Masih Perlukah Sakramen Pengakuan Dosa (Bagian 1) ?

Pendahuluan

Berapa sering kita mendengar saudara kita dari agama Kristen lain yang mengatakan bahwa “Pengakuan dosa adalah cuma karangan Gereja Katolik saja. Alkitab mengatakan bahwa Tuhan sendiri yang memberikan pengampunan, bukan pastor. Jadi sudah seharusnya kita langsung mengaku dosa langsung kepada Yesus, dan tidak perlu mengakukan dosa di hadapan pastor. Memangnya Kitab Suci mengajarkan pengakuan dosa? Ah, pastor khan cuma orang biasa, kenapa kita musti mengaku dosa di depan pastor?”

Kemudian ada komentar-komentar dari orang Katolik yang mengatakan “Setelah kita mengaku dosa, kita juga berdosa lagi, jadi pengakuan dosa tidak ada gunanya… Saya malu, karena saya kenal sama pastornya. Bagaimana kalau pastornya sampai membocorkan rahasia pengakuan dosa saya?” Kemudian ada lagi yang mengatakan bahwa pengakuan dosa hanya urusan satu kali dalam satu tahun.

Mari kita lihat satu persatu keberatan tersebut di atas berdasarkan Alkitab, Bapa Gereja, dari pengajaran Gereja, dan juga perkembangan Sakramen Pengakuan Dosa. Pada bagian pertama ini, kita akan menelaah terlebih dahulu tentang apa sebenarnya hakekat dari dosa, sehingga kita akan secara lebih jelas menghayati bahwa Sakramen Pengakuan Dosa sungguh merupakan berkat dari Tuhan untuk membantu kita bertumbuh dalam kekudusan.

Apakah ‘dosa’ itu?

Ada begitu banyak definisi tentang dosa. Namun, secara prinsip, dosa dapat dikatakan sebagai suatu keputusan[1] dari pilihan[2] untuk menempatkan apa yang kita pandang lebih utama, lebih baik atau menyenangkan daripada hukum Tuhan (1 Yoh 3:4). Pada saat seseorang menempatkan ciptaan lebih tinggi daripada Penciptanya, maka orang tersebut melakukan dosa (St. Bonaventura).

Katekismus Gereja Katolik (KGK) mendefinisikan bahwa dosa adalah melawan Tuhan (KGK, 1850), namun secara bersamaan melawan akal budi, kebenaran, dan hati nurani yang benar. (KGK, 1849) Sebagai contoh, mari kita melihat dosa menggugurkan kandungan atau aborsi. Di Amerika, setiap 30 detik, ada satu bayi yang digugurkan. Namun, tetap saja ada beberapa negara bagian di Amerika yang melegalisir warganya untuk menggugurkan kandungan.

Dosa adalah melawan akal budi, karena hanya orang yang dapat menggunakan akal budi bertanggung jawab terhadap dosanya. Itulah sebabnya bahwa Sakramen Pengampunan dosa hanya dapat diterimakan kepada orang yang telah dibaptis dan mencapai usia yang dapat berfikir rasional.

Dengan akal budi, seharusnya kita memilih tujuan yang paling akhir, yaitu persatuan dengan Tuhan, namun kita sering dikaburkan dengan oleh pengaruh dunia ini, sehingga akal budi kita lebih banyak dipengaruhi dan didominasi oleh kedagingan atau “sense appetite“.[3] St. Paulus mengatakan pemberontakan keinginan daging melawan keinginan roh (lih. Gal 5:16-17,24; Ef 2:3). Secara nalar, kita dapat melihat bahwa menggugurkan kandungan adalah melawan akal budi, karena tidak seharusnya manusia membunuh sesamanya, apalagi anaknya sendiri.

Dosa adalah melawan kebenaran, karena kebenaran hanya ada pada Tuhan. Namun sering kita menganggap kejadian di dunia ini semuanya relatif, atau ibaratnya, tidak putih, tidak hitam, melainkan abu-abu. Karena kecendungan faham relativitas, maka kita tidak tahu lagi mana yang benar dan mana yang salah. Karena beberapa negara bagian di Amerika melegalisir pengguguran kandungan, banyak orang yang mungkin beranggapan bahwa hal ini adalah sesuatu yang wajar, yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun kebenaran tidak berpihak kepada mayoritas, yang sering berganti-ganti dari waktu ke waktu. Kebenaran adalah tetap dan tidak berubah, dan kebenaran sejati hanya dapat ditemukan dalam diri Yesus, karena Yesus adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup (Yoh 14:6).

Dosa melawan hati nurani yang benar. Hati nurani yang benar ditekankan oleh KGK, karena jaman sekarang ini, begitu sulit untuk membentuk hati nurani yang benar. Kita perhatikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Kalau kita mau berlaku jujur di dalam bisnis, kita dinasehati “jangan sok jujur”. Kalau di sekolah kita tidak mau nakal dan menyontek, kita akan dibilang “sok alim.” Seolah-olah sesuatu yang seharusnya benar, tidak boleh dipraktekkan. Dengan mentolelir kesalahan-kesalan kecil, maka hati nurani kita yang awalnya benar, yang diciptakan menurut gambaran Allah, menjadi tertutup dengan dosa, sehingga tidak murni lagi. Di sinilah pentingnya kebenaran yang diwartakan oleh Kristus melalui Gereja-Nya, sehingga Gereja dapat menjadi tiang penopang dan dasar kebenaran (lih 1 Tim 3:15) yang menuntun hati nurani umat-Nya. Seperti yang dilakukan Gereja Katolik di Amerika, mereka berperan aktif untuk menyuarakan kebenaran atau membangkitkan hati nurani yang benar dengan berjuang untuk menghentikan legalisasi aborsi.

Apakah bobot dosa berbeda-beda?

Dalam beberapa kesempatan, saya mendengarkan kotbah, ada yang mengatakan bahwa semua dosa adalah sama. Dosa kecil maupun besar menyedihkan hati Tuhan. Lebih lanjut, mereka mengatakan bahwa Alkitab mengajarkan bahwa semua dosa adalah sama, yaitu dosa berat, dengan upahnya adalah maut, jadi tidak ada istilah dosa ringan (Why 20:14-15; Eze 18:4; Rom 6:23). Jadi ajaran Gereja Katolik yang mengatakan bahwa dosa dibagi menjadi dua: dosa berat dan dosa ringan, dan juga bahwa dosa berat hanya dapat dilepaskan melalui Sakramen Pengakuan Dosa adalah sangat tidak mendasar.

Namun kalau kita teliti lebih mendalam, sesungguhnya pernyataan di atas justru kurang mendasar. Memang semua dosa menyedihkan hati Tuhan, namun Alkitab juga mengatakan bahwa ada dosa yang berat yang mendatangkan maut dan ada dosa ringan yang tidak mendatangkan maut (Lih 1 Yoh 5:16-17). Kita bisa melihat contoh dalam kehidupan sehari-hari, di mana kita akan dapat membedakan tingkatan dosa. Misalkan, dosa membunuh dan dosa ketiduran sewaktu berdoa. Tentu, kita mengetahui bahwa membunuh adalah dosa yang lebih berat daripada ketiduran saat berdoa yang disebabkan oleh tidak-disiplinan dalam meluangkan waktu untuk berdoa.

Dengan dasar inilah, Gereja Katolik mengenal dua macam dosa, yaitu: (1) Dosa berat atau “mortal sin” (KGK, 1856) dan (2) Dosa ringan atau “venial sin” (KGK, 1863)

Kalau dosa berat adalah melawan kasih secara langsung, maka dosa ringan memperlemah kasih. Jadi dosa berat secara langsung menghancurkan kasih di dalam hati manusia, sehingga tidak mungkin Tuhan dapat bertahta di dalam hati manusia. Dosa berat atau ringan tergantung dari sampai seberapa jauh dosa membuat seseorang menyimpang dari tujuan akhir, yaitu Tuhan. Dan persatuan dengan Tuhan hanya dimungkinkan melalui kasih. Jika dosa tertentu membuat seseorang menyimpang terlalu jauh sampai mengaburkan dan berbelok dari tujuan akhir, maka itu adalah dosa berat.[4] Lebih lanjut dalam tulisannya “Commentary on the Sentence I,I,3“, St. Thomas Aquinas mengatakan bahwa dosa ringan tidak membuat seseorang berpaling dari tujuan akhir atau Tuhan. Digambarkan sebagai seseorang yang berkeliaran, namun tetap menuju tujuan akhir.

Untuk seseorang melakukan dosa berat, ada tiga syarat yang harus dipenuhi, yaitu: (1) Menyangkut kategori dosa yang tidak ringan, (2) tahu bahwa itu adalah sesuatu yang salah, dan (3) walaupun tahu itu salah, secara sadar memilih melakukan dosa tersebut. Dengan kata lain seseorang menempatkan dan memilih dengan sadar keinginan atau kesenangan pribadi di atas hukum Tuhan.

Apakah efek dari dosa?

Kita melihat bahwa dosa menghancurkan relasi kita dengan Tuhan, yaitu dengan menghancurkan prinsip vital kehidupan kita, yaitu kasih. Seperti 10 perintah Allah, dibagi menjadi dua, yaitu kasih kepada Tuhan dalam perintah 1-3, dan kasih kepada sesama dalam perintah 4-10, maka dosa juga mempunyai dua efek, yaitu: efek vertikal dan efek horisontal. Efek vertikal mempengaruhi hubungan kita dengan Tuhan, sedangkan efek horisontal mempengaruhi hubungan kita dengan sesama. Dapat dikatakan bahwa tidak ada dosa yang bersifat pribadi. Semua dosa kalau kita telusuri akan mempunyai dimensi sosial. Kita lihat saja dari hal yang sederhana, misalkan seorang ayah yang sering marah-marah di rumah akan mempengaruhi seluruh anggota di rumahnya, menyebabkan istri dan anak-anak ketakutan. Yang lebih parah, anak-anak pun dapat tumbuh sebagai pemarah.

Atau contoh yang lain, yaitu dosa manusia pertama, menghasilkan dosa asal, yang menyebabkan terputusnya persatuan antara manusia dengan Tuhan, dan pada saat yang sama membawa dosa asal bagi seluruh umat manusia (Rom 5:12). Sebagai akibat dari dosa Adam (Kej 3:1-6), manusia kehilangan (1) rahmat kekudusan, dan (2) empat berkat “preternatural“, yang terdiri dari a) keabadian atau “immortality“, b) tidak adanya penderitaan, c) pengetahuan akan Tuhan atau “infused knowledge“, dan d) berkat keutuhan (integrity), yaitu harmoni dan tunduknya nafsu dan emosi kedagingan (sense appetite) kepada akal budi (reason). Karena kehilangan berkat-berkat tersebut, maka manusia mempunyai concupiscense (KGK, 2515) atau “the tinder of sin” (KGK, 1264), atau kecenderungan untuk berbuat dosa[5], di mana manusia harus berjuang terus untuk menundukkan keinginan daging. St. Paulus menyebutnya sebagai nafsu kedagingan yang berlawanan dengan keinginan Roh (Lih Gal 5:16-17, Gal 5:24; Ef 2:3). Manusia tidak dapat melawan semuanya ini tanpa berkat dari Tuhan yang memampukan manusia untuk “berkata tidak” terhadap dosa. Karena dosa pertama dari Adam adalah dosa kesombongan, maka kerendahan hati adalah penawar dari dosa yang memampukan manusia untuk menerima berkat dari Tuhan secara berlimpah. Mari sekarang kita melihat secara lebih jelas proses perkembangan dari dosa.

Bagaimana proses Dosa berkembang?

