Apakah berfantasi seks itu dosa?

113

Pertanyaan:

Helo, Saya hendak bertanya satu soalan…saya rasa ini sesuatu yang memalukan bagi saya sendiri..harap beri pedoman dan penjelasan saudari. Saya selalu melakukan fantasi seks yang saya anggap kurang ajar bagi diri saya sendiri…saya kira ini adalah satu dosa tetapi saya tidak melakukan seks dengan orang hanya anggapan ini berada dalam fikiran kotor saya….saya ingin berhenti melakukan hal ini kerana saya tahu saya berdosa bagi diri saya sendiri….saya selalu berdoa supaya perkara ini tidak diulangi lagi…

Pertanyaan saya adalah adakah dosa saya adalah dosa yang berat atau ringan? Saya selalu minta ampun dengan Tuhan atas segala dosa saya dan adakah ianya berbaloi untuk mendapatkan pengampunan terus dari Tuhan atau melalui paderi supaya saya dapat melakukan indulgensi.

Hamba Berdosa – Esther

Jawaban:

Shalom Esther,

Terima kasih atas kunjungannya ke situs katolisitas.org dan juga atas keterbukaannya untuk membagikan pengalaman Esther. Pertama-tama, perlu disadari bahwa semua orang berjuang untuk dapat hidup dalam kekudusan. Setiap orang juga mempunyai kelemahan masing-masing dan kelemahan-kelemahan ini dipakai oleh iblis untuk membuat kita berputus asa dan tak berdaya. Namun, kelemahan-kelemahan ini juga dipakai oleh Kristus untuk menyatakan kemuliaan-Nya. Dan hal ini hanya dapat terjadi, kalau kita mempunyai hubungan yang baik dengan Yesus serta terus bekerjasama dengan rahmat Tuhan untuk bertumbuh dalam kekudusan.

Keinginan untuk bertobat dapat menjadi “efficacious” (memberikan efek) dan bisa juga “inefficacious” (tidak memberikan efek). Hal ini dikarenakan kita sebagai manusia sering untuk berusaha memerangi dosa dengan kekuatan kita sendiri. Dan hal inilah yang dialami oleh St. Agustinus dari Hippo. Semakin kita ingin memerangi dosa dengan kekuatan sendiri, maka semakin kita terjatuh dalam lumpur keputusasaan, karena kita akan gagal. Kalau dosa adalah ketidakadaan kasih, maka dosa hanya dapat ditangani dengan cara mengisinya dengan kasih. Dan kasih ini hanya didapatkan dari Kristus, yang terlebih dahulu mengasihi kita. Jadi, cara untuk mengatasi keterikatan kita akan dosa adalah dengan mempunyai hubungan yang baik dengan Kristus, melalui doa pribadi, sakramen (terutama Ekaristi dan sakramen pengakuan) dan devosi kepada Bunda Maria.

Pada saat fantasi sex datang, maka hal ini belum termasuk dosa. Namun pada saat kita secara sadar melayani fantasi sex ini, maka kita mulai berdosa, dalam kategori dosa ringan. Kalau hal ini terus dipupuk, maka kita harus berhati-hati, karena tinggal tunggu waktu, maka dosa yang ada di dalam pikiran akan membuahkan maut, seperti melakukan masturbasi, dll. Dan pada saat kita melakukan dosa ini, maka kita melakukan dosa berat (mortal sin). Pembahasan lebih terperinci tentang perkembangan dosa, silakan untuk melihat artikel “Pengakuan Dosa – bagian 1″, terutama bagian “bagaimana proses dosa berkembang” (silakan klik).

Katekismus Gereja Katolik (KGK, 2352): “Masturbasi adalah rangsangan alat-alat kelamin yang disengaja dengan tujuan membangkitkan kenikmatan seksual. “Kenyataan ialah bahwa, baik Wewenang Mengajar Gereja dalam tradisinya yang panjang dan tetap sama maupun perasaan susila umat beriman tidak pernah meragukan, untuk mencap masturbasi sebagai satu tindakan yang sangat bertentangan dengan ketertiban”, karena penggunaan kekuatan seksual dengan sengaja, dengan motif apa pun itu dilakukan, di luar hubungan suami isteri yang normal, bertentangan dengan hakikat tujuannya”. Kenikmatan seksual yang dicari karena dirinya sendiri tidak mempunyai “tujuan susila yang dituntut oleh hubungan seksual, yaitu yang melaksanakan arti sepenuhnya dari penyerahan diri secara timbal balik dan juga satu pembuahan manusiawi yang sebenarnya di dalam cinta yang sebenarnya” (CDF, Perny. “Persona humana” 9).
Supaya membentuk satu penilaian yang matang mengenai tanggung jawab moral dari mereka yang bersalah dalam hal ini, dan untuk menyusun bimbingan rohani supaya menanggapinya, orang harus memperhatikan ketidakmatangan afektif, kekuatan kebiasaan yang sudah mendarah daging, suasana takut, dan faktor-faktor psikis atau kemasyarakatan yang lain, yang dapat mengurangkan kesalahan moral atau malahan menghilangkannya sama sekali.”

