Helo, Saya hendak bertanya satu soalan…saya rasa ini sesuatu yang memalukan bagi saya sendiri..harap beri pedoman dan penjelasan saudari. saya selalu melakukan fantasi seks yang saya anggap kurang ajar bagi diri saya sendiri…saya kira ini adalah satu dosa tetapi saya tidak melakukan seks dengan orang hanya anggapan ini berada dalam fikiran kotor saya….saya ingin berhenti melakukan hal ini kerana saya tahu saya berdosa bagi diri say sendiri….saya selalu berdoa supaya perkara ini tidak diulangi lagi…
pertanyaan saya adalah adakah dosa saya adalah dosa yang berat atau ringan? Saya selalu minta ampun dengan tuhan atas segala dosa saya dan adakah ianya berbaloi untuk mendaptkan pengampunan terus dari tuhan atau melalui paderi supaya saya dapat melakukan indulgensi.
Hamba Berdosa – Esther
Shalom Esther,
Terima kasih atas kunjungannya ke situs katolisitas.org dan juga atas keterbukaannya untuk membagikan pengalaman Esther. Pertama-tama, perlu disadari bahwa semua orang berjuang untuk dapat hidup dalam kekudusan. Setiap orang juga mempunyai kelemahan masing-masing dan kelemahan-kelemahan ini dipakai oleh iblis untuk membuat kita berputus asa dan tak berdaya. Namun, kelemahan-kelemahan ini juga dipakai oleh Kristus untuk menyatakan kemuliaan-Nya. Dan hal ini hanya dapat terjadi, kalau kita mempunyai hubungan yang baik dengan Yesus serta terus bekerjasama dengan rahmat Tuhan untuk bertumbuh dalam kekudusan.
Rahmat Tuhan dapat menjadi “efficacious” (memberikan efek) dan bisa juga “inefficacious” (tidak memberikan efek). Hal ini dikarenakan kita sebagai manusia sering untuk berusaha memerangi dosa dengan kekuatan kita sendiri. Dan hal inilah yang dialami oleh St. Agustinus dari Hippo. Semakin kita ingin memerangi dosa dengan kekuatan sendiri, maka semakin kita terjatuh dalam lumpur keputusasaan, karena kita akan gagal. Kalau dosa adalah ketidakadaan kasih, maka dosa hanya dapat ditangani dengan cara mengisinya dengan kasih. Dan kasih ini hanya didapatkan dari Kristus, yang terlebih dahulu mengasihi kita. Jadi, cara untuk mengatasi keterikatan kita akan dosa adalah dengan mempunyai hubungan yang baik dengan Kristus, melalui doa pribadi, sakramen (terutama Ekaristi dan sakramen pengakuan) dan devosi kepada Bunda Maria.
Pada saat fantasi sex datang, maka hal ini belum termasuk dosa. Namun pada saat kita secara sadar melayani fantasi sex ini, maka kita mulai berdosa, dalam kategori dosa ringan. Kalau hal ini terus dipupuk, maka kita harus berhati-hati, karena tinggal tunggu waktu, maka dosa yang ada di dalam pikiran akan membuahkan maut, seperti melakukan masturbasi, dll. Dan pada saat kita melakukan dosa ini, maka kita melakukan dosa berat (mortal sin). Pembahasan lebih terperinci tentang perkembangan dosa, silakan untuk melihat artikel “Pengakuan Dosa – bagian 1″, terutama bagian “bagaimana proses dosa berkembang” (silakan klik).
Katekismus Gereja Katolik (KGK, 2352) mengatakan “Masturbasi adalah rangsangan alat-alat kelamin yang disengaja dengan tujuan membangkitkan kenikmatan seksual. “Kenyataan ialah bahwa, baik Wewenang Mengajar Gereja dalam tradisinya yang panjang dan tetap sama maupun perasaan susila umat beriman tidak pernah meragukan, untuk mencap masturbasi sebagai satu tindakan yang sangat bertentangan dengan ketertiban”, karena penggunaan kekuatan seksual dengan sengaja, dengan motif apa pun itu dilakukan, di luar hubungan suami isteri yang normal, bertentangan dengan hakikat tujuannya”. Kenikmatan seksual yang dicari karena dirinya sendiri tidak mempunyai “tujuan susila yang dituntut oleh hubungan seksual, yaitu yang melaksanakan arti sepenuhnya dari penyerahan diri secara timbal balik dan juga satu pembuahan manusiawi yang sebenarnya di dalam cinta yang sebenarnya” (CDF, Perny. “Persona humana” 9).
