Apakah berfantasi seks itu dosa?
Pertanyaan:
Helo, Saya hendak bertanya satu soalan…saya rasa ini sesuatu yang memalukan bagi saya sendiri..harap beri pedoman dan penjelasan saudari. saya selalu melakukan fantasi seks yang saya anggap kurang ajar bagi diri saya sendiri…saya kira ini adalah satu dosa tetapi saya tidak melakukan seks dengan orang hanya anggapan ini berada dalam fikiran kotor saya….saya ingin berhenti melakukan hal ini kerana saya tahu saya berdosa bagi diri say sendiri….saya selalu berdoa supaya perkara ini tidak diulangi lagi…
pertanyaan saya adalah adakah dosa saya adalah dosa yang berat atau ringan? Saya selalu minta ampun dengan tuhan atas segala dosa saya dan adakah ianya berbaloi untuk mendaptkan pengampunan terus dari tuhan atau melalui paderi supaya saya dapat melakukan indulgensi.
Hamba Berdosa – Esther
Jawaban:
Shalom Esther,
Terima kasih atas kunjungannya ke situs katolisitas.org dan juga atas keterbukaannya untuk membagikan pengalaman Esther. Pertama-tama, perlu disadari bahwa semua orang berjuang untuk dapat hidup dalam kekudusan. Setiap orang juga mempunyai kelemahan masing-masing dan kelemahan-kelemahan ini dipakai oleh iblis untuk membuat kita berputus asa dan tak berdaya. Namun, kelemahan-kelemahan ini juga dipakai oleh Kristus untuk menyatakan kemuliaan-Nya. Dan hal ini hanya dapat terjadi, kalau kita mempunyai hubungan yang baik dengan Yesus serta terus bekerjasama dengan rahmat Tuhan untuk bertumbuh dalam kekudusan.
Rahmat Tuhan dapat menjadi “efficacious” (memberikan efek) dan bisa juga “inefficacious” (tidak memberikan efek). Hal ini dikarenakan kita sebagai manusia sering untuk berusaha memerangi dosa dengan kekuatan kita sendiri. Dan hal inilah yang dialami oleh St. Agustinus dari Hippo. Semakin kita ingin memerangi dosa dengan kekuatan sendiri, maka semakin kita terjatuh dalam lumpur keputusasaan, karena kita akan gagal. Kalau dosa adalah ketidakadaan kasih, maka dosa hanya dapat ditangani dengan cara mengisinya dengan kasih. Dan kasih ini hanya didapatkan dari Kristus, yang terlebih dahulu mengasihi kita. Jadi, cara untuk mengatasi keterikatan kita akan dosa adalah dengan mempunyai hubungan yang baik dengan Kristus, melalui doa pribadi, sakramen (terutama Ekaristi dan sakramen pengakuan) dan devosi kepada Bunda Maria.
Pada saat fantasi sex datang, maka hal ini belum termasuk dosa. Namun pada saat kita secara sadar melayani fantasi sex ini, maka kita mulai berdosa, dalam kategori dosa ringan. Kalau hal ini terus dipupuk, maka kita harus berhati-hati, karena tinggal tunggu waktu, maka dosa yang ada di dalam pikiran akan membuahkan maut, seperti melakukan masturbasi, dll. Dan pada saat kita melakukan dosa ini, maka kita melakukan dosa berat (mortal sin). Pembahasan lebih terperinci tentang perkembangan dosa, silakan untuk melihat artikel “Pengakuan Dosa – bagian 1″, terutama bagian “bagaimana proses dosa berkembang” (silakan klik).
Katekismus Gereja Katolik (KGK, 2352) mengatakan “Masturbasi adalah rangsangan alat-alat kelamin yang disengaja dengan tujuan membangkitkan kenikmatan seksual. “Kenyataan ialah bahwa, baik Wewenang Mengajar Gereja dalam tradisinya yang panjang dan tetap sama maupun perasaan susila umat beriman tidak pernah meragukan, untuk mencap masturbasi sebagai satu tindakan yang sangat bertentangan dengan ketertiban”, karena penggunaan kekuatan seksual dengan sengaja, dengan motif apa pun itu dilakukan, di luar hubungan suami isteri yang normal, bertentangan dengan hakikat tujuannya”. Kenikmatan seksual yang dicari karena dirinya sendiri tidak mempunyai “tujuan susila yang dituntut oleh hubungan seksual, yaitu yang melaksanakan arti sepenuhnya dari penyerahan diri secara timbal balik dan juga satu pembuahan manusiawi yang sebenarnya di dalam cinta yang sebenarnya” (CDF, Perny. “Persona humana” 9).
Supaya membentuk satu penilaian yang matang mengenai tanggung jawab moral dari mereka yang bersalah dalam hal ini, dan untuk menyusun bimbingan rohani supaya menanggapinya, orang harus memperhatikan ketidakmatangan afektif, kekuatan kebiasaan yang sudah mendarah daging, suasana takut, dan faktor-faktor psikis atau kemasyarakatan yang lain, yang dapat mengurang?kan kesalahan moral atau malahan menghilangkannya sama sekali.”
Bagaimana untuk memperbaikinya? Berikut ini adalah beberapa usulan yang mungkin dapat dijalankan.
1) Mempunyai hubungan yang baik dengan Tuhan, melalui doa pribadi, sakramen-sakramen, devosi terhadap Bunda Maria. Dosa dan doa senantiasa berbanding terbalik. Kalau kita terus bertekun dan setia dalam doa, maka biasanya kita tidak akan melakukan dosa berat. St. Teresa dari Avila mengatakan bahwa salah satu – dosa berat atau doa – harus menyerah dan tidak mungkin kedua-duanya berjalan bersamaan.
2) Pada saat fantasi itu datang, berdoalah dan mohon kekuatan dari Tuhan dan berdoalah juga agar Bunda Maria membantu. Bunda Maria, wanita tersuci akan membantu kita untuk mengatasi dosa ketidaksucian. Ucapkan doa yang pendek, namun berulang-ulang, seperti “Jesus, have mercy on me” atau “Yesus, kasihanilah aku“. Dan setelah itu, lanjutkan dengan aktifitas yang lain. Kita juga harus mencoba untuk menghindari situasi yang dapat membangkitkan fantasi seksual, misalkan, website yang tidak benar, buku bacaaan yang tidak benar, dll.