KGK 2396   Masturbasi, percabulan, pornografi, dan praktek homoseksual termasuk dosa-dosa yang sangat melanggar kemurnian.”

Bagaimana untuk memperbaikinya? Berikut ini adalah beberapa usulan yang mungkin dapat dijalankan.

1) Mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan, melalui doa pribadi, sakramen-sakramen, devosi terhadap Bunda Maria. Dosa dan doa senantiasa berbanding terbalik. Kalau kita terus bertekun dan setia dalam doa, maka biasanya kita tidak akan melakukan dosa berat. St. Teresa dari Avila mengatakan bahwa salah satu – dosa berat atau doa – harus menyerah dan tidak mungkin kedua-duanya berjalan bersamaan.

2) Pada saat fantasi itu datang, berdoalah dan mohon kekuatan dari Tuhan dan berdoalah juga agar Bunda Maria membantu. Bunda Maria, wanita tersuci akan membantu kita untuk mengatasi dosa ketidaksucian. Ucapkan doa yang pendek, namun berulang-ulang, seperti “Jesus, have mercy on me” atau “Yesus, kasihanilah aku“. Dan setelah itu, lanjutkan dengan aktifitas yang lain. Kita juga harus mencoba untuk menghindari situasi yang dapat membangkitkan fantasi seksual, misalkan, membaca  buku bacaaan, website, ataupun melihat gambar-gambar, film-film ataupun foto-foto yang dapat mengarahkan pikiran kepada fantasi-fantasi seksual, dll.

3) Pada saat kita gagal dan kembali pada dosa yang sama, maka secepatnya kita harus datang kepada romo untuk menerima Sakramen Tobat. Dan mulai lagi dari awal, dan jangan berputus asa. Dosa yang telah menjadi kebiasaan (habitual sin) akan membutuhkan waktu untuk dipatahkan. Hanya berkat Tuhan dan kerjasama dari kita, yang dapat mengalahkannya. Alangkah baiknya kalau anda dapat mempunyai pembimbing rohani dan bapa pengakuan yang sama, sehingga dia dapat membantu anda untuk mengatasi masalah ini. Habitual sin ini hanya dapat dikalahkan dengan “virtue” (kebajikan). Karena kebajikan adalah “the habit of the soul to perform good action with easiness and competent“, maka diperlukan suatu latihan untuk mengerjakan kebajikan tersebut secara berulang-ulang, sehingga dapat menjadi suatu kebiasaan/habit Pada saat yang bersamaan, kita dapat minta kepada Tuhan untuk memberikan kebajikan tertentu – dalam hal ini kebajikan kemurnian – , karena hanya Tuhan yang dapat masuk ke dalam jiwa kita dan memberikan rahmat yang diperlukan untuk mendapatkan kebajikan yang kita minta.

Semoga jawaban singkat di atas dapat membantu anda. Jangan berputus asa, karena sesungguhnya kesadaran akan kesalahan itu berasal dari  karya Roh Kudus yang dapat membawa seseorang kepada pertobatan dan kerendahan hati. Mari kita bersama-sama berjuang untuk hidup kudus, dengan mengandalkan rahmat Allah yang berlimpah. Dan percayalah senantiasa pada belas kasihan Allah.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

Share.

About Author

Stefanus Tay telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

113 Comments

  1. Salam sejahtera,
    Saya adalah calon penerima krisma dan sudah melakukan pengakuan dosa sebelum penerimaan krisma. Namun ditengah perjalanan saya melakukan dosa besar yakni beronani. Apakah yang harus saya lakukan bila di tempat tinggal saya jarang diadakan pengakuan dosa setelah pengakuan dosa yang pertama sekali.