Supaya membentuk satu penilaian yang matang mengenai tanggung jawab moral dari mereka yang bersalah dalam hal ini, dan untuk menyusun bimbingan rohani supaya menanggapinya, orang harus memperhatikan ketidakmatangan afektif, kekuatan kebiasaan yang sudah mendarah daging, suasana takut, dan faktor-faktor psikis atau kemasyarakatan yang lain, yang dapat mengurang?kan kesalahan moral atau malahan menghilangkannya sama sekali.“
Bagaimana untuk memperbaikinya? Berikut ini adalah beberapa usulan yang mungkin dapat dijalankan.
1) Mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan, melalui doa pribadi, sakramen-sakramen, devosi terhadap Bunda Maria. Dosa dan doa senantiasa berbanding terbalik. Kalau kita terus bertekun dan setia dalam doa, maka biasanya kita tidak akan melakukan dosa berat. St. Teresa dari Avila mengatakan bahwa salah satu – dosa berat atau doa – harus menyerah dan tidak mungkin kedua-duanya berjalan bersamaan.
2) Pada saat fantasi itu datang, berdoalah dan mohon kekuatan dari Tuhan dan berdoalah juga agar Bunda Maria membantu. Bunda Maria, wanita tersuci akan membantu kita untuk mengatasi dosa ketidaksucian. Ucapkan doa yang pendek, namun berulang-ulang, seperti “Jesus, have mercy on me” atau “Yesus, kasihanilah aku“. Dan setelah itu, lanjutkan dengan aktifitas yang lain. Kita juga harus mencoba untuk menghindari situasi yang dapat membangkitkan fantasi seksual, misalkan, website yang tidak benar, buku bacaaan yang tidak benar, dll.
3) Pada saat kita gagal dan kembali pada dosa yang sama, maka secepatnya kita harus datang kepada romo untuk menerima Sakramen Tobat. Dan mulai lagi dari awal, dan jangan berputus asa. Dosa yang telah menjadi kebiasaan (habitual sin) akan membutuhkan waktu untuk dipatahkan. Hanya berkat Tuhan dan kerjasama dari kita, yang dapat mengalahkannya. Alangkah baiknya kalau anda dapat mempunyai pembimbing rohani dan bapa pengakuan yang sama, sehingga dia dapat membantu anda untuk mengatasi masalah ini. Habitual sin ini hanya dapat dikalahkan dengan “virtue” (kebajikan). Karena kebajikan adalah “the habit of the soul to perform good action with easiness and competent“, maka diperlukan suatu latihan untuk mengerjakan kebajikan tersebut secara berulang-ulang, sehingga dapat menjadi suatu kebiasaan/habit Pada saat yang bersamaan, kita dapat minta kepada Tuhan untuk memberikan kebajikan tertentu – dalam hal ini kebajikan kemurnian – , karena hanya Tuhan yang dapat masuk ke dalam jiwa kita dan memberikan rahmat yang diperlukan untuk mendapatkan kebajikan yang kita minta.