3) Pada saat kita gagal dan kembali pada dosa yang sama, maka secepatnya kita harus datang kepada romo untuk menerima Sakramen Tobat. Dan mulai lagi dari awal, dan jangan berputus asa. Dosa yang telah menjadi kebiasaan (habitual sin) akan membutuhkan waktu untuk dipatahkan. Hanya berkat Tuhan dan kerjasama dari kita, yang dapat mengalahkannya. Alangkah baiknya kalau Esther dapat mempunyai pembimbing rohani dan bapa pengakuan yang sama, sehingga dia dapat membantu Esther untuk mengatasi masalah ini. Habitual sin ini hanya dapat dikalahkan dengan “virtue” (kebajikan). Karena virtue adalah “the habit of the soul to perform good action with easiness and competent“, maka diperlukan suatu latihan untuk mengerjakan virtue tersebut secara berulang-ulang, sehingga dapat menjadi suatu habit. Pada saat yang bersamaan, kita dapat minta kepada Tuhan untuk memberikan virtue tertentu – dalam hal ini virtue kemurnian – , karena hanya Tuhan yang dapat masuk ke dalam jiwa kita dan memberikan rahmat yang diperlukan untuk mendapatkan virtue yang kita minta.
Semoga jawaban singkat di atas dapat membantu Esther. Jangan berputus asa, karena sesungguhnya kesadaran akan kesalahan itu berasal dari karya Roh Kudus yang dapat membawa seseorang kepada pertobatan dan kerendahan hati. Mari kita bersama-sama berjuang untuk hidup kudus, dengan mengandalkan rahmat Allah yang berlimpah. Dan percayalah senantiasa pada belas kasihan Allah.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

















Hai, salam kenal,
Sebelumnya, saya mengucapkan terima kasih banyak atas kesetiaan dan kesabaran rekan-rekan semua dalam memelihara situs ini, saya mendapatkan banyak sekali pengajaran dan manfaat terutama mengenai iman Katolik…… ^______^
Yang hendak saya tanyakan adalah : di film-film, terutama film barat yang romantis, terkadang ada adegan-adegan yang dapat dikategorikan sebagai adegan semi-porno… Nah, bagaimana kalau pada saat kita menonton suatu film, kita benar-benar tidak tahu kalau ternyata di tengah-tengah film di dalamnya ada adegan yang seperti itu? Padahal pada awalnya kita benar-benar tidak bermaksud untuk menonton hal itu? Apakah hal ini termasuk dosa melawan kemurnian? Jika iya, apakah termasuk dosa yang berat ataukah dosa ringan?
Terima kasih atas jawabannya…… Semoga Katolisitas semakin berkembang dan setia dalam melayani umat….. =D
— Teresa —-
Shalom Teresa,
Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:
Dalam Apostolic Exhortation “Reconciliatio et Paenitentia / Reconciliation and Penance“, 17, Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa yang masuk dalam kategori dosa berat adalah dosa yang “obyek“-nya adalah termasuk berat, orang tersebut benar-benar tahu (full knowledge) bahwa itu adalah melawan perintah Allah, dan dengan kesadaran penuh orang tersebut memilih untuk melakukannya juga (consent of the will).
Artinya, seseorang dikatakan melakukan dosa berat, jika obyek [dan efek-nya] berat, sudah tahu bahwa itu perbuatan dosa, namun dengan penuh kesengajaan ia tetap melakukannya juga. Maka dalam kasus yang anda sebut, agaknya yang harus dijawab dengan jujur adalah apakah orang yang menonton benar- benar tidak mengetahui bahwa di dalam film- film itu terdapat adegan- adegan yang tidak pantas. Jika ia benar- benar tidak tahu ada adegan tersebut, dan pada saat adegan itu terjadi maka ia memutuskan untuk tidak melihatnya/ tidak memperhatikannya, maka ia tidak melakukan dosa berat. Namun adakalanya adalah, walaupun pertama- tama ia tidak tahu ada adegan tersebut, namun kemudian ketika adegan tersebut ada malah ia memperhatikannya dengan sungguh- sungguh, dan sesudahnya malah menjadi terpengaruh dan berpikir tidak pantas atau bahkan juga berbuat yang serupa dengan adegan tersebut, ataupun kemudian menjadi kecanduan untuk menonton film- film sejenisnya. Jika ini yang terjadi, maka ia melakukan dosa berat, sebab ini sudah melibatkan ketiga syarat yang disebutkan di atas (obyeknya berat, sudah tahu itu dosa, tetapi tetap melakukannya juga). Dosa berat yang dilanggar di sini adalah dosa melawan kemurnian, melanggar perintah ke- 6 ataupun ke-9 dalam kesepuluh perintah Allah.
Sikap yang lebih selektif dalam memilih film- film yang akan kita tonton merupakan sikap yang bijaksana. Atau yang lebih bijaksana adalah, gunakan waktu yang ada untuk kegiatan yang lebih berguna untuk menumbuhkan iman dan membangun cinta kasih persaudaraan dalam komunitas umat beriman.
Demikian tanggapan saya atas pertanyaan anda.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org
Dear, mba Inggrid
wah….. terima kasih sekali atas jawaban dan penjelasannya….. ^_____^…
Salam,
-Teresa-
Shallom, saya seorang suami dengan istri yang sedang hamil. Saya ingin tahu bagaimana pandangan/aturan gereja mengenai hubungan seks dengan istri yang sedang hamil, mengingat salah astu tujuan seks adalah untuk prokreasi,sedangkan sekarang istri saya sudah hamil. Bagaimana dengan OS yang dilakukan istri seandainya dia sedang tidak memungkinkan untuk bersenggama dalam waktu yang cukup lama?
Terima kasih atas jawabannya.
Shalom Yuda,
Terima kasih atas pertanyaannya. Secara prinsip hubungan suami istri (HSI) dapat tetap dilakukan, walaupun istri dalam kondisi hamil, asal dilakukan dengan hati-hati. Untuk penjelasan lebih detail, silakan bertanya kepada dokter kandungan yang biasa anda kunjungi. Semoga dapat membantu. Terima kasih juga anda dapat melihat bahwa terbuka terhadap kelahiran adalah merupakan bagian dari HSI. Semoga keterangan singkat ini dapat membantu.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org
Terimakasih atas jawabannya. Saya masih punya pertanyaan mengenai HSI. Apakah setiap HSI harus diakhiri dengan persenggamaan? Bagaimana seandainya dalam foreplay istri sudah merasa lelah karena sedang hamil? Apakah boleh dilanjutkan atau diselesaikan dengan OS atau yang lain? Terimakasih
Shalom Yuda,
Terima kasih atas pertanyannya. Intinya setiap HSI harus mempunyai dua unsur, yaitu prounion dan procreation. Dengan demikian, HSI yang menghalangi unsur procreation tidak dapat dibenarnya, entah dengan pemakaian kontrasepsi, maupun dengan cara yang lain. Jadi, kalau memang istri lelah setelah foreplay karena sedang hamil, maka pada kondisi seperti ini, kasih seorang suami diuji. Kalau memang istri sedang lelah, maka seorang suami yang benar-benar ingin memberikan dirinya secara total dalam HSI harus juga mau mengerti kondisi istri dan kemudian tidak memaksakan kehendaknya sendiri dengan OS maupun cara yang lain. Dengan demikian, jalan yang terbaik adalah mencoba kembali di lain waktu, dan pergunakanlah waktu tersebut untuk mengekspresikan kasih dengan cara yang lain. Semoga dapat membantu.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org
Tim Katolisitas Yth,
Saya sedang bingung memikirkan hal ini, bolehkan saya terima komuni apabila sebelumnya secara tidak sengaja saya melihat gambar2 yg kotor/asusila. Sebetulnya, kejadian ini tidak saya sengaja, saya sedang mengumpulkan gambar2 3 dimensi, tetapi ternyata dari ratusan gambar2 tsb ada beberapa gambar dlm posisi pasangan yg sdg berhubungan intim – gambarnya memang tidak jelas krn kita hanya melihat spt gambar skets saja. Jujur saja, sudah sekian tahun saya tidak pernah melihat gambar2 kotor semacam itu krn saya selalu berusaha menghindar, tapi hari ini, entah iblis dari mana yg sudah menghancurkan jiwa saya shg saya kesasar melihat gambar itu. Satu lagi, bhw saya tidak merasa terangsang melihat gambar2 itu, justru saat ini saya benci dg sikap saya yg tidak keras terhadap diri saya sendiri. Hari ini biasanya kami pergi ke Misa, bolehkan saya mengambil bagian dalam komuni kudus? Saya ingin mengaku dosa, tapi saya merasa sgt malu terhadap romonya, krn beliau satu2nya romo di paroki kami, tdk ada romo yg lain. Jadi bagaimana? saya minta nasihat dari tim katolisitas, sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terimakasih banyak.
