Tentang Malaikat Pelindung dan Eksorsisme

1. Tentang Malaikat Pelindung

Di dalam Alkitab PL kita mengetahui bahwa para malaikat diutus Allah untuk menjaga umat-Nya, seperti contohnya dalam kisah Lot (lih. Kej 28-29); bangsa Israel (lih. Kel 12-13); Nabi Musa (Kel 32:34). Dalam kitab Mazmur 90:11, “sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu.”

Dalam PB, Yesus mengajarkan, “Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga.”(Mat 18:11) Maka kita mengetahui bahwa Allah mengirimkan malaikat-Nya untuk menjaga manusia, bahkan anak-anak kecil. Malaikat ini yang tak terbatas oleh tubuh, menjaga manusia, namun pada saat yang sama mereka memandang Allah.

Hidup Yesus sendiri tak terlepas dari para malaikat-Nya, di saat kelahiran-Nya, saat Ia berpuasa di padang gurun, dan saat ia berdoa di Taman Getsemani. Para rasulpun mengalami perlindungan para malaikat, contohnya saat Rasul Petrus dibebaskan dari penjara (lih. Kis 12:1-19). Maka Rasul Paulus mengajarkan, “Bukankah mereka semua adalah roh-roh yang melayani, yang diutus untuk melayani mereka yang harus memperoleh keselamatan?” (Ibr 1:14) Dan ‘roh-roh yang melayani’ ini adalah para malaikat.

Maka Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:

KGK 336     Sejak masa anak-anak (Bdk. Mat 18:10) sampai pada kematiannya (Bdk. Luk 16:22) malaikat-malaikat mengelilingi kehidupan manusia dengan perlindungan (Bdk. Mzm 34:8; 91:10-13) dan doa permohonan (Bdk. Ayb 33:23-24; Za 1:12; Tob 12:12). “Seorang malaikat mendampingi setiap orang beriman sebagai pelindung dan gembala, supaya menghantarnya kepada kehidupan” (Basilius, Eun. 3, 1). Sejak di dunia ini, dalam iman, kehidupan Kristen mengambil bagian di dalam kebahagiaan persekutuan para malaikat dan manusia yang bersatu dalam Allah.

KGK 352     Gereja menghormati para malaikat yang mendampingi Gereja dalam ziarah duniawinya dan melindungi setiap manusia.

Namun demikian, Gereja tidak pernah mengeluarkan pengajaran definitif tentang adanya Malaikat Pelindung yang khusus mendampingi setiap jiwa manusia, dengan nama-nama tertentu, apalagi mengharuskan kita untuk berkomunikasi dengan Malaikat Pelindung kita. Kecenderungan untuk ‘berkomunikasi’ dengan malaikat pelindung ini malah harus diwaspadai, agar tidak malah menjadi semacam tahayul.

Bahwa Malaikat Pelindung itu ada, ini memang diajarkan oleh para Bapa Gereja, seperti St. Basilius yang dikutip di KGK dan juga St. Jerome, yang mengajarkan, “Betapa besarnya martabat jiwa manusia, sebab setiap jiwa dari kelahirannya mempunyai satu Malaikat yang ditugaskan untuk menjaganya.”[1] Maka, memang dalam tradisi Gereja memang terdapat doa mohon perlindungan dari Malaikat pelindung karena mereka selalu ada dalam hadirat Allah, dan intinya memohon agar mereka melindungi kita. Tetapi yang mengabulkan doa itu hanya Allah saja, karena memang Allah sudah menugaskan malaikat itu untuk menjaga kita, dan peran malaikat pelindung itu hanya mungkin karena kuasa Allah:

Angel of God, My Guardian Dear
to whom God’s love commits me here.
Ever this day be at my side
to light and guard and rule and guide. Amen

Malaikat Tuhan, Pelindungku yang terkasih,
yang olehnya Kasih Tuhan bekerja padaku di sini
Selalu pada hari ini, tetaplah di sisiku
untuk menerangi, dan menjaga, dan memimpin dan membimbing. Amin

Jadi saya rasa, cukuplah bagi kita untuk mengetahui bahwa Tuhan mengirimkan malaikat-Nya untuk menjaga kita. Selanjutnya di dalam doa kita, komunikasi yang kita lakukan adalah antara kita dengan Tuhan. Maka prinsipnya adalah, sama seperti kita boleh memohon agar para orang kudus mendoakan kita, kitapun boleh (bukan harus) memohon kepada malaikat pelindung untuk mendoakan kita; namun tidak lebih dari itu.

2. Tentang Eksorsisme (mengusir setan)

Menurut New Advent Encyclopedia, pengertian eksorsisme adalah: 1) tindakan pengusiran setan-setan atau roh-roh jahat dari orang-orang, tempat, atau benda-benda, yang diyakini kerasukan setan atau menjadi korban atau alat-alat tipu muslihat mereka; 2) sebagai cara-cara yang dilakukan untuk maksud ini, terutama pengusiran setan secara resmi (solemn and authoritative) di dalam nama Tuhan.

Katekismus Gereja Katolik mengajarkan tentang eksorsisme sebagai berikut:

KGK 1673    Kalau Gereja secara resmi dan otoritatif berdoa atas nama Yesus Kristus, supaya seorang atau satu benda dilindungi terhadap kekuatan musuh yang jahat dan dibebaskan dari kekuasaannya, orang lalu berbicara tentang eksorsisme. Yesus telah melakukan doa-doa semacam itu (Bdk. Mrk 1:25-26); Gereja menerima dari Dia kekuasaan dan tugas untuk melaksanakan eksorsisme (Bdk. Mrk 3:15; 6:7.13; 16:17). Dalam bentuk sederhana eksorsisme dilakukan dalam upacara Pembaptisan. Eksorsisme resmi atau yang dinamakan eksorsisme besar hanya dapat dilakukan oleh seorang imam dan hanya dengan persetujuan Uskup. Imam itu harus melakukannya dengan bijaksana dan harus memegang teguh peraturan-peraturan yang disusun Gereja. Eksorsisme itu digunakan untuk mengusir setan atau untuk membebaskan dari pengaruh setan, berkat otoritas rohani yang Yesus percayakan kepada Gereja-Nya. Lain sekali dengan penyakit-penyakit, terutama yang bersifat psikis; untuk menangani hal semacam itu adalah bidang kesehatan. Maka penting bahwa sebelum seorang melakukan eksorsisme, ia harus mendapat kepastian bagi dirinya bahwa yang dipersoalkan di sini adalah sungguh kehadiran musuh yang jahat, dan bukan suatu penyakit. (Bdk. CIC, can. 1172).

