Apakah Injil dipalsukan Paulus?

13

Mungkin kita sering mendengar tuduhan dari saudara kita non-Kristen yang mengatakan bahwa Injil telah dipalsukan. Pertama-tama, jika kita mendengar ada tuduhan-tuduhan seperti itu, janganlah kita terlalu cepat emosi namun sebaliknya juga jangan mudah goyah. Silakan tanyakan sumbernya dari mana rumor itu berasal, dan silakan pula mempelajari dari fakta yang obyektif yang dapat kita peroleh mengenai Kitab Suci (dalam hal ini Injil yang menjadi bagian dari Kitab Perjanjian Baru), sehingga kita dapat semakin memahami duduk masalahnya.

Mari bersama kita melihat fakta-fakta obyektif yang mendukung ke-aslian Injil tersebut:

1. Kesaksian para Bapa Gereja mengenai penulisan kitab Injil memberikan kredibilitas atas ke-otentikan Injil. Menurut kesaksian St. Irenaeus (180 AD), yang menjadi murid dari St. Polycarpus, yang adalah murid Rasul Yohanes, dan murid St. Ignatius Martir yang adalah murid langsung dari Rasul Petrus dan Rasul Yohanes. Dengan demikian, kesaksian St. Irenaeus menjadi sangat penting tentang para penulis Injil. Dalam bukunya yang terkenal Against the Heresies, Buku III, bab 1,1 ia menggarisbawahi asal usul apostolik dari kitab Injil,

“Kita telah mengetahui bukan dari siapapun tentang rencana keselamatan kita kecuali dari mereka yang melaluinya Injil telah diturunkan kepada kita, yang pada suatu saat mereka ajarkan di hadapan publik, dan yang kemudian, sesuai dengan kehendak Tuhan, diturunkan kepada kita di dalam Kitab Suci, untuk menjadi dasar dan tonggak dari iman kita…. Sebab setelah Tuhan kita bangkit dari mati [para rasul]diberikan kuasa dari atas, ketika Roh Kudus turun [atas mereka]dan dipenuhi oleh semua karunia-Nya, dan mempunyai pengetahuan yang sempurna: mereka berangkat menuju ujung-ujung bumi, mengajarkan kabar gembira yang diberikan oleh Tuhan kepada kita…. Matius... menuliskan Injil untuk diterbitkan di antara orang Yahudi di dalam bahasa mereka, sementara Petrus dan Paulus berkhotbah dan mendirikan Gereja di Roma…. Markus, murid dan penerjemah Petrus, juga memmeneruskan kepada kita secara tertulis, apa yang biasanya dikhotbahkan oleh Petrus. Dan Lukas, rekan sekerja Paulus, juga menyusun Injil yang biasanya dikhotbahkan Paulus. Selanjutnya, Yohanes, murid Tuhan Yesus ….juga menyusun Injil ketika tinggal di Efesus, Asia Minor.”

Hal serupa dituliskan juga oleh Origen (185-254) tentang asal usul Injil, dalam In Matthew. I apud Eusebius, His eccl 6.25.3-6:

“[Injil] yang pertama dituliskan oleh Matius, yang adalah seorang publikan tetapi kemudian menjadi rasul Yesus Kristus, yang menerbitkannya untuk umat Yahudi, dituliskan dalam bahasa Ibrani. [Injil] kedua oleh Markus, yang disusun di bawah bimbingan St. Petrus, yang telah mengangkatnya sebagai anak… (1 Pet 5:13). Dan ketiga, menurut Lukas, yang menyusunnya untuk umat non-Yahudi, Injil yang dibawakan oleh Rasul Paulus; dan setelah semuanya itu, [Injil] menurut Yohanes.

Dari kesaksian para Bapa Gereja, yaitu Papias, St. Irenaeus, Origen, Eusebius dan St. Jerome, kita mengetahui bahwa St. Matius menuliskan Injilnya untuk umat Yahudi agar mereka dapat bertobat dan mempercayai Kristus sebagai Anak Daud yang telah dinubuatkan dalam Perjanjian Lama. Para ahli sejarah seperti Eusebius, Theophylact, Euthymius dan Nicephorus memperkirakan bahwa  Injil pertama ini dituliskan sekitar 8-15 tahun setelah kenaikan Kristus ke surga (antara 38-45 AD).

