Ada pernyataan bahwa kita tidak usah berdoa untuk jiwa-jiwa yang sudah meninggal, karena itu menjadi urusan Tuhan sendiri dan doa kita tidak akan berguna bagi mereka. Benarkah demikian? Gereja Katolik mengajarkan bahwa Tuhan berkuasa menentukan apakah seseorang yang meninggal itu masuk surga, neraka, atau jika belum siap masuk surga, dimurnikan terlebih dulu di Api Penyucian. Umat Kristen non-Katolik yang tidak mengakui adanya Api Penyucian, mungkin menganggap bahwa tidak ada gunanya mendoakan jiwa-jiwa orang yang sudah meninggal. Namun Gereja Katolik mengajarkan adanya masa pemurnian di Api Penyucian, silakan membaca dasar dari Kitab Suci dan pengajaran Bapa Gereja tentang hal ini, http://katolisitas.org/624/bersyukurlah-ada-api-penyucian, sehingga doa-doa dari kita yang masih hidup, dapat berguna bagi jiwa-jiwa mereka yang sedang dalam tahap pemurnian tersebut. Bahkan, dengan mendoakan jiwa-jiwa tersebut, kita mengamalkan kasih kepada mereka yang sangat membutuhkannya, dan perbuatan ini sangat berkenan bagi Tuhan (lih. 2 Mak 12:38-45).
Sebenarnya, prinsip dasar ajaran Gereja Katolik untuk mendoakan jiwa-jiwa orang yang sudah meninggal adalah adanya Persekutuan Orang Kudus yang tidak terputuskan oleh maut. Rasul Paulus menegaskan “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Rm 8:38-39).
Kuasa kasih Kristus yang mengikat kita semua di dalam satu Tubuh-Nya itulah yang menjadikan adanya tiga status Gereja, yaitu 1) yang masih mengembara di dunia, 2) yang sudah jaya di surga dan 3) yang masih dimurnikan di Api Penyucian. Dengan prinsip bahwa kita sebagai sesama anggota Tubuh Kristus selayaknya saling tolong menolong dalam menanggung beban (Gal 6:2) di mana yang kuat menolong yang lemah (Rm 15:1), maka jika kita mengetahui (kemungkinan) adanya anggota keluarga kita yang masih dimurnikan di Api Penyucian, maka kita yang masih hidup dapat mendoakan mereka, secara khusus dengan mengajukan intensi Misa kudus (2 Mak 12:42-46).
Memang, umat Kristen non-Katolik tidak mengakui kitab Makabe ini dalam Kitab Suci mereka. Juga, bagi mereka, keselamatan hanya diperoleh melalui iman saja (sola fide), yang sering dimaknai terlepas dari perbuatan, dan hal mendoakan ini dianggap sebagai perbuatan yang tidak berpengaruh terhadap keselamatan. Sedangkan ajaran iman Katolik adalah kita diselamatkan melalui iman yang bekerja oleh perbuatan kasih (Gal 5:6), maka iman yang menyelamatkan ini tidak terpisah dari perbuatan kasih. Dengan memahami adanya perbedaan perspektif Katolik dan non- Katolik ini, kita dapat mengerti bahwa umat Kristen non- Katolik menolak ‘perbuatan’ mendoakan jiwa-jiwa orang yang sudah meninggal. Sedangkan Gereja Katolik mengajarkan bahwa perbuatan-perbuatan kasih yang didasari iman sangatlah berguna bagi keselamatan kita (baik yang didoakan maupuan yang mendoakan). Jika “kasih” di sini diartikan menghendaki hal yang baik terjadi pada orang lain, dan jika kita ketahui bahwa maut tidak memisahkan kita sebagai anggota Tubuh Kristus (lih. Rom 8:38-39), maka kesimpulannya, pasti berguna jika kita mendoakan demi keselamatan jiwa-jiwa orang yang sudah meninggal. Sebab perbuatan kasih yang menghendaki keselamatan bagi sesama, adalah ungkapan yang nyata dalam hal “bertolong-tolonglah dalam menanggung bebanmu” (Gal 6:2).
Jangan lupa bahwa yang kita bicarakan di sini adalah bahwa doa- doa yang dipanjatkan untuk mendoakan jiwa-jiwa orang-orang yang sedang dimurnikan dalam Api Penyucian, sehingga mereka sudah pasti masuk surga, hanya sedang menunggu selesainya saat pemurniannya. Dalam masa pemurnian ini mereka terbantu dengan doa-doa kita, seperti halnya pada saat kita kesusahan sewaktu hidup di dunia ini, kita terbantu dengan doa-doa umat beriman lainnya yang mendoakan kita. Sedangkan, untuk orang-orang yang meninggal dalam keadaan tidak bertobat, sehingga masuk ke neraka, memang kita tidak dapat mendoakan apapun untuk menyelamatkan mereka. Atau untuk orang -orang yang langsung masuk ke surga (walaupun mungkin tak banyak jumlahnya), maka doa-doa kita sesungguhnya tidak lagi diperlukan, sebab mereka sudah sampai di surga. Namun masalahnya, kita tidak pernah tahu, kondisi rohani orang-orang yang kita doakan. Pada mereka memang selalu ada tiga kemungkinan tersebut, sehingga, yang kita mohonkan dengan kerendahan dan ketulusan hati adalah belas kasihan Tuhan kepada jiwa-jiwa tersebut, agar Tuhan memberikan pengampunan, agar mereka dapat segera bergabung dengan para kudus Allah di Surga.
