Baptisan Gereja Katolik tidak sah karena tidak dibaptis selam?

36

St. Thomas Aquinas dalam bukunya Summa Theologica, part III, q. 66, a. 7 membahas khusus tentang baptis selam, dan berikut ini adalah terjemahkan pertanyaan/ (keberatan 1-3) dari pihak yang bertanya dan jawaban 1-3 yang diberikan St. Thomas terhadap keberatan tersebut, yaitu:

Artikel 7. Apakah Baptis Selam (immersion) merupakan sesuatu yang mutlak untuk Pembaptisan?

[Berikut ini adalah beberapa keberatan/ pertanyaan yang ditujukan]
Keberatan 1. Kelihatannya, baptis selam mutlak diperlukan untuk Pembaptisan. Sebab ada tertulis dalam Efesus 4:5: “Satu iman, satu Baptisan.” Tetapi di banyak tempat di dunia cara Pembaptisan yang umum adalah dengan pencelupan/ baptis selam. Maka kelihatannya tidak ada Pembaptisan jika tanpa pencelupan/ selam.

Keberatan 2: Selanjutnya, Rasul Paulus berkata (Rom 6:3-4): “Kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya.” Tetapi ini dilakukan dengan pencelupan/ selam: Sebab St. Yohanes Krisostomus berkata tentang Yoh 3:5: “Jika seorang tidak dilahirkan kembali dari air dan Roh… dst”: “Ketika kita mencelupkan kepala kita ke bawah air seperti seolah masuk ke dalam kubur, manusia yang lama di dalam kita dikuburkan, dan dengan ditenggelamkan, tersembunyi di bawah, dan kemudian dibangkitkan kembali, kita menjadi manusia baru.” Maka, kelihatannya pencelupan/ selam adalah mutlak untuk Pembaptisan.

Keberatan 3. Lebih lanjut, jika Pembaptisan sah tanpa penyelaman total pada seluruh badan, maka akibatnya, menjadi cukup jika air dituangkan hanya di beberapa bagian dari tubuh saja. Tetapi ini kelihatannya tidak masuk akal, sebab dosa asal, yang akan diobati sebagai tujuan utama Pembaptisan, tidak hanya terdapat dalam salah satu bagian tubuh. Oleh karena itu, kelihatannya pencelupan/ baptis selam adalah mutlak perlu untuk Pembaptisan, dan bahwa Baptis percik saja tidak cukup.

[Berikut ini adalah jawaban dari St. Thomas Aquinas]
Sebaliknya, dikatakan dalam Ibr 10:22: “…Marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan dengan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni.” ['dibersihkan' ini  terjemahan dari kata 'sprinkled ' dan 'dibasuh' dari kata 'washed', jika kita melihat dari Alkitab bahasa Inggris- Revised Standard Version, dan  Jerusalem Bible, dan 'sprinkled ' sebenarnya artinya adalah diperciki air [sehingga bersih]. “…Let us draw near with a true heart in full assurance of faith, with our hearts sprinkled clean from an evil conscience and our bodies washed with pure water.]

Saya menjawab bahwa, di dalam Sakramen Pembaptisan, air digunakan untuk pembasuhan tubuh, untuk menandai pencucian rohani dari dosa-dosa. Sekarang pencucian/ pembasuhan dapat dilakukan dengan air, tidak saja dengan pencelupan/ selam, tetapi juga oleh percikan atau penuangan air. Dan, meskipun lebih aman dilakukan dengan pencelupan/ selam karena itu lebih umum dilakukan, namun Pembaptisan dapat dilakukan dengan pemercikan/ penuangan, sesuai dengan Yehezkiel 36:25, “Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih” [mencurahkan di sini adalah terjemahan dari kata 'pour', yang juga berarti menuangkan, "I will pour upon you clean water..."]seperti cara Pembaptisan yang telah dilakukan oleh Laurentius yang Terberkati. Dan terutama pada keadaan mendesak: entah karena banyaknya jumlah orang yang dibaptis, seperti yang jelas tertulis dalam Kis 2 dan 4, ketika kita membaca bahwa dalam sehari ada 3000 orang dibaptis, dan pada kesempatan lain 5000 orang, atau jika persediaan air terbatas, atau karena keterbatasan/ kelemahan dari imam yang membaptis yang tidak dapat [tidak kuat]mengangkat katekumen dari dalam air, atau kelemahan dari katekumen yang kehidupannya [kesehatannya]dapat terancam dengan pembaptisan selam. Maka, kita harus menyimpulkan bahwa Pembaptisan selam tidak mutlak untuk Pembaptisan.

Jawaban untuk keberatan 1. Apa yang merupakan sesuatu yang tidak utama/accidental yang ada pada suatu benda tidak dapat mengubah hakekat/ esensi benda itu. Sekarang, pembasuhan/ pencucian tubuh adalah sesuatu yang esensial pada Pembaptisan: maka Pembaptisan dikatakan sebagai ‘yang menyucikan dengan memandikan’ seperti yang ditulis dalam Efesus 5:26, “…Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman.” [atau 'laver' dalam bahasa Inggris]Namun, bahwa pembasuhannya dilakukan dengan cara ini atau itu, adalah sesuatu yang tidak utama/ accidental. Maka akibatnya, perbedaan cara ini tidak menghancurkan kesatuan makna Pembaptisan.

Jawaban untuk keberatan 2. Pemakaman Yesus lebih jelas diwakilkan oleh pencelupan: sehingga cara ini adalah cara yang lebih sering dilakukan dan lebih dianjurkan. Tetapi dengan cara lainpun hal ini dilakukan, walaupun tidak secara sangat jelas, sebab dalam cara apapun juga pencucian dilakukan dengan melibatkan tubuh atau sebagian anggota tubuh, yang diletakkan di air, seperti Tubuh Kristus juga dahulu diletakkan di dalam kubur.

Jawaban untuk keberatan 3. Yang menjadi prinsip utama tubuh, terutama dalam kaitannya dengan anggota-anggota tubuh, adalah kepala, di mana segala kemampuan perasaan, baik di dalam hati maupun di luar (interior maupun eksterior), semua dikendalikan olehnya. Oleh karena itu, kalau seluruh tubuh tidak dapat dikenakan dengan air, karena keterbatasan air atau alasan lainnya, yang mutlak adalah menuangkan air ke kepala, di mana secara prinsip kehidupan manusia tersebut dinyatakan.

Dari jawaban di atas, kita ketahui bahwa St. Thomas membedakan hal yang secara esensial diperlukan dalam Pembaptisan, dan hal yang tidak esential, yang disebutnya sebagai ‘accidental’. Pembedaan ini memang berdasarkan pengertian filosofis, untuk menangkap essensi dari sesuatu. Jika diterapkan dalam konteks manusia, maka 1) pada hakekatnya manusia adalah mahluk yang mempunyai tubuh dan jiwa, diciptakan sesuai dengan gambaran Allah dan mempunyai akal budi dan kehendak bebas, 2) soal tinggi dan berat badannya, warna kulit dan bangsa, dst, adalah ‘accidental’.
Dalam hal Pembaptisan,  yang terpenting adalah unsur pembasuhan/ pencucian, untuk menandai pembersihan rohani (interior) terhadap dosa-dosa, sedangkan caranya adalah ‘accidental‘.

Sebagai catatan tambahan, akan sulit jika kita mensyaratkan bahwa Pembaptisan harus dilakukan persis sama seperti Baptisan Yesus. Sebab jika demikian, maka Baptisan harus dilakukan di sungai Yordan, di tanah Israel. Lalu, meskipun dapat dilakukan, pertanyaan berikutnya adalah sungai Yordan bagian mana? Karena tidak ada orang yang bisa dengan persis menyebutkan lokasi Yesus dibaptis. [Lokasi tempat ziarah di s. Yordan sekarang juga merupakan perkiraan tempat pembaptisan Yesus]
Maka memang yang terpenting adalah kita menangkap esensinya, yaitu pembersihan jiwa/ rohani dari dosa-dosa akibat manusia yang lama dalam diri kita telah mati, dan kita dibangkitkan bersama Kristus menjadi manusia baru (lihat KGK 1214).

Di atas semua itu, kita menghormati pengajaran dari Para Bapa Gereja, yang kemudian diambil sebagai ajaran yang berlaku dalam Gereja Katolik. Mereka juga mengambil dasar dari Alkitab, dan juga mempertimbangkan perkembangan tradisi dalam kehidupan umat di seluruh dunia. Kebijaksanaan Gereja harus bisa berlaku umum di seluruh dunia, misal baik di Eropa, Amerika yang tidak kurang air, tapi juga di Afrika jumlah airnya terbatas. Atau pembaptisan pada orang sehat tetapi juga pada orang sakit, yang mungkin tak bisa baptis selam. Apakah kepada mereka yang tidak bisa dibaptis selam, berarti tidak bisa diberi Pembaptisan? Tentu tidak, bukan. Lagipula seperti disebut di atas, cara pencucian merupakan sesuatu yang ‘accidental’ dan bukan essensial. Maka Gereja Katolik mensyaratkan keabsahan Pembaptisan, jika terdapat 2 hal yang memenuhi syarat: 1) materia/matter, yaitu air jernih, 2) forma/form yaitu perkataan/ ritus Pembaptisan yang memakai formula Trinitarian, yaitu pembaptisan di dalam nama Allah Bapa dan Putera dan Roh Kudus; dengan intensi yang sama seperti yang dilakukan Gereja. (lihat KGK 1256, Kan. 849, Kitab Hukum Kanonik).

Mari kita dengan kerendahan hati menerima pengajaran Gereja Katolik, yang tentu didasari oleh landasan yang kuat, pengertian yang esensial, dan demi kepentingan semua umat tanpa kecuali. Dengan cara pikir seperti demikian, kita tidak gampang digoyahkan jika ada yang mengatakan baptis tuang tidak sah, atau baptis selam hanya satu-satunya yang sah. Kita tidak dalam posisi untuk menentang ketetapan Gereja, sebab kita mengakui bahwa kita tidak lebih besar dari para Bapa Gereja tersebut. Kristus telah memberi amanat kepada para rasul untuk membaptis semua bangsa, dan amanat ini diteruskan oleh para penerus rasul yang memimpin Gereja Katolik. Maka mari kita juga tunduk kepada keputusan Gereja, yang kepadanya Yesus telah mempercayakan amanat-Nya ini.

Share.

About Author

Stefanus Tay, MTS dan Ingrid Listiati, MTS adalah pasangan suami istri awam dan telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

36 Comments

  1. Dear Stef dan Romo Wanta yang saya hormati

    saya mengucapkan terimakasih atas semua penjelasannya, demikian sesuai dengan apa yang menjadi pertanyaan saya dan sayapun sudah jelas dan mengerti sebagai seorang katholik (belum babtis) oleh karena itu saya akan segera melaksanakan nasehat Romo dan penjelasan Stef .GBU

  2. Dear Romo Wanta/pengasuh katolisitas

    Saya katolik ibu saya islam bapak sy katolik sejak kecil sy sekolah katolik dan dirumah mendapat bimbingan katolik dari ayah saya usia saya 20th pergi kegereja katolik aktif. Beberapa bulan yg lalu saya mengikuti tour ke tanah suci bersama rombongan yang dipimpin seorang pastur protestan disana saya di babtis tenggelam di sungai yordan dengan format babtisan Bapa Putera dan Roh Kudus sy mendapat sertifikat babtis dari israel ..apakah babtisan saya absah Romo?? Apakah saya boleh menyambut tubuh dan darah Kristus yang sangat saya rindukan..jawaban Romo sangat kunantikan terima kasih.

    • Shalom Krisnha,

      Terima kasih atas pertanyaan Anda. Sebenarnya, terlebih dahulu kita harus menyadari bahwa Sakramen Baptis tidak dapat diulang, karena telah memberikan meterai kepada jiwa. Dalam Katekismus Gereja Katolik dijelaskan sebagai berikut:

      KGK 1272: Orang yang dibaptis menjadi serupa dengan Kristus, karena melalui Pembaptisan ia digabungkan bersama Kristus (bdk. Rm 8:29). Pembaptisan menandai warga Kristen dengan satu meterai [character] rohani yang tidak dapat dihapuskan, satu tanda, bahwa ia termasuk bilangan Kristus. Tanda ini tidak dihapuskan oleh dosa mana pun, meskipun dosa menghalang-halangi Pembaptisan untuk menghasilkan buah keselamatan (bdk. DS 1609-1619). Karena Pembaptisan diterimakan satu kali untuk selamanya, maka ia tidak dapat diulangi.

      Dalam ziarah yang dipimpin oleh seorang pastor Katolik, maka sebenarnya yang dilakukan di Sungai Yordan adalah pembaharuan janji baptis, yang tentu saja bukan dengan rumusan baptisan: “Aku membaptis engkau dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus.” Jadi, seharusnya kita memang tidak boleh berpartisipasi dalam baptisan lagi yang dilakukan oleh pastor Protestan, karena memang baptisan tidak dapat diulang. Itulah sebabnya umat Kristen non-Katolik yang telah menerima baptisan sah, dan ingin menjadi Katolik, tidak perlu lagi dibaptis.

      Jadi dalam kasus Anda, baptisan yang telah Anda terima di dalam Gereja Katolik itulah yang sah. Langkah selanjutnya, silakan untuk mengaku dosa di dalam Sakramen Tobat, dengan menceritakan kepada Romo tentang hal ini. Dan setelah itu Anda dapat menerima komuni kembali. Adalah hal yang sungguh baik dan sudah seharusnya, kalau kita mau berziarah, maka kita mengikuti grup yang ada pastor Katolik, sehingga tetap dapat mengikuti Misa Kudus. Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

      • Dear Stef
        terimakasih atas jawaban yang diberikan dan saya sangat senang ..tapi sepertinya ada yang kurang pas dari jawaban Stef bahwa saya belum pernah dibaptis secara Katholik, baptisan yang saya terima ya baru sekali itu jadi saya tidak mengulang baptisan. Justru yang saya tanyakan baptisan ini sah apa tidak..mohon juga dijelaskan langkah apa yang harus saya lakukan selanjutnya..

        [dari Katolisitas: silakan menyimak jawaban Romo Wanta bagi Anda, semoga seluruh pertanyaan Anda kini sudah terjawab.]

        • Shalom Krisnha,

          Mohon maaf kalau saya salah mengerti kondisi Anda, karena Anda menuliskan bahwa Anda adalah Katolik, serta pertanyaan Anda yang mengatakan apakah boleh menyambut Tubuh Kristus dalam Gereja Katolik.

          Kalau Anda sebelumnya belum pernah dibaptis secara Katolik, dan pada waktu Anda ziarah Anda telah dibaptis oleh seorang pendeta dari gereja yang masuk dalam PGI (Persekutuan Gereja Indonesia), maka sesungguhnya baptisan yang Anda terima adalah sah dan Anda telah masuk dalam jemaat dari gereja tersebut. Hal ini dapat dibuktikan dengan bukti baptisan dari gereja tersebut dan bukan hanya sekedar sertifikat dari tempat ziarah tersebut. Jadi, keabsahan baptisan ini harus dipelajari lebih lanjut.

          Kemudian, pertanyaan selanjutnya adalah apakah Anda ingin menjadi umat Katolik? Kalau Anda tidak ingin menjadi umat Katolik, maka tentu saja walaupun Anda telah mendapatkan baptisan yang sah di gereja non-Katolik, namun Anda tetap tidak dapat menyambut Tubuh Kristus dalam Ekaristi Kudus. Kalau Anda ingin menjadi umat Katolik, maka diperlukan satu proses, di mana Anda harus belajar terlebih dahulu dalam proses katekese. Setelah proses ini selesai, maka dilakukan peneguhan, sehingga Anda dapat diterima menjadi anggota Gereja Katolik secara sah. Setelah Anda diterima dalam Gereja Katolik, maka Anda berhak untuk menerima sakramen-sakramen yang lain, termasuk Sakramen Ekaristi.

          Jadi, langkah yang mungkin dapat Anda tempuh adalah untuk bertanya kepada diri sendiri apakah Anda ingin masuk ke dalam Gereja Katolik. Setelah Anda memutuskan “ya”, maka silakan menghadap pastor paroki terdekat dan ceritakan keinginan Anda, sehingga pastor paroki dapat membantu Anda lebih lanjut. Besar harapan saya bahwa Anda juga dapat bergabung dalam Gereja Katolik, Gereja yang didirikan oleh Kristus sendiri (lih. Mat 16:16-19). Kalau ada yang kurang jelas silakan bertanya kembali.

          Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
          stef – katolisitas.org

    • Krisnha Yth

      Sakramen Pembaptisan dalam Gereja Katolik menjadi sah jika memenuhi syarat berikut ini:
      pertama, calon baptis harus mengikuti program pembinaan katekumenat calon baptis (selama setahun) atau disesuaikan dengan keadaan calon baptis. Kedua, dibaptis oleh Pastor Katolik (sah) dengan materi: air yang telah diberkati atau air baptis yang diberkati ketika Paskah, dengan formula: Pastor menuangkan air di kepalanya (atau ditenggelamkan) dengan rumusan kata2 :…(sebut nama baptis) misal Theresia, aku membaptis engkau Dalam nama Bapa (menuangkan air), dan Putera (menuangkan air) dan Roh Kudus (menuangkan air atau di kepala dimasukkan ke dalam air dan diangkat kembali). Kemudian Sakramen Pembaptisan dilanjutkan dengan pengurapan minyak yang telah diberkati di kepala, pemberian kain putih dan lilin dari api Paskah. Penerimaan Sakramen Pembaptisan harus dicatat segera di buku Sakramen Pembaptisan. Pembaptisan anda di Sungai Yordan tidak sah, karena itu harus ke Gereja Katolik mengikuti syarat-syarat tadi, nanti dibaptis di Gereja Katolik oleh Pastor Katolik. Untuk komuni kudus harus menerima Sakramen Baptis dahulu lalu mengikuti pembinaan Komuni Pertama baru dapat menerima komuni kudus di Gereja Katolik di mana anda tinggal/ berdomisili. Semoga dapat dipahami.

      salam dan berkat Tuhan
      Rm Wanta

  3. pakdhé Johan on

    Gambaran Allah tentang baptisan di dalam Alkitab :

    Peristiwa air bah (Nuh) : ” … tidak taat …., ketika Allah tetap menanti dengan sabar waktu nuh sedang mempersiapkan bahteranya, di mana hanya sedikit, yaitu delapan orang yang diselamatkan oleh air bah itu …. juga kamu sekarang diselamatkan oleh kiasannya, yaitu baptisan – maksudnya bukan untuk membersihkan kenajisan jasmani, melainkan untuk memohonkan hati nurani yang baik kepada Allah – oleh kebangkitan Yesus Kristus.” *1Ptr 3:20-21)

    Peristiwa Laut Merah : “Aku mau, supaya kamu mengetahui, saudara-saudara, bahwa nenek moyang kita semua berada di bawah perlindungan awan dan bahwa mereka semua telah melintasi laut. Untuk menjadi pengikut Musa mereka semua telah dibaptis dalam awan dan dalam laut.” (1Kor 10:1-2)

    Peristiwa baptsian orang percaya : “Kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya.

    Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” (Rom 6:3-4)

    Prinsip “Baptisan Air” adalah gambaran “kuasa penebusan Kristus” untuk memisahkan manusia dari keDOSAan dan memasukkannya ke dalam keBENARan. Disini, di tengah antara keDOSAan dan keBENARan, ada PENGAMPUNAN DOSA. (Rom 3:24)

    Jadi, mau percaya kepada “air yang cukup banyak” untuk menguburkan seseorang tanpa pengampunan dosa …. atau “percikan beberapa tetes air” dengan pengampunan dosa ….? Keputusan sepenuhnya ada di tangan kita masing-masing. Satu hal pasti, Yesus sangat mengasihi kita semua.

    [dari katolisitas: Kuasa penebusan Kristus tidak diukur dari banyaknya air atau kualitas air. Walaupun dituang, Baptisan tetap sah, selama materinya adalah air dan dengan formula baptisan dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus]

  4. Shalom.. menurut saya tetap saja baptis selam diutamakan.. Baptis percik hanya untuk keadaan darurat seperti yg dijelaskan di atas. Apakah Pastor katolik kekurangan air seperti cerita di atas ( kurang air karena di padang pasir, kewalahan atau capek karena saking banyaknya orang yang mau dibaptis..)
    Kita ikut saja cara Tuhan Yesus.. Yesus baptis selam.. Di Indonesia yg berlimpah air ini tiada alasan untuk memakai baptis percik.

    [dari katolisitas: Mari kita kembali kepada mana yang esensial, sehingga kita tidak mengharuskan apa yang tidak diharuskan.]

  5. Dear Katolisitas,

    Apa benar kata “baptis” bisa punya arti ganda?

    Lukas 3:21 Ketika seluruh orang banyak itu telah dibaptis dan ketika Yesus juga dibaptis dan sedang berdoa, terbukalah langit

    Dibandingkan dengan:
    Lukas 12:50 Aku harus menerima baptisan, dan betapakah susahnya hati-Ku, sebelum hal itu berlangsung!
    Markus 10:38 Tetapi kata Yesus kepada mereka: “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?”

    Apa pandangan resmi Gereja Katolik tentang istilah: Baptisan Roh dan Baptisan Api?

    Terima kasih,
    Roberts

    • Shalom Robert,

      Kata ‘baptisan’/ baptism itu berasal dari kata Yunani, bapto atau baptizo, baptizein, yang artinya mencuci/ membasuh atau mencelup/ menenggelamkan.

      Kitab Suci menggunakan istilah ‘baptizo‘ ini secara literal (diterjemahkan LAI: ‘mencuci’, dalam Luk 11:38) maupun figuratif, seperti dalam Mat 3:11, Luk 3:16, Kis 1:5, baptisan digambarkan secara metafor, bahwa pencucian/ penenggelaman itu dilakukan dalam kelimpahan rahmat Roh Kudus, Mrk 10:38-39, Luk 12:50, yaitu baptisan itu dihubungkan dengan Sengsara Kristus, di mana Kristus bagaikan dibasuh oleh darah-Nya sendiri.

      Maka penggunaan istilah ‘baptisan’ dalam istilah gerejawi, mengacu kepada sakramen Baptis. Katekismus Romawi (Ad Parochos, De Bapt.,2,2,5) mendefinisikan baptisan sbb:

      Baptisan adalah sakramen kelahiran kembali dengan air di dalam perkataan (per aquam in verbo).

      Katekismus Gereja Katolik menyebutkan dua makna utama dari Pembaptisan, yaitu: 1) pertobatan yang artinya menanggalkan manusia lama; 2) kelahiran kembali dalam Roh Kudus, atau hidup baru di dalam Kristus. Pencelupan ke dalam air yang melambangkan kematian ‘manusia lama’ di dalam Kristus, membawa dua macam rahmat. Pertama adalah pembersihan dari dosa-dosa, kedua adalah kelahiran kembali dan pembaharuan di dalam Roh Kudus (lihat KGK 1262). Dengan demikian rahmat pembaptisan merupakan perwujudan dari firman Tuhan yang dikatakan oleh Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma, yaitu “jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. Karena kita tahu bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya… Demikianlah hendaknya… bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.” (Rom 6:6-7, 11)

      Makna kelahiran kembali di dalam Kristus dengan pemberian anugerah hidup ilahi inilah yang menjadikan sakramen ini tidak dapat diulangi; sebab kelahiran secara rohani ini, seperti kelahiran secara jasmani, terjadinya hanya satu kali. Kelahiran kita secara rohani ini hanya dimungkinkan karena kita digabungkan dengan Misteri Paska Kristus, yaitu sengsara, wafat, kebangkitan dan kebangkitan Kristus. Demikianlah menjadi nyata bagaimana baptisan Kristus yang disebut-Nya mengacu kepada sengsara dan wafat-Nya di kayu salib (yang harus dilalui-Nya sebelum kebangkitan dan kenaikan-Nya ke Surga), berkaitan dengan baptisan kita sebagai murid-murid-Nya. Sebab baptisan kita, yang ditandai dengan pencelupan ke dalam air ini melambangkan dimakamkannya kita sebagai manusia lama ke dalam kematian Kristus, dan keluarnya dari air melambangkan kebangkitan kita bersama dengan Kristus sebagai ‘manusia baru’. (lih. KGK 1214) Pada saat Pembaptisan inilah, kita dapat berkata, ‘aku yang dulu sudah mati, sekarang aku hidup bersama Kristus dan di dalam Kristus’. Artinya, kita dilahirkan kembali dari air dan Roh Kudus (Yoh 3:5), menjadi ciptaan yang baru (2 Kor 5:17), seorang anak angkat Allah (Gal 4:5-7), mengambil bagian dalam kodrat ilahi (2 Ptr 1:4), anggota Kristus (1 Kor 12:27), ahli waris bersama Kristus (Rom 8:17) dan kenisah Roh Kudus (1 Kor 6:19) (lih. KGK 1265).

      Dengan arti di atas, maka Gereja Katolik hanya mengakui adanya satu Baptisan (lih. Ef 4:5), yang dilakukan hanya sekali dalam hidup dan tidak dapat diulangi (lih. KGK 1272). Artinya Roh Kudus sudah diberikan pada saat sakramen Pembaptisan. Roh Kudus yang adalah Roh Allah itulah yang memberikan kita hidup ilahi di dalam Kristus. Sakramen Penguatan/ Krisma yang diberikan setelah Baptisan adalah sakramen yang menguatkan dan mendewasakan kita secara rohani, untuk mengemban tugas sebagai saksi Kristus.

      Bahwa saat itu Yohanes Pembaptis dalam Injil Matius menyebutkan, “Ia [Mesias] akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api” (Mat 3:11, Mrk 3:15) itu karena Yohanes mau menunjukkan perbedaan antara baptisan yang diberikan olehnya dengan baptisan yang diberikan oleh Sang Mesias.