Berikutnya Injil dituliskan oleh Markus dan Lukas yang diperkirakan dituliskan pada jangka waktu yang hampir sama (64-67) dan Yohanes (90-100), dan dari ketiga penulis ini yang memiliki hubungan dengan Rasul Paulus adalah Lukas. Namun demikian, tidak dapat dikatakan bahwa Paulus memalsukan Injil, karena:

1) Banyaknya saksi yang telah menerima pengajaran dari Injil lainnya (Matius dan Markus), sehingga apa yang dituliskan dalam Injil Lukas (rekan kerja Paulus) justru malah dapat dicek kebenarannya.

2) Sebab, kalau benar dipalsukan, pasti akan ada bukti tertulis juga yang menolak pemalsuan tersebut, mengingat para saksi mata yang menerima pengajaran Yesus maupun para rasul masih hidup. Namun fakta sejarah menunjukkan tak ada satupun tulisan pada jaman itu yang menentang kebenaran Injil, terutama tentang ke-Allahan Yesus dan mukjizat kebangkitan-Nya dari mati. Protes atau ketidakpercayaan akan ke-Allahan dan kebangkitan Yesus baru timbul pada abad-abad berikutnya, yang terkenal misalnya Arianism pada sekitar tahun 320, pada saat generasi para saksi hidup kebangkitan Yesus yang terdiri lebih dari 500 orang itu sudah tidak ada yang hidup. Atau bahkan tulisan jaman sekarang yang menentang kebangkitan Kristus; alibinya hanya berdasarkan hipotesa, karena terpisah jauh [dan tak terseberangi]dengan para saksi dan keadaan yang sesungguhnya.

Suatu kenyataan bahwa suatu legenda tidak mungkin ditulis pada saat saksi mata masih hidup, karena mereka yang menjadi saksi akan dengan mudah mengkoreksi dan menyampaikan hal yang sesungguhnya. Maka Rasul Paulus juga tidak mungkin mengubah isi Injil, karena masih banyaknya saksi hidup tentang pemberitaan Injil tersebut, seperti dikatakannya sendiri dalam 1 Kor 15:6. Justru, karena Injil ini dituliskan oleh orang-orang yang berbeda, di tempat berbeda, namun secara garis besar menceritakan hal yang sama tentang Kristus dan ajaran-Nya, maka kita dapat melihat karya Roh Kudus yang memimpin mereka dalam menuliskan wahyu ilahi tersebut.

2) Sekarang, mari kita melihat, apakah Injil dalam kitab Perjanjian Baru tersebut adalah sungguh dari Allah atau hanya rekayasa manusia.

Pertama, bagaimana kita melihat suatu karya tulis merupakan dokumen sejarah yang otentik?
a. Kita harus menemukan jangka waktu dari ketika kejadian itu ada/ ketika karya itu dituliskan sampai ketika manuskrip pertama ditemukan. Semakin pendek jangka waktunya, maka semakin sedikit kemungkinan kesalahan dan korupsi dari kisah kejadian yang sesungguhnya oleh kesalahan penulisan.

b. Kita harus menemukan berapa banyak manuskrip original yang ada. Semakin banyak manuskrip yang ada tentang kisah kejadian yang sama, terutama jika dilakukan pada waktu yang sama, tetapi pada lokasi yang berbeda, maka akan menambah nilai integritas dan ke-otentikan dokumen.

Sekarang mari kita lihat melihat fakta karya tulis yang penting dalam literatur sejarah:

Karya tulis Kapan ditulis Copy pertama Jangka waktu Jumlah copy
Herodotus 488-428 BC 900 AD 1,300 8
Thucydides 100 AD 1100 1,000 20
Caesar’s Gallic War 58-50 BC 900 AD 950 9-10
Roman History 59 BC-17 AD 900 AD 900 20
Homer (Iliad) 900 BC 400 BC 500 643
Injil dan PB 38-100 AD 130 AD 30-50 5000 ++ Yunani
10,000 Latin, 9,300 bhs lain

Maka kita melihat bahwa dokumen tentang sejarah Romawi ditemukan sekitar 900 tahun atau hampir 1 millenium setelah kejadian terjadi, dan hanya ada 20 copy yang masih eksis. Sedangkan, manuskrip Injil ditemukan sekitar 30 tahun setelah kejadian, dan bahwa terdapat 5000 manuskrip asli dalam bahasa Yunani (dan sekitar 20,000 non-Yunani) yang eksis. Kitab Injil dan Perjanjian Baru yang asli seluruhnya dituliskan dalam bahasa Yunani, karena bahasa Yunani pada saat itu merupakan bahasa yang umum dipakai, bahkan oleh kaum Yahudi. Banyaknya manuskrip Yunani yang asli tersebut dapat membantu mengidentifikasi adanya kelainan teks dan dengan demikian dapat diketahui teks aslinya. Banyaknya teks asli Perjanjian Baru juga tidak mendukung perkiraan bahwa teks tersebut dipalsukan. Dengan melihat tabel di atas, secara obyektif kita melihat bahwa karya tulis sejarah Romawi bahkan terlihat sangat ‘minim’ jika dibandingkan dengan Injil, dari segi ke-otentikannya, akurasi dan integritasnya. Padahal orang jaman sekarang tidak mempunyai kesulitan untuk menerima sejarah Romawi tersebut sebagai kebenaran. Suatu permenungan adalah bagaimana Injil yang secara obyektif lebih ‘meyakinkan’ keasliannya dibandingkan sejaran Romawi malah mengundang perdebatan.

Keaslian Injil  juga kita ketahui dari tulisan Bapa Gereja, seperti St. Klemens (95) sudah mengutip ayat-ayat Injil, berarti pada saat itu Injil sudah dituliskan, demikian pula Kisah para rasul, Roma, 1 Korintus, Efesus, Titus, Ibrani dan 1 Petrus. Demikian St. Ignatius (115) telah mengutip ayat Injil Matius, Yohanes, Roma, 1dan 2 Korintus, Galatia, Efesus, Filipi, 1 & 2 Timotius dan Titus.

Dari banyaknya manuskrip asli tersebut, maka memang banyak orang menyangka bahwa akan terdapat banyak perbedaan-perbedaan teks. Namun ternyata, fakta menunjukkan tidak demikian. Tingkat kesesuaian manuskrip Perjanjian Baru adalah 99.5 % (dibandingkan dengan Iliad 95%). Kebanyakan perbedaan adalah dari segi ejaan dan urutan kata. Tidak ada perbedaan yang menyangkut doktrin yang penting yang dapat mengubah doktrin Kristiani.

3) Sebenarnya, tuduhan Rasul Paulus yang memalsukan Injil adalah spekulasi kaum skeptik jaman sekarang, seperti Bart Erhman dalam bukunya Misquoting Jesus,  atau para tokoh liberal dalam the Jesus Seminar, dan mungkin juga kaum skeptik lainnya yang tidak mempercayai keliahian pesan Injil.  Namun sesungguhnya jika mereka mau melihat kepada fakta objektif tentang keberadaan lebih dari 5000 teks asli Yunani Perjanjian Baru, maka sudah selayaknya mereka dapat melihat, bahwa sesungguhnya tidak benar bahwa  Injil  tidak mempunyai teks asli dan hanya merupakan buatan orang-orang tertentu dan merupakan hasil ‘copy’ dari ‘copy’ yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Meskipun memang terdapat perbedaan teks karena faktor penyalinan yang dilakukan oleh para rahib pada jaman itu, namun perbedaan itu tidak mengandung perubahan ataupun penambahan pernyataan doktrinal. Kanon Kitab Perjanjian Baru (termasuk Injil) telah diterima oleh jemaat awal, yang nyata sejak abad awal abad ke-2. Dan penerimaan secara berkesinambungan pada abad-abad sesudahnya sendiri merupakan bukti yang tak terhapuskan tentang keaslian Injil. Hal ini tidak bisa dihapuskan oleh pandangan seseorang atau sekelompok orang yang ingin membatalkan keseluruhan fakta sejarah, tanpa melihat dengan obyektif betapa kuatnya fakta yang sudah ada tersebut.

4) Ada juga orang-orang yang membandingkan Injil dengan suatu karya tulis lainnya yang dituliskan oleh seorang penulis pada suatu waktu tertentu, atau karya tulis yang pernah mengalami suatu standarisasi. Namun, kita ketahui Injil tidak disusun oleh satu orang, dan tidak ada proses standarisasi yang dibuat oleh satu orang yang dapat dikatakan sebagai penulis ataupun penyalin utama Alkitab. Hal ini seharusnya malah menambah kredibilitas Alkitab, karena meskipun melibatkan jangka waktu ribuan tahun dan banyak orang untuk menuliskannya (tentu atas ilham Roh Kudus) namun dapat menyampaikan isi yang kurang lebih sama, saling mendukung dan melengkapi, dengan tingkat akurasi yang masih tetap sangat tinggi. Sedangkan, jika suatu karya tulis merupakan karya satu orang pada suatu saat tertentu, atau pernah distandarkan oleh satu orang, maka tidak ada yang mengherankan jika karya tersebut konsisten, dan tidak mengandung kesalahan.

Alkitab sendiri yang terdiri dari Perjanjian Lama dan Baru melibatkan sekitar 2000 tahun penyusunan. Sebelum penemuan penemuan Dead Sea Scroll (1947-1956), teks Perjanjian Lama yang tertua adalah teks Masoretik yang disusun sekitar tahun 800, sedangkan teks Septuagint (terjemahan Yunani dari Perjanjian Lama) dibuat sekitar abad ke-2 sebelum Masehi. Maka perbandingan antara teks-teks ini yang berselang antara 800-1000 tahun malah memberikan fakta yang sangat kuat, karena ternyata teks-teks tersebut 95% identik, dan hanya mempunyai variasi yang minor, dan hanya sedikit ketidakcocokan. Sedangkan ke-otentikan Perjanjian Baru dapat dilihat jika dibandingkan dengan karya tulis bersejarah lainnya pada jaman itu, seperti terlihat dalam tabel di atas.

Share.

About Author

Stefanus Tay, MTS dan Ingrid Listiati, MTS adalah pasangan suami istri awam dan telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

13 Comments

  1. Shalom tim katolisitas,
    dari penjelasan tim katolisitas mengenai waktu penulisan injil, kita tahu bahwa injil yang pertama dituliskan adalah injil Matius kemudian diikuti oleh Markus, Lukas dan terakhir Injil Yohanes. Saya pernah membaca buku berjudul “The Da Vinci Code dan Tradisi Gereja” terbitan Kanisius yang ditulis oleh Nancy de Flon dan John Vidmar, OP. Di sini dikatakan bahwa kita tidak pernah benar-benar tahu dengan pasti siapa penulis asli dari injil-injil kanonik tersebut (p. 38), karena saat itu banyak penulis menyamarkan namanya. kemudian dikatakan bahwa menurut para ahli, injil yang pertama kali ditulis ialah injil Markus sekitar tahun 60-an M di Roma (p.39) kemudian Matius (80-90 M), Lukas (90) dan Yohanes (100). Tentang injil Yohanes sendiri di buku ini dikatakan, “dalam bentuknya yang sekarang, Injil Yohanes merupakan hasil karya bukan dari satu orang saja, tetapi karya dari suatu kelompok orang-orang Kristen awal yang dikenal sebagai jemaat Yohanes.”
    Pertanyaan saya ialah:
    1. Benarkah pernyataan di atas?karena saya membaca artikel tim katolisitas di atas dan menemukan sedikit perbedaan dengan jawaban yang diberikan dalam buku tersebut mengenai keaslian penulis dan tahun penulisan injil
    2. Selain itu dikatakan pula bahwa injil Matius bersumber dari injil Markus dan sumber “Q”. Apakah sumber Q ini benar-benar ada?
    Terima kasih sebelumnya tim katolisitas dan mohon pencerahannya.. :)

    • Shalom Kefas,

      Silakan membaca terlebih dahulu artikel Injil pertama: Injil Matius atau Markus?, silakan klik. Adanya sumber “Q” merupakan suatu hipotesa, yang umum diajarkan oleh para ahli Kitab Suci non-Katolik. Mereka memperkirakan adanya sumber lain yang menjadi sumber utama penulisan Injil Markus, sebab mereka menolak Tradisi Gereja Katolik yang menyatakan bahwa Injil Matius adalah Injil yang pertama kali ditulis. Sebab Injil Matius tersebut adalah Injil yang dengan jelas mengajarkan tentang keutamaan Rasul Petrus (lih. Mat 16:18-19), ajaran untuk mengejar kekudusan/ kesempurnaan dan kemartiran (Mat 5) dan ajaran tentang kehadiran Kristus yang nyata dalam Ekaristi (lih. Mat 26:26-29), dan bagaimana perkataan konsekrasi dalam perayaan Ekaristi jemaat perdana adalah bersumber dari apa yang diajarkan secara literal dalam Injil Matius ini (dan Injil Lukas).

      Sedangkan tentang otentisitas Injil Yohanes, silakan membaca artikel ini, silakan klik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  2. Bimomartens on

    Shalom Bapak/Ibu Tay,

    Saya cuma numpang lewat sambil memberi sedikit koreksi:
    ‘quote’
    katolisitas wrote : “… Injil] kedua oleh Markus, yang disusun di bawah bimbingan St. Petrus, yang telah mengangkatnya sebagai anak… (1 Pet 5:17). …”

    Saking semangatnya mungkin Bapak/Ibu Tay menulis “(1 Pet 5:17)”, padahal 1 Pet 5 hanya sampai ayat 14. Dan mungkin ayat 17 yang dimaksud mengenai Markus sebagai anak St. Petrus ada di ayat 13. ^__^

    Tanggapan pribadi tentang pemalsuan Injil ini, tidak terlalu saya pusingkan.
    Karena menurut kitab suci saudara non-kristen, disebutkan bahwa yang disalibkan bukanlah Isa AS, tetapi orang lain yang diserupakan dengan Isa AS, dan Isa AS sudah diselamatkan Allah SWT ke surga. Saya sempat ‘melongo’ membaca kesaksian yang baru keluar 5 abad lebih setelah menyaliban Kristus ini. Dalam pikiran saya, artinya Allah abadi yang suci telah melakukan penipuan terhadap umatnya sendiri dengan menduplikasi Isa AS. Kalau memang benar demikian, buat apa Allah menurunkan para nabi sebelum Kristus dengan segala nubuatnya, untuk acara show ‘run & rescue’? Astagaaa …

    Kok malah jadi ngelantur, wong maksud saya tadi cuma mau sedikit koreksi. Mohon maaf jika ada kata-kata saya yang menyinggung. Terima kasih sudah mau membaca surat saya diwaktu sibuk anda.

    Berkah dalem.

    [Dari Katolisitas: Terima kasih atas koreksi Anda. Ya, terlalu semangat jadi salah mengetik, harusnya memang 1 Pet 5:13. Sudah kami perbaiki di artikel di atas. Sekali lagi, terima kasih.]

  3. Dear,http://katolisitas.org
    Saya Mendapat pertanyaan ini dari saudara kita NonKristen
    si Paulus ini TIDAK BECUS bahasa Ibrani….nih data nya..

    link to wiki.answers.com

    Best Answer
    A:
    Paul’s first language was Greek. Paul was born in Tarsus, in modern day Turkey, at the eastern end of the Mediterranean Sea. From Greece eastward, the people in the lands around the eastern Mediterranean spoke Greek, usually as a first language, but certainly as second. In all the provinces, Greek was the language of governance and trade. In Galatians, Paul described how he visited Jerusalem to speak to the members of the Jerusalem Church, including James and Peter. The story also appears in Acts.
    In Palestine itself, there were three main languages in use. Greek was the language of the Roman Empire and so anyone who spoke to the government or who engaged in trade would speak Greek. During the centuries in which Greek entered Palestine, from about 330 BC onwards, the main Jewish language was Aramaic which had been learned during the Babylonian Exile. Starting in the Exile, Hebrew had been relegated to a liturgical language. So it is probable that when Paul visited Jerusalem, he spoke Greek to the members of the Church. Also, Paul’s discussion of the “Law,” nomos, in Romans assumes the standard Greek meaning of the word. His theological explanation is not based on the Hebrew word Torah which is what nomos translates in the Greek Septuagint.

    We have no record of any manuscript written by Paul in Hebrew or Aramaic.

    Apakah Tanggapan http://katolisitas.org?
    Semoga Jawabanya dapat berguna

    • Shalom Bonifacius,

      Saya tidak tahu mengapa ada orang yang menyimpulkan dari kutipan itu, bahwa Rasul Paulus tidak becus dalam bahasa Ibrani.  Rasul Paulus adalah orang Yahudi, ia seorang Farisi yang mengenyam pendidikan yang tinggi secara Yahudi, dan menguasai hukum-hukum Taurat, sebagaimana dikatakannya sendiri (lih. Flp 3:4-6).

      Silakan membaca di sini tentang latar belakang Rasul Paulus, silakan klik.

      Bahwa Rasul Paulus tidak menulis dalam bahasa Ibrani atau Aram, itu tidak membuktikan bahwa ia tidak becus dalam bahasa Ibrani. Ia menulis surat-suratnya dalam bahasa Yunani, sebab memang adalah perutusan Rasul Paulus untuk memberitakan Injil baik kepada orang Yahudi maupun non Yahudi, namun terutama kepada bangsa-bangsa lain non- Yahudi, sebagaimana dikehendaki oleh Tuhan Yesus sendiri (lih. Kis 9:15, 22:21).

      Selanjutnya, tidak benar bahwa jika Rasul Paulus menyebutkan kata “hukum” (Law) itu mengacu kepada pengertian standar tentang hukum menurut pengertian Yunani. Yang dimaksud Rasul Paulus dalam istilah “works of the Law“/ “melakukan hukum Taurat” adalah perbuatan-perbuatan yang diperintahkan oleh hukum-hukum Taurat, dan bukan hukum-hukum yang lain.

      Agaknya jika kita membaca suatu informasi, perlu kita melihat pula, siapa yang mengatakannya, atau dari manakah sumbernya. Sebab setiap orang dapat mengemukakan pendapatnya, tetapi belum tentu pendapat itu kredibel dan benar secara obyektif.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org.

       

  4. Pertanyaan
    1. Saudara Islam kita senantiasa mengatakan bahawa Alkitab yang dimiliki oleh Gereja Katolik (Kristian) telah diubah-ubah..apakah benar dan yang mana satu? Setahu saya mereka (Islam) selalu merujuk kepada Injil Barnabas.

    2. Klaim orang Islam bahawa telah ada disebut dalam Perjanjian Lama mengenai kedatangan Nabi Muhammad..

    • Shalom Adrian,
      1. Kitab Suci Kristiani tidak pernah diubah ataupun melalui proses standarisasi. Memang ada orang- orang yang menduga bahwa Kitab Suci Kristiani telah diubah, ataupun menyangka Rasul Pauluslah yang mengubah Kitab Suci. Tentu dugaan ini tidak benar, dan ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

      Lalu rujukan ke injil Barnabas juga adalah suatu langkah yang keliru, karena injil Barnabas malahan merupakan injil yang baru ditulis sekitar abad ke-16, sehingga malah tidak dapat dijamin keotentikan dari apa yang dituliskan di sana, karena injil itu ditulis saat para saksi mata sudah tidak ada. Silakan membaca tentang injil Barnabas ini, silakan klik; dan juga di jawaban ini, silakan klik. Ini berlainan dengan Injil; Injil yang pertama, Injil Matius (sekitar tahun 50 AD), Lukas dan Markus (sekitar 62-68 AD) dan Yohanes (90 AD) dituliskan pada saat banyak saksi mata masih hidup, yaitu para saksi karya pelayanan, wafat dan kebangkitan Kristus; sehingga apa yang ditulis dapat dibuktikan keotentikannya, sebab jika yang ditulis tidak sesuai dengan yang mereka lihat/ alami, tentulah ada banyak tulisan yang menyanggahnya; dan faktanya, tidak ada tulisan yang menyanggah kebenaran Injil pada jaman Injil tersebut dituliskan.

      2. Nubuat yang tercatat dalam Perjanjian Lama mengacu dan berpuncak kepada kedatangan Kristus, dan bukan kepada nabi yang lain. Tentang nubuatan ini pernah ditulis di artikel ini, silakan klik. Memang ada orang- orang yang menganggap bahwa Muhammad adalah Elia yang dinubuatkan dalam Kitab Maleakhi; namun Elia yang dimaksud di sini adalah Yohanes Pembaptis (lih. Mat 17:11-13), seperti pernah dibahas di sini, silakan klik.

      Rasul Paulus mengajarkan bahwa tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus (1 Kor 3:11). Dari sini kita ketahui bahwa tidak ada nabi lain yang dapat mengajarkan dasar ajaran iman selain dari Kristus. Oleh karena itu, Katekismus Gereja Katolik mengajarkan demikian:

      KGK 65    “Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan Anak-Nya” (Ibr 1:1-2). Kristus, Putera Allah yang menjadi manusia, adalah Sabda Bapa yang tunggal, yang sempurna, yang tidak ada taranya. Dalam Dia Allah mengatakan segala-galanya, dan tidak akan ada perkataan lain lagi. Hal ini ditegaskan dengan jelas oleh santo Yohanes dari Salib dalam uraiannya mengenai Ibrani 1:1-2:
      Sejak Ia menganugerahkan kepada kita Anak-Nya, yang adalah Sabda-Nya, Allah tidak memberikan kepada kita sabda yang lain lagi. Ia sudah mengatakan segala sesuatu dalam Sabda yang satu itu… Karena yang Ia sampaikan dahulu kepada para nabi secara sepotong-sepotong, sekarang ini Ia sampaikan dengan utuh, waktu Ia memberikan kita seluruhnya yaitu Anak-Nya. Maka barang siapa sekarang ini masih ingin menanyakan kepada-Nya atau menghendaki dari-Nya penglihatan atau wahyu, ia tidak hanya bertindak tidak bijaksana, tetapi ia malahan mempermalukan Allah; karena ia tidak mengarahkan matanya hanya kepada Kristus sendiri, tetapi merindukan hal-hal lain atau hal-hal baru” (Carm. 2,22).

      KGK 66    “Tata penyelamatan Kristen sebagai suatu perjanjian yang baru dan definitif, tidak pernah akan lenyap, dan tidak perlu diharapkan suatu wahyu umum baru, sebelum kedatangan yang jaya Tuhan kita Yesus Kristus” (DV 4). Walaupun wahyu itu sudah selesai, namun isinya sama sekali belum digali seluruhnya; masih merupakan tugas kepercayaan umat Kristen, supaya dalam peredaran zaman lama kelamaan dapat mengerti seluruh artinya.

      KGK 67    Dalam peredaran waktu terdapatlah apa yang dinamakan “wahyu pribadi”, yang beberapa di antaranya diakui oleh pimpinan Gereja. Namun wahyu pribadi itu tidak termasuk dalam perbendaharaan iman. Bukanlah tugas mereka untuk “menyempurnakan” wahyu Kristus yang definitif atau untuk “melengkapinya”, melainkan untuk membantu supaya orang dapat menghayatinya lebih dalam lagi dalam rentang waktu tertentu. Di bawah bimbingan Wewenang Mengajar Gereja, maka dalam kesadaran iman, umat beriman tahu membedakan dan melihat dalam wahyu-wahyu ini apa yang merupakan amanat otentik dari Kristus atau para kudus kepada Gereja.Iman Kristen tidak dapat “menerima” wahyu-wahyu yang mau melebihi atau membetulkan wahyu yang sudah dituntaskan dalam Kristus. Hal ini diklaim oleh agama-agama bukan Kristen tertentu dan sering kali juga oleh sekte-sekte baru tertentu yang mendasarkan diri atas “wahyu-wahyu” yang demikian itu.

      KGK 73    Allah mewahyukan Diri secara penuh dengan mengutus Putera-Nya sendiri; di dalam Dia Ia mengadakan perjanjian untuk selama-lamanya. Kristus adalah Sabda Bapa yang definitif, sehingga sesudah Dia tidak akan ada wahyu lain lagi.

      Demikian tanggapan saya atas pertanyaan Anda, semoga berguna.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  5. Julius Santoso on

    Syalom Bpk. Stefanus Tay..

    Perlu dimengerti, bahwa Muslim mempercayai kitab suci Al Kitab telah dipalsukan. Hal tersebut dapat dimaklumi karena apa yang menjadi ajarannya sangat berbeda dengan ajaran dalam Alkitab.
    Contoh : pengertian gelar Messiah (al-Masih) bagi Yesus Muslim sangatlah berbeda dengan pengertian gelar Mesiah (Juru Slamat) bagi Yesus dalam Alkitab, didalam ajarannya dikatakan :
    1. Yesus atau Isa Almasih adalah Muslim, dan dengan begitu sudah jelas bahwa Yesus Muslim bukanlah Anak Tuhan.
    2. Yesus Muslim bukanlah seperti yang dijabarkan di Alkitab sebagai Tuhan dalam wujud manusia.
    3. Dalam Islam Yesus Muslim tidak pernah mati di kayu salib untuk menebus dosa manusia.
    4. Penyangkalan Yesus Muslim disalib atau mengalami kematian, karena itu Yesus Muslim tidak ada kebangkitan.
    5. Muslim percaya bahwa Yesus Muslim tetap hidup bersama Allah SWT dan menunggu
    kesempatannya untuk kembali ke bumi untuk menyelesaikan tugasnya dan menuntaskan hidupnya. Karena itu, dalam benak Muslim, Yesus Muslim bukanlah “Juru Selamat.” Bagi Muslim.
    6. Yesus Muslim hanyalan nabi biasa yang sama seperti nabi2 lain yang telah dikirim Allah
    SWT ke bumi.
    7. Yesus Muslim (Isa Almasih) datang ke dunia pada akhir jaman diantaranya untuk menghancurkan salib.
    Didalam ajarannya, Yesus Kristus di dalam Alkitab = Yesus (Isa Almasih) Muslim.