Kita mengetahui adanya dua macam eksorsisme, yaitu:
1) eksorsisme sederhana yang yang dilakukan terhadap katekumen oleh imam yang membaptis,
2) eksorsisme yang resmi/ besar (pada kasus orang-orang yang kesurupan/ terkena pengaruh roh jahat). Bentuk eksorsisme ini hanya dapat dilakukan oleh imam yang ditunjuk secara khusus oleh Uskup. Ia haruslah seorang yang kudus, dalam artian berakar kuat dalam doa, Sabda Allah, sakramen, puasa, matiraga, dan rendah hati dengan mengandalkan kekuatan Tuhan saja. Sebelum melakukan ritus eksorsisme, imam itu sendiri haruslah mengaku dosa di Sakramen Tobat, atau setidak-tidaknya mengucapkan doa “act of contrition” dan sedapat mungkin mempersembahkan Misa, dan memohon pertolongan Tuhan dengan doa-doa yang khusuk.
Selanjutnya doa ritus eksorsisme yang hanya dapat diucapkan oleh imam dengan kuasa Gereja, yang ditujukan pada orang yang positif dinyatakan kerasukan setan, dapat dilihat di link ini, silakan klik, atau ritus khusus yang memang masih dalam bahasa Latin, De exocismus et supplicationibus quibusdam, yang disetujui oleh Paus Yohanes Paulus II tahun 1998. Gereja memang menyarankan agar kita berhati-hati untuk menyatakan bahwa seseorang benar-benar kerasukan, sebab di banyak kasus, orang yang kelihatan ‘terganggu’ bukan disebabkan oleh kerasukan setan tetapi oleh hal-hal lain, seperti gangguan kejiwaan, penyakit, atau tekanan emosional, dst. Untuk ini memang diperlukan ‘discerment’ dari pihak mereka yang melayani di lapangan.

Maksud Gereja membatasi pelaku eksorsisme besar tersebut juga adalah untuk kepentingan umat agar kuasa jahat tersebut tidak malah ‘memasuki’/ mengganggu orang yang mengusirnya. Kita ketahui bahwa Yesus sendiri juga tidak dengan sembarangan mengirim semua orang untuk mengusir setan (yang diberi kuasa adalah para murid-Nya); inipun harus dipersiapkan secara khusus, sebab dapat saja kasusnya cukup berat, yang hanya dapat diatasi dengan doa puasa.

Dalam kehidupan sehari-hari, dapat saja kita mengetahui adanya tempat-tempat, benda-benda atau orang-orang tertentu yang terkena pengaruh kuasa jahat dalam batas-batas yang dizinkan Tuhan. Untuk mengatasi hal ini maka para beriman dapat berdoa kepada Tuhan agar Ia sendiri berbelas kasihan kepada kita dan mengusir pengaruh jahat tersebut, atau jika memang kasusnya berat, silakan menghubungi pihak keuskupan untuk memohon bantuan dari imam yang khusus ditugaskan untuk itu.

Jadi pada prinsipnya, dalam doa mengusir kuasa jahat ini, yang boleh kita lakukan sebagai umat Katolik bukan dalam artian berkomunikasi/ menghardik iblis secara langsung, namun berupa doa permohonan kepada Tuhan dan doa syafaat dari para Orang Kudus dan para malaikat Tuhan untuk membantu kita mengusir setan, dan memohon kepada Yesus untuk mengusir kuasa jahat itu bagi kita. (Sedangkan untuk benda lebih baik dibakar/ dimusnahkan saja, sebagai tanda tiadanya keterikatan lagi dengan benda itu). Prinsip-prinsip ini diberikan, justru untuk kepentingan kita sendiri, berdasarkan akan iman dan kuasa Yesus yang masih tetap nyata bekerja pada saat ini, juga di dalam Para Kudus-Nya. Mereka (para kudus) di surga adalah mereka yang sudah jelas berhasil mengalahkan kuasa setan dalam hidup mereka, sedangkan kita di dunia ini masih dalam proses perjuangan mengalahkan kuasa jahat, karena kita masih bisa jatuh di dalam dosa. Maka memohon doa kepada Yesus untuk mengusir kuasa jahat, dan memohon agar para kudus mendoakan kita adalah bentuk kerendahan hati, suatu sifat yang paling tidak disukai oleh Iblis. Dengan kerendahan hati kita menolak dosa utama Iblis, yaitu kesombongan. Dengan berlindung kepada Yesus dan persekutuan para Orang Kudus-Nya, kita memperoleh bantuan dari seluruh bala tentara surgawi untuk menolak kuasa jahat apapun dalam hidup ini.

Maka, tak mengherankan, salah satu doa yang paling berkuasa untuk mengusir kuasa roh jahat adalah doa Rosario, karena Bunda Maria yang telah berhasil mengalahkan kuasa jahat dengan kekudusan, kerendahan hati dan ketaatannya kepada Tuhan sepanjang hidupnya. Jika diucapkan dengan disposisi hati yang benar, doa ini, beserta dengan doa litani para kudus, akan sangat besar kuasanya. Di samping doa, tentu yang sangat besar kuasanya untuk menolak kuasa jahat adalah sakramen Tobat dan Ekaristi.


CATATAN KAKI:
  1. Commentary on Matthew xviii, lib.II []

Beberapa artikel di kategori yang sama:

74 Komentar to Tentang Malaikat Pelindung dan Eksorsisme

  1. saya ada 1 pertanyaan, bagaimana kita boleh mengenal malaikat pelindung kita?

    [dari katolisitas: Silakan melihat jawaban di atas - silakan klik]

  2. Saya ingin bertanya,

    Apakah eksorsisme (pengusiran setan) boleh dilakukan oleh orang ” awam katolik ” atau hanya imam saja yang telah gelarkan imam eksorsisme? Mengingat saya pernah membaca kesaksian bahwa banyak orang awam karismatik maupun non-karismatik pernah dpt melakukan eksorsisme atau mempunyai karunia pengusiran setan dan pada sejarahnya dulu kalau tdk salah ada kumpulan orang awam yang khusus untuk melakukan eksorsisme..

    Salam damai Kristus Tuhan.. Terimakasih..

