Mengapa Yesus memilih salib untuk menebus dosa manusia?

58

Pernahkan kita berfikir mengapa Yesus memilih penderitaan yang begitu berat sampai akhirnya mati di kayu salib untuk menyelamatkan manusia? Apakah tidak ada cara lain yang lebih mudah? St. Thomas Aquinas dalam Summa Theologica, Part III, q. 46. a 1 menjelaskan jawaban untuk pertanyaan "Apakah menjadi keharusan bagi Kristus untuk menderita [di salib]untuk menebus umat manusia?" Berikut ini adalah terjemahannya: (Silakan membaca selengkapnya dalam bahasa Inggris di link ini, silakan klik)

Keberatan 1: Kelihatannya tidak perlu bagi Kristus untuk menderita untuk menyelamatkan umat manusia. Sebab umat manusia tidak dapat dibebaskan kecuali oleh Allah.... dan tak ada satupun yang dapat mengharuskan Tuhan, sebab ini merupakan hal yang tidak sesuai dengan kemahakuasaan Tuhan. Maka kelihatannya tidak perlu Yesus menderita.

Keberatan 2: Apa yang merupakan keharusan adalah bertentangan dengan apa yang dilakukan tanpa paksaan. Kristus menderita karena kehendak-Nya sendiri, sebab tertulis, "Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya." (Yes 53:7). Yesus mempersembahkan diri-Nya atas kehendak sendiri. Maka kelihatannya tidak menjadi keharusan bagi Yesus untuk menderita disalib.

Keberatan 3: Selanjutnya, tertulis, "Segala jalan Tuhan adalah kasih setia dan kebenaran" (Mzm 25:10). Tapi kelihatannya tidak perlu bahwa Ia harus menderita, sebab di pihak-Nya sebagai Kerahiman Ilahi, Ia akan memberikan karunia-karunia dengan tanpa syarat, maka kelihatannya dapat diterima bahwa tidak perlu diadakan semacam "pembayaran hutang dosa", dan juga di pihak Keadilan Ilahi, di mana manusia memang layak menerima hukuman yang kekal. Maka kelihatannya tidak perlu Kristus menderita untuk membebaskan manusia dari dosa.

Keberatan 4: Selanjutnya, kodrat malaikat yang lebih sempurna dari manusia... Tetapi Kristus tidak menderita untuk memperbaiki kodrat malaikat yang berdosa. Maka, kelihatannya, demikian juga tidak perlu Kristus menderita di salib bagi manusia.

Sebaliknya, tertulis (Yoh 3:14-15): "Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal."

Saya menjawab bahwa ..... terdapat beberapa arti terhadap kata "keharusan". Di satu sisi itu berarti dimana kodratnya yang menentukan demikian; dan dalam hal ini maka nyata bahwa memang bukan keharusan, baik dari pihak Allah maupun dari pihak manusia bahwa Kristus harus menderita. Namun di sisi yang lain sesuatu dapat menjadi keharusan dari sesuatu sebab yang di luar dari dirinya; dan jika ini terjadi, ini adalah sebab yang efisien atau yang menggerakkan, sehingga dapat membawa semacam keharusan ..... Maka walaupun tidak menjadi keharusan bagi Kristus untuk menderita, jika dipandang dari keharusan yang memaksa, karena dari pihak Allah tidak ada yang memaksa-Nya, dan dari pihak Kristus, karena Dia menyerahkan diri-Nya dengan rela. Namun, dapat dikatakan bahwa penderitaan Kristus adalah suatu suatu keharusan, jika dilihat dari akhir/ tujuan maksudnya. Dan ini dilihat dalam tiga hal:

1. Dari sudut pandang kita yang dibebaskan oleh Sengsara-Nya sesuai dengan Yoh 3:14-15: "Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal."

2. Dari sisi Kristus, yang menerima kemuliaan-Nya melalui kerendahan Sengsara-Nya, dalam Luk 24:26: "Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?"

3. Dari sisi Tuhan Allah Bapa, yang telah menentukan terlaksananya nubuat dalam Perjanjian Lama, seperti tertulis dalam Luk 22:22, "Sebab Anak Manusia memang akan pergi seperti yang telah ditetapkan..."Ia berkata kepada mereka: "Inilah perkataan-Ku, ...., yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur. Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. Kata-Nya kepada mereka: "Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga." (Luk 24:44-46). (Silakan membaca lebih lanjut tentang Yesus yang telah dinubuatkan oleh para nabi, di sini, silakan klik)

Jawaban terhadap keberatan 1: Ini adalah argumen berdasarkan keharusan dari pihak Allah, dan seperti telah disebutkan di atas, tidak ada keharusan dalam hal ini.