Pengajaran tentang Api Penyucian termasuk dalam ajaran iman De fide (Dogma):
“The Communion of the Faithful on earth and the Saints in Heaven with Poor Souls in Purgatory:
The living Faithful can come to the assistance of the Souls in Purgatory by their intercessions (suffrages).”[1]
Terjemahannya:
Persekutuan umat beriman di dunia dan Para Kudus di Surga dengan Jiwa-jiwa yang menderita di Api Penyucian:
Para beriman yang [masih] hidup dapat membantu jiwa-jiwa di Api Penyucian dengan doa-doa syafaat (doa silih).
Silih di sini diartikan tidak saja doa syafaat, tetapi juga Indulgensi, derma dan perbuatan baik lainnya, dan di atas semua itu adalah kurban Misa Kudus. Ini sesuai dengan yang diajarkan di Konsili Lyons yang kedua (1274) dan Florence (1439).
Jadi meskipun umat Kristen non-Katolik tidak mengakui kitab Makabe, namun sesungguhnya mereka secara obyektif tidak dapat mengelak bahwa tradisi mendoakan jiwa orang yang telah meninggal sudah ada di zaman Yahudi sebelum Kristus. Tradisi ini kemudian diteruskan oleh para rasul, seperti yang dilakukan oleh Rasul Paulus ketika mendoakan Onesiforus yang sudah meninggal, “Kiranya Tuhan menunjukkan rahmat-Nya kepadanya [Onesiorus] pada hari-Nya.” (2 Tim 1:18). Tradisi mendoakan jiwa orang yang sudah meninggalpun dicatat dalam tulisan para Bapa Gereja, seperti:
1) Tertullian, yang mengajarkan untuk menyelenggarakan Misa kudus untuk mendoakan mereka pada perayaan hari meninggalnya mereka setiap tahunnya.[2].
2) St. Cyril dari Yerusalem dalam pengajarannya tentang Ekaristi memasukkan doa-doa untuk jiwa orang-orang yang sudah meninggal[3].
3) Sedangkan St. Yohanes Krisostomus dan St Agustinus mengajarkan bahwa para beriman dapat mendoakan jiwa orang-orang yang meninggal dengan mengadakan derma.[4].
Maka memang, mendoakan jiwa orang-orang yang sudah meninggal bagi orang Katolik merupakan salah satu perbuatan kasih yang bisa kita lakukan, terutama kepada orang-orang yang kita kasihi yang telah mendahului kita. Ini adalah salah satu dogma yang semestinya kita jalankan, sebagai orang Katolik. Tentu saja, kita tidak bisa memaksakan hal ini kepada mereka yang tidak percaya. Namun bagi kita yang percaya, betapa indahnya pengajaran ini! Kita semua disatukan oleh kasih Kristus: kita yang masih hidup dapat mendoakan jiwa-jiwa yang di Api Penyucian, dan jika kelak mereka sampai di surga, merekalah yang mendoakan kita agar juga sampai ke surga. Doa mereka tentu saja tidak melangkahi Perantaraan Kristus, sebab yang mengizinkan mereka mendoakan kita juga adalah Kristus, sebab di atas semuanya, Kristuslah yang paling menginginkan agar kita selamat dan masuk ke surga. Jadi doa para kudus saling mendukung dalam karya keselamatan Allah bagi manusia. Kita tergabung dalam satu persekutuan orang-orang kudus, karena kita semua adalah anggota Tubuh Kristus yang diikat oleh kasih persaudaraan yang tak terputuskan oleh maut, sebab Kristus Sang Kepala, telah mengalahkan maut itu bagi keselamatan kita.
Selamat siang Ibu Inggrid & Bp. Stefanus,
Ibu saya baru saja meninggal dunia. Saya ingin mendoakan arwahnya. Saya belum paham mengenai doa 7 hari, 40 hari 100 hari. Mohon penjelasannya, sesuai ajaran Katolik.
Terima kasih.
Shalom Rina,
Kami turut berduka cita atas meninggalnya ibu Anda. Semoga kerahiman Allah menyambutnya, dan Tuhan memberi penghiburan dan kekuatan iman kepada segenap keluarga yang ditinggalkannya.
Sepanjang pengetahuan kami, Gereja tidak mengharuskan tentang mendoakan jiwa orang-orang yang meninggal pada hari ke 7 atau ke-40 ataupun ke-100. Yang diajarkan secara eksplisit adalah agar kita mendoakan jiwa-jiwa orang beriman yang telah meninggal dunia pada sepanjang bulan November, terutama dari tanggal 1 s/d 8 November. Pada masa sembilan hari itu, Gereja mendoakan para jiwa orang beriman, dan memasukkannya dalam intensi Misa Kudus. Gereja memberikan Indulgensi penuh dan Indulgensi sebagian, bagi umat yang mendoakan dan bagi jiwa-jiwa tersebut, jika kita memenuhi keadaan yang disyaratkan. Tentang bagaimana agar memperoleh Indulgensi, silakan membaca di sini, silakan klik. Sedangkan tentang Apa itu Indulgensi, silakan klik di sini.
Selebihnya, silakan saja mendoakan jiwa-jiwa tersebut pada kesempatan lainnya, misalnya pada peringatan hari meninggalnya orang tua/ saudara/ kerabat kita setiap tahun, atau pada kesempatan lainnya, namun ini tidak diatur ataupun diharuskan secara mutlak oleh Gereja. Doa yang terbaik yang dianjurkan oleh Gereja adalah ujud doa dalam Misa Kudus, sebagaimana telah disebutkan dalam artikel di atas.