    [dari Katolisitas: Harap dibedakan antara 'doa pelepasan' dan 'eksorsisme'. Yang dapat dilakukan oleh awam adalah doa pelepasan, sedangkan eksorsisme hanya dapat dilakukan oleh bapa uskup atau oleh imam yang diberi kuasa oleh uskup. Silakan membaca jawaban Romo Santo, di sini, silakan klik, sedangkan untuk pengertian eksorsisme sendiri, silakan membaca di artikel di atas, silakan klik]

  3. Salam Damai,

    Saya ingin bertanya :

    1. Apakah bahasa roh itu penting dalam kegiatan gerejani karena beberapa gereja tertentu menggunakan bahasa roh dan bahkan bahasa roh itu wajib dipakai setiap kali ibadah karena mereka mengganggap bahwa setiap orang berhak untuk mengetahui seperti yang dilakukan oleh para rasul tetapi dalam gereja Katolik tidak terlalu diprioritaskan, mengapa demikian! Apabila seseorang bisa berbicara bahasa roh, apakah ada hal – hal yang mempengaruhi dalam kehidupannya?

    2. Apabila sepasang kekasih yang akan menikah tetapi yang wanitanya dari gereja Katolik Roma dan prianya dari gereja Katolik ortodox, apa yang harus dilakukan oleh pihak yang akan menikah dan bagaimana dengan keimana anak kelak?

    3. Sejak kapan gereja Katolik baik roma maupun orthodox mulai menggunakan patung sebagai sarana suci dalam kegiatan ibadah dan apa alasannya? Dan bagaimana dengan pihak yang lain yang menganggap bahwa itu adalah penyembahan berhala padahal patung yang dibuat itu kan Bunda Maria, Tuhan Yesus dan patung – patung yang dianggap kudus dan bagaimana pihak gereja menanggapinya.

    trims

    • Shalom Engelbertus,

      1. Tentang Bahasa Roh

      Kitab Suci mengajarkan bahwa bahasa Roh adalah salah satu karunia karismatik Roh Kudus, yang diberikan kepada Gereja untuk membangun Gereja. Oleh karena itu, karunia ini baik (karena dari Roh Kudus) namun bukan segala- galanya bagi umat beriman, sebab karunia bahasa roh itu tidak dapat digunakan terlepas dari karunia yang lebih tinggi yaitu kasih (1Kor 13). Tanpa kasih, segala macam pengetahuan ataupun bahasa roh, tidak ada gunanya, sebab tidak menunjukkan buah- buahnya yang membuktikan bahwa semua itu berasal dari pohon yang benar (lih. Mat 7:16,20).

      Perlu juga diketahui bahwa yang namanya karunia itu adalah pemberian (dalam hal ini pemberian Tuhan), dan karena itu, bukan menjadi “hak” setiap orang seolah kalau tidak diberikan berarti yang salah adalah Tuhan yang tidak memberi. Pola pikir semacam ini tidak benar. Tuhan memberikan karunianya sesuai dengan kebijaksanaan Tuhan, kepada kita menurut kesanggupan kita (Mat 25:15), dan karena itu kita perlu menghargai keputusan Tuhan. Ada banyak orang yang tidak dapat berbahasa roh yang hidupnya jauh lebih kudus daripada orang yang dapat berbahasa roh.

      Tentang Bahasa Roh, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik; dan tentang Apakah Gerakan Karismatik Katolik Sesat?, klik di sini.  Silakan Anda membaca terlebih dahulu di sana.

      2. Tentang perkawinan umat Katolik dengan Katolik orthodox

      Pertama- tama perlu dipastikan terlebih dahulu, apakah salah satu pihak yang ingin menikah tersebut dari Gereja  Timur Katolik atau gereja Orthodox. Sebab sepengetahuan saya istilah yang benar yang dipakai adalah, kalau itu Gereja Katolik ritus Timur, disebutnya sebagai Gereja Timur Katolik (Eastern Catholic Church yang bersatu penuh dengan Gereja Katolik Roma/ ritus Latin), sedangkan istilah Orthodox adalah Gereja Timur yang tidak dalam kesatuan penuh dengan Gereja Katolik. Untuk daftar 22 Gereja Timur yang berada dalam kesatuan dengan Gereja Katolik Roma, silakan klik di sini.

      Jika perkawinan antara anggota Gereja Katolik ritus Roma/ Latin dan anggota Gereja Katolik- ritus Timur, maka tidak ada halangan. Demikian, jawaban dari Romo Wanta:

      Perkawinan seiman Katolik ritus berbeda tidak menjadi halangan. Maka perkawinan tetap bisa sah kanonik sedangkan anak diserahkan kepada kesepakatan orang tua mereka dalam mendidik anak. Katolik ritus Roma atau ortodoks ritus Ttimur keduanya tetap Katolik jadi tidak ada masalah. Dalam menentukan jumlah dan pendidikan iman anak, diserahkan kepada orang tua.

      Namun jika salah satu dari pasangan tersebut adalah anggota gereja Orthodox yang tidak dalam kesatuan penuh dengan Gereja Katolik, maka pihak yang Katolik perlu meminta ijin dari pihak ordinaris (Keuskupan), jika untuk satu dan lain hal perkawinan tidak dapat dilakukan di Gereja Katolik.

      3. Sejak kapan gereja Katolik Roma dan orthodox menggunakan patung/ gambar?

      Sudah sejak abad-abad awal Gereja menggunakan gambar (icon) untuk menggambarkan simbol ataupun gambar Tuhan Yesus. Hal ini dapat kita lihat misalnya di gereja- gereja bawah tanah (katakomba). Namun lukisan/ ikon Yesus mulai dikenal di sekitar tahun 250-an, dan sejak itu mulai dipergunakan dalam gedung gereja. Keberadaan ikon/ gambar ini sangat membantu untuk katekese umat, dan Gereja mengizinkannya, karena sampai tahun 1600 kebanyakan orang di dunia masih buta huruf/ belum dapat membaca dan menulis. Dengan demikian keberadaan ikon/ gambar/ patung dapat membantu untuk menjelaskan kepada umat tentang misteri iman Kristiani. Lagipula dengan adanya Inkarnasi/ penjelmaan Kristus yang adalah gambaran Allah yang tidak kelihatan (lih. Kol 1:15) menjadi manusia yang kelihatan, maka peraturan, “Jangan membuat bagimu patung/ gambaran yang menyerupai apapun” (lih. Kel 20: 4) telah diperbaharui sendiri oleh Allah dengan mengutus Kristus yang menjadi gambaran akan diri-Nya sendiri. Dan dengan demikian, manusia telah memperoleh gambaran Allah, dan gambar inilah yang dituangkan dalam bentuk karya seni (art), entah berupa icon/ lukisan ataupun patung, yang gunanya adalah untuk menggambarkan Kristus yang adalah Allah. Penggambaran ini juga kemudian diikuti juga dengan para kudus-Nya, terutama Bunda Maria dan para rasul-Nya, karena mereka merupakan pribadi- pribadi istimewa tidak terpisahkan dari Kristus. St. Lukas Pengarang Injil (abad-1) dikenal telah menggambarkan lukisan Bunda Maria yang menggendong Yesus, dan ini dikenal dengan lukisan Mary, Mother of Perpetual help/ Maria Bunda Penolong Abadi. Gambar/ ikon tentang Rasul Petrus dan Paulus ditemukan di gereja- gereja di Roma di abad- abad awal.

