Sakramen: Apa pentingnya di dalam kehidupan iman kita?

31

Sakramen Pendahuluan

Banyak orang berpikir bahwa iman itu hanya menyangkut kerohanian, dan tidak ada sangkut pautnya dengan hal jasmani. Namun sesungguhnya tidak demikian, karena manusia diciptakan Allah terdiri dari jiwa dan tubuh. Jadi apa yang kita imani selayaknya memancar keluar melalui sikap tubuh, dan sebaliknya apa yang terlihat dari luar mencerminkan apa yang kita imani di dalam hati. Hal ini yang mendasari bahwa segala yang menyangkut manusia selalu menyangkut dua hal: tubuh dan jiwa, jasmani dan rohani, dan kedua hal ini tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia.

Prinsip kedua adalah kemurahan hati Allah yang mengangkat kita dari ketidakberdayaan kita sebagai manusia, agar kita dapat memahami dan mengingini hal-hal ilahi, karena untuk itulah kita diciptakan dan ke sanalah hidup kita akan berakhir. Rahmat Ilahi ini hanya datang dari Allah, dan kita memperolehnya lewat sakramen -sakramen. Sakramen mengubah kita secara rohani: kita diangkat menjadi ilahi, agar dapat dibentuk oleh Allah menjadi semakin serupa dengan DiriNya.

Prinsip ‘jiwa dan tubuh’, ‘grace and nature’

Prinsip ‘tubuh dan jiwa’ ini yang mendasari adanya sakramen di dalam Gereja. Gereja yang dijiwai oleh Roh Kristus, juga terdiri dari ‘Tubuh’ yang kelihatan, yaitu umat yang dipimpin oleh para pemimpin Gereja. Selanjutnya, rahmat Tuhan yang dicurahkan di dalam Gereja dapat juga dirasakan secara jasmani di dalam sakramen-sakramen. Karenanya Gereja mempunyai aspek Ilahi dan manusiawi, rohani dan jasmani, yang tak kelihatan dan yang kelihatan, dan semuanya itu dipersatukan di dalam misteri Kristus. Di dalam Kristuslah segala sesuatu diperdamaikan, dipersatukan dan disempurnakan (lih. Kol 1:19-22).

Jadi Allah tidak mungkin merendahkan tubuh, namun menyempurnakan dan memuliakannya untuk dipersatukan dengan jiwa, sebab Ia-lah yang menjadikan keduanya pada awal mula penciptaan dengan sangat baik adanya (Kej 1:31). “Rahmat tidak menghancurkan segala yang bersifat material /lahiriah, melainkan menyempurnakannya (grace does not destroy nature but perfects it),” kata St. Thomas Aquinas.[1] Maka walaupun dosa memang telah ‘mencemari’ tubuh, namun tidak menjadikannya sama sekali tidak bernilai, karena kuasa dosa tidak mungkin lebih besar dari kuasa Allah. Allah mencurahkan rahmat-Nya untuk mengembalikan tubuh kepada keadaan asalnya. Karena itu, sudah menjadi kehendak Allah bahwa segala rahmat ilahi dapat dialami dan dirasakan oleh tubuh, supaya oleh rahmat-Nya kita dipulihkan dari akibat dosa, dan tubuh kita ‘diangkat’ sehingga bernilai ilahi. Jadi walaupun rahmat Allah itu pertama-tama bersifat rohani, namun rahmat itu tidak mengabaikan segala yang bersifat lahiriah. Jangan kita lupa, Allah adalah Tuhan atas segala sesuatu dan adalah hak Tuhan untuk menyampaikan rahmatNya melalui perantaraan benda-benda ciptaanNya untuk menyembuhkan, menguduskan dan membentuk kita menjadi tempat kediaman dan Bait Kudus-Nya (1 Kor 3:16).[2]

Janganlah kita lupa, bahwa karena akibat dosa asal, terdapat jurang yang tak terpisahkan antara Tuhan Pencipta dan manusia yang diciptakanNya. Kita manusia hanya dapat ‘terangkat’ dari jurang melalui jasa Kristus Penyelamat kita. Jasa Kristus itu secara nyata kita peroleh lewat sakramen-sakramen, yang memang disediakan Tuhan untuk mengangkat kita agar dapat mengambil bagian dalam kehidupan Ilahi seperti yang menjadi rencana-Nya sejak semula. Maka jika Tuhan menghendaki agar kita hidup kudus, dan bertumbuh dalam kasih, hal itu bukannya ‘asal perintah’ saja, sebab, Tuhan sendiri menyediakan jalan untuk menuju ke sana. Allah mengetahui bahwa dengan mengandalkan kemampuan sendiri, kita tidak akan dapat menjadi kudus dan memiliki kasih sejati; oleh karena itu, Ia memberikan rahmat-Nya, melalui sakramen-sakramen, sebagai suatu tanda sederhana yang dapat kita rasakan melalui tubuh kita, namun menghasilkan efek luar biasa di dalam jiwa kita. Kita dibentuk oleh Allah untuk menjadi bagian dari DiriNya sendiri. DiberikanNya pada kita kehidupan IlahiNya, supaya kita dapat bertumbuh dalam iman, harapan dan kasih. Oleh rahmat ini kita dapat menjalin persahabatan dengan Tuhan, dan sedikit demi sedikit, kita bertumbuh sebagai gambaran Allah sendiri.

Sakramen

Sakramen berasal dari kata ‘mysterion’ (Yunani), yang dijabarkan dengan kata ‘mysterium’ dan ‘sacramentum’ (Latin). Sacramentum dipakai untuk menjelaskan tanda yang kelihatan dari kenyataan keselamatan yang tak kelihatan yang disebut sebagai ‘mysterium‘. Kitab Suci menyampaikan dasar pengertian sakramen sebagai misteri/ ‘mysterium‘ kasih Allah, yang diterjemahkan sebagai “rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad… tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudus-Nya” (Kol 1: 26, Rom 16:25). Rahasia/ ‘misteri’ keselamatan ini tak lain dan tak bukan adalah Kristus (Kol 2:2; 4:3; Ef 3:3) yang hadir di tengah-tengah kita (Kol 1:27). Katekismus mengutip perkataan St. Leo Agung mengajarkan, “apa yang tampak pada Penebus kita, sudah dialihkan ke dalam misteri-misteri-Nya”/ sakramen-sakramen-Nya.[3]

Jadi sakramen-sakramen Gereja merupakan tanda yang kelihatan dari rahasia/ misteri Kristus -yang tak kelihatan- yang bekerja di dalam Gereja-Nya oleh kuasa Roh Kudus.[4] Betapa nyatanya ‘rahasia’ ini diungkapkan di dalam sakramen-sakramen Gereja, terutama di dalam Ekaristi (lihat artikel: Sudahkah kita pahami arti Ekaristi?)

Mengacu pada pengertian ini, maka Gereja sendiri adalah “Sakramen Keselamatan” yang menjadi tanda rahmat Allah dan sarana yang mempersatukan Allah dan manusia (lihat artikel Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan- Bagian 2).[5] Sebagaimana Yesus yang mengambil rupa manusia menjadi “Sakramen” dari Allah sendiri, maka Gereja sebagai Tubuh Kristus menjadi “Sakramen” Kristus. Artinya, di dalam Gereja, kuasa ilahi yang membawa kita kepada keselamatan bekerja melalui tanda yang kelihatan.[6]

Di dalam perannya sebagai “Sakramen Keselamatan” inilah, Gereja dipercaya oleh Kristus untuk membagikan rahmat Tuhan di dalam ketujuh sakramen. Jadi sakramen tidaklah hanya sebagai tanda atau lambang, tetapi juga sebagai pemenuhan makna dari tanda itu sendiri, yaitu rahmat pengudusan untuk keselamatan kita[7] sehingga Gereja mengajarkan bahwa dengan mengambil bagian di dalam sakramen, kita diselamatkan, karena melalui Kristus, kita dipersatukan dengan Allah sendiri.[8]

Ketujuh sakramen ini menjadi tanda akan sesuatu yang terjadi sekarang, sesuatu yang terjadi di masa lampau, dan sesuatu yang akan terjadi di masa yang akan datang.[9] Jadi semua sakramen tidak hanya membawa rahmat pengudusan (sekarang), namun juga menghadirkan Misteri Paska Kristus (di masa lampau) yang menjadi sumber kekudusan, dan menjadi gambaran akan kebahagiaan surgawi sebagai akhir dari pengudusan kita (yang akan datang).[10] Dengan berpartisipasi di dalam sakramen inilah kita mengambil bagian di dalam kehidupan Ilahi yang tidak mengenal batas waktu; di dalam kehidupan Kristus yang mengatasi segala sesuatu.

Mengapa Tuhan mendirikan sakramen?

Tuhan mendirikan sakramen karena:[11]

Alasan pertama yaitu karena keterbatasan pemikiran manusia yang memahami sesuatu menurut perantaraan benda-benda yang kelihatan. Keterbatasan manusia ini yang menyebabkan adanya “sunat” untuk menandai perjanjian Allah dengan umat Israel pada Perjanjian Lama, yang disempurnakan menjadi Pembaptisan di dalam Perjanjian Baru.

Kedua, karena pemikiran manusia selalu menginginkan tanda sebagai pemenuhan janji. Kita melihat dalam masa Perjanjian Lama bagaimana Allah memberikan tanda-tanda yang menyertai bangsa Israel sampai ke Tanah Terjanji. Hal yang sama diberikan di dalam Perjanjian Baru yang merupakan pemenuhan dari Perjanjian Lama.

Ketiga, sakramen menjadi sesuatu yang selalu ada sebagai ‘obat’ rohani demi kesembuhan jiwa dan raga. Hal ini dapat kita lihat pada saat Yesus menyembuhkan orang buta dengan ludahNya yang dicampur dengan tanah (Yoh 9:6). Yesus sendiri menggunakan ‘benda perantara’ untuk menyampaikan rahmat penyembuhan-Nya. Dengan menerima sakramen, kita seumpama wanita perdarahan yang disembuhkan dengan menyentuh jubah Yesus (Mrk 5:25-34).

Ke-empat, sakramen adalah tanda/ lambang yang menandai umat beriman.
Dan yang terakhir, sakramen merupakan perwujudan iman, “karena dengan hati orang percaya dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan” (Rom 10:10). Iman ini mendasari  kebajikan Ilahi yang lain yaitu pengharapan dan kasih, dan ketiga hal ini menghantarkan kita kepada kekudusan, yaitu hal yang diinginkan Allah pada kita. Melalui sakramen kita mengambil bagian dalam hidup Ilahi, sehingga di akhir hidup kita nanti, kita dapat sungguh bersatu dengan Tuhan dalam keabadian surga.

Ketujuh Sakramen Gereja

Mungkin ada orang bertanya, mengapa ada tujuh sakramen? Alasannya adalah karena terdapat hubungan yang erat antara kehidupan rohani dan jasmani.[12] Secara jasmani ada tujuh tahap penting kehidupan: kita lahir, tumbuh menjadi dewasa karena makan. Jika sakit kita berobat, dan di dalam hidup kita dapat memilih untuk tidak menikah atau menikah. Lalu setelah selesai menjalani hidup, kita meninggal dunia. Nah, sekarang mari kita lihat bagaimana sakramen menguduskan tahap-tahap tersebut di dalam kerohanian kita.

Kelahiran kita secara rohani ditandai dengan sakramen Pembaptisan, di mana kita dilahirkan kembali di dalam air dan Roh (Yoh 3:5), yaitu di dalam Kristus sendiri. Kita diteguhkan oleh Roh Kudus dan menjadi dewasa dalam iman melalui sakramen Penguatan (Kis 1:5). Kita bertumbuh karena mengambil bagian dalam sakramen Ekaristi yang menjadi santapan rohani (Yoh 6: 51-56). Jika rohani kita sakit, atau kita berdosa, kita dapat disembuhkan melalui pengakuan dosa dalam sakramen Tobat/ Pengakuan dosa, di mana melalui perantaraan iman-Nya Tuhan Yesus mengampuni kita (Yoh 20: 22-23). Lalu jika kita terpanggil untuk hidup selibat untuk Kerajaan Allah, Allah memberikan kuasa untuk melakukan tugas-tugas suci melalui penerimaan sakramen Tahbisan Suci/ Imamat (Mat 19:12). Sedangkan jika kita terpanggil untuk hidup berkeluarga, kita menerima sakramen Perkawinan (Mat 19:5-6). Akhirnya, pada saat kita sakit jasmani ataupun saat menjelang ajal, kita dapat menerima sakramen Pengurapan orang sakit, yang dapat membawa rahmat kesembuhan ataupun persiapan bagi kita untuk kembali ke pangkuan Allah Pencipta (Yak 5:14).

Pengajaran tentang adanya tujuh sakramen ini kita terima dari Tradisi Suci, yang kita percayai berasal dari Kristus. Ketujuh sakramen ini ditetapkan melalui Konsili di Trente (1564) untuk menolak bahwa hanya ada dua sakramen Baptis dan Ekaristi menurut pandangan gereja Protestan. Sebagai umat Katolik, kita mematuhi apa yang ditetapkan oleh Magisterium Gereja Katolik, sebab mereka -lah penerus para rasul, yang meneruskan doktrin para rasul dengan kemurniannya.

Siapa yang menciptakan Sakramen?

Allah melalui Kristus adalah Pencipta Sakramen.[13] Sakramen mengandung kuasa yang mencapai kedalaman jiwa seseorang, dan hanya Allah yang mampu melakukan hal itu. Jadi walaupun disampaikan oleh para imam, sakramen-sakramen Gereja tersebut merupakan karya Kristus. Kardinal Ratzinger (sekarang Paus Benedict XVI) menyatakan, dari sisi pandang imam sebagai penerus para rasul, sakramen berarti, “Aku memberikan apa yang tidak dapat kuberikan sendiri; aku melakukan apa yang bukan pekerjaanku sendiri… aku (hanyalah) membawakan sesuatu yang dipercayakan kepadaku.”[14]

Jadi Kristuslah yang oleh kuasa Roh Kudus bekerja melalui para imam-Nya di dalam sakramen-sakramen. Pada sakramen Pembaptisan, Kristus sendirilah yang membaptis,[15] demikian juga pada sakramen Pengakuan Dosa, Kristus sendiri yang mengampuni melalui imam-Nya, dan di dalam Ekaristi, Ia sendiri yang memberikan Tubuh dan DarahNya untuk menjadi santapan rohani kita, sehingga kita dipersatukan dengan-Nya dan dengan sesama umat beriman di dalam ikatan persaudaraan sejati.

Akibat utama yang dihasilkan oleh sakramen[15]

Berikut ini adalah akibat yang dihasilkan oleh penerimaan sakramen:[16]

Pertama, adalah rahmat pengudusan. Rahmat ini merupakan pemenuhan janji Kristus yang dituliskan oleh Rasul Paulus, bahwa Kristus mengasihi Gereja-Nya dan menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, menyucikannya dengan air dan firman (Ef 5:26). Rahmat ini diberikan pada setiap orang untuk hidup bagi Tuhan, dan kepada Gereja secara keseluruhan untuk meningkatkan kasih dan misi pewartaan.[17]

Kedua, dengan menerima dan mengambil bagian di dalam sakramen, kita berpartisipasi di dalam kehidupan Yesus, dan melalui Yesus kita berpartisipasi di dalam kehidupan Allah Tritunggal Maha Kudus. Keikutsertaan kita dalam kehidupan Yesus, terutama dalam Misteri Paska ini mengantar kita kepada keselamatan kekal. Manusia melalui usahanya sendiri tidak dapat mencapai keselamatan, karena keselamatan pertama-tama karunia Allah (lih. Ef 2:5,8) yang kita terima melalui Yesus Kristus. Sebab oleh akibat dosa asal kita terpisah dari Tuhan, dan Kristus mempersatukan kita kembali dalam kehidupan-Nya melalui sakramen-sakramen. Melalui sakramen kita disatukan dengan Tuhan, dan diubah menjadi menyerupai Dia; tubuh kita yang fana menerima yang ilahi dan hati kita diisi oleh kebajikan-kebajikan yang berasal dari Allah sendiri, terutama dalam hal iman, pengharapan dan kasih.

Ketiga, ketiga sakramen yaitu Pembaptisan, Penguatan dan Tahbisan suci, memberikan ‘karakter’ yang terpatri di dalam jiwa seseorang yang menerima sakramen tersebut. Pembaptisan menjadikannya anak angkat Allah, Penguatan menjadikannya sebagai ‘serdadu’ Kristus, dan Tahbisan suci menjadikannya imam yang diberi kuasa untuk menguduskan dan menerimakan sakramen-sakramen. Karena karakter khusus inilah, maka ketiga sakramen ini hanya dapat diterima satu kali saja.

Bagaimana agar kita menerima ‘buah’ yang berguna melalui sakramen

Pertama, kita harus mengetahui, menghargai dan menghormati rahmat ilahi yang diberikan melalui sakramen-sakramen ini. Lalu, karena kita mengetahui bahwa Allah sendiri yang memberikan rahmat-Nya, maka kita harus memperlakukan rahmat itu dengan hormat dan dengan semestinya, dan dengan sikap yang benar, terutama dalam sakramen Tobat dan Ekaristi, agar kita dapat menghasilkan buahnya.[18] Kita harus mempersiapkan diri dan berpartisipasi pada saat kita menerima sakramen-sakramen dalam perayaan liturgi Gereja (lihat artikel Apa yang perlu kuketahui tentang Liturgi).

Kita mengetahui bahwa Yesuslah yang memerintahkan pemberian sakramen-sakramen tersebut melalui ajaran-ajaranNya. Karena berasal dari Kristus, rahmat itu adalah karunia yang sempurna, yang diberikan oleh kuasa Roh Kudus, yang dapat menembus jiwa untuk mendatangkan kesembuhan rohani, dan mendatangkan keselamatan yang tak ternilai harganya.

Kesimpulan

Melihat dalamnya arti ‘sakramen’ yang merupakan saluran rahmat Allah, dan tanda yang tak terpisahkan dari hakekat Gereja sebagai Tubuh Kristus, maka sudah selayaknya kita menghargai dan mempersiapkan diri seutuhnya untuk menerima sakramen-sakramen yang membawa kita kepada keselamatan. Mari kita merendahkan diri di hadapan Tuhan dengan menerima cara Tuhan menyampaikan rahmat-Nya kepada kita, baik untuk jiwa maupun tubuh kita, untuk mendatangkan keselamatan dan ‘kesembuhan’ baik rohani maupun jasmani. Dengan demikian kita dapat mengambil bagian di dalam kehidupan Ilahi yang dicurahkan kepada kita melalui Kristus.