salam dan doa,
Mega
Shalom Mega,
Terima kasih atas komentarnya. Secara prinsip, kalau anda melakukan dosa ringan, maka anda dapat menerima komuni, dan rahmat dari Ekaristi justru akan membantu anda untuk bertumbuh dalam kekudusan. Kalau anda berdosa berat, maka anda harus mengaku dosa terlebih dahulu. Jadi permasalahannya adalah apakah yang anda lakukan adalah termasuk dalam dosa ringan atau dosa berat. Kalau anda tidak tahu bahwa gambar sketch tersebut berisi gambar-gambar kotor dan kemudian secara spontan anda tutup, maka sebenarnya anda tidaklah berdosa – kalaupun ada dosa ringan disebabkan oleh kekuranghati-hatian dalam mengumpulkan gambar-gambar. Namun, kalau setelah anda menyadari bahwa sketch tersebut berisi gambar-gambar kotor, dan kemudian anda terjerumus pada pemikiran kotor dan menikmatinya walaupun tahu bahwa hal tersebut salah, maka sebenarnya tindakan ini telah dikategorikan berdosa. Dalam kondisi pertama, anda tidak perlu mengaku dosa, walaupun anda juga menceritakannya kepada pastor, serta anda dapat menerima komuni. Dalam kondisi kedua, maka anda dapat mengaku dosa terlebih dahulu. Dalam kondisi seperti ini, janganlah terlalu kesal dengan diri sendiri, namun bersyukurlah bahwa Roh Kudus menggerakkan anda untuk dapat memeriksa batin anda secara lebih mendalam. Semoga keterangan ini dapat membantu.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org
Yth Bpk Stefanus Tay,
Terimakasih atas jawaban dan tanggapan yg telah diberikan kpd saya, sekarang, hati saya cukup lega. Hari kemarin itu (Rabu), saat Misa, saya tdk berani menyambut komuni. Apabila hari Minggu mendatang, saya akan menyambut Komuni lagi, saya memang menantikan jawaban dari tim Katolisitas. Sekali lagi terimasih krn pertanyaan saya dg cepat terbalas.
Salam dan doa
Mega
Salam para pengurus katolisitas yang mau meluangkan waktunya untuk menjawab pertanyaan2, semoga nggak bosan2nya menjawab pertanyaan saya.
Masturbasi khan termasuk pelanggaran berat karena dilakukan sendiri, kl misal lg foreplay trus masturbasiin istri boleh nggak ? [edit: kalau dalam foreplay, sperma suami sampai keluar bagaimana?], in the end coitus tetap berlangsung alamiah.
Lalu kl misal coitus interuptus gimana ? nggak pake kontrasepsi tapi sperma nya dibuang keluar, gak masturbasi juga… lalu gimana juga misal suami mengendalikan ejakulasinya, jadi dipisahkan antara puncak dengan ejakulasi sehingga penyemprotan tidak terjadi atau hanya terjadi di akhir hubungan. Lalu gimana dengan hubungan seks yang dilakukan tapi ntah si suami lg bosen atau gimana, gak bisa sampe puncak atau ejakulasi nggak terjadi, sementara sang istri mungkin ntah dah brapa kali orgasme.
Sori kl pertanyaannya agak vulgar. semoga bisa dibantu dijawab.
Shalom Anonymous,
Terima kasih atas pertanyaannya tentang seksualitas. Masturbasi memang termasuk dosa berat. Untuk menjawab pertanyaan selanjutnya, maka kita harus melihat definisi dari masturbasi:
Dengan pengertian di atas, maka kita melihat bahwa hubungan seksual adalah hubungan yang sakral, dimana bukan kenikmatan seksual yang dinomorsatukan, namun berpartisipasi dalam penciptaan bersama Allah (yaitu dengan melahirkan keturunan) dan juga merupakan manifestasi dari penyerahan diri dan kasih yang total antara suami dan istri. Dengan demikian, kita harus melihat ada dua unsur utama dalam seksualitas, yaitu “prounion” dan “procreation“. Dua unsur ini harus ada dalam melakukan hubungan seksual. Prounion, hanyalah mungkin dilakukan oleh pasangan suami istri yang saling mengasihi dan procreation membuat pasangan suami istri terbuka terhadap kelahiran.
a) Jadi, pada saat terjadi hubungan suami istri, maka harus dilakukan secara sempurna (coitus) atas dasar kasih, sehingga unsur prounion dan procreation terpenuhi. Foreplay harus mengarah kepada hubungan suami istri secara lengkap, sehingga tetap terbuka terhadap kelahiran. Dengan demikian sperma suami tidak dapat terbuang atau dibuang di luar dari hubungan lengkap bersama dengan sang istri, karena sperma inilah yang membuahi sel telur dari istri. Sebaliknya, memuaskan istri sebelum atau setelah hubungan lengkap suami-istri dapat dibenarkan, dengan syarat hal tersebut terjadi dalam konteks hubungan lengkap suami istri.
b) Namun, coitus interuptus tidak dapat dibenarkan, karena menghilangkan dimensi procreation, serta dimensi prounion juga dipertanyakan. Pertanyaan tentang pengendalian ejakulasi dalam konteks hubungan lengkap suami istri dapat dibenarkan, selama sperma tidak terbuang dan diakhiri dengan coitus yang normal.
c) Kondisi di mana seorang istri telah orgasme beberapa kali dan suami akhirnya tidak dapat ejakulasi tidaklah salah (walaupun harus dihindari), sejauh intensi awal pasangan suami istri tersebut ingin melakukan hubungan suami-istri secara lengkap (coitus). Kalau hal ini pernah terjadi sebelumnya, maka selanjutnya pasangan suami-istri tersebut harus berusaha untuk menghindari kondisi ini, sehingga pasangan suami-istri dapat saling memberi dan menerima kasih.