      Dengan diadakannya kebebasan beragama di Kerajaan Roma melalui Edict Milan 313, maka sejak saat itu Gereja mulai diakui keberadaannya. Setelah Kaisar Konstantin menjadi Kristen di awal abad ke-4, Gereja memang semakin berkembang, dan hal ini terlihat juga dalam perkembangan seni lukis dan patung yang menggambarkan misteri kasih Tuhan yang puncaknya dicapai melalui Inkarnasi (penjelamaan Kristus ke dunia), dan misteri penderitaan, wafat, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke Surga. Adapun penggunaan lukisan/ patung ini tidak pernah bermaksud sebagai obyek penyembahan, namun hanya sebagai alat bantu saja untuk mengarahkan hati umat kepada realitas surgawi yang digambarkannya.

      Silakan membaca terlebih lanjut di sini:

      Apakah umat Katolik yang berdoa di depan patung menyembah berhala?
      Orang Katolik tidak menyembah patung
      Apakah itu berhala?

      Jawaban kepada Sherly tentang berhala, silakan klik
      Jawaban kepada Indah tentang berhala, silakan klik

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisiats.org

  4. Salam Katolisitas

    Saya mau bertanya m’enai eksorsisme
    1.Apakah Vatikan mempunyai suatu organisasi yg mmg menangani mslh yg menyangkut ttg eksorsisme?? Kalau ada, sejak kapan mulai didirikan nya?
    2.Bbrp wktu lalu saya melihat sebuah film ttg iblis dan para ksatria salib yg mendapat tgs melawannya, dlm film tsb dikatakan bahwa dlm ritus eksorsisme kuno mereka m’gunakan doa dan ayat” dr kitab Kebijaksanaan Salomo, apakah hal itu mmg bnar??
    3.Mgkn pertanyaan saya sedikit tidak masuk akal, maaf, bagaimana Gereja menanggapi makhluk” gaib spt dracula, vampire, dll, kenapa pd abad ptghan di Eropa sempat gempar dng kasus” m’enai dracula, witch (tukang sihir dll) apakah hal tsb mmg benar adanya??

    Dan sy mau m’beri kesaksian dan menanyakan nya hal tsb mohon bimbingan dan penerangannya:
    “Beberapa hari lalu sy dan bbrp tmn berdiskusi m’enai kuasa roh jahat dan bagaimana melawannya, ada bbrp tmn saya yg Katolik namun mereka blm krisma dan bisa diblg kehidupan iman mereka kurang berkembang (hanya ke gereja pd hr minggu dan hr raya saja) maka sy menjelaskan pentingnya pertumbuhan iman yg naik (dng acuan pd KS dan konpendium katekimus Katolik, dan tidak lupa bimbingan Tuhan) sehingga sedikit bnyk mulai menyadarkan bbrp tmn, dan ada seorang tmn non Katolik, namun dia tertarik untuk masuk ke dalam gereja Katolik, dan sy dng rendah hati m’beri dorongan agar dia segera m’ikuti katekumen dan stlh itu dibaptis, si tmn saya yg non Katolik ini penakut thdp hal” mistis, saya coba meyakinkan pdnya bahwa iblis bisa dikalahkan dng keyakinan dan iman yg kuat kpd Yesus Kristus, Penyelamat kita. Singkat cerita stlh memberi dorongan kepada tmn’ untuk menerima Krisma dan Baptis bagi tmn yg non Katolik, pagi itu sy akan mandi dan mulai aktivitas, di rmh sy sendirian, mama dan papa sy keluar rumah, sehingga rumah sepi…pada saat saya akan mandi alangkah terkejutnya saya mendengar suara seperti org yg sedang m’gertak, “Hehhh!!” Semula sy kira ada tmn atau sodara yg masuk, namun stlh saya panggil tidak ada yg menjawab, kemudian dlm hati saya seperti ada yg berkata “kenapa kamu lakukan semua itu, kamu itu kurang ajar, tidakkah kamu lihat kamu itu masih banyak dosa, apa kamu mau sok suci?”

    Percaya atau tidak sy mencoba untuk ttp sadar dan berdoa, dalam hati sembari tersenyum sy berkata :”kamu takut ya klo smua org mau ikut Yesus, mmg aku org berdosa dan bnyk dosa namun aku mau bertobat dan ikut jalan Tuhan Yesus—kata’ ini sy ingat ketika saya baca kesaksian romo Dwi Harsanto.
    Kemudian suara’ itu hilang dng sendirinya setelah saya sempat berdoa Bapa Kami bbrp kali

    Pernah suatu saat sy berdoa rosario sendiri di malam hari, ketika sampai tengah’ (peristiwa ke 3) mendadak suara saya hampir habiz dan tenggorokan terasa sakit dan gatel skali, namun saya dlm hati mohon pd Tuhan agar m’uatkan sy supaya dpt mnyelesaikan rosario tsb, dan puji Tuhan akhirnya sy mampu menyelesaikannya..

    Pertanyaan sy
    “Apakah suara yg saya dgr itu betul’ suara iblis yg tidak suka pd saya karena sudah memberikan dukungan dan dorongan kpd tmn’ sy untuk semakin beriman pd Tuhan Yesus??

    Trima kasi,
    Berkah Dalem

    • Yohanes Dwi Harsanto Pr November 24, 2011 at 6:45 am

      Salam Michael,

      1. Ada. Vatikan sendiri mengadakan kursus eksorsisme di Athenaeum Pontificium Regina Apostolorum, Roma. Pelayanan eksorsisme sendiri ada sejak awal mula Gereja.
      2. Bisa saja hal itu terjadi. Namun doa-doa Gereja untuk pengusiran setan memang menggunakan data dan kata-kata Alkitab serta Tradisi.
      3. Sejak awal, Gereja mencanangkan pertempuran rohani melawan roh kegelapan atau setan. Inti pokok tujuan setan ialah agar kita jauh atau beralih perhatian dari Kristus. Entah dengan cara kasar: penampakan drakula, pocong dll, maupun menggoda dan mempengaruhi orang agar berpaling dari Kristus dan ajaran serta tradisi Gereja-Nya.