Pernah saya tidak mengindahkan sakit gigi, karena kadang muncul dan kadang hilang. Namun lama-kelamaan sakitnya bertambah parah, sehingga harus dilakukan operasi. Nah, proses dari dosa sama seperti contoh di atas, mulai dari hal kecil, dipupuk terus-menerus sehingga menjadi besar dan sulit diatasi. Mari kita melihat perkembangan dari dosa:[6]

  1. Tahap 1: Pikiran tentang dosa datang dalam pikiran. Ini bukan dosa, tetapi suatu godaan. Pada tahap ini, penolakan terhadap dosa akan menjadi lebih mudah kalau kita membuang jauh-jauh pemikiran tersebut dengan cara mengalihkannya kepada hal-hal lain, seperti: berdoa, atau pemikiran tentang neraka, dll.
  2. Tahap 2: Kalau pikiran dosa (godaan) ini tidak segera dibuang jauh-jauh, maka akan menjadi dosa ringan (venial sin). Ini adalah seperti menguyah-nguyah dosa di dalam pikiran. Sama seperti telur yang dierami, yang pada waktunya akan menetas, maka dosa yang terus dituruti di dalam pikiran, hanya menunggu waktu untuk membuahkan dosa (lih Yak 1:15).
  3. Tahap 3: Tahap ini adalah perkembangan dari pemikiran dosa yang didiamkan atau dinikmati oleh pikiran, kemudian akan membuahkan keinginan untuk berbuat dosa. Di sini bukan hanya pikiran, namun godaan sudah sampai di hati (the will). Yesus mengatakan bahwa orang yang mempunyai keinginan untuk berbuat dosa, sudah berbuat dosa (Mat 5:28).
  4. Tahap 4: Akhirnya dalam tahap ini, seseorang memutuskan untuk berbuat dosa. Pada tahap ini keinginan untuk berbuat dosa sudah menjadi keputusan untuk berbuat dosa namun masih merupakan dosa yang ada di dalam hati. Ini adalah sama seperti seseorang yang ditawarkan suatu jabatan dengan cara korupsi. Dia mempunyai tiga pilihan: menolak, bernegosiasi, atau mengiyakan. Tahap ini keinginan dan pikiran saling mempengaruhi, namun akhirnya membuahkan kemenangan bagi setan, sehingga seseorang memutuskan untuk berbuat dosa.
  5. Tahap 5: Pada saat kesempatan untuk berbuat dosa muncul, maka keputusan untuk berbuat dosa yang ada di dalam hati menjadi suatu tindakan nyata. Setelah keputusan untuk berbuat dosa dalam keinginan menjadi kenyataan, maka jiwa seseorang juga telah jatuh ke dalam dosa. Sama seperti air yang menjadi es dan memerlukan panas untuk mencairkannya, maka seseorang masih tetap dalam kondisi berdosa sampai dia bertobat.
  6. Tahap 6: Perbuatan dosa yang sering diulang akan menjadi kebiasaan berbuat dosa (habit of sin) atau kebiasaan jahat (vice). Dengan pengulangan perbuatan dosa, maka ada suatu tahap kefasihan untuk berbuat jahat dan keinginan hati sudah mempunyai kecenderungan untuk berbuat jahat. Bapa Gereja menghubungkan bahwa tiga kali Yesus membangkitkan orang mati melambangkan Yesus membangkitkan manusia dari dosa di dalam hati, dosa yang dinyatakan dalam perbuatan, dan dosa yang sudah menjadi kebiasaan. Yesus membangkitkan anak perempuan Yairus (Luk 8:49-56) di dalam rumahnya yang melambangkan kebangkitan dari dosa yang masih di dalam hati. Sedangkan kebangkitan anak janda di pintu gerbang (Luk 7:11-16) melambangkan kebangkitan dari dosa yang telah dinyatakan dalam perbuatan. Akhirnya, kebangkitan Lazarus yang telah dikubur (Yoh 11:3-43), melambangkan kebangkitan dari dosa yang sudah menjadi kebiasaan. Untuk membangkitkan Lazarus, Yesus menangis, menyuruh seseorang membuka batu kubur, berseru dengan suara keras, meminta orang untuk membuka kain penutup, dan membiarkan dia pergi. Ini menunjukkan bahwa begitu sulit untuk menghancurkan dan memutuskan ikatan dosa yang sudah menjadi kebiasaan.
  7. Tahap 7: Perbuatan dosa dan kebisaan untuk berbuat dosa akan disusul dengan dosa yang lain. Karena rahmat Tuhan tidak dapat bertahta lagi dalam hati orang ini dan seseorang tidak dapat melawan dosa tanpa rahmat Tuhan, maka orang ini tidak mempunyai kekuatan untuk keluar dari dosa dan malah berbuat dosa yang lain. Alkitab menyatakan bahwa Tuhan mengeraskan hati Firaun untuk menggambarkan akan kebiasaan berbuat dosa, yang menjadikan Firaun berbuat dosa yang lain secara terus-menerus (Kel 9:12). Rasul Paulus menyatakan bahwa Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas, karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah (Rom 1:28).
  8. Tahap 8: Pada saat kejahatan benar-benar berakar dalam jiwa seseorang, maka seseorang akan melakukan dosa yang benar-benar jahat sampai pada titik membenci Tuhan. Dengan sadar dan segenap hati dia akan melawan dan menghujat Roh Kudus, dimana merupakan dosa yang tidak terampuni (Mrk 3:29).

Dari tahapan perkembangan dosa, kita akan melihat bahwa dosa adalah sesuatu yang serius, yang kalau kita memandangnya sambil lalu, kita akan terjerumus perlahan-lahan dan jatuh ke dalam jurang kehancuran untuk selamanya. Permasalahannya, pada jaman sekarang ini, kesadaran, kepekaan akan perbuatan dosa dan resikonya semakin lama semakin memudar, sehingga dengan gampangnya seseorang berbuat dosa. Mari sekarang kita perbandingkan antara sesuatu yang bersifat jasmani dan yang rohani.

Jadi apakah Sakramen Pengakuan Dosa?

Selama tinggal di Amerika, saya melihat bahwa orang Amerika begitu memperhatikan kesehatan jasmani. Mereka berdiet, berolahraga secara teratur. Bahkan yang sudah tuapun tidak mau ketinggalan, mereka aktif berolahraga dengan berenang, jalan kaki, dll. Semuanya dilakukan dengan teratur, demi satu tujuan, yaitu agar badan mereka sehat, mungkin ada yang mempunyai tujuan lain agar bentuk lahiriah mereka lebih indah. Data di Amerika menunjukkan bahwa mereka menggunakan 6% dari uang mereka untuk kesehatan jasmani, seperti olahraga, ikut fitness club, dll.[7] Saya tidak tahu data di Indonesia, namun mungkin datanya hampir sama dengan di Amerika, bahwa begitu banyak orang menggunakan uangnya untuk kesehatan jasmani.

Semua orang begitu peka terhadap kesehatan jasmani dan keindahan tubuh. Namun pertanyaannya adalah mengapa terhadap kesehatan rohani, kita sering kurang peka bahkan kadang kita sering mengacuhkannya? Mungkin kita akan lebih peka terhadap sesuatu yang dapat kita raba dan lihat. Namun kalau kita pikir, kesehatan rohani jauh lebih penting daripada kesehatan jasmani. Ini dapat dibuktikan bahwa Yesus datang ke dunia ini bukan untuk menyembuhkan semua penyakit jasmani, namun Dia datang untuk menyembuhkan penyakit rohani, yaitu dosa.

Nah, dosa adalah suatu penyakit yang begitu berbahaya. Salah satu penyembuhannya adalah dengan menerima sakramen pengakuan dosa. Di dalam Sakramen Pembaptisan, dosa asal dan seluruh dosa yang kita lakukan sebelum kita dibaptis dihapuskan. Namun sebagai manusia, kita dapat jatuh lagi ke dalam dosa setelah pembaptisan, bahkan kita dapat jatuh ke dalam dosa yang berat. Dosa berat yang kita lakukan setelah Pembaptisan hanya dapat diampuni dengan menerima Sakramen Tobat (KGK, 1423) atau Sakramen Pengakuan Dosa (KGK, 1424), atau Sakramen Pengampunan Dosa (KGK, 1424). Di dalam Sakramen inilah, kita juga bertemu dengan Dokter dari segala dokter, yaitu Yesus sendiri yang hadir di dalam diri imam/pastor. Untuk bertemu dengan Yesus di dalam Sakramen Pengampunan, diperlukan kerendahan hati dan penyesalan, sehingga Yesus sendiri akan memulihkan dan menyembuhkan hati kita.

Namun demikian, masih banyak orang yang meragukan tentang Sakramen Tobat yang dapat memberikan kesehatan rohani bagi kita. Silakan membaca bagian-2, yaitu jawaban terhadap keberatan-keberatan tentang Sakramen ini ditinjau dari Alkitab, Bapa Gereja, dan penerapan sakramen ini dalam sejarah Gereja.


CATATAN KAKI:
  1. Disebut suatu keputusan, karena dosa adalah suatu keputusan yang diambil oleh keinginan atau “the will“. Pikiran dapat saja membayangkan atau mempengaruhi “the will” untuk berbuat dosa. Namun kalau pada akhirnya seseorang mengambil keputusan untuk tidak menuruti pikiran tersebut, maka orang tersebut tidak berbuat dosa. []
  2. Dosa adalah suatu pilihan, karena kita mempunyai kehendak bebas atau “free will” untuk memutuskan apakan kita memilih berdosa atau tidak. []
  3. Sebelum dosa asal, sense appetite atau keinginan daging tunduk sepenuhnya pada akal budi. Namun setelah dosa asal, semua orang mempunyai kecenderungan untuk berbuat dosa, atau yang disebut concupiscence (lih KGK, 2515). []
  4. St. Thomas Aquinas, ST, II-I, q.72, a.5 []
  5. Jacques Dupuis, The Christian Faith: In the Doctrinal Documents of the Catholic Church, 7th ed. (New York: Alba House, 2001), 512, p.203.; KGK, 405. []
  6. Francis Spirago, The Catechism Explained: An Exhaustive Explanation of the Catholic Religion (Tan Books & Publishers, 1994), p. 451-454 []
  7. Lihat data dari The New York Times []

Beberapa artikel yang berhubungan:

Beberapa artikel di kategori yang sama:

94 Komentar to Masih Perlukah Sakramen Pengakuan Dosa (Bagian 1) ?

  1. Hi,
    saya dapat renungan ini dari spiritual running partner saya, kebetulan diya kristen, dan kami sedang memperdepatkan ttg satu renungan di bawah ini:

    Be Christ-Conscious

    Ephesians 1:7
    7In Him we have redemption through His blood, the forgiveness of sins, according to the riches of His grace

    Have you ever woken up in the morning and said, “Today, I will not sin.” And as you leave your house, you say, “I must be careful not to fall into sin today. I don’t want to sin. I will not sin!” My friend, when you do this, you are no longer Christ-conscious but sin-conscious, even though you have not sinned yet.

    Men, have you ever caught yourself thinking, “I don’t want to look at any woman in case I lust”? You are being sin-conscious when you think like that. And sooner or later, you will lust in your heart. You may not sin outwardly, but you will sin inwardly.

    Have you also tried confessing every sin? I have! As a teenager, when a bad thought came, I would quickly say, “I’m sorry, Lord. Forgive me for this thought in Jesus’ name.” Then, another thought would come and I would quickly say, “Forgive me, Lord, for that thought in Jesus’ name.” Then, if I happen to doubt His forgiveness, I would confess my unbelief and ask for forgiveness: “Forgive me, Lord, for doubting You.” Before I knew it, I was oppressed in my mind and so sin-conscious instead of Christ-conscious!

    My friend, when you fall into sin, God wants you to be Christ-conscious. This means that when you have missed it, God wants you to be conscious that in Christ, you have forgiveness of sins through His blood. God wants you to be conscious that Christ was wounded and bruised for your sins, and that the chastisement for your peace was upon Him. (Isaiah 53:5)

    When you are Christ-conscious, you will have peace with God through our Lord Jesus Christ. (Romans 5:1) You will know that you are the righteousness of God in Christ because He who knew no sin was made sin for you. (2 Corinthians 5:21) He took your sin and now you have His righteousness.