CATATAN KAKI:
  1. Lihat St. Thomas Aquinas, Summa Theologica, , I, q. 1, a. 8, ad 2 (question 1, article 8, response to the second objection): “Since therefore grace does not destroy nature but perfects it, natural reason should minister to faith as the natural impulse of the will ministers to charity.” []
  2. Lihat Katekismus Gereja Katolik 776. []
  3. Katekismus Gereja Katolik 1115 []
  4. Lihat Katekismus Gereja Katolik 774. []
  5. Lihat KGK 775, Lumen Gentium 1. []
  6. Lihat Roman Catechism (Catechism of the Council of Trent 1565) Part II on the Sacraments, “The Word ‘Sacrament’”, par 4., “… a sign is called a Sacrament, because the divine power secretly operates our salvatiom under the veil of sensible things.” []
  7. Lihat Roman Catechism Part II, Ibid., “Signs Instituted by God”, “God has appointed signs with power not only to signify, but also to accomplish what they signify. See also, “Kind of Sacred thing Meant Here”, “…the nature of a Sacrament,… is a sensible object which posseses, by divine institution, the power not only of signifying, but also of accomplishing holiness and righteousness.” []
  8. Lihat KGK 1129. []
  9. Lihat St. Thomas Aquinas, Summa Theologica III, q. 60, art 3, dikutip dalam KGK 1130. []
  10. Lihat Ibid., “All Sacraments Signify Something Present, Something Past, Something Future: all of them declare not only our sanctity and justification, but also… the Passion of Christ our Redeemer, which is the source of our sanctification, and also eternal life and heavenly bliss, which are the end of sanctification…They remind us of something past, they indicate and point out to something present; they foretell something future.” []
  11. Disarikan dari Roman Catechism, “Why the Sacraments were Instituted []
  12. Disarikan dari Roman Catechism, “Why the Sacraments were Instituted []
  13. Lihat Roman Catechism, The Author of the Sacraments“, “God alone has power to enter into the hearts and minds of men, He alone, through Christ, is manifestly the author of the Sacraments.” []
  14. Diterjemahkan dari Joseph Cardinal Ratzinger, Called to Communion, (Ignatius Press, San Francisco, 1991), p. 115 []
  15. Lihat KGK 1088. []
  16. Disarikan dari Roman Catechism, “Effects of the Sacraments” []
  17. Lihat KGK 1134. []
  18. Lihat KGK 1131. []
Share.

About Author

Ingrid Listiati telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

31 Comments

  1. Shalom tim katolisitas, say ingin bertanya, apa sajakah penghalang dari rahmat Tuhan dalam hidup kita?ada yang mengatakan dosa-dosa dari masa lalu yang orang lain lakukan pada kita atau yang tanpa sadar kita lakukan. bagaimanakah caranya mengingat kembali dosa2 itu?apakah dengan sakramen pengakuan saja cukup? terima kasih..mohon pencerahannya..

    • Shalom Kefas,

      Mungkin yang perlu didefinisikan pertama kali adalah apakah yang disebut rahmat. Kalau rahmat yang dimaksud adalah berkat-berkat jasmani (kekayaan, kekuasaan, kesehatan, dll) nampaknya hal ini harus diluruskan. Kami telah membahas tentang topik ini dalam artikel teologi kemakmuran ini – silakan klik. Memang dosa dapat menghalangi seseorang menerima rahmat jasmani, jika hal ini dipandang baik oleh Allah. Namun, yang lebih penting lagi dan perlu disadari adalah dosa sesungguhnya menghalangi seseorang dalam hubungannya dengan Tuhan. Untuk kembali pada hubungan yang baik dengan Tuhan yang telah dirusak oleh dosa, maka kita harus menyesal dan bertobat. Dosa berat diperbaiki melalui Sakramen Tobat. Yang dituntut adalah sikap yang tulus, penuh pertobatan. Kita harus berusaha mengingat sebaik mungkin dosa yang telah kita perbuat, dan tidak menutup-nutupi dosa kita, mengakukannya di hadapan iman, bertobat, dan dengan bantuan rahmat Allah jangan berbuat dosa lagi.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • shalom tim katolisitas, maaf sebelumnya karena tidak menjelaskan definisi rahmat tersebut…yang saya maksud ialah kesehatan dan pekerjaan yang layak. saya telah selesai kuliah tapi belum juga mendapat pekerjaan, sedangkan adik saya sudah 6 tahun kuliah tapi belum wisuda juga. saya telah berdoa, mengaku dosa dan mmenerima sakramen, tapi kok rasanya masih ada yang kurang dan sepertinya Tuhan tidak peduli pada saya dan keluarga. memang saya pernah melakukan banyak dosa berat semasa kuliah dulu, tapi saya sudah mengaku dosa dan bertobat. apakah yang harus saya lakukan? dan selanjutnya bagi kita umat Katholik, apakah arti dari penderitaan? saya pernah berdiskusi dengan teman dari agama lain katanya itu akibat dari dosa2 di kehidupan sebelumnya. menurut dia buktinya ada orang yang lahir miskin atau cacat dan ada yang sehat dan kaya. itu semua hasil dari perbuatan dan tindakan baik mereka dari hidup sebelumnya. saya tidak percaya tapi saya juga tidak bisa memberikan bantahan atau penjelasan yang masuk akal. bagaimana jika kita menghadapi pertanyaan seperti ini? Shalom, terima kasih sebelumnya.

        • Shalom Kefas,

          Yakinlah bahwa Tuhan begitu mengasihi umatnya, termasuk kita semua yang penuh dengan dosa. Dia telah membuktikan kasih-Nya dengan penderitaan dan kematian-Nya di kayu salib. Kemurahan hati-Nya terus tercurah kepada kita dengan memberikan rahmat-Nya lewat sakramen-sakramen.

          Dalam hal mencari pekerjaan dan kuliah, kita harus memegang prinsip bahwa Tuhan telah memberikan kita kemampuan akal budi dan kemampuan berusaha. Jadi, walaupun Tuhan telah memberikan kasih-Nya dan rahmat-Nya, namun Dia juga mau agar kita menggunakan segala sesuatu yang ada pada diri kita – baik talenta, tenaga, waktu, uang – dll – untuk mengupayakan kebaikan di dunia ini. Kita dapat memegang apa yang dikatakan oleh St. Agustinus, yaitu agar kita berusaha seolah-olah segala sesuatunya tergantung kita dan berdoa seolah-seolah semuanya tergantung Tuhan. Jadi, usaha dan doa (ora et labora) adalah pendekatan yang sungguh bijaksana dalam menyikapi kejadian yang Anda alami.

          Tentang makna penderitaan dan dalam hubungannya dengan Tuhan, maka silakan membaca beberapa artikel di link ini: silakan klik. Sekali lagi, janganlah berputus asa dan tetaplah menaruh pengharapan di dalam Tuhan dengan terus dibarengi usaha yang tanpa henti. Kami turut mendoakan.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – katolisitas.org

  2. Dear admin,
    Mau tanya, apakah memilih mengaku dosa kepada pastor yang udah tua atau rada tuli itu salah? karena teman saya di asrama biasanya melakukan itu, kalau pastor muda datang, tidak mau mengaku dosa, tapi kalau pastor tua, dia mau. Apakah itu salah atau never mind gitu?
    Trimakasih sebelumnya.

    • Shalom Andreas,

      Secara prinsip, pengakuan kepada pastor yang sudah tua dan masih mendengar dosa-dosa yang diakukan tentu saja sah, sejauh dibarengi dengan pengakuan dosa yang tulus dan pertobatan, yang berarti ada niatan yang sungguh untuk tidak melakukan dosa lagi. Sebagai langkah awal, tidak menjadi masalah untuk mengaku dosa kepada pastor yang sudah tua atau yang tidak dikenal. Namun, kalau kita sungguh-sungguh ingin bertumbuh secara rohani, maka alangkah baiknya kalau kita dapat mempunyai bapa pengakuan yang sama, sehingga dia dapat memberikan nasihat yang berguna bagi kehidupan rohani kita. Dengan mengaku dosa kepada pastor yang sama, maka dia akan tahu secara persis kelemahan-kelemahan kita dan berusaha untuk membantu kita agar dapat mengatasi dosa tersebut.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  3. Khasiat Minyak Urapan / Zaitun Gereja Nonkatolik

    Sekarang banyak dibagikan minyak zaitun urapan dalam botol plastik kecil dari Gereja Nonkatolik baik kepada umatnya maupun umat katolik serta umat non kristiani.
    Ada yang mengalami kesembuhan dengan mengoleskan minyak itu pada bagian badan yang sakit.
    Apakah umat katolik boleh menggunakan minyak urapan tersebut untuk menyembuhkan dirinya?

    [dari katolisitas: Umat Katolik tidak perlu ikut-ikutan menggunakan minyak zaitun tersebut. Kalau mau, silakan mengambil air suci di dari gereja dan kemudian menggunakannya sebagai sakramentali - catatan bukan sakramen.]

