<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss
version="2.0"
xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
> <channel><title>Comments on: Inkarnasi adalah Immanuel, Allah yang Beserta Kita</title> <atom:link href="http://katolisitas.org/2008/09/17/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" /><link>http://katolisitas.org/2008/09/17/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/</link> <description>Mengetahui dan Mengasihi iman Katolik</description> <lastBuildDate>Fri, 30 Jul 2010 11:26:12 +0000</lastBuildDate> <generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator> <sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod> <sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency> <item><title>By: Ingrid Listiati</title><link>http://katolisitas.org/2008/09/17/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/comment-page-1/#comment-2414</link> <dc:creator>Ingrid Listiati</dc:creator> <pubDate>Wed, 18 Mar 2009 20:30:31 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/09/18/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/#comment-2414</guid> <description>&lt;p&gt;Shalom Chandra, &lt;br&gt;
1. Ya, Pembaptisan &#039;hanya&#039; memulihkan Rahmat pengudusan namun tidak mempertahankan ke-4 preternatural gifts yang dimiliki Adam dan Hawa sebelum mereka jatuh dalam dosa. Mohon maaf, terus terang saya tidak tahu terjemahan kata &#039;perternatural gifts&#039; ini dalam bahasa Indonesia. Istilah ini dipakai oleh St. Thomas Aquinas dalam bukunya &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;Summa Theologiae&lt;/span&gt;, dan saya tidak tahu apakah sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Menurut Fr. John Hardon&#039;s &lt;em&gt;Modern Catholic Dictionary&lt;/em&gt;, &#169; Eternal Life, preternatural gifts ini artinya adalah: &quot;rahmat yang diberikan oleh Tuhan di atas dan melampaui segala kuasa/ kekuatan alam yang menerimanya, namun tidak melampaui kemampuan sang ciptaan untuk menerimanya.&quot; Dan 4 rahmat supernatural ini adalah (lihat KGK 405): (a) immortality / tidak tunduk terhadap kuasa maut, (b) immunity from suffering / tidak dapat menderita, (c) infused knowledge/ pengetahuan hal-hal ilahi yang ditanamkan langsung oleh Allah, (d) integrity, yaitu harmoni dan tunduknya segala macam keinginan dan emosi dari kedagingan kita kepada reason (akal budi). &lt;br&gt;
Dalam hal ini saya ingin mengutip Katekismus Gereja Katolik:&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;text-decoration: underline;&quot;&gt;KGK 1263 &lt;/span&gt;&#160;&#160;&#160; &lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;Oleh Pembaptisan diampunilah semua dosa, dosa asal, dan semua dosa pribadi serta siksa-siksa dosa&lt;/span&gt;. Di dalam mereka yang dilahirkan kembali, tidak tersisa apa pun yang dapat menghalang-halangi mereka untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Baik dosa Adam maupun dosa pribadi demikian pula akibat-akibat dosa, yang terparah darinya adalah pemisahan dari Allah, semuanya tidak ada lagi.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;&lt;span style=&quot;text-decoration: underline;&quot;&gt;KGK 1264 &lt;/span&gt;&#160;&#160;&#160; Tetapi di dalam orang-orang yang dibaptis &lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;tetap ada beberapa akibat sementara dari dosa: penderitaan, penyakit, kematian, kelemahan yang berhubungan dengan kehidupan (seperti misalnya kelemahan tabiat), serta kecondongan kepada dosa, yang tradisi namakan concupiscentia&lt;/span&gt; [keinginan tak teratur] atau, secara kiasan, &quot;dapur dosa&quot; [fomes peccati]. Karena keinginan tak teratur &quot;&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;tertinggal untuk &lt;span style=&quot;text-decoration: underline;&quot;&gt;perjuangan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;, maka ia tidak akan merugikan mereka, yang tidak menyerah kepadanya dan yang dengan bantuan rahmat Yesus Kristus menantangnya dengan perkasa. Malahan lebih dari itu, &#039;siapa yang berjuang dengan benar, akan menerima mahkota&#039; (2 Tim 2:5)&quot; (Konsili Trente: DS 1515).&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&#160;Jadi, memang setelah Pembaptisan, masih ada bagian yang harus kita lakukan agar kita dapat terus berjuang untuk memperoleh keselamatan kita. Rasul Paulus menyebutkan bahwa kehidupan kita seumpama pertandingan/ ujian, dan kita harus berjuang agar sampai ke garis finish dengan kesetiaan iman agar memperoleh mahkota kehidupan (lihat 1 Kor 9:24-25; Ibr 12:1, Yak 1:12)&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Hal ini tak terlepas dari kebijaksanaan Tuhan yang memang menciptakan manusia sesuai dengan gambaran-Nya, sehingga Ia tidak pernah memaksa, dan selalu melibatkan kehendak bebas kita dalam rencana keselamatan-Nya. Di samping itu, keadilan Allah menentukan bahwa selalu ada konsekuensi/akibat dari dosa yang kita lakukan. Hal ini dinyatakan dalam banyak contoh tokoh di Alkitab, baik dari Perjanjian Lama ataupun Baru. Keselamatan kita memang diperoleh dari rahmat Allah, namun manusia harus mengambil bagian di dalamnya, sebab manusia bukan hanya sekedar &#039;boneka&#039;. St. Agustinus mengatakan demikian, &quot;He who created you without you does not justify you without you&quot; (Ep. 157,2,10). Artinya dalam menciptakan kita, Allah tidak melibatkan kita (kita tidak dapat menentukan sendiri kapan dan oleh siapa kita dilahirkan); namun untuk menyelamatkan kita, Allah melibatkan kita. Dan bagian yang harus kita lakukan adalah perjuangan yang menyangkut konsekuensi hilangnya ke-4 &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;preternatural gifts &lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;akibat dosa asal itu, yaitu:&lt;/span&gt;  &lt;/em&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;1) berusaha mempertahankan hidup sebaik mungkin, namun jika saatnya tiba kita menerima maut dengan iman;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;2) dengan tabah menghadapi ujian penderitaan dengan iman dan pengharapan;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;3) berjuang untuk memperoleh pengetahuan akan Allah, melalui doa, merenungkan sabda Tuhan, sakramen, dan pendalaman iman;&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;4) berjuang untuk mengalahkan kecenderungan melakukan dosa/ &lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;concupiscentia&lt;/span&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Dengan melibatkan manusia, bukan berarti rencana Allah tidak sempurna, karena dari pihak Allah, Ia telah melakukan segalanya, dengan mengutus Yesus Putera-Nya menjadi manusia demi menyelamatkan kita, dan karya-Nya ini terus berlangsung dalam Gereja-Nya sampai saat ini oleh kuasa Roh Kudus-Nya. Tinggal sekarang bagaimana kita sebagai manusia menanggapinya. Inilah misteri keselamatan Allah yang didasari oleh Kasih dan Keadilan-Nya yang memang melampaui pemikiran manusia. Jika keadilan manusia saja mengenal adanya konsekuensi suatu perbuatan yang salah, maka keadilan Tuhan yang sempurna-pun menentukan demikian. Walaupun, dalam perwujudannya, Allah melimpahkan kasih-Nya yang tiada terkira yang mampu membebaskan kita dari akibat dosa tersebut, asalkan kita bekerjasama dengan Dia.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;2. Apakah Adam dan Hawa manusia yang paling berdosa karena telah menurunkan dosa asal kepada segenap umat manusia? Memang tak mudah menjawab pertanyaan ini, karena sesungguhnya yang paling dapat dan berhak mengukur dosa manusia adalah Tuhan, dan bukan manusia. Jika kita mengenal diri sendiri dengan cukup baik, maka kita ketahui bahwa dalam satu saat di kehidupan kita, kitapun pernah melakukan dosa yang serupa dengan dosa Adam dan Hawa: Sudah tahu tidak boleh melakukan perbuatan tertentu, namun tetap kita melakukannya. Artinya, jika kita diberi kesempatan hidup sebagai manusia pertama (menjadi Adam atau Hawa), maka kitapun dapat jatuh di dalam dosa seperti mereka. Kesadaran akan hal ini membuka mata kita untuk tidak menghakimi siapapun, baik Adam dan Hawa, ataupun orang lain. Silakan lihat juga jawaban yang berkaitan dengan pertanyaan ini di sini ( &lt;a rel=&quot;nofollow&quot; href=&quot;http://katolisitas.org/2009/03/08/pengalaman-berharga-dari-mengganti-diaper/comment-page-1/#comment-2412&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;silakan klik)&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Setahu saya, Gereja menyebut Adam dan Hawa disebut sebagai manusia pertama, namun bukan nabi. Kata &#039;Adam&#039; sendiri berasal dari bahasa Ibrani, dan artinya adalah &#039;debu&#039;, &#039;manusia laki-laki&#039;, atau umat manusia. Sedangkan &#039;Hawa&#039; berarti &#039;seseorang yang hidup&#039;/ ibu dari kehidupan. Pengertian &#039;Nabi&#039; sendiri adalah ditujukan pada orang-orang pilihan Allah yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, terutama dalam hal menyampaikan perintah-perintah Allah, dan menyampaikan nubuat-nubuat. Kedua hal peran utama ini tidak kita jumpai dalam diri Adam dan Hawa. Maka, kita mengetahui pentingnya perbandingan kontras antara Adam yang pertama dan Adam yang kedua (Yesus Kristus). Oleh yang pertama kita memperoleh maut, oleh yang kedua, hidup. Demikian pula oleh ketidaktaatan Hawa yang pertama, manusia jatuh dalam dosa, sedangkan oleh ketaatan Hawa yang kedua, yaitu Bunda Maria, manusia memperoleh Juru Selamatnya, yaitu Kristus.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dari www.katolisitas.org&lt;br&gt;
Ingrid Listiati&lt;/p&gt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Chandra, <br
/> 1. Ya, Pembaptisan &#8216;hanya&#8217; memulihkan Rahmat pengudusan namun tidak mempertahankan ke-4 preternatural gifts yang dimiliki Adam dan Hawa sebelum mereka jatuh dalam dosa. Mohon maaf, terus terang saya tidak tahu terjemahan kata &#8216;perternatural gifts&#8217; ini dalam bahasa Indonesia. Istilah ini dipakai oleh St. Thomas Aquinas dalam bukunya <span
style="font-style: italic;">Summa Theologiae</span>, dan saya tidak tahu apakah sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Menurut Fr. John Hardon&#8217;s <em>Modern Catholic Dictionary</em>, &copy; Eternal Life, preternatural gifts ini artinya adalah: &quot;rahmat yang diberikan oleh Tuhan di atas dan melampaui segala kuasa/ kekuatan alam yang menerimanya, namun tidak melampaui kemampuan sang ciptaan untuk menerimanya.&quot; Dan 4 rahmat supernatural ini adalah (lihat KGK 405): (a) immortality / tidak tunduk terhadap kuasa maut, (b) immunity from suffering / tidak dapat menderita, (c) infused knowledge/ pengetahuan hal-hal ilahi yang ditanamkan langsung oleh Allah, (d) integrity, yaitu harmoni dan tunduknya segala macam keinginan dan emosi dari kedagingan kita kepada reason (akal budi). <br