Jawaban terhadap keberatan 2: Ini adalah argumen berdasarkan keharusan dari pihak Kristus sebagai manusia, dan seperti telah disebutkan di atas, tidak ada keharusan dalam hal ini.

Jawaban terhadap keberatan 3: Bahwa manusia harus dibebaskan oleh Sengsara Kristus adalah sesuai dengan kasih setia Tuhan dan keadilan-Nya. Dengan keadilan-Nya sebab dengan Sengsara Kristus maka Kristus menebus (membayar lunas) dosa-dosa umat manusia dan manusia dibebaskan oleh keadilan Tuhan: dan dengan belas kasih-Nya sebab karena manusia sendiri tidak dapat menebus dosa dari semua kodrat manusia, menurut Rom 3:24-25, "dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus. Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian karena iman, dalam darah-Nya." Dan belas kasih Tuhan akan semakin terlihat nyata daripada pengampunan dosa tanpa penebusan melalui kayu Salib. Oleh karena itu dikatakan, "Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita, telah menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus, sekalipun kita telah mati oleh kesalahan-kesalahan kita..." (Ef 2:4-5)

Jawaban untuk Keberatan 4: Dosa dari para malaikat adalah sesuatu yang tak dapat diobati, namun tidak demikian dengan dosa manusia pertama (lihat Summa Theologica, I, q. 64, a. 2)

Dengan melihat uraian di atas, maka memang sebenarnya bukan menjadi suatu keharusan mutlak bagi Kristus untuk menderita di salib bagi kita, namun memang itulah yang dipilih-Nya, dan ini sudah direncanakan-Nya sejak awal mula dunia. Sebab Allah sudah mengetahui segala sesuatunya, bahwa manusia pertama akan jatuh dalam dosa, dosa asal inilah yang akan diturunkan kepada semua umat manusia, dan karena manusia tak dapat menebus dosanya sendiri, maka Allah memutuskan untuk mengutus Putera-Nya sendiri untuk menebus dosa manusia dengan sengsara-Nya di kayu salib. Penderitaan yang tak terlukiskan di kayu salib tersebut adalah bukti kasih Allah yang tiada terbatas, dan juga bukti keadilan yang sempurna, yang menunjukkan kejamnya akibat dosa, yang harus dipikul oleh Kristus, untuk membebaskan kita manusia dari belenggu dosa. Maka walaupun setetes darah-Nya sebenarnya cukup untuk menebus seluruh dosa manusia, namun Yesus justru mau menyatakan yang lebih sempurna dan "superabundant" daripada itu. Sebab Ia mau menunjukkan kasih yang melebihi dari apa yang disyaratkan, kasih yang mengatasi segalanya. Kerendahan hati Yesus yang ditunjukkan-Nya dengan kerelaan-Nya menjadi manusia dan menderita di kayu salib merupakan "obat penawar"/ antidote bagi dosa asal Adam, yaitu kesombongan ingin menjadi/ menyamai Allah. Ketaatan Kristus terhadap kehendak Allah Bapa menawarkan ketidak-taatan Adam kepada Allah (lih. Rom 5:19). Semoga dengan menghayati hal ini, kita semakin menghargai pengorbanan Kristus di kayu Salib, dan berusaha sedapat mungkin menjauhkan diri kita dari dosa yang memisahkan kita dari Allah.

Share.

About Author

Stefanus Tay, MTS dan Ingrid Listiati, MTS adalah pasangan suami istri awam dan telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

58 Comments

  1. shalom,

    1. Kalau Yesus “MENEBUS DOSA MANUSIA” apakah itu artinya semua manusia atau khusus umat kristen saja ?

    2. Kalau Yesus sudah “MENEBUS DOSA MANUSIA” lalu untuk apa berlama-lama di dunia ? karena mati bunuh
    diripun pasti masuk surga ?

