasa Roh dan Karunia Karismatis lainnya berhubungan erat dengan Kehendak Allah dan Pelayanan Gereja, bukan keinginan pribadi.

      Kedua, karena bahasa Roh adalah karunia Allah, bahasa Roh bukan milik eksklusif gereja manapun. Kita tidak dapat mengatakan kita bisa mendapat bahasa Roh di gereja ini atau itu. Namun, sekalipun Allah dapat memberikan karunia dimanapun dan melalui siapapun, seorang Katolik hendaknya tetap berada dalam bimbingan Gereja Katolik dan ajaran iman Katolik. Yesus telah mempercayakan wewenang mengajar kepada para RasulNya (Mat 28:20; Luk 10:16). Oleh sebab itu, lebih baik kita dengan rendah hati taat pada Yesus melalui bimbingan Uskup (para Penerus Rasul), dan imam-imam yang membantu Uskup. Mereka berwewenang membantu kita membedakan apakah karunia yang kita peroleh adalah otentik atau tidak (Katekismus Gereja Katolik 801). Ketaatan kita pada imam dan Uskup juga melatih kita untuk rendah hati, sehingga menunjukkan apakah karunia kita otentik dari Allah atau tidak.

      Ketidakmampuan untuk berbahasa Roh tidak berhubungan dengan keselamatan jiwa. Seperti yang telah dijelaskan dalam Kitab Suci, rupa-rupa Karunia Karismatis digunakan untuk tujuan pelayanan Gereja. Bahasa Roh diberikan untuk kepentingan Tubuh Kristus (1 Kor 12:7), tapi ada karunia yang lebih penting untuk keselamatan daripada karunia-karunia karismatis dan mukjizat (Mat 7:21-23). Karunia tersebut adalah 7 Karunia Roh Kudus dan 9 Buah Roh Kudus. Mengenai 7 Karunia Roh Kudus dapat dilihat disini -silahkan klik-

      3. Bagaimana Cara Orang Katolik Mengusir Roh Halus Yang Mengganggu?
      Satu-satunya cara orang Katolik mengusir roh jahat adalah dengan berdoa memohon belas kasih Allah. Apabila doa tersebut dilakukan oleh seorang imam dan dilakukan atas nama Gereja dan dengan doa seluruh anggota Gereja, disebut Eksorsisme. Bila doa tersebut dilakukan oleh sekelompok awam dengan bentuk doa-doa pribadi, disebut Doa Pelepasan. Umat Katolik juga dapat mengusir roh jahat dengan berdoa rosario, melakukan adorasi, dan menerima Ekaristi setiap hari. Silahkan membaca kesaksian dan artikel berikut. Saya sertakan pula doa yang dapat digunakan untuk mengusir roh jahat :
      Kesaksian : Eksorsisme Tak Terlupakan
      Tentang Malaikat Pelindung dan Eksorsisme
      Doa Melawan Kekuatan Kegelapan

      Kesimpulannya, karunia Bahasa Roh adalah salah satu dari beragam Karunia Karismatis dari Roh Kudus dan sudah muncul lama sejak awal Gereja Katolik berdiri. Bahasa Roh adalah anugerah sehingga tidak dapat dipelajari dan diberikan pada orang-orang tertentu menurut kebijaksanaan Allah. Kegunaannya tidak lain adalah membangun jemaat. Hal terpenting adalah bahasa Roh tidak menjadi faktor penentu utama kekudusan seseorang. Banyak santo-santa yang hidup kudus dan berkarya luar biasa tanpa diberi karunia bahasa Roh. St. Paulus sendiri lebih memilih bahasa manusia ketika berada di tengah jemaat (1 Kor 14:19). Oleh sebab itu, bahasa Roh patut diterima dengan rasa syukur dan iman saat diberi, namun bukan merupakan karunia utama yang harus dikejar-kejar. Jangan lupa, kita patut menguji buah dari karunia bahasa Roh untuk melihat apakah karunia tersebut benar-benar berasal dari Allah. Kerendahan hati dan ketaatan kepada Uskup dan imam pembimbing adalah cara terbaik untuk menguji karunia tersebut. Untuk mengusir roh jahat, kita dapat menggunakan berbagai cara, seperti meminta eksorsisme dari imam, doa pelepasan, rosario, Misa Kudus, dan Adorasi. Namun, semua itu harus kita lakukan dengan disposisi hati yang benar, yakni percaya penuh dan berserah pada belas kasih Allah. Semoga bermanfaat.

      Pax Christi,
      Ioannes

  3. Ada orang dari gereja sebelah yang suka menggembar gemborkan bahwa gerejanya adalah gereja yang benar karena banyak orang dari gerejanya yang memiliki karunia Roh Kudus seperti berbahasa roh, bisa menyembuhkan orang, dan mukjizat lainnya. Kemudian, orang itu mengatakan bahwa gereja katolik adalah salah karena tidak memiliki mukjizat seperti ini.

    Yang ingin saya tanyakan adalah apakah benar bahwa mukjizat (seperti berbahasa roh, menyembuhkan orang sakit, dll) yang katanya terjadi pada gereja seperti ini adalah benar benar mukjizat? Jika benar, apakah mukjizat ini berasal dari Tuhan? Mungkinkan Tuhan menggunakan gereja lain atau bahkan agama lain untuk menjadi sarana mukjizat seperti itu? Jika mungkin, mengapa Tuhan tidak menggunakan sarana dari Gereja Katolik saja karena penggunaan gereja atau agama lain justru seringkali membuat orang menjadi menganggap semua agama sama saja dan bahkan ada juga yang justru keluar dari Katolik karena melihat gereja atau agama lain memiliki kelebihan dibandingkan Katolik.

    • Shalom Dendo,

      Adalah keliru, jika kita menganggap bahwa di Gereja Katolik tidak memiliki mukjizat-mukjizat. Sebab kenyataannya adalah, mukjizat-mukjizat itu ada, hanya saja Gereja Katolik tidak menggembar-gemborkannya. Sebab yang utama dalam iman Kristiani adalah hidup yang diubahkan dan dikuduskan oleh Kristus atau disebut dalam Kitab Suci, “hidup oleh Roh” (Rom 8:1-17), dengan melaksanakan kehendak Allah (Mat 7:21-22). Sebab hidup melaksanakan kehendak Allah inilah yang menghantarkan kita kepada keselamatan kekal. Mukjizat kesembuhan jasmani memang dapat diberikan Allah, jika dipandang-Nya baik untuk kehidupan rohani kita, namun sesungguhnya yang lebih penting di hadapan Allah adalah kesembuhan rohani, atau yang kita kenal sebagai ‘pertobatan’. Hal inilah yang juga ditekankan Yesus dalam mukjizat-mukjizat yang dibuat-Nya, yaitu bahwa di samping kesembuhan, Kristus juga memberikan pengampunan dosa. Selanjutnya Tentang Mukjizat, silakan klik di sini.

      Silakan Anda membaca kisah hidup beratus-ratus orang kudus (Santo/a, atau bahkan mencapai sekitar 8000-an, jika termasuk para Beato dan Venerables), untuk mengetahui bahwa ada begitu banyak mukjizat yang terjadi di Gereja Katolik. Contohnya misalnya, yang sudah pernah diulas di situs ini, yaitu mukjizat-mukjizat atas doa syafaat dari Beato Paus Yohanes Paulus II semasa hidupnya, silakan klik.

      Mukjizat-mukjizat juga banyak terjadi di tempat-tempat ziarah, seperti di Lourdes, Fatima, Sendangsono, dst. Silakan membacanya, di situs mukjizat-mukjizat di Lourdes, silakan klik, untuk mengetahui adanya mukjizat-mukjizat yang telah diakui otentik oleh Gereja, berdasarkan penyelidikan dan pernyataan para tim dokter (yang bukan dari Gereja Katolik) yang menyatakan bahwa kesembuhan-kesembuhan tersebut tidak dapat dijelaskan secara kedokteran.  Di Lourdes kita akan melihat dokumentasi dari mukjizat-mukjizat orang-orang telah disembuhkan. Tercatat memang tidak begitu banyak (69), sebab syaratnya adalah orang yang sakit itu harus diperiksa secara medis oleh  dokter di rumah sakit Lourdes sebelum mengikuti doa atau kegiatan ibadah apapun di Lourdes. Setelah mengikuti doa-doa dan perayaan Ekaristi di sana dan mendapatkan kesembuhan, maka orang tersebut harus menjalani pemeriksaan ulang oleh dokter yang sama itu. Dan setiap tahun selama beberapa tahun sesudahnya, orang tersebut harus datang kembali ke Lourdes untuk memastikan bahwa kesembuhan yang diterimanya adalah permanen, dan karena itu sungguh merupakan mukjizat. Nampaknyai persyaratan untuk kembali lagi ke Lourdes selama beberapa tahun berikutnya inilah yang membuat tidak begitu banyak mukjizat yang terdaftar di sana. [Belum lama ini baru dikeluarkan pernyataan resmi mukjizat yang ke-69, yaitu 22 Juli 2013,  silakan klik.]. Namun mukjizat-mukjizat di Lourdes ataupun melalui perantaraan doa Bunda Maria, itu terus terjadi di seluruh dunia. Silakan membaca kesaksian-kesaksian di situs ini, yaitu kesaksian Hany, silakan klik, dan kesaksian Wulan, silakan klik.