    So when you fall, don’t be conscious of your failure and feel bad or condemned. Instead, be conscious of who you are in Christ, pick yourself up, dust yourself off and continue your walk with God!

    saya pengen tau dari sudut pandang katolik bagaimana ttg renungan ini, karena kita masih harus pengakuan dosa dan kalo untuk menyembah Tuhan biasa kita harus mengakui segala kesalahan kita baru kita layal untuk menyembah, karena kalo dilihat2 dari perjanjian baru kayaknya Tuhan tidak menyebutkan kalo kita harus mengakui dosa, karena kita sudah dibebaskan dan di tebus oleh Yesus.

    mohon bantuannya,
    Gbless

    • Shalom Nadia,

      Terima kasih kiriman renungannya. Berikut ini adalah tanggapan saya akan renungan tersebut:

      1. Menjadi suatu kenyataan bahwa, walaupun kita telah ditebus oleh Kristus, namun kita masih berbuat dosa. Bahkan rasul Yohanes mengatakan “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.” (1Yoh 1:8). Jadi, dengan rendah hati, kita mengakui bahwa diri kita adalah pendosa. Dan hanya rahmat Allah sajalah yang dapat mengubah kita, sehingga kita dapat hidup kudus. Kekudusan adalah mengasihi Allah dan mengasihi sesama atas dasar kasih kita kepada Tuhan. Dan manifestasi dari kasih kita kepada Allah adalah kalau kita melaksanakan perintah-perintah-Nya (lih. 1Yoh 5:3) – yang berarti berusaha untuk tidak jatuh ke dalam dosa, karena perintah Allah adalah agar kita dapat bertumbuh dalam kekudusan.

      2. Bagaimana kita dapat bertumbuh dalam kekudusan? Kita bergantung pada rahmat Allah dan terus-menerus bekerja sama dengan rahmat Allah, yang dapat memampukan kita untuk berkata tidak terhadap dosa. Rahmat Allah ini mengalir dari peristiwa Paskah Kristus. Gereja Katolik mengajarkan bahwa rahmat yang mengalir dari misteri Paskah Kristus adalah begitu luar biasa, sehingga dapat mengubah kita dari dalam. Perubahan dari dalam ini semakin memurnikan kasih kita kepada Kristus, yang secara otomatis akan membuka kesadaran kita bahwa kita harus menjauhi dosa, bukan hanya demi terhindar dari hukuman dosa, namun terutama karena kita mengasihi Kristus, yang terlebih dahulu mengasihi kita. Jadi, kalau kita berdosa, sudah selayaknya kita merasa sedih dan bukan seperti yang dikatakan dalam renungan “So when you fall, don’t be conscious of your failure and feel bad or condemned. Instead, be conscious of who you are in Christ, pick yourself up, dust yourself off and continue your walk with God!” Bagaimana menerangkan pertobatan Petrus, di mana setelah dia menyadari bahwa dia telah berdosa dengan menyangkal Yesus, maka dia pergi keluar dan menangis dengan sedihnya (lih. Mt 26:75)? Apakah dalam kondisi seperti ini, Petrus tidak perlu merasa susah dan sedih dan harus bersikap biasa saja? Kesedihan yang dipicu karena telah menyedihkan Kristus adalah sesuatu yang baik dan perlu sebagai suatu pertobatan, yang menjadi kekuatan untuk bangkit lagi dan berjalan dalam jalan Tuhan. Kita dapat melihat contoh yang lain, seperti: pertobatan Daud, yang berpuasa dan menangis. Tentu saja, pertobatan sejati tidak membawa pada keputusasaan, karena keputusasaan berfokus pada diri sendiri dan bukan pada Kristus.

      Pada saat kita berdosa dan kemudian kita merasa tidak apa-apa, karena berfikir bahwa Kristus telah menebus dosa kita, maka sebenarnya kita membohongi diri kita sendiri. Kita mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa Tuhan adalah maha kasih, yang tidak pernah menghukum dosa-dosa kita. Dan hal ini dapat membawa seseorang kepada dosa “presumption“, yang merupakan salah satu manifestasi dari dosa menghujat Roh Kudus. Silakan membaca tentang dosa menghujat Roh Kudus di sini – silakan klik. Hakekat Tuhan adalah bukan hanya maha kasih, namun juga maha adil. Terlalu menekankan keadilan Tuhan dan melupakan kasih Tuhan, akan membawa seseorang kepada keputusasaan – seperti yang terjadi pada Yudas. Namun, terlalu menekankan kasih Tuhan serta melupakan keadilan Tuhan, dapat menyesatkan seseorang kepada dosa presumption, yang juga dapat berakibat fatal. Merasa diri telah dibenarkan oleh Allah, tanpa mau memperbaiki dosa-dosa yang diperbuatnya adalah suatu kebohongan. Kita memang dibenarkan oleh Allah hanya karena rahmat (grace). Dan rahmat Allah ini begitu penuh kuasa, sehingga kalau kita bekerja sama dengan rahmat Allah, maka rahmat Allah mengubah kita dari dalam, sehingga memampukan kita untuk terus bertumbuh dalam kekudusan. Semoga jawaban ini dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • m. herman-wib May 7, 2012 at 6:57 pm

        Shalom katolisitas, bu Nadia dan pembaca.

        Terima kasih atas renungan kiriman rekan bu Nadia berikut tanggapan pak Tay. Saya jadi teringat akan sabda Tuhan Jesus dan membuka-buka lagi ayat dlm Mat. 7:21-23. [PeringatanNya sangat lugas dan telak sekali!].
        Shalom.

  2. shaloom Pak Stef,
    Ayah dan ibu saya sudah berpisa lebih dari 12 tahun yang,, mereka telah menerima sakramen pernikahan, mama sudah punya suami yang baru dan anak mereka sudah 4 orang !!. Bagaimana caranya agar bapa bisa bercerai secara baik- baik karna saya ingin bapa bisa menerima Kembali sakramen Ekaristi !!

    • Boni Yth

      Bapa bisa bercerai secara sipil sedangkan secara Gerejawi tidak bisa karena sakramen (apakah sama sama katolik?). Apa yang dipersatukan oleh Allah tidak bisa diputuskan oleh manusia. Mama hidup dalam dosa karena masih ada ikatan perkawinan hidup bersama orang lain, tidak bisa menerima komuni. Ayah jika tidak hidup bersama dengan wanita lain dan tetap setia dengan hidup sendiri bisa komuni kudus, asal pengakuan dosa terlebih dahulu, menghadap pastor paroki anda.

      salam
      Rm Wanta

      • TERIMAKASIH ATAS JAWABANYA,,, SAYA SUNGGUH LEGA MEMBACA JAWABAN ROMO, HANYA SAJA APAKAH SELAMA 10 BERPISAH ITU TIDAK DAPAT DILAKUKAN PERCERAIAN SECARA GEREJAWI, DAN HARUSKAH BAPA SAYA TERUS SENDIRI TANPA ADA YANG MENDAMPING?

        [dari katolisitas: mohon untuk tidak menuliskan pesan dengan huruf besar semua, karena dalam internet artinya berteriak.]

        • Boni Yth

          Perceraian secara Gerejawi tidak ada yang ada adalah pernyataan pembatalan perkawinan oleh pihak Tribunal Gerejawi. Hidup sendiri adalah konsekuensi dari peristiwa yang dialami. Begitulah ajaran Gereja Katolik dalam perkawinan prinsip unitas dan tak terputuskan tetap harus dihormati.

          salam
          Rm wanta

  3. Dear Ibu Ingrid

    Saya hanya curhat bu

    Di masa Advent ini, kita sbg umat Katolik seharusnya & wajib untuk menerima Sakramen Tobat/Pengakuan dosa, tetapi ada teman2 katolik saya di kantor mengatakan kpd saya “saya mah langsung aja minta ampun ke Tuhan Yesus” jadi gak perlu pengakuan…saya sedih & heran kok bisa ia berkata seperti itu? Gejala atau fenomena apa yg sdg terjadi dlm Gereja Katolik. Mohon pencerahannya bu

    Joseph

    • Shalom Joseph,

      Ya, kita layak merasa prihatin dengan jawaban yang diberikan oleh teman- teman Katolik anda. Besar kemungkinan mereka sudah lama tidak mengaku dosa dalam sakramen Pengakuan Dosa, entah karena tidak memahami maknanya, atau karena tidak mau/ enggan mengaku dosa kepada Allah di hadapan imamNya. Silakan jika anda pikir berguna, untuk meneruskan artikel seri tentang pengakuan dosa di situs ini (silakan klik di judul berikut, terutama bagian 2 dan 3):

      Masih Perlukah Pengakuan Dosa, bagian 1
      Masih Perlukah Pengakuan Dosa, bagian 2
      Masih Perlukah Pengakuan Dosa, bagian 3
      Masih Perlukah Pengakuan Dosa, bagian 4

      Sungguh disayangkan jika ada umat Katolik yang tidak memahami ataupun tidak mau mengaku dosa dalam sakramen Pengakuan Dosa. Padahal melaluinya, kita menerima rahmat pengampunan Allah; dan jika kita terima secara teratur maka rahmat Allah tersebut berangsur- angsur mengubah kita menjadi lebih baik, karena kita dimampukan untuk meninggalkan kebiasaan buruk/ kelemahan kita.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

    • Shalom Joseph,

      Terima kasih atas sharingnya. Memang terlihat lebih gampang untuk mengatakan “minta ampun langsung kepada Tuhan“. Namun, masalahnya bukan pada lebih gampang mana, namun mana yang benar. Fenomena yang anda sebutkan, yang melanda sebagian umat Katolik adalah karena ketidaktahuan akan iman Katolik secara benar, namun pada saat yang bersamaan terjadi karena ketidakperdulian serta kecenderungan untuk mengambil sesuatu yang terlihat enak dan gampang untuk diri sendiri. Sebagai umat Katolik, kita percaya bahwa Yesus sendiri yang menginstitusikan Sakramen Tobat. Konsekuensinya adalah kita harus melakukan apa yang diperintahkan oleh Yesus, termasuk adalah mengaku dosa lewat Sakramen Tobat, yang dilayani oleh para imam tertahbis. Mari kita mensyukuri rahmat Allah yang di dalam kebijaksanaan-Nya telah memberikan Sakramen Tobat sebagai cara untuk memberikan pengampunan dan dapat mengantar umat Allah kepada kekudusan, seperti yang telah terbukti dalam sejarah Gereja.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  4. Salam buat tim Katolisitas,

    Terima kasih buat informasinya, saya punya sebuah pertanyaan yang menyangkut hal pengakuan dosa:

    1. Apakah semua dosa ( venial and mortal sins ) harus di akui kepada imam dalam sakramen pengakuan dosa?
    2. Jika hanya ada venial sins, apakah kita boleh mengungkapkan Mea Culpa ganti sakramen pengakuan dosa atau bagaimana?
    3. Apakah dosa dosa berat yang harus di akui kepada uskup kerana sebelumnya saya mendapat tahu bahawa dosa aborsi hanya boleh diakui kepada uskup oleh kerana imam paroki tidak diberikan kuasa untuk mendengarkan pengakuan dosa tersebut. Apakah ada dosa dosa lain yang serupa dengan dosa aborsi yang harus di akui hanya kepada uskup.

    Sekali lagi saya mohon maaf andai pertanyaan saya ini tidak berada di tempat yang sepatutnya.

    Salam kasih
    Linda Miriam

    • Shalom Linda Miriam,

      Terima kasih atas pertanyaannya tentang pengakuan dosa. Saya menyarankan agar anda dapat membaca rangkaian artikel tentang pengakuan dosa (bagian 1, 2, 3, 4). Berikut ini adalah jawaban yang dapat saya berikan:

      1. Dosa berat (mortal sin) hanya dapat diampuni dengan mengakukan dosa di hadapan iman dalam Sakramen Tobat atau dalam penyesalan sempurna – penyesalan karena menyedihkan hati Allah (filial fear) dan bukan karena takut hukuman (servile fear) yang dibarengi dengan niatan mengaku dosa secepat mungkin jika kondisi memungkinkan. Sedangkan dosa ringan (venial sin) dapat diampuni dengan menerima Sakramen Ekaristi maupun dengan menerima Sakramen Tobat. Menjadi suatu kebiasaan yang baik, jika kita mengakukan dosa ringan dan bukan hanya dosa berat dalam Pengakuan Dosa, sehingga kita memperoleh rahmat Allah agar tidak terjatuh ke dalam dosa berat.

      2. Dosa ringan dapat diampuni dengan menerima Sakramen Ekaristi.

      3. Pengampunan terhadap beberapa dosa berat ada yang hanya diperuntukkan untuk uskup, seperti: dosa aborsi, membunuh, dll. Namun, uskup dapat memberikan kuasa ini kepada para pastor. Biasanya kalau seorang pastor tidak diberikan kuasa untuk mengampuni beberapa dosa berat, maka dia akan meminta kepada orang yang mengaku dosa untuk mengaku dosa lagi kepada uskup.

      Semoga jawaban singkat ini dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • Bapak Stef,

        Terima kasih atas jawaban yang bapak berikan. Ini dapat saya jadikan pedoman dalam menjalani hidup rohani sebagai Katolik yang taat.

        Linda Miriam

  5. Shalom..
    maaf klo pertanyaan saya juauh mundur kebelakang,
    knp Gereja kt melarang org yg berdosa berat menyambut komuni kerena akn menambah dosanya lg?
    bukankah Yesus mengorbankan Diri-Nya utk org2 berdosa?
    bukankah pd malam Perjamuan terakhir Yesus memperlakukan yudas sama dgn Murid2 yg lain nya, padahal Yesus sudah tw bahwa yudas akn menyerahkanNya dan bkn itu saja jauh sebelumnya pun Yesus dan murid2 yg lainnya tw klo yudas adalah bendahara yg korup, tp Yesus ttp memperlakukan yudas sama dgn murid2 yg lain krn Yesus datang utk semua org termasuk jg org berdosa,
    terimakasih
    GBu

    • Shalom Edi,

      Terima kasih atas pertanyaannya tentang dosa berat dalam hubungannya dengan komuni. Katekismus Gereja Katolik 1415 mengatakan “Siapa yang hendak menerima Kristus dalam komuni Ekaristi, harus berada dalam keadaan rahmat. Kalau seorang sadar bahwa ia melakukan dosa berat, ia tidak boleh menerima Ekaristi tanpa sebelumnya menerima pengampunan di dalam Sakramen Pengakuan.” Hal ini sesuai dengan apa yang dituliskan oleh Rasul Paulus “27 Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. 28 Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu. 29 Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya.” (1Kor 11:27-29)

      Yesus memang datang dan mati untuk semua orang di dunia ini, termasuk adalah untuk orang berdosa. Memang Yudas turut serta dalam Perjamuan Suci secara fisik, namun dia tidak menerima Yesus di dalam hatinya, yang pada akhirnya mendatangkan maut. Namun, seperti yang dipertingatkan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus, yang dalam keadaan yang tidak layak (berdosa berat) tidak boleh menyambut Yesus dalam Ekaristi, maka peringatan ini juga berlaku untuk kita semua. Dalam Sakramen Ekaristi, kita bersatu dengan Kristus, baik secara fisik, maupun secara spiritual dan juga dalam seluruh keberadaan kita.

      Karena dosa berat adalah perbuatan dosa yang mempunyai bobot atau perkara berat, yang dilakukan secara sadar, maka orang yang berdosa berat telah memisahkan diri dengan Tuhan, dan juga menghancurkan kasih kepada Tuhan. Jadi, untuk dapat bersatu dengan Tuhan dalam Sakramen Ekaristi, sakramen kasih, maka seseorang harus terlebih dahulu memperbaiki hubungannya dengan Kristus, yaitu dalam Sakramen Tobat. Semoga keterangan ini dapat menjawab pertanyaan anda.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • Terima kasih Bapak- Ibu, saya senang sekali ibu menjawab pertanyaan saya, salam… Tuhan berserta kita.

      • Syaloom Pak Stef,

        Kemarin saya ada pembicaraan sedikit dengan Katekis saya ttg Sakramen Tobat ini.

        Dan kebetulan pertanyaannya mirip seperti yang ditanyakan Edi.

        1.Kalau seseorang yang melakukan dosa yang tidak pantas mengambil komuni tetapi dia sadar dan ingin (rindu) menyambut komuni itu, kenapa tidak boleh? Tuhan kan datang untuk orang berdosa. Dan dibilang sekarang sedang dibicarakan masalah tersebut. Di ayat ini
        27 Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. 28 Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu. 29 Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya.

        Sepertinya bukan ttg karena kita melakukan dosa berat tetapi karena dia tidak mengakui Tubuh Tuhan.
        Seakan-akan menempatkan Sakramen Tobat lebih tinggi dari Sakramen Ekaristi.

        2.Pada Yoh 20:21-23:

        21) Maka kata Yesus sekali lagi: “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” 22)Dan sesudah berkata demikian, Ia menghembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus. 23)Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.”

        Kalau gereja Non-Katolik mengajarkan otoritas itu bukan hanya kepada imam saja tetapi pada kita semua, contoh kesaksian:
        ” ada seorang suami brengsek yang suka selingkuh, mabuk2an, marah2. Istrinya tidak tahan dan selalu sedih. Setiap kali suami ini sering merasa menyesal dan mau berubah tapi tidak pernah bisa berubah, masih saja main perempuan, diskotik. Mantan istrinya selalu mendoakan dia supaya berubah, dan mau kembali asal mantan suaminya minta maaf dan berubah, suatu hari dia mungkin mimpi atau mendengar Tuhan bicara untuk ampuni dahulu jangan maunya dia yg minta ampun, karena Tuhan yang mengampuni manusia dulu, bukan manusia minta ampun baru diampuni. Jadi akhirnya dia datang ke mantan suaminya dan mengampuni semua dosa suaminya terhadap dia. Dan akhirnya suaminya menyesal dan minta maaf dan dia bilang sekarang tb2 kebiasaan2 yg dulu suka main ce dan segala itu kaya hilang. ”

        Pertanyaannya kalau saya mengaku kepada Tuhan saja dan orang yang saya sakiti saja. Tidak perlu sakramen itu? Bagaimana tanggapan Gereja Katolik?

        [dari katolisitas: silakan melihat di artikel selanjutnya - silakan klik]

  6. terima kasih bu inggrid, saya akan segera membuat janji dengan romo, dan menjadi manusia baru…. Tuhan Yesus memberkati…..

  7. Sylvester J. Mudjiatmo July 1, 2010 at 11:42 am

    Shalom,

    Bagaimana bisa “mengampuni” ataupun “menahan” dosa seseorang, (Yoh 20:22-23)
    jika “Imam” tidak “sebelumnya mendengar” pengakuan dosa seseorang itu !

    Masalahnya, para pengikut Kristus (Kristen, baik yang Katolik maupun yang Protestan),
    mau atau tidak melakukan “yang diperintahkan Yesus Kristus” itu .

    Percaya atau tidak adanya perintah demikian itu.

    Percaya atau tidak bahwa “Imam” (katolik) menerima kuasa untuk mengampuni ataupun menahan.

    Tafsir terhadap maaksud perintah itu ternyata berbeda sih, antara yang butuh Sakramen Tobat dengan beliau-beliau yang tidak membutuhkan nya.

  8. berkah dalem…

    saya adalah manusia berdosa, hidup dengan dosa dan bergaul dengan dosa, cukup lama saya hidup dengan keadaan ini, sampai suatu saat saya dipertemukan dengan seorang pendoa dan saya di doakan dan dia bilang dosa saya telah diampuni, dan saya sangat yakin, saya diajari untuk hidup takut akan Tuhan, hidup dengan kasih….. sampai sekarang pun saya masih belajar untuk hidup benar, karena cukup berat bagi saya dan terlalu banyak godaan, yang ingin saya tanyakan adalah, apakah masih perlu saya melakukan sakramen tobat setelah saya mengakui dosa saya pada pendoa tersebut dan saya yakin dosa saya telah diampuni…??

    terimakasih atas jawabannya dan mohon dukungan doa untuk hidup dalam kasih Allah…
    berkah dalem..

    • Shalom Danang,

      Jawabnya adalah, ya. Jika anda Katolik, dan ingin mengikuti sepenuhnya akan apa yang dikehendaki oleh Yesus, agar anda sungguh menerima rahmat pengampunan Allah, silakan anda menemui pastor paroki anda untuk menerima sakramen Tobat. Setidaknya, ada empat alasan yang penting, tentang mengapa kita perlu mengaku dosa dalam Sakramen Tobat, walaupun sudah mengaku dosa secara pribadi dalam doa kita setiap hari:

      1. Tuhan Yesus memberikan kuasa untuk mengikat dan melepaskan kepada para rasul dan penerus mereka (Mat 16:18; 18:18). ‘Mengikat dan melepaskan’ di sini adalah kuasa untuk mengajar hal iman dan moral yang mengikat umat beriman ataupun untuk melepaskan seseorang dari ikatan dosanya, ataupun untuk menyatakan dosanya tetap ada, seperti yang dikatakan Yesus dalam Yoh 20:22-23. Maka untuk mentaati kehendak Yesus ini, kita mengaku dosa di hadapan imam-Nya, yang adalah para penerus Rasul.

      2. Dosa masing- masing dari kita mempunyai dimensi sosial. Artinya, dosa kita tidak hanya merusak hubungan kita dengan Tuhan, tetapi juga merusak hubungan kita dengan sesama. Kita melukai Tubuh Kristus dengan dosa kita, karena dengan melakukan dosa, kita dapat menjadi batu sandungan bagi orang lain; kita melukai ‘kekudusan’ Gereja yang didirikan Kristus. Oleh karena itu, kita perlu mengakui dosa kita, dan berdamai kembali dengan Kristus dalam kesatuan dengan Tubuh-Nya yaitu Gereja.

      3. Maka dengan menyadari kedua hal di atas, maka rahmat yang diterima melalui sakramen Pengakuan dosa dapat sungguh memberikan damai sejahtera kepada kita. Kita tidak lagi resah, akan “apakah Tuhan sudah sungguh- sungguh mengampuni saya?” Sebab kita dapat yakin bahwa kita telah menerima pengampunan Tuhan, karena memang kita telah melakukan apa yang dikendaki Allah bagi kita untuk menyatakan pertobatan kita.

      4. Mengaku dosa dalam Sakramen Pengakuan Dosa, menjadikan kita lebih rendah hati; berani mengakui kesalahan kita di hadapan orang lain. Kerendahan hati seperti ini dibutuhkan untuk pertumbuhan rohani kita; sebab kerendahan hari adalah antidote/ obat penawar dari dosa manusia yang utama dan pertama yaitu kesombongan: merasa diri sudah baik, tidak mau taat pada perintah Tuhan atau merasa tidak perlu mengaku dosa. Jika kita mengaku dosa secara teratur dalam sakramen Tobat, seperti sebulan sekali, maka Tuhan akan membantu kita untuk bertumbuh secara rohani dalam mengalahkan dosa/ kelemahan kita yang paling sering kita lakukan.

      Jadi, Danang, jika saya boleh menyarankan, silakan anda membuat janji dengan pastor Paroki, untuk menerima Sakramen Pengakuan Dosa. Sebelum mengaku dosa, periksalah batin anda seperti telah dipaparkan dalam artikel ini, silakan klik. Setelah itu, mengaku dosalah dengan kerendahan hati di hadapan imam-Nya, di mana Kristus sendiri hadir di dalam diri imam-Nya itu; dan alamilah rahmat Pengampunan Allah yang tidak pernah anda alami sebelumnya. Di dalam Sakramen Pengakuan dosa inilah dipenuhi ayat Kitab Suci, “Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka.” (Yoh 8:36). Sebab yang melepaskan anda dari semua ikatan dosa anda adalah Kristus sendiri; ini tidak tergantung dari perasaan anda; tetapi sesuai dengan kehendak Kristus yang memang memakai perantaraan para imam-Nya untuk menyampaikan rahmat Allah yang sangat mengagumkan ini.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  9. Lucius @ Lacius Dalius March 25, 2010 at 4:33 pm

    Benarkah Yesus hadir di dalam sakramen tobat (pengakuan dosa) melalui peribadi imam/pastor?
    Bagaimanakah ianya berlaku?

    • Shalom Lucius,

      Terima kasih atas pertanyaannya tentang Sakramen Tobat. Pada saat menerimakan Sakramen Tobat, maka pastor bertindak atas nama Kristus (persona Chisti capitis). Dan hal ini berdasarkan akan perintah Kristus sendiri yang mengatakan:

      Yoh 20:22-23 “22. Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus. 23 Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.

