Tentang infalibilitas dan Paus= ‘Holy Father’
[Dari Admin Katolisitas: Berikut ini adalah pertanyaan dari Alexander Ponto, yang menyertakan surat menyurat antara dia dengan seorang temannya dari gereja Protestan. Nama temannya kami edit/ sebut saja "B", agar tidak menyangkut ke pribadi]
Pertanyaan:
ini beberapa bagian paling akhir (saat ini) dari surat menyurat antara saya dan teman protestan saya (B). saya mohon bantuan. apakah saya ada salah pengertian?
Alexander Ponto, December 7 at 9:17am
ini jawaban dari romo : dasar kepercayaan Orang katolik adalah injil dan ajaran gereja yang menjaga pengertian yang benar mengenai Injil. Injil bisa salah dimengerti, oleh karena itu, perlu dipelajari dengan baik, dan mohon roh kudus untuk menerangi.
B, December 8 at 4:42pm
wheiz.. mantap.. tanya Romo :D
sekarang, bagaimana menurut pendapatmu tentang jawaban Romo itu? :)
Alexander Ponto December 8 at 4:47pm
biasa ae. lek mnrtmu lak apa?
B, December 8 at 4:55pm
loh.. wakakak endak endak..:P (PS: aku cegek ngeliat jawabanmu, ga sesuai ekspektasi’ku). sek sek… maksudku gin.. aku perjelasi :)
dasar kepercayaan orang katolik adalah injil dan ajaran gereja. Aku sekarang ga mempermasalahkan injil dulu :)
“ajaran gereja yang menjaga pengertian yang benar mengenai injil” => menurutmu, apakah ajaran gereja yang dah kuno itu 100% bener? apakah ada kemungkinan bahwa ajaran (pengertian) yang mereka dapatkan itu kurang bener?
“Injil bisa salah dimengerti, oleh karena itu perlu dipelajari dengan baik, dan mohon Roh Kudus untuk menerangi” => siapa yang bisa salah mengerti Injil? siapa yang bisa diterangi Roh Kudus untuk mendapatkan pengertian yang benar tentang injil?
Alexander Ponto December 8 at 6:04pm
bagiku biasa ae. soal e aku ket awal wes males mbahas ini. ora penting bagiku. *menguap*
wong ket awal aku wes ngomong lek bagiku katolik = protestan (podo wae)
————————————————————————————————-
kuno atau baru tidak menjamin 100% bener. lek km tanyak kemungkinan, kemungkinan selalu ada, baik di katolik maupun di protestan
lek mnrtku, sapa ae isa salah mengerti. rasa e seh semua orang isa diterangi roh kudus.
opo’o km menanyakan hal2 itu?
B, December 9 at 10:00am
“kuno atau baru tidak menjamin 100% bener. lek km tanyak kemungkinan, kemungkinan selalu ada, baik di katolik maupun di protestan” => that’s it… ini jawaban mantap ;) berarti, dengan jawabanmu ini, kamu mengatakan bahwa kamu ga setuju dengan kepercayaan katolik :) Lihat.. pemikiran romo (injil dan ajaran gereja 100% benar) dan pemikiranmu (injil 100% bener, tapi ajaran gereja tidak 100% benar) 100% bertolak belakang :) Sekarang kamu ngerti bahwa pikiran orang katolik (romo) dan orang kristen (kamu) ada beda’nya? :)
Sekarang, kalo kuno ato baru n katolik ato protestan ga ada yang 100% bener, berarti kita mesti mem’filter semua ajaran yang kita dengarkan, kan? dengan apa kita mem’filter’nya? :) alkitab to? :) Maka dari itu, ujilah semua ajaran2 yang kamu terima dari katolik. Kamu akan menemukan banyaaak yang salah di sono :)
“lek mnrtku, sapa ae isa salah mengerti. rasa e seh semua orang isa diterangi roh kudus.” => ini jawaban yang logis banget… kalo semua orang bisa salah mengerti, knp para orang katolik 100% percaya pada omongan Pope dan enggak di’filter? :) For your info, Pope itu dari bahasa Itali “il Papa”, yang artinya “Holy Father”. Orang katolik menyebutnya sebagai “Holy Father”, karena mereka 100% mempercayai omongan Pope mengenai pemahaman alkitab. Padahal, hanya 1 Holy Father yang ada, yaitu Allah Bapa yang Kudus di Sorga, dan ga boleh sebutan itu disebutkan pada manusia (perintah Allah ke 2 tentang idolatry, dan perintah Allah ke 3 tentang menyebut nama Tuhan dengan sembarangan)
Dikatakan bahwa Pope itu adalah regenerasi dari Petrus. Kalo Petrus ada Pope yang pertama, aku sama sekali ga percaya, karena Petrus enggak akan menyebut dirinya ataupun membiarkan orang lain menyebut dirinya Holy Father. Bahkan, kamu lihat sendiri bahwa Petrus ga mau disamakan dengan Yesus walopun itu hanya hukuman mati (penyaliban), sehingga Petrus request untuk salibnya dibailk untuk membedakan bahwa dia tidak menggantikan posisi Yesus. Lihat betapa radikal’nya Petrus untuk mengidolakan Tuhan. Padahal Yesus dont mind ada 2 orang penjahat yang disalib berdiri persis seperti Dia, krn itu enggak ngefek :)
Jawaban dari Katolisitas:
Shalom Alexander Ponto,
Kelihatannya di surat menyurat di atas, terdapat sedikitnya tiga hal yang dipermasalahkan: 1) Teman anda tidak percaya bahwa Gereja Katolik (yang dipimpin oleh Paus) tidak dapat salah mengajarkan dan menginterpretasi Alkitab/ Injil, 2) Teman anda tidak percaya bahwa Petrus adalah Paus yang pertama, 3) Menurut teman anda seharusnya kita tidak boleh memanggil Paus dengan perkataan “Holy Father” karena harusnya ucapan itu hanya untuk Tuhan.