Semoga jawaban ini dapat membantu. Saya menyadari bahwa hal ini memang tidaklah mudah untuk dilakukan. Namun, kalau pasangan suami istri mencoba untuk melakukan hubungan suami-istri dengan unsur prounion dan procreation, maka kasih di antara suami istri dapat lebih terbina, karena pasangan bukanlah menjadi obyek seksual, namun menjadi seseorang yang mempunyai harkat untuk dikasihi secara total. Dan tentu saja, kita harus mohon rahmat Tuhan, sehingga pasangan suami istri Katolik dapat melakukan hal ini dengan sukacita.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – http://www.katolisitas.org
Salam Sejahtera,
Saya smp3,saya mempunyai masalah dengan ini
Setiap saya kali *masturbasi* dan sejenisnya , saya selalu merasa saya sangat berdosa
dan pastinya. Dan setelah itu nilai2 ulangan saya selalu menjadi jelek
Saya selalu memohon kepda bunda Maria dan berdoa novena tiga kali salam maria
Tetapi ,tanpa dan dengan sadar saya selalu mengulanginya terus
Saya tidak tahu harus bagaimana lagi
Tetapi tolong ..saya minta bantuannya. Terima Kasih
Shalom Agung,
Pertama- tama bersyukurlah terlebih dahulu kepada Tuhan, yang telah bekerja dalam hati Agung, sehingga anda dapat menyadari bahwa apa yang anda perbuat
(masturbasi) itu adalah dosa di hadapan Tuhan. Perjuangan meninggalkan kebiasaan buruk itu memang tidak mudah, namun Tuhan Yesus berjanji, bahwa kuasa-Nya cukup untuk memampukan kita semua menolak dosa. Dalam hal ini Agung harus yakin dan percaya bahwa jika anda mengandalkan kekuatan dari Tuhan, maka anda akan mempu mengatakan “tidak” pada masturbasi. Namun sekarang pertanyaannya, apakah yang sudah anda lakukan untuk menolak dosa tersebut? Memang baik jika Agung sudah berdoa novena Tiga Salam Maria, namun doa saja tidak cukup, jika tidak dibarengi dengan usaha anda yang nyata untuk menghindari dosa tersebut. Berikut ini adalah yang mungkin dapat anda lakukan:
1. Periksalah batin anda, mengapa sampai anda melakukan dosa masturbasi itu. Lalu teliti, apakah sebabnya atau apa kondisinya yang mendorong anda melakukan masturbasi. Berapa kali frekuensi anda melakukan masturbasi? Jika anda telah dengan jujur melihat semua kenyataan ini, berdoalah mohon ampun kepada Tuhan Yesus, dan temuilah pastor paroki untuk mengaku dosa dalam Sakramen Pengakuan Dosa.
Lakukan lagi hal yang sama, setiap kali anda jatuh dalam dosa ini, temuilah pastor dan mengaku dosalah dengan jujur, dengarkanlah saran pastor untuk menghindari dosa ini di kemudian hari.
2. Hindarilah kesempatan/ situasi yang mendorong anda melakukan masturbasi. Hindari waktu anda melamun sendiri, hindari melihat gambar/ film yang mendorong anda melakukan masturbasi.
3. Berdoalah sambil berlutut dengan memohon kekuatan dari Tuhan, setiap godaan itu datang. Akuilah kelemahan anda, namun pada saat yang bersamaan mohonlah dengan penuh keyakinan akan kuasa Yesus untuk membebaskan anda dari belenggu dosa masturbasi tersebut.
4. Arahkan pikiran dan perhatian anda kepada hal- hal yang lebih bermanfaat dan membangun iman. Gunakan waktu anda untuk hal- hal yang lebih positif; bacalah dan renungkanlah Sabda Tuhan, perhatikanlah orang-orang di sekeliling anda yang membutuhkan pertolongan, dan siap sedialah untuk menolong, jika anda dapat melakukannya. Dengan demikian, fokus pikiran anda tidak ditujukan pada diri sendiri tetapi kepada Tuhan dan sesama. Bergabunglah dalam kegiatan/ komunitas mudika yang sehat, seperti Persekutuan Doa ataupun Legio Mariae, di mana anda dapat menumbuhkan iman anda.
5. Setialah berdoa sepanjang hari, dengan doa- doa yang pendek, “Tuhan Yesus, kasihanilah aku, bebaskanlah aku dari dosa masturbasi”, katakan hal itu dengan tulus sesering mungkin sepanjang hari.
Semoga Masa Prapaska ini menghantar Agung ke dalam hubungan yang erat dengan Tuhan Yesus, yang memampukan anda meninggalkan kehidupan anda yang lama untuk hidup yang baru bersama Tuhan Yesus.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org
Shalom, saya baru pertama datang ke situs ini. dan saya sungguh mengucap syukur atas isi dari situs ini yang bisa menjadi berkat bagi saya dan semua umat katolik.
Saya ingin sharing sedikit : kembali ke pertanyaan awal diatas, memang menurut pengalaman dosa itu selalu datang dari pikiran dan semakin lama dilayani pikiran itu akan semakin kuat dan akhirnya mendorong tubuh kita untuk melakukan hal yang lebih lagi yang menurut kita ‘enak’ seperti masturbasi, mabuk dan obat-obatan.
Suatu waktu pada pengakuan dosa, seorang imam berkata pada saya bagaimana cara mengatasi godaan itu. Katanya, ketika godaan di pikiran itu datang, cobalah alihkan dengan hal yang lain. misal bila anda sedang tidur2an menikmati pikiran itu, bangkitlah segera dan lakukan tindakan yang lain yang dapat mengalihkan pikiran itu, entah membaca, entah menonton tv, pokoknya lakukan sebuah tindakan…
Hal ini juga mengingatkan saya akan cerita dari pengalaman seorang pemabuk yang tak pernah lepas dari anggur (sebuah kisah di buku’Perjalanan seorang Peziarah’). Ketika besar hasratnya untuk meminum anggur, maka ia segera mengambil kitab suci dan membaca 1 perikop. bila godaan itu masih ada, ia akan membaca 1 perikop lagi dan begitu seterusnya sampai godaan itu hilang. Dan kini ia sudah lepas dari jerat anggur dan kemabukan.