Selanjutnya, silakan juga mendoakan jiwa-jiwa tersebut setiap hari, dapat juga dilakukan pada pagi hari, silakan klik, ataupun dalam doa-doa pribadi lainnya, seperti intensi dalam doa rosario ataupun doa Kerahiman Ilahi.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Terima kasih banyak atas doanya untuk ibu saya & penjelasannya.
Salam Damai,
Rina
malam bu Inggrit dan Bp.Stef
sy mau tanya:
apakah boleh kita mendoakan atau bikin itensi di dalam misa utk keluarga kita yg sdh meninggal TETAPI waktu meninggal BELUM Katolik???
maafkan jika sdh ada di dlm artikel mengenai mendoakan org meninggal.. namun sy tidak atau belum membaca nya
Terima kasih atas penjelasan nya
salam kasih
ignas
Shalom Ignas,
Nampaknya, yang perlu dipegang prinsipnya adalah kita mendoakan jiwa-jiwa orang-orang yang sudah meninggal agar beroleh kemurahan Tuhan sehingga mereka dapat digabungkan dengan jiwa-jiwa para kudus dalam Kerajaan Surga. Maka, jiwa-jiwa yang dapat didoakan adalah mereka yang sedang dimurnikan dalam Api Penyucian. Jiwa-jiwa yang sudah berada di neraka tak dapat lagi didoakan, sebab mereka tak akan mungkin beralih ke surga, sedangkan jiwa-jiwa yang sudah ada di surga, sesungguhnya tidak memerlukan doa-doa kita lagi sebab mereka telah bersatu dengan Tuhan.
Nah, yang menjadi persoalan adalah kita tidak dapat mengetahui apakah keadaan leluhur kita, setelah wafatnya. Tentu kita memohon dan berharap agar mereka, (entah mereka Katolik atau tidak) diterima di sisi Tuhan, entah segera setelah wafatnya, ataupun jika menurut kebijaksanaan Tuhan masih perlu dimurnikan, agar mereka memperoleh kemurahan Tuhan, sehingga dapat digabungkan dengan para kudus-Nya di Surga. Pengharapan ini didasari atas iman kita akan kasih dan kebijaksanaan Tuhan kepada semua orang yang menghendaki agar setiap orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran (1 Tim 2:4), dan akan iman Gereja bahwa mereka yang bukan oleh karena kesalahannya sendiri tidak sampai kepada pengetahuan akan Kristus dan Gereja-Nya agar diselamatkan, namun sepanjang hidupnya selalu hidup mencari dan melakukan kehendak Allah sejauh yang dipahaminya seturut tuntunan hati nuraninya, maka iapun dapat mencapai keselamatan kekal. Namun semua ini tetap terjadi atas jasa Yesus Kristus, dan rahmat ini tetap diperoleh melalui Gereja. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:
“Di luar Gereja tidak ada keselamatan”
KGK 846 Bagaimana dapat dimengerti ungkapan ini yang sering kali diulangi oleh para bapa Gereja? Kalau dirumuskan secara positif, ia mengatakan bahwa seluruh keselamatan datang dari Kristus sebagai Kepala melalui Gereja, yang adalah Tubuh-Nya:
“Berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi, konsili mengajarkan, bahwa Gereja yang sedang mengembara ini perlu untuk keselamatan. Sebab hanya satulah Pengantara dan jalan keselamatan, yakni Kristus. Ia hadir bagi kita dalam Tubuh-Nya, yakni Gereja. Dengan jelas-jelas menegaskan perlunya iman dan baptis, Kristus sekaligus menegaskan perlunya Gereja, yang dimasuki orang melalui baptis bagaikan pintunya. Maka dari itu andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan” (LG 14).
KGK 847 Penegasan ini tidak berlaku untuk mereka, yang tanpa kesalahan sendiri tidak mengenal Kristus dan Gereja-Nya:
“Sebab mereka yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil Kristus serta Gereja-Nya, tetapi dengan hati tulus mencari Allah, dan berkat pengaruh rahmat berusaha melaksanakan kehendak-Nya yang mereka kenal melalui suara hati dengan perbuatan nyata, dapat memperoleh keselamatan kekal” (LG 16, Bdk. DS 3866 – 3872).
Dengan demikian, maka kita tetap dapat mendoakan leluhur ataupun kerabat kita yang telah wafat, entah mereka sudah mengenal Kristus atau belum semasa hidupnya di dunia. Kita mempercayakan jiwa mereka dalam belas kasihan Tuhan, sebab pada akhirnya Tuhanlah yang menentukan akan akhir hidup mereka. Bagian kita adalah mendoakan mereka semasa hidup kita.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Dalam ajaran islam memang ada yg menganjurkan untuk mendoakan orang yg sudah meningal dan tidak mendoakan orang yg sdh meninggal seperti islam yg menganut NU(Nahdatul Ulama)itu mewajibkan pengikutnya untuk mendoakan umat muslim yg sdh meninggal sedangkan islam yg menganut ajaran MD (Muhamad Diyah) menyuruh umatnya untk tidak blh mendoakan orang yg sdh meniggal.
Dalam ajaran islam yg saya anut kelak pada hari akhir/kiamat nabi ISA as. akan di bangkitkan kmbali ke muka bumi ini untk mebimbing semua umat
Shalom A Rahmad,
Terima kasih atas komentar Anda. Dalam ajaran Gereja Katolik, Kristus yang adalah sungguh Allah dan sungguh manusia akan datang lagi ke dunia dan memerintah untuk selamanya. Namun pemerintahan-Nya bukan terjadi di bumi namun bumi yang baru atau Sorga, karena kedatangan-Nya adalah merupakan hari kiamat. Keterangan tentang hal ini dapat dibaca di artikel ini – silakan klik. Semoga dapat membantu.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org
Lihat Ibrani 10:26-27
10:26 Sebab jika kita sengaja berbuat dosa , sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu. 10:27 Tetapi yang ada ialah kematian yang mengerikan akan penghakiman dan api yang dahsyat yang akan menghanguskan semua orang durhaka.
