Cara Mempersiapkan Diri Menyambut Ekaristi
Mengapa kita harus mempersiapkan diri
Sering kita mendengar, dan mungkin juga mengalami, bahwa mengikuti Misa Kudus dapat menjadi sesuatu yang rutin. Bukannya tidak mungkin bahwa di kalangan orang Katolik sendiri ada yang menganggap ikut Misa hanya kewajiban. Bahkan ada yang berkomentar misalnya, ‘misanya bikin ngantuk’ atau ‘khotbahnya kurang semangat’. Padahal kita semua mengetahui bahwa Ekaristi adalah sumber dan puncak ibadah kita, sebab Kristus sendiri hadir di dalamnya. Bagaimana seharusnya, supaya kita dapat lebih menghayati Misa Kudus? Artikel ini ditulis sebagai kelanjutan dari artikel “Sudahkah kita pahami Ekaristi?” dan “Ekaristi Sumber dan Puncak Spiritualitas Kristiani”. Berikut ini adalah langkah-langkah yang dapat kita renungkan agar sedapat mungkin (dan sebanyak mungkin) kita memperoleh rahmat Ekaristi; karena efek penerimaan rahmat tersebut tergantung juga dari sikap batin kita saat menerima Ekaristi.[1]
Jika perhatian utama kita dalam Misa Kudus adalah Tuhan Yesus, maka sesungguhnya kita mempunyai alasan yang kuat untuk mempunyai ketetapan hati yang sungguh untuk mempersiapkan hati sebelum menyambut Dia dalam Ekaristi. Dengan persiapan yang baik, kita akan lebih dapat menghayati dan mengalami efek yang lebih besar setelah menerima rahmat Ekaristi. Namun jika perhatian kita tertuju pada diri sendiri dan perasaan kita, maka akan sulit bagi kita untuk menghayati rahmat tersebut. Sebab yang kita harapkan adalah supaya kita ‘merasakan’ dan mengalami sesuatu, dan bukannya mengimani sesuatu –dalam hal ini adalah kehadiran Tuhan sendiri- yang tidak dapat kita lihat dan kita rasakan. Padahal, iman yang sejati adalah iman yang berdasarkan pada pengharapan (lih. Ibr 11:1) dan bukan pada perasaan.
Maka kini, mari kita mohon pada Tuhan agar kita beroleh karunia iman yang sejati, yang berpusat pada Tuhan (dan bukan pada perasaan kita). Dengan demikian kita dapat memiliki sikap hati yang benar, baik sebelum, pada saat dan sesudah menerima Ekaristi Kudus. Pada intinya, kita harus datang ke hadapan Tuhan dengan hati sebagai hamba, yang siap menerima dan memberikan juga jerih payah kita. Ingatlah bahwa dengan berpartisipasi dalam Ekaristi kita memenuhi tugas panggilan imamat bersama, yang kita terima pada saat Pembaptisan kita, saat kita menerima peran sebagai imam, nabi dan raja (lih. 1 Pet 2:9; dan juga silakan baca: Sudahkah kita diselamatkan?).
Prinsip dasar yang perlu kita ketahui tentang Misa Kudus
Pertama-tama, kita perlu mengetahui bahwa Misa Kudus terdiri dari 2 bagian, yaitu: Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. Kedua bagian ini sangat berkaitan satu dengan lainnya dan membentuk satu kesatuan ibadat kita.[2] Hal ini berdasarkan pengajaran dari Yesus sendiri, yang menampakkan Diri setelah kebangkitan-Nya pada kedua muridNya yang berjalan ke Emaus (lih. Luk 24:13-35). Yesus menyatakan kehadiran-Nya pertama-tama dengan menjelaskan isi Kitab Suci, mulai dari kitab Musa dan kitab nabi-nabi. Mendengarnya, hati kedua murid itu berkobar-kobar, walaupun pada saat itu mereka belum menyadari bahwa Yesuslah yang sedang berkata-kata kepada mereka. Kemudian mereka meminta Yesus untuk tinggal dan makan bersama dengan mereka. Hanya pada saat Yesus mengambil roti, mengucap syukur dan memecah dan membagikannya, maka para murid itu mengenali Dia.
Maka, jika kita ingin menghayati Misa Kudus, kita harus menyadari kedua bagian ini dan berpastisipasi di dalamnya. Di bagian pertama, Liturgi Sabda, peran kita adalah aktif mendengarkan dan meresapkannya, dan di bagian kedua, Liturgi Ekaristi, kita aktif ikut mengucap syukur dan mempersembahkan korban kita. ‘Korban’ di sini bukan hanya terbatas pada korban roti dan anggur yang ada di tangan pastor- yang akan diubah menjadi Tubuh dan Darah Kristus, tetapi juga adalah korban yang kita bawa sebagai persembahan kita, yaitu diri kita sendiri dan segala yang ada dalam hati kita: suka duka, syukur, pergumulan, sakit penyakit, dst. Korban kita ini akan dipersatukan dengan korban Kristus, Sang Kepala, agar berkenan di mata Allah Bapa.
Bagaimana praktisnya kita berpartisipasi, mungkin dapat kita lihat berikut ini.
Persiapan sebelum Perayaan Ekaristi
- Baca dan renungkanlah Bacaan Misa Kudus hari itu sebelum menghadiri Misa, entah malam sebelumnya (doa malam) atau pagi hari (doa pagi). Keterangan bacaan Misa Kudus ini dapat diperolah dari website ini (silakan klik di sini) ataupun dari buku renungan harian yang berdasarkan Kalender Gereja. Awali permenungan akan Sabda Allah ini dengan doa syukur, demikian juga di akhir renungan. Jika semua anggota keluarga beragama Katolik, kita dapat merenungkannya bersama-sama sebagai satu keluarga: yaitu suami, istri dan anak-anak. Hal ini baik juga untuk menanamkan kebiasaan membaca dan merenungkan kitab suci pada anak-anak.
