Inkarnasi adalah Immanuel, Allah yang Beserta Kita

inkarnasiPendahuluan

Waktu saya tinggal di Amerika, saya sering menanam sayur-sayuran. Suatu saat, saya melihat bahwa tanaman kol sudah mulai besar dan siap dipetik. Akhirnya saya petik, namun alangkah terkejutnya saya, karena menemukan beberapa ulat di sela-sela kol. Ketika saya melihat kejadian ini, saya membayangkan bagaimana seandainya kalau saya menjadi ulat itu. Karena manusia mempunyai akal budi, derajatnya pasti lebih tinggi daripada ulat tersebut. Tidak ada orang yang mau menjadi ulat, walaupun diberikan harta yang berlimpah atau diberikan segala kuasa di dunia ini, karena ulat mempunyai keterbatasan yang begitu banyak dan harkatnya begitu rendah jika dibandingkan dengan manusia. Jadi, jika seandainya manusia dapat menjadi ulat, itu sama saja dengan ia merendahkan diri serendah-rendahnya. Namun kalau kita renungkan, penjelmaan Tuhan menjadi manusia sebenarnya lebih buruk daripada manusia menjadi ulat. Namun, dalam misteri Inkarnasi, Tuhan rela untuk merendahkan diri-Nya sehabis-habisnya untuk menyelamatkan manusia, mahluk yang dikasihi-Nya, agar manusia dapat bersatu kembali dengan Tuhan dalam Kerajaan Surga.

Kita dapat katakan bahwa Inkarnasi adalah satu misteri terbesar yang dilakukan oleh Tuhan. Misteri ini tidak dapat dipahami hanya dengan pemikiran manusia, karena ini menyangkut pikiran dan tindakan bebas yang dilakukan oleh Tuhan. Pertanyaannya apakah Tuhan menjadi manusia, atau Inkarnasi adalah suatu keharusan untuk menyelamatkan umat manusia? Memang, Inkarnasi bukanlah suatu keharusan yang mutlak, karena Tuhan juga dapat menyelamatkan manusia dengan cara yang lain. Namun, kita dapat mengatakan bahwa Inkarnasi adalah suatu keharusan yang relatif, karena itu adalah cara yang paling layak dan sempurna (the most fitting way and the most perfect) untuk membawa manusia kembali kepada Tuhan dari jurang yang tak terseberangi antara Tuhan dan manusia, yang diakibatkan oleh dosa.

Kenapa orang tidak percaya inkarnasi

Ada banyak orang, aliran kepercayaan, dan agama yang mempertanyakan kenapa Tuhan harus menjelma menjadi manusia. Beberapa keberatan yang diajukan antara lain adalah:

  • Mereka percaya akan Tuhan yang abstrak dan tidak mempunyai kepribadian. Ini merupakan suatu kepercayaan bahwa Tuhan bukanlah suatu pribadi, namun merupakan suatu bentuk “energi”. Kalau ini benar, maka tuhan seperti ini menjadi kurang sempurna dibandingkan dengan milyaran mahluk ciptaannya. Kalau kita mengatakan bahwa Tuhan mempunyai pribadi, berarti kita mempercayai bahwa Tuhan mempunyai akal budi dan kehendak bebas, yang melakukan segala sesuatu secara bebas berdasarkan kasih dan kebijaksanaan-Nya.[1] Dengan prinsip “kita tidak dapat memberi sesuatu yang kita tidak punya,” maka kalau Tuhan tidak mempunyai kepribadian – tidak punya akal budi/ pikiran dan keinginan – maka Ia tidak dapat memberikan akal budi kepada manusia. Dan Tuhan yang berkepribadian sebenarnya dapat dibuktikan dengan akal budi, walaupun akal budi tidak dapat mengetahui bahwa ada tiga kepribadian di dalam Tuhan atau yang kita percayai sebagai Tritungal Maha Kudus. Hal ini hanya dapat diketahui melalui wahyu Tuhan di dalam Kitab Suci. Namun demikian, Lima cara pembuktian dari St. Thomas Aquinas, terutama cara yang keempat dapat membuktikan Tuhan yang berkepribadian.
  • Ada yang percaya bahwa menjelmanya Tuhan menjadi manusia adalah merupakan kontradiksi. Sesuatu dikatakan kontradiksi kalau sesuatu “to be and not be at the same way at the same time” atau “ada dan tidak ada dengan cara yang sama dan pada waktu yang sama.” Sebagai contoh, seseorang tidak bisa pergi berenang dan ke gereja pada waktu yang bersamaan dengan cara yang sama. Namun, Inkarnasi tidaklah merupakan kontradiksi. Akan menjadi kontradiksi kalau Tuhan menjadi Tuhan dan berhenti menjadi Tuhan. Namun Gereja Katolik tidak mengajarkan hal demikian tentang doktrin Inkarnasi. Gereja percaya bahwa Tuhan tetap Tuhan, namun mulai ada di dalam sejarah umat manusia, dengan cara menjadi manusia. Tuhan tidak dapat menjadi bukan Tuhan, walaupun Tuhan dapat melakukan segala sesuatu, karena Tuhan tidak dapat mempertentangkan diri-Nya sendiri. Dengan pemikiran ini, maka tidaklah bertentangan jika Tuhan menjelma menjadi manusia, bahkan sifat-sifat Tuhanlah yang menjadikan Inkarnasi sesuatu yang hanya dapat dipikirkan dan dilakukan oleh Tuhan. Kalau kita percaya bahwa Tuhan dapat melakukan segala sesuatu dan kita masih berpendapat bahwa tidak mungkin Tuhan menjadi manusia, maka kita yang sebenarnya mempertentangkan Tuhan.
  • Keberatan yang lain datang dari sebagian orang yang berpendapat bahwa tidak mungkin Tuhan menjadi manusia, karena hal tersebut sama saja dengan merendahkan derajat Tuhan yang maha kuasa dan besar. Namun misteri Inkarnasi membuktikan sebaliknya, bahwa dengan menjadi manusia, Tuhan telah menunjukkan bagaimana Dia mengasihi kita dengan kasih-Nya yang tidak terbatas, sehingga kita seharusnya lebih mengasihi Tuhan dengan segenap kekuatan kita.  Dalam keseharian kita, bukankah dibutuhkan kekuatan dan kebesaran hati bagi seseorang yang ‘dari kalangan atas’ untuk merendahkan diri dan ikut solider dengan orang-orang jelata? Bayangkanlah kebesaran Tuhan Yesus yang dinyatakanNya, dengan menjelma menjadi manusia! Ia yang mengatasi segala waktu, masuk ke dalam waktu, Ia yang luar biasa besar dan tiada terbatas mengosongkan diri hingga menjadi setitik sel (embryo) dalam rahim Bunda Perawan Maria.
    Juga ‘kebesaran’ seseorang yang mengundang rasa kagum, tiada berarti jika tidak diimbangi kasih, bukan?  Dalam kehidupan kita sehari-hari, mungkin kita melihat dengan kagum pada sosok artis atau aktor tertentu. Namun tentu saja kita akan lebih mengasihi orang tua kita dibandingkan dengan para aktor atau artis, bukan karena orang tua kita lebih cakap dari aktor atau artis, namun karena orang tua kita telah mengasihi kita dengan kasihnya yang besar, yang terbukti dengan segala pengorbanan yang dilakukan oleh mereka untuk kebahagiaan kita.

