Baptisan Gereja Katolik tidak sah karena tidak dibaptis selam?

37

St. Thomas Aquinas dalam bukunya Summa Theologica, part III, q. 66, a. 7 membahas khusus tentang baptis selam, dan berikut ini adalah terjemahkan pertanyaan/ (keberatan 1-3) dari pihak yang bertanya dan jawaban 1-3 yang diberikan St. Thomas terhadap keberatan tersebut, yaitu:

Artikel 7. Apakah Baptis Selam (immersion) merupakan sesuatu yang mutlak untuk Pembaptisan?

[Berikut ini adalah beberapa keberatan/ pertanyaan yang ditujukan]
Keberatan 1. Kelihatannya, baptis selam mutlak diperlukan untuk Pembaptisan. Sebab ada tertulis dalam Efesus 4:5: "Satu iman, satu Baptisan." Tetapi di banyak tempat di dunia cara Pembaptisan yang umum adalah dengan pencelupan/ baptis selam. Maka kelihatannya tidak ada Pembaptisan jika tanpa pencelupan/ selam.

Keberatan 2: Selanjutnya, Rasul Paulus berkata (Rom 6:3-4): "Kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya." Tetapi ini dilakukan dengan pencelupan/ selam: Sebab St. Yohanes Krisostomus berkata tentang Yoh 3:5: "Jika seorang tidak dilahirkan kembali dari air dan Roh… dst": "Ketika kita mencelupkan kepala kita ke bawah air seperti seolah masuk ke dalam kubur, manusia yang lama di dalam kita dikuburkan, dan dengan ditenggelamkan, tersembunyi di bawah, dan kemudian dibangkitkan kembali, kita menjadi manusia baru." Maka, kelihatannya pencelupan/ selam adalah mutlak untuk Pembaptisan.

Keberatan 3. Lebih lanjut, jika Pembaptisan sah tanpa penyelaman total pada seluruh badan, maka akibatnya, menjadi cukup jika air dituangkan hanya di beberapa bagian dari tubuh saja. Tetapi ini kelihatannya tidak masuk akal, sebab dosa asal, yang akan diobati sebagai tujuan utama Pembaptisan, tidak hanya terdapat dalam salah satu bagian tubuh. Oleh karena itu, kelihatannya pencelupan/ baptis selam adalah mutlak perlu untuk Pembaptisan, dan bahwa Baptis percik saja tidak cukup.

[Berikut ini adalah jawaban dari St. Thomas Aquinas]
Sebaliknya, dikatakan dalam Ibr 10:22: "…Marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan dengan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni." ['dibersihkan' ini  terjemahan dari kata 'sprinkled ' dan 'dibasuh' dari kata 'washed', jika kita melihat dari Alkitab bahasa Inggris- Revised Standard Version, dan  Jerusalem Bible, dan 'sprinkled ' sebenarnya artinya adalah diperciki air [sehingga bersih]. "…Let us draw near with a true heart in full assurance of faith, with our hearts sprinkled clean from an evil conscience and our bodies washed with pure water.]

Saya menjawab bahwa, di dalam Sakramen Pembaptisan, air digunakan untuk pembasuhan tubuh, untuk menandai pencucian rohani dari dosa-dosa. Sekarang pencucian/ pembasuhan dapat dilakukan dengan air, tidak saja dengan pencelupan/ selam, tetapi juga oleh percikan atau penuangan air. Dan, meskipun lebih aman dilakukan dengan pencelupan/ selam karena itu lebih umum dilakukan, namun Pembaptisan dapat dilakukan dengan pemercikan/ penuangan, sesuai dengan Yehezkiel 36:25, "Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih" [mencurahkan di sini adalah terjemahan dari kata 'pour', yang juga berarti menuangkan, "I will pour upon you clean water..."]seperti cara Pembaptisan yang telah dilakukan oleh Laurentius yang Terberkati. Dan terutama pada keadaan mendesak: entah karena banyaknya jumlah orang yang dibaptis, seperti yang jelas tertulis dalam Kis 2 dan 4, ketika kita membaca bahwa dalam sehari ada 3000 orang dibaptis, dan pada kesempatan lain 5000 orang, atau jika persediaan air terbatas, atau karena keterbatasan/ kelemahan dari imam yang membaptis yang tidak dapat [tidak kuat]mengangkat katekumen dari dalam air, atau kelemahan dari katekumen yang kehidupannya [kesehatannya]dapat terancam dengan pembaptisan selam. Maka, kita harus menyimpulkan bahwa Pembaptisan selam tidak mutlak untuk Pembaptisan.

Jawaban untuk keberatan 1. Apa yang merupakan sesuatu yang tidak utama/accidental yang ada pada suatu benda tidak dapat mengubah hakekat/ esensi benda itu. Sekarang, pembasuhan/ pencucian tubuh adalah sesuatu yang esensial pada Pembaptisan: maka Pembaptisan dikatakan sebagai ‘yang menyucikan dengan memandikan’ seperti yang ditulis dalam Efesus 5:26, "…Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman." [atau 'laver' dalam bahasa Inggris]Namun, bahwa pembasuhannya dilakukan dengan cara ini atau itu, adalah sesuatu yang tidak utama/ accidental. Maka akibatnya, perbedaan cara ini tidak menghancurkan kesatuan makna Pembaptisan.