      Salam
      Yohanes Dwi Harsanto Pr

  5. Salam sejahtera..

    Saya mau menanyakan ttg doa kepada St. Michael, St. Gabriel & St. Rafael yg menggunakan kaplet/ rosari..
    a. Saat kapan saya bisa daraskan doa tsb, adakah waktu2 tertentu?
    b. Apakah cara yg tepat cukup dengan membaca pada lembaran panduan doa yg tersedia?
    c. Adakah fungsi khusus untuk masing2 Malaikat tersebut?

    Untuk jawabannya saya ucapkan terima kasih.

    • Caecilia Triastuti October 3, 2011 at 9:16 pm

      Shalom Wisnu,

      1. Menurut hemat kami, tidak ada waktu-waktu khusus untuk mendaraskan doa kepada para Malaikat Agung Gabriel, Michael, dan Rafael. Anda dapat mendoakannya kapan saja, atau misalnya bersamaan dengan pengucapan Doa Angelus (Malaikat Tuhan), yang biasanya didoakan jam 6 pagi, 12 siang, atau 6 sore

      2. Ya, cukup dengan membaca panduan doa, atau bila sudah sering didoakan, kita bisa mendoakannya tanpa teks panduan karena sudah hafal. Yang terpenting, seperti juga prinsip doa lainnya, doa itu keluar dari hati yang tulus dan penuh iman.

      3. Anda bisa membaca selengkapnya di situs Yesaya, silahkan klik, mengenai ujud doa yang bisa kita mohonkan secara khusus kepada masing-masing Malaikat Agung tersebut. Di situ dijelaskan bahwa kita dapat mohon bantuan St. Mikhael untuk menjadikan kita teguh dalam kasih kepada Yesus dan dalam mempraktekkan iman Katolik kita. Kita dapat mohon bantuan St. Gabriel untuk menjadikan kita pembawa warta, seorang utusan Tuhan seperti dirinya. Kita dapat mohon bantuan St Rafael untuk melindungi kita dalam perjalanan, bahkan dalam perjalanan yang amat dekat sekali pun, seperti misalnya pergi ke sekolah. Kita juga dapat mohon pertolongannya ketika kita atau seseorang yang kita kasihi diserang penyakit.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,

      Triastuti – katolisitas.org

       

  6. Shalom
    Tentang Eksorsisme nih, saya mengutip sedikit “hanya dapat dilakukan oleh seorang imam dan hanya dengan persetujuan Uskup”.
    Apakah memang harus seperti itu? Apakah tidak bisa meminta bantuan imam yang ada di paroki? Bagaimana jika TKP nya sangat jauh dari keuskupan atau imam yang dimaksud sedang bertugas di luar wilayah keuskupan?

    Salam
    Bambang

    • Yohanes Dwi Harsanto Pr September 30, 2011 at 2:46 pm

      Salam Bambang,

      Rumusan Hukum Kanon memang menyatakan begitu. Hendaknya kita tidak menyamakan eksorsisme dengan pelepasan. Pelepasan bisa dilakukan awam Katolik dan imam siapapun. Sedangkan eksorsisme hanya dilakukan dalam kasus berat oleh imam eksorsis dan tim yang terdiri dari tenaga medis, psikiater dan para pendoa, dan dilaksanakan sesuai buku tata upacara eksorsisme. Sangat jarang kasus yang harus ditangani imam eksorsis dan tim-nya. Kasus-kasus yang terjadi entah di kota entah di pedalaman, biasanya selesai dengan doa pelepasan atau pemberkatan saja. Jika kasusnya berlarut-larut, barulah dilakukan eksorsisme. Dalam kasus yang berlarut-larut, atas kondisi pastoral, uskup bisa mengangkat imam eksorsis yang ada di paroki setempat. Di sini diperlukan komunikasi yang efektif antara pastor atau awam yang menangani hal ini dengan uskup setempat. Dengan komunikasi yang baik, selalu ada pemecahan pastoral untuk keperluan ini.

      Salam
      Yohanes Dwi Harsanto, Pr

      • Salam,
        Tapi bukankah itu memerlukan waktu yang tidak sebentar? Bagaimana jika katakanlah korban sudah dalam kondisi terburuk sementara baru saat itulah diketahui bahwa si korban sedang kerasukan. Apakah ada solusi yang lebih ringkas tanpa perlu menghubungi keuskupan?

        Salam
        Bambang

        • Yohanes Dwi Harsanto Pr September 30, 2011 at 6:01 pm

          Salam Bambang,

          Solusinya ialah, orang(-orang) Katolik terdekat melakukan doa pelepasan. Pakailah doa melawan kuasa kegelapan yang ada di web ini, silahkan klik, juga doa-doa standard, benda-benda suci dan air berkat (jika ada). Menurut kesaksian, awam-awam Katolik mampu melakukannya dengan baik. Jika dirasa masih membandel, silahkan menghubungi imam terdekat sambil terus mendoakannya. Sering kali sebelum imam itu datang, yang bersangkutan sudah sembuh. Jika belum sembuh, imam bisa melakukan doa berkat, memberkati air, garam, dan menggunakannya untuk melepaskan si korban dari kuasa jahat. Biasanya berhasil.

          Jika masih diserang, lakukan hal yang sama. Jika terus diserang sampai berhari-hari atau berminggu-minggu, tetap mendoakannya dan berarti memerlukan eksorsis. Seburuk-buruk kesurupan, tak akan pernah membunuh korban. Tak pernah “keadaan buruk” itu sampai begitu buruknya sehingga korban meninggal. Setan tak sekuat yang kita sangka (cfr. tulisan St. Theresia Avila). Jika imam setempat menilai perlu eksorsisme, sangat mungkin dilakukan komunikasi dengan uskup. Yang disebut komunikasi jangan dibayangkan dengan surat menyurat. Di zaman kini, dengan pesawat telpon genggam dan pesan internet serba mungkin. Dengan perintah per telepon, bisa saja imam itu ditunjuk menjadi eksorsis ad hoc.

          Imam sendiri memiliki penilaian, manakah tindakan yang paling tepat yang bisa dilakukan.