- Ambillah satu ayat yang dapat kita ingat untuk kita ulangi di dalam hati. Kita dapat mengulangi ayat ini dan meresapkannya di dalam hati. Atau renungkanlah beberapa tema kasih Tuhan berkaitan dengan Ekaristi Kudus, seperti: Yesus adalah Roti Hidup yang kuperlukan; Ekaristi adalah sumber suka cita dan kekuatanku; Komuni mempersiapkan aku untuk kebahagiaan Surgawi; Dalam Komuni aku berjumpa dengan Yesus Sahabat dan Tuhanku, dll.
- Periksalah batin, dan jika kita menemukan dosa yang cukup berat, akukanlah dosa tersebut di hadapan Tuhan dan juga buatlah ketetapan hati untuk mengaku dosa pada Pastor dalam sakramen Tobat; jika memungkinkan sebelum misa, namun jika tidak, secepatnya pada hari-hari berikutnya.
- Untuk persiapan Misa Kudus hari Minggu, persiapkan segala sesuatunya sebelumnya, supaya tidak tergesa-gesa. Misalnya, siapkanlah uang persembahan/ kolekte (baik jika dimasukkan di dalam amplop), siapkanlah anak-anak, terutama jika anak-anak sering membuat kita terlambat ke gereja. Bangunlah lebih pagi, jika perlu. Siapkanlah pakaian yang pantas dan sopan untuk kita pakai ke gereja. Contoh sederhana: jika kita punya sepatu, pakailah sepatu, bukan sandal, apalagi sandal jepit; jika kita punya baju berlengan, pakailah itu, dan jangan pakai baju tangan buntung. Ingatlah bahwa apa yang terlihat dari luar adalah cerminan dari isi hati. Lagipula, Sang Tamu Agung yang akan kita sambut adalah lebih mulia daripada seorang Presiden atau Raja!
- Janganlah makan atau minum dalam waktu 1 jam sebelum menerima Komuni[3], untuk sungguh memberikan keistimewaan pada Kristus yang akan menjadi santapan rohani.
- Nyalakanlah kaset lagu rohani, atau lagu meditasi yang dapat mengarahkan hati kepada Tuhan, sebelum berangkat ke gereja. Sebaiknya di perjalanan kita hening dan sudah mulai mengarahkan hati kepada Tuhan. Kita dapat pula berdoa rosario di dalam perjalanan dari rumah ke gereja.
- Datanglah cukup awal, supaya setidaknya ada waktu untuk berdoa misalnya sekitar 10-15 menit sebelum misa dimulai, dan menenangkan hati dan pikiran sebelum mengikuti misa.
Pada saat di gereja: Tenangkanlah batin, dan dengarkanlah Tuhan
Misa Kudus adalah saat kita bertemu dan bersatu dengan Tuhan dalam keheningan. Keheningan itu penting, karena dalam keheningan kita dapat melepaskan diri dari semua keterikatan pikiran dan kehendak kita; dan sepenuhnya mengarahkan hati kepada Tuhan. Musik, doa, dan renungan itu baik, namun seharusnya semua itu menghantar kita pada persatuan dengan Tuhan yang paling dalam, yaitu dalam keheningan batin, di mana tidak ada apa-apa lagi selain hanya Tuhan dan kita.
Untuk mencapai keheningan batin inilah kita semua berjuang, karena begitu kita mencoba, maka pada saat yang sama pikiran kita akan dipenuhi oleh pikiran-pikiran yang lain, mulai dari pekerjaan, masalah yang sedang kita hadapi, sampai hal-hal sepele; seperti mau makan apa sepulang misa, jalan-jalan sama teman atau ingatan akan film TV yang semalam baru ditonton! Jika pikiran kita melayang sedemikian, katakan pada diri sendiri: “Sekarang aku di sini. Aku hanya perlu melakukan satu hal: ikut serta sepenuh hati merayakan kehadiran Kristus dalam Ekaristi. Tuhan, bantulah aku.” Arahkanlah pandangan kepada salib Yesus atau Tabernakel, atau jika dipandang lebih mudah, tutuplah mata dan berdoalah dalam ketenangan.
Begitu musik lagu pembukaan dinyanyikan, berdirilah, sambutlah kehadiran Tuhan. Ikutlah menyanyi dengan segenap hati. Ketika imam dan semua pelayan altar menunduk di hadapan altar, turutlah menunduk, dan katakan di dalam hati, “Ya Tuhan, aku hadir di sini, memenuhi panggilan-Mu.”
Ingatlah akan segala kekurangan kita, dan katakan dari hati “Tuhan kasihanilah kami, Kristus kasihanilah kami, Tuhan kasihanilah kami”. Ucapkanlah pujian yang keluar dari hati, memuliakan Tuhan dalam “Gloria”. Pada saat imam mengucapkan doa pembukaan, jadikanlah perkataan imam sebagai kata hati kita sendiri.
Sesaat sebelum memasuki Liturgi Sabda, tenangkan hati dan sungguh-sungguh pusatkan perhatian untuk mendengarkan pembacaan pertama Sabda Tuhan. Karena kita telah membaca sebelumnya, semoga kita dapat lebih meresapkannya pada saat kita mendengarkannya kembali. Demikian pula dengan Mazmur dan bacaan kedua. Nyanyikanlah Alleluia. Ingatlah bahwa Yesus dahulupun memuji Allah Bapa dengan nyanyian yang sama, Alleluia: Hallel, O Yahweh (Terpujilah O, Tuhan). Pada saat pembacaan Injil, kita mencoba merenungkan bahwa kita termasuk bilangan dari orang-orang yang menyaksikan sendiri perkataan/ perbuatan Yesus pada saat itu. Pujilah Kristus saat Injil selesai dibacakan.
Pada waktu homili, dengarkanlah pesan imam. Jika sampai pikiran kita melayang, katakanlah pada diri sendiri: “Aku hadir di sini untuk Kristus. Tuhan, bantulah aku…” Kemudian dengarkanlah kembali. (Sesungguhnya doa ini dapat kita ucapkan berkali-kali, setiap saat pikiran kita ‘berbelok’ dari fokus kepada Tuhan). Sedapat mungkin tariklah kaitan antara homili dengan Injil yang baru saja dibaca, serta pelajaran apa yang kita peroleh sehubungan dengan itu. Jika kenyataannya adalah kita benar-benar ‘mengantuk’ dan tidak dapat menangkap isi khotbah seluruhnya, jangan berkecil hati. Berdoalah pada Tuhan, agar Ia membantu kita mengingat minimal satu kalimat atau bahkan satu kata saja yang dapat berbicara kepada kita. Misalnya saja, kita menangkap kata: “Bertobat” atau “Percayalah”… hal itu adalah pesan bagi kita.
Pada saat mengucapkan Syahadat Aku Percaya, ucapkanlah dengan iman yang teguh. Yakinilah dengan iman bahwa Allah adalah Pencipta langit dan bumi yang telah mengutus Putera-Nya Yesus Kristus untuk menyelamatkan kita. Pada saat mengucapkan “… dan akan Yesus Kristus… yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria…” kita menundukkan kepala dengan hormat, sebab kita sungguh menyadari akan kasih Allah yang terbesar: bahwa Ia telah menjelma menjadi manusia untuk menyelamatkan kita.
Selanjutnya, ikutilah mengucapkan doa umat dalam hati, sadarilah bahwa kita merupakan bagian dari anggota Tubuh Kristus yang terdiri dari umat seluruh dunia. Doa kita sebagai anggota Tubuh yang satu akan menyumbangkan kebaikan buat anggota Tubuh yang lain.
Selanjutnya, kita memasuki Liturgi Ekaristi. Tibalah saatnya kita mempersembahkan segala sesuatu kepada Tuhan: persembahan kolekte yang telah kita siapkan, namun lebih dari itu adalah persembahan segenap kasih, kehendak, pikiran, pergumulan kita kepada Tuhan. Pada saat imam memberkati roti dan anggur di altar suci, pada saat itu pula kita turut mempersembahkan persembahan kita. Sadarilah bahwa pada saat itu, kita bukan sekedar ‘menonton’ apa yang dilakukan imam, melainkan kita sendiri ikut mengangkat hati dan mempersembahkan diri kita kepada Tuhan. Persembahan kita adalah korban syukur kita kepada Tuhan, atau, dapat juga berupa hati yang hancur, seperti dikatakan dalam Mzm 51:19: “Korban kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak Kaupandang hina, ya Allah.” Korban kita itu kita gabungkan dengan korban semua anggota Gereja (Tubuh Kristus) yang menjadi satu dengan korban Kristus (Sang Kepala), yang dihadirkan kembali oleh kuasa Roh Kudus. Korban ini mempersatukan kita dengan seluruh anggota Tubuh-Nya, baik yang masih berziarah di bumi, maupun yang sedang dimurnikan di Api Penyucian dan yang sudah berjaya di Surga.
Saat Doa syukur agung dibacakan, arahkanlah hati kepada Tuhan, sehingga kita sungguh mengatakan dengan iman, bahwa “sudah layak dan sepantasnya” bahwa kita mengagungkan Tuhan kita. Sebab sungguh layak dan kuduslah Tuhan, yang patut kita sembah dan kita muliakan. Maka pada saat Kudus, kudus, kudus dinyanyikan atau dibacakan, kita menggabungkan pujian kita dengan pujian seluruh isi surga, para malaikat dan seluruh anggota Gereja di manapun juga, memuji Allah segala kuasa, dan Kristus yang telah datang atas nama Tuhan. Ya, terpujilah Tuhan di surga!
Dengan hati penuh syukur, kita merenungkan kembali perkataan Yesus yang penuh kuasa. Bahwa sebelum menderita sengsara, Ia telah menetapkan perjamuan bersama para murid-Nya yang kini kita lakukan demi peringatan akan Dia. Konsekrasi adalah bagian yang utama dalam Misa Kudus, yaitu pada saat imam mengatakan, “Terimalah dan makanlah. Inilah Tubuhku yang dikurbankan bagimu.” Dan kemudian imam mengangkat roti hosti. Pandanglah hosti kudus itu dengan penuh syukur dan kasih sebab Kristus telah rela mati untuk menebus dosa kita. Kini, oleh kuasa Roh Kudus-Nya Ia menghadirkan kembali Misteri Paska di tengah kita. Oleh Sabda Allah yang dikatakan oleh imam, hosti itu bukan hosti lagi, melainkan Tubuh Kristus sendiri. Maka kita dapat memandang hosti itu sambil berkata seperti yang dikatakan oleh Rasul Thomas, “Ya Tuhanku dan Allahku.” Demikian pada saat imam berkata, “Terimalah dan minumlah. Inilah piala darahKu, darah perjanjian baru dan kekal, yang ditumpahkan bagimu dan bagi semua orang demi pengampunan dosa. Lakukanlah ini untuk mengenangkan Daku;” kita memandang piala yang diangkat itu, sambil mengatakan hal yang sama, “Ya Tuhanku dan Allahku.” Kita dapat menundukkan kepala, tanda hormat dan syukur atas Misteri Kristus ini. Katakan dengan iman, “Terima kasih Yesus, Engkau telah mengasihi aku dan menyerahkan diriMu untuk aku” (Gal 2 :20).
Selanjutnya kita lambungkan madah anamnese, ”Wafat Kristus kita maklumkan, kebangkitanNya kita muliakan, kedatanganNya kita rindukan.” Dengan demikian kita menyatakan iman kita atas Misteri Kristus: Ia telah wafat, bangkit dan akan kembali. Dan sementara kita menantikan kembali kedatangan-Nya, kita dikuatkan oleh Kristus sendiri dalam Ekaristi. Di dalam Dia kita dipersatukan sebagai satu Tubuh, dalam pimpinan Bapa Paus dan para uskup. Kita juga dipersatukan dengan para saudara kita yang telah berpulang di dalam kerahiman Tuhan (pada saat ini kita boleh mendoakan saudara-saudari kita yang telah meninggal dunia). Kita juga dipersatukan dengan para kudus di surga, terutama dengan Bunda Maria dan para rasul. Sehingga bersama mereka kita dapat mengangkat pujian kepada Tuhan Allah Tritunggal Maha Kudus seiring dengan perkataan imam, “Dengan pengantaraan Kristus, bersama Dia dan dalam Dia, bagiMu, Allah Bapa yang mahakuasa, dalam persekutuan dengan Roh Kudus, segala hormat dan kemuliaan sepanjang segala masa.” Kita menjawab Amen, Amen. (Ya, kemuliaan bagi-Mu ya Tuhanku!).
