Krisis cinta terhadap istri dan perselingkuhan

61

Pertanyaan:

Saya tertarik dengan Forum Tanya Jawab disini..
Mohon Pencerahan mengenai masalah yang saya alami.
Saya seorang Pria yang sudah berkeluarga,namun beberapa kali saya mengalami Krisis Cinta terhadap istri saya dengan kekurangan-kekurangan yang ada padanya,sehingga sering kali saya menjalin hubungan dengan orang lain yang saya rasa bisa mengerti saya ( Egois memang ) saya menyadari kekeliruan saya, dan Jujur bercerita pada istri mengenai perselingkuhan2 saya dengan wanita lain dengan harapan istri dapat memaafkan perbuatan saya. Saya juga berusaha untuk tidak mengulangnya kembali,karena saya ingin kami dapat menemukan kasih sayang yang yang selama ini saya rasa mulai pudar.
Namun pada perjalanan tobat saya, istri saya cenderung sering mengungkit kesalahan saya bila ada sesuatu hal yang tidak benar dalam perbuatan saya, yang padahal menurut saya itu baik ( mungkin karena sudah hilang kepercayaan terhadap saya ;perselingkuhan saya memang termasuk dosa yang berat karena terjadi hubungan badan ) karena merasa kecewa dengan sikap istri saya mengulanng lagi perslingkuhan lainnya ( kali ini tidak sampai berhubungan badan ) dan inipun saya juga bercerita pada istri saya.
Saya sadar ini melukai kembali perasaannya.
Pertanyaan saya :
1. Bagaimana cara menghidupkan kembali rasa Cinta saya terhadap istri?
2. Apa yang harus saya lakukan setelah pada akhirnya toh istri saya sudah terlanjur tidak percaya terhadap saya?
3. Apakah saya harus mengaku dosa dengan Romo/Pastur?
4. Bagaimana Tips menghindari perselingkuhan ?
5. Apakah saya masih boleh menerima Hosti di gereja?
6. Apakah saya harus meminta maaf dengan dengan wanita2 yang pernah menjalin hubungan dengan saya, ( mereka tau saya sudah berkeluarga,dan tidak menuntut saya karena tulus mecintai saya )
Terima kasih, mohon Pencerahan

Martin

Jawaban:

Shalom Martin,

Terima kasih atas keterbukaan dari Martin untuk menceritakan permasalahan keluarga. Pertama saya turut prihatin akan apa yang dialami oleh keluarga Martin. Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat saya sampaikan:

1) Pada saat kita memutuskan untuk menerima Sakramen Pernikahan, maka kita telah berjanji di hadapan Tuhan untuk setia terhadap pasangan hidup kita, baik dalam untung maupun malang, baik dalam keadaan sehat maupun sakit. Dan ini juga termasuk menerima semua kekurangan-kekurangan pasangan kita. Di dalam Sakramen Pernikahan, kita telah menerima rahmat Allah, yang memungkinkan kita dapat mengarungi kehidupan perkawinan dengan baik. Oleh karena itu, dalam perkawinan Katolik, kita harus menyadari bahwa kekuatan dari perkawinan bukan hanya dari pasangan suami istri, namun terutama adalah Tuhan. Untuk itu, pasangan suami istri harus senantiasa melibatkan Tuhan dalam setiap keputusan dan tindakan setiap hari. Pada saat Tuhan tidak dilibatkan dalam perkawinan, maka cepat atau lambat, perkawinan akan menghadapi permasalahan.

Dengan dasar ini, maka hubungan yang erat dengan Tuhan adalah menjadi kunci dari setiap perkawinan Katolik. Setiap pasangan dituntut untuk mempunyai kebiasaan untuk berdoa bersama, pergi ke Gereja bersama. Dengan mempunyai hubungan pribadi yang erat dengan Tuhan, maka dengan sendirinya dosa-dosa akan tersingkirkan, termasuk dosa-dosa ketidaksetiaan, seperti: perselingkungan, perzinahan, dll. Untuk dapat mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan, kita harus bertumbuh secara spiritual, dengan doa, Sakramen Ekaristi dan Tobat, Firman Tuhan, dll. Silakan untuk membaca artikel tentang pertumbuhan (silakan klik).

2) Kalau di atas, hubungan pribadi/pasangan dengan Tuhan sangat penting, maka hal yang lain adalah hubungan dengan pasangan atau suami-istri memegang peranan yang sangat penting. Kristus mengatakan “37 Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. 38 Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. 39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Mt 22:37-39). Oleh karena itu selain mengasihi Tuhan, kita juga harus mengasihi sesama atas dasar kasih kita kepada Tuhan. Pada saat kita menerima Sakramen Perkawinan, maka kita menyatakan kasih kita kepada pasangan kita, karena pasangan kita adalah seseorang yang diberikan oleh Tuhan kepada kita untuk menjadi teman hidup kita sampai maut memisahkan kita. Kasih kita kepada pasangan kita harus berdasarkan kasih kita kepada Tuhan, sehingga pada saat pasangan hidup kita mengecewakan, kita tetap dapat bertahan. Di sinilah kita dapat belajar untuk mengasihi secara murni, yaitu dengan memberikan diri kita (self-giving love), seperti yang dicontohkan oleh Kristus sendiri. Rasul Paulus menegaskan “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya” (Ef 5:25). Kalau kita sebagai suami menuntut kepatuhan istri, seperti yang dikatakan oleh Rasul Paulus “Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan” (Ef 5:23), periksalah diri kita sendiri apakah kita telah menerapkan ayat 25, yaitu mengasihi istri sebagaimana Kristus mengasihi jemaat-Nya. Bagaimana Kristus mengasihi jemaat-Nya? Dengan memberikan nyawa-Nya.