      Untuk keterangan lebih lanjut tentang hal ini, silakan membaca bagian 2 dari artikel pengakuan dosa di sini (silakan klik). Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan
      stef – katolisitas.org

  10. Shalom pak stef,
    Pada artikel di atas tertulis bahwa sakramen pembaptisan menghapus dosa asal dan dosa yang dibawa sebelum lahir.
    Namun saya juga pernah mendengar bahwa sakramen pengakuan dosa hanya menghapus dosa asal.
    Sehingga sebelum menerima sakramen krisma, kita diwajibkan menerima sakramen tobat dahulu untuk mengakui dosa-dosa (terutama yang berat) yang dilakukan sebelum dibaptis.
    Mana yang betul?

    Terima Kasih.
    GBU

    • Shalom Santiago,

      Terima kasih atas pertanyaannya. Sakramen Baptis memang menghapus dosa asal dan juga dosa yang dilakukan oleh pribadi sebelum dibaptis, sehingga manusia tidak mengalami siksa-siksa dosa. Hal ini ditegaskan dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK, 1263) yang mengatakan:

      Oleh Pembaptisan diampunilah semua dosa, dosa asal, dan semua dosa pribadi serta siksa-siksa dosa (Bdk. DS 1316.). Di dalam mereka yang dilahirkan kembali, tidak tersisa apa pun yang dapat menghalang-halangi mereka untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Baik dosa Adam maupun dosa pribadi demikian pula akibat-akibat dosa, yang terparah darinya adalah pemisahan dari Allah, semuanya tidak ada lagi.

      Sakramen Pengakuan Dosa tidak menghapuskan dosa asal, namun mengampuni dosa-dosa (ringan maupun berat). Silakan membaca artikel tentang Sakrament Tobat (bagian 1, 2, 3, 4). Dosa asal hanya dapat diampuni dengan Sakramen Baptis. Silakan membaca lebih lanjut tentang Sakramen Baptis di sini (Silakan klik), dan Sakramen Penguatan di sini (Silakan klik). Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

      • Shalom pak Stefannus,
        terima kasih atas jawabannya.
        Ada pertanyaan lagi. Bila saya pernah melakukan dosa berat sebelum dibaptis namun sudah bertobat bahkan sebelum dibaptis, haruskah itu diakukan juga waktu sakramen tobat? Atau tidak perlu lagi, karena sudah dihapus waktu pembaptisan?

        Salam damai.

        • Shalom Santiago,
          Terima kasih atas pertanyaannya. Kalau anda telah dibaptis, maka dosa asal (original sin) dan dosa-dosa pribadi, termasuk dosa berat anda telah diampuni. Oleh karena itu, menurut pengajaran Gereja, anda tidak perlu lagi untuk mengakukan dosa-dosa berat yang dilakukan sebelum anda menerima Sakramen Baptis. Namun, kalau anda mau, anda dapat melakulan “general confession” sekali dalam setahun. Dalam general confession ini, anda dapat mengakukan semua dosa-dosa anda yang pernah anda ingat, termasuk dosa-dosa sebelum menerima Sakramen Baptis. Para santa-santo menganjurkan hal ini, sehingga kita akan semakin menyadari akan belas kasih Tuhan dan menyadari bahwa kita adalah pendosa, yang tidak dapat berbuat apa-apa tanpa bantuan rahmat Allah. Dengan kerendahan hati ini, kita akan semakin tumbuh secara spiritual dan rahmat Allah akan semakin mengalir dengan bebas dalam kehidupan kita. yang pada akhirnya akan memampukan kita untuk dapat berjuang dalam kekudusan. Semoga dapat membantu.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – http://www.katolisitas.org

  11. syloom pak stef, teman-teman saya ketika mereka menerima hosti mereka sering tertawa bahkan ada juga yang mengeluarkan kata-kata kotor serta bergurau saat sambut apakah itu merupakan dosa “sakrelegio”

    • Shalom Boni Asa,

      Terima kasih atas pertanyaannya. Dosa sakrilege adalah "Sakrilegi dilakukan seorang yang menajiskan atau tidak menghormati Sakramen-sakramen atau tindakan liturgi yang lain, pribadi, benda, atau tempat yang telah ditahbiskan kepada Allah. Sakrilegi itu lalu merupakan dosa berat khusus, apabila itu ditujukan kepada Ekaristi, karena di dalam Sakramen ini, Tubuh Kristus hadir secara substansial (Bdk. CIC, cann. 1367; 1376.)" (Katekismus Gereja Katolik / KGK, 2120). Dengan demikian, kalau anda ceritakan benar, maka teman anda berdosa sakrilegi, dan harus segera mengaku dosa di depan pastor. Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

  12. Shalom Bu ingrid/Pak Stef,

    Bisa tidak diperjelas lagi yang Tahap ke 6, saya tak mengerti.. maksud Yesus dari membangkitkan orang-orang itu sprti di atas dikatakan itu membangkitkan manusia dari dosa di dalam hati, dosa yang dinyatakan dalam perbuatan, dan dosa yang sudah menjadi kebiasaan. Apakah maksudnya orang-orang yang mati itu telah berbuat dosa dalam kriteria-kriteria tsb?

    Salam damai Kristus,
    Leon

    • Shalom Leon,
      Yang saya maksud dalam point 6 di atas adalah bagaimana untuk menyembuhkan beberapa tingkatan dosa, yang dianalogikan seperti Yesus membangkitkan orang mati. Yesus dapat menyembuhkan beberapa tingkatan dosa manusia, seperti: 1) dosa yang terjadi di dalam hati, yang dilambangkan dengan Yesus membangkitkan anak Yairus, yang terjadi di dalam rumahnya, 2) dosa yang telah berbuah dalam perbuatan, yang dilambangkan dengan Yesus yang membangkitkan anak janda di pintu gerbang, 3) dosa yang terus-menerus dilakukan, sehingga menjadi suatu kebiasaan, yang dilambangkan dengan Yesus membangkitkan Lazarus. Dari contoh ini, kita melihat bahwa semakin kita lebih sensitif terhadap bahaya dosa, maka seseorang akan lebih cepat menyadari dosanya, bertobat, memperoleh pengampunan dari Allah. Kuncinya adalah, kita tidak ingin membiarkan suatu dosa yang bermula dari dalam hati, sampai menjadi suatu dosa yang membuahkan perbuatan, dan kemudian menjadi suatu kebiasaan. Kalau suatu dosa telah menjadi kebiasaan, maka dosa ini akan sulit untuk diatasi. Kita dapat melihat apa kebiasaan dosa kita dengan mengamati dosa yang terus-menerus kita akukan dalam Sakramen Tobat. Hanya rahmat Allah dan pertobatan hati yang benar-benar, yang dapat menyembuhkan seseorang dari dosa yang telah menjadi kebiasaan (habitual sin).
      Mari kita bersama-sama mohon rahmat Tuhan, agar kita diberikan kerendahan hati untuk menyadari dosa-dosa kita, sehingga kehidupan kita dapat terus bergantung pada rahmat Allah.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

  13. Syalom……..

    Terima Kasih Pak.SteV atas jawabannya….

    Jawabannya sangat jelas dan spesifik…..juga membantu saya menghayati iman saya kepada Yesus Kristus

    Tapi saya mau tanya, kenapa ya komentar saya terhadap terhadap tulisan Pak.Stev tentang Yudas Iskariot dihapus ya???? Trima Kasih….

    Tuhan memberkati Web Katolisitas ini….Amin…Amin…Amin…….

    • Shalom Michael,
      Terima kasih atas dukungannya untuk katolisitas.org. Komentar Michael tentang Yudas Iskariot bukan dihapus, namun belum ditampilkan, karena saya belum sempat menjawab. Ada begitu banyak pertanyaan yang masuk, sehingga saya harus menjawab pertanyaan yang datang sebelum pertanyaan dan komentar Michael. Jadi, mohon kesabarannya ya. Mohon doanya agar ingrid dan saya dapat menulis dan menjawab pertanyaan dengan baik.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

  14. TERPUJILAH DIA YG MAHA BIJAKSANA….SELAMA LAMANYA….. AMIN….AMIN….AMIN…..

    Berikut ini saya menjelaskan bahwa tulisan saya yg mengambil ilustrasi PENGATURAN KELAHIRAN MELALUI KONDOM…..(di bawah ini) saya nyatakan TIDAK BERLAKU di weB ini…..karena setelah membaca artikel HUMANE VITAE….saya sangat…sangat dan sangat menyadari bahwa saya telah KELIRU BESAR!!!

    TUHAN AMPUNI SAYA……SAYA TELAH KELIRU………

    Dan memang benar bahwa Humane Vutae itu Benar!!!!
    inilah cara mengatur kelahiran yang sesuai dng yang Kehendak Allah…..dan melalui cara ini..Allah menjamin bahwa Perkawinan umat Katolik akan LANGGENG sampai maut menjemput. Karena suami maupun istri akan semakin menyayangi satu sama lain. Dan kwalitas kasih suami istri ini akan semakin dimurnikan oleh Kasih Allah itu sendiri setiap hari……ya benar…SETIAP HARI!!! sehingga samakin serupa dng Kasih Allah yang sempurna.

    • Shalom Michael,
      Terima kasih atas keterbukaan Michael dalam menerima ajaran Humanae Vitae. Menjadi tantangan bagi semua pasangan Katolik untuk benar-benar dapat menerapkan apa yang diajarkan oleh Gereja, sehingga perkawinan dapat benar-benar menguduskan satu sama lain dan pasangan juga dapat menjadi rekan sekerja Allah.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

  15. Terpujilah nama Tuhan……..Raja semsta alam………..Amin.
    Syalom…….
    Berikut ini saya mengutip :
    ” Yudas memilih bagi dirinya sendiri bahwa dosanya tidak terampuni dan dia menolak kasih dan pengampunan Allah, yang dibuktikannya dengan menggantung dirinya sendiri” (Mt 27:5).

    TANGGA[PAN :
    Tidak berarti dng Yudas gantung diri maka dikatakan dia menolak uluran Kasih Allah….yg lebih tepat adalah dia gantung diri karena merasa sangat bersalah yg begitu dalam……sehingga ia merasa tidak layak lagi mendapat belas kasihan Tuhan. Apakah seseorang yg karena keterbatasan pemahamannya akan misteri Kasih Allah sehingga Ia merasa tidak layak menerima uluran Tangan Kasih Allah itu dikatakan berdosa melawan Roh Kudus???? SAYA RASA TIDAK DEMIKIAN. Karena sebelum Yudas gantung diri, ia sudah menyadari kedosaannya. Dan penyadaran ini membawa dia pada rasa penyesalan. Rasa penyesalan inilah yang merupakan benih pertobatan yg mulai tumbuh dalam hatinya. Dan benih-2 pertobatan itu ditumbuhkan oleh Allah sendiri dan itu merupakan anugerah belas kasihan Allah kepda Yudas. Dan Yudas menanggapi anugerah itu. Buktinya ia menyadari akan kedosaannya dan menyesal atas perbuatannya. Dan penyadaran ini berkembang menghasilkan buah-buah pertobatan yaitu ia membenci perbuatan dosanya. Dan menurut saya, karena hal ini (ia membenci perbuatan dosanya) maka Allah mengampuni dosa Yudas. Karena tidak ada orang yg menyesali perbuatan dosanya disisi lain mencintai perbuatan dosanya. Secara otomatis akan terjadi pemilihan salah satunya. Jasi saat seseorang menyesali perbuatan dosanya maka secara otomatis ia juga membenci perbuatan dosanya. Dan karena ia membenci perbuatan dosanya maka sama halnya dng dia membeci dosa itu sendiri dan tidak mau bersekutu dng dosa. Ini selaras dng hakekat Allah diamana Ia adalah Kudus maka tidak ada toleransi terhadap segala macam dosa. Dan karena selaras dng hakekat Allah, apa alasannya sehingga Allah mengulur-ulur waktu untuk memberi rahmat pengampunan kepada Yudas supaya ia bisa diselamatkan dan bersatu dng Allah di sorga???