  4. bicara soal memberkati ada beberapa hal yang mau saya tanyakan soal pemberkatan
    1. beberapa bulan lalu saya membeli kalung rosario dan saya meminta romo paroki saya untuk memberkati. pada waktu romo memebacakan doa hati saya rasanya terbawa suasana seperti mau menanggis.tapi entah kenapa nangis karena bahagia atau sedih. hal ini sering terjadi pas perayaan ekaristi saat melakukan doa atau puji2an.

    2. rumah saya tempati sekarang telah di berkati pemilik terdahulu oleh paroki sekitar. Skrg saya tempati perlukah untuk di berkati kembali?

    • Shalom Charles,

      Umumnya seseorang berdoa mengeluarkan air mata, karena merenungkan ataupun menghayati pertobatannya dan mengingat akan besarnya kasih Tuhan yang melampaui segalanya. Selanjutnya tentang hal ini, silakan membaca di jawaban ini, silakan klik.

      Pemberkatan rumah ataupun benda-benda lainnya, termasuk katagori sakramentali, yang sepertihalnya dengan sakramen, dimaksudkan untuk menguduskan setiap kejadian penting di dalam hidup umat beriman (lih. Konsili Vatikan II tentang Liturgi Suci, Sacrosanctum Concilium/ SC 61). Atas doa syafaat Gereja, sakramentali (dalam hal ini, pemberkatan rumah) itu mendatangkan efek-efek rohani bagi mereka yang tinggal di dalamnya (lih. SC 60), baik perlindungan dari kuasa jahat, maupun rahmat kerukunan dan kasih dalam keluarga. Maka jika rumah Anda sudah diberkati, artinya sakramentali itu sudah pernah dimohonkan dan diterima atasnya. Namun karena maksud utama sakramentali adalah menguduskan umat beriman yang memakai barang-barang tertentu yang diberkati (bukan semata menguduskan barang-barang itu), maka jika pemilik yang terdahulu sudah pindah, adalah baik jika Anda mengadakan pemberkatan rumah itu, bukan karena meragukan efek sakramentali yang sudah pernah diberikan, tetapi memohon agar rahmat sakramentali yang memberikan efek pengudusan itu dapat diberikan kepada (dan dialami oleh) keluarga Anda yang menempatinya.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  5. Maria Katarina Sandra L.Kurniawan on

    Shalom Pa’Stef,Bu Ingrid dan romo romo pengasuh,
    Apakah ada urutan yang baku sakramen sakramen yang ada dlm greja katoik?
    Dalam doa syukur agung peristiwa apa yang puncaknya?

    Tx
    Sandra

    • Shalom Sandra,

      Secara mudah kita dapat mengurutkan tujuh sakramen sebagai tiga pertama disebut sakramen inisiasi, yaitu: Sakramen Baptis, Sakramen Penguatan, dan Sakramen Ekaristi. Ada dua sakramen untuk menyembuhkan kalau kita sakit: sakit akibat dosa disembuhkan dengan Sakramen Tobat; sakit fisik dan akibat dosa disembuhkan dengan Sakramen Perminyakan. Sakramen untuk perutusan: kehidupan berkeluarga adalah Sakramen Perkawinan dan kehidupan klerus adalah Sakramen Imamat. Katekismus Gereja Katolik menuliskan sebagai berikut:

      KGK 1210   Sakramen-sakramen Perjanjian Baru ditetapkan oleh Kristus. Ada tujuh Sakramen: Pembaptisan, Penguatan, Ekaristi, Pengakuan, Urapan Orang Sakit, Tahbisan, dan Perkawinan. Ketujuh Sakramen ini mencakup semua tahap dan saat-saat penting kehidupan seorang Kristen: mereka memberikan kelahiran dan pertumbuhan, penyembuhan dan perutusan kepada iman orang Kristen. Jadi, ada semacam keserupaan antara tahap kehidupan kodrati dan tahapkehidupan rohani (Bdk. Tomas Aqu., s.th. 3,65,1.).

      KGK 1211   Sesuai dengan analogi ini akan dibicarakan pertama-tama tiga Sakramen inisiasi Kristen (Bab I), lalu sakramen penyembuhan (Bab II) dan akhirnya Sakramen-sakramen yang diperuntukkan bagi persekutuan dan perutusan umat beriman (Bab III). Urutan ini bukan kemungkinan satu-satunya, melainkan memperlihatkan bahwa Sakramen-sakramen ini membentuk satu keseluruhan organis, di mana setiap Sakramen mendapat tempatnya yang penting bagi kehidupan. Di dalam organisme ini Ekaristi sebagai “Sakramen segala Sakramen” mendapat tempat khusus: “Semua Sakramen yang lain diarahkan kepadanya sebagai tujuannya” (Tomas Aqu., s.th. 3,65,3).

      KGK 1212   Sakramen-sakramen inisiasi Kristen – Pembaptisan, Penguatan, dan Ekaristi – meletakkan dasar-dasar kehidupan Kristen. “Dianugerahi oleh rahmat Kristus, manusia diberi bagian dalam kodrat ilahi. Dalam hal ini terdapat keserupaan tertentu dengan jadinya, bertumbuhnya, dan dikuatkannya kehidupan kodrati itu. Dilahirkan kembali dalam Pembaptisan, umat beriman diteguhkan oleh Sakramen Penguatan dan dikuatkan oleh roti kehidupan abadi dalam Ekaristi. Jadi, oleh Sakramen-sakramen inisiasi mereka dibawa masuk semakin jauh ke dalam kehidupan Allah dan semakin mendekati cinta yang sempurna” (Paulus VI, Ap. Konst. “Divinae consortium naturae”) Bdk. OICA praenotanda 1-2.).    

      Sedangkan bagian terpenting dari perayaan Ekaristi adalah konsekrasi, yang diterangkan dalam Katekismus Gereja Katolik sebagai berikut:

      KGK 1413   Oleh konsekrasi terjadilah perubahan [transsubstansiasi] roti dan anggur ke dalam tubuh dan darah Kristus. Di dalam rupa roti dan anggur yang telah dikonsekrir itu Kristus sendiri, Dia yang hidup dan dimuliakan, hadir sungguh, nyata, dan secara substansial dengan tubuh-Nya, darah-Nya, jiwa-Nya, dan kodrat ilahi-Nya (bdk. Konsili Trente: DS 1640; 1651).

      Semoga jawaban di atas dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  6. 1.Mengapa seseorang yang sakit sebaiknya menerima sakramen perminyakan orang sakit
    2. Mengapa sakramen2 dlm gerja mempunyai hubungan erat dgn kenyataan hidup umat sehari-hari?
    3.rahmat apa yg d peroleh seseorang yang menerima sakramen krisma
    4.apa yg ditandakan dlm sakramen perkawinan? Bagaimna sifat2 perkawinan sakramen

    • Shalom Itha Mnou,

      1. Mengapa orang sakit sebaiknya menerima sakramen perminyakan?

      Sebab Sabda Tuhan mengatakan, “Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat, supaya mereka mendoakan dia serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan…” (Yak 5:14).

      Selanjutnya, silakan membaca di artikel tentang Sakramen Pengurapan Orang Sakit, silakan klik di sini.

      2. Mengapa sakramen mempunyai hubungan erat dengan kenyataan hidup umat sehari-hari?

      Realitas sakramen yang menyampaikan rahmat Allah yang tidak kelihatan kepada manusia dengan cara yang kelihatan, berhubungan erat dengan kehidupan sehari-hari, karena kehidupan rohani mempunyai hubungan yang tak terpisahkan dengan kehidupan jasmani, sebab Tuhan menciptakan manusia yang mempunyai jiwa dan tubuh. Maka sudah sejak awalnya Tuhan ingin menguduskan manusia baik jiwa maupun tubuhnya, dan bahwa pengudusan jiwa diterima melalui tanda yang diterima oleh tubuh, dan inilah yang dirayakan dalam sakramen-sakramen.

      Maka sebagaimana ada kelahiran secara jasmani, ada juga kelahiran kembali secara rohani yang disyaratkan oleh Tuhan (yaitu Baptisan, lih. Yoh 3:5). Sebagaimana ada santapan jasmani, ada pula santapan rohani, yaitu Tubuh dan Darah Kristus (lih. Yoh 6:53-58) yang dapat membawa kita kepada hidup yang kekal.

      3. Rahmat yang diperoleh seseorang yang menerima sakramen Krisma?

      Silakan membaca tentang sakramen Krisma, di sini, silakan klik.

      4. Apa yang ditandakan dalam sakramen Perkawinan? Sifat-sifat sakramen Perkawinan?

      Yang ditandakan adalah Allah sendiri yang hadir di dalam diri pasangan: maka suami menjadi tanda kehadiran Allah bagi istri dan istri menjadi tanda kehadiran Allah bagi suaminya.

      Sifat perkawinan Katolik adalah monogami, tak terceraikan dan terbuka terhadap kemungkinan kehidupan baru (open to life). 

      Selanjutnya tentang makna sakramen perkawinan dapat dibaca di artikel Indah dan Dalamnya Makna Sakramen Perkawinan Katolik, silakan klik.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  7. Alexander Pontoh on

    adakah simbol/lambang/gambar untuk tiap-tiap sakramen di dalam gereja katolik?

    apakah simbol sakramen Baptis?
    apakah simbol sakramen Ekaristi?
    apakah simbol sakramen Penguatan?
    apakah simbol sakramen Pengakuan Dosa?
    apakah simbol sakramen Perkawinan?
    apakah simbol sakramen Imamat?
    apakah simbol sakramen Pengurapan orang sakit?