Semoga jawaban singkat di atas dapat membantu anda. Jangan berputus asa, karena sesungguhnya kesadaran akan kesalahan itu berasal dari karya Roh Kudus yang dapat membawa seseorang kepada pertobatan dan kerendahan hati. Mari kita bersama-sama berjuang untuk hidup kudus, dengan mengandalkan rahmat Allah yang berlimpah. Dan percayalah senantiasa pada belas kasihan Allah.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org
Salam katolisitas,
saya seorang mahasiswa,
saya kadang ketika sedang berselancar dalam dunia maya alias INTERNET? Kadang saya tanpa sengaja menemui gambar atau semacamnya yg berbau porno kecuali video,, jadi tanpa disengaja harus terlihat oleh mata saya, itu terjadi tanpa ada niat sebelumnya. Apakah hal tersebut dosa atau tidak? Kemudian apakah adegan “berciuman ala orang barat ” yg kadang muncul di film2 barat adalah termasuk pornorafi? Karena saya termasuk penggemar film-film barat seperti film action,,, namun karena film yg saya suka tersebut kadang tidak disensor, akhirnya hal yg tidak diharapkan seperti berciuman muncul? Biasanya saya langsung mengalihkan perhatian ketika itu ditayangkan,,,,,, apakah saya berdosa karena hal itu? Mohon pencerahannya Tim Katolisitas
Tuhan memberkati
Shalom Edo,
Membaca pertanyaan Anda, saya sangat menghargai niat Anda untuk menjaga diri dari ancaman dosa pornografi dengan usaha memurnikan pikiran dan penglihatan dari hal-hal yang mengarah ke sana. Memang arus informasi di dunia internet dan televisi kadang tak terhindarkan menyajikan gambar dan film yang menjurus kepada pornografi. Karena media semacam itu tidak ada filter (kendali)nya, maka filter (kendali) itu harus dikenakan pada diri kita, yaitu pada niat baik kita dan pikiran kita. Niat untuk mempertahankan kemurnian kita terapkan pada niat dan pikiran kita setiap saat. Kalau menemukan gambar atau video yang berbau pornografi secara tak sengaja, maka itu bukanlah dosa. Tetapi menjadi potensi dosa, jika kita mengunyah-ngunyahnya dalam pikiran. Atau dengan sengaja ingin kembali mencari untuk melihat sumber semacam itu. Silakan membaca bagaimana tahapan dosa itu terjadi, dalam artikel yang ditulis Pak Stef di sini, silakan klik. Di artikel itu disebutkan bagaimana sampai terjadinya proses orang jatuh ke dalam dosa, mulai dari “tergoda”. Jadi godaannya sendiri belum dosa, tapi kalau sampai kita membiarkan diri jatuh dalam godaan, maka di situ kita mulai berdosa.
Jika kita bertekad menjaga kemurnian diri, maka setelah kita tak sengaja menemukan atau melihat gambar, adegan, atau video yang berbau pornografi, kita segera menyingkirkan dan menjauhi sumber media itu. Perhatikanlah situs yang berpotensi menyajikan hal seperti itu dan jangan lagi mengaksesnya di kesempatan lain. Kemudian kendalikanlah pikiran kita, supaya apa yang sudah kita lihat secara tak sengaja itu tidak berkembang menjadi potensi dosa di dalam pikiran dan perbuatan. Hal yang sama kita terapkan pada saat melihat film. Kalau ternyata harus ada adegan yang menjurus ke arah pornografi, ya benar sebaiknya alihkan perhatian ke hal yang lain, supaya ia lewat dan berlalu dan tidak mengendap di pikiran.
Supaya pikiran kita selalu bersih, dipenuhi oleh hal-hal yang baik dan terkendali, adalah sangat baik untuk menjaga diri kita tidak terekspose (terpapar) dengan hal-hal yang berpotensi membuat pikiran dan penglihatan kita berdosa. Jauhi sumber-sumber media yang kiranya banyak mengandung potensi pornografi. Perkaya diri sendiri dengan sumber-sumber pengetahuan yang memupuk rasa cinta kepada Tuhan dan penghormatan kepada ciptaan Tuhan dan martabat manusia. Maka punyailah dan pupuklah kebiasaan membaca dan merenungkan Firman Tuhan, pilihlah fim-film yang mendidik untuk ditonton, misalnya yang bernuansa kemanusiaan, atau berupa ilmu pengetahuan yang bermanfaat. Perbanyaklah membaca bacaan-bacaan rohani semisal riwayat orang Kudus, majalah rohani, mendengarkan lagu-lagu rohani, dan bersekutu dengan sesama yang gemar mencari kebenaran Tuhan.
Kita memang tidak selalu bisa menghindari hadirnya di depan mata kita berbagai muatan informasi dengan berbagai isi yang tidak berpotensi baik (disebut dengan tidak sengaja), tetapi kita selalu bisa memilih dengan sengaja untuk mendapatkan hiburan yang sehat dan bersih, serta memilih menggunakan waktu santai kita dengan hal-hal yang bermanfaat dan berkenan kepada Tuhan. Di situlah niat kita untuk menjaga kemurnian dan menjaga diri dalam kekudusan akan terbukti.
Selanjutnya untuk memperkuat niat Anda, silakan membaca artikel di atas, yang berkaitan dengan hal ini, silakan klik.