          Salam,
          Yohanes Dwi Harsanto, Pr

          • Terima kasih atas pencerahannya Romo. Wawasan akan iman saya semakin cerah…
            GOD Bless you always..
            :-)
            Salam,
            Bambang Siahaan

  7. Salam

    apakah malaikat pelindung memiliki nama seperti santo/santa pelindung? Kalau iya bagaimana cara saya mengetahuinya? Saya juga ingin mengetahui santo/santa pelindung saya, bagaimana caranya? Apakah dengan nama baptis saya? Nama baptis saya Maria Elisabeth, apakah ada santa Maria Elisabeth (nama ini ayah saya yang pilih)? Kalau semisal ada dan banyak (semisal dari Avilla, Antiokhia dll) bagaimana cara tahu yang mana pelindung saya? Santo Padre Pio pernah marah kepada malaikat pelindungnya karena sengaja melambat saat dimintai bantuan saat St.Padre Pio dicobai iblis, kemudian malaikat pelindungnya menangis, apa benar malaikat pelindung juga bisa tidak taat seperti malaikat pelindung St.Padre Pio? Malaikat pelindung (katanya) selalu bersama kita, apakah jika saya melakukan dosa, malaikat pelindung juga bersama saya dan menyaksikan dosa yang saya lakukan? Terima kasih

    • Yohanes Dwi Harsanto Pr September 20, 2011 at 11:56 am

      Salam Maria,

      1. Malaikat pelindung tidak bernama.
      2. Kita bisa mengetahui sejarah hidup Santo-Santa pelindung kita dengan membaca buku mengenai orang-orang kudus. Misalnya, “Orang Kudus Sepenjang Tahun”, yang disusun oleh Mgr Schneiders CICM, terbitan OBOR, Jakarta. Mengenai nama pelindung Anda yang dipilihkan oleh ayah, akan lebih
      pas jika ada informasi dari ayah. Namun jika tidak ada informasi dari ayah, maka Anda tentukan sendiri.
      Kemungkinan pelindung Anda ialah St. Perawan Maria bunda Kristus dan St. Elizabeth bunda St Yohanes Pembaptis, karena tidak ada tambahan nama lain di belakang nama baptis Anda tersebut.
      3. Pengalaman St Padre Pio adalah pengalamannya pribadi (perwahyuan pribadi) yang menyatakan kekudusan beliau. Namun tak ada bukti bahwa malaikat pelindung beliau tidak taat.
      4. Ya, malaikat pelindung mengetahui semua yang kita lakukan.

      Salam
      Yohanes Dwi Harsanto, Pr

      • Salam

        terima kasih Romo atas dijawabnya pertanyaan saya. Ayah saya sudah meninggal sewaktu saya masih kecil jadi saya tidak bisa bertanya kepada beliau, tapi menurut Ibu saya Ayah saya mengambil nama baptis saya dari kisah Injil sewaktu Bunda Maria bertemu Elisabeth. Tentang malaikat pelindung jadi menyadarkan saya kalau ternyata saya tidak sendirian selama ini, bahkan saat saya melakukan dosa tersembunyi sekalipun dan membuat saya tambah bersyukur dan bangga jadi seorang Katolik karena di iman Katolik kaya sekali termasuk pengetahuan tentang malaikat pelindung. Mau tanya lagi Romo, bagaimana dengan orang yang penuh kejahatan seperti Hitler, Stallin, Kain atau pembunuh massal lainnya? Kalau punya malaikat pelindung, tidak bisa membayangkan, pasti ngeri menyaksikan kejahatan2 mereka. Lagipula koq masih bisa melindungi orang2 berhati kejam seperti mereka?
        Terima kasih

        • Yohanes Dwi Harsanto Pr September 20, 2011 at 9:43 pm

          Salam, Maria

          Dalam Yesus kita tahu bahwa Allah kita penuh kasih kerahiman. Ia tetap menghendaki setiap orang diselamatkan betapapun jahatnya orang-orang itu. Namun, tawaran keselamatan Allah itu tetap memerlukan tanggapan dari manusia. Manusia sendiri memiliki kebebasan untuk menerima atau menolak tawaran keselamatan Allah melalui Kristus dalam Roh Kudus yang penuh kasih itu. Yang menerima berarti bertobat dan kembali menerima kasih Allah. Dalam kasus para penjahat kemanusiaan yang besar yang meninggal sebelum bertobat, kita tidak tahu bagaimana mereka masing-masing bergulat untuk menerima kasih Allah pada detik-detik terakhir sebelum meninggal, dan bagaimana pergolakan jiwanya setelah meninggal. Semua hanya bisa kita serahkan pada kerahiman Allah. Namun jika pun telah definitif menolak Allah, tentunya mereka akan jauh dari kerahiman Allah.

          Salam
          Yohanes Dwi Harsanto Pr

  8. Shalom, Bu Ingrid,

    Saya agak bingung…waktu saya membaca kisah St. Padre Pio, dia begitu akrab dengan malaikat pelindungnya, dan dia mengatakan bahwa kita sudah diberi malaikat pelindung oleh Allah, pergunakanlah…Beberapa kejadian dalam hidup padre Pio dan orang-orang yang minta bantuannya juga terjadi atas perantaraan malaikat pelindung. Salahkah kita meminta bantuannya untuk hal kecil seperti melindungi perjalanan kita atau memintanya untuk pergi menggantikan kita saat tidak bisa mengikuti Misa Harian (yang ini ada doanya)…

    Terima Kasih…

    Shalom,

    Monica

    • Shalom Monica,
      Doa Malaikat Pelindung, sudah dilampirkan di atas.
      Pada prinsipnya, seperti di dalam Kitab Suci disebutkan bahwa setiap kita mempunyai malaikat pelindung yang diutus Tuhan untuk mendampingi dan menjaga kita dari saat kita lahir sampai wafat (lih. Mat 18:10; Luk 16:22), untuk membawa kita untuk lebih dekat kepada Tuhan. Maka tugas mereka memang melindungi kita. Jika kepada sesama manusia saja yang menjaga kita dan melindungi kita, kita akan berterima kasih; demikian pula layaklah kita berterima kasih kepada malaikat pelindung kita yang senantiasa melindungi kita; dan kepada Allah yang memberikan malaikat pelindung itu kepada kita. Inilah sesungguhnya mengapa sampai ada doa Malaikat Pelindung.
      Maka, jika kita mohon agar malaikat itu melindungi kita dalam perjalanan, itu tentu sesuai dengan kehendak Tuhan, boleh saja, ini prinsipnya sama dengan doa Malaikat Tuhan itu. Ada beberapa kesaksian yang pernah saya baca bahwa ada gunanya memohon bantuan malaikat pelindung untuk membantu kita mengarahkan pikiran dan hati kepada Tuhan pada saat berdoa, agar pikiran tidak melayang kemana- mana. Beberapa orang mengatakan hal ini sungguh membantu. Namun soal memohon agar malaikat pelindung kita menggantikan kita mengikuti Misa Kudus, terus terang saya belum pernah mendengarnya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  9. Xaverius Freydy August 11, 2011 at 2:01 pm

    Apakah KKR yang di adakan oleh jemaat non Katolik dalam mengusir setan itu sama dengan eksorsisme?? Jika beda, mohon dijelaskan perbedaannya baik dalam pelaksanaan itu sendiri maupun pengajarannya??