Dan yang terpenting pastinya doa. Cobalah untuk berdoa Yesus (menyebut nama Yesus berkali-kali dan menyesuaikannya dengan tarikan nafas kita) atau 1 kali salam maria setiap kali pikiran itu muncul.
Semoga pengalaman kecil ini bisa membantu saudara-saudari yang sedang dalam pergumulan seperti diatas. Tentunya juga tidak mudah bagi kita semua untuk merubah kebiasaan buruk , maka marilah kita saling mendoakan satu sama lain.
Tuhan memberkati.
Permisi mau numpang nanya, setelah membaca artikel ini ada beberapa pertanyaan yang masih terngiang ngiang di benak saya.
Bila ketidakmurnian adalah dosa berat, apakah itu berarti bila saya berkata kasar atau kotor maka saya harus mengaku dosa terlebih dahulu sebelum diizinkan untuk menerima komuni?
Terima kasih
Shalom Abcde,
Terima kasih atas pertanyaannya tentang berkata kasar atau kotor. Untuk mengerti apakah hal ini termasuk dosa berat atau ringan, diperlukan pengertian tentang apakah dosa berat. Katekismus 1856 mengutip apa yang dituliskan oleh St. Thomas Aquinas “Kalau kehendak memutuskan untuk melakukan sesuatu yang dalam dirinya bertentangan dengan kasih, yang mengarahkan manusia kepada tujuan akhir, maka dosa ini adalah dosa berat menurut obyeknya…. entah ia melanggar kasih kepada Allah seperti penghujahan Allah, sumpah palsu, dan sebagainya atau melawan kasih terhadap sesama seperti pembunuhan, perzinaan, dan sebagainya… Sedangkan, kalau kehendak pendosa memutuskan untuk membuat sesuatu yang dalam dirinya mencakup satu kekacauan tertentu, tetapi tidak bertentangan dengan kasih Allah dan sesama, seperti umpamanya satu perkataan yang tidak ada gunanya, tertawa terlalu banyak, dan sebagainya, maka itu adalah dosa ringan” (Tomas Aqu.,s.th. 1-2,88,2).”
Dari definisi di atas, maka kita dosa berat membuat manusia berbelok begitu jauh dari tujuan akhir. Atau parameter lain apakah suatu perbuatan adalah dosa berat kalau memenuhi 3 hal: a) obyek yang berat (grave matter), b) mempunyai pengetahuan yang penuh tentang dosa tersebut (full knowledge), dan c) melakukannya dengan sadar (full consent).
Dari definisi ini, maka berkata kasar dan kotor dapat termasuk dosa berat maupun dosa ringan. Kalau kita berkata kasar dan didengar oleh anak kita, maka telah berdosa ringan, karena telah memberikan contoh yang buruk kepada anak tersebut. Namun kalau contoh ini terus berlangsung terus-menerus dan membentuk karakter sang anak menjadi kasar dan tak terkendali, sebenarnya kita telah menyesatkan anak tersebut, yang mungkin dapat dikategorikan sebagai dosa berat. Contoh lain, kalau kita berkata kasar pada istri, sehingga menyebabkan perkawinan menjadi hancur, maka ini termasuk dosa berat. Kalau kita tahu bahwa istri kita akan sakit hati dengan kata-kata kasar yang kita ucapkan, namun kita tetap dengan sengaja melakukannya maka ini menjadi dosa berat. Suatu kebiasaan jelek, tidak mengurangi dosa, namun menambahkan intensitas dosa. Kalau kata-kata kasar digunakan dalam bahasa pergaulan, maka ini menjadi dosa ringan. Dalam hal ini, kita gagal untuk menjadi saksi Kristus yang baik. Dan kalau hal ini menjadi suatu kebiasaan yang berlangsung terus-menerus yang dapat menyebabkan skandal, dan kita telah tahu bahwa ini salah, maka yang tadinya dosa ringan akan berkembang menjadi dosa berat.
Ada baiknya kita berfokus pada kesempurnaan atau “perfection“, sehingga kita mencoba menghindari dosa ringan maupun dosa berat. Oleh karena itu, pengakuan dosa secara teratur (misal: 1 atau 2 x sebulan), baik dosa ringan maupun dosa berat, dapat membantu kita untuk bertumbuh di dalam kekudusan.
Semoga dapat membantu.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – http://www.katolisitas.org
Terima kasih atas penjelasan nya.
Sekarang sudah Clear…
Keep up good work ^ ^
“bertentangan dengan kasih, yang mengarahkan manusia kepada tujuan akhir” apakah ini mengacu kepada Hukum Cinta kasih yang isinya adalah kasihilah sesamamu manusia ……. ??
Terima kasih
Shalon Abcde,
Terima kasih atas pertanyaannya. Semua dosa – baik dosa ringan maupun berat – akan senantiasa berlawanan dengan kasih. Karena Tuhan adalah kasih, maka dosa – yang adalah perlawanan terhadap Tuhan – menjadi bertentangan dengan kasih. Semakin kuat suatu dosa, maka semakin kuat pertentangannya dengan kasih dan semakin kuat membelokkan manusia dari tujuan akhir. Itulah sebabnya Katekismus Gereja Katolik mengatakan bahwa dosa berat menghancurkan kasih dan dosa ringan memperlemah kasih (lih. KGK, 1855). Dan karena dosa mempunyai dimensi horisontal dan vertikal, maka dosa akan bertentangan dengan kasih terhadap sesama dan kasih terhadap Tuhan. Semoga dapat memperjelas.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – http://www.katolisitas.org
Salam damai Kristus,
Perkenalkan saya wawan ( nama panggilan ).
Langsung saja, sekarang saya sedang mengahadapi masalah hutang yang sungguh diluar batas kemampuan saya. Tapi saya mencoba tetap bertekun dalam doa, meskipun mungkin terkadang ketika berdoa pikiran saya masih “melayang” memikirkan maslaah tersebut, sehingga kurang konsentrasi. Apakah jika demikian doa saya tidak didengar Allah Bapa ?.
Mohon bantuannya juga untuk masalah saya ini.
terimakasih.
Shalom Wawan,
Terima kasih atas pertanyaannya. Saya turut prihatin atas masalah yang dihadapi oleh Wawan. Saya tidak tahu apa yang menyebabkan Wawan sampai terjerat hutang. Mungkin ada baiknya kalau Wawan dapat menghubungi paroki terdekat Wawan, dan kemudian meminta bantuan SSP (Seksi Sosial Paroki). Dan untuk berdoa, kalau pikiran melayang memikirkan masalah ini, mungkin ada baiknya di dalam doa, Wawan dapat mempersembahkan masalah ini dihadapan Tuhan. Mungkin perjalanan ini akan memakan waktu, namun diperlukan kesabaran Wawan untuk menghadapi semua ini.