    • Caecilia Triastuti on

      Shalom NN,

      Kami menyarankan Anda membaca artikel yang Ibu Ingrid dan Pak Stef tuliskan di sini (silakan klik) dan silakan melakukan tips -tips yang disampaikan di dalamnya

      Kami juga menganjurkan Anda untuk menerima Sakramen Pengakuan Dosa sedapat mungkin. Jika Anda terbeban dengan dosa tsb, yang sesungguhnya menghalangi Anda untuk menerima Komuni Kudus, karena Anda sendiri menyadari bahwa itu adalah dosa berat, maka Anda bisa mengusahakan untuk mengunjungi paroki di kota lain yang terdekat dengan kota di mana Anda tinggal, dan menerima Sakramen Pengakuan Dosa di sana. Dan untuk tidak jatuh ke dalam dosa yang sama, mungkin saran saya di bawah ini bagi pembaca yang lain, yang sedang bergumul dengan pikiran kotor/negatif, bisa berguna juga bagi Anda:

      Apa yang sering mengisi atau muncul di dalam pikiran kita tak lepas dari apa yang sering kita lihat, baca, atau dengar dengan panca indera kita atau dari kejadian yang memberi pengaruh yang kuat yang kita alami. Semakin banyak hal-hal yang kudus dan baik yang kita konsumsi, misalnya sering berdoa, sering mengikuti Ekaristi Kudus, sering membaca riwayat Santo/a, sering membaca bacaan yang membangun iman, sering berdiskusi rohani yang membangun dengan sesama, sering mendengarkan musik rohani, maka akan semakin banyak juga hal-hal yang kudus dan mulia mengisi hati dan pikiran kita. Pikiran yang kotor atau negatif umumnya memenuhi pikiran kalau kita membiarkan diri kita terpapar hal-hal yang juga kotor atau negatif. Maka memilih apa yang kita baca, dengar, nikmati, dalam hidup sehari-hari, sangat penting untuk memenuhi hati kita dengan yang baik dan kudus dari Tuhan. Ingatlah kembali akan ayat ini, “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu. (Filipi 4:8). Demikianlah jika kita mengasihi Tuhan, kita akan sibuk memikirkan dan melakukan apa yang disukai Tuhan, dan menghindari hal-hal yang membuatNya sedih. Bandingkan dengan jika kita mengasihi seseorang, misalnya saudara kandung kita, orangtua, atau sahabat terdekat kita, dan yang termudah pastinya kekasih / pasangan hidup kita. Tidak akan aneh jika kita akan selalu mencari cara untuk membuat orang yang kita sayangi itu merasa senang dan jangan sampai merasa kecewa. Demikian jugalah dengan kasih kita kepada Tuhan, yang menciptakan kita dengan kasih sempurna dan telah menebus kita dari maut dengan kasih yang tiada tara dan tiada bandingnya. Oleh karena itu, sering merenungkan sengsara dan wafat Kristus misalnya dalam doa Jalan Salib Kristus serta mendaraskan dan merenungkan peristiwa dalam Doa Rosario akan membantu menambah cinta kita dan rasa terima kasih kita kepada Tuhan. Dengan pikiran dipenuhi rasa syukur akan cinta kasih Allah dan rasa ingin selalu membalas kebaikan Allah, saya rasa akan sulit untuk pikiran kotor dan negatif untuk sering-sering muncul. Hikmah para Kudus juga mengajarkan kita untuk melakukan hal yang berkebalikan dari kecenderungan kita yang berdosa, supaya akhirnya kita melakukan yang benar dan berkenan kepada Tuhan. Misalnya saat pikiran jelek atau kotor muncul, segera kita lawan dengan pikiran kudus dan kasih yang kita timba dari Tuhan, sekalian melakukan perbuatan kasih yang membuat pikiran kita semakin tertambat kepada kasih Tuhan. Dan akhirnya, bila kita mengandalkan kekuatan sendiri, kita akan gagal. Andalkan selalu rahmat Tuhan dan mohonlah karunia Roh Kudus yang selalu rindu Tuhan curahkan bagi kita sehingga niat kita diteguhkan setiap saat dan dimurnikan motivasinya untuk sungguh hanya mengasihi Tuhan dan melakukan apa yang berkenan kepada-Nya. Bergantung dan bersumber terus pada Tuhan juga akan sangat mendewasakan iman dan memurnikan kasih kita padaNya. Demikian saran yang bisa saya bagikan semoga dapat membantu.

      Teriring doa kami di Katolisitas.

      Salam kasih dan doa dalam Kristus Tuhan,

      Triastuti dan Ingrid Listiati – katolisitas.org