    [dari katolisitas: Silakan membaca artikel ini – silakan klik]

    • 5. Oleh karena itu, tepatlah kalau kita mengatakan bahwa dengan pengorbanan Kristus di kayu Salib, maka dosa kita ditanggung oleh-Nya, baik dosa asal, maupun dosa yang lain. Karena Tuhan tidak dibatasi oleh waktu, maka dosa seluruh umat manusia, dari Adam sampai manusia terakhir – sebelum kedatangan Kristus, pada saat Kristus hidup, dan setelah kematian Kristus – ditanggung oleh Kristus

      ya maka dari itu saya bertanya 2 hal tersebut.

      umat manusia, dari Adam sampai manusia terakhir – sebelum kedatangan Kristus, pada saat Kristus hidup, dan setelah kematian Kristus – DITANGGUNG OLEH KRISTUS

      jela sekali “DITANGGUNG OLEH KRISTUS”

      SHALOM.

      • Shalom Josua,

        Mungkin ada baiknya kita mengacu kepada apa yang diajarkan oleh Katekismus Gereja Katolik, untuk lebih memahami hal ini, yaitu bagaimana memaknai bahwa dosa kita ditanggung oleh Kristus, dan bahwa dengan kurban salib-Nya, Kristus telah menebus semua orang:

        KGK 616    “Cinta sampai kepada kesudahannya” (Yoh 13:1) memberi nilai khusus kepada kurban Kristus dan mengakibatkan bahwa Ia menebus dan memperbaiki, mendamaikan dan menyilih. Pada waktu menyerahkan kehidupan-Nya untuk kita, Yesus mengenal kita semua dan mencintai kita semua (Bdk. Gal 2:20; Ef 5:2.25). “Kasih Kristus menguasai kami, karena kami telah mengerti, bahwa kalau satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati” (2 Kor 5:14). Tidak seorang manusia, malahan orang kudus terbesar sekalipun, yang mampu menanggung dosa semua manusia dan menyerahkan diri sebagai kurban untuk semua. Tetapi berkat Pribadi Putera ilahi di dalam Kristus, yang melampaui semua pribadi manusiawi dan sekaligus merangkulnya dan membuat Kristus menjadi kepala seluruh umat manusia, maka kurban Kristus dapat menebus semua orang.

        KGK 618    Kematian di kayu salib adalah kurban yang satu kali untuk selamanya dipersembahkan Kristus, “pengantara antara Allah dan manusia” (1 Tim 2:5). Tetapi karena dalam Pribadi ilahi-Nya yang menjadi manusia, “Ia seakan-akan bersatu dengan tiap manusia” (GS 22,2) maka Ia memberikan “kemungkinan kepada semua orang, untuk bergabung dengan misteri Paskah ini, atas cara yang diketahui Allah” (GS 22,5). Yesus mengajak murid-murid-Nya, untuk “memanggul salibnya” dan mengikuti Dia (Mat 16:24), karena “Kristus pun telah menderita untuk [kita] dan telah meninggalkan teladan bagi [kita], supaya [kita] mengikuti jejak-Nya” (1 Ptr 2:21). Ia ingin mengikut-sertakan dalam kurban ini, pada tempat pertama, orang-orang yang menjadi ahli waris-Nya (Bdk. Mrk 10:39; Yoh 21:18-19; Kol 1:24). Ini berlaku terutama untuk ibu-Nya, yang dalam misteri kesengsaraan-Nya yang menebuskan itu, dibawa masuk lebih dalam daripada setiap manusia yang lain (Bdk. Luk 2:35).
        “Tidak ada satu tangga lain untuk naik ke surga, selain salib” (Rosa dari Lima, Vita).

        Dengan demikian, memang Kristus telah menebus semua orang. Namun demikian, pada saat yang sama, agar kita dapat menerima penebusan itu, kita diajak oleh Kristus untuk turut mengambil bagian dalam jalan salib-Nya dan dalam kematian-Nya, agar dapat turut serta mengambil bagian dalam kebangkitan-Nya. Partisipasi dalam kehidupan Yesus ini kita lakukan dengan rela menanggung  pergumulan apapun yang kita hadapi di dunia ini, dengan dibaptis (yang berarti mati terhadap dosa untuk hidup baru di dalam Kristus), dengan senantiasa bertobat, dan bertumbuh dalam iman, pengharapan dan kasih. Orang-orang hidup dalam dosa dan menolak untuk bertobat, atau bahkan yang dengan kesadaran penuh memilih untuk mengakhiri hidupnya karena putus asa atau menolak beban akibat perbuatan dosanya sendiri, secara obyektif menolak untuk mengambil bagian dalam jalan keselamatan yang ditunjukkan oleh Kristus.