3) Karena manusia, terdiri dari tubuh dan jiwa, maka diperlukan suatu komunikasi yang baik. Kita tidak dapat beranggapan bahwa pasangan kita mengerti apa yang kita pikirkan. Yang harus kita lakukan adalah mengkomunikasikannya dengan pasangan kita dengan perkataan maupun dalam tulisan. Komunikasi yang tidak baik akan menimbulkan begitu banyak permasalah yang tidak perlu di dalam rumah tangga. Untuk itu, binalah komunikasi dengan baik, sehingga kesalahpahaman dapat dihindari. Saya ingin mengusulkan kepada Martin untuk mengikuti retret ME (Marriage Encounter) bersama dengan istri. Silakan menghubungi mereka lewat website ini (silakan klik).

Itulah beberapa prinsip sederhana yang mungkin dapat diterapkan oleh Martin dan istri. Berikut ini adalah jawaban saya atas beberapa pertanyaan dari Martin:

1) Bagaimana cara menghidupkan kembali rasa Cinta saya terhadap istri? Pertama, kita mengingat bahwa kita mengasihi istri kita atas dasar kasih kita kepada Tuhan. Kalau Tuhan telah menyatukan Martin dan istri dalam Sakramen Perkawinan, maka rahmat Tuhan adalah cukup, sehingga Martin dan istri dapat saling mengasihi dan mendapatkan perkawinan yang sejati. Untuk itu, cobalah memperbaiki hubungan Martin dengan Tuhan. Di dalam doa, mintalah Tuhan untuk menambahkan kasih anda kepada istri. Berdoalah rosario, mohon agar Bunda Maria untuk mendoakan anda, sehingga anda dapat mengasihi kembali istri anda. Bunda Maria akan menjadi perantara yang begitu hebat, dan dia akan mengatakan kepada Yesus “Mereka kehabisan anggur.” (Yoh 2:3). Berdoalah agar Yesus mengubah cinta yang tawar menjadi manis seperti anggur (lih. Yoh 2:7-9). Namun, agar semua ini dapat terjadi, syaratnya ada di ayat 5, yaitu “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!“. Turutilah permintaan Yesus untuk hidup kudus, maka cinta yang tawar akan menjadi manis seperti anggur.

2) Apa yang harus saya lakukan setelah pada akhirnya toh istri saya sudah terlanjur tidak percaya terhadap saya? Janganlah menyalahkan istri kalau istri anda tidak percaya lagi kepada anda. Coba bayangkan kalau misalkan kejadiannya dibalik. Istri anda yang selingkuh – bukan hanya sekali namun beberapa kali -, apakah anda dapat melupakan semua ketidaksetiaan ini dengan mudah? Yang dapat anda lakukan adalah mohon pengampunan dari istri dengan benar-benar dan berjanji untuk tidak mengulangi dosa yang sama. Berdoalah kepada Tuhan, agar Tuhan melembutkan hati istri anda. Untuk itu, doa bersama-sama akan membantu proses kesembuhan ini. Ikutilah retret bersama dengan istri, misalkan retret di Cikanyere (Telp: 0263-582062, Fax: 0263-582063).

Nyatakanlah kasih kepada istri secara jelas, baik dengan kata-kata maupun perbuatan. Mudah-mudahan dengan bantuan Tuhan dan usaha untuk mengasihi istri anda dengan sungguh-sungguh, maka istri anda dapat mempercayai anda kembali.

3) Apakah saya harus mengaku dosa dengan Romo/Pastur? Anda harus menyadari bahwa apa yang anda lakukan adalah tergolong dosa berat. Dan dosa berat ini, kalau tidak diampuni dapat membahayakan keselamatan kekal dari Martin. Silakan membaca beberapa artikel tentang Sakramen Pengakuan Dosa: (bagian 1, 2, 3, 4). Pada bagian 3 diulas apa sebenarnya Sakramen Pengakuan Dosa dan pada bagian 4 diulas bagaimana untuk mengadakan pemeriksaan batin. Saran saya, lakukanlah pemeriksaan batin dengan baik, dan secepatnya pergi kepada pastor untuk mengaku dosa. Sebelum anda mengaku dosa, saya menyarankan agar anda tidak menyambut komuni kudus.

4) Bagaimana Tips menghindari perselingkuhan? Kalau kita mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan, maka kita akan terhindar dari dosa ini. Kalau kita setia dengan kehidupan doa dan sakramen, kita akan terhindar dari dosa-dosa berat. Kehidupan doa yang baik dan dosa berat adalah saling bertentangan dan tidak mungkin dapat berjalan berdampingan – salah satu dari keduanya akan berhenti. Oleh karena itu, kalau kehidupan doa baik, maka dosa berat akan berhenti. Kita mungkin dapat menipu istri (karena istri tidak melihat perbuatan selingkuh), namun kita tidak dapat menipu Tuhan, yang dengan jelas melihat seluruh perbuatan kita. Dan kita harus menyadari bahwa kita harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan dosa kita di hadapan Tuhan. Pada tahap awal, motivasi untuk menghindari api neraka, mungkin dapat membantu anda untuk menghindari perselingkuhan.