    Peristiwa Yudas mengingatkan kepada kita pada peristiwa seorang penjahat yg disalibkan bersama Yesus. Kenapa Yesus berani menjamin bahwa saat ini juga ia sudah bersama-sama dng Yesus di Firdaus??? Itu karena penjahat itu menyesali perbuatan-perbuatan dosanya….dan penyesalan itu merupakan salah satu bentuk dati pertobatan. Tetapi karena si penjahat itu hanya melakukan dosa-dosa yg tidak berat maka ia berani memohon kepada Yesus untuk mengingat akan dia saat Yesus datang kembali sebagai Raja.

    Keadaan kedosaan penjahat ini sangat berbeda dng keadaan kedosaan Yudas. Yudas merasa sebagai orang yg paling berdosa di muka bumi ini. Ia merasa sebelum dan sesudahnya tidak ada orang yg pernah melakukan dosa yg sekeji ini. Dosa menghianati Sang Juru Selamat, yang adalah Tuhan sendiri. Apalagi ditambah dng perkataan Yesus ”….. celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan.” (Mt 26:24). Coba bayangkan kalau anda berada pada posisi Yudas….Apakah Anda sempat berpikir waras??? Bayangkan perasaan bersalah yg dihadapi oleh Yudas saat itu……mungkin dia berpikir bahwa saat ini seluruh manusia yg pernah hidup di bumi atau yg hidup akan datang….pasti mengutuk dia habis-habisan…..bagaimana mungkin ia bisa berpikir jernih???? Hanya rahmat Allah-lah yg memampukan ia bisa berpikir jernih!!! Tetapi saat itu Allah tidak mencurahkan rahmat pemahaman akan Luasnya Kasih Allah itu kepada Yudas….kenapa demikian??? Itu misteri Allah.

    Tetapi yang pasti adalah Allah sudah mengampuni dosa Yudas sebelum ia mengantungkan dirinya. Ingat Firman Tuhan “Walaupun dosamu merah seperti kirmisi….akan menjadi putih seperti salju….dan meskipun meranya seperti kain kesumba….akan menjadi putih seperti bulu domba…” demikianlah Firman Tuhan.

    Peristiwa Yudas mengantungkan diri itu adalah persoalan lain. Ia menggantung dirinya bukan karena dosa menghianati Yesus….sebab saat ia menyesali perbuatan dosanya, di saat itu pula Rahmat Pengampunan Allah turun atas dirinya. Dan karena rahmat ini, Yudas memperoleh pengampunan dari Allah. Jadi dosanya sudah diampuni oleh Allah sebelum ia gantung diri. Sedangkan perstiwa ia gantung diri itu terjadi karena keterbatasan pemahamannya akan Luasnya Samudra Kasih Allah yg tiada berbatas. Karena keterbatasan pemahamannya ini maka dia dihantui oleh perasaan bersalah yg mendalam. Dan ini merupakan efek yg ditinggalkan oleh dosa itu sendiri. Efek akibat dosa itu berbeda dng dosa itu sendiri.
    Ibarat sebuah lencana kaisar yg melambangkan hadirnya kaisar. Walaupun kaisarnya tidak hadir saat itu, tetapi jika seseorang menunjukkan lencana kaisar maka seolah-olah kaisar hadir saat itu. Jadi walaupun dosanya sudah dihapuskan tetapi efek akibat dosa yg ditinggalkan masih bisa mempengaruhi orang tersebut. Efek ini bisa timbul karena orang tersebut tidak begitu yakin bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosanya. Ketidakyakinan ini bukan disebabkan oleh karena kemauannya sendiri tetapi oleh karena keterbatasan pemahamannya sendiri. Dan ini tetap dikategorikan sebagai dosa, yaitu dosa karena ketidakpahaman manusia. Tetapi dosa ini bukanlah dosa berat yg menyebabkan maut. Dosa ini hanyalah dosa ringan yg dapat diampuni oleh Allah melalui doa-doa kita umat beriman. Sehinga saya yakin saat ini bahwa, Yudas sedang berada di purgatorium diamana menjalani pemurnian jiwanya dari dosa yg dikakukan selama masa hidupnya, terutama dosa gantung diri karena ketidak-pahamnya akan Luasnya Kasih Allah yg Tidak Bertepi.

    • Shalom Michel,

      Terima kasih atas tanggapannya tentang Yudas Iskariot. Berikut ini adalah tanggapan saya:

      1) Seperti yang saya katakan di jawaban saya sebelumnya:

      a) Apa yang kita pikirkan memang dapat berasal dari Tuhan, dari setan, maupun dari diri sendiri. Namun, apa yang kita putuskan adalah melibatkan keputusan bebas dari kita sendiri. Oleh karena itu, memang sebuah dosa dapat dipengaruhi oleh setan, namun pada akhirnya yang membuat keputusan adalah kita sendiri. Dan kita percaya bahwa rahmat yang diberikan oleh Tuhan cukup untuk membuat kita hidup dalam kekudusan. Oleh karena itu, dosa yang kita perbuat adalah kesalahan kita dan harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan, walaupun ada kondisi-kondisi yang mungkin mengarahkan kita untuk berbuat dosa.

      b) Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi sebelum Yudas meninggal atau beberapa detik sebelum dia meninggal, apakah dia benar-benar mempunyai penyesalan sempurna atau tidak, yang menentukan apakah dia masuk ke Sorga atau neraka. Namun dari apa yang dikatakan oleh Yesus “Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan.” (Mt 26:24), maka akan sulit untuk berargumentasi bahwa Yudas ada di Sorga, walaupun kita juga tidak dapat menentukan secara pasti bahwa Yudas ada di neraka. Dari dasar ayat tersebut dan pengertian dosa menghujat Roh Kudus, maka kita tidak dapat mengatakan bahwa dosa yang dilakukan oleh Yudas adalah dosa ringan. Dosa yang dilakukan oleh Yudas adalah berat.

      c) Menyadari kesalahan memang merupakan benih pertobatan, seperti yang telah dikatakan oleh Michael. Dan ini adalah kerja dari Roh Kudus, yang menyadarkan orang akan dosa-dosa yang telah diperbuatnya. Namun, penyadaran kesalahan yang berakhir pada keputusasaan bukanlah kerja dari Roh Kudus, karena Roh Kudus menuntun seseorang kepada Kristus. Keputusasaan adalah kerja dari setan. Seseorang dapat saja menyesali perbuatannya karena akibat yang ditimbulkan, namun tidak membawa seseorang pada pertobatan yang benar. Bandingkan dengan pertobatan Petrus, yang menyangkal Yesus tiga kali, namun membawanya pada pertobatan yang benar. Bandingkan dengan cerita pertobatan anak yang hilang, yang menyesali dosanya dan akhirnya kembali ke rumah Bapa. Oleh karena itu, penyesalan yang berakhir pada keputusasaan, fokus utamanya adalah diri sendiri dan bukan Allah. Dalam pertobatan yang sempurna, fokus utamanya adalah Allah dan bukan diri sendiri. Jadi, menggunakan argumentasi Michael, maka Yudas yang membenci dosanya, telah membuat dosa baru yang lebih parah, yaitu dosa keputusasaan. Inilah salah satu manifestasi dari dosa menghujat Roh Kudus, karena keputusasaan menolak kasih Kristus, yaitu dengan berfikir bahwa dosanya lebih besar daripada kasih Kristus.

      2) Kalau kita membandingkan dengan pertobatan dari penjahat yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus, maka berbeda dengan apa yang dialami oleh Yudas. Penjahat tersebut percaya akan belas kasih Allah, sehingga dia menaruh pengharapan besar akan belas kasih Allah. Sebaliknya, Yudas, yang menyesali dosanya, tidak berlanjut pada pertobatan yang benar. Kita harus yakin bahwa Tuhan memberikan rahmat yang cukup bagi semua orang untuk masuk dalam pertobatan yang benar. Tanpa berpegang pada kebenaran ini, maka kita akan menyalahkan setan, dan lebih parah lagi menyalahkan Tuhan. Sekali lagi, untuk menyatakan bahwa Allah pasti mengampuni dosa Yudas adalah sebuah argumentasi yang perlu dipertanyakan. Bagaimana kita dapat mengatakan bahwa dosa Yudas pasti diampuni, kalau Yesus sendiri mengatakan “Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan.” (Mt 26:24)

      Saya ingin menegaskan sekali lagi, bahwa menyadari kesalahan saja tidak cukup untuk mendapatkan pengampunan. Menyadari kesalahan adalah tahap awal dan tidaklah komplit dalam proses pertobatan. Pertobatan yang benar adalah seperti yang ditunjukkan oleh anak yang hilang. Silakan melihat artikel tentang hal ini di sini (silakan klik). Dan rasul Paulus menegaskan “Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan, tetapi dukacita yang dari dunia ini menghasilkan kematian.” (2 Kor 7:10). Dan inilah yang dialami oleh Yudas, yaitu dukacita dari dunia ini yang menghasilkan kematian.

      Semoga uraian di atas dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

  16. Syalom……tuhan memberkati Kita semua…………

    Saya mengutip tulisan berikut ini :
    (2) Namun dosa Yudas Iskariot dapat juga dikategorikan sebagai dosa melawan Roh Kudus. Salah satu manifestasi dari dosa ini adalah dosa keputusasaan (despair). Walaupun Yudas Iskariot menyesali dosanya (Mt 27:3), namun dia berfikir bahwa dosanya lebih besar daripada kasih Allah.

    “……..namun dia berfikir bahwa dosanya lebih besar daripada kasih Allah”.

    TANGGAPAN : Itu kan pikiran Yudas saja….belum tentu pikirannya benar…karena setan bisa membuat orang merasa bersalah walaupun pada kenyataannya ia tidak berbuat dosa atau dosanya sudah diampuni OLEH Tuhan jika ia tidak memahami secara mendalam Belas Kasih Tuhan kepada orang berdosa…..Dan kita tidak bisa men-just bersalah sepenuhnya kepada Yudas atas ketidak-pahamnya akan Misteri Kasih Allah itu. Bukan berarti Yudas tidak berdosa akan tindakan gantung diri itu…tetap Yudas berdosa tetapi dosanya relatif ringan….

    • Shalom Michael,

      Terima kasih atas tanggapannya tentang Yudas Iskariot. Michael melihat bahwa pernyataan saya “……..namun dia berfikir bahwa dosanya lebih besar daripada kasih Allah” adalah tidak tepat. Dan kemudian Michael memberikan tanggapan "Itu kan pikiran Yudas saja….belum tentu pikirannya benar…karena setan bisa membuat orang merasa bersalah walaupun pada kenyataannya ia tidak berbuat dosa atau dosanya sudah diampuni OLEH Tuhan jika ia tidak memahami secara mendalam Belas Kasih Tuhan kepada orang berdosa…..Dan kita tidak bisa men-just bersalah sepenuhnya kepada Yudas atas ketidak-pahamnya akan Misteri Kasih Allah itu. Bukan berarti Yudas tidak berdosa akan tindakan gantung diri itu…tetap Yudas berdosa tetapi dosanya relatif ringan….

      a) Apa yang kita pikirkan memang dapat berasal dari Tuhan, dari setan, maupun dari diri sendiri. Namun, apa yang kita putuskan adalah melibatkan keputusan bebas dari kita sendiri. Oleh karena itu, memang sebuah dosa dapat dipengaruhi oleh setan, namun pada akhirnya yang membuat keputusan adalah kita sendiri. Dan kita percaya bahwa rahmat yang diberikan oleh Tuhan cukup untuk membuat kita hidup dalam kekudusan. Oleh karena itu, dosa yang kita perbuat adalah kesalahan kita dan harus kita pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan, walaupun ada kondisi-kondisi yang mungkin mengarahkan kita untuk berbuat dosa.

      b) Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi sebelum Yudas meninggal atau beberapa detik sebelum dia meninggal, apakah dia benar-benar mempunyai penyesalan sempurna atau tidak, yang menentukan apakah dia masuk ke Sorga atau neraka. Namun dari apa yang dikatakan oleh Yesus "Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan." (Mt 26:24), maka akan sulit untuk berargumentasi bahwa Yudas ada di Sorga, walaupun kita juga tidak dapat menentukan secara pasti bahwa Yudas ada di neraka. Dari dasar ayat tersebut dan pengertian dosa menghujat Roh Kudus, maka kita tidak dapat mengatakan bahwa dosa yang dilakukan oleh Yudas adalah dosa ringan. Dosa yang dilakukan oleh Yudas adalah berat.