Kiranya Tuhan senantiasa memberkati usaha dan niat baik Anda. Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Caecilia Triastuti dan Ingrid Listiati – katolisitas.org
Saya seringkali juga melakukan onani saat saya bodoh, sebab saya tidak dapat menahannya dan kalau aku dapat, aku potong aja aku punya tapi saya ingat kata Tuhan, kalau itu tiada, saya bukan lelaki lagi… dan tetapi selepas itu (selesai melakukan), saya merasa malu dan saya berdoa terus menerus meminta pengampunan dari Tuhan Yesus dan berdoa rosari sehingga saya merasakan kembali semula ke posisi asal, dalam rahmat dan saya akan merasakan kembali urapan Tuhan, sehingga saya menangis…
Memang terlalu sukar bagi saya untuk menghindarinya tetapi saya berusaha sebaik mungkin untuk melawan sedapat yang mungkin, tapi penolakan saya untuk meniduri wanita yang bukan isteri saya (saya belum beristeri lagi) adalah sangat kuat.
Saya dapat katakan bahawa, satu kali saya membuat onani, tiga hari saya berusaha untuk memperbaiki telefon saya dan hari yg ketiga baru siap dibaiki sebab perhubungan saya dengan Allah Bapa di syurga, seolah2 terputus seketika.. dan kembali bersinar lagi, selepas tiga hari melakukan doa dan puasa lagi… dan keinginan untuk terus berdoa tidak pernah putus.
Soalan pertama:
Bagaimana pula dengan seorang suami isteri, seandainya suami itu isterinya mengandung, dan suami pula membuat onani dengan khayalannya ditujukan kepada isterinya, kerana tidak mungkin suami akan mencari lain dan mencari yg lain untuk ditiduri semasa isteri sedang mengandung?
Soalan kedua:
Saya mendengar bahawa ada suami yang ingin menjadi kudus, lalu dia tidak mahu meniduri isterinya, sebab suaminya takut , bila dia berfikir mengenai hal seks, dia (suami akan berdosa) dan akhirnya hubungan menjadi renggang, bagaimana pendapat Romo tentang hal ini?
Soalan ketiga:
Selepas berkhawin, tiada rangsangan seks yang dapat dirasai oleh isterinya, tetapi dengan melihat filem-filem porno, barulah rangsangan isteri kuat dan mereka dapat melakukan hubungan pada akhirnya. Jadi, berdosakah mereka jika harus melihat filem porno terlebih dahulu sebelum melakukan hubungan seks. Mereka sudah berkhawin dan belum ada rangsangan apa2 dari pihak wanita (isterinya) dan kadang2 mengakhibatkan kesuraman pada perkhawinan.
Soalan ketiga:
Jika benar melihat filem porno adalah dibenarkan pada waktu itu (untuk tujuan merangsang isteri/suami yg suram dalam seks) , tidakkah mereka akan menjadi ketagih filem porno nanti? dan ketagih porno itu dosa kalau keterlaluan atau sedang2 saja? Saya katakan ini semasa di dalam perkhawinan…
Soalan keempat: Adakah perkataan yang diucapkan itu kotor kalau suami isteri berbicara keduanya dalam bilik dan berbicara mengenai perkara yg kotor2.. (tapi mengarah kepada perkhawinan) baru ada rangsangan seks untuk bersetubuh.. kedua2nya… dan adakah ini dosa?
Saya bertanya seperti ini sebab saya tidak faham…. apabila geraja mengajarkan jangan berfikir mengenainya tapi di dalam kursus perkhawinan, waduh!! segala macam keluar.. kotor pun jadi normal semuanya… saya tidak faham… Mohon tolong jelaskan ya Romo atau siapa2 saja yang dapat menjawab soalan saya. ini bukan persoalan utama, cuma soalan aja sih.