    Tuhan Yesus berpesan : Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan. Sebab banyak orang akan datang dengan memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Dia, dan: Saatnya sudah dekat. Janganlah kamu mengikuti mereka (Luk 21:8).

    Saya pribadi menyebut Tuhan Yesus Kristus dengan nama Isa Almasih adalah suatu penghujatan dan bagi saya itu adalah dosa besar.

    Salam
    dari : Julius Santoso.

  6. Buat saudara Valerianus…
    Syalom…..

    Saudaraku… salam damai Kristus….. Jika saat ini saudara mengalami kebimbangan, mohon dibawa dalam doa…sebab kuasa doa sangatlah luar biasa.
    Kunci dari kehidupan ini adalah CINTA KASIH (hukum yang tertingi) seperti yang Yesus ajarkan kepada kita.. saya sebagai orang awam cuma bisa berpikir yang praktis dan sederhana saja…
    1. Bila Yesus itu bukan Tuhan, mungkinkah Dia dapat memberikan jawaban semua permasalahan dalam kehidupan kita melalui firman, perumpamaan dan semua sikap selama hidupnya hanya dalam waktu sekitar 3 tahun??!!!
    2. Dan juga jika Yesus bukan Tuhan, mungkinkah Dia dapat menggenapi firman yang sudah diwahyukan jaaauh.. sebelum Dia ada. Dari sebelum kelahiran sampai Dia wafat, dan kebangkitanNya semua sudah diwahyukan…

    Mari kita sedikit berfilsafat … Dalam hidup ini kita mau CARI KEBENARAN atau mau CARI PEMBENARAN???
    Orang yang mencari KEBENARAN tidak akan marah jika ada perbedaan, mereka mau belajar dan terus bertumbuh… Sedangkan orang yang mencari PEMBENARAN tidak akan pernah mau menerima pendapat yang berbeda, kecenderungannya adalah emosi dan marah.

    Ingat saudarku…. CINTA KASIH yang sejati hanya ada dalam YESUS KRISTUS….. Tuhan kita.
    SEMANGAT SAUDARAKU….

    Buat Saudara Stefanus, maaf ya jika ada salah kata, maklumin ya, saya hanya mencoba berpikir simple aja.
    Yang pasti dasar informasi dari saudara, yang dapat dipertanggung jawabkan secara iman amat sangat kami butuhkan. Karya anda sangat luar biasa….

    Tuha Yesus memberkati..

    Georgius

  7. valerianus d a on

    salam sejahtera,

    saat ini saya sedang mengalami sebuah kebingungan yang pasti juga dialami oleh banyak orang. terutama dari golongan nasrani dan muslim. salah satu hal yang cukup mengganjal saya adalah beberapa pertanyaan mengenai ketuhanan Jesus dan peristiwa wafat/diangkatnya Jesus. terdapat perbedaan yang mendasar apa yang ada dalam Alkitab dan Alquran. mohon pencerahan dan penjelasannya. karena semakin banyak saya membaca sumber2 baik dari kalangan nasrani maupun muslim, saya semakin bingung.

    where is the Truth?

    Terima kasih…

  8. saya dengar rumor kalo injil kita itu dipalsukan oleh paulus…trus pacar saya bukan katolik dia giat mencaqri tau tentang agama katolik dan agamanya dan kelihatannya dia semakin bingung tentang kebenaran keduanya…padahal saya sudah berusaha memberi tau bagaimana injil itu…
    nah mohon bantuannya ya kalo bisa ada bukti-bukti bahwa injil katolik tidak disalah terjemahan..,ato di palsukan gitu…trims….

    [Dari Admin Katolisitas: pertanyaan ini sudah dijawab di atas, silakan klik]