1. Gereja Katolik (yang dipimpin oleh Paus dan para uskup) tidak dapat salah mengajarkan dan menginterpretasi Alkitab. Kristus memberikan kuasa “infalibilitas/ infallibility” kepada para pemimpin Gereja tersebut yang disebut sebagai Magisterium. Magisterium adalah Wewenang Mengajar Gereja, yang terdiri dari Bapa Paus (sebagai pengganti Rasul Petrus) dan para uskup (sebagai pengganti para rasul) dalam persekutuan dengannya. Karisma “tidak dapat sesat” (infalibilitas) yang diberikan oleh Yesus, itu terbatas dalam hal pengajaran mengenai iman dan moral. Maka kita ketahui bahwa sifat infalibilitas ini tidak berlaku dalam segala hal, namun hanya dalam hal iman dan moral, yaitu pada saat mereka mengajarkan dengan tindakan definitif, seperti yang tercantum dalam Dogma dan doktrin resmi Gereja Katolik. Lebih lanjut tentang Magisterium, silakan klik di sini.
Mengapa karisma infalibilitas ini perlu dan penting? Karena justru dengan karisma inilah Tuhan Yesus melindungi Gereja yang didirikanNya dari perpecahan. Tanpa kuasa wewenang mengajar dari Magisterium, maka seseorang dapat mengatakan pemahamannya yang paling benar, dan dengan demikian memisahkan diri dari kesatuan Gereja, seperti yang sudah terjadi berkali-kali dalam sejarah Gereja. Kuasa infalibilitas dari Yesus kepada Petrus dan para penerusnya diberikan oleh Yesus, pada saat Ia mengatakan kepada Petrus sesaat setelah Ia mengatakan bahwa akan mendirikan Gereja-Nya atas Petrus (Mat 16:18). Yesus berkata, “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” (Mat 16:19)
Maksudnya di sini adalah Yesus memberikan kuasa kepada Petrus untuk mengajarkan tentang iman dan moral, sebagai ketentuan yang ‘mengikat’ manusia di dunia dan kelak diperhitungkan di sorga. Tanpa kesatuan pemahaman tentang iman dan moral, maka yang terjadi adalah relativisme, dan perpecahan gereja, dan ini sudah terbukti sendiri dengan adanya banyak sekali denominasi Protestan (sekitar 28.000), yang dimulai umumnya dengan ketidaksesuaian pemahaman dalam hal doktrin (baik iman maupun moral) antara para pemimpin gereja Protestan, sehingga yang tidak setuju memisahkan diri.
Maka fakta sendiri menunjukkan interpretasi pribadi tidak bisa berfungsi sebagai “filter” (istilah yang dipakai teman anda) bagi pengajaran Paus dalam hal iman dan moral. Karena pengajaran Paus (Magisterium) dalam hal iman dan moral sudah pasti 100% benar, sehingga tidak perlu difilter. Mereka mengajarkan berdasarkan sumber dari pengajaran para rasul dan Bapa Gereja yang langsung/ lebih dekat terhubung dengan Kristus, sedangkan kita sekarang terpisah sekian abad dari jaman Kristus. Tentu mereka lebih memahami maksud Kristus daripada kita. Menganggap kita harus “mem-filter” ajaran para rasul itu sama saja dengan menganggap diri “lebih tinggi dari para rasul”. Ini menurut saya adalah kesombongan rohani. Sebab klaim teman anda bahwa ‘filter’nya adalah Kitab Suci, sebenarnya tidak tepat, karena nyatanya yang dijadikan ‘filter’ adalah interpretasi pribadi tentang ayat- ayat Kitab Suci. Kita juga dapat melihat faktanya, kalaupun pengajaran para rasul dan Bapa Gereja ini “difilter” dengan pandangan pribadi, hasilnya malah perpecahan, dan akhirnya kebenaran dianggap sebagai sesuatu yang relatif. Ini akhirnya menghasilkan faham ketidakpedulian akan agama (religious indifferentism) karena orang berpikir semua pendapat toh akhirnya bisa ‘benar’, sehingga orang tidak peduli pada agama, seperti yang sudah terjadi terutama di negara- negara Eropa.