Shalom Brandon,
Terima kasih atas sharingnya. Saya rasa, pada tahap ini kita setuju bahwa onani maupun masturbasi adalah berdosa. Katekismus Gereja Katolik (KGK) menuliskannya demikian:
Perbuatan dosa, termasuk dosa onani – kalau telah menjadi kebiasaan, memang tidak mudah untuk dilepaskan. Silakan melihat tahapan dosa di artikel tentang pengakuan dosa bagian 1 – silakan klik. Untuk lepas dari dosa yang telah menjadi kebiasaan, maka kita perlu benar-benar meminta rahmat Tuhan sehingga kita memperoleh kekuatan untuk dapat berkata “tidak” terhadap dosa. Tentu saja rahmat Allah ini harus dibarengi niat kita untuk benar-benar berubah, termasuk dengan menjauhi tempat atau kesempatan berbuat dosa, membangun iman dengan doa, Firman dan Sakramen serta komunitas. Dan yang terpenting, janganlah menyerah kalau kita jatuh. Bangkitlah kembali dan cepat-cepatlah untuk mengaku dosa dalam Sakramen Tobat. Sakramen ini akan memberikan kita rahmat dalam perjuangan kita untuk hidup kudus. Sekarang mari kita melihat pertanyaan-pertanyaan yang anda ajukan:
1. Onani, yang walaupun dalam konteks karena istri mengandung, tetaplah berdosa. Oleh karena itu, perlu didiskusikan dengan dokter, bagaimana agar hubungan suami istri tetap dilakukan, namun dengan posisi yang tidak membahayakan bayi yang sedang dikandung.
2. Kekudusan suami istri bukanlah identik dengan menjauhi kehidupan seks. Dalam kasus-kasus tertentu, kalau suami istri setuju untuk melakukannya demi kebaikan atau tujuan yang lebih tinggi tentu saja memungkinkan. Namun, hubungan seks sendiri adalah hubungan yang sakral, yang secara kodrat telah diberikan oleh Tuhan, sehingga manusia dapat memperoleh keturunan dan juga menjadi sarana untuk mendekatkan diri satu sama lain, dengan cara yang sungguh dalam dan indah. Jadi, dalam konteks suami istri, kalau seorang suami istri tidak mau meniduri istrinya, sehingga menyebabkan hubungan suami istri menjadi renggang dan menjadi sumber perceraian, maka suami tersebut sebenarnya telah berdosa. Dapat dikatakan dalam kehidupan perkawinan, kehidupan seks untuk mendapatkan keturunan dan memperkuat tali perkawinan, membesarkan anak, membina keluarga yang baik dan bertanggung jawab serta memberikan pendidikan anak dengan baik adalah merupakan satu paket, yang tidak terpisahkan.
3 & 4. Menurut saya, menonton film porno karena diperlukan oleh suami atau istri untuk melakukan hubungan suami istri, perlu diteliti dan dicermati lebih lanjut. Menonton film porno walaupun ditonton oleh suami istri adalah tetap berdosa, karena melawan kemurnian dan merendahkan hubungan seks yang sakral ke taraf, maaf ‘hewan’. Apakah ini hanya sebagai alasan saja? Atau karena terbiasa dengan metode ini, sehingga kalau tidak melakukan metode ini, maka sulit melakukan hubungan suami istri? Jadi, menjadi tantangan bagi pasangan tersebut untuk mendiskusikan hal ini secara terbuka, sehingga dapat dicari jalan keluar tanpa melakukan dosa. Kalau pembicaraan mengenai seks (bukan kata-kata kotor, karena seks di dalam perkawinan bukanlah kotor, namun sesuatu yang sakral) dapat memberikan kualitas dalam hubungan suami istri, maka hal tersebut dapat saja dilakukan, asal tetap menjaga kehormatan pasangan. Semoga jawaban ini dapat membantu.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org
Sejak SMP, saya telah beronani. Sejak itu saya mulai kecanduan. Hampir setiap hari saya lakukan. Saya menyadari itu adalah dosa. Namun saya slalu tergoda untuk melakukannya. Saya selalu berusaha untuk tidak melakukannya, saya selalu berdoa dan melakukan berbagai cara untuk menghindari hal itu namun selalu gagal. Sejak SMA saya mampu mengurangi frekuensinya, menjadi seminggu sekali.Tapi saya tetap saja merasa hampa, saya merasa berdosa. Saya mulai mampu untuk menahan godaan2 tapi sering kali saya jatuh karena hal sepele. Saya juga sering terpengaruh teman2 saya. Saya juga sering membaca buku buku rohani untuk memperdalam iman saya. Tapi saya tetap tergoda. Pernah suatu kali saya bermimpi Yesus datang kepada saya, mengulurkan tanganNya dan menarik saya. Sejak itu saya seperti mndpt kekuatan untuk tidak melakukan itu lagi. Tapi tetap saja saya jatuh lagi. Sering saya merasa Tuhan menarik saya,tapi saya selalu jatuh. Saya mohon bantuan untuk membimbing saya ke jalan yang benar
Dari seorang pendosa
Shalom Eduardo,
Terima kasih atas keterbukaan anda untuk menceritakan permasalahan seksualitas. Suatu dosa yang sering dilakukan akan menjadi kebiasaan dosa. Kebiasaan yang buruk ini seolah-olah mengakar di dalam jiwa dan kalau tidak diatasi, maka seseorang dapat menjadi budak dosa, sehingga akhirnya akan mendatangkan maut. Rasul Yakobus menuliskan “Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.” (Yak 1:15) Dosa yang menjadi kebiasaan dapat memperbudak kita, sehingga kita seolah-olah tidak mempunyai kekuatan untuk mengatakan “tidak” terhadap dosa tersebut. Silakan melihat tahapan dosa di sini – silakan klik. Dibutuhkan rahmat Tuhan dan keinginan kuat dari kita untuk bekerja sama dengan rahmat Tuhan, sehingga kita dapat dibebaskan dari dosa tersebut.