Mengapa inkarnasi? Dengan menggunakan “argument of fittingness” atau argumen kelayakan.

Argument of fittingness adalah suatu metode yang didahului oleh iman. Kita percaya terlebih dahulu, kemudian dengan akal budi kita mencoba untuk menguak misteri iman, sehingga misteri iman tersebut dapat memberikan arti yang lebih dalam. Metode ini adalah “iman yang mencari pengertian atau faith seeking understanding.”
Sebagai contoh, kita dapat melihat dalam kehidupan sehari-hari, pada saat kita dimarahi oleh ayah kita. Yang pertama kita lakukan adalah sikap yang percaya kepada ayah kita, bahwa dia mengasihi kita. Dari situ kita mencoba mencerna, kenapa ia bersikap demikian. Dan kita mungkin dapat menyimpulkan bahwa ayah kita marah karena untuk melindungi kita dari bahaya, atau karena dia tidak mau kita tersesat, dan seterusnya.

Dengan cara yang sama kita akan mencoba untuk menguak misteri Inkarnasi. Kita akan melihatnya dari dua sisi, yaitu dari sisi manusia dan dari sisi Tuhan, karena memang diperlukan kerjasama antara manusia dan rahmat Tuhan untuk mengembalikan harkat manusia yang hilang karena dosa manusia. Namun tentu saja kita melihat rahmat Tuhan adalah yang paling utama dalam keselamatan manusia.

Tuhan ingin mengkomunikasikan kebaikan-Nya

Kalau kita melihat dari perspektif Tuhan, maka kita akan melihat bahwa Inkarnasi adalah memang sudah layak dan seharusnya karena sifat dari Tuhan sendiri. Kita tahu, secara prinsip segala sesuatu akan bertindak sesuai dengan sifat dan hakekat dari sesuatu itu, sebagai contoh: batu kalau dilepaskan akan jatuh, tanaman kalau diberi air dan sinar secukupnya akan bertumbuh, atau manusia bertindak sesuai dengan akal budi dan keinginan bebasnya. Atau, seorang ibu akan mengasihi anaknya dan akan melakukan apa saja untuk kebahagiaan anaknya.

Nah, di dalam Tuhan, hakekat yang ada bukan hanya menjadi bagian dari Tuhan, namun Tuhan adalah hakekat tersebut, seperti: Tuhan adalah Kebaikan, Kebenaran, Keindahan, dan Kasih. Kita juga dapat menerapkan prinsip penting yang lain, yaitu “bonum diffusivum sui” atau “kebaikan akan menyebar dengan sendirinya“, sama seperti panas yang akan menyebarkan hawa panasnya ke segala arah, atau lilin yang bercahaya dalam kegelapan. Dan kalau Tuhan adalah Kebaikan (dalam pengertian yang absolut dan sempurna), maka kebaikan ini akan tersebar dan mencoba menjangkau setiap orang. Pertanyaannya, bagaimana Tuhan dapat mengkomunikasikan kebaikan ini?

  • Cara yang pertama adalah dengan cara yang sempurna dan absolut, yang hanya ada dalam kehidupan Tritunggal Maha Kudus. Manusia hanya dapat berpartisipasi di dalamnya, dan partisipasi ini akan mencapai kesempurnaanya pada saat kita berada di surga. (Mengenai Tritunggal Maha Kudus akan ditulis dalam artikel yang terpisah).
  • Kedua, adalah dengan cara yang terbatas, yaitu partisipasi dari semua mahluk ciptaan. Ini adalah pembuktian ke empat dari St. Thomas Aquinas tentang keberadaan Tuhan. Kita melihat adanya keteraturan di alam ini dan keindahan dari alam dan segala isinya.
  • Ketiga, adalah dengan melalui rahmat kekudusan. Ini yang kita dapatkan pada waktu kita dibaptis, dimana hakekat kita diaangkat ke supernatural, yaitu partisipasi di dalam kehidupan Tuhan. Namun cara ini hanya dimungkinkan setelah Tuhan sendiri menjadi manusia, mengambil dosa manusia, dan memberikan jalan untuk bersatu dengan Tuhan kembali.
  • Cara yang ke-empat adalah dengan cara yang yang paling agung dan mulia, yaitu dengan cara mengambil sifat tersebut dan membuatnya menjadi satu kesatuan dengan diri-Nya.
    Inilah yang dilakukan oleh Tuhan dalam misteri Inkarnasi, karena Tuhan sendiri menjadi manusia, sama seperti kita, kecuali dalam hal dosa. Dengan cara ini, maka manusia tidak hanya berpartisipasi dalam kehidupan Tuhan, namun Tuhan yang berinkarnasi telah membuat kemanusiaan menjadi satu dengan kepribadian Tuhan. Dengan menjadi manusia, Tuhan tidak hanya menyucikan kemanusiaan Yesus, tetapi seluruh umat manusia, karena sifat ke-Tuhanan yang mengatasi segala sesuatu.

Oleh karena Tuhan adalah baik, dalam pengertian yang sempurna dan absolut, maka Tuhan akan mengambil cara yang paling sempurna dan luhur. Sama seperti hakekat lilin kecil hanya mungkin menerangi satu ruangan kecil, namun sebaliknya matahari mempunyai kekuatan dan kemampuan untuk menerangi seluruh bumi. Dan cara yang yang paling sempurna dan luhur yang dipakai oleh Tuhan adalah melalui misteri Inkarnasi.

Dari sini kita dapat menyimpulkan, karena sifat kebaikan Tuhan yang sempurna dan juga mengkomunikasikannya secara sempurna, maka Inkarnasi adalah cara yang paling agung dan sempurna untuk mengkomunikasikan kebaikan Tuhan.

Kasih, pengampunan, keadilan, dan kebijaksanaan Tuhan adalah penyebab Inkarnasi.

Kita dapat memberikan argumen yang lain tentang kelayakan Inkarnasi, yaitu melalui sifat Tuhan yang lain, yaitu kasih, belas kasihan, maha adil, dan maha bijaksana. Adalah sudah selayaknya bahwa Tuhan yang yang sempurna dan maha mulia mengkomunikasikan segala sifat-sifat-Nya dengan cara yang paling sempurna. Dan misteri Inkarnasi ini memang sesuai dengan cara Tuhan yang sempurna dan menjadi manifestasi dari kesempurnaan sifat Tuhan.

Yesus telah menunjukkan kesempurnaan belas kasihan dan kasih-Nya kepada umat manusia melalui penderitaan-Nya, yang mencapai puncaknya di kayu salib. Dalam kasih-Nya kepada umat manusia, Tuhan telah memberikan Anak-Nya yang tunggal untuk keselamatan umat manusia (Yoh 3:16).

Tuhan juga telah menunjukkan keadilan-Nya yang begitu besar dan tak terselami. Karena manusia tidak dapat membayar dan menghapuskan dosa yang telah diperbuatnya, maka Tuhan sendiri, melalui Tuhan yang menjadi manusia, membayar semua dosa yang telah diperbuat manusia.