    Hmm, saya ingin share, Doa Rosario pun bisa digunakan untuk kita dalam keadaan menghadapi kuasa kegelapan /pun ada yang kesurupan.

    Setahun yang lalu, saat saya baru kelas 1 SMA, di sekolah saya terjadi kesurupan massal. Mayoritas siswa adalah muslim dan sekitar 40 siswa mengalami kesurupan secara satu per satu.

    (Maaf sebelumnya, saya memang agak takut, namun sejujurnya sejak saya mulai rajin belajar Katolik berapa tahun lalu sampai saya sudah baptis seperti sekarang, saya juga merasa aneh dalam diri saya, kenapa tiap melihat orang kesurupan dan teriak2, rasanya saya kesal karena teriakan mereka sangat berisik.)

    Saya selalu membawa rosario di saku kemeja saya setiap ke sekolah, jadi saat itu terjadi, saya menggenggam rosario itu dan jujur saya semakin berani. Bahkan saya ingin melempar rosario tadi ke siswi yang kesurupan, namun saya urungkan niat tersebut karena sudah ada guru2 yang melakukan semacam doa agama Islam untuk mengusir setan2 itu, namun sangat lama.

    Saat itu saya dan beberapa teman saya berkumpul di tengah lapangan. Saya ingat ada 2 teman saya cewek saya yang pucat dan menangis takut. Kebetulan dua-duanya dari Protestan. Sedangkan saya dan 2 teman Katolik saya hanya berdoa Salam Maria. Pada saat itu teman saya yang bernama Tery yang merupakan Umat Gereja Betel menangis dan sangat takut, jadi kami berinisiatif untuk mendoakan teman saya itu.

    Tery pun tidak masalah saat kami mulai mengelilinginya dan mendoakan Salam Maria berulang kali di sekelilingnya, setelah itu saya meminjamkan rosario saya padanya dan ia menggenggam rosario itu dengan sangat kuat dan lalu pulang. Sedangkan teman saya Protestan satunya lagi yang bernama Devi jujur saja sangat fanatik dan dia tetap tidak mau berdoa bersama2. Dan malangnya teman saya itu semakin takut dan menangis. Wajahnya sangaaat pucat. Ingin berdoa pada Yesus namun ia tak tahu harus berdoa yang bagaimana.

    Keesokan harinya, Tery mengembalikan rosario saya dan berkata: “makasih ya rosarionya, kalau tidak ada rosario ini, saya tidak tahu bagaimana jadinya saya..”. Sebuah kalimat yang SANGAT melekat di otak saya. Bahkan teman saya yang Protestan pun mengakui bagaimana kuasa doa Salam Maria dalam hal2 terdesak.

    Hal ini sangat berbanding terbalik dengan teman saya yang satu lagi, ia rajin ke gereja, namun saat terdesak pun ia tidak mampu untuk berdoa pada Yesus.
    MAAF sharing saya ini bukan buat memojokkan Protestan dan meninggikan Katolik semata.
    Tetapi sudah selayaknya kita sebagai umat Katolik jangan mau langsung termakan omongan umat Protestan tentang ajaran Maria, rosario, dsb, sebab saya sudah sering mendengar demikian.

    Saya sarankan di saat terdesak oleh keadaan dikuasai kuasa kegelapan, silahkan berdoa Rosario. Doa Rosario akan membuat kita aman jika kita mendoakannya dengan sungguh2 dan percaya. Saya sudah sering dihadapkan dengan hal demikian sejak berapa tahun terakhir dan hanya rosario pegangan saya saat saya mulai merasakan adanya hawa2 kegelapan.

    (kalau pembaca tidak percaya, silahkan dicoba dan rasakan bagaimana kuasa Doa Rosario ini bekerja dan bagaimana para roh jahat beraksi terhadap doa anda dan rosario yang anda pegang!!!.. hehe) Saya yakin jika berdoa dengan khusuk, pembaca akan merasakannya.

    Sekian. Maaf banyak salah kata. Trims situs ini bisa menerima sharing saya. Sampai sekarang saya memang belum menemukan adanya ajarang tentang mengusir setan pakai Doa Rosario, tetapi saya tidak masalah karena bukti pengalaman2 rohani saya sudah cukup membuktikannya.

    Semoga suatu hari nanti tim Katolisitas mau menampilkan kiriman sharing saya tentang pengalaman iman Katolik saya menghadapi kuasa kegelapan.. sekali lagi terimakasih.. ^_^

    • Shalom Xaverius Freydy,

      Demikian jawaban dari Romo Santo: Eksorsisme hanya dilakukan untuk kasus berat, yang tidak cukup hanya dengan mengatakan dalam nama Yesus, lalu setannya lari. Pada banyak kasus, pengucapan nama Yesus malah dijawab oleh setan dengan tawa dan ringkikan, serta kata-kata pelecehan. Pada kasus ringan, Anda pun bisa mengatakan dalam nama Yesus dengan sepenuh iman lalu setannya pergi. Kasus ringan hanya perlu pelepasan, Anda pun bisa dengan syarat tertentu. Sedangkan eksorsisme pasti hanya untuk kasus berat.

      Selanjutnya silakan membaca jawaban Romo Santo, di sini, silakan klik
      Sedangkan untuk doa melawan kekuatan kegelapan, klik di sini

      Hal pengusiran setan melalui doa rosario itu banyak ditulis dalam pengalaman para orang kudus (Santa/ Santo). Maka pengalaman anda bukanlah hal yang baru, sebab para kudus sudah banyak yang mengalami hal tersebut, dan karena itu saya juga menuliskannya di artikel di atas. Namun terima kasih atas sharing anda, sebab semakin menguatkan kesaksian para orang kudus akan kuasa doa rosario, karena Bunda Maria yang adalah Bunda Allah dan Bunda kita turut mendoakan kita kepada Yesus.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • Stefanus Freydy Hian August 15, 2011 at 7:17 am

        Maaf ibu saya sudah coba cari, namun saya belum menemukan cerita dan riwayat hidup santo/a itu.. boleh minta referensi?? Trims

        • Shalom Stefanus,

          Contohnya adalah St. Padre Pio, yang semasa hidupnya kerap mengalami serangan dari si Jahat yang bahkan sampai mendera tubuhnya. St. Padre Pio dapat menghadapi semua itu dengan sabar karena imannya yang teguh kepada Tuhan Yesus, Bunda Maria, Malaikat pelindungnya, St. Yusuf dan St. Fransiskus. Padre Pio adalah seorang yang taat berdoa rosario setiap hari, sesuai dengan kebiasaan yang dilakukan oleh para biarawan Capuchin. Dalam Surat Apostoliknya Paus Yohanes Paulus II yang Terberkati, Rosarium Virginis Mariae, Paus menyebutkan secara khusus tentang St. Padre Pio yang disebutnya sebagai satu dari banyak Santo yang mengajarkan bahwa Rosario merupakan jalan yang asli (genuine) untuk bertumbuh di dalam kekudusan (lih. Paus Yohanes Paulus II, Apostolic Letter,  Rosarium Virginis Mariae, 8), klik di sini.