/> Dalam hal ini saya ingin mengutip Katekismus Gereja Katolik:</p><p
style="margin-left: 40px;"><span
style="text-decoration: underline;">KGK 1263 </span>&nbsp;&nbsp;&nbsp; <span
style="font-weight: bold;">Oleh Pembaptisan diampunilah semua dosa, dosa asal, dan semua dosa pribadi serta siksa-siksa dosa</span>. Di dalam mereka yang dilahirkan kembali, tidak tersisa apa pun yang dapat menghalang-halangi mereka untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Baik dosa Adam maupun dosa pribadi demikian pula akibat-akibat dosa, yang terparah darinya adalah pemisahan dari Allah, semuanya tidak ada lagi.</p><p
style="margin-left: 40px;"><span
style="text-decoration: underline;">KGK 1264 </span>&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tetapi di dalam orang-orang yang dibaptis <span
style="font-weight: bold;">tetap ada beberapa akibat sementara dari dosa: penderitaan, penyakit, kematian, kelemahan yang berhubungan dengan kehidupan (seperti misalnya kelemahan tabiat), serta kecondongan kepada dosa, yang tradisi namakan concupiscentia</span> [keinginan tak teratur] atau, secara kiasan, &quot;dapur dosa&quot; [fomes peccati]. Karena keinginan tak teratur &quot;<span
style="font-weight: bold;">tertinggal untuk <span
style="text-decoration: underline;">perjuangan</span></span>, maka ia tidak akan merugikan mereka, yang tidak menyerah kepadanya dan yang dengan bantuan rahmat Yesus Kristus menantangnya dengan perkasa. Malahan lebih dari itu, &#8217;siapa yang berjuang dengan benar, akan menerima mahkota&#8217; (2 Tim 2:5)&quot; (Konsili Trente: DS 1515).</p><p>&nbsp;Jadi, memang setelah Pembaptisan, masih ada bagian yang harus kita lakukan agar kita dapat terus berjuang untuk memperoleh keselamatan kita. Rasul Paulus menyebutkan bahwa kehidupan kita seumpama pertandingan/ ujian, dan kita harus berjuang agar sampai ke garis finish dengan kesetiaan iman agar memperoleh mahkota kehidupan (lihat 1 Kor 9:24-25; Ibr 12:1, Yak 1:12)</p><p>Hal ini tak terlepas dari kebijaksanaan Tuhan yang memang menciptakan manusia sesuai dengan gambaran-Nya, sehingga Ia tidak pernah memaksa, dan selalu melibatkan kehendak bebas kita dalam rencana keselamatan-Nya. Di samping itu, keadilan Allah menentukan bahwa selalu ada konsekuensi/akibat dari dosa yang kita lakukan. Hal ini dinyatakan dalam banyak contoh tokoh di Alkitab, baik dari Perjanjian Lama ataupun Baru. Keselamatan kita memang diperoleh dari rahmat Allah, namun manusia harus mengambil bagian di dalamnya, sebab manusia bukan hanya sekedar &#8216;boneka&#8217;. St. Agustinus mengatakan demikian, &quot;He who created you without you does not justify you without you&quot; (Ep. 157,2,10). Artinya dalam menciptakan kita, Allah tidak melibatkan kita (kita tidak dapat menentukan sendiri kapan dan oleh siapa kita dilahirkan); namun untuk menyelamatkan kita, Allah melibatkan kita. Dan bagian yang harus kita lakukan adalah perjuangan yang menyangkut konsekuensi hilangnya ke-4 <span
style="font-style: italic;">preternatural gifts </span><em><span
style="font-style: italic;">akibat dosa asal itu, yaitu:</span> </em></p><p
style="margin-left: 40px;">1) berusaha mempertahankan hidup sebaik mungkin, namun jika saatnya tiba kita menerima maut dengan iman;</p><p
style="margin-left: 40px;">2) dengan tabah menghadapi ujian penderitaan dengan iman dan pengharapan;</p><p
style="margin-left: 40px;">3) berjuang untuk memperoleh pengetahuan akan Allah, melalui doa, merenungkan sabda Tuhan, sakramen, dan pendalaman iman;</p><p
style="margin-left: 40px;">4) berjuang untuk mengalahkan kecenderungan melakukan dosa/ <span
style="font-style: italic;">concupiscentia</span>.</p><p>Dengan melibatkan manusia, bukan berarti rencana Allah tidak sempurna, karena dari pihak Allah, Ia telah melakukan segalanya, dengan mengutus Yesus Putera-Nya menjadi manusia demi menyelamatkan kita, dan karya-Nya ini terus berlangsung dalam Gereja-Nya sampai saat ini oleh kuasa Roh Kudus-Nya. Tinggal sekarang bagaimana kita sebagai manusia menanggapinya. Inilah misteri keselamatan Allah yang didasari oleh Kasih dan Keadilan-Nya yang memang melampaui pemikiran manusia. Jika keadilan manusia saja mengenal adanya konsekuensi suatu perbuatan yang salah, maka keadilan Tuhan yang sempurna-pun menentukan demikian. Walaupun, dalam perwujudannya, Allah melimpahkan kasih-Nya yang tiada terkira yang mampu membebaskan kita dari akibat dosa tersebut, asalkan kita bekerjasama dengan Dia.</p><p>2. Apakah Adam dan Hawa manusia yang paling berdosa karena telah menurunkan dosa asal kepada segenap umat manusia? Memang tak mudah menjawab pertanyaan ini, karena sesungguhnya yang paling dapat dan berhak mengukur dosa manusia adalah Tuhan, dan bukan manusia. Jika kita mengenal diri sendiri dengan cukup baik, maka kita ketahui bahwa dalam satu saat di kehidupan kita, kitapun pernah melakukan dosa yang serupa dengan dosa Adam dan Hawa: Sudah tahu tidak boleh melakukan perbuatan tertentu, namun tetap kita melakukannya. Artinya, jika kita diberi kesempatan hidup sebagai manusia pertama (menjadi Adam atau Hawa), maka kitapun dapat jatuh di dalam dosa seperti mereka. Kesadaran akan hal ini membuka mata kita untuk tidak menghakimi siapapun, baik Adam dan Hawa, ataupun orang lain. Silakan lihat juga jawaban yang berkaitan dengan pertanyaan ini di sini ( <a
rel="nofollow" href="http://katolisitas.org/2009/03/08/pengalaman-berharga-dari-mengganti-diaper/comment-page-1/#comment-2412" rel="nofollow">silakan klik)</a></p><p>Setahu saya, Gereja menyebut Adam dan Hawa disebut sebagai manusia pertama, namun bukan nabi. Kata &#8216;Adam&#8217; sendiri berasal dari bahasa Ibrani, dan artinya adalah &#8216;debu&#8217;, &#8216;manusia laki-laki&#8217;, atau umat manusia. Sedangkan &#8216;Hawa&#8217; berarti &#8217;seseorang yang hidup&#8217;/ ibu dari kehidupan. Pengertian &#8216;Nabi&#8217; sendiri adalah ditujukan pada orang-orang pilihan Allah yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, terutama dalam hal menyampaikan perintah-perintah Allah, dan menyampaikan nubuat-nubuat. Kedua hal peran utama ini tidak kita jumpai dalam diri Adam dan Hawa. Maka, kita mengetahui pentingnya perbandingan kontras antara Adam yang pertama dan Adam yang kedua (Yesus Kristus). Oleh yang pertama kita memperoleh maut, oleh yang kedua, hidup. Demikian pula oleh ketidaktaatan Hawa yang pertama, manusia jatuh dalam dosa, sedangkan oleh ketaatan Hawa yang kedua, yaitu Bunda Maria, manusia memperoleh Juru Selamatnya, yaitu Kristus.</p><p>Salam kasih dari <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a><br
/> Ingrid Listiati</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Chandra</title><link>http://katolisitas.org/2008/09/17/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/comment-page-1/#comment-2390</link> <dc:creator>Chandra</dc:creator> <pubDate>Wed, 18 Mar 2009 20:16:59 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/09/18/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/#comment-2390</guid> <description>Shalom Ibu Ingrid,
Perihal dosa asal yg menyebabkan manusia kehilangan Rahmat kekudusan dan 4-preternatural gift (apa ya terjemahan bahasa Indonesianya), dengan Sakramen Baptis (penebusan Kristus) maka Rahmat kekudusan dipulihkan tetapi 4-preternatural gift tidak sehingga manusia masih berjuang di dunia ini dan mengalami penderitaan akibat dosa. Pertanyaannya adalah 1. mengapa penebusan Kristus (Sakramen Baptis) hanya memulihkan Rahmat kekudusan? Mengapa Tuhan Yesus tidak sekaligus memulihkan semuanya? Apakah itu bagian dari &quot;skenario&quot; penebusan umat manusia oleh Allah dan &quot;skenario&quot; itu belum selesai?
2. Dosa asal adalah karena Adam dan Hawa tidak taat kepada perintah Allah, apakah Adam dan Hawa merasa orang yang paling bersalah kepada seluruh umat manusia, karena oleh mereka maka semua manusia di dunia ini berdosa. Bagaimana pandangan gereja terhadap Adam dan Hawa dalam hal ini? Dan apakah Adam dan Hawa juga disebut nabi seperti di agama Islam mereka menyebutnya nabi.
Tuhan memberkati,</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Ibu Ingrid,<br
/> Perihal dosa asal yg menyebabkan manusia kehilangan Rahmat kekudusan dan 4-preternatural gift (apa ya terjemahan bahasa Indonesianya), dengan Sakramen Baptis (penebusan Kristus) maka Rahmat kekudusan dipulihkan tetapi 4-preternatural gift tidak sehingga manusia masih berjuang di dunia ini dan mengalami penderitaan akibat dosa. Pertanyaannya adalah 1. mengapa penebusan Kristus (Sakramen Baptis) hanya memulihkan Rahmat kekudusan? Mengapa Tuhan Yesus tidak sekaligus memulihkan semuanya? Apakah itu bagian dari &#8220;skenario&#8221; penebusan umat manusia oleh Allah dan &#8220;skenario&#8221; itu belum selesai?<br
/> 2. Dosa asal adalah karena Adam dan Hawa tidak taat kepada perintah Allah, apakah Adam dan Hawa merasa orang yang paling bersalah kepada seluruh umat manusia, karena oleh mereka maka semua manusia di dunia ini berdosa. Bagaimana pandangan gereja terhadap Adam dan Hawa dalam hal ini? Dan apakah Adam dan Hawa juga disebut nabi seperti di agama Islam mereka menyebutnya nabi.<br
/> Tuhan memberkati,</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: andryhart</title><link>http://katolisitas.org/2008/09/17/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/comment-page-1/#comment-2401</link> <dc:creator>andryhart</dc:creator> <pubDate>Tue, 17 Mar 2009 23:48:42 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/09/18/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/#comment-2401</guid> <description>Shallom,Yesus memang mengajarkan bahwa apa yang keluar dari mulut kita (kata-kata) jauh lebih berbahaya daripada yang masuk ke dalamnya (makanan) karena Yesus ingin mengatakan bahwa kesehatan jiwa/roh jauh lebih penting daripada kesehatan jasmani (Mat 15: 11, 18). Namun, Santo Paulus juga mengatakan bahwa sekalipun suatu makanan tidak haram baginya, tetapi jika makanan itu menjadi batu sandungan, dia tidak akan memakannya (dalam I Korintus  8
8:13, Santo Paulus mengatakan &quot;Karena itu apabila makanan menjadi batu sandungan bagi saudaraku, aku untuk selama-lamanya tidak akan mau makan daging lagi, supaya aku jangan menjadi batu sandungan bagi saudaraku.&quot;) Bukankah batu sandungan ini merupakan  ajaran agama Yahudi dari perjanjian lama yang melarang umat Allah makan darah dan lemak? Selanjutnya bukankah Amsal 23:3 juga mengingatkan kita bahwa makanan yang lezat (karena manis, gurih dan asin) hanya merupakan hidangan yang menipu? Karena itu, mungkin kita juga perlu mengajarkan kepada anak-anak kita yang sekarang cenderung menjadi carnivora dengan meninggalkan kebiasaan makan sayur dan buah untuk kembali kepada kodratnya yaitu mengutamakan makan makanan nabati seperti biji-bijian, kacang-kacangan, sayur serta buah dan mengonsumsi makanan hewani seperti ikan, unggas hanya sebagai protein pelengkap.
Tuhan memberkati,</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shallom,</p><p>Yesus memang mengajarkan bahwa apa yang keluar dari mulut kita (kata-kata) jauh lebih berbahaya daripada yang masuk ke dalamnya (makanan) karena Yesus ingin mengatakan bahwa kesehatan jiwa/roh jauh lebih penting daripada kesehatan jasmani (Mat 15: 11, 18). Namun, Santo Paulus juga mengatakan bahwa sekalipun suatu makanan tidak haram baginya, tetapi jika makanan itu menjadi batu sandungan, dia tidak akan memakannya (dalam I Korintus  8<br
/> 8:13, Santo Paulus mengatakan &#8220;Karena itu apabila makanan menjadi batu sandungan bagi saudaraku, aku untuk selama-lamanya tidak akan mau makan daging lagi, supaya aku jangan menjadi batu sandungan bagi saudaraku.&#8221;) Bukankah batu sandungan ini merupakan  ajaran agama Yahudi dari perjanjian lama yang melarang umat Allah makan darah dan lemak? Selanjutnya bukankah Amsal 23:3 juga mengingatkan kita bahwa makanan yang lezat (karena manis, gurih dan asin) hanya merupakan hidangan yang menipu? Karena itu, mungkin kita juga perlu mengajarkan kepada anak-anak kita yang sekarang cenderung menjadi carnivora dengan meninggalkan kebiasaan makan sayur dan buah untuk kembali kepada kodratnya yaitu mengutamakan makan makanan nabati seperti biji-bijian, kacang-kacangan, sayur serta buah dan mengonsumsi makanan hewani seperti ikan, unggas hanya sebagai protein pelengkap.<br
/> Tuhan memberkati,</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Ingrid Listiati</title><link>http://katolisitas.org/2008/09/17/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/comment-page-1/#comment-2381</link> <dc:creator>Ingrid Listiati</dc:creator> <pubDate>Tue, 17 Mar 2009 00:53:52 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/09/18/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/#comment-2381</guid> <description>&lt;p&gt;Shalom Andry, &lt;br&gt;
Terima kasih atas pertanyaan yang cukup unik, yaitu apakah manusia (lewat Adam dan Hawa) sesungguhnya diperintahkan oleh Tuhan untuk menjadi vegetarian, dan karena manusia umumnya tidak demikian, maka terjadilah problem lingkungan hidup seperti yang ada sekarang ini (effek rumah kaca yang menjadikan suhu bumi naik dan banjir di mana-mana). Maka dosa asal (karena memakan buah pohon pengetahuan tersebut) menyebabkan manusia tak saja binasa secara rohani, tetapi juga jasmani, demikian yang dituliskan oleh Andry.&lt;br&gt;
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita lihat dari 2 sisi. Yang pertama dari alkitab, dan yang kedua dari fakta.&lt;br&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;A. Dari Alkitab&lt;/span&gt;&lt;br&gt;
Dari referensi buku-buku yang saya baca tentang penjelasan ayat-ayat Alkitab menurut interpretasi dari Gereja Katolik, tidak pernah disebutkan bahwa Adam dan Hawa diperintahkan oleh Tuhan, atau secara kodratnya harus hanya memakan tumbuh-tumbuhan (vegetarian). Beberapa penjelasan sehubungan dengan hal ini adalah:&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;1. Adam dan Hawa jatuh dalam dosa setelah memakan buah pohon pengetahuan yang dilarang oleh Tuhan. Memakan buah pohon pengetahuan di sini maknanya adalah bahwa Adam dan Hawa ingin menentukan sendiri apa yang benar dan salah menurut kehendak sendiri dan bukan mengikuti kehendak Tuhan, atau dengan kata lain mereka ingin menjadi &#039;tuhan&#039;. St. Augustinus menghubungkan pohon pengetahuan ini dengan pohon kayu salib. Dari pohon pengetahuan, dihasilkanlah dosa, dari &#039;pohon&#039; kayu salib dimana Yesus disalibkan, dihasilkanlah pengampunan dosa. Maka di sini terdapat makna yang dalam tentang &#039;makan buah pohon&#039; tersebut, dan bukannya &#039;makan ular-&#039;nya; terutama karena kaitannya dengan salib Kristus.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;2. Setelah Allah menciptakan manusia, Allah berfirman, &quot;Beranak cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.&quot; (Kej 1: 28). Ayat ini dapat diartikan bahwa Allah menyerahkan kuasa atas segala mahluk di bawah manusia, agar dikuasai oleh manusia, termasuk di dalamnya sebagai bahan makanannya.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;3. Sesaat sebelum bangsa Israel dibebaskan dari penjajahan bangsa Mesir, Allah mensyaratkan mereka untuk memakan daging anak domba, dan darahnya dibubuhkan pada kedua tiang pintu (Kel 12: 1-28). Maka korban anak domba pada Perjanjian Lama (PL) inilah yang disempurnakan di dalam Perjanjian Baru (PB) melalui korban Kristus, Anak Domba Allah. Pada PL, pembebasan ditujukan untuk membebaskan dari penjajahan fisik, pada PB, pembebasan dari penjajahan spiritual, yaitu pembebasan dari belenggu dosa.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;4. Allah dalam PL memperbolehkan bangsa Israel makan daging binatang dengan beberapa kekecualian/ pantangan (Im 11:1-47).&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;5. Pantangan inilah yang diperbaharui dalam PB, karena Yesus berkata, &quot;Dengar dan camkanlah: Bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang....Apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang.&quot; (Mat 15: 11, 18).&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;6. Yesus sendiri makan ikan, hal ini kita lihat dari kisah kebangkitan Yesus. Pada saat Ia menampakkan diri, para murid-Nya memberi Dia sepotong ikan goreng, agar mereka dapat yakin yang menampakkan diri itu sungguh-sungguh Yesus yang hidup (Luk 24:42). Pada saat ia menampakkan diri lagi di tepi danau Tiberias, Yesus membuat ikan bakar dan roti untuk dibagikan kepada para murid-Nya (Yoh 21:1-14).&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;br&gt;
&lt;span style=&quot;font-weight: bold;&quot;&gt;B. Dari fakta&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Menurut sumber dari Wikipedia, global warming dikarenakan oleh banyak hal, namun yang terutama adalah karena akibat industri besar-besaran yang dimulai dari revolusi industri di abad 17, yang menumbulkan effek rumah kaca (green-house effects). Nah, efek rumah kaca yang dimaksud disebabkan oleh gas-gas rumah kaca yang terdiri dari uap air&#160; (36-70%, tidak remasuk awan), karbondioksida CO2 (9-26 %) dan metana CH4 (4-9%) dan ozone (3-7%).&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Setelah revolusi industri, maka kegiatan manusia berubah, dan yang sangat berperan merusak lingkungan adalah limbah dari bensin, yang menyebabkan 3/4 kenaikan produksi CO2 dalam 20 tahun terakhir ini. Hal lain yang berpengaruh adalah penggudulan hutan (deforestation).&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Jadi dari fakta ini, tidak secara langsung dikatakan bahwa peternakan besar-besaran yang menjadi sebab efek rumah kaca, karena kita mengetahui bahwa industri tidak hanya didominasi oleh peternakan. Dan limbah yang lebih berpengaruh yaitu CO2 juga lebih berkaitan langsung dengan polusi akibat bensin, dari pada dari peternakan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Jadi dari uraian di atas, saya rasa kita dapat mengambil kesimpulan bahwa sesungguhnya makan daging tidak dilarang Allah. Yang lebih penting di sini adalah pengendalian diri agar apa yang keluar dari mulut kita tidak menajiskan kita. Dalam skala pemikiran yang lebih besar, maka manusia juga diperintahkan Tuhan untuk menguasai alam dalam arti tidak merusak alam. Maka fakta bahwa peternakan besar-besaran dapat berakibat buruk terhadap lingkungan, memang dapat saja terjadi, terutama jika itu melibatkan penggundulan hutan (deforestation). Namun hal itu bukan disebabkan karena manusia sesungguhnya tidak boleh membuat peternakan, tetapi karena mereka tidak melakukannya dengan mempertimbangkan bagaimana menjaga keseimbangan lingkungan hidup. Misalnya setelah menebang pohon, seharusnya mereka juga menanam pohon, atau dengan beberapa cara ilmiah lain untuk mengurangi efek rumah kaca, seperti yang dapat dibaca dalam situs-situs umum tentang ekologi.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Namun jika seseorang menjadi vegetarian demi kasihnya kepada Allah, tentu hal itu merupakan suatu perbuatan mati raga yang sangat baik untuk melatih pengendalian diri dan mendekatkan diri pada Tuhan. Meskipun demikian, Alkitab tidak mengharuskan semua orang melakukan demikian.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Mengenai akibat dari dosa asal, silakan dibaca &lt;a rel=&quot;nofollow&quot; href=&quot;http://katolisitas.org/2008/09/17/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/#comment-616&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;di sini (silakan klik), &lt;/a&gt;&lt;a rel=&quot;nofollow&quot; href=&quot;http://katolisitas.org/2008/09/17/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/#comment-616&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;&lt;br&gt;
&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Memang benar, bahwa dosa menyebabkan kebinasaan baik jasmani dan rohani. Menurut St. Thomas Aquinas, dengan dosa asal manusia kehilangan: 1)&lt;b&gt;Rahmat kekudusan&#160; &lt;/b&gt;2) &lt;b&gt;&lt;i&gt;4-preternatural gifts&#160;&#160;&#160; &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;yang terdiri dari (a) immortality / tidak tunduk terhadap kuasa maut, (b) immunity from suffering / tidak dapat menderita, (c) infused knowledge, (d) integrity, yaitu harmoni dan tunduknya segala macam keinginan dan emosi dari kedagingan kita kepada reason (akal budi) (Lih KGK, 405, 337). Dengan adanya dosa asal, maka manusia tunduk pada kuasa maut, dan kenyataannya di dunia dengan terdapat bermacam bentuk penyakit, yang mungkin saja antara lain disebabkan karena ketidak-seimbangan pola makan/ ataupun tidak makan makanan yang sehat.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Bahwa dalam ke -10 perintah Allah tidak disebutkan &#039;jangan membunuh hewan&#039;, memang harus kita lihat dalam konteksnya, karena Ke-sepuluh Perintah Allah itu sesungguhnya bermaksud mengatur hubungan kasih antara manusia dengan Tuhan (perintah 1-3) dan dengan (perintah 4-10) sesama manusia. Oleh karena itu, Yesus mengatakan bahwa hukum tersebut dapat disarikan menjadi dua perintah utama yaitu mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama (Mat 22:34-40, Mrk 12:28-34; Luk 10:25-28). Jika manusia mempunyai kasih kepada Tuhan dan sesama, maka ia akan bertanggung jawab menjaga lingkungan hidup, dan menjaga keseimbangan alam demi kebaikan komunitas dan generasi mendatang.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Demikian uraian saya, sebagai tanggapan saya terhadap komentar Andry.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dari www.katolisitas.org&lt;br&gt;
Ingrid Listiati&lt;/p&gt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Andry, <br
/> Terima kasih atas pertanyaan yang cukup unik, yaitu apakah manusia (lewat Adam dan Hawa) sesungguhnya diperintahkan oleh Tuhan untuk menjadi vegetarian, dan karena manusia umumnya tidak demikian, maka terjadilah problem lingkungan hidup seperti yang ada sekarang ini (effek rumah kaca yang menjadikan suhu bumi naik dan banjir di mana-mana). Maka dosa asal (karena memakan buah pohon pengetahuan tersebut) menyebabkan manusia tak saja binasa secara rohani, tetapi juga jasmani, demikian yang dituliskan oleh Andry.<br
/> Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita lihat dari 2 sisi. Yang pertama dari alkitab, dan yang kedua dari fakta.<br
/> <span
style="font-weight: bold;">A. Dari Alkitab</span><br
/> Dari referensi buku-buku yang saya baca tentang penjelasan ayat-ayat Alkitab menurut interpretasi dari Gereja Katolik, tidak pernah disebutkan bahwa Adam dan Hawa diperintahkan oleh Tuhan, atau secara kodratnya harus hanya memakan tumbuh-tumbuhan (vegetarian). Beberapa penjelasan sehubungan dengan hal ini adalah:</p><p
style="margin-left: 40px;">1. Adam dan Hawa jatuh dalam dosa setelah memakan buah pohon pengetahuan yang dilarang oleh Tuhan. Memakan buah pohon pengetahuan di sini maknanya adalah bahwa Adam dan Hawa ingin menentukan sendiri apa yang benar dan salah menurut kehendak sendiri dan bukan mengikuti kehendak Tuhan, atau dengan kata lain mereka ingin menjadi &#8216;tuhan&#8217;. St. Augustinus menghubungkan pohon pengetahuan ini dengan pohon kayu salib. Dari pohon pengetahuan, dihasilkanlah dosa, dari &#8216;pohon&#8217; kayu salib dimana Yesus disalibkan, dihasilkanlah pengampunan dosa. Maka di sini terdapat makna yang dalam tentang &#8216;makan buah pohon&#8217; tersebut, dan bukannya &#8216;makan ular-&#8217;nya; terutama karena kaitannya dengan salib Kristus.</p><p
style="margin-left: 40px;">2. Setelah Allah menciptakan manusia, Allah berfirman, &quot;Beranak cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.&quot; (Kej 1: 28). Ayat ini dapat diartikan bahwa Allah menyerahkan kuasa atas segala mahluk di bawah manusia, agar dikuasai oleh manusia, termasuk di dalamnya sebagai bahan makanannya.</p><p
style="margin-left: 40px;">3. Sesaat sebelum bangsa Israel dibebaskan dari penjajahan bangsa Mesir, Allah mensyaratkan mereka untuk memakan daging anak domba, dan darahnya dibubuhkan pada kedua tiang pintu (Kel 12: 1-28). Maka korban anak domba pada Perjanjian Lama (PL) inilah yang disempurnakan di dalam Perjanjian Baru (PB) melalui korban Kristus, Anak Domba Allah. Pada PL, pembebasan ditujukan untuk membebaskan dari penjajahan fisik, pada PB, pembebasan dari penjajahan spiritual, yaitu pembebasan dari belenggu dosa.</p><p
style="margin-left: 40px;">4. Allah dalam PL memperbolehkan bangsa Israel makan daging binatang dengan beberapa kekecualian/ pantangan (Im 11:1-47).</p><p
style="margin-left: 40px;">5. Pantangan inilah yang diperbaharui dalam PB, karena Yesus berkata, &quot;Dengar dan camkanlah: Bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang&#8230;.Apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang.&quot; (Mat 15: 11, 18).</p><p
style="margin-left: 40px;">6. Yesus sendiri makan ikan, hal ini kita lihat dari kisah kebangkitan Yesus. Pada saat Ia menampakkan diri, para murid-Nya memberi Dia sepotong ikan goreng, agar mereka dapat yakin yang menampakkan diri itu sungguh-sungguh Yesus yang hidup (Luk 24:42). Pada saat ia menampakkan diri lagi di tepi danau Tiberias, Yesus membuat ikan bakar dan roti untuk dibagikan kepada para murid-Nya (Yoh 21:1-14).</p><p> <span
style="font-weight: bold;">B. Dari fakta</span></p><p>Menurut sumber dari Wikipedia, global warming dikarenakan oleh banyak hal, namun yang terutama adalah karena akibat industri besar-besaran yang dimulai dari revolusi industri di abad 17, yang menumbulkan effek rumah kaca (green-house effects). Nah, efek rumah kaca yang dimaksud disebabkan oleh gas-gas rumah kaca yang terdiri dari uap air&nbsp; (36-70%, tidak remasuk awan), karbondioksida CO2 (9-26 %) dan metana CH4 (4-9%) dan ozone (3-7%).</p><p>Setelah revolusi industri, maka kegiatan manusia berubah, dan yang sangat berperan merusak lingkungan adalah limbah dari bensin, yang menyebabkan 3/4 kenaikan produksi CO2 dalam 20 tahun terakhir ini. Hal lain yang berpengaruh adalah penggudulan hutan (deforestation).</p><p>Jadi dari fakta ini, tidak secara langsung dikatakan bahwa peternakan besar-besaran yang menjadi sebab efek rumah kaca, karena kita mengetahui bahwa industri tidak hanya didominasi oleh peternakan. Dan limbah yang lebih berpengaruh yaitu CO2 juga lebih berkaitan langsung dengan polusi akibat bensin, dari pada dari peternakan.</p><p>Jadi dari uraian di atas, saya rasa kita dapat mengambil kesimpulan bahwa sesungguhnya makan daging tidak dilarang Allah. Yang lebih penting di sini adalah pengendalian diri agar apa yang keluar dari mulut kita tidak menajiskan kita. Dalam skala pemikiran yang lebih besar, maka manusia juga diperintahkan Tuhan untuk menguasai alam dalam arti tidak merusak alam. Maka fakta bahwa peternakan besar-besaran dapat berakibat buruk terhadap lingkungan, memang dapat saja terjadi, terutama jika itu melibatkan penggundulan hutan (deforestation). Namun hal itu bukan disebabkan karena manusia sesungguhnya tidak boleh membuat peternakan, tetapi karena mereka tidak melakukannya dengan mempertimbangkan bagaimana menjaga keseimbangan lingkungan hidup. Misalnya setelah menebang pohon, seharusnya mereka juga menanam pohon, atau dengan beberapa cara ilmiah lain untuk mengurangi efek rumah kaca, seperti yang dapat dibaca dalam situs-situs umum tentang ekologi.</p><p>Namun jika seseorang menjadi vegetarian demi kasihnya kepada Allah, tentu hal itu merupakan suatu perbuatan mati raga yang sangat baik untuk melatih pengendalian diri dan mendekatkan diri pada Tuhan. Meskipun demikian, Alkitab tidak mengharuskan semua orang melakukan demikian.</p><p>Mengenai akibat dari dosa asal, silakan dibaca <a
rel="nofollow" href="http://katolisitas.org/2008/09/17/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/#comment-616" rel="nofollow">di sini (silakan klik), </a><a
rel="nofollow" href="http://katolisitas.org/2008/09/17/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/#comment-616" rel="nofollow"><br
/> </a></p><p>Memang benar, bahwa dosa menyebabkan kebinasaan baik jasmani dan rohani. Menurut St. Thomas Aquinas, dengan dosa asal manusia kehilangan: 1)<b>Rahmat kekudusan&nbsp; </b>2) <b><i>4-preternatural gifts&nbsp;&nbsp;&nbsp; </i></b>yang terdiri dari (a) immortality / tidak tunduk terhadap kuasa maut, (b) immunity from suffering / tidak dapat menderita, (c) infused knowledge, (d) integrity, yaitu harmoni dan tunduknya segala macam keinginan dan emosi dari kedagingan kita kepada reason (akal budi) (Lih KGK, 405, 337). Dengan adanya dosa asal, maka manusia tunduk pada kuasa maut, dan kenyataannya di dunia dengan terdapat bermacam bentuk penyakit, yang mungkin saja antara lain disebabkan karena ketidak-seimbangan pola makan/ ataupun tidak makan makanan yang sehat.</p><p>Bahwa dalam ke -10 perintah Allah tidak disebutkan &#8216;jangan membunuh hewan&#8217;, memang harus kita lihat dalam konteksnya, karena Ke-sepuluh Perintah Allah itu sesungguhnya bermaksud mengatur hubungan kasih antara manusia dengan Tuhan (perintah 1-3) dan dengan (perintah 4-10) sesama manusia. Oleh karena itu, Yesus mengatakan bahwa hukum tersebut dapat disarikan menjadi dua perintah utama yaitu mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama (Mat 22:34-40, Mrk 12:28-34; Luk 10:25-28). Jika manusia mempunyai kasih kepada Tuhan dan sesama, maka ia akan bertanggung jawab menjaga lingkungan hidup, dan menjaga keseimbangan alam demi kebaikan komunitas dan generasi mendatang.</p><p>Demikian uraian saya, sebagai tanggapan saya terhadap komentar Andry.</p><p>Salam kasih dari <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a><br
/> Ingrid Listiati</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: andryhart</title><link>http://katolisitas.org/2008/09/17/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/comment-page-1/#comment-2269</link> <dc:creator>andryhart</dc:creator> <pubDate>Mon, 16 Mar 2009 17:13:55 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/09/18/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/#comment-2269</guid> <description>Saya ingin membuka diskusi dengan topik yang baru yaitu dosa asal yang saya pikir bukan hanya menjadi pangkal kematian roh kita tetapi juga badan kita. Kita lihat dalam Kitab Kejadian bahwa manusia tergoda oleh buah pengetahuan yang ditawarkan ular (setan). Bukankah cerita dalam kitab suci ini juga ingin mengajarkan bahwa manusia sebenarnya tertarik pada buah dan bukan hewan sebagai makanannya? Seorang teman mengatakan jika saja Adam dan Hawa itu bukan seorang vegetarian, maka yang dimakan tentu ularnya dan bukan buahnya.
Karena manusia melawan kodratnya dengan memakan hewan dan melupakan tumbuhan sebagai sumber pangan utamanya, maka lingkungan hidup manusia telah terancam kerusakan mengerikan seperti global warming. Salah satu penyebab global warming adalah peternakan besar-besaran di mana limbah ternak telah menghasilkan gas metana yang menimbulkan efek rumah kaca. Demikian pula, penangkapan ikan secara besar-besaran termasuk ikan paus dan sardines telah membuat plankton tidak bisa didaur ulang (karena semakin berkurangnya ikan yang memakannya) sehingga ketika mati menghasilkan gas metana. Dengan memperhatikan malapetaka yang ditimbulkan oleh global warming seperti yang di Indonesia dirasakan dalam bentuk banjir di mana-mana (sebagai akibat dari perubahan suhu bumi yang menaikkan level permukaan laut karena lelehan es di kutub dunia), bukankah akan lebih bijaksana jika ajaran Gereja Katolik memperluas perintah &quot;Jangan membunuh&quot; ke dalam makna &quot;Jangan membunuh hewan hanya demi kepentingan komersial (industri).&quot; Memakan banyak produk hewan dengan meninggalkan produk pangan nabati sebagai trend manusia modern sekarang ini telah merusak lingkungan hidup sekaligus kesehatan manusia itu sendiri. Tuhan memberkati.</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Saya ingin membuka diskusi dengan topik yang baru yaitu dosa asal yang saya pikir bukan hanya menjadi pangkal kematian roh kita tetapi juga badan kita. Kita lihat dalam Kitab Kejadian bahwa manusia tergoda oleh buah pengetahuan yang ditawarkan ular (setan). Bukankah cerita dalam kitab suci ini juga ingin mengajarkan bahwa manusia sebenarnya tertarik pada buah dan bukan hewan sebagai makanannya? Seorang teman mengatakan jika saja Adam dan Hawa itu bukan seorang vegetarian, maka yang dimakan tentu ularnya dan bukan buahnya.<br
/> Karena manusia melawan kodratnya dengan memakan hewan dan melupakan tumbuhan sebagai sumber pangan utamanya, maka lingkungan hidup manusia telah terancam kerusakan mengerikan seperti global warming. Salah satu penyebab global warming adalah peternakan besar-besaran di mana limbah ternak telah menghasilkan gas metana yang menimbulkan efek rumah kaca. Demikian pula, penangkapan ikan secara besar-besaran termasuk ikan paus dan sardines telah membuat plankton tidak bisa didaur ulang (karena semakin berkurangnya ikan yang memakannya) sehingga ketika mati menghasilkan gas metana. Dengan memperhatikan malapetaka yang ditimbulkan oleh global warming seperti yang di Indonesia dirasakan dalam bentuk banjir di mana-mana (sebagai akibat dari perubahan suhu bumi yang menaikkan level permukaan laut karena lelehan es di kutub dunia), bukankah akan lebih bijaksana jika ajaran Gereja Katolik memperluas perintah &#8220;Jangan membunuh&#8221; ke dalam makna &#8220;Jangan membunuh hewan hanya demi kepentingan komersial (industri).&#8221; Memakan banyak produk hewan dengan meninggalkan produk pangan nabati sebagai trend manusia modern sekarang ini telah merusak lingkungan hidup sekaligus kesehatan manusia itu sendiri. Tuhan memberkati.</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Brigitta taurine</title><link>http://katolisitas.org/2008/09/17/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/comment-page-1/#comment-1840</link> <dc:creator>Brigitta taurine</dc:creator> <pubDate>Sun, 15 Feb 2009 13:52:18 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/09/18/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/#comment-1840</guid> <description>Salam damai untuk semua pembaca artikel khususnya yang beragama katholik dan semua oang yang beriman dalam kristus yesus,
Dalam hidup ini kita sering berhadapan dengan sesuatu yang sangat sulit kita hindari,apa yang terjadi dalam hidup selalu tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan terjadi,,,,,
namun bila kita sadari bahwa itulah kasih tuhan kepada kita agar kita selalu dekat padanaya dan tak akan pernah meninggalkannya walau dalam keadaan apapun,,,
Tuhan yesus selalu ada untuk kita kapanpun kita membutuhkan Dia,,,,
God Bless U always,,,,,</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Salam damai untuk semua pembaca artikel khususnya yang beragama katholik dan semua oang yang beriman dalam kristus yesus,<br
/> Dalam hidup ini kita sering berhadapan dengan sesuatu yang sangat sulit kita hindari,apa yang terjadi dalam hidup selalu tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan terjadi,,,,,<br
/> namun bila kita sadari bahwa itulah kasih tuhan kepada kita agar kita selalu dekat padanaya dan tak akan pernah meninggalkannya walau dalam keadaan apapun,,,<br
/> Tuhan yesus selalu ada untuk kita kapanpun kita membutuhkan Dia,,,,<br
/> God Bless U always,,,,,</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Stefanus Tay</title><link>http://katolisitas.org/2008/09/17/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/comment-page-1/#comment-1487</link> <dc:creator>Stefanus Tay</dc:creator> <pubDate>Tue, 20 Jan 2009 22:17:21 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/09/18/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/#comment-1487</guid> <description>&lt;p&gt;Shalom Gamaliel,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Terima kasih atas masukannya. Sungguh menjadi hal yang begitu indah untuk dapat saling memberikan masukan dan kekuatan antara saudara di dalam satu iman untuk bersama-sama melayani Tuhan.&lt;br /&gt;
Saya sangat setuju sekali dengan masukan ini. Memang sungguh tepat apa yang disampaikan oleh Gamaliel, bahwa Kristus bukan hanya memberikan perintah, jalan, dan teladan, namun terlebih Kristus hidup di dalam kita (lih. Rm 6:11), sehingga di dalam Kristus, kita dapat menjadi manusia baru (2 Kor 5:17). Dan inilah yang menjadi inti dari Sakramen Baptis, bahwa kita &quot;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;bersama&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&quot;, &quot;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;melalui&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&quot;, dan &quot;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;di dalam&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&quot; Kristus. Bahwa &quot;&lt;span style=&quot;font-style: italic;&quot;&gt;k&lt;/span&gt;&lt;em&gt;ita di dalam Kristus&lt;/em&gt;&quot; dalam Sakramen Baptis, ditegaskan oleh oleh Paus Yohanes Paulus II di &lt;em&gt;Ensiklik Redemptoris Missio&lt;/em&gt;, 47.
&lt;p&gt;Mohon doa dari Gamaliel, agar kami dapat melayani Tuhan dengan baik untuk kemuliaan nama Tuhan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dari www.katolisitas.org&lt;br /&gt;
stef&lt;/p&gt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Gamaliel,</p><p>Terima kasih atas masukannya. Sungguh menjadi hal yang begitu indah untuk dapat saling memberikan masukan dan kekuatan antara saudara di dalam satu iman untuk bersama-sama melayani Tuhan.<br
/> Saya sangat setuju sekali dengan masukan ini. Memang sungguh tepat apa yang disampaikan oleh Gamaliel, bahwa Kristus bukan hanya memberikan perintah, jalan, dan teladan, namun terlebih Kristus hidup di dalam kita (lih. Rm 6:11), sehingga di dalam Kristus, kita dapat menjadi manusia baru (2 Kor 5:17). Dan inilah yang menjadi inti dari Sakramen Baptis, bahwa kita &quot;<em><strong>bersama</strong></em>&quot;, &quot;<em><strong>melalui</strong></em>&quot;, dan &quot;<em><strong>di dalam</strong></em>&quot; Kristus. Bahwa &quot;<span
style="font-style: italic;">k</span><em>ita di dalam Kristus</em>&quot; dalam Sakramen Baptis, ditegaskan oleh oleh Paus Yohanes Paulus II di <em>Ensiklik Redemptoris Missio</em>, 47.</p><p>Mohon doa dari Gamaliel, agar kami dapat melayani Tuhan dengan baik untuk kemuliaan nama Tuhan.</p><p>Salam kasih dari <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a><br
/> stef</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Gamaliel</title><link>http://katolisitas.org/2008/09/17/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/comment-page-1/#comment-1485</link> <dc:creator>Gamaliel</dc:creator> <pubDate>Tue, 20 Jan 2009 21:32:52 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/09/18/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/#comment-1485</guid> <description>Sungguh usaha yang luar biasa dari Saudara Stef &amp; Saudari Ingrid, untuk mengajak belajar bersama tentang iman kita! Semoga karya ini terus diberkati Tuhan dan menjadi sarana berkatNya pula, Amin!Perbolehkan saya ikut berkomentar sedikit.Saudara Stefanus Tay menulis: “Itulah yang terjadi dengan Inkarnasi, karena Inkarnasi membuktikan bahwa Tuhan tidak hanya memberikan perintah-perintah, namun Dia sendiri menjadi contoh untuk semua perintah dan kebajikan Ilahi, seperti: kasih yang sempurna, ketahanan untuk tabah dalam penderitaan, keadilan yang sempurna, kebijaksanaan yang sempurna, kesederhanaan, kelemahlembutan dan kerendahan hati. Dengan menunjukkannya kepada manusia, maka manusia dapat mengikuti teladan-Nya. Dan dengan mengikuti teladan-Nya, maka manusia juga berpartisipasi dalam kehidupan Ilahi, yaitu menjadi anak-anak angkat Allah di dalam Kristus, “we are sons in the Son of God,” sebab oleh rahmatNya kita semua menjadi anggota Tubuh Kristus.”Lebih dahsyat lagi daripada itu, Ia tak hanya memberi perintah, jalan, dan teladan! Dia membawa kita di jalanNya itu. Sebuah penjelasan menarik pernah disampaikan oleh Dr. A. Hari Kustono, Pr (Dosen Kitab Suci Fakultas Teologi USD), untuk menerangkan mengenai apa yang dikatakan Paulus ‘hidup di dalam Kristus’. Paulus mengatakan bukan sekedar ‘mengikuti Kristus’ tetapi ‘di dalam Kristus’: itu seperti seorang anak kecil yang ingin ikut pergi ziarah Bapaknya, jalan ke Sendangsono. Kalau anak itu hanya dibiarkan berjalan mengikuti Bapaknya, dia tidak akan sampai karena capek dan tidak kuat berjalan sejauh itu. Bagaimana agar anak itu bisa sampai tujuan? Ya bukan hanya dibiarkan saja mengikuti tetapi harus digendong! Kira-kira, begitulah hidup di dalam Kristus… bukan hanya mengikuti Kristus tetapi digendong oleh Kristus.Salam Kasih, semoga kita dapat saling meneguhkan dalam iman!
Gayus Gamaliel</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Sungguh usaha yang luar biasa dari Saudara Stef &amp; Saudari Ingrid, untuk mengajak belajar bersama tentang iman kita! Semoga karya ini terus diberkati Tuhan dan menjadi sarana berkatNya pula, Amin!</p><p>Perbolehkan saya ikut berkomentar sedikit.</p><p>Saudara Stefanus Tay menulis: “Itulah yang terjadi dengan Inkarnasi, karena Inkarnasi membuktikan bahwa Tuhan tidak hanya memberikan perintah-perintah, namun Dia sendiri menjadi contoh untuk semua perintah dan kebajikan Ilahi, seperti: kasih yang sempurna, ketahanan untuk tabah dalam penderitaan, keadilan yang sempurna, kebijaksanaan yang sempurna, kesederhanaan, kelemahlembutan dan kerendahan hati. Dengan menunjukkannya kepada manusia, maka manusia dapat mengikuti teladan-Nya. Dan dengan mengikuti teladan-Nya, maka manusia juga berpartisipasi dalam kehidupan Ilahi, yaitu menjadi anak-anak angkat Allah di dalam Kristus, “we are sons in the Son of God,” sebab oleh rahmatNya kita semua menjadi anggota Tubuh Kristus.”</p><p>Lebih dahsyat lagi daripada itu, Ia tak hanya memberi perintah, jalan, dan teladan! Dia membawa kita di jalanNya itu. Sebuah penjelasan menarik pernah disampaikan oleh Dr. A. Hari Kustono, Pr (Dosen Kitab Suci Fakultas Teologi USD), untuk menerangkan mengenai apa yang dikatakan Paulus ‘hidup di dalam Kristus’. Paulus mengatakan bukan sekedar ‘mengikuti Kristus’ tetapi ‘di dalam Kristus’: itu seperti seorang anak kecil yang ingin ikut pergi ziarah Bapaknya, jalan ke Sendangsono. Kalau anak itu hanya dibiarkan berjalan mengikuti Bapaknya, dia tidak akan sampai karena capek dan tidak kuat berjalan sejauh itu. Bagaimana agar anak itu bisa sampai tujuan? Ya bukan hanya dibiarkan saja mengikuti tetapi harus digendong! Kira-kira, begitulah hidup di dalam Kristus… bukan hanya mengikuti Kristus tetapi digendong oleh Kristus.</p><p>Salam Kasih, semoga kita dapat saling meneguhkan dalam iman!<br
/> Gayus Gamaliel</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Stefanus Tay</title><link>http://katolisitas.org/2008/09/17/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/comment-page-1/#comment-1391</link> <dc:creator>Stefanus Tay</dc:creator> <pubDate>Tue, 13 Jan 2009 00:54:18 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/09/18/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/#comment-1391</guid> <description>&lt;p&gt;Shalomm Yohanes,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Terima kasih atas pertanyaannya. Hal ini pernah saya bahas di jawaban ini (&lt;a href=&quot;http://katolisitas.org/2008/09/25/9-pertanyaan-kekristenan/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;klik disini&lt;/a&gt;), di point VIII. Kalau ada yang masih kurang jelas, silakan untuk menanyakannya kembali.&lt;br&gt;
Salam kasih dari www.katolisitas.org&lt;br&gt;
stef&lt;/p&gt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalomm Yohanes,</p><p>Terima kasih atas pertanyaannya. Hal ini pernah saya bahas di jawaban ini (<a
href="http://katolisitas.org/2008/09/25/9-pertanyaan-kekristenan/" rel="nofollow">klik disini</a>), di point VIII. Kalau ada yang masih kurang jelas, silakan untuk menanyakannya kembali.<br
/> Salam kasih dari <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a><br
/> stef</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: yohanes</title><link>http://katolisitas.org/2008/09/17/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/comment-page-1/#comment-1390</link> <dc:creator>yohanes</dc:creator> <pubDate>Mon, 12 Jan 2009 23:34:39 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/09/18/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/#comment-1390</guid> <description>syalom ,sebelumnya saya minta maaf , apabila saya salah untuk menanyakan ini .
ada seoeang teman saya , menanyakan kepada saya mengenai gambar foto Yesus kristus , mereka bertanya  : dari mana kamu tahu itu bentuk wajah Tuhan yang kalian sembah ?
lalu saya menjawab bukan itu yang kami sembah , itu hanya suatu gambaran bagi saya , bahwasannya Ia (yesus)sebagai juruslamatku yang menjelma menjadi manusia , tolong yohanes diminta bantuannya sebagai alasan yang tepat dan apakah saya salah menjawab seperti itu .</description> <content:encoded><![CDATA[<p>syalom ,</p><p>sebelumnya saya minta maaf , apabila saya salah untuk menanyakan ini .<br
/> ada seoeang teman saya , menanyakan kepada saya mengenai gambar foto Yesus kristus , mereka bertanya  : dari mana kamu tahu itu bentuk wajah Tuhan yang kalian sembah ?<br
/> lalu saya menjawab bukan itu yang kami sembah , itu hanya suatu gambaran bagi saya , bahwasannya Ia (yesus)sebagai juruslamatku yang menjelma menjadi manusia , tolong yohanes diminta bantuannya sebagai alasan yang tepat dan apakah saya salah menjawab seperti itu .</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Stefanus Tay</title><link>http://katolisitas.org/2008/09/17/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/comment-page-1/#comment-768</link> <dc:creator>Stefanus Tay</dc:creator> <pubDate>Thu, 13 Nov 2008 01:37:34 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/09/18/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/#comment-768</guid> <description>&lt;p&gt;Shalom Chandra,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Saya minta maaf kalau jawabannya kurang dapat dimengerti. Mungkin pertanyaannya satu-satu saja, misalkan: tentang dosa asal, atau penebusan dosa, sehingga jawabannya dapat lebih fokus. Hal ini bukan dikarenakan karena Chandra yang kurang bisa mendalami, namun saya yang masih kurang dapat menjawab dengan jawaban yang mudah dimengerti. Lain kali saya akan mencoba untuk menjawabnya dengan bahasa yang mungkin lebih mudah dimengerti. Kita semua masih perlu belajar. Chandra juga bisa bertanya bagian mana yang kurang jelas dan sulit dimengerti, sehingga saya akan dapat menerangkannya dengan lebih detail. Apa yang di tanyakan di publik, saya juga akan jawab di publik. Jadi saya tidak mempunyai masalah untuk menjawabnya di publik.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Tentang website, minggu lalu memang ada beberapa kali servernya error dan juga pengunjung website semakin meningkat, sehingga aksesnya jadi tambah lama. Saya sedang memikirkan untuk mengupgrade ke server yang lebih bagus dengan harapan bahwa pengunjung katolisitas dapat mengakses website ini dengan lebih cepat dan tidak banyak errornya. Doakan saja, agar prosesnya dapat berjalan dengan lancar.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dari http://www.katolisitas.org&lt;br /&gt;
stef&lt;/p&gt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Chandra,</p><p>Saya minta maaf kalau jawabannya kurang dapat dimengerti. Mungkin pertanyaannya satu-satu saja, misalkan: tentang dosa asal, atau penebusan dosa, sehingga jawabannya dapat lebih fokus. Hal ini bukan dikarenakan karena Chandra yang kurang bisa mendalami, namun saya yang masih kurang dapat menjawab dengan jawaban yang mudah dimengerti. Lain kali saya akan mencoba untuk menjawabnya dengan bahasa yang mungkin lebih mudah dimengerti. Kita semua masih perlu belajar. Chandra juga bisa bertanya bagian mana yang kurang jelas dan sulit dimengerti, sehingga saya akan dapat menerangkannya dengan lebih detail. Apa yang di tanyakan di publik, saya juga akan jawab di publik. Jadi saya tidak mempunyai masalah untuk menjawabnya di publik.</p><p>Tentang website, minggu lalu memang ada beberapa kali servernya error dan juga pengunjung website semakin meningkat, sehingga aksesnya jadi tambah lama. Saya sedang memikirkan untuk mengupgrade ke server yang lebih bagus dengan harapan bahwa pengunjung katolisitas dapat mengakses website ini dengan lebih cepat dan tidak banyak errornya. Doakan saja, agar prosesnya dapat berjalan dengan lancar.</p><p>Salam kasih dari <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a><br
/> stef</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Chandra</title><link>http://katolisitas.org/2008/09/17/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/comment-page-1/#comment-767</link> <dc:creator>Chandra</dc:creator> <pubDate>Thu, 13 Nov 2008 01:20:28 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/09/18/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/#comment-767</guid> <description>Terima kasih P. Stef atas jawabannya, saya mencoba memahaminya perlahan-lahan. Mungkin karena jawaban tersebut &quot;tidak dapat dijawab secara detail, karena cukup banyak sisi yang harus dipertimbangkan.&quot;, begitu kata bapak, jadi saya merasa agak kurang lengkap penjelasannya (atau karena saya memang masih &#039;hijau&#039; dan banyak belajar ya?). Jika memang pertimbangannya adalah &#039;bukan untuk publik&#039; apakah saya bisa diberi jawaban yang lebih lengkap via pm ke e-mail saya langsung? Terima kasih.BTW, kenapa ya website ini akhir-akhir ini susah sekali diakses, apakah terlalu berat karena terlalu banyak gambar/file yang besar (atau problem ada di komputer saya? tapi koq saya akses website lain tidak ada masalah?).
Thanks &amp; GBU,</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Terima kasih P. Stef atas jawabannya, saya mencoba memahaminya perlahan-lahan. Mungkin karena jawaban tersebut &#8220;tidak dapat dijawab secara detail, karena cukup banyak sisi yang harus dipertimbangkan.&#8221;, begitu kata bapak, jadi saya merasa agak kurang lengkap penjelasannya (atau karena saya memang masih &#8216;hijau&#8217; dan banyak belajar ya?). Jika memang pertimbangannya adalah &#8216;bukan untuk publik&#8217; apakah saya bisa diberi jawaban yang lebih lengkap via pm ke e-mail saya langsung? Terima kasih.</p><p>BTW, kenapa ya website ini akhir-akhir ini susah sekali diakses, apakah terlalu berat karena terlalu banyak gambar/file yang besar (atau problem ada di komputer saya? tapi koq saya akses website lain tidak ada masalah?).<br
/> Thanks &amp; GBU,</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Stefanus Tay</title><link>http://katolisitas.org/2008/09/17/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/comment-page-1/#comment-616</link> <dc:creator>Stefanus Tay</dc:creator> <pubDate>Tue, 28 Oct 2008 17:52:08 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/09/18/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/#comment-616</guid> <description>&lt;p&gt;Shalam Chandra yang dikasihi Tuhan Yesus,&lt;br&gt;
Terimakasih atas dukungannya terhadap katolisitas.org. Dengan keterbatasan kami, maka kami mencoba untuk menjawab sesuai dengan apa yang diajaran oleh Gereja. Mari kita melihat pertanyaan Chandra yang mungkin tidak dapat dijawab secara detail, karena cukup banyak sisi yang harus dipertimbangkan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;Penebusan dosa:&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;1) Kita tahu bahwa satu-satunya yang memisahkan kita dengan Allah adalah dosa, karena dosa bertolak belakang dengan hakekat Allah yang kudus dan kasih. Dosa membuat jurang yang begitu dalam, yang tak terseberangi, antara Allah dan manusia. Dan manusia dengan kekuatan sendiri tidak dapat menyambung kembali hubungan ini. &lt;u&gt;&lt;b&gt;Dan hubungan ini hanya dapat dijembatani oleh Kristus, Anak Allah yang menjadi manusia, yang mengambil hakekat manusia dan menjadikannya bagian dari hakekat Kristus, sehingga manusia memperoleh kembali hakekatnya yang sejati, yaitu sebagai anak Allah&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;. Dengan kata lain, apa yang diambil oleh Kristus (tubuh manusia, keinginan, pikiran, jiwa, pekerjaan, penderitaan, dll) menjadi sesuatu yang kudus.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;2) Kita juga bisa melihatnya dari definisi &lt;u&gt;&lt;b&gt;dosa, yaitu memisahkan diri dari kasih Allah&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;. Dan untuk mendapatkan kasih itu kembali, manusia tidak dapat memaksakannya, karena kasih hanya dapat diterima. Sama seperti kita tidak dapat memaksakan seseorang untuk mengasihi kita. &lt;u&gt;&lt;b&gt;Dan Kristus menjadi suatu tanda kasih Allah, dimana mencapai puncaknya pada kematiaan-Nya di kayu salib. Kasih yang telah diberikan Allah inilah yang mempunyai kekuatan untuk menghapus dosa.&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;Dosa asal:&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;1) Dengan penebusan Kristus, maka Kristus telah memberikan jalan menuju keselamatan (Yoh 14:6). Ibaratnya, dengan penebusan Kristus, maka Yesus telah membangun suatu jembatan yang dapat dilewati oleh setiap orang yang mau datang kepada-Nya. Namun ini tidak berarti bahwa dosa asal dihilangkan. Pada saat Adam dan Hawa berdosa, maka manusia telah kehilangan beberapa hal: 1) &lt;u&gt;&lt;b&gt;Rahmat kekudusan&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;, 2) &lt;u&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;4-preternatural gifts&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;, yang terdiri dari (a) &lt;i&gt;immortality&lt;/i&gt;/ tidak tunduk terhadap kuasa maut, (b) immunity from suffering / tidak dapat menderita, (c) &lt;i&gt;infused knowledge&lt;/i&gt;, (d) &lt;i&gt;integrity&lt;/i&gt;, yaitu harmoni dan tunduknya segala macam keinginan dan emosi dari kedagingan kita kepada &lt;i&gt;reason&lt;/i&gt; (akal budi) (Lih KGK, 405, 337).&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;2) Sebagai akibat dosa, maka manusia kehilangan semua rahmat di atas. Namun dengan penebusan Kristus, maka Rahmat Kekudusan dipulihkan, yaitu dengan cara menerima Sakramen Baptis. Namun 4-preterntural gifts tidak dipulihkan dan tetap menjadi bagian dari manusia, sehingga manusia selalu berjuang terhadap empat hal: ignorance / ketidaktahuan, kematian, penderitaan, dan concupiscence/ kecenderungan untuk berbuat dosa. KGK 2515 menjelaskan tentang kecenderungan manusia untuk berbuat dosa.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;3) Jadi dosa asal dihapuskan dengan menerima Sakramen Baptis, namun manusia tetap harus berjuang melawan keinginan daging, sehingga pada akhirnya manusia dapat sampai pada Kerajaan Surga. Oleh sebab itu, kita masih melihat banyak penderitaan, perang, kejahatan, dll. Kita harus menjalankan bagian kita masing-masing untuk memancarkan terang Kristus di dunia.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;Perbedaan manusia sebelum kedatangan Yesus dengan manusia setelah kedatangan Yesus:&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;1) Pada dasarnya, hukum Taurat telah dituliskan dalam setiap hati nurani manusia (Rom 2:15). Jadi sebelum kedatangan Kristus, manusia hidup berdasarkan hukum yang tertulis di dalam setiap hati nurani masing-masing, dan bagi orang Yahudi, secara khusus Allah telah menuliskannya dalam 2 loh batu dan dalam suatu perjanjian (covenant). Hukum 10 perintah Allah dibagi menjadi dua, yaitu kasih terhadap Allah dan kasih terhadap sesama. Jadi manusia yang belum mengenal Kristus, sebenarnya juga telah dibekali dengan hati nurani untuk berbuat kasih. Dan mereka akan dihakimi menurut apa yang mereka ketahui dan sesuai dengan kapasitas mereka (Rom 2:12). Tentu saja takarannnya jauh lebih ringan dibandingkan dengan orang yang telah tahu, namun tetap melakukan kesalahan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;2) Dan setelah kedatangan Kristus, Rasul Yohanes mengatakan mengatakan bahwa Taurat diberikan oleh Musa, namun kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus(Jn 1:17) . Dan Rasul Paulus menegaskan bahwa bagi yang telah mengenal Yesus, dia tidak lagi dikuasai oleh dosa, karena tidak lagi berada di bawah hukum Taurat, namun &lt;u&gt;&lt;b&gt;dibawah kasih karunia&lt;/b&gt;&lt;/u&gt; (Rom 6:14). Kasih karunia dari Allah inilah yang tercurah pada saat kita diBaptis, dimana rahmat kekudusan menjadikan manusia dapat berpartisipasi dalam kehidupan Tritunggal Maha Kudus. Bagi orang yang melakukan dosa setelah kedatangan Kristus dosanya lebih berat dibandingan sebelum kedatangan Kristus, sama seperti orang yang telah dibaptis namun tetap hidup dalam dosa, maka dosanya akan lebih berat daripada orang yang belum dibaptis, karena kepada mereka yang diberikan banyak, juga dituntut lebih banyak (Luk 12:48).&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;Hukum Taurat telah digenapi:&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;1) Semua hukum Taurat, apa yang tertulis oleh para nabi dan juga yang tertulis di Mazmur telah digenapi di dalam diri Yesus Kristus (Luk 24:44). Yesus mengatakan hal ini setelah Dia bangkit dari antara orang mati, karena setelah kebangkitan-Nya, maka semua yang dikatakan oleh di Perjanjian Lama telah digenapi oleh Kristus. Lihat artikel: &lt;a rel=&quot;nofollow&quot; href=&quot;http://katolisitas.org/2008/09/18/yesus-tuhan-yang-dinubuatkan-para-nabi/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Yesus, Tuhan yang dinubuatkan para nabi&lt;/a&gt;. Dan kebangkitannya telah dinubuatkan di: Hosea 6:1-2, Maz 16:10.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;2) Yang paling utama, hukum Taurat dapat disimpulkan dalam dua hal perintah: Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan kedua: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Mat 22:34-40). &lt;u&gt;&lt;b&gt;Yesus telah menggenapinya, dengan menunjukkan bagaimana mengasihi Allah dan sesama yang ditunjukkan-Nya secara sempurna dengan kematiaan-Nya di kayu salib&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;. Dan Yesus menambahkan satu hal yang terpenting, yaitu &lt;u&gt;&lt;b&gt;Diri-Nya sendiri&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;. Melalui Yesus, maka rahmat kekudusan mengalir, sehingga umat Tuhan diberi kekuatan secara supernatural untuk menjalankan hukum kasih ini.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;Allah tidak beranak dan diperanakkan:&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;1) Kita harus tahu terlebih dahulu tentang konsep beranak dan diperanakkan menurut agama mereka. Mungkin mereka menganggap bahwa Yesus diperanakkan oleh Maria dan Allah Bapa, seperti yang ditulis oleh beberapa ahli yang mendalami agama Islam. Kita juga tidak beranggapan seperti itu.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;2) Kemudian dari sini, kita harus menjelaskan kenapa Yesus turun ke dunia sudah menjadi suatu hal yang layak dan keharusan yang relatif yang dibuat berdasarkan kasih dan kebijaksanaan Allah. Untuk jawaban lengkapnya, silakan membaca artikel: &lt;a rel=&quot;nofollow&quot; href=&quot;http://katolisitas.org/2008/09/17/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Inkarnasi, Tuhan yang beserta kita&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Semoga uraian singkat di atas dapat menjawab pertanyaan Chandra.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dari: http://www.katolisitas.org&lt;br&gt;
stef&lt;/p&gt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalam Chandra yang dikasihi Tuhan Yesus,<br
/> Terimakasih atas dukungannya terhadap katolisitas.org. Dengan keterbatasan kami, maka kami mencoba untuk menjawab sesuai dengan apa yang diajaran oleh Gereja. Mari kita melihat pertanyaan Chandra yang mungkin tidak dapat dijawab secara detail, karena cukup banyak sisi yang harus dipertimbangkan.</p><p><u><b>Penebusan dosa:</b></u></p><p>1) Kita tahu bahwa satu-satunya yang memisahkan kita dengan Allah adalah dosa, karena dosa bertolak belakang dengan hakekat Allah yang kudus dan kasih. Dosa membuat jurang yang begitu dalam, yang tak terseberangi, antara Allah dan manusia. Dan manusia dengan kekuatan sendiri tidak dapat menyambung kembali hubungan ini. <u><b>Dan hubungan ini hanya dapat dijembatani oleh Kristus, Anak Allah yang menjadi manusia, yang mengambil hakekat manusia dan menjadikannya bagian dari hakekat Kristus, sehingga manusia memperoleh kembali hakekatnya yang sejati, yaitu sebagai anak Allah</b></u>. Dengan kata lain, apa yang diambil oleh Kristus (tubuh manusia, keinginan, pikiran, jiwa, pekerjaan, penderitaan, dll) menjadi sesuatu yang kudus.</p><p>2) Kita juga bisa melihatnya dari definisi <u><b>dosa, yaitu memisahkan diri dari kasih Allah</b></u>. Dan untuk mendapatkan kasih itu kembali, manusia tidak dapat memaksakannya, karena kasih hanya dapat diterima. Sama seperti kita tidak dapat memaksakan seseorang untuk mengasihi kita. <u><b>Dan Kristus menjadi suatu tanda kasih Allah, dimana mencapai puncaknya pada kematiaan-Nya di kayu salib. Kasih yang telah diberikan Allah inilah yang mempunyai kekuatan untuk menghapus dosa.</b></u></p><p><u><b>Dosa asal:</b></u></p><p>1) Dengan penebusan Kristus, maka Kristus telah memberikan jalan menuju keselamatan (Yoh 14:6). Ibaratnya, dengan penebusan Kristus, maka Yesus telah membangun suatu jembatan yang dapat dilewati oleh setiap orang yang mau datang kepada-Nya. Namun ini tidak berarti bahwa dosa asal dihilangkan. Pada saat Adam dan Hawa berdosa, maka manusia telah kehilangan beberapa hal: 1) <u><b>Rahmat kekudusan</b></u>, 2) <u><b><i>4-preternatural gifts</i></b></u>, yang terdiri dari (a) <i>immortality</i>/ tidak tunduk terhadap kuasa maut, (b) immunity from suffering / tidak dapat menderita, (c) <i>infused knowledge</i>, (d) <i>integrity</i>, yaitu harmoni dan tunduknya segala macam keinginan dan emosi dari kedagingan kita kepada <i>reason</i> (akal budi) (Lih KGK, 405, 337).</p><p>2) Sebagai akibat dosa, maka manusia kehilangan semua rahmat di atas. Namun dengan penebusan Kristus, maka Rahmat Kekudusan dipulihkan, yaitu dengan cara menerima Sakramen Baptis. Namun 4-preterntural gifts tidak dipulihkan dan tetap menjadi bagian dari manusia, sehingga manusia selalu berjuang terhadap empat hal: ignorance / ketidaktahuan, kematian, penderitaan, dan concupiscence/ kecenderungan untuk berbuat dosa. KGK 2515 menjelaskan tentang kecenderungan manusia untuk berbuat dosa.</p><p>3) Jadi dosa asal dihapuskan dengan menerima Sakramen Baptis, namun manusia tetap harus berjuang melawan keinginan daging, sehingga pada akhirnya manusia dapat sampai pada Kerajaan Surga. Oleh sebab itu, kita masih melihat banyak penderitaan, perang, kejahatan, dll. Kita harus menjalankan bagian kita masing-masing untuk memancarkan terang Kristus di dunia.</p><p><u><b>Perbedaan manusia sebelum kedatangan Yesus dengan manusia setelah kedatangan Yesus:</b></u></p><p>1) Pada dasarnya, hukum Taurat telah dituliskan dalam setiap hati nurani manusia (Rom 2:15). Jadi sebelum kedatangan Kristus, manusia hidup berdasarkan hukum yang tertulis di dalam setiap hati nurani masing-masing, dan bagi orang Yahudi, secara khusus Allah telah menuliskannya dalam 2 loh batu dan dalam suatu perjanjian (covenant). Hukum 10 perintah Allah dibagi menjadi dua, yaitu kasih terhadap Allah dan kasih terhadap sesama. Jadi manusia yang belum mengenal Kristus, sebenarnya juga telah dibekali dengan hati nurani untuk berbuat kasih. Dan mereka akan dihakimi menurut apa yang mereka ketahui dan sesuai dengan kapasitas mereka (Rom 2:12). Tentu saja takarannnya jauh lebih ringan dibandingkan dengan orang yang telah tahu, namun tetap melakukan kesalahan.</p><p>2) Dan setelah kedatangan Kristus, Rasul Yohanes mengatakan mengatakan bahwa Taurat diberikan oleh Musa, namun kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus(Jn 1:17) . Dan Rasul Paulus menegaskan bahwa bagi yang telah mengenal Yesus, dia tidak lagi dikuasai oleh dosa, karena tidak lagi berada di bawah hukum Taurat, namun <u><b>dibawah kasih karunia</b></u> (Rom 6:14). Kasih karunia dari Allah inilah yang tercurah pada saat kita diBaptis, dimana rahmat kekudusan menjadikan manusia dapat berpartisipasi dalam kehidupan Tritunggal Maha Kudus. Bagi orang yang melakukan dosa setelah kedatangan Kristus dosanya lebih berat dibandingan sebelum kedatangan Kristus, sama seperti orang yang telah dibaptis namun tetap hidup dalam dosa, maka dosanya akan lebih berat daripada orang yang belum dibaptis, karena kepada mereka yang diberikan banyak, juga dituntut lebih banyak (Luk 12:48).</p><p><u><b>Hukum Taurat telah digenapi:</b></u></p><p>1) Semua hukum Taurat, apa yang tertulis oleh para nabi dan juga yang tertulis di Mazmur telah digenapi di dalam diri Yesus Kristus (Luk 24:44). Yesus mengatakan hal ini setelah Dia bangkit dari antara orang mati, karena setelah kebangkitan-Nya, maka semua yang dikatakan oleh di Perjanjian Lama telah digenapi oleh Kristus. Lihat artikel: <a
rel="nofollow" href="http://katolisitas.org/2008/09/18/yesus-tuhan-yang-dinubuatkan-para-nabi/" rel="nofollow">Yesus, Tuhan yang dinubuatkan para nabi</a>. Dan kebangkitannya telah dinubuatkan di: Hosea 6:1-2, Maz 16:10.</p><p>2) Yang paling utama, hukum Taurat dapat disimpulkan dalam dua hal perintah: Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan kedua: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Mat 22:34-40). <u><b>Yesus telah menggenapinya, dengan menunjukkan bagaimana mengasihi Allah dan sesama yang ditunjukkan-Nya secara sempurna dengan kematiaan-Nya di kayu salib</b></u>. Dan Yesus menambahkan satu hal yang terpenting, yaitu <u><b>Diri-Nya sendiri</b></u>. Melalui Yesus, maka rahmat kekudusan mengalir, sehingga umat Tuhan diberi kekuatan secara supernatural untuk menjalankan hukum kasih ini.</p><p><u><b>Allah tidak beranak dan diperanakkan:</b></u></p><p>1) Kita harus tahu terlebih dahulu tentang konsep beranak dan diperanakkan menurut agama mereka. Mungkin mereka menganggap bahwa Yesus diperanakkan oleh Maria dan Allah Bapa, seperti yang ditulis oleh beberapa ahli yang mendalami agama Islam. Kita juga tidak beranggapan seperti itu.</p><p>2) Kemudian dari sini, kita harus menjelaskan kenapa Yesus turun ke dunia sudah menjadi suatu hal yang layak dan keharusan yang relatif yang dibuat berdasarkan kasih dan kebijaksanaan Allah. Untuk jawaban lengkapnya, silakan membaca artikel: <a
rel="nofollow" href="http://katolisitas.org/2008/09/17/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/" rel="nofollow">Inkarnasi, Tuhan yang beserta kita</a>.</p><p>Semoga uraian singkat di atas dapat menjawab pertanyaan Chandra.</p><p>Salam kasih dari: <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a><br
/> stef</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Chandra</title><link>http://katolisitas.org/2008/09/17/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/comment-page-1/#comment-606</link> <dc:creator>Chandra</dc:creator> <pubDate>Tue, 28 Oct 2008 08:11:51 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/09/18/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/#comment-606</guid> <description>P. Stefanus &amp; I. Ingrid yang terkasih,
Saya terkesan sekali dengan website ini dan jawaban / penjelasan Bpk/Ibu atas pertanyaan-pertanyaan selalu memberikan kesejukan dan kebenaran. Semoga website ini dapat menjadi berkat dan sarana pencerahan bagi kita semua.
Saya ada beberapa pertanyaan:
mohon penjelasan apakah artinya penebusan dosa manusia dengan kedatangan Tuhan ke dunia ini. Apakah dengan penebusan itu berarti manusia setelah kedatangan Yesus 2000 tahun yang lalu sudah tidak mempunyai dosa asal lagi? Apa perbedaan manusia sebelum kedatangan Yesus dengan setelah kedatangan Yesus? Karena manusia sekarang tetap cenderung berbuat dosa, dan penderitaan &amp; kejahatan masih tetap ada di dunia ini bahkan kematian. Apa artinya sudah tertebus? Dan apa maksudnya hukum Taurat telah digenapi?
Bagaimana menangapi pertanyaan dari saudara kita yang muslim bahwa Allah tidak beranak dan diperanakan? Mohon maaf banyak sekali pertanyaannya. Terima kasih.</description> <content:encoded><![CDATA[<p>P. Stefanus &amp; I. Ingrid yang terkasih,<br
/> Saya terkesan sekali dengan website ini dan jawaban / penjelasan Bpk/Ibu atas pertanyaan-pertanyaan selalu memberikan kesejukan dan kebenaran. Semoga website ini dapat menjadi berkat dan sarana pencerahan bagi kita semua.<br
/> Saya ada beberapa pertanyaan:<br
/> mohon penjelasan apakah artinya penebusan dosa manusia dengan kedatangan Tuhan ke dunia ini. Apakah dengan penebusan itu berarti manusia setelah kedatangan Yesus 2000 tahun yang lalu sudah tidak mempunyai dosa asal lagi? Apa perbedaan manusia sebelum kedatangan Yesus dengan setelah kedatangan Yesus? Karena manusia sekarang tetap cenderung berbuat dosa, dan penderitaan &amp; kejahatan masih tetap ada di dunia ini bahkan kematian. Apa artinya sudah tertebus? Dan apa maksudnya hukum Taurat telah digenapi?<br
/> Bagaimana menangapi pertanyaan dari saudara kita yang muslim bahwa Allah tidak beranak dan diperanakan? Mohon maaf banyak sekali pertanyaannya. Terima kasih.</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Stefanus Tay</title><link>http://katolisitas.org/2008/09/17/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/comment-page-1/#comment-542</link> <dc:creator>Stefanus Tay</dc:creator> <pubDate>Tue, 21 Oct 2008 02:27:21 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/09/18/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/#comment-542</guid> <description>&lt;p&gt;Shalom Kusdiyanto,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Terimakasih atas pesannya. Kami ingin menjelaskan, bahwa di sini kami tidak bertengkar. Kami hanya mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya dipercayai oleh Gereja Katolik dengan kemampuan kami yang terbatas. Kami menganggap bahwa setiap pertanyaan yang masuk adalah suatu bentuk untuk mencari kebenaran, yang memang layak untuk ditanggapi. Tanpa mengaburkan kebenaran akan iman yang dipercayai oleh Gereja Katolik, kami juga menghormati setiap perbedaan yang ada dengan agama lain. Dan kami ingin memberikan pertanggungjawaban akan iman yang kami percayai dengan lemah lembut dan hormat, jika ada yang mempertanyakannya (1 Pet 3:15).&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Mari kita bersama-sama menjadi saksi Kristus yang baik, yang siap sedia mempertanggungjawabkan iman kita baik dengan perbuatan atau dengan kata-kata kalau memang diperlukan.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dari http://www.katolisitas.org&lt;br /&gt;
stef &amp; ingrid&lt;/p&gt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Kusdiyanto,</p><p>Terimakasih atas pesannya. Kami ingin menjelaskan, bahwa di sini kami tidak bertengkar. Kami hanya mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya dipercayai oleh Gereja Katolik dengan kemampuan kami yang terbatas. Kami menganggap bahwa setiap pertanyaan yang masuk adalah suatu bentuk untuk mencari kebenaran, yang memang layak untuk ditanggapi. Tanpa mengaburkan kebenaran akan iman yang dipercayai oleh Gereja Katolik, kami juga menghormati setiap perbedaan yang ada dengan agama lain. Dan kami ingin memberikan pertanggungjawaban akan iman yang kami percayai dengan lemah lembut dan hormat, jika ada yang mempertanyakannya (1 Pet 3:15).</p><p>Mari kita bersama-sama menjadi saksi Kristus yang baik, yang siap sedia mempertanggungjawabkan iman kita baik dengan perbuatan atau dengan kata-kata kalau memang diperlukan.</p><p>Salam kasih dari <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a><br
/> stef &amp; ingrid</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Kusdiyanto</title><link>http://katolisitas.org/2008/09/17/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/comment-page-1/#comment-541</link> <dc:creator>Kusdiyanto</dc:creator> <pubDate>Tue, 21 Oct 2008 02:00:28 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/09/18/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/#comment-541</guid> <description>Masing-masing agama punya keyakinan atau iman.Inkarnasi adalah misteri iman Kristen (katolik itu juga Kristen). Sia-sialah bertengkar atas perbedaan ini.Ingat betapapun kita merasa pandai hendaknyalah kita sadar akan batas kemampuan kita.Aku percaya akan Allah Bapa,Putera,dan Roh Kudus.Aku percaya juga bahwa Yesus Kristus adalah Allah Putera yang menjelma menjadi manusia.</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Masing-masing agama punya keyakinan atau iman.Inkarnasi adalah misteri iman Kristen (katolik itu juga Kristen). Sia-sialah bertengkar atas perbedaan ini.Ingat betapapun kita merasa pandai hendaknyalah kita sadar akan batas kemampuan kita.Aku percaya akan Allah Bapa,Putera,dan Roh Kudus.Aku percaya juga bahwa Yesus Kristus adalah Allah Putera yang menjelma menjadi manusia.</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Stefanus Tay</title><link>http://katolisitas.org/2008/09/17/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/comment-page-1/#comment-348</link> <dc:creator>Stefanus Tay</dc:creator> <pubDate>Fri, 19 Sep 2008 05:04:43 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/09/18/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/#comment-348</guid> <description>&lt;p&gt;Shalom Julius,&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Untuk menjawab pertanyaan Julius, silakan membaca rangkaian tulisan tentang ke-Allahan dari Yesus Kristus, terutama artikel yang ke 3:&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;&lt;a rel=&quot;nofollow&quot; href=&quot;http://katolisitas.org/2008/06/13/mengapa-orang-kristen-percaya-bahwa-yesus-kristus-adalah-tuhan/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Mengapa  orang Kristen percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;&lt;a rel=&quot;nofollow&quot; href=&quot;http://katolisitas.org/2008/09/18/yesus-tuhan-yang-dinubuatkan-para-nabi/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Yesus,  Tuhan yang dinubuatkan para nabi&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;p style=&quot;margin-left: 40px;&quot;&gt;&lt;a rel=&quot;nofollow&quot; href=&quot;http://katolisitas.org/2008/09/18/kristus-yang-kita-imani-yesus-menurut-sejarah/&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;Kristus  yang kita imani = Yesus menurut sejarah&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Semoga artikel-artikel tersebut dapat menjawab pertanyaan Julius.&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;Salam kasih dari: http://www.katolisitas.org&lt;br&gt;
stef &amp; ingrid&lt;/p&gt;
&lt;p&gt;&#160;&lt;/p&gt;</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Shalom Julius,</p><p>Untuk menjawab pertanyaan Julius, silakan membaca rangkaian tulisan tentang ke-Allahan dari Yesus Kristus, terutama artikel yang ke 3:</p><p
style="margin-left: 40px;"><a
rel="nofollow" href="http://katolisitas.org/2008/06/13/mengapa-orang-kristen-percaya-bahwa-yesus-kristus-adalah-tuhan/" rel="nofollow">Mengapa  orang Kristen percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan</a>.</p><p
style="margin-left: 40px;"><a
rel="nofollow" href="http://katolisitas.org/2008/09/18/yesus-tuhan-yang-dinubuatkan-para-nabi/" rel="nofollow">Yesus,  Tuhan yang dinubuatkan para nabi</a>.</p><p
style="margin-left: 40px;"><a
rel="nofollow" href="http://katolisitas.org/2008/09/18/kristus-yang-kita-imani-yesus-menurut-sejarah/" rel="nofollow">Kristus  yang kita imani = Yesus menurut sejarah</a>.</p><p>Semoga artikel-artikel tersebut dapat menjawab pertanyaan Julius.</p><p>Salam kasih dari: <a
href="http://www.katolisitas.org" rel="nofollow">http://www.katolisitas.org</a><br
/> stef &amp; ingrid</p><p>&nbsp;</p> ]]></content:encoded> </item> <item><title>By: Julius Santoso</title><link>http://katolisitas.org/2008/09/17/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/comment-page-1/#comment-337</link> <dc:creator>Julius Santoso</dc:creator> <pubDate>Thu, 18 Sep 2008 00:18:39 +0000</pubDate> <guid
isPermaLink="false">http://katolisitas.org/2008/09/18/inkarnasi-tuhan-yang-beserta-kita/#comment-337</guid> <description>Banyak orang Kristen menaksirkan Kitab Suci atas dasar pemikirannya sendiri, sehingga tafsiran tersebut dikutip oleh agama lain untuk menyerang agama Kresten khususnya agama Katolik. Contoh :Tanya: Kapan SK yang memutuskan Yesus 100% Tuhan sekaligus 100% manusia ditetapkan?
Jawab: Hal itu diputuskan pada konsili di Efesus Juni 431 (400 tahun setelah Yesus tiada) yang disponsori oleh Kaisar Romawi, Theodosius II.
&quot;We confess therefore our Lord Jesus Christ, the only begotten Son of God to be perfect (100%) God and perfect (100%) man&quot;.
(Oleh Karena itu kita mengakui bahwa Tuan Yesus Kristus, Anak Tunggal Tuhan, sebagai Tuhan yang sempurna (100%) sekaligus manusia yang sempurna (100%).
Keputusan ini kemudian diperkuat lagi olah SK yang diterbitkan dalam konsili di Chalcedon, Oktober 451 yang juga disponsori oleh Kaisar Romawi saat itu, Marcion.
&quot;Followinq the holy fathers we confess with one voice that the one and only Son, our Loard Jesus Christ, is perfect in Godhead and perfect in manhood truly God and truly man...&quot;
(Sesuai dengan ajaran para pemimpin Gereja, kami bersaksi dengan suara bulat bahwa satu-satunya Anak, Tuhan kita Yesus Kristus, adalah Tuhan yang sempurna (100%) dan manusia yang sempurna (100%), Tuhan yang sesungguhnya dan manusia yang sesungguhnya)Bagaimana menurut penulis atas pernyataan tersebut dua diatas?.</description> <content:encoded><![CDATA[<p>Banyak orang Kristen menaksirkan Kitab Suci atas dasar pemikirannya sendiri, sehingga tafsiran tersebut dikutip oleh agama lain untuk menyerang agama Kresten khususnya agama Katolik. Contoh :</p><p>Tanya: Kapan SK yang memutuskan Yesus 100% Tuhan sekaligus 100% manusia ditetapkan?<br
/> Jawab: Hal itu diputuskan pada konsili di Efesus Juni 431 (400 tahun setelah Yesus tiada) yang disponsori oleh Kaisar Romawi, Theodosius II.<br
/> &#8220;We confess therefore our Lord Jesus Christ, the only begotten Son of God to be perfect (100%) God and perfect (100%) man&#8221;.<br
/> (Oleh Karena itu kita mengakui bahwa Tuan Yesus Kristus, Anak Tunggal Tuhan, sebagai Tuhan yang sempurna (100%) sekaligus manusia yang sempurna (100%).<br
/> Keputusan ini kemudian diperkuat lagi olah SK yang diterbitkan dalam konsili di Chalcedon, Oktober 451 yang juga disponsori oleh Kaisar Romawi saat itu, Marcion.<br
/> &#8220;Followinq the holy fathers we confess with one voice that the one and only Son, our Loard Jesus Christ, is perfect in Godhead and perfect in manhood truly God and truly man&#8230;&#8221;<br
/> (Sesuai dengan ajaran para pemimpin Gereja, kami bersaksi dengan suara bulat bahwa satu-satunya Anak, Tuhan kita Yesus Kristus, adalah Tuhan yang sempurna (100%) dan manusia yang sempurna (100%), Tuhan yang sesungguhnya dan manusia yang sesungguhnya)</p><p>Bagaimana menurut penulis atas pernyataan tersebut dua diatas?.</p> ]]></content:encoded> </item> </channel> </rss>
<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Minified using disk
Page Caching using disk (user agent is rejected)
Database Caching 40/75 queries in 0.033 seconds using disk

Served from: katolisitas.org @ 2010-07-30 16:10:55 -->