Artinya dosa tetap dosa, setelah kematian tidak ada lagi cara untuk menghapus dosa. artinya kalau kita sdh tahu kebenaran dan tetap melakukan dosa, ya api neraka akan menghanguskan kita. Makanya kita hanya minta pimpinan Roh Kudus agar paham dan mengerti akan kebenaran Firman Tuhan…Shalom dan Tuhan memberkati
Shalom Pet,
Saya tidak tahu apakah Anda setuju atau tidak setuju bahwa kita dapat mendoakan orang-orang yang sudah meninggal dari komentar Anda. Apakah kalau dosa tetap dosa, maka Anda tidak setuju adanya dosa ringan dan dosa berat dan dosa yang mendatangkan maut dan dosa yang tidak mendatangkan maut? Sebagai catatan pada waktu umat Katolik mendoakan jiwa-jiwa yang meninggal, maka yang dapat didoakan adalah jiwa-jiwa di Api Penyucian. Jiwa yang di neraka tidak dapat diubah keadaannya dengan doa-doa kita.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org
Shalom Pet,
Saya tidak tahu apakah Anda setuju atau tidak setuju bahwa kita dapat mendoakan orang-orang yang sudah meninggal dari komentar Anda. Apakah kalau dosa tetap dosa, maka Anda tidak setuju adanya dosa ringan dan dosa berat dan dosa yang mendatangkan maut dan dosa yang tidak mendatangkan maut? Sebagai catatan pada waktu umat Katolik mendoakan jiwa-jiwa yang meninggal, maka yang dapat didoakan adalah jiwa-jiwa di Api Penyucian. Jiwa yang di neraka tidak dapat diubah keadaannya dengan doa-doa kita.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org
bu Inggrit dan Bp.Stef
sy mau tanya:
apakah boleh kita mendoakan atau bikin itensi di dalam misa utk keluarga kita yg sdh meninggal TETAPI waktu meninggal BELUM Katolik???
maafkan jika sdh ada di dlm artikel mengenai mendoakan org meninggal.. namun sy tidak atau belum membaca nya
Terima kasih atas penjelasan nya
salam kasih
ignas
[dari katolisitas: Tidak menjadi masalah untuk mendoakan anggota keluarga yang belum Katolik, karena kita tidak tahu jiwa anggota keluarga kita ada di mana. Dan kita hanya mengharapkan belas kasih Tuhan. Dalam setiap Misa, Gereja senantiasa mendoakan jiwa-jiwa yang masih berada di dalam Api Penyucian.]
Shalowm Ignas Royadi, lakukan saja, toh anda seorang Katolik, tentu berdoa dgn cara Katolik & melalui Gereja Katolik, jd tidak ada salahnya membuat intensi/wujud utk keluarga yg sdh meninggal meskipun ybs bukan Katolik. Di dlm ekaristi kita berdoa jg utk para pemimpin negara yg bukan Katolik kan?
Tetap Semangat Demi Kemuliaan Allah!
Tidak ada dasar kebenarannya mendoakan orang mati, sekalipun alasannya untuk kasih dan keselamatan. Sekalipun kita berdoa untuk orang mati, doa itu tidak akan mengubah kondisi mereka yang dalam keadaan roh, sebab alam roh adalah kekal.
Dan tidak ada satupun dalam Alkitab yang memerintahkan untuk melakukan praktek demikian (Api penyucian / doa orang mati / babtisan bagi orang mati dll).
Paulus pun pernah mengkritik sidang Korintus yang gemar praktek ini namun malah tidak mempercayai lagi tentang hari kebangkitan. Ayat inipun tidak memiliki nilai perintah untuk dibabtis bagi orang mati.
Tentang si kaya dan lazarus sudah jelas tempat orang mati adalah di Firdaus atau Hades, bukan ditengah2 (menunggu api penyucian), dan di dalam kisah itu sikaya tidak meminta doa keselamatan dari keluarganya yang masih hidup.
Penjahat disamping Yesus yang bertobat, loangsung menuju Firdaus, tanpa menunggu api penyucian.
JAdi Alkitab / Firman ALlah tidak pernah memerintahkan kita untuk melakukan praktek-2 seperti Api penyucian, doa orang mati atau babtisan orang mati.
Semua yang dilakukan oleh para nabi, rasul, dan semua hamba 2 Tuhan hanyalah berdasarkan perintah Allah. Tapi coba anda teliti lagi dalam MAKABE 2, apakah tokoh yang melakukan prakrtek doa bagi orang mati berdasarkan perintah Allah ? Tapi jelas praktek2 yang di lakukan oleh tokoh di MAKABE 2 adalah hanya gagasan pribadinya yang terdorong rasa kasih / belas kasih pada jiwa2 yang terlanjur mati tanpa keselamatan.
Sekalipun berdasarkan kasih, untuk apa kita repot2 melakukan hal itu bila ALlah sendiri tidak memerintahkan ?
Mungkin anda bertanya, sekalipun Allah tidak memerintahkan, bukan berarti mustahil kan ?
Bukan perkara mustahil atau tidak, tapi lebih bermanfaat bila melakukan semua yang diperintahkan Allah dengan tekun dan setia. sebab tidak ada korban menghapus dosa dalam alam barsah.