Yesus, dalam kapasitas-Nya sebagai Allah yang Maha tahu, sudah mengetahui akan kemungkinan ini, pada masa Ia hidup di dunia sebagai manusia. Maka, Yesus hanya mendirikan satu Gereja, dan Ia berjanji bahwa Gereja-Nya tidak akan dikuasai oleh maut (lih. Mat 16:18), artinya tidak akan disesatkan oleh Iblis hingga binasa. Yesus yang mengajarkan perkawinan adalah antara satu laki-laki dan satu perempuan, juga pasti akan menerapkan hal itu sendiri, ketika melalui Rasul Paulus, Ia mengatakan bahwa Ia adalah seumpama Mempelai laki-laki, dan Gereja-Nya adalah mempelai perempuan (Ef 5:22-33). Sebelum sengsaraNya, Ia juga berdoa kepada Allah Bapa, agar para rasul-Nya dan pengikut- mereka (yaitu kita semua sebagai anggota Gereja-Nya) bersatu (Yoh 17:20-23). Dan tentu kesatuan ini termasuk dan terutama dalam kesatuan Baptisan dan kesatuan ajaran, sebagai pesan Yesus yang terakhir yang diberikan kepada para rasul-Nya sebelum Ia naik ke surga (lih. Mat 28:19-20).
Maka penting di sini bagi kita untuk memahami Alkitab sesuai dengan pengajaran para rasul, agar kita dapat sungguh melaksanakan apa yang menjadi ajaran Kristus. Kita terhubung dengan para Rasul itu melalui para Bapa Gereja, karena para Bapa Gereja merupakan murid dari para rasul ataupun murid dari murid para rasul; dengan perkataan lain, merekalah yang dengan setia meneruskan ajaran dari para rasul. Melalui kesaksian para Bapa Gereja inilah kita memperoleh kitab-kitab Injil, dan merekalah yang menentukan kanon Kitab suci, yang terdiri dari kitab-kitab yang diyakini sebagai yang diilhami oleh Roh Kudus. Silakan membaca tentang kanon Kitab Suci di sini, silakan klik.
Dengan demikian adalah suatu pandangan yang keliru, jika Gereja Katolik yang setia berpegang kepada pengajaran para rasul dan Bapa Gereja tersebut disebut sebagai Gereja yang “kuno”. Kita harus melihat Gereja itu sebagai “pemberian” Kristus yang dibentuk oleh Kristus sendiri, dan bukannya Gereja yang bisa kita bentuk sesuai keinginan hati manusia. Maka dengan pengertian ini Gereja hanya bisa kita terima, dan bukannya sesuatu yang bisa ‘didirikan’ oleh manusia atas dasar pemahaman pribadi manusia tentang suatu ajaran, yang sudah ‘disesuaikan’ atau dimodernisasi sesuai dengan kebutuhan. Ini adalah pandangan yang keliru tentang Gereja.
Nah, dengan keinginan Yesus untuk mempertahankan kesatuan Gereja-Nya, maka sudah menjadi konsekuensi bahwa Ia memberikan kuasa tidak dapat sesat/ infalibilitas kepada pemimpinnya (yaitu Bapa Paus) untuk mengajarkan hal iman dan moral. Maka infalibilitas ini hanya berlaku: 1) jika Bapa Paus mengajar atas nama Rasul Petrus (jadi bukan atas nama pribadi) istilahnya “ex-cathedra“; 2) menyangkut pengajaran definitif tentang iman dan moral, 3) pengajaran ini berlaku untuk Gereja secara universal. Tiga syarat ini dijabarkan dalam Konsili Vatikan II, Lumen Gentium (Konstitusi tentang Gereja), 25, menegaskan kembali apa yang telah ditetapkan dalam Konsili di Konstantinopel (869-70), Lyons (1274) dan Florence (1438-45). Pada saat ketiga syarat di atas terpenuhi, maka pengajaran tersebut dapat dikatakan sebagai pengajaran Magisterium, dan ajarannya dikenal dengan sebutan Tradisi Suci. Tradisi Suci dan Kitab Suci inilah yang harus dilihat sebagai “deposit of faith“, sumber ajaran iman, dan keduanya tidak terpisahkan, karena bersumber pada sumber yang sama yaitu pengajaran Kristus dan para rasul. Namun, jika ketiga syarat ini tidak dipenuhi, misalnya Paus mengajar atas nama pribadi, dan bukan tentang iman dan moral, tidak pula menyangkut Gereja universal, maka pengajarannya tidak dapat dikatakan “infallible/ tidak dapat sesat.” (Contoh: Paus Benediktus XVI yang adalah seorang pianis handal, mengajar musik, namun dalam hal ini, ajarannya bisa salah, karena ia mengajar tidak dalam kapasitas sebagai Rasul Petrus, dan hal yang diajarkannya bukan tentang iman dan moral).
Interpretasi pribadi akan Kitab Suci tanpa pemahaman yang benar, sesuai dengan Tradisi Suci, akan menghasilkan perpecahan, dan ini sudah terbukti di dalam sejarah, dengan adanya 28.000 denominasi gereja protestan yang masing-masing meng-klaim, mendapat inspirasi dari Roh Kudus. Sebenarnya, jujur perlu di renungkan, mengapa jika Roh Kudus adalah Roh Kasih, Roh pemersatu dan Roh Kebenaran, mengapa orang-orang yang mengaku dituntun oleh-Nya tidak dapat lagi mengasihi (tidak lagi sabar menanggung segala sesuatu 1 Kor 13:7) sehingga harus memisahkan diri? Mengapa orang-orang tersebut tidak membuat pembaharuan di dalam Gereja seperti yang dilakukan oleh para orang kudus, tetapi malah meninggalkannya? Mengapa kebenaran yang mereka yakini bisa berbeda-beda, dan bertentangan? Dalam hal ini, sebagai umat Katolik kita perlu bersyukur, sebab dengan adanya kepemimpinan Magisterium Gereja, Gereja Katolik dapat tetap eksis dalam persatuan selama lebih dari 2000 tahun. Dengan ketaatan, umat Katolik menerima pengajaran dari Magisterium, justru karena kita yakin yang diajarkan oleh mereka mempunyai dasar dari Alkitab, pengajaran para rasul dan Bapa Gereja, dan bukan dari interpretasi pribadi.