Langkah pertama adalah menyadari bahwa kita memang lemah dan berdosa. Namun, kesadaran ini harus dibarengi dengan kesadaran bahwa Tuhan adalah segalanya, karena Tuhan mampu membebaskan semua dosa. Dia telah mengorbankan Diri-Nya dan wafat di kayu salib untuk menebus dosa kita semua. Pengorbanan-Nya adalah sempurna dan mampu membebaskan kita dari belenggu dosa yang paling kuat sekalipun. Setelah kita menyadari hal itu, maka kita harus mempunyai kesabaran dalam perjuangan untuk mengalahkan dosa yang telah menjadi kebiasaan ini. Ini adalah sebuah proses, sampai pada akhirnya kita dapat terbebas.
Retret juga dapat membantu anda untuk mengatasi dosa ini. Namun, yang akhirnya harus anda lakukan – baik dengan atau tanpa retret – adalah senantiasa bertekun dalam doa pribadi, mempunyai komunitas sehingga anda dapat bertumbuh secara spiritual, bertekun dalam Firman Tuhan dan tentu saja berpartisipasi secara teratur dalam Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat. Usahakan agar anda dapat mengikuti perayaan Ekaristi bukan hanya pada hari Minggu, namun juga pada hari-hari biasa. Kemudian, anda juga harus mempunyai keteraturan dalam mengaku dosa (misal: satu bulan sekali) dan kalau memungkinkan dengan pastor yang sama, sehingga pastor tersebut dapat membimbing anda dengan lebih baik.
Hal yang perlu anda lakukan adalah menjauhi kesempatan berbuat dosa. Jadi, kalau sebagian teman anda dapat membawa anda kepada kebiasaan buruk, maka jauhilah teman-teman tersebut. Nanti, kalau suatu saat anda mempunyai pondasi yang kuat dalam iman, maka anda dapat membawa teman-teman anda ke jalan yang benar. Namun, untuk sementara, jauhilah tempat-tempat, teman-teman, mengakses internet sendirian, jangan melihat majalah-majalah yang sedikit maupun sungguh vulgar, atau hal-hal sepele lain yang dapat membuat anda jatuh ke dalam dosa. Karena kita menyadari bahwa kita lemah, maka sudah selayaknya, kalau kita menjauh dari semua hal yang dapat membuat kita jatuh lagi.
Kemudian, jangan juga hanya terfokus pada dosa anda. Lihatlah juga kebaikan Tuhan dan belas kasihnya, yang meskipun kita telah jatuh ke dalam dosa berulang-ulang, namun Dia tetap mau mengampuni kita. Fokuslah pada pengembangan kebajikan, sebagai contoh bagaimana mengembangkan kebajikan penguasaan diri dan juga minta karunia kemurniaan. Yakinlah, kalau anda menjalankan semuanya ini: mempunyai kerendahan hati, sabar dalam menanggung segala sesuatu, mempunyai komunitas, terus bertekun dalam doa dan Firman Tuhan, berpartisipasi secara teratur dalam Sakramen Ekaristi dan Sakramen Tobat, berfokus juga pada pengembangan kebajikan dan meminta karunia kemurnian, serta menjauhi kesempatan berbuat dosa, maka tanpa anda sadari, suatu saat dosa yang telah menjadi kebiasaan tersebut akan tercabut sampai keakar-akarnya. Namun, kita juga diminta untuk terus waspada dan terus berakar dan bergantung pada Tuhan. Selamat berjuang dalam kekudusan.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org