Tidak ada istilah Jembatan antara orang mati dan hidup, yang ada Yesus menjadi Jembatan antara Allah dan manusia. Korban Kristus hanya berlaku bagi orang yang masih hidup tapi mengalami kematian rohani (tertawan oleh dosa), bukan kematian di alam barsah.
Yang lebih konyol lagi, ada gereja tertentu yang malakukan praktek ini bukan istilah Api Penyucian, tapi malah mereka mengundang jiwa-jiwa orang mati untuk datang dalam kebaktian dan menikmati sakramen-2 yang diwakili oleh hamba Tuhan.
Sudah jelas hal ini kekejian bagi Allah. Silahkan baca sepanjang perjanjian lama, khususnya tentang bersekutu dengan arwah-arwah.
Shalom John,
1. Mendoakan orang mati?
Nampaknya ada salah paham di sini. Sebab Kristus sendiri mengajarkan kepada kita bahwa orang-orang yang meninggal dunia di dalam Kristus itu bukan orang-orang yang mati, melainkan orang-orang yang hidup. Kristus bersabda, “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati…. ” (Yoh 11:25)
Maka jika umat Katolik mendoakan orang percaya yang meninggal, itu adalah karena kami mengimani sabda Tuhan ini, yaitu bahwa jiwa mereka tetaplah hidup, walaupun badannya sudah mati. Nah, jiwa-jiwa orang beriman yang meninggal dalam keadaan kudus/ sempurna, dapat bersatu dan memandang Allah dalam Kerajaan Surga (lih. Mat 5:8; Ibr 12:14) namun bagi jiwa-jiwa yang belum sempurna, perlu dimurnikan terlebih dahulu seperti melalui api, sebelum ia diselamatkan (lih. 1 Kor 3:15).
Silakan membaca artikel: Bersyukurlah ada Api Penyucian, silakan klik. Di sana disebutkan dasar-dasar ayat Kitab Suci tentang Api Penyucian.
2. Rasul Paulus mengkritik praktek mendoakan arwah?
Tidak. Rasul Paulus sendiri mendoakan arwah temannya yaitu Onesiforus. Tentang hal ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.
Jika yang Anda maksudkan adalah ayat 1 Kor 15:29, ayat tersebut tidak mengatakan apapun tentang mendoakan arwah. Ayat tersebut mengatakan, “Jika tidak demikian, apakah faedahnya perbuatan orang-orang yang dibaptis bagi orang mati? Kalau orang mati sama sekali tidak dibangkitkan, mengapa mereka mau dibaptis bagi orang-orang yang telah meninggal?” (1 Kor 15:29).
Melalui ayat ini Rasul Paulus hanya mau menyebutkan suatu kebiasaan yang menunjukkan adanya kepercayaan jemaat akan kebangkitan. Menurut penjelasan The Navarre Bible, kemungkinan sebagian jemaat Korintus memiliki kebiasaan untuk membaptis anak-anak mereka atas nama/ dalam nama kerabat Kristen mereka yang telah meninggal dunia, dengan harapan agar mereka juga dapat mengambil bagian di dalam kebangkitan Kristus. Rasul Paulus tidak memuji ataupun mengecam kebiasaan ini, ia hanya mengatakan bahwa kebiasaan ini menunjukkan kepercayaan akan kebangkitan orang mati.
3. Tentang orang kaya dan Lazarus
Perikop ini memang dimaksudkan untuk menggambarkan kontras antara kehidupan jiwa-jiwa orang-orang benar di zaman sebelum Yesus dengan jiwa-jiwa orang-orang yang jahat yang juga meninggal sebelum kebangkitan Yesus. Jiwa-jiwa orang-orang benar masih menunggu di suatu tempat, yang disebut sebagai tempat penantian atau pangkuan Abraham (lih. Luk 16:23) sampai saat pintu Kerajaan Surga dibuka oleh Kristus setelah kebangkitan-Nya, untuk mereka semua. Sedangkan jiwa-jiwa orang- orang yang jahat selama hidupnya di dunia (seperti si orang kaya itu), akan berada di neraka setelah kematian mereka. Maka memang perikop ini tidak dimaksudkan untuk mengisahkan tentang Api Penyucian.
Ketiaka mengajar, Yesus sering menyampaikan kisah-kisah maupun perumpamaan, yang tidak harus menyampaikan segala macam pengajaran dalam satu kisah ataupun satu perumpamaan. Contohnya, kisah anak yang hilang dimaksudkan terutama untuk mengisahkan belas kasihan Tuhan, sedangkan perumpamaan Talenta, tentang keadilan Tuhan. Namun kita tidak dapat meniadakan salah satu sifat Allah, karena dalam suatu perumpamaan sifat itu tidak nampak. Maka, untuk dasar Kitab Suci bagi ajaran tentang Api Penyucian, kita mengacu kepada ayat-ayat yang lain yang menyatakan hal tersebut.
4. Penjahat yang bertobat langsung ke Firdaus, tidak masuk ke Api Penyucian?
Kata Firdaus, paradise atau dalam bahasa asli Yunani adalah parádeisos, merupakan suatu tempat bagi jiwa-jiwa orang-orang benar sebelum kebangkitan Kristus. Yang dimaksud dengan Firdaus ini adalah “pangkuan Abraham”/limbo of the just/the bossom of Abraham (Luk 16:23) atau Hades. Semua jiwa yang ada di tempat penantian ini, akan menuju ke Surga secara langsung setelah kebangkitan Kristus. Kita mengingat apa yang dikatakan di dalam Syahadat, “Aku Percaya … akan Kristus ….yang disalibkan, wafat, dan dimakamkan; yang turun ke tempat penantian. Dalam waktu tiga hari setelah kematian-Nya, Yesus datang ke tempat penantian untuk memberitakan wahyu Tuhan secara lengkap, sehingga segala yang ada di langit, di atas bumi, dan yang ada di bawah bumi akan bertekuk lutut dan segala lidah mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan (lih. Fil 2:10-11). Dan setelah Yesus bangkit dari orang mati, maka tempat penantian ini tidak ada lagi, yang ada hanya Surga, neraka, dan Api Penyucian.