          Contoh lain adalah St. Yohanes Vianney, Santo pelindung para imam; atau beberapa Santa/o lainnya yang pernah melihat Iblis, seperti St. Theresa Avila, St. Faustina Kowalska, St. Joseph dari Copertino, St. Dominic. Informasi sekilas, silakan klik di sini. Jika anda membaca di riwayat hidup mereka, semua para orang kudus itu adalah orang- orang yang setia mendoakan doa Rosario dan mempunyai devosi kepada Bunda Maria. Namun harap dicatat pula bahwa devosi mereka kepada Bunda Maria ini tidak terlepas dari devosi mereka kepada Tuhan Yesus; mereka setia mengikuti perayaan Ekaristi setiap hari, dan rutin menerima sakramen Tobat, melakukan mati raga dan mengarahkan hati sepenuhnya kepada Kristus.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          Ingrid Listiati- katolisitas.org

           

  10. Yohanes Dwi Harsanto Pr August 5, 2011 at 11:50 am

    Salam Eddy

    1. Malaikat Pelindung sebagaimana malaikat lainnya yang setia pada kehendak Allah, selalu menaati Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa, Putra dan Roh Kudus. Karena itu, tiada bedanya, bimbingan malaikat melalui suara hati mengalir dari satu sumber yaitu Allah Yang Mahatunggal.

    2. Roh dalam arti makhluk lain di luar manusia hanya ada dua yaitu malaikat dan setan yang dulunya malaikat namun memberontak. Bisa saja keberadaan setan tidak “mengganggu” secara fisik, namun setan ialah roh sangat jahat yang tetap menginginkan kebinasaan manusia dengan tipu muslihatnya. Kristus mengusir setan-setan bukan sebagai pertunjukan namun sebagai tanda datangnya Kerajaan Allah dengan diri-Nya. Sedangkan tayangan infotainment di TV-TV swasta kita yang membuat penangkapan setan (bukan pengusiran) sebagai hiburan, menurut kita, justru mereka terperangkap dalam jebakan si jahat. Karena mereka berfokus pada setan, dan bukan pada upaya nyata mengerjakan karya sosial dan pencerdasan masyarakat.

    3. Mimpi terkait dengan aktivitas otak yang erat dengan dinamika psikologis alam bawah sadar. Bunga tidur saja. Namun tidak mustahil bunga tidur itu memberikan petunjuk mengenai bagaimana memperbaiki sikap terhadap sisi tertentu dari diri sendiri dan bagaimana memperbaiki sikap terhadap sesama. Mimpi bisa menjadi petunjuk jika si orang yang bermimpi mau merefleksikan diri dan berkaca diri untuk memperbaiki diri atau bersikap tertentu. Tidak perlu berkonsultasi ke “penafsir mimpi”. Konsultasi saja dengan diri sendiri karena diri sendirilah yang tahu apa yang dialami dan bagaimana harus memperbaiki diri. Jangan lupa, doa dan refleksi dengan cahaya iman kita, akan membantu mengenali diri dengan lebih baik.

    Salam
    Y. Dwi Harsanto Pr

  11. Selamat malam Pak Stefanus dan Bu Ingrid saya mau bertanya :

    1) Bagaimana kita membedakan suara hati dengan jalan atas bimbingan Malaikat Pelindung?
    2) Saya tidak punya kelebihan apa2 namun apakah benar di luar Malaikat Pelindung kadang ada roh2 lain yg mengikuti kita? Jikalau benar, bagaimana kita menyingkapi ini? Dan bagaimana kita bisa membedakan antara roh2 itu dengan Malaikat Pelindung kita? Karena tidak semua roh itu pasti jahat..saya tidak dalam soal agama namun bagi saya semua yg ada di dunia ini ciptaan ALLAH n kita tidak berhak mengusir apapun selagi itu tidak mengganggu kita, sebab kadang pengusiran2 itu juga lebih menjurus untuk tontonan dan membuat kita menduakan ALLAH karena bisa saja kita merasa orang itu hebat, padahal roh2 itu semisal tidak mengganggu..kita bahkan tidak bisa membedakan mana roh jahat dan mana roh baik, atas dasar apa kita boleh memvonis bahwa yg ini baik dan yang itu jahat, terkecuali jika memang sudah ada alasannya dan dianggap mengganggu juga menjerumuskan kita ke jalan yang sesat, tapi itu pun belum pasti kerjaan roh jahat sebab saya rasa kita juga manusia yang penuh kekurangan yg tidak 100% dalam hidup selalu bisa menahan hawa nafsu dan lapar mata. Jadi intinya bagaimana kita membedakan, mana yang disebut suara hati yang berasal dari diri sendiri, mana yang disebut bimbingan dari Malaikat Pelindung kita dan mana yang disebut hasutan dari roh jahat?
    3) Ini berbelok sedikit dari pembahasan, saya tahu tidak semua mimpi itu adalah petunjuk, lalu bagaimana kita bisa membedakan mimpi yang benar sebuah petunjuk dan mimpi yang hanya bunga tidur? Terimakasih sebelumnya kepada Pak Stefanus dan Bu Ingrid juga teman2 semua, GOD BLESS U ALL.

    • Pak Stefanus dan bu Ingrid, mohon jawaban untuk pertanyaan pak Eddy di atas,
      karena saya sangat ingin mengetahuinya, terutama apakah benar di luar Malaikat Pelindung ada roh2 lain yang mengikuti kita?
      Terimakasih sebelumnya
      GBU

      [dari Katolisitas: Romo Santo telah memberikan jawaban atas pertanyaan Sdr Eddy di atas, dengan nomor komen 22, persis di atas pertanyaan Sdr Eddy, atau silahkan klik di sini]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CONNECT WITH US: