Orang buta yang menjadi pewarta

7

Akulah Terang Dunia

Yesus berkata “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” (Yoh 8:12). Yesus adalah terang dunia, yang memberikan penerangan kepada dunia, kepada setiap orang. Karena kegelapan adalah ketidak-adaan terang, dan Yesus adalah Terang itu sendiri, maka di dalam Yesus tidak ada kegelapan. Setiap orang yang masuk di dalam hadirat-Nya, yang mau disentuh oleh Sang Terang, tidak akan mengalami kegelapan. Drama perjalanan dari gelap menuju terang, baik secara fisik maupun spiritual inilah yang ingin disampaikan dalam Yohanes 9:1-41. Pada saat seseorang mengatakan “Aku percaya, Tuhan! Dan aku sujud menyembah-Mu” (ay. 39), maka seseorang telah dipisahkan dari kegelapan dan berada dalam terang Tuhan.

Paus Benediktus XVI dalam surat gembala prapaskah kepausan mengajarkan bahwa perikop Yoh 9 mengajarkan tentang Kristus, Sang Cahaya Dunia, dengan menuliskan “Hari Minggu Keempat, melalui kisah “orang yang buta sejak lahir” itu, menampilkan Kristus, Sang Cahaya Dunia. Injil hari ini mengkonfrontasikan masing-masing kita dengan pertanyaan ini: “Percayakah engkau kepada Anak Manusia?”  “Ya, Tuhan, aku percaya” (Yoh. 9:35,39) seru orang yang buta sejak lahir itu dengan sukacita, dan dengan demikian ia menyuarakannya juga bagi semua orang beriman. Mukjijat penyembuhan ini menjadi tanda, bahwa Kristus berkehendak memberi kita, bukan saja kemampuan untuk melihat, tetapi juga membuka kemampuan kita melihat secara batin, sehingga iman kepercayaan kita juga semakin diperdalam dan kita mampu mengenali-Nya sebagai satu-satunya Juru Selamat kita.  Ia menerangi apa saja yang merupakan kegelapan di dalam hidup dan membimbing semua orang laki-laki dan perempuan untuk hidup sebagai “anak-anak terang”

Perikop Yoh 9:1-41 adalah perikop yang begitu panjang dan begitu indah, yang mungkin memerlukan pembahasan yang begitu panjang lebar. Namun, pada tulisan ini, kita hanya akan membahas tentang proses perjalanan iman dari orang yang buta melihat Sang Terang. Secara prinsip perikop ini dapat dibagi menjadi:

  • 1-3: Latar belakang tentang seorang yang buta.
  • 4-5: Tujuan dari Yesus menyembuhkan orang buta itu.
  • 6-7: Bagaimana Yesus menyembuhkan orang buta itu.
  • 8-34: Kesaksian orang buta
    • 8-12: Orang buta itu bersaksi kepada tetangga-tetangga.
    • 13-16: Orang buta itu bersaksi di depan orang-orang Farisi.
    • 17: Orang buta itu berkata bahwa Yesus adalah seorang nabi.
    • 18-23: Orang tua dari si buta itu menyatakan bahwa anaknya dapat memberikan kesaksian sendiri.
    • 24-34: Orang buta itu meneruskan kesaksiannya di depan orang-orang Farisi, sampai akhirnya dia dibuang dari jemaat.
  • 35-37: Yesus memberitakan diri-Nya sebagai Anak Manusia.
  • 38: Orang buta itu bersembah sujud di hadapan Tuhan.
  • 39-41: Yesus memberikan pesan kepada dunia tentang keselamatan.

Buta sejak lahir, O happy fault

Perikop ini dibuka dengan suatu pertemuan antara Yesus dan orang yang buta sejak lahir. Kemudian para murid mempertanyakan atas dosa siapakah sehingga dia menjadi buta, apakah dosanya sendiri atau orang tuanya. Bagi orang-orang Yahudi, kekayaan dihubungkan dengan berkat, sedangkan kemiskinan dan penderitaan dihubungkan dengan dosa dan kutuk, baik dosa sendiri (lih. Ul 24:16; Yer 31:30; Yeh 18:20; Ayub 4:7-8; 2 Mak 7:18) maupun dosa orang tua (Kel 20:5; Kel 34:6-7; Tob 3:3). Namun bagi orang Kristen, kemiskinan dan penderitaan tidak secara otomatis karena dosa, dan Yesus menegaskan “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.” (Jn 9:3)

Memang secara fisik, tidak banyak orang yang dilahirkan buta. Namun secara rohani, bukankah kita semua manusia terlahir buta, karena akal budi kita dikotori oleh dosa asal, yang diturunkan dari dosa manusia pertama, sehingga kita semua mempunyai kecenderungan berbuat dosa (concupiscence)? Namun, dosa dari Adam ini diperingati dalam setiap malam Paskah sebagai dosa yang membahagiakan, yang disenandungkan “O happy fault, O necessary sin of Adam, which gained for us so great a Redeemer!” Dan Sang Penebus, yaitu Yesus inilah yang dianugerahkan oleh Allah Bapa untuk membebaskan kita, orang-orang yang memang dilahirkan “buta” secara rohani oleh karena dosa asal. Oleh sebab itu, ini juga kisah masing-masing dari kita.

Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku

Sungguh suatu perkataan yang harus kita resapkan bersama-sama, karena Yesus mengatakan bahwa “kita” dan bukan hanya Yesus yang harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Yesus (ay. 4). Yesus mengatakan “kita”, ketika Dia menjawab pertanyaan para murid. Kita, yang menjadi murid Kristus juga termasuk dalam golongan “kita”. Dan kita, juga harus mengerjakan pekerjaan Dia atau Bapa. Pekerjaan apakah? Karena Bapa berkata “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia” (Mt 17:5), maka kita harus mendengarkan dan melaksanakan semua yang diperintahkan oleh Kristus.

Kalau doa adalah suatu ungkapan yang terdalam dari hati, maka kita harus benar-benar menaruh perhatian yang lebih pada perkataan Yesus pada saat Dia berdoa. Dan apa yang diperintahkan-Nya terungkap pada kata-kata seperti yang didoakan-Nya:

17 Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu adalah kebenaran. 18 Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia; 19 dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya merekapun dikuduskan dalam kebenaran. 20 Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; 21 supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” (Yoh 17:17-21).

Dari doa ini, kita tahu, bahwa Yesus menginginkan kita untuk menjadi kudus, karena hanya dengan kekudusan, maka seseorang dapat diterima di dalam Kerajaan Sorga. Karena kekudusan adalah kasih terhadap Tuhan dan kasih terhadap sesama demi kasih kepada Tuhan, dan Yesus berdoa untuk menguduskan para murid dalam kebenaran (Yoh 17:17), maka kita harus memegang teguh bahwa kasih harus berdasarkan kebenaran. Tindakan yang seolah-olah adalah tindakan kasih namun tidak berdasarkan kebenaran bukanlah perbuatan kasih. Dan sama seperti Bapa telah mengutus Yesus untuk mengabarkan kasih dan kebenaran (Yoh 17:18), maka Yesus juga mengutus kita semua untuk mewartakan kasih dan kebenaran. Yesus telah menguduskan diri kita semua dengan Roh Kebenaran, yaitu Roh Kudus, yang kita terima pada saat kita dibaptis.

Maka kita semua yang telah dibaptis harus bersatu padu membangun Gereja. Tanpa persatuan, maka dunia tidak dapat percaya bahwa Allah telah mengutus Yesus Sang Putera Allah. Oleh karena itu, Yesus sendiri telah mendirikan Gereja Katolik sebagai Gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik, di mana persatuan umat beriman dinyatakan dalam kesatuan liturgi dan doktrin, di bawah Paus yang menjadi wakil Kristus dan Gembala Gereja semesta, mempunyai kuasa penuh, tertinggi dan universal terhadap Gereja.[1]

Sampai kapankah kita harus mengerjakan pekerjaan ini? “4 Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja. 5 Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia. (Yoh 9:4-5). Ini bukan berarti bahwa pekerjaan itu hanya dilaksanakan selama Yesus ada di dunia ini, namun sampai pada akhir jaman, dimana Yesus sendiri yang akan memisahkan terang dan gelap, yaitu pada saat penghakiman terakhir. Sebelum maut memisahkan kita dan atau akhir dunia, di mana setiap orang akan mengalami pengadilan Tuhan, maka kita semua masih mempunyai kesempatan untuk berlomba-lomba dalam kekudusan. Namun pada saat pengadilan terakhir dinyatakan, dan sebagian dinyatakan untuk masuk dalam kegelapan abadi, maka tidak ada lagi yang dapat bekerja (ay. 4), karena semuanya telah selesai dan lengkap. Oleh karena itu, kita semua yang telah menerima Sakramen Baptis, yang menerima Roh Kristus, harus bersatu padu di dalam Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik, untuk senantiasa bekerja mewartakan kasih dan kebenaran Kristus sampai pada saat kedatangan Kristus yang ke-dua.

Pergilah basuhlah dirimu dalam kolam Siloam

Kristus dalam perikop ini menunjukkan satu perbuatan nyata yang menguak pentingnya seseorang menerima baptisan untuk diselamatkan. Bagaimana Yesus membuat orang buta itu melihat? “Ia meludah ke tanah, dan mengaduk ludahnya itu dengan tanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi 7 dan berkata kepadanya: “Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam.” Siloam artinya: “Yang diutus.” Maka pergilah orang itu, ia membasuh dirinya lalu kembali dengan matanya sudah melek.” (Yoh 9:6-7).

St. Agustinus mengatakan bahwa “mengaduk ludah dengan tanah” mengacu kepada “Firman telah menjadi manusia”[2], yaitu Yesus sendiri. Dan ini juga sejalan dengan arti dari Siloam, yaitu yang diutus, yang mengacu kepada Yesus sendiri yang diutus oleh Bapa. Oleh karena itu, bagaimana orang buta ini dapat melihat? Karena inisiatif dari Allah. Kita mengenal Kristus dan dibebaskan dari kebutaan mata hati kita untuk menjadi terang melalui Sang Terang, karena rahmat Ilahi. Tanpa rahmat ilahi, kita tidak mungkin dapat mengenal Sang Terang. Sama seperti Kristus yang menyembuhkan orang buta tersebut dengan suatu proses (meludah, mengaduk, mengoleskan), maka kita yang sebelumnya buta dijamah oleh Kristus sendiri. Kita menanggapi kasih Kristus ini dengan keinginan dan keputusan untuk mengikuti Dia dalam proses katekese.[3]. Namun Allah tidak ingin kita hanya sekedar mengenal-Nya, karena Ia ingin bertahta dalam hidup kita. Allah ingin kita menjadi “yang terkasih” (the beloved), karena Allah sendiri ingin mencurahkan Roh Kudus-Nya kepada kita dan menjadikan kita anak-anak angkat-Nya. Oleh karena itu, Allah, melalui Gereja-Nya, membaptis kita, sama seperti Yesus mengutus orang buta tersebut ke kolam Siloam.[4] Orang buta tersebut dapat melihat setelah membasuh diri di kolam Siloam, sama seperti kita yang melihat terang karena rahmat Sakramen Baptis. Melalui Pembaptisan kita dipersatukan dengan Yesus “Yang Diutus oleh Allah Bapa”, dan kemudian kitapun kemudian diutus oleh Allah untuk hidup seturut dengan panggilan kita sebagai anak-anak angkat Allah di dalam Kristus.

Bersaksilah tentang Aku yang telah memberikan terang…

Ayat 8-34 adalah suatu perjalanan iman yang harus dilalui oleh setiap orang yang dibaptis, sebagai suatu akibat dari melihat terang. Seseorang yang telah melihat terang dan hidup dalam terang tidak dapat membiarkan dirinya dan orang lain untuk tetap hidup dalam kegelapan. Orang yang hidup dalam terang akan mengorbankan segalanya untuk tetap hidup dalam terang.

Pertama, orang buta tersebut harus bersaksi kepada orang-orang terdekatnya, yaitu anggota keluarga, tetangga-tetangga, komunitas setempat. Mungkin mereka akan berkata “bukankan dia ini yang selalu mengemis?” (ay. 8), sama seperti seseorang mengatakan bukankah dia ini yang dulunya hidup bergelimang dosa? Atau, yang dulu hidupnya tidak jujur? Dan orang akan senantiasa mempertanyakan alasan mengapa orang buta itu, ataupun juga kita, berubah.

Menarik sekali bahwa orang buta ini begitu bersukacita akan perubahan yang dialaminya, sehingga ketika tetangganya bertanya bahwa bukankah dia yang dulu mengemis dan buta, dia dengan bersukacita menjawab, “Ya, benar” (ay. 9-10). Kita juga dapat mengatakan hal yang sama, bahwa kita yang memang telah lama buta dan tinggal dalam kegelapan telah dijamah oleh Kristus dan memperoleh terang. Namun, kesaksian ini akan menjadi lebih efektif kalau kita dapat membuktikan bahwa kita memang dapat melihat, yang berarti tidak tersandung dan tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Atau dengan kata lain, kesaksian ini akan lebih berarti kalau kita juga berjuang untuk hidup kudus, hidup sebagai anak-anak terang. Dengan demikian, kita juga dapat berkata seperti yang dikatakan oleh orang buta yang telah disembuhkan itu, “Orang yang disebut Yesus itu mengaduk tanah, mengoleskannya pada mataku dan berkata kepadaku: Pergilah ke Siloam dan basuhlah dirimu. Lalu aku pergi dan setelah aku membasuh diriku, aku dapat melihat” (ay. 11).

Namun selanjutnya, sungguh sayang, orang buta itu menjawab “tidak tahu” ketika para tetangga bertanya “Dimanakah Dia?” (ay. 12). Apakah kita juga menjawab tidak tahu ketika orang bertanya tentang Yesus? Orang buta tersebut tidak mendapatkan proses katekese, namun kita yang telah melalui proses katekese dan pelajaran agama sebelum dibaptis maupun pendalaman iman setelah dibaptis, tidak mempunyai alasan untuk mengatakan bahwa kita tidak tahu tentang Yesus. Orang buta tersebut tahu tentang Yesus, namun dia tidak tahu di mana Yesus. Kita yang telah mendapatkan kepenuhan Yesus di dalam Gereja Katolik harus menunjukkan kepada orang yang bertanya kepada kita, untuk juga menemukan Yesus di dalam Gereja Katolik.

Kesaksian kedua yang diberikan oleh orang yang tadinya buta adalah kepada orang-orang Farisi, yang mungkin dalam kehidupan kita dapat mewakili orang-orang yang berkuasa yang lebih besar dari kita, misalnya orang-orang yang bertanggung jawab di dalam perusahaan tempat kita bekerja, di dalam masyarakat yang majemuk, dll. Kita, yang telah menerima terang dari Kristus juga akan menghadapi tantangan yang sama, ketika banyak orang dari agama yang berbeda, mungkin mengatakan bahwa tidak ada Tuhan, Yesus bukanlah Allah, dll.  Mungkin juga kita akan menghadapi tantangan yang berkata bahwa Gereja Katolik bukanlah Gereja yang didirikan oleh Kristus, atau Gereja Katolik hanyalah salah satu denominasi Kristen.

Di sinilah kita belajar bahwa para santa-santo adalah suatu bukti dari kebenaran dalam Gereja Katolik. Sama seperti orang buta yang telah disembuhkan, maka santa-santo adalah bukti bagaimana orang yang telah dijamah oleh Kristus dan bertumbuh dalam sakramen, dapat mempunyai kerendahan hati dan ketaatan, yang menghasilkan buah berlimpah. Orang yang tidak percaya akan Kristus maupun Gereja Katolik akan bertanya “Mengapa yang terberkati Bunda Teresa mau dan mempunyai kekuatan untuk melayani orang-orang yang paling miskin di Kalkuta? Mengapa ada orang yang mau hidup selibat dan mengabdikan diri bagi sesama dan menjadi pastor dan suster? Mengapa semua orang korupsi, sedangkan umat yang beragama Katolik jujur? ” Inilah “argument of the heart“, yang mungkin sulit untuk dibantah, karena fakta memang di depan mata, sama seperti orang-orang Farisi tidak dapat menyangkal kesembuhan dari orang yang buta sejak lahir itu.

Dan pada saat orang-orang bertanya tentang perubahan dalam diri kita, maka kita dapat menunjuk kepada Sang Terang yang memberikan kekuatan kepada kita. Siapakah yang merubah kehidupanmu? (ay. 17). Kita harus menunjuk kepada Sang Sumber Terang, yaitu Kristus. Orang buta yang telah disembuhkan pada saat itu belum mendapatkan kepenuhan wahyu, sehingga dia menjawab, “Ia adalah seorang nabi” (ay. 17). Walaupun jawaban ini tidak salah, namun belum lengkap. Seorang nabi adalah orang yang mewartakan kebenaran, yaitu kebenaran Allah. Namun Kebenaran itu mempunyai nama, sebab Kebenaran telah menjelma menjadi manusia, yaitu Yesus Kristus.

Pada saat kita hanya menerima semua dogma dan doktrin Gereja Katolik  dalam batas pengetahuan saja, namun tidak melaksanakannya dalam kehidupan nyata, maka sebenarnya sama saja kita mengatakan bahwa Yesus hanyalah sebatas “Nabi“. Sebatas nabi yang mungkin tidak perlu disembah dan tidak perlu menjadi fokus yang paling penting dalam kehidupan kita. Sedangkan, untuk sampai pada tahap penghayatan akan kebenaran yang bukan hanya terbatas pada pikiran, maka semua pengajaran Kristus, yang dinyatakan lewat Gereja harus diendapkan dalam hati, sehingga dengan seluruh keberadaan kita mengasihi kebenaran. Iman kita bukan hanya tergantung dari perkataan orang tertentu, bukan hanya tergantung dari website tertentu, bukan hanya tergantung dari guru kita ataupun orang tua kita. Karena pada akhirnya iman kita adalah merupakan “personal faith” (iman pribadi). Dan tepat sekali apa yang dikatakan oleh orang tua dari orang buta ini, “Ia telah dewasa, tanyakanlah padanya sendiri” (ay. 23). Iman pribadi inilah yang dituntut oleh Kristus kepada setiap orang yang telah menerima Kristus, sama seperti ketika Kristus bertanya kepada Petrus “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” (Mt 16:15). Pengakuan iman yang pribadi seperti ini merupakan iman yang dewasa, yang akan senantiasa dimurnikan secara terus-menerus.

Dalam perikop ini, terlihat bahwa orang buta yang telah disembuhkan harus menghadapi lagi pertanyaan-pertanyaan dan tuduhan-tuduhan dari orang-orang Farisi. Demikian juga dengan kita: pertanyaan-pertanyaan dan ujian-ujian iman ini akan terus berlangsung selama hidup kita. Kita harus mempertanggungjawabkan iman yang kita bukan hanya dengan perkataan, namun juga dengan perbuatan, dan juga dengan segala resikonya. Orang buta yang disembuhkan tahu dan mengalami kesembuhan dari Yesus. Dan keyakinan ini begitu dalam terpatri di dalam hatinya, sehingga tidak ada kekuatan di dunia ini yang dapat mengubah keyakinannya, termasuk interograsi dari orang-orang Farisi.

Akhirnya, interograsi dari orang-orang Farisi tersebut menyebabkan orang buta yang telah melihat itu diusir keluar (ay. 34). Ayat 34 yang mengatakan “… Lalu mereka mengusir dia ke luar“, bukanlah hanya sekedar diusir dari ruangan, namun diusir dari komunitas, atau dengan kata lain di-ekskomunikasi. Orang yang di-ekskomunikasi, yang di keluarkan dari komunitas Yahudi, dianggap sebagai orang asing, tidak boleh masuk ke dalam sinagoga. Dengan kata lain, orang buta tersebut dikucilkan.[5] Dalam percakapan dengan orang-orang Farisi, orang buta yang telah disembuhkan mengetahui resiko pengusiran ini, namun dia tidak takut akan resiko yang harus ditanggungnya. Bandingkan dengan sikap orang tuanya yang takut dikucilkan, sehingga tidak berani untuk memberitakan kebenaran (ay. 22). Kita sebagai orang-orang yang telah mengalami jamahan Kristus, dan hidup dalam terang Kristus selayaknya rela berkorban untuk terus hidup dalam kebenaran.

Perjuangan membawa sang buta kepada Sang Kebenaran.

Mungkin peristiwa kesembuhan dan pengusiran orang buta itu dari komunitas Yahudi diketahui oleh banyak orang, termasuk oleh Yesus (ay. 35). Inilah sebabnya pada waktu Yesus bertemu dengan orang itu, Yesus berkata “Percayakah engkau kepada Anak Manusia?“. Anak Manusia adalah gelar dari Sang Mesias (lih. Dan 7:13). Tidak ada keraguan dalam diri orang buta tersebut bahwa Anak Manusia adalah merujuk kepada Sang Mesias, sehingga dia berkata “Siapakah Dia, Tuhan? Supaya aku percaya kepada-Nya” (ay. 36). Yesus yang tahu bahwa orang buta itu diusir dari komunitas Yahudi melalui tahta Musa menawarkan kepada orang buta tersebut suatu komunitas yang lebih baik, yaitu komunitas yang diperintah sendiri oleh Diri-Nya.

Bagi Yesus, kesembuhan fisik dari orang buta tersebut tidaklah cukup. Inilah sebabnya, Yesus bukan bertanya apa yang akan dilakukan oleh orang buta itu setelah di-ekskomunikasi dari komunitas Yahudi, melainkan Yesus bertanya “Percayakah engkau kepada Anak Manusia?” Kalau pada pertemuan pertama Yesus memberikan terang bagi kebutaan mata orang itu, maka pada pertemuan ke dua, Yesus memberikan terang spiritual, sehingga orang buta itu dapat memperoleh terang keselamatan. Dan dengan penuh kasih Yesus memberikan jati diri-Nya kepada orang buta tersebut “Engkau bukan saja melihat Dia; tetapi Dia yang sedang berkata-kata dengan engkau, Dialah itu!” (Jn 9:37). Mendengar perkataan Yesus, orang buta itu bersembah sujud dan berkata “Aku percaya, Tuhan!” (ay. 38). Di sinilah orang buta tersebut melihat terang Sorgawi, terang yang membawanya kepada keselamatan kekal.