Ada baiknya juga dalam kesempatan yang memang sulit ini, Wawan dapat mengadakan pemeriksaan batin. Kalau memang ada kesalahan yang dilakukan Wawan, maka silakan mengakukan dosa kepada pastor dalam Sakramen Tobat. Dan setelah itu, bertekunlah dalam doa, mohon kepada Tuhan untuk memberikan rahmat, sehingga Wawan dapat memperbaiki kesalahan, dan memulainya lagi dari awal.
Semoga saran di atas dapat membantu.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – http://www.katolisitas.org
Terimakasih atas replaynya.
Memang awalnya dari keserakahan saya. Saya mendapat email kalo saya mendapat hadiah sekian ratus dollar dari sebuah negara.
Untuk persyaratannya saya harus membayar ini sekian juta.Saya tanpa pikir panjang membayar.Kemudian mereka meminta lg bayaran, dengan alasan ini itu.
Saat itu yang saya pikirkan hanyalah, jika itu memang benar dan nyata, saya bisa memakmurkan kehidupan ortu saya dan juga anak istriku.
Mungkin juga ini adalah hukuman dan peringatan dari Tuhan, karena hampir 5 tahun saya jarang kegereja.
Total hutang saya sekitar 60 jutaan, apakah SSP bisa memberi bantuan ?
Saya sudah mencoba berserah diri kepadaNya, what will be happen, ya happen aja.
Saya mencoba realistis, ini kesalahan saya, saya harus menanggungnya.
Mungkin rencanaNya memang lain dengan yang kita harapkan.
Mohon replaynya.
salam damai
Shalom Wawan,
Cobalah untuk menghubungi SSP, siapa tahu mereka dapat membantu sebagian. Dan sambil berusaha, tetaplah berdoa. Mungkin langkah awal, silakan datang ke pastor dan mengaku dosa. Semoga Tuhan memberikan jalan.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – http://www.katolisitas.org
Salam Damai Kristus,
Dear Bp Stef,
Terimakasih atas jawabannya. Saat ini saya masih tetap mencoba dan semoga bisa untuk mendekatkan diri kepadaNya.
Memang saya akui beberapa saat lalu saya kalah oleh godaan setan, tapi saat ini saya mencoba untuk berbalik lagi kepadaNya.
SUdah beberapa hari ini saya mencoba mengikuti misa harian, tujuannya agar hati saya tenteram.
Saya juga browsing situs keagamaan.
Semoga Allah Bapa berkenan kepadaku.
Amien.
Salam,
Terimakasih
Hi Mba Inggrid/Pak Stef dan semuanya,
saya mau nanya..apa bila kita melakukan masturbasi/onani dan sering nonton blue film, tp setiap minggu kita masih sering kegereja dan menerima komuni kudus seperti biasa..apakah ini termasuk dosa ringan atau berat?? dan apakah keadaan seperti ini di perbolehkan atau tidak (maksut saya adalah..apakah kita tetap pantas untuk menerima komuni?)
Shalom Belarminus,
Untuk menjawab pertanyaan anda, mari kita melihat definisi dosa berat (mortal sin) dan melihat apakah masturbasi dan menonton blue film termasuk dosa berat tersebut. Sebab jelas jika seseorang berdosa berat, maka seseorang tidak dapat menerima komuni, dan ini sesuai dengan pengajaran Rasul Paulus (lih. 1 Kor 11:26-28; dan dituliskan dalam Katekismus)
KGK 1385 Untuk menjawab undangan ini, kita harus mempersiapkan diri untuk saat yang begitu agung dan kudus. Santo Paulus mengajak supaya mengadakan pemeriksaan batin: "barang siapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan. Karena itu hendaklah tiap-tiap orang menguji dirinya sendiri dan baru sesudah itu ia makan roti dan minum dari cawan itu. Karena barang siapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya" (1 Kor 11:27-29) Siapa yang sadar akan sebuah dosa besar, harus menerima Sakramen Pengakuan sebelum ia menerima komuni.
Sekarang, mari kita lihat pengertian dosa berat (mortal sin):
KGK 1857 Supaya satu perbuatan merupakan dosa berat harus dipenuhi secara serentak tiga persyaratan: "Dosa berat ialah dosa yang mempunyai materi berat sebagai obyek dan yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan dengan persetujuan yang telah dipertimbangkan" (RP 17).
KGK 1859 Dosa berat menuntut pengertian penuh dan persetujuan penuh. Ia mengandaikan pengetahuan mengenai kedosaan dari suatu perbuatan, mengenai kenyataan bahwa ia bertentangan dengan hukum Allah. Dosa berat juga mencakup persetujuan yang dipertimbangkan secukupnya, supaya menjadi keputusan kehendak secara pribadi. Ketidaktahuan yang disebabkan oleh kesalahan dan ketegaran hati (Bdk. Mrk 3:5-6; Luk 16:19-31. tidak mengurangi kesukarelaan dosa, tetapi meningkatkannya.
Untuk menentukan "materi berat" kita melihat pertama-tama adalah kesepuluh Perintah Allah seperti tertulis dalam Kel 20, dan apa yang dikatakan Gereja sebagai 7 macam dosa yang mematikan/ deadly sin, karena dapat menyebabkan tumbuhnya dosa yang lain dan, secara bersamaan, 7 kebijakan yang mengalahkannya, yaitu: (sumber: Spirago- Clarke, The Cathecism Explained, (Illinois: TAN books and Publishers, inc, 1993, p. 479-508)
1. Kesombongan, dilawan dengan kerendahan hati
2. Ketidaktaatan, dilawan dengan ketaatan.
3. Kemarahan, dilawan dengan kesabaran, kelemahlembutan, kedamaian
4. Keserakahan, dilawan dengan kemurahan hati
5. Hawa nafsu tak sehat terhadap makanan dan minuman, dilawan dengan pengendalian diri.
6. Ketidakmurnian/ percabulan, dilawan dengan kemurnian.
7. Kemalasan, dilawan dengan semangat untuk melakukan yang baik.
Dengan demikian kita ketahui bahwa jika dilakukan dengan pengetahuan dan kesengajaan, maka masturbasi dan menonton blue film adalah dosa berat yang melawan kemurnian, atau dosa ke 6 dalam ke-10 Perintah Allah. Pengertian ketidakmurnian ini mencakup: bermacam pikiran, perkataan ataupun perbuatan yang merusak kemurnian. Orang-orang yang tidak murni tidak memiliki rahmat pengudusan yang berasal dari Roh Kudus. (Atau tepatnya mereka sendiri membuang rahmat pengudusan ini yang mereka terima saat Pembaptisan). Mereka akan menerima ganjarannya baik di dunia, dan di kehidupan kekal [jika tak bertobat] akan mengalami kebinasaan kekal. Untuk menghindari dosa ini, seseorang perlu pergi menghindari cobaan itu. Hal ini kita ketahui dari kisah Yusuf (Kej 39) dan juga pengajaran Rasul Paulus (1Kor 6:18). Hindarilah situasi yang sering menimbulkan godaaan-godaan tersebut. Misalnya, hindari pergaulan yang tidak sehat, hindari percakapan yang ‘ngeres’, hindari mengunjungi situs-situs porno, hindari bacaan yang tidak sehat, dst. Pakailah waktu untuk sesuatu yang lebih berguna dan menumbuhkan iman. Kembangkan hobby yang lebih bermanfaat. Kunjungilah dan hiburlah teman/ saudara yang sedang dalam kesusahan.