5) Apakah saya masih boleh menerima Hosti di gereja? Tidak dapat, sebelum anda mengakukan dosa kepada pastor. Dan Pengakuan Dosa mensyaratkan pertobatan, yang berarti menghentikan perbuatan dosa. Oleh karena itu, pemutusan hubungan dengan wanita-wanita tersebut adalah merupakan manifestasi dari pertobatan.

6) Apakah saya harus meminta maaf dengan dengan wanita2 yang pernah menjalin hubungan dengan saya, (mereka tau saya sudah berkeluarga,dan tidak menuntut saya karena tulus mecintai saya)? Saran saya, kalau Martin tidak menjalin hubungan lagi dengan wanita-wanita sebelumnya (misal: A, B, C), maka Martin tidak perlu menghubungi lagi dan justru menghindar jauh-jauh. Ini berlaku kalau Martin tidak mempunyai kewajiban untuk mempertanggungjawabkan perbuatan Martin. Kalau ada anak yang terlahir dari perbuatan ini, maka Martin harus bertanggungjawab terhadap kehidupan anak tersebut. Namun, kalau pada saat ini Martin masih menjalin hubungan dengan seorang atau beberapa wanita (misal: D, E), maka Martin harus datang kepada wanita-wanita tersebut untuk meminta maaf dan mengakhiri hubungan dosa ini. Hal ini dilakukan setelah Martin mengaku dosa kepada pastor atau setelah retret, sehingga Martin mempunyai kekuatan untuk mengakhiri hubungan dengan mereka untuk selama-lamanya. Diskusikan dengan istri, dan katakan bahwa anda benar-benar serius untuk mengakhiri semua hubungan dengan wanita-wanita tersebut.

Kalau anda bertemu dengan wanita-wanita tersebut, mungkin mereka akan menangis, atau melakukan sesuatu yang membuat anda tidak tega untuk memutuskan hubungan dengan mereka. Namun, ingatlah, keselamatan kekal dari anda dan juga wanita-wanita tersebut lebih utama dibandingkan dengan kenikmatan sesaat di dunia ini. Oleh karena itu, teguhkanlah hati dan benar-benar datang kepada mereka dengan niatan untuk memutuskan hubungan. Kalau anda mempunyai anak dari wanita-wanita ini, anda harus bertanggung jawab dengan tetap memberikan nafkah kepada mereka, namun tetap memutuskan hubungan dengan wanita-wanita tersebut. Kalau mereka benar-benar tulus mengasihi anda, mereka akan membiarkan anda pergi dari kehidupan mereka.

Semoga jawaban di atas dapat membantu Martin. Dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, sebenarnya anda telah menyadari bahwa anda telah melakukan dosa berat. Hal ini adalah kerja dari Roh Kudus. Namun, anda perlu bekerja sama dengan Roh Kudus, untuk benar-benar memperoleh pertobatan yang benar. Semoga, melalui kejadian ini, anda dapat benar-benar mengasihi istri anda dengan lebih lagi. Saya turut mendoakan. Anda dapat juga mengajukan ujud doa di katolisitas (silakan klik), sehingga romo Kris dan tim dapat turut mendoakan. Sudah saatnya kita semua berfokus pada tujuan akhir dari kehidupan kita, yaitu Kerajaan Sorga, dimana kebagiaan akan terus berlangsung untuk selama-lamanya. Untuk itu, mari kita berusaha untuk hidup kudus, yaitu mengasihi Tuhan dan sesama (termasuk istri) atas dasar kasih kita kepada Tuhan.

Sebagai tambahan: mulai malam hari ini sampai menerima Sakramen Pengakuan Dosa, bacalah Mazmur 51. (Mazmur ini dimadahkan oleh raja Daud, setelah dia melakukan perzinahan dengan Batsyeba. Raja Daud bertobat dan meminta belas kasih Allah untuk menghapuskan dosa-dosanya). Semoga dapat membantu.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Share.

About Author

Stefanus Tay telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

61 Comments

  1. Kalau ada anak yang terlahir dari perbuatan ini, maka Martin harus bertanggungjawab terhadap kehidupan anak tersebut.
    Kalau anda mempunyai anak dari wanita-wanita ini, anda harus bertanggung jawab dengan tetap memberikan nafkah kepada mereka, namun tetap memutuskan hubungan dengan wanita-wanita tersebut. Kalau mereka benar-benar tulus mengasihi anda, mereka akan membiarkan anda pergi dari kehidupan mereka.