        Kita umat Katolik dipanggil untuk senantiasa mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah yang dinyatakan oleh Kristus ini. Cara yang paling nyata adalah melalui keikutsertaan dalam sakramen-sakramen yang oleh kuasa Roh Kudus, menghadirkan kembali Misteri Paska Tuhan yang satu-satunya itu. Dengan keikutsertaan tersebut, kita memperoleh rahmat Tuhan yang menguatkan kita untuk melakukan kehendak Tuhan dan menanggung salib kehidupan kita masing-masing dengan hati lapang, sambil mengharapkan janji Tuhan bahwa suatu saat kelak kitapun akan digabungkan dalam kebangkitan dan kehidupan kekal di Surga.

        Salam kasih dalam Kristus,
        Ingrid Listiati- katolisitas.org 

  2. Sengsara dan Wafat Yesus Sulit Dipahami Dengan Akal Sehat

    Umat kristiani juga sulit memahami misteri peristiwa sengsara dan wafat Yesus. Apalagi saudara – saudari non kristiani.
    Penjelasan bahwa sejak awal dunia, sudah menjadi rencana Allah untuk menghapus dosa manusia pertama dengan mengutus PuteraNYA untuk menderita dan wafat di dunia.
    Penjelasan Katolisitas sekalipun dengan mengutip tulisan Thomas Aquinas tetap saja tidak mudah diterima secara logika.
    Kalau memang merupakan rencana awal dunia, maka itu sama saja dengan skenario yang sudah dirancang oleh Maha Sutradara.
    Dosa dalam segala macam bentuknya merupakan bagian dari skenario tersebut, yang kemudian dipulihkan dengan sengsara dan wafat Yesus. Penjelasan demikian membuat orang berfikir ya sudahlah mau berbuat baik atau pun jelek , tidak masalah karena ujung-ujungnya kita semua masuk dalam skenario besar tersebut yang berakhir pada keselamatan.

    Di satu pihak , kalau mau menjadi umat kristiani ya mau tidak mau harus, wajib, layak , dengan sadar tanpa paksaan , mengimani sengsara dan wafat Yesus.
    Di lain pihak , sekali pun sudah beriman, mereka juga sulit menjelaskan apa yang mereka imani tersebut khususnya sengsara dan wafat Yesus itu.

    Ya Tuhan bantulah kami agar dapat lebih memahami makna sengsara dan wafatMU dan juga agar dapat menjelaskan dengan lebih mudah kepada teman seiman mau pun teman non seiman mengenai misteriMu itu.

    • Shalom Herman Jay,

      Memang misteri sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus (jangan dilupakan bahwa wafat Yesus diikuti dengan kebangkitan-Nya dan kenaikan-Nya ke Surga) adalah karya Allah yang maknanya memang melampaui logika manusia. Oleh karena itu, memang dibutuhkan rahmat Tuhan agar kita sedikit demi sedikit dapat bertumbuh dalam pemahaman akan misteri Allah itu.

      Inti masalahnya adalah manusia terbatas dalam ruang dan waktu, sedangkan Allah tidak terbatas dalam ruang dan waktu. Maka alur pikiran manusia juga terbatas, kita selalu berpikir menurut urutan kronologis; padahal bagi Allah yang tidak terbatas, segala sesuatu itu sudah terpampang di hadapan-Nya sebagai “saat ini”. Allah mengetahui segalanya, sejak Ia ada. Allah mengetahui sejak awalnya bahwa Ia akan menciptakan segala sesuatu, termasuk manusia, dan manusia akan jatuh dalam dosa, dan karena itu Putera-Nya Yesus akan diutus untuk mengambil rupa manusia agar dapat menyelamatkan kita. Kelak di akhir zaman, segala sesuatu akan kembali dipulihkan dan dipersatukan di dalam Dia dalam langit dan bumi yang baru. Semua ini sudah diketahui oleh Allah sejak awal mula, namun bagi kita manusia, kita tidak mengetahuinya, atau tepatnya tersingkap hanya sedikit demi sedikit seiring dengan waktu dan seiring dengan pemahaman kita.

      Maka bagi kita manusia memang mungkin sulit memahami misteri sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus dan kenaikan-Nya ke Surga. Namun bagi Allah sendiri misteri Paska itu tidaklah sulit, sebab Ia sudah melihatnya dalam suatu rangkaian yang selesai dengan sempurna sejak awalnya. Bahwa Allah akan menang mengatasi segala yang jahat, dan bahwa misteri sengsara dan wafat Kristus merupakan kesatuan yang tak terpisahkan dengan kebangkitan-Nya dan kejayaan-Nya di Surga.

      Ya, memang kita perlu berdoa, agar terus bertumbuh dalam pengenalan akan Allah sehingga kita dapat pula bertumbuh dalam kasih kepada-Nya.

      Seandainya dianggap berguna, silakan membaca beberapa artikel berikut:

      Kesempurnaan Rancangan Keselamatan Allah
      Inkarnasi, Tuhan yang beserta kita
      Salib Tanda Kasih Kristus
      Kasih dan Keadilan Allah yang dimanifestasikan melalui pengorbanan Kristus
      Mengapa disebut Misteri Paska?

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

      • ignatiuschris on

        Kalau boleh sedikit menambahkan ibu Ingrid, khususnya mengenai kisah penciptaan. Menurut saya tulisan/permenungan yang bagus mengenai hal tsb adalah dari St. Agustinus dalam bukunya “Pengakuan-pengakuan”, seingat saya terjemahan dalam bahasa Indonesia terbitan BPK Gunung Mulia & Kanisius.

        Dalam buku tersebut ada bab khusus berisi permenungan St. Agustinus mengenai kisah penciptaan dunia. Satu poin yang saya ingat adalah bahwa “waktu” itu sendiri adalah ciptaan Allah & akan dibinasakan saat dunia ini berakhir, selebihnya silakan baca sendiri langsung dari sumbernya ya.. :)

    • Salam Kasih,

      Sangat sulit kiranya jika hanya mengandalkan akal sehat untuk memahami misteri Ilahi
      Akal sehat adalah pikiran yg cenderung untuk mencari keuntungan bagi dirinya sendiri (ego)
      Seandainya Yesus sebagai manusia menggunakan akal sehatNya tentulah Ia tidak akan wafat di kayu salib.

      [dari katolisitas: Jangan juga melupakan bahwa akal budi tidak bertentangan dengan iman, karena keduanya datang dari Tuhan.]

      • Salam kasih,

        Berkat pemberian Tuhan yaitu, akal budi dan hati nurani menjadikan manusia mengenal hukum moral yang memampukan manusia melakukan kebaikan melampaui akal sehatnya dan mengekang kehendak bebasnya untuk melakukan yang jahat. Dengan demikian hukum moral adalah sarana bagi pertumbuhan iman kepada Allah.

        [Dari Katolisitas: Benar. Hanya saja kita perlu mengingat bahwa hati nurani juga terbentuk dari pemahaman kita, sehingga di sini terdapat peran dari apa yang kita ketahui. Oleh karena itu, kita juga mempunyai tanggungjawab untuk menyesuaikan hati nurani kita dengan prinsip ajaran iman.]

        • Salam Kasih,

          Jika demikian artinya melalui akal budi dan hati nuraniNya Yesus sudah memahami dan mengetahui bahwa dirinyalah Mesias yang dimaksud dan Ia harus mati seperti yang dinubuatkan para nabi, dan dari pengetahuan tersebut Yesus sebagai manusia tentunya juga mengalami pergulatan bathin dan mempunyai pilihan bebas (kehendak bebas) untuk menerima kematianNya atau menolaknya (tidak ada keharusan) dengan segala konsekuensinya.

          Akan berbeda halnya jika Yesus tidak mempunyai pengetahuan bahwa Ia adalah mesias yang dijanjikan, atau seandainya Yesus menolak kematianNya artinya Ia menyangkal diriNya sebagai mesias tentu saja ketidakpatuhanNya kepada Bapa akan membuahkan penghukuman, dan yang lebih tragis lagi tiada keselamatan bagi manusia.

          [Dari Katolisitas: Namun faktanya, kita mengetahui bahwa kehendak-Nya sebagai manusia tunduk kepada kehendak-Nya sebagai Putera Allah, sehingga pengandaian Anda ini tidak terjadi (lih. Ibr 10:5-10). Sebab dalam kodrat-Nya dan hakekat-Nya sebagai Allah, Kristus tidak mungkin menentang kehendak Bapa-Nya, sebab kehendak Bapa juga merupakan kehendak-Nya.]