2. Petrus adalah Paus yang pertama, dan sungguh, kita tidak bisa mengingkari hal ini tanpa mengingkari fakta sejarah, yang tercatat dalam Injil (Mat 16:18). Bahwa pada saat itu ia belum dipanggil sebagai “Paus” tidak mengubah kenyataan bahwa Rasul Petrus-lah rasul yang telah dipilih oleh Kristus sebagai pemimpin Gereja-Nya. Silakan membaca lebih lanjut tentang Petrus sebagai batu karang tempat Yesus mendirikan Gereja-Nya di sini, silakan klik.
3. Alasan mengapa kita sebagai umat Katolik memanggil “bapa” kepada Paus dan para imam, juga diambil dari Kitab Suci. Umat Protestan umumnya mengambil ayat Mat 23:9 untuk mengatakan bahwa kita dilarang menyebut siapapun di bumi dengan sebutan “bapa”. Namun pengertian ini adalah interpretasi yang melepaskan ayat ini dari konteks keseluruhan.
Fr. Ray Suriani pernah menjelaskan dengan begitu baiknya, di link ini, silakan klik, bagaimana seharusnya mengartikan ayat tersebut sesuai dengan konteks dan pesan keseluruhan Kitab Suci. Karena larangan Yesus untuk menyebut siapapun sebagai bapa di bumi ini (lih. Mat 23:9) adalah untuk memperingatkan kepada umat bahwa 1) hanya ada satu saja yang dapat kita anggap sebagai Allah Bapa; 2) janganlah seperti ahli Taurat dan orang Farisi yang senang dihormati dan dipanggil sebagai rabbi dan bapa oleh semua orang. Di sinilah pentingnya untuk mempelajari suatu ayat Kitab Suci dalam kaitannya dengan ayat-ayat yang lain di seluruh Alkitab (seperti prinsip yang dipegang oleh Gereja Katolik), karena perintah-perintah Tuhan tidak mungkin bertentangan satu dengan lainnya.
Sebab di perikop-perikop yang lain, Yesus juga menyebut orang tua sebagai bapa dan ibu (lih. Mat 10:35; 19:29). Jika Ia sungguh melarangnya, maka Ia tidak mungkin menyebutkan sendiri panggilan ini. Abraham disebut sebagai “bapa Abraham” bapa leluhur kita (Luk 16:24, Kis 7:2; Rom 4:1, Yak 2:21), dan Rasul Paulus menyebutkan dirinya sebagai bapa bagi umat di Korintus (1 Kor 4:15) dan bapa rohani bagiTimotius (1 Tim 1:2, 2 Tim 1:2), dan bagi Titus (Tit 1:4). Rasul Yohanes juga berkhotbah kepada para bapa (1 Yoh 2:14). Tentunya rasul Paulus, Yakobus dan Yohanes memiliki maksud pada saat menuliskan ayat-ayat itu. Yaitu bahwa di dalam hidup kita ini memang ada orang-orang tertentu yang diberi tugas sebagai bapa untuk berperan sebagai orang tua bagi anak-anak, mendidik dan membesarkan anak-anak mereka. Dan secara rohani, tugas kebapakan itu diberikan kepada para pemimpin umat, yaitu para pastor, seperti teladan Rasul Paulus.
Para pastor, uskup dan Paus itu berperan dalam kelahiran kita semua umat Katolik secara rohani. Mereka itu adalah yang membaptis kita umat beriman, mengajar kita, membimbing kita dan memberi teladan kepada kita bagaimana mengasihi, seperti Allah Bapa mengasihi kita. Oleh karena itu kita harus berdoa bagi para imam, uskup dan Paus, agar mereka senantiasa dapat melaksanakan tugasnya sebagai “bapa rohani” bagi kita. Kita memanggil mereka sebagai “bapa” untuk menunjukkan hormat kita kepada mereka. Sama seperti banyak pendeta Protestan yang dipanggil Rev./ Reverend oleh jemaatnya, padahal tentu hormat/ reverence juga paling layak diberikan kepada Tuhan.
Maka umat Katolik memanggil Paus sebagai “Holy Father” itu sebagai tanda hormat sebab kita mengakui bahwa ia telah dipanggil oleh Kristus untuk menjadi gambaran kekudusan dan kebapa-an dari Tuhan. Tentu pengertian ini diturunkan, tergantung dari, dan berada di bawah panggilan kita kepada Allah Bapa yang Mahakudus, dan memang tidak untuk menyaingi ataupun mengingkari keunikan kekudusan dan ke Bapa-an dari Allah Bapa.