    Sehubungan dengan pernyataan diatas, saya ingin mengetahui bentuk tanggung jawab yang harus diberikan terhadap anak, dan sejauh mana tanggung jawab tersebut harus diberikan, apakah sampai anak tersebut dewasa? Haruskah pria tsb juga memberi nafkah kepada wanita/ibu dari anak ini)

    (Hal ini saya tanyakan krn terjadi pada adik ipar saya, dan sepertinya mereka menganggap hal ini sudah selesai. Sementara itu, wanita lain ini mencoba melibatkan suami saya sebagai kakak kandung pihak pria. Sebetulnya kami tidak tahu secara detail, karena tidak pernah ada pembicaraan sama sekali antara adik dan suami saya. Tetapi saya tahu dari istri adik ipar saya tsb. Dan yg saya tahu adik ipar dan istrinya sudah saling memaafkan, bahkan anak yg dari wil pun mau dia asuh. Tapi wil tdk mau, dan anak tsb diasuh oleh keluarga wil. Apa maksud wanita kami belum tahu. Karena kami belum mempunyai bekal pengetahuan yang cukup untuk masalah ini, kami tidak menanggapinya. Kami sama sekali tidak mengenal wil ini)

    Mohon saran dari tim katolisitas, terimakasih.
    Tuhan memberkati….

    • Shalom Pudji,

      Secara prinsip, anak dari wanita tersebut (wil) menjadi tanggung jawab dari pria yang telah menikah. Sebenarnya solusi untuk mau mengadopsi anak tersebut adalah salah satu solusi yang memang bisa ditawarkan. Namun, kalau pihak wanita tidak setuju, maka kita juga tidak dapat memaksakan kehendak kita. Hal yang baik adalah dengan berusaha untuk membicarakan hal ini dengan wanita tersebut, sehingga dicapai satu kesepakatan bagaimana untuk membantu anak yang tidak bersalah tersebut, sehingga anak tersebut juga mempunyai masa depan yang baik. Semoga dapat dicapai kata sepakat.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  2. Ibu Inggrid yang terkasih, saya ingin menanyakan bagaimana tanggung jawab pria yang berselingkuh sampai mempunyai anak. Saat ini sang pria sadar dan kembali kepada keluarganya, dia juga ingin memperbaiki hidupnya dengan cara yang benar. Apakah anak tsb menjadi tanggung jawabnya, sementara pria ini sudah tidak ingin berhubungan lagi dengan “mereka” dan tidak mau lagi menyakiti keluarganya dia ingin mengubur masa lalunya. Mereka keluarga Katolik, anak2 dan istrinya aktif dlm kegiatan gereja dan mereka mau menerima apa adanya papa dan suami sekarang.
    Mohon tanggapan serta doa agar keluarga ini tetap dipersatukan didalam kasih Yesus Kristus.

    Terimakasih ibu Inggrid….

    • Shalom Pudji,

      Sesungguhnya, hukum yang berlaku adalah hukum kodrati, yaitu bahwa orang tua mempunyai tanggungjawab untuk membesarkan anaknya. Maka pria yang berselingkuh sampai mempunyai anak, sesungguhnya mempunyai tanggungjawab untuk membiayai anak itu, sebab secara kodrati ia tetaplah ayah dari anak itu. Namun membesarkan ataupun membiayai di sini tidak sama dengan kembali membina hubungan perselingkuhan dengan ibu anak itu. Jika pria itu sungguh bertobat, maka ia harus meninggalkan perbuatan perselingkuhan tersebut, dan kembali sepenuhnya kepada keluarganya. Di sini diperlukan kebesaran hati dari istri dan anak-anak dari pria tersebut untuk mengampuni dan menerima suami dan papa mereka dalam keadaannya sekarang, termasuk tanggungjawabnya terhadap anak dari hubungan perselingkuhannya itu. Betapapun beratnya, namun kebesaran hati pihak istri dan anak-anak untuk menerima dan mengizinkan suami dan papa mereka melakukan tanggungjawabnya adalah bentuk yang nyata dari pelaksanaan kasih dan pengampunan, yang tetap mempertahankan azas keadilan, terutama keadilan bagi anak yang yang lahir dari perbuatan perselingkuhan tersebut, namun anak itu sendiri sebenarnya tidak bersalah.

      Selanjutnya, keluarga tersebut perlu menata kehidupannya kembali bersama, agar selalu mengusahakan kesatuan dan agar dapat membantu suami dan papa mereka untuk sungguh kembali ke jalan yang benar, bertumbuh dalam kekudusan dan kesetiaan perkawinan.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati -katolisitas.org

  3. Salam dalam Yesus Kristus,

    Saat sekarang saya telah menikah secara katolik 6 tahun yang lalu. Tetapi saya telah pisah rumah dengan suami saya 2 tahun, dikarenakan dia ketahuan selingkuh 4x bahkan telah lengkap semua bukti dan dia pun akhirnya mengakuinya. Yang terakhir dia berhubungan dengan PSK selama 2 tahun. Suami saya pun bekerja di dunia malam sebagai koordinator strip-dancer dikarenakan usaha saya jatuh bangkrut (sejak menikah saya penopang keluarga). Tetapi suami saya telah berselingkuh sejak sebelum dia masuk dunia malam bahkan sebelum kami menikah 1 tahun dalam keadaan saya hamil.

    Walau kami menikah secara katolik tetapi dia lebih mempercayai agama Budha. Dan dia tidak mau meninggalkan pekerjaan dunia malam karena di sana dia bisa mendapatkan penghasilan lumayan dan merasa nyaman.