Jangan lupa, pergilah mengaku dosa dalam Sakramen Tobat. Tidak hanya atas dosa ketidakmurnian ini, tetapi juga dosa karena walaupun sudah melakukan dosa tersebut, anda masih menerima Komuni. Jika anda mengaku dosa dalam sakramen Tobat dengan teratur dan dengan sikap batin yang baik, dengan kerinduan untuk sungguh-sungguh bertobat, maka percayalah, anda akan dapat dilepaskan dari keterikatan dosa ketidakmurnian ini. Rahmat Tuhan Yesus lebih besar dan lebih berkuasa dari dosa apapun, sebab Ia telah mengalahkan kuasa dosa dan maut dengan wafat dan kebangkitan-Nya. Selanjutnya, silakan bertumbuh dalam iman yang benar, yang didasari atas kasih kepada Tuhan yang melebihi segala sesuatu, melebihi kehendak sendiri, apalagi kehendak kedagingan yang tidak teratur. Mohonlah agar Tuhan Yesus sendiri memberikan kasih itu di dalam hati anda, agar anda mampu mengasihi Dia dan bertumbuh di dalam kekudusan.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org
Hallo Mba Inggrid,
Terima kasih atas penjelasannya yang sangat details. Dan satu pertanyaan lagi, seperti kita ketahui bersama bahwa sebelum perayaan ekaristi di mulai kita sudah mempersiapkan diri kita untuk terlebih dahulu menyesali segala dosa2 yang telah kita perbuat lewat doa pribadi kita dan di tambah pemeriksaan batin pada saat perayaan ekaristi (saya mengaku…….).
apakah itu masih tidak cukup untuk melayakan diri kita menerima komuni kudus??
thanks.
Shalom Belarminus,
Doa “Tuhan Kasihanilah” dan “Saya mengaku …… dst hanyalah diperuntukkan untuk dosa ringan, sedangkan untuk dosa berat harus diakui di dalam Sakramen Pengakuan Dosa. Dan memang Ekaristi menghapuskan dosa ringan (lihat KGK 1394), namun tidak menghapus keharusan bagi kita untuk mengaku dosa-dosa berat dapam sakramen Pengakuan Dosa.
Untuk itu, memang kita perlu mengetahui apakah kita mempunyai dosa berat atau dosa ringan, agar dapat menentukan apa yang harus kita lakukan jika kita sungguh bertobat, dan layakkah kita dengan keadaan kita menyambut Ekaristi. Silakan klik di sini untuk mengetahui pengertian dosa, dosa berat dan dosa ringan dan Silakan klik di sini untuk membaca lebih lanjut tentang perlunya membedakan dosa berat dan dosa ringan.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org
Dear Mba Inggrid,
thanks untuk jawabannya…sudah jelas sekarang:).
regards,
Bram
Halo, mohon tanya
masturbasi itu termasuk dosa ya? just wonder why?
sebab saya belum berhasil pahaminya:
1. Sperma yg terbuang (onani) kan bukannya membunuh calon bayi? sama halnya dengan bila terbuang alami melalui air seni.
2. Masturbasi pada wanita malahan tidak membuang sel ovum nya sama sekali.
3. Memang bila masturbasi dilakukan saat menyetir mobil / di tempat umum / yang aneh-aneh dapat menimbulkan efek negatif bagi manusia lain –> dapat dianggap dosa. Tapi bila bukan kondisi yg tadi?
4. Dgn Analogi Kasar: Mastubasi mirip dengan kalau kita nonton film romantic, dan terbawa perasaan jadi ikutan terharu / nangis / gembira / jatuh cinta, dll; yg intinya menggunakan daya imajinasi manusia (yang dikaruniakan Tuhan) untuk hal-hal yang “relatif” tidak beresiko bagi orang lain
Mohon pencerahannya. Terima kasih
Shalom Paulus,
Menurut KGK 2352, seperti yang telah disebutkan di atas, masturbasi itu dosa, karena berhubungan dengan penyalahgunaan pemberian Tuhan; yang sebenarnya ditujukan untuk ekspresi penyerahan diri yang total dan timbal balik antara pria dan wanita dalam perkawinan, namun jadi ditujukan untuk membangkitkan kenikmatan seksual bagi dirinya sendiri. Jadi ada penyimpangan makna di sini: sebab seharusnya alat kelamin diberikan Tuhan untuk maksud yang mulia: yaitu untuk melibatkan manusia yang saling memberikan diri dalam persatuan suami istri- dalam karya penciptaan-Nya untuk mendatangkan kehidupan yang baru. Maka alat kelamin tidak sama sekali dimaksudkan oleh Tuhan untuk dirangsang demi pemuasan nafsu sendiri. Kemampuan seksual dimaksudkan Allah yang menciptakannya, untuk makna yang luhur: untuk maksud pro- union and pro-creation antara suami dan istri. Jadi jika manusia memisahkan keduanya, atau bahkan mendefinisikan sendiri makna yang lain dari kedua makna di atas, maka sebenarnya ia menggunakan kemampuan seksualnya untuk sesuatu yang tidak sesuai dengan rencana Allah.
Maka, masturbasi yang dilakukan oleh kaum pria (onani) ataupun oleh wanita memang tidak secara langsung membunuh calon bayi, tetapi di sini ada penyimpangan dalam penggunaan alat kelamin yang tidak sesuai dengan hukum Allah atau maksud Tuhan memberikannya. Inilah yang menyebabkan perbuatan ini sebagai dosa, karena salah satu definisi dosa adalah sebagai berikut:
Dengan demikian, walaupun dosa masturbasi ini tidak dilakukan di depan umum, atau bahkan di tempat tersembunyi, tetaplah merupakan dosa, karena masturbasi merupakan pelanggaran terhadap hukum Allah. Dengan seksualitasnya, manusia diciptakan untuk menggambarkan kasih Allah yang luhur dan mulia. Maka seksualitas memiliki dimensi rohani, dan tidak sekedar hanya jasmani. Itulah sebabnya dengan penyalahgunaan seksualitas untuk nafsu pribadi, manusia merendahkan martabatnya, sebab hanya memfokuskan dirinya dengan kepuasan jasmani semata.
