PendahuluanSaya pernah mendengar bahwa ada orang-orang yang mengatakan liturgi di Gereja Katolik itu ‘membosankan’. Katanya lagu-lagunya itu-itu saja, kurang bersemangat dan kurang berkesan. Apa iya, demikian halnya? Sebelum berkomentar, mari kita lihat dulu apa sebenarnya arti liturgi di dalam Gereja Katolik. Lalu, setelah itu baru kita tilik kembali komentar itu. Sebab, jangan-jangan masalahnya bukan pada liturgi-nya tetapi pada diri si penerima. Ibaratnya, “kesalahan bukan pada stasiun pemancar radio, tetapi pada antena anda.” Walaupun demikian, mari kita lihat juga apa yang perlu kita lakukan supaya kita dapat menghayati liturgi dan menjadikannya bagian dari diri kita, supaya kita tidak sampai bosan. Ini adalah bentuk “perbaikan antena” sehingga radio kita dapat menangkap sinyal dengan lebih baik.
Telah kita ketahui bahwa sakramen adalah penghadiran Misteri Kristus (lihat artikel: Sakramen: Apa pentingnya dalam kehidupan iman kita?). Di dalam liturgi, Gereja merayakan Misteri Paskah Kristus yaitu sengsara, wafat, kebangkitan dan kenaikan Yesus ke surga- yang membawa kita kepada Keselamatan.[1] Dengan merayakan Misteri Kristus ini, kita memperingati dan merayakan bagaimana Allah Bapa telah memenuhi janji dan menyingkapkan rencana keselamatan-Nya dengan menyerahkan Yesus Putera-Nya oleh kuasa Roh Kudus untuk menyelamatkan dunia.[2] Jadi sumber dan tujuan liturgi adalah Allah sendiri.
Liturgi pada awalnya berarti “karya publik”. Dalam sejarah perkembangan Gereja, liturgi diartikan sebagai keikutsertaan umat dalam karya keselamatan Allah. Di dalam liturgi, Kristus melanjutkan karya Keselamatan di dalam, dengan dan melalui Gereja-Nya.[3] Pada jaman Gereja awal seperti dijabarkan di dalam surat rasul Paulus, para pengikut Kristus beribadah bersama di dalam liturgi (dikatakan sebagai “korban dan ibadah iman” di dalam Flp 2:17). Termasuk di sini adalah pewartaan Injil “(Rom 15:16); dan pelayanan kasih (2 Kor 9:12). Maka, dalam Perjanjian Baru, kata ‘liturgi’ mencakup tiga hal, yaitu ibadat, pewartaan dan pelayanan kasih yang merupakan partisipasi Gereja dalam meneruskan tugas Kristus sebagai Imam, Nabi dan Raja.[4]
Secara khusus, liturgi merupakan wujud pelaksanaan tugas Kristus sebagai Imam Agung. Dalam hal ini, liturgi merupakan penyembahan Kristus kepada Allah Bapa, namun dalam melakukan penyembahan ini, Kristus melibatkan TubuhNya, yaitu Gereja; sehingga liturgi merupakan karya bersama antara Kristus (Sang Kepala) dan Gereja (Tubuh Kristus). Konsili Vatikan II mengajarkan pengertian tentang liturgi sebagai berikut:
“Maka, benarlah bahwa liturgi dipandang sebagai pelaksanaan tugas imamat Yesus Kristus. Di dalam liturgi, dengan tanda-tanda lahiriah, pengudusan manusia dilambangkan dan dihasilkan dengan cara yang layak bagi masing-masing tanda ini; di dalam Liturgi, seluruh ibadat publik dilaksanakan oleh Tubuh Mistik Yesus Kristus, yakni Kepala beserta para anggota-Nya.
Oleh karena itu setiap perayaan liturgis sebagai karya Kristus sang Imam serta Tubuh-Nya yakni Gereja, merupakan kegiatan suci yang sangat istimewa. Tidak ada tindakan Gereja lainnya yang menandingi daya dampaknya dengan dasar yang sama serta dalam tingkatan yang sama.”[5]
Oleh karena itu tidak ada kegiatan Gereja yang lebih tinggi nilainya daripada liturgi[6] karena di dalam liturgi terwujudlah persatuan yang begitu erat antara Kristus dengan Gereja sebagai ‘Mempelai’-Nya dan Tubuh-Nya sendiri.
Paus Pius XII dalam surat ensikliknya tentang Liturgi Suci, Mediator Dei, menjabarkankan definisi liturgi sebagai berikut:
“Liturgi adalah ibadat publik yang dilakukan oleh Penebus kita sebagai Kepala Gereja kepada Allah Bapa dan juga ibadat yang dilakukan oleh komunitas umat beriman kepada Pendirinya [Kristus], dan melalui Dia kepada Bapa. Singkatnya, liturgi adalah ibadat penyembahan yang dilaksanakan oleh Tubuh Mistik Kristus secara keseluruhan, yaitu Kepala dan anggota-anggotanya.”[7]
Atau, dengan kata lain, definisi liturgi adalah seperti yang dirumuskan oleh Rm. Emanuel Martasudjita, Pr. dalam bukunya Liturgi, yaitu: “Liturgi adalah perayaan misteri karya keselamatan Allah di dalam Kristus, yang dilaksanakan oleh Yesus Kristus, Sang Imam Agung, bersama Gereja-Nya di dalam ikatan Roh Kudus.”[8]
Alkitab mengatakan, “Terpujilah Allah Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia yang dikasihi-Nya” (Ef 1:3-6). Dari sini kita mengetahui bahwa Allah Bapalah yang memberikan rahmat sorgawi kepada kita, melalui Kristus dan di dalam Kristus. Dan karena rahmat itu diberikan di dalam sakramen melalui liturgi, maka sumber liturgi adalah Allah Bapa, dan tujuan liturgi adalah kemuliaan Allah.