    Kami mempunyai 1 anak yang sekarang berusia 5 thn. Sampai sekarang hampir setiap minggu kami masih pergi bertiga, hanya karena saya tidak mau anak saya mengalami kepahitan.

    Sekarang saya mempunyai pacar yang taat katolik hanya dia tidak bisa menerima keadaan anak saya yang menderita ADHD.

    Yang menjadi pertanyaan saya :
    - Apakah saya harus menyiksa diri terus menerus dalam pernikahan seperti ini? Sedangkan saya sudah jijik dan dingin serta takut terkena penyakit kotor atas ulah suami saya?
    - Jika kembali ke suami saya tidak rela, tetapi ke pacar saya tidak tenang karena tidak cocok sama anak. Mohon bantuan solusinya.

    Terima kasih atas perhatian dan bantuan solusinya.

    GBU

    • Shalom Gabby,

      Terima kasih atas sharingnya. Pertama kami turut prihatin akan keadaan perkawinan Anda yang saat ini sedang melalui masa-masa yang sulit. Dari cerita Anda, maka Anda dan suami telah menikah secara Katolik. Kalau pernikahan ini sah, maka tidak mungkin dibatalkan. Namun, kalau pernikahan ini tidak sah, maka melalui proses tribunal, perkawinan yang tidak sah dapat dibatalkan. Yang membuat perkawinan tidak sah adalah halangan menikah, cacat konsensus dan cacat forma kanonika – yang keterangannya dapat Anda baca di sini – silakan klik. Dari situasi yang Anda ceritakan maka beberapa hal ini adalah alternatif yang dapat Anda tempuh:

      1. Bertahan dalam perkawinan. Walaupun memang kondisi yang Anda hadapi begitu berat, namun bukan tidak mungkin bahwa perkawinan Anda tidak dapat diselamatkan. Tidak menjadi masalah kalau Anda sementara berpisah dari suami, karena keadaan yang tidak memungkinkan. Namun, Anda dapat terus mendoakan suami Anda agar dia bertobat, sambil terus berfokus mengasuh anak Anda, yang memang sungguh membutuhkan perhatian Anda. Dan waktu yang Anda dapat digunakan untuk memperkuat kehidupan spiritual Anda, sehingga Anda mempunyai kekuatan untuk menghadapi percobaan ini. Yakinlah bahwa Tuhan tidak akan memberikan percobaan melebihi kekuatan Anda (lih. 1Kor 10:13). Tetaplah setia dalam kehidupan sakramen, terutama menerima Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat, serta bergabunglah dalam komunitas di gereja. Adalah baik kalau Anda juga dapat mengikuti retret. Dan pada saat Anda siap, maka Anda dapat menjalin komunikasi kembali dengan suami Anda.

      Karena sebelum terbukti kebalikannya suatu perkawinan dianggap sah, maka Anda harus menganggap bahwa Anda masih terikat dalam perkawinan yang sah. Oleh karena itu, menjalin hubungan dengan pacar – yang walaupun dia seorang Katolik yang taat – adalah berdosa. Ditambah lagi, dengan kondisi bahwa dia tidak dapat menerima kondisi anak Anda. Jadi, jauhilah pacar Anda, sehingga Anda tidak jatuh dalam pencobaan.

      2. Menempuh jalur anulasi. Kalau Anda mau, maka Anda juga dapat menempuh jalur yang resmi untuk melihat apakah perkawinan Anda sebetulnya sah atau tidak, terutama dipandang dari sisi cacat konsensus, yaitu bagian contra bonum fidei. Namun, tentu saja, hal ini harus dibuktikan kebenarannya. Kalau suami Anda sebelum pernikahan selingkuh, namun ketika masuk dalam kehidupan perkawinan dia bersedia untuk setia, maka sebenarnya perkawinan juga tetap sah. Dengan kata lain, proses untuk mendapatkan anulasi tidaklah mudah, karena menempuh begitu banyak proses, yang dimulai dengan menghadap pastor paroki Anda.

      Semoga Anda dan keluarga diberikan rahmat oleh Tuhan, sehingga dapat menghadapi situasi ini dengan sabar dan diberikan kebijaksanaan untuk dapat menempuh langkah yang tepat. Pada akhirnya, dalam situasi sulit seperti ini, kita perlu mengandalkan rahmat Tuhan.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef  – katolisitas.org