          Bila menggunakan model tersebut maka dapat disimpulkan ketika seseorang sudah memahami dan mengetahui tentang suatu kebenaran seturut akal budi dan hati nuraninya namun menolak kebenaran tersebut maka buah yang dihasikan adalah penghukuman. Hal ini juga berlaku bagi hukum manusia jika seseorang tertangkap melakukan tindak kejahatan (tidak sengaja /direncanakan akan memberikan efek penghukuman yang berbeda) maka dia akan ditangkap dan diadili dan sebagai konsekuensi atas perbuatanya dia akan dipenjara (logis).

  3. dear katolisitas,

    Saya sudah membaca tulisan di atas. Namun saya belum bisa menemukan jawaban atas pertanyaan; Mengapa Yesus memilih salib untuk menebus dosa manusia?

    Bisakah katolisitas meringkasnya dengan sederhana? Saya sangat membutuhkan hal ini, karena saya seringkali mendapat pertanyaan serupa ini.

    Terima kasih,

    brian

    • Shalom Brian,

      Yesus memilih salib untuk menebus dosa manusia karena kebijaksanaan, kasih dan keadilan Allah. Dalam kebijaksanaan-Nya, Allah dengan perantaraan para nabi telah menubuatkan bahwa Sang Mesias akan menderita untuk menebus umat manusia. Dalam kasih-Nya, Allah menginginkan agar seluruh umat manusia diselamatkan. Dalam keadilan-Nya, dosa yang merupakan perlawanan terhadap Allah harus memperoleh penghukuman. Namun, karena manusia tidak mampu untuk membayarnya, maka dalam kasih-Nya Allah mengirimkan Putera-Nya untuk menebus dosa manusia. Dalam kebijaksanaan-Nya, Allah juga menginginkan agar manusia bisa juga belajar bagaimana untuk mengasihi Allah dan sesama, seperti yang dilakukan oleh Kristus di kayu salib. Kristus mengasihi Allah dengan begitu sempurna dengan taat sampai mati, mati di kayu salib; mengasihi manusia dengan memberikan diri-Nya sebagai penebus dosa. Semoga jawaban singkat ini dapat memperjelas.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • dear Bpk Stef,

        Terima kasih atas jawaban singkatnya. Tapi muncul satu pertanyaan, Yesus mati di salib untuk menebus dosa umat manusia. Nah, manusia pada waktu itu saja atau manusia waktu dulu, saat itu, saat sekarang ini (masa kita) dan saat yang akan datang?

        Salam,

        • Shalom Brian,
          Karena Yesus adalah Tuhan, maka penebusan-Nya melampaui waktu, sehingga memberikan efek pada masa lampau, pada saat, dan masa depan. Bahkan peristiwa penderitaan, kematian, kebangkitan, dan kenaikan Kristus ke Surga oleh kuasa Roh Kudus dihadirkan setiap waktu dalam setiap perayaan Ekaristi yang dapat kita rayakan setiap hari.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – katolisitas.org

  4. Ign. Sumarno on

    Dalam gambar-gambar sering kita lihat wajah Yesus tampak begitu menderita karena menanggung kesakitan luarbiasa di kayu salib. Tapi…..apa betul dia menderita ? Bukankah penyaliban itu pilihannya sendiri ? Dan kalau pilihannya sendiri mengapa ia berteriak “Eli….Eli…lama sabakhtani ?” Lha…? Tolong jelasin donk, biar ora bingung.
    Shalom….

    [Dari Katolisitas: SIlakan membaca artikel ini terlebih dahulu, silakan klik]

  5. Kenapa agama bisa diperdebatkan seperti ini?
    Bukankah agama seharusnya berisi kisah yang pasti dan tidak ambigu… Karena Tuhan maha kuasa atas alam semesta, dan Dia pastinya mudah sekali menjelaskan dalam kitab dengan cara sejelas-jelasnya dan tidak ambigu, dan untuk menjelaskan sebuah kisah dengan jelas dan tidak ambigu dalam injil seharusnya mudah bagi-Nya dan tidak akan menimbulkan perdebatan seperti ini…

    Inilah tanda bagi orang-orang yang berpikir…

    Salam damai
    Mei

    [dari katolisitas: Sama seperti kalau kita ingin mengetahui kerja jaringan elektronik dari sebuah laptop, maka kita harus belajar dan berdiskusi lebih dalam. Namun, kalau kita tidak ingin mengetahui rangkaian elektronik, namun hanya ingin menyalakan laptop, maka memang menjadi sangat mudah. Tekan tombol, dan komputer nyala, pakai, selesai.]