      Penjelasan dari A Catholic Commentary on Holy Scripture, ed. Dom Orchard, OSB., menjelaskan tentang ayat Mat 3:11-12, demikian:

      “Yohanes Pembaptis menjelaskan…, bahwa baptisan yang dilakukan olehnya tidak akan dapat dibandingkan dengan baptisan yang akan diberikan oleh Sang Mesias… Baptisannya adalah hanya ekspresi dan pendorong kepada pertobatan; sedangkan baptisan oleh Sang Mesias yang akan datang adalah pencelupan/peresapan di dalam Roh Kudus, api pemurnian yang terdalam (lih. pemurnian oleh Sang Mesias, dalam Mal 3:2-), yang tidak hanya menyentuh permukaan seperti air. “Dan dengan api”, adalah penjelasan tentang Roh Kudus. Maka Yohanes bernubuat tentang pencurahan Roh Kudus, Kis 2:3… Pemurnian di dalam jiwa akan menghasilkan pembedaan antara mereka yang menerima dan menolaknya…. “

      Selanjutnya tentang makna Sakramen Baptis, silakan klik di sini, dan tentang sakramen Penguatan/ Krisma, silakan klik di sini.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  6. salam kasih kristus

    saya dapat menyimpulkan pemahaman makna baptisan iman katolik,melakukan percikan karena didasari
    persediaan air,dan tidak menyangkal pembaptisan dengan selam seperti yang dicontohkan tuhan kita
    yesus kristus sebagai teladan yang kita tiru dia memberikan dirinya dibatis oleh yohanes
    pembaptis

    sedikit pertanyaan saya seputar pembaptisan bayi, saya sudah baca juga penjelasan di bloq
    sebelahnya

    baptisan yang dilakukan oleh Lidia dan seluruh keluarganya dan kepada penjara dan keluarganya (lih Kis 16:15,33), Rasul Paulus yang membaptis Krispus dan seisi rumahnya (lih Kis 18:8) dan juga keluarga Stefanus (lih 1Kor 1:16)?

    apakah ayat diatas menjamin “kata seisi rumahnya”menyangkut komposisi segala mahluk hidup atau manusia didalam rumahnya dibaptis??

    menurut pemahaman saya ayat2 alkitab harus ditafsir bukan perkata atau per ayat karena di ayat lain, alkitab menacatat pergilah keseluruh dunia beritakan lah injil siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan

    artinya kata kunci nya adalah percaya dulu baru dibaptis dan di ayat yang lain ketika petrus berkotbah banyak orang percaya dan memberi dirinya dibaptis

    kembali kata kuncinya percaya dan menyerahkan dirinya dibaptis sebagai penyerahan

    bisa anda bayangkan jika saya percaya yesus, maka saya lah yang akan dibaptis dan tidak akan mungkin melibatkan seluruh anak2 bayi diruangan bayi rumah sakit yang saya jaga

    trima kasih mohon pencerahan, shalom

    • Shalom Paulus,

      Kata asli yang diterjemahkan dengan frasa “seisi rumahnya” (lih. Kis 16:15, 18:8) adalah ‘oikos‘ yang artinya adalah keluarga (a household/ family). Kata yang sama itu digunakan di ayat Kis 16:33 dan 1 Kor 1:16, dan diterjemahkan dalam Kitab Suci kita sebagai ‘keluarga’. Memang kata ‘oikos‘ dapat diartikan untuk konteks yang lebih luas, seperti dalam ayat Mat 23:38; Luk 13:35, sebagai sebuah tempat tinggal, sebagai kota atau negara. Tetapi dalam ayat Kis 16:15, dan 18:8 jelas konteksnya bukan itu, sebab secara spesifik disebut nama orang yang menjelaskan tentang milik siapakah rumah yang sedang dibicarakan, sehingga mengacu kepada sebuah keluarga. Dalam penjelasan arti kata ‘oikos‘ ini disebutkan bahwa jika diartikan sebagai keluarga, maka maksudnya adalah termasuk mereka yang dilahirkan oleh orang tua yang bersangkutan. Dengan arti ini, maka tidak termasuk hewan peliharaan ataupun benda-benda yang bukan manusia.

      Anda benar, bahwa Kitab Suci harus dibaca dalam kaitan dengan keseluruhan ayat-ayat dalam Kitab Suci, dan kita tidka boleh hanya menekankan kepada satu ayat dan mengabaikan yang lain. Baptisan bayi, justru ada sebagai konsekuensi perintah Kristus dalam Yoh 3:5 dan Mat 28:19-20 tersebut, yaitu bahwa baptisan perlu untuk keselamatan. Dengan demikian, keselamatan itu yang merupakan kesembuhan rohani akibat pengaruh dosa, nilainya lebih tinggi daripada kesembuhan dari penyakit jasmani. Jika anak kita sakit orang tua tidak perlu meminta persetujuan anaknya untuk memberi obat, jika memang orang tua mengetahui bahwa obat itu yang terbaik bagi kesembuhan anaknya. Demikianlah, orang tua tidak perlu meminta persetujuan anaknya untuk membaptis, jika orang tua sudah percaya kepada Allah Tritunggal sebagaimana telah dinyatakan oleh Kristus Sang Juru Selamat umat manusia. Maka anak-anak dibaptis atas dasar iman orang tuanya, dan karena itu, orang tua bertanggungjawab untuk mendidik anaknya dalam iman tersebut.

      Pembaptisan merupakan penggenapan makna sunat dalam Perjanjian Lama: Dalam sunat tanda Perjanjian Lama, yang ditanggalkan adalah sepotong kulit jasmani, namun dalam Pembaptisan tanda Perjanjian Baru yang ditanggalkan adalah keseluruhan manusia lama (Ef 4:22-24), dan dengan demikian merupakan sunat rohani (lih. Rom 2:29) di mana seseorang manusia mati terhadap dosa dan hidup baru di dalam Kristus (Rom 6:2-4,11). Maka sama seperti para orang tua dalam PL menyunatkan anaknya di usia bayi, maka dalam penggenapannya di PB, adalah tugas orang tua untuk membaptis anak-anaknya sejak bayi, agar anak-anak dapat sesegera mungkin menerima tanda perjanjian Allah yang baru yang diperoleh di dalam Kristus, agar anaknya itu dapat sampai kepada keselamatan kekal.

      Gereja Katolik mengajarkan umatnya untuk membaca Perjanjian Lama dalam terang Perjanjian Baru dan juga sebaliknya, untuk memahami makna Kitab Suci. Namun di atas semua itu, Gereja membaca Kitab Suci dalam Tradisi Suci Para Rasul, yang sejak awal sudah mengajarkan dan menerapkan Pembaptisan bayi dan anak-anak, sebagaimana telah diuraikan di atas. Sebagai pribadi kita bisa salah menginterpretasikan ayat-ayat dalam Kitab Suci, namun para Rasul itu, yang daripada mereka kita menerima Kitab Suci, tidak mungkin salah dalam menginterpretasikan Kitab Suci. Karena itu, dalam mengajarkan hal iman dan moral (termasuk hal Pembaptisan bayi), Gereja Katolik selalu mengacu kepada Tradisi Suci para Rasul sebagaimana dilestarikan oleh Gereja sejak abad-abad awal. Sebab kuasa mengajar yang tak mungkin salah tentang hal iman dan moral itu diberikan kepada para Rasul secara khusus Rasul Petrus (lih. Mat 16:19; 18:18, 28:19-20) namun tidak diberikan kepada setiap orang secara pribadi.

      Mari sebagai umat Katolik, kita menerima ajaran Gereja Katolik ini dengan keterbukaan dan kelapangan hati, karena mengetahui bahwa ajaran inilah yang sesuai dengan ajaran para rasul. Ajaran ini diberikan kepada kita demi kebaikan kita. Sebab adalah kehendak Allah sendiri agar semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran (1 Tim 2:4); dan karena itu adalah kehendak Allah agar setiap orang tua yang telah mengambil bagian dalam karya penciptaan Allah untuk menghadirkan anak mereka ke dunia, juga mau mengambil bagian dalam karya penyelamatan Allah bagi anak mereka ke dalam kerajaan Surga. Maka adalah tugas utama orang tua untuk membaptis anaknya (memohon kepada Gereja untuk membaptisnya) namun bukan tugas orang tua untuk membaptis semua anak orang lain, seperti yang Anda contohkan, jika Anda seorang dokter yang sedang berjaga di Rumah Sakit/ rumah sakit bersalin. Anak-anak itu bukan lahir dari Anda, sehingga bukan kewajiban/ tanggung jawab Anda untuk menurunkan iman Anda kepada mereka semua. Saya berharap uraian saya di atas telah menjawab, mengapa demikian.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- katolisitas.org

  7. Syalom
    Intinya perintah yang ada di Alkitab adalah kebenaran yang mutlak.

    [Dari Katolisitas: Yang merupakan kebenaran mutlak adalah Kristus sendiri, Sang Kebenaran (Yoh 14:6) dan Sang Sabda Allah (lih. Yoh 1:1). Sabda Allah ini dinyatakan dalam Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magiterium. Maka ketiganya itulah yang menyampaikan keseluruhan kebenaran seturut kehendak Allah. Tentang hal ini sudah pernah diulas di sini, silakan klik.]

    Dan kita jangan jadi seperti seorang yang bernama Nikodemus yang bertanya “Masakan munusia dapat dilahirkan kembali”
    masakan Yesus harus berkata lagi “Engkau guru di Israel; masakan engkau tidak tahu?…..Kalian tidak percaya kalau Aku menceritakan kepadamu mengenai hal-hal dari dunia ini; bagaimana kalian dapat percaya, kalau Aku menceritakan kepadamu hal-hal mengenai surga?”
    Yohanes 3:1-21

    [Dari Katolisitas: Ya, kami sebagai umat Katolik juga meng-amini sabda Tuhan ini. Yesus menghendaki kita dilahirkan kembali dari air dan roh (Yoh 3:5) yang adalah sakramen Baptis, agar kita dapat masuk dalam Kerajaan Allah. Inilah perintah Kristus yang telah dilakukan oleh Gereja sejak awal mula dan tetap dipertahankan oleh Gereja Katolik sampai sekarang].

  8. Baptis selam memiliki syarat: air yg mengalir/baru & bersih (bukan air bekas pembaptisan orang lain sebelumnya). Jika ada 50 orang yg mau dibaptis selam, kalau airnya tdk diganti, pasti muncul problem. Kalau baptis di sungai yg bersih hrs siap fisik & biaya. Baptis dgn curahan air suci sungguh bijaksana & logis.

  9. Hizkia Tambun on

    dan tidak ada ayatnya kalauu anak2 dibabtis
    yang penting kita harus bertobat dulu.
    kis 2:38
    anak2 tak tau bertobat
    dan hanay tahu merengek rengek.

    [Dari Katolisitas: silakan membaca artikel ini terlebih dahulu, silakan klik]

  10. Tentang Baptis Selam

    Cara Baptis di Katolik yg disiram air suci, bukan Baptis Selam, sering jadi bahan perdebatan di Gereja Kristen Kharismatik.
    Apakah benar di dalam Gereja Katolik cara dibaptis tidak hanya disiram, tapi ada juga baptis cara selam.? Apakah teman saya yg mau dibaptis secara Katolik boleh mengajukan cara baptisnya sendiri, yaitu dibaptis selam?

    Terima kasih.

    [Dari Katolisitas: Silakan membaca terlebih dahulu artikel di atas, yang mengambil dasar dari Kitab Suci, bahwa baptis dengan cara diselam bukan cara yang mutlak dan essensial bagi Pembaptisan. Jika Gereja Katolik umumnya memilih cara penuangan, itu tidak mengubah makna sakramen Baptis. Maka diperlukan juga sikap kerendahan hati dari seseorang yang mau dibaptis Katolik, untuk menerima ajaran Gereja Katolik, dan tidak berkeras untuk memegang pandangannya sendiri. Kesamaan cara Pembaptisan melambangkan juga kesatuan dalam Gereja, sesuatu yang juga menjadi salah satu tanda Gereja yang sejati: satu, kudus, katolik dan apostolik.]

  11. Nindi Arianto on

    shalom
    saya ingin menjadi biarawan Gereja Khatolik, tapi saya belum dibaptis secara Khatolik ( saya dibaptis secara Protestan) apakah saya bisa menjadi anggota ordo tertentu tanpa baptisan Khatolik? Saya rasa Allah benar2 memanggil saya
    terima kasih
    GBU

    • Yohanes Dwi Harsanto Pr on

      Salam Nindi Arianto,

      Untuk menjadi anggota biara atau ordo dalam Gereja, Anda harus menjadi anggota Gereja yang didirikan dan dihuni sepenuhnya oleh Kristus yaitu Gereja Katolik. Untuk masuk menjadi anggota Gereja Katolik, Gereja mewajibkan syarat-syarat. Bagi eks Protestan, atau yang sudah dibaptis secara Protestan, untuk masuk dalam Gereja Kristus, harus dilihat dulu apakah baptisannya itu absah menurut ketentuan Gereja Katolik. Jika tidak absah, maka harus belajar ajaran Katolik, aktif dalam Gereja lalu dibaptis secara Katolik. Jika baptisan Prortestannya dinilai sudah absah, maka tidak perlu dibaptis lagi, tetapi menjalani upacara penerimaan resmi ke dalam Gereja Katolik. Untuk bisa diterima sebagai anggota Gereja Katolik, harus mengikuti pelajaran mengenal ajaran Katolik, aktif dalam Gereja Katolik dahulu selama beberapa waktu.

      Baptisan yang absah menurut Gereja Katolik ialah yang dilakukan menurut maksud Kristus yaitu memakai air sungguh, (dialirkan atau ditenggelamkan), dilakukan dengan rumusan Trinitaris dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus.

      Silahkan memeriksa baptisan Anda dahulu dilakukan dengan cara bagaimana.

      Salam
      Yohanes Dwi Harsanto Pr

  12. Shalom Romo,

    saya seorang beragama Protestan dari kecil sampai sekarang. Saat ini saya menjalin kasih dengan seorang beragama Katolik. Kami sampai pada titik di mana hubungan ini akan berlanjut ke jenjang yang lebih serius, namun terkendala pada bedanya Katolik dan Protestan. Saya pribadi belum pernah dibaptis. Pasangan saya meminta agar saya dibaptis secara Katolik agar bisa menerima Sakramen Pernikahan dalam Katolik. Saya kemudian menyatakan sbnrnya saya tidak masalah utk dibaptis secara Katolik, krn sy mengimani bahwa baptisan itu dari Tuhan, bukan dari manusia, jadi tidak masalah dibaptis secara Katolik atau Protestan. Bagaimana pendapat gereja Katolik mengenai ini?

    Bisakah kami tetap melangkah ke jenjang pernikahan jika saya tetap Protestan dan dia tetap Katolik. Dapatkah kami menikah di gereja Katolik dengan perbedaan itu?

    Dianggap berdosakah jika pasangan saya itu saya bawa ikut kebaktian di gereja Protestan? Sebab sepertinya dia enggan sekali jika saya bilang mau ajak ke gereja Protestan (blm pernah saya bawa) seakan itu mengkhianati Katolik. Saya sendiri pernah beberapa kali ikut Misa di gereja Katolik, yg menurut saya sah2 saja sebab Tuhan yang disembah adalah sama. Bagaimana pandangan Romo akan hal ini?

    apa yang harus kami lakukan?

    Terima kasih atas jawaban Romo dan mohon juga agar jawabannya dapat dikirimkan ke email saya.
    salam.

    • Shalom Hery,

      Sambil menunggu jawaban Romo Wanta, berikut ini adalah jawaban yang dapat saya berikan. Anda mengatakan bahwa anda seorang Protestan namun belum dibaptis. Baptisan sendiri dalam teologi Gereja Katolik adalah merupakan syarat keselamatan. (silakan membaca artikel ini – silakan klik dan diskusi ini – silakan klik). Sebelum anda dibaptis secara Katolik, ada baiknya anda benar-benar mempelajari tentang iman Katolik, sehingga pada waktu dibaptis dalam Gereja Katolik, anda benar-benar telah mantap menerima pengajaran Gereja Katolik. Baptisan dalam Gereja Katolik membuat seseorang menerima: pengampunan dosa pribadi dan dosa asal, rahmat pengudusan, tiga kebajikan ilahi (iman, pengharapan, dan kasih), tujuh karunia Roh Kudus, menjadi anak-anak Allah dalam Kristus, menjadi anggota Gereja Katolik dengan kewajiban dan haknya. Dengan demikian, anda dibaptis bukan karena hanya mengikuti calon istri anda, namun memang benar-benar karena anda menginginkannya. Kalau anda mempunyai pertanyaan-pertanyaan tentang iman Katolik, anda dapat menanyakannya di situs ini dan kami akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan anda semampu kami. Anda dapat melihat arsip katolisitas di sini – silakan klik.

      Pertanyaan anda tentang apakah anda dapat menikah walaupun anda berbeda Gereja? Jawabannya adalah bisa, dengan menikah perbedaan Gereja, dengan syarat bahwa pihak yang Katolik tetap mendapatkan kebebasan untuk menjalankan iman Katoliknya dan anda berdua setuju untuk mendidik anak-anak dalam iman Katolik. Namun, harus diakui bahwa untuk dapat membina rumah tangga yang baik dalam perkawinan satu iman merupakan satu tantangan yang besar; apalagi untuk membina rumah tangga dan mendidik anak-anak dalam perkawinan beda agama atau beda Gereja. Secara prinsip, bagi umat Katolik yang secara sadar tidak mengikuti Misa hari Minggu atau hari besar yang ditentukan oleh Gereja menjadi hari raya wajib dan tahu bahwa itu adalah dosa yang berat, maka dia sebenarnya telah melakukan dosa besar. Dengan demikian, pasangan anda yang beragama Katolik memang sudah seharusnya mengikuti Misa dan tidak mengikuti ibadah di agama yang lain. Dalam hal ini, ada perbedaan konsep ekklesiologi dan sakramen. Silakan membaca artikel tentang Gereja di sini – silakan klik dan diskusi tentang perpecahan gereja di sini – silakan klik. Dan artikel dan tanya jawab tentang Ekaristi, anda dapat melihatnya di sini – silakan klik.

      Jadi, kalau melihat situasi yang anda hadapi, maka anda dan calon istri anda perlu mendiskusikan hal ini secara sungguh-sungguh dalam suasana kasih. Bawalah permasalahan ini dalam doa bersama, sehingga hubungan anda berdua semakin dikuatkan oleh Tuhan.

      Kalau menurut saya, karena anda sendiri tidak berkeberatan untuk masuk ke Gereja Katolik dan calon anda berkeberatan untuk beribadah selain Ekaristi, maka menjadi masuk akal kalau anda dapat masuk ke dalam Gereja Katolik. Namun, yang perlu ditekankan adalah anda bukan masuk dan dibaptis dalam Gereja Katolik karena ikut-ikut, namun benar-benar meyakini bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang didirikan oleh Kristus sendiri. Mungkin ini adalah saat yang tepat bagi anda dan pasangan anda untuk dapat semakin mendalami iman kristiani. Semoga masukan ini dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  13. Fransiskus Dany on

    Bu Inggrid mohon jelaskan bagi saya tentang Baptisan,ada selam,ada percik,bagaimana yang sebenarnya menurut Kitab Suci. terima kasih

    [dari katolisitas: silakan melihat jawaban di atas - silakan klik]

  14. Shalom Tim Katolisitas,

    Saya ingin bertanya lebih lanjut. Apakah orang yang tadinya sudah dibaptis secari Katolik dan menerima Sakramen Krisma tapi akhirnya pindah dan dibaptis selam ke Kristen non-Katolik karena alasan tertentu, bisa kembali ke Katolik lagi?

    • Shalom Robin,

      Terima kasih atas pertanyaannya. Kalau seseorang telah menerima Sakramen Baptis dan Sakramen Pengakuan namun kemudian dibaptis selam, maka dia dapat kembali ke pangkuan Gereja Katolik, karena Gereja Katolik senantiasa akan menerima dan bahkan merangkul umatnya yang ingin kembali ke pangkuan Bunda Gereja. Yang pertama harus dilakukan adalah menerima Sakramen Tobat, sehingga orang tersebut dapat menerima pengampunan dan kemudian dapat menerima Ekaristi Kudus. Orang tersebut dapat menceritakan mengapa dia sampai pergi meninggalkan Gereja katolik dan kemudian dibaptis di gereja lain. Temukan akar masalahnya, apakah orang tersebut pindah ke gereja lain karena mencari kebenaran, terbawa teman, rindu komunitas yang hangat, dll. Setelah menemukan akar permasalahan, kemudian cobalah untuk mencari solusi untuk menyelesaikan masalah itu, seperti: bergabung dalam pendalaman Alkitab jika ingin mencari kebenaran, atau bergabung dalam komunitas Gereja jika rindu untuk mendapatkan teman-teman, dll. Namun, lebih daripada itu, orang tersebut harus menyadari bahwa Gereja Katolik adalah Gereja yang didirikan oleh Kristus sendiri, sehingga orang yang ingin mengenal dan mengasihi Kristus secara lebih mendalam dan menyeluruh mau memberikan segala yang ada pada dirinya dan masuk ke Gereja yang didirikan oleh Kristus sendiri. Silakan membaca artikel ini – silakan klik. Semoga dapat membantu.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – katolisitas.org

  15. Shalom Team Katilisitas,

    Mau tanya nich? Istri saya dulunya Protestan. Masuk Katolik ketika nikah tanpa dibaptis ulang. Menurut Romo Paroki baptisan sebelumnya sudah sah, jadi cukup dengan upacara Diterima Secara Resmi. Pertanyaan saya :
    1. Apakah Surat Baptisannya perlu dibuat ulang (dikeluarkan oleh Gereja Katolik) atau masih pakai Surat Baptisan yang lama (dari Gereja Protestan).
    2. Kalau Surat Baptisan dari Gereja Protestan itu hilang, bisakah meminta Gereja Paroki yang menerimanya itu mengeluarkan Surat Baptisannya (misalnya yang copy gitu)? Kalau tidak bisa apa yg bisa kami lakukan untuk membuktikan bahwa ia sudah dibaptis? Perlukah kembali ke Gereja sebelumnya (protestan) untuk meminta salinan surat baptisnya?
    Mohon masukannya. Terima kasih sebelumnya.

    Salam Dalam Kasih Kristus.

    • Simon Yth

      Berdasarkan keterangan pastor paroki anda bahwa baptisannya telah sah maka artinya baptisan istri anda itu tetap sah di hadapan Gereja Katolik. Surat hilang bisa minta salinan baru di gereja Protestan di mana dia dulu dibaptis. Kedua yang perlu dilakukan adalah petugas sekretariat paroki Gereja Katolik mencatat dalam buku baptisan pengukuhan kembali dari baptis Protestan dan diberi nomor sesuai urutan di buku baptis paroki anda berdomisili. Gereja Katolik tidak mengeluarkan surat baptis bagi dia yang sudah pernah dibaptis dengan sah di gereja lain, tetapi surat keterangan pengukuhan baptisan ke dalam Gereja Katolik (pastor paroki bisa membuatkan). Demikian jawaban saya semoga dipahami.

      salam
      Rm Wanta

  16. Felix Sugiharto on

    Shalom Bu Ingrid.

    Saya memahami sebuah pembaptisann yan terpenting adalah makna pembapitsannya..
    Saya ingin mennanyakan sejarah dalam Gereja Katolik sejak Gereja awal, apakah pernah mengalam pekembangan perobahan tata cara pembaptisannya ? sebagai contoh, dulu memang di sungai Yordan, pernah mengalami perobahan tata cara pembaptisan, atau di sesuaikan keadaan daerah, namun di Indonesia seperti yang kita ketahui sekarang dsb.. (untuk menambah wawasan bersama)

    Demikian pertanyaan saya, terima kasih.

    Salam Damai
    Felix Sugiharto

    • Shalom Felix,

      Benar pengertian anda bahwa yang terpenting adalah makna Pembaptisan, dan cara-nya menurut Gereja Katolik harus mempunyai dua unsur utama yang tidak dapat diubah, yaitu: 1) forma/ form pembaptisan, yaitu Pembaptisan dalam nama Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus, dan 2) materia/ matter, yaitu dengan menggunakan air.

      Yesus memberikan teladan kepada kita dengan memberikan diri-Nya dibaptis oleh Yohanes Pembaptis di sungai Yordan (Mat 3:13-17, Mrk 1:9-11; Luk 3:21-22; Yoh 1:32-34). Maka melalui Pembaptisan-Nya, Yesus bermaksud menunjukkan 1) solidaritas-Nya dengan kita, sebab Ia mau mengidentifikasikan diri-Nya dengan kita manusia, supaya melalui Pembaptisan ini pulalah kita mendapatkan identifikasi-Nya, yaitu sebagai anak- anak angkat Allah; 2) pentingnya kelahiran kembali dalam air dan Roh (Yoh 3:15) sebagai awal kehidupan ilahi dalam Kristus untuk masuk dalam Kerajaan Allah; 3) pentingnya pembaptisan itu bagi keselamatan kekal. Selanjutnya tentang makna Pembaptisan, silakan klik di sini.

      Bagi kita umat beriman, makna Pembaptisan adalah: 1) bersatu dengan kematian Yesus, kita mati terhadap dosa, untuk bangkit bersama Kristus; 2) permandian kelahiran kembali dan hidup baru di dalam Roh kudus; 3) kita memasuki pintu gerbang kepada sakramen- sakramen lain yang menghantar kita kepada keselamatan; 4) kita digabungkan menjadi anggota Tubuh Kristus/ Gereja; 5) kita mengambil bagian dalam misi Kristus.

      Selanjutnya, dalam Kitab Suci, tidak disyaratkan secara eksplisit bahwa Pembaptisan harus dilakukan di sungai Yordan dengan cara diselamkan. Sebab makna yang ingin disampaikan di atas, juga dapat disampaikan dengan cara lain seperti dituangi air ataupun dicelupkan air. Sebab dengan menggunakan air maka unsur “permandian” dapat digambarkan. Rasul Paulus sendiri dibaptis oleh Ananias di Damsyik, bukan di sungai Yordan (Kis 9: 10-18; 22:11-16); demikian pula Rasul Petrus membaptis Kornelius di rumahnya, sesaat setelah ia menerima Roh Kudus (lih. Kis 10); Rasul Filipus membaptis sida- sida Etiopia di tengah perjalanan pulang ke Etiopia (lih. Kis 8:36-38).

      Selanjutnya, tentang caranya. Memang Baptisan dapat dilakukan dengan diselam atau dituangkan air. Kitab Suci sendiri tidak pernah menuliskan secara eksplisit harus diselamkan. Baptisan 3000 orang oleh para rasul tidak dikisahkan dilakukan dengan diselamkan atau dituangi air (Kis 2:41). Didache (80-110), kumpulan ajaran para rasul di adab pertama menuliskan bahwa baptisan dengan dicelup/ dituangkan itu diizinkan: “… baptislah di dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus dengan air yang mengalir. Tapi jika kamu tidak mempunyai air yang mengalir, baptislah dengan air yang lain; kalau tidak ada air dingin, gunakan air hangat. Tetapi kalau kamu tidak punya air sedemikian, tuanglah air pada kepala sebanyak tiga kali, di dalam nama Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus….” [i]

      Beberapa gambar dari bukti arkheologis pada abad ke-4 dan 5 menunjukkan penuangan air ke atas umat yang dibaptis yang berdiri di depan pipa air yang mencurahkan air ke atas kepala mereka. [ii] Maka kemungkinan penuangan air ini disebabkan alasan kepraktisan, terutama jika jumlah umat yang dibaptis cukup banyak. Meskipun cara selam memang lebih ekspresif dalam menyampaikan maknanya, namun cara dituangi air juga tetap menyampaikan makna utama pembaptisan sebagai “dicelupkan, dipermandikan.” [iii]

      Baik cara selam ataupun dituangi air, namun yang terpenting adalah membaptis dalam nama Allah Trinitas dalam air, sebab menurut St. Paulus dan At. Agustinus, baptisan artinya adalah mati bersama Kristus terhadap dosa, untuk bangkit bersama-Nya dalam kehidupan yang baru. [iv] Pengertian inilah yang dituliskan dalam Katekismus KGK 1214 yang dinyatakan di dalam ritus Pembaptisan, “Semoga semua yang dikuburkan dengan Kristus di dalam kematian pembaptisan, bangkit pula bersama-Nya ke dalam kehidupan yang baru.”[v].

      Selanjutnya, sudah sejak awal mula, dan kemudian ditekankan kembali oleh Konsili Vatikan II untuk merayakan ketiga sakramen awal yaitu Pembaptisan, Ekaristi dan Penguatan secara bersama- sama sebagai sakramen Inisiasi pada orang dewasa.

      Tiga sakramen ini memungkinkan seseorang dilahirkan kembali, dikuatkan, dan bertumbuh dalam iman Kristiani.

      Katekismus Gereja Katolik (KGK, 1212) menuliskan “Sakramen-sakramen inisiasi Kristen – Pembaptisan, Penguatan, dan Ekaristi – meletakkan dasar-dasar kehidupan Kristen. “Dianugerahi oleh rahmat Kristus, manusia diberi bagian dalam kodrat ilahi. Dalam hal ini terdapat keserupaan tertentu dengan jadinya, bertumbuhnya, dan dikuatkannya kehidupan kodrati itu. Dilahirkan kembali dalam Pembaptisan, umat beriman diteguhkan oleh Sakramen Penguatan dan dikuatkan oleh roti kehidupan abadi dalam Ekaristi. Jadi, oleh Sakramen-sakramen inisiasi mereka dibawa masuk semakin jauh ke dalam kehidupan Allah dan semakin mendekati cinta yang sempurna” (Paulus VI, Ap. Konst. “Divinae consortium naturae”) Bdk. OICA praenotanda 1-2.

      Demikianlah yang dapat saya tuliskan sekilas tentang perkembangan tata cara pembaptisan. Semoga berguna.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org


      Sumber:

      [i]See. T Klauser, in Pisculi quoting Didache 7. 1-3, pp.157 ff, which says, “… baptize in the name of the Father and of the Son, and of the Holy Spirit in living (running) water. But, if you have not living water, then baptize in other water, if you are not able in cold, then in warm. But, if you have neither, then pour water on the head thrice in the name of the Father and of the Son and of the Holy Spirit.”

      [ii] Cf. J.G. Davies, Architectural Setting, pp 25-6.

      [iii] Cf. CCC 1239 Baptism is performed in the most expressive way by triple immersion in the baptismal water. However, from ancient times it has also been able to be conferred by pouring the water three times over the candidate’s head.

      [iv] St Augustine, in Enchiridion 8 ch. 42, writes, “The sacrament of Baptism indicates our death with Christ to sin and our resurrection with Him to newness of life.”

      [v] Rite of Baptism for Several Children: Celebration of the Sacrament and Concluding Rite, #54

  17. Salam Katolisitas dan teman-teman pembaca setia Katolisitas. Jika cara baptisan mutlak harus sesuai dengan Alkitab, mestinya dilakukan di sungai yang airnya mengalir sepinggang seperti di sungai Jordan, atau pergi ke sungai Yordan sana sekalian. Masalahnya, teman-teman protestan itu menafsirkan Alkitab langsung dari kata-kata alkitab belaka, sering tidak paham tradisi dan semangat yang melingkupi konteks zaman dan masyarakat yang membuat kata-kata itu dituliskan di Alkitab itu. Tetapi tugas kita jika mengetahui hal itu mengingatkan dan memberikan pencerahan kepada, agar esensi baptisan yaitu keselamatan diperjuangkan. Jangan hanya percaya pada Yesus tetapi tak terbukti masuk dalam Gereja TubuhNya yang kelihatan di dunia. Katolik lebih tegas dan jelas masuk akal daripada paham protestan mengenai keselamatan bagi saya pribadi. Shaloom. Isa inigo.

  18. Saya bingung pilih yang mana (saya belum dibaptis)
    ” Berbahagialah orang yang mendengar … dst “, tapi makin banyak mendengar
    makin bingung, semua mengklaim versi mereka yang benar
    TUHAN YANG MENCIPTAKAN MANUSIA SEMUA, AJARILAH ANAKMU INI DAN BUKALAH MATA KAMI SEMUA

    • Shalom Ferdi,
      Terima kasih atas pertanyaannya. Saya menganjurkan agar Ferdi membawa intensi ini di dalam doa. Dalam pencarian kebenaran ini, maka kita harus menempatkan kebenaran lebih tinggi dari semua kepentingan pribadi. Kalau Ferdi masih bingung dengan agama Kristen atau yang lain, maka Ferdi dapat membaca artikel ini (silakan klik). Kalau Ferdi masih bingung dengan agama Katolik atau Kristen non-Katolik, silakan membaca artikel ini (silakan klik). Kalau setelah membaca artikel tersebut, Ferdi masih mempunyai pertanyaan atau keberatan, silakan menyampaikannya kepada kami.
      Semoga Tuhan memberikan rahmat-Nya kepada Ferdi dalam perjalanan untuk mencapai kebenaran.

      Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
      stef – http://www.katolisitas.org

  19. Shalom Bu…
    Pertama2 saya ucapkan terima kasih kepada team katolisitas.org yang telah begitu sabar menjawab semua pertanyaan2 maupun keragu2an serta kesalahpahaman baik yang terdapat di kalangan umat2 Katolik maupun yang non Katolik.

    Berikut ini saya mohon penjelasan tambahan tentang “Baptisan Ulang” dan “Peneguhan Baptisan” di dalam kasus seperti yang saya ceritakan di bawah ini….
    Alasan dari saya mengangkat kedua kasus tsb disebabkan oleh banyak-banyak sekali terjadi penyeberangan umat Katolik ke agama Protestan dengan berbagai2 alasan dan keadaan yang membuat kita semua perlu menyimak/memahami dampak serta akibat serta tanggug jawab kita sebagai umat2 pilihan, terutama bagi saudara2 kita yang seiman (iman Katolik).

    1. Kejadian Baptis Ulang:
    Saya mengenal seorang anak remaja, sudah pernah di Baptis sejak lahir (Baptisan katolik), karena pada waktu usia kanak2 kedua orang tuanya bercerai, dimana anak tersebut secara pribadi tidak mengetahui bahwa telah di Baptis di Katolik sejak lahir, ketika sudah remaja anak tsb menerima Baptisan Protestan (Baptis Selam). Saat ini remaja tsb sudah usia 20 tahun yang sampai saat ini pun tidak mengetahui bahwa pernah di baptis secara katolik.

    Pertanyaan saya:
    Apakah anak ini akan memperoleh keselamatan sesuai dengan janji Tuhan.
    Akankah timbul suatu hambatan pertumbuhan rohani yang mempengaruhi hubungan pribadinya dgn Tuhan?
    Apakah anak tsb perlu di beri tahu atau tetap merahasiakan perihal baptisan Katolik-nya?

    2. Kejadian Peneguhan Baptisan:
    Hal ini terjadi juga pada seorang remaja yang tadinya menerima Baptisan di Gereja Katolik, seperti lazimnya mengikuti Katekuman di Gereja A. setelah di Baptis menyeberang ke Gereja Protestan yang ber awal pada alasan ‘imannya tumbuh di Gereja Protestan’ dan dengan berjalannya waktu kemudian menerima semacam ‘Peneguhan Baptisan’ di Gereja ini yang konotasinya meninggalkan Gereja Katolik.

    Pertanyaan saya:
    Apakah anak ini akan memperoleh keselamatan sesuai dengan janji Tuhan?
    Akankah timbul suatu hambatan pertumbuhan rohani yang mempengaruhi hubungan pribadinya dgn Tuhan, meskipun di akuinya bahwa imannya tumbuh di Gereja Protestan?
    Bagaimana menyikapinya apabila hal tsb terjadi dalam keluarga kita sendiri (masing2)?
    Apa arti sisi rohani “Peneguhan” itu?

    Di dalam kita mengamati/memperhatikan hal penyebrangan yang sering terjadi yang tadinya umat Gereja Katolik menjadi umat Protestan, (saya menekankan terjadinya penyeberang2 bagi yang kanak2 maupun kalangan sudah dewasa) dengan mendapatkan penjelasan dari team katolisitas akan membuka mata hati bagi saudara2 kita yang seiman untuk dapat lebih memahami/menjelaskan bagi pihak2 yang meragukan baptisan Katolik. sebab banyak terjadi Baptisan-baptisan ulang yang tadinya di Baptis Katolik dan menyeberang ke denominasi lain disebabkan karena factor2 seperti alasan imannya tidak tumbuh, baptisan Katolik tidak sah, ikut agama pasangan hidupnya, panggilan saya tidak di Katolik, ibadah umat Katolik tidak pernah bawa Alkitab, yang penting Yesus-nya bukan Pastornya, di gereja Katolik tidak ada urapan dlsb. bahkan pernah ada seorang pengajar (bukan Katolik) pernah mengaku kepada saya dimana dia pernah mengalami 4 kali Baptisan yang mana hanya ingin meyakinkan sebuah baptisan yang menurut dirinya terbaik juga paling benar…..