Kini tibalah saatnya kita mengucapkan doa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus kepada kita, yaitu doa “Bapa Kami”. Bayangkanlah bahwa Yesus ada di hadapan kita melihat bagaimana kita mengucapkan doa yang diajarkan-Nya ini. Ucapkanlah dengan iman, setiap kata dalam doa ini. Bayangkanlah bahwa kita bersama dengan seluruh murid Yesus dipersatukan di dalam doa ini, dengan memuliakan Allah kita yang di dalam Kristus dapat kita panggil sebagai “Bapa Kami”.
Selanjutnya adalah doa damai. Saat memberikan salam damai, jangan sampai pusat perhatian kita bergeser dari Tuhan kepada orang-orang di sekitar kita. Walaupun mata kita memandang mereka saat memberi salam, namun yang terpenting adalah niatan di dalam hati kita untuk berdamai, tidak saja kepada mereka, tetapi juga kepada mereka yang menyakiti ataupun yang kita sakiti hatinya. Orang-orang di sekitar kita yang kita beri salam adalah sebagai wakil yang mengingatkan kita akan niatan hati kita itu. Ingatlah akan pesan Yesus, “…jika engkau mempersembahkan di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada di dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu…” (Mat 5:23). Maka salam damai yang kita nyanyikan harusnya bukan sekedar ‘basa-basi’, namun sesungguhnya membawa akibat perubahan yang besar, yaitu bahwa kita berketetapan hati untuk mengampuni orang (siapapun orang itu) yang menyakiti kita, dan meminta ampun kepada orang yang telah kita sakiti hatinya. Jika kita belum sempat melakukannya sebelum Misa, biarlah kita melakukannya sekembalinya kita dari Misa Kudus.
Hanya dengan hati yang dipenuhi damai inilah, maka kita dapat dengan lapang memandang Tuhan Yesus, Sang Anak Domba Allah. Pandanglah Kristus, dan kita akan belajar dari-Nya bagaimana caranya mengasihi dan mengampuni, sampai sehabis-habisnya. Dia telah menyerahkan DiriNya di kayu salib, sebagai bukti kasih-Nya yang tiada batasnya pada kita: Ia mau menderita, demi menebus dosa kita, Ia mau dihina sedemikian rupa, untuk menanggung akibat dosa kita. Ia rela berkorban, sampai seperti anak domba, yang tanpa melawan, menyerahkan nyawa-Nya. Pandanglah Kristus, dan akuilah segala kelemahan kita, bahwa kita sering tidak mau dan tidak dapat berkorban. Sekali lagi kita mohon belas kasihan dari-Nya dan mohon kekuatan atas niat kita untuk berdamai dan menjadi pembawa damai: “Anak Domba Allah, kasihanilah kami…. Berilah kami damai…”
Saat Kristus dalam rupa Hosti itu diangkat di hadapan kita, lihatlah bukti kerendahan hati Yesus yang tidak ada taranya: Setelah menjelma menjadi manusia dan wafat sebagai seorang hamba, Kristus yang adalah Putera Allah semesta alam, kini merendahkan diri, dengan mengambil rupa sepotong roti, supaya kita dapat menyambutNya, tanpa merasa canggung, takut dan malu. Ia menyembunyikan kemuliaan-Nya, agar kita dapat menghampiriNya. O, seandainya kita dapat mengatakan dengan iman seperti yang dikatakan oleh perwira itu, “Ya Tuhan, saya tidak pantas Tuhan datang pada saya. Tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh.” Semoga Tuhan melihat iman dalam hati kita, sehingga seperti Ia dahulu mengabulkan permohonan perwira itu, kini Ia-pun mengabulkan permohonan kita.
Kini tibalah saatnya kita menantikan saat yang suci itu: bahwa kita akan menyambut Komuni. Saat menunggu, maupun berjalan menghampiri altar suci, arahkan hati kepada Tuhan, “Tuhan, ini aku, datang menyambutMu…” atau “Tuhan, mari masuklah ke dalam hatiku…” Ucapkanlah, “Amin”, pada saat menerima “Tubuh Kristus”. Biarlah tubuh dan jiwa kita bersyukur tiada terhingga menyambut sang Tamu Agung: Raja Semesta Alam yang Ilahi masuk ke dalam diriku, bersatu dengan tubuh dan jiwaku! Salam, hai Engkau, Roti Surgawi, mari masuk dan tinggallah di hatiku”
Doa setelah menerima Ekaristi
Setelah menerima Ekaristi, kita kembali ke tempat duduk dan terus berdoa:
- Sembahlah Yesus yang bertahta di hati kita. Bayangkan kita mencium kaki Yesus dan tangan-Nya yang menunjukkan bekas luka-luka karena dipaku di kayu salib. Pandanglah Dia, dan serahkan diri kita kepadaNya. “Engkaulah Tuhanku, Engkaulah Rajaku, aku menyembahMu, Tuhan. Aku mengasihi Engkau.”
- Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia telah mengasihi kita, menghargai kita dengan mau datang dan masuk dalam diri kita melalui Komuni Kudus. Pujilah Tuhan, untuk segala kebaikanNya. Undanglah para malaikat, semua orang kudus, dan Bunda Maria untuk juga mengucap syukur bersama kita.
- Sekali lagi, mohonlah ampun untuk semua dosa dan kesalahan kita. Seperti Maria Magdalena yang bertobat dengan air mata, akuilah segala kelemahan kita: kegagalan kita untuk menekan keinginan berbuat dosa, kemalasan, tidak mau berkorban, cinta diri melebihi cinta kepadaNya dan sesama. “Tuhan, ajarilah aku untuk menghindari dosa demi kasihku kepada-Mu.”