    • Shalom Alexander,

      Sepanjang pengetahuan saya, tidak ada simbol/ lambang yang baku untuk setiap sakramen di dalam Gereja Katolik. Namun adalah logis kalau simbol/ lambang itu diambil dari tanda matter/ materia yang ada pada setiap sakramen tersebut.

      Dengan prinsip ini:

      1. Materia Sakramen Baptis: air, maka seringkali simbol yang digunakan untuk menggambarkan Pembaptisan adalah gambar air, entah air dalam bejana ataupun penuangan air yang mengalir.

      2. Materia Sakramen Ekaristi: roti/ hosti dan anggur, maka simbol Ekaristi adalah roti dan anggur.

      3. Materia Sakramen Penguatan: minyak krisma yang telah diberkati oleh Uskup, maka simbol sakramen Penguatan adalah minyak/ tangan yang mengoleskan minyak pada dahi. Namun demikian, karena Penguatan menyampaikan rahmat pertumbuhan dan penguatan dari rahmat Baptisan, yang mengingatkan akan rahmat Roh Kudus kepada para rasul di hari Pentakosta, maka lambang merpati (yang melambangkan Roh Kudus) sering digunakan sebagai lambang sakramen Penguatan/ Krisma.

      4. Materi Sakramen Pengakuan Dosa: penyesalan, kata-kata pengakuan dan kehendak untuk melakukan penitensi dari yang mengaku dosa. Maka Pengakuan Dosa kadang disimbolkan dengan gambar seseorang yang berlutut, gambar Anak yang Hilang, dst.

      5. Materi Sakramen Perkawinan: kedua mempelai yang mengucapkan janji (consent) perkawinan. Maka sakramen Perkawinan disimbolkan dengan gambar pasangan suami istri itu sendiri.

      6. Materi Sakramen Imamat: penumpangan tangan oleh Uskup di kepala orang yang ditahbiskan. Maka sakramen Imamat disimbolkan dengan penumpangan tangan Uskup tersebut.

      7. Materi Sakramen Perminyakan/ pengurapan orang sakit adalah minyak. Maka sakramen Perminyakan dilambangkan dengan minyak ataupun pengolesan/ pengurapan minyak pada orang yang sakit.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  8. Ferry Gh. Beu on

    Terima kasih atas tanggapan dan penjelasan Katolisitas atas kegelisahan saya seputar sakramen. Namun dari bahasan (saya merasa bahwa topik ini juga merupakan jawaban dari pertanyaan saya) “Sakramen: Apa Pentingnya Dalam Kehidupan Iman Kita? muncul beberapa pertanyaan bersambung, yang dimulai dari pertanyaan berikut:

    “Apa yang dimaksudkan dengan ALLAH tidak merendahkan tubuh melainkan menyempurnakan dan memuliakannya”; “Rachmat tidak menghancurkan segala yang bersifat material/lahiriah, melainkan menyempurnakan”, padahal kalau kita mati tubuh kita hancur. Mohon penjelasannya. TUHAN memberkati.

    • Shalom Ferry,

      1. Allah tidak merendahkan tubuh melainkan menyempurnakan dan memuliakannya, sebab di akhir zaman nanti tubuh orang-orang yang percaya dan diselamatkan, akan dibangkitkan untuk bersatu kembali dengan jiwa mereka, untuk dimuliakan dalam Kerajaan Surga. Ini adalah salah satu dari pernyataan iman kepercayaan kita yang kita sebutkan dalam syahadat Aku percaya, bahwa kita percaya akan adanya kebangkitan badan, yang akan terjadi di akhir zaman nanti.

      Selanjutnya tentang kebangkitan badan, silakan klik di sini.

      2. Sedangkan maksud dari “Rahmat Allah tidak menghancurkan segala yang bersifat material, melainkan menyempurnakannya”, itu selain terlihat dalam janji kebangkitan badan, juga terlihat dalam realitas sakramen-sakramen dan dalam cara Tuhan menguduskan umat-Nya. Dalam sakramen- sakramen digunakan benda-benda jasmani sebagai materia-nya, seperti air dan minyak, yang dari dirinya sendiri adalah benda- benda yang sifatnya netral, namun oleh Tuhan dapat digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan rahmat-Nya. Demikian juga dalam sakramen perkawinan, di mana materianya adalah sang pasangan itu sendiri, yaitu suami dan istri, yang keduanya, oleh rahmat sakramen Perkawinan, digunakan oleh Allah sebagai sarana untuk menguduskan satu sama lain. Suami menguduskan istri, demikian pula istri menguduskan suami, masing-masing menjadi tanda/ kehadiran Allah bagi pasangannya. Demikian pula, dalam Ekaristi, roti dan anggur yang adalah benda-benda yang netral dapat diubah oleh kuasa Roh Kudus, menjadi Tubuh dan Darah Kristus. Maka di sini terlihat bahwa rahmat Allah tidak serta merta menihilkan ataupun meniadakan segala yang bersifat jasmani, ataupun menganggap bahwa segala yang jasmani sebagai sesuatu yang buruk ataupun dosa. Sabda Tuhan mengajarkan kepada kita, bahwa tubuh jasmani kita adalah tempat kediaman Roh Kudus (lih. 1Kor 3:16, 6:19-20), sehingga dengan demikian, tubuh kita ‘diangkat’ dan disempurnakan oleh Allah karena memiliki dimensi ilahi, dan bahwa dengan menjaga kemurnian tubuh, kita memuliakan Tuhan yang menciptakannya.

      Selanjutnya tentang kemurnian tubuh, silakan membaca artikel-artikel ini:

      Kemurnian di dalam perkawinan
      Kemurnian di luar perkawinan

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

       

  9. Ferry Gh. Beu on

    Suatu kegelisahan mengenai sakramen, “Selain sebagai sarana menuju kepada keselamatan, “Apakah sakramen juga merupakan kutukan?” Pertanyaan ini berangkat dari fenomena-fenomena kehidupan nyata, seperti Sakramen Perkawinan. Kenyataan hidup yang sering kami lihat, apabila seorang Katholik yang telah menerima sakramen nikah melakukan penyimpangan pada umumnya mendapat bencana seperti celaka dsb. Demikian pula orang yang telah menerima Sakramen Imamat, umumnya jika melakukan penyimpangan dan keluar secara tidak hormat hidupnya selalu sengsara. Apakah seperti demikian? Mohon penjelasan.

    • Shalom Ferry,

      Allah memberikan rahmat-Nya yang menyelamatkan melalui sakramen-sakramen, sehingga sakramen disebut sebagai sarana keselamatan Allah. Dengan demikian sakramen tidak pernah menjadi kutukan, karena kutuk itu bertentangan artinya dengan rahmat Allah.

      Bahwa ada orang yang mengingkari panggilan hidupnya, entah itu mengingkari makna sakramen perkawinannya ataupun sakramen imamatnya, itu artinya ia telah berbuat dosa. Jika ada semacam konsekuensi dari dosa yang harus ditanggungnya, itu bukan untuk diartikan sebagai kutuk atau hukuman dari Tuhan, tetapi sebagai akibat langsung dari dosa, karena dosa pada hakekatnya memisahkan kita dari Allah. Maka jika seseorang telah gagal untuk setia dalam panggilan hidupnya, yang perlu dilakukannya adalah bertobat dengan sungguh dan menerima sakramen Pengampunan dosa. Selanjutnya, hendaknya ia memperbaiki hidupnya dengan tekun dan setia menjalani kehidupannya sesuai dengan konsekuensi keputusan yang diambilnya, dengan selalu berusaha untuk memperbaiki diri dengan melakukan perbuatan kasih, bertekun dalam doa dan mati raga.

      Katekismus Gereja Katolik mengajarkan demikian:

      KGK 1472    Supaya mengerti ajaran dan praktik Gereja ini, kita harus mengetahui bahwa dosa mempunyai akibat ganda. Dosa berat merampas dari kita persekutuan dengan Allah dan karena itu membuat kita tidak layak untuk kehidupan abadi. Perampasan ini dinamakan “siksa dosa abadi“. Di lain pihak, setiap dosa, malahan dosa ringan, mengakibatkan satu hubungan berbahaya dengan makhluk, hal mana membutuhkan penyucian atau di dunia ini, atau sesudah kematian di dalam apa yang dinamakan purgatorium [api penyucian). Penyuciaan ini membebaskan dari apa yang orang namakan “siksa dosa sementara“. Kedua bentuk siksa ini tidak boleh dipandang sebagai semacam dendam yang Allah kenakan dari luar, tetapi sebagai sesuatu yang muncul dari kodrat dosa itu sendiri. Satu pertobatan yang lahir dari cinta yang bernyala-nyala, dapat mengakibatkan penyucian pendosa secara menyeluruh, sehingga tidak ada siksa dosa lagi yang harus dipikul (Bdk. K.Trente: DS 1712-1713; 1820).