Mungkin kita bertanya-tanya, kenapa tidak cukup untuk manusia meminta ampun kepada Tuhan? Kita melihat contoh dalam kehidupan kita, kalau kita membuat kesalahan kepada rekan sekerja, maka kita dapat meminta maaf secara langsung. Namun kalau kita dengan teman-teman kita membuat suatu hal yang begitu konyol, misalkan membakar bendera negara lain, yang menjadi simbol dan harkat dari negara tersebut, maka tidak cukup untuk meminta maaf secara pribadi. Karena yang dirugikan adalah suatu negara, yang harkatnya jauh lebih tinggi dari kita, maka permasalahannya tidak akan selesai kalau pribadi yang bersalah meminta maaf. Namun, kalau seseorang yang mempunyai harkat yang sama dengan negara tersebut, contohnya: menteri luar negeri, duta besar, atau presiden meminta maaf kepada negara yang dirugikan, maka masalahnya akan selesai dan keadilan dapat ditegakkan.

Pada saat manusia berbuat dosa, maka manusia telah melawan Tuhan, suatu martabat yang jauh lebih tinggi dan tak terbatas dibandingkan dengan manusia. Agar keadilan dapat ditegakkan secara sempurna, maka seseorang yang mempunyai harkat yang sama harus mewakili manusia untuk mempersatukan kembali hubungan yang dirusak oleh dosa. Yesus, Tuhan yang menjelma menjadi manusia mengambil sifat manusia, sehingga Ia dapat mewakili manusia dan sekaligus Tuhan menjadi satu-satunya sosok yang memungkinkan untuk mempersatukan hubungan antara Tuhan dengan manusia.

Tuhan juga dapat mengkomunikasikan kebijaksanaan-Nya dengan cara yang paling sempurna, yaitu dengan mengutarakan-Nya secara langsung kepada manusia, dengan cara dan bahasa yang dimengerti oleh manusia. Kita melihat bagaimana Yesus memberikan kebijaksanaan-Nya dengan perumpamaan dan juga dalam bahasa yang dimengerti manusia.

Dengan Inkarnasi, Tuhan menunjukkan kekuatan-Nya, seperti melakukan banyak mukjijat termasuk adalah membangkitkan orang mati, dan terutama adalah Kebangkitan-Nya semdiri dari kematian.

Jadi kita melihat, bahwa dengan Inkarnasi, Tuhan telah memilih jalan yang paling sempurna untuk menyatakan kebaikan, kasih, belas kasihan, keadilan, dan juga kekuatan-Nya kepada umat manusia. Tuhan telah menawarkan dan memberikan jalan yang terbaik sehingga manusia dapat memperoleh keselamatan, yaitu persatuan kembali dengan Tuhan untuk selamanya.

Manusia mempunyai kesempatan untuk menanggapi rahmat Tuhan yang mengalir dari misteri Inkarnasi.

Sekarang, mari kita melihat “argument of fittingness” dari sisi manusia. Dengan misteri Inkarnasi, maka manusia mempunyai kesempatan untuk menanggapi rahmat Tuhan yang mengalir dari Inkarnasi, terutama dari penderitaan Kristus. St. Thomas membagi argumentasi kelayakan ini menjadi dua, yaitu membebaskan manusia dari dosa dan menegakkan kebaikan.

Inkarnasi untuk membebaskan manusia dari belenggu dosa.

Tujuan utama dari Inkarnasi adalah untuk membebaskan manusia dari belenggu dosa, sehingga manusia dapat bersatu kembali dengan Tuhan. Misteri ini, seperti yang telah dipaparkan di atas, membuka suatu misteri kasih Allah yang tak terbatas kepada manusia. Namun misteri ini juga menunjukkan sisi paling gelap dari dosa, dimana kita dapat melihat manifestasinya dari penderitaan Kristus. Jadi penderitaan Kristus di kayu salib menunjukkan akan besarnya kasih Tuhan dan pada saat yang bersamaan menunjukkan kegelapan dan keburukan dosa.

Melihat dua hal tersebut di atas, maka manusia perlu menanggapinya dengan menghindari dosa dengan segala kekuatannya dengan cara bekerjasama dan bergantung kepada rahmat Tuhan yang mengalir dari penderitaan Kristus. Dan ini berlaku bagi masing-masing pribadi dari kita, karena Yesus datang dan berkorban untuk menebus dosa-dosa yang kita buat, sehinggga kita juga memperoleh keselamatan abadi.

Tegaknya kebaikan dan kembalinya harkat dan jati diri manusia sebagai akibat dari Inkarnasi.

Melalui misteri Inkarnasi, maka kebaikan ditegakkan dan juga menunjukkan akan martabat manusia yang begitu tinggi, karena Tuhan sendiri menjadi manusia dan mengambil sifat manusia dalam diri-Nya. Dengan ini, manusia seharusnya melihat Kristus dengan kerendahan hati dan mencoba dengan segenap kekuatan untuk berusaha hidup kudus.

Misteri ini menyadarkan kita, bahwa tanpa Kristus datang ke dunia ini, kita semua akan masuk ke dalam api neraka. Pengertian yang mendalam tentang misteri Inkarnasi akan mencegah manusia untuk melakukan dosa yang sama dengan dosa Adam yaitu dosa kesombongan, yang membawa manusia kepada jurang kehancuran. Sama seperti kegelapan yang dapat ditanggulangi dengan terang, maka kesombongan hanya dapat ditanggulangi dengan kerendahan hari, dimana mencapai puncak kesempurnaannya pada misteri Inkarnasi Tuhan Yesus, karena Seorang Pencipta mengambil sifat dari ciptaannya dan Sang Pencipta merendahkan diri-Nya dalam keterbatasan ciptaan-Nya. Dan yang lebih luar biasa adalah Sang Pencipta menyediakan diri-Nya untuk mati untuk menyelamatkan ciptaan-Nya pada waktu ciptaan-Nya masih berdosa. (Rom 5:8).

Inkarnasi memperkuat iman, pengharapan, dan kasih manusia.

Aspek lain dari Inkarnasi yang berhubungan dengan kebaikan adalah diperkuatnya iman, pengharapan, dan kasih umat manusia. Iman mensyaratkan manusia untuk memberikan dirinya - akal budi: pemikiran dan keinginan – secara bebas kepada kebenaran. Adakah cara yang lebih sempurna untuk memberikan diri kepada kebenaran daripada Kebenaran itu sendiri, yang datang dalam rupa manusia dan berbicara secara langsung kepada umat manusia? Yesus berkata “Akulah Jalan, dan Kebenaran, dan Hidup” (Yoh 15:6). Apa yang lebih menguatkan manusia kalau dibandingkan dengan kehadiran Yesus, Sang Jalan, Sang Kebenaran, Sang Kehidupan dan Sang Terang, yang berbicara, membimbing, dan memberikan terang sehingga manusia lepas dari belenggu kegelapan?

Karena obyek dari pengharapan adalah kebaikan di masa depan, maka Inkarnasi memberikan keyakinan akan pengharapan yang nyata. Inkarnasi, sebagai manifestasi kasih, memberikan pengharapan yang pasti akan kebahagiaan yang akan dialami oleh manusia, jika manusia bekerja sama dengan rahmat Allah dan pada saat yang bersamaan, Inkarnasi memberikan jalan yang pasti untuk membawa manusia kepada kebaikan di masa depan, yaitu kebahagiaan yang abadi di surga. Rasul Paulus mengatakan “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.” (1 Kor 2:9).