  4. Kepada para romo & pengasuh Katolisitas,
    Saya mau menanyakan beberapan hal. Mengenai kehidupan pernikahan. Saya sdh menikah dan dikaruniai 2 orang anak. Kami berpacaran sudah cukup lama, hampir 10 tahun. Di usia pernikahan yang ke 6, saya merasakan bahwa suami saya berubah, dari berbagai pembbicaraan, akhirnya suami saya mengakui bahwa dia berselingkuh dan telah berbuat zinah. Yang sampai akhirnya dari perselingkuhan tersebut, wanita itu hamil. SIngkat kata, dari keluarga wanita tersebut menuntut tanggung jawab, tetapi suami sudah berkata bahwa tidak bisa menikah secara resmi, karena sudah mempunyai istri dan anak. MAka mereka menikah siri (karena pihak wanita tersebut sebagian besar beragama islam). Awalnya saya ingin menceraikan, tetapi suami saya memohon untuk tetap menerimanya apa adanya. Dengan berbagai pertimbangan dan doa, saya memutuskan untuk melanjutkan pernikahan ini. Suami sdh berjanji tidak akan berhubungan lagi dengan wanita tersebut, hanya ingin melihat anaknya bertumbuh saja.
    Sekarang ini saya berusaha mempercayainya dan saya tetap menjadi istri dan ibu bagi anak2. Tetapi skrg ini saya menemukan bahwa ada ketidak jujuran dari suami yang ternyt msh berhub dengan wanita tsb(sedang hamil).
    Romo & pengasuh yth,
    APa yang harus saya lakukan ? suami sepertinya tidak menepati janjinya. Saya tidak mau terluka kemnbali. Saya sadar bahwa TUhan punya rencana yang baik, dan pastinya Tuhan mengutus saya untuk menjadi penolong suami supaya kembali ke jalan yang benar.
    Lalu apa yang harus sy jelaskan ke anak & keluarga lain, apabila dikemudian hari ketahuan bahwa ada perselingkuhan & pernikahan siri tersebut ?
    Terima kasih atas saran-sarannya…

    • Shalom Ny. Ben,

      Adalah suatu keputusan yang baik dari pihak Anda, jika Anda memutuskan untuk tetap setia dengan janji perkawinan Anda. Memang keadaan perkawinan Anda tidak mudah, namun tidak berarti bahwa karena sulit, maka boleh saja perkawinan itu tidak dipertahankan. Prinsip ajaran yang diajarkan oleh Gereja Katolik adalah perkawinan jika sudah sah diberikan, tidak dapat diceraikan ataupun dibatalkan. Melihat sekilas dari kisah Anda, saya mengasumsikan bahwa perkawinan Anda dengan suami adalah sah, dan karena itu tidak dapat diceraikan ataupun dibatalkan.

      Keadaan memang rumit, jika suami Anda menjalin hubungan dengan wanita lain, bahkan sampai mempunyai anak. Di sini harus diakui bahwa bagaimanapun juga, suami mempunyai tanggungjawab kodrati terhadap anak itu; walaupun hal ini juga tidak membenarkan dia untuk berpoligami. Maka perlu dipikirkan jalan keluarnya. Adalah suatu keputusan yang sungguh melibatkan pengorbanan dari pihak Anda sebagai istri, yaitu kalau Anda setuju bahwa suami tetap bertanggungjawab terhadap anak itu, dengan memberikan dukungan materiil. Namun dari pihak suami tentu juga dibutuhkan pengorbanan, yaitu untuk tidak lagi berhubungan apapun dengan wanita itu, dan menunjukkan kesungguhan hatinya untuk dengan sepenuh hati mengasihi Anda dan anak- anak Anda; sebab hanya kepada Anda dia mengucapkan janji perkawinan di hadapan Tuhan. Jika hal ini disepakati bersama, maka Anda dapat kembali menata kehidupan keluarga Anda, maupun mengusahakan hubungan yang lebih baik dengan suami Anda.

      Permasalahannya memang adalah, jika ternyata suami Anda tidak setia dengan janjinya untuk berbalik kepada Anda sepenuhnya. Maka dalam hal ini, harus diusahakan komunikasi dan keterbukaan antara Anda dan suami Anda. Ada beberapa alternatif cara:

      1) Mencari waktu dan kesempatan yang baik untuk bicara empat mata dengan suami Anda. Dahuluilah pembicaraan dengan doa bersama, agar Anda berdua dapat berkomunikasi dengan baik dan menemukan jalan keluar yang terbaik bagi kehidupan perkawinan Anda.

      2) Mengajak suami Anda untuk mengikuti retret pasangan suami istri. Harapannya adalah agar melalui retret itu, Tuhan sendiri akan mengubah hati suami Anda agar dapat kembali mengingat janji setia perkawinan Anda, dan selanjutnya dapat sepenuhnya mengasihi Anda dan keluarga. Silakan Anda mengikuti retret Tulang Rusuk (oleh Pastor Yusuf Halim) atau week-end Marriage Encounter. Silakan mencari di google tentang informasi retret tersebut. Sudah ada banyak pasangan suami istri yang memperoleh manfaat yang besar melalui retret tersebut, dan berdoalah agar Anda dan suami juga mengalaminya.

      3) Jika dirasa masih sulit untuk menemukan titik temu, silakan menghubungi konselor perkawinan di paroki Anda, atau berbicaralah dengan Romo Paroki, semoga ia dapat membantu Anda dan suami.