      KGK 1473    Pengampunan dosa dan pemulihan persekutuan dengan Allah mengakibatkan pembebasan dari siksa dosa abadi. Tetapi siksa dosa sementara tinggal. Warga Kristen itu harus berusaha menerima siksa dosa sementara ini sebagai rahmat, dengan menanggung segala macam penderitaan dan percobaan dengan sabar dan, kalau saatnya telah tiba menerima kematian dengan tulus. Juga ia harus berikhtiar untuk menanggalkan “manusia lama” dan mengenakan “manusia baru” perbuatan-perbuatan belas kasihan dan cinta kasih serta dengan doa dan aneka ragam latihan mati raga (Bdk. Ef 4:24).

      Maka apapun yang terjadi, kita tetap harus yakin dan percaya bahwa Allah kita adalah Allah yang Maharahim, namun pada saat yang sama, kita harus juga mengingat bahwa Allah menghendaki pertobatan yang tulus dari kita, sebagaimana dikatakannya kepada perempuan yang berdosa itu, “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang” (Yoh 8: 11).

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  10. Yth tim Katolisitas,

    Saya minta info sedikit, bisakah saya sebagai orang awam melakukan pemberkatan rumah yang sedang kami tempati, berhubung sulit sekali mendapatkan seorang romo. Dan bagaimana tatacara pemberkatan rumah tersebut?

    Terimakasih
    Maria

    • Salam, Maria,

      Dalam hal ini Maria tidak dapat membuat upacara pemberkatan rumah karena upacara itu (dengan tata perayaan atau urutan yang baku) adalah suatu kegiatan sakramentali yang dipimpin oleh orang yang tertahbis. Bila di wilayahmu sulit mendapat seorang Romo, maka (ini pertimbangan pribadi) Maria dapat mengambil air yang sudah lebih dahulu diberkati oleh yang tertahbis dan mereciki rumah (ruangan/kamar). Ini menjadi tanda ungkapan iman dan harapan yang kuat akan berkat Tuhan atas rumah dan semua yang berdiam dalam rumah itu. Hal ini mengacu pada praktik mengambil air suci (yang sudah lebih dahulu diberkati) di pintu masuk gereja dan menandai diri kita untuk mengingatkan kita sebagai orang yang sudah dibaptis.

      Salam dan doa. Gbu.
      Rm Boli.

  11. Dears tim katolisitas.org,

    Saya mohon penjelasan istilah berikut ini yang agak membingungkan :

    SACRAMENT TANTUM – RES TANTUM – RES ET SACRAMENTUM
    Bagaimana perbandingan dengan istilah EX OPERATO dan EX OPERANTIS, kesamaan dan perbedaannya?

    Terima kasih dan GBU

    • Shalom Phiner,

      1. Sacramentum tantum, res et sacramentum dan res tantum

      Sacramentum tantum, res et sacramentum dan res tantum adalah tiga buah realitas yang ada dalam semua sakramen.

      Sacramentum tantum adalah tanda sakramental (sacramental sign); sacramentum et res adalah kenyataan sakramental (sacramental reality), dan res tantum adalah realitas yang dinyatakan oleh sakramen tersebut (the reality that the sacrament pointed to).

      St. Thomas Aquinas menyimpulkan tentang realitas sakramen, dengan mengatakan, “Sakramen- sakramen menambahkan dua hal di dalam jiwa. Pertama adalah realitas sakramental seperti karakter atau semacam penghiasan di jiwa; dan kedua, adalah sebuah kenyataan/ realitas saja, yaitu adalah rahmat.” (St. Thomas Aquinas, On Book IV of the Sentences, 1, 1, 4)

      Pada mulanya, istilah sacramentum mengacu kepada apa yang kelihatan, seperti ritus dan benda- benda yang kudus. Namun St. Agustinus juga mengajarkan bahwa sacramentum juga mengacu kepada hal- hal yang tidak kelihatan, yaitu “meterai” di jiwa, seperti pada “meterai baptisan”. Maka pada jaman skolastik di abad pertengahan, istilah sacramentum dipahami sebagai tidak terbatas pada apa yang kelihatan tetapi juga kepada apa yang dapat diketahui.

      Maka penerapannya dalam sakramen adalah:

      a. Sacramentum tantum: tanda lahiriah/ materia yang ada dalam konteks ritus tersebut. Materia ini menandai misteri ilahi yang dirayakan dalam sakramen tersebut. Dalam sakramen Pembaptisan, materia ini adalah air, dan dalam sakramen Ekaristi, materianya adalah roti dan anggur yang dikonsekrasikan.

      b. Res et Sacramentum: realitas atau misteri yang diakibatkan dan ditandai oleh sacramentum tantum tersebut. Realitas ini dalam beberapa sakramen (Baptis, Penguatan dan Imamat) memberikan tanda yang tak terhapuskan/ indelible character. Dalam sakramen Baptisan, realitas ini adalah meterai Roh Kudus; di dalam sakramen Ekaristi, adalah kehadiran yang Kristus (Tubuh dan Darah-Nya) yang nyata di dalam Ekaristi.

      c. Res tantum : rahmat rohani, yang ditandai dan diakibatkan oleh res et sacramentum. Rahmat ini sifatnya menetap di dalam jiwa orang yang menerimanya, asalkan tidak ada penghalang terhadap buah- buah Roh Kudus (penghalang ini adalah dosa berat). Di dalam sakramen Baptis, res tantum adalah rahmat kelahiran kembali di dalam Roh Kudus; di dalam sakramen Ekaristi, rahmat ini adalah partisipasi umat yang menerima Ekaristi di dalam wafat dan kebangkitan Kristus dan buah- buahnya.

      2. Ex opere operato dan ex opere operantis

      a. Ex opere operato

      Terjemahan bebasnya adalah “dari pekerjaan yang sudah terjadi (from the work already done)”. Maksudnya adalah, jika kodrat komunikatif sakramen- sakramen ini telah dipahami, maka sebuah sakramen yang telah dilakukan dengan benar dapat menyampaikan rahmat Tuhan, dan tidak tergantung dari iman maupun karakter moral dari pelayan sakramen maupun orang yang menerima sakramen. Rahmat ini mengalir dari penetapan ilahi yang dinyatakan dalam sakramen.

      Meskipun diperlukan disposisi hati yang layak untuk menerima rahmat melalui sakramen- sakramen, disposisi hati ini bukan merupakan penyebab bagi rahmat itu. Rahmat Tuhan yang diberikan melalui sakramen- sakramen merupakan pemberian cuma- cuma dari Tuhan yang dicurahkan karena kasih Allah sendiri. Dengan demikian penyebab rahmat itu adalah Allah sendiri, dan bukan disposisi manusia. Prinsip ini mendasari pemahaman bahwa meskipun perayaan Ekaristi dipimpin oleh seorang imam yang tidak kudus hidupnya, tetapi efek dari sakramen itu tetap terjadi: yaitu kehadiran Yesus yang nyata dalam Ekaristi. Tentang hal ini, sudah pernah dibahas di sini, silakan klik.

      b. Ex opere operantis

      Istilah ini arti literalnya adalah “dari pekerjaan orang yang bekerja (from the work of the doer)”, maksudnya adalah kadar rahmat Tuhan yang diperoleh sebanding dengan usaha/ peran yang dilakukan oleh orang yang terlibat, yaitu kondisi iman dan moral orang yang bersangkutan. Istilah ini dipakai untuk membedakannya dengan ex opere operato, yang mengacu kepada kuasa menyaluran rahmat yang melekat di dalam ritus sakramental tersebut, sebagai tindakan dari Kristus sendiri.

      Maka istilah ex epere operantis ini mengacu kepada faktor subyektif yang turut menentukan jumlah rahmat yang diterima oleh seseorang jika ia melakukan tindakan kesalehan.  Misalnya dalam penggunaan sakramentali (seperti rosario, medali, skapular), berpuasa atau untuk memperoleh indulgensi, berkat- berkat yang diterima tergantung dari iman dan kasih kepada Tuhan yang dengannya sakramentali digunakan, atau sebuah doa/ perbuatan baik tersebut dilakukan. Demikian juga dengan pada saat kita mengikuti perayaan liturgi, disposisi batin yang baik dibutuhkan agar kita dapat memperoleh buah- buahnya secara penuh. Hal ini disebutkan dalam Konsili Vatikan II, Konstitusi tentang Liturgi, Sacrosanctum Concilium, 11:

      “Akan tetapi supaya hasil guna itu diperoleh sepenuhnya, Umat beriman perlu datang menghadiri liturgi suci dengan sikap-sikap batin yang serasi. Hendaklah mereka menyesuaikan hati dengan apa yang mereka ucapkan, serta bekerja sama dengan rahmat surgawi, supaya mereka jangan sia-sia saja menerimanya (lih. 2 Kor 6:1).”

      Demikian, semoga penjelasan singkat ini berguna.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  12. Herman Jays on

    1.Apakah istilah sakramen terdapat dalam Kitab Suci? Apakah ketujuh sakramen sudah ditetapkan dalam Kitab Suci?
    2.Kapan tujuh sakramen di dalam Gereja Katolik ditetapkan ?
    3. Apakah ditetapkan secara bertahap atau sekaligus?
    4.Gereja Lutheran hanya mengenal lima sakremen tanpa sakramen imamat dan minyak suci.Apa sebab sakramen imamat dan minyak suci tidak diterima oleh gereja Lutheran?
    5.Gimana efektivitas sakramen imamat seorang Pastor yang mengundurkan diri atau diberhentikan sebagai imam?
    6.Mantan Pastor menerima sakramen perkawinan , bolehkah? Jika yah, mantan Pastor punya sakramen yang paling lengkap dong sebagai orang katolik. Siapa mau ikut?

    • Shalom Herman Jay,

      1. Istilah sakramen secara eksplisit tidak tertulis di dalam Kitab Suci, seperti halnya perkataan Trinitas dan Inkarnasi tidak ada di dalam Kitab Suci. Namun demikian, prinsip pengajarannya bersumber pada Kitab Suci, dan diajarkan oleh Kristus dan para Rasul dalam Tradisi Suci.

      Sakramen adalah tanda luar dari rahmat Allah yang bekerja di dalam [diri orang yang menerimanya], yang diintitusikan oleh Kristus untuk pengudusan kita. “Sacraments are outward signs of inward grace, instituted by Christ for our sanctification (Catechismus concil. Trident., n. 4, ex St. Augustine, “De Catechizandis rudibus“)

      Perlu kita ketahui, bahwa Gereja Katolik tidak menganggap Kitab Suci sebagai satu- satunya sumber kebenaran iman, namun Kitab Suci selalu ada dalam kesatuan dengan Tradisi Suci dan Magisterium. Melalui ketiga pilar kebenaran inilah seluruh ajaran Kristus dan para rasul disampaikan kepada kita. Ketujuh sakramen ini merupakan ajaran yang kita terima atas dasar Kitab Suci dan Tradisi Suci.

      Silakan, jika anda belum membaca, untuk membaca rangkaian artikel tentang sakramen ini:

      1. Sakramen, apa pentingnya dalam kehidupan kita
      2. Sakramen Baptis,
      3. Sakramen Ekaristi, bagian 1, bagian 2, bagian 3, bagian 4
      4. Sakramen Penguatan
      5. Sakramen Pengakuan Dosa, bagian 1, bagian 2, bagian 3, bagian 4
      6. Sakramen Perkawinan
      7. Sakramen Imamat
      8. Sakramen Pengurapan orang sakit

      2. Penetapan ketujuh sakramen sudah ada sejak Gereja abad awal, hanya saja cara penyampaiannya memiliki perkembangan seiring dengan perkembangan sejarah Gereja. Para Bapa Gereja telah mengajarkan tentang sakramen ini sejak awal, yang dilestarikan terus oleh Gereja Katolik. Namun dalam sejarah Gereja terdapat masa di mana terdapat perbedaan pandangan tentang apakah sakramen benar-benar diperlukan untuk mencapai keselamatan, dan dengan demikian Konsili Trente (1545- 1563) menegaskan kembali adanya ketujuh sakramen dan bahwa sakramen tersebut diperlukan untuk keselamatan, karena sakramen bukan hanya simbol semata, namun sungguh-sungguh menyampaikan rahmat Tuhan.

      3. Jika kita melihat kepada pengajaran para rasul dan para Bapa Gereja, maka kita mengetahui bahwa ketujuh sakramen tersebut telah ditetapkan sejak awal, namun karena tidak secara ekplisit disebutkan dalam Kitab Suci, “ini adalah sakramen Baptis” atau “ini adalah sakramen perkawinan” dst., maka memang penjabarannya kita melihat kepada pengajaran lisan para rasul, yang disebut Tradisi Suci, yang telah diterapkan sejak abad awal dan diteruskan oleh para Bapa Gereja.

      Penetapan pada Konsili Trente bukan berarti bahwa sebelum Konsili Trente (abad ke 16) itu belum ada sakramen. Konsili Trente menjabarkan ketujuh sakramen untuk meluruskan kesimpangsiuran pada saat itu dengan adanya ajaran yang tidak setia dengan Tradisi para rasul yang mencoret beberapa sakramen atau ajaran yang mengajarkan bahwa sakramen itu hanya “simbol” saja. Maka Konsili Trente menegaskan kembali ajaran Gereja Katolik yang sudah ada sejak abad awal, dan yang kemudian ditetapkan dengan lebih jelas dengan ritus yang lebih seragam.

      4. Kami di Katolisitas tidak dalam posisi untuk menyampaikan ajaran Gereja Lutheran mengenai mengapa mereka tidak mengenal sakramen imamat dan minyak suci. Sakramen Imamat yang menandai imamat jabatan sudah ada sejak abad awal, demikian juga perminyakan orang sakit (lih. Yak 5:14)

      5. Seorang pastor yang sudah mengundurkan diri/ diberhentikan sebagai imam sudah tidak mempunyai faculty untuk memberikan sakramen-sakramen.

      6. Seorang pastor yang mengundurkan diri dan telah mendapat ijin/ dispensasi dari Vatikan, dapat menikah/ menerima sakramen pernikahan. Namun prosesnya untuk mendapatkan ijin/ dispensasi juga tidaklah mudah, dan pihak Vatikan akan melihat terlebih dahulu apa alasannya. Maka tentu ini bukanlah suatu kondisi yang umum dan layak ditiru.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

      Berikut ini tambahan dari Romo Wanta:

      Herman Jay Yth.
      Orang menerima sakramen banyak bukan prestasi. Imam yang keluar atau mengundurkan diri lalu menikah setelah mendapat dispensasi dari Takhta Suci. Setelah bebas dari kewajiban sebagai imam lalu bisa menikah secara sah. Perbuatan itu tidak perlu ditiru, karena bukan prestasi.
      salam
      Rm Wanta
  13. Emilius Lase on

    IMPLIKASI PERAYAAN SAKRAMENTALI BAGI PENANAMAN SEMANGAT MISIONER DALAM KELUARGA

    Perayaan sakramentali merupakan perayaan yang sangat dekat dengan kehidupan manusia. Hampir setiap segi kehidupan manusia dapat dijadikan sakramentali. Karena tidak hanya benda yang dapat dimintakan berkat, melainkan juga manusia. Karena itu umat sering menggunakan sakramentali dalam kehidupan sehari-hari mereka.
    Sakramentali sebagai perayaan liturgi yang dekat dengan kehidupan umat, dapat menjadi sarana untuk menanamkan kehidupan rohani umat. Karena umat sudah tidak asing lagi dengan perayaan sakramentali dalam kehidupan mereka dan umat pun dapat melakukannya sendiri. Umat dapat mengadakan ibadat atau upacara pemberkatan tanpa harus menunggu kehadiran pelayan Gereja. Sehingga sebuah keluarga pun dapat menggunakan upacara pemberkatan dalam lingkungan keluarga mereka sendiri. banyak sakramentali yang dapat dirayakan dalam keluarga, misalnya pemberkatan makanan dalam makan bersama, pemberkatan anak, doa bersama, dan pemberkatan rumah.
    Keluarga, sebagai lembaga pendidikan anak yang pertama dan terutama, memiliki kewajiban untuk mendidik anak-anak mereka agar dapat memiliki iman yang tangguh. Karena melalui keluargalah, kepribadian anak dapat terbentuk. Tugas orangtua dalam mendidik iman anak ini sangat sesuai dengan tujuan dari perkawinan dan peran serta keluarga-keluarga yang dikemukakan oleh Paus Yohanes Paulus II.
    Pendidikan iman anak ini merupakan salah satu bentuk dari partisipasi keluarga-keluarga kristiani dalam mengembangkan misi Gereja. Dengan mendidik anak sejak dini, dapat melatih serta mempersiapkan anak untuk menjadi saksi-saksi Kristus. Sehingga keluarga kristiani tidak hanya menjadi penonton dalam kegiatan misi Gereja, melainkan juga terlibat langsung yakni dengan mempersiapkan benih-benih baru. Sebab keluarga merupakan sel yang membentuk Gereja. Gereja akan berkembang dengan baik bila pendidikan iman dalam keluarga juga berjalan dengan baik pula. Namun kegiatan misi Gereja tidak hanya mencakup perkembangan hidup Gereja saja melainkan juga mencakup perkembangan masyarakat, karena biar bagaimana pun Gereja hidup dan berkembang dalam lingkungan masyarakat umum.
    Cara sederhana yang dapat digunakan untuk menanamkan pendidikan iman dalam keluarga adalah dengan membiasakan hidup doa dalam keluarga. Kehidupan doa dalam keluarga dapat dilakukan dengan menggunakan perayaan sakramentali. Sakramentali yang adalah doa gereja memiliki nilai-nilai yang sangat mendukung terjadinya penanaman semangat misioner dalam keluarga.
    Melalui perayaan sakramentali, keluarga-keluarga kristiani merayakan liturgi, yang adalah sumber pengudusan bagi keluarga tersebut. Keluarga kristiani dikuduskan berkat misteri Paska Kristus. Allah sendiri hadir di tengah-tengah keluarga yang merayakan liturgi. Berkat kehadiran karya Allah-lah anggota keluarga akan mendapat semangat serta kekuatan untuk menjadi saksi-saksi Kristus di tengah-tengah dunia.
    Penanaman nilai-nilai misioner dalam keluarga atau anak-anak secara nyata dapat dilakukan dengan memasukkan pengajaran-pengajaran secara khusus berkaitan dengan kegiatan misioner setiap kali merayakan perayaan sakramentali dalam keluarga. Kemudian membuat tindak lanjut dari perayaan sakramentali dengan membuat tindakan nyata yang menunjuk pada nilai-nilai misioner. Misalnya, pemberkatan orang sakit dapat diikuti tindakan nyata dengan langsung mengunjungi orang yang sakit tersebut, pemberkatan makanan dalam doa bersama dapat diikuti dengan mengajak anak untuk berbagi rejeki yang mereka peroleh dengan anak-anak gelandangan.
    Karena perayaan sakramentali sangat mudah dilakukan dan lingkupnya pun mencakup hampir setiap segi kehidupan manusia, anak-anak dapat lebih mudah untuk menerima dan memahami nilai-nilai misioner yang ada pada setiap perayaan sakramentali yang dirayakan dalam keluarga. Dengan demikian semangat untuk menjadi saksi-saksi Kristus akan terus bernyala dalam diri setiap anggota Gereja, dan Kerajaan Allah pun dapat terus berdiri di tengah-tengah dunia. Dapatlah disimpulkan bahwa perayaan sakramentali yang dirayakan dalam keluarga memiliki peran penting dalam usaha menanamkan nilai-nilai misioner dalam keluarga atau anak-anak. (EMILIUS LASE)

    • Shalom Lia,

      Terima kasih atas pertanyaannya tentang sakramen. Berikut ini adalah jawaban yang dapat saya berikan:

      1) Nanti saya akan menuliskan topik ini secara terpisah, karena memang hal ini banyak menjadi pertanyaan bagi umat Katolik maupun non-Katolik. Kita sering mendengar bahwa sakramen adalah tradisi yang dibuat oleh Gereja Katolik dan sebenarnya tidak perlu dan tidak pernah diinstitusikan oleh Yesus? Dan ada juga orang yang mengatakan bahwa sakramen-sakramen dalam Gereja Katalik begitu kaku, sehingga yang menerima tidak merasakan apapun? Namun, sebenarnya, kalau kita mengerti apa sebenarnya yang terjadi di dalam sakramen-sakramen, maka kita akan terperangah, bagaimana sebenarnya Tuhan menggunakan kodrat manusia untuk mencurahkan rahmat-Nya. Sama seperti Tuhan menyelamatkan manusia dengan mengirimkan Putera-Nya, untuk menjadi manusia yang terlihat, teraba. Hal ini dikarenakan manusia mempunyai kodrat, yang terdiri dari tubuh dan jiwa. Dan ini juga terjadi dalam sakramen-sakramen yang menjadi sarana bagi Tuhan untuk mencurahkan rahmat-Nya, sehingga manusia dapat melihat, merasakan, dan pada saat yang bersamaan mendapatkan rahmat Tuhan yang mengalir dari sakramen-sakramen.

      Tentu saja, Yesus tidak memberikan tatanan yang sama persis dengan sakramen-sakramen yang kita kenal sekarang, namun Yesus sendiri memberikan pondasi, dan terus berkembang sampai seperti sakramen yang kita kenal saat ini. Sebagai contoh: Kristus menginstitusikan Sakramen Baptis, pada waktu Dia mengatakan “…pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,” (Mt. 28:19). Kemudian kita juga melihat bagaimana Kristus menekankan pentingnya baptisan untuk keselamatan, seperti “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.” (Mk 16:16) dan “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.” (Jn 3:5). Dan rasul Paulus kemudian mengajarkan hal yang sama, dengan mengatakan “Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” (Rm 6:4). Kemudian, kita juga menemukan di pengajaran para rasul (Didache – tahun 80-160) mengatakan “membaptis dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus di dalam air … tuangkan tiga kali pada kepala dengan berkata ‘di dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus.’ Sebelum Pembaptisan, biarlah yang membaptis dan yang menerima baptisan berpuasa terlebih dahulu, dan yang lain juga, jika sanggup…. Mereka yang dibaptis harus berpuasa sehari atau dua hari sebelum Pembaptisan.” Dan ini terus ditegaskan oleh para Bapa Gereja dan konsili-konsili (silakan melihat diskusi ini – silakan klik). Dengan demikian terjadi suatu perkembangan yang jelas, dari Yesus Kristus yang menginstitusikan Sakramen Baptis sampai seperti yang kita kenal saat ini.

      2) Tentang perkembangan Sakramen Tobat dapat dibaca di artikel “Masih Perlukah Sakramen Pengakuan Dosa – bagian 2″ (silakan klik).

      Semoga keterangan singkat di atas dapat membantu. Intinya adalah Tuhan ingin mencurahkan rahmat-Nya dan menyelamatkan kita sesuai dengan kodrat manusia, yang mempunyai tubuh, atau yang terlihat (dalam Sakramen adalah matter/materi, seperti dalam Sakramen Baptis adalah air dan form /forma-nya adalah perkataan “Aku membaptis engkau dalam nama Bapa, Putera, dan Roh Kudus). Dan rahmat yang tak terlihat, yang dicurahkan dalam Sakramen Baptis adalah “rahmat pengudusan”, sehingga orang yang telah dibaptis dapat berkenan di hadapan Allah. Dan ini adalah sesuai dengan axiom “grace perfects nature” atau rahmat menyempurnakan kodrat. Manusia yang terdiri dari tubuh dan jiwa diangkat dalam rahmat Tuhan melalui sakramen yang mempunyai matter dan form (yang terlihat) dan rahmat Allah yang tercurah dalam sakramen (yang tak terlihat).

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

  14. Shalom Pak Stef & Bu Ingrid,
    Mau tanya :
    - Mengapa di Katolik ada 7 Sakramen? padahal kalau kita baca di Alkitab kelihatannya cuma ada 2 sakramen yaitu Baptis & Ekaristi.
    Terima kasih, GBU.
    Simon

    • Shalom Simon,
      Pertama-tama, kita harus menerima dahulu, bahwa bagi orang Katolik, Wahyu Ilahi tidak hanya kita terima dari Kitab Suci, namun juga dari Tradisi Suci, sebagaimana yang diinterpretasikan/ diajarkan oleh Magisterium Gereja. Sebab Kitab Suci yang kita peroleh sekarang itu sebenarnya merupakan kanon yang ditetapkan oleh Magisterium Gereja Katolik (pada tahun 393 Konsili Hippo dan 397 Konsili Carthage). Sebelum Kitab Suci (Wahyu Ilahi yang tertulis) itu ada- jadi selama sekitar 3 1/2 abad, para rasul mengajarkan segala pengajaran Tuhan Yesus dengan perkataan lisan, dan ini tidak kalah suci dan benar jika dibandingkan dengan Kitab Suci. Maka dengan ini kita percaya bahwa sejak awal para rasul sudah mulai mempraktekkan adanya ke tujuh sakramen lewat Tradisi suci ini.
      Mungkin ada yang berpendapat bahwa di dalam Alkitab kelihatannya Yesus ‘hanya’ menginstitusikan 2 sakramen, yaitu Baptis dan Ekaristi. Namun sesungguhnya, kita harus mengakui bahwa yang paling mengetahui tentang berapa sakramen yang dipercayakan Yesus kepada para rasul-Nya adalah para rasul sendiri, dan tentu kepada para penerusnya, yang kepadanya Tradisi ini diturunkan.
      Bahwa ada sebagian orang yang melihat bahwa Yesus hanya menginstitusikan 2 sakramen, itu kemungkinan besar karena 1) mereka hanya menganggap Alkitab sebagai satu-satunya sumber, dan juga 2) dalam menginterpretasikan Alkitab mereka menempatkan pengertian pribadi di atas pengajaran Gereja Katolik, artinya, meskipun mendengar penjelasan Magisterium, namun jika secara pribadi mereka menganggapnya tidak demikian, maka mereka tidak menerima pengajaran Magisterium.
      Namun bagi kita orang Katolik, kita percaya bahwa Kristus memberikan kuasa kepada Magisterium untuk mengajar kita sesuai dengan kemurnian ajaran Kristus. Maka jika Magisterium menentukan ada 7 sakramen, kita selayaknya menerima dengan ketaatan iman. Ketaatan iman ini bukannya hanya menerima tanpa pengertian, karena sebenarnya kita perlu memahami ke7 sakramen ini yang sesungguhnya semua mengambil dasar dari Alkitab, dan telah dilakukan sejak jaman Gereja awal. Jadi keberadaan 7 sakramen ini bukan semata-mata ciptaan Magisterium. Ditetapkannya sebagai 7 sakramen ini, juga untuk membedakannya dengan sakramental yang lain, bermacam ritual pemberkatan yang ada dalam kehidupan umat beriman pada saat itu (pemberkatan rumah, usaha, dst).
      Lebih lanjut tentang ketiga pilar/ tonggak Gereja, yaitu: Kitab Suci, Tradisi dan Magisterium, silakan klik di sini.

      KGK 82 “Dengan demikian maka Gereja“, yang dipercayakan untuk meneruskan dan menjelaskan wahyu, “menimba kepastiannya tentang segala sesuatu yang diwahyukan bukan hanya melalui Kitab Suci. Maka dari itu keduanya [baik Tradisi maupun Kitab Suci] harus diterima dan dihormati dengan cita rasa kesalehan dan hormat yang sama” (Dei Verbum 9).
      Salam kasih dalam Kristus,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

Add Comment Register



Leave A Reply