Kerendahan hati adalah sikap yang diperlukan untuk mencapai Kebenaran.

Untuk memperoleh iman seperti orang buta tersebut, diperlukan suatu kondisi, yaitu seseorang harus menyadari bahwa dia adalah seorang yang buta. Hal ini berarti, iman yang benar seperti ini hanya dapat dicapai ketika seseorang menyadari dengan segala kerendahan hati bahwa dirinya adalah seorang yang berdosa. Dan Yesus menegaskan hal ini dengan berkata “Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat” (ay. 39). Kerendahan hati membuat rahmat Tuhan mengalir secara bebas dalam kehidupan seseorang, sehingga pada akhirnya rahmat Tuhan ini menuntun orang tersebut kepada keselamatan. Bahkan dapat disimpulkan bahwa tanpa kerendahan hati, seseorang tidak akan mungkin memperoleh keselamatan, seperti yang ditegaskan oleh Yesus “…supaya barangsiapa melihat menjadi buta.” Orang yang buta namun tidak menyadari kebutaannya – seperti yang ditunjukkan oleh orang-orang Farisi (ay. 40) – adalah sungguh tragis dan ini merupakan pernyataan kesombongan mereka. Kesombongan inilah yang menjadi penghalang bagi rahmat Tuhan untuk mengubah kehidupan mereka. Oleh karena itu, hidup mereka akan terus berada di dalam kegelapan.

Siapa yang dipercaya banyak, dituntut lebih banyak.

Orang yang tidak buta seharusnya tidak tersandung dan tidak menjadi batu sandungan, serta dia tetap berjalan dalam terang.  Maka, orang percaya yang telah melihat, namun tetap hidup dalam kegelapan, lebih besar dosanya daripada orang yang buta.  Yesus berkata, “Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu” (ay. 41). Orang-orang Farisi yang mempunyai pengetahuan yang begitu luas, terpelajar, dan tahu tentang tanda-tanda dari Sang Mesias, tetapi mereka tidak mau percaya akan segala kenyataan yang terbentang di depan mata, bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan. Padahal sesungguhnya, mereka tidak mempunyai alasan untuk tidak percaya. Maka, ketidak percayaan mereka ini disebabkan oleh kekerasan hati mereka. Yesus menegaskan hal ini dengan berkata “Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut.” (Lk 12:48).

Dalam konsep keselamatan, orang buta adalah orang-orang yang memiliki “invincible ignorance“, yaitu “orang-orang yang, bukan karena kesalahan mereka, tidak mengenal Kristus, yang dapat juga diselamatkan, asalkan mereka mengikuti hati nurani mereka dan mempraktekkan hukum kasih, dimana mereka juga digerakkan oleh rahmat Ilahi.”[6] Meskipun dibutuhkan perjuangan yang tidak mudah dalam kategori ini untuk dapat memperoleh keselamatan, namun dalam belas kasihan-Nya, Tuhan dapat memakai parameter yang berbeda dalam mengadili mereka.

Namun bagi orang-orang yang melihat, atau orang-orang yang telah mengenal Kristus akan dituntut lebih banyak. Inilah sebabnya Gereja Katolik mengatakan “Andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan.”[7] Hal ini disebabkan karena orang yang benar-benar tahu bahwa Kristus mendirikan Gereja Katolik namun tidak masuk di dalamnya berarti dia mendahulukan kepentingan pribadi di atas pencarian kebenaran.

Dan terlebih lagi bagi orang-orang Katolik sendiri yang mendapatkan kepenuhan kebenaran dan begitu banyak rahmat yang mengalir dalam sakramen-sakramen, dituntut lebih banyak. Lumen Gentium mengatakan “Tetapi tidak diselamatkan orang, yang meskipun termasuk anggota Gereja namun tidak bertambah dalam cinta-kasih; jadi yang “dengan badan” memang berada dalam pangkuan Gereja, melainkan tidak “dengan hatinya”.[8] Ini berarti bahwa orang Katolik yang mempunyai “kepenuhan kebenaran” harus benar-benar dapat menerapkan ajaran kasih. Bagi kita umat Katolik, tidak ada alasan untuk tidak mengasihi Tuhan dan sesama, karena kita telah diberi berkat yang berlimpah dari sakramen-sakramen, terutama dari Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat, yang memampukan kita untuk hidup kudus setelah menerima Sakramen Baptis.

Yesus adalah terang dunia.

Dari perikop ini, maka kita melihat perjalanan iman dari orang buta, yang sebenarnya merupakan refleksi dari perjalanan iman kita. Kita yang telah disembuhkan dari kegelapan – karena dosa asal – lewat Sakramen Baptis, dituntut untuk terus hidup dalam terang. Dan kita semua juga diundang oleh Kristus untuk menjadi duta atau utusan Kristus (lih. 2 Kor 5:20) untuk mewartakan kabar gembira sampai pada kedatangan Kristus yang kedua. Kita dituntut untuk menyebarkan terang Kristus kepada semua orang, sehingga semua orang juga dapat sampai kepada sumber Terang, yaitu Kristus. Di manapun tingkat spiritualitas kita, kita sekali lagi diingatkan bahwa kita harus senantiasa kembali kepada sikap kerendahan hati, seperti yang diingatkan oleh St. Teresa dari Avila dalam bukunya puri batin (interior castle). Kerendahan hati inilah yang memungkin seseorang yang berada dalam kegelapan dapat melihat terang, dan orang yang berada dalam terang tidak terjatuh dalam kegelapan serta semakin memancarkan terang Kristus. Mari kita semua memegang teguh apa yang Yesus katakan “Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.” (Yoh 8:12).


Catatan: Artikel ini ditulis tanggal 3 Agustus 2009, direvisi dan dipakai untuk pendalaman Alkitab di paroki Regina Caeli – Pantai Indah Kapuk pada tanggal 30 Maret 2011.


CATATAN KAKI:
  1. Lumen Gentium, 22 []
  2. St. Augustine, Tractate XLIV, Ch. IX, 2 []
  3. Ibid []
  4. Secara harafiah, Siloam merupakan suatu tempat penampungan air untuk orang-orangyang tinggal di Yerusalem, yang dibangun oleh raja Hizkia (lih. 2Raj 20:20; 2Taw 32:30) pada abad ke-7 SM. Lebih lanjut dikatakan bahwa para nabi air dari kolam Siloam merupakan tanda dari berkat Allah (lih. Yes 8:6; Yes 22:11). []
  5. Pengucilan atau ekskomunikasi ini dapat berlangsung sementara, seperti 30 hari dan dapat diperpanjang sampai 60 hari atau 90 hari. Kalau setelah masa ekskomunikasi ini berakhir dan orang tersebut tidak bertobat, maka dia akan dijatuhi hukuman yang lebih serius. Di depan pengadilan, mereka akan dijatuhi kutuk (malediction). Dan tahap ketiga adalah mengucilkan orang tersebut untuk selamanya. []
  6. Lumen Gentium 16 []
  7. Lumen Gentium, 14 []
  8. Ibid []
Share.

About Author

Stefanus Tay telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

7 Comments

  1. Benedictus Widi H on

    Syaloom Katolisitas,

    Saya tersentuh dengan bacaan minggu ini.
    Terutama saya membayangkan bagaimana perasaan si buta tersebut. Sungguh, seseorang yang pernah mengalami hampir kematian, penderitaan, penyakit berat, atau dalam hal bacaan ini kebutaan yang dari lahir (bayangkan saja dari lahir tidak melihat apa-apa) lantas bisa melihat, sembuh oleh Yesus Kristus.

    Sungguh.. suatu bacaan alkitab yang sungguh agung. Lengkap dan komplit.
    Ketika si buta diusir oleh farisi, disitu dia diterima dan mau menerima Tuhan sendiri..

    Saya (dan kita semua) masih dalam perjuangan… untuk dapat mengatakan dan membawa sepenuh hati dan hidup kita ““Aku percaya, Tuhan!” dan sujud menyembahNya..

    Sungguh, sebuah ayat yang menyentuh dan menguatkan kita..

    Tuhan memberkati,

  2. Aquilino Amaral on

    Bagi para kaum non katolik, mereka harus mengakui keEsaan Allah bersama Putra dan Roh Kudus, dimana Firman Allah sendiri telah menjadi manusia untuk membebaskan umatNya dari dosa. Atas Cinta kasih Allah kepada kita, Anak Allah harus meyerahkan diriNya kepada orang berdosa untuk disalibkan. Melalui Penderitaan dan penyerahan total, maka umat manusia dapat diselamatkan. Tanda Salib merupakan tanda Keselamatan umat manusia di dunia ini. Tidak ada tanda yang lain yang diberikan oleh Allah kepada kita, hanya lewat salib maka kita akan diselamatkan. Oleh karena bagi para kaum non Katolik, aku menyeruhkan kepada kalian semua, bahwa Yesuslah satu-satunya jalan keselamatan itu. Anda semua tidak dapat jalan kesitu kalau tidak melalui firman yang ajarkan oleh Anaknya yang Tunggal.

    • Shalom Aquilino,
      Meskipun kita meyakini Allah Tritunggal, dan bahwa Yesus Allah Putera telah menjadi manusia untuk menebus dosa manusia melalui korban salib-Nya, namun kita tidak bisa memaksakan iman ini kepada orang lain. Yang bisa kita lakukan adalah kita menyampaikan kebenaran iman kita ini dengan kasih, dan selanjutnya kita menyerahkan segala sesuatunya kepada Tuhan. Sebab Tuhan Yesus-pun, pada masa hidup-Nya di dunia tidak pernah mengharuskan/ memaksa siapapun untuk percaya kepada-Nya. Ia memang mengajarkan kepada para muridNya untuk percaya kepada-Nya, dan bahwa Ia ada di dalam Bapa dan Bapa di dalam Dia (Yoh 14:11), namun Ia tidak pernah memaksa. Yesus adalah teladan kita dalam kelemahlembutan dan kerendahan hati (Mat 11:29), sehingga sikap inilah yang harus ada pada kita, jika kita mau sungguh menjadi murid-Nya. Jadi walaupun kita mengetahui dan mengimani kebenaran itu, kita tidak dapat memaksakannya kepada orang lain. Yang dapat kita lakukan adalah kita berdoa kepada Tuhan untuk pertobatan ataupun untuk keterbukaan orang lain untuk menerima kebenaran Sabda Tuhan; namun soal ‘mengubah hati’ orang lain itu adalah karya Roh Kudus. Jika sudah menjadi kehendak-Nya, Tuhan akan membawa orang itu untuk menerima kepenuhan kebenaran yang kita yakini berada di dalam Gereja Katolik.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  3. BM. Wahyu Hajar on

    Shalom Bpk Stefanus Tay !
    Pertama-tama saya sangat berterimakasih atas artikel “Orang Buta Yang Menjadi Pewarta”, karena artikel ini sekaligus menjadi jawaban atas pertanyaan saya tentang Yohanes 9 : 1 – 41. Dan dengan adanya artikel ini saya mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang tafsir dari teks ini, Dan seperti yang sudah-sudah, saya akan bagikan artikel ini kepada para katekis volunter ( katekis non akademis) yang ada di paroki kami,
    Sekali lagi terimakasih, Tuhan memberkati saudara berdua !

  4. adnilem Sg on

    Shalom bpk Stef , ibu Ingrid dengan katolisitas.org

    Saya ada sedikit pertanyaan, dimana ada teman saya (laki2) yang sudah berumah tangga, sejak berpindah ke salah satu denominasi dimana sikap kehidupannya berubah sbb :
    – Hampir semua waktunya diberikan untuk belajar injil dan mengikuti kegiatan2 gerejanya sehingga hampir dikatakan dia tidak mempunyai waktu untuk istri dan anak2nya.-
    – Hampir setiap pengeluaran uangnya diberikan pada penatua gerejanya yang dikatakan untuk kegiatan kasih untuk sesama sehingga kebutuhan keluarganya sendiri boleh dikatakan tidak dia laksanakan sesuai kewajibannya sebagai suami.-
    – Kalau kia beritahukan kepadanya dan jawabannya selalu mengatakan : bukankah kita harus selalu mengutamakan Tuhan, Allah (sambil mengutip ayat2 KS yg sudah saya lupa) ?
    – Terus terang , hal tersebut membuat saya agak terpukul karna bisa menjadi batu sandungan terhadap saya dimana orang tua dan saudara istri saya bisa mencela : begitukah sikap/perbuatan/tingkah laku seorang kristen..yang sudah berumah tangga…????

    Mohon petunjuk bpk Stef , bagaimana pandangan dan sikap yang seharusnya dilakukan oleh seorang yang sudah berumah tangga(sebagai kepala keluarga) menurut ajaran Katolik ?
    Sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih.-

    Salam kasih, Tuhan memberkati
    adnilem Sg

    • Shalom Adnilem,

      Terima kasih atas pertanyaannya tentang hubungan antara kegiatan gereja dan keluarga. Untuk menyikapi hal ini, sebenarnya orang tersebut harus mempunyai kebijaksanaan (prudence). Dikatakan di dalam Katekismus Gereja Katolik

      “Kebijaksanaan (dalam hal ini adalah prudence – bukan wisdom) adalah kebajikan yang membuat budi praktis rela, supaya dalam tiap situasi mengerti kebaikan yang benar dan memilih sarana yang tepat untuk mencapainya. “Orang yang bijak memperhatikan langkahnya” (Ams 14:15). “Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa” (1 Ptr 4:7). “Kebijaksanaan ialah akal budi benar sebagai dasar untuk bertindak”, demikian santo Tomas menulis (s.th. 2-2,47,2,sc) mengikuti Aristoteles. Ia tidak mempunyai hubungan dengan rasa malu atau rasa takut, dengan lidah bercabang atau berpura-pura. Orang menamakan dia “auriga virtutum” [pengemudi kebajikan]; ia mengemudikan kebajikan lain, karena ia memberi kepada mereka peraturan dan ukuran. Kebijaksanaan langsung mengatur keputusan hati nurani. Manusia bijak menentukan dan mengatur tingkah lakunya sesuai dengan keputusan ini. Berkat kebajikan ini kita menerapkan prinsip-prinsip moral tanpa keliru atas situasi tertentu dan mengatasi keragu-raguan tentang yang baik yang harus dilakukan dan yang buruk yang harus dielakkan.” (KGK, 1806)

      Oleh karena itu, secara prinsip prudence membuat seseorang dapat berlaku dalam situasi tertentu dengan bijaksana, memilih cara yang tepat untuk mencapai tujuan. Dalam kasus ini, tujuannya adalah untuk melayani Tuhan, dimana tujuan paling akhir adalah memuliakan Tuhan dan bersatu dengan Tuhan di dalam kerajaan Sorga. Dan ini adalah tujuan yang mulia, yang kita semua setuju. Namun apakah caranya baik? Mari sekarang kita membahas caranya.

      1) Waktu dipakai untuk belajar injil dan mengikuti kegiatan gereja, dan tidak mempunyai waktu untuk anak dan istri. Disinilah kita harus mengembalikan kepada tujuan semula, yaitu untuk melayani Tuhan sehingga dapat memberikan kemuliaan bagi nama Tuhan. Kalau Tuhan telah mempercayakan anak dan istri sebagai orang-orang terdekat, maka yang perlu ditanyakan adalah “Bagaimanakah cara terbaik untuk mengasihi mereka?” Apakah dengan melakukan pelayanan sampai tidak mempunyai waktu akan membuat anak dan istri merasa dikasihi dan membawa mereka untuk lebih dekat kepada Tuhan? Pelayanan (dalam hal ini apostolate bukan ministry) kepada orang-orang tidak boleh sampai mengabaikan anggota keluarga. Jangan sampai, karena anak-anak dan istri kurang mendapatkan perhatian, sehingga keluarga menjadi berantakan, anak-anak menjadi terlantar dan tidak bertumbuh dalam iman. Dan pada akhirnya akan menjadi batu sandungan.

      Dikatakan bahwa “Karena itu penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu isteri, dapat menahan diri, bijaksana, sopan, suka memberi tumpangan, cakap mengajar orang, bukan peminum, bukan pemarah melainkan peramah, pendamai, bukan hamba uang, seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya. Jikalau seorang tidak tahu mengepalai keluarganya sendiri, bagaimanakah ia dapat mengurus Jemaat Allah?” (1 Tim 3:2-5)

      Kita tidak tahu keadaan keluarga mereka secara persis, apakah mereka dalam keluarga pernah berbicara tentang hal ini secara terbuka atau tidak. Semoga mereka telah membicarakannya, sehingga ada saling pengertian di antara mereka.