      Juga belum lama ini juga hadir di Indonesia Sr. Briege McKenna, OSC, bersama dengan Fr. Kevin J Scallon, yang juga mengadakan beberapa kali perayaan Misa Kudus dengan doa penyembuhan di beberapa paroki di Jakarta dan juga di luar kota. Buku yang terkenal dari Sr. Briege yang mengisahkan banyaknya mukjizat yang terjadi melalui sakramen Ekaristi berjudul, Miracles do Happen. Mukjizat-mukjizat juga terjadi dalam perayaan Ekaristi, misalnya di rumah retret Karmel di Puncak, yang dipimpin oleh Romo Yohanes Indrakusuma, CSE, atau di acara-acara kebangunan rohani Katolik. Maka mukjizat kesembuhan itu tetap ada, dan terjadi di Gereja Katolik, entah melalui sakramen, ataupun doa-doa, contohnya yang dialami oleh Romo Felix Supranto, SSCC, yang juga baru saja mengalami mukjizat kesembuhan, silakan klik.

      Namun sesungguhnya, mukjizat yang terbesar yang terjadi di dalam Gereja Katolik sampai sekarang ini (tentu setelah mukjizat kebangkitan Kristus dari kematian), adalah mukjizat Ekaristi, yaitu bagaimana atas kuasa Roh Kudus, Kristus dapat hadir secara nyata dalam rupa roti dan anggur. Sekilas tentang mukjizat Ekaristi, silakan klik di sini; dan sebagaimana yang dialami oleh Martha Robin, silakan klik di sini.

      Anda dan sayapun dapat memohon dan mengalami kesembuhan. Namun mari pertama-tama memohon kesembuhan rohani, sebab itulah yang lebih penting, daripada kesembuhan jasmani. Jika di samping menyembuhkan secara rohani Kristus berkenan memberikan kesembuhan jasmani, itu adalah ‘bonus’ bagi kita, namun yang jelas kesembuhan jasmani saja, bukan yang terpenting. Silakan Anda melihat di u-tube berbagai kesaksian kesembuhan jasmani yang ternyata tak berlangsung lama dan bahkan terbukti rekayasa pihak tertentu. Hal ini menandakan bahwa sungguh, bukan kesembuhan jenis ini yang dapat meneguhkan iman. Gereja Katolik sangat berhati-hati sebelum menyatakan suatu mukjizat itu adalah otentik, dan mensyaratkan pemeriksaan berkali-kali oleh pihak yang berkompeten selama beberapa tahun sesudahnya, sebelum menyatakannya demikian. Namun di luar pernyataan resmi Gereja, siapapun yang pernah mengalami mukjizat kesembuhan, akan dengan yakin dan teguh percaya bahwa kuasa mukjizat Yesus tetap ada sampai sekarang dan selamanya.

      Tentang apakah di gereja-gereja non-Katolik dapat terjadi mukjizat? Ya, mungkin saja. Sebab walaupun Allah menentukan sakramen sebagai sarana untuk menyampaikan rahmat-Nya, namun Ia sendiri tidak terbatas oleh sakramen-sakramen itu. Maka, Allah bebas menggunakan cara apa saja untuk menyatakan mukjizat-mukjizatNya. Namun pada akhirnya harus tetap diakui bahwa bukan mukjizat itu yang terpenting bagi Allah, sebab pada saat penghakiman kelak, bukan itu yang diperhitungkan oleh Allah (lih. Mat 7:22-23). Dan kunci yang diberikan oleh Tuhan Yesus untuk mengetahui apakah sesuatu itu berasal dari Tuhan atau bukan itu adalah dari buahnya (Mat 7:16,20). Mengapa Allah mengizinkan mukjizat-mukjizat terjadi di luar Gereja Katolik? Ini adalah hak Tuhan, dan mari kita menghormati kebijaksanaan-Nya untuk menyampaikan belas kasih dan pertolongan-Nya kepada manusia. Maka, bagian kita adalah bersyukur atas besar-Nya kasih Tuhan yang tiada membeda-bedakan orang. Namun demikian, bersyukurlah kita karena kehadiran-Nya yang nyata dalam Gereja Katolik, yang menjaga kesatuan Gereja-Nya sampai 2000 tahun ini, maka kita sebagai umat Katolik dapat yakin dan percaya bahwa mukjizat-mukjizat yang terjadi melalui kehadiran-Nya dalam sakramen-sakramen kudus di Gereja Katolik adalah mukjizat-mukjizat yang sungguh datang dari Tuhan.

      Akhirnya, mari membuka mata hati kita untuk melihat bahwa kebaikan Tuhan, mukjizat-mukjizat-Nya dan terutama kehadiran-Nya masih terus terjadi di sekitar kita.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  4. Jakobus Wiguna on

    Dear Team Katolisitas,

    Saya terlibat diskusi dgn org yg ngakunya Katolik yg mengharamkan Karismatik Katolik dlm Gereja Katolik dan mengatakan Karismatik Katolik itu sesat.
    Dia berkata bahwa bahasa roh yg ada sekarang itu tidak otentik alias palsu. Para dlm Konsensus Patrum, bahasa roh juga ditolak.

    Berikut petikan komentar dari org tsb:
    “Bahasa roh yang asli ya yang terjadi pada Para Rasul, yang terjadi di Korintus dan diikuti dengan penafsiran, bukan seperti di Karismatik yang bukan bahasa manusia, tidak ada penafsiran, meracau tidak jelas dan sebagainya.
    Yang di Kisah Para Rasul itulah yang asli, yang sekarang di Karismatik tidak asli.

    St. Yohanes Krisostomus, St. Paulus, St. Agustinus, teolog-teolog pertengahan sudah mencapai konsensus bahwa “tongue/lingua” yang ada pada zaman Gereja perdana, yang otentik itu, Pastilah salah satu dari bahasa umat manusia, yang memiliki kaidah dan struktur bahasa yang jelas yang dapat dimengerti baik dimengerti langsung ataupun dengan penafsiran.

    Tidak seperti Karismatik yang mengklaim bahasa roh mereka ada yang tidak dapat dimengerti, sayangnya pemahaman ini berangkat dari terjemahan Kitab Suci yang keliru “akal budiku tidak berdoa” padahal “pemahamanku adalah tanpa buah” karena berdoa dalam bahasa roh tanpa mengerti apa yang sedang didoakan.

    Para Bapa Gereja tidak mengenal pemahaman Gerakan Karismatik masa sekarang bahwa “tongue/lingua” (bahasa roh, terjemahan bahasa Indonesia yang kurang tepat) ada yang tidak bisa dimengerti. Konsensus Para Bapa Gereja dengan sangat jelas menunjukkan bahwa “tongue/lingua” yang ada pada saat Pentakosta dan ada di Korintus pastilah merupakan bahasa manusia (entah itu bahasa Persia, Roma, Mesir, dsb) bukannya ucapan-ucapan meracau tidak jelas, yang tidak bisa dimengerti oleh manusia seperti yang marak di dalam Gerakan Karismatik dan denom-denom Pentakostal.

    Apa yang kita punya dari masa itu sampai sekarang tentang “Tongue/Lingua” adalah consensus patrum bahwa “tongue/lingua” PASTI adalah salah satu atau lebih dari bahasa manusia yang memiliki kaidah dan struktur bahasa yang jelas serta dapat dimengerti oleh para pendengar baik secara langsung atau pun melalui penafsiran. Consensus Patrum ini berbeda dengan klaim modern Gerakan Karismatik dan denom Pentakostal bahwa “tongue/lingua” ada yang tidak dapat dimengerti, berbeda dengan klaim Karismatik bahwa ketika orang sedang “sandalawas, syabalala, syakalala” orang itu berarti sedang berbahasa roh. Consensus Patrum Para Bapa Gereja ini TIDAK BISA diabaikan begitu saja untuk membenarkan praktik menyimpang terkait “tongue/lingua”.

    Bagaimana menanggapi hal ini, terutama terkait dgn Konsensus Patrum tadi? Thank you.

    Regards,
    Jakobus Wiguna

    [Dari Katolisitas: Silakan membaca tanggapan kami terhadap pertanyaan serupa, silakan klik]

    • Spt nya tim admin Katolisitas belum menjawab pertanyaan JW…..terkait Konsensus Patrum.

      Monggo…ditunggu tanggapannya…..

      [Dari Katolisitas: Sudah. Kuasa untuk mengajarkan interpretasi yang benar tentang Sabda Allah dalam Tradisi Suci dan Kitab Suci, ada pada Magisterium Gereja (Paus dan para Uskup dalam kesatuan dengannya), dan bukan pada pribadi para Bapa Gereja. Lagipula, tentang bahasa roh, belum dapat dikatakan bahwa telah tercapai suatu konsensus dari para Bapa Gereja. Yang mengatakan demikiana dalah pendapat perorangan dari teolog tertentu/ orang tertentu yang mereka sendiri pandang sebagai konsensus para Bapa Gereja (Consensus Patrum). Namun kuasa untuk mengatakan bahwa para Bapa Gereja telah mempunyai kesepakatan/ konsensus tentang suatu ajaran tentang iman dan moral secara definitif, adalah pihak Magisterium Gereja.]

Add Comment Register



Leave A Reply