Demikian yang dapat saya tuliskan untuk pertanyaan anda, semoga bermanfaat.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

















Shalom admin katolisitas.org, saya adalah seorang katolik yang sedang tanya jawab dengan seorang protestan. Topiknya sekarang adalah mengenai kepausan dan infalibilitas yang dipunyainya. Berikut ini adalah argumen dari kawan protestan saya :
1. Saya rasa tidak sah untuk mengklaim bahwa Paus tidak dapat bersalah dalam hal pengajaran iman dan moral Kristen. Apakah ada justifikasi bagi klaim ini? Dimanakah pembenaran dari ayat kitab Suci? Tentu mengklaim mudah, tetapi adakah dasar yang kuat?
2. Kesalahan Petrus dalam beberapa aspek boleh memang dikatakan sebagai kelemahan iman. Artinya sebenarnya dia punya pengetahuan akan kebenaran akan tetapi karena kelemahan iman dia menjadi berdosa (mis. ketika berjalan diatas air, ditegur Rasul Paulus). Tetapi pada bagian-bagian tertentu saya rasa Petrus benar-benar punya kesalahan konsep doktrin selain kelemahan iman/hati yang keras. Ketika Yesus Kristus memberitahukan penderitaan dan kematiannya, Petrus langsung menyuruh Yesus diam dan tidak berbicara seperti itu. mengapa? karena dalam konsep mereka Mesias adalah Raja, Mesias itu Mulia, tidak mungkin dibunuh, apalagi disalibkan. demikian juga dengan peristiwa transfigurasi diatas gunung, bersama Elia dan Musa. Petrus mengatakan “o sungguh indahnya tempat ini, mari kita buat 3 kemah 1 untuk Yesus, 1 untuk Musa, dan satu untuk Elia”. Alkitab menambahkan Petrus sesungguhnya tidak tahu apa yang ia katakan. Melihat beberapa commentary, mereka menyatakan Petrus dalam konsep pikirannya masih berfikir Mesias tidak harus mati, dia keras pada doktrinnya walaupun Yesus sudah beritahu “doktrin Mesias” yang benar. Petrus tidak mau turun gunung, tidak mau penderitaan. Demikian juga ketika Ibu Yakobus datang meminta anak diberi kursi sebelah kiri-kanan Yesus, semua murid langsung marah termasuk Petrus. Karena mereka semua masi punya konsep dan keras pada doktrin mereka bahwa Mesias akan jadi pemimpin politik, dan mereka akan dapat kursi menteri!?
3. Saya sebelumnya mau bertanya apakah doktrin ini berarti Paus infallible hanya ketika bicara iman Kristen dan moral? bagaimana dengan politik, ekonomi, sains, relasi umat beragama, filsafat? Reformed Theology menyatakan tidak ada satu pun dimensi kehidupan kita yang Kristus tidak mengklaim “Itu milikku!”. Reformed Theology tidak membuat dikotomi antara “kudus” dengan “tidak kudus”. Semua pekerjaan kudus. Semua aspek kehidupan harus dikuduskan. Lagipula bukankah semua area kehidupan kita ini sebenarnya rohani, sebenarnya spiritual? bagaimana kita bisa pisahkan keduanya? Dengan konsep ini, kala mau kita terima, berarti sama saja dengan mengatakan bahwa Paus TIDAK BISA BERSALAH DALAM SEGALA HAL (sebab segala hal itu rohani, segala hal itu moral, segala hal itu berkaitan dengan doktrin Alkitab)
4. Apakah kita dapat membedakan ketika Paus sedang mengajarkan hal itu benar atau salah. Tentu umat Katolik tetap menerima kalau kita katakan Paus, bagaimanapun sucinya beliau, tetap memiliki dosa atau kelemahan (Petrus pun juga bisa kan). Nah, bukankah kelemahan ini juga bisa mempengaruhi apa yang Paus ajarkan kepada umat? Bukankah tekanan kepentingan2 politik, keutuhan organisasi, ekonomi, politk, prasangka (prejudice), kebencian terhadap suatu golongan dll bisa membuat pertimbangan seseorang menjadi biasa, bahkan membuat hatinya yang masih memiliki kemampuan berdosa, menjadi terpikat untuk mengajarkan hal yang tidak sesuai kebenaran, melainkan hal yang disukai hatinya? (saya tidak menuduh hati Paus penuh kebencian atau tidak suci terhadap golongan tertentu, tapi ini mungkin saja terjadi misalnya di zaman Reformasi saya yakin hati Paus saat itu penuh kemarahan, kalau bukan kebencian, terhadap Reformator, maksud argumen ini adalah bahwa 1. paus tetap mungkin berdosa 2. dosa dalam hati bisa mempengaruhi pertimbangan rasional, dan tentunya pengajaran) Jadi pemahaman kita/pengajaran pun bisa salah jika hati kita tidak murni. Sehingga mengatakan Paus tidak dapat salah dalam pengajaran tetapi di satu sisi menerima bahwa Ia, bagaimanapun sucinya, tetap bisa berdosa, tidak dapat saya terima
5. Ketika terjadi perpecahan jemaat dalam Surat 1 Korintus 1 : 10-17, Paulus menegur orang yang membuat golongan-golongan ; gol Paulus, gol Kefas, gol Apolos, gol “Kristus”. Paulus mempersatukan mereka dengan merujuk kepada Tuhan kita Yesus Kristus, bukan dengan merujuk kepada Kefas. Seandainya Petrus itu sebagaimana yang diklaim oleh orang Katolik, punya supremacy lebih, Paulus bukankah seharusnya berkata (dalam imajinasi saya) “Hai jemaat Korintus, bersatulah, karena engkau didunia ini mempunyai 1 pemimpin yang ditunjuk Kristus, yaitu Kefas”. Bukankah golongan Kefas menjadi yang supreme? Atau “taatlah kepada ucapan Petrus sebagai “Rasul tertinggi”, karena dia sebagai pemimpin utama. Tetapi sama sekali tidak ada usaha semacam itu. lain sekali dengan approach Katolik Roma yang mengklaim Paus sebagai pemersatu.