- Mohonlah kepada-Nya, apa yang menjadi keinginan kita. Namun terutama, mari kita berdoa agar Tuhan menguduskan kita dan semua manusia. Kita mohon juga agar Tuhan memberikan kasih di dalam hati kita, supaya kita dapat mengasihi. Kita berdoa atas kebutuhan kita dan orang-orang yang kita kasihi. Jangan lupa berdoa bagi Gereja, bagi Bapa Paus, bagi para imam, terutama imam yang memimpin perayaan Ekaristi ini; dan juga berdoalah bagi pertobatan para pendosa. Di sini kita dapat menyebutkan doa-doa bagi orang-orang yang mohon doa-doa kita. Sebagai penutup, berdoalah agar Yesus dapat dikenal, dan dikasihi oleh sebanyak mungkin orang.
Setelah Misa Kudus selesai, pulanglah dengan membawa damai Tuhan. Baik jika sesudah misa-pun kita melanjutkan doa syukur. Sebaiknya kita tidak tergesa-gesa untuk pulang, sebab justru sesaat setelah menerima Komuni adalah saat yang terkudus. Adalah baik jika kita dapat berdoa dengan tenang, misal sampai sekitar 10 menit sesudah misa, untuk mengucapkan syukur bahwa Tuhan Yesus berkenan menjadikan kita Bait Allah yang hidup, sebab Ia telah memasuki tubuh kita. Karena itu kita dikuduskan, dikuatkan dalam iman, pengharapan dan kasih, serta dipersiapkan oleh Allah sendiri agar suatu saat nanti kita dapat bersatu denganNya di surga. Dengan penuh syukur, resapkanlah saat ini dekapan Allah yang mempersatukan Diri-Nya dengan kita. Biarlah seluruh hati kita dipenuhi oleh kasih-Nya: “Terima kasih, ya Tuhanku.”
Penutup
Saudara dan saudariku, mari kita tilik bersama bagaimana persiapan hati kita dalam menyambut Ekaristi. Sebab, jika kita menjalankan bagian kita dengan baik: mempersiapkan diri dan berpartisipasi aktif dalam Perayaan Ekaristi, sesungguhnya tidak mungkin kita ‘tidak mendapat apa-apa’ dari Perayaan Ekaristi. Jika kita merasa demikian, barangkali kita perlu dengan rendah hati mohon ampun kepada Tuhan, sebab itu berarti kita kurang menghargai karunia Tuhan Yesus yang terbesar, yaitu Diri-Nya sendiri. Ibaratnya, Tuhan telah memberikan segala-galanya, tapi kita masih ‘komplain‘ juga. Padahal jika kita diundang oleh seorang raja untuk makan bersama beliau di istana, tentu kita dengan serta merta menyiapkan diri, dan kita mungkin tidak terpikir untuk ‘komplain‘, bukan? Karena undangan sang raja itu sendiri adalah suatu berkat istimewa. Dalam Ekaristi, sesungguhnya kita menyambut Yesus, Raja di atas segala raja; dan Ia bukannya menjamu dengan santapan duniawi, tetapi dengan santapan surgawi, yaitu Diri-Nya sendiri, untuk membawa kita ke surga. O, betapa kita semua harus semakin menyadari hal ini! Semoga hari demi hari kita dapat semakin mensyukuri rahmat Ekaristi, dan semakin merindukannya….
Doa
“Ya Tuhan Yesus, terima kasih atas karunia Ekaristi-Mu. Bantulah aku agar selalu mensyukuri anugerah-Mu dan semakin hari semakin menghayati rahmat kudus-Mu itu. Biarlah aku menjadi alat bagi-Mu untuk menyampaikan kasih dan kebenaran, agar semakin banyak orang mengenal, mengasihi dan melayani Engkau sebagai Tuhan. Mampukanlah aku untuk mengikuti teladan-Mu dengan memberikan hidupku bagi sesama demi kasihku kepadaMu, sebab Engkau telah terlebih dahulu memberikan hidup-Mu kepadaku. Terpujilah Engkau, ya Tuhan selamanya.” Amin.
[1] Sacrosanctum Concilium, 11, Vatikan II tentang Liturgi Suci menjabarkan pentinganya persiapan batin sebelum mengikuti liturgi, “Akan tetapi supaya hasil guna itu diperoleh sepenuhnya, Umat beriman perlu datang menghadiri liturgi suci dengan sikap-sikap batin yang serasi.”
[2] Sacrosanctum Concilium, 56, “Misa suci dapat dikatakan terdiri dari dua bagian, yakni liturgi sabda dan liturgi Ekaristi. Keduanya begitu erat berhubungan, sehingga merupakan satu tindakan ibadat.”
[3] Kitab Hukum Kanonik Gereja tahun 1983, can. 919 menyebutkan bahwa “Seseorang yang akan menerima Ekaristi Kudus harus berpuasa sedikitnya satu jam sebelum Komuni kudus, artinya tidak makan dan minum, kecuali air putih dan obat.” Sesungguhnya, peraturan ini tidaklah sukar karena hampir praktis artinya tidak makan dan minum dalam perjalanan ke gereja, jika jarak antara rumah dan gereja sekitar ½ jam, dan jika kita datang ke gereja sekitar 15 menit sebelum misa dimulai.
5 artikel/gambar terakhir di kategori Sakramen
- Kami mengasihimu, pastor! - October 23rd, 2008
- Jamahan Tuhan dalam Sakramen Pengurapan Orang Sakit - September 25th, 2008
- Humanae Vitae itu Benar! - August 31st, 2008
- Masih Perlukah Sakramen Pengakuan Dosa (Bagian 4-Selesai) ? - August 27th, 2008
- Ekaristi sumber dan puncak Spiritualitas Kristiani - August 19th, 2008
5 artikel/gambar terakhir di kategori Semua Artikel
- Bersyukurlah, ada Api Penyucian! - November 28th, 2008
- Kami mengasihimu, pastor! - October 23rd, 2008
- Trinitas: Satu Tuhan dalam Tiga Pribadi - October 6th, 2008
- Jamahan Tuhan dalam Sakramen Pengurapan Orang Sakit - September 25th, 2008
- Yesus, Tuhan yang Dinubuatkan Para Nabi - September 18th, 2008

Comment by domenico on 24 November 2008:
Bapak Stef dan Ibu Inggrid,saya mohon izin agar dapat melink web ini dengan web saya, terimakasih. Berkat Tuhan
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Domenico (Romo Wanta),
Ya, silakan me-link web ini dengan web Romo.