Hakekat dari kasih adalah bergembira akan sesuatu yang baik yang ada pada diri orang yang dikasihinya dan juga mengharapkan yang baik terjadi pada orang yang dikasihinya. Dari definisi ini, kita dapat melihat bahwa Inkarnasi adalah perwujudan kasih yang sempurna, karena Tuhan masih melihat bahwa ada sesuatu yang baik dari diri manusia, walaupun manusia telah berdosa and Tuhan mengharapkan yang terbaik terjadi pada kita, dengan memberikan Diri-Nya sendiri kepada kita manusia. Dengan demikian, Inkarnasi memungkinkan manusia untuk mendapatkan kebahagiaan sejati.

Dengan inkarnasi, Tuhan tidak hanya memberikan perintah, namun juga jalan.

Waktu saya mau pergi ke perpustakaan di salah satu pusat kota di Amerika saya tersesat. Kemudian saya berhenti dan bertanya kepada seseorang yang berada di depan salah satu pertokoan. Dan orang tersebut menerangkannya dengan fasih, seperti: dari sini belok ke kiri, kemudian setelah melewati dua lampu merah belok kanan, dan kira-kira 200 meter dari pom bensin belok kanan, dan belokan pertama terus belok kiri, dan kita-kira 200 meter dari situ, letak perpustakaan ada di sebelah kanan. Saya berterimakasih atas kebaikan orang itu, namun saya bingung, karena terlalu banyak belokan dan tanda yang harus saya ingat. Menyadari kebingungan saya dan tahu saya orang asing di situ, maka orang tersebut berkata “Mari, ikuti mobil saya, saya akan tunjukkan jalan untuk ke perpustakaan.” Mendengar perkataan tersebut, saya tersenyum lebar, karena tahu bahwa saya tidak akan tersesat lagi dan pasti akan menememukan perpustakaan yang saya cari.

Itulah yang terjadi dengan Inkarnasi, karena Inkarnasi membuktikan bahwa Tuhan tidak hanya memberikan perintah-perintah, namun Dia sendiri menjadi contoh untuk semua perintah dan kebajikan Ilahi, seperti: kasih yang sempurna, ketahanan untuk tabah dalam penderitaan, keadilan yang sempurna, kebijaksanaan yang sempurna, kesederhanaan, kelemahlembutan dan kerendahan hati. Dengan menunjukkannya kepada manusia, maka manusia dapat mengikuti teladan-Nya. Dan dengan mengikuti teladan-Nya, maka manusia juga berpartisipasi dalam kehidupan Ilahi, yaitu menjadi anak-anak angkat Allah di dalam Kristus, “we are sons in the Son of God,” sebab oleh rahmatNya kita semua menjadi anggota Tubuh Kristus.

Kesimpulan

Kita melihat bahwa sebetulnya Tuhan dapat menyelamatkan manusia yang telah jatuh dalam dosa tanpa melalui Inkarnasi. Namun hakekat Tuhan yang Maha baik, Maha benar, Maha kasih, dan bijaksana membuat Tuhan untuk memilih jalan yang paling sempurna dalam menyatakan sifat-sifat-Nya. Dan Inkarnasilah yang menjadi pilihan Tuhan. Kita tidak dapat membuktikan secara persis alasannya, karena ini adalah misteri Tuhan yang tidak terselami, namun kita dapat menggunakan “argument of fittingness” untuk melihat bahwa memang semuanya itu sudah selayaknya terjadi dan membuat kita terkesima akan keajaiban Tuhan.

Melalui Inkarnasi, kita dapat melihat bahwa Tuhan kita tidak saja Allah yang besar, yang memberikan perintah-perintah untuk keselamatan umat manusia, namun lebih daripada itu, Tuhan kita adalah Allah yang dekat berserta kita (Immanuel), yang menjadi teladan bagi kita semua untuk mengikuti perintah-perintah tersebut, sehingga manusia dapat mengikuti dan menjalankan perintah-perintah Tuhan dengan lebih baik.

Dalam keterbatasan pemikiran manusia, mari kita bersama-sama mensyukuri karya perbuatan Tuhan yang terbesar, yaitu Inkarnasi. Dan dengan hati yang terbuka, marilah kita kembali mengundang Yesus yang telah datang ke dunia untuk juga datang dan meraja di hati kita masing-masing.

Saudaraku, mari kita menyadari bahwa Allah kita adalah Allah yang Maha besar namun juga Immanuel, Allah beserta kita.


[1] Lebih tepatnya bukan Tuhan mempunyai akal budi dan kehendak bebas, namun Tuhan adalah Sang Akal budi dan Kehendak bebas, karena di dalam Tuhan tidak dibedakan “essense” dan “accident“. Kita tidak dapat mengatakan bahwa Tuhan mempunyai sifat kasih namun Tuhan adalah Kasih. Karakter inilah yang diwahyukan oleh Tuhan kepada nabi Musa, pada waktu Tuhan menyatakan siapa diri-Nya, yaitu “Aku adalah Aku” (Kel 3:14). (I am Who Iam)


5 artikel/gambar terakhir di kategori Kristologi


5 artikel/gambar terakhir di kategori Semua Artikel

Tentang Penulis

author photo

Stefanus Tay Sedang menyelesaikan program studi S2 di bidang teologi di Universitas Ave Maria - Institute for Pastoral Theology, Amerika Serikat. Stefanus telah menyelesaikan 5 semester dari total 6 semester untuk menyelesaikan program studi ini.

Lihat Semua Artikel oleh Penulis Ini

Ada 12 Komentar Sampai Saat Ini. (klik ini untuk menulis pesan "TOPIK BARU")

  1. P. Stefanus & I. Ingrid yang terkasih,
    Saya terkesan sekali dengan website ini dan jawaban / penjelasan Bpk/Ibu atas pertanyaan-pertanyaan selalu memberikan kesejukan dan kebenaran. Semoga website ini dapat menjadi berkat dan sarana pencerahan bagi kita semua.
    Saya ada beberapa pertanyaan:
    mohon penjelasan apakah artinya penebusan dosa manusia dengan kedatangan Tuhan ke dunia ini. Apakah dengan penebusan itu berarti manusia setelah kedatangan Yesus 2000 tahun yang lalu sudah tidak mempunyai dosa asal lagi? Apa perbedaan manusia sebelum kedatangan Yesus dengan setelah kedatangan Yesus? Karena manusia sekarang tetap cenderung berbuat dosa, dan penderitaan & kejahatan masih tetap ada di dunia ini bahkan kematian. Apa artinya sudah tertebus? Dan apa maksudnya hukum Taurat telah digenapi?
    Bagaimana menangapi pertanyaan dari saudara kita yang muslim bahwa Allah tidak beranak dan diperanakan? Mohon maaf banyak sekali pertanyaannya. Terima kasih.