Analogi kasar yang anda sampaikan bahwa masturbasi mirip dengan menonton film yang membawa perasaan/ emosi, seperti menangis, gembira, dst, tidaklah relevan; karena aktivitas menonton atau mendengarkan lagu-lagu yang membawa emosi tersebut tidak mempunyai kapasitas pro-creation, di mana manusia dapat mengambil bagian dalam suatu misteri Allah yang luhur yaitu penciptaan manusia yang lain. Maka aktivitas menonton film/ menangis tidak dapat disejajarkan dengan aktivitas seksual.
Aktivitas seksual yang tidak sesuai dengan maksud Tuhan, dapat menjadikan manusia menjadi "budak" kesenangan seksual, sehingga dapat menjurus ke hal "pendewaan" kenikmatan seksual, yang menggeserkan tempat Tuhan di dalam hati orang tersebut. Inilah adalah suatu bentuk ‘berhala’ yang baru pada jaman ini. Hal ini juga merupakan bentuk pelanggaran yang serupa dengan dosa Adam dan Hawa yang memakan buah pohon pengetahuan, karena ingin menentukan sendiri hal yang baik dan buruk sesuai dengan kehendak hati mereka, dan bukannya mematuhi kehendak Tuhan.
Kita sebagai umat beriman seharusnya mematuhi kehendak Tuhan dan bukannya mengartikan segala sesuatu sesuai dengan kehendak dan pengertian kita sendiri. Pada akhirnya, dibutuhkan kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita sebagai mahluk ciptaan selayaknya tunduk kepada rencana Allah yang menciptakan kita, termasuk dalam hal seksualitas.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- http://www.katolisitas.org
Helo,
Saya hendak bertanya satu soalan…saya rasa ini sesuatu yang memalukan bagi saya sendiri..harap beri pedoman dan penjelasan saudari. saya selalu melakukan fantasi seks yang saya anggap kurang ajar bagi diri saya sendiri…saya kira ini adalah satu dosa tetapi saya tidak melakukan seks dengan orang hanya anggapan ini berada dalam fikiran kotor saya….saya ingin berhenti melakukan hal ini kerana saya tahu saya berdosa bagi diri say sendiri….saya selalu berdoa supaya perkara ini tidak diulangi lagi…
pertanyaan saya adalah adakah dosa saya adalah dosa yang berat atau ringan? Saya selalu minta ampun dengan tuhan atas segala dosa saya dan adakah ianya berbaloi untuk mendaptkan pengampunan terus dari tuhan atau melalui paderi supaya saya dapat melakukan indulgensi.
Hamba Berdosa
Esther
[dari katolisitas: silakan melihat jawaban di atas - silakan klik]
Damai Kristus,
Setelah membaca pertanyaan Esther pada July 13, 2009 at 3:47 am dan jawaban Bp. Stef pada Jul 16th, 2009, saya ingin sekali memberikan sharing berikut ini.
Puji Tuhan, saya menemukan website yang sangat bagus ini. Website ini telah sangat membantu saya memahami bahwa Ekaristi adalah sumber dan puncak spiritualitas Kristiani. Untuk itu, sayapun berusaha keras untuk semakin menghayati Ekaristi.
Kemudian, saya menemukan, Bp. Stef menulis: Kekudusan adalah kehendak Allah untuk kita semua sebagai orang Kristen – bahwa hanya orang yang hidupnya kudus yang bisa masuk surga.
Sayapun tertegun dan berpikir: “Saya punya dosa-dosa yang saya ulangi terus selama ini. Berarti, penghayatan saya terhadap Ekaristi hanya sebatas liturgis di gereja saja.”
Saya segera pergi kepada seorang pastor untuk mengaku dosa. Saya akui dosa-dosa yang terus saya ulangi selama ini. Dan, saya percaya, dosa-dosa saya diampuni.
Tak lama kemudian, kembali saya melakukan dosa-dosa yang sama. Saya segera kembali lagi kepada pastor yang sama untuk mengaku dosa-dosa yang telah saya ulangi. Dan, sayapun diampuni dari dosa-dosa saya.
Terjadi berkali-kali: mengulangi dosa-dosa yang sama lagi – pergi kepada pastor yang sama untuk mengaku – kemudian diampuni… Sampai suatu saat saya mendengar cerita Bp. Andrie Wongso dalam CD Audio-nya yang berjudul “Bibit yang tidak bisa Bertunas”. Di akhir kisah, Bp. Andrie Wongso bercerita, “Hai kalian 7 pemuda yang tidak jujur. Kalian pantas dihukum, karna berani menipu Baginda!”
Saya terkejut. Saya pikir, membohongi raja saja tak boleh dilakukan. Raja tersebut langsung menghukum orang yang telah membohonginya. Sedangkan kepada Tuhanku ….Sudah saya bohongi berkali-kali, tetapi DIA masih bersedia mengampuniku dalam Sakramen Tobat. Saya memutuskan tidak boleh lagi membohongi Tuhanku dengan mengatakan akan bertobat, tetapi kenyataannya tidak demikian. Kasihan Tuhanku, saya bohongi terus…
Saya segera kembali kepada pastor yang sama untuk mengaku dosa-dosa yang telah saya ulangi. Saya terharu. Setelah berulang kali mengakui dosa-dosa yang sama, tetap saja saya mendapatkan pengampunan, tetap saja saya disambut dengan sikap yang sangat kebapaan. Sungguh, sangat kebapaan! Saya jadi malu sendiri.
Syukur kepada Allah. Saya tidak lagi mengulangi dosa-dosa itu.
Pengakuan sebulan sekali tetap akan saya lakukan, karna rahmatnya sangat besar. Rupanya, pengakuan yang rutin saya lakukan telah mendatangkan rahmat, sehingga saya dapat bertobat dari dosa yang telah menjadi kebiasaan (habitual sin). Bukankah begitu, Bp. Stef?
Ternyata, untuk lebih merasakan keistimewaan Ekaristi, saya harus meninggalkan cara hidup saya yang lama.
Semoga bermanfaat.
Dan, ada banyak point dari Bp. Stef yang sangat berpengaruh kepada saya, seperti:
• Sebagai umat Katolik, kita harus tetap berakar pada Sakramen Ekaristi, karena Sakramen Ekaristi adalah sumber dan puncak kehidupan kristiani. Dan dengan semakin setia mengikuti Ekaristi yang disertai dengan sikap hati yang benar (sadar, aktif, dan berpartisipasi), maka Roh Kudus dapat lebih aktif bekerja di dalam kehidupan kita.
• Kekudusan adalah kehendak Allah untuk kita semua sebagai orang Kristen
• Sebenarnya Gereja memberikan penghargaan yang begitu besar terhadap doa kontemplasi dan doa hening (KGK 2709).
• Karunia-karunia Roh Kudus yang tidak mengarah kepada kekudusan dapat membahayakan kehidupan spiritual.
Terima kasih Bp. Stef atas point-point yang sangat bermanfaat ini.
Bunda Maria memberkati.