Semoga Tuhan memberkati Romo juga
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
Stefanus & Ingrid
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by Yohanes Rasul on 23 November 2008:
Menurut Dr Scott Hahn, Perayaan Ekaristi dan sikap hati umat ketika Ekaristi, digambarkan dalam Kitab Wahyu. Ternyata membaca Kitab Wahyu dalam ingatan akan ekaristi sangat membantu saya untuk mengetahui keduanya baik misteri ekaristi maupun kitab Wahyu itu sendiri. Dalam Kitab Wahyu digambarkan aneka monster yg menjadi simbol godaan suasana pikiran dan hati dalam menyambut “manna yang tersembunyi”, dan Sang Anak Domba. Ada tua-tua berpakaian kebesaran di antara dua kaki dian (Kristus di altar dalam pembawaan imam), ada 666 simbol penerimaan sakramen-sakramen yang tidak lengkap (mestinya 7 sakramen), ada para pelayan Anak Domba yang tak tercemari perempuan (mengacu imam-imam pelayan ekaristi), ada nyanyian kudus-kudus sebelum konsekrasi, dan lain-lain. Betapa dalam dan tingginya misteri ekaristi Tuhan kita. Tak layak sebenarnya kita entah umat entah imam menyambutnya, selain karena perkenan Tuhan sendiri. Menganggap ekaristi hanya sebagai “hiburan” alias entertainment sungguh tidak boleh terjadi di dalam diri orang Katolik. Ekaristi bukan level ibadah gaya sekte-sekte kaum protestan yang seperti pentas hiburan, ajang pendewaan diri sendiri atas nama pujian kepada Tuhan. Kadang-kadang orang Katolik yang “suam-suam kuku” tertarik ke sana karena bungkusnya yang gemerlap. Namun akhirnya kelihatan aslinya bahwa bukan di situlah ibadah yang sejati. Sudah 2000 tahun ini Kristus dalam GerejaNya tetap setia dengan Ekaristi: setiap hari!
Shalom
Yohanes Rasul
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by andryhart on 23 November 2008:
Shalom,
Ketika akan menyambut tubuh Yesus dalam misa kudus di gereja, ada umat yang berpendapat bahwa doa Rosario kurang tepat karena isi doanya terutama Salam Maria. Apakah tidak sebaiknya kita berdoa Yesus karena kita akan menyambut tubuh dan darah-Nya, sementara doa Rosario didoakan dalam kesempatan lain seperti di lingkungan atau di tempat ziarah. Dengan demikian kita membedakan antara adorasi dan devosi. Bagaimana pendapat Bu Ingrid?
Tuhan memberkati.
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Saya setuju bahwa sebelum komuni kita tidak berdoa apapun selain doa syukur agung (DSA.Namun setelah DSA, sebelum komuni (sambut tubuh Kristus) dan setelahnya, saya berdoa apa saja untuk menghubungi Kristus: dari doa hening, doa Yesus, Salam Maria, Bapa Kami, Mazmur 23, dsb. Doa Salam Maria tetap relevan (juga Rosario setelah misa), karena kita menyambut Kristus dengan sepenuh jiwa-raga, seperti Bunda Maria mengandung Kristus. Maka kita mohon restu Bunda Maria agar tetap bersatu dengan Kristus seperti Bunda Maria. Setelah komuni kita pun seolah-olah menjadi “Bunda Maria-Bunda Maria yang lain”, karena kita pun mengandung Kristus, dan harus melahirkannya untuk sesama.
Shalom
Yohanes Rasul
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Terima kasih atas artikel “Persiapan Ekaristi”. Menurut saya, ekaristi (dan ibadah apapun dalam Gereja Katolik) bukanlah entertainment atau hiburan, apalagi sekedar acara buatan manusia. Kristus sendiri penggagasnya. Jika homili tidak emosional, karena memang imam bukanlah orator yang mau membakar emosi massa, namun dia adalah pelayan Sabda, penyampai Ajaran Bunda Gereja, dan pelayan Sakramen untuk anggota-anggota Tubuh Kristus. Di mimbar dan altar, imam bertindak “in persona Christi Capitis” (atas nama Kristus sebagai Kepala Gereja). Ekaristi pertama-tama adalah doa. Kalau ingin mengalami emosi yang meledak-ledak dan menyentuh sensasi, bukanlah Ekaristi tempatnya. Paradigma ini mesti ada dalam diri setiap orang (entah Katolik entah Non Katolik) yang mau merayakan atau sekedar menghadiri perayaan ekaristi.
Shalom
Yohanes Rasul.
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Andry,
Jika kita kembali kepada definisi doa, yang menurut St. Teresia Kanak-kanak Yesus adalah, "ayunan hati dan pandangan sederhana ke surga, suatu seruan syukur dan cinta kasih…." (KGK 2558), maka apapun bentuk doanya tidak menjadi masalah, asal sungguh membantu kita untuk mengarahkan hati ke surga. Dalam menyambut Ekaristi memang hal pandangan ke surga ini menjadi sangat istimewa, sebab Kristus yang empunya Kerajaan Surga datang dan memasuki hati dan bahkan tubuh kita. Maka, saya setuju dengan pendapat Yohanes Rasul bahwa dalam doa pribadi, kita dapat menanggapi keagungan misteri ini dengan doa hening, doa Yesus ataupun dengan doa Bapa Kami dan Salam Maria- asalkan, menurut saya, fokus utamanya tetap Kristus.