Kisah sang penjahat yang bertobat ini menunjukkan contoh tentang apa yang disebut oleh Gereja sebagai Baptisan Rindu (Baptism of Desire) yaitu kerinduan untuk menerima pembaptisan, yang diiringi oleh penyesalan atas dosa-dosanya dan juga perbuatan kasih (KGK, 1259). Penyesalan dan perbuatan kasih dari penjahat tersebut diungkapkan dengan perkataannya, “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah…Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.“(Luk 23:40-42). Dengan pertobatan dan Baptis Rindu ini, maka Allah berkenan melepaskannya dari segala dosanya (dosa asal dan dosa pribadi) dan memasukkannya di dalam bilangan orang-orang pilihan-Nya. Maka memang benar, sama seperti orang yang dibaptis lalu meninggal seketika, ia langsung masuk surga (tanpa melalui Api Penyucian); demikianlah juga sang penjahat yang bertobat dan menerima Baptisan Rindu tersebut, ia langsung diampuni dan dibenarkan oleh Kristus. Selanjutnya tentang Baptis Rindu, silakan klik di sini.
5. Membaptis orang mati?
Ya, Anda benar, Kitab Suci tidak mengajarkan kita untuk membaptis orang mati. Karena Pembaptisan dimaksudkan antara lain sebagai pertobatan dan ungkapan iman orang tersebut akan Allah Tritunggal. Hanya orang yang masih hidup-lah yang dapat bertobat dan menyatakan imannya.
6. Kitab Makabe 2 adalah gagasan pribadi?
Tidak. Gereja menerima kitab Makabe sebagai kitab yang diinspirasikan oleh Roh Kudus, dan telah memasukkannya ke dalam kanon Kitab Suci sejak tahun 382. Gereja-gereja Kristen non Katolik-lah yang menolak Kitab tersebut dan mencoretnya dari kanon Kitab Suci mereka sejak tahun 1825. Tentang hal ini sudah pernah dibahas di artikel ini: Kitab-kitab Deuterokanonika, dan Menjawab Keberatan tentang Septuaginta dan Deuterokanonika.
Dalam Kitab Makabe, perbuatan Yudas Makabe yang mendoakan dan mempersembahkan korban penebus salah bagi arwah saudara-saudara sebangsanya yang wafat di medan pertempuran, dipuji sebagai perbuatan yang sangat baik yang didasari oleh iman akan kebangkitan: “Merekapun lalu mohon dan minta, semoga dosa yang telah dilakukan itu dihapus semuanya. Tetapi Yudas yang berbudi luhur memperingatkan khalayak ramai, supaya memelihara diri tanpa dosa, justru oleh karena telah mereka saksikan dengan mata kepala sendiri apa yang sudah terjadi oleh sebab dosa orang-orang yang gugur itu. Kemudian dikumpulkannya uang di tengah-tengah pasukan. Lebih kurang dua ribu dirham perak dikirimkannya ke Yerusalem untuk mempersembahkan korban penghapus dosa. Ini sungguh suatu perbuatan yang sangat baik dan tepat, oleh karena Yudas memikirkan kebangkitan. Sebab jika tidak menaruh harapan bahwa orang-orang yang gugur itu akan bangkit, niscaya percuma dan hampalah mendoakan orang-orang mati. Lagipula Yudas ingat bahwa tersedialah pahala yang amat indah bagi sekalian orang yang meninggal dengan saleh. Ini sungguh suatu pikiran yang mursid dan saleh. Dari sebab itu maka disuruhnyalah mengadakan korban penebus salah untuk semua orang yang sudah mati itu, supaya mereka dilepaskan dari dosa mereka.” (2 Mak 12:42-45)
Jika Gereja Katolik mengajarkan Api Penyucian dan mendoakan jiwa-jiwa orang yang sudah meninggal, itu adalah karena Gereja Katolik mengajarkan keseluruhan ajaran yang tertulis dalam Kitab Suci dan yang diajarkan oleh para Rasul. Gereja Katolik tidak memilih-milih ajaran dalam Kitab Suci, sebab Gereja percaya bahwa segala tulisan dalam Kitab Suci itu berguna untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran (2 Tim 3:16).
7. Mengundang jiwa-jiwa orang mati?
Mendoakan jiwa-jiwa orang yang sudah meninggal tidak sama dengan mengundang arwah. Hal pemanggilan arwah memang dilarang oleh Sabda Tuhan, ini jelas dalam kasus Raja Saul yang memanggil arwah Samuel. Hal ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.