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Stefanus Tay menjawab pada tanggal October 28th, 2008 12:52 pm:

    Shalam Chandra yang dikasihi Tuhan Yesus,
    Terimakasih atas dukungannya terhadap katolisitas.org. Dengan keterbatasan kami, maka kami mencoba untuk menjawab sesuai dengan apa yang diajaran oleh Gereja. Mari kita melihat pertanyaan Chandra yang mungkin tidak dapat dijawab secara detail, karena cukup banyak sisi yang harus dipertimbangkan.

    Penebusan dosa:

    1. Kita tahu bahwa satu-satunya yang memisahkan kita dengan Allah adalah dosa, karena dosa bertolak belakang dengan hakekat Allah yang kudus dan kasih. Dosa membuat jurang yang begitu dalam, yang tak terseberangi, antara Allah dan manusia. Dan manusia dengan kekuatan sendiri tidak dapat menyambung kembali hubungan ini. Dan hubungan ini hanya dapat dijembatani oleh Kristus, Anak Allah yang menjadi manusia, yang mengambil hakekat manusia dan menjadikannya bagian dari hakekat Kristus, sehingga manusia memperoleh kembali hakekatnya yang sejati, yaitu sebagai anak Allah. Dengan kata lain, apa yang diambil oleh Kristus (tubuh manusia, keinginan, pikiran, jiwa, pekerjaan, penderitaan, dll) menjadi sesuatu yang kudus.
    2. Kita juga bisa melihatnya dari definisi dosa, yaitu memisahkan diri dari kasih Allah. Dan untuk mendapatkan kasih itu kembali, manusia tidak dapat memaksakannya, karena kasih hanya dapat diterima. Sama seperti kita tidak dapat memaksakan seseorang untuk mengasihi kita. Dan Kristus menjadi suatu tanda kasih Allah, dimana mencapai puncaknya pada kematiaan-Nya di kayu salib. Kasih yang telah diberikan Allah inilah yang mempunyai kekuatan untuk menghapus dosa.

    Dosa asal:

    1. Dengan penebusan Kristus, maka Kristus telah memberikan jalan menuju keselamatan (Yoh 14:6). Ibaratnya, dengan penebusan Kristus, maka Yesus telah membangun suatu jembatan yang dapat dilewati oleh setiap orang yang mau datang kepada-Nya. Namun ini tidak berarti bahwa dosa asal dihilangkan. Pada saat Adam dan Hawa berdosa, maka manusia telah kehilangan beberapa hal: 1) Rahmat kekudusan, 2) 4-preternatural gifts, yang terdiri dari (a) immortality/ tidak tunduk terhadap kuasa maut, (b) immunity from suffering / tidak dapat menderita, (c) infused knowledge, (d) integrity, yaitu harmoni dan tunduknya segala macam keinginan dan emosi dari kedagingan kita kepada reason (akal budi) (Lih KGK, 405, 337).
    2. Sebagai akibat dosa, maka manusia kehilangan semua rahmat di atas. Namun dengan penebusan Kristus, maka Rahmat Kekudusan dipulihkan, yaitu dengan cara menerima Sakramen Baptis. Namun 4-preterntural gifts tidak dipulihkan dan tetap menjadi bagian dari manusia, sehingga manusia selalu berjuang terhadap empat hal: ignorance / ketidaktahuan, kematian, penderitaan, dan concupiscence/ kecenderungan untuk berbuat dosa. KGK 2515 menjelaskan tentang kecenderungan manusia untuk berbuat dosa.
    3. Jadi dosa asal dihapuskan dengan menerima Sakramen Baptis, namun manusia tetap harus berjuang melawan keinginan daging, sehingga pada akhirnya manusia dapat sampai pada Kerajaan Surga. Oleh sebab itu, kita masih melihat banyak penderitaan, perang, kejahatan, dll. Kita harus menjalankan bagian kita masing-masing untuk memancarkan terang Kristus di dunia.

    Perbedaan manusia sebelum kedatangan Yesus dengan manusia setelah kedatangan Yesus:

    1. Pada dasarnya, hukum Taurat telah dituliskan dalam setiap hati nurani manusia (Rom 2:15). Jadi sebelum kedatangan Kristus, manusia hidup berdasarkan hukum yang tertulis di dalam setiap hati nurani masing-masing, dan bagi orang Yahudi, secara khusus Allah telah menuliskannya dalam 2 loh batu dan dalam suatu perjanjian (covenant). Hukum 10 perintah Allah dibagi menjadi dua, yaitu kasih terhadap Allah dan kasih terhadap sesama. Jadi manusia yang belum mengenal Kristus, sebenarnya juga telah dibekali dengan hati nurani untuk berbuat kasih. Dan mereka akan dihakimi menurut apa yang mereka ketahui dan sesuai dengan kapasitas mereka (Rom 2:12). Tentu saja takarannnya jauh lebih ringan dibandingkan dengan orang yang telah tahu, namun tetap melakukan kesalahan.
    2. Dan setelah kedatangan Kristus, Rasul Yohanes mengatakan mengatakan bahwa Taurat diberikan oleh Musa, namun kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus(Jn 1:17) . Dan Rasul Paulus menegaskan bahwa bagi yang telah mengenal Yesus, dia tidak lagi dikuasai oleh dosa, karena tidak lagi berada di bawah hukum Taurat, namun dibawah kasih karunia (Rom 6:14). Kasih karunia dari Allah inilah yang tercurah pada saat kita diBaptis, dimana berkat kekudusan menjadikan manusia dapat berpartisipasi dalam kehidupan Tritunggal Maha Kudus. Bagi orang yang melakukan dosa setelah kedatangan Kristus dosanya lebih berat dibandingan sebelum kedatangan Kristus, sama seperti orang yang telah dibaptis namun tetap hidup dalam dosa, maka dosanya akan lebih berat daripada orang yang belum dibaptis, karena kepada mereka yang diberikan banyak, juga dituntut lebih banyak (Luk 12:48).

    Hukum Taurat telah digenapi:

    1. Semua hukum Taurat, apa yang tertulis oleh para nabi dan juga yang tertulis di Mazmur telah digenapi di dalam diri Yesus Kristus (Luk 24:44). Yesus mengatakan hal ini setelah Dia bangkit dari antara orang mati, karena setelah kebangkitan-Nya, maka semua yang dikatakan oleh di Perjanjian Lama telah digenapi oleh Kristus. Lihat artikel: Yesus, Tuhan yang dinubuatkan para nabi. Dan kebangkitannya telah dinubuatkan di: Hosea 6:1-2, Maz 16:10.
    2. Yang paling utama, hukum Taurat dapat disimpulkan dalam dua hal perintah: Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan kedua: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Mat 22:34-40). Yesus telah menggenapinya, dengan menunjukkan bagaimana mengasihi Allah dan sesama yang ditunjukkan-Nya secara sempurna dengan kematiaan-Nya di kayu salib. Dan Yesus menambahkan satu hal yang terpenting, yaitu Diri-Nya sendiri. Melalui Yesus, maka berkat kekudusan mengalir, sehingga umat Tuhan diberi kekuatan secara supernatural untuk menjalankan hukum kasih ini.