Karena Kristus telah bangkit mengalahkan maut, maka, Ia yang telah duduk di sisi kanan Allah Bapa, pada saat yang sama dapat terus mencurahkan Roh Kudus-Nya kepada Tubuh-Nya, yaitu Gereja-Nya, melalui sakramen-sakramen.[9] Karena Yesus sendiri yang bertindak dengan kuasa Roh Kudus-Nya, maka kita tidak perlu meragukan efeknya, karena pasti Kristus mencapai maksud-Nya.
Puncak karya Kristus adalah Misteri Paska-Nya, maka Misteri Paska inilah yang dihadirkan di dalam liturgi Gereja.[10] Jadi Misteri Paska yang sungguh-sungguh telah terjadi di masa lampau dihadirkan kembali oleh kuasa Roh Kudus. Karena Kristus telah menang atas kuasa dosa dan maut, maka Misteri Paska-Nya tidak berlalu begitu saja ditelan waktu, namun dapat dihadirkan kembali oleh kuasa Ilahi, yang mengatasi segala tempat dan waktu. Hal ini dilakukan Allah karena besar kasih-Nya kepada kita, sehingga kita yang tidak hidup pada masa Yesus hidup di dunia dapat pula mengambil bagian di dalam kejadian Misteri Paska Kristus dan menerima buah penebusan-Nya.
Kristus selalu hadir di dalam Gereja, terutama di dalam perayaan liturgi. Pada perayaan Ekaristi/ Misa kudus, Kristus tidak hanya hadir di dalam diri imam-Nya, namun juga di dalam wujud hosti kudus (lihat artikel: Sudahkah kita pahami arti Ekaristi?). Liturgi di dunia menjadi gambaran liturgi surgawi di mana Yesus duduk di sisi kanan Allah Bapa, dan kita semua sebagai anggota Gereja memuliakan Allah bersama seluruh isi surga.[11]
Jika Roh Kudus bekerja di dalam diri seseorang, maka Ia akan menggerakkan hati orang tersebut untuk bekerjasama dengan Allah. Kita dapat melihat hal ini pada teladan Bunda Maria dan para Rasul. Demikian halnya liturgi menjadi hasil kerjasama Roh Kudus dengan kita sebagai anggota Gereja.[12] Kerjasama Roh Kudus dan Gereja ini menghadirkan Kristus dan karya keselamatan-Nya di dalam liturgi, sehingga liturgi bukan sekedar ‘kenangan’ akan Misteri Kristus, melainkan adalah kehadiran Misteri Kristus yang satu-satunya itu.[13]
Peran Roh Kudus dinyatakan pada saat pembacaan Sabda Allah, karena Roh Kudus menjadikan Sabda itu dapat diterima dan dilaksanakan di dalam hidup umat. Kemudian Roh Kudus memberikan pengertian rohani terhadap Sabda Tuhan itu, yang menghidupkan perkataan doa, tindakan dan tanda-tanda lahiriah yang dipergunakan dalam liturgi, dan dengan demikian Roh Kudus menghidupkan hubungan antara umat (beserta para imam) dengan Kristus.[14] Selanjutnya peran Roh Kudus nyata saat konsekrasi, yaitu saat roti dan anggur diubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Di sinilah puncak perayaan Ekaristi terjadi, saat Kristus berkenan menghadirkan Diri di tengah Gereja-Nya.
Oleh karena itu Sang Pelaku yang utama dalam liturgi adalah Kristus, dan kita sebagai anggota Gereja mengambil bagian di dalam karya keselamatan Allah yang dilakukan oleh Kristus itu. Dengan demikian bukan kita pribadi yang dapat menentukan segala sesuatunya dalam liturgi menurut kehendak sendiri, melainkan kita sepantasnya mengikuti apa yang telah ditetapkan oleh Tuhan Yesus dalam perayaan tersebut, sebagaimana yang telah dilakukan oleh para rasul dan diteruskan dengan setia oleh para penerus mereka.
Yesus mengajak kita semua ikut mengambil bagian dalam karya keselamatan-Nya, terutama dalam Misteri Paska-Nya yang dihadirkan kembali di dalam Liturgi. Karena kuasa kasih dan kebangkitan-Nya, Kristus memberikan kita kesempatan yang sama dengan orang-orang yang hidup pada zaman Ia hidup di dunia 2000 tahun yang lalu, yaitu menyaksikan dan ikut mengambil bagian dalam peristiwa yang mendatangkan keselamatan kita, yaitu wafatNya di salib, kebangkitan-Nya dan kenaikan-Nya ke surga. Secara khusus penghadiran Misteri Paska ini nyata dalam Ekaristi, yang merupakan penghadiran kurban Kristus yang sama dan satu-satunya itu oleh kuasa Roh Kudus.[15] Kuasa Roh Kudus yang dulu menghadirkan Yesus dalam rahim Maria, kini hadir untuk menghadirkan Yesus di altar. Kuasa Roh Kudus yang dulu hadir pada hari Pentakosta kini hadir di dalam setiap perayaan Ekaristi, untuk mengubah kita menjadi seperti para rasul, dipenuhi kasih dan semangat yang berkobar untuk ikut serta melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah di dunia ini.
Jika kita menghayati kebenaran ini, kita seharusnya tidak bosan dan mengantuk dalam mengikuti misa. Sebab jika demikian, kita seumpama mereka yang hidup di jaman Yesus, hadir di bawah kaki salib Yesus, tetapi malah melamun dan tidak mempunyai perhatian akan apa yang sedang terjadi di hadapan mata mereka. Sungguh tragis, bukan? Memang Misteri Paska itu tidak hadir persis secara fisik seperti 2000 tahun lalu, namun secara rohani, Misteri Kristus yang sama dan satu-satunya itu hadir dan membawa efek yang sama seperti pada 2000 tahun yang lalu. Betapa dalamnya makna dari misteri ini, namun kita perlu menilik ke dalam hati kita yang terdalam untuk melihatnya dengan mata rohani dan menghayatinya dengan sikap tunduk dan kagum.
Bayangkan jika anda secara pribadi diundang pesta oleh Bapak Presiden. Tentu anda akan mempersiapkan diri sebaik-baiknya bukan? Anda akan berpakaian yang sopan, bersikap yang pantas, mempersiapkan apa yang akan anda bicarakan, dan anda akan datang tidak terlambat, jika perlu siap sebelum waktunya. Mari kita memeriksa diri, sudahkah kita bersikap demikian di dalam ‘pertemuan’ kita dengan Tuhan di dalam liturgi. Karena Tuhan jauh lebih mulia dan lebih penting daripada Bapak Presiden, seharusnya persiapan kita jauh lebih baik daripada persiapan bertemu dengan Presiden.
Untuk menyadari kedalaman arti misteri ini, kita harus mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh sebelum mengambil bagian di dalam liturgi. Persiapan ini dapat berbentuk: membaca dan merenungkan ayat kitab suci pada hari itu, hening di sepanjang jalan menuju ke gereja, datang di gereja lebih awal, berpuasa ( 1 jam sebelum menyambut Ekaristi dan terutama berpuasa sebelum menerima sakramen Pembaptisan dan Penguatan), memeriksa batin, mengaku dosa dalam sakramen Tobat sebelum menerima Ekaristi.
Lalu, sewaktu mengikuti liturgi, kitapun harus senantiasa mengarahkan sikap hati yang benar. Jika terjadi ‘pelanturan’, segeralah kita kembali mengarahkan hati kepada Tuhan. Kita harus mengarahkan akal budi kita untuk menerima dengan iman bahwa Yesus sendirilah yang bekerja melalui liturgi, dan bahwa Roh KudusNya menghidupkan kata-kata doa dan teks Sabda Tuhan yang diucapkan di dalam liturgi, sehingga menguduskan tanda-tanda lahiriah yang dipergunakan di dalam liturgi untuk mendatangkan rahmat Tuhan.
Sikap hati ini dapat diwujudkan pula dengan berpakaian yang sopan, tidak ‘ngobrol’ pada saat mengikuti liturgi, dan tidak menyalakan hp/ mengangkat telpon di gereja. Sebab jika demikian dapat dipastikan bahwa hati kita tidak sepenuhnya terarah pada Tuhan.
St. Thomas Aquinas mengajarkan bahwa penyembahan yang sempurna itu mencakup dua hal, yaitu menerima dan memberikan berkat-berkat ilahi.[16] Di dalam liturgi, penyembahan kita kepada Tuhan mencapai puncaknya, saat kita kita turut memberikan/ mempersembahkan diri kita kepada Tuhan dan pada saat kita menerima buah dari penebusan Kristus melalui Misteri Paska-Nya. Puncak liturgi adalah Ekaristi, di mana di dalam Misteri Paska yang dihadirkan kembali itu, Kristus menjadi Imam Agung, dan sekaligus Kurban penebus dosa.[17]
Dalam liturgi Ekaristi, kita sebagai anggota Tubuh Kristus seharusnya tidak hanya ‘menonton’ atau sekedar menerima, tetapi ikut mengambil bagian dalam peran Kristus sebagai Imam Agung dan Kurban tersebut. Caranya adalah dengan turut mempersembahkan diri kita, beserta segala ucapan syukur, suka duka, pergumulan, dan pengharapan, untuk kita persatukan dengan kurban Kristus.[18] Setiap kali menghadiri misa, kita bawa segala kurban persembahan diri kita untuk diangkat ke hadirat Tuhan, terutama pada saat konsekrasi[19], yaitu saat kurban roti dan anggur diubah menjadi Tubuh dan Darah Yesus. Dengan demikian kurban kita akan menjadi satu dengan kurban Yesus. Oleh karena itu, liturgi menjadi penyembahan yang sempurna karena Kristus yang adalah satu-satunya Imam Agung dan Kurban yang sempurna, menyempurnakan segala penyembahan kita. Bersama Yesus di dalam liturgi kita akan sungguh dapat menyembah Allah Bapa di dalam roh dan kebenaran (Yoh 4:24), karena di dalam liturgi kuasa Roh Kudus bekerja menghadirkan Kristus yang adalah Kebenaran itu sendiri.
Hal kehadiran Yesus tidak hanya terjadi dalam Ekaristi, tetapi juga di dalam liturgi yang lain, yaitu Pembaptisan, Penguatan, Pengakuan Dosa, Perkawinan, Tahbisan suci, dan Pengurapan orang sakit. Dalam liturgi tersebut, kita harus berusaha untuk aktif berpartisipasi agar dapat sungguh menghayati maknanya. Partisipasi aktif ini bukan saja dari segi ikut menyanyi, atau membaca segala doa yang tertulis, melainkan terutama partisipasi dari segi mengangkat hati dan jiwa untuk menyembah dan memuji Tuhan, dan meresapkan segala perkataan yang diucapkan di dalam hati.
Jadi, agar dapat menghayati liturgi, kita harus memusatkan perhatian kita kepada Kristus, dan pada apa yang telah dilakukanNya bagi kita, yaitu: oleh kasihNya yang tak terbatas, Kristus tidak menyayangkan nyawa-Nya dan mau wafat bagi kita untuk menghapus dosa-dosa kita. Kita bayangkan Yesus sendiri yang hadir di dalam liturgi dan berbicara sendiri kepada kita. Dengan berfokus pada Kristus, kita akan memperoleh kekuatan baru, sebab segala pergumulan kita akan nampak tak sebanding dengan penderitaan-Nya. Kitapun akan dikuatkan di dalam pengharapan karena percaya bahwa Roh Kudus yang sama, yang telah membangkitkan Yesus dari kubur akan dapat pula membangkitkan kita dari pengaruh dosa dan segala kesulitan kita.
Jika kita memusatkan hati dan pikiran pada Kristus, maka kita tidak akan terlalu terpengaruh jika musik atau penyanyi di gereja kurang sempurna, khotbah kurang bersemangat, kurang keakraban ataupun hawa panas dan banyak nyamuk. Walaupun tentu saja, idealnya semua hal itu sedapat mungkin diperbaiki. Kita bahkan dapat mempersembahkan kesetiaan kita disamping segala ketidak sempurnaan itu- sebagai kurban yang murni bagi Tuhan. Langkah berikutnya adalah, apa yang dapat kita lakukan untuk turut membantu memperbaiki kondisi tersebut. Inilah salah satu cara menghasilkan ‘buah’ dari penerimaan rahmat Tuhan yang kita terima melalui liturgi.
Jadi sebagai karya Kristus, liturgi menjadi kegiatan Gereja di mana Kristus hadir dan membagikan rahmat-Nya,[20] yang menjadi sumber kehidupan rohani kita. Walaupun demikian, liturgi harus didahului oleh pewartaan Injil, iman dan pertobatan,[21] sebab tanpa ketiga hal tersebut akan sangat sulit bagi kita untuk menghayati perayaan liturgi, apalagi menghasilkan buahnya dalam kehidupan sehari-hari. Ibaratnya tak kenal maka tak sayang, maka jika kita ingin menghayati liturgi, maka sudah selayaknya kita mengetahui makna liturgi, menerimanya dengan iman dan menanggapinya dengan pertobatan.
Liturgi yang bersumber pada Allah menjadi sumber dan puncak kegiatan Gereja. Bersumber pada liturgi ini, Gereja menimba kekuatan untuk melaksanakan pembaharuan di dalam Roh, misi perutusan, dan menjaga persatuan umat. Maka jika kita mengalami ‘kemacetan ataupun percekcokan’ di dalam kegiatan paroki, petunjuk praktis untuk memeriksa adalah: Sudah cukupkah keterlibatan anggota dalam Ekaristi -tiap minggu atau jika mungkin setiap hari? Adakah kedisiplinan anggota untuk mengaku dosa di dalam Sakramen Tobat secara teratur, misalnya sebulan sekali? Walaupun demikian, kehidupan rohani kita tidak terbatas hanya dari keikutsertaan dalam liturgi, tetapi juga dari kehidupan doa yang benar (doa pribadi (Mat 6:6) dan doa tanpa henti (1Tes 5:17)).[22]
Seperti telah diuraikan di atas: liturgi merupakan partisipasi kita di dalam doa Kristus kepada Allah Bapa oleh kuasa Roh Kudus. Liturgi terutama Ekaristi yang menghadirkan Misteri Paska Kristus merupakan peringatan akan karya Allah Tritunggal untuk mendatangkan keselamatan bagi dunia. Maka liturgi merupakan puncak kegiatan Gereja, dan sumber di mana kuasa Gereja dicurahkan,[23] yaitu kehidupan baru di dalam Roh, keikutsertaan di dalam misi perutusan Gereja dan pelayanan terhadap kesatuan Gereja.[24] Jadi bagi kita umat beriman, terutama yang ikut ambil bagian di dalam karya kerasulan awam, keikutsertaan di dalam liturgi merupakan sesuatu yang utama. Tidak bisa kita melayani umat, jika kita sendiri tidak diisi dan diperbaharui oleh rahmat Tuhan sendiri. Prinsipnya, “kita tidak bisa memberi, jika kita tidak terlebih dahulu menerima” rahmat yang dari Allah.
Rahmat Allah ini secara nyata kita terima melalui liturgi. Dalam hal ini, Ekaristi memegang peranan penting karena di dalamnya rahmat yang diberikan adalah Kristus sendiri. Kini tinggal giliran kita untuk memeriksa diri dan mempersiapkan hati untuk menerima berkat rahmat itu. Jika kita mempunyai sikap hati yang benar dan berpartisipasi aktif di dalam liturgi, maka Tuhan sendiri akan memberkati dan menjadikan kita anggota TubuhNya yang menghasilkan buah bagi kemuliaan nama-Nya. Menimba bekal rohani melalui liturgi merupakan salah satu cara yang paling nyata untuk menjawab undangan Tuhan Yesus, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu…. Barang siapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh 15:4-5).
salam kasih Tim Katolisitas,
Di paroki kami beragam jenis nyanyian untuk perayaan Misa dan beragam pula cara membawakan nyanyian Perayaan Ekaristi. Sebagai contoh: penggunaan nyanyian-nyanyian karismatik dan nyanyian pop dari kaset atau cd yang sedang populer, penggunaan band dan tarian anak-anak dengan melodi dan ritme serta syair profan setelah komuni dan masih banyak kekeliruan lain lagi. Saya, karena cukup concern dengan liturgi (pengajar liturgi), rasanya susah sekali mengikuti suasana Misa seperti itu. Tetapi saya mengalami kesulitan bagaimana mensosialisasikan liturgi yang sebenarnya karena dari Bapa Uskup dan Pastor-pastor di paroki saya tampaknya belum ada reaksi apapun mengenai keadaan tersebut. Pertanyaan saya adalah apakah Tim Katolisitas mempunyai solusi untuk masalah ini? Terima kasih atas bantuannya. Salam kasih dalam Tuhan Yesus.
Salam Blasius Bagung,
Menurut Rm Bosco Da Cunha, Sekretaris Eksekutif Komisi Liturgi KWI, kuncinya ada pada uskup dan para imam. Karena itu, berikanlah keprihatinan Anda pada imam dan uskup. Entah Anda anggota Tim Liturgi Keuskupan atau Paroki atau pengajar liturgi ataupun umat “biasa”, Anda tetap berhak mengemukakan keprihatinan ini. Coba-lah membicarakan hal ini dengan penanggung jawab liturgi keuskupan dan paroki (Komisi Liturgi Keuskupan, Tim Liturgi Paroki, Uskup dan Imam), dengan acuan dari dokumen-dokumen Gereja mengenai Liturgi misalnya Konstitusi Liturgi (Sacrosanctum Concilium), Ecclesia de Eucharistia, dan lain-lain.
Salam
Yohanes Dwi Harsanto Pr
Salam Damai,
mau tanya tentang rumusan “Aku Percaya” dalam bahasa Latin yaitu Credo III (abad 17?), yang ada di buku Puji Syukur. Saya lihat tidak ada pernyataan turun ke tempat penantian. Mohon penjelasannya? Apakah semata-mata redaksional (kelewatan memasukkan) atau ada dasar iman untuk tidak mencantumkannya?
Gbu
lino
Shalom Lino,
Memang kalimat tentang Kristus “yang turun ke tempat penantian, pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati” disebutkan di dalam Syahadat para Rasul, namun tidak disebutkan di dalam Syahadat Nicea. Menurut Rufinus (400) perkataan “turun ke tempat penantian” memang tidak disebutkan dalam Syahadat Roma (salah satu rumusan syahadat di awal abad ke-2 yang menjadi cikal bakal Syahadat para rasul yang kita kenal sekarang), tetapi di disebutkan di Syahadat/ Credo Aquileia, Yunani dan catatan syahadat menurut St. Jerome/ Hieronimus, yang juga mencatat pernyataan iman menurut ajaran para rasul. Kalimat “turun ke tempat penantian” tersebut mengacu kepada 1 Pet 3:19, sebagaimana diinterpretasikan oleh St. Irenaeus dan para Bapa Gereja lainnya. Menjelang akhir abad ke-2 dapat dilihat bahwa tulisan pengajaran St. Irenaeus di Gaul (sekarang Perancis) dan pengajaran Tertullian yang jauh di Afrika, kita memperoleh teks syahadat yang hampir lengkap dan sesuai dengan rumusan syahadat Roma, sebagaimana dikatakan oleh Rufinus.
Dengan demikian, kemungkinan hal Yesus yang turun ke tempat penantian ini tidak menjadi perdebatan di jaman Gereja perdana, sehingga tidak perlu ditegaskan kembali dalam Syahadat Nicea (325). Sebab seperti kita ketahui Syahadat Nicea dirumuskan untuk meluruskan ajaran sesat Arianisme yang ada pada saat itu, sehingga ajaran tentang Allah Trinitas dijabarkan di dalam syahadat itu- untuk menegaskan ajaran tentang keTuhanan Yesus. Hal ini nyata dengan frasa dalam syahadat Nicea yang menyatakan bahwa Kristus “dilahirkan bukan dijadikan, sehakekat dengan Bapa”. Sebenarnya syahadat yang kita kenal dengan syahadat Nicea itu dihasilkan setelah disempurnakan oleh Konsili Konstantinopel (381), yang antara lain menambahkan frasa “kerajaan-Nya (Kristus) takkan berakhir” untuk memerangi ajaran sesat Modalisme dari Marcellus yang seperti ajaran Sabellius membagi- bagi rencana keselamatan seolah peran Yesus (Allah Putera) mempunyai jangka waktu tertentu. Selanjutnya Syahadat tersebut juga menyebutkan tentang Roh Kudus, untuk meluruskan ajaran yang menerima ke-Tuhanan Yesus namun menolak ke-Tuhanan Roh Kudus.
Maka memang rumusan Syahadat Nicea tidak persis sama dengan Syahadat para Rasul, karena syahadat Nicea/ Konstantinopel ditulis pertama- tama untuk menanggapi ajaran sesat pada saat itu, sehingga yang dijabarkan di sana adalah pernyataan iman dengan maksud untuk meluruskan ajaran yang sesat tersebut. Itulah sebabnya di Syahadat Nicea/Konstantinopel juga tidak disebutkan secara detail bahwa setelah kebangkitan-Nya, Yesus duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang Maha Kuasa, dan adanya persekutuan para kudus, yang tidak dipersoalkan pada saat itu. Namun demikian, baik Syahadat Para Rasul maupun Syahadat Nicea adalah syahadat yang sah, karena keduanya menyampaikan pokok-pokok dasar iman yang diajarkan oleh para Rasul.
Selanjutnya tentang Syahadat para Rasul, silakan membaca di link ini, silakan klik.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Dear Bu Ingrid,
Saya merasa cukup janggal ketika sebuah rumusan pokok tidak menulis secara eksplisit (sehingga merupakan elipsis) suatu pengakuan iman hanya karena tidak menjadi bahan perdebatan/apologia.
Mengapa juga Gereja kita masih memakai (sekurang-kurangnya mencantumkan dalam buku umat – Puji Syukur – ) rumusan yang tidak lengkap? Bahkan dalam syahadat panjang yang orang awam akan menganggapnya sebagai rumusan yang lengkap kata-kata turun ke tempat penantian tidak ada, dan itu masih dimuat dalam buku umat.
Gbu
lino
Shalom Lino,
Dari namanya, Syahadat Para Rasul memang merupakan syahadat yang berasal dari pengajaran para rasul, sehingga walaupun rumusannya lebih pendek namun memuat pokok-pokok ajaran iman yang lebih lengkap, daripada Syahadat Nicea-Konstantinopel, yang memang ditujukan untuk meluruskan ajaran Gereja pada saat itu. Memang syahadat Nicea lebih panjang, sehingga kadang orang berpikir bahwa itulah syahadat yang lebih lengkap. Namun, jika kita mempelajari sejarah, maka kita mengetahui alasannya mengapa pernyataan syahadat Nicea itu dibuat, dan rumusan yang lebih panjang itu merupakan penegasan/ penjelasan pokok-pokok yang sudah dijabarkan dalam syahadat Para Rasul. Namun demikian, penjabaran Shahadat Nicea tersebut tetap relevan bagi Gereja di sepanjang zaman, maka rumusan tersebut tetap dipergunakan sampai sekarang. Maka kita melihatnya demikian: Syahadat Para Pasul ditegaskan di Syahadat Nicea-Konstantinopel, terutama di bagian- bagian yang saat itu dipertanyakan oleh sekelompok orang tertentu, yaitu hal ke-Tuhanan Yesus dan Roh Kudus.
Itulah sebabnya dalam buku Katekismus, Puji Syukur (dan buku- buku doa Katolik lainnya), yang disebut pertama kali adalah Syahadat Para Rasul, dan baru di sampingnya/ sesudahnya Syahadat Nicea, maksudnya agar diketahui bagaimana Syahadat Nicea menegaskan apa yang sudah diimani dalam Syahadat Para Rasul. Jadi mari, jangan menganggap bahwa Syahadat Nicea itu tidak lengkap. Syahadat Nicea memang bukan untuk menggantikan Syahadat Para Rasul, melainkan untuk memperjelaskannya.
Demikian, semoga keterangan singkat ini berguna.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan, Ingrid Listiati- katolisitas.org
Dear Bu Ingrid,
Bagi orang awam seperti saya, maksud Gereja membuat penegasan kok malah memunculkan kebingungan, karena pada umumnya suatu rumusan yg dalam perkembangannya menjadi lebih ringkas/berkurang, rumusan yg terakhir itu yang dipakai. Maka saya menyimpulkan bahwa Saya mendapat pelajaran baru bahwa ternyata pengakuan iman kita tidak terumus dalam hanya satu formula tetapi dalam beberapa credo…..walaupun jawaban Bu Ingrid masih memakai kata “kemungkinan” (di awal kalimat paragraf kedua jawaban pertama di atas)….Apakah ada data historis yang menyatakan secara eksplisit bahwa kelompok kata “yang turun ke tempat penantian” sengaja tidak dicantumkan karena tidak relevan dalam credo nikea?
Terima kasih
Gbu
lino
Shalom Lino,
Prinsip yang perlu kita ketahui untuk memahami ajaran Gereja Katolik adalah, bahwa Gereja tidak akan pernah mengubah suatu ajaran tentang iman dan moral yang telah dinyatakan secara definitif. Maka dalam hal pernyataan iman (Credo/ syahadat), terlebih lagi prinsip ini berlaku. Artinya, apa yang sudah dinyatakan dalam syahadat para rasul tidak akan dibatalkan, namun diperjelas dengan adanya syahadat Nicea. Jadi dalam hal ajaran iman dan moral ini, prinsip yang berlaku bukan ajaran yang dikeluarkan belakangan membatalkan yang terdahulu (ataupun sebaliknya), namun ajaran tersebut melengkapi dan memperjelas apa yang sudah pernah ditetapkan sebelumnya.
Dengan prinsip ini kita dapat menerima, mengapa di Credo Nicea tidak menyebutkan secara eksplisit, “[Kristus] yang turun ke tempat penantian….”; namun kita percaya bahwa Kristus memang telah wafat dan karena itu turun ke dunia orang mati/ tempat penantian, walaupun tidak disebut secara eksplisit demikian pada Credo Nicea. Ada banyak ayat dalam Kitab Suci yang menunjukkan bahwa Kristus Sang Mesias turun ke dunia orang mati, sebelum bangkit dari kematian-Nya, contohnya:
Nubuatan tentang Sang Mesias dalam Kitab Mazmur: “TUHAN, Engkau mengangkat aku dari dunia orang mati, Engkau menghidupkan aku di antara mereka yang turun ke liang kubur.” (Mzm 30:4) “… sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan.” (Mzm 16:10) “Tetapi Allah akan membebaskan nyawaku dari cengkeraman dunia orang mati, sebab Ia akan menarik aku.” (Mzm 49:15; lih. Mzm 86:13)
“Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan, bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan.” (Kis 2:31)
Karena Ia telah menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati.” (Kis 17:31)
“Sebab juga Kristus telah mati sekali untuk segala dosa kita, Ia yang benar untuk orang-orang yang tidak benar, supaya Ia membawa kita kepada Allah; Ia, yang telah dibunuh dalam keadaan-Nya sebagai manusia, tetapi yang telah dibangkitkan menurut Roh, dan di dalam Roh itu juga Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara, yaitu kepada roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah, ketika Allah tetap menanti dengan sabar waktu Nuh sedang mempersiapkan bahteranya, di mana hanya sedikit, yaitu delapan orang, yang diselamatkan oleh air bah itu.” (1 Pet 3:18-20)
Jadi walaupun tidak disebutkan secara eksplisit dalam Credo Nicea, Gereja sudah sejak awal mengimaninya sebagaimana dinyatakan dalam Credo Para Rasul, yaitu bahwa Kristus sungguh telah wafat di salib, turun ke tempat penantian, sebelum bangkit dari kematian di hari ketiga, dan kemudian naik ke Surga dengan jaya. Memang kita tidak pernah bisa mengetahui dengan pasti, mengapa para Bapa Gereja tidak menyebutkan ‘turun ke tempat penantian’ secara eksplisit di Credo Nicea, maka saya sebutkan di jawaban saya dengan kata kemungkinan, yaitu bahwa pada saat itu Bapa Gereja tidak merasa bahwa hal itu perlu dipertegas, karena tidak ada permasalahan sehubungan dengan pernyataan itu. Ini lain halnya dengan hal ke-Allahan Yesus yang dipermasalahkan oleh aliran Arianism yang berkembang saat itu, sehingga perlu dipertegas dalam Credo Nicea tersebut, dengan kata “Ia [Kristus] sehakekat dengan Bapa….”. Keterangan perihal kemungkinan tersebut saya peroleh dari diskusi yang ada di Catholic Answers, dan memang ini merupakan perkiraan dan tidak dapat kita ketahui secara pasti alasannya karena sepanjang pengetahuan saya tidak pernah tertulis di dokumen manapun.
Demikian, Lino, yang dapat saya sampaikan menanggapi pertanyaan dan komentar anda. Karena dialog kita sudah memasuki putaran yang ketiga, saya mohon maaf jika tidak dapat melanjutkan dialog ini, karena memang kami di katolisitas membatasi dialog sampai tiga kali. Saya sudah menyampaikan apa yang saya ketahui tentang hal ini, sekarang tinggal tergantung Anda bagaimana menyikapinya.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Dear Bu Ingrid,
terima kasih banyak atas penjelasannya. Saya sudah cukup merasa terjawab.
Gbu
lino
Menambahkan jawaban yang sudah diberikan Ibu Ingrid, kalau yang dimaksudkan Credo yang dimuat dalam Puji Syukur no. 474 (karena tak ada credo Latin lain dalam Puji Syukur), maka teksnya sesuai dengan teks asli (hasil Konsili Nikea Konstantinopel), yaitu tanpa rumus “yang turun ke tempat penantian”. Jadi bukan kelewatan. Para Bapa Konsili Nikea Konstantinopel memandang isi iman “yang turun ke tempat penantian” sudah secara implisit terkandung dalam rumus “wafat dan dimakamkan”
Semoga menjadi jelas. Doa dan Gbu.
Pst. B.Boli, SVD.
Sejarah Cara Pemilihan Kutipan Teks Kitab Suci dalam Misa Harian sepanjang Tahun Liturgi ( A, B, C) :
Gereja Katolik sudah menetapkan daftar kutipan teks Kitab Suci yang berlaku tetap sepanjang tahun sesuai dengan tahun liturgi yang berlaku.
Pertanyaan :
1.Berdasarkan daftar kutipan tetap tersebut, bahkan diajarkan kepada semua umat : jika mengikuti Misa harian selama tiga tahun berturut-turut maka anda sudah membaca dan atau mendengar seluruh isi Kitab suci. Apakah kesimpulan (aksioma) itu sudah teruji dan dibuktikan secara tuntas?
2. Sejak kapan ( tahun berapa) dan oleh siapa daftar tetap tersebut difinalisasi untuk tiga tahun liturgi yang berturut-turut?
3. Sering makna dua bacaan Kitab Suci dalam Misa harian terasa tidak nyambung dengan pesta peringatan orang kudus yang dirayakan pada hari bersangkutan. Kami kesulitan menafsirkan kedua kutipan teks Kitab Suci yang dimaksud dengan riwayat hidup santo/a yang dirayakan. Jadi terkesan kutipan itu semacam dipaksakan atau diurutkan begitu saja tanpa memperhatikan makna pesta yang diperingati pada hari itu. Bahkan makna antara bacaan pertama dan kedua menjadi sangat sulit dihubung-hubungkan.
Shalom Herman Jay,
Jawaban saya tulis dalam huruf miring di bawah pertanyaan Anda
Sejarah Cara Pemilihan Kutipan Teks Kitab Suci dalam Misa Harian sepanjang Tahun Liturgi ( A, B, C) :
Gereja Katolik sudah menetapkan daftar kutipan teks Kitab Suci yang berlaku tetap sepanjang tahun sesuai dengan tahun liturgi yang berlaku.
Pertanyaan :
1.Berdasarkan daftar kutipan tetap tersebut, bahkan diajarkan kepada semua umat : jika mengikuti Misa harian selama tiga tahun berturut-turut maka anda sudah membaca dan atau mendengar seluruh isi Kitab suci. Apakah kesimpulan (aksioma) itu sudah teruji dan dibuktikan secara tuntas?
Bacaan Tahun A, B, C, bukanlah lingkaran bacaan tiga tahunan untuk Misa harian, tetapi untuk hari-hari Minggu dan hari raya. Sedangkan lingkaran dua tahunan (Tahun I dan II) adalah lingkaran bacaan untuk Misa harian. Bila umat setia merayakan Misa hari Minggu dan hari raya (tahun A, B, C) serta Misa harian (Tahun I dan II), maka sebagian besar isi Kitab Suci dibaca-didengar-direnungkan jadi perlu dikoreksi ungkapan “seluruh isi Kitab Suci”
2. Sejak kapan ( tahun berapa) dan oleh siapa daftar tetap tersebut difinalisasi untuk tiga tahun liturgi yang berturut-turut?
Secara resmi daftar tetap itu diumumkan ketika buku bacaan Misa (Lectionarium, tiga jilid) diterbitkan pada tahun 1970-1972, pada masa Paus Paulus VI.
3. Sering makna dua bacaan Kitab Suci dalam Misa harian terasa tidak nyambung dengan pesta peringatan orang kudus yang dirayakan pada hari bersangkutan. Kami kesulitan menafsirkan kedua kutipan teks Kitab Suci yang dimaksud dengan riwayat hidup santo/a yang dirayakan. Jadi terkesan kutipan itu semacam dipaksakan atau diurutkan begitu saja tanpa memperhatikan makna pesta yang diperingati pada hari itu. Bahkan makna antara bacaan pertama dan kedua menjadi sangat sulit dihubung-hubungkan.
Bila ada kesulitan seperti itu, diusulkan untuk boleh memilih bacaan dari rumus umum Misa orang kudus, misalnya bacaan umum untuk para martir, pujangga Gereja, gembala umat.
Salam Damai dalam Kristus.
Tks dan doa,
Rm.B.Boli
Pertanyaan seputar Liturgi Tri Hari Suci :
1. Sejak kapan Liturgi Kamis Putih, Jumat Agung dan Malam Paskah dalam bentuknya yang berlaku sampai sekarang mulai berlaku?
2. Bagaimana sejarah pengembangan Liturgi Tri Hari Suci sehingga mencapai bentuknya seperti yang sekarang ini?
3.Siapa sebenarnya tokoh atau event organizer asli dari Liturgi Tri Hari Suci , sebagaimana tercatat dalam sejarah gereja katolik?
[Dari Katolisitas: pertanyaan digabungkan karena masih satu topik]
Pertanyaan seputar Liturgi Malam Paskah:
1. Terdapat 26 Santo/Santa yang disebutkan secara eksplisit dalam Litani Para Kudus. Para santo/santa tersebut hidup pada jaman yang berbeda. Kapan Litani Para Kudus sebagaimana yang dipakai sekarang ini dalam Gereja Katolik menjadi formula tetap?
2.Apakah Litani Para Kudus dibacakan juga dalam acara malam Paskah di gereja Anglikan dan Ortodoks?
3. Apakah Santo Mikael yang disebut dalam Litani menunjuk kepada malaikat Mikael ataukah benar-benar manusia yang pernah hidup di dunia dan bernama Mikael? Kalau yang dimaksud malaikat Mikael, mengapa hanya dia yang disebut padahal ada juga malaikat Gabriel dan Rafael? Kalau yang dimaksud memang malaikat , mengapa dimasukkan ke dalam Litani Para Kudus? Bukankah santa/santo merujuk kepada manusia yang pernah hidup di dunia?
Salam Herman Jay,
Pertanyaan- pertanyaan ini sangat luas cakupannya. Mungkin jawaban di bawah ini amat singkat dan tidak sesuai dengan harapan, mohon dimaafkan.
1. Liturgi Kamis Putih, Jumat Agung dan Malam Paskah dalam bentuknya yang berlaku sampai sekarang dimulai sejak 1951, sebagai Ad experimentu selama 3 tahun, lalu pada tahun 1955 ditetapkan secara definitif hingga sekarang.
2. Sekilas sejarah pengembangan liturgi Tri Hari Suci, yang paling awal adalah perayaan hari Minggu, yaitu hari Kebangkitan Kristus sebagai hari Tuhan. Agak jelas pada pada abad ke- 2 mulai dibuat perayaan Paskah tahunan pada tanggal 14 Nisan, berdasarkan tradisi Yahudi, tetapi dengan isi dan makna Kristiani. Sejak abad ke- 4 muncullah upaya untuk mengenangkan hari- hari historis menjelang hari Minggu Kebangkitan, yaitu: ibu dari segala Vigili (hari Sabtu), peringatan penderitaan dan kematian Yesus dengan puasa dan pantang (hari Jumat) dan perayaan Perjamuan Malam Terakhir (hari Kamis). Inilah cikal bakal Triduum (Tri Hari Suci) Paskah.
Ketika diperbaharui pada tahun 1951 dan 1955, Triduum yang dilakukan dalam kurun waktu tiga hari itu terdiri dari:
Hari pertama: mengenangkan penderitaan dan kematian Yesus yang dimulai sejak Perjamuan Malam (Kamis malam), dan seluruh hari Jumat Agung.
Hari kedua: Mengenangkan masuknya Tuhan Yesus ke dunia orang mati, pada hari Sabtu pagi sampai sore.
Hari ketiga: Mengenangkan kebangkitan Tuhan Yesus, dimulai hari Sabtu malam sampai Minggu sore.
3. Tokoh asli Tri Hari Suci adalah Yesus Kristus sendiri yang bangkit mulia setelah menderita dan mati untuk menebus manusia yang berdosa.
4. Tentang sejak kapan litani para 26 Santo/a dipakai, terus terang saya belum menemukan informasinya, demikian pula informasi tentang apakah litani para kudus ini juga disebutkan di dalam gereja Anglikan dan Orthodoks. Mohon maaf.
5. Santo Mikael yang disebut dalam litani, apakah malaikat Mikael ataukah orang kudus yang bernama Mikael, memang tidak jelas disebut dalam litani. Namun jika dilihat urutannya, nampaknya adalah malaikat Mikael. St. Mikael adalah penghulu malaikat, sehingga tingkatannya memang di atas malaikat Gabriel dan Rafael. Maka wajar jika yang disebut dalam litani St. Mikael disebut lebih dahulu, (baru kemudian disusul dengan St. Gabriel dan St. Rafael), atau jika yang disebut secara khusus hanya St. Mikael, sedangkan malaikat St. Gabriel dan St. Rafael digabungkan dalam bilangan “para malaikat lainnya” yang disebut setelah St. Mikael.
Sebutan Santo, ditujukan kepada para kudus, termasuk juga kepada malaikat. Katekismus mengajarkan demikian:
KGK 335 Dalam liturginya Gereja mempersatukan diri dengan para malaikat untuk menyembah Allah yang Maha Kudus (Bdk. MR “Sanctus”); ia minta bantuan mereka (Bdk. “Supplices te rogainus…”) dalam Doa Syukur Agung I (Romawi); “In paradisum deducant te angeli…” dalam Upacara Pemakaman dan “Himne Kherubim” dalam liturgi Santo Yohanes Krisostomus, dan merayakan terutama peringatan akan malaikat tertentu (St. Mikael, St. Gabriel dan St. Rafael, dan para malaikat pelindung yang suci).
Salam,
Pastor Boli
PS: St. Mikael yang bukan malaikat adalah St. Mikael Garicoits, pengaku iman, yang peringatannya jatuh pada tanggal 14 Mei.
Tentang mulai kapan ada litani para kudus: sudah ada sejak abad 4, seperti di Gereja Timur dari kesaksian di jaman St. Basilius (+ 379) dan bahkan jauh sebelumnya dari St. Gregorius Thumaturgus (270).
Untuk Gereja Barat, sudah menyebar hampir semua Gereja lokal sejak abad ke-5. Ada litani yang dikenal dengan nama Litani Minor atau Galicana dari St. Mamertus, uskup Wina tahun 477. Beliau menyeruhkan kepada umat untuk mendoakan litani ke para kudus ini ketika gempa bumi dan mala petaka melanda kota Wina dan sekitarnya. Dari litani ini oleh St. Gregorius Agung menyeruhkan kepada warga kota Roma ketika bencana banjir tahun 589 & 590 dan wabah pes melanda Roma akibat meluasnya sungai Tiber. Paus Pelagius menjadi korban dari bencana ini. St. Gregorius Agung menyerukan warga Roma untuk melakukan doa dan prosesi dari tujuh gereja di Roma menuju Basilika St. Yohanes Lateran. Prosesi itu seraya mengenangkan St. Mamertus, dengan intensi dengan perantaraan para kudus mohon keselamatan dari bencana banjir ini. Prosesi doa dan litani inilah yang disebut : LITANIA SEPTIFORMIS dari St. Gregorius Agung dan PROSESI St. Mamertus pada tahun 590.
Oleh karena beredarnya beragam litani, maka paus Klemens VIII membuat suatu dekrit inquisi tanggal 6 september 1601, untuk menyeragamkan suatu bentuk litani para kudus seperti dalam buku² liturgi dan litani dari Loreto (Litani St. Maria),
Selain itu kita juga mengenal Litani Nama Yesus tersuci, litani Hati Yesus yang mahakudus dan litani St. Yoseph.
semoga bermanfaat
salam
[Dari Katolisitas: Terima kasih atas masukan anda.]