      Di atas semua itu silakan Anda juga memeriksa diri akan apa yang perlu Anda perbaiki dari pihak Anda untuk mengusahakan hubungan yang lebih baik dengan suami Anda. Saat ini, pusatkanlah perhatian Anda kepada bagaimana memperbaiki hubungan Anda dengan suami, dan jangan terlalu dipusingkan dengan apa yang harus Anda katakan kepada anak- anak di masa depan. Hal yang kedua ini akan dapat Anda selesaikan, setelah hal yang pertama sudah terpenuhi.
      Jika Anda belum melakukannya, mengaku dosalah di hadapan Pastor, sebab biar bagaimanapun juga, Anda memerlukan kesembuhan rohani, entah dari rasa kecewa, marah, atau kebencian. Gunakanlah kesempatan ini untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan. Berdoalah dengan lebih tekun, entah rosario, ataupun novena, mohonlah pimpinan Tuhan dan dukungan doa dari Bunda Maria. Jika memungkinkan ikutilah perayaan Ekaristi setiap hari, agar Tuhan Yesus sendiri menguatkan Anda, dan memampukan Anda untuk mengampuni dan mengasihi suami Anda kembali, dengan kasih yang berasal dari Allah. Hal ini tidak mudah, namun kita percaya bahwa Tuhan Yesus mempunyai kuasa untuk melakukan sesuatu yang tidak mungkin di mata manusia. Dan Allah menjadikan segala sesuatunya akan indah pada waktu-Nya (Pkh 3:11), asalkan kita sungguh melibatkan Dia di dalam kehidupan kita.

      Teriring doa dari kami di Katolisitas.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

       

  5. Yth. Ibu Inggrid Pa Steff, Romo Yohanes…

    Salam kasih dalam Kristus…

    Tentang Pernikahan Katolik yang tidak dapat dipisahkan oleh siapapun di dunia ini kecuali kematian.. Ada sebuah keluarga suami isteri tanpa anak…

    Pertanyaannya:

    1. Suami-isteri nikah secara Katolik..sudah 5 thn hidup terpisah (pisah ranjang)..apakah boleh menyambut Tubuh Kristus dalam Ekaristi? Dosakah bila menyambut Tubuh Tuhan.

    2. Isteri selingkuh dan suami marah dengan melontarkan kata-kata yang sangat pedas (caci-maki) kepada istri.. Suami menyadari semua itu tanpa melihat siapa yang benar dan siapa yang salah dalam masalah yang dihadapi dan ingin berbalik, sang suami sudah minta maaf dari isterinya.. sang isteri menolak dan tidak mau lagi akur atau hidup seperti suami isteri seperti dulu dan sesuai janji saat nikah saat di depan Romo dan Orang Tua Saksi..sang Isteri memilih cerai atau pisah..

    Pertanyaannya..

    * Jalan apa yang harus ditempuh oleh sang suami kalau sudah tidak ada jalan mempertahankan bahtera rumah tangga mereka ?

    * Kalo memilih cerai langkah apa yang ditempuh untuk bisa terlepas (bebas) dari ikatan pernikahan yang sakral itu?

    * Apakah ada jalan untuk Pengadilan Agama (Gereja Katolik) karena sangat sulit untuk memutuskan hal tsb … Kalau dilihat lagi bahwa kehadiran Gereja Katolik adalah untuk menyelamatkan pengikutnya agar selamat menuju hidup dunia dan Akhirat..

    Mohon penjelasan …

    Terima kasih dan Tuhan Yesus selalu memberkati …Salam damai Kristus…

    Hengki

    • Shalom Hengki,

      Jika karena satu dan lain hal, suami dan istri ‘pisah ranjang’, tetapi keduanya tidak menikah lagi dengan orang lain, tetap menjaga kemurnian tubuh mereka, dan tidak jatuh ke dalam dosa berat, maka tidak ada yang menghalangi mereka untuk menyambut Komuni kudus.

      Membaca sekilas kisah yang Anda tuliskan, sebenarnya menurut hemat saya yang pertama- tama harus diusahakan adalah rekonsiliasi suami istri. Sebab dalam perselisihan suami istri, umumnya melibatkan kesalahan dari kedua belah pihak, dan inilah yang harus disadari bersama. Mungkin ada baiknya suami dan istri mengikuti konseling keluarga atau retret pasangan suami istri, seperti retret Tulang Rusuk yang dipimpin oleh Rm Yusuf Halim SVD, silakan klik, atau Marriage Encounter, klik di sini. Sudah ada banyak sekali pasangan suami istri yang tertolong melalui retret semacam ini, dan silakan jika Anda mengenal pasangan ini, agar mengundang pasangan tersebut mengikuti retret itu.

      1. Jalan yang harus ditempuh suami tersebut?

      Perlu diketahui bahwa bagi Gereja Katolik, perkawinan yang sudah sah, tidak dapat dibatalkan ataupun diceraikan. Silakan klik di sini untuk mengetahui makna perkawinan Katolik.

      Jika melihat sekilas, nampaknya perkawinan tersebut sah, karena Anda tidak menyebutkan adanya indikasi bahwa perkawinan tersebut tidak sah. Maka jika demikian, perkawinan tidak dapat dibatalkan. Silakan membaca di sini, tentang hal- hal yang membatalkan perkawinan menurut Gereja Katolik, silakan klik.

      2. Bisakah bercerai dan bebas dari ikatan perkawinan tersebut?

      Jika perkawinan tersebut sudah sah secara kanonik di Gereja Katolik, maka pasangan tersebut sesungguhnya tidak dapat bercerai/ diceraikan (lih. Mat 19:5-6). Namun demikian, jika sampai karena alasan keselamatan nyawa, dapat diizinkan pasangan berpisah, namun keduanya tidak dapat menikah lagi dengan orang lain. Sebab ikatan sakramen perkawinan sifatnya tetap, sampai maut memisahkan pasangan tersebut.