    Allah tidak beranak dan diperanakkan:

    1. Kita harus tahu terlebih dahulu tentang konsep beranak dan diperanakkan menurut agama mereka. Mungkin mereka menganggap bahwa Yesus diperanakkan oleh Maria dan Allah Bapa, seperti yang ditulis oleh beberapa ahli yang mendalami agama Islam. Kita juga tidak beranggapan seperti itu.
    2. Kemudian dari sini, kita harus menjelaskan kenapa Yesus turun ke dunia sudah menjadi suatu hal yang layak dan keharusan yang relatif yang dibuat berdasarkan kasih dan kebijaksanaan Allah. Untuk jawaban lengkapnya, silakan membaca artikel: Inkarnasi, Tuhan yang beserta kita.

    Semoga uraian singkat di atas dapat menjawab pertanyaan Chandra.

    Salam kasih dari: http://www.katolisitas.org
    stef

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Chandra menjawab pada tanggal November 12th, 2008 7:20 pm:

    Terima kasih P. Stef atas jawabannya, saya mencoba memahaminya perlahan-lahan. Mungkin karena jawaban tersebut “tidak dapat dijawab secara detail, karena cukup banyak sisi yang harus dipertimbangkan.”, begitu kata bapak, jadi saya merasa agak kurang lengkap penjelasannya (atau karena saya memang masih ‘hijau’ dan banyak belajar ya?). Jika memang pertimbangannya adalah ‘bukan untuk publik’ apakah saya bisa diberi jawaban yang lebih lengkap via pm ke e-mail saya langsung? Terima kasih.

    BTW, kenapa ya website ini akhir-akhir ini susah sekali diakses, apakah terlalu berat karena terlalu banyak gambar/file yang besar (atau problem ada di komputer saya? tapi koq saya akses website lain tidak ada masalah?).
    Thanks & GBU,

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Stefanus Tay menjawab pada tanggal November 12th, 2008 7:37 pm:

    Shalom Chandra,

    Saya minta maaf kalau jawabannya kurang dapat dimengerti. Mungkin pertanyaannya satu-satu saja, misalkan: tentang dosa asal, atau penebusan dosa, sehingga jawabannya dapat lebih fokus. Hal ini bukan dikarenakan karena Chandra yang kurang bisa mendalami, namun saya yang masih kurang dapat menjawab dengan jawaban yang mudah dimengerti. Lain kali saya akan mencoba untuk menjawabnya dengan bahasa yang mungkin lebih mudah dimengerti. Kita semua masih perlu belajar. Chandra juga bisa bertanya bagian mana yang kurang jelas dan sulit dimengerti, sehingga saya akan dapat menerangkannya dengan lebih detail. Apa yang di tanyakan di publik, saya juga akan jawab di publik. Jadi saya tidak mempunyai masalah untuk menjawabnya di publik.

    Tentang website, minggu lalu memang ada beberapa kali servernya error dan juga pengunjung website semakin meningkat, sehingga aksesnya jadi tambah lama. Saya sedang memikirkan untuk mengupgrade ke server yang lebih bagus dengan harapan bahwa pengunjung katolisitas dapat mengakses website ini dengan lebih cepat dan tidak banyak errornya. Doakan saja, agar prosesnya dapat berjalan dengan lancar.

    Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
    stef

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

  2. Masing-masing agama punya keyakinan atau iman.Inkarnasi adalah misteri iman Kristen (katolik itu juga Kristen). Sia-sialah bertengkar atas perbedaan ini.Ingat betapapun kita merasa pandai hendaknyalah kita sadar akan batas kemampuan kita.Aku percaya akan Allah Bapa,Putera,dan Roh Kudus.Aku percaya juga bahwa Yesus Kristus adalah Allah Putera yang menjelma menjadi manusia.

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Stefanus Tay menjawab pada tanggal October 20th, 2008 9:27 pm:

    Shalom Kusdiyanto,

    Terimakasih atas pesannya. Kami ingin menjelaskan, bahwa di sini kami tidak bertengkar. Kami hanya mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya dipercayai oleh Gereja Katolik dengan kemampuan kami yang terbatas. Kami menganggap bahwa setiap pertanyaan yang masuk adalah suatu bentuk untuk mencari kebenaran, yang memang layak untuk ditanggapi. Tanpa mengaburkan kebenaran akan iman yang dipercayai oleh Gereja Katolik, kami juga menghormati setiap perbedaan yang ada dengan agama lain. Dan kami ingin memberikan pertanggungjawaban akan iman yang kami percayai dengan lemah lembut dan hormat, jika ada yang mempertanyakannya (1 Pet 3:15).

    Mari kita bersama-sama menjadi saksi Kristus yang baik, yang siap sedia mempertanggungjawabkan iman kita baik dengan perbuatan atau dengan kata-kata kalau memang diperlukan.

    Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
    stef & ingrid

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

  3. Dear Stef and Ingrid,

    Kemarin saya mengikuti seminar hidup baru yg diadakan oleh katolik karismatik. Saya sungguh terkejut, karena hampir 95% pengikutnya bisa berbahasa roh.
    Setau gw, bahasa roh itu tidak bisa dipelajarin and itu datangnya tanpa kita ketahui. Bener kah demikian?
    Sedemikian gampangkah org mendapatkan bahasa roh?

    Salah satu moderator di seminar ini bilang kita bisa coba ikut org yg berbahasa roh itu 1kata atau 2 kata, ntar lama2 bahasa roh itu berkembang dengan sendiri nya.

    Dan sungguh aku menemukan persamaan di dalam katolik karismatik dan kristen protestan karismatik, dimana selalu ujung2nya “bahasa roh” yg di tonjolkan. Saya ingat sama seminar yg pernah dibawakan oleh Romo Deshi, katanya bahasa roh itu bknlah bahasa yg diutamakan dlm membangun komunitas, sprti di dlm alkitab yg dikatakan oleh rasul Paulus. Dan juga oleh romo yang mengajariku ajaran rohani katolik, dia pernah mengatakan bahwa tidak perlu mengagungkan bahasa roh.
    Apakah semua romo dan frater bisa berbahasa roh? Kalo mereka tidak bisa, napa orang2 karismatik itu bisa dengan gampangnya memperoleh bahasa roh?

    Thank you.

    Regards,
    felix

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Stefanus Tay menjawab pada tanggal September 23rd, 2008 10:04 am:

    Shalom Felix,

    Sebenarnya, setiap kita yang telah dibaptis telah menerima Roh Kudus yang mempersatukan kita dengan Kristus. Hanya saja sering oleh kelemahan kita, benih kekudusan itu tidak berkembang (walaupun sudah juga menerima sakramen Penguatan). Maka, Gereja Katolik membuka banyak kesempatan bagi kita anak-anaknya untuk bertumbuh di dalam iman dan mengembangkan ‘benih’ kekudusan yang sudah kita terima. Salah satunya melalui gerakan karismatik Katolik, yang umumnya mengajak umat mengikuti seminar hidup baru dalam Roh Kudus.

    Memang umumnya di akhir seminar itu umat didoakan agar dapat menerima karunia bahasa roh. Karunia bahasa roh ini memang bukan segala-galanya, namun harus diakui bahwa banyak orang dapat terbantu melalui karunia ini untuk mengalami pertumbuhan relasi pribadi dengan Tuhan. Memang, belum tentu semua orang menerima karunia bahasa roh. Karena ini merupakan karunia Tuhan, maka memang tergantung kepada Tuhan, Sang Pemberi. Jika kita bertanya, apakah karunia ini baik? Ya tentu kita menjawab baik, karena Alkitab sendiri mencatat bahwa para rasulpun dulu menerima karunia tersebut (Kis 2:4). Ada orang-orang yang mendapatkan bahasa roh tanpa didoakan, namun berdoa secara pribadi di depan sakramen Maha Kudus atau berdoa Rosario.

    Namun, apakah karunia bahasa roh itu merupakan yang terpenting dan segala-galanya, jawabnya adalah tidak, sebab yang terpenting dan di atas segala-galanya adalah KASIH. Itulah sebabnya, Rasul Paulus meletakkan pengajaran tentang kasih (1 Kor 13), tepat di tengah-tengah pengajaran tentang karunia- karunia Roh Kudus (1 Kor 12 dan 1 Kor 14). Jadi apa yang dikatakan oleh Romo Deshi itu benar, bahwa kita jangan mengagungkan bahasa roh, sebab yang patut kita angungkan adalah Tuhan saja. Mungkin Felix pernah mendengar kesaksian dari Mother Angelica (Pendiri stasiun TV Katolik terbesar di Amerika/ dunia), atau Father Reniero Cantalamessa (Pastor yang ditunjuk sebagai pengkhotbah kepausan Roma) yang menerima karunia bahasa roh itu, yang kemudian menghasilkan pembaharuan dalam hubungan pribadi mereka dengan Tuhan. Doa harian mereka menjadi lebih hidup, sebagai buahnya, mereka sungguh dipakai Tuhan dalam menyampaikan Sabda Tuhan kepada umat.

    Nah, dalam hal ini kita dapat melihat, bahwa karunia bahasa roh itu hanya merupakan awal saja, yang terpenting adalah bagaimana sesudahnya, agar dapat dipakai untuk membangun jemaat dalam kasih. Jadi tentangan bagi mereka yang sudah menerima karunia bahasa roh adalah: bagaimana agar dapat menggunakannya untuk mengembangkan iman jemaat (1 Kor 14:12) dengan pelayanan kasih. Artinya, jangan berhenti dengan bahasa roh saja, tapi terus dilanjutkan misalnya dengan mempelajari dan mendalami kitab suci dan pengajaran Gereja, supaya dapat dibagikan kepada umat/ mereka yang haus akan pengajaran Tuhan. Atau dapat pula karunia itu dipakai dalam doa pribadi untuk mendoakan orang lain, termasuk anggota keluarga, terutama mendoakan pertobatan mereka, ataupun mendoakan mereka yang sakit dst. Singkatnya,yang menerima karunia bahasa roh harus tetap bertumbuh di dalam iman, dan bukannya hanya merasa ‘puas’ karena telah menerima karunia bahasa roh tersebut, dan menjadi tinggi hati. Jika belum diberi karunia bahasa roh, janganlah berkecil hati. Sebab Tuhan mungkin berkehendak lain. Namun, jika di dalam hati selalu timbul keinginan untuk menerima karunia bahasa roh itu, berdoalah dengan sikap merendahkan diri di hadapan-Nya, "Tuhan, jika Engkau pandang baik, aku mau menerima karunia itu yang dahulu pernah Engkau berikan kepada para rasul-Mu." Dan serahkan saja kepada Tuhan, sebab jika itu yang Dia pandang baik untuk pertumbuhan rohani-mu, maka Tuhan akan memberikannya.

    Dengan melihat bahwa bahasa roh ini bukan segala-galanya, maka tidak menjadi masalah apakah semua suster/ romo dapat berbahasa roh atau tidak. Mereka telah mempersembahkan hidup mereka secara total kepada Allah, dan itu merupakan bukti yang lebih kuat dari apapun juga untuk menunjukkan kasih mereka kepada Allah dan kepada umat yaitu kita semua. Maka, kita semua, baik yang belum ataupun yang sudah menerima karunia bahasa roh- harus melihat teladan para suster dan pastor/ romo dalam hal mengasihi, karena kasih merupakan yang terutama di mata Allah.

    Seperti Fr. Cantalamesa dan Mother Angelica, mereka tetap mengedepankan tradisi Gereja Katolik yang kaya. Mereka bertumbuh dalam sakramen (terutama Ekaristi dan Sakramen Tobat), dalam Adorasi, dan juga dalam doa meditasi. Mental prayer sangat dianjurkan bagi seluruh umat Gereja Katolik, karena mental prayer dapat menghasilkan hubungan yang jauh lebih dalam dibandingkan dengan bahasa roh. Mental prayer inilah yang dipraktekkan oleh para santa dan santo, seperti: St. Teresa dari Avilla dan Yohanes Salib. Jadi, hal ini juga panggilan bagi seluruh umat untuk juga mau belajar kekayaan Gereja Katolik yang sebenarnya begitu kaya dan indah. Kita perlu menggalakkan doa adorasi, doa di depan Sakramen Maha Kudus, dan mengalami jamahan Yesus sendiri. Di atas semuanya itu, marilah kita bersyukur untuk Pembaptisan yang kita terima, karena melalui Pembaptisan itulah sesungguhnya kita telah menerima Roh Kudus, dan diangkat menjadi anak-anak Kerajaan Allah.

    Salam kasih dari http:// http://www.katolisitas.org
    Stef dan Ing

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

  4. Banyak orang Kristen menaksirkan Kitab Suci atas dasar pemikirannya sendiri, sehingga tafsiran tersebut dikutip oleh agama lain untuk menyerang agama Kresten khususnya agama Katolik. Contoh :

    Tanya: Kapan SK yang memutuskan Yesus 100% Tuhan sekaligus 100% manusia ditetapkan?
    Jawab: Hal itu diputuskan pada konsili di Efesus Juni 431 (400 tahun setelah Yesus tiada) yang disponsori oleh Kaisar Romawi, Theodosius II.
    “We confess therefore our Lord Jesus Christ, the only begotten Son of God to be perfect (100%) God and perfect (100%) man”.
    (Oleh Karena itu kita mengakui bahwa Tuan Yesus Kristus, Anak Tunggal Tuhan, sebagai Tuhan yang sempurna (100%) sekaligus manusia yang sempurna (100%).
    Keputusan ini kemudian diperkuat lagi olah SK yang diterbitkan dalam konsili di Chalcedon, Oktober 451 yang juga disponsori oleh Kaisar Romawi saat itu, Marcion.
    “Followinq the holy fathers we confess with one voice that the one and only Son, our Loard Jesus Christ, is perfect in Godhead and perfect in manhood truly God and truly man…”
    (Sesuai dengan ajaran para pemimpin Gereja, kami bersaksi dengan suara bulat bahwa satu-satunya Anak, Tuhan kita Yesus Kristus, adalah Tuhan yang sempurna (100%) dan manusia yang sempurna (100%), Tuhan yang sesungguhnya dan manusia yang sesungguhnya)

    Bagaimana menurut penulis atas pernyataan tersebut dua diatas?.

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Stefanus Tay menjawab pada tanggal September 19th, 2008 12:04 am:

    Shalom Julius,

    Untuk menjawab pertanyaan Julius, silakan membaca rangkaian tulisan tentang ke-Allahan dari Yesus Kristus, terutama artikel yang ke 3:

    1. Mengapa orang Kristen percaya bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan.
    2. Yesus, Tuhan yang dinubuatkan para nabi.
    3. Kristus yang kita imani = Yesus menurut sejarah.

    Semoga artikel-artikel tersebut dapat menjawab pertanyaan Julius.

    Salam kasih dari: http://www.katolisitas.org
    stef & ingrid

     

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

  5. [Tanpa maksud buruk, komentar ini telah diedit oleh admin, berhubung Sdri. Azwardini tidak memberikan komentar namun memberikan tiga karangan yang panjang sekali. Saya juga memindahkan pesan ini dari buku tamu ke artikel "Inkarnasi, Tuhan yang Beserta Kita"].

    Secara singkat, isi dari karangan tersebut adalah:

    I. Pencarian akan Tuhan:

    1. Kita harus menyadari, mengapa kita perlu mencari Tuhan ?  Dijelaskan bahwa kita mencari Tuhan untuk bisa memahami dan menyadari untuk apa kita diciptakan.
    2. Bagaimana cara yang dibenarkan untuk mencari Tuhan?
      1. Melalui buku-buku, diskusi dengan pakar, logic, bukti sejarah, proses terjadinya ajaran atau kitab atau kronologis kejadiaannya. Membaca semua Kitab Suci dari semua agama.
      2. Berdoa untuk mendapat petunjuk Tuhan
    3. Filosofi atau Hukum Alam
      1. Sesuatu harus ada yang menciptakan. Dan Pencipta tidak dapat menjadi yang diciptakan. Argumen ini saya kelompokkan menjadi bagian II.

    II. Menurut Sdri. Azwardini: Tuhan tidak mungkin menjadi manusia

    1. Tuhan tidak mungkin menjadi manusia atau Pencipta tidak dapat menjadi yang diciptakan, karena ini berarti bertentangan.
    2. Tuhan tidak mungkin berwujud manusia, artinya tidak berjenis kelamin, tidak menempati ruang dan waktu.
    3. Tidak mungkin dosa dihapuskan oleh Penebus Dosa (Yesus).
    4. Jangan mengandalkan kemampuan nalar atau otak kita untuk menemukan Tuhan. Dan kesimpulannya, menurut Sdri Azwardini, Al Quran adalah jalan yang terbaik untuk menemukan Tuhan.
    5. Jangan memaksakan Tuhan untuk menampakkan wujud-Nya dalam rupa manusia.
    6. Jadi Tuhan yang sesungguhnya seperti apa?  setelah melihat tanda-tanda Tuhan dan tahu bagaimana mencari Tuhan secara benar, akhirnya Sdri. Azwardini menemukan bahwa Al-Quran mencakup semua itu: Tuhan adalah untuk semua orang, isinya berbeda dengan Kitab Suci lain, dll.

    III. Kemudian Sdri. Azwardini memberikan suatu artikel yang panjang tentang bukti-bukti bahwa Yesus yang ada di Alkitab sekarang ini hanyalah merupakan karangan para rasul belaka, terutama Rasul Paulus. Dan artikel terakhir yang diberikan menyatakan bahwa Yesus ternyata bukan Tuhan.

    Kira-kira itulah yang dapat disimpulkan dari komentar Sdri. Azwardini.

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

    Stefanus Tay menjawab pada tanggal September 18th, 2008 11:59 pm:

    Salam damai Azwardini,

    Terimakasih sudah memberikan pesan di katolisitas.org. Sebelum kami memberikan tanggapan, kami ingin menekankan beberapa hal, yaitu: 1) kita sama-sama percaya akan Tuhan yang Esa, 2) kami juga mengagumi akan ketaatan umat Islam dalam berdoa lima waktu, berpuasa, dan berzakat. Semoga diskusi ini dapat saling menguatkan.

    Mari, sekarang kita masuk dalam diskusi:

    1. Pencarian akan Tuhan. Kami merasa metode yang dipaparkan oleh Azwardini hampir sama dengan apa yang dilakukan oleh umat Katolik. Seperti yang dikatakan oleh Azwardini bahwa untuk mencari Tuhan, kita harus berdoa, membaca referensi, memakai logika, sejarah, dll, maka kami juga menggunakan akal budi (reason) dan juga iman (faith). Dua hal ini adalah seperti sayap yang membawa roh manusia kepada kontemplasi akan kebenaran (Faith and reason are like two wings on which the human spirit rises to the contemplation of truth – dikutip dari Ensiklik Fides et Ratio / relasi antara iman dan akal budi, oleh Paus Yohanes Paulus II). Kita menyadari bahwa akal budi dan iman saling bekerjasama untuk mencapai kebenaran. Azwardini dapat melihat artikel yang ada di sini, yang sebenarnya memakai metode yang sama, akal budi dan iman.
      Untuk pertanyaan tentang mengapa kita harus percaya kepada Tuhan maka dapat dilihat di dalam artikel:

    2. Untuk menjawab keberatan Azwardini yang mengatakan bahwa Tuhan, Sang Pencipta tidak mungkin menjadi manusia, maka kami telah menulis dua artikel. Disinilah, dengan segala kerendahan hati, kami menyadari bahwa hanya dengan menggunakan akal budi, kami tidak dapat mengetahui bahwa Tuhan menjadi manusia kalau Tuhan sendiri tidak menyatakannya. Seperti yang Azwardini katakan, bahwa kita tidak dapat hanya menggunakan logika saja dalam menemukan Tuhan yang benar. Dalam hal ini, kami juga berpendapat sama. Jadi Sabda Allah atau "revelation" memegang peranan yang begitu penting dalam pembuktiaan ini. Namun filosofi juga digunakan untuk membantu bahwa apa yang dilakukan Allah memang sungguh-sungguh ajaib dan membuka mata kami, bahwa Inkarnasi adalah perbuatan Tuhan yang begitu agung, besar, dan penuh kasih kepada umat manusia. Dengan inkarnasi ini, kami malah mengasihi Tuhan dengan lebih lagi, karena Dia yang terlebih dahulu menunjukkan kasih-Nya kepada kami dengan tak terbatas. Artikel tersebut dapat dibaca di:
    3. Kemudian untuk menjawab keberatan Azwardini yang melampirkan dua artikel yang membahas tentang Yesus hanyalah karangan rasul belaka dan keAllahan Yesus ditentukan oleh Konsili Nicea (325AD), maka kami menjawabnya dalam artikel tersendiri. Disinilah kami ingin membuktikan bahwa Yesus yang ada kami imani adalah Yesus yang juga diceritakan dalam sejarah. Artinya, ke-Allahan Yesus bukanlah karangan belaka. Artikel ini dapat  di baca di:

    Semoga artikel-artikel tersebut di atas dapat memberikan gambaran kepada Azwardini tentang ajaran Gereja Katolik mengenai Tuhan dan ke-Allahan Yesus Kristus. Kami menyadari bahwa terdapat perbedaan antara ajaran Gereja Katolik dan ajaran Islam. Setelah mengetahui latar belakang masing-masing marilah kita saling menghormati iman dan agama yang kita yakini masing-masing.

    Salam kasih dari: http://www.katolisitas.org

    Stef dan Ingrid

    [KLIK DISINI ---- UNTUK MEMBALAS PESAN INI]

Pesan atau Komentar baru