8. Menikmati sakramen yang diwakili oleh hamba Tuhan?
Yesus Kristus sendirilah mendirikan ketujuh sakramen. Sakramen yang dimaksud di sini adalah tanda dan sarana di mana rahmat yang menguduskan dan menyelamatkan disampaikan Allah kepada umat-Nya. Sakramen telah ada sejak awal mula Gereja, dan Gereja Katolik melestarikannya, sebab inilah yang diajarkan oleh para Rasul dalam Kitab Suci, agar yang dilakukan oleh jemaat bukan hanya ajaran yang tertulis dalam Kitab Suci, tetapi juga ajaran-ajaran para rasul yang disampaikan secara lisan (lih. 2 Tes 2:15). Jika kita melihat tulisan para jemaat perdana, kita akan mengetahui bahwa sakramen-sakramen merupakan hal yang tak terpisahkan dalam kehidupan Gereja. Bahkan, Sakramen Ekaristi merupakan sumber dan puncak kehidupan Kristiani. Oleh karena itu, Gereja Katolik tetap teguh melestarikan sakramen-sakramen Gereja, sebab Yesus berpesan, “…. ajarlah mereka [semua bangsa] melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.” (Mat 28:20)
Akhirnya, saya mengundang Anda, jika Anda tertarik untuk melanjutkan dialog ini, agar Anda membaca terlebih dahulu link-link yang saya cantumkan di atas. Gereja Katolik memiliki dasar bagi semua ajarannya. Maka tidak ada ajaran Gereja Katolik yang ‘konyol‘ ataupun yang merupakan kekejian, sebagaimana yang Anda tuduhkan. Mari kita menghormati setiap ajaran Kristus dan para Rasul, dan dalam dialog kita senantiasa mengusahakan ungkapan yang santun dan saling menghormati, sebagaimana layaknya dilakukan oleh murid- murid Kristus.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
dear katolisitas,
katolisitas menulis: “Yesus Kristus sendirilah mendirikan ketujuh sakramen. Sakramen yang dimaksud di sini adalah tanda dan sarana di mana rahmat yang menguduskan dan menyelamatkan disampaikan Allah kepada umat-Nya. Sakramen telah ada sejak awal mula Gereja, dan Gereja Katolik melestarikannya, sebab inilah yang diajarkan oleh para Rasul dalam Kitab Suci, agar yang dilakukan oleh jemaat bukan hanya ajaran yang tertulis dalam Kitab Suci, tetapi juga ajaran-ajaran para rasul yang disampaikan secara lisan (lih. 2 Tes 2:15)”.
saya percaya pernyataan di atas. saya hanya ingin tahu di manakah itu bisa saya temukan. (sakramen imamat ada di perikop mana? sakramen minyak suci ada di perikop mana, dsb). bagi saya yang jelas hanya sakramen Ekaristi, Penguatan)
[dari katolisitas:
Liturgi tak perpisahkan dengan sakramen. Ada 7 sakramen dalam Gereja Katolik. Dari tujuh sakramen Gereja, 3 yang pertama - Baptis, Ekaristi (1, 2, 3, 4), Penguatan – adalah sakramen inisiasi yang menjadi sakramen-sakramen dasar bagi kehidupan orang Kristen. Sakramen Urapan Orang Sakit dan Sakramen Tobat (bagian 1, 2, 3, 4), diberikan untuk kesembuhan baik fisik maupun rohani. Dan akhirnya, Sakramen Perkawinan (bagian 1, 2) dan Imamat diberikan untuk menguatkan kita dalam menjalankan misi di dunia ini dalam mencapai tujuan akhir, yaitu Kristus.]
Dear katolisitas,
banyak terima kasih. saya belum baca semua link tapi dari beberapa yang sudah saya baca sudah yakin bahwa memang semua sakramen didirikan oleh Yesus sendiri. sangat membantu dan mencerahkan
Anda mengatakan: Sekalipun berdasarkan kasih, untuk apa kita repot2 melakukan hal itu bila ALlah sendiri tidak memerintahkan ?
Jawaban Anda sepertinya memisahkan antara Allah dengan kasih. Apakah ada kasih yang bukan berasal dari Allah?
Bukankah tidak ada juga yang memerintahkan Yesus untuk turun ke dunia lalu berkorban menebus dosa manusia?
Manusia memang tidak bisa menyelamatkan manusia lainnya tetapi apakah Anda tahu kalau Allah menjadikan manusia sebagai rekanNya untuk menyelamatkan manusia lainnya?
[Dari Katolisitas: mungkin ayat yang dimaksud di sini adalah 1 Kor 3:9]
Salam, John
Saya setuju dengan John bahwa kita harus “melakukan semua yang diperintahkan Allah dengan tekun dan setia.” Oleh sebab itu, Gereja mendoakan jiwa-jiwa yang berada dalam Api Penyucian karena itulah yang diajarkan oleh Yesus melalui Kitab Suci dan ajaran Para Rasul. Berbagai kutipan yang membuktikan bahwa Api Penyucian adalah ajaran yang telah ada sedari Gereja Perdana banya bertebaran dalam situs ini. Bila anda belum puas, anda bisa mencari cetakan buku tulisan Bapa Gereja atau karya yang merangkum tulisan beberapa Bapa-bapa gereja tersebut. Tulisan mereka tentu menjadi bukti apa yang diajarkan Gereja di zaman tersebut.
Mungkin yang cukup menarik adalah penafsiran bahwa “Tidak ada istilah Jembatan antara orang mati dan hidup”. Memang Gereja mengajarkan tidak ada jembatan antara neraka (yang adalah keterpisahan mutlak) dengan dunia lainnya. Namun, penafsiran bahwa orang hidup tidak bisa mendoakan jiwa orang yang sudah meninggal tidak ditemukan sepanjang sejarah perkembangan Gereja, maupun Gereja Orthodox Timur yang memisahkan diri di abad ke-11. Justru penafsiran tersebut mulai muncul setelah timbul Reformasi oleh Martin Luther. Boleh kita renungkan bahwa Yesus yang sama adalah Firman yang kekal. Ia tidak akan mengubah apa yang dahulu pernah diajarkan kepada para Rasul dan dicatat oleh murid Para Rasul sepanjang sejarah.