      Semoga keterangan tambahan ini dapat memperjelas.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

  17. Syalom……..Tuhan Yesus memberkati orang yg membaca tulisan ini…….

    Berikut ini saya mengutip kalimat yg ditulis oleh Pak.Stevanus…..
    “Kebenaran adalah tetap dan tidak berubah, dan kebenaran sejati hanya dapat ditemukan dalam diri Yesus, karena Yesus adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup (Yoh 14:6).”

    COMENTAR :
    Permasalahnya karena setiap manusia berusaha menginterpretasikan kebenaran itu….dan karena pemahaman akan kebenaran itu berbeda-beda maka terjadilah berbagai macam versi interpretasi dari kebenaran itu. Terus kalau terjadi seperti ini…..pertanyaan selanjutnya interpretasi mana yg paling benar??? Masing-masing manusia meng-claim bahwa interpretasinya yg paling benar. Benar menurut apa??? Tentunya berbagai macam standard yg dipakai. Terus standard mana yg paling mulia dan utama??? Orang beriman mengatakan “Standard moral yg utama dan pertama” …..OK standard moral yg utama….tetapi bagaimana implementasinya dilapangan??? Sebab apa yg disepakati boleh sama tetapi implementasinya bias berlainan. Bahkan tidak jarang bertentangan satu sama lain.

    Sebagai contoh : Gereja Katolik melarang penggunaan kondom untuk mencegah kelahiran sebab itu adalah tindakan dosa. Tetapi permasalahannya,
    - apakah Gereja Katolik bertanggung jawab jika terjadi ledakan penduduk akibat tidak menggunakan kondom???
    - apakah Gereja bertanggung jawab terhadap ketersediaan makanan yg cukup,??
    - tersedianya lapangan pekerjaan yg memberikan upah yg memadai untuk para orang tua dari lusinan akan yg dilahirkan dalam keluarganya???
    - bagaimana dng pendidikan anak-anak??? Apakah mereka bisa mencapai tingkat pendikan yg memadai??? Saya yakin akan sulit menjamin kesejahteraan dari keluarga yg melahirkan satu bayi baru setiap tahunnya. Coba bayangkan…bagaimana caranya sepasang orang tua menjamin kesejahteraan jika sepasang orangtua tsb dianugerahi 10-15 orang anak….????

    Bukankah jika ledakan penduduk tidak terkendali maka terjadilah kelaparan di sana-sini sebab persediaan bahan makanan menjadi habis. Dan akibat dari kelaparan itu maka angka kriminalitas meroket…..apakah ini bukan kejahatan di mata Tuhan juga??? Sehingga para negarawan berpendapat bahwa Gereja Katolik mengijinkan banyak kejahatan timbul karena melarang pemakaian kondom untuk mengatur kehamilan….

    Tetapi apakah tanggapan Gereja Katolik??? Tuhan bertanggung jawab setiap bayi yang dilahirkan di muka bumi ini. Ia akan menjamin hidupnya. Ia akan menjamin makanan dan minumannya. Lihat…burung-burung di udara….mereka tidak menanam di saat musim tanam. Tetapi Tuhan menyediakan tuaian di saat musim tuai. Bagaimanakah kamu hai manusia??? Bukankan kamu lebih berharga daripada burung-burung di udara??? Janganlah khawarit akan apapun juga.

    Tetapi jangan lupa juga….kita ini adalah rekan sekerja Tuhan dalam menciptakan dunia ini. Dia yg begitu agung, melengkapi kita dng akal budi sehingga kita dapat mengatur kelangsungan kehidupan kita sendiri dan kehidupan banyak orang. Oleh karena itu, maka manusia menggunakan akal budinya untuk memecahkan persoalan “Bagaimana caranya membatasi kelahiran???” Maka lahirlah kondom……

    • Shalom Michael Angello,

      Terima kasih atas tanggapannya tentang “kebenaran”. Untuk menjawab pertanyaan ini, maka kita harus mengetahui definisi kebenaran. Kebenaran dapat didefinisikan sebagai persetujuan apa yang yang ada di dalam pikiran dengan kenyataan. Sebagai contoh: adalah benar, kalau kita berfikir bahwa balon merah, dan kenyataannya memang kita melihat balon tersebut berwarna merah. Kalau kita berfikir bahwa balon itu biru, maka kita tidak mempunyai kebenaran, karena apa yang kita pikirkan berbeda dengan apa yang terjadi. Untuk mengatakan bahwa semua orang dapat mempunyai kebenaran, walaupun berfikir dan berkata bahwa balon tersebut hijau, putih, kuning, dll., adalah mendefinisikan kebenaran sebagai sesuatu yang bersifat relatif.

      Kebenaran lebih tinggi dari kita sendiri, karena kebenaran adalah tetap. Kebenaran tidak perduli kita setuju atau tidak setuju dengan kebenaran tersebut. Sebagai umat Katolik, kita percaya apa yang dikatakan oleh Kristus, bahwa Kebenaran adalah Kristus sendiri (lih. Yoh 16:6). Dan kebenaran ini akan membebaskan (lih. Yoh 8:32). Dan akhirnya, kita juga harus percaya bahwa Gereja Katolik adalah tiang, penopang, dan dasar kebenaran (lih. 1 Ti 3:15). Kalau Gereja sebagai tiang, penopang, dan dasar kebenaran, maka kita tidak dapat memilih-milih doktrin dan dogma yang diajarkan oleh Gereja. Kalau kita memilih-milih doktrin dan dogma sesuai dengan pemikiran kita, maka kita tidak mempunyai iman yang supernatural, karena iman kita bergantung pada pemikiran kita sendiri. Tentu saja untuk menerapkan kebenaran, kita juga harus melihat budaya, dan juga harus sensitif terhadap orang-orang di sekitar kita. Oleh karena itu, kita harus mohon kepada Tuhan agar diberi karunia kebijaksanaan (dalam hal ini prudence), sehingga kita dapat menerapkan kebenaran dengan bijaksana, sehingga pada akhirnya orang-orang dapat melihat dan menemukan Kebenaran, yaitu Kristus.

      Mari kita melihat contoh yang dikemukakan oleh Michael, yaitu bahwa Gereja Katolik melarang umatnya untuk menggunakan kontrasepsi. Untuk menjawab pertanyaan ini, silakan membaca artikel “Humanae Vitae itu benar” (silakan klik). Dan setelah membaca hal tersebut, maka kita dapat mendiskusikannya lebih lanjut. Namun intinya adalah Gereja ingin agar kita harus mengikuti apa yang diperintahkan oleh Allah, bukan Allah yang mengikuti kemauan kita.

      a) Untuk mengatakan bahwa penduduk dunia telah terlalu banyak adalah informasi yang salah. Sebagai gambaran, seluruh penduduk dunia dapat ditempatkan di Texas – USA. Luas Texas adalah 696,241 km2 dan penduduk dunia adalah 6,7 milyar. Jadi kalau seluruh penduduk dunia ditempatkan di Texas, maka setiap orang mendapatkan lebih dari 100 m2. Kalau dalam keluarga ada empat anggota, maka keluarga tersebut menempati rumah sebesar 400 m2, yang berarti, cukup luas – sekitar 15 m x 27 m. Bandingkan dengan perumahan sederhana di Indonesia yang jauh lebih kecil.

      b) Untuk mengatakan bahwa tidak tersedia makanan bagi manusia di seluruh dunia adalah tidak benar. Kemiskinan disebabkan karena dosa ketamakan. Kalau saja yang kaya mau berbagi kepada yang miskin, sebenarnya tidak ada kemiskinan di dunia ini.

      c) Cobalah untuk melihat data kelahiran penduduk. Lebih dari 70 negara (data tahun 2007) mempunyai tingkat kelahiran penduduk kurang dari 2, seperti: Singapore: 1.07; Jepang: 1.23; Kanada: 1.61. Dan tanpa imigran, maka negara-negara tersebut penduduknya akan terus berkurang dan pada akhirnya akan mengalami permasalahan besar. Tingkat kelahiran seluruh dunia adalah 2.59 di tahun 2007, menurun dibandingkan 2.8 di tahun 2002, dan 5.0 di tahun 1965. Coba juga untuk melihat bahwa yang tidak mau memakai kontrasepsi bukan hanya orang-orang miskin, namun juga orang-orang kaya. Coba bandingkan berapa anak dalam keluarga di desa dan keluarga di kota yang lebih kaya. Coba bandingkan dengan Singapore yang mempunyai tingkat kelahiran penduduk 1.07, sehingga pemerintah Singapore memberikan banyak kemudahan kepada pasangan yang mempunyai anak. Kalau tingkat kelahiran ini terus menurun, maka negara-negara tersebut akan menghadapi bahaya yang besar.

      d) Kalau begitu, bagaimana tanggapan Gereja Katolik? Gereja Katolik memberikan jalan keluar, yaitu dengan KB alamiah. KB alamiah ini adalah sebagai bentuk kebijaksanaan di dalam pelaksanaan tanpa mengorbankan kebenaran, sehingga manusia menjadi rekan sekerja Tuhan yang sebenarnya. Dengan memakai kontrasepsi, manusia menjadi tuan bagi dirinya sendiri dan mendepak Tuhan dalam proses penciptaan manusia baru. Apakah ini yang disebut sebagai rekan sekerja?

      e) Kalau kita mau menjadi rekan sekerja Allah yang benar-benar, pakailah metode KB alamiah dan bukan memakai kondom atau alat kontrasepsi lainnya, sehingga manusia tetap terbuka terhadap kelahiran dan pada saat yang bersamaan bertanggungjawab terhadap kehidupannya.

      Semoga uraian di atas dapat membantu. Mari kita benar-benar menjadi rekan sekerja Allah (lih. 1 Kor 3:9) dalam hal apapun.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

  18. Mengenai ajaran predestinasi tadi,sebenarnya ajaran ini berbicara tentang apa? Kalau tidak salah predestinasi ini adalah paham calvinisme(saya dapat dari pelajaran di sekolah saya yang beraliran protestan),apa predestinasi juga merupakan bagian dari ajaran katolik?? Terima kasih.

    • Shalom Andry,

      Terima kasih atas pertanyaannya tentang predestination. Predestination merupakan topik yang tidak gampang dan memerlukan pembahasan secara mendalam, yang mungkin suatu saat dapat ditulis dalam artikel tersendiri.

      Predestination berhubungan dengan konsep Tuhan yang maha tahu, yang tahu bahwa sebagian orang akan masuk Sorga, dan sebagian akan masuk neraka (hal ke dua ini disebut divine reprobation). Yang menjadi permasalahan di sini adalah: apakah Tuhan secara aktif memilih sebagian orang masuk Sorga dan sebagian orang masuk neraka. Secara sederhana dapat dipaparkan bahwa Calvin mengatakan bahwa Tuhan secara aktif menentukan bahwa sebagian orang masuk Sorga dan sebagian orang masuk neraka. Dan inilah yang bertentangan dengan ajaran Gereja Katolik.

      a) Gereja Katolik percaya bahwa Tuhan menginginkan semua manusia masuk dalam Kerajaan Sorga. Dikatakan “3 Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, 4 yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.” (1 Tim 2:3-4) dan “9 Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” (2 Pet 3:9).

      b) Namun, Tuhan adalah maha tahu, yang berarti Tuhan tahu siapa saja yang masuk Sorga dan siapa saja yang masuk neraka. Kalau seseorang masuk neraka, bukan berarti bahwa Tuhan telah mentakdirkan seseorang untuk masuk neraka, dalam pengertian bahwa Tuhan secara aktif membuat seseorang berdosa dan masuk ke dalam neraka. Tidak mungkin Tuhan secara aktif membuat seseorang berbuat dosa, karena ini bertentangan dengan hakikat Tuhan yang adalah kudus. Namun di dalam kebijaksanaan-Nya, Dia telah melihat dan memperhitungkan dosa-dosa yang diperbuat oleh seseorang (karena Tuhan maha tahu), sehingga orang tersebut masuk dalam neraka.