      3. Adakah jalan untuk Pengadilan Agama?

      Untuk masalah-masalah perkawinan yang menyangkut perkawinan yang tidak sah sejak awal mula, maka kasus tersebut dapat diajukan kepada tribunal keuskupan, umumnya di keuskupan tempat  perkawinan diteguhkan atau tempat pasangan kini berdomisili, dan pasangan tersebut berhak mengajukan permohonan pembatalan perkawinan. Setelah menerima surat permohonan ini, pihak Tribunal keuskupan dapat memeriksa kasus tersebut, dan jika ditemui bukti- bukti dan saksi- saksi yang mendukung, maka permohonan dapat dikabulkan. Tetapi harap dimengerti, kasus pembatalan perkawinan ini hanya diberikan jika terbukti adanya hal yang membatalkan perkawinan tersebut, yang telah terjadi sebelum perkawinan atau pada saat perkawinan, dan bukan atas dasar kejadian yang baru terjadi setelah perkawinan diteguhkan. Maka jika kasusnya perselingkuhan yang baru terjadi setelah perkawinan, itu bukan alasan yang kuat untuk mengadakan pembatalan perkawinan tanpa adanya bukti lain yang menunjukkan adanya halangan ataupun cacat yang terjadi sebelum perkawinan atau pada saat perkawinan diteguhkan.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

       

  6. Rm Agung, MSF on

    Sdr. Andreas Boy yang terkasih,

    Perselingkuhan yang dilakukan pasangan tidak hanya mengecewakan atau menyakitkan, tetapi lebih dari itu seringkali juga “membunuh” kebaikan-kebaikan yang ada dalam diri kita: kesabaran, kesetiaan, cinta, sikap memaafkan, atau seperti yang anda alami sekarang: tidak percaya lagi terhadap istri anda. Itulah sebabnya Tuhan mengajarkan: “jangan membalas kejahatan dengan kejahatan”, yang bisa dipahami juga kita menjadi kehilangan kebaikan dan justru melakukan perbuatan yang tidak baik, seperti dia yang telah menyakiti kita.

    Gereja mengingatkan dengan tegas bahwa perkawinan Katolik tidak hanya sekedar memenuhi kebutuhan psikologis, biologis, sosial saja, tetapi mengandung tugas perutusan yakni menghadirkan cinta kasih Allah yang menyelamatkan (lih. Pedoman Pastoral Keluarga KWI, no 8). Menyelamatkan itu tidak hanya sekedar memaafkan saja, tetapi juga suatu upaya melindungi pasangan agar tidak jatuh lagi ke dalam kesalahan atau dosa perselingkuhan itu. Jelaslah tugas dalam perkawinan itu sangat mulia, luhur tetapi tidak mudah.

    Maka menjawab pertanyaan anda:
    1. Perceraian, selain tidak diperbolehkan juga bukanlah penyelesaian masalah tetapi mengalihkan masalah. Jika anda sudah mempunyai anak, perceraian akan menimbulkan masalah baru, yakni pengaruh terhadap perkembangan pribadi anak anda.
    2. Menenangkan diri itu memang sangat anda perlukan karena sangat baik, supaya bisa berpikir lebih jernih dan tidak dikuasai oleh emosi. Ada beberapa pertanyaan yang perlu anda cari jawabannya:
    a. Apakah harus dengan berpisah agar anda dapat menenangkan diri?
    b. Mengapa istri anda akhirnya mengaku pada anda atas perselingkuhannya itu? Apakah karena ketahuan atau ada alasan lain?
    c. Apa artinya bagi anda pengakuan, kejujuran, dan mungkin penyesalan istri anda itu?
    d. Apa artinya (apa ada gunanya) jika anda memaafkan tetapi kemudian tidak mau mencintai dan mempercayai istri ada?

    Sdr. Boy semoga tanggapan saya ini bisa memberi sedikit bantuan bagi anda dalam mengatasi dan menyelesaikan masalah anda saat ini. Jangan lupa berdoa mohon penerangan Roh Kudus agar anda dapat menyelesaikan masalah anda dengan istri sesuai dengan kehendak-Nya. Tuhan memberkati.

    In amore Sacrae Familiae

    Agung P. MSF

  7. Salam di kasih Tuhan Yesus Kristus… nama saya Boy, kejadian sekitar bulan September 2010 tentang perselingkuhan istri saya..dan sekarang baru dia mengatakan sejujurnya tentang itu dan berhubungan badan istri dengan dua laki laki selingkuhan dia…dan saya merasa ditikam dari belakang oleh istri saya…dan dia mengakui perbuatan bersalah yaa..saya sebagai suami sdh tidak percaya lagi sama istri saya. Pertanyaan saya:
    1. Apakah kami harus bercerai dgn kejadian itu.
    2. Apakah saya mau memaafkan dia tetapi dgn perasaan tak cinta (hampa hati) tidak percaya lagi
    3. Apakah kami harus berpisah untuk sementara menenangkan diri
    Trima kasih.

Add Comment Register



Leave A Reply