Kristus yang kita imani = Yesus menurut sejarah
Pendahuluan
Dewasa ini, dengan adanya aliran Modernisme dan Liberalisme, ada banyak orang yang mempertanyakan ke-Tuhanan Yesus. Mereka berpendapat, jika Kitab Suci tidak dapat dibuktikan secara historis, maka berarti isinya belum tentu benar. Akibatnya, mereka memisahkan Yesus sebagai Yesus yang sesungguhnya menurut sejarah (the Jesus of History), dan Yesus yang diimani oleh orang Kristen (the Christ of Faith), dan mengatakan bahwa Yesus yang diimani orang Kristen itu tidak sama dengan Yesus yang sesungguhnya ada dalam sejarah. Contohnya adalah the Five Gospels of the Jesus’ Seminar dan buku karangan Dan Brown, Da Vinci Code, yang intinya menyatakan bahwa seolah Yesus ‘dijadikan’ Tuhan oleh para pengikutNya, dan ke-Tuhanan Yesus baru diresmikan oleh Kaisar Konstantin sekitar tahun 325!
The Jesus of History= the Christ of Faith
Sesungguhnya, adalah sangat tidak masuk akal untuk memisahkan Yesus yang ada dalam sejarah dengan Kristus yang kita imani, apalagi jika kita mengatakan bahwa Yesus tidak pernah menyatakan DiriNya sendiri sebagai Tuhan. Jika kita memegang pendapat seperti demikian, kita seperti orang yang tidak percaya bahwa Bill Gates adalah seorang yang kaya, karena dia sendiri tidak pernah mengatakan, “Saya adalah orang kaya.” Padahal kenyataannya, Bill Gates adalah salah seorang yang berada dalam urutan atas orang-orang terkaya di dunia menurut Forbes magazine, dan yayasan yang didirikannya menyumbangkan sedikitnya 1.5 trilyun setiap tahun kepada para orang miskin. Jadi untuk tidak mempercayai bahwa Bill Gates adalah seorang yang kaya adalah sangat tidak masuk akal.
Demikianlah, kita tidak dapat memisahkan Yesus menurut sejarah dan menurut iman, karena memang keduanya adalah satu dan sama, dan Yesus yang sama itu menyatakan Diri-Nya sendiri sebagai Tuhan dengan berbagai cara di hampir semua bagian Injil. Pernyataan Yesus ini kemudian dinyatakan kembali oleh para rasul, sehingga para rasul bukannya mengada-ada, atau mengarang sesuatu yang tidak ada sebelumnya. Gereja Katolik menurut Vatikan II kembali menegaskan hal tersebut.
Orang Kristen yang mengatakan bahwa Yesus tidak pernah menyatakan Diri-Nya sebagai Tuhan sesungguhnya hampir mengingkari iman Kristen-nya sendiri. Rasul Paulus pernah berkata, jika Kristus tidak sungguh-sungguh bangkit, (dan karenanya bukan Tuhan), maka sia-sialah iman kita (lih. 1 Kor 15:14). Jadi iman kita didasari oleh penjelmaan Tuhan sebagai manusia di dalam diri Yesus Kristus yang bangkit dari mati. Inilah kebenaran sejarah yang kita imani, dan yang kita amini setiap kali kita mengucapkan Syahadat Aku Percaya: “Aku Percaya akan Allah, Pencipta langit dan bumi, dan akan Yesus Kristus, Putera-Nya yang tunggal Tuhan kita, yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria, yang menderita sengsara dalam pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, wafat, dan dimakamkan, yang turun ke tempat penantian, pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati…” Secara historis, Pontius Pilatus adalah nama gubernur pada jaman Yesus, sehingga dari sini kita mengetahui bahwa Yesus sungguh-sungguh hidup dan masuk dalam sejarah manusia.
Pemisahan the Jesus of history dan the Christ of Faith
Sesungguhnya, ide memisahkan Yesus menurut sejarah dan Kristus menurut yang diimani berakar dari jaman Pencerahan (Enlightenment) pada pertengahan abad ke- 19, di mana banyak para pakar Kitab Suci berpendapat bahwa Tuhan itu sepertinya hanya ‘penonton’ serupa ‘pembuat jam’ yang mengamati saja, tanpa dapat campur tangan di dalam sejarah manusia, kecuali dengan menetapkan hukum alam. Sehingga, mereka melucuti Injil dari pernyataan ke-Tuhanan Yesus dan keberadaan mukjizat-mukjizat, termasuk kelahiran Yesus dari Perawan Maria, dan kebangkitan badan, secara khusus kebangkitan Kristus sendiri. Salah seorang pelopor yang mengembangkan teori ini adalah David Friedrich Strauss in 1835[1] yang mengatakan bahwa Kristus yang diimani oleh orang Krsiten berbeda dengan Yesus yang sesungguhnya dalam sejarah. Ide ini dinyatakan kembali oleh Albert Schweitzer dan kemudian oleh Rudolf Bultmann, yang menyimpulkan bahwa Yesus menurut sejarah hanyalah seorang Yahudi di Palestina yang mati di salib.[2] Namun demikian, Bultmann menyimpulkan lebih jauh, dengan mengatakan hal ini memberikan ‘kebebasan’ bagi setiap orang Kristen untuk membentuk gambaran Yesus sendiri menurut iman yang sesuai dengan kebutuhannya. Ini adalah pemikiran Teologi Liberal yang melucuti Alkitab dan menyusun sendiri gambaran Yesus sesuai dengan keinginan manusia secara pribadi. Ini adalah ‘Relativism’: sebab Yesus digambarkan sesuai dengan kehendak pribadi dan bukannya sesuai dengan kebenaran yang sungguh terjadi. Pendapat seperti ini dikecam dengan keras oleh Paus Pius X dalam surat ensikliknya Pascendi Dominici gregis, yang menyebutkan ajaran yang sedemikian sebagai puncak dari segala ajaran sesat, “the synthesis of all heresies”, sebab ajaran tersebut menolak seluruh kebenaran objektif di dalam iman Kristiani.
Namun demikian, ajaran yang kita kenal sebagai ‘Modernism’ ini terus berlanjut sampai dengan abad ke 20, seperti yang kita lihat dalam the Five Gospels, hasil dari the Jesus Seminar. Dasar ajaran mereka: mereka tidak percaya bahwa ada Tuhan yang dapat menjadi manusia. Maka dengan ajaran ini, mereka ingin menghancurkan kebenaran Injil sebagai Sabda Tuhan.
Jika kita perhatikan, ajaran Modernism sesungguhnya ingin mengganti Trilemma tentang kemungkinan identitas Yesus menurut C.S. Lewis, yang sungguh terdengar sangat ‘keras’ di telinga orang Kristen (baca: Mengapa Orang Kristen percaya bahwa Yesus itu Tuhan?), yaitu: bahwa Kristus sungguh-sungguh Tuhan, atau Ia hanyalah seorang yang tidak waras ‘a lunatic’, atau Ia seorang yang lebih buruk daripada penipu ‘a liar’. Mereka menawarkan pendapat baru: bahwa Yesus sendiri tidak pernah menyatakan diri-Nya sebagai Tuhan. Dengan demikian, para Modernist sesungguhnya lebih ‘parah’ daripada yang menuduh Yesus sebagai ‘a lunatic/ a liar’ sebab kelompok yang terakhir ini setidak-tidaknya mengakui bahwa Yesus pernah menyatakan DiriNya sebagai Tuhan, hanya saja mereka tidak percaya; sedangkan para Modernist ini mengabaikan semuanya, dan menggeserkan tuduhan kepada para murid Yesus abad pertama, dengan mengatakan bahwa mereka (para murid) itu bersekongkol untuk mengarang suatu mitos/ legenda terbesar sepanjang sejarah, yaitu untuk mengatakan bahwa Yesus itu Tuhan.
Para murid Yesus tidak mungkin ‘mengarang’ mitos ke-Tuhanan Yesus
Namun, sesungguhnya, akal sehat sendiri dapat membuktikan bahwa tuduhan tersebut tidak mungkin benar, dan bahwa tidak mungkin para rasul adalah pembohong. Berikut ini adalah alasannya:
- Sebuah mitos tidak mungkin dapat dibuat dalam jangka waktu yang terlalu dekat dengan kejadian aslinya, yaitu pada saat banyak saksi mata kejadian yang masih hidup dan dapat ditanyakan konfirmasinya. Injil ditulis pada generasi yang sama dengan para saksi mata tersebut. Injil Matius pada tahun 50 AD, Lukas dan Markus sekitar 62-68 AD, dan Yohanes tahun 90 AD.[3] Juga penting diketahui, bahwa para pengarang Injil adalah saksi Kristus yang terdekat: Matius dan Yohanes adalah Rasul Yesus, Markus adalah pembantu terdekat Rasul Petrus, dan Lukas adalah pembantu terdekat Rasul Paulus. Jadi, kita dapat mempercayai keaslian dan kebenaran tulisan mereka. Seandainya isi keempat Injil tersebut tidak benar, harusnya terdapat bukti sejarah dari abad pertama yang menyangkal kebenaran Injil (terutama soal kebangkitan Yesus). Namun kenyataannya, tidak ada satupun klaim pada abad awal yang menyangkal kebenaran tersebut yang dapat ditemukan dalam sejarah.[4] Rasul Paulus dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus (55-56 AD) secara jelas menyebutkan Kebangkitan Kristus yang pada suatu kesempatan disaksikan lebih dari 500 orang, dan banyak dari antara mereka masih hidup dan dapat ditanya konfirmasinya (lih. 1 Kor 15:3-8).