Shalom Ian Huang,
Berikut ini adalah yang dapat saya jawab tentang pertanyaan anda:
1. Pengajaran tentang Bapa Paus yang tidak dapat bersalah dalam hal pengajaran iman dan moral adalah berdasarkan atas janji Tuhan Yesus sendiri kepada Rasul Petrus yang ditunjuknya untuk memimpin Gereja-Nya. Dasar Alkitabnya diambil dari kitab Matius 16 dengan interpretasi yang diajarkan oleh para Rasul dan Bapa Gereja.
Yesus berkata, “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” (lih Mat 16:18). Lalu, sebelum kenaikannya ke surga Yesus bersabda kepada kesebelas rasulnya, “….Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mat 28:20)
Yesus berjanji bahwa Gereja yang didirikannya atas Rasul Petrus tidak akan binasa/ disesatkan oleh Iblis, maka konsekuensinya Yesus pasti menyertai Petrus dan para penerus Petrus demi penggenapan janji-Nya itu. Sebab kalau janji Yesus itu hanya diberikan kepada Petrus, dan tidak kepada para penggantinya, artinya, Gereja bisa disesatkan, dan ini bertentangan dengan perkataan Yesus sendiri di Mat 16:18. Karena hal yang bisa “menyesatkan” umat adalah hal pengajaran iman dan moral, maka sudah menjadi konsekuensi logis, bahwa janji Yesus yang tidak akan membiarkan Gereja-Nya “tersesat”, adalah dengan memberikan karunia infalibilitas kepada pemimpinnya (yaitu Petrus dan para penerusnya) pada saat ia mengajarkan hal iman dan moral.
Lebih lanjut tentang keutamaan Rasul Petrus akan saya tuliskan di artikel terpisah. Mohon kesabarannya, ya.
2. Kesalahan Petrus (ketika berjalan di atas air, ditegur Rasul Paulus, konsepnya yang salah tentang Mesias dan puncaknya pada penyangkalan Yesus sebanyak tiga kali) adalah kelemahan iman dan hati yang keras?
Perlu anda ketahui, bahwa contoh- contoh yang diambil oleh rekan anda adalah contoh- contoh pada saat Yesus belum bangkit, naik ke surga dan mengutus Roh Kudus kepada para rasul (pada waktu Pentakosta). Maka memang benar, pada waktu sebelum Yesus naik ke surga dan Pentakosta, pemahaman Rasul Petrus akan karya Keselamatan Kristus masih belum sempurna. Namun setelah Pentakosta, maka semua itu diubah oleh Tuhan Yesus sendiri. Para rasul menjadi berani mewartakan Kristus, (silakan baca Kisah Para Rasul), bagaimana Rasul Petruslah yang tampil sebagai pemimpin para rasul setelah peristiwa pencurahan Roh Kudus/ Pentakosta tersebut. Rasul Petrus berkhotbah kepada orang-orang yang berkumpul di Yerusalem dan pada hari itu, dan sesudahnya, 3000 orang memberi diri mereka dibaptis. (lih Kis 2). Kisah para rasul selanjutnya (bab 3 sampai 12, kecuali bab 6 dan 7 yang mengisahkan kemartiran St. Stefanus, mengisahkan kepemimpinan Petrus atas para rasul dan jemaat perdana. Akhirnya, kepemimpinan ini disempurnakan Petrus dengan kemartirannya sendiri, dengan disalib terbalik di Roma. Suatu bukti pekerjaan Roh Kudus yang telah mengubah seorang yang tadinya “penakut” dan tak sempurna dalam iman, menjadi seorang yang “berani” memberitakan imannya sampai ke tingkat yang sempurna, (mengikuti teladan Yesus): yaitu dengan mengorbankan segalanya, termasuk nyawanya sendiri, demi Sang Kebenaran yang diwartakannya.
Maka, saya pikir janganlah kita “menghakimi” para rasul dengan mengatakan bahwa mereka lemah iman atau berhati keras. Sebab kenyataannya, hal itu telah diubah oleh Tuhan sendiri, oleh kuasa Roh Kudus. Ini sesungguhnya harus membuat kita memeriksa diri kita sendiri, sudahkah kita seperti para rasul itu, yang setelah menerima Roh Kudus, lalu hidup bekerja sama dengan rahmat Tuhan untuk meninggalkan segala sifat negatif kita yang dahulu? Jika bahkan sekarang ini, setelah kita menerima Roh Kudus, kitapun masih jatuh bangun dalam mengalahkan sifat-sifat buruk kita, janganlah kita begitu tinggi hati untuk menghakimi para rasul itu, yang setelah “hidup baru” di dalam Kristus, jelas- jelas jauh lebih kudus dari kita.