      Jadi, pada dasarnya Tuhan menginginkan semua orang masuk ke dalam Kerajaan Sorga, namun Tuhan juga menghormati kehendak bebas manusia untuk menerima kasih Tuhan atau menolak kasih Tuhan. Karena Tuhan maha tahu, maka Dia tahu sebagian orang masuk Sorga dan sebagaian orang masuk neraka. Namun, Tuhan tidak akan pernah secara aktif membuat orang masuk neraka. St. Agustinus mengatakan “Tuhan adalah baik, Tuhan adalah adil … Dia dapat menyelamatkan seseorang tanpa [ia melakukan] perbuatan-perbuatan baik, karena Dia [Tuhan] adalah baik; Namun Dia tidak dapat menghukum seseorang tanpa [ia melakukan] perbuatan-perbuatan jahat, karena Dia adalah adil” (Contra Jul. III, 18, 35). jadi, Tuhan tidak mungkin Tuhan secara aktif membuat seseorang berbuat jahat dan kemudian menghukumnya, karena ini bertentangan dengan keadilan Tuhan.

      Semoga uraian singkat di atas dapat menjawab pertanyaan yang sulit ini.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

  19. Yth Katolisitas,

    Saya ingin bertanya lagi bagaimana dgn Yudas Iskariot yg menghianati Yesus? Ini termasuk dosa menghujat Roh kudus ataukah dosa melawan Anak Allah?

    Apakah Yudas Iskariot diampuni? Bukankah pada akhirnya Dia menyesali perbuatannya? Tetapi mengapa ada tertulis:
    “akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan.”

    Terima kasih.

    • Shalom Chris,
      Terima kasih atas pertanyaan tentang apakah dosa Yudas Iskariot termasuk dosa melawan Anak Allah atau menghujat Roh Kudus. Pertama kembali saya ingin mengegaskan kembali bahwa semua dosa pada dasarnya adalah melawan Allah. "Appropriation" (saya tidak tahu terjemahan bahasa Indonesia secara tepat, mungkin dapat diterjemahkan: penguntukan) hanyalah cara untuk membantu kita menangkap dengan lebih jelas misteri Tritunggal Maha Kudus.

      Jadi secara umum, maka dapat dikatakan Yudas Iskariot berdosa terhadap Allah dan tentu terhadap Yesus. Perbuatannya mengkhianati Yesus dan menyerahkan Yesus sehingga Ia disalibkan, adalah sungguh dosa melawan Anak Allah. Sekarang mari kita lihat dalam konteks "appropriation".

      1) Yudas Iskariot melakukan dosa melawan Anak Allah. Seandainya  dia tidak tahu bahwa Yesus Anak Allah dan dia melakukan pengkhianatan karena "ignorance" (ketidaktahuan) saja, Yudas sudah berdosa melawan Yesus yang adalah Sang Kebijaksanaan.  Apalagi kenyataannya, Yudas mengetahui siapa Yesus itu, karena ia adalah seorang dari para rasul, yang setiap hari berkumpul dengan Yesus.
      2) Namun dosa Yudas Iskariot dapat juga dikategorikan sebagai dosa melawan Roh Kudus. Salah satu manifestasi dari dosa ini adalah dosa keputusasaan (despair). Walaupun Yudas Iskariot menyesali dosanya (Mt 27:3), namun dia berfikir bahwa dosanya lebih besar daripada kasih Allah. Yudas memilih bagi dirinya sendiri bahwa dosanya tidak terampuni dan dia menolak kasih dan pengampunan Allah, yang dibuktikannya dengan menggantung dirinya sendiri (Mt 27:5). Oleh karena itu, tepatlah apa yang dikatakan oleh Yesus "Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan." (Mt 26:24).

      Semoga keterangan tersebut dapat menjawab pertanyaan Chris.
      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

      • Shalom Pak Stefanus,
        Membaca pertanyaan dan jawaban bapak perihal Yudas Iskariot, timbul pertanyaan dalam benak saya bahwa “Bukankah itu KEHENDAK (RENCANA) ALLAH supaya semua itu terjadi?” Seandainya Yudas Iskariot tidak menghianati Yesus, bukankah kisah pengorbanan Yesus di kayu Salib sampai pada kebangkitan-Nya tidak terjadi? Hitung-2 Yudas Iskariot berjasa juga dhonk? (maaf ini pikiran konyol saya,hahaha).

        Salam dalam kasih Kristus.

        Simon

        • Shalom Simon,
          Terima kasih atas pertanyaan tentang apakah Yudas berjasa dalam karya keselamatan Kristus. Berikut ini adalah jawaban yang pernah dituliskan sebelumnya.

          1) Pertama kita harus mengeri konsep tentang Antecedent will dan Consequent will.

          a) Antecedent Will: Kehendak Allah yang universal terhadap semua manusia, yaitu agar semua manusia di selamatkan. Inilah yang dikenal dengan ajaran ‘predestination’, yaitu bahwa Allah menghendaki semua manusia diselamatkan dan memiliki pengetahuan akan kebenaran (lih. 1Tim 2:4).

          b) Consequent Will: Kehendak Allah yang melibatkan pihak kehendak bebas manusia; sehingga meskipun Allah menghendaki semua manusia diselamatkan, namun karena Allah menghormati keputusan kehendak bebas manusia yang menolak-Nya, maka tidak semua dari yang ditentukan Allah sejak semula untuk diselamatkan, dapat diselamatkan.

          Dengan prinsip yang sama, maka bukan Tuhan yang menghendaki kejahatan terjadi, sebab yang terjadi sesungguhnya manusia dengan kehendak bebasnya yang berbuat jahat. Dalam hal ini, Tuhan mengizinkan hal kejahatan itu terjadi, karena Ia menghormati kehendak bebas manusia yang diciptakan-Nya. Inilah yang dikenal sebagai penderitaan yang disebabkan oleh dosa manusia.

          Dengan pengertian tersebut di atas, maka kita dapat menyimpulkan bahwa menjadi kehendak Allah bahwa semua orang, termasuk Yudas untuk bekerja sama dengan rahmat Tuhan, sehingga semuanya mencapai kebahagiaan di Surga. Namun karena Allah menghargai kehendak bebas manusia, dalam hal ini Yudas, maka Yudas sebenarnya memilih bagiannya sendiri untuk berbuat dosa yang mendatangkan maut. Jadi, Allah tidak pernah secara aktif (positif) menyebabkan orang lain untuk berbuat dosa; namun karena Yesus Maha Tahu, maka sejak semula, Yesus telah mengetahui bahwa Yudas akan menyerahkan Diri-Nya untuk disalibkan, walaupun keputusan untuk menyerahkan Yesus adalah keputusan Yudas sendiri.

          2) Untuk mengatakan bahwa Yudas Iskariot berjasa dalam terjadinya penyelamatan Tuhan, maka sama saja dengan mengatakan bahwa Setan yang membuat Adam dan Hawa berdosa juga berjasa, karena dengan itu Yesus turun ke dunia dan menunjukkan kepada umat manusia tentang kasih Allah yang tak terbatas. Tentu saja kita tidak bisa berkata bahwa tanpa Yudas tidak ada keselamatan, karena Tuhan juga dapat menggunakan cara yang lain. Dalam artian, tanpa penghianatan Yudas, orang Farisi juga tetap dapat menangkap Yesus dan berusaha untuk membunuhnya, seperti yang diceritakan dalam beberapa kejadian di Injil (Yoh 5:18; Yoh 7:1).

          3) Mungkin pernyataan yang lebih baik adalah "Tuhan dapat mendatangkan sesuatu yang baik dari sesuatu yang buruk untuk menyatakan kemuliaan-Nya". Keburukan dosa yang terekpresi lewat setan yang menggoda Adam dan Hawa, mendatangkan rencana Tuhan yang paling indah, yaitu misteri inkarnasi. Keburukan dosa Petrus yang menyangkal Yesus tiga kali (Mat 26:69-75) mendatangkan kekuatan bagi Petrus untuk mengemban amanat yang diberikan oleh Yesus untuk menggembalakan domba-Nya (Yoh 21:15-17). Dan keburukan dosa yang dilakukan oleh Yudas membuka mata hati manusia akan suatu bahaya dosa keputusasaan, dosa yang tidak terampuni.
          Semoga keterangan di atas dapat membantu.
          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – http://www.katolisitas.org

          • Ytk Bp. Stefanus Tay,

            Luar biasa penjelasannya. Terima kasih banyak atas pencerahannya.
            Doa saya untuk katolisitas.org semoga eksis terus dan diberkati oleh Allah Bapa yang ada di Surga sehingga semakin hari semakin banyak orang Katolik yang dibukakan hati dan dicerahkan pemahamannya tentang Iman Katolik yang sesungguhnya.

            Salam Damai,

            Simon

          • Yang dipenuhi rahmat Bpk Stefanus,

            Suatu pencerahan kepada kami akan pemikiran mengenai Yudas Iskariot tersebut dan karya keselamatan oleh Tuhan Yesus Kristus.
            Semoga web site Katolisitas.org ini tetap eksis agar semakin banyak umat katolik yang menjadi lebih teguh imannya. Tuhan memberkati selalu.

            Shalom,
            Mariano

  20. saya bersukur sekali degan kehadiran web ini tentunya bisa saling menguatkan iman kita.khususnya bagi kaum muda yang sedang diperantauan,yg diluar negri sebagai pekerja atau tki seperti saya. yang haus akan sapaan rohani,dimana butuh kekuatan untuk saling menguatkan iman kita.semoga web ini jaya terus….sehingga bisa memberikan nuangsa baru untuk pertubuan dan kekuatan iman kita. lewat dunia maya.khususnya bagi rekan2 yg ada diperantauan yg sedang mabuk dgan dunia maya.yg membutuhkan kekuatan iman dan yang haus akan sapaan rohani. TRIMAKASIH KATOLISITAS.TUHAN MEMBERKATIIII

  21. Shalom Julius,
    Memang istilah Nasrani lebih digunakan oleh orang-orang Yahudi non Kristen untuk menyebut umat Kristiani. Ini mengacu kepada yang disebut dalam Mat 2:23, yang mengatakan bahwa Yesus tinggal di kota Nazareth supaya genaplah firman yang dikatakan nabi- nabi, bahwa Ia akan disebut sebagai orang Nazareth. Mungkin ini mengacu pada kata "orang Nazir" yang disebut pada kitab Hak 13:5,7. Kita ketahui juga bahwa di atas salib Yesus, Pilatus menuliskan teks yang berkata, "Yesus, orang Nazareth, Raja orang Yahudi." (Yoh 19:19).
    Maka istilah Nasrani bukan baru hanya dipakai di jaman Arius, tetapi sudah sejak Yesus wafat dan bangkit. Dalam Kisah para Rasul disebutkan bahwa Rasul Paulus disebut sebagai pengikut "sekte" Nasrani, yaitu sebutan yang diberikan dari para imam kepala Yahudi kepada para pengikut Kristus.

    Jadi sebenarnya, dalam pengertian bebasnya, jika "orang Nazir" ini diartikan sebagai Kristus, maka orang-orang Nasrani adalah para pengikut Kristus. Memang di awal jemaat Kristen, terdapat orang-orang Yahudi Kristen yang bernazar, untuk tidak mencukur rambut sampai saat nazarnya selesai (ini seperti nazar yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis) dan mereka mengakhiri nazarnya dengan mempersembahkan kurban di bait Allah di Yerusalem. Namun, dengan kehancuran bait Allah di tahun 70, maka praktek ini praktis tidak dilakukan lagi. Sehingga sebutan ‘Nasrani’ sekarang menjadi istilah umum yang digunakan oleh umat Yahudi (maupun muslim) kepada para pengikut Kristus. Namun bagi para pengikut sendiri, mungkin memang lebih ‘pas’ untuk menyebut diri sebagai orang Kristiani, atau bagi saya, lebih tepat untuk menyebut diri sebagai anggota Gereja Katolik, yang didirikan Kristus.

    Salam kasih dalam Kristus Yesus,
    Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CONNECT WITH US: