Iman dan pengabulan doa
Pertanyaan:
Pak Stef dan Bu Inggrid yth,
Setiap kali Yesus berkata: Imanmu telah menyelamatkanmu.
Pertanyaan saya:
- apa sih artinya “iman” itu?
- Bagaimanakah caranya agar kita bisa beriman dengan benar?
- Adakah hubungan antara Iman dengan: Mintalah maka kamu akan diberikan, ketoklah maka kamu akan dibukakan
- mengapa ada banyak orang yang meminta dengan sungguh-sungguh tetapi kok tidak diberikan juga, padahal sudah lama banget mintanya? misalnya minta jodoh! adakah hubungannya dengan iman disini?
Jawaban:
Shalom Pius Nugraha,
Terima kasih atas pertanyaan anda tentang iman, yang memang merupakan sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan kita sebagai murid- murid Kristus. Untuk memperoleh pengertian yang lebih mendalam tentang iman, maka saya akan membahasnya dari definisi terlebih dahulu, baru kemudian kita dapat melihat kepada penerapannya dalam hidup kita. Semoga setelah itu kita semua dapat memeriksa, sejauh mana kita telah sungguh- sungguh beriman, dan apakah doa- doa kita sudah kita panjatkan dengan iman yang benar, dan ya, termasuk doa memohon jodoh, bagi mereka yang sedang bergumul dalam hal ini.
1. Definisi iman dari Kitab Suci:
“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibr 11:1)
Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah… (Ef 2:8)
Dengan demikian kita mengetahui bahwa iman berkaitan dengan pengharapan akan keselamatan kekal yang diberikan karena kasih karunia Allah. Rasul Yakobus mengajarkan, bahwa agar iman itu menyelamatkan, maka iman itu harus disertai perbuatan-perbuatan kasih, sebab tanpa perbuatan, iman itu kosong dan mati.
“…iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna…. Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman…. Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati. (Yak 2:22,24,26)
Dengan demikian sangat eratlah kaitan antara iman dan kasih, sebab keduanya adalah karunia Roh Kudus. Iman, pengharapan dan kasih adalah kebajikan ilahi yang menghantar kita kepada keselamatan kekal oleh Kristus, dan yang terbesar di antara ketiganya itu adalah kasih.
Oleh Dia (Yesus Kristus) kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.” (Rom 5:2)
Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus. (1 Tim1:14)
Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. (1 Kor 13:2)
Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih. (1 Kor 13:13)
2. Pengertian iman menurut Magisterium Gereja Katolik
Iman, berasal dari kata pistis (Yunani), fides (Latin) secara umum artinya adalah persetujuan pikiran kepada kebenaran akan sesuatu hal berdasarkan perkataan orang lain, entah dari Tuhan atau dari manusia. Persetujuan ini berbeda dengan persetujuan dalam hal ilmu pengetahuan, sebab dalam hal pengetahuan, maka persetujuan diberikan atas dasar bukti nyata, bahkan dapat diukur dan diraba, namun perihal iman, maka persetujuan diberikan atas dasar perkataan orang lain. Maka iman yang ilahi (Divine Faith), adalah berpegang pada suatu kebenaran sebagai sesuatu yang pasti, sebab Allah, yang tidak mungkin berbohong dan tidak bisa dibohongi, telah mengatakannya. Dan jika seseorang telah menerima/ setuju akan kebenaran yang dinyatakan Allah ini, maka selayaknya ia menaatinya.
Maka tepatlah jika Magisterium Gereja Katolik menghubungkan iman dengan ketaatan dan mendefinisikannya sebagai berikut:
“Kepada Allah yang menyampaikan wahyu manusia wajib menyatakan “ketaatan iman” (Rom16:26; lih. Rom1:5 ; 2Kor10:5-6). Demikianlah manusia dengan bebas menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah, dengan mempersembahkan “kepatuhan akalbudi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah yang mewahyukan”[4], dan dengan secara sukarela menerima sebagai kebenaran wahyu yang dikurniakan oleh-Nya. Supaya orang dapat beriman seperti itu, diperlukan rahmat Allah yang mendahului serta menolong, pun juga bantuan batin Roh Kudus, yang menggerakkan hati dan membalikkannya kepada Allah, membuka mata budi, dan menimbulkan “pada semua orang rasa manis dalam menyetujui dan mempercayai kebenaran”[5]. Supaya semakin mendalamlah pengertian akan wahyu, Roh Kudus itu juga senantiasa menyempurnakan iman melalui kurnia-kurnia-Nya.” (Konsili Vatikan II tentang Wahyu Ilahi, Dei Verbum 5)
Maka dalam hal ini iman tidak berupa perasaan atau pendapat, tetapi merupakan sesuatu yang tegas, perlekatan akalbudi dan pikiran yang tak tergoyahkan kepada kebenaran yang dinyatakan oleh Tuhan. Maka motif sebuah iman yang ilahi adalah otoritas Tuhan, yaitu berdasarkan atas Pengetahuan-Nya dan Kebenaran-Nya. Jadi, kita percaya akan kebenaran- kebenaran itu bukan karena pikiran kita mampu sepenuhnya memahaminya atau kita dapat melihatnya, namun karena Allah yang Maha Bijaksana dan Maha Benar menyatakannya. Kebenaran yang dinyatakan oleh Allah ini diberikan melalui Sabda-Nya, yaitu yang disampaikan kepada kita umat beriman melalui Kitab Suci dan Tradisi Suci, sesuai dengan yang diajarkan oleh Magisterium Gereja Katolik, yang kepadanya Kristus telah memberikan kuasa untuk mengajar dalam nama-Nya. Nah, untuk menerima kebenaran yang dinyatakan Allah ini, diperlukan kasih karunia dari Allah sendiri, dan untuk menanggapinya dengan ketaatan, diperlukan kerjasama dari pihak kita manusia.
Selanjutnya, Katekismus Gereja Katolik mengajarkan,
KGK 1814 Iman adalah kebajikan ilahi, olehnya kita percaya akan Allah dan segala sesuatu yang telah Ia sampaikan dan wahyukan kepada kita dan apa yang Gereja kudus ajukan supaya dipercayai. Karena Allah adalah kebenaran itu sendiri. Dalam iman “manusia secara bebas menyerahkan seluruh dirinya kepada Allah” (Dei Verbum 5).Karena itu, manusia beriman berikhtiar untuk mengenal dan melaksanakan kehendak Allah. “Orang benar akan hidup oleh iman” (Rom 1:17) Iman yang hidup “bekerja oleh kasih” (Gal 5:6).
3. Iman mempunyai dimensi obyektif dan subyektif
Melihat penjelasan di atas, maka kita mengetahui bahwa iman mempunyai dimensi obyektif dan subyektif. Obyektif, karena dasar kepatuhan akalbudi dan kehendak kita adalah kebenaran dari Tuhan (dari Kitab Suci dan Tradisi Suci), yang tidak mungkin salah; namun juga subyektif karena berhubungan dengan kebajikan yang dimiliki oleh tiap- tiap orang, yang melaluinya ia dapat menjadi taat beriman.
4. Bagaimana beriman yang benar?
a. Dari uraian di atas, kita mengetahui bahwa iman adalah karunia Allah sehingga manusia dapat menerima apa yang diwahyukan Allah. Jadi untuk beriman yang benar, pertama- tama, kita harusmengetahui Kebenaran yang diwahyukan Allah itu. Kitab Suci mengajarkan:
“Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Rom 10:17)
Selanjutnya, Kitab Suci juga mengajarkan bahwa firman Kristus itu disampaikan secara lisan dan tertulis. Dengan demikian Gereja Katolik mengajarkan agar kita berpegang kepada Kitab Suci (ajaran firman Tuhan yang tertulis) dan Tradisi Suci (ajaran firman Tuhan yang disampaikan lisan oleh Kristus dan para rasul). Keduanya ini adalah sumber iman kita sebagai murid- murid Kristus. Rasul Paulus mengajarkan:
“Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.” (2 Tes 2:15)
Jadi langkah awal untuk beriman dengan baik, adalah kenalilah dan pelajarilah kebenaran firman Tuhan, baik melalui Kitab Suci maupun Tradisi Suci, dan keduanya ini disampaikan dengan setia oleh Magisterium Gereja Katolik.
b. Karena kita mengetahui bahwa iman kita peroleh dari kasih karunia Allah, maka untuk bertumbuh di dalam iman, kita juga harus mengandalkan kasih karunia Allah ini. Kita harus hidup di dalam Kristus dan menerima rahmat-Nya, dan kita umat Katolik menerima rahmat ini melalui sakramen- sakramen, terutama sakramen Ekaristi, di mana kita menyambut Tubuh Kristus sendiri.
“Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.” (Yoh 6:56-57)
c. Selanjutnya, untuk menjadikan iman itu benar- benar hidup dan bertumbuh, iman itu harus dibarengi dengan perbuatan kasih:
“Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” (Yak 2:26)
5. Apakah ada hubungan antara iman dengan pengabulan doa permohonan?
Adalah suatu yang menarik bahwa anda bertanya apakah ada hubungan antara iman dengan firman Tuhan yang mengatakan, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” (Luk 11:9-10; Mat 7:7). Jawabnya: Tentu ada. Jika permohonan kita belum dikabulkan, kita selayaknya memeriksa batin; apakah kita sudah meminta dengan benar kepada Tuhan? Sebab yang menjadi fokus utama pada saat kita “meminta” kepada Tuhan, seharusnya adalah segala sesuatu yang dapat menghantar kita kepada keselamatan kekal, yang menjadi tujuan iman kita. Jika itu yang kita minta dengan iman, pasti itu akan dikabulkan oleh Tuhan. Sebab, jangan lupa, selanjutnya Tuhan Yesus berkata:
“Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Luk 11:13)
“Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” (Yoh 15:7)
“Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.” (Yoh 16:24)
Jadi yang harus menjadi pertanyaan berikutnya adalah, apakah kita pernah meminta Roh Kudus, atau untuk hidup dalam pimpinan Roh Kudus? Apakah kita sudah tinggal di dalam Kristus dan di dalam firman-Nya, dan melaksanakan perintah- perintah-Nya? Apakah kita sudah memohon dalam nama Tuhan Yesus? Sebab hal- hal di atas belum dilakukan, maka sudah saatnya kita memperbaiki sikap batin kita, dan mulai melakukannya. Sedangkan jika sudah melakukannya, mari kita tingkatkan, supaya kita bertumbuh di dalam iman dan kebenaran, sebab Kitab Suci mengatakan:
“Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” (Yak 5:16)
Selanjutnya bagi kita umat Katolik, ini adalah kesempatan bagi kita untuk merendahkan hati dan memohon dukungan doa dari para orang kudus, terutama Bunda Maria. Kita belajar daripadanya, untuk mempunyai iman dan penyerahan diri yang total kepada Tuhan.
6. Mengapa sudah minta dengan sungguh- sungguh tetapi belum diberikan juga? Seperti minta jodoh.
Hal pengabulan doa memang merupakan hak Tuhan. Kita percaya bahwa Allah adalah Bapa yang baik dan Ia akan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (lih. Rom 8:28). Dengan mengimani hal ini, maka jika kita harus menunggu pengabulan doa kita, kita percaya bahwa Allah sedang membentuk kita sesuai dengan rencana-Nya. Dalam masa penantian ini, Tuhan menginginkan agar kita bertumbuh dalam iman dan ketekunan. Percaya sepenuhnya bahwa Allah Bapa kita akan memberikan yang terbaik; entah jawab-Nya : “Ya”, “tidak”, atau “tunggu”.
Dalam hal jodoh, memang ada bagian yang harus dilakukan dari pihak yang memohon kepada Tuhan. Orang ini harus juga membuka diri dalam pergaulan, melibatkan diri dalam suatu komunitas Katolik, jika ingin mendapatkan jodoh seiman, dan harus mempunyai sikap ramah dan bersahabat kepada semua orang. (Ikutilah persekutuan doa, kegiatan lingkungan/ mudika paroki, kursus evangelisasi, atau koor gereja, atau Legio Mariae, atau kursus Kitab Suci, atau kegiatan lain yang memungkinkan anda memperdalam iman anda dan berinteraksi dengan sesama umat beriman). Seseorang yang meminta jodoh, tidak bisa hanya tinggal di kamar atau di rumah sendiri, lalu berharap ada yang datang mengetuk pintu dan memperkenalkan diri sebagai “sang jodoh”. Orang yang sungguh ingin menikah dan membina kehidupan keluarga harus berani menyatakan imannya dengan kasih dan pengorbanan kepada orang- orang yang ia jumpai. Karena sesuatu yang harus dipunyai oleh seorang suami atau istri dalam keluarga yang benar di mata Tuhan adalah kasih yang total dan rela berkorban. Pendeknya, orang ini harus berani berteman, mengasihi dan memperhatikan orang lain. Jadi pertemanan tidak terbatas hanya bermotif “untuk dipacari”, tetapi membina persahabatan yang baik dengan semua orang. Sebab mungkin saja rencana Tuhan bekerja melalui orang- orang lain, yaitu mereka yang diperhatikan/ menerima kasih itulah yang akhirnya dapat memperkenalkan kepadanya seseorang yang nantinya akan menjadi “sang jodoh” baginya.
Jika anda sedang bergumul dengan hal ini, silakan meningkatkan ketekunan anda dalam doa, membaca sabda Tuhan, dan menerima sakramen- sakramen, terutama Ekaristi. Dalam doa- doa anda fokuskan doa anda untuk bertumbuh di dalam iman, pengharapan dan kasih kepada Tuhan, maka jika anda meminta jodoh, mintalah agar Tuhan mempertemukan anda dengan seseorang yang dapat membawa anda lebih dekat kepada Tuhan. Jadi, fokus utamanya tetap Tuhan dan keselamatan kekal terlebih dahulu, baru kemudian permohonan anda. Hal ini berlaku untuk permohonan apapun, baik itu untuk jodoh, kesehatan ataupun pekerjaan. Jangan lupa, Tuhan bersabda:
“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Mat 6:33)
Mungkin maksud Tuhan menunda pengabulan doa anda dalam hal jodoh adalah, supaya anda bertumbuh di dalam iman anda terlebih dahulu, supaya anda menemukan juga jodoh anda yang dapat sehati sepikir dengan anda; agar kalian bersama- sama nanti dapat bersatu dalam kasih dan melayani Tuhan, saling menguduskan sampai kalian memasuki kehidupan yang kekal.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

















Salam Damai,
Yang Terkasih Ibu Ingrid
Bu Ingrid mohon penjelasan akan hal dibawah ini :
Apa beriman itu sama dengan percaya ?
Apakah beriman benar dan beriman sejati sama ? Dan apa perbedaannya ?
Kalau orang katolik dikatakan sebagai orang beriman dalam pengertian yang mana ?
Bagaimana dengan Orang yang beriman lainnya ??
Terima kasih atas kesediaan bu Ingrid.
Salam Kasih dalam Yesus Kristus
Shalom Budijanto,
1. Sepanjang pengetahuan saya, ‘percaya‘ (believe) atau ‘beriman‘ (have faith) memang mengacu kepada sifat utama mereka yang mengakui adanya Tuhan. Sebagai umat Kristiani, Syahadat Aku Percaya sering disebutkan sebagai ungkapan iman kita. Maka di sini memang dapat kita katahui penggunaan kata ‘iman’ dan dan ‘percaya’ memang sering dianggap serupa.
2. Demikian pula beriman benar dan beriman sejati, juga mengacu kepada arti yang sama, karena mengacu kepada iman yang benar adalah iman yang sejati (true faith), demikian pula sebaliknya. Iman yang benar adalah iman yang bersumber pada Kristus yang adalah Kebenaran itu sendiri (Yoh 14:6). Dengan demikian kita sebagai umat Katolik dapat yakin, bahwa jika kita percaya kepada Kristus dan melakukan segala perintah-Nya, maka kita mempunyai iman yang benar.
3. Untuk mengetahui arti tentang Umat beriman Katolik, dan hubungannya dengan umat Kristen yang non- Katolik, dan umat yang non- Kristen, mari mengacu kepada apa yang disampaikan dalam Lumen Gentium (Konsili Vatikan II, tentang Gereja)14-16:
14. (Umat beriman katolik)
Maka terutama kepada umat beriman Katoliklah Konsili suci mengarahkan perhatiannya. Berdasarkan Kitab suci dan Tradisi, Konsili mengajarkan bahwa Gereja yang sedang mengembara ini perlu untuk keselamatan. Sebab hanya satulah Pengantara dan jalan keselamatan, yakni Kristus. Ia hadir bagi kita dalam tubuh-Nya, yakni Gereja. Dengan jelas-jelas menegaskan perlunya iman dan baptis (lih. Mrk 16:16; Yoh 3:5). Kristus sekaligus menegaskan perlunya Gereja, yang dimasuki orang-orang melalui baptis bagaikan pintunya. Maka dari itu andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan.
Dimasukkan sepenuhnya ke dalam sertifikat Gereja, mereka, yang mempunyai Roh Kristus, menerima baik seluruh tata-susunan Gereja serta semua upaya keselamatan yang diadakan di dalamnya, dan dalam himpunannya yang kelihatan digabungkan dengan Kristus yang membimbingnya melalui Imam Agung dan para uskup, dengan ikatan-ikatan ini, yakni: pengakuan iman, sakramen-sakramen dan kepemimpinan gerejani serta persekutuan. Tetapi tidak diselamatkan orang, yang meskipun termasuk anggota Gereja namun tidak bertambah dalam cinta-kasih; jadi yang “dengan badan” memang berada dalam pangkuan Gereja, melainkan tidak “dengan hatinya”[26]. Pun hendaklah semua putera Gereja menyadari, bahwa mereka menikmati keadaan yang istimewa itu bukan karena jasa-jasa mereka sendiri, melainkan berkat rahmat Kristus yang istimewa pula. Dan bila mereka tidak menanggapi rahmat itu dengan pikiran, perkataan dan perbuatan, mereka bukan saja tidak diselamatkan, malahan akan diadili lebih keras[27].
Para calon babtis, yang karena dorongan Roh Kudus dengan jelas meminta supaya dimasukkan kedalam Gereja, karena kemauan itu sendiri sudah tergabung padanya. Bunda Gereja sudah memeluk mereka sebagai putera-puteranya dengan cinta kasih dan perhatiannya.
15. (Hubungan gereja dengan orang kristen bukan katolik)
Gereja tahu, bahwa karena banyak alasan ia berhubungan dengan mereka, yang karena dibaptis mengemban nama kristen, tetapi tidak mengakui ajaran iman seutuhnya atau tidak memelihara kesatuan persekutuan dibawah Pengganti Petrus[28]. Sebab memang banyaklah yang menghormati Kitab suci sebagai tolak ukur iman dan kehidupan, menunjukkan semangat keagamaan yang sejati, penuh kasih beriman akan Allah Bapa yang mahakuasa dan akan Kristus, Putera Allah dan Penyelamat[29], ditandai oleh baptis yang menghubungkan mereka dengan Kristus, bahkan mengakui dan menerima sakramen-sakramen lainnya juga di Gereja-Gereja atau jemaat-jemaat gerejani mereka sendiri. Banyak pula di antara mereka yang mempunyai Uskup-uskup, merayakan Ekaristi suci, dan memelihara hormat bakti kepada Santa Perawan Bunda Allah[30]. Selain itu ada persekutuan doa-doa dan kurnia-kurnia rohani lainnya; bahkan ada suatu hubungan sejati dalam Roh Kudus, yang memang dengan daya pengudusan-Nya juga berkarya di antara mereka dengan melimpahkan anugerah-anugerah serta rahmat-rahmat-Nya, dan menguatkan beberapa di kalangan mereka hingga menumpahkan darahnya. Demikianlah Roh membangkitkan pada semua murid Kristus keinginan dan kegiatan, supaya semua saja dengan cara yang ditetapkan oleh Kristus secara damai dipersatukan dalam satu kawanan di bawah satu Gembala[31]. Untuk mencapai tujuan itu Bunda Gereja tiada hentinya berdoa, berharap dan berusaha, serta mendorong para puteranya untuk memurnikan dan membaharui diri, supaya tanda Kristus dengan lebih cemerlang bersinar pada wajah Gereja.
16. (Umat bukan-kristiani)
Akhirnya mereka yang belum menerima Injil dengan berbagai alasan diarahkan kepada Umat Allah[32]. Terutama bangsa yang telah dianugerahi perjanjian dan janji-janji, serta merupakan asal kelahiran Kristus menurut daging (lih. Rom 9:4-5), bangsa terpilih yang amat disayangi karena para leluhur; sebab Allah tidak menyesali kurnia-kurnia serta panggilan-Nya (lih. Rom 11:28-29). Namun rencana keselamatan juga merangkum mereka, yang mengakui Sang Pencipta; di antara mereka terdapat terutama kaum muslimin, yang menyatakan bahwa mereka berpegang pada iman Abraham, dan bersama kita bersujud menyembah Allah yang tunggal dan maharahim, yang akan menghakimi manusia pada hari kiamat. Pun dari umat lain, yang mencari Allah yang tak mereka kenal dalam bayangan dan gambaran, tidak jauhlah Allah, karena Ia memberi semua kehidupan dan nafas dan segalanya (lih. Kis 17:25-28), dan sebagai Penyelamat menhendaki keselamatan semua orang (lih. 1Tim 2:4). Sebab mereka yang tanpa bersalah tidak mengenal Injil Kristus serta Gereja-Nya, tetapi dengan hati tulus mencari Allah, dan berkat pengaruh rahmat berusaha melaksanakan kehendak-Nya yang mereka kenal melalui suara hati dengan perbuatan nyata, dapat memperoleh keselamatan kekal[33]. Penyelenggaraan ilahi juga tidak menolak memberi bantuan yang diperlukan untuk keselamatan kepada mereka, yang tanpa bersalah belum sampai kepada pengetahuan yang jelas tentang Allah, namun berkat rahmat ilahi berusaha menempuh hidup yang benar. Sebab apapun yang baik dan benar, yang terdapat pada mereka, Gereja dipandang sebagai persiapan Injil[34], dan sebagai kurnia Dia, yang menerangi setiap orang, supaya akhirnya memperoleh kehidupan. Tetapi sering orang-orang, karena ditipu oleh si Jahat, jatuh ke dalam pikiran-pikiran yang sesat, yang mengubah kebenaran Allah menjadi dusta, dengan lebih mengabdi kepada ciptaan daripada Sang Pencipta (lih. Rom 1:21 dan 25). Atau mereka hidup dan mati tanpa Allah di dunia ini dan menghadapi bahaya putus asa yang amat berat. Maka dari itu, dengan mengingat perintah Tuhan: “Wartakanlah Injil kepada segala makhluk” (Mrk 16:15), Gereja dengan sungguh-sungguh berusaha mendukung misi-misi, untuk memajukan kemuliaan Allah dan keselamatan semua orang itu.
Dengan demikian kita mengetahui bahwa Gereja Katolik mengakui adanya kebaikan dan kebenaran yang ada di dalam agama lain, dan semua itu merupakan persiapan Injil. Namun kepenuhan kebenaran bersumber pada Kristus, Sang Kebenaran, yang hadir di dalam Gereja-Nya, dan untuk itulah kita yang tergabung di dalam Gereja yang didirikan Kristus mempunyai tugas untuk mewartakan Injil kepada segala mahluk.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Pak Stef dan Bu Inggrid yth,
Setiap kali Yesus berkata: Imanmu telah menyelamatkanmu.
Pertanyaan saya:
- apa sih artinya “iman” itu?
- Bagaimanakah caranya agar kita bisa beriman dengan benar?
- Adakah hubungan antara Iman dengan: Mintalah maka kamu akan diberikan, ketoklah maka kamu akan dibukakan
- mengapa ada banyak orang yang meminta dengan sungguh-sungguh tetapi kok tidak diberikan juga, padahal sudah lama banget mintanya? misalnya minta jodoh! adakah hubungannya dengan iman disini?
Berkah Dalem
Pius Nugraha
[Dari Katolisitas: pertanyaan ini sudah dijawab di atas, silakan klik]
Salam damai sejahtera
Sdr. Pius Nugraha
Terkadang memang permintaan doa yang dipanjatkan pada Tuhan dengan sungguh-sungguh tidak segera di jawab oleh Tuhan, tetapi hal itu tidak boleh membuat kita harus menyesalinya; sebab apa yang dipikirkan oleh Allah tidak sama dengan apa yang dipikirkan oleh manusia.
Sebaliknya kita harus tetap bersyukur.
Kita lihat contoh yang sedikit extrem misalnya :
Waktu Paulus dan Silas dihukum sampai ber-darah2 punggungnya , Tuhan bahkan tidak menolongnya .
Baru pada waktu mereka di pasung, tangan Tuhan mulai berkarya dengan menggoncangkan penjara tempat dimana mereka dipasung.
Dan akibatnya kepala penjara beserta keluarganya bertobat.
Sehingga kita bisa melihat ada hubungannya antara siksaan yang diderita oleh Paulus dan Silas dengan bertobatan kepala penjara.
Sedangkan permintaan tentang jodoh, kadang-kadang Tuhan sudah mengirimkan jodoh bagi kita,tetapi sebab tidak sesuai dengan kreteria yang kita inginkan, maka kita menolak jodoh yang sudah dikirimkan Tuhan bagi kita.
Akibatnya kita tidak menemukan jodoh dari Tuhan.
Kalau kita banyak ber-doa , kita akan mengerti bahwa Tuhan sudah mengirimkan jodoh buat kita yang mungkin masih ada hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan hati kita, namun kita bisa menerimanya sebab Tuhan meneguhkan hati kita dengan apa yang telah dikirimkan bagi kita.
Bagi orang Kristen mendapat jodoh itu artinya mendapat untung.
Salam
Mac : 9.March.2010