3. Doktrin Infalibilitas ini, seperti yang telah dijabarkan di artikel di atas, hanya terbatas pada hal iman dan moral. Sebab memang hanya pengajaran iman dan moral-lah yang bisa berpengaruh dalam “menyesatkan” umat. Silakan membaca kembali artikel di atas sehubungan dengan topik infalibilitas ini.
Jadi tidak benar jika dikatakan Gereja Katolik mengajarkan bahwa Paus tidak bisa bersalah dalam segala hal. Gereja Katolik tidak pernah mengajarkan demikian. Bapa Paus adalah tetap manusia biasa, yang berdosa, namun ia sudah dipilih oleh Tuhan Yesus sebagai pemimpin Gereja-Nya. St. Agustinus mengajarkan tentang hal ini demikian, “… Tuhan, telah menempatkan wewenang pengajaran kebenaran di atas kursi persatuan ini [kursi Petrus].” Ketika duduk di kursi ini, yaitu yang merupakan tahta pengajaran keselamatan…. bahkan Paus yang jahat (wicked) sekalipun dipaksa untuk mengajarkan sesuatu yang baik. Sebab …yang mereka ajarkan bukan merupakan pengajaran mereka, tetapi pengajaran Tuhan.” (lihat Epistle 105, 16). Hal di atas dimungkinkan oleh janji Kristus sendiri yang menjanjikan kepada rasul Petrus untuk selalu menyertai Gereja-Nya [yang didirikan atas Rasul Petrus] sampai akhir jaman dan alam maut tak akan menguasainya (lih. Mat 16:18).
Teman anda berkata, “Reformed Theology tidak membuat dikotomi antara “kudus” dengan “tidak kudus”. Semua pekerjaan kudus. Semua aspek kehidupan harus dikuduskan.” Memang benar bahwa setiap aspek kehidupan harus dikuduskan, namun kita harus melihat juga dengan obyektif, hal ini sungguh tidak bisa dicapai secara sempurna, pada saat kita masih hidup di dunia ini. Ini berlaku untuk kehidupan setiap manusia, dan termasuk Bapa Paus. Tuhan yang menciptakan kita, lebih tahu daripada kita dalam hal ini. Yesus sudah terlebih dahulu memahami, jika Gereja tidak mempunyai pemimpin yang diberi-Nya kuasa untuk mengajar yang tidak mungkin sesat, maka akan terjadi perpecahan Gereja, karena masing-masing orang akan mengikuti pemahamannya sendiri. Dan memang inilah yang sayangnya terjadi, dengan adanya sekitar 28.000 denominasi gereja Protestan.
4. Ya, maka benar, Gereja Katolik mengakui bahwa Paus adalah manusia biasa yang berdosa juga. Sebagai gambarannya, Paus Yohanes Paulus II dan Paus Benediktus XVI mengaku dosa dalam Sakramen Tobat, seminggu sekali. Tentu hidup mereka sudah lebih kudus dari kita semua, namun justru karena mereka begitu dekat dengan Tuhan, maka mereka menjadi lebih peka terhadap dosa, bahkan yang ringan sekalipun. Namun sebagai manusia yang juga berdosa, tidak berarti bahwa pasti dosa Paus itu mempengaruhi ajaran iman dan moral yang diajarkannya. Sebab jika kita saja yang tidak diberi karunia ‘infalibilitas’ tetap dapat mengajarkan sesuatu yang baik kepada anak- anak kita dalam hal iman dan moral (bahkan dalam hal yang kita sendiri gagal/ tidak sempurna melaksanakannya), apalagi Bapa Paus.
Contoh yang diambil bahwa pada jaman dahulu Paus bisa dipenuhi kemarahan terhadap kaum Reformator, harus dilihat dengan kacamata obyektif. Para Reformator itu mengajarkan doktrin yang tidak sesuai dengan ajaran para rasul dan Gereja Katolik, sehingga tentu saja Paus tidak bisa menerimanya. Misalnya saja pada kasus ajaran sesat Albigenses dan Cathar, yang sering-sering disebut sebagai “pendahulu” Reformasi. Silakan membaca di sini, silakan klik, untuk mengetahui fakta tersebut dari sisi Gereja Katolik.
5. Perpecahan jemaat dalam surat 1 Korintus 1:10-17 memang menceritakan adanya kelompok- kelompok yang mengotak-kotakkan diri mereka sesuai dengan nama murid Yesus yang memimpin mereka. Kelompok Kefas, ini diperkirakan beranggotakan mereka yang mengenal Petrus/ Kefas sebagai pemimpin para rasul (lih. 1 Kor 3:21-23; 9:4-5; 15:5). Rasul Paulus mengingatkan agar jemaat tidak melihat kepada siapa rasulnya (yang mengajar atau membaptis mereka), tetapi kepada Kristus yang diwartakannya. Di sini konteksnya adalah Rasul Paulus ingin menekankan agar umat lebih memfokuskan diri kepada pemberitaan salib Kristus (lih. 1 Kor 1: 17) yang menghantar kita kepada keselamatan daripada meributkan diri pada persaingan antar kelompok.
Namun jika itu masalahnya sampai kepada doktrin, maka kita melihat ke Kis 15. Di sana terlihat bagaimana di Sidang Yerusalem, Rasul Petruslah yang menengahi, jika terdapat perbedaan pemahaman. Rasul Petruslah yang mengajar dan membuat keputusan pada hal perlu atau tidaknya sunat bagi pengikut Kristus. Setelah pengajarannya itu, semua orang yang hadir di sana terdiam (termasuk di antaranya Rasul Paulus, Barnabas dan Yakobus).
Kesaksian tentang keutamaan kepemimpinan Petrus, dan perannya sebagai pemersatu Gereja memang harus dilihat tidak saja dari Kitab Suci tetapi dari tulisan para Bapa Gereja dan fakta sejarah, misalnya:
1. Surat pertama dari Santo Klemens (penerus ketiga setelah Rasul Petrus, tahun 80-an) kepada jemaat di Korintus yang menyelesaikan konflik di antara mereka membuktikan kepemimpinan Gereja di bawah penerus Rasul Petrus sebagai uskup di Roma. St. Klemen meninggal sekitar tahun 80-an sekitar 20 tahun sebelum Rasul Yohanes wafat. Namun meskipun Rasul Yohanes masih hidup di Efesus dan lebih dekat kepada Korintus daripada Roma, jemaat Korintus memohon kepada Uskup Roma, yaitu St. Klemens, untuk menyelesaikan konflik di antara mereka. Mereka melakukan ini justru karena mereka mengetahui bahwa Uskup Roma memegang “kunci”/ mempunyai otoritas kepemimpinan atas Gereja.
2. St. Irenaueus yang merupakan Uskup Lyons (180-200), yang merupakan Teolog yang terbesar pada jamannya, juga mengajarkan keutamaan kepemimpinan St. Petrus dan para penerusnya. Dalam bukunya, “Against Heresies” ia mengatakan demikian:
“Tetapi karena menjadi terlalu panjang untuk dijabarkan di satu jilid [buku] semua rangkaian /successions semua Gereja-gereja, kami harus menyudahi mereka, —yang dengan cara apapun, entah karena kepuasan sendiri atau karena ingin memuliakan diri sendiri, atau karena pendapat yang buta atau jahat, yang mendirikan jemaat melebihi dari yang seharusnya— dengan menunjukkan di sini rangkaian para uskup dari Gereja yang terbesar dan terdahulu yang diketahui oleh semua, yang didirikan dan dipimpin di Roma oleh kedua Rasul yang terbesar, Petrus dan Paulus, Gereja yang mempunyai tradisi dan iman yang diturunkan kepada kita setelah diumumkan kepada manusia oleh para Rasul. Karena dengan Gereja ini [Gereja Roma], karena asal usulnya yang tertinggi, semua Gereja harus setuju, yaitu, semua umat beriman di seluruh dunia; dan di dalam Gereja inilah [Gereja Roma] semua umat beriman dimanapun juga memelihara tradisi Apostolik.” (3,3,2, Jurgens, p.90, #210)
Kemudian St. Irenaeus melanjutkan dengan menuliskan 12 nama Paus mulai dari St. Petrus sampai jamannya, yang terdiri dari 12 orang Paus.
3. Hal serupa dilakukan oleh St. Agustinus, yang mengajarkan tentang keutamaan keuskupan Roma, dengan mengambil ayat Mat 16:18, dan kemudian menyebutkan rangkaian nama Paus, dari St. Petrus sampai dengan Paus Anastasius pada jamannya – yaitu 37 orang Paus. (lihat Letters, No. 53, ML 33, 196, FC 95-96, seperti dikutip oleh John Willis, SJ, dalam The Teachings of the Church Fathers, San Francisco: Ignatius Press, 2002, p. 73-74)
Maka jika Gereja Katolik mengatakan bahwa Paus sebagai penerus Rasul Petrus merupakan pemimpin/ “pemersatu”, itu bukannya mengada- ada atau tanpa ada dasarnya.
Keutamaan Petrus sudah terlihat jika kita membaca Alkitab itu sendiri: 1) Petrus selalu disebut pertama dalam urutan para rasul (Yudas selalu yang terakhir); 2) Petrus seringkali disebut dalam namanya, sedangkan rasul-rasul yang lain disebut sebagai “murid-murid” atau “kesebelas rasul”; 3) Petrus selalu tampil sebagai pemimpin, pembicara, dan yang pertama di antara sesama rasul yang lain; 4) Nama Petrus, Simon, Kefas, digunakan 191 kali di Perjanjian Baru. Kecuali nama Kristus sendiri, tidak ada nama lain yang muncul sesering nama Petrus. Nama Yohanes Rasul yang dipandang hampir sama dengan Petrus, hanya 48 kali muncul, dan nama Yakobus jauh di bawahnya. Uskup Agung Fulten Sheen pernah menghitung bahwa jumlah nama-nama Rasul selain Petrus disebutkan sebanyak 130 kali. Jika ini benar, maka, nama Petrus muncul 60% lebih sering daripada semua gabungan nama rasul-rasul lainnya. Ini tentu bukannya suatu kebetulan, dan secara obyektif menunjukkan adanya keistimewaan Petrus dibandingkan dengan rasul-rasul lainnya. (lih. Stephen Ray, Upon This Rock, San Francisco: Ignatius Press, 1999, p. 23)
Demikian yang dapat saya sampaikan, semoga berguna.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org
Terima kasih banyak atas penjelasannya Ibu Ingrid Listiati
Tuhan memberkati..