      2) Hampir seluruh penghasilan diberikan kepada penatua Gereja. Dari sisi positif, kita harus melihat bahwa dia orang yang murah hati, sehingga dia mau membagikan penghasilannya kepada banyak orang. Yang kita tidak tahu secara persis, apakah urusan keuangan ini telah dibicarakan secara terbuka dalam keluarga mereka. Perkataan “cukup” adalah relatif. Kalau memang mereka telah berunding secara terbuka, dan kebutuhan primer dan sebagian kebutuhan sekunder telah tercukupi, dan keluarga tersebut (anak, istri, suami) dapat menerima, serta memberi dengan kerelaan hati, saya rasa itu adalah hal yang baik. Akhirnya, pemberian tersebut bukan hanya dari suami, tetapi juga pemberiaan dari anak-anak dan istri, karena mereka turut menyetujui dan mendukung. Namun, kalau sampai dia tidak melaksanakan kewajibannya sebagai suami untuk “mencukupi” kebutuhan anak-anak dan istri – padahal dia mampu melakukannya – , maka tindakan ini menjadi kurang bijaksana.

      3) Mengutamakan Tuhan. Memang kita harus mengutamakan Tuhan, karena kasih kita kepada sesama harus berdasarkan kasih kita kepada Tuhan. Dan kasih kepada Tuhan dan sesama tidaklah saling bertentangan. Kalau bertentangan, mungkin kasih kepada Tuhan yang dilakukan, sebenarnya bukanlah kasih yang benar, namun dapat menjadi suatu pelarian. Orang tersebut harus membawa hal ini di dalam doa, sehingga Roh Kudus dapat menerangi hatinya. Dan kita juga dapat membantunya di dalam doa.

      4) Batu sandungan. Memang sebagai orang Kristen, kita harus benar-benar dapat melaksanakan apa yang diajarkan Kristus dengan baik dan tidak boleh menjadi batu sandungan. Kalau saudara-saudara Adnilem mengatakan bahwa itu adalah contoh yang tidak baik? Maka kita harus mencoba untuk menerangkan apa yang sebenarnya diajarkan oleh Kristus. Namun di satu sisi, kita juga harus melihat realitas bahwa memang ada umat Kristen yang tidak melaksanakan ajaran Kristus. Dan ini menjadi tantangan bagi kita semua, termasuk saya sendiri. Namun kita juga harus menerangkan, bahwa orang-orang yang menjadi batu sandungan memang bukanlah contoh yang baik. Tunjukkan beberapa contoh keluarga-keluarga terdekat, tetangga, yang benar-benar melaksanakan perintah Kristus, atau menjadi umat Katolik yang baik. Tunjukan juga kehidupan para kudus, putera-puteri Gereja yang benar-benar menjalankan apa yang diperintahkan oleh Kristus. Kesimpulannya, kalau mau melihat ajaran Kristus yang benar, bukan dilihat dari orang-orang yang kurang dapat menjalankan perintah Kristus dengan benar, namun lihatlah pada orang-orang yang memang menjalankan perintah Kristus dengan benar. Secara obyektif, ada begitu banyak pengikut agama lain yang juga tidak menjalankan agamanya dengan baik dan menjadi batu sandungan.

      Di satu sisi, keadaan ini harus memicu Adnilem untuk dapat menjadi saksi Kristus yang baik, menjadi contoh umat Katolik yang baik, sehingga mereka secara tidak langsung juga dapat melihatnya di dalam diri Adnilem. Untuk itu, mintalah kepada Tuhan untuk terus memberikan inspirasi Roh Kudus, sehingga Adnilem dapat bertindak dengan bijaksana.

      Jadi, pada akhirnya, sikap yang harus dilakukan oleh seseorang suami adalah untuk meniru apa yang dilakukan oleh Yesus. Dan rasul Paulus mengatakan “23.karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. 28.Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri.” (Ef 5:23, 28). Dan untuk anak-anak “bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.” (Ef 6:4). Jadi secara prinsip, seorang suami harus menjadi imam di dalam keluarga, sehingga dapat membawa anggota keluarga di dalam kekudusan.

      Prinsip membawa anggota kepada kekudusan, dapat menjadi pedoman praktis, misalkan, dengan terlalu aktif di gereja sampai tidak mempunyai waktu buat keluarga, apakah dapat membawa keluarga dalam kekudusan? Atau, dengan memberikan terlalu banyak kebutuhan yang terlalu berlimpah kepada keluarga, apakah membawa mereka kepada kekudusan? dll.

      Semoga uraian ini dapat membantu Adnilem.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

  5. BM. Wahyu Hajar on

    Shalom Ibu Ingrid dan Bpk. Stef ! Saat ini saya sedang membaca Injil Yohanes 9 : 1-41, tentang “Orang Buta yang sejak lahirnya”. Terus terang bagi saya yang menarik dari teks ini adalah : Dinamika ( perkembangan ) pemahaman orang buta tersebut atas diri / Pribadi Yesus. Dari belum kenal Yesus ( lihat ayat 11 ) lalu setelah itu menyebutnya nabi ( ayat 17 ) lalu terakhir dia menyebutnya Tuhan ( ayat 38 ). Di samping itu keberanian si buta yang telah disembuhkan ini dalam “menantang” orang farisi yang mencecarnya sungguh mengagumkan (ayat ayat 24 – 30).
    Berkaitan dengan teks tersebut beserta dinamikanya, bisakah saya mendapat penjelasan lebih gamblang tentang latar belakang penulisan teks dan pesan – pesan yang mau disampaikan oleh penginjil dalam teks tersebut ? Apakah tepat bila teks ini digunakan sebagai model perkembangan orang yang belum beriman menjadi orang yang berani memberi kesaksian iman ?
    Terimakasih. Tuhan memberkati saudara berdua !

    [dari katolisitas: silakan melihat artikel di atas – silakan klik]