    Sekian, mohon masukan/penjelasannya.
    Salam sejahtera.
    Felix SB

    • Felix Yth

      Pertanyaanmu banyak dan panjang bisa dibuatkan seminar khusus baptisan.
      Tapi begini saya beri prinsipnya saja sejauh yang saya tahu dan pelajari:
      1. Pembaptisan menurut Gereja Katolik hanya sekali lihat arti baptis. Karena itu di dalam keraguan bisa dibaptis dengan bersyarat (conditional) baca dalam kan. 869.
      2. Penyeberangan ke Protestan adalah masalah kita bersama. Kalaupun diulang lagi itu hak mereka tapi pembaptisan merupakan meterai tak terhapuskan. Perihal keselamatan dari Tuhan itu hak dari Tuhan, tapi iman kita mengajarkan orang yang dibaptis akan diselamatkan asalkan dalam perjalanan hidup dia tidak menolak Yesus Tuhan sebagai penyelamat manusia.
      3. Pentingnya pendidikan iman katolik bagi umat agar tidak menyeberang ke gereja lain.

      salam
      Rm Wanta

      Tambahan dari Ingrid:

      Shalom Felix,
      1. Gereja Katolik mengimani adanya satu Pembaptisan, yang artinya Pembaptisan hanya dapat dilakukan sekali seumur hidup. Dalam syahadat Aku percaya, hal ini jelas disebutkan. Gereja Katolik mengajarkan demikian, justru karena percaya bahwa Yesus sendiri-lah yang memeteraikan jiwa seseorang melalui Pembaptisan, maka meterai itu tidak dapat dibatalkan.
      Jika anak itu tidak tahu bahwa ia dulu sudah pernah dibaptis namun kemudian ia dibaptis ulang, maka sebenarnya ia tidak bersalah. Namun jika seseorang sudah tahu ia pernah dibaptis, namun kemudian dibaptis ulang, sebenarnya pertanyaannya adalah, apakah ia mengetahui bahwa seseorang cukup dibaptis satu kali saja. Memang adalah hak orang itu untuk menentukan, tetapi sesungguhnya, jika seseorang sudah dibaptis dengan maksud, materia dan forma yang benar, ia tidak perlu dibaptis ulang, karena malah sepertinya menganulir yang sudah dimeteraikan oleh Kristus, dan ini justru tidak benar.
      Selanjutnya apakah anak itu dapat selamat, memang masih tergantung dari anak tersebut, apakah ia sungguh-sungguh mencari Tuhan dan melaksanakan perintah-perintah Tuhan dengan hidup dalam kasih/ kekudusan. Jika ia terus mencari Tuhan dan dengan menjalankan perintah-perintah-Nya sesuai dengan hati nurani-nya, maka ia dapat diselamatkan. Soal dia diberitahukan tentang Baptisan Katoliknya, sebenarnya tidak menjadi masalah, jika memang itu faktanya. Mungkin ini dapat menjadi pintu baginya untuk mau belajar mengenai iman Katolik.

      2. Masalah adanya banyak umat Katolik yang pindah ke Gereja Protestan, mungkin menarik perhatian anda, namun jangan lupa keadaan yang sebaliknya juga lumayan banyak terjadi. Di Amerika ini malah banyak orang yang tadinya Protestan, malah tak jarang, tadinya pendeta Protestan, memutuskan untuk menjadi Katolik, justru setelah mempelajari Alkitab, sejarah Gereja, tulisan-tulisan jemaat Kristen awal dan para Bapa Gereja. Nama-nama seperti Scott Hahn, Jeff Cavin, Tim Staples, Dave Amstrong, Marcus Grodi, David Twellman, dan lain-lain adalah beberapa orang di antaranya. Program TV Katolik di Amerika (yang juga dapat diterima oleh banyak negara di dunia, yang bernama EWTN (Eternal World Television Network), melalui acara seri yang berjudul “Journey Home” terus menerus menyiarkan kesaksian orang-orang yang masuk ke Gereja Katolik.

      3. Jadi kesimpulannya, semakin kita mengerti makna Pembaptisan, malah semakin kita mengetahui bahwa Pembaptisan itu bukan sesuatu yang harus dialami berkali-kali. Justru karena kita menghormati kuasa Yesus sendiri yang membaptis kita melalui Gereja-Nya.

      Salam kasih dalam Kristus Yesus,
      Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org

  20. K.Paulus J.C on

    Shalom katolisitas

    Baru-baru ini ada adik teman saya yang dahulu katolik dan sekarang sudah berpindah ke protestan(maaf, denominasinya tidak saya sebutkan), dan dasar pemindahannya itu diolehkarnakan baptisan katolik tidak dilakukan dengan baptisan selam sehingga tidak sah.-
    Mohon pencerahannya, terima kasih.-

    Salam kasih,
    K.Paulus J.C

      • K.Paulus J.C on

        Shalom Ibu Inggrid,

        Terima kasih atas jawabannya, pada prinsipnya saya setuju dimana pada awalnya sayapun sempat berdebat dengan teman saya tentang hal tersebut dimana saya mengatakan bahwasanya hal tersebut hanya alasan yang dicari-cari saja dan saya mengemukakan jika adikmu mengatakan bahwasanya baptis selam harus wajib seperti dimana Rasul Yohanes membaptis Yesus, maka sayapun bisa mengatakan bahwa baptis selam yang sekarang dilakukan oleh adikmu adalah tidak sah karna tidak dilakukan di Sungai Yordan ! dan seumpamanya adikmu dibaptis di Sungai Yordan dan sayapun bisa mengatakan bahwasanya itu tidak sah diolehkarnakan tidak dibaptis tepat dilokasi/posisi dimana Rasul Yohanes membaptis Yesus dst…dstnya.-
        Kalau begitu…, saudara-saudari kita yang kurang beruntung jelas tidak dapat dibaptis / mengikuti Yesus karna alasan biaya untuk pergi ke sungai Yordan ? Apakah ini masuk diakal budi kita….?
        Lanjut, dan ibu Inggrid, disini saya mau bertanya apa artinya ayat ini :
        Yohanes 1 : 32 Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya :”Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dari Ia tinggal di atas-Nya. 33.Dan aku pun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku : Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus.- 34.Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian : Ia inilah Anak Allah.-

        Salam kasih,
        K.Paulus J.C

        • Shalom Paulus,
          Berikut ini adalah interpretasi dari ayat Yoh 1:31-34, menurut A Catholic Commentary on Holy Scripture, general editor Dom Bernard Orchard OSB, p. 982:
          ay. 31, Pernyataan Yohanes bahwa ia tidak mengenal Yesus maksudnya adalah mengenali Yesus dengan melihat Dia (visual recognition). [Karena sebelum membaptis di sungai Yordan] Yohanes Pembaptis tinggal di padang gurun selama 20 tahun.
          ay. 32-33, Meskipun demikian, dengan inspirasi ilahi, ia mengenali Yesus sebelum ia membaptis, seperti tertera dalam Mat 3:14; tanda ilahi yang membuat ia mengenali Yesus, dan untuk menyatakan Dia kepada Israel adalah burung merpati, sebab hanya Sang Pemberi Baptisan oleh air yang mengenali Dia yang akan membaptis dengan api. [Baptisan dengan api] ini mengacu tidak hanya pada pemurnian total yang ditandai dengan api, namun juga secara menubuatkan hari Pentakosta.
          ay. 34, Kalimat, “Ia inilah Anak Allah” merupakan perkataan sempurna yang keluar dari mulut Yohanes Pembaptis: sebab hal itu tidak dinyatakan kepadanya oleh manusia, tetapi oleh suara yang terdengar dari sorga pada saat pembaptisan Yesus tersebut [lih. Mat 3:17] dan penerangan batin yang dialaminya sebagai Perintis kedatangan Yesus Kristus Penyelamat kita.

          Dari penjelasan di atas kita mengetahui bahwa Tuhan memberikan inspirasi ilahi kepada Yohanes Pembaptis untuk mengenali Yesus Kristus sebagai Putera Allah, walaupun ia sebelumnya tidak pernah bertemu Yesus. Hal ini tidaklah mengherankan mengingat bahwa misi yang disandang oleh Yohanes Pembaptis adalah sangat khusus; yaitu sebagai pembuka jalan/ perintis untuk mempersiapkan kedatangan Yesus. Maka tak mengherankan seluruh hidupnya ditujukan untuk menanti saat ia dapat bertemu dengan Kristus, yang kepada-Nya ia mempersembahkan seluruh hidupnya, dengan berpuasa, dan berdoa di padang gurun untuk mempersiapkan bangsa Israel kepada pertobatan dan pembaptisan dengan air. (lih Mat 3:1-6, 11). Yesus sendiri memuji Yohanes Pembaptis sebagai seseorang yang terbesar yang pernah dilahirkan di dunia (Mat 11:11), karena peran istimewanya itu. Yohanes Pembaptis adalah orang yang mengenali Kristus sebagai Anak Allah [tentu setelah Bunda Maria], sebelum Petrus akhirnya juga mengenali-Nya sebagai Mesias, Anak Allah (lih Mat 16:16).

          Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
          Ingrid Listiati

Add Comment Register



Leave A Reply