Pacem,
Ioannes
Shalom..yang harus diralat pada artikel ini adalah : protestan memang didasari iman, namun tentu juga dengan perbuatan. Hanya saja, apa itu perbuatannya, rasional atau tidak, juga kami pikirkan. Termasuk mendoakan orang yang meninggal. Iman tanpa perbuata kosong.
[dari katolisitas: Apakah Anda ingin menyatakan bahwa berdoa untuk jiwa-jiwa di Api Penyucian adalah perbuatan tidak rasional? Kalau maksud Anda demikian, dapatkah Anda memberikan alasannya?]
Berdoa untuk orang yang meninggal itu rasional jika Anda percaya bahwa yang mati hanya badannya, tidak termasuk jiwanya.
Kecuali jika Anda menganggap mereka yang telah meninggal itu sudah benar-benar musnah tubuh dan jiwanya, maka memang percuma kita mendoakannya.
Jika kita mendoakan seorang teman yang badannya sakit supaya ia sembuh, tidak ada alasan untuk tidak mendoakan jiwa seseorang yang badannya sudah meninggal supaya jiwanya juga disembuhkan dan dapat bersatu dengan Tuhan.
Salam, Melo
Berbicara soal rasionalnya suatu tindakan iman, saya setuju dengan Melo. Tentu saja Gereja Katolik mengajarkan bahwa iman dan rasio tidak bertentangan satu sama lain, justru menguatkan dan membawa jiwa manusia lebih dekat pada Allah. Oleh sebab itu, Gereja mengajarkan adanya api penyucian dan berdoa bagi jiwa-jiwa karena ajaran tersebut memang ada sedari awal berdirinya Gereja :
If a man departs this life with lighter faults, he is condemned to fire which burns away the lighter materials, and prepares the soul for the kingdom of God, where nothing defiled may enter…It remains then that you be committed to the fire which will burn the light materials; for our God to those who can comprehend heavenly things is called a cleansing fire. – Origen (Patres Groeci. XIII, col. 445, 448 [A.D. 185-232])
That allegory of the Lord [Matt. 5:25-26] . . . is extremely clear and simple in its meaning . . . [beware lest as] a transgressor of your agreement, before God the judge . . . and lest this judge deliver you over to the angel who is to execute the sentence, and he commit you to the prison of hell, out of which there will be no dismissal until the smallest even of your delinquencies be paid off in the period before the resurrection. What can be a more fitting sense than this? What a truer interpretation? – Tertullianus (The Soul 35 [A.D. 210]).
Then we make mention also of those who have already fallen asleep: first, the patriarchs, prophets, apostles, and martyrs, that through their prayers and supplications God would receive our petition, next, we make mention also of the holy fathers and bishops who have already fallen asleep, and, to put it simply, of all among us who have already fallen asleep. For we believe that it will be of very great benefit to the souls of those for whom the petition is carried up, while this holy and most solemn sacrifice is laid out – St. Cyril of Jerusalem (Catechetical Lectures 23:5:9 [A.D. 350]).
Not in vain was it decreed by the Apostles that in the awesome mysteries remembrance should be made of the departed. They knew that here there was much gain for them, much benefit. When the entire people stands with hands uplifted, a priestly assembly, and that awesome sacrificial victim is laid out, how, when we are calling upon God, should we not succeed in their defense? But this is done for those who have departed in the faith, while even the catechumens are not reckoned is worthy of this consolation, but are deprived of every means of assistance except one. And what is that? We may give alms to the poor on their behalf – St. John Chrysostomus (Homilies on Philippians 3:9-10 [A.D. 402]).
Give perfect rest to thy servant Theodosius, that rest which thou hast prepared for thy saints… I have loved him, and therefore will I follow him into the land of the living; nor will I leave him until by tears and prayers I shall lead him wither his merits summon him, unto the holy mountain of the Lord – St. Ambrose of Milan (Funeral Sermon of Theodosius 36-37 [A.D. 395])
That there should be some fire even after this life is not incredible, and it can be inquired into and either be discovered or left hidden whether some of the faithful may be saved, some more slowly and some more quickly in the greater or lesser degree in which they loved the good things that perish, through a certain purgatorial fire – St. Augustine of Hippo (Handbook on Faith, Hope, and Charity l8:69 [A.D. 421]).
Secara rasio, dapat dibuktikan sepanjang sejarah bahwa ajaran Purgatorium dan mendoakan jiwa-jiwa adalah ajaran otentik Kristus dan Para Rasul kepada Gereja. Gereja hari ini, yang adalah penerus yang sama dengan Gereja di zaman dahulu, hanya meneruskan apa yang telah diajarkan.
Mungkin orang bisa berpendapat bahwa tulisan para Bapa Gereja mengenai Api Penyucian hanya penafsiran dan pendapat pribadi pada Bapa Gereja tersebut. Namun, lebih rasional untuk mempercayai ajaran itu karena mereka hidup lebih dekat dengan zaman Yesus dan para Rasul sehingga lebih mengerti secara jelas penafsiran Kitab Suci daripada pendeta atau romo manapun di zaman ini. Semoga Allah menuntun kita pada kepenuhan kebenaran yang telah Ia titipkan.
Pacem,
Ioannes
[dari katolisitas: Pengajaran Bapa Gereja tentang Api Penyucian dalam Bahasa Indonesia dapat dilihat di sini - silakan klik]