Di dalam artikel di atas, memang saya menganjurkan untuk berdoa rosario sebelum dimulainya Misa Kudus (misalnya sebelum berangkat ke Misa, atau di dalam perjalanan ataupun di gereja sebelum misa dimulai), dan yang saya maksudkan di sini adalah doa Rosario yang disertai dengan permenungan Peristiwa-peristiwa kehidupan Yesus: Peristiwa Gembira, Sedih, Terang dan Mulia- sehingga tetap berpusat pada Kristus. Sedangkan di dalam Misa Kudus sendiri ataupun sepanjang misa, menurut saya, tidak tepat kalau ‘disambi’ dengan doa Rosario. Karena pada saat Misa sebaiknya kita mengikutinya dengan kesatuan hati dengan persembahan kurban Kristus yang sedang terjadi di depan altar. Jika kita berdoa Rosario sendiri di tempat duduk kita, mungkin akan sulit bagi kita untuk mengikuti apa yang sedang berlangsung selama Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi. Namun demikian, sehabis menyambut komuni dan juga setelah Misa Kudus selesai, tentu jika kita merasa doa Rosario sangat membantu untuk meresapkan misteri kasih Kristus, maka kita dapat berdoa Rosario, bersyukur bersama Bunda Maria atas rahmat Kristus yang baru kita terima, dan mohon agar Bunda Maria mendoakan kita supaya dapat meniru teladannya, membagikan kasih Kristus kepada sesama.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
Ingrid Listiati
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by Chandra on 18 November 2008:
shalom Bu Ingrid,
Menurut peraturan sebenarnya mana yang benar: Janganlah makan atau minum (kecuali air putih dan obat ya?) dalam waktu 1 jam sebelum menerima Komuni atau sebelum misa? Karena bukankah misa adalah satu kesatuan perayaan yang memuncak pada ekaristi dan penyambutan Tubuh dan Darah Kristus? Jika dihitung 1 jam sebelum menerima komuni berarti dalam perjalanan ke Gerejapun kita masih boleh makan/merokok/minum(selain air putih)? Saya koq rasanya risih ya kalau melihat orang dalam perjalanan ke gereja atau bahkan di depan gereja sebelum misa masih merokok atau makan snack/permen. Mohon penjelasannya karena ada dua pendapat yang berbeda, satu mengatakan 1 jam sebelum misa yang lain mengatakan 1 jam sebelum komuni.
Terima kasih, GBU.
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Chandra,
Memang yang disebut di dalam Kitab Hukum Kanonik persisnya adalah:
Kan. 919 - § 1. Yang akan menerima Ekaristi mahakudus hendaknya berpantang dari segala macam makanan dan minuman selama waktu sekurang-kurangnya satu jam sebelum komuni, terkecuali air semata-mata dan obat-obatan.
Jadi, persyaratan minimum adalah satu jam sebelum komuni kudus. Jika orang yang datangnya ‘mepet’ ke gereja, namun sebelum masuk ke gereja masih merokok atau makan snack, saya rasa itu berarti sudah melanggar, karena itu dapat dipastikan lewat dari batas 1 jam sebelum Komuni. Jika kita mengenal saudara-saudari yang berbuat demikian, kita dapat memberi tahu mereka, asal harus dengan kasih dan jangan marah, tentang hal ini. Siapa tahu mereka melakukan itu bukan karena sengaja, tetapi karena tidak tahu. Jika mereka sungguh memahami, bahwa yang sebentar lagi yang akan mereka sambut adalah Tuhan Yesus sendiri, dan karenanya Gereja mengajarkan persiapan yang sedemikian, seharusnya mereka dapat mengerti dan melakukannya.
Di atas semua itu, saya menganjurkan, sedapat mungkin, jangan kita memberi kepada Tuhan hanya yang ‘bare minimum‘/ sekedarnya, jika kita dapat memberi lebih. Bagi yang bisa berpuasa 1 jam sebelum Misa, tentu lebih baik daripada 1 jam sebelum Komuni. Apalagi yang dapat berpuasa sama sekali sebelum ke Misa. Tentu jika itu dibarengi dengan maksud dan kasih yang tulus, hal itu sungguh berkenan pada Tuhan. Sebab itu artinya kita memberi yang terbaik kepada Tuhan, dengan membuat salah satu langkah persiapan jasmani dan rohani untuk menerima Kristus dalam Komuni Kudus.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
Ingrid Listiati
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by Josef Oei Kian Seng on 8 November 2008:
Shalom
Sungguh luar biasa artikel ini, dan sedikit pertanyaan sebagai berikut :
1 ) Dulu sewaktu saya masih kecil, dalam menyambut Hosti Kudus kita tidak boleh menerima dengan tangan dan langsung diberikan oleh pastor kelidah kita, sekarang kita menerima dengan tangan.-
2 ) Dalam mengikuti doa dan menyanyi dalam Perayaan Ekaristis saya sering tidak bisa mengikutinya …ya…terus terang….karna saya mau menangis..jadi saya tahan….sehingga kadang-kadang saya jadi diam.-
salam kasih
Josef Oei
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Josef,
Terima kasih untuk dukungan atas website ini. Semoga Tuhan memberkati dan semakin menyatakan kasih-Nya kepada Josef sekeluarga.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
Ingrid Listiati
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by paskalis on 5 November 2008:
Saat doa rosario, saya lebih gampang terhanyut dalam peristiwa sedih dibanding peristiwa lainnya. Mungkin sejak nonton Passion dan itu titik puncak dimana saya mengakui Tuhan Yesus Juru Selamatku.
saya tidak pernah berdoa sebelum misa. karena masuk pagi jam 7 dan saya sendiri bangun jam 6:15. yah, selebihnya waktu untuk mandi dll.
kok foto keponakannya saja yang muncul? mana foto personal admin?.
Stef, bilang belum waktunya. (kompor mode on).juga lampirkan doa katolik. kalau rosario kan udah banyak. tampilkan novenna, Koronka, Credo, Chaplet St Michael dll. Inikan juga ciri orang katolik.
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Paskalis,
Kalau saya boleh usul, mungkin Paskalis bisa tidur 1/2 jam lebih awal, supaya bisa bangun 1/2jam atau 15 menit lebih pagi, supaya bisa berdoa dulu sebelum ikut misa kudus di gereja.
Mengenai foto kami (Stef & Ingrid) memang kami pandang belum saatnya; lebih baik komunikasi sementara ini melalui tulisan-tulisan kami saja, ya. Semoga ini dapat diterima.
Mengenai doa-doa Katolik sementara ini juga belum menjadi prioritas kita, karena mengenai teks doa sudah banyak dicantumkan di situs-situs katolik yang lain.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
Ingrid Listiati
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by Paskalis on 4 November 2008:
Terima kasih atas info ini. Saya mau tanya adakah kewajiban sewaktu kita datang ke gereja kan sudah duduk di gereja lalu berdoa.
terkadang saya lihat ada yang tidak berdoa (memang sedikit).
Pertanyaannya adalah berdoa atau tidak perlu berdoa. kan saat pastor datang juga kita berdoa. palagi saat pertama selalu tentang pengakuan atas dosa-dosa kita dari ucapan, pikiran dan perbuatan.
memang saya selalu usahakan 30 menit sebelumnya sudah ada di dalam gereja. Paling susah konsentrasi kalau ada ibu-ibu bawa bayi (balita) dan banyak keluar masuk. sudah itu duduk di depan kita.
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Paskalis,
Sebaiknya memang kita berdoa sebelum misa, minimal mengarahkan hati kepada Tuhan. Alasannya adalah, supaya hati kita siap untuk menyambut kehadiran Yesus yang istimewa di dalam misa kudus, terutama dalam bentuk Hosti/ Komuni kudus. Sebab efek yang kita terima akan tergantung dari sikap hati kita, (lihat Sacrosanctum Concillium 61, Konstitusi Dogmatik tentang Liturgi, Vatikan II) maka semakin sikap hati kita baik, semakin kita dapat menerima berkat rahmat Ekaristi yang mengubah kita menjadi lebih baik. Jika kita bandingkan tentu dengan jujur kita mengakui, kita akan lebih menghayati Misa jika kita berdoa dan mengarahkan hati pada Tuhan sebelum misa, daripada jika kita tidak berdoa sebelumnya.
Mengenai susahnya berkonsentrasi jika ada ibu-ibu yang membawa anak balita, sesungguhnya itu dapat juga kita komunikasikan dengan Tuhan. Ingatlah bahwa Misa adalah kurban, jadi kondisi yang tidak mendukung doa dapat pula kita persembahkan kepada Tuhan sebagai ‘kurban’ kita yang sungguh sangat sederhana (jika dibandingkan dengan kurban Kristus). "Yesus, kupersembahkan hati, kehendak dan pikiranku, yang sulit berkonsentrasi karena keributan ini…. Aku mau memusatkan pikiran dan hatiku kepadaMu Yesus, yang begitu mengasihi aku. Terimalah persembahan syukur dan ‘kurban’ku (sambil kita persembahkan pergumulan yang sedang kita hadapi saat itu, baik di rumah, di tempat kerja, dan bahkan di gereja saat itu), persatukanlah ini semua dengan kurban Ekaristi-Mu yang sebentar lagi akan kurayakan bersama dengan saudara-saudariku…"
Semoga kita dapat terus berjuang untuk mempersiapkan diri untuk menyambut Ekaristi, agar kita dapat menerima buah-buahnya dengan limpah dalam kehidupan rohani kita.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
Ingrid Listiati
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
dalam berdoa, pertama saya mengarahkan jiwa dan tubuh dengan me-refleksikan terhadap Tuhan/Bunda Maria melalui rosario/koronka.
hal yang mana doa yang sederhana melalui rangkaian kata-kata dari saya itu sangatlah sulit saya utarakan.
Saya hanya bisa ucapkan kabulkanlah permohonanku, ya Tuhan.
Saya tidak tahu kenapa?. (maaf, saya baru katekumen).
Mungkin saya pikir Tuhan sudah mengerti melalui doa seperti rosario,dll.
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Paskalis,
Tidak menjadi masalah jika kita tidak pandai merangkai kata-kata dalam doa, sebab yang terpenting adalah sikap hati. Sedikit demi sedikit nanti Tuhan akan membantu kita dalam doa. Doa rosario memang sangat baik, sehingga memang kita dapat berdoa rosario sebelum Misa Kudus, hanya saja, jangan lupa bahwa doa rosario itu harus disertai dengan meditasi peristiwa-peristiwa hidup Yesus (Peristiwa Gembira, Peristiwa Terang, Peristiwa Sedih atau Peristiwa Mulia), sehingga bukan hanya merupakan pengulangan doa Salam Maria, Kemuliaan dan Bapa Kami (Walaupun pengulangan doa-doa tersebut juga baik, apalagi jika dihayati dengan sungguh). Saya percaya, banyak buku/ brosur doa rosario yang baik yang dapat mengantar kita pada permenungan akan misteri kehidupan Yesus Kristus.
Di atas semua itu, ya, benar, Tuhan sudah mengetahui isi hati kita. Keinginan kita untuk berdoa itu sendiri adalah karunia, dan karenanya patut kita syukuri. "Tuhan, bantulah aku berdoa…. Tuhan kasihanilah aku…." Juga kita dapat memulai dengan kalimat seperti ini.
It does not matter if we can only say a simple prayer, but the most important thing is, we say it with great love!
Tak apa jika kita hanya dapat mengatakan doa yang sederhana, tapi yang terpenting kita mendoakannya dengan kasih yang besar!
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
Ingrid Listiati
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by Wahyu Situni on 29 October 2008:
Sebagai orang yang ditugasi membuat warta paroki di paroki Santa Rosa de Lima - Tondano (Minahasa), website ini sangat membantu dalam mencari sumber-sumber tulisan untuk umat.
Mengingat umat Katolik di Tondano hanyalah minoritas (5% dari umat Kristen Non-Katolik), maka dengan suguhan tulisan-tulisan yang menarik akan sangat membantu mereka memahami lebih dalam iman Katolik.
Selamat dan terima kasih.
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]