Jawaban untuk keberatan 2. Pemakaman Yesus lebih jelas diwakilkan oleh pencelupan: sehingga cara ini adalah cara yang lebih sering dilakukan dan lebih dianjurkan. Tetapi dengan cara lainpun hal ini dilakukan, walaupun tidak secara sangat jelas, sebab dalam cara apapun juga pencucian dilakukan dengan melibatkan tubuh atau sebagian anggota tubuh, yang diletakkan di air, seperti Tubuh Kristus juga dahulu diletakkan di dalam kubur.

Jawaban untuk keberatan 3. Yang menjadi prinsip utama tubuh, terutama dalam kaitannya dengan anggota-anggota tubuh, adalah kepala, di mana segala kemampuan perasaan, baik di dalam hati maupun di luar (interior maupun eksterior), semua dikendalikan olehnya. Oleh karena itu, kalau seluruh tubuh tidak dapat dikenakan dengan air, karena keterbatasan air atau alasan lainnya, yang mutlak adalah menuangkan air ke kepala, di mana secara prinsip kehidupan manusia tersebut dinyatakan.

Dari jawaban di atas, kita ketahui bahwa St. Thomas membedakan hal yang secara esensial diperlukan dalam Pembaptisan, dan hal yang tidak esential, yang disebutnya sebagai ‘accidental’. Pembedaan ini memang berdasarkan pengertian filosofis, untuk menangkap essensi dari sesuatu. Jika diterapkan dalam konteks manusia, maka 1) pada hakekatnya manusia adalah mahluk yang mempunyai tubuh dan jiwa, diciptakan sesuai dengan gambaran Allah dan mempunyai akal budi dan kehendak bebas, 2) soal tinggi dan berat badannya, warna kulit dan bangsa, dst, adalah ‘accidental’.
Dalam hal Pembaptisan,  yang terpenting adalah unsur pembasuhan/ pencucian, untuk menandai pembersihan rohani (interior) terhadap dosa-dosa, sedangkan caranya adalah ‘accidental‘.

Sebagai catatan tambahan, akan sulit jika kita mensyaratkan bahwa Pembaptisan harus dilakukan persis sama seperti Baptisan Yesus. Sebab jika demikian, maka Baptisan harus dilakukan di sungai Yordan, di tanah Israel. Lalu, meskipun dapat dilakukan, pertanyaan berikutnya adalah sungai Yordan bagian mana? Karena tidak ada orang yang bisa dengan persis menyebutkan lokasi Yesus dibaptis. [Lokasi tempat ziarah di s. Yordan sekarang juga merupakan perkiraan tempat pembaptisan Yesus]
Maka memang yang terpenting adalah kita menangkap esensinya, yaitu pembersihan jiwa/ rohani dari dosa-dosa akibat manusia yang lama dalam diri kita telah mati, dan kita dibangkitkan bersama Kristus menjadi manusia baru (lihat KGK 1214).

Di atas semua itu, kita menghormati pengajaran dari Para Bapa Gereja, yang kemudian diambil sebagai ajaran yang berlaku dalam Gereja Katolik. Mereka juga mengambil dasar dari Alkitab, dan juga mempertimbangkan perkembangan tradisi dalam kehidupan umat di seluruh dunia. Kebijaksanaan Gereja harus bisa berlaku umum di seluruh dunia, misal baik di Eropa, Amerika yang tidak kurang air, tapi juga di Afrika jumlah airnya terbatas. Atau pembaptisan pada orang sehat tetapi juga pada orang sakit, yang mungkin tak bisa baptis selam. Apakah kepada mereka yang tidak bisa dibaptis selam, berarti tidak bisa diberi Pembaptisan? Tentu tidak, bukan. Lagipula seperti disebut di atas, cara pencucian merupakan sesuatu yang ‘accidental’ dan bukan essensial. Maka Gereja Katolik mensyaratkan keabsahan Pembaptisan, jika terdapat 2 hal yang memenuhi syarat: 1) materia/matter, yaitu air jernih, 2) forma/form yaitu perkataan/ ritus Pembaptisan yang memakai formula Trinitarian, yaitu pembaptisan di dalam nama Allah Bapa dan Putera dan Roh Kudus; dengan intensi yang sama seperti yang dilakukan Gereja. (lihat KGK 1256, Kan. 849, Kitab Hukum Kanonik).

Mari kita dengan kerendahan hati menerima pengajaran Gereja Katolik, yang tentu didasari oleh landasan yang kuat, pengertian yang esensial, dan demi kepentingan semua umat tanpa kecuali. Dengan cara pikir seperti demikian, kita tidak gampang digoyahkan jika ada yang mengatakan baptis tuang tidak sah, atau baptis selam hanya satu-satunya yang sah. Kita tidak dalam posisi untuk menentang ketetapan Gereja, sebab kita mengakui bahwa kita tidak lebih besar dari para Bapa Gereja tersebut. Kristus telah memberi amanat kepada para rasul untuk membaptis semua bangsa, dan amanat ini diteruskan oleh para penerus rasul yang memimpin Gereja Katolik. Maka mari kita juga tunduk kepada keputusan Gereja, yang kepadanya Yesus telah mempercayakan amanat-Nya ini.

Share.

About Author

Stefanus Tay, MTS dan Ingrid Listiati, MTS adalah pasangan suami istri awam dan telah menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat.

37 Comments

  1. Dear Stef dan Romo Wanta yang saya hormati

    saya mengucapkan terimakasih atas semua penjelasannya, demikian sesuai dengan apa yang menjadi pertanyaan saya dan sayapun sudah jelas dan mengerti sebagai seorang katholik (belum babtis) oleh karena itu saya akan segera melaksanakan nasehat Romo dan penjelasan Stef .GBU