- Sangat tidak mungkin jika kita berpikir bahwa para rasul dapat membuat kebohongan yang konsisten, sebab manusia pada dasarnya lemah dan mudah ‘jatuh’ oleh tawaran suap. Satu kesempatan tawaran saja dapat mengubah semuanya, namun demikian, tidak satupun dari mereka mengubah kesaksian mereka tentang Yesus, walaupun mereka dipenjara, disiksa, bahkan dibunuh sebagai martir karena kesaksian tersebut. Ini membuktikan bahwa yang mereka katakan tentang Yesus adalah kebenaran, sebab sangat tidak mungkin orang rela mati untuk membela sebuah kebohongan.
- Sangat tidak mungkin bahwa serangkaian mitos dapat dibuat pada jaman sejarah (di mana segala sesuatu dapat dibuktikan benar atau tidaknya) dan mitos tersebut mendapatkan penghormatan dari banyak orang.
- Joseph Ratzinger/ Paus Benediktus XVI dalam bukunya, Jesus of Nazareth mengatakan bahwa tidak mungkin bahwa sekelompok orang yang tidak terkenal ini (para rasul yang mayoritas hanya nelayan) dapat begitu kreatif dan begitu meyakinkan dan dapat mempengaruhi seluruh dunia. Menjadi lebih logis jika kesaksian yang mereka sampaikan sungguh-sungguh terjadi.[5]
- Pertumbuhan jemaat Kristen yang begitu pesat pada abad pertama hanya dapat dijelaskan oleh kesaksian hidup para murid yang mencerminkan kekudusan, jumlah para murid yang dibunuh sebagai martir untuk membela iman mereka, termasuk di dalamnya hampir semua rasul Yesus, dan kekempat tanda Gereja yang terbentuk pada saat itu: satu, kudus, katolik dan apostolik. Mitos atau legenda tidak akan mungkin pernah mempengaruhi banyak orang untuk percaya, apalagi sampai menyerahkan hidup mereka.
Maka kesimpulannya: apa yang dikatakan oleh para rasul itu adalah benar. Sebab ke-empat Injil sendiri dipenuhi oleh pernyataan ke-Tuhanan Yesus yang dikatakan oleh Yesus dengan berbagai cara.
Yesus menyatakan bahwa Dia adalah Tuhan dengan berbagai cara
Marilah kita lihat beberapa contohnya, seperti berikut:
- Pertama-tama, ketika berusia 12 tahun dan Ia diketemukan di Bait Allah, Yesus mengatakan bahwa bait Allah adalah Rumah Bapa-Nya (lih. Luk 2:49). Dengan demikian, Yesus mengatakan bahwa Ia adalah Putera Allah.
- Pernyataan ini ditegaskan kembali oleh Allah Bapa pada saat Pembaptisan Yesus, saat terdengar suara dari langit, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nya Aku berkenan.”(Luk 3:22).
- Pada saat Yesus memulai pengajaranNya, terutama dalam Khotbah di Bukit (Delapan Sabda Bahagia), Ia berbicara di dalam nama-Nya sendiri, untuk menyatakan otoritas yang dimiliki-Nya (Mat 5:1-dst). Ini membuktikan bahwa Ia lebih tinggi dari Musa dan para nabi[6], sebab Musa berbicara dalam nama Tuhan (lih. Kel 19:7) ketika Ia memberikan hukum Sepuluh Perintah Allah; tetapi Yesus memberikan hukum dalam nama-Nya sendiri, “Aku berkata kepadamu….” Hal ini tertera sedikitnya 12 kali di dalam pengajaran Yesus di Mat 5 dan 6, dan dengan demikian Ia menegaskan DiriNya sebagai Pemberi Hukum Ilahi (the Divine Legislator) itu sendiri, yaitu Allah. Demikian pula dengan perkataan “Amen, amen…”, pada awal ajaranNya, Yesus menegaskan segala yang akan diucapkan-Nya sebagai perintah; bukan seperti orang biasa yang mengatakan ‘amen’ diakhir doanya sebagai tanda ‘setuju’.
- Jadi dengan demikian Yesus menyatakan bahwa Ia adalah Taurat Allah yang hidup, suatu peran yang sangat tinggi dan ilahi, sehingga menjadi batu sandungan bagi orang-orang Yahudi untuk mempercayai Yesus sebagai Sang Mesias. Hal ini dipegang oleh banyak orang Yahudi yang diceriterakan dengan begitu indah dalam buku Jesus of Nazareth, yaitu dalam percakapan imajiner seorang Rabi Yahudi dengan Rabi Neusner,[7] mengenai bagaimana mencapai kesempurnaan hidup. Kesempurnaan inilah yang dimaksudkan oleh Yesus ketika Ia berbicara dengan orang muda yang kaya, “Jika engkau mau sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan bagikanlah kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku” (Mat 19:21). “Aku” di sini hanya mungkin berarti Tuhan sendiri.
- Yesus menyatakan DiriNya sebagai Seorang yang dinantikan oleh para Nabi sepanjang abad (lih. Mat 13:17). Ia juga berkata,“…supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, … sampai Zakharia… semuanya ini akan ditanggungkan pada angkatan ini!” (Mat 23:34-36). Secara tidak langsung Ia mengatakan bahwa darah-Nya yang akan tertumpah dalam beberapa hari berikutnya merupakan rangkuman dari penumpahan darah orang yang tidak bersalah sepanjang segala abad.
- Yesus sebagai Tuhan juga terlihat dengan jelas dari segala mukjizat yang dilakukan dalam nama-Nya sendiri, yang menunjukkan bahwa kebesaran-Nya mengatasi segala sesuatu. Yesus menghentikan badai (Mat 8: 26; Mrk 4:39-41) menyembuhkan penyakit (Mat 8:1-16), mengusir setan (Mat 8:28-34), mengampuni dosa (Luk5:24; 7:48), dan membangkitkan orang mati (Luk 7:14; Yoh 11:39-44). Di atas semuanya itu, mukjizat-Nya yang terbesar adalah: Kebangkitan-Nya sendiri dari mati (Mat 28:9-10; Luk 24:5-7,34,36; Mrk 16:9; Yoh 20:11-29; 21:1-19).
- Pada saat Ia menyembuhkan orang yang lumpuh, Yesus menyatakan bahwa Ia memiliki kuasa untuk mengampuni dosa (Mat 9:2-8; Luk5:24), sehingga dengan demikian Ia menyatakan DiriNya sebagai Tuhan sebab hanya Tuhan yang dapat mengampuni dosa.
- Pada beberapa kesempatan, Yesus menyembuhkan para orang sakit pada hari Sabat, yang menimbulkan kedengkian orang-orang Yahudi. Namun dengan demikian, Yesus bermaksud untuk menyatakan bahwa Ia adalah lebih tinggi daripada hari Sabat (lih. Mat 12:8; Mrk 3:1-6).
- Yesus juga menyatakan Diri-Nya lebih tinggi dari nabi Yunus, Raja Salomo dan Bait Allah (lih. Mt 12:41-42; 12:6). Ini hanya dapat berarti bahwa Yesus adalah Allah, kepada siapa hari Sabat diadakan, dan untuk siapa Bait Allah dibangun.
- Yesus menyatakan Diri-Nya sebagai Tuhan, dengan berkata “Aku adalah… (I am)” yang mengacu pada perkataan Allah kepada nabi Musa pada semak yang berapi, “Aku adalah Aku, I am who I am” (lih. Kel 3:14):
- Pada Injil Yohanes, Yesus mengatakan “Aku adalah….” sebanyak tujuh kali: Yesus menyatakan Dirinya sebagai Roti Hidup yang turun dari Surga (Yoh 6:35), Terang Dunia (Yoh 8:12), Pintu yang melaluinya orang diselamatkan (Yoh 10:9), Gembala yang Baik yang menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya (Yoh 10:10), Kebangkitan dan Hidup (Yoh 11:25), Jalan, Kebenaran, dan Hidup (Yoh 14:6), Pokok Anggur yang benar (Yoh 15:1).
- Yesus menyatakan diri-Nya sebagai sumber air hidup yang akan menjadi mata air di dalam diri manusia, yang terus memancar sampai ke hidup yang kekal (Yoh 4:14). Dengan demikian Yesus menyatakan diri-Nya sebagai sumber rahmat; hal ini tidak mungkin jika Yesus bukan Tuhan, sebab manusia biasa tidak mungkin dapat menyatakan diri sebagai sumber rahmat bagi semua orang.
- Yesus menyatakan, “Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14:6); dan dengan demikian Ia menempatkan diri sebagai Pengantara yang mutlak bagi seseorang untuk sampai kepada Allah Bapa.
- Ia menyatakan bahwa “… kamu akan mati dalam dosamu… jika kamu tidak percaya bahwa Akulah Dia” (Yoh 8:24) yang datang dari Bapa di surga (lih. Yoh 21-29).
- Yesus mengatakan, “Aku ini (It is I)…”, pada saat Ia berjalan di atas air (Yoh 6:20) dan meredakan badai.
- Yesus mengatakan, “Akulah Dia,” pada saat Ia ditangkap di Getsemani.
- Ketika Yesus diadili di hadapan orang Farisi, dan mereka mempertanyakan apakah Ia adalah Mesias Putera Allah, Yesus mengatakan, “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah.”[8]
- Mungkin yang paling jelas adalah pada saat Yesus menyatakan keberadaan DiriNya sebelum Abraham, “…sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” (Yoh 8:58)
- Dengan demikian, Yesus menyatakan DiriNya sudah ada sebelum segala sesuatunya dijadikan. Dan ini hanya mungkin jika Yesus sungguh-sungguh Tuhan. Mengenai keberadaan Yesus sejak awal mula dunia dinyatakan oleh Yesus sendiri di dalam doa-Nya sebelum sengsara-Nya, “Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.” (Yoh 17:
- Dengan keberadaan Yesus yang mengatasi segala sesuatu, dan atas semua manusia, maka Ia mensyaratkan kesetiaan agar diberikan kepadaNya dari semua orang. “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat 10:37). Ia kemudian berkata bahwa apa yang kita lakukan terhadap saudara kita yang paling hina, itu kita lakukan terhadap Dia (lih. 25:40). Ini hanya dapat terjadi kalau Yesus adalah Tuhan yang mengatasi semua orang, sehingga Dia dapat hadir di dalam diri setiap orang, dan Ia layak dihormati di atas semua orang, bahkan di atas orang tua kita sendiri.
- Yesus menghendaki kita percaya kepada-Nya seperti kita percaya kepada Allah (lih. Yoh 14:1), dan Ia menjanjikan tempat di surga bagi kita yang percaya. Dengan demikian Ia menyatakan diriNya sebagai yang setara dengan Allah Bapa, “Siapa yang melihat Aku, melihat Bapa, (Yoh 14:9), Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa (Yoh 10:38). Tidak ada seorangpun yang mengenal Anak selain Bapa, dan mengenal Bapa selain Anak (lih. Mat 11:27). Yesus juga menyatakan DiriNya di dalam kesatuan dengan Allah Bapa saat mendoakan para muridNya dan semua orang percaya, ”… agar mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau…” (Yoh 17:21). Ini hanya mungkin jika Ia sungguh-sungguh Tuhan. Pernyataan Yesus ini berbeda dengan para pemimpin agama lain, seperti Muhammad dan Buddha, sebab mereka tidak pernah menyatakan diri mereka sendiri sebagai Tuhan.
- Ketika Yesus menampakkan diri kepada para murid setelah kebangkitan-Nya, Thomas, Rasul yang awalnya tidak percaya menyaksikan sendiri bahwa Yesus sungguh hidup dan ia berkata, “Ya Tuhanku dan Allahku”. Mendengar hal ini, Yesus tidak menyanggahnya (ini menunjukkan bahwa Ia sungguh Allah), melainkan Ia menegaskan pernyataan ini dengan seruanNya agar kita percaya kepadaNya meskipun kita tidak melihat Dia (Yoh 20: 28-29).
- Yesus menyatakan Diri sebagai Tuhan, dengan menyatakan diriNya sebagai Anak Manusia, yang akan menghakimi semua manusia pada akhir jaman (lih. Mat 24:30-31), sebab segala kuasa di Surga dan di dunia telah diberikan kepada-Nya, seperti yang dikatakanNya sebelum Ia naik ke surga, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus…” (Mat 28:18). Dengan demikian, Yesus menyatakan diriNya sebagai Pribadi Kedua di dalam Allah Tritunggal Maha Kudus, dan dengan kuasaNya sebagai Allah ini maka ia akan menghakimi semua manusia di akhir dunia nanti, seperti yang dinubuatkan oleh nabi Daniel (Dan 7:13-14). Yesus tidak mungkin membuat pernyataan sedemikian, jika Ia bukan sungguh-sungguh Tuhan.
Para Rasul hanya meneruskan kesaksian ini
Jelaslah, bahwa dengan menyaksikan Yesus yang mereka kenal secara nyata dalam sejarah, maka para Rasul dapat dengan penuh keyakinan, menyatakan ke-Tuhanan Yesus. Rasul Petrus menyatakan Yesus Kristus sebagai Allah, dan bahwa ia dan rasul-rasul yang lain mendengar bagaimana pernyataan tersebut dinyatakan dari langit pada saat Yesus dimuliakan di atas gunung Tabor (lih. 2 Pet1:16-19). Rasul Paulus, dengan mengalami sendiri Yesus yang bangkit, menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan sebanyak sekitar 230 kali di dalam surat-suratnya kepada jemaat pertama. Rasul Yohanes mengungkapkan bahwa ia ‘mengingat’ akan apa yang dikatakan Yesus sebelumnya, pada ketiga kejadian yang cukup penting dalam sejarah hidup Yesus: pada saat Yesus menyucikan Bait Allah (Yoh 2:22), pada waktu Minggu Palma (Yoh 12:16),dan Kebangkitan Yesus (Yoh 20:8-9). Hal ini menyatakan bahwa yang ditulisnya benar-benar terjadi. Dari semua ini, kita melihat bahwa pernyataan para rasul adalah sangat jelas dan sederhana, yaitu: kesaksian tentang Yesus sebagai Tuhan adalah kebenaran, dan mereka adalah saksinya. Dengan demikian, tidak mungkin ada pemisahan antara Yesus menurut sejarah dan Yesus yang diimani.
Jadi Ke-Tuhanan Yesus bukan baru diresmikan di awal abad ke- 4!
Dengan uraian di atas, sesungguhnya jelas bahwa Ke-Tuhanan Yesus bukan rekayasa para murid, atau bahkan seperti yang dituduhkan banyak orang, ‘baru diresmikan’ di tahun 325 oleh Kaisar Konstantin. Yang benar adalah: Yesus sebagai Tuhan sudah menjadi kepercayaan jemaat Kristiani sejak zaman para rasul, namun kemudian sekitar tahun 319, terdapat ajaran sesat dari Arius, yang mengatakan bahwa Yesus adalah bukan Tuhan dan tidak sejajar dengan Allah Bapa. Untuk menolak ajaran sesat ini, maka Gereja Katolik, yang waktu itu disponsori oleh pemerintah Konstantin, mengadakan Konsili Nicea (325), yang dihadiri oleh sekitar 300 uskup yang hampir semua serentak menolak ajaran sesat Arianisme ini.[9] Konsili ini menyatakan bahwa Yesus adalah satu substansi (con-substantial) dengan Allah Bapa. Dengan demikian, Konsili Nicea bertujuan untuk menegaskan kembali ajaran Gereja tentang ke-Tuhanan Yesus, dan bukan baru meresmikan ke- Tuhanan Yesus!
Penegasan dari Gereja Katolik dewasa ini
Vatikan II melalui Dei Verbum menolak pendapat kaum Modernist ini. Gereja menegaskan kembali asal Injil ini dari para Rasul sendiri yang menjadi saksi hidup Yesus, dan dengan demikian mengkonfirmasi kebenaran pesan Injil (lih. DV 18).[10] Selanjutnya, Gereja menegaskan nilai historis Injil, dengan menyebutkan bahwa apa yang tertulis di dalamnya adalah yang sungguh-sungguh Yesus perbuat dan ajarkan untuk keselamatan kekal (lih. DV 19).[11]
Paus Yohanes Paulus II dalam surat Apostolik Novo Millineo Ineunte, mengulangi DV 18 dan DV 19, bahwa Injil dituliskan berdasarkan kesaksian historis/ sejarah. Walaupun demikian, kita tidak menganggap Injil sebagai buku biografi Yesus dalam urutan kronologis. Perhatian pada urutan kronologis dapat membuat seseorang menjadi seperti para Modernist, yang melihat Injil sebagai buku cerita, dan menganggap Injil Yohanes sebagai hanya puisi tentang Yesus, yang ditulis oleh para murid Rasul Yohanes, dan kemudian ditulis seolah-olah dikatakan oleh Yesus!
Mengenai hal ini, Paus Benediktus XVI melalui Jesus of Nazareth mengatakan bahwa memang Injil Yohanes tidak dituliskan dengan urutan historis yang kaku seperti dalam transkrip rekaman, tetapi dalam hal isi, merupakan pernyataan-pernyataan yang berasal dari Yesus sendiri, sehingga pesan Injil tersebut menunjuk kepada Yesus yang sesungguhnya. Segala gambaran dalam Injil Yohanes (air, roti, anggur, Gembala) seperti halnya perumpamaan- perumpamaan yang tertulis dalam Injil Matius, Lukas, dan Markus, dimaksudkan untuk menggambarkan Yesus dan rencana keselamatan-Nya.
Katekismus Gereja Katolik juga sangat jelas menegaskan kembali sikap Gereja dalam hal ini[12]: bahwa Kristus yang tertulis dalam Injil adalah Kristus yang sama dengan Kristus yang ada di dalam sejarah. Injil membantu kita untuk mengalami Yesus yang sungguh hadir dalam sejarah, dan mengimani-Nya. Paus Benediktus XVI menegaskan, bahwa segala gambaran Yesus yang dihasilkan oleh metoda historis modern janganlah sampai membuat kita menciptakan sendiri gambaran Yesus, dan kemudian menyebutnya sebagai Yesus menurut sejarah, lalu menuduh bahwa Injil hanya rekaan jemaat abad pertama. Sekali lagi, hal ini tidak mungkin terjadi, sebab cara sedemikian pasti menimbulkan kontradiksi yang tidak memungkinkan berkembangnya Iman Kristiani sampai sekarang, yang sudah mengubah dunia.[13]
Penutup
Pada akhirnya, kita harus mengakui soal menerima ke-Tuhanan Yesus adalah soal iman. Bagi mereka yang percaya, memang bukti sejarah sampai sedetail-detail-nya tidak diperlukan. Tapi bagi mereka yang tidak percaya, bahkan bukti yang sudah nyata dan detail sekalipun tidak dirasa cukup. Akhirnya, kita meyakini bahwa iman adalah karunia. Kita percaya akan janji Tuhan Yesus, “… Inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.” (Yoh 6:40). Dan karena Tuhan Yesuslah yang menghakimi semua orang di akhir zaman nanti, patutlah kita memegang janjiNya ini, dan dengan iman yang teguh kepada-Nya, kita percaya Dia akan memenuhi janji-Nya. Terpujilah Tuhan Yesus!
[1] David Friedrich Strauss adalah tokoh Biblical Rationalism yang memakai filosofi Hegel untuk meneliti hidup Yesus. Buku karangannya adalah, Life of Jesus Critically Examined, dan ia berkesimpulan bahwa alkitab adalah mitos dan bukan sejarah.
[2] Rudolf Bultmann, The History of the Synoptic Tradition, 1921, diterjemahkan oleh J Marsh, (Oxford, Blackwell, 1963) dan essaynya “The New Testament and Mythology”, dalam In Kerygma and Myth: A Theological Debate, vol.1, diterjemahkan oleh R.H. Fuller (London, 1953).
[3] Dalam hal urutan keempat Injil ini memang terdapat beberapa pendapat. Namun yang di sini dipakai adalah yang berdasarkan kesaksian para Bapa Gereja, yang dapat dikatakan mengamati langsung penurunan Injil. Saksi utama adalah Papias (70-155 AD) seorang uskup Syria dan murid Rasul Yohanes, dan St. Irenaeus (180 AD) yang mengatakan urutan Injil adalah Rasul Matius, yang pertama menuliskan Injil dalam bahasa Ibrani, kemudian Markus yang adalah murid Rasul Petrus yang menuliskan Injil berdasarkan khotbah Petrus; lalu Lukas yang adalah murid Rasul Paulus, yang menulis berdasarkan khotbah Rasul Paulus, dan Rasul Yohanes, yang menulis Injil saat ia hidup di Efesus, Asia Minor. Namun demikian, pada jaman Kulturkampf (1871-1878), mulai dikatakan bahwa Injil pertama adalah Markus, baru kemudian Matius, Lukas dan Yohanes. Alasannya antara lain karena, Injil Markus tidak dituliskan dengan urutan yang baik, dan kisah Injil Markus banyak terdapat di-Injil sinoptik lainnya, seolah Injil yang lain ‘mengutip’ Markus. Mengenai hal ini Papias mengatakan, bahwa Injil Markus dituliskan tidak berurutan secara historis, karena dituliskan berdasarkan urutan khotbah Petrus. Sedangkan kenyataan bahwa Injil Markus seolah ‘menggabungkan’ kisah dari Injil sinoptik lainnya semakin memperkuat keilahian pesannya, sebab meskipun Injil ditulis oleh beberapa orang, namun dapat menunjukkan kesamaan inti dan isi ajaran Yesus.
[4] Klaim yang menolak kebangkitan Yesus hanya datang di abad-abad berikut, yang pada dasarnya tidak mempercayai kebangkitan, dan bukannya dikatakan dari saksi mata pada jaman Yesus sendiri.
[5] Lihat Joseph Ratzinger, Pope Benedict XVI, Jesus of Nazareth, (Double Day, New York, 2007), p. 229
[6] Lihat misalnya para nabi mengatakan “Beginilah firman Allah, …” (Yeh 30:1; 33:1;34:1; Yer 6:22; 16:1; 32:6; Hos 1:1; Yoel 1:1, atau “demikianlah firman Tuhan”, (Yes 1:24; Yeh 30:10, dst), atau “beginilah firman Tuhan Allah ….”, (Yeh 43:11; Yer 15:19; 19:1; 25:32; 31:15, 16,23,35,37, Am 1:6); atau “Tuhan berfirman kepadaku,” (Yer 14:11).
[7] Joseph Ratzinger, Pope Benedict XVI, Jesus of Nazareth, Ibid., p. 108-109, mengutip Rabbi Neusner (Jacob Neusner, A Rabbi Talks with Jesus (Montreal: McGill- Queen’s University Press, 2000), membayangkan suatu dialogue antara dirinya dengan seorang Rabbi kuno Yahudi tentang ajaran Yesus. Ia membandingkan ajaran Yesus dengan teks Talmud Babilonia untuk mencari kebenaran Hukum Tuhan. Rabbi itu bertanya kepada Neusner:
He: ”So, is this what the sage, Jesus, had to say?” (Jadi inikah yang dikatakan Yesus, sang saga?)
I: “Not exactly, but close.” (Tidak persis, tapi hampir mendekati)
He: “What did He leave out?” (Apa yang tidak disebutkan-Nya?)
I: “Nothing.” (Tidak ada)
He: “Then what did He add?” (Jadi, apa yang ditambahkan-Nya?)
I: “Himself”… (Diri-Nya sendiri)
He: “Well, why so troubled this evening?” (Lalu, kenapa engkau gundah sore ini?)
I: “Because I really believe there is a difference between “You shall be holy, for the Lord your God am holy” and “If you would be perfect, go, sell all you have and come, follow me.” (Sebab saya percaya ada perbedaan antara “Engkau harus menjadi kudus, sebab Aku Tuhanmu adalah kudus” dengan “Jika engkau mau sempurna, pergilah, juallah segala milikmu, dan datanglah, ikutlah aku.)
He: “I guess then, it really depends on who the ‘me’ is.” (Saya pikir, itu tergantung dari siapa sang ‘aku’ itu)
[8] Ungkapan “kamu mengatakan demikian….” Adalah ungkapan dalam bahasa Ibrani yang menyatakan konfirmasi dari apa yang dikatakan.
[9] Ada kebohongan besar dalam buku Da Vinci Code yang menyatakan bahwa sebelum Konsili Nicea Yesus hanya dilihat sebagai Nabi dan manusia biasa, dan bahwa diadakan voting pada Konsili tersebut yang hanya berselisih tipis antara uskup yang menerima dengan yang menolak . Kenyataan sejarah yang benar adalah, dari 300 uskup yang hadir, hanya dua orang uskup yang setuju dengan pendapat Arius, (lihat http://en.wikipedia.org/wiki/First_Council_of_Nicaea) yaitu, Arius sendiri dan Eusebius dari Nicomedia!
[10] Vatikan II, Dei Verbum, 18, mengatakan, “Selalu dan di mana-mana Gereja mempertahankan dan tetap berpandangan, bahwa keempat Injil berasal dari para rasul. Sebab apa yang atas perintah Kristus diwartakan oleh para rasul, kemudian dengan ilham Roh ilahi diteruskan secara tertulis kepada kita oleh mereka dan orang-orang kerasulan, sebagai dasar iman, yakni Injil dalam keempat bentuknya menurut Mateus, Markus, Lukas dan Yohanes.”
[11] Vatikan II, Dei Verbum 19, “…bahwa keempat Injil tersebut, yang sifat historisnya diakui tanpa ragu-ragu, dengan setia meneruskan apa yang oleh Yesus Putera Allah selama hidupnya diantara manusia sungguh telah dikerjakan dan diajarkan demi keselamatan kekal mereka, sampai hari Ia diangkat (lih. Kis1:1-2). Sesudah kenaikan Tuhan para Rasul meneruskan kepada para pendengar mereka apa yang dikatakan dan dijalankan oleh Yesus sendiri, dengan pengertian yang lebih penuh, yang mereka peroleh karena dididik oleh peristiwa-peristiwa mulia Kristus dan oleh terang Roh kebenaran.”
[12] Lihat Katekismus Gereja Katolik 512- 682
[13] Lihat Joseph Ratzinger, Gospel, Catechesis, Catechism: Sidelights on the Catechism of the Catholic Church, p. 64-66.
5 artikel/gambar terakhir di kategori Fundamental Teologi
- Trinitas: Satu Tuhan dalam Tiga Pribadi - October 6th, 2008
- Yesus, Tuhan yang Dinubuatkan Para Nabi - September 18th, 2008
- Maria, Bunda Allah - September 7th, 2008
- Masih Perlukah Sakramen Pengakuan Dosa (Bagian 1) ? - July 18th, 2008
- Apakah Berdoa itu Percuma (bagian 4 - Selesai) - July 18th, 2008
5 artikel/gambar terakhir di kategori Kristologi
- Yesus, Tuhan yang Dinubuatkan Para Nabi - September 18th, 2008
- Inkarnasi adalah Immanuel, Allah yang Beserta Kita - September 17th, 2008
- Kristologi - July 21st, 2008
- Mengapa Orang Kristen Percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan? - June 13th, 2008
5 artikel/gambar terakhir di kategori Semua Artikel
- Bersyukurlah, ada Api Penyucian! - November 28th, 2008
- Cara Mempersiapkan Diri Menyambut Ekaristi - October 26th, 2008
- Kami mengasihimu, pastor! - October 23rd, 2008
- Trinitas: Satu Tuhan dalam Tiga Pribadi - October 6th, 2008
- Jamahan Tuhan dalam Sakramen Pengurapan Orang Sakit - September 25th, 2008

Comment by Teddy Senjaya on 5 January 2009:
Yth Pak Stef,
Saya mau bertanya mengenai salah satu paragraf dalam artikel “Kristus yang kita imani= Yesus menurut sejarah”, dimana disana tertulis nama Bill Gates. Saya mengerti statement itu adalah merupakan ilustrasi, tapi penjelasan bahwa Bill Gates melalui yayasannya menyumbang uang sangat besar untuk orang miskin, sepertinya mendapat kredit yang baik, sekalipun menurut info Ia adalah penganut atheis / agnostik. Mohon keterangan dari pak Stef, apakah Ok saja kita menjadi atheis atau agnostik sepanjang kita menjadi philantropies?
Terima kasih sebelumnya?
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Teddy Senjaya,
Terima kasih atas pertanyaannya. Saya telah menjawab pertanyaan sehubungan dengan hal tersebut di sini (silakan klik) di point III.
"orang-orang yang, bukan karena kesalahan mereka, tidak mengenal Kristus, dapat juga diselamatkan, asalkan mereka mengikuti hati nurani mereka dan mempraktekkan hukum kasih, dimana mereka juga digerakkan oleh rahmat Ilahi". Keselamatan mereka datang dari Yesus Kristus.
Karena Tuhan adalah maha adil, maka kita meyakini bahwa berkat dari Tuhan adalah cukup dan berlimpah bagi setiap orang. Jadi gerakan Roh Kudus ini adalah yang membawa orang pada pertobatan dan perbuatan kasih. Rasul Yohanes mengatakan "Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia." (1 Yoh 4:16).
Kalau intensi dari perbuatan baik adalah hanya agar menjadi terkenal, maka perbuatan tersebut tidaklah dikategorikan sebagai perbuatan yang mempunyai nilai moral yang baik. Dan yang mengetahui intensi atau maksud dari perbuatan baik seseorang adalah Tuhan sendiri, karena Dia melihat hati dari setiap orang.
Semoga keterangan tersebut dapat menjawab pertanyaan Teddy.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
stef
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Pak Stef,
Terima kasih atas jawaban bapak dan sangat membantu pemahaman saya, tapi ada sedikit tambahan yaitu mengenai Bill Gates sendiri. Apakah bapak dapat memperkirakan dia ada di posisi mana (invisible/culpable ignorance)? Saya sendiri merasa sulit. Di artikel bapak, terkesan dia itu cukup baik dengan aktifitas philantropy-nya, sementara menurut info yang saya tahu: Dia lahir dari keluarga kristen, mungkin kurang taat, istrinya katolik (mungkin juga kurang taat), tapi menikah secara katolik (saya tidak tahu alasannya), dan pernah ditanya ” apakah anda percaya adanya Tuhan?” jawabnya: Dia tidak begitu peduli. Dan dia termasuk dalam salah satu tokoh (dari berbagai ilmuwan, politikus, dan selebrities) dalam kampanye atheis (dapat di lihat di youtube, produksi Zak Attack) sekalipun mungkin juga itu tanpa seijin dia. Mohon komentar dari Pak Stef.
Terima kasih.
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Teddy Senjaya,
Pertama, saya ingin menegaskan bahwa ilustrasi yang saya pakai tentang Bill Gates hanyalah untuk membuktikan bahwa dia seorang yang kaya tanpa berkata bahwa dia kaya, karena didukung dengan begitu banyak bukti. Jadi saya tidak mengatakan apa yang dia lakukan "morally" baik, karena kembali ke jawaban saya semula, bahwa tiga hal perlu dipenuhi (object, circumstances, intention) untuk mengatakan bahwa suatu tindakan dikategorikan sebagai tindakan moral yang baik.
Tentang pertanyaan apakah Bill Gates termasuk dalam kategori invincible atau culpable, ini merupakan suatu hipotesa semata. Kalau melihat latar belakangnya bahwa dia menikah dengan seorang Katolik, ini berarti dia tahu tentang kekatolikan. Apakah istrinya dan lingkungannya dapat memberikan kesaksian yang baik, sehingga dia tertarik untuk menjadi Katolik, saya tidak tahu. Dengan kapasitasnya, sangat sulit untuk mengatakan bahwa dia termasuk dalam kategori invincible ignorance, kalau kita melihatnya hanya dari luar. Namun, kita juga tidak pernah tahu bagaimana latar belakangnya secara persis, pergumulan batinnya, dll, sehingga dia tumbuh seperti sekarang ini dan mempunyai spiritualitas yang dia yakini. Namun perjalanan hidupnya belum selesai, karena bisa saja pada akhir hidupnya, dia bertobat. Jadi yang tahu secara persis apakah seseorang termasuk invincible ignorance atau culpable ignorance hanya Tuhan. Itulah sebabnya Gereja tidak pernah tahu secara persis apakah seseorang masuk neraka. Namun Gereja dapat mengatakan secara persis bahwa seseorang masuk surga, yaitu pada saat seseorang dinyatakan sebagai santa atau santo.
Semoga uraian tersebut dapat menjawab pertanyaan Teddy. Mari kita bersama-sama berjuang terus untuk mendapatkan keselamatan kekal dengan cara hidup kudus, sehingga kita tidak menjadi batu sandungan buat orang lain yang ingin mengenal Kristus.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
stef
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by Francis on 22 November 2008:
Terima kasih banyak Ingrid untuk tulisan “Kristus yang kita imani=Yesus menurut sejarah”
Ada satu hal yang menggelitik saya yang sedang dan berusaha memahami iman saya pada Kristus. Saya menemui kendala bahasa dalam memahami Kristus. Dalam tulisan itu dan tentu seluruh ajaran Gereja kita, tidak perlu diragukan bahwa Kristus memang Tuhan. Tapi dengan demikian juga dipisahkan antara Tuhan dan Allah. Kristus (Kristos) adalah Tuhan (Kyrios), tapi bukan Allah.
Saya mencoba mencari-cari dalam KS dan hanya menemukan kesaksian Thomas bahwa Yesus adalah “ya Tuhanku dan Allahku”. Di bagian lain dalam KS kita, saya tidak menemukan satu bagian pun yang menyatakan bahwa Yesus adalah Allah. Kemudian saya juga mencoba mempelajari syahadat iman kita, yang panjang dan yang singkat, juga beberapa dogma serta ajaran Gereja. Saya amat terkejut saat menemukan dan menyadari bahwa syahadat kita, kesimpulan saya sementara, ternyata merupakan sebuah bentuk kompromi dan dalam tataran tertentu bentuk pemaksaan oleh pihak yang pada saat itu lebih kuat.
Dalam bahasa Indonesia yang dipengaruhi bahasa Arab, Tuhan dan Allah cenderung identik. Tapi dalam bahasa lain, terutama bahasa-bahasa Eropa Barat, dua istilah itu terbedakan. Misalnya, dalam bahasa Inggeris Yesus disebut Lord, dan Allah disebut God. dalam bahas Latin, sejauh saya tahu, Yesus disebut Dominus dan Allah disebut Deus.
Mohon tanggapan untuk kesulitan saya ini. Thanx. Salam damai.
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Francis,
Terima kasih untuk pertanyaan yang bagus ini. Mungkin banyak orang yang juga bertanya demikian. Pertama-tama kita perlu meluruskan dahulu pengertian Tuhan dan Allah. Dalam bahasa Indonesia kedua kata ini berarti sama, dan demikian juga sesungguhnya di dalam bahasa aslinya. Dalam hal ini, "Lord" bukan berarti lebih tidak ilahi jika dibandingkan dengan "God", sebab "Lord" (Kyrios) adalah terjemahan bahasa Yunani (dalam Alkitab Septuagint) dari kata YHWH, yang dikenal juga sebagai ‘Tetragrammaton’. YHWH atau Yahwe adalah nama Allah/ "God" yang kita ketahui dalam Perjanjian Lama. Orang-orang Yahudi memakai kata "Adonai" untuk menyebutkan nama YHWH ini; karena menurut tradisi oral Yahudi, mereka dilarang menyebutkan nama yang Mahakudus itu. Kata "Adonai" yang berarti "Lord" dipergunakan dalam Kitab Suci, doa, dan liturgi. Jadi sebenarnya God dan Lord adalah kata sinonim, seperti kata "Elohim" dan "Adonai" digunakan sebagai sinonim. Kesamaan arti di antara kedua kata ini sangat dipahami oleh jemaat pada abad-abad awal, yang pengertiannya tidak terlepas dari tradisi Yahudi. Bahwa kemudian pada bahasa Inggris kuno misalnya, ada pembedaan tertentu antara Lord dan God, itu tidak mengubah kenyataan bahwa dalam konteks Kristus dalam Kitab Suci, "Lord" dan "God" itu sinonim, sesuai dengan penjelasan di atas.
Beberapa ayat yang membuktikan hal ini antara lain:
"Hendaklah kamu…menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri dengan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan", bagi kemuliaan Allah Bapa."
Maka kita mengetahui bahwa penulisan Yesus sebagai Tuhan "Lord" dan Bapa sebagai Allah "God", lebih disebabkan karena untuk membedakan Pribadi mereka di dalam Trinitas. Hal ini yang sering kita jumpai di dalam surat Rasul Paulus dalam pujian kepada Tritunggal Maha Kudus. Namun hal ini tidak berarti bahwa Yesus bukan Allah, ataupun Allah Bapa bukan Tuhan. Sebab Yesus adalah Tuhan dan Allah, demikian juga Bapa adalah Allah dan Tuhan, sebab mereka setara di dalam kesatuan Trinitas.
Katekismus Gereja Katolik #449 mengatakan, "Pengakuan-pengakuan Gereja yang pertama menggunakan sejak awal gelar kehormatan "Tuhan" ini untuk Yesus. Dan dengan ini mereka mengatakan bahwa kekuasaan, kehormatan, dan kemuliaan, yang pantas diberikan kepada Allah, juga harus diberikan kepada Yesus, karena Ia "setara dengan Allah" (Flp 2:6). Bapa mengumumkan martabat Yesus sebagai penguasa ini, ketika Ia membangkitkan-Nya dari antara orang mati dan meninggikan-Nya ke dalam kemuliaan-Nya.
KGK #448, "Dalam berita-berita Injil, orang-orang yang datang kepada Yesus sering menamakan-Nya "Tuhan". Dalam penggelaran ini dinyatakan penghormatan dan kepercayaan mereka yang mendekati Yesus dengan mengharapkan bantuan dan penyembuhan dari Dia. Kalau diilhami oleh Roh Kudus, kelihatanlah dalam sapaan ini pengakuan akan misteri ilahi Yesus… Di sini "Tuhan" mendapat warna cinta dan simpati, yang selalu bergema dalam tradisi Kristen: "Itu Tuhan" (Yoh 21:7)
Dalam dokumen yang dikeluarkan oleh the Roman Curia, " The Congregation for Divine Worship" 29 Juni 2008, dikatakan, " Penyebutan gelar Kyrios kepada Tuhan yang bangkit merupakan pernyataan akan ke-Allah-an-Nya." Dokumen ini memberikan kesimpulan bagi penggunaan kata Kyrios untuk kata YHWH (Tetragrammaton) yang artinya adalah Allah.
Demikian uraian saya, semoga dapat menjawab pertanyaan Francis.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
Ingrid Listiati
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Ingrid, terima kasih banyak, terima kasih sekali untuk penjelasan ini. Uraian ini membawa pemahaman untuk saya.
Kalau bisa saya mau bertanya lagi. Dalam KS kita dikisahkan perkataan Yesus berkaitan dengan akhir zaman bahwa Yesus tidak tahu kapan akhir zaman akan datang sebab hanya Bapa yang tahu. Membaca dan mencoba memahami perikop itu, spontan ada dua hal muncul dalam diri saya. Pertama memang Yesus tidak tahu karena Dia tidak setara dengan Bapa, Yesus bukan Allah. Kedua, ungkapan itu mau menampakkan kerendahan hati Yesus yang tidak mau menonjolkan ke-sehakikat-anNya dengan Bapa.
Bagaimana perikop tersebut harus dipahami? Thanx. Salam damai.
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Francis,
Pernyataan Yesus tentang akhir jaman dalam ayat Mrk 13: 32, memang mengundang bermacam interpretasi, namun sebaiknya kita berpegang pada apa yang menjadi pengertian Bapa Gereja, karena demikianlah yang dipegang oleh Gereja Katolik. Ayatnya berbunyi demikian, "Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anak pun tidak, hanya Bapa saja."
Jika kita hanya membaca sepintas, atau mengambil arti harafiah pernyataan ini, maka kita dapat mengambil kesimpulan yang tidak sesuai dengan arti yang semestinya.
Hal ini yang terjadi, setidaknya yang dimengerti oleh 2 kelompok ini:
Gereja Katolik TIDAK mengartikan ayat tersebut seperti kedua pendapat di atas. Sebab Gereja Katolik berpegang pada apa yang tertera di banyak ayat di dalam Alkitab yang menyatakan kesetaraan Yesus dengan Allah Bapa, sebagai Firman yang adalah Allah sendiri yang menjelma menjadi manusia (Yoh 1:1, 14), sebagai Pribadi kedua dari Trinitas (lihat kembali artikel di atas tentang banyaknya bukti Alkitabiah tentang ke-Allahan Yesus dan kesetaran-Nya dengan Allah Bapa). Kesetaraan ini mencakup segala hal, termasuk dalam hal pengetahuan akan hari dan saat Penghakiman Terakhir.
Pengajaran Gereja Katolik tentang hal ini berdasarkan dari pengajaran Magisterium Gereja yang ditegaskan di dalam:
"Allah Putera yang Mahatahu mengatakan bahwa Ia tidak tahu harinya [akhir jaman, sehingga] Ia tidak menyatakannya, bukan disebabkan oleh sebab Ia sendiri tidak tahu, tetapi karena Ia tidak mengizinkan hal tersebut diketahui sama sekali…. Putera Tunggal Allah yang menjelma menjadi manusia yang sempurna untuk kita, pasti mengetahui hari dan saatnya Penghakiman Terakhir di dalam diriNya sebagai manusia, namun demikian Ia tidak mengetahui hal itu dari kapasitasnya sebagai manusia…. Sebab untuk maksud apa bahwa Ia yang menyatakan DiriNya sebagai Kebijaksanaan Allah yang menjelma, jika ada sesuatu yang tidak diketahui olehNya sebagai Kebijaksanaan Allah? … Juga tertulis bahwa, …. Allah Bapa menyerahkan segala sesuatu ke dalam tanganNya [Yesus Kristus di dalam Yoh 13:3]. Jika disebutkan segala sesuatu, tentu termasuk hari dan saat Penghakiman Terakhir. Siapa yang begitu naif untuk mengatakan bahwa Allah Putera menerima di dalam tangan-Nya sesuatu yang tidak diketahui olehNya?"
Demikian yang dapat saya tuliskan mengenai Mrk 13:32, semoga uraian di atas dapat menjawab pertanyaan Francis. Di atas semua ini kita perlu dengan rendah hati menerima, bahwa pihak Magisterium Gereja adalah yang paling dapat menginterpretasikan ayat-ayat Alkitab dengan benar, dalam kesatuan dengan ayat-ayat yang lain di dalam Alkitab, dan Tradisi Suci Gereja.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
Ingrid Listiati
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by andryhart on 9 November 2008:
Shalom,
Ada dua hal yang membuat saya tetap memeluk agama Katolik (karena saya tidak terlahir dalam keluarga yang beragama Katolik):
(1) Ajaran Yesus seperti Khotbah di Bukit kelihatannya tidak masuk di akal manusia sekalipun mengandung kebenaran Ilahi. Friedrich Nietzsche, seorang filsuf Jerman, mengatakan bahwa Khotbah di Bukit menunjukkan mentalitas budak dan gaya hidup sang pencundang. Albert Schweitzer mengatakan bahwa manusia kebanyakan tidak mungkin melaksanakan ajaran Kristus tersebut. Hanya orang-orang suci dan Mahatma Gandhi yang kelihatannya bisa mengamalkan ajaran ini. Ajaran Yesus lainnya seperti mengampuni musuh yang telah menganiaya kita dan bahkan berdoa baginya juga tidak masuk di akal manusia sekalipun ampuh untuk menghilangkan dendam dan permusuhan yang merugikan kesehatan dan keselamatan diri kita sendiri.
(2) Teladan yang diperlihatkan oleh para pengikut Kristus dalam 300 tahun pertama. Mereka telah dianiaya dan dibunuh secara kejam oleh para Kaisar Romawi di jaman itu, seperti Nero, yang membakar tubuh orang Kristen dan menjadikannya obor penerang jalan, atau menjadikan para pengikut Kristus termasuk wanita dan anak-anak sebagai mangsa singa. Namun, sekalipun mengalami berbagai kekejaman, para pengikut Kristus di jaman gereja perdana tetap setia kepada Yesus. Jika tidak menyaksikan sendiri bahwa Yesus itu benar-benar Allah, mungkin mereka tidak akan rela mengorbankan diri.
Jadi, pertanyaan apakah Yesus tidak mati disalib tetapi langsung naik ke surga (pandangan kaum Muslim) ataukah Yesus mati disalib dan bangkit kembali untuk menebus dosa manusia (pandangan kaum Kristen), biarlah semua ini menjadi iman kepercayaan masing-masing penganut agama. Sebagai orang Kristen Katolik, iman kepercayaan kita tidak perlu goyah karena membaca Injil Barnabas atau Novel Da Vinci (bahkan akhir-akhir ini juga muncul film Mesias versi Iran) karena kita toh tidak hidup di jaman itu sehingga tidak menyaksikan sendiri faktanya.
Tuhan memberkati.
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by Petrus Bangkit on 7 November 2008:
setelah melihat beberapa artikel di web ini, banyak hal yang bisa saya pelajari, tentang “KASIH” (dan itu tidak saya dapatkan di forum2 kebanyakan yang mengatasnamakan -dialog Kristen - Islam) sungguh bagi saya akan sangat berarti kontraproduktif jika membanding2kan antara Katholik-Kristen-Ortodok-Islam-dll.. karena yang kita perdebatkan adalah masalah keyakinan, sesuatu yang sangat fundamental. dan akan berguna bukan untuk didebatkan, tapi untuk di sharingkan dalam rangka menemukan sebuah konsensus yang indah..
bagi saya Agama adalah sarana menuju Keselamatan, dan bukan keselamatan itu sendiri. Bukan berarti ketika saya beragama “A” saya pasti selamat. nope!
Seringkali saya menyesalkan bagi mereka yang menganggap Tuhan adalah sesbuah sosok, atau kita orang kristiani memandang Yesus sebagai sebuah figur namun tidak memandang Ia sebagai sebuah teladan.. atau memandang Yesus sebagai kata Benda dan Kata Orang namun tidak memandang Yesus sebagai kata sifat.. atau memandang Yesus secara tersurat namun tidak memandang dan menggali yang tersirat..
hal tersebut diatas membuat diri kita terjebak pada suatu paham Fanatisme yang sempit dan Arogan, menjadi sulit melepaskan akal budi dan pikiran kita tentang bagaimana kita menyikapi lingkungan dengan bijaksana. Menjadikan kita sebagai kaum Eksklusive dibalik dalil baju pertahanan Agama. dan pastinya semua itu akan membawa kita pada pemikiran “KASIH” yang sangat sempit.. bukan seperti “KASIH YESUS”
KASIH YESUS adalah kasih yang universal, Ia tidak memandang Suku, Ras, Agama, dll..
dan menurut saya bukan hanya kita (orang Kristiani) yang bisa dan berhak atas Kasih itu saja, namun seluruh umat manusia berhak dan bisa melaksanakan kasih itu.. karena siapapun dia (contoh si “A”), apapun agamanya, ketika si “A” melaksanakan hukum kasih, sebenarnya Yesus tinggal dalam hatinya, yang membedakan antara si A dan kita adalah Si A belum mengenal Yesus sedangkan kita sudah, jadi itulah nilai tambah kita.. hehe..
Menjadi Pewarta Kabar Gembira, sebenarnya bukan berarti harus dengan melakukan Penginjilan, atau Misionaris masuk ke padalaman menceritakan tentang Injil, dan kemudian mengajak mereka untuk dibabtis. Namun yang jelas kita sebagai orang kristiani harus bisa memposisikan diri kita sebagai Garam dan Terang di lingkungan kita.. ketika orang lain merasakan kebahagiaan, kedamaian, dan kesukaaan besar akan Allah, dan itu karena kita : Maka sebenarnya kita telah mewartakan kabar gembira..
Yesus pernah bersabda: …Jadikanlah semua bangsa MuridKU”
inipun jangan kita pandang secara sempit, dan harus bijaksana dalam mensikapinya. sebenarnya bukan harus dengan menjadikan mereka Kristiani untuk jadi Pengikut Kristus, namun dengan mengajarkan nilai “KASIH”. maka ketika kita berhasil mengajak orang untuk berbuat “KASIH” kita telah mendapatkan satu murid untuk ‘YESUS”, syukur2 mau ikut di babtis.. hehe..
Dengan menjadikan semua orang di Dunia Kristiani, bukan jaminan kedamaian sejati dapat terwujud.. Namun dengan menjadikan seluruh dunia Murid Yesus yang mengerti dan mengaplikasikan hukum KASIH maka saya percaya : Damai Dunia terwujud.. (hehe.. bisa ga ya?..)
Saya lahir dan dibesarkan di lingkungan Islam yang kental.
karena ayah saya dulunya adalah seorang muslim, sehingga semua saudara saya adalah muslim. Namun syukur kepada Allah bahwa mereka baik adanya, selalu toleran dan saling mengasihi.
Bahkan seringkali ketika hujan, mereka (saudara2 saya yang muslim) mau berepot2 untuk antar jemput saya dan keluarga ketika hendak berangkat ke gereja. ataupun ketika Natal, mereka datang kerumah, membawakan makanan, saling mengucapkan natal, dan bergembira bersama di rumah kami. Begitupun sebaliknya ketika mereka berlebaran..
hehe.. pokoknya KASIH itu begitu RRRRuuuaaaarrr Biiiaaasssaaa..
-Damai Kristus Beserta Kita-
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Petrus,
Terima kasih ya, atas sharing anda yang sangat bagus. Ya, memang kita sebagai pengikut Kristus mempunyai tantangan untuk melaksanakan hukum KASIH itu. Nah mengenai hal ini, kita sesungguhnya dapat bersandar pada prinsip yang kita ketahui dari Alkitab, dan pengajaran Gereja, yaitu:
Demikian tanggapan saya atas sharing Petrus tentang kasih. Sungguh, jika setiap orang beriman memiliki KASIH seperti yang diterapkan oleh keluarga Petrus, betapa indahnya kehidupan bangsa kita ini. Mari bersama kita berjuang untuk menerapkan ajaran KASIH di manapun kita berada.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
Ingrid Listiati
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by Ali on 28 October 2008:
Yesus Kristus cenderung mengajarkan damai ke semua orang.
Itulah kenapa pada jaman dahulu banyak orang yang tidak setuju dengan cara Yesus bahkan Dia ditolak oleh bangsaNya sendiri.
sewaktu Yesus disalibkan malah masih mengampuni orang romawi yang menyiksa Dia.
Adakah nabi atau apapun orang suci yang mampu seperti Dia?.
kemudian Yesus selalu memberi perumpamaan dan itu kenapa?.
sampai ribuan tahun perumpamaan tersebut masih berlaku?.
adalah karena kita manusia tidak bisa menerima KEBENARAN.
Jujur saja pada diri sendiri.
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by Sakerah on 19 October 2008:
Kalau Allah tidak menjadi manusia , aku langsung jadi atheis. Trus Allah hanya bisa dibuktikan di bibir dan cuma di angan-angan saja. Kita berbangga menjadi Kristen Katolik, sebab Allah sendiri yang membuat dan menciptakan Agama Kristen Katolik.
Kalau ada jalan tol menuju surga, mengapa memeilih lewat jalan tikus ?
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by fajar on 10 October 2008:
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Pemurah, dari Muhammad, Rasulullah, untuk Heraklius, Penguasa Romawi. Salam sejahtera semoga selalu terlimpah kepada orang-orang yang mau mengikuti kebenaran. Sesungguhnya aku bermaksud mengajakmu memeluk Islam. Masuklah Islam, niscaya kamu akan selamat. Masuklah Islam niscaya Allah akan menganugerahimu dua pahala sekaligus. Jika kamu berpaling dari ajakan yang mulia ini, maka kamu akan menanggung dosa seluruh pengikutmu. Wahai Ahli Kitab, marilah kepada suatu kalimat ketetapan yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita mempersekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain daripada Allah. Jika mereka berpaling maka kataka! ! nlah kepada mereka: Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri kepada Allah) (QS Ali Imran : 64).” Diriwayatkan dalam hadist sahih Imam Muslim 3322.
Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Dari Muhammad Rasulullah saw. kepada Najasyi Ash-ham raja Habasyah
Salam sejahtera bagimu
Aku memuji engkau kepada Allah Yang Maha Suci lagi Perkasa, dan aku bersaksi bahwa Isa a.s. adalah ruh Allah dan kalimah-Nya yang dicampakkan kepada Mariam seorang perawan suci, bersih, dan terjaga. Mariam mengandung Isa a.s. Kemudian Allah menciptakan Isa a.s. dari ruh-Nya dan ditiupkan-Nya ruh itu (ke dalam jasadnya) sebagaimana Adam a.s. yang diciptakan Allah langsung dengan Tangan-Nya dan ditiupkan-Nya ruh (ke dalam tubuhnya). Kini aku mengajak engkau (untuk menyembah) Allah Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya dan terus-menerus mentaati-Nya serta mengikuti aku. Juga engkau mempercayaiku dan ajaran-ajaran yang diturunkan-Nya padaku bahwa aku adalah utusan-Nya. Aku telah mengutus kepadamu keponakanku yang bernama Ja’far bersama serombongan kaum muslimin. Apabila mereka telah sampai ke hadapanmu, maka layanilah mereka sebaik-baiknya dan tinggalkanlah kesombongan. Aku mengajak engkau dan seluruh tentaramu kepada (agama) Allah. Sungguh telah aku sampaikan risalah dan nasihatku, maka terimalah ajakan dan nasihatku ini!”
Salam sejahtera bagi siapa saja yang mengikuti hidayah
* surat Rosulullah SAW. kepada Kisra, melalui jalan Ibnu Ishaq yang
isinya; Dengan Menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang. Dari Muhammad utusan Allah untuk Kisra Penguasa Persia!
Keselamatan bagi orang yang mengikuti petunjuk, beriman kepada Allah
dan Rosul-Nya, bersaksi tiada Tuhan kecuali Allah semata yang tida
sekutu bagi-Nya dan Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya. Aku ajak
kamu dengan ajakan Allah, aku utusan Allah untuk seluruh manusia,
supaya aku memberi peringatan orang yang hidup dan berkata benar kepada
orang-orang kafir. Jika mau masuk Islam kau selamat, dan jika enggan
maka kau menaggung dosa orang-orang Majusi.
* Demikian isi surat ini yang dikirim nabi kami kepada raja romawi yang beragama nasrani, raja habasyah yang beragama nasrani, raja persia yang beragama penyembah api. maksud dan
tujuan kami adalah menyampaikan ilmu, maukah kamu masuk Islam ? semoga kamu mendapat hidayah dan
petunjuk.
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Salam damai, Fajar,
Pertama-tama, Selamat Hari Raya Idul Fitri. Terima kasih anda sudah mengunjungi web-site ini. Memang untuk mengikuti kebenaranlah kita sama-sama berjuang di dalam hidup ini. Bagi kami kaum Nasrani, kami menemukan kebenaran di dalam Yesus Kristus, yang berkata, "Akulah Jalan, Kebenaran dan Hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku" (Yoh 14:6).
Kami meyakini bahwa kami menyembah Allah yang satu dalam Tiga Pribadi, sesuatu yang mungkin dianggap tidak masuk di akal bagi orang-orang yang bukan beragama Kristen, namun bagi kami, itu justru merupakan misteri Allah yang teragung (silakan baca Trinitas: Allah yang satu dalam tiga Pribadi).
Pertanyaannya, kenapa kita percaya akan Yesus Kristus, pribadi ke dua dari Trinitas, yang menjelma menjadi manusia? Ada tiga alasan yang dapat kami kemukakan, dimana tiga alasan ini disebut "motive of credibility".
Semasa hidup Kristus di dunia, kuasa Allah ditunjukkan di dalamNya dengan Ia melakukan banyak mukjizat-mukjizat, dari meredakan angin ribut, mengusir roh jahat, menyembuhkan orang sakit, sampai membangkitkan orang mati, termasuk juga kebangkitanNya sendiri dari kematian-Nya (Silakan membaca: Kristus yang kita imani= Yesus yang menurut sejarah).
Selanjutnya, kami meyakini bahwa Kristus datang untuk mendirikan Gereja yang dibentukNya sendiri untuk terus bertahan sampai akhir jaman, dan itu berada di dalam Gereja Katolik. Paus pemimpin Gereja ini dapat ditelusuri asalnya sampai kepada Petrus, Rasul Yesus Kristus. Hal ini juga merupakan sesuatu mukjizat tersendiri, sebab jika Gereja hanya ‘organisasi’ manusia, maka sudah sejak lama ia bubar/ tak bertahan. Untuk lengkapnya, silakan membaca: mengapa kita memilih Gereja Katolik.
Kami menyadari bahwa ada perbedaan-perbedaan antara ajaran agama Katolik dan Islam, walaupun kita sama-sama keturunan Bapa Abraham. Namun mari dengan semangat mencari kebenaran dalam damai, kita berjalan bersama, saling menghormati dan saling menghargai. Pada akhirnya nanti kita semua akan menghadapi pengadilan Allah, dan kebenaran pada saat itu akan sungguh dinyatakan di hadapan kita semua.
Salam damai dari
http://www.katolisitas.org
ingrid & stef
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Comment by Veronica on 27 September 2008:
BerimaN berarti kita setuju dan sangat menerima bahwa Ajaran gereja Katolik bahwa Jesus adalh Tuhan dan Juru Selamat yang adalah juga Yesus orang Nasaret itu yang oleh sejarah diceritakan. Jadi rasanya kita tidak perlu lagi berpolemik atau menyangsikan Ketuhanan Jesus itu. Terima Saja, karena Orang yang menentang pun tak dapat membuktikan nya dan apalagi tidak hidup di Zaman Jesus itu.Maka,menurut hemat saya adalah buang2 waktu menentang hal ini. lebih baik berdoa dan Mohon Rahmat Allah agar kita semakin beriman akan Yesus Sang Tokoh sejarah itu adalah TUHAN YESUS KRISTUS, ya dan amin,
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Shalom Veronica,
Ya, memang benar kita tidak perlu menyangsikan ke-Tuhanan Yesus. Oleh karena iman kita kepada Yesus Tuhan inilah, kitapun mempunyai tanggung jawab untuk menjelaskannya jika ada orang yang bertanya kepada kita tentang ke-Tuhanan Yesus itu. Untuk maksud inilah artikel di atas ditulis, mengingat banyaknya informasi yang beredar di sekitar kita, baik dari buku maupun mas media yang mempertanyakan hal itu. Kita sebagai orang Katolik sebaiknya tidak saja mengimani, tetapi juga mengetahui bahwa iman kita sungguh berdasarkan atas apa yang terjadi secara nyata, baik yang dikatakan oleh Yesus sendiri, maupun yang diteruskan oleh para rasulNya. Jadi, saya setuju dengan Veronica, bahwa kita tidak ingin berpolemik sendiri di sini, namun kita memenuhi apa yang diajarkan oleh Rasul Petrus, " …Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat…" (1Pet 3:15).
Selanjutnya memang, kita perlu terus berdoa, terutama juga mendoakan mereka yang mempertanyakan ataupun yang menyangsikan ke-Tuhanan Yesus itu, agar Tuhan sendirilah yang menyentuh hati mereka dan menuntun mereka kepada kepenuhan kebenaran. Mohon dukungan doa dari Veronica, sehingga bersama-sama kita dapat mewartakan kebenaran Tuhan.
Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
Ingrid Listiati
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
Terima kasih Ibu Ingrid, saya sungguh merasa bahwa dari orang yang tidak kita kenal pun kita bisa mendapat peneguhan dan jawaban bagaikan sahabat, nah… bukankah ini juga Karya Roh Kudus? saya menyadari ini adalah kecanggihan teknologi, tapi sarana yang kita bangun dan buat tak akan mamapu direspon dgn baik apabila kita cuek pada orang lain. terutama saudara seiman. Saya bergabung dengan Komunitas Emmaus Journey di paroki kami MBK, dan sungguh saya berani bersaksi bahwa Bwrjalan BersamA Jesus hati kita berkobar kobar.Banyak hal kita bisa belajar melalui pengalaman relasi dengan Jesus. Mengenai Yesus adadlh Tuhan Kristus dan Allah, harus kita imani saja , bukan dicari kebenaran Fakta Historical nya, sebab ini Juga suatu Misteri. Begitupun , belum lama saya mengikuti seminar singkat tentang Injil Barnabas, ah… bagi saya sia sia dan jauh dari jangkauan bahwa saya atau kita Orang Katolik harus cemas dan hati hati dengan kabar ini. Karena apa? alasan saya adalah kita orang katolik selalu hidup dalam komunitas lingkungan, wilayah, paroki. dimana kita terus menerus dapat info tentang kehidupan kekatolikan dan mempunyai satu cara yang sama dan benar dibawah kepemimpinan Sri Paus, maka dari kecil kita sudah ditanamkan Hirakis seperti ini, jadi sepertinya tidak ada waktu lagi mempertanyakan ato menggali sejarah lagi, karena itu sudah dilakukan dan dibenarkan oleh Paus yang adalah Wakil Jesus di bumi. begitu bu, tentu saya akan berdoa buat ibu dan saudara2 yang membaca komentar ini.shalom JBU
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]
………………………ok deh gue sependapat dengan ibu Ingrid dan